Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Menulusuri sejarah peradaban Islam tidak muungkin terlepas dari konstruk
perdebatan prinsip-prinsip dasar Islam. Baik sisi syariah, aqidah maupun
tasawwuf. Dalam konteks ini sangat diperlukan kajian intensif tentang ketiganya
dengan pendekatan politik dan wacana keagamaan. Pendekatan politik ini
diperlukan karena dari sekian banyak referensi sejarah Islam mencatat bahwa
perkembangan Islam tidak bisa dilepaskan dari persoalan-persoalan politik.1 Maka
tesis nabi Muhammad saw., yang menyebarkan Islam dengan memanfaatkan isuisu politik terbukti sangat efektif. Dimasa-masa Islam, bangsa arab tiba-tiba
tumbuh menjadi bangsa yang besar dan disegani. Ditengah-tengah sosio-kultural
bangsa arab itulah Islam berkembang dengan pesat.
Pada dasarnya, Ilmu dibangun dengan perangkat paradigma, pendekatan dan
metode. Dalam hemat penulis, perangkat ini berakumulasi secara dinamis dalam
perkembangan ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Bagi Islamic Studies,
berbagai pendekatan dan metode ilmiah berkembang dengan aneka perspektif,
tendensi, dan orientasi yang lahir dari latar masing-masing pengkajinya. Latar ini,
nyatanya

berkemungkinan

menyebabkan

terjadinya

problem-problem

metodologis yang menyangkut paradigma, pendekatan dan metode studinya. Di


Indonesia, problem metodologis terjadi karena faktor-faktor hegemoni belief
(terlalu

kentalnya

pendekatan

normatif-teologis

dan

terkesampingkannya

1 Sebagai contoh, para sejarawan banyak yang mencatat suatu peristiwa di masa awal
Islam yang memunculkan nama Afif al-Kindi. Dia adalah seorang usahawan yang sudah memiliki
jaringan luas hingga ke kota-kota tetangga, hingga pada suatu saat menginjakkan kaki di Mekkah.
Afif al-Kindi menjumpai al-Abbas (Paman Nabi Muhammad). Di tempat al-Abbas tersebut, Afif
al-Kindi sempat menyaksikan nabi Muhammad saw., sedang shalat menghadap kiblat. Disitu juga
ada Khadijah dan Ali bin Abi Thalib. Tidak jauh dari tempat mereka, Abu Lahab, Abu Jahal, dan
Abu Sofyan sedang duduk-duduk. Saat Afif al-Kindi menanyakan agama yang mempunyai
ritualitas tersebut, Al-Abbas menjawab bahwa itu adalah (agama) Muhammad putra
Abdullah_saudara laki-lakinya_yang mengklaim dirinya seorang utusan Tuhan dan terobsesi
menggulingkan Persia dan Romawi. Lihat Soerjono Soekanto, Sosiologi, Suatu Pengantar
(Jakarta: Yayasan Penerbit UI, 1974), 217-218.Said Agil Siradj memaknai kisah Afif al-Kindi ini
sebagai realitas peradaban islam yang tidak bisa lepas dari konstruksi budaya politik.

pendekatan historis-sosiologis) dan interes misi agama tertentu. Meskipun


demikian terdapat kecenderungan di kalangan ilmuan agama di Indonesia
memncari format ideal pendekatan khas studi agama, agar mereka menjadi ilmuan
otentik tanpa kehilangan identitas sebagai pengikut agama yang taat.2
Dalam kaitannya dengan konteks perkembangan Intelektual Islam di
Indonesia, dapat dilihat sejumlah fakta yang berusaha mengatasi problem
metodologis Intelektual Islam dalam percaturannya dengan Islamic Studies secara
luas, dengan menawarkan konsep-konsep konstruktif dan rekonstruktif.3 Dalam
perkembangan selanjutnya intelektual Islam dapat dilihat melalui periodesasi
sistem pengetahuan Muslim yang dibuat Kuntowijoyo. 4 Dalam periodisasi ini,
2 Kecenderungan seperti ini dapat dibaca dalam Mulyanto Sumardi, (Ed), Agama,
Masalah dan Pemikiran, (Jakarta: Balitbang Agama, 1982), 21
3 Ikhtiar ini dimotori oleh para ilmua (guru besar) dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
pada tahun 2003 (waktu itu masih bernama IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Konsep
utama yang ditawarkannya dipublikasikannya ke dalam dua buku yang disunting oleh M.
Amin Abdullah, yaitu: (1) Rekonstruksi Metodologi Ilmu-Ilmu Ke-Islaman dan (2)
Menyatukan kembali ilmu-ilmu agama dan Umum.
4 Kuntowijoyo lahir pada tanggal 18 September 1943. Setelah menyelesaikan SMA di
Surakarta tahun 1962, Kuntowijoyo melanjutkan pendidikannya di Jurusan Sejarah,
Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, dan selesai tahun 1969. Sebelumnya, dia
menyelesaikan studi S-2 di The University of Connecticut, Amerika Serikat, tahun 1974.
Disertasinya di Universitas Columbia, Social Change in an Agrarian Society: Madura
1950-1940, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dengan kapasitasnya,
doktor ilmu sejarah dari Columbia University ini, di Amerika Serikat, dijuluki sebagai
seorang sejarawan beridentitas paripurna. Karena memang, dia menjalani hidup di
beragam habitat dan identitas. Dia guru besar sejarah di Universitas Gadjah Mada.
Beberapa bukunya yang mendapat acungan jempol dari berbagai kalangan intelektual
seperti Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991), Metodologi Sejarah (1994), dan
Radikalisme Petani (1993), Demokrasi dan Budaya (1994), Pengantar Ilmu Sejarah
(1995), dan Identitas Politik Umat Islam (1997). Di luar sebagai penulis buku-buku
serius, Kuntowijoyo juga seorang penulis non-fiksi; cerita pendeknya, Dilarang
Mencintai BungaBunga (1968), memenangkan penghargaan pertama dari sebuah majalah
sastra. Kemudian kumpulan cerpennya yang diberi judul sama, Dilarang Mencintai
Bunga-Bunga, mendapat Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Anjing-Anjing
Menyerbu Kuburan, mendapat penghargaan sebagai cerpen terbaik versi Harian Kompas
berturut-turut pada 1995, 1996, dan 1997. Novel dengan judul Pasar meraih hadiah
Panitia Hari Buku, 1972. Naskah dramanya berjudul Rumput-Rumput Danau Bento
(1968) dan Topeng Kayu (1973) mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta.
Kuntowijoyo meninggal dunia pada hari Selasa, 22 Pebruari 2005 di usia 62 tahun. M.

intelektual umat Islam (khususnya di Indonesia) bergerak dari periode


pemahaman Islam sebagai mitos, lalu sebagai ideologi, dan terakhir sebagai ilmu.
Periode pertama, Islam sebagai mitos. Islam sebagai mitos dipahami
sebagai sesuatu yang sudah selesai dan tinggal perlu dipertahankan, dijaga
kemurniannya dari campuran-campuran non Islami, dan jika perlu dipertahankan
dari serangan pihak luar. Karenanya Kuntowijoyo menyebut bahwa tradisi ini
biasanya bersifat deklaratif atau apologetis.5 Sebuah indikasi menarik yang
diajukan Kuntowijoyo adalah mengenai maraknya buku-buku jenis itu yang
diterbitkan Bina Ilmu atau Gema Insani Press.
Periode kedua, Islam sebagai ideologi. Islam sebagai ideologi sudah bersifat
lebih rasional, tapi masih terlalu apriori/nonlogis. Di sini Islam ditampilkan
sebagai ideologi tandingan bagi ideologi-ideologi dunia seperti kapitalisme dan
komunisme. Dalam konteks ini, Islam eksis hanya jika ia eksis secara
institusional-formal. Karena itu, ketika di Indonesia semua ormas diharuskan
berasas Pancasila, ini dipahami sebagai upaya de-Islamisasi. Padahal, kata
Kuntowijoyo, ini juga bisa dilihat sebagai isyarat bahwa Islam perlu memasuki
babak baru, yaitu periode Islam sebagai ilmu.
Begitulah sekilas mengenai perkembangan intelektual Islam di Indonesia.
Bahkan sampai sekarang para ahli berpendapat bahwa Islamisasi Indonesia masih
berlanjut. Ini harus diartikan bahwa intelektual Islam yang datang ke Indonesia
harus melewati jalan, rentang waktu, serta corak pemikiran yang panjang, dimulai
dari

Islam

datang

dipelabuhan-pelabuhan,

diperkenalkan,

disebarkan,

dikembangkan, dimantapkan dan diperbarui.


