Anda di halaman 1dari 34

Laporan Kasus

GANGGUAN MENTAL LAINNYA AKIBAT


KERUSAKAN DAN DISFUNGSI OTAK DAN
PENYAKIT FISIK (F06)

Oleh
Dwi Ayu Kusumawardani, S.Ked
I4A012075
Ida Ayu Pranita Dewi Sy, S.Ked
I4A012096
Febby Ariza R, S.Ked
I4A011074

Pembimbing
dr. H. Yulizar Darwis, Sp.KJ, MM.
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
Fakultas Kedokteran UNLAM/RSUD ULIN
Banjarmasin
Maret, 2016

LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRIK

I.

IDENTITAS PASIEN

II.

Nama

Ny. M

Usia

29 tahun

Jenis Kelamin

Perempuan

Alamat

UPT Bukit Baru, Sungai Danau, Kalimantan Selatan

Pendidikan

SMP

Pekerjaan

Ibu Rumah Tangga

Agama

Islam

Suku

Jawa

Bangsa

Indonesia

Status Perkawinan

Sudah Menikah

MRS Tanggal

10 Maret 2016

RIWAYAT PSIKIATRIK
-

Alloanamnesis dengan ibu, suami dan mertua pasien pada hari jumat, 11
Maret 2016, pukul 15.15 WITA di IGD RSUD Ulin Banjarmasin

Autoanamnesis dengan pasien pada hari jumat, 11 Maret 2016, pukul


16.30 WITA di IGD RSUD Ulin Banjarmasin

A.

KELUHAN UTAMA
Nyeri kepala hebat disertai demam menyebabkan pasien berteriak-teriak
kesakitan.
KELUHAN TAMBAHAN

Mual menyebabkan pasien sulit meminum

obat ataupun menelan

makanan dan terdapat nyeri perut di bagian ulu hati. Sejak nyeri kepala
hebat disertai demam ini pasien sulit diajak berkomunikasi karena
pembicaraan seringkali tidak relevan.
B.

RIWAYAT PENYAKIT
Alloanamnesis dengan Suami (Tn. Aan), Ibu Pasien (Ny. Jakiyem),
Mertua Pasien (Ny. Sumini):
Suami pasien menduga bahwa pasien seringkali memikirkan mengenai
rumah tangganya yang tak kunjung dikaruniai buah hati. Pasien dan suami
telah menikah selama 10 tahun (awal tahun 2006) dan telah mengusahakan
berbagai hal untuk mendapatkan buah hati, pasien memercayai tradisi suku
jawa karena pasien berasal dari suku jawa sehingga pasien menurut untuk
meminum jamu-jamu penyubur. Namun, usaha tersebut belum membuahkan
hasil, suami pasien menyadari bahwa sebagai seorang istri, pasien ingin
menjadi ibu dari anak-anak suami pasien.
Pasien memiliki kepribadian tertutup dan memilih untuk memendam
seluruh unek-unek pasien seorang diri, suami juga tidak begitu mengetahui
masalah pasien karena pasien tidak pernah membagi keluh kesahnya pada
suami maupun ibu pasien. Menurut teori kepribadian yang diungkapkan oleh
Sigmund Freud membagi beberapa komponen pembentuk kepribadian, di
antaranya Id, ego dan superego. Id sebagai dorongan-dorongan terhadap
pemuasan segera dan terletak di alam bawah sadar (unconscious level) dalam
hal ini ialah dorongan untuk memiliki keturunan di alam bawah sadar sebab
sadar akan kodratnya sebagai seorang istri, sedangkan ego yang menuntun Id
sesuai dengan realita (aturan, nilai atau norma di lingkungan sekitar), bila ego

berhasil menuntun Id untuk melakukan perbuatan baik maka superego akan


memuji ego dan perasaan yang timbul ialah senang atau bangga, tetapi di
kasus ini ego belum berhasil menuntun Id dengan baik karena kenyataannya
hingga kini pasien belum dapat mempunyai anak menyebabkan superego
menghukum ego dengan perasaan bersalah, padahal faktor-faktor infertilitas
dari kedua belah pihak belum dipelajari lebih jauh. Pasien merasa bersalah
setelah mengetahui bahwa pasien mengidap kista ovarium kanan sejak
pertengahan tahun 2011, namun belum menjalani pengobatan dikarenakan
kendala biaya dan kepercayaan terhadap tradisi suku jawa (rintangan
eksternal) yaitu konsumsi jamu-jamuan atau dengan kata lain pasien memilih
untuk menempuh pengobatan herbal terlebih dahulu.
Menurut psikopatologi, stimulus pada kasus ini terletak pada
lingkungan sekitar pasien yang senantiasa menanyakan perihal buah hati
selama menjalani pernikahan sejak awal tahun 2006 sehingga respon pasien
menanggapi hal tersebut ialah berusaha untuk memeroleh keturunan. Respon
pasien menghadapi stimulus dalam kasus ini bertujuan untuk meneruskan
garis keturunan pasien serta suami, sedangkan motif pasien terhadap stimulus
ini ialah memenuhi kebutuhan biologik atau psikologik pasien sebagai
seorang wanita atau istri yang kodratnya ialah calon ibu bagi anak-anak pasien
dan suami, namun pasien belum dapat memenuhinya dikarenakan menurut
keluarga pasien memiliki penyakit di bagian saluran reproduksi (kista
ovarium) dan belum dilakukan tindakan.
Tujuan untuk meneruskan garis keturunan ini belum tercapai dapat
dipengaruhi oleh adanya rintangan dari dalam diri pasien sendiri seperti

kepribadian pasien cenderung tertutup terhadap berbagai masalah yang


dihadapi bahkan pada suami pasien sekalipun, rintangan eksternal seperti
adat-istiadat/tradisi/kebiasaan berlaku pada kasus ini tercermin dari tradisi
jawa yang mengonsumsi jamu-jamu penyubur rahim.
Sampai dengan awal bulan Maret 2016, pasien masih belum dikaruniai
anak, diasumsikan sebelumnya bahwa pasien mengalami stres. Selama
beberapa dekade terakhir, kemajuan konsep psikoneuroimunologi (PNI) telah
banyak diaplikasikan dalam penelitian mengenai kesehatan dan kualitas hidup
pasien kanker. PNI mempelajari bagaimana hubungan antara faktor-faktor
psikososial dengan faktor imunitas/endokrin dapat memicu perkembangan
penyakit khususnya keganasan atau kanker pada individu yang berisiko
menderita penyakit ini, memicu metastasis serta kekambuhan pada individu
pasien kanker (Antoni, 2003). Penerapan prinsip-prinsip PNI ini didasarkan
pada hipotesis bahwa pengalaman menderita penyakit pada seorang individu
dapat menimbulkan stres dan penurunan kualitas hidup yang dapat
menimbulkan disregulasi imun dan neuroendokrin, yang pada gilirannya
memengaruhi perkembangan penyakit dan respon terhadap pengobatan.
Bahkan, literatur psiko-onkologi menunjukkan banyak bukti bahwa individu
dengan penyakit keganasan khususnya memiliki tingkat stres yang lebih tinggi
dibanding individu sehat (Jensen, 2005). Sumber stres pada pasien ini meliputi
ketidakpastian nasib, kurangnya kontrol pribadi, kekhawatiran terhadap hasil
pemeriksaan, gangguan pada komunikasi dengan pasangan, perasaan bersalah,
rasa takut akan kematian, ancaman kecacatan akibat penyakit, beratnya beban

