Anda di halaman 1dari 23

REFERAT ILMU PENYAKIT DALAM

DEVIASI SEPTUM NASI

Disusun oleh :
Alvin Wijaya Rustam
11.2015.062

Dosen Pembimbing
dr. Nurlina sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT TELINGA, HIDUNG, DAN TENGGOROKAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kasih dan
penyertaan-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan referat ini. Tiada lupa
kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah membantu memberi
informasi dalam membuat referat ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan referat ini masih banyak kekurangan sebab
itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan
selesainya referat ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Akhir kata, penulis berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala
kebaikan semua pihak yang telah membantu. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Bogor, 25 Januari 2016

Penyusun

Daftar isi
Kata pengantar.....i
Daftar isi.ii
Bab I 1.1 Pendahuluan......4
1.2 Anatomi dan Fisiologi Hidung4
1.2.1 Struktur Anatomi Hidung..4
1.2.2 Kompleks Osteomeatal9
1.2.3 Perdarahan Hidung...9
1.2.4 Persarafan Hidung11
1.2.5 Mukosa Hidung11
1.2.6 Fisiologi Hidung..12
Bab II Tinjauan Pustaka...........................15
2.1 Definisi....15
2.2 Etiologi....17
2.3 Gejala Klinis...18
2.4 Diagnosis18
2.5 Komplikasi.19
2.6 Penatalaksanaan..19
2.7 Prognosis...20
Bab III Penutup..21
Daftar Pustaka...22

BAB I
Pendahuluan
1.1 Pendahuluan
Bentuk septum normal adalah lurus di tengah rongga hidung tetapi pada orang dewasa
biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di tengah. Angka kejadian septum yang benarbenar lurus hanya sedikit dijumpai, biasanya terdapat pembengkokan minimal atau terdapat
spina pada septum. Bila kejadian ini tidak menimbulkan gangguan respirasi, maka tidak
dikategorikan sebagai abnormal. Deviasi yang cukup berat dapat menyebabkan obstruksi
hidung yang mengganggu fungsi hidung dan menyebabkan komplikasi atau bahkan
menimbulkan gangguan estetik wajah karena tampilan hidung menjadi bengkok.1,2
Gejala sumbatan hidung meskipun bukan suatu gejala penyakit yang berat, tetapi
dapat menurunkan kualitas hidup dan aktivitas penderita. Penyebab sumbatan hidung dapat
bervariasi dari berbagai penyakit dan kelainan anatomis. Salah satu penyebabnya dari
kelainan anatomi adalah deviasi septum nasi.1
Deviasi septum nasi memang merupakan masalah yang sering ditemukan di
masyarakat. Kelainan ini ditandai dengan bengkoknya lempeng kartilago septum, yaitu
struktur yang memisahkan antara kedua nostril. Deviasi septum biasanya disebabkan oleh
trauma, walaupun terdapat beberapa kasus yang merupakan bawaan sejak lahir dengan
deviasi septum nasi. Kelainan ini dapat menyebabkan terjadinya obstruksi nasal unilateral
maupun bilateral, yang bermanifestasi sebagai gangguan pernapasan melalui hidung, tidur
mendengkur, sakit kepala, infeksi sinus rekuren, ataupun perdarahan hidung yang rekuren.

1.2 Anatomi dan Fisiologi Hidung


1.2.1 Struktur Anatomi Hidung
Hidung luar berbentuk piramid menonjol pada garis tengah di antara pipi dengan bibir
atas. Struktur hidung luar dapat dibedakan atas tiga bagian, yaitu yang paling atas berupa
kubah tulang yang tak dapat digerakkan, di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit
dapat digerakkan, dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan. 3

Berikut bagian-bagiannya dari atas ke bawah :

pangkal hidung (bridge),


dorsum nasi,
puncak hidung,
ala nasi,
kolumela, dan
lubang hidung (nares anterior). 4

Gambar 1. Anatomi Hidung Luar


Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan
lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari :

Tulang hidung (os nasal),


Prosesus frontalis os maksila, dan
Prosesus nasalis os frontal.

Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang
terletak di bagian bawah hidung, yaitu :

Sepasang kartilago nasalis lateralis superior,


Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago alar

mayor,
Beberapa pasang kartilago alar minor, dan
Tepi anterior kartilago septum. 4

Gambar 2. Kerangka Tulang dan Tulang Rawan Hidung Luar


Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang yang
dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Lubang
masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang bagian belakang disebut
nares posterior (koana) yang menghubungkan antara kavum nasi dengan nasofaring. 3, 4
Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat di belakang nares
anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak
kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. Tiap kavum nasi
mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior. 3, 4

Dinding medial hidung adalah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang
rawan. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela.
Sedangkan bagian tulang adalah :

lamina perpendikularis os etmoid,


os vomer,
krista nasalis os maksila, dan
krista nasalis os palatina. 4
Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada

bagian tulang, sedangkan di luarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian depan dinding
lateral hidung licin, yang disebut agger nasi dan di belakangnya terdapat konka-konka yang
mengisi sebagian besar dinding lateral hidung.

Gambar 3. Septum Nasi


Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah
ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media, yang lebih kecil lagi ialah
konka superior, dan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema ini bersifat
7

rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan
labirin etmoid, sedangkan konka media, superior, dan suprema merupakan bagian dari labirin
etmoid. 4
Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang
disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada 3 meatus, yaitu meatus inferior, medianus
dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan
dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus
nasolakrimalis. 4
Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung.
Pada meatus medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris, dan
infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana
terdapat muara sinus frontal, sinus maksila, dan sinus etmoid anterior. Meatus superior
merupakan ruang di antara konka superior dan kona media. Pada meatus superior terdapat
muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. 3, 4

Gambar 4. Dinding Lateral Cavum Nasi


Dinding inferior rongga hidung merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os
maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh
8

lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. Lamina
kribriformis merupakan lempeng tulang yang berasal dari os etmoid, tulang ini berlubanglubang (kribrosa/saringan) sebagai tempat masuknya serabut-serabut saraf olfaktorius. Di
bagian posterior, atap rongga hidung dibentuk oleh os sfenoid. 4

1.2.2 Kompleks Ostiomeatal (KOM)


Kompleks ostiomeatal (KOM) merupakan celah pada dinding lateral hidung yang
dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi penting yang membentuk
KOM adalah :

prosesus unsinatus,
infundibulum etmoid,
hiatus semilunaris,
bula etmoid,
agger nasi, dan
resesus frontal.
KOM merupakan unit fungsional yang berfungsi sebagai tempat ventilasi dan

drainase dari sinus-sinus yang letaknya di anterior, yaitu sinus maksila, sinus frontal, dan
sinus etmoidalis superior. 4

Gambar 5. Kompleks Ostiomeatal (KOM)

1.2.3 Perdarahan Hidung


Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoidalis anterior
dan posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a. karotis interna. Bagian bawah
rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna, di antaranya adalah
ujung a. palatina mayor dan a. sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama
n. sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media.
Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a. fasialis.
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a. sfenopalatina,
a. etmoid anterior, a. labialis superior, dan a. palatina mayor yang disebut pleksus
Kiesselbach (Littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cedera oleh
trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis (pendarahan hidung), terutama pada anak.
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan
arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v. oftalmika yang
berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup sehingga
merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi hingga ke intrakranial. 4
10

