Anda di halaman 1dari 44

ACARA I

LATIHAN PENYUSUNAN
RENCANA UMUM PELAKSANAAN KONSOLIDASI TANAH
(RUPKT)
A. Tujuan Praktikum
Tujuan dilaksanakan praktikum ini untuk meningkatkan pemahaman
tentang proses tahapan pelaksanaan konsolidasi tanah yakni persiapan,
pendataan, penataan dan konstruksi serta untuk mengetahui penyusunan
rencana umum pelaksanaan konsolidasi tanah (RUPKT).
B. Bahan dan Alat
1. Laptop;
2. Software Arc.GIS 10.1;
3. Modul Praktikum;
4. Kertas;
5. Alat Tulis.
C. Dasar Teori
Pasal 1 butir 1 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik
Indonesia (BPN) Nomor 4 Tahun 1991 merumuskan bahwa yang dimaksud
dengan konsolidasi tanah adalah kebijaksanaan pertanahan mengenai penataan
kembali penguasaan dan penggunaan tanah serta usaha pengadaan tanah untuk
kepentingan pembangunan, untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan
pemeliharaan

sumberdaya

alam

dengan

melibatkan

partisipasi

aktif

masyarakat.
Terdapat dua macam metode pelaksanaan Konsolidasi Tanah yaitu
metode wajib (compulsory method) dan metode sukarela (voluntary method).
Dalam metode wajib dilaksanakan apabila inisiatif datang dari Pemerintah dan
berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku, sedangkan metode
sukarela dilaksanakan dengan persetujuan dan inisatif dari pemilik tanah.
Menurut Peraturan Kepala BPN No.4 Tahun 1991, metode pelaksanaan KT
yang berlaku di Indonesia tetap menggunakan metode sukarela (voluntary
method). Hal tersebut dapat dilihat pada pasal 4 ayat (1) pada Peraturan
Kepala BPN No.4 Tahun 1991 yang menyatakan bahwa konsolidasi tanah
dapat dilaksanakan apabila sekurang kurangnya 85 persen dari pemilik tanah

yang luas tanahnya meliputi sekurang kurangnya 85 persen dari luas seluruh
areal tanah yang akan dikonsolidasi menyatakan persetujuannya.
Pasal 1 butir 4 Peraturan Kepala BPN No.4 Tahun 1991, Sumbangan
Tanah untuk Pembangunan (STUP) adalah bagian dari obyek konsolidasi
tanah yang disediakan untuk pembangunan prasarana jalan dan fasilitas umum
lainnya serta Tanah Pengganti Biaya Pembangunan. Berdasarkan Pasal 6 ayat
(1) Peraturan Kepala BPN No.4 Tahun 1991, STUP yang diserahkan oleh
peserta konsolidasi tanah dari sebagian tanahnya inilah yang kelak digunakan
dalam rangka pelaksanaan penataan penguasaan dan penggunaan tanah.
Menurut AP. Parlindungan konsolidasi tanah adalah penggabungan dan
atau pengaturan kembali tanah-tanah sehingga akan sesuai dengan
pembangunan yang direncanakan. Di daerah perkotaaan ataupun di pinggiran,
yang karena satu dan lain hal akan berubah peruntukannya menjadi suatu
daerah permukiman dan daerah pertanian. Selanjutnya dalam Pasal 3 ayat (2)
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor : 4 tahun 1991,
menyatakan : bahwa kegiatan konsolidasi tanah meliputi penataan bidangbidang tanah termasuk hak atas tanah dan/atau penggunaan tanahnya dengan
dilengkapi prasarana jalan, irigasi, fasilitas lingkungan dan/atauserta fasilitas
penunjang lainnya yang diperlukan, dengan melibatkan partisipasi para
pemilik tanah dan atau penggarap tanah.
Tujuan dari konsolidasi Tanah adalah untuk mencapai pemanfaatan tanah
secara optimal, melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas dalam
penggunaan tanah, sehingga dengan demikian dapat :
a. Memenuhi kebutuhan akan adanya lingkungan permukiman yang teratur,
tertib dan sehat.
b. Memberi kesempatan kepada pemilik tanah untuk menikmati secara
langsung keuntungan konsolidasi tanah, baik kenaikan harga tanah
maupun kenikmatan lainnya karena terciptanya lingkungan yang teratur.
c. Meningkatkan pemerataan hasil-hasil pembangunan permukiman sehingga
dapat dinikmati langsung oleh pemilik tanah.
d. Menghindari ekses-ekses yang sering timbul dalam penyediaan tanah
secara konvensional.
e. Mempercepat laju pembangunan wilayah permukiman.

f. Menertibkan administrasi pertanahan serta menghemat pengeluraran dana


pemerintah untuk biaya pembangunan prasarana, fasilitas umum, ganti
rugi dan operasional.
g. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas penggunaan tanah
Sasaran konsolidasi tanah adalah terwujudnya penguasaan, pemilikan,
penggunaan dan pemanfaatan tanah yang tertib dan teratur sesuai dengan
kemampuan dan fungsinya dalam rangka catur tertib pertanahan, baik melalui
sistim penataan kelompok besar maupun kelompok kecil. Berkaitan dengan
sasaran tersebut, maka dalam pemilihan lokasi konsolidasi tanah harus
dikaitkan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. Dalam pelaksanaan
konsolidasi tanah ada tiga faktor yang harus diperhatikan yaitu :
- Obyeknya, terutama dalam penentuan pemilihan lokasi.
- Subyeknya, yaitu para pemilik tanah yang perlu diajak bicara dan
-

musyawarah.
Pengaturan yang tepat mengenai Sumbangan Tanah Untuk Pembangunan
secara proposional.
Prinsip-prinsip dan prosedur penyelenggaraan penataan bidang tanah

dan prasarana lingkungan melalui konsolidasi tanah secara garis besar adalah
dengan

memperhatikan

dan

melaksanakan

prosess/tahapan

kegiatan

Konsolidasi Tanah secara konsisten dan benar sebagai berikut :


a. Tahap Persiapan
- Penjajakan/pemilihan alternatif lokasi atau usulan calon lokasi (dengan
acuan Rencana Tata Ruang Wilayah dan data pendukung lainnya) baik
-

untuk Konsolidasi Tanah Perkotaan maupun perdesaan/pertanian.


Penyusunan Rencana Umum Pelaksanaan Konsolidasi Tanah

(RUPKT)
- Penyuluhan kepada calon peserta KT.
- Penetapan lokasi dan peserta KT.
b. Tahap Pendataan
- Pendataan pemilik persil/bidang tanah ( Subyek ).
- Pendataan bidang-bidang tanah ( Obyek ).
- Pengukuran/pemetaan keliling dan rincikan.
- Pengukuran Topografi dan pemetaan penggunaan tanah.
c. Tahap penataan
- Penyusunan Draft Blok/Pra Desain KT
- Musyawarah dengan peserta mengenai pra Desain KT.
- Penyusunan Desain KT/Rencana persil KT.
- Konfirmasi dengan peserta mengenai Desain KT/Rencana persil baru.
- Pelepasan Hak Atas Tanah.

Penegasan anah Negara sebagai Obyek Konsolidasi Tanah


Staking out.Realokasi persil baru sesuai Desain KT.
Konstruksi (prasarana jalan, fasos/ fasum)
Penerbitan SK Hak Atas Tanah (hasil KT)
Pendaftaran Hak Atas Tanah / Sertifikasi.
Penyerahan sertifikat hasil Konsolidasi Tanah.
Dari sejak tahap persiapan, hal yang sangat penting adalah dalam hal

penyuluhan pelaksanaan Konsolidasi Tanah khususnya negosiasi penetapan


STUP antara executing agency dengan para pemilik tanah. Hal ini disebabkan
karena tidak semua peserta mempunyai keinginan dan kebutuhan yang sama
sehingga penyelenggara sulit membuat kesimpulan. Materi penyuluhan yang
disampaikan kepada pemilik tanah selengkapnya adalah meliputi hal-hal
sebagai berikut :
1) Kegiatan KT secara umum
2) RUPKT hasil penjajagan K T
3) Perlunya STUP untuk keperluan bersama
4) Manfaat KT
5) Susunan organisasi pelaksanaan KT
6) Lain-lain yang berkaitan dengan pelaksanaan KT
Dalam menyusun Rencana Umum Pelaksanaan KT (RUPKT) data
lapang yang harus diperoleh dari hasil survey pendahuluan adalah :
1) Kesesuaian dengan RUTRW,
2) Aksessibilitas,
3) Kesediaan pemilik/penggarap tanah,
4) Jumlah bidang/persil,
5) Keseragaman luas dan bentuk bidang/persil,
6) Jumlah peserta,
7) Keadaan Topografi,
8) Existing Land Use ( Penggunaan Tanah sekarang )
Dengan

mengacu

data

tersebut

Rencana

Umum

Pelaksanaan

Konsolidasi Tanah (RUPKT) dapat disusun dengan menjelaskan mengenai


hal-hal sebagai berikut :
a. Gambaran Umum kondisi lokasi,
b. Response masyarakat dan pemerintah terhadap pelaksanaan KT,

c. Rencana Blok secara umum,


d. Rencana STUP,
e. Prakiraan biaya,
f. Rencana Jadwal pelaksanaan
D. Pelaksanaan Kegiatan
Adapun tahap pelaksanaan dalam melakukan Rencana Umum
Pelaksanaan Konsolidasi Tanah (RUPKT) ini yaitu :
1. Tahap pertama dalam persiapan pelaksanaan konsolidasi tanah ini dimulai
dengan pembentukan Tim Penyelenggara Konsolidasi Tanah yang terdiri
dari Tim Pengendali Konsolidasi Tanah di tingkat Provinsi dan Tim
Koordinasi serta Satuan Tugas Pelaksanaan Konsolidasi Tanah di tingkat
Kabupaten/Kota;
2. Pemilihan lokasi yang dipilih berdasarkan hasil penyusunan potensi obyek
konsolidasi tanah atas usulan Pemerintah Daerah maupun masyarakat.
Lokasi yang sudah terpilih menjadi calon lokasi konsolidasi tanah
dituangkan dalam peta kerja/peta lokasi konsolidasi tanah.
3. Penyusunan Sketch Block Plan. Dalam menyusun Sketch Block Plan harus
dipersiapkan data data yang akan dipergunakan sebagai dasar dalam
penyusunan Blok Plan tersebut seperti :
a. Identitas lokasi Konsolidasi Tanah (terlampir);
b. Gambaran umum lokasi Konsolidasi Tanah (terlampir);
c. Tanggapan pemilik/penggarap tanah dan pemerintah (terlampir);
d. Rencana umum pelaksanaan konsolidasi tanah (terlampir);
e. Rencana blok (terlampir)
4. Hasil akhir dari data data yang dikumpulkan tersebut adalah Sketch
Blok Plan yang terlampir pada laporan ini.
E. Hasil Praktikum
Rencana Umum Pelaksanaan Konsolidasi Tanah (RUPKT) (FORM
KT-3305). (terlampir)
F. Pembahasan
Dalam pelaksananaan kegiatan Konsolidasi Tanah perlu adanya RUPKT
yang merupakan gambaran secara umum mengenai rencana kegiatan
Konsolidasi Tanah yang akan dilakukan terhadap suatu kawasan. RUPKT
tersebut menggambarkan secara umum keadaan kawasan yang menjadi objek