terapi, kelelahan, beban keuangan, isolasi sosial, ketakutan akan kekambuhan


serta kesulitan seksual (Jensen, 2005).
Sejumlah penelitian telah menemukan hubungan antara stres dan
imunitas pada pasien kanker. Kiecolt-Glaser et al (2002) melaporkan bahwa
tekanan psikologis dapat mengganggu kemampuan memperbaiki DNA seluler
yang rusak dalam kanker serta menghambat apoptosis sel. Selain
hubungannya dengan fungsi imunitas tubuh dan neuroendokrin, stres juga
telah berkaitan dengan dampak terhadap progresivitas penyakit. Diagnosis dan
terapi penyakit menginduksi stres akut dan kronik dan menurunkan kualitas
hidup,

yang

mana

dapat

mempengaruhi

regulasi

neuroimun

yang

mempromosikan proses inflamasi yang dapat berperan dalam eksaserbasi


gejala dan metastasis (Antoni et al., 2006a,b; Andersen et al., 1994). Stres
kronik, afek negatif, dan gangguan kehidupan sosial juga berpengaruh pada
perubahan biobehavioral (peningkatan signalisasi sistem saraf simpatis,
disregulasi aksis HPA, inflamasi dan penurunan imunitas. Dalam kasus ini,
pasien mengalami stres dan terjadi penurunan kualitas hidup dan
memengaruhi regulasi neuroimun, akibatnya terjadi penurunan imunitas,
pasien rentan akan infeksi. Pasien seringkali mengeluhkan batuk atau flu yang
dianggap remeh dan tidak perlu pengobatan, hingga di tanggal 6 Maret 2016
pasien mengeluhkan nyeri kepala hebat dengan demam dan riwayat batuk, flu
serta demam sebelumnya. Keluarga tidak mengukur suhu badan pasien
sehingga demam tersebut tidak diketahui secara pasti angkanya. Menurut
keterangan keluarga, seluruh badan pasien teraba panas dan saat itu pasien
berteriak-teriak kesakitan karena nyeri kepala memberat saat itu. Nyeri kepala

ini menjalar dari bagian dahi, tengkuk atau leher bagian belakang hingga ke
seluruh kepala pasien, rasa sakitnya seperti tertusuk-tusuk benda tajam, nyeri
bertambah parah dengan adanya demam. Nyeri kepala tersebut muncul tanpa
mengenal waktu baik pagi, siang ataupun sore, nyeri kepala hebat ini
menyebabkan pasien tidak dapat beraktivitas dan menganggu tidur pasien.
Teriakan pasien berupa Mama, sakiiit, mama, sakiiit, terdengar hingga
rumah ibu pasien yang terletak berdampingan. Teriakan atau amukan pasien
berlangsung cukup lama, menurut suami pasien hal itu dapat berlangsung
sejak sore hari hingga keesokan paginya. Suami pasien menyatakan bahwa
persentase tidur pasien hanya 10% dalam 1 minggu, dan persentase terjaga
dari tidurnya ialah 90% dari 1 minggu belakangan ini (4 Maret 2016). Hal ini
membuat suami pasien tidak dapat meninggalkan pasien seorang diri sehingga
suami pasien memutuskan beristirahat dari pekerjaannya sementara waktu.
Pasien akhirnya memeriksakan diri ke puskesmas terdekat dan dirujuk ke
RSJD Sambang Lihum pada hari kamis, 10 Maret 2016.
Stres psikososial lainnya berasal dari lingkungan sekitar pasien di mana
rumah pasien berada di samping rumah ibu pasien dan sedikit lebih jauh dari
rumah mertua pasien. Pasien seringkali berkunjung ke rumah orang tua
pasien, berbicara seperlunya dan tidak pernah menceritakan permasalahan
rumah tangga atau permasalahan lainnya. Sementara itu, mertua pasien atau
keluarga pihak suami pasien seringkali menanyakan perihal rumah tangga
pasien terutama berkaitan dengan kehadiran buah hati, namun, pasien enggan
membahas perihal rumah tangganya itu. Percekcokan di antara pasien dengan

suami diakui suami pasien dalam batas kewajaran, tetapi pasien tidak pernah
mengeluhkan hal-hal tersebut kepada orang tua atau keluarganya.
Sejak nyeri kepala hebat yang dibarengi dengan demam (6 Maret 2016)
menyebabkan pasien lebih sering berada di rumah. Pasien lebih memilih
untuk menyendiri karena merasa lebih tenang, jika pasien bersama-sama
dengan orang lain maka pasien merasa gelisah dan cenderung mengamuk.
Walau demikian, pasien tidak tampak melamun dan tidak mendengar
bisikan-bisikan ataupun melihat bayangan-bayangan tertentu. Pasien masih
dapat diajak berbicara, tetapi ide pikirannya melompat-lompat dari satu topik
ke topik lainnya yang tidak berhubungan sama sekali sehingga membutuhkan
kesabaran lebih banyak bila berbincang dengan pasien. Pasien juga
mengeluhkan adanya penurunan penglihatan atau mata kabur sehingga kedua
mata saling mendekat (konvergen). Keluarga mengeluhkan bahwa pasien
mengalami kesulitan untuk melakukan kegiatan makan, mandi dan mengurus
tubuhnya sendiri sehingga pasien harus dibantu makan dan merawat tubuhnya
oleh suami pasien semenjak sakit (6 Maret 2016).
Pasien dibawa berobat ke salah satu pelayanan kesehatan (puskesmas di
Bukit Baru) di dekat rumah pasien maka pasien dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa
Daerah Sambang Lihum (RSJD Sambang Lihum) pada tanggal 10 Maret 2016
dan setelah dilakukan pemeriksaan, pasien tidak dirawat dan dilakukan
rujukan kembali ke RSUD Ulin Banjarmasin.
Pasien dan keluarga tiba di IGD pada pukul 01.00 WITA dini hari
karena menurut keterangan dalam surat rujukan menyatakan bahwa modalitas
pemeriksaan lebih lanjut tidak tersedia, seperti CT scan. Saat itu pasien
dicurigai menderita tumor otak dengan diagnosis banding berupa anuerisma