1.2.4 Persarafan Hidung


Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n. etmoidalis
anterior, yang merupakan cabang dari n. nasosiliaris, yang berasal dari n. oftalmikus (N.V-1).
Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n. maksila melalui
ganglion sfenopalatina.
Ganglion sfenopalatina selain memberikan persarafan sensoris juga memberikan
persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabutserabut sensoris dari n. maksila (N.V-2), serabut parasimpatis dari n. petrosus superfisialis
mayor dan serabut-serabut simpatis dari n. petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum
terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media.
Sedangkan fungsi penghidu berasal dari nervus olfaktorius. Saraf ini turun dari lamina
kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel
reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung. 4
1.2.5 Mukosa Hidung
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas
mukosa pernapasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar
rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh cilliated pseudostratified collumnar
epithellium yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel-sel goblet. Pada bagian yang
lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang-kadang terjadi metaplasia
menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan
selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut
lendir ini dihasilkan oleh sel-sel goblet pada epitel dan kelenjar seruminosa submukosa.
Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan
gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah
nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri
dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan
pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan
hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang
berlebihan, radang, sekret kental dan obat-obatan.

11

Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga
bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh pseudostratified columnar non-ciliated epithellium.
Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor
penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.
Di bawah lapisan epitel terdapat tunika propria yang banyak mengandung pembuluh
darah, kelenjar mukosa dan jaringan limfoid. Pembuluh darah pada mukosa hidung
mempunyai susunan yang khas. Arteriol terletak pada bagian yang lebih dalam dari tunika
propria, tersusun secara paralel dan longitudinal. Arteriol ini memberikan perdarahan pada
anyaman kapiler periglanduler dan subepitel. Pembuluh eferen dari anyaman kapiler ini
membuka ke rongga sinusoid vena yang besar, yang dindingnya dilapisi oleh jaringan elastin
dan otot polos. Pada bagian ujungnya, sinusoid mempunyai sfingter otot. Selanjutnya
sinusoid akan mengalirkan darahnya ke pleksus vena yang lebih dalam, lalu ke venula.
Dengan susunan demikian, mukosa hidung menyerupai jaringan kavernosa yang erektil, yang
mudah mengembang dan mengerut. Vasokonstriksi dan vasodilatasi pembuluh darah ini
dipengaruhi oleh saraf otonom. 3, 4
1.2.6 Fisiologi Hidung
Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka fungsi
fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah 1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara
(air conditioning), penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan
dan mekanisme imunologik lokal; 2) fungsi penghidu, karena terdapanya mukosa olfaktorius
(penciuman) dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu; 3) fungsi fonetik
yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses berbicara dan mencegah hantaran
suara sendiri melalui konduksi tulang; 4) fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan
beban kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung panas; serta 5) refleks nasal. 4

Sebagai Jalan Napas


Pada saat inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi
konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara
ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana dan
kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian

12

depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran
dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.

Pengatur Kondisi Udara (Air Conditioning)


Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang
akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara :
a) Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada musim
panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit,
sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
b) Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di
bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas, sehingga
radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara setelah
melalui hidung kurang lebih 37o C.

Sebagai Penyaring dan Pelindung


Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan
dilakukan oleh :
a) Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi
b) Silia
c) Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir
dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut
lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia.
d) Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut lysozime.

Indra Penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada
atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau
dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik
napas dengan kuat.

Resonansi Suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan
menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau.

Proses Bicara
Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m, n, ng) dimana
rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk aliran
udara.
13

Refleks Nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna,
kardiovaskuler dan pernapasan. Contohnya, iritasi mukosa hidung menyebabkan
refleks bersin dan napas terhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi
kelenjar liur, lambung dan pankreas. 3, 4

14

BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi dan Klasifikasi
Deviasi septum ialah suatu keadaan dimana terjadi peralihan posisi septum nasi dari
letaknya yang berada di garis medial tubuh. Deviasi septum menurut Mladina dibagi atas
beberapa klasifikasi berdasarkan letak deviasi, yaitu :
1. Tipe I : benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran udara.
2. Tipe II : benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara, namun masih
belum menunjukkan gejala klinis yang bermakna.
3. Tipe III : deviasi pada konka media (area osteomeatal dan meatus media).
4. Tipe IV : S septum (posterior ke sisi lain, dan anterior ke sisi lainnya).
5. Tipe V : tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara di sisi lain masih
normal.
6. Tipe VI : tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral, sehingga
menunjukkan rongga yang asimetri.
7. Tipe VII : kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-tipe VI.1,6

