Anda di halaman 1dari 37

Euthanasia Ditinjau dari Aspek

Hukum Pidana di Indonesia


untuk tugas ujian tengah semester mph

DISUSUN
OLEH :
NAMA :
YOLANDA
NURWANISSA
NIM :
02011381419371

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Perubahan sosial budaya pada kehidupan masyarakat pada saat ini, telah banyak
didominasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan serta penemuan- penemuan
teknologi. Salah satu bidang dalam kehidupan masyarakat yang telah mengalami
perkembangan teknologi adalah ilmu kedokteran. Melalui suatu perkembangan
teknologi medis yang semakin canggih dan modern, maka dapat diketahui dengan
cepat penyakit yang diderita oleh seseorang sehingga dapat langsung didiagnose
dengan cepat dan sempurna dapat dilakukan pengobatan secara efektif terhadap suatu
penyakit yang diderita oleh pasien. Kemajuan di bidang kesehatan telah dapat
menyembuhkan dan memperpanjang umur pasien untuk dalam jangka waktu tertentu.
Namun, adakalanya pasien tidak dapat disembuhkan lagi. Pada batas tertentu,
seorang yang tidak dapat disembuhkan lagi karena penyakit yang didieritanya dan
pasrah menginginkan untuk melepas segala penderitaan, dengan salah satunya
meminta untuk euthanasia atau dengan kata lain kematian dengan baik.
Setiap makhluk hidup, termasuk manusia, akan mengalami siklus kehidupan
yang dimulai dari proses pembuahan, kelahiran, kehidupan di dunia dengan berbagai
permasalahannya, serta diakhiri dengan kematian. Dari proses siklus kehidupan
tersebut, kematian merupakan salah satu yang masih mengandung misteri besar, &
ilmu pengetahuan belum berhasil menguaknya. Untuk dapat menentukan kematian
seseorang sebagai individu diperlukan kriteria diagnostik yang benar berdasarkan
konsep diagnostik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kematian
sebagai akhir dari rangkaian kehidupan adalah merupakan hak dari Tuhan. Tak
seorangpun yang berhak menundanya sedetikpun, termasuk mempercepat waktu
kematian. Tapi, bagaimana dengan hak pasien untuk mati guna menghentikan
penderitaannya?
Sebagai negara hukum,indonesia sangat menghormati dan menjunjung tinggi

eksistensi HAM.hal ini tercermin dalam pasal 28A UUD 1945 bahwa setiap orang
berhak

untuk

hidup

serta

berhak

untuk

mempertahankan

hidup

dan

kehidupannya,dari perspektif ini,hak untuk hidup merupakan hak yang paling suci
dan ilahiyah serta tidak dibenarkan secara hukum dilanggar kemulianya dan tidak
boleh dianggap remerh eksistensinya.oleh karena itu,segala macam yang melanggar
hak hidup seperti membunuh,menganiaya,dan melukai orang lain sangat dilarang
oleh setiap agama apapun didunia.dengan pengaturan secara jelas mengenai hak
untuk hidup dalam UUD 1945,muncul pertanyaan mendasar mengenai apakah hak
untuk mati juga diperbolehkan.tentu jawaban ini bagi masyarakat di Indonesia
menjadi hal yang janggal,sebab hak untuk mati itu sama dengan bunuh diri, dan
secara agama bunuh dirimerupakan perbuatan yang dilarag,sehingga hak untuk mati
tentu saja tidak diperbolehkan.dalam dunia medis istilah mati jadi erdebatan dimana
pasien yang sudah tidak sadar bertahun tahun dan dipasang alat venilator atau alat
bantu pernapasan,sementara tidak ada harapan lagi untuk sembuh,tapi masih
dipertahankan terus.sedangkan pihak keluarganya telah menghabiskan harta
bendanya untuk mempertahankan kehidupan semu bagi pasien.secara filosofis
apakah hal ini tidak bertentangan dengan pasal 28G ayat (2) UUD 1945 yang
menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan
yang merendahkan derajad martabad manusia dan berhak memperoleh suaka politik
dari negara lain.

Pengaturan secara khusus terhadap euthanasia dalam peraturan perundang


undangan sangat diperlukan untuk memberikan perlindungan kepada pasien,tenaga
kesehatan,serta menghormati dan melindungi hak asasi manusia pasien di

Indonesia.hal terutamalagi adalah memberikan pedoman dan panduan bagi profesi


kedokteran dalam menjalankan hak hak serta kewajibannya untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang maksimal kepada pasien.
B.

Rumusan Masalah

1. Apakah Euthanasia sesuai dengan Hukum Pidana Indonesia?


2. Bagaimana kajian hubungan Euthanasia menurut HAM ?

C.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui Perspektif Euthanasia dalam Hukum positif di Indonesia.

D.

Manfaat Penelitian

1. sebagai bahan informasi ilmiah dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan


khususnya mengenai Euthanasia dilihat dari aspek hukum.
2. Memberikan kepada masyarakat luas tentang bagaimana kedudukan Euthanasia di
Indonesia
3. untuk memberi tambahan referensi bagi kepentingan penelitian terhadap masalah
Euthanasia di Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Euthanasia dan Ruang Lingkupnya
1.

Pengertian Euthanasia

Kata Euthanasia berasal dari bahasa yunani yaitu "eu" ( baik) dan
"thanatos" (maut, kematian) yang apabila digabungkan berarti "kematian
yang baik".
Secara etimologis, euthanasia dapat diartikan sebagai mati dengan
baik. Sedangkan secara harafiah, euthanasia tidak dapat diartikan sebagai
pembunuhan atau upaya menghilangkan nyawa seseorang. Menurut Philo
(50-20 SM), euthanasia berarti mati dengan tenang & baik, sedangkan
Suetonis penulis Romawi dalam bukunya Vita Caesarum mengatakan bahwa
euthanasia berarti mati cepat tanpa derita.
Dalam sejarah hukum inggris yaitu common law sejak tahun 1300
hingga saat "bunuh diri" ataupun "membantu pelaksanaan bunuh diri" tidak
diperbolehkan.
Mengenai euthanasia, dapat digunakan dalam tiga arti: (Djoko
Prakoso, 1984 ; 28)
1.

Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa


penderitaan, buat yang beriman dengan nama Allah di bibir,
2. Waktu hidup akan berakhir (sakaratul maut) penderitaan pasien
diperingan dengan memberikan obat penenang,
3. Mengakhiri penderitaan dari seorang sakit dengan sengaja atas
permintaan pasien sendiri dan keluarganya.

Adapun unsur-unsur dalam pengertian euthanasia dalam pengertian diatas adalah:


(Djoko Prakoso, 1984 ; 28)
1. Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu,
2.
Mengakhiri hidup, mempercepat kematian, atau tidak
memperpanjang hidup pasien,
3. Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan,
4. Atas permintaan pasien dan keluarganya,

5. Demi kepentingan pasien dan keluarganya.

2.