B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka makalah ini
mencoba membahas seputar Perkembangan Intelektual Islam di Indonesia,
menyangkut ilmu Kalam, Fiqhi, Tasawwuf dan Tarekatnya dengan rumusan
masalah sebagai berikut:
Fahmi, Islam Transendental: Menelusuri Jejak-jejak Pemikiran Kuntowijoyo,
(Yogyakarta: Pilar Religia, 2005).
5 Ibid,

1. Bagaimana asal mula perkembangan Intelektual Islam di Indonesia?


2. Bagaiamanakah perkembangan Ilmu Kalam, Fiqhi, tasawuf dan Tarekat
di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN
A. ASAL MULA INTELEKTUAL ISLAM DI INDONESIA
Kedatangan agama Islam pada abad ke-7 M ke dunia dianggap oleh
sejarawan sebagai pembangun Dunia Baru dengan pemikiran baru, cita-cita baru,
kebudayaan serta peradaban baru. Selama lebih dari empat belas abad semenjak
Nabi Muhammad menyebarkan ajaran-ajaran baru dalam bidang teologi
monoteistis, bidang kehidupan individu, bidang kehidupan masyarakat, dan
kenegaraan. Kekuatan moral spiritual religius yang lebih mendasar, ditambah
kekuatan saintifis intelektual yang lebih tajam, pengorganisasian yang lebih
efektif dan efisien, di bawah kepemimpinan yang lebih berwibawa biasanya akan
lebih unggul dalam proses saling memengaruhi tadi.
Ketika Islam datang, sebenarnya kepulauan Nusantara sudah mempunyai
peradaban yang bersumber kebudayaan asli pengaruh dan peradaban HinduBuddha dari India, yang penyebaran pengaruhnya tidak merata. Di Jawa telah
mendalam. Di Sumatera merupakan lapisan tipis, sedang di pulau-pulau lain
belum terjadi. Walaupun demikian, Islam dapat cepat menyebar. Hal itu
disebabkan Islam yang dibawa oleh kaum pedagang maupun para dai dan ulama.
Kedatangan Islam merupakan pencerahan bagi kawasan Asia Tenggara (terutama
Indonesia) karena sangat mendukung intelektualisme yang tidak terdapat pada
masa Hindu-Buddha.
Islam yang datang ke Indonesia melalui transportasi laut harus menyusuri
pantai Laut Merah, negeri Yaman, Hadramaut, Gujarat, Pulau Seylon, baru sampe
ke Perlak. Dari perlak menyusuri Banten, Gresik terus ke timur melalui Mataram
(Lombok) ke Maluku, tempat-tempat itu masing-masing mempunyai peranan

dalam perkembangan intelektual Islam. Dalam perkembangannya kemudian,


jaringan hubungan seperti itu terus berlanjut timbal balik dari abad ke abad,
generasi ke generasi, mula-mula berupa jaringan perdagangan, berlanjut kepada
jaringan ulama sebagaimana di sebutkan oleh Azyumardi Azra, selanjutnya
kepada jaringan tasawufterekat sehingga perubahan apapun yang terjadi di pusat
Islam Timur Tengah akan sangat memengaruhi keadaan Islam di Indonesia.6
Ajaran Islam dibawa oleh Nabi Muhammad Yang pada masa awal
dilaksanakan secara murni. Ketika Rasulullah wafat, cara beramal dan beribadah
para sahabat dan tabiin masih tetap memelihara dan membina ajaran Rasul, yang
kemudian dikenal dengan sebutan amalan salaf al-shalih.
Berkenaan dengan asal mula inteletual Islam di Indonesia, 7 maka
pertanyaannya adalah kapan pribumi nusantara memeluk Islam?, para ahli
berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakatan bahwa orang
Muslim asing memang sudah ada yang menetap di pelabuhan dagang di Sumatra
dan Jawa beberapa abad sebelum abad ke-16, namun baru menjelang abad ke-10
ada bukti-bukti orang pribumi memeluk Islam di suatu kerajaan kecil Perlak,
dilanjutkan pada abad ke-13 oleh Kerajaan samudra Pasai. Selama abad ke-14 dan
15 secara berangsur-angsur Islam menyebar ke pantai utara Jawa dan Maluku. 8
Islamisasi Indonesia tidak terdokumentasi dengan baik sehingga banyak
spekulatif dikalangan ilmuan yang menimbulkan perdebatan yang belum
terselesaikan. Karena luasnya wilayah Indonesia tidak mungkin Islamisasi terjadi
melalui pola yang seragam. Ada yang melalui perdagangan, atau aliansi politik
antar pedagang dengan putri bangsawan, atau mungkin juga melalui penaklukan.
6 Dr.Hj.Sri Mulyati, MA (et.al), Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat muktabarah
di Indoensia (Jakarta: Kencana, 2011), 5-6.
7 Proses masuknya Islam ke Indonesia memunculkan beberapa pendapat. Para Tokoh
yang mengemukakan pendapat itu diantaranya ada yang langsung mengetahui tentang
masuk dan tersebarnya budaya serta ajaran agama Islam di Indonesia, ada pula yang
melalui berbagai bentuk penelitian seperti yang dilakukan oleh orang-orang barat (eropa)
yang datang ke Indonesia karena tugas atau dipekerjakan oleh pemerintahnya di
Indonesia. Tokoh tokoh itu diantaranya, Marcopolo, Muhammad Ghor, Ibnu Bathuthah,
Dego Lopez de Sequeira, Sir Richard Wainsted.
8 Dr. Hj. Sri Mulyati, MA (et.al), Mengenal, 6.

Namun secara umum proses tersebut berlansung secara damai melalui peranan
intelektual Islam yang mudah diterima oleh masyarakat. Adapun sumber-sumber
pendukung Masuknya Islam di Indonesia diantaranya adalah:

a. Berita dari Arab


Berita ini diketahui dari pedagang Arab yang melakukan aktivitas
perdagangan dengan bangsa Indonesia.9 Pedagang Arab Telah datang ke Indonesia
sejak masa kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 M) yang menguasai jalur pelayaran
perdagangan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Selat Malaka pada
waktu itu. Hubungan pedagang Arab dengan kerajaan Sriwijaya terbukti dengan
adanya para pedagang Arab untuk kerajaan Sriwijaya dengan sebutan Zabak,
Zabay atau Sribusa.10
b. Berita Eopa
Berita ini datangnya dari Marcopolo tahun 1292 M. Ia adalah orang yang
pertama kali menginjakan kakinya di Indonesia, ketika ia kembali dari cina
menuju eropa melalui jalan laut. Ia dapat tugas dari kaisar Cina

untuk

mengantarkan putrinya yang dipersembagkan kepada kaisar Romawi, dari


perjalannya itu ia singgah di Sumatera bagian utara. Di daerah ini ia menemukan
adanya kerajaan Islam, yaitu kerajaan Samudera dengan ibukotanya Pasai. 11
Diantara sejarawan yang menganut teori ini adalah C. Snouch Hurgronye, W.F.
Stutterheim,dan Bernard H.M. Vlekke.12

9 Pendapat ini dikemukakan oleh Crawfurd, Keyzer, Nieman, de Hollander, Syeh


Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya yang berjudul Islam dalam Sejarah
Kebudayaan Melayu dan mayoritas tokoh-tokoh Islam di Indonesia seperti Hamka dan
Abdullah bin Nuh. Bahkan Hamka menuduh bahwa teori yang mengatakan Islam datang
dari India adalah sebagai sebuah bentuk propaganda, bahwa Islam yang datang ke Asia
Tenggara itu tidak murni. Busman Edyar, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:
Pustaka Asatruss, 2009), 207
10 Kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara dalam upayanya memperluas kekuasaannya ke
Semenanjung Malaka sampai Kedah dapat dihubungkan dengan bukti-bukti prasasti 775,
berita-berita Cina dan Arab abad ke-8 sampai ke-10 M. hal ini erat hubungannya dengan
usaha penguasaan selat Malaka yang merupakan kunci bagi bagi pelayaran dan
perdagangan internasional.

c. Berita India
Berita ini menyebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat mempunyai
peranan penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia. 13
Karena disamping berdagang mereka aktif juga mengajarkan agama dan
kebudayaan Islam kepada setiap masyarakat yang dijumpainya, terutama kepada
masyarakat yang terletak di daerah pesisisr pantai. 14 Teori ini lahir selepas tahun
1883 M. Dibawa oleh C. Snouch Hurgronye.15
d. Berita Cina
Berita ini diketahui melalui catatan dari Ma Huan, seorang penulis yang
mengikuti perjalanan Laksamana Cheng-Ho. Ia menyatakan melalui tulisannya
bahwa sejak kira-kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar Islam yang
bertempat tinggal di pantai utara Pulai Jawa. 16 T.W. Arnol pun mengatakan para
pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam di Nusantara, ketika mereka
11 Samudera Pasai merupakan kerajaan yang menjadikan dasar negaranya Islam Ahlu
Sunnah wal Jamaah. Kerajaan Samudera Pasai ini dirintis oleh Malik AshShaleh/Meurah Silo (659-688 H./12611289 M). Negeri ini makmur dan kaya, di
dalamnya telah terdapat sistem pemerintahan yang teratur, seperti terdapatnya angkatan
tentara laut dan darat. Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka
Setia, 2008), 195.
12 Mereka mendasarkan pada keterangan Marcopolo yang pernah singgah d untuk
beberapa lama di Sumatra untuk menunggu angin pada tahun 1292 M. ketika itu ia
menyaksikan bahwa Perlak di ujung Utara pulau Sumatra penduduknya telah memeluk
agama Islam. Naman ia menyatakan bahwa Perlak merupakan satu-satunya daerah Islam
di nusantara ketika itu. (Badri Yatim, Sejarah Islam di Indonesia, (Jakarta: Depag, 1998),
30.
13 Pendukung teori ini, diantaranya adalah Dr. Gonda, Van Ronkel, Marrison, R.A.
Kern, dan C.A.O. Van Nieuwinhuize. Menurut W.F. Stutterheim dalam bukunya De
Islam en Zijn Komst in the Archipel, Islam berasal dari Gujarat dengan dasar batu
nisan sultan pertama dari kerajaan Samudera Pasai, yakni nisan al-Malik al-Saleh yang
wafat pada tahun 1297. Dalam hal ini beliau berpendapat bahwa relif nisan tersebut
bersifat Hinduistis yang mempunyai kesamaan dengan nisan yang terdapat di Gujarat.
Ibid., 23
14
15 Dedi Supriyadi., Sejarah Peradaban Islam, 191.
16Teori ini dikemukakan oleh Emanuel Godinho de Eradie seorang scientist Spanyol.

mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijrah atau abad


ke-7 dan ke-8 M. Dalam sumber-sumber Cina disebutkan bahwa pada abad ke-7
M seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab Muslim di
pesisir pantai Sumatera (disebut Tashih).17
e. Sumber dalam Negeri
Terdapat sumber-sumber dari dalam

negeri

yang

menerangkan

berkembangnya pengaruh Islam di Indonesia.18 Yakni Penemuan sebuah batu di


Leran (Gresik). Batu bersurat itu menggunakan huruf dan bahasa Arab, yang
sebagian tulisannya telah rusak. Batu itu memuat tentang meninggalnya seorang
perempuan yang bernama Fatimah Binti Maimun (1028). Kedua, Makam Sultan
Malikul Saleh di Sumatera Utara yang meninggal pada bulan Ramadhan tahun
676 H atau tahun 1297 M. Ketiga, makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di
Gresik yang wafat tahun 1419 M. Jirat makan didatangkan dari Guzarat dan berisi
tulisan-tulisan Arab.19
B. PERKEMBANGAN ILMU FIQHI, ILMU KALAM, TASAWUF DAN
TAREKAT DI INDONESIA
1. Fiqhi
Ada sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan keadaan masuknya Islam
ke Indonesia, yaitu dalam bentuk aliran mazhab mana, mazhab Syafi'i-kah atau
mazhab Syi'ah. Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, apalagi jika dipikirkan bahwa
keadaan mazhab itu dalam masyarakat Islam ibarat ukuran panas, kadang-kadang
naik digerakkan oleh kegiatan penganut-penganut aliran itu, kadang-kadang turun
dikalahkan oleh aliran lain. Akan tetapi melalui ibn Bathutah, 20 yang penulis kutip
dalam buku Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia karangan Prof. Dr. H.
17 Busman Edyar, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam, 187.
18 Mengenai masuknya Islam ke Indonesia, ada satu kajian yakni seminar ilmiah yang

2.

diselenggarakan pada tahun 1963 di kota Medan, yang menghasilkan hal-hal sebagai
berikut: Pertama kali Islam masuk ke Indonesia pada abad 1 H/7 M, langsung dari
negeri Arab.
Daerah pertama yang dimasuki Islam adalah pesisir sumatera Utara. Setelah itu masyarakat Islam
membentuk kerajaan Islam Pertama yaitu Aceh. Para dai yang pertama, mayoritas adalah para
pedagang. Pada saaat itu dakwah disebarkan secara damai. Lihat Ahmad Al-Usairy, Sejarah
Islam, Sezak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media, 2003), 336.

19 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Press, 2007), 191-192

Aboebakar Aceh, agaknya memberikan setetes sinar dalam menjawab masalah ini.
Ia Battutah menceritakan:
tatkala dia menemui "Sultan Jawa" (Samudra) Malikuzh Zhahir, ia
menceriterakan bahwa raja itu dikelilingi oleh orang-orang besar dalam bidang
hukum, seperti Syarif Amir Sayyid Asy-Syirazi dan Tajuddin Al-Ashfahani dan
lain-lain ulama-ulama dan fuqaha. Ia menceritakan. bahwa Sultan Malikuzh
Zhahir itu seorang Islam yang bermazhab Syafi'i, dicintai oleh ulama-ulama
fiqhnya, selalu ia menghadiri pengajian-pengajian dan pertemuan-pertemuan.21
Dalam pertemuannya dengan Sultan, Malikuzh Zhahir bertanya tentang
beberapa banyak masalah fiqh mengenai mazhab Syafi'i, yang dijawab oleh Ibn
Batuttah satu persatu sampai waktu asar sore hari. Kelihatan Sultan senang sekali
dengan pembicaraan mengenai hukum-hukum Islam menurut mazhab Syafi'i itu.22
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam yang masuk ke Perlak
dan Pase pada saat itu (dalam zaman Malikuzh Zhahir) adalah dalam mazhab
Syafi'i. Akan tetapi Aboebakar Aceh, masih relatif dalam kesimpulan ini, oleh
karena sebelumnya belum tentu dalam mazhab Syafi'i.
Ilmu fiqih23 adalah salah satu disiplin ilmu yang sangat penting
kedudukannya dalam kehidupan umat Islam. Fiqih termasuk ilmu yang muncul
pada masa awal berkembang agama Islam. Secara estensial, fiqih sudah ada pada
masa Nabi SAW, walaupun belum menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Karena
Semua persoalan keagamaan yang muncul waktu itu, langsung ditanyakan kepada
Nabi SAW. Maka seketika itu solusi permasalahan bisa tertanggulangi, dengan
bersumber pada Al Quran sebagai al wahyu al-matlu dan sunnah sebagai
20 Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Battutah, lahir di Tangier,
Maroko antara tahun 1304 dan 1307. Adalah seorang pengembara Berber Maroko. Pada
usia sekitar 20 tahun ibn Battutah berangkat haji. Setelah selesai dia melanjutkan
perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia muslim (sekitar 44
Negara). Atas dorongan Sultan Maroko ibn Battutah mendiktekan beberapa perjalanan
pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibn Juzay, yang ditemuinya ketika berada di
Iberia. Kitab Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari
abad ke-14.
21Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, (Solo: Cv.
Ramadhani, 1985), 31.
22 Ibid, 32

alwahyu ghoiru matlu.24 Baru sepeninggal Nabi SAW, ilmu fiqh ini mulai muncul,
seiring dengan timbulnya permasalahan-permasalahan yang muncul dan
membutuhkan sebuah hukum melalui jalan istimbat.
Sehubungan dengan perkembangan fiqhi di Indoneisa, Dalam kenyataannya,
mazhab fikih yang banyak diikuti di Indonesia adalah pemikiran Imam Syafii. 25
Mazhab fikih Syafii tersebut dibawa oleh mubalig dan ulama yang datang ke
Indonesia menyebarkan Islam. Setelah terjadinya Islamisasi, maka ulama-ulama
dari kalangan pribumi pun muncul dan diketahui kemudian ternyata sebagian
besar adalah pendukung mazhab Syafii.26 Fikih Syafii adalah fikih sintesa atau
perpaduan antara fikih Hanafi dan fikih Maliki. Hal ini boleh jadi karena
Muhammad Idris Al-Syafii pernah berguru pada Imam Malik di Madinah selama
9 tahun. Kemudian beliau sempat berkenalan dengan Fikih Hanafi melalui
seorang murid imam Abu Hanifah yaitu Muhammad bin al-Hasan Al-Syaibani,
dengan beliau pernah berkumpul di Baghdad selama tiga tahun.
Ketika Islam dibawa masuk ke Indonesia dan menyebabkan berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam diberbagai daerah, keberadaan Islam dan penganutnya
tidak dipandang sebagai musuh yang datang menjajah, melainkan dirasakan
sebagai pembaharuan dan inovasi. Sebab, umumnya antara raja-raja di kerajaan
23Dilihat dari sudut bahasa, fiqih berasal dari kata faqaha yang berarti memahami dan
mengerti. Sedangkan menurut istilah syarI, ilmu fiqih dimaksudkan sebagai ilmu yang
berbicara tentang hukum-hukum syari amali (praktis) yang penetapannya diupayakan melalui
pemahaman yang mendalam terhadap dalil-dalil yang terperinci.Secara definitif, fiqih berarti ilmu
tentang hukum-hukum syari yang bersifat amaliah yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang
tafsili. Dalam definisi ini fiqih diibaratkan dengan ilmu karena fiqih itu tidak sama dengan ilmu
seperti disebutkan diatas, fiqih itu bersifat dzanni. Fiqih adalah apa yang dapat dicapai oleh
mujtahid dengan dzannya, sedangkan ilmu tidak bersifat dzanni seperti fiqih. Namun karena
dzanni ini kuat, maka ia mendekati kepada ilmu. Karenanya definisi ilmu digunakan juga untuk
fiqih.