KT dan tujuan diselenggarakannya KT pada lokasi tersebut. Tidak hanya


gambaran secara umum yang tertuang dalam RUPKT tersebut akan tetapi
rencana blok secara umum sudah digambarkan dalam rincian RUPKT dan
perkiraan biaya serta rencana jadwal pelaksanaan juga tertuang dalam RUPKT.
Rencana Umum Pelaksaksanaan Konsolidasi Tanah (RUPKT) ini
merupakan salah satu hal yang sangat perlu disampaikan kepada calon peserta
KT. Untuk itu RUPKT tersebut disertai pengantar yang ditanda tangani oleh
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan diserahkan pada awal
tahun anggaran berjalan.

ACARA II
PEMBUATAN SURAT KEPUTUSAN PENETAPAN LOKASI
PELAKSANAAN KONSOLIDASI TANAH
A. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah melaksanakan praktikum ini, mahasiswa mampu membuat Surat
Keputusan Penetapan Lokasi Pelaksanaan Konsolidasi Tanah.
B. Bahan dan peralatan
a.

Kertas HVS Kuarto

b.

Alat tulis

c.

Laptop

d.

Peta Situasi

e.

Printer

f.

Software AutoCAD 2004

C. Dasar Teori
Konsolidasi Tanah adalah kebijakan Pertanahan mengenai menata kembali
penguasaan dan pengguanaan tanah serta usaha pengadaan tanah untuk

kepentingan pembangunan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan


pemeliharaan sumber daya alam dengan melibatkan parisipasi masyarakat
masyarakat (Peraturan KaBPN No. 4 tahun 1991 pasal 1 ayat 1). Kosolidasi
Tanah perlu dilakukan karena sebagian besar tanah, baik sebagai tempat unutk
membangun maupun sebagai faktor produksi. Tanah pada lokasi-lokasi tertentu
memerlukan penataan kembali agar dapat mendukung pembangunan dan
selaras dengan RTRW. Konsolidasi tanah bertujuan untuk memanfaatkan tanah
secara optimal, seimbang dan lestari dengan meningkatkan efisiensi
penggunaan tanah di wilayah perkotaan dan meningkatkan produktifitas
penggunaan tanah di wilayah pedesaan. Peningkatan yang demikian itu
mengarah kepada tercapainya suatu tatanan penggunaan dan penguasaan yang
tertib dan teratur.
Berdasarkan lokasi kegiatan konsolidasi tanah (land consolidation) dapat
dibedakan menjadi 2 antara lain konsolidasi tanah perkotaan dan konsolidasi
tanah pedesaan/pertanian. Pada konsolidasi tanah (land consolidation)
perkotaan terutama diarahkan kepada daerah pengembangan perkotaan dalam
rangka penyediaan atau penambahan sarana dan prasarana perkotaan, antara
lain :
1.

Pembangunan kawasan pemukiman atau perumahan baru.

2.

Penataan kembali kawasan pemukiman atau perumahan yang tidak


teratur.

3.

Penataan

kawasan

dalam

rangka

pengembangan

sarana

dan

prasarana perkotaan.
4.

Pengadaan jalan, pelebaran jalan, pembuatan saluran drainase dan lain-

lain.
5.

Pembangunan kembali kawasan yang mengalami musibah seperti


kebakaran, banjir dan gempa bumi.

6.

Proyek-proyek pembangunan perkotaan lainnya.


Dalam pelaksanaan konsolidasi tanah (land consolidation) ada tiga
faktor yang harus diperhatikan yaitu :
1.

Obyeknya, terutama dalam penentuan pemilihan lokasi.

2.

Subyeknya, yaitu para pemilik tanah yang perlu diajak bicara dan

musyawarah.
3.

Pengaturan

yang

tepat

mengenai

sumbangan

tanah

untuk

pembangunan secara proposional.


Konsolidasi Tanah hakekatnya adalah kebijaksanaan pembangunan
Daerah, untuk menata bagian wilayahnya yang tidak teratur menjadi teratur
sesuai rencana TataRuang Daerah. Oleh karena itu lokasi konsolidasi tanah
harus mendapat penetapan dari Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat
II. Sehingga pada tahapan penentuan lokasi diperlukan adanya Surat Keputusan
Penetapan Lokasi yang di tanda-tangani oleh Pemerintah Daerah Tingkat II.
Dengan terbitnya SK Penetapan Lokasi maka telah terdapat adanya
kepastian lokasi konsolidasi tanah dan kesesuaian peruntukannya dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota setempat. Dengan demikian
untuk lokasi konsolidasi tanah tidak diperlukan lagi ijin lokasi, karena selain
pertimbangan di atas, kegiatan tesebut juga merupakan kegiatan dari
pemilik/penggarap tanah pada lokasi itu sendiri yang berkeinginan agar
penguasaan dan penggunaan tanahnya ditata melalui konsolidasi tanah.
D. Pelaksanaan Penetapan Lokasi Konsolidasi Tanah
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan lokasi:
1. Sesuai dengan RTRW
2. Minat awal masyarakat calon peserta Konsolidasi Tanah
3. Dukungan dari stakeholder
4. Tingkat kemudahan pencapaian lokasi (aksesibilitas)
5. Jumlah peserta, jumlah bidang tanah dan luas yang akan ditata
6. Status Tanah
7. Keadaan topografis lokasi
Setelah pemilihan lokasi tersebut dilaksanakan dan terpilihnya sebuah lokasi
yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan tersebut, maka di buatlah Surat
Keputusan Penetapan Lokasi
E. Hasil Praktikum

Hasil Praktikum acara II ini berupa lampiran :


1.

Berita Acara

2.

Surat Pernyataan/Persetujuan Tentang Rencana Konsolidasi Tanah


Perkotaan/Perdesaan

3.

Surat Keputusan Penetapan Lokasi Pelaksanaan Konsolidasi Tanah.

F. Pembahasan
Tahapan awal yang harus dilakukan sebelum menetapkan suatu lokasi
menjadi lokasi konsolidasi tanah adalah pemilihan lokasi. Dalam konsolidasi
tanah pemilihan lokasi dimaksudkan untuk mengadakan penjajakan dalam
rangka memilih lokasi yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai lokasi
konsolidasi tanah.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih alternatif lokasi
Konsolidasi Tanah adalah :
a.

Kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana


Detail Tata Ruang (RDTR), Rencana Teknik Tata Ruang Wilayah
(RTTR) atau arahan pembangunan daerah.

b.

Tingkat kemudahan pencapaian lokasi (aksesbilitas). Lokasi kegiatan


harus jelas dan dapat dicapai.

c.

Kesediaan pemilik tanah atau penggarap tanah untuk menjadi peserta


Konsolidasi Tanah. Semakin banyak peserta konsolidasi maka akan
semakin baik, karena akan berdampak pada biaya pelaksanaan
Konsolidasi yang semakin kecil.

d.

Jumlah bidang atau persil tanah yang harus ditata, karena akan
berpengaruh pada tingkat kemudahan penataannya dan kuantitas
permasalahan yang dapat muncul.

e.

Keseragaman luas bidang/persil tanah ; semakin seragam semakin baik;

f.

Keadaan topografi ; semakin datar akan semakin baik karena


memudahkan

penataan,

dan

meminimalisir

biaya

pelaksanaan

Konsolidasi Tanah tersebut.


Penetapan lokasi konsolidasi tanah dikuatkan dengan diterbitkannya Surat
Keputusan dari Bupati daerah setempat. Kelompok kami membuat Surat

Keputusan Bupati Lombok Timur

NOMOR : 09/KEL I/4/2015 Tentang

Penetapan Lokasi Konsolidasi Tanah di Desa Pohgading, Kecamatan


Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat yang
dalam pembuatannya mencantumkan beberapa hal antara lain :
1.

Menimbang, yang menjelaskan pertimbangan apa saja yang dilakukan


oleh pemerintah sehingga berkenan untuk membuat Surat Keputusan
tersebut.

2.

Memperhatikan, hal-hal yang diperhatikan dalam pembutan Surat


Keputusan Penetapan Lokasi.

3.

Mengingat, dasar-dasar hukum yang dijadikan landasan dalam


penyusunan Surat Keputusan Penetapan Lokasi agar kelak setelah
diterbitkan Surat Keputusan tersebut tidak menyimpang dari aturan
yang ada.

4.

Menetapkan, hal yang menjadi keputusan antara lain: Lokasi pelaksanaan


kegiatan konsolidasi tanah di Desa Pohgading, Kecamatan Pringgabaya,
Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat; luas wilayah
yang ditetapkan sebagai obyek kegiatan konsolidasi tanah adalah 55.000
m2; jumlah pemilik/peserta kegiatan konsolidasi tanah sebanyak 37
keluarga; aturan yang menyatakan bahwa selama kegiatan berlangsung
peserta tidak boleh mengalihkan hak atas tanahnya atau membangun diatas
tanah yang menjadi obyek konsolidasi tanah; waktu pemberlakuan Surat
keputusan tersebut mulai tanggal 05 April 2015 yang di tandatangani oleh
Bupati Lombok Timur.