Ruang Lingkup Euthanasia


Dilihat dari cara dilaksanakan, euthanasia dapat dibedakan atas euthanasia
pasif dan euthanasia aktif. Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau
mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan
hidup manusia. Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara medik
melalui intervensi aktif oleh seorang dokter dengan tujuan untuk mengakhiri hidup
manusia. Euthanasia aktif ini dapat pula dibedakan atas euthanasia aktif langsung
(direct) dan euthanasia aktif tidak langsung (indirect). Euthanasia aktif langsung
adalah dilakukannya tindakan medik secara terarah yang diperhitungkan akan
mengakhiri hidup pasien, atau memperpendek hidup pasien. Jenis euthanasia ini
dikenal sebagai mercy killing. Euthanasia aktif tidak langsung adalah dimana
dokter atau tenaga kesehatan melakukan tindakan medik untuk meringankan
penderitaan

pasien,

namun

mengetahui

adanya

resiko

tersebut

dapat

memperpendek atau mengakhiri hidup pasien.


Ditinjau dari permintaan, euthanasia dibedakan atas euthanasia voluntir atau
euthanasia sukarela (atas permintaan pasien) dan euthanasia involuntir (tidak atas
permintaan pasien). Euthanasia atas permintaan pasien adalah euthanasia yang
dilakukan atas permintaan pasien secara sadar dan diminta berulang-ulang.
Euthanasia tidak atas permintaan pasien adalah euthanasia yang dilakukan pada
pasien yang (sudah) tidak sadar, dan biasanya keluarga pasien yang meminta.
Kedua jenis euthanasia diatas dapat digabung misalnya euthanasia pasif voluntir,
euthanasia aktif involuntir, euthanasia aktif langsung involuntir dan sebagainya.
Menolong orang lain untuk mengakhiri kehidupannya, bisa pula dikategorikan
sebagai tindakan yang termasuk dalam ciri-ciri euthanasia apabila pertolongan
tersebut dikaitkan dengan tindakan yang menyangkut penderitaan manusia yang
tidak tertanggung atau sudah tidak tertahankan lagi. Menurut JE. Sahetapy,
Euthanasia dibedakan dalam tiga jenis yaitu:
1.

Action to permit death to occur

2.

Failure to take action to prevent death

3.

Positive action to cause death.

Pada jenis Euthanasia yang pertama, kematian dapat terjadi karena pasien
dengan sungguh-sungguh dan secara cepat menginginkan untuk mati. Dalam hal
ini pasien sadar dan tahu bahwa penyakit yang dideritanya itu tidak akan dapat
disembuhkan walaupun diadakan pengobatan dan perawatan secara baik. Pasien
juga memohon untuk dipulangkan ke rumah saja agar ia bisa mati dengan tenang
disamping keluarganya.
Jenis Euthanasia yang kedua terjadi karena kelalaian, atau kegagalan dari
seorang dokter dalam mengambil suatu tindakan untuk mencegah adanya
kematian. Jadi si dokter tidak mengerjakan apapun karena ia berpendapat
pengobatan yang dilakukan akan sia-sia saja. Jenis Euthanasia yang ketiga
merupakan tindakan yang positif dari dokter untuk mempercepat terjadinya
kematian. Seorang pasien akan segera mati dengan tenang dengan diberikan
injeksi obat yang menimbulkan kematian.

B.

Euthanasia dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana


Secara konseptual dikenal tiga bentuk euthanasia, yaitu :
1.

voluntary euthanasia (euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien


itu sendiri karena penyakitnya tidak dapat disembuhkan dan dia tidak
sanggup menahan rasa sakit yang diakibatkannya);

2.

Non voluntary euthanasia (di sini orang lain, bukan pasien,


mengandaikan, bahwa euthanasia adalah pilihan yang akan diambil oleh
pasien yang berada dalam keadaan tidak sadar tersebut jika si pasien dapat
menyatakan permintaannya);

3.

involuntary euthanasia (merupakan pengakhiran kehidupan pada pasien


tanpa persetujuannya). (Utomo, 2003: 175).

Munculnya pro dan kontra seputar persoalan euthanasia menjadi beban


tersendiri bagi Pakar hukum. Sebab, pada persoalan legalitas inilah
persoalan euthanasia akan bermuara. Kejelasan tentang sejauh mana
hukum

(pidana)

positif

memberikan

regulasi/pengaturan

terhadap

persoalan euthanasia akan sangat membantu masyarakat di dalam


menyikapi persoalan tersebut. Lebih-lebih di tengah kebingungan kultural
karena munculnya pro dan kontra tentang legalitasnya.

Secara yuridis formal dalam hukum pidana positif di Indonesia dikenal 2 bentuk
euthanasia, yaitu euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien/korban itu
sendiri dan euthanasia yang dilakukan dengan sengaja melakukan pembiaran
terhadap pasien/korban sebagaimana secara eksplisit diatur dalam Pasal 344 dan 304
KUHP.

Pasal 344 KUHP secara tegas menyatakan : (Moeljatno, 2005 : 116)


Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang
jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling
lama dua belas tahun
pasal 304 KUHP dinyatakan:
Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam
keadaan sengsara,padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena
persetujuan dia wajib memberi kehidupan,perawatan atau pemeliharaan kepada orang
itu,diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana
denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah
Dari bunyi pasal tersebut, dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak diperbolehkan
melakukan pembunuhan terhadap orang lain, walaupun pembunuhan itu dilakukan
dengan alasan membiarkan dan atas permintaan orang itu sendiri .
Bertolak dari ketentuan Pasal 344 dan 304 KUHP tersebut tersimpul, bahwa
pembunuhan dengan sengaja membiarkan sengsara dan atas permintaan korban
sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Dengan demikian, dalam konteks
hukum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang
dilarang. Dengan demikian dalam konteks hukum positif di Indonesia, tidak
dimungkinkan dilakukan pengakhiran hidup seseorang sekalipun atas permintaan
orang itu sendiri. Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak pidana, yaitu
sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan
tersebut.
Mengacu pada ketentuan tersebut di atas, maka munculnya kasus permintaan
tindakan medis untuk mengakhiri kehidupan yang muncul akhir-akhir ini
1. kasus Hasan Kesuma yang mengajukan suntik mati untuk istrinya, Ny. Agian

2. kasus Rudi Hartono yang mengajukan hal yang sama untuk istrinya, Siti Zuleha
Kedua kasus ini secara konseptual dikualifikasi sebagai non voluntary euthanasia,
tetapi secara yuridis formal (dalam KUHP) dua kasus ini tidak bisa dikualifikasi
sebagai euthanasia sebagaimana diatur dalam Pasal 344 KUHP. Secara yuridis formal
kualifikasi (yang paling mungkin) untuk kedua kasus ini adalah pembunuhan biasa
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 338 KUHP, atau pembunuhan berencana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 KUHP. Dalam ketentuan Pasal 338 KUHP
secara tegas dinyatakan : (Moeljatno, 2005: 114)
Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Sementara dalam ketentuan Pasal 340 KUHP dinyatakan :
Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dulu merampas nyawa
orang lain diancam, karena pembunuhan berencana, dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.
atas juga terdapat ketentuan lain yang dapat digunakan untuk menjerat pelaku
euthanasia, yaitu ketentuan Pasal 356 (3) KUHP yang juga dinyatakan :
Kejahatan yang dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi nyawa
dan kesehatan untuk dimakan atau diminum.