24 Sirry,MunimA, Sejarah Fiqih Islam. 1996


25 Imam Syafii lahir di Gaza (dekat Palestina) pada tahun meninggalnya Imam Abu
Hanifah, 150 H dan wafat tahun 204 H.
26 Kita lihat misalnya di Aceh ada Syekh Abdurrahman Singkil, di Kalimantan ada
Syekh Arsad al-Banjar, di Sumatera ada Syekh Abdussalam al-Falinbani, di Jawa ada
Syekh Nawawi Banten, Syekh Saleh Darat As-Samarani dan seterusnya, bahkan ulama
generasi berikutnya pun seluruhnya adalah pengikut mazhab Syafii.

10

Islam masih ada pertalian darah dengan raja yang digantikannya. Kerena itu,
perubahan itu dipandang sebagai kelanjutan yang tidak mengejutkan, hanya
berganti keyakinan agama yang dianggap lebih sesuai dan praktis. Kekuasaan raja
dan sultan juga lebih banyak ditopang dan didukung oleh penasehat-penasehat
agama yang lazim disebut wali, yang tiada lain adalah pemimpin agama dan dai
yang agung sekaligus ulama. Setelah kemerdekaan, sudah tentu untuk mengisi
kemerdekaan ini, sikap ulama terhadap umara tidak boleh terjadi sebagaimana
terhadap penjajah, melainkan dibina kemanunggalan ulama dengan umara
sedemikian rupa sehingga pembangunan di Indonesia di alam kemerdekaan ini
dapat berjalan lancar.
Dengan perspektif yang melihat bahwa dinamika pergerakan Islam tidak
dapat diisolasikan dari dinamika negara sebagai kekuatan yang mampu
memproduksikan sistem simbolik, dan juga dengan perspektif bahwa Islam
mempunyai potensi untuk melakukan counter hegomonic-movement sambil
menawarkan alternatif-alternatif sistematik untuk integrasi sistem sosial dan
sistem budaya. Gerakan-gerakan dari pembaharu telah menjadi warisan tersendiri
dalam spektrum intelektual Islam Indonesia yang sekaligus sebagai pemikiran
baru perkembangan hukum Islam.27
Pelopor pembaharuan fikih di Indonesia, pertama adalah Hazairin, 28 seorang
guru besar Hukum Islam dan Hukum Adat Universitas Indonesia. Dan kedua
Hasbi Ash Shiddiqiy.29 Meskipun konsepsi yang diajukan oleh kedua guru besar
ini tampak tampil secara sendiri-sendiri, tapi masih tidak terlepas kepada bentuk
pembaharuan yang selalu didengunkan di Indonesia, walaupun pada saat itu
belum terbentuk ide mereka dalam satu ketetapan hukum, namun banyak praktek
para cendekiawan sudah menuju ke arah pembaharuan tersebut. Ide yang sama
juga dikemukakan oleh Munawir Sadzali,30
Tampak dari pendapat-pendapat mereka bahwa sesungguhnya mereka
menggunakan terminologi yang bersamaan dan tujuan yang sama. Sekalipun
demikian, ada suatu perbedaan pokok antara mereka. Hazairin berpendapat bahwa
mazhab di Indonesia adalah mazhab Syafii yang diperbaharui, sedangkan Hasbi
ingin membentuk fikih Indonesia, dan pendapat ini diperbuat oleh Bapak
27 Kuntowidjoyo, Paradigma Islam, (Cet. II; Bandung: Mizan, 1991) hal 35

11

Tampak dari pendapat-pendapat mereka bahwa sesungguhnya mereka


menggunakan terminologi yang bersamaan dan tujuan yang sama. Sekalipun
demikian, ada suatu perbedaan pokok antara mereka. Hazairin berpendapat bahwa
mazhab di Indonesia adalah mazhab Syafii yang diperbaharui, sedangkan Hasbi
ingin membentuk fikih Indonesia, dan pendapat ini diperbuat oleh Bapak
Munawir Syadzali. Dari ide-ide pemikiran mereka itulah saat ini ada sejumlah
produk perundang-undangan yang bercirikan Indonesia, Seperti lahirnya UndangUndang Hukun Acara Peradilan Agama, dimana Pengadilan Agama mempunyai
kewenangan yang lebih luas bila dibandingkan dengan sebelum lahirnya UndangUndang tersebut.
Dari kesekian itu dengan adanya komplikasi hukum Islam yang ada di
Indonesia sekarang ini telah terbukti bahwa walaupun belum sampai kepada
semua bidang hukum dapat di kembangkan sesuai zaman, akan tetapi minimal
memberi corak kenasionalan bagi perkembangan hukum Islam di Indonesia dengan
merangkumnya dalam satu Mazhab Indonesia guna menonjolkan hal-hal yang sifatnya
spesifik. 2. Dalam rangka memberikan identitas Nasional terhadap hukum Islam diadakan
pembedaan dalam dua bidang : a. Hukum Islam yang berkenaan dengan masalah ibadah,
yang sifatnya tidak langsung bersangkut paut dengan kemasyarakatan. Ini boleh diadakan
pembaharuan, karena tidak memberikan pengaruh langsung kepada masyarakat yang
selama ini dianggap sesuatu yang sangat benar, yang bila diadakan perobahan dapat
menimbulkan kerawanan dan kekacauan bagi masyarakat. b. Hukum Islam yang langsung
berkenaan dengan soal kemasyarakatan. Dari bidang ini boleh didakan pembaharuan yang
sifatnya bertahap dari satu masalah ke masalah lain, dan kalau ini diadakan perubahan
tidak terlalu terasa oleh masyarakat, karena dianggap bukan hal-hal yang prinsip dan
tidak membatalkan ibadah mereka. 3. Mazhab Syafii masih hidup dan dipertahankan
untuk bidang hukum yang berkenaan dengan ibadah, sedangkan untuk bidang yang
berkenaan dengan soal kemasyarakatan, didirikan Mazhab Nasional dan melepaskan diri
dari mazhab Syafii dalam artian mengembangkan, mengubah dan memperbaiki mazhab
itu, misalnya dalam soal kesahihan macam-macam syirkah. 4. Untuk membentuk Mazhab
Nasional diperlukan lahirnya Mazhab-Mazhab Mujtahid baru yang bercorak nasional
untuk melakukan ijtihad kelompok dan peranan hukum Islam yang sesuai dengan kondisi
dan situasi di Indonesia. Lihat Fahmi Ali, Merambah Jalan Baru Islam di Indonesia,
(Cet. I; Jakarta: Presindo, 1984), 88.
29 beliau adalah mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Beliau menyatakan bahwa sangat diperlukan lahirnya ijtihad baru yang dilakukan dengan
mempelajari syariat Islam. Karena itu maksud mempelajari syariat Islam di Universitas
Islam sekarang ini supaya fikih Islam dapat menampung kemaslahatan masyarakat dan
dapat menjadi pendiri utama bagi perkembangan hukum di tanah air. Maksudnya, supaya
dapat menyusun fikih baru yang diterapkan sesuai dengan tabiat dan watak Indonesia.

12

sudah mempunyai langkah-langkah baru dalam menuju fikih ala Indonesia. Ide
kompilasi hukum Islam timbul setelah beberapa tahun Mahkamah Agung
membina Teknis Yuridis Peradilan Agama, tugas pembinaan ini didasarkan pada
UU No. 14 tahun 1970. Tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan
kehakiman.31
Bardasarkan ketentuan di atas, secara formalnya baru muncul pada tahun
1985 dan kemunculannya ini merupakan hasil kompromi antara Mahkamah
Agung dengan menteri agama. Maka Bustanil Arifin sebagai penegas gagasan ini
menyatakan bahwa, untuk berlakunya hukum Islam di Indonesia harus ada antara
lain, hukum yang jelas dan dapat dilaksanakan baik oleh aparat maupun oleh
rakyat. Upaya penyusunan kompilasi hukum Islam ini disusun dengan
mempertahankan kondisi kebutuhan hukum dan kesadaran hukum umat Islam
Indonesia, bukan upaya mazhab baru, tetapi sebagai upaya mempersatukan
berbagai fikih dalam menjawab satu persoalan yang mengarah kepada unifikasi
mazhab dalam Islam. Bagaimanapun juga kompilasi ini sebagai sesuatu yang di
hayati oleh masyarakat bangsa kita.
Hukum-hukum Islam datang untuk menjadi rahmat bagi masyarakat
manusia bahkan bagi alam semesta. Kompilasi hukum Islam di Indonesia adalah
suatu peluang bagi umat Islam. Sehubungan dengan itu seorang pengamat umat
Islam. Mitsoo Nakamura menyatakan bahwa, kompilasi ini sangat strategis dan
mempunyai arti penting bagi umat Islam.32 Akan tetapi menurut Nakamura,
30 Beliau adalah Menteri Agama RI pada saat. Munawir selalu memberikan konsepkonsep pemikirannya dalam rangka pembaharuan hukum Islam di Indonesia, buktinya ia
pernah menjelaskan tentang sistem pembagian warisan di Solo antara laki-laki dan
perempuan Mengenai cara mewujudkannya, dikemukakan bahwa kita harus menggali
hukum-hukum syariat dari sumber asal (Alquran dan Hadis), dari kitab pokok yang
ditulis dalam masa ijtihad dari semua mazhab, sunni, syiah dhahiri dan sebagainya.
Bahkan kita tidak boleh hanya membandingkan antara satu fikih dengan fikih yang lain,
tapi juga dengan perundang-undangan buatan manusia.
31 Tim Dit Bapera, Berbagai Pandangan Terhadap Komplikasi Hukum Islam, (Jakarta:
Yayasan Al-Hikmah, 1993) hal 7
32 Juhri Hamid, Peranan Ulama Indonesia Dewasa Ini (Cet. II Yogyakarta: Bina
Usaha, 1984) hal 27