pembuluh darah otak karena adanya nyeri kepala hebat dan kecurigaan
peningkatan tekanan intrakranial, namun tidak dilakukan pemeriksaan
funduskopi dan karakteristik muntahan pasien didahului dengan mual
sehingga peningkatan tekanan intrakranial masih belum dapat dibuktikan.
Sepanjang perjalanan menuju IGD RSUD Ulin Banjarmasin di hari
jumat, 11 Maret 2016 dini hari, pasien gelisah dan berteriak-teriak, berbicara
terus menerus tanpa maksud yang jelas hingga tiba di IGD RSUD Ulin, pasien
diberi pertolongan pertama (tetesan lodomer, haloperidol berdasar keterangan
status IGD), kemudian pasien menjadi tenang. Menurut pengakuan suami
pasien, pasien diberikan beberapa obat selain infus RL, injeksi, tetesan serta
obat yang diminum oleh pasien (menurut status IGD, pasien mendapat terapi
clobazam), sejak itu suami pasien merasa bahwa pasien sulit diajak berbicara,
meskipun pasien terkadang mampu menjawab pertanyaan keluarga dengan
anggukan atau suara lirih, respon pasien sangat terbatas.
Selanjutnya pasien menjalani beberapa pemeriksaan fisik maupun
penunjang, seperti pemeriksaan CT scan karena pasien mengeluhkan nyeri
kepala hebat dan adanya nyeri di bagian tengkuk atau leher belakang membuat
pasien dilakukan pemeriksaan meningeal sign, dari hasil pemeriksaan kaku
kuduk didapatkan tahanan saat bagian leher didekatkan ke arah dada pasien.
Pasien dikonsultasikan ke bagian neurologi pada hari Jumat tanggal 11 Maret
2016, pukul 11.00 WITA dengan hasil CT scan dalam batas normal dan
suspect meningitis.
Autoanamnesis:
Ketika ditanya nama, pasien tidak menjawab, saat ditanya sedang di
mana dan di sekelilingnya siapa, pasien menjawab dengan gumaman tanpa

arti yang dapat dipahami, saat pasien ditanya dengan menghitung jari
pemeriksa, pasien tidak menjawab. Ketika ditanya sakit apa, pasien hanya
diam saja. Saat ditanya pasien ada melihat bayangan ataupun suara-suara
bisikan, pasien tidak ada menjawab sama sekali dan hanya bergumam tidak
jelas. Pasien juga terus menatap ke langit-langit rumah sakit dengan
pandangan kosong serta melotot, mata pasien mengalami strabismus dan
cenderung mendekat (konvergen). Pasien tampak gelisah walau tidak
berteriak-teriak, ditandai dari kaki dan tangan pasien tampak bergerak terus
menerus namun tidak merespon pertanyaan pemeriksa.
C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Di awal pernikahan pasien tepatnya 10 tahun yang lalu atau di awal tahun
2006 silam, pasien sempat dirawat di rumah sakit karena penyakit maag yang
dideritanya, suami pasien tidak mengingat secara jelas obat yang dikonsumsi
pasien karena suami pasien memercayakan pengobatan terbaik istrinya
kepada dokter. Setelah itu pasien tidak pernah mengalami sakit serius, pasien
hanya mengeluhkan nyeri perut hebat pada tanggal 4 Maret 2016, dari hasil
pemeriksaan pasien didiagnosis menderita maag dan diharuskan rawat inap di
Rumah Sakit Suaka Insan. Nyeri perut terasa di bagian ulu hati tanpa
penjalaran ke bagian dada atau punggung kiri. Lalu, sejak 4 Maret 2016 itu
pasien mulai mengeluhkan mual-mual sehingga sulit mengonsumsi makanan,
mual diakhiri dengan muntah berupa cairan tanpa darah.

D.

RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI

1. Riwayat Perinatal
Pada saat masa kehamilan ibu pasien periksa ke bidan secara rutin dan
mendapatkan imunisasi tetanus, pasien lahir di Purbalingga, 23 Oktober
1986 ditolong oleh dukun beranak secara normal. Bayi dan ibu sehat saat
persalinan, bayi langsung menangis
2. Riwayat Masa Bayi ( 0-1,5 tahun) = Trust vs Mistrust
Anak diberi ASI hingga usia 2 tahun, saat anak menangis ibu pasien
langsung mengelus dan memanjakan anaknya, dan langsung diberi ASI,
pada umur 6 bulan pasien diberi MPASI berupa bubur dan makan dengan
baik, tidak pilih-pilih makanan dan pasien memiliki kualitas tidur yang
baik.
3. Riwayat Masa Kanak-Kanak (1,5-3 tahun ) = Autonomy vs Shame,
Doubt
Riwayat tumbuh kembang anak baik, seperti anak seusianya. Anak mulai
bisa berjalan umur 18 bulan, selain belajar berjalan pada usia tersebut,
pasien juga sudah mulai belajar untuk makan sendiri. Pasien juga mulai
berbicara dengan beragam kosa kata pada umur 2-3 tahun. Di umur 2
tahun tersebut pasien juga mulai diajarkan toilet training. Saat pasien
bartanya-tanya dengan orangtuanya mengenai keingintahuannya, orangtua
selalu menjawabnya dengan baik. Pada saat pasien aktif bergerak sesuai
kemauannya, orang tua pasien selalu mengawasinya dan siap menangkap
saat pasien hendak jatuh. Pasien bukan orang yang takut pada orang lain,
saat ingin digendong atau didekati oleh orang yang tidak ia kenal
sebelumnya, pasien bersedia. Pasien dekat dengan ibu dan ayahnya, karena

10

sewaktu pasien masih kecil tidak pernah mendapat perlakuan yang tidak
enak baginya, apabila melakukan kesalahan, pasien hanya ditegur dan
diminta untuk tidak mengulanginya lagi, pasien tidak dipukul.
4. Riwayat Masa Presekolah (3-6 tahun) = Initiative vs Guilt
Pada fase ini pasien lebih dekat dengan ibunya, ibu pasien merupakan
seorang petani yang setiap paginya harus pergi ke sawah sehingga setiap
pagi pukul 06.00-17.00 pasien diasuh oleh neneknya. Namun, terkadang
pasien diajak ke sawah oleh ibunya, saat ibu bekerja atau beraktivitas
pasien selalu mencoba mengikuti kegiatan ibunya di ladang tetapi pasien
tidak diperbolehkan untuk ikut membantu ibunya di ladang. Pasien mulai
masuk TK umur 5 tahun saat awal masuk, pasien sering menangis apabila
ditinggal oleh ibunya, tetapi tangisan itu mampu berhenti saat pasien
diajak oleh gurunya bermain bersama teman-teman sekelasnya walaupun
perlu waktu yang agak lama untuk menenangkannya. Pasien juga merasa
kasih sayang orang tuanya terbagi ke kakak-kakak dan adik bungsunya
karena jarak mereka yang berdekatan yaitu jarak antar saudara 2-3
tahunan.
5. Riwayat Masa Sekolah (6-12 tahun) = Industry vs Inferiority
Pasien mulai duduk di bangku SD umur 7 tahun, saat duduk di bangku SD
pasien termasuk siswa yang pintar dan mendapatkan rangking di kelasnya,
pasien tidak pernah tinggal kelas. Saat SD pasien lebih senang berteman
dengan permpuan. Di saat masa-masa ini pasien senang apabila membuat
kerajinan tangan seperti membuat bunga dari kertas, membuat anyaman,
dan membuat boneka dari kain perca. Setiap kali pasien membuat