Selain itu patut juga diperhatikan adanya ketentuan dalam Bab XV KUHP khususnya
Pasal 304 dan Pasal 306 (2). Dalam ketentuan Pasal 304 KUHP dinyatakan,
Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam
keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena
persetujuan, dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada

orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau
denda paling banyak tiga ratus rupiah.
Sementara dalam ketentuan Pasal 306 (2) KUHP dinyatakan : Jika mengakibatkan
kematian, perbuatan tersebut dikenakan pidana penjara maksimal sembilan tahun.
Dua ketentuan terakhir tersebut di atas memberikan penegasan, bahwa dalam konteks
hukum positif di Indonesia, meninggalkan orang yang perlu ditolong juga
dikualifikasi sebagai tindak pidana. Dua pasal terakhir ini juga bermakna melarang
terjadinya euthanasia pasif yang sering terjadi di Indonesia. (Moeljatno, 2005 : 121)
Secara singkat, dari sejarah pembentukan KUHP dapat diketahui, bahwa pembentuk
undang-undang pada saat itu (zaman Hindia Belanda), juga menganggap bahwa Jiwa
manusia sebagai miliknya yang paling berharga, dibandingkan miliknya yang paling
berharga dibandingkan dengan milik manusia lainnya. Oleh sebab itu, setiap
perbuatan apapun motif dan coraknya sepanjang perbuatan tersebut mengancam
keamanan dan keselamatan jiwa manusia, hal ini dianggap sebagai suatu kejahatan
yang besar oleh Negara, selalu dilindungi Negara. Dalam hal ini tidak boleh
dilupakan adanya dua kepentingan yakni kepentingan masyarakat dan kepentingan
individu yang dituntut.
Kepentingan masyarakat, bahwa seseorang telah melanggar suatu peraturan hukum
pidana, harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kesalahannya, guna
keamanan masyarakat dan kepentingan orang yang dituntut, bahwa ia harus
diperlakukan sedemikian rupa sehingga jangan sampai orang yang tidak berdosa
mendapat hukuman, atau kalau memang ia berdosa, jangan sampai ia mendapatkan
hukuman yang terlalu berat, tidak seimbang dengan kesalahannya. (Wirjono
Prodjodikoro, R, 1977 : 16).

Dalam pasal , kalimat permintaan sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan


hati haruslah mendapatkan perhatian, karena unsur inilah yang akan menentukan
apakah orang yang melakukannya dapat dipidana berdasarkan 344 KUHP . Agar
supaya unsur ini tidak disalahgunakannya, maka dalam menentukan benar tidaknya
seseorang telah melakukan pembunuhan karena kasihan ini, unsur permintaan yang
tegas (unitdrukkelijk), dan unsur sungguh (ernstig), harus dapat dibuktikan baik
dengan adanya saksi atau pun oleh alat-alat bukti yang lainnya, sebagaimana
disebutkan dalam pasal 295 HIR sebagai berikut : (Utomo, 2003: 126)
Sebagai upaya bukti menurut undang-undang, hanya diakui :
1.

Kesaksian-kesaksian

2.

Surat-surat

3.

Pengakuan

4.

Isyarat-isyarat.

Jadi apabila kita perhatikan pasal 344 KUHP tersebut diatas, agar seseorang dapat
dikatakan telah memenuhi pasal itu, maka public prosecutor (penuntut umum/jaksa)
harus dapat membuktikan adanya unsur permintaan sendiri yang jelas dinyatakan
dengan kesungguhan hati. (Karjadi, 1975 : 84)
Dalam hal ini Bruce Vediga dalam tulisannya Euthanasia and the right to die,
moral and legal perspective. Mengungkapkan bahwa masalah Euthanasia bukan saja
masalah sematik, tetapi juga masalah Substansi.
Timbul masalah lagi, bagaimana jika yang bersangkutan tidak mampu lagi
berkomunikasi dalam bentuk dan dengan cara apapun, sehingga tidak dapat
menyatakan dengan kesungguhan hati? Karena kita tahu bahwa dalam masalah
Euthanasiaini biasanya pasien dalam keadaan mati tidak, hidup pun tidak (in a
persistent vegetative state). Sebagai contoh yang sangat popular, adalah yang terjadi

di Amerika Serikat yaitu kasus Karen Ann Quinlan yang telah berada dalam suatu
Persis tent vegetative state. Mengenai kasus ini akan dibahas pada bab yang
berikutnya. Dalam hal ini apakah seorang dokter dapat dituntut berdasarkan pasal 344
KUHP? Kalau dilihat dari perumusan Pasal tersebut, baik dalam konteks penafsiran
yang dikenal dalam dunia ilmu hokum, maupun dalam bentuk penafsiran yang
dikenal baru, maka menurut hemat kami pasal 344 KUHP ini sulit untuk dapat
diterapkan. Apabila akan diterapkan pasal 344 KUHP merasa kesulitan, dapatkah
penuntut umum (jaksa) menuduh seorang dokter berdasarkan Pasal 344 KUHP.
Masalah Euthanasia menyangkut dua aturan hukum, yaitu Pasal 338 dan 344
KUHP, maka yang dapat diterapkan adalah masalah Pasal 344 KUHP. Apabila tidak
terdapat asas Lex specialis derogate legi generali yang disebutkan dalam Pasal 63
(2) KUHP itu, maka aturan pemidanaan yang dipakai adalah Pasal 338 KUHP. Hal ini
disebabkan karena ancaman pidana penjara pada Pasal 338 yaitu 15 Tahun, lebih
berat daripada ancaman pidana yang terdapat pada Pasal 344 KUHP (yang hanya 12
tahun). Hal ini dapat dimengaerti karena dalam Concursus ideais akan diterapkan
system absorbsi, sebagaimana disebutkan pada Pasal 63 (1) KUHP, yang memilih
ancaman pidanya yang terberat. Oleh sebab itu, didalam KUHP kita, hanya ada satu
pasal saja yang mengatur tentang masalah Euthanasia, yaitu hanya Pasal 344 KUHP.
(Simorangkir, 1979 : 19)

C.