13

soalnya tinggal bagaimana tokoh-tokoh Islam dan umat Islam melihat serta
memanfaatkan arti pentingnya proyek kompilasi hukum Islam itu. Urgensi
Pembaruan Fiqih akan tampak dalam suatu persoalan, yang dalam penerapan
suatu hukum fiqih menimbulkan beban yang teramat sangat dan kesulitan dalam
kondisi seperti ini pembaruan justru diperlukan, sesuai dengan prinsip
menghindari kesulitan dalam Islam (daf al-haraj fi al- Islam) dan kaidah ilmu
syari kesulitan bisa menarik kemudahan (al-masyaqqah tajlib al-taysir) dan
ketika sesuatu sempit, ia menjadi lapang (idza dhaqa al- amr, ittasaa ).
2. Ilmu Kalam
Di antara kebudayaan Islam Indonesia

dalam bidang intelektual,

barangkali, pemikiran kalam (akidah) adalah yang paling susah ditelusuri. Hal
ini disebabkan objek akidah adalah barang gaib, soal keimanan, pelakunya
hati manusia. Ditambah lagi, perkembangan pemikiran ini di Indonesia kurang
membedakan antara akidah, syariah, dan tasawuf.33
Pemikiran kalam ini di Indonesia datang dan berkembang bersamaan
dengan datangnya Islam yang dibawa oleh pedagang berasal dari Arab, Persi,
dan keturunan Arab Gujarat di pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Mereka ada
yang berpaham Sunni dan Syiah.34
33 Dalam praktiknya, ketiga ilmu itu menyatu, hanya gelarnya yang tampak berbeda. Sumber
ketiganya juga sama, cuma penekanannya yang lain; kalau akidah afal hati, syariah afal tubuh
lahiriyah, maka tasawuf adalah penghayatan terhadap ibadah.

34 Pada mulanya kedua aliran tersebut berkembang hanya dalam segi teologinya, lambat
laun bergulat pada bidang politik. Hal ini terjadi ketika golongan Syiah yang pernah
menjadi kekuatan politik di Nusantara pada kerajaan Perlak dengan sultannya Alauddin
Maulana Ali Mughayat Syah (303-305 H/915-918 M), ditumbangkan oleh kelompok
Sunni dengan sultannya Mahdum Alauddin Abd. Qodir Johan (306-310 H/918-922 M).
Dalam kekalahan ini, orang Syiah mengadakan perlawanan. Puncaknya, pada masa
Sultan Mahdum Alauddin Abd. Malik Syah Johan Berdaulat (334-362 H/956-983 M),
orang Syiah memaksakan perdamaian dengan memecah kerajaan Perlak menjadi dua
yaitu: 1. Perlak pesisir, dikuasai Syiah dengan sultannya Alauddin Sayid Maulana Syah.
2. Perlak pedalaman, dikuasai Sunni dengan sultannya Mahdun Alauddin Malik Ibrahim
Syah Johan Berdaulat (365-402 H/986-1023 M). Setelah sultan dari golongan Syiah
wafat, sultan dari golongan Sunni berhasil menyatukan Perlak. Hal ini berlanjut dengan
dipersatukannya kerajaan Perlak dengan Samudra Pasai dengan raja pertamanya Malik
as-Saleh. Lihat A. Hasyim, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia,
(Jakarta: al-Maarif, 1981), 199-201.

14

Ilmu Kalam35 adalah salah satu dari empat disiplin keilmuan yang telah
tumbuh dan menjadi bagian dari tradisi kajian tentang agama Islam. Tiga
lainnya ialah disiplin-disiplin keilmuan Fiqh, Tasawuf, dan Falsafah. Jika Ilmu
Fiqh membidangi segi-segi formal peribadatan dan hukum, sehingga tekanan
orientasinya sangat eksoteristik, mengenai hal-hal lahiriah, dan Ilmu Tasawuf
membidangi segi-segi penghayatan dan pengamalan keagamaan yang lebih
bersifat pribadi, sehingga tekanan orientasinya pun sangat esoteristik,
mengenai hal-hal batiniah, kemudian Ilmu Falsafah membidangi hal-hal yang
bersifat perenungan spekulatif tentang hidup ini dan lingkupnya seluasluasnya, maka Ilmu Kalam mengarahkan pembahasannya kepada segi-segi
mengenai Tuhan dan berbagai derivasinya. Karena itu ia sering diterjemahkan
sebagai Teologia, sekalipun sebenarnya tidak seluruhnya sama dengan
pengertian Teologia dalam agama Kristen,36
Sebagai unsur dalam studi klasik pemikiran keIslaman. Ilmu Kalam
menempati posisi yang cukup terhormat dalam tradisi keilmuan kaum Muslim.
Ini terbukti dari jenis-jenis penyebutan lain ilmu itu, yaitu sebutan sebagai
Ilmu Aqa'id (Ilmu Akidah-akidah, yakni, Simpul-simpul [Kepercayaan]), Ilmu
Tawhid (Ilmu tentang Kemaha-Esaan [Tuhan]), dan Ilmu Ushul al-Din
(Ushuluddin, yakni, Ilmu Pokok-pokok Agama).
Dalam hal perkembangannya Di negeri Indonesia, terutama seperti
yang terdapat dalam sistem pengajaran madrasah dan pesantren, kajian tentang
35 Secara harfiah, kata-kata Arab kalam, berarti "pembicaraan". Tetapi sebagai istilah,
kalam tidaklah dimaksudkan "pembicaraan" dalam pengertian sehari-hari, melainkan
dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Maka ciri
utama Ilmu Kalam ialah rasionalitas atau logika. Karena kata-kata kalam sendiri memang
dimaksudkan sebagai ter jemahan kata dan istilah Yunani logos yang juga secara harfiah
berarti "pembicaraan", tapi yang dari kata itulah terambil kata logika dan logis sebagai
derivasinya. Kata Yunani logos juga disalin ke dalam kata Arab manthiq, sehingga ilmu
logika, khususnya logika formal atau silogisme ciptaan Aristoteles dinamakan Ilmu
Mantiq ('Ilm al-Mantiq). Maka kata Arab "manthiqi" berarti "logis".
36 misalnya. (Dalam pengertian Teologia dalam agama kristen, Ilmu Fiqh akan termasuk
Teologia). Karena itu sebagian kalangan ahli yang menghendaki pengertian yang lebih persis akan
menerjemahkan Ilmu Kalam sebagai Teologia dialektis atau Teologia Rasional, dan mereka
melihatnya sebagai suatu disiplin yang sangat khas Islam.

15

Ilmu Kalam merupakan suatu kegiatan yang tidak mungkin ditinggalkan.


Ditunjukkan oleh namanya sendiri dalam sebutan-sebutan lain tersebut di atas,
Ilmu Kalam menjadi tumpuan pemahaman tentang sendi-sendi paling pokok
dalam ajaran agama Islam, yaitu simpul-simpul kepercayaan, masalah
Kemaha-Esaan Tuhan, dan pokok-pokok ajaran agama. bahkan ada yang
mengklaim bahwa perkembangan Islam di Indonesia tidak terlepas dari
pengaruh ilmu Kalam itu sendiri. Karena itu, tujuan pengajaran Ilmu Kalam di
madrasah dan pesantren ialah untuk menanamkan paham keagamaan yang
benar. Maka dari itu pendekatannya pun biasanya doktrin, seringkali juga
dogmatis.
Di zaman sekarang kaum Muslimin (khususnya Indonesia) mengenal
ajaran Tauhid (ilmu Kalam) melalui karya-karya ulama ilmu kalam atau
teologi Islam, terutama rumusan Abu Hasan al-Asyari 37 (260-324 H/873-935
M).
Ilmu Kalam al-Asy'ar'i, juga sering disebut sebagai paham
Asy'ariyyah, kemudian tumbuh dan berkembang untuk menjadi Ilmu Kalam
yang paling berpengaruh dalam Islam terutama di Indonesia sampai sekarang,
karena dianggap paling sah menurut pandangan sebagian besar kaum Sunni.