5.

Tembusan, Surat Keputusan tersebut harus disampaikan kebeberapa pihak


yang terkait dengan kegiatan konsolidasi tanah antara lain : Kepala Badan
Pertanahan Nasional, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Nusa Tenggara
Barat, Ketua Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala Kator
Pertanahan Kabupaten Lombok Timur, Ketua Bappeda Kabupaten
Lombok Timur, Kepala Camat Pringgabaya, dan Kepala Desa Pohgading.

G. Pendalaman Materi

10

1. Mengapa lokasi Konsolidasi Tanah harus ditetapkan melalui SK


Bupati/Walikota?
Penetapan lokasi Konsolidasi Tanah harus ditetapkan melalui SK
Bupati/Walikota karena konsolidasi tanah berkaitan dengan rencana tata
ruang, wewenang mengatur rencana tata ruang bukan wewenang
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN melainkan wewenang
pemerintah daerah. Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang adalah
wewenang daerah dimana Bupati/Walikota dalam kedudukan sebagai
Kepala Daerah. Konsolidasi tanah tidak bisa dilaksanakan apabila tidak
sesuai dengan rencana tata ruang. Permasalahannya, untuk mewujudkan
suatu rencana tata ruang di kawasan yang ditetapkan adalah adanya hakhak atas tanah perorangan atau badan hukum perdata. Disini terlihat ada
batas kewenangan antara Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN RI
dan Bupati/Walikota dalam konsolidasi tanah berkaitan dengan rencana
tata ruang. Penataan ruang diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun
1992 tentang Penataan Ruang yang diganti dengan Undang Undang
Nomor 26 Tahun 2007. Tindakan penataan ruang akan menimbulkan
akibat hukum yang berkaitan dengan hak atas tanah.
Pembebasan tanah untuk rencana tata ruang yang lazimnya
ditempuh oleh badan atau pejabat tata usaha negara adalah melalui
pengadaan tanah yang berarti memindahkan mereka dengan suatu rencana
peruntukan kepentingan umum. Aturan hukum pengadaan tanah mengacu
pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang
yang diganti dengan Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 dan Peraturan
Presiden Nomor 36 Tahun 2005 jo Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun
2006. Penetapan tersebut akan mengakibatkan terjadi pencabutan atau
pembatasan hak atas tanah yang mengakibatkan seseorang atau badan
hukum perdata kehilangan hak atas tanahnya sendiri. Keputusan
Bupati/Walikota tentang Penetapan Lokasi Pelaksanaan Konsolidasi Tanah
merupakan Keputusan Tata Usaha Negara karena terpenuhi unsur-unsur
ketentuan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 yaitu :
Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang

11

dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi
tindakan hukum tata usaha negara yang berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual dan final, yang
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Dengan alasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa wewenang
Bupati/Walikota dalam penetapan lokasi konsolidasi tanah adalah
wewenang daerah dimana Bupati/Walikota dalam kedudukan sebagai
Kepala Daerah untuk menyatakan bahwa lokasi dimaksud tidak
bertentangan dengan Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan
Daerah yang merupakan Keputusan Tata Usaha Negara. Keputusan
penetapan lokasi konsolidasi tanah adalah salah satu usaha mengatasi
kebuntuan atau mengurangi masalah yang dihadapi Pemerintah Daerah
dalam merealisasikan Rencana Teknik Ruang Kota (RTRK).
2.

Mengapa lokasi yang akan dilaksanakan Konsolidasi Tanah harus dibatasi


dengan jelas dan tegas?
Kegiatan Konsolidasi Tanah merupakan suatu upaya penataan kembali
penggunaan lahan, sehingga lahan menjadi lebih bernilai tinggi baik secara
ekonomi maupun secara ekologi. Konsolidasi tanah juga merupakan
metode yang efektif guna melibatkan masyarakat dalam proses
pembangunan secara efektif. Lokasi konsolidasi tanah harus ditegaskan
sebagai tanah negara sebagai obyek konsolidasi tanah perkotaan oleh
Kepala Kanwil BPN Provinsi. Dalam kaitannya dengan hal tersebut untuk
mencapai pembangunan yang efektif maka lokasi yang akan dilaksanakan
Konsolidasi Tanah harus diberi batas yang jelas dan tegas terkait dengan
kegiatan pelayanan pertanahan jalur khusus.
sebagai kegiatan pelayanan pertanahan

Kegiatan ini dianggap

jalur khusus sebab dalam

penetapan lokasinya yang memiliki wewenang adalah Bupati/Walikota


dari daerah tersebut. Adapun pembatasan yang jelas dan tegas tersebut
akan terkait dengan besarnya ganti rugi yang akan diterima oleh peserta
Konsolidasi Tanah. Pemberian batas yang jelas dan tegas dalam penetapan
lokasi konsolidasi tanah diharapkan dapat meminimalisir resiko kerugian
dari pihak lain yang tidak mengikuti kegiatan tersebut. Pembatasan

12

tersebut juga terkait dengan partisipasi mayarakat dimana harapannya


adalah yang paling banyak diuntungkan dari kegiatan Konsolidasi Tanah
tersebut adalah para pesertanya. Peningkatan kualitas sumberdaya alam
maupun lingkungan khususnya yang berasal dari lokasi Konsolidasi Tanah
diharapkan

mampu

meningkatkan

perekonomian

masyarakat

dan

mempercepat pembangunan.
3.

Ketentuan peraturan perundangan apa saja yang bisa dimasukkan sebagai


dasar pelaksanaan Konsolidasi Tanah? dan berikan alasannya setiap
peraturan tersebut!
1.

Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945


dalam pasal 33 ayat (3) ini merupakan sumber regulasi bagi kegiatan
pemerintah dalam bidang pertanahan, pasal ini memuat kepentingan
mengenai pengelolaan seluruh tubuh bumi dan ruang angkasa yang
terbentang dari sabang sampai merauke.

2.

Undang-undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar PokokPokok Agraria merupakan undang-undang yang menjadi pokok dalam
penyusunan hukum tanah Nasional di Indonesia. Sebagaimana kita
ketahui pula UUPA mengakhiri kebinekaan perangkat hukum yang
mengatur

dalam

bidang

pertanahan

yang

mana

dalam

pengaplikasiannya masih di dasarkan pada hukum adat.


3.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok


Pemerintahan di Daerah, UU ini meletakkan dasar-dasar sistem
hubungan pusat-daerah dalam tiga prinsip:
1.

Desentralisasi, penyerahan urusan pemerintah dari Pemerintah


atau Daerah tingkat atasnya kepada Daerah menjadi urusan rumah
tangganya;

2.

Dekonsentrasi, pelimpahan wewenang dari Pemerintah atau


Kepala Wilayah atau Kepala Instansi Vertikal tingkat atasnya
kepada Pejabat-pejabat di daerah; dan

3.

Tugas Pembantuan (medebewind), tugas untuk turut serta dalam


melaksanakan urusan pemerintahan yang ditugaskan kepada
Pemerintah Daerah oleh Pemerintah oleh Pemerintah Daerah atau

13

Pemerintah

Daerah

tingkat

atasnya

dengan

kewajiban

mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.


4.

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang

Penataan

Ruang sebagai kewenangan pemerintah untuk

mengatur dan

menjaga keterpaduan antar daerah dalam penataan ruang.


Konsolidasi Tanah tidak terlepas dari pengaturan tata ruang
untuk pengaturan keruangan dari kegiatan tersebut.
5.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan


dan Kawasan Permukiman;

6.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pengadaan


Tanah Untuk Pembangunan Bagi Kepentingan Umum;

7.

Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 tentang


Pelaksanaan pembagian tanah dan Pemberian Ganti Rugi;

8.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang


Pendaftaran Tanah;

9.

Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 Tentang


Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 Tentang


Penatagunaan Tanah, kegiatan konsolidasi tanah memerlukan
suatu regulasi yang mengatur penatagunaan tanah agar
tercapai suatu keteraturan dalam pencapaian hasil konsolidasi
tanah.
11.

Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Jenis


Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang
Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional.

12.

Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 Tentang


Penyelenggaraan Penataan Ruang, kegiatan konsolidasi tanah
mengharuskan

penyelenggaraan

penataan

ruang

untuk

mencapai hasil yang baik.


13.

Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 Tentang Bentuk dan


tata Cara peran Masyarakat, keberhasilan kegiatan konsolidasi
tanah dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat sehingga perlu

14

adanya

peraturan

mengenai

peran

masyarakat

dalam

melaksanakan kegiatan konsolidasi tanah agar tujuan yang


diharapkan dapat tercapai.
14.

Peraturan

Presiden

Nomor

13

Tahun

2010

Tentang

Kerjasama pemerintah dan badan Usaha Swasta dalam


Penyediaan Infrastruktur, kegiatan konsolidasi tanah tidak
terlepas dari peran serta pemerintah daerah dan pihak swasta
sebagai penyedia infrastruktur.
15.

Peraturan Kepala BPN RI No. 4 Tahun 1991 tentang


Konsolidasi Tanah merupakan operasional dalam kegiatan
Konsolidasi

Tanah,

peraturan

ini

memuat

kewenangan

pelaksana kegiatan konsolidasi tanah dan syarat serta


tahapan kegiatannya.
H. Kesimpulan
Kegiatan

penetapan

lokasi

konsolidasi

tanah

merupakan

wewenang

Bupati/Walikota adalah wewenang daerah dimana Bupati/Walikota dalam


kedudukan sebagai Kepala Daerah untuk menyatakan bahwa lokasi dimaksud
tidak bertentangan dengan Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan
Daerah yang merupakan Keputusan Tata Usaha Negara. Keputusan penetapan
lokasi konsolidasi tanah adalah salah satu usaha mengatasi kebuntuan atau
mengurangi masalah yang dihadapi Pemerintah Daerah dalam merealisasikan
Rencana Teknik Ruang Kota (RTRK).