15

Gambar 6. Klasifikasi Deviasi Septum Nasi Menurut Mladina


Bentuk-bentuk dari deformitas septum nasi berdasarkan lokasinya, yaitu :
1) Spina dan Krista
Merupakan penonjolan tajam tulang atau tulang rawan septum yang dapat terjadi pada
pertemuan vomer di bawah dengan kartilago septum dan atau os ethmoid di atasnya.
Bila memanjang dari depan ke belakang disebut krista, dan bila sangat runcing dan
pipih disebut spina. Tipe deformitas ini biasanya merupakan hasil dari kekuatan
kompresi vertikal.
2) Deviasi
Lesi ini lebih karakteristik dengan penonjolan berbentuk C atau S yang dapat
terjadi pada bidang horisontal atau vertikal dan biasanya mengenai kartilago maupun
tulang.
3) Dislokasi
Batas bawah kartilago septum bergeser dari posisi medialnya dan menonjol ke salah
satu lubang hidung. Septum deviasi sering disertai dengan kelainan pada struktur
sekitarnya.
4) Sinekia
16

Bila deviasi atau krista septum bertemu dan melekat dengan konka di hadapannya.
Bentuk ini akan menambah beratnya obstruksi.1,2
Kelainan struktur akibat deviasi septum nasi dapat berupa :
1) Dinding Lateral Hidung
Terdapat hipertrofi konka dan bula ethmoidalis. Ini merupakan kompensasi yang
terjadi pada sisi konkaf septum.
2) Maksila
Daya kompresi yang menyebabkan deviasi septum biasanya asimetri dan juga dapat
mempengaruhi maksila sehingga pipi menjadi datar, pengangkatan lantai kavum nasi,
distorsi palatum dan abnormalitas ortodonti. Sinus maksilaris sedikit lebih kecil pada
sisi yang sakit.
3) Piramid Hidung
Deviasi septum nasi bagian anterior sering berhubungan dengan deviasi pada piramid
hidung.
4) Perubahan Mukosa
Udara inspirasi menjadi terkonsentrasi pada daerah yang sempit menyebabkan efek
kering sehingga terjadi pembentukan krusta. Pengangkatan krusta dapat menyebabkan
ulserasi dan perdarahan. Lapisan proteksi mukosa akan hilang dan berkurangnya
resistensi terhadap infeksi. Mukosa sekitar deviasi akan menjadi edema sebagai akibat
fenomena Bernouili yang kemudian menambah derajat obstruksi.1
Jin RH dkk membagi deviasi septum berdasarkan berat atau ringannya keluhan :
1) Ringan
Deviasi kurang dari setengah rongga hidung dan belum ada bagian septum yang
menyentuh dinding lateral hidung.
2) Sedang
Deviasi kurang dari setangah rongga hidung tetapi ada sedikit bagian septum yang
menyentuh dinding lateral hidung.
3) Berat
Deviasi septum sebagian besar sudah menyentuh dinding lateral hidung.
Jin RH dkk juga mengklasifikasikan deviasi septum menjadi 4, yaitu :
17

1)
2)
3)
4)

Deviasi lokal termasuk spina, krista dan dislokasi bagian kaudal


Lengkungan deviasi tanpa deviasi yang terlokalisir
Lengkungan deviasi dengan deviasi lokal
Lengkungan deviasi yang berhubungan dengan deviasi hidung luar.