Euthanasia dalam Ilmu Kedokteran

Di dalam pasal 344 KUHP dinyatakan: Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain
atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sunguhsunguh, dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. Berdasarkan pasal ini,
seorang dokter bias dituntut oleh penegak hukum, apabila ia melakukan euthanasia,

walaupun atas permintaan pasien dan keluarga yang bersangkutan, karena perbuatan
tersebut merupakan perbuatan melawan hukum.
Hanya saja isi pasal 344 KUHP itu masih mengandung masalah. Sebagai terlihat pada
pasal itu, bahwa permintaan menghilangkan nyawa itu harus disebut dengan nyata
dan sungguh-sungguh. Maka bagaimanakah pasien yang sakit jiwa, anak-anak, atau
penderita yang sedang comma. Mereka itu tidaklah mungkin membuat pernyataan
secara tertulis sebagai tanda bukti sungguh-sungguh. Sekiranya euthanasia dilakukan
juga, mungkin saja dokter atau keluarga terlepas dari tuntutan pasal 344 itu, tetapi ia
tidak bias melepaskan diri dari tuntutan pasal 388 yang berbunyi: Barang siapa
dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena makar mati, dengan
hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun. Dokter melakukan tindakan
euthanasia (aktif khususnya), bisa diberhantikan dari jabatannya, karena melanggar
etik kedokteran.
Di dalam Kode Etik Kedokteran yang ditetapkan Mentri Kesehatan Nomor:
434/Men.Kes./SK/X/1983 disebutkan pada pasal 10: Setiap dokter harus senantiasa
mengingat akan kewajibannya melindungi hidup makhluk insani. Kemudian di
dalam penjelasan pasal 10 itu dengan tegas disebutkan bahwa naluri yang kuat pada
setiap makhluk yang bernyawa, termasuk manusia ialah mempertahankan hidupnya.
Usaha untuk itu merupakan tugas seorang dokter. Dokter harus berusaha memelihara
dan mempertahankan hidup makhluk insani, berarti bahwa baik menurut agama dan
undang-undang Negara, maupun menurut Etika Kedokteran, seorang dokter tidak
dibolehkan:
a. Menggugurkan kandungan (abortus provocatus).

b. Mengakhiri hidup seseorang penderita, yang menurut ilmu dan pengalaman tidak
mungkin akan sembuh lagi (euthanasia).
Jadi sangat tegas, para dokter di Indinesia dilarang melakukan euthanasia. Di dalam
kode etika itu tersirat suatu pengertian, bahwa seorang dokter harus mengerahkan
segala kepandaiannya dan kemampuannya untuk meringankan penderitaan dan
memelihara hidup manusia (pasien), tetapi tidak untuk mengakhirinya
Sebaliknya bagi kelompok yang menyetujui adanya Euthanasia itu, disertai
argumentasi

bahwa

perbuatan

demikian,

terpaksa

dilakukan

atas

dasar

perikemanusiaan. Mereka tidak tega melihat penderitaan yang dialami oleh


pasiennya, dan telah berulang kali minta kepadanya agar penderitaannya itu diakhiri
saja. Dalam hubungan ini dr. R. Soerarjo Darsono (1889 ; 34), memberikan contoh
sebagai berikut :

Seseorang wanita yang telah hamil tua, kemudian mengalami suatu kecelakaan

yang sangat parah, sehingga lehernya putus, dengan demikian wanita tersebut telah
mati. Masalahnya sekarang bagaimana dengan bayi yang masih berada di dalam perut
sang ibu itu, yang menurut pemeriksaan dokter diperkirakan masih hidup. Bagaimana
sikap seorang dokter dalam mengahadapi keadaan demikian? Sedangka dokter
dituntut untuk bertindak. Apakah harus membuka perut si wanita tadi dan mengambil
bayinya, ataukah membeiarkan begitu saja? Jika dilakukan, apakah tidak mendahului
kehendak Tuhan? Jadi merupakan hal yang sangat dilematis. Dalam hal ini ada dua
pendpat diantara para dokter, yang mengatakan :
a.

Harus dibuka, demi keselamatan dan kelangsungan hidup si bayi itu.

b.

Biarkan saja, biar tuhan saja yang melahirkannya.

Seorang yang menderita penyakit kanker ganas, pada stadium permulaan

memang tidak terasa sakit, namun pada stadium terakhir, maka sakitnya bukan main
dan hampir mendekati dosis kematian. Dalam hal demikian, ada sebagian dokter
yang beranggapan sebaiknya diberi obat penghilang kesadaran dosis yang tinggi,
sehingga akhirnya orang ini mati, juga untuk menghindari supaya tidak terjadi
penularan penyakit ini. Dipihak lain menghendaki agar jangan diberi obat itu, dan
jika terpaksa diberinya, maka setidak-tidaknya hanya untuk mengurangi rasa sakitsakitnya saja, dan dokter tetap melindungi kehidupan pasien ini.
Ketiga jenis euthanasia di atas, ternyata pada jenis yang ketiga inilah yang senada
dengan euthanasia yang dilarang oleh hokum pidana kita, dan diatur dalam Pasal 344
KUHP.
Dibeberapa Negara maju seperti Eropa dan Amerika mulai banyak terdengar
suara-suara yang pro terhadap prinsip adanya euthanasia ini. Mereka berusaha
mengadakan suatu gerakan untuk menguatkan dalam Undang-Undang Negaranya.
Bagi orang-orang yang kontra terhadap prinsip eutahanasia, berpendapat bahwa
tindakan demikian itu sama saja dengan membunuh.Indonesia sebagai Negara yang
beragama dan ber-Pancasila, percaya kepada kekuasaan mutlak daripada Tuhan Yang
Maha Esa. Segala sesuatu diciptakan-Nya, dan penderitaan yang dibebankan kepada
makhluk manusia, ada arti dan maksudnya. Oleh sebab itu, dokter harus
mengerahkan segala kepandaian dan kemampuannya untuk meringankan penderitaan
dan memelihara hidup, tidak untuk mengakhiri hidup daripada sesama manusia.

D. Pidana Mati Euthanasia dan Hak-Hak Asasi Manusia


Hak-hak asasi manusia terdiri dari bermacam-macam hak hak salah
satunya adalah hak untuk hidup. Hak untuk hidup ini tercantum di dalam

Deklarasi universal HAM oleh PBB pada pasal yang berbunyi S e t i a p


o r a n g b e r h a k a t a s k e h i d u p a n d a n k e b e b a s a n d a n keselamatan
sebagai individu.
Jauh sebelum terbentuknya Deklarasi Universal HAM oleh PBB, hak untuk hidup
juga telah dicetuskan oleh Thomas Jefferson dengan kata-kata yang sangat jelas dan
tepat yang termuat di dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika (1776). Dalam
Deklarasi tersebut dikatakan bahwa semua manusia sama;bahwa penciptanya telah
menganugerahi mereka hak-hak tertentu yang tidak dapat dicabut;bahwa di antara
hak-hak ini adalah hak untuk hidup, Bebas dan Mengejar Kebahagiaan.
Dari uraian di atas menyiratkan bahwa hak asasi manusia termasuk hak hidup itu
diberikan oleh Tuhan, sang Pencipta. Jika demikian maka secara logis disimpulkan
bahwa hanya Tuhan yang mampu mencabut hak-hak asasi manusia termasuk hak
hidup. Maka jelas bahwa perbuatan euthanasia merupakan pelanggaran terhadap hak
asasi manusia jika dilihat dari uraian dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika.
Tetapi ditinjau dari yurisprudensi analaitis hakikat dan asal usul hak-hak asasi
manusia kemudian dipertanyakan apakah hak asasi sungguh berasal dari Tuhan?
Ataukah hak asasi merupakan produk Barat?
Menurut Scot Davidson, jelas bahwa hak asasi manusia pada mulanya merupakan
produk mazhab hukum kodrati. Hal ini terlihat dalam Deklarasi Amerika dan
Deklarasi Hak-hak Manusia dan Warganegara Perancis , keduanya bermula dari teoriteori hak kodrati.
Landasan hukum kodrati yang terdahulu sepenuhnya teistik yang berarti supaya
koheren hukum ini mensyaratkan adanya iman pada Tuhan namun dalam tahap
selanjutnya dengan menggunakan nalar yang benar dan kebenarannya tidak