15

ACARA III
LATIHAN PERHITUNGAN STUP
(SUMBANGAN TANAH UNTUK PEMBANGUNAN)
6. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah melaksanakan praktikum ini, mahasiswa mampu melakukan
perhitungan besarnya STUP (Sumbangan Tanah Untuk Pembangunan) dalam
pelaksanaan kegiatan Konsolidasi Tanah.
B. Bahan dan peralatan
7)

Kertas HVS Kuarto

8)

Alat tulis

9)

Laptop

10)

Peta Situasi

11)

Printer

12)

Kalkulator

13)

Software Microsoft Excel

14)

Software Autocad 2004

C. Dasar teori

16

Block Plan merupakan penjabaran dari rencana umum tata ruang suatu
wilayah kedalam rencana pemanfaatan ruang kawasan tersebut. Rencana detail
tata ruang Block Plan juga merupakan rencana yang menetapkan blok blok
peruntukan pada kawasan fungsional, sebagai penjabaran kegiatan kedalam
wujud ruang, dengan memperhatikan keterkaitan antara kegiatan dalam
kawasan fungsional, agar tercipta lingkungan yang harmonis antara kegiatan
utama dan kegiatan penunjang dalam kawasan fungsional tersebut. Dalam
rangka koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan penjajagan kesepakatan
dengan masyarakat, perlu disiapkan data pendukung dalam bentuk peta atau
citra dan analisis manfaat konsolidasi tanah berupa Block Plan tersebut.
Langkah pembuatan Block Plan atau pra desain Konsolidasi Tanah berupa
penyiapan data pendukung dalam bentuk peta dimaksudkan sebagai langkah
awal untuk penataan secara fisik sketch Rencana Blok (block plan)
peruntukan/penggunaan tanah pada lokasi konsolidasi tanah.
Penyusunan data pendukung dalam bentuk peta dibuat pada peta atau citra
dengan mengacu pada rencana tata ruang dan wilayah yang berlaku. Peta-peta
tersebut dalam bentuk:
a. peta potensi obyek konsolidasi tanah,
b. peta administrasi (kecamatan/kelurahan),
c. maupun citra yang diperlukan dalam penetapan lokasi.
d. peta lokasi eksternal/sekitar calon lokasi konsolidasi tanah sebagai dasar
penentuan kebutuhan prasarana dan sarana pada calon lokasi konsolidasi
tanah.
Hasil akhir dari data pendukung tersebut adalah suatu sketch tata letak dari
blok kaveling, struktur jaringan jalan, sarana dan TPBP, yang dituangkan
dalam peta citra (GeoKKP atau PBB) dengan skala tertentu menurut
kebutuhan. Sketch Block Plan harus mengacu pada Rencana Tata Ruang
Wilayah yang sudah ditetapkan menjadi peraturan daerah.
STUP adalah bagian dari obyek konsolidasi tanah yang disediakan untuk
pembangunan prasarana jalan dan fasilitas umum lainnya, serta Tanah
Pengganti Biaya Pembangunan (selanjutnya disebut TPBP) sesuai dengan
Pasal 1 butir 4 Peraturan Kepala BPN No. 4 Tahun 1991. Berdasarkan pasal 6

17

ayat 1 Peraturan Kepala BPN No 4 Tahun 1991, STUP yan diserahkan oleh
peserta Konsolidasi Tanah dari sebagian tanahnya inilah yang kelak digunakan
dalam rangka pelaksanaan, penataan, penguasaan dan penggunaan tanah.
Sesuai dengan azaz pembiayaan konsolidasi tanah yang ditanggung oleh
peserta konsolidasi tanah maka STUP pada dasarnya diwajibkan pada tiap
konsolidasi tanah. Hanya saja, menurut pasal 6 ayat 3 Peraturan Kepala BPN
No 4 Tahun 1991, bagi peserta yang persil tanahnya terlalu kecil sehingga tidak
mungkin menyerahkan sebagian tanahnya sebagai STUP dapat mengganti
sumbangan tersebut dengan uang atau bentuk lainnya yang disetujui bersama
oleh para peserta konsolidasi tanah. Pasal 6 ayat 2 Perkaban No 4 Tahun 1991
menyatakan bahwa besarnya STUP ditetapkan berdasarkan kesepakatan
bersama peserta Konsolidasi Tanah dengan mengacu kepada Rencana Tata
Ruang Daerah.
Secara teoritis, besarnya STUP yang ideal adalah 40% dari luas tanah
peserta konsolidasi tanah (sebelum dikonsolidasi) (A.P Parlindungan,1986:4).
Jumlah yang ideal itu diproyeksikan untuk penggunaan sebagai berikut: 25%
untuk prasarana jalan dan fasilitas umum lainnya, sedangkan 15% untuk
ongkos pembiayaan konsolidasi tanah tersebut, termasuk ongkos yang bersifat
administratif. Dengan demikian, hanya tinggal 60% yang akan dikembalikan
kepada pemilik tanah (setelah dikonsolidasi)(William A. Doebele,1982:3).
Apabila mengacu pada konsep dasar konsolidasi tanah sebagai perwujudan
keinginan membangun dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk
masyarakat, seyogyanya biaya pelaksanaan konsolidasi tanah diperoleh dari
peserta konsolidasi tanah itu sendiri. Hal ini jelas pula ditegaskan Pasal 7 ayat
(1) Peraturan Kepala BPN No.4 Tahun 1991 yang menyatakan:
" Pada asasnya pembiayaan konsolidasi tanah ditanggung para peserta
konsolidasi tanah, melalui sumbangan berupa tanah dan atau berupa uang
maupun bentuk-bentuk sumbangan lainnya...."
Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa STUP, selain digunakan untuk
pembangunan prasarana jalan dan fasilitas umum lainnya, juga digunakan
sebagai TPBP (Cost Equivalent Land). Ini artinya, sesungguhnya dalam konsep
dasar konsolidasi tanah, biaya pelaksanaan konsolidasi tanah harus mampu

18

diganti dari hasil penjualan TPBP ini. Pasal 1 butir 5 merumuskan TPBP adalah
STUP yang diserahkan kepada pihak ketiga dengan pembayaran kompensasi
berupa uang yang dipergunakan untuk pembiayaan kegiatan pelaksanaan sesuai
dengan Daftar Rencana Kegiatan Konsolidasi Tanah (DRKK).
Dalam konsepnya, biaya pelaksanaan konsolidasi tanah dibiayai dari hasil
penjualan TPBP. Dengan demikian, cara mencari berupa luas tanah sebagai
TPBP adalah seperti rumus berikut:
Biaya seluruh pelaksanaan Konsolidasi Tanah

TPBP =

Harga Tanah (perkiraan)setelah Konsolidasi Tanah


Sesungguhnya ide dasar konsolidasi tanah, termasuk yang diatur di
Indonesia dengan Peraturan Kepala BPN No. 4 Tahun 1991 mengharapakan
sumbangan tanah dalam KTP dapat dipergunakan untuk membiayai
pelaksanaan (TPBP) disamping untuk prasarana jalan dan fasilitas umum.
Prinsip tersebut ternyata belum berjalan sesuai yang diharapkan. Artinya
pelaksanaan KTP belum dibiayai secara proporsional dari sumbangan tanah
(Pusdiklat BPN,1994:17). Bahkan diperoleh data bahwa dari 18 lokasi
pelaksanaan KTP, hanya 2 lokasi (11,1%) yang menerapkan TPBP, yaitu
kelurahan Babakan Surabaya (Kotamadya Bandung) dan Desa Tengah
(Kabupaten Bogor) (Pusdiklat BPN,1994:17,18)
Metode perhitungan STUP ada 3 (tiga) macam, yaitu metode yang
berdasarkan (Kitotaki Hayashi, dalam William Doebele, 1982:111,112 dan
Direktorat PPT-BPN, 1991:14):
1. Luas tanah (areal method)
Dalam KTP jenis ini, STUP ditanggung oleh rakyat secara proposional
(berdasarkan

presentase

tertentu

dari

luas

pemilikan

tanah

yang

bersangkutan). Misalnya, dalam suatu pelaksanaan KTP, berdasarkan


kesepakatan ditetapkan presentase STUP adalah 20%, berarti dari semua
peserta konsolidasi tanah dipotong luas tanahnya sebesar 20% dari luas
tanah peserta KTP tersebut (sebelum pelaksanaan KTP).
Metode ini cocok dilaksanakan pada lokasi yang harga tanahnya sama.
Hampir semua perhitungan STUP pada pelaksanaan KTP di Indonesia,
masih menggunakan metode luas.
19

2. Nilai/harga tanah (evaluation method)


Dalam KTP ini, STUP dihitungkan berdasarkan presentase tertentu dari
jumlah nilai/harga tanah yang bersangkutan, yang sebelumnya telah ditaksir
terlebih dahulu untuk kepentingan itu.
3. Campuran antara metode luas dengan metode nilai/harga tanah.
D. Pelaksanaan Perhitungan STUP
1. Pelaksanaan praktikum ini dimulai dari analisis Peta Lokasi Konsolidasi
Tanah
2.

Melakukan perhitungan luasan fasilitas umum dan sosial serta jalan yang
akan ditata.

3.

Melakukan perhitungan besaran TPBP


Biaya seluruh pelaksanaan Konsolidasi Tanah

TPBP =

Harga Tanah (perkiraan) setelah Konsolidasi Tanah


Dalam praktikum kali ini besaran TPBP adalah sebesar :
TPBP = 1.000.000.000,00 = 0,55
1.800.000.000,00
4.

Melakukan perhitungan besaran STUP dengan rumus sebagai berikut :


%STUP = SARANA/FASILITAS UMUM YANG PERLU DITAMBAH +TPBP
LUAS LOKASI SARANA/FASILITAS UMUM YANG SUDAH ADA

Dalam praktikum kali ini besaran STUP adalah sebesar :


%STUP= 1.157,8166+0,55 x 100% = 10,40 %
11.132
E. Hasil Praktikum
Hasil Praktikum acara III ini terlampir berupa :
1. Hasil perhitungan STUP
2. Peta Block Plan
F. Pembahasan
Tanah untuk kepentingan pembangunan berupa jalan, fasilitas umum dan
fasilitas sosial diperoleh dari sumbangan peserta konsolidasi tanah dalam

20

bentuk Sumbangan Tanah untuk Pembangunan (STUP) yang besarnya


disepakati bersama dengan jalan musyawarah. STUP selain digunakan untuk
pembangunan prasarana jalan dan fasilitas umum lainnya, juga digunakan
sebagai TPBP (Cost Equivalent Land).
Pada kegiatan Konsolidasi Tanah di Kabupaten Lombok Timur tepatnya
di Desa Pohgading Kecamatan Pringgabaya ini besaran STUP yaitu sebesar
10,40 % dengan rincian untuk jalan sebesar 6,6 % dan untuk fasos/fasum
sebesar 3,8%. Besaran ini cukup ideal untuk wilayah tersebut karena fasilitas
jalan dan fasilitas sosial serta fasilitas umum sudah terpenuhi dengan baik.
Dengan demikian diharapkan STUP tersebut bermanfaat besar bagi penataan
wilayah tersebut.