11

kerajinan tangan, orangtua pasien selalu menegurnya untuk tidak


menghabiskan waktu di rumah saja tetapi dapat membantu orangtuanya
menanam di ladang. Sehingga kerajinan tangan tersebut tidak pernah
rampung untuk dikerjakan dan apabila disaat melanjutkan kerajinan
tangan tersebut, pasien lupa terakhir mengerjakan sampai dimana, maka
pasien merasa kesal dan putus asa karena harus mengulang dari awal lagi.
Saat sekolah, pasien sempat merasa minder karena teman sebayanya
memiliki kehidupan yang lebih baik darinya, pasien juga minder untuk
berteman dengan teman-temannya tersebut karena merasa temannya tidak
akan menerima kehadirannya.
6. Riwayat Masa Remaja (12-20 tahun) = Identity vs Role Difussion
Saat duduk di bangku SMP, pasien mulai mengalami menstruasi di usia 13
tahun, pasien merupakan pribadi yang tertutup dan sukar untuk bergaul.
Pasien merasa lebih senang sendiri, hubungan antara pasien dan temantemannya berjalan dengan baik, dengan guru-gurunya pun berjalan dengan
baik tanpa ada masalah di sekolah. Pasien dapat menyelesaikan masa SMP
nya dengan baik tetapi tidak lagi melanjutka ke bangku SMA, setelah lulus
SMP, pasien memilih untuk bekerja di perkebunan karet. Di perkebunan
karet tersebut pasien bertemu dengan calon suaminya dan akhirnya pasien
menikah umur 19 tahun, pasien tidak lagi melanjutkan ke bangku SMA
karena keterbatasan ekonomi orangtuanya untuk membiayai pasien. Sejak
menikah tersebut pasien tinggal bersama suamiya.
7. Riwayat Masa Dewasa (20-40 tahun) Intimacy vs isolation

12

Pada tahun awal tahun 2008 pasien sempat ikut bekerja dengan
tetangganya, ia membantu tetangganya bertani, namun tidak berapa lama
tiga bulan kemudian pasien berhenti bekerja dengan tetangganya dan
akhirnya disuruh ikut membantu mengambil getah karet di belakang
rumahnya, getah karet tersebut milik kakak iparnya, dalam pekerjaannya
pasien sering dimarahi karena selalu salah dalam menyelesaikan tugasnya
mengambil getah karet. Pernikahan pasien berjalan sebagaimana mestinya,
dari awal pernikahannya pasien menjadi pribadi yang tertutup, pasien
jarang menceritakan masalah maupun beban pikirannya kepada suaminya
dan lebih memendam masalah itu sendiri. Pada pertengahan 2014 pasien
pernah masuk rumah sakit karena harus menjalani operasi ovarium
sebelah kanan, sehingga sekarang ia hanya memiliki 1 ovarium saja di
sebelah kiri, dari riwayat operasi itulah pasien semakin sering diam dan
menyendiri, terkadang ia bilang kepada suaminya bahwa ia ingin
mempunyai anak agar kodratnya sebagai wanita terpenuhi. Oleh karena
itulah pasien disarankan minum jamu-jamu penyubur oleh mertua dan
orangtuanya, tetapi buah hati belum juga didapatkan hingga usia
pernikahan yang ke 10 tahun di awal tahun 2016 ini. Pasien sering
menangis apabila teringat tentang buah hati terlebih setelah ia
menjalankan operasi tersebut pasien menjalankan operasi tersebut pasien
semakin pesimistis untuk memiliki buah hati, suami pasien sudah
memberikan nasihat bahwa ada waktunya Yang Maha Kuasa menitipikan
buah hati, tetapi pasien tidak tahan dengan pertanyaan yang selalu

13

mencecar pasien yaitu kapan punya anak, sudah lama menikah tapi belum
dikaruniai anak dari keluarga suaminya.
8. Riwayat Pendidikan
Pasien menjalani pendidikan sampai tingkat SMP kelas 3.
9. Riwayat pekerjaan
Pasien pernah bekerja di kebun karet sebelum mengalami sakit.
10. Riwayat perkawinan
Pasien menikah pertama kali pada umur 19 tahun tepatnya pada tahun
E.

2006.
RIWAYAT KELUARGA
Pasien merupakan anak keempat dari 5 bersaudara. Ayah dan ibu
pasien tinggal di samping rumah pasien. Saat ini pasien tinggal bersama
suami saja karena belum dikaruniai buah hati. Hubungan dengan saudarasaudaranya cukup baik. Dalam keluarga pasien, tidak ada yang
mengalami gangguan jiwa. Ibu pasien menderita asma sehingga bila
terdapat stres atau pemikiran yang mengkhawatirkan maka asma ibu
pasien akan kambuh dengan riwayat pengobatan tidak dilakukan secara
rutin. Dalam psikopatologi, ibu pasien melibatkan gejala somatik yang
dominan, sehingga stres yang diterima akan dikonversi menjadi serangan
asma. Ayah pasien diketahui tidak memiliki penyakit-penyakit berat
lainnya seperti penyakit jantung, ginjal dan lain sebagainya.

14

Keterangan:
Laki-laki
:
Perempuan :
Penderita
:
Meninggal :
Tidak ada riwayat gangguan jiwa (retardasi mental) dalam keluarga.
F.

RIWAYAT SITUASI SEKARANG


Pasien lahir di Purbalingga, 21 Januari 1987 dan pasien dibesarkan di
Purbalingga. Asal keluarga pasien juga berasal dari daerah yang sama yaitu
Purbalingga, komunikasi pasien dengan keluarga tidak berjalan lancar karena
kesibukan masing-masing dan sibuk dengan urusan rumah tangganya masing,
masalah masa lalu dengan anggota keluarga yaitu saat pasien harus menjalani
operasi dan belum dikaruniai buah hati hingga usia 10 tahun pernikahannya
pada tahun 2016 ini. Padahal kakak dan adiknya sudah mempunyai buah hati
semua sehingga pasien merasa minder dan karena belum dikaruniai tersebut
pasien selalu dicecar dengan pertanyaan kapan punya buah hati, mengapa
belum punya buah hati juga hingga sekarang, pasien juga sudah mengikuti
tradisi yang ada pada keluarganya yaitu meminum jamu-jamu penyubur tetapi
usaha tersebut belum juga membuahkan hasil. Saat ini pasien tinggal bersama
suaminya tepat di samping rumah ibu pasien yaitu di UPT Bukit Baru Sungai
Danau. Rumah terbuat dari kayu, dengan 4 buah kamar tidur, berdinding kayu
dan ventilasi yang cukup. Awalnya pasien tinggal dengan ibu mertua dan
kakak iparnya di rumah mertuanya tetapi karena pasien merasa tidak tahan