bergantung pada Tuhan hukum kodrati kemudian berkembang menjadi hak individu.
Hak individu kemudian diakui.
John Locke, seorang filsuf terkenal, berpendapat bahwasanya semua individu
dikaruniai oleh alam,hak yang inheren atas kehidupan,kebebasan dan harta yang
merupakan milik mereka sendiri dan tidak dapat dicabut oleh negara. Tetapi ia juga
mengatakan bahwa untuk menghindari ketidakpastian hidup , manusia kemudian
mengambil bagian dalam kontrak sosial atau ikatan sukarela yang mana dengan
penggunaan hak individu mereka yang tak dapat dicabut itu diserahkan kepada
negara.
Euthanasia ini kemudian menjadi sebuah dilema bagi hak asasi manusia. Euthanasia
yang dilakukan secara sengaja (voluntary euthanasia) merupakan euthanasia yang
dilakukan atas permintaan individu yang bersangkutan. Meski datang dari permintaan
individu itu sendiri, euthanasia semacam ini tetap diilegalkan oleh kebanyakan
negara-negara di dunia. Menimbang dari pernyataan John Locke di atas bahwa hakhak asasi manusia merupakan milik manusia sendiri yang berarti bahwa manusia
memiliki kendali atas diri mereka sendiri,negara hanyalah sebagai penjaga malam
untuk menghindari ketidakpastian hidup. Demikian sesungguhnya euthanasia yang
dilakukan atas permintaan sendiri atas dasar pernyataan John Locke nampaknya
tidaklah melanggar HAM. Sebab sesungguhnya hak-hak asasi manusia adalah milik
individu, tak ada yang bisa mengintervensi hak tersebut, manusia memiliki kuasa atas
dirinya sendiri. Pasien yang ingin melakukan euthanasia pun memiliki kuasa atas
dirinya untuk mencabut hak hidupnya.
Manusia sebagai makhluk yang bermartabat memiliki hak untuk bebas dari segala
penderitaan dan rasa sakit. Hal inilah yang mendasari euthanasia dapat dilakukan.
Pasien yang sudah mengalami sakit yang tak dapat disembuhkan tentu membuat

pasien merasa sangat kesakitan dan menderita akibat penyakitnya tersebut. Maka
euthanasia dapat dijadikan jalan untuk membebaskan manusia dari rasa sakit.
Hal inilah yang melandasi terkabulnya kasus Terri Schiavo yang meninggal pada usia
41 tahun melalui euthanasia pasif yaitu dengan mencabut pipa makanan yang
memungkinkan ia dapat hidup dalam keadaan koma. Sang suami, Michael Schiavo
sebagai pihak yang mengajukan permohonan euthanasia atas dasar tidak tega melihat
penderitaan istrinya yang terbaring koma selama 8 tahun. Permintaan tersebut sempat
ditolak oleh Senat Amerika Serikat yang kemudian membuat undang-undang untuk
meninjau kembali putusan hakim atas kasus tersebut. Tetapi karena hukum di
Amerika menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman adalah independen maka
permohonan itu pun dikabulkan dengan menimbang penderitaan yang dialami Terri
Schiavo.
Lantas tindakan banyak negara untuk tidak mengijinkan pelaksanaan euthanasia tidak
lain adalah sebagai bentuk negara untuk menegakkan dan melindungi hak asasi
manusia terutama bagi negara-negara yang tergabung dalam PBB dan telah
meratifikasi Deklarasi Universal HAM. Tetapi Majelis Umum PBB sejak awal
menyatakan bahwa Deklarasi Universal itu tidak dimaksudkan untuk menciptakan
kewajiban yang mengikat negara-negara anggota secara hukum , kecuali bagi negara
yang telah meratifikasinya. Tetapi meskipun begitu pembentukan deklarasi tersebut
telah menunjukkan komitmen negara-negara untuk menjamin perlindungan hak-hak
asasi manusia termasuk hak untuk hidup. Sudah menjadi tugas negara untuk
melindungi kehidupan warga negaranya termasuk di dalamnya melindungi hak-hak
asasi manusia termasuk hak untuk hidup.
Instrumen-instrumen maupun lembaga untuk melindungi HAM semakin berkembang
pesat sejak akhir Perang Dunia Kedua. Tetapi jumlah kovenan,piagam, deklarasi dan

traktat mengenai hak asasi manusia dan isu-isu kemanusiaan terkait,termasuk


euthanasia, terlampau banyak dan justru membingungkan. Tidak adanya kejelasan
yang pasti dalam istilah hak hidup dan hak atas keselamatan menjadi dilema dalam
pelaksanaan euthanasia.
Euthanasia di satu sisi memang melanggar HAM karena tidak sesuai dengan pasal 3
DUHAM namun sesungguhnya asal HAM sendiri juga masih diperdebatkan. Apakah
HAM sungguh berasal dari Tuhan atau HAM hanyalah sebuah produk masyarakat
Barat. Sebab beberapa negara dan aliran kepercayaan menganggap hak asasi manusia
berasal dari alam , bukan dari Tuhan yang berarti bahwa manusia diperbolehkan
untuk mencabut hak hidupnya melalui euthanasia.
Apalagi dalam kasus euthanasia sendiri belum ada peraturan maupun undang-undang
internasional yang mengaturnya, sedangkan proses hukum dan kebudayaan masingmasing negara berbeda-beda. Ini mengakibatkan kebingungan di dalam masyarakat
internasional apalagi bila melihat euthanasia yang bersumber dari permintaan
individu yang bersangkutan sendiri yang tidak dapat disamakan dengan pembunuhan.

E. Euthanasia, Suicide dan Ajaran Agama

a. Agama Hindu
Pandangan agama Hindu terhadap euthanasia didasarkan pada ajaran tentang karma,
moksa dan ahimsa. Karma adalah suatu konsekuensi murni dari semua jenis
kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau batin
dengan pikiran kata-kata atau tindakan. Akumulasi terus menerus dari karma yang
buruk adalah penghalang moksa yaitu suatu kebebasan dari siklus reinkarnasi.
Ahimsa adalah prinsip anti kekerasan atau pantang menyakiti siapa pun juga.

Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang terlarang di dalam ajaran Hindu sebab
perbuatan tersebut dapat menjadi faktor yang mengganggu karena menghasilkan
karma buruk. Kehidupan manusia adalah kesempatan yang sangat berharga untuk
meraih tingkat yang lebih baik dalam kelahiran kembali.
Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, apabila seseorang melakukan bunuh diri,
maka rohnya tidak akan masuk neraka ataupun surga melainkan tetap berada di dunia
fana sebagai roh jahat dan berkelana tanpa tujuan hingga ia mencapai masa waktu di
mana seharusnya ia menjalani kehidupan. Misalnya, seseorang bunuh diri pada usia
17 tahun padahal dia ditakdirkan hidup hingga 60 tahun. Maka selama 43 tahun
rohnya berkelana tanpa arah tujuan. Setelah itu, rohnya masuk ke neraka untuk
menerima hukuman lebih berat; kemudian kembali ke dunia (reinkarnasi) untuk
menyelesaikan karma-nya terdahulu yang belum selesai dijalaninya.
b. Agama Buddha
Agama Buddha sangat menekankan larangan untuk membunuh makhluk hidup.
Ajaran ini merupakan moral fundamental dari Sang Buddha. Oleh karena itu, jelas
bahwa euthanasia adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dalam ajaran agama
Budha. Selain itu, ajaran Budha sangat menekankan pada welas asih (karuna).
Mempercepat kematian seseorang secara tidak alamiah merupakan pelanggaran
terhadap perintah utama ajaran Budha. Tindakan jahat itu akan mendatangkan
karma buruk kepada siapa pun yang terlibat dalam tindakan euthanasia tersebut.
c. Agama Islam
Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut merupakan
anugerah Allah kepada manusia. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan

seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22:66; 2:243). Oleh karena itu, bunuh diri
diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak ada teks dalam Al Quran maupun
Hadis yang secara eksplisit melarang bunuh diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat
yang menyiratkan hal tersebut, Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat
baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS
2:195), dan dalam ayat lain disebutkan, Janganlah engkau membunuh dirimu
sendiri, (QS 4:29).
Euthanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut
(euthanasia), yaitu tindakan yang memudahkan kematian seseorang dengan sengaja
tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan
si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif. Pada konferensi pertama tentang
kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan
yang membenarkan dilakukannya euthanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas
kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga.
Islam membedakan dua macam euthanasia, yaitu:
a. Euthanasia positif
Yang dimaksud taisir al-maut al-faal (euthanasia positif) ialah tindakan
memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter
dengan mempergunakan instrumen (alat). Euthanasia positif dilarang sebab tujuan
tindakan adalah pembunuhan atau mempercepat kematian. Tindakan ini
dikategorikan sebagai pembunuhan dan dosa besar.
b. Euthanasia negatif

Euthanasia negatif disebut taisir al-maut al-munfail. Pada euthanasia negatif tidak
dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si
sakit, tetapi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan. Pasien dibiarkan begitu saja
karena pengobatan tidak berguna lagi dan tidak memberikan harapan apa-apa kepada
pasien. Pasien dibiarkan mengikuti saja hukum sunnatullah (hukum Allah terhadap
alam semesta) dan hukum sebab-akibat.
d. Gereja Ortodoks
Gereja Ortodoks punya kebiasaan untuk mendampingi orang-orang beriman sejak
kelahiran hingga hingga kematian melalui doa, upacara/ritual, sakramen, khotbah,
pengajaran dan kasih, iman dan pengharapan. Kehidupan hingga kematian dipandang
sebagai suatu kesatuan kehidupan manusia. Gereja Ortodoks memiliki pendirian yang
sangat kuat terhadap prinsip pro-kehidupan dan anti euthanasia.
e. Agama Yahudi
Agama Yahudi melarang euthanasia dalam berbagai bentuk dan menggolongkannya
ke dalam pembunuhan. Hidup seseorang bukanlah miliknya lagi melainkan milik
dari Tuhan, sumber dan tujuan kehidupan. Walaupun dengan motivasi yang baik,
misalnya mercy killing, euthanasia merupakan kejahatan karena melawan
kewenangan Tuhan. Dasar yang dipakai adalah Kej 1:9, Tetapi mengenai darah
kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku
akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama
manusia.

F. Euthanasia Menurut Hukum Diberbagai Negara


Belanda
Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang mengizinkan
euthanasia. Undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak tanggal 1 April 2002,
yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik
euthanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tak tersembuhkan,
diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya.
Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara formal
euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai perbuatan
kriminal.
Sebuah karangan berjudul The Slippery Slope of Dutch Euthanasia dalam majalah
Human Life International Special Report Nomor 67, November 1998, halaman 3
melaporkan bahwa sejak tahun 1994 setiap dokter di Belanda dimungkinkan
melakukan euthanasia dan tidak akan dituntut di pengadilan asalkan mengikuti
beberapa prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur tersebut adalah mengadakan
konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus seorang spesialis) dan membuat laporan
dengan menjawab sekitar 50 pertanyaan.
Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para dokter
untuk melapor semua kasus euthanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi
kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002, sebuah

konvensi yang berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh undang-undang belanda,


dimana seorang dokter yang melakukan euthanasia pada suatu kasus tertentu tidak
akan dihukum.

Australia

Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama di dunia


dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan, meski reputasi
ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima UU yang
disebut Right of the terminally ill bill (UU tentang hak pasien terminal). Undangundang baru ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi bulan Maret 1997 ditiadakan oleh
keputusan Senat Australia, sehingga harus ditarik kembali.

Belgia

Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan euthanasia pada akhir September 2002.
Para pendukung euthanasia menyatakan bahwa ribuan tindakan euthanasia setiap
tahunnya telah dilakukan sejak dilegalisasikannya tindakan euthanasia di negara ini,
namun mereka juga mengkritik sulitnya prosedur pelaksanaan euthanasia ini
sehingga timbul suatu kesan adaya upaya untuk menciptakan birokrasi kematian.
Belgia kini menjadi negara ketiga yang melegalisasi euthanasia (setelah Belanda dan
negara bagian Oregon di Amerika).

Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah satu penyusun
rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa seorang pasien yang
menderita secara jasmani dan psikologis adalah merupakan orang yang memiliki hak
penuh untuk memutuskan kelangsungan hidupnya dan penentuan saat-saat akhir
hidupnya.

Amerika

Euthanasia agresif dinyatakan ilegal di banyak negara bagian di Amerika. Saat ini
satu-satunya negara bagian di Amerika yang hukumnya secara eksplisit mengizinkan
pasien terminal (pasien yang tidak mungkin lagi disembuhkan) mengakhiri hidupnya
adalah negara bagian Oregon, yang pada tahun 1997 melegalisasikan kemungkinan
dilakukannya euthanasia dengan memberlakukan UU tentang kematian yang pantas
(Oregon Death with Dignity Act). Tetapi undang-undang ini hanya menyangkut
bunuh diri berbantuan, bukan euthanasia. Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat,
dimana pasien terminal berusia 18 tahun ke atas boleh minta bantuan untuk bunuh
diri, jika mereka diperkirakan akan meninggal dalam enam bulan dan keinginan ini
harus diajukan sampai tiga kali pasien, dimana dua kali secara lisan (dengan
tenggang waktu 15 hari di antaranya) dan sekali secara tertulis (dihadiri dua saksi
dimana salah satu saksi tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien).
Dokter kedua harus mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis serta
memastikan bahwa pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada dalam
keadaan gangguan mental. Hukum juga mengatur secara tegas bahwa keputusan
pasien untuk mengakhiri hidupnya tersebut tidak boleh berpengaruh terhadap
asuransi yang dimilikinya baik asuransi kesehatan, jiwa maupun kecelakaan ataupun
juga simpanan hari tuanya.

Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa dipertahankan di masa depan,
sebab dalam Senat AS pun ada usaha untuk meniadakan UU negara bagian ini.
Mungkin saja nanti nasibnya sama dengan UU Northern Territory di Australia. Bulan
Februari lalu sebuah studi terbit tentang pelaksanaan UU Oregon selama tahun 1999.
Sebuah lembaga jajak pendapat terkenal yaitu Poling Gallup (Gallup Poll)
menunjukkan bahwa 60% orang Amerika mendukung dilakukannya euthanasia.

Swiss

Di Swiss, obat yang mematikan dapat diberikan baik kepada warga negara Swiss
ataupun orang asing apabila yang bersangkutan memintanya sendiri. Secara umum,
pasal 115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Swiss yang ditulis pada tahun
1937 dan dipergunakan sejak tahun 1942, yang pada intinya menyatakan bahwa
membantu suatu pelaksanaan bunuh diri adalah merupakan suatu perbuatan
melawan hukum apabila motivasinya semata untuk kepentingan diri sendiri.
Pasal 115 tersebut hanyalah menginterpretasikan suatu izin untuk melakukan
pengelompokan terhadap obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengakhiri
kehidupan seseorang.

Inggris

Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan Britania Raya
(Britains Royal College of Obstetricians and Gynaecologists) mengajukan sebuah
proposal kepada Dewan Bioetik Nuffield (Nuffield Council on Bioethics) agar
dipertimbangkannya izin untuk melakukan euthanasia terhadap bayi-bayi yang lahir
cacat (disabled newborns). Proposal tersebut bukanlah ditujukan untuk melegalisasi
euthanasia di Inggris melainkan semata guna memohon dipertimbangkannya secara

saksama dari sisi faktor kemungkinan hidup si bayi sebagai suatu legitimasi praktik
kedokteran.
Namun hingga saat ini euthanasia masih merupakan suatu tindakan melawan hukum
di kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain daripada Belanda). Demikian pula
kebijakan resmi dari Asosiasi Kedokteran Inggris (British Medical Association-BMA)
yang secara tegas menentang euthanasia dalam bentuk apapun juga.

Jepang

Jepang tidak memiliki suatu aturan hukum yang mengatur tentang euthanasia
demikian pula Pengadilan Tertinggi Jepang (supreme court of Japan) tidak pernah
mengatur mengenai euthanasia tersebut.
Ada 2 kasus euthanasia yang pernah terjadi di Jepang yaitu di Nagoya pada tahun
1962 yang dapat dikategorikan sebagai eutanasia pasif (shkyokuteki anrakushi).
Kasus yang satunya lagi terjadi setelah peristiwa insiden di Tokai university pada
tahun 1995 yang dikategorikan sebagai euthanasia aktif (sekkyokuteki anrakushi).
Keputusan hakim dalam kedua kasus tersebut telah membentuk suatu kerangka
hukum dan suatu alasan pembenar dimana euthanasia secara aktif dan pasif boleh
dilakukan secara legal. Meskipun demikian euthanasia yang dilakukan selain pada
kedua kasus tersebut adalah tetap dinyatakan melawan hukum, dimana dokter yang
melakukannya akan dianggap bersalah oleh karena merampas kehidupan pasiennya.
Oleh karena keputusan pengadilan ini masih diajukan banding ke tingkat federal
maka keputusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum sebagai sebuah
yurisprudensi, namun meskipun demikian saat ini Jepang memiliki suatu kerangka
hukum sementara guna melaksanakan euthanasia.

Republik Ceko

Di Republik Ceko euthanasia dinyatakan sebagai suatu tindakan pembunuhan


berdasarkan peraturan setelah pasal mengenai euthanasia dikeluarkan dari rancangan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Sebelumnya pada rancangan tersebut, Perdana
Menteri Jiri Pospil bermaksud untuk memasukkan euthanasia dalam rancangan
KUHP tersebut sebagai suatu kejahatan dengan ancaman pidana selama 6 tahun
penjara, namun Dewan Perwakilan Konstitusional dan komite hukum negara tersebut
merekomendasikan agar pasal kontroversial tersebut dihapus dari rancangan tersebut.

India

Di India euthanasia adalah suatu perbuatan melawan hukum. Aturan mengenai


larangan euthanasia terhadap dokter secara tegas dinyatakan dalam bab pertama pasal
300 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana India (Indian penal code-IPC) tahun
1860. Namun berdasarkan aturan tersebut dokter yang melakukan euthanasia hanya
dinyatakan bersalah atas kelalaian yang mengakibatkan kematian dan bukannya
pembunuhan yang hukumannya didasarkan pada ketentuan pasal 304 IPC, namun ini
hanyalah diberlakukan terhadap kasus euthanasia sukarela dimana sipasien sendirilah
yang menginginkan kematian dimana si dokter hanyalah membantu pelaksanaan
euthanasia tersebut (bantuan euthanasia). Pada kasus euthanasia secara tidak sukarela
(atas keinginan orang lain) ataupun euthanasia di luar kemauan pasien akan
dikenakan hukuman berdasarkan pasal 92 IPC.

China

Di China, euthanasia saat ini tidak diperkenankan secara hukum. Euthanasia


diketahui terjadi pertama kalinya pada tahun 1986, dimana seorang yang bernama

Wang Mingcheng meminta seorang dokter untuk melakukan euthanasia terhadap


ibunya yang sakit. Akhirnya polisi menangkapnya juga si dokter yang melaksanakan
permintaannya, namun 6 tahun kemudian Pengadilan tertinggi rakyat (Supreme
Peoples Court) menyatakan mereka tidak bersalah. Pada tahun 2003, Wang
Mingcheng menderita penyakit kanker perut yang tidak ada kemungkinan untuk
disembuhkan lagi dan ia meminta untuk dilakukannya euthanasia atas dirinya namun
ditolak oleh rumah sakit yang merawatnya. Akhirnya ia meninggal dunia dalam
kesakitan.

Afrika Selatan

Di Afrika Selatan belum ada suatu aturan hukum yang secara tegas mengatur tentang
euthanasia sehingga sangat memungkinkan bagi para pelaku euthanasia untuk
berkelit dari jerat hukum yang ada.