G. Pendalaman Materi
Apa saja yang harus diperhatikan dalam membuat block plan supaya
dihasilkan desain konsolidasi tanah yang baik?
Penyusunan Desain Konsolidasi Tanah dimaksudkan untuk menyusun
perencanaan letak, bentuk dan luas kaveling-kaveling baru pada lokasi
konsolidasi tanah, setelah dikurangi dengan STUP. Hasil dari penyusunan
Desain Konsolidasi Tanah dituangkan ke dalam peta dengan skala 1:1.000 yang
kemudian disebut dengan block plan, yang menggambarkan letak, luas, bentuk
dan batas kaveling tanah pada masing-masing blok secara tertib dan teratur.
Luas masing-masing kaveling diupayakan agar sesuai dengan hasil perhitungan
yang telah disepakati oleh peserta.
Penataan kaveling dapat ditempuh melalui tindakan penggeseran,
penggabungan, pemecahan, penukaran, pemotongan, pengirisan, dan lainnya.
Meskipun demikian, harus tetap diupayakan agar penggeseran letak kaveling
sedekat mungkin dengan letak bidang tanah semula. Pemecahan yang
dimaksud dalam penataan konsolidasi tanah bukanlah pemecahan/pemisahan
sebagaimana dimaksud dalam pendaftaran tanah atau pemberian hak, akan

21

tetapi lebih merupakan tindakan pemecahan terhadap bidang tanah (statusnya


tanah negara) akibat tuntutan desain penataan berdasarkan tata ruang dan
peraturan yang berlaku.
Desain Konsolidasi Tanah mencakup:
1. Rencana masing-masing kaveling pada blok yang ada.
2. Rencana jaringan jalan.
3. Rencana kebutuhan sarana lingkungan
4. Luas masing-masing kaveling hasil penataan.
Penyusunan desain memperhatikan target jumlah bidang Konsolidasi
Tanah yang merupakan hasil penataan yang terdiri atas bidang tanah milik
peserta, prasarana, sarana dan TPBP.
Cara penyusunan Desain Konsolidasi Tanah adalah:
1. Menyiapkan peta rincikan/pemilikan tanah semula, Rencana Blok dan Daftar
Perhitungan Rencana Luas Peruntukan Tanah, yang telah disepakati oleh
peserta.
2. Peta dan daftar sebagaimana angka 1 dijadikan sebagai acuan penyusunan
Desain Konsolidasi Tanah dan penempatan letak kaveling baru.
3. Selanjutnya dihitung dan ditetapkan luas masing-masing kaveling yang akan
dialokasikan kepada setiap peserta sebagai hasil penataan (setelah dikurangi
STUP).
4.

Luas

masing-masing

kaveling

baru

merupakan

pedoman

dalam

merencanakan letak kaveling baru tersebut pada Desain Konsolidasi Tanah


maupun pada saat realokasi/pemindahan Desain Konsolidasi Tanah ke
lapang.
5. Besar STUP merupakan total jumlah keseluruhan sumbangan yang
diperlukan. Metode perhitungan besar STUP diupayakan agar menempuh
cara yang adil, sehingga mudah diterima oleh peserta.
Sebagai pertimbangan dikemukakan 3 (tiga)metode yang lazim
digunakan untuk menghitung beban besar sumbangan tanah tiap kaveling,
yaitu:
a. Metode Luas Tanah

22

Besar sumbangan yang dibebankan pada masing-masing kaveling,


dihitung dengan besar persentase yang sama untuk keperluan sarana serta
TPBP. Sedangkan besar sumbangan tiap kaveling untuk prasarana jalan,
bervariasi tergantung pada faktor jalan pada kaveling tersebut.
b. Metode Nilai Tanah
Besarnya sumbangan tiap bidang tanah dihitung berdasarkan nilai
masing-masing bidang tanah. Besar sumbangan dapat bervariasi,
proporsional

dengan

nilai

tanah

masing-masing

kaveling

bila

diperbandingkan antara sebelum dan sesudah konsolidasi tanah.


Nilai bidang tanah sebelum konsolidasi tanah dapat diperhitungkan
dengan mempertimbangkan kelas tanah, harga dasar dan lainnya.
Sedangkan nilai tanah sesudah konsolidasi tanah dihitung berdasar
perkiraan.
c. Metode Gabungan Luas Tanah dan Nilai Tanah
Metode ini merupakan gabungan dari metode luas tanah dan nilai tanah.
6. Selanjutnya masing-masing kaveling diletakkan pada masing-masing blok
kaveling pada Peta Rencana Blok. Dalam meletakkan kaveling, apabila ada
pergeseran, diupayakan agar kaveling baru tetap dekat letaknya dengan
posisi sebelum konsolidasi tanah dengan memperhatikan peta rincikan
semula.
7. Selain letak kaveling, diperhatikan pula bentuk dan batas kavelingnya.
Bentuk kaveling ideal umumnya panjang kebelakang sekurangkurangnya
1,5 kali lebar di pinggir jalan. Batas kaveling sebaiknya diupayakan lurus
sampai pada sisi depan atau sedekat-dekatnya dengan jalan.
H. Kesimpulan
Pembuatan Block Plan diperlukan dalam rangka koordinasi dengan
Pemerintah Daerah dan penjajagan kesepakatan dengan masyarakat agar
nantinya pelaksanaan Konsolidasi Tanah berjalan dengan lancar dan sesuai
dengan harapan.
Tanah untuk kepentingan pembangunan berupa jalan, fasilitas umum dan
fasilitas sosial diperoleh dari sumbangan peserta konsolidasi tanah dalam

23

bentuk Sumbangan Tanah untuk Pembangunan (STUP) yang besarnya


disepakati bersama dengan jalan musyawarah. STUP selain digunakan untuk
pembangunan prasarana jalan dan fasilitas umum lainnya, juga digunakan
sebagai TPBP (Cost Equivalent Land).ll
Tujuan akhir dari program Konsolidasi Tanah adalah untuk mencapai
kualitas lingkungan yang baik dan produktif serta mencapai kesejahteraan para
pesertanya. Sehingga partisipasi, kerelaan hati dan persetujuan para peserta
diharapkan dapat terwujud.Persetujuan dari para peserta Konsolidasi Tanah
tersebut terutama mengenai kerelaan terhadap STUP tertuang dalam surat
pernyataan persetujuan tentang rencana Konsolidasi Tanah.

24

ACARA IV
PELEPASAN HAK ATAS TANAH DALAM RANGKA PELAKSANAAN
KONSOLIDASI TANAH
A. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah melaksanakan praktikum ini, Taruna mampu membuat Contoh Surat
Pernyataan Pelepasan Hak Atas Tanah Dalam Rangka Pelaksanaan Konsolidasi
Tanah.
B. Bahan dan peralatan
a. Kertas HVS Kuarto
b. Alat tulis
c. Laptop
d. Printer
C. Dasar Teori
Pelepasan hak atas tanah dalam konsolidasi tanah adalah suatu tindakan
peralihan hak atas tanah dari pemilik tanah kepada negara untuk ditata dalam
konsolidasi tanah. Selanjutnya hak atas tanah yang telah dikuasai negara
tersebut ditata dan dikembalikan lagi kepada pemilik tanah semula setelah
dikurangi luas tanahnya sesuai kesepakatan. Makna kesepakatan dalam
konsolidasi tanah adanya kesesuaian kehendak dari kedua belah pihak, dimana
pihak yang satu berjanji melaksanakan konsolidasi tanah, sedangkan pihak
yang lainnya berjanji untuk menyetujui rencana konsolidasi tanah termasuk
besaran persentase tanah yang akan disumbangkan. Dengan demikian,
pelepasan hak atas tanah dalam konsolidasi tanah adalah peralihan hak atas
tanah bersifat sementara. Sebaliknya pelepasan hak atas tanah dalam

25

pengadaan tanah yang dikenal selama ini adalah peralihan hak untuk
mengakhiri hak atas tanah.
Tindakan pelepasan hak atas tanah dalam konsolidasi tanah adalah melalui
penyerahan Surat Pernyataan Pelepasan Hak Dalam Rangka Pelaksanaan
Konsolidasi Tanah yang ditandatangani pemilik tanah dihadapan Kepala
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota atau petugas yang ditunjuk.
Apabila tidak memenuhi ketentuan tersebut, maka berdasarkan Pasal 131
ayat (3) Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional
No. 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (Permenag No.
3/1997), permohonan pendaftaran hapusnya hak atas tanah tidak akan
diterima, apabila tidak memenuhi syarat sebagai berikut:
Pendaftaran hapusnya hak atas tanah dan Hak Milik atas Satuan Rumah
Susun yang disebabkan oleh dilepaskannya hak tersebut oleh pemegangnya
dilakukan oleh Kepala Kantor Pertanahan berdasarkan permohonan dari
pihak yang berkepentingan dengan melampirkan:
a. 1) akta notaris yang menyatakan bahwa pemegang yang bersangkutan
melepaskan hak tersebut, atau
2) surat keterangan dari pemegang hak bahwa pemegang hak yang
bersangkutan melepaskan hak tersebut yang dibuat di depan dan
disaksikan oleh Camat letak tanah yang bersangkutan, atau
3) surat keterangan dari pemegang hak bahwa pemegang hak yang
bersangkutan melepaskan hak tersebut yang dibuat di depan dan
disaksikan oleh Kepala Kantor Pertanahan.
b. persetujuan dari pemegang Hak Tanggungan apabila hak tersebut dibebani
Hak Tanggungan;
c. sertifikat hak yang bersangkutan;

26

D. Tahapan Pelaksanaan
Tahapan dalam pelepasan hak atas tanah adalah:
1. pemilik tanah yang menyepakati pelaksanaan konsolidasi tanah datang
sendiri ke kantor pertanahan Kabupaten/Kota untuk membuat surat
pernyataan
Adapun isi surat pernyataan surat pelepasan hak dalam rangka
pelaksanaan konsolidasi tanah perkotaan adalah:
Dengan ini menyatakan melepaskan hak penguasaan garapan milik
adat, hak milik, hak guna bangunan, hak pakai atas tanah kami kepada
negara di hadapan Kepala Kantor Pertanahan sebagaimana yang telah
disepakati

dalam

surat

pernyataan/persetujuan

tentang

rencana

konsolidasi tanah perkotaan sebagai berikut:


a. Pemerintah dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional akan memberi
kembali tanah kepada saya dengan hak milik/hak guna bangunan/hak
pakai pada lokasi konsolidasi tanah perkotaan yang telah disepakati
bersama.
b. Bersedia

memberikan/menyerahkan

sumbangan

tanah

untuk

pembangunan sebesar sekian %.