15

selalu didesak untuk punya buah hati maka pasien mengusulkan kepada
suaminya untuk punya rumah sendiri saja. Saat ini pasien tinggal berdua
dengan suaminya, sejak tinggal berdua dengan suaminya, pasien lebih sering
diam dan menyendiri dan pasien sering mengutarakan kalau pasien ingin
sekali mempunyai anak dari pernikahannya tersebut.
G. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA
Sebelumnya pasien menyadari bahwa dirinya sakit, tetapi setelah berobat
ia tidak ingin meminum obatnya karena terasa mual. Pasien juga menganggap
bahwa sakitnya ialah sakit pada umumnya dan tidak perlu berobat hingga
kondisi kesehatan pasien benar-benar memburuk. Tilikan pasien ini berada di
derajat 5 karena pasien menyadari akan sakitnya namun tidak berinisiatif
melakukan perubahan untuk mengobat sakit tersebut dan pasien akan
memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan, tetapi tidak meminum obat yang
telah diberikan oleh tenaga kesehatan.
III. STATUS MENTAL
A. DESKRIPSI UMUM
1.
Penampilan
Pasien wanita, berusia 29 tahun, berperawakan gemuk (endomorfik),
kulit sawo matang, rambut berwarna hitam. Pasien tampak terawatt
dan berpenampilan sesuai usia pasien. Pasien memakai daster
bermotif bunga dan berwarna merah muda, bagian bawah pasien
ditutupi dengan sarung bermotif batik dan berwarna jingga, terkesan
terawat dan sesuai usia. Pasien berbaring di bed pemeriksaan dan
dilapisi oleh alas tidur yang dibawa keluarga, berwarna biru dan

16

bergelombang. Pasien tampak sakit sedang dan terkadang gelisah,


terkadang pasien senyum-senyum sendiri dan pasien sering menatap
ke bagian atas, tidak menoleh saat dipanggil dan dipegang, kontak
mata tidak dapat dipertahankan bersama pemeriksa, tidak berespon
dengan baik saat ditanya dan sesekali bergumam. Terkadang pasien
meraba-raba tangan kanan yang terpasang infus namun pasien
tampaknya tidak melihat secara jelas sehingga pasien tidak mampu
melepas infus yang telah terpasang di tangan pasien. Menurut
keterangan keluarga, pasien sulit berbicara setelah diberikan obat
penenang oleh dokter jaga IGD, berdasarkan status IGD pasien,
didapatkan bahwa pasien diberikan clobazam.
2.

Pasien sangat sulit

untuk dievaluasi.
Kesadaran
Berkabut karena pasien memiliki perubahan kesadaran yakni pasien
tidak mampu berpikir jernih dan berespon secara memadai terhadap
situasi

sekitarnya.

Pasien

seringkali

tampak

bingung,

sulit

memusatkan perhatian.
3.
Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Hipoaktif
4.
Pembicaraan
Lambat, kacau, inkoheren
5.
Sikap terhadap Pemeriksa
Tidak Kooperatif
6.

Kontak Psikis
Kontak ada, tidak wajar, dan tidak dapat dipertahankan.

17

B. KEADAAN

AFEKTIF, EKSPRESI

AFEKTIF KESERASIAN

SERTA EMPATI
1. Afek (mood)
2. Ekspresi afektif
a. Stabilitas
kooperatif,

: Hipothym
: Kesakitan
: Sulit dievaluasi karena pasien tidak
sehingga

ketetapan

dalam

bereaksi

saat

diwawancara tidak bias dinilai.


b. Kesungguhan/serius
: Tidak sungguh-sungguh
c. Skala Diferensiasi
: Sempit
d. Pengendalian
: Terganggu
e. Dalam atau dangkal
: Dangkal
f. Arus Emosi
: Lambat
3. Keserasian
: Inappropriate
4. Empati
: tidak dapat dirabarasakan
C. FUNGSI KOGNITIF
1.
2.

Kesadaran
Orientasi
a.
b.
c.
d.

Waktu
Tempat
Orang
Situasi

: Berkabut
: sulit dievaluasi
: sulit dievaluasi
: sulit dievaluasi
: sulit dievaluasi
3. Konsentrasi : sulit dievaluasi

4.

Daya Ingat :
a. Segera
: sulit dievaluasi
b. Jangka pendek
: sulit dievaluasi
c. Jangka panjang
: sulit dievaluasi
5.
Intelegensi dan Pengetahuan Umum : sulit dievaluasi
6.
Pikiran abstrak
: sulit dievaluasi
7.
Kemampuan menolong diri sendiri : tidak baik (pasien diperintah
dulu baru mau melakukan sesuatu seperti mandi, makan)
D. GANGGUAN PERSEPSI
1.

Halusinasi

: sulit dievaluasi

18

2.

Depersonalisasi dan derealisasi

: sulit dievaluasi, derealisasi

(saat hari ke-4 sakitnya, tanggal 6 Maret 2016, pasien mulai


mengalami kesulitan mengenali orang-orang sekitar termasuk
kesulitan dalam merespon pembicaraan dengan lawan bicaranya,
pasien tidak mengenali lingkungan sekelilingnya dan memilih
menyendiri agar lebih tenang).
E. PROSES PIKIR
1.

Bentuk pikir
Autisme

: ada yaitu pasien sering berulang kali

menatap langit-langit rumah sakit dan terkadang pasien senyum2.

senyum sendiri .
Arus pikir
b.
c.

3.
a.
b.

a.Produktivitas
: tidak spontan
Kontinuitas
: jawaban lambat dan seringkali tidak jelas
Hendaya berbahasa
: sulit dievaluasi
Isi Pikir
Preokupasi
: sulit dievaluasi
Waham
: sulit dievaluasi

F. PENGENDALIAN IMPULS
Terganggu
G. DAYA NILAI
1. Daya nilai sosial : sulit dievaluasi
2. Uji Daya nilai
: sulit dievaluasi
3. Penilaian Realita : terganggu (hal ini berarti pasien tidak mampu
mengenali kenyataan di sekelilingnya, dapat dinilai dari bicara pasien
terdengar kacau, perilaku pasien juga lebih senang menyendiri, atensi

19

atau perhatian terhadap lingkungan menurun, afek pasien datar, pasien


memiliki dunia sendiri dengan senyuman tanpa penyebab yang jelas)
H. TILIKAN
Sulit dievaluasi, tetapi lebih mengarah pada tilikan 5 di mana pasien
menyadari bahwa dirinya sakit tetapi tidak ada keinginan untuk berubah
kecuali didesak oleh keluarga yang khawatir akan kesehatannya.
I. TARAF DAPAT DIPERCAYA
Sulit dievaluasi
II PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
A. STATUS INTERNUS
1.
2.
3.
4.