Gambar 7. Klasifikasi Deviasi Septum Menurut Jin RH dkk

2.2 Etiologi
Deviasi septum umumnya disebabkan oleh trauma langsung dan biasanya
berhubungan dengan kerusakan pada bagian lain hidung, seperti fraktur os nasal. Pada
sebagian pasien, tidak didapatkan riwayat trauma, sehingga Gray (1972) menerangkannya
dengan teori birth Moulding. Posisi intrauterin yang abnormal dapat menyebabkan tekanan
pada hidung dan rahang atas, sehingga dapat terjadi pergeseran septum. Demikian pula
tekanan torsi pada hidung saat kelahiran (partus) dapat menambah trauma pada septum.1,2
Faktor risiko deviasi septum lebih besar ketika persalinan. Setelah lahir, resiko
terbesar ialah dari olahraga, misalnya olahraga kontak langsung (tinju, karate, judo) dan tidak
menggunakan helm atau sabuk pengaman ketika berkendara.1,
Penyebab lainnya ialah ketidakseimbangan pertumbuhan. Tulang rawan septum nasi
terus tumbuh, meskipun batas superior dan inferior telah menetap, juga karena perbedaan
pertumbuhan antara septum dan palatum. Dengan demikian terjadilah deviasi septum.2

2.3 Gejala Klinis


Gejala yang sering timbul biasanya adalah sumbatan hidung yang unilateral atau juga
bilateral. Hal ini terjadi karena pada sisi hidung yang mengalami deviasi terdapat konka yang
18

hipotrofi, sedangkan pada sisi sebelahnya terjadi konka yang hipertrofi sebagai akibat
mekanisme kompensasi. Keluhan lainnya ialah rasa nyeri di kepala dan di sekitar mata.
Selain itu, penciuman juga bisa terganggu apabila terdapat deviasi pada bagian atas septum.
Deviasi septum juga dapat menyumbat ostium sinus sehingga merupakan faktor predisposisi
terjadinya sinusitis.2
Jadi deviasi septum dapat menyebabkan satu atau lebih dari gejala berikut ini :

Sumbatan pada salah satu atau kedua nostril


Kongesti nasalis biasanya pada salah satu sisi
Perdarahan hidung (epistaksis)
Infeksi sinus (sinusitis)
Kadang-kadang juga nyeri pada wajah, sakit kepala, dan postnasal drip.
Mengorok saat tidur (noisy breathing during sleep), terutama pada bayi dan anak.6,5
Pada beberapa kasus, seseorang dengan deviasi septum yang ringan hanya

menunjukkan gejala ketika mengalami infeksi saluran pernapasan atas, seperti common cold.
Dalam hal ini, adanya infeksi respiratori akan mencetuskan terjadinya inflamasi pada hidung
dan secara perlahan-lahan menyebabkan gangguan aliran udara di dalam hidung. Kemudian
terjadilah sumbatan/obstruksi yang juga terkait dengan deviasi septum nasi. Namun, apabila
common cold telah sembuh dan proses inflamasi mereda, maka gejala obstruksi dari deviasi
septum nasi juga akan menghilang.5
2.4 Diagnosis
Deviasi septum biasanya sudah dapat dilihat melalui inspeksi langsung pada batang
hidungnya. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior, dapat dilihat penonjolan septum ke arah
deviasi jika terdapat deviasi berat, tapi pada deviasi ringan, hasil pemeriksaan bisa normal.1
Penting untuk pertama-tama melihat vestibulum nasi tanpa spekulum, karena ujung
spekulum dapat menutupi deviasi bagian kaudal. Pemeriksaan seksama juga dilakukan
terhadap dinding lateral hidung untuk menentukan besarnya konka. Piramid hidung, palatum,
dan gigi juga diperiksa karena struktur-struktur ini sering terjadi gangguan yang berhubungan
dengan deformitas septum.1,2
Namun, diperlukan juga pemeriksaan radiologi untuk memastikan diagnosisnya. Pada
pemeriksaan Rontgen kepala posisi antero-posterior tampak septum nasi yang bengkok.
Pemeriksaan nasoendoskopi dilakukan bila memungkinkan untuk menilai deviasi septum

19

bagian posterior atau untuk melihat robekan mukosa. Bila dicurigai terdapat komplikasi sinus
paranasal, dilakukan pemeriksaan X-ray sinus paranasal.1