2. apabila tanah tersebut sudah bersertifikat dan diagungkan/jaminan kredit,
maka harus ada persetujuan kreditur yang bersangkutan. Berdasarkan hal
tersebut

Kepala

Kantor

Pertanahan

Kabupaten/Kota

perlu

memberitahukan secara tertulis kepada kreditur dan selanjutnya


diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
3. apabila tanah yang bersangkutan merupakan pemilikan bersama misalnya
suami istri, maka yang menandatangani Surat Pernyataan Pelepasan Hak
adalah suami istri (bersama-sama). Pada saat pelepasan hak/penguasaan
fisik, sertipikat dan bukti-bukti lain diserahkan kepada Kantor Pertanahan
Kabupaten/Kota
4. tanah-tanah yang telah menjadi aset pemerintah persetujuannya dari
instansi yang bersangkutan.
Tindakan pelepasan hak atas tanah dari pemilik tanah kepada negara
untuk menjadikan status tanah menjadi tanah yang langsung dikuasai
negara dalam konsolidasi tanah tidak ada dalam peraturan perundangundangan yang mengatur pelepasan hak atas tanah tersebut, baik
bedrdasarkan BW, hukum adat, maupun atas dasar Undang-undang Pokok

27

Agraria dan tanah hasil dari pengurangan tanah semula adalah STUP
dengan tidak ada ganti rugi yang berupa uang.
Sehingga bukti hak yang dimiliki atau dipegang oleh peserta saat ini
hanya berupa bukti pembayaran pajak. Sedangkan bukti hak berupa
sertipikat telah dihapus di buku tanah.
E. Hasil Praktikum
Hasil praktikum pada Acara IV ini adalah Surat Pernyataan Pelepasan
Hak yang dibuat oleh para peserta Konsolidasi Tanah di Desa Teluk Bakung,
Kecamatan Sunga Ambawang, Kabupaten Kubu Raya dan Surat Pernyataan
Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Kubu Raya yang menyatakan menerima
pelepasan hak tersebut.
F. Pembahasan
Menurut Pasal 1 butir 2 Keppres no.55 tahun 1993, pelepasan atau
penyerahan hak atas tanah adalah kegiatan melepaskan hubungan hukum
antara pemegang hak atas tanah dengan tanah yang dikuasainya dengan
memberi ganti kerugian atas dasar musyawarah.
Tindakan pelepasan hak atas tanah dalam konsolidasi tanah adalah melalui
penyerahan Surat Pernyataan Pelepasan Hak Dalam Rangka Pelaksanaan
Konsolidasi Tanah yang ditandatangani pemilik tanah dihadapan Kepala
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota atau petugas yang ditunjuk.
Maksud pembuatan Pernyataan Pelepasan Hak Atas Tanah adalah untuk
menjadikan status tanah menjadi tanah yang langsung dikuasai oleh Negara,
sehingga pemerintah dapat menata kembali penguasaan tanah dan penggunaan
sesuai hasil musyawarah para peserta Konsolidasi Tanah. Surat Pernyataan
Pelepasan

Hak/Penguasaan

fisik

tersebut

ditandatangani

oleh

yang

bersangkutan dihadapan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.

G. Pendalaman Materi
1. Mengapa dalam proses Konsolidasi Tanah sebelum diadakan penataan
harus dilakukan pelepasan Hak Atas Tanah ?
Jawab :

28

Pelepasan Hak Atas Tanah dalam proses Konsolidasi Tanah dilakukan


karena untuk melegalkan pemerintah dalam proses penataan kembali
penguasaan dan penggunaan tanah sesuai dengan hasil musyawarah yang
telah disepakati oleh peserta Konsolidasi Tanah.
2. Apa perbedaan pelepasan Hak Atas Tanah dalam rangka Konsolidasi Tanah
dibandingkan dengan pembebasan tanah secara konvensional (secara
umum) ?
Jawab :
Pengertian pelepasan hak dalam Konsolidasi Tanah Perkotaan berbeda
dengan pelepasan hak yang dikenal dalam pengadaan tanah ( pengadaan
tanah secara konvensional). Menurut Pasal 1 butir 2 Keppres no.55 tahun
1993, pelepasan atau penyerahan hak atas tanah adalah kegiatan
melepaskan hubungan hukum antara pemegang hak atas tanah dengan
tanah yang dikuasainya dengan memberi ganti kerugian atas dasar
musyawarah. Disini terlihat bahwa pelepasan hak itu bersifat mengalihkan
hak, dan untuk itu sebagai kompensasinya diberikan ganti kerugian
terhadap para pemegang hak atas tanah yang melepaskan /menyerahkan
hak atas tanahnya. Dalam konsolidasi Tanah pelepasan hak itu bersifat
sementara, dalam arti setelah ditata (dikonsolidasi), tanah itu akan kembali
kepada pemegang hak atas tanah semula. Meskipun tidak tertutup
kemungkinan bahwa tanah yang diperolehnya setelah konsolidasi
mengalami pergeseran letak . Dan oleh karena hak atas tanah yang
dilepaskan haknya akan dikembalikan padanya maka tidak perlu diberikan
ganti kerugian atas pelepasan hak tersebut. Jadi pelepasan hak atas tanah
pada konsolidasi tanah bukan untuk mengakhiri hak atas tanah melainkan
hanya

untuk

kepentingan

penataan

kembali

penguasaan

dan

penggunaannya.
3. Kapan proses pelepasan Hak Atas Tanah dalam tahapan pelaksanaan
Konsolidasi Tanah ? Mengapa demikian ?
Jawab :
Proses pelepasan Hak Atas Tanah dilakukan setelah pelaksanaan
musyawarah desain tata ruang konsolidasi tanah disepakati oleh para
peserta Konsolidasi Tanah. Pada musyawarah ini yang bertujuan untuk
menjelaskan mengenai Desain Konsolidasi yang akan dilaksanakan dengan
29

kemungkinan

terjadinya

pergeseran/perpindahan

perubahan
persil,

bentuk,
bahkan

luas

dan

pembongkaran

pagar/bangunan/tanaman. Apabila dalam proses musyawarah tidak terjadi


suatu kesepakatan, maka proses pelepasan Hak Atas Tanah akan tertunda.
H. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama, ada perbedaan antara pelepasan hak atas tanah dalam konsolidasi
tanah yang bersifat sementara dan pelepasan hak atas tanah dalam pengadaan
tanah yang merupakan peralihan hak untuk mengakhiri hak atas tanah yang
dikenal dalam hukum perdata seperti melalui jual beli, tukar menukar, atau
yang dikenal dalam hukum administrasi seperti nasionalisasi, perampasan,
pengambilalihan untuk kepentingan landreform, ataupun melalui pencabutan
hak atas tanah (onteiguning) yang kemudian diganti rugi;
Kedua, keunikan pelepasan hak atas tanah dalam konsolidasi tanah adalah
pelepasan haknya hanya bersifat sementara, dimana peserta dapat memperoleh
haknya kembali dengan bentuk dan luas yang berbeda sesuai hasil kegiatan
konsolidasi tanah yang telah disepakati.

ACARA V
PENYUSUNAN SURAT KEPUTUSAN PENEGASAN LOKASI
KONSOLIDASI TANAH

A. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah melaksanakan praktikum ini, mahasiswa mampu membuat surat
keputusan penegasan obyek konsolidasi tanah yang merupakan tahapan
dalam pelaksanaan kegiatan konsolidasi tanah yang harus dilaksanakan.

30

B. Bahan dan peralatan


a. Kertas HVS ukuran A4;
b. Alat tulis;
c. Laptop;
d. Printer.
C. Dasar Teori
Di dalam mekanisme pelaksanaan konsolidasi tanah, ada beberapa
tahap-tahap yang harus dilaksanakan, di antaranya adalah tahap penataan
yang dimulai dari pembuatan blok/pra-desain konsolidasi tanah, pembuatan
desain konsolidasi tanah, musyawarah peserta (mengenai DKT dan persil
baru), pelepasan hak atas tanah, penegasan obyek konsolidasi tanah, staking
out/realokasi, konstruksi (prasarana jalan, fasos/fasum), penerbitan surat
keputusan hak atas tanah, dan yang terakhir sertifikasi.
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3
Tahun 2003 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian Keputusan
Penegasan Tanah sebagai Obyek Konsolidasi Tanah bahwa usulan penegasan
tanah obyek konsolidasi tanah diajukan oleh Kepala Kepala Kantor
Pertanahan (FORM KT-3317), kepada Kepala Kepala Kantor Wilayah Badan
Pertanahan Nasional (FORM KT-3318),untuk memperoleh Surat Keputusan
Pelepasan Tanah Obyek Konsolidasi Tanah (SK PTOKT).
Surat Keputusan PTOKT diterbitkan setelah menerima pelepasan hak
atas tanah dari peserta kepada negara dihadapan Kepala Kantor Pertanahan,
sebagaimana terlampir dalam berkas usulan PTOKT.Usulan Penegasan Tanah
Obyek Konsolidasi Tanah melampirkan berkas-berkas berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Surat Keputusan Penetapan Lokasi Konsolidasi Tanah.