Keadaan umum
Kesadaran
Gizi
Tanda vital

: tampak sakit sedang


: berkabut
: baik
: TD = 120/80 mmHg
N = 104 x/mnt
RR = 16 x/mnt
Temp = 38,8oC

5. Kepala:
a. Mata : palpebra tidak edema, konjungtiva anemis (-/-), sklera
tidak ikterik, pupil anisokor kanan>kiri, refleks cahaya (+/+)
b. Telinga : bentuk normal, sekret tidak ada, serumen minimal,
terdapat penurunan pendengaran
c. Hidung : bentuk normal, tidak ada epistaksis, tidak ada tumor,
kotoran hidung minimal, terdapat kumis tipis.
d. Mulut: bentuk normal dan simetris, mukosa bibir tidak kering dan
tidak pucat, pembengkakan gusi tidak ada dan tidak mudah
berdarah, lidah tidak tremor.

20

e. Leher : Pulsasi vena jugularis tidak tampak, tekanan vena


jugularis tidak meningkat, tidak ada pembesaran kelenjar getah
bening.
6. Thoraks:
a. Inspeksi : bentuk dan gerak simetris
b. Palpasi : fremitus raba simetris
c. Perkusi :
pulmo : sonor
cor : batas jantung normal
d. Auskultasi:
pulmo : vesikuler
cor
: S1-S2 tunggal, Bising (-).
7. Abdomen :
a. Inspeksi : Simetris
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, hepar dan lien tidak teraba
c. Perkusi : timpani
d. Auskultasi: bising usus (+) tidak meningkat
8. Ekstemitas: gerakan bebas, tonus baik, tidak ada edem dan atropi,
tremor (-).
9. Kulit : Turgor cepat kembali.
B. STATUS NEUROLOGIS
Pemeriksaan N I XII :
I (Olfactorius)

: sulit dievaluasi

II (Opticus)

: Reflek

Pupil:

Respon

Cahaya

Langsung D/S (+/+)


III (Oculomotorius)

: Ptosis

(-/-),

Pupil

>3mm/3mm,

kanan/kiri

Respon

Cahaya

Langsung D/S (+/+)


IV (Troklearis)

: Strabismus

(+),

diplopia

sulit

dievaluasi
V (Trigeminus)

: Sensibilitas baik, motorik baik, reflek


kornea D/S (+/+)

21

VI (Abdusens)

: kelumpuhan nervus abdusens kanan


ditandai dari mata tertarik ke arah
medial

VII (Fasialis)

: asimetris wajah (-), memperlihatkan


gigi (+)

VIII (Vestibulokoklearis)

: tes garpu tala (sde), tes keseimbangan


(sde)

IX (Glosofaringeus) & X (Vagus) : pergeseran uvula (-), reflek muntah


(+)
XI (Asesorius)

: memutar kepala (+)

XII (Hipoglosus)
Gejala rangsang meningeal

: deviasi lidah (-), tremor lidah (-)


: Ada, kaku kuduk, hiperpireksia
(>38oC), nyeri kepala hebat
: Belum dapat dibuktikan, tidak
dilakukan pemeriksaan funduskopi

Gejala TIK meningkat


Refleks fisiologis

: Normal

Refleks patologis

: Tidak ada

C. HASIL LABORATORIUM
Gran%
: 71,1% Nilai rujukan 50.0-70.0
Limfosit%
: 19,8% Nilai rujukan 25.0-40.0
Gran#
: 7,10 ribu/ul Nilai rujukan 2.50-7.00
SGPT
: 49 U/l Nilai rujukan 0-45
Ureum
: 125.0 mmol/l Nilai rujukan 135-146
Natrium
: 3,3 mmol/l Nilai rujukan 3.4-5.4
Klorida
: 93,5 mmol/l Nilai rujukan 95-100

V.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Alloanamnesis:
o Stressor yang berperan ialah belum dikaruniainya buah hati selama 10
tahun pernikahan dan pasien merasa belum memenuhi kodratnya sebagai
seorang wanita dan calon ibu, pasien memiliki kepribadian tertutup dan

22

menyimpan unek-uneknya sendiri tanpa pernah diceritakan kepada siapa


pun.
o Pada tanggal 6 Maret 2016 pasien mengeluhkan nyeri kepala hebat disertai
demam tinggi dan mengamuk atau berteriak-teriak setelah dirasa nyeri
kepalanya memberat, pasien berteriak Mama, sakiit, mama, sakiit!
Pasien terus memanggil-manggil ibunya karena rumah ibu pasien terletak
berdampingan.
o Sebelumnya pasien dapat diajak berbicara walaupun jawaban pasien
terkadang tidak sesuai dengan pertanyaan, pasien mengalami kegelisahan
sepanjang perjalanan menuju IGD RSUD Ulin Banjarmasin dan terus
berbicara ataupun berteriak-teriak tanpa alasan yang jelas, sesampainya di
IGD RSUD Ulin Banjarmasin pasien diberikan clobazam sehingga pasien
tampak lebih tenang dari sebelumnya, namun, pasien sulit mengungkapkan
apa yang dirasakan, masih belum diketahui apakah hal tersebut disebabkan
oleh medikasi clobazam (anti-anxietas) atau kelelahan akibat peningkatan
motorik sepanjang perjalanan sebelumnya.
Autoanamnesis:
o Pasien terlihat sering menatap ke langit-langit rumah sakit dengan
pandangan kosong, tidak bisa memerhatikan orang-orang di sekitarnya,
acuh tak acuh dan perhatian berkurang.
o Pasien tampak gelisah walau tidak berteriak-teriak, ditandai dari kaki dan
tangan pasien tampak bergerak terus menerus namun tidak merespon
pertanyaan pemeriksa.
o Kesadaran: berkabut
o Perilaku dan aktifitas psikomotor: hipoaktif
o Pembicaraan: Lambat, kacau, inkoheren
23

o Sikap terhadap pemeriksa: tidak kooperatif


o Kontak psikis: Kontak tidak ada, tidak wajar, dan tidak dapat
o
o
o
o
o
o

VI.

dipertahankan.
Afek (mood): Hipothym
Keserasian: Inappropriate
Orientasi: waktu/tempat/orang/situasi: sulit dievaluasi
Daya ingat: sulit dievaluasi
Halusinasi: tidak ada
Penilaian realita: terganggu

EVALUASI MULTIAKSIAL
1. Aksis I

: Gangguan Mental Organik karena gangguan fisik dan

penyakit otak lainnya et causa meningitis


2. Aksis II

: sulit dievaluasi karena pasien tidak dapat berbicara

spontan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada / data tidak cukup untuk


mendukung ciri kepribadian pasien
3. Aksis III

: G00-G99 Penyakit susunan saraf (meningitis yang

diperkuat dengan adanya tahanan pada leher/kaku kuduk, nyeri kepala dan
hiperpireksia, dibuktikan dengan kultur dari cairan serebrospinal)
H00-H59 Penyakit mata dan adneksa (pupil kiri >3mm,
kanan 3 mm dan paresis nervus VI)
4. Aksis IV

: Masalah berkaitan lingkungan sosial

5. Aksis V

: 50-41 Gejala berat (serious), disabillitas berat

VII.