2.9 Komplikasi
Deviasi septum dapat menyumbat ostium sinus, sehingga merupakan faktor
predisposisi terjadinya sinusitis. Selain itu, deviasi septum juga menyebabkan ruang hidung
sempit, yang dapat membentuk polip. Sedangkan komplikasi post-operasi, diantaranya :
1) Uncontrolled Bleeding. Hal ini biasanya terjadi akibat insisi pada hidung atau berasal
dari perdarahan pada membran mukosa.
2) Septal Hematoma. Terjadi sebagai akibat trauma saat operasi sehingga menyebabkan
pembuluh darah submukosa pecah dan terjadilah pengumpulan darah. Hal ini umumnya
terjadi segera setelah operasi dilakukan.
3) Nasal Septal Perforation. Terjadi apabila terbentuk rongga yang menghubungkan
antara kedua sisi hidung. Hal ini terjadi karena trauma dan perdarahan pada kedua sisi
membran di hidung selama operasi.
4) Saddle Deformity. Terjadi apabila kartilago septum terlalu banyak diangkat dari dalam
hidung.
Recurrence of The Deviation. Biasanya terjadi pada pasien yang memiliki deviasi septum
yang berat yang sulit untuk dilakukan perbaikan.5,6

2.10. Penatalaksanaan

Bila gejala tidak ada atau keluhan sangat ringan, tidak perlu dilakukan tindakan

koreksi septum.
Analgesik, digunakan untuk mengurangi rasa sakit.
Dekongestan, digunakan untuk mengurangi sekresi cairan hidung.
Pembedahan :

Septoplasty (Reposisi Septum)


Septoplasty merupakan operasi pilihan (i) pada anak-anak, (ii) dapat
dikombinasi dengan rhinoplasty, dan (iii) dilakukan bila terjadi dislokasi pada
bagian caudal dari kartilago septum. Operasi ini juga dapat dikerjakan bersama
dengan reseksi septum bagian tengah atau posterior.

20

Pada operasi ini, tulang rawan yang bengkok direposisi. Hanya bagian yang
berlebihan saja yang dikeluarkan. Dengan cara operasi ini dapat dicegah
komplikasi yang mungkin timbul pada operasi reseksi submukosa, seperti
terjadinya perforasi septum dan saddle nose. Operasi ini juga tidak berpengaruh
banyak terhadap pertumbuhan wajah pada anak-anak.

SMR (Sub-Mucous Resection)


Pada operasi ini, muko-perikondrium dan muko-periosteum kedua sisi
dilepaskan dari tulang rawan dan tulang septum. Bagian tulang atau tulang
rawan dari septum kemudian diangkat, sehingga muko-perikondrium dan mukoperiosteum sisi kiri dan kanan akan langsung bertemu di garis tengah.

Reseksi submukosa dapat menyebabkan komplikasi, seperti terjadinya hidung pelana (saddle
nose) akibat turunnya puncak hidung, oleh karena bagian atas tulang rawan septum terlalu
banyak diangkat. Tindakan operasi ini sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak karena
dapat mempengaruhi pertumbuhan wajah dan menyebabkan runtuhnya dorsum nasi.2,6,7
2.12 Prognosis
Deviasi septum ialah suatu keadaan dimana terjadi peralihan posisi dari septum nasi
dari letaknya yang berada di garis medial tubuh. Prognosis pada pasien deviasi septum
setelah menjalani operasi cukup baik dan pasien dalam 10-20 hari dapat melakukan aktivitas
sebagaimana biasanya. Hanya saja pasien harus memperhatikan perawatan setelah operasi
dilakukan. Termasuk juga pasien harus juga menghindari trauma pada daerah hidung.1

21

BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Deviasi septum nasi dapat berupa kelainan bawaan sejak lahir atau paling sering
terjadi akibat trauma. Risiko terjadinya deviasi septum meningkat pada