Peta Rincikan dan Peta Keliling Lokasi Konsolidasi Tanah.
Peta Topografi dan Peta Penggunaan Tanah (apabila diperlukan)
Peta Rencana Tata Ruang Wilayah/RTRW/RDTR.
Rencana Blok Konsolidasi Tanah.
Daftar Peserta dan Luas Pemilikan Tanah masing-masing peserta.
Daftar Surat Pernyataan Persetujuan Peserta
Daftar Surat Pernyataan Pelepasan Hak Atas Tanah dari peserta.
Peta Desain Konsolidasi Tanah.

31

10. Keterangan Riwayat Tanah yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor


Pertanahan.
11. Lain-lain yang diperlukan.
D. Langkah Kerja
Menyusun Surat Keputusan Penegasan Obyek Konsolidasi Tanah (SK
POKT) sesuai dengan format yang ditentukan pada Petunjuk Teknis (FORM
KT-3318). Surat Pernyataan ini dibuat dan ditandatangani oleh Kepala Kantor
Pertanahan Wilayah Provinsi atas usulan dari Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten Kubu Raya
E. Hasil Praktikum
Surat Keputusan Penegasan Obyek Konsolidasi Tanah (FORM KT3318). (terlampir)
F. Pembahasan
Tahap kegiatan konsolidasi tanah selanjutnya setelah pelepasan hak
adalah Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Kubu Raya

membuat surat

usulan penegasan obyek konsolidasi tanah di lokasi tersebut kepada Kepala


Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Barat,
dengan melampirkan surat dan peta (seperti yang tertulis dalam dasar teori di
atas) sebagai syarat diterbitkannya Surat Keputusan Penegasan Obyek
Konsolidasi Tanah oleh Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Kalimantan Barat.
Setelah menerima surat usulan dari Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten Kubu Raya, maka tahap selanjutnya adalah Kepala Kantor
Wilayah membuat surat keputusan penegasan obyek konsolidasi tanah dan
menginstruksikan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Sungai Hulu
untuk mencoret dari daftar umum/daftar buku tanah pada Kantor Pertanahan
Kabupaten Sungai Hulu atas persil-persil yang sudah terdaftar haknya dan
mencatatnya sebagai tanah yang langsung dikuasai oleh negara dan menata
serta melaksanakan pembagian tanah negara tersebut serta memberikan
haknya kembali yang sesuai kepada peserta konsolidasi tanah.

32

Dengan adanya surat keputusan penegasan obyek konsolidasi tanah dari


Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan
Barat, maka dapat dilaksanakan pelaksanaan konsolidasi tanah pada tahap
penataan selanjutnya.
G. Kesimpulan
Tahap kegiatan konsolidasi tanah selanjutnya setelah pelepasan hak
adalah penegasan objek konsolidasi tanah. Kepala Kantor membuat surat
usulan penegasan obyek konsolidasi tanah kepada Kepala Kantor Wilayah
Badan Pertanahan Nasional Provinsi dan atas dasar usulan tersebut Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi membuat surat
keputusan penegasan obyek konsolidasi tanah dan menginstruksikan kepada
Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota untuk mencoret dari daftar
umum/daftar buku tanah pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota atas persilpersil yang sudah terdaftar haknya dan mencatatnya sebagai tanah yang
langsung dikuasai oleh negara dan menata serta melaksanakan pembagian
tanah negara tersebut serta memberikan haknya kembali yang sesuai kepada
peserta konsolidasi tanah. Setelah surat keputusan penegasan obyek
konsolidasi tanah tersebut selesai, maka dapat dilaksanakan pada tahan
penataan selanjutnya.
ACARA VI

STAKING OUT DAN PENERBITAN SURAT KEPUTUSAN


PEMBERIAN HAK
A. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah melaksanakan praktikum ini, mahasiswa mampu merancang
realokasi Desain Konsolidasi Tanah di lapangan dan membuat Surat
Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Hasil Konsolidasi Tanah.
B. Bahan dan peralatan
1) Kertas HVS ukuran A4;
2) Alat tulis;
3) Laptop;

33

4) Printer;
5) Peta Situasi;
6) Peta Blok;
7) Surat Keputusan Penegasan Tanah Negara sebagai Obyek Konsolidasi
Tanah.
C. Dasar Teori
Staking out/ realokasi dilaksanakan setelah dilakukan penegasan obyek
Konsolidasi Tanah. Staking out/ realokasi

ini dimaksudkan

untuk

mewujudkan secara fisik Desain Konsolidasi Tanah di lapangan dan


menunjukkan masing-masing kaveling kepada yang berhak. Pelaksanaannya
dilaksanakan dengan pengukuran rincikan dan pemetaan kadastral ulang.
Pekerjaan ini dilakukan oleh Satuan Tugas Pelaksana yang diketuai oleh
Kepala Seksi Pendaftaran Tanah.
Kegiatan selanjutnya adalah konstruksi, dimana pekerjaan konstruksi
adalah pekerjaan teknis fisik yang meliputi penggalian parit untuk
pembentukan badan jalan. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh pemborong/
rekanan yang pelaksanaannya melalui tender secara terbuka dan berpedoman
pada Keppres No. 16 Tahun 1994.
Setelah terbit Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Nasional tentang Penegasan Tanah Negara sebagai Obyek Konsolidasi Tanah,
dan sesudah semua berkas permohonan lengkap dan memenuhi syarat,
Kepala Kantor Pertanahan menerbitkan Surat Keputusan Pemberian Hak atas
Tanah kepada peserta Konsolidasi Tanah.
Peserta Konsolidasi Tanah yang semula sudah memiliki tanah dengan
sesuatu hak dibebaskan dari kewajiban membayar uang pemasukan kepada
negara dalam perolehan hak. Kepada yang bersangkutan hanya dikenakan
biaya administrasi dan biaya pendaftaran tanah. Selanjutnya mengenai tanahtanah yang semula (sebelum Konsolidasi Tanah) masih berstatus tanah
negara, maka kepada penerima hak di samping dikenakan uang pemasukan
kepada negara juga diwajibkan membayar biaya administrasi dan biaya
pendaftaran tanah sesuai ketentuan yang berlaku. Setelah diterbitkan Surat

34

Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah oleh Kepala Kantor Pertanahan


Kabupaten/ Kota maka selanjutnya dapat diproses untuk diterbitkan
sertipikatnya.
D. Langkah Kerja
1. Peserta/ pemilik tanah membuat surat pernyataan pelepasan hak.
2. Mengajukan usul penegasan sebagai obyek Konsolidasi Tanah oleh Kepala
Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota kepada Kepala Kantor Wilayah Badan
Pertanahan Nasional Provinsi.
3. Dilakukan penegasan lokasi Konsolidasi Tanah oleh Kepala Kantor
Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi dengan menerbitkan Surat
Keputusan Penegasan Tanah Negara sebagai Obyek Konsolidasi Tanah.
4. Melaksanakan staking out/ realokasi secara fisik Desain Konsolidasi Tanah
di lapangan.
5. Melaksanakan pekerjaan konstruksi/ pekerjaan teknis fisik.
6. Membuat/ menerbitkan Surat Keputusan Pemberian Hak.

E. Hasil Praktikum
Hasil praktikum pada acara VI ini berupa Surat Keputusan Pemberian
Hak kepada peserta Konsolidasi Tanah (terlampir).
F. Pembahasan
Dalam praktikum ini membahas tahapan selanjutnya dari pelaksanaan
konsolidasi tanah. Tahapan pelaksanaan konsolidasi tanah harus dilaksanakan
secara berurutan agar pelaksanaannya dapat menghasilkan hasil akhir yang
maksimal dan sesuai tujuan serta sasaran awalnya. Sebagaimana telah
dijelaskan mengenai tahapan pelepasan hak atas tanah dan Pembuatan Surat
Keputusan penegasan lokasi konsolidasi tanah maka tahapan selanjutnya
adalah pemberian hak atas tanah.

35

Pemberian hak atas tanah dalam Konsolidasi Tanah Perkotaan (KTP)


adalah pemberian hak atas tanah bagi peserta Konsolidasi Tanah Perkotaan
yang telah melepaskan haknya (penguasaan fisik). Artinya seandainya peserta
KTP yang akan diberikan haknya itu sebelumnya sudah menguasai tanah
dengan suatu hak (baik bersertipikat ataupun belum) maka pemberian hak
milik kepadanya tidak lagi dibebani pembayaran uang pemasukan kepada
negara, melainkan hanya membayar biaya administrasi dan pendaftaran
tanah. Selanjutnya jika peserta KTP itu hanya penggarap, maka pemberian
hak atas tanah kepadanya harus dengan pembayaran uang pemasukan kepada
negara ditambah biaya administrasi dan pendaftaran tanahnya.
Oleh karena semua data telah tersedia, maka segera Surat Keputusan
Pemberian Hak atas Tanah diterbitkan oleh Kepala Kantor Wilayah BPN
provinsi yang kutipan surat keputusannya dikirim kepada kepala kantor
prtanahan Kabupaten/Kota agar dibuatkan buku-buku tanah untuk tiap hak
yang diberikan serta surat ukur untuk tiap bidang tanah yang bersangkutan
diikuti penerbitan sertipikatnya.
Kepada penerima hak perorangan kiranya diberikan hak milik. Jika
berstatus Badan Hukum akan diberikan HGB dengan jangka waktu tertentu.
Selanjutnya jika berstatus instansi pemerintah akan diberikan Hak Pakai
untuk jangka waktu selama digunakan bagi pelaksanaan tugasnya. Tanahtanah untuk fasilitas lingkungan dan prasarana jalan diberikan juga haknya
kepada instansi yang mengelolanya. Demikian juga alokasi dan pemberian
haknya kepada para peminat kavling-kavlingtanah yang merupakan pengganti
biaya pelaksanaan konsolidasi tanah
Penerbitan Surat Keputusan Pemberian Hak atas tanah pertanian hasil
penataan diproses menurut tata cara redistribusi sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961, sedangkan terhadap
tanah dengan penggunaan non pertanian diproses menurut ketentuan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 224 Tahun 1973. Pemberian hak
kepada peserta Konsolidasi Tanah dilakukan oleh Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten/ Kota yaitu dengan menerbitkan Surat Keputusan Pemberian Hak
Atas Tanah Hasil Konsolidasi Tanah.