DAFTAR MASALAH

1. ORGANOBIOLOGIK

24

Kesadaran menurun dan tidak berespon terhadap lingkungan sekitarnya,


demam 4 hari, nyeri kepala, mual, muntah, sakit tengkuk.
2. PSIKOLOGIK
Ekspresi afektif tumpul, aktivitas psikomotor hiperaktif hipoaktif setelah
diberikan pengobatan di IGD RSUD Ulin Banjarmasin.

3. SOSIAL/KELUARGA
Pasien lebih menutup diri dan kurang bersosialisasi dengan keluarga atau
orang sekitar.

VII.

PROGNOSIS

Diagnosis penyakit

: dubia ad malam

Perjalanan penyakit

: dubia ad malam

Ciri kepribadian

: dubia ad malam

Stressor psikososial

: dubia ad malam

Riwayat herediter

: dubia ad bonam

Usia saat menderita

: dubia ad malam

Pola keluarga

: dubia ad bonam

Pendidikan

: dubia ad malam

Aktivitas pekerjaan

: dubia ad bonam

Ekonomi

: dubia ad malam

Lingkungan sosial

: dubia ad malam

Organobiologik

: dubia ad malam

Pengobatan psikiatrik

: dubia ad bonam

Ketaatan berobat

: dubia ad malam

Kesimpulan

: dubia ad malam

25

VIII.

RENCANA TERAPI
o Medika mentosa :
Lodomer drop 2x10 tetes
Ranitidin Inj 1 ampul 2 ml (50 mg)
Clobazam 2 x 10 mg
Cefotaxim inj 3 ampul (40 mg/ml, 2 g/6 jam max. 12 g/hari)
o Psikoterapi dianjurkan edukasi kepada penderita dan keluarganya serta
bimbingan terutama untuk mewaspadai setiap gejala penyakit yang
dicurigai menyebabkan penurunan kesadaran, seperti demam tinggi
berhari-hari, nyeri kepala hebat, muntah tanpa didahului mual dan
sifatnya menyembur, kejang, selain itu pasien dan keluarga perlu
diedukasi untuk meningkatkan kesadaran berobat sedini mungkin serta
mematuhi perintah dokter untuk meneruskan pengobatan.
o Religius : selama perawatan pasien diajak berkomunikasi untuk
mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala karena hanya
Allah yang mampu memberi kesehatan itu kembali, setelah sembuh
dari sakitnya dapat dilanjutkan dengan bimbingan / ceramah agama,
shalat berjamaah dan pengajian.
o Rehabilitasi: Sesuai dengan bakat dan minat penderita.
o Monitoring efek samping obat.

IX.

DISKUSI
Berdasarkan hasil anamnesis (alloanamnesis dan autoanamnesis)
serta pemeriksaan status mental menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria
diagnosis dari PPDGJ III, akibat meningoensefalitis pada penderita ini dan

26

didapatkan diagnosis gangguan mental organik karena gangguan fisik dan


penyakit otak lainnya.
Gangguan mental organik merupakan gangguan mental yang
berkaitan dengan penyakit/gangguan sistemik atau otak yang dapat
didiagnosis tersendiri. Termasuk gangguan mental simtomatik, di mana
pengaruh

terhadap

otak

merupakan

akibat

sekunder

dari

penyakit/gangguan sistemik di luar otak (ekstraserebral).


Gambaran utama gangguan mental organik yaitu sebagai berikut:
1. Gangguan fungsi kognitif
Misalnya, daya ingat (memory), daya pikir (intellect), daya belajar
(learning)
2. Gangguan sensorium
Misalnya, gangguan kesadaran (consciousness) dan perhatian
(attention)
3. Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang:
a. Persepsi (halusinasi)
b. Isi pikiran (waham/delusi)
c. Suasana perasaan dan emosi (depresi, gembira, cemas)
Gejala-gejala utama gangguan mental organik adalah fungsi-fungsi
intelektual lemah dan emosi tidak stabil, dan hal ini dapat dilihat dari
tingkah laku umum individu yang selalu ingin menyendiri atau sikap
tertutup terhadap berbagai stressor kehidupan, sering memikirkan
permasalahan yang belum jelas penyebabnya dalam hal ini faktor belum
dikaruniainya buah hati dan merasa belum sempurna kodratnya sebagai
wanita.
Etiologi Primer berasal dari suatu penyakit di otak dan suatu cedera
atau rudapaksa otak atau dapat dikatakan disfungsi otak. Sedangkan

27

etiologi sekunder berasal dari penyakit sistemik yang menyerang otak


sebagai salah satu dari beberapa organ atau sistem tubuh.
Rathus and Nevid (1991) secara terperinci menyebut ciri-ciri dari
gangguan mental organik sebagai berikut.
1. Fungsi intelektual atau ingatan menurun (merosot), mengalami
kesulitan dalam berbicara, memahami, menghitung dan
kehilangan pengetahuan umum
2. Kehilangan ingatan terhadap peristiwa-peristiwa yang baru saja
terjadi dan bukan peristiwa yang sudah lama terjadi lebih
merupakan ciri khas kerusakan organik (akut, daya ingat
segera)
3. Adanya disorientasi dan gangguan motorik (misalnya kesulitan
belajar atau otot gemetar yang tidak berada dibawah kendali
kemauan)
4. Gangguan penilaian atau kesulitan dalam mengambil keputusan
dengan tepat, seperti berpakaian secara tidak tepat atau
meninggalkan rumah sewaktu hujan lebat dan angin ribut
5. Suasana hati yang tidak stabil dan agitasi emosional, misalnya
peralihan yang terjadi dengan cepat dari tertawa ke menangis
atau sebaliknya
6. Perubahan-perubahan

kepribadian

dalam

kehidupan

di

kemudian hari
7. Faktor-faktor psikososial yang dapat menjelaskan tingkah laku
abnormal dan menurunnya fungsi intelektual tidak ada
(misalnya depresi setelah kehilangan orang yang dicintai)
Dalam PPDGJ-III, pedoman diagnostik gangguan mental lainnya akibat
kerusakan dan disfungsi otak dan penyakit fisik yaitu:

28

Adanya penyakit, kerusakan atau disfungsi otak, atau

penyakit fisik sistemik yang diketahui berhubungan dengan


salah satu sindrom mental yang tercantum
Adanya hubungan waktu (dalam beberapa minggu atau

bulan) antara perkembangan penyakit yang mendasari

dengan timbulnya sindrom mental


Kesembuhan dari gangguan mental setelah perbaikan atau

dihilangkannya penyebab yang mendasarinya


Tidak adanya bukti yang mengarah pada penyebab alternatif
dari sindrom mental ini (seperti pengaruh yang kuat dari
riwayat keluarga atau pengaruh stress sebagai pencetus).

