Anda di halaman 1dari 3

Struktur Organisasi Rumah Sakit

Pengorganisasian adalah pengaturan sejumlah personil yang dimiliki rumah sakit untuk
memungkinkan tercapainya suatu tujuan rumah sakit, dengan jalan mengalokasikan masingmasing fungsi dan tanggung jawabnya (Azwar, 2002). Pola organisasi rumah sakit
pemerintah pada umumnya sesuai dengan yang tertera dalam Keputusan Menteri Kesehatan
RI Nomor. 1045/MENKES/PER/XI/2006 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 1
Tahun 2002, tentang Pedoman Struktur Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Daerah.
Struktur organisasi merupakan visualisasi kegiatan dan pelaksana kegiatan (personal) dalam
suatu institusi. Berdasarkan kegiatan dan pelaksanaan tugas, fungsi dan wewenang maka
organisasi dibagi atas organisasi lini, organisasi staf dan organisasi lini beserta staf.
Organisasi rumah sakit mempunyai bentuk yang unik dan berbeda dengan organisasi lain,
(Soedarmo, 2002). Pola organisasi rumah sakit di Indonesia, pada umumnya terdiri atas
Badan Pengurus Yayasan, Dewan Pembina, Dewan Penyantun, Badan Penasehat, dan Badan
Penyelenggara. Badan Penyelenggara terdiri atas direktur, wakil direktur, komite medik,
satuan pengawas, dan berbagai bagian dari instalasi. Tergantung pada besarnya rumah sakit,
dapat terdiri atas satu sampai empat wakil direktur. Wakil direktur pada umumnya terdiri atas
wakil direktur pelayanan medik, wakil direktur penunjang medik dan keperawatan, wakil
direktur keuangan dan administrasi (Siregar, 2003).
Susunan organisasi Rumah Sakit Kelas C lebih sederhana jika dibandingkan dengan kelas A
atau Kelas B. Di sini tidak ada wakil direktur, tetapi dilengkapi dengan staf khusus yang
mengurusi administrasi. Kondisi ini berpengaruh pada jenis pelayanan medis dan jumlah staf
profesional (medis dan paramedis) yang dipekerjakan pada tiap-tiap rumah sakit ini. Secara
umum, jenis kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan juga akan ikut menentukan
peningkatan kelas sebuah RS di suatu wilayah, terutama yang berlokasi di ibu kota provinsi
(Muninjaya, 2004).
Mengatur personal atau staf yang dikenal dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada
dalam suatu institusi agar semua kegiatan yang telah ditetapkan dalam rencana dapat berjalan
dengan baik, yang akhirnya semua tujuan dapat dicapai dengan baik. Penguraian tugas
(jobdescription) masing-masing staf pelaksana penting karena masing-masing orang yang
terlibat dalam program tersebut harus mengetahui dan melaksanakan program sesuai dengan
tugas pokok dan fungsinya dalam organisasi (Notoatmodjo, 2011).
Struktur organisasi rumah sakit harus efektif, mudah beroperasi dan tidak banyak birokrasi.
Penetapan struktur organisasi ini dimaksudkan untuk bisa membagi tugas pekerjaan,
memberikan wewenang, melakukan pengawasan dan meminta pertanggungjawaban.
Mengingat sifat rumah sakit yang berbeda dengan sifat umumnya suatu institusi.
Suatu organisasi rumah sakit yang sukses mempunyai ciri antara lain struktur organisasinya
tidak berbentuk piramid tapi datar. Jenjang hirarkinya pendek dan pengorganisasiannya
berorientasi kepada tim yang mudah dibentuk dan mudah pula untuk dibubarkan kembali.
Struktur organisasi matriks ada dua macam wewenang, yaitu wewenang yang mengalir secara
horizontal pada unit fungsional dan wewenang yang mengalir secara vertikal pada pimpinan
struktur atau manajerial. Dua aliran wewenang ini membentuk kisi-kisi wewenang yang

dinamakan matriks aliran wewenang atau matrix of authority flows. Struktur organisasi
matriks ini mengutamakan teknologi penyelesaian, biaya dan kualitas. Struktur organisasi
matriks menyadari adanya ketergantungan antara berbagai fungsi.
Azas-azas yang perlu diperhatikan dalam membentuk organisasi rumah sakit adalah azas
kesatuan komando dan pendelegasian wewenang kekuasaan (Djojodibroto, 1997).
Permasalahan dalam organisasi yang nantinya akan menyebabkan kegagalan rumah sakit,
adalah (1) lemahnya rancangan struktur organisasi, (2) tidak tepat sasaran, tidak tepat waktu,
tidak tepat nilai dalam sistem informasi manajemen, (3) tidak efektifnya dalam pengendalian
pendapatan dan piutang, (4) sedikit atau tidak ada sama sekali perencanaan jangka panjang,
(5) tidak realistikya standar produktivitas pegawai.
Menurut Muninjaya (2005) dan Notoatmodjo (2011) sistem dalam organisasi adalah
gabungan dari elemen-elemen atau subsistem di dalam suatu proses atau struktur dan
berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi. Sistem terbentuk dari elemen atau bagian yang
saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Apabila salah satu bagian atau subsistem tidak
berjalan dengan baik, maka akan mempengaruhi bagian yang lain. Secara garis besarnya
komponen suatu sistem terdiri dari:
1. Indikator masukan (input), yaitu sumber daya atau masukan yang dikonsumsikan oleh
sistem. Sumber daya suatu sistem adalah manusia (man), uang (money), sarana
(material), metode (method), waktu yang disediakan (minute), dan pasar (market).
2. Indikator proses (process) adalah semua kegiatan sistem. Melalui kegiatan proses
akan diubah input menjadi output, yang terdiri dari perencanaan (planning), organisasi
(organizing), penggerakan (actuating), pengawasan dan evaluasi (controling).
3. Indikator keluaran (output) adalah hal yang dihasilkan oleh proses.
4. Indikator efek (Effect) adalah perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat
yang diukur dengan peran serta masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan
yang tersedia.
5. Indikator dampak (Impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah
beberapa waktu lamanya.
6. Indikator umpan balik (feed back) yaitu merupakan hasil dari proses yang sekaligus
sebagai masukan untuk sistem tersebut.
7. Indikator lingkungan (Environment) yaitu lingkungan yang berada di luar sistem yang
mempengaruhi sistem tersebut.
Refrensi :
1. Siregar, 2003. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. EGC. Jakarta.
2. Soedarmo,.AI., 2002. Reformasi Perumahsakitan Indonesia. Gramedia Widi Sarana
Indonesia. Jakarta.

3. Azwar,.A., 2002. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan Aplikasi Prinsip Lingkaran


Pemecahan Masalah. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
4. Muninjaya, A.A Gde., 2004. Manajemen Kesehatan, ECG, Jakata
5. Notoatmodjo, S., 2011. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.
6. Djojodibroto, RD., 1997. Kiat Mengelola Rumah Sakit, Hipokrates, Jakarta.