37 Nama lengkapnya adalah Abul al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy'ari keturunan dari Abu
Musa al-Asy'ari, salah seorang perantara dalam sengketa antara Ali bin Abi
Thalib dan Mu'awiyah. Al-Asy'ari lahir tahun 260 H/873 M dan wafat pada
tahun 324 H/935 M. Al-Asy'ari lahir di Basra, namun sebagian besar hidupnya
di Baghdad. pada waktu kecilnya ia berguru pada seorang Mu'tazilah terkenal, yaitu AlJubbai, mempelajari ajaran-ajaran Muktazilah dan mendalaminya. Aliran ini diikutinya
terus ampai berusia 40 tahun, dan tidak sedikit dari hidupnya digunakan untuk mengarang
buku-buku kemuktazilahan. namun pada tahun 912 dia mengumumkan keluar dari paham
Mu'tazilah, dan mendirikan teologi baru yang kemudian dikenal sebagai Asy'ariah.Ketika
mencapai usia 40 tahun ia bersembunyi di rumahnya selama 15 hari, kemudian pergi ke
Masjid Basrah. Di depan banyak orang ia menyatakan bahwa ia mula-mula mengatakan
bahwa Quran adalah makhluk; Allah Swt tidak dapat dilihat mata kepala; perbuatan buruk
adalah manusia sendiri yang memperbuatnya (semua pendapat aliran Muktazilah).
Kemudian ia mengatakan: "saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat tersebut; saya
harus menolak paham-paham orang Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukan
dan kelemahan-kelemahanya". Hanafi Ahmad: "Teologi Islam (Ilmu Kalam) (Penerbit
Bulan Bintang, 2001,) ISBN : 979-418-074-2", 65-77,

16

Kebanyakan mereka ini kemudian menegaskan bahwa "jalan keselamatan"


hanya didapatkan seseorang yang dalam masalah Kalam menganut al-Asy'ari.
Seorang pemikir lain yang Ilmu Kalam-nya mendapat pengakuan sama
dengan al-Asy'ari ialah Abu Manshur al-Maturidi (wafat di Samarkand pada
333 H/944 M). Meskipun terdapat sedikit perbedaan dengan al-Asy 'ari,
khususnya berkenaan dengan teori tentang kebebasan manusia (al-Maturidi
mengajarkan kebebasan manusia yang lebih besar daripada al-Asy'ari), alMaturidi dianggap sebagai pahlawan paham Sunni, dan sistem Ilmu Kalamnya
dipandang sebagai "jalan keselamatan", bersama dengan sistem al-Asy'ari.
Sangat ilustratif tentang sikap ini adalah pernyataan Haji Muhammad Shalih
ibn 'Umar Samarani (yang populer dengan sebutan Kiai Saleh Darat dari
daerah dekat Semarang), dengan mengutip dan menafsirkan Sabda nabi dalam
sebuah hadits yang amat terkenal tentang perpecahan umat Islam dan siapa
dari mereka itu yang bakal selamat:
...Umat yang telah lalu telah terpecah-pecah menjadi tujuh puluh dua
golongan, dan kelak kamu semua akan terpecah-pecah menjadi tujuh
puluh tiga golongan, dari antara tujuh puluh tiga itu hanya satu yang
selamat, sedangkan yang tujuh puluh dua semuanya dalam neraka.
Adapun yang satu yang selamat itu ialah mereka yang berkelakuan
seperti yang dilakukan junjungan Rasulullah s.a.w., yaitu 'aqa'id (pokokpokok kepercayaan) Ahl al-Sunnah wal-Jama'ah Asy'ariyyah dan
M'aturidiyyah.38
Dari pernyataan Haji Muhammad Shalih ibn Umar Samarani di atas, dapat
dilihat pengaruh ilmu Kalam asyAri dalam kancah intelektual Islam di Indonesia
yang dalam perkembangan kekiniannya banyak terbahas dalam buku-buku teologi
yang diwakili oleh H. Mohamad Rasjidi39 dan Harun Nasution.40
3. Tasawuf dan Tarekat
Sebagaimana dalam pembahasan sebelumnya, bahwa formalisasi syariah
terjadi Pada abad pertama Hijriyah selanjutnya pada abad yang sama juga telah
dimulai diperbincangkan tentang teologi. Abad ke-2 Hijriyah mulai muncul
tasawuf.
Tasawuf41 merupakan salah satu saluran yang penting dalam proses
Islamisasi. Tasawuf termasuk kategori yang berfungsi dan membentuk kehidupan
38 Ibid,

17

sosial bangsa Indonesia yang meninggalkan bukti-bukti yang jelas pada tulisan
tulisan antara abad ke-13 dan ke-18. hal itu bertalian langsung dengan penyebaran
Islam di Indonesia.42 Dalam hal ini para ahli tasawuf hidup dalam kesederhanaan,
mereka selalu berusaha menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama
di tengah-tengah masyarakatnya. Para ahli tasawuf biasanya memiliki keahlian
untuk menyembuhkan penyakit dan lain-lain. melalui tasawuf, yaitu proses
islamisasi dengan mengajarknan teosofi dengan mengakomodir nilai-nilai budaya
bahkan ajaran agama yang ada yaitu agama Hindu ke dalam ajaran Islam, dengan
39 adalah mantan Menteri Agama Indonesia pada Kabinet Sjahrir I dan Kabinet Sjahrir II.
Fakultas Filsafat, Universitas Kairo, Mesir (1938) Universitas Sorbonne, Paris (Doktor, 1956)
Guru pada Islamitische Middelbaare School (Pesantren Luhur), Surakarta (1939-1941) Guru Besar
Fakultas Hukum UI Direktur kantor Rabitah Alam Islami, Jakarta. H.M. Rasyidi, lulusan lembaga
pendidikan tinggi Islam di Mesir yang mmelanjutkan ke Paris, dan kemudian memperoleh
pengalaman mengajar di Kanada. Lihat Nicholas Majid, Kaki Langit Peradaban Islam,
(Jakarta:Paramadina,1997),.61Pemikirannya dalam hal menonjolnya perbedaan pendapat antara
Asyariyah dan Mutazilah, menurutnya bahwa tidak ada agama yang mengagungkan akal seperti
Islam, tetapi dengan menggambarkan bahwa akal dapat mengetahui baik dan buruk, sedangkan
wahyu hanya membuat nilai yang dihasilkan pikiran manusia bersifat absolute-universal, berarti
meremehkan ayat-ayat al-Quran seperti:
...
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui)Q.S.Al-Baqarah:232)

40 lahir pada hari Selasa 23 September 1919 di Sumatera. Ayahnya, Jabar Ahmad adalah
seorang ulama yang mengetahui kitab-kitab Jawi.Pendidikan formalnya dimulai dari sekolah
Belanda HIS. Setelah tujuh tahun di HIS. Selama tujuh tahun, Harun belajar bahasa Belanda dan
ilmu pengetahuan umum di HIS itu, dia berada dalam lingkungan disiplin yang ketat. Di
lingkungan keluarga, harun memulai pendidikan Agama dari lingkungan keluarganya dengan
belajar mengaji, shalat dan ibadah lainnya.Beliau meneruskan ke MIK (Modern Islamietishe
Kweekschool) di Bukittinggi pada tahun 1934. pendidikannya lalu diteruskan ke Universitas AlAzhar, Mesir. Sambil kuliah di Al-Azhar beliau kuliah juga di Universitas amerika di Mesir.
Pendidikannya lalu dilanjutkan ke Mc. Gill, Kanada pada tahun 1962.Pemikiran Harun Nasution
terkait pembahruan ilmu Kalam atau Teologi bahwa Pada dasarnya dibangun atas asumsi bahwa
keterbelakangan dan kemunduran umat Islam Indonesia (juga di mana saja) adalah disebabkan
ada yang salah dalam teologi mereka. Menurutnya, umat Islam hendaklah mengubah teologi
yang berwatak free-will rasional, serta mandiri. Tidak heran jika teori modernisasi ini selanjutnya
menemukan teologi dalam khazanah islam klasik sendiri yakni teologi Mutazilah.

41 Kata-kata tasawuf dalam bahasa Arab tidak terdapat qiyas dan isytiqaq (ukuran dan
pengembalian), yang jelas bahwa kata-kata ini semacam laqab (julukan, sebutan, gelar).
Gelar ini diperuntukan bagi perorangan dengan istilah sufi, dan bagi jamaah disebut
sufiyah. Orang sudah mencapai derajat (usaha ke arah) tasawuf disebut mutasawwif,
sedangkan bagi jamaah disebut mutasawwifah. Athoullah Ahmad, Antara Ilmu Akhlak
dan Tasawuf, (Serang: Saudara, 1995), 109

18

tentu saja terlebih dahulu dikodifikasikan dengan nilai-nilai Islam sehingga


mudah dimengerti dan diterima.43
Secara relatif corak pemikiran Islam yang pernah dipengaruhi oleh tasawuf
selanjutnya berkembang menjadi tarekat. Justru ketika abad ke-13 Masehi ketika
masyarakat Nusantara mulai memantapkan diri memeluk Islam, corak pemikiran
Islam sedang dalam puncak kejayaan tarekat.
Abad-abad pertama Islamisasi Indonesia berbarengan dengan masa
merebaknya tasawuf abad pertengahan dan pertumbuhan tarekat. Dalam abadabad ini muncullah tokoh-tokoh sufi yang terkenal seperti Abu Hamid al-Ghazali
(w.1111), Ibn Arabi (w. 1240), Abdul al-Qadir al-Jilani (w.1166) yang ajarannya
menjadi dasar tarekat Qadiriyah, Abu al-Najib al-Suhrawardi (w.1167), Najmu alDin al-Kubra (w. 1221), Abu al-Hasan al-Syadzili (w.1258), Rifaiyah menjelang
1320, Baha al-Din Naqsyabandi (w.1389) dan Abdullah al-Syaththar (w.14281429).44
Sejarawan mengemukakan babhwa karena faktor tasawuf dan tarekatlah
islamisasi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dapat berlansung dengan damai.
Ajaran kosmologis dan metafisis tasawuf Ibn Arabi dapat dengan mudah
dipadukan dengan ide-ide sufistik India dan Ide-ide sufistik pribumi yang dianut
masyarakat setempat. Bahkan sampai sekarang Islam Indonesia masih diliputi
sikap sufistik dan kegemaran kepada hal-hal yang mengandung keramat. Diantara
naskah-naskah Islam paling tua dari jawa dan sumatra yang masih ada sampai
sekarang (dibawah ke Eropa sekitar tahun 1600) terdapt risalah-risalah tasawuf
dan cerita-cerita keajaiban yang berasal dari persia dan India. Di dalam tulisantulisan jawa masa belakangan ditemukan adanya ajaran tasawuf yang lebih kental