Sindrom otak organik adalah gangguan jiwa yang psikotik atau non
psikotik yang di sebabkan oleh gangguan fungsi jaringan otak. Gangguan
fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah,
terutama

penyakit-penyakit

yang

menyerang

bagian

otak

(meningoensefalitis, gangguan pembuluh darah otak, tumor otak dan lainlain) atau diluar otak (misalnya tifus, toxemia kehamilan, intoxikasi,
malaria cerebral dan sebagainya). Bila bagian otak yang terganggu itu
luas, maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak
tergantung pada penyakit yang menyebabkannya. Bila hanya bagian otak
dengan fungsi tertentu saja yang terganggu, maka lokalisasi inilah yang
menentukan

gejala

dan sindrom, bukan

penyakit

utama

yang

menyebabkan perubahan perilaku. Sindrom otak organik dinyatakan akut


atau menahun berdasarkan dapat atau tidak dapat kembalinya gangguan
jaringan

otak

atau

sindrom

otak

organik

itu

dan

bukan

berdasarkan penyebabnya, permulaan, gejala atau lamanya penyakit yang

29

menyebabkannya. Dari gejala-gejala psikiatri tidak dapat diketahui


etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan interna
dan neurologis yang teliti. Gejala-gejala psikiatri lebih ditentukan oleh
keadaan jiwa premorbidnya, mekanisme pembelaan psikologisnya,
keadaan psikososialnya, sifat bantuan dari keluarga, teman dan tenaga
kesehatan, struktur sosial serta ciri-ciri kebudayaan lingkungannya.
Terapi psikofarmaka yang diberikan pada penderita ini adalah
Lodomer drop 2x10 tetes, ranitidin 1 ampul (2 ml) berisi 50 mg, ranitidin
inj 1 ampul 2 ml (50 mg), Cefotaxim inj 3 ampul (40 mg/ml, 2 g/6 jam
max. 12 g/hari), clobazam per oral 10 mg,
Lodomer drop mengandung haloperidol dengan kandungan 2
mg/15 ml. Haloperidol diberikan sebagai antipsikotik yang mempunyai
efek sedasi lemah dengan gejala dominan: apatis, menarik diri, perasaan
tumpul, kehilangan minat dan inisiatif, hipoaktif, waham, halusinasi.
Sebagaimana kasus ini pasien dikeluhkan oleh keluarga sudah mulai
menarik diri dari pergaulan sosial dan lebih senang menyendiri, apatis
terhadap lingkungannya, dinilai dari ketidakmampuan pasien merespon
pertanyaan atau pembicaraan orang-orang di sekelilingnya.
Ranitidin diberikan pada penderita dengan riwayat tukak lambung
dan hipersekresi patologik sehubungan dengan sindrom

Zollinger-

Ellison, kontraindikasi diberikan ranitidin ialah ganggaun fungsi ginjal,


wanita hamil dan menyusui. Ranitidin merupakan obat H2 reseptor
blocker, bekerja dengan mengurangi produksi asam lambung. Mekanisme
kerja ranitidin ialah penghambatan secara kompetitif pada reseptor H2

30

sel-sel parietal lambung sehingga mengakibatkan sekresi pepsin, faktor


intrinsik yang distimulasi oleh penta-gastrin atau serum gastrin.
Indikasi penggunaan clobazam (anti-anxietas) ialah adanya
perasaan cemas atau khawatir yang tidak realistik terhadap dua atau lebih
hal dipersepsi sebagai ancaman, perasaan ini menyebabkan individu tidak
mampu beristirahat dengan tenang; adanya ketegangan motorik (tidak
bisa diam, mudah lelah), hiperaktivitas otonom (kepala pusing/terasa
melayang, muka panas/badan menggigil), kewaspadaan berlebihan dan
penangkapan berkurang (sukar tidur, sulit konsentrasi pikiran); hendaya
dalam fungsi kehidupan sehari-hari bermanifestasi sebagai penurunan
kemampuan kerja hubungan sosial dan kegiatan rutin. Mekanisme obat
dapat dijelaskan sebagai golongan benzodiazepin yang bereaksi dengan
reseptornya (benzodiazepin receptor) akan me-reinforce the inhibitoric
action of GABA-ergic neuron sehingga hiperaktivitas tersebut mereda.
Pada penderita meningoensefalitis dengan usia 50 tahun dan
bakteri penyebab utamanya ialah S. Pneumonioe, H. Influenzae, Species
Listeria, Pseudomonas aeruginosa, N. Meningitidis diberikan Cefotaxime
2 g/6 jam max. 12 g/hari atau Ceftriaxone 2 g/12 jam + Ampicillin 2 g/4
jam/IV (200 mg/kgBB/IV/hari. Bila prevalensi S. Pneumioniae Resiten
Cephalosporin 2% diberikan: Cefotaxime / Ceftriaxone+Vancomycin
1g / 12 jam / IV (max. 3g / hari) dan Ceftadizime 2g / 8 jam / IV. Bila
bakteri penyebab tidak dapat diketahui, maka terapi antibiotik empiris
sesuai dengan kelompok umur, harus segera dimulai. Terapi tambahan :
Dianjurkan hanya pada penderita risiko tinggi, penderita dengan status

31

mental sangat terganggu, edema otak atau TIK meninggi yaitu dengan
Deksametason 0,15 mg/ kgBB/ 6 jam/ IV selama 4 hari dan diberikan 20
menit sebelum pemberian antibiotik. Penanganan peningkatan TIK :
meninggikan letak kepala 30o dari tempat tidur, cairan hiperosmoler :
manitol atau glisero, hiperventilasi untuk mempertahankan pC02 antara
27-30 mmHg
Psikoterapi dianjurkan edukasi kepada penderita dan keluarganya
serta bimbingan terutama untuk mewaspadai setiap gejala penyakit yang
dicurigai menyebabkan penurunan kesadaran, seperti demam tinggi
berhari-hari, nyeri kepala hebat, muntah tanpa didahului mual dan
menyembur, kejang dan meningkatkan kesadaran penderita untuk berobat
sedini mungkin serta mematuhi perintah dokter meneruskan pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Rujukan Ringkasan dari
PPDGJ-III.
2. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi 1997.
3. Maramis WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Jakarta University
Press, 2004.

32

4. Staf Departemen Psikiatri UI. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta : Fakultas


Kedokteran UI, 2010.
5. Santoso A, dkk. MIMS edisi Bahasa Indonesia. Volume 10, 2009. CMP
Medica Asia Pte Ltd
6. Kaplan.H.I, Sadock. B.J, Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Perilak
Psikiatri Klinis, Edisi ketujuh, Jilid satu. Binarupa Aksara, Jakarta 2010. hal
481-570.
7. Ingram.I.M, Timbury.G.C, Mowbray.R.M, Catatan Kuliah Psikiatri, Edisi
keenam, cetakan ke dua, Penerbit Buku kedokteran, Jakarta 1995. hal 28-42.
8. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga, Jilid 1. Penerbit Media Aesculapsius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 2008. hal 189-192.

33