Korea

Belum ada suatu aturan hukum yang tegas yang mengatur tentang euthanasia di
Korea, namun telah ada sebuah preseden hukum (yurisprudensi) yang di Korea
dikenal dengan Kasus rumah sakit Boramae dimana dua orang dokter yang
didakwa mengizinkan dihentikannya penanganan medis pada seorang pasien yang
menderita sirosis hati (liver cirrhosis) atas desakan keluarganya. Polisi kemudian
menyerahkan berkas perkara tersebut kepada jaksa penuntut dengan diberi catatan
bahwa dokter tersebut seharusnya dinayatakan tidak bersalah. Namun kasus ini tidak
menunjukkan relevansi yang nyata dengan mercy killing dalam arti kata euthanasia
aktif.

Pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa pada kasus tertentu dari penghentian
penanganan medis (hospital treatment) termasuk tindakan euthanasia pasif, dapat
diperkenankan apabila pasien terminal meminta penghentian dari perawatan medis
terhadap dirinya.

BAB III
METODE PENELITIAN
A.

Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif yaitu dengan
menganlisis data yang mengacu pada norma-norma hukum yang dituangkan dalam

Peraturan Perundang-Undangan khususnya yang berkaitan dengan judul yang penulis


angkat.
B.

Metodologi Pendekatan

Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum normatif adalah :


1.

Pendekatan Undang-Undang (Statute Approach)

Pendekatan Undang-undang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan


regulasi yang berhubungan dengan judul yang diteliti.
2.

Pendekatan Kasus (Case Approach)

Pendekatan kasus dilakukan terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu hukum
yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap (in craht).
3.

Pendekatan Historis(Historical Approach)

Pendekatan historis dilakukan dengan menelaah latar belakang apa yang dipelajari
dan perkembangan pengaturan mengenai isu hokum yang dihadapi.Telaah demikian
diperlukan oleh peneliti manakala peneliti ingin mengungkap filosofis dan pola pikir
yang melahirkan sesuatu yang sedang dipelajari.
4.

Pendekatan Komparatif(Comparative Approach)

Pendekatan ini dilakukan dengan membandingkan undang-undang suatu Negara


dengan undang-undang dari satu atau lebih Negara lain mengenai hal yang
sama.Dapat juga yang diperbandingkan disamping undang-undang juga putusan
pengadilan di beberapa Negara untuk kasus yang sama.
5.

Pendekatan Konseptual(Conceptual Approach)

Pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang


berkembang dalam ilmu hukum
C. Jenis dan Sumber Bahan-Bahan Hukum

a.

Bahan-bahan primer, adalah bahan hukum yang terdiri dari perundang-

undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan undang-undang dan


putusan-putusan hakim.
b.

Bahan-bahan sekunder, adalah bahan hukum berupa semua publikasi tentang

hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi.


D. Teknik Pengumpulan Bahan-Bahan Hukum
Pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini dilakukan dengan :

Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Teknik ini bertujuan untuk mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori ataupun penemuanpenemuan yang berhubungan erat dengan rumusan masalah.
E. Teknik Analisis Bahan-Bahan Hukum
Tekhnik analisis bahan hukum yang dipergunakan adalah preskriptif, dimana penulis
memberikan suatu rumusan konsep yang dapat digunakan untuk memecahkan
masalah yang dihadapi.

BAB IV
PENUTUP
Di Indonesia masalah euthanasia masih belum mandapatkan tempat yang diakui
secara yuridis dan mungkinkah dalam perkembangan Hukum Positif Indonesia,
euthanasia akan mendapatkan tempat yang diakui secara yuridis.

Munculnya permintaan tindakan medis euthanasia hakikatnya menjadi indikasi,


betapa masyarakat sedang mengalami pergeseran nilai kultural. Disini Penulis
menentang dilakukannya euthanasia atas dasar etika, agama, moral dan legal, dan
juga dengan pandangan bahwa apabila dilegalisir, euthanasia dapat disalahgunakan.
Kelompok pro-euthanasia mungkin akan menentang pendapat ini dengan
menggunakan argumen quality of life, dan hukum. Namun demikian, pernyataan yang
telah dikemukakan, pertama secara etika, tugas seorang dokter adalah untuk
menyembuhkan, bukan membunuh; untuk mempertahankan hidup, bukan untuk
mengakhirinya. Dari dasar agama adalah di mana dokter percaya kesucian dan
kemuliaan kehidupan manusia. Dari segi respek moral, pilihan untuk membunuh,
baik orang lain maupun diri sendiri adalah imoral karena merupakan tindak sengaja
untuk membunuh seorang manusia. Dari segi legal, seorang dokter yang melakukan
euthanasia atau membantu orang yang bunuh diri telah melakukan tindakan
melanggar hukum. Pernyataan terakhir adalah sulitnya untuk melegalisir euthanasia
karena sulitnya membuat standar prosedur yang efektif. Selanjutnya hal ini juga
dapat memberikan tekanan kepada mereka yang merasa diabaikan atau merasa
sebagai beban keluarga atau teman.
Jadi di Indonesia Euthanasia aktif tetap dilarang, baik dilihat dari kode etik
kedokteran, undang-undang hukum pidana, maupun menurut setiap agama, yang
menghukumkannya haram. Sedangkan Euthanasia pasif diperbolehkan, yaitu
sepanjang kondisi pasien berupa batang otaknya sudah mengalami kerusakan fatal.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. H. Sutarno, Dr. Sp. Tht., Sh., Mh ,Hukum kesehatan,malang : SETARA Press,
2014.
Hanafiah, M. Yusuf. 1999. Etika kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta : EGC
Soekanto, Sorerjono. Segi-segi hukum hak dan kewajiban pasien. Bandung : CV
Mandar Maju, 1990
Djamali, R. Abdoel dan Tedjapermana, Lenawati. Tanggung jawab hukum seorang
dokter dalam menangani pasien. Jakarta : CV Abardin, 1988.

Dupuis,Heleen M. Dan Tengker,F., Apa yang laik bagi dokter dan pasien,kuat kuasa
dan tak kuasa moral. Bandung: Penerbit Nova,1990
Ekotama, Suryono, ST. Harum Pudjiarto, G. Widiartana, Abortus Provocatus bagi
korban perkosaan,Perspektif Viktimologi,Kriminologi dan Hukum Pidana,
Yogyakarta : Universitas Atma Jaya Yogyakarta,2001.
KUHP
UUD 1945
Pasal 28A UUD 1945
Pasal 28G ayat (2) UUD 1945
Pasal 344 KUHP
Pasal 304 KUHP
Pasal 338 KUHP
Pasal 356 (3) KUHP
Pasal 306 (2) KUHP
pasal 295 HIR
Pasal 63 (2) KUHP
Pasal 63 (1) KUHP
Kode Etik Kedokteran yang ditetapkan Mentri Kesehatan Nomor :
434/Men.Kes./SK/X/1983
Pasal 3 DUHAM
http://id.wikipedia.org/wiki/Eutanasia
https://fatmanadia.wordpress.com/2012/09/02/pandangan-etika-dan-perundangundangan-tentang-euthanasia/
http://93kd.blogspot.co.id/2015/03/euthanasia.html
http://rabdhanpurnama.blogspot.co.id/2012/07/euthanasia-ditinjau-dari-aspekhukum.html
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=14999&val=1002