42 Kedatangan ahli tasawuf di Indonesia diperkirakan terutama sejak abad ke-13 yaitu
masa perkembangan dan persebaran ahli-ahli tasawuf dari Persia dan India.
Perkembangan tasawuf yang paling nyata adalah di Sumatra dan Jawa yaitu abad ke-16
dan ke-17. Uka Tjandrasasmita (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, (Jakarta: PN Balai
Pustaka, 1984), 218.
43 Busman Edyar, dkk (Ed), Sejarah Peradaban, 208.
44 Ibid, 12

19

sedangkan perihal tarekat mendapatkan banyak pengikut sekitar abad ke-18 dan
19 Masehi.45
Sufi pertama Indonesia yang karangannya tentang tarekat sampai kepada
kita sekarang adalah Hamzah Fansuri.46 Dalam bidang sufi ia mengungkapkan
gagasn-gagasanya melalui sayir bercorak wahdat al-wujud yang mendorong
kepada penasiran panteistik. Dalam syairnya ia juga bercerita tentang
kunjungannya ke Mekkah, al-Quds, Bagdad (dimana ia mengunjungi makam
Abdul al-Qadir al-Jilani) dan Ayuthia. Di tempat terakhir ia menerma ijazah.
Namun dalam syairnya disebutkan dia menerima ijazah di Bagdad dan berafiliasi
dengan tarekat Qadiriyah, bahkan pernah diangkat menjadi khalifah dalam tarekat
ini. Dengan demikian Hamzah (w. 1590) adalah orang Indonesia pertama yang
kita ketahui secara pasti menganut Tarekat Qadiriyah.
Sufi lain yang juga terkenal di Indonesia adalah Syamsuddin (w. 1630). 47
Murid Hamzah yang menulis dalam bahasa Arab dan Melayu. Dia perumus
ajaran Martabat tujuh pertama di Nusantara beserta pengaturan nafas pada waktu
45 Martin van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan,
1995), 188
46 Beliau merupakan cendekiawan ulama, sastrawan, dan budayawan. Hamzah
hidup di pertengahan abad ke-17. Ia berasal dari Fansur (sebutan orang Arab terhadap
kota Barus, sekarang kota kecil di pantai Barat Sumatera antara Sibolga dan Singkel).
Kota Barus sudah dikenal sejak abad ke-2 Masehi, konon kapal Firaun datang ke Barus
untuk membeli kapur barus untuk keperluan membuat ramuan salah satu mummi. Selain
sebagai seorang cendekiawan, sastrawan, dan budayawan, Hamzah juga pelopor dan perintis
bidang kerohanian, menguasai ilmu tafsir, filsafat, bahasa, sastra, dan juga seorang pembaharu.
Kritik-kritik yang tajam terhadap perilaku politik dan moral raja, para bangsawan dan orang kaya
menempatkannya sebagai seorang intelektual yang berani di zamannya. Hal ini menyebabkan
kalangan istana Aceh tidak begitu menyukai kegiatan Hamzah dan para pengikutnya. Oleh karena
itu, dua sumber sejarah Aceh Hikayat Aceh dan Bustan al-Salatin yang ditulis atas perintah Sultan
Aceh tidak sedikitpun menyebut namanya.

47 Beliau adalah seorang keturunan ulama. Ayahnya bernama Abdullah al-Sumatrani. Nama
lengkapnya al-Arief Billah al-Syaikh Syamsuddin al-Sumatrani. Ia berasal dari Pasai. Ia belajar
kesufian kepada Syaikh Hamzah Fansuri dan pernah belajar kepada Sunan Bonang di Jawa. Ia
hidup dan menjadi mufti pada zaman Sultan Alauddin Riayat Syah Sayidil Mukkamil dan Sultan
Iskandar Muda. Mahkota Alam Syah, dua orang sultan besar kerajaan Aceh Darussalam. Adapula
yang menyebutkan jabatannya sebagai Perdana Menteri atau Qadhi Malikul Adil, jabatan kedua
sesudah sultan. Ia menjadi seorang mahaguru, ahli politik, ahli syariat dan hakikat. Beliau ulama
yang menulis kitab-kitab ilmiah sesudah Hamzah Fansuri, terutama bidang keagamaan.

20

zikir (yang kemudian dianggap oleh Hamzah sebagai pengaruh yogi pranayama
dari India).48 Ajaran martabat tujuh merupakan adaptasi dari teori emanasi Ibn
Arabi yang tidak lama kemudian sangat populer di Indonesia. Ajaran ini berasal
dari ulama besar asal Gujarat bernama Muhammad bin Fadhlullah Burhampuri
yang mengarang kitab al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi.
Ajaran martabat tujuh Syamsuddin termasuk ajaran wujudiyah yang oleh
Nuruddin al-Raniri dalam kitabnya Hujjatu al-Shiddiq lidafi al-Zindiq dianggap
sebagai ajaran wujudiyah yang menegakkan tauhid (al-Muawahhidah), disamping
ada ajaran wujudiyah yang dianggap menyimpang.49
Selanjutnya adalah Nuruddin al-Raniri50 yang tidak kalah terkenalnya di
Indonesia. Pedagang Belanda yang mula-mula datang ke Aceh menyebutnya
Moorish Bishop (Uskup Orang Muslim) yang berkuasa selain tentang masalah
keagamaan, tetapi juga masalah politik dan ekonomi. Al-Raniri memiliki banyak
keahlian, sebagai seorang sufi, teolog, faqih, ahli hadis, sejarawan, ahli
perbandingan agama, sastrawan, dan politisi. Ia juga seorang khalifah tarekat
Rifaiyah dan menyebarkannya ke wilayah Melayu. Di samping itu ia juga
menganut tarekat Aydarusiyah dan Qadariyah. Ia banyak menulis masalah kalam
dan tasawuf, menganut aliran Asyariyah dan menganut paham wahdat al-wujud
yang moderat.
Al-Raniri merupakan tokoh tasawuf terakhir yang terdokumentasi sebagai
pengaruh

lansung

tarekat

yang

berkembang

di

Indonesia

dari

India.

Sepeninggalnya, cabang-cabang tarekat dari India berkembang dulu di MekkahMadinah baru kemudian dibawa ke Indonesia, diantaranya adalah Tarekat
Syattariyah yang dibawa oleh Abdul Rauf Singkel.
48 Abdul Hadi W.M, Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, (Bandung:
Mizan, 1995), Cet. I, 9
49 Ibid,
50 Nama lengkapnya adalah Nuruddin bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid al-Raniri,
berasal dari keluarga Arab Ranir (Rander) Gujarat. Mengenai kelahirannya tidak diketahui, wafat
tahun 1068 H/1658 M. Dikatakan, ibunya seorang Melayu, ayahnya berasal dari keluarga imigran
Hadromi. Juga tidak ada kejelasan kapan al-Raniri datang pertama kali ke wilayah Melayu, tetapi
al-Raniri pernah menjabat sebagai Syaikh al-Islam atau mufti di kerajaan Aceh pada zaman Sultan
Iskandar Sani dan Sultanah Sofiatu al-Din.

21

Nama Abdul Rauf Singkel51 menjadi terkenal di Indonesia (khususnya di


Aceh) sebagai ahli Fiqhi dan seorang sufi yang mencari keseimbangan antara
berbagai pandangan para pendahulu dengan mengajarkan zikir dan wirid
syattariyah. Ketika ia kembali ke Aceh, murid-muridnya menyebarkan ide-idenya
terutama tarekat Syattariyah, di antaranya Syaikh Abd. al-Muhyi, yang setelah
belajar kepada Abd. Rauf di Aceh kembali ke Pamijahan Jawa Barat dan
menyebarkan tarekat Syattariyah sampai ke Jawa Tengah sebagai salah satu
kerajaan Islam yang menjadi pusat ortodoksi di mana hidup islami dan keulamaan
sangat dihormati. Muridnya yang lain sekaligus khalifahnya dan tarekat
Syattariyah adalah Burhanuddin dari Ulakan di mana suraunya menjadi pusat
masalah keagamaan di Minangkabau sampai bangkitnya gerakan Paderi. Surau
Ulakan juga berhasil melahirkan ulama Tuanku Nan Tuo, salah seorang pemimpin
gerakan Paderi.52
Selain di Aceh, pusat penting lainnya juga berada di Jawa. Pada abad ke-18,
yaitu kerajaan Banten yang merupakan kerajaan Islam Nusantara yang
mengembangkan hubungan internasional, terutama di bawah Sultan Agung
Tirtayasa, sehingga ulama-ulama dan kitab-kitab juga didatangkan ke Banten baik
dari Aceh maupun dari negeri-negeri yang jauh seperti Gujarat, Yaman, ataupun
negeri Arab. Di antara ulama yang kemudian lahir di Banten adalah Syaikh Yusuf
al-Makassari.53
Syaikh Yusuf mengembara selama 22 tahun untuk menuntut ilmu keislaman
melalui jaringan ulama Internasional. Tiga guru utamanya (Nuruddin, Ba
51Dilahirkan di Singkel, sebelah Utara Fansur di pantai Barat Aceh. Ia diangkat menjadi
mufti kesultanan Aceh pada masa Sultanah Zakiyat al-Din (1678-1688 M). Ia menuntut
ilmu diberbagai tempat di Timur Tengah sepanjang jalur haji dari Yaman ke Makkah,
Zabid, Mukha, Tayy, Bayt al-Faqih, Maza. Kemudian melintasi gurun pasir Arabai,
belajar di Dukha, Qatar, kemudian ia melanjutkan ke arah barat belajar di Jeddah,
Makkah, terakhir di Madinah. Abd Rauf mempelajari ilmu lahir dan ilmu batin. Ilmu lahir
adalah tata bahasa, membaca Alquran, tafsir, hadis, fiqih, sedang ilmu batin adalah ilmu
kalam, tasawuf, kemudian berafiliasi dengan tarekat-tarekat Syattariah, Naqsyabandiyah,
Qadiriyah, dan Chistiyah.
52 Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara Sejarah Wacana dan Kekuasaan,
(Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1999), hlm. 136.

22

Shayban, dan Ibrahim al-Kurani) adalah tokoh yang cenderung ortodoks, yang
memengaruhi keintelektualan Syaikh Yusuf. Oleh karena itu, ketika ia pulang ke
negerinya Sulawesi Selatan 1078 H/1667 M, ia ingin mensucikan Islam dari sisasisa kepercayaan animistik dan praktik-praktik tidak Islami lainnya. Syaikh Yusuf
ingin memurnikan ajaran Islam sejalan dengan syariah yang dikombinasikan
dengan pemahaman tasawuf.
Itulah ulama-ulama abad ke-17 dan 18 Masehi, berpusat lebih banyak di
Sumatera, yang karyanya bersifat kosmologis, eskatologi, dan spekulasi metafisik,
yang karya-karya aslinya baik menggunakan bahasa Arab atau Melayu. Juga
berpusat di Banten, seperti Syaikh Yusuf al-Makassari dan yang lebih belakangan,
Syaikh Nawawi al-Bantani dengan karya-karyanya memakai bahasa Arab. Sedang
untuk daerah berbahasa Jawa, kitab-kitab tauhid banyak mempergunakan teks
karya ulama Timur Tengah dengan bahasa Arab, walaupun nanti pada abad ke-20
mulai ada yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa atau Madura.

53 Dikenal di Makassar dengan gelarnya Tuanta Samalaka, ia dilahirkan pada tahun 1036

H/1626 M, termasuk keluarga kerajaan Gowa yang memeluk Islam sekitar 23 tahun
sebelum kelahiran Syaikh Yusuf. Sejak kecil ia belajar ilmu-ilmu Islam, kemudian
mendalami juga ilmu tasawuf. Sekitar tahun 1054 H/1644 M, ia meninggalkan Makassar
menuju Banten, belajar dengan beberapa guru di Banten, juga menjalani hubungan baik
dengan keluarga bangsawan Banten. Setelah itu ia melanjutkan ke Aceh belajar kepada
Syaikh Nuruddin al-Raniri. Syaikh Yusuf membagi kaum beriman ke dalam empat kategori
yaitu:Orang yang hanya mengucapkan syahadat tanpa benar-benar beriman, dinamakan
munafik.
Orang yang mengucapkan syahadat dan menamakannya dalam jiwa, dinamakan kaum
beriman yang awam (al-mumin al-awwam).
Orang yang beriman yang benar-benar menyadari implikasi lahir dan batin dari pernyataan
keimanan dalam kehidupan mereka, dinamakan golongan elit (ahl al-khawwash).
Kategori tertinggi, orang beriman yang ke luar dari golongan ketiga dengan jalan
mengitensifkan syahadat mereka terutama dengan mengamalkan tasawuf dengan tujuan
lebih dekat dengan Tuhan. Mereka dinamakan yang terpilih dari golongan elit (khas alkhawwash). Lihat Dr. Hj. Sri Mulyati, MA (et.al), Mengenal, 16-21.

23

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian tentang perkembangan intelektual Islam (kalam, Fiqhi, tasawuf
dan Tarekat) di atas, dapat penulis simpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Awal mula masuknya agama Islam di Indonesia, ternyata memiliki
banyak pengaruh terhadap peradaban yang sampai sekarang masih bisa
dirasakan. Berbagai perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam
hal pemikiran atau intelektual telah melengkapi perkembangan bangsa
Indonesia. Terutama adalah tokoh-tokoh yang membawa berbagai aliran
ke Indonesia sebagai dakwah mereka, dan hal itu mampu mewarnai
segala sisi agama Islam yang menjadi agama mayoritas di negeri ini. Di
sinilah letak keunikan dan keindahan agama Islam yang berkembang
dalam keberagaman.
2. Dalam sejarah perkembangan intelektual Islam di Indonesia menyangkut
Kalam, tasawuf, tarekat dan fiqhi terdapat beberapa tokoh yang terkenal
berjasa dalam membumikan ajaran langit di Bumi Nusantara,
diantaranya adalah: Malikuzh Zhahir, Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin
al-Sumatrani (Pasai), Abd. al-Rauf al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili, Syaikh
Muhammad Yusuf Abu al-Mahasin Hadiyallah Taj al-Khalwati alMakassari.
B. SARAN-SARAN
Beragamnya aliran memang didasari oleh beragamnya pemikiran manusia,
namun itu bukanlah alasan untuk tidak bersatu. Dalam sejarah telah diajarkan
masa lalu yang menjadi pelajaran bagi semua orang, dari sini seseorang bisa
mencari tahu bahwa persatuan merupakan alasan mereka (pahlawan) berhasil
membangun negeri ini. Oleh karena itu, jangan sampai perbedaan-perbedaan ini
menjadi pemicu bentrok. Perlu diingat bahwa keberadaan kita sekarang

24

merupakan sebuah kesempatan yang telah diperjuangkan orang-orang terdahulu.


Bersatu, pahami dan saling menghargai, danTerimalah apapun perbedaanya.
DAFTAR PUSTAKA
Aceh, H. Aboebakar, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, Solo: Cv. Ramadhani,
1985
A, Sirry, Munim, Sejarah Fiqih Islam. 1996
Ali, Fahmi, Merambah Jalan Baru Islam di Indonesia, Jakarta: Presindo, 1984
Ahmad, Hanafi "Teologi Islam (Ilmu Kalam) Penerbit Bulan Bintang, 2001
Azra, Azyumardi, Renaisans Islam Asia Tenggara Sejarah Wacana dan
Kekuasaan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1999
Athoullah Ahmad, Antara Ilmu Akhlak dan Tasawuf, Serang: Saudara, 1995
Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, Bandung: Mizan,
1995
Edyar, Busman, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Pustaka Asatruss,
2009
Fahmi,M. Islam Transendental: Menelusuri Jejak-jejak Pemikiran Kuntowijoyo,
Yogyakarta: Pilar Religia, 2005
Hamid, Juhri, Peranan Ulama Indonesia Dewasa Ini, Yogyakarta: Bina Usaha,
1984
Hadi Abdul W.M, Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya,
Bandung: Mizan, 1995
Hasyim, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Jakarta: alMaarif, 1981
Kuntowidjoyo, Paradigma Islam, Cet. II; Bandung: Mizan, 1991
Majid, Nicholas, Kaki Langit Peradaban Islam, Jakarta:Paramadina,1997
Mulyati, Hj. Sri, (et.al), Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat muktabarah di
Indoensia, Jakarta: Kencana, 2011
Soekanto, Soerjono, Sosiologi, Suatu Pengantar, Jakarta: Yayasan Penerbit UI,
1974
Sumardi, Mulyanto, (Ed), Agama, Masalah dan Pemikiran, Jakarta: Balitbang
Agama, 1982
Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008
Tim Dit Bapera, Berbagai Pandangan Terhadap Komplikasi Hukum Islam,
Jakarta: Yayasan Al-Hikmah, 1993
Tjandrasasmita Uka (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: PN Balai
Pustaka, 1984
Al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam, Sezak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX,
Jakarta: Akbar Media, 2003
Yatim, Badri, Sejarah Islam di Indonesia, Jakarta: Depag, 1998

25