36

G. Pendalamann Materi
1. Mengapa proses pemberian hak atas tanah hasil Konsolidasi Tanah
diberikan menurut/ sesuai pola redistribusi tanah?
Jawab :
Pemberian hak atas tanah pertanian hasil Konsolidasi Tanah
diberikan sesuai pola Redistribusi Tanah sebagaimana yang dimaksud
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 yaitu pemberian hak
milik dilakukan dengan surat keputusan Menteri Agraria atau pejabat yang
ditunjuk dan disertai dengan kewajiban-kewajiban sebagai berikut:
a. Membayar harga tanah yang bersangkutan menurut ketentuan.
b. Tanah itu harus dikerjakan/diusahakan oleh pemilik sendiri secara aktip.
Selama harga tanah belum dibayar lunas, maka hak milik tersebut
dilarang untuk dipindahkan kepada orang lain, kecuali dengan izin Menteri
Agraria atau pejabat yang ditunjuk olehnya.
Sementara untuk pemberian hak atas tanah non pertanian hasil
Konsolidasi Tanah diberikan sesuai pola Redistribusi Tanah sebagaimana
dimaksud dalam ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 224
Tahun 1973 .
2. Apa yang harus menjadi pertimbangan dalam SK Pemberian Hak Atas
Tanah hasil Konsolidasi Tanah tersebut dan siapa yang berhak menerima
Hak Atas Tanah tersebut?
Jawab :
Penerbitan Surat Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah
dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan setempat,
setelah diterimanya usulan Penegasan Obyek Konsolidasi
Tanah yang diajukan oleh Kepala Kantor Pertanahan dan
disetujui

oleh

Kepala

Kantor

Wilayah

dengan

dikeluarkannya Surat Keputusan Tentang Penegasan Tanah


Negara Sebagai Obyek Konsolidasi Tanah. Tentunya hal ini
juga memperhatikan kelengkapan berkas lampiran yang

37

terdapat dalam surat usulan penegasan oleh Kepala Kantor


Pertanahan,

serta

juga

memperhatikan

peraturan-

peraturan terkait pelaksanaan konsolidasi tanah.


Subjek hak yang berhak menerima kembali hak atas
tanah tersebut adalah bekas para pemegang hak sebelum
dilakukannya pelepasan hak atas tanah untuk dijadikan
obyek konsolidasi tanah. Hal ini mengingat bahwasannya
pelepasan hak dalam konsolidasi tanah bersifat sementara,
artinya tanah yang sudah dilepaskan oleh pemilik menjadi
tanah negara, setelah ditata akan diserahkan kembali
kepada bekas pemilik semula, meskipun tidak menutup
kemungkinan bahwa tanah yang diperolehnya setelah di
konsolidasi mengalami pergeseran letak, perubahan luas
dan bentuk.

H. Kesimpulan
Staking out/ realokasi ini dimaksudkan untuk mewujudkan secara fisik
Desain Konsolidasi Tanah di lapangan dan menunjukkan masing-masing
kaveling kepada yang berhak. Setelah terbit Surat Keputusan Kepala Kantor
Wilayah Badan Pertanahan Nasional tentang Penegasan Tanah Negara
sebagai Obyek Konsolidasi Tanah, dan sesudah semua berkas permohonan
lengkap dan memenuhi syarat, Kepala Kantor Pertanahan menerbitkan Surat
Keputusan Pemberian Hak atas Tanah kepada peserta Konsolidasi Tanah.
Penerbitan Surat Keputusan Pemberian Hak atas tanah pertanian hasil
penataan diproses menurut tata cara redistribusi tanah.

38

ACARA VII
PERMOHONAN SERTIPIKAT HAK ATAS TANAH OBJEK
KONSOLIDASI TANAH
A.

Tujuan Instruksional Khusus


Mahasiswa mampu membuat permohonan sertipikat hak atas tanah objek
konsolidasi tanah yang dibuat oleh Kepala Kantor Wilayah BPN untuk
ditujukan kepada Kepala Kantor Pertanahan.

B.

Bahan dan peralatan


39

C.

a.

Kertas HVS ukuran A4;

b.

Alat tulis;

c.

Laptop;

d.

Hasil Praktikum Acara VI.


Dasar Teori
Pengertian formal sertipikat terdapat pada Pasal 19 ayat (2) UUPA

menegaskan bahwa sertipikat adalah surat tanda bukti hak atas tanah yang
berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Sertipikat sebagai surat bukti tanda
hak, diterbitkan untuk kepentingan pemegang hak yang bersangkutan, sesuai
dengan data fisik yang ada dalam surat ukur dan data yuridis yang telah di
daftar dalam buku tanah.
Penerbitan Sertipikat Tanah Obyek Konsolidasi ini dilaksanakan setelah
adanya Surat Keputusan Redistribusi Tanah Negara Objek Konsolidasi Tanah
dari Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat lain yang berwenang sesuai
ketentuan yang berlaku (Perkaban Nomor 2 tahun 2013). Sertipikat Tanah
Obyek Konsolidasi ini diterbitkan oleh kantor pertanahan setempat. Penerbitan
sertipikat dilakukan atas petunjuk dari Kepala Kantor Wilayah BPN melalui
surat permohonan dari Kepala Kantor Wilayah BPN.
Kegiatan Penerbitan Sertipikat dilaksanakan oleh Satgas Pembukuan hak
dan penerbitan sertipikat, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24
Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dan ketentuan pelaksanaan lainnya
yang berlaku di BPN RI. Karena obyek yang diberikan adalah tanah negara,
dan melalui proses Pemberian Hak, maka penerbitan tidak disertai dengan
Pengumuman. Bagi tanah yang sebelumnya belum bersetipikat, pemilik
diwajibkan untuk membayarkan BPHTB sebagai kelengkapan pengajuan
permohonan penerbitan sertipikat. Adapun tahap pembukuan hak dan
penerbitan sertipikat adalah sebagai berikut:
Atas dasar SK Redistribusi Objek Konsolidasi Tanah, peta bidang rincikan
dan daftar nama peserta, SK kemudian didaftarkan. Petugas pendaftaran
membukukan Daftar penerimaan uang muka biaya PT (DI 305) dan Bukti
penerimaan (DI 306) dengan biaya RP.0. Pembukuan permohonan
pendaftaran tanah (DI 301).

40

Atas dasar SK kolektif pemberian hak, petugas pendaftaran hak kemudian


mendaftarkan dan mencatatkan haknya dalam Buku Tanah (DI 205),
membuat daftar Tanah (DI 203), daftar nama (DI 204). Selain itu petugas
pendaftaran hak membukukan daftar penyelesaian pekerjaan pendaftaran
tanah (DI 208), dan pembukuan daftar penghasilan Negara (DI 307).
D.

Tahap Pelaksanaan:
1) Melengkapi berkas-berkas permohonan pensertipikatan tanah objek
konsolidasi tanah.
2) Membayar BPHTB bagi tanah yang belum bersertipikat sebelum
konsolidasi tanah.
3) Membuat permohonan penerbitan sertipikat objek konsolidasi tanah
yang ditujukan kepada Kepala Kantor Pertanahan oleh Kepala Kantor
Wilayah Badan Pertanahan Nasional yang isinya memuat permintaan
kepada Kepala Kantor untuk menerbitkan sertipikat sesuai Surat
Keputusan Redistribusi Tanah Negara Objek Konsolidasi Tanah.
4) Penerbitan sertipikat tanah sesuai Peraturan Pemerintah No. 24 tahun
1997.

E.

Hasil praktikum
Surat permohonan pererbitan sertipikat objek Konsolidasi Tanah;

F.

Pembahasan
Kepala Kantor Pertanahan Kota Kuburaya setelah menerbitkan Surat
Keputusan Redistribusi Tanah Obyek Konsolidasi, tahapan selanjutnya
adalah penerbitan sertipikat Hak Atas Tanah hasil Konsolidasi tanah
perkotaan. Adapun tahapan yang dilakukan adalah membuat salinan dari
buku tanah dari hak-hak atas tanah yang telah dibukukan. Salinan buku
tanah itu beserta surat ukur dan gambar situasinya

kemudian

dijahit/dilekatkan menjadi satu dengan kertas sampul yang telah


ditentukan pemerintah, dan hasil akhir itulah yang kemudian disebut
dengan

sertipikat

yang

kemudian

salinannya

diserahkan

kepada

pemohonnya. Proses yang terakhir yaitu sertipikat bukti hak atas tanah
yang akan dibagikan kepada peserta terdaftar.

41

G.

Pendalaman Materi
Kenapa tanah/bidang hasil konsolidasi tanah harus didaftarkan kembali pada
pemilik semula?
Jawab:
Proyek konsolidasi bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat yang
mengikuti proyek tersebut (Dalam Jurnal Konsolidasi Tanah Perkotaan
Suatu Analisis Sosioyuridis). Hal ini dapat dilakukan dengan cara
memberikan perlindungan terhadap hak-hak atas tanah peserta. Dalam
konsolidasi tanah terdapat proses dimana tanah dilepaskan kepada negara,
oleh karena itu tanah harus didaftarkan kembali kepada pemilik semula agar
statusnya tidak menjadi tanah negara. Sehingga outputnya (sertipikat) dapat
menjamin kepastian hukum bagi pemiliknya.

H.

Kesimpulan
Kesimpulan dari laporan praktikum kelompok kami yaitu:
a.

Penerbitan Sertipikat Hak Atas Tanah didahului proses


pemberian Surat Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah, yang dibuat
oleh Kepala Kantor Pertanahan setempat sebagai kelanjutan kegiatan
Konsolidasi Tanah, sesuai dengan surat permohonan penerbitan
sertipikat objek konsolidasi tanah yang dibuat oleh Kepala Kantor
Wilayah BPN setempat.

b.

Penerbitan sertipikat pada umumnya berbeda, tidak semua


calon penerima membayar BPHTB, melainkan hanya tanah-tanah
yang memang dari awal belum bersertipikat saja yang membayar
BPHTB (Memperoleh Hak Baru).

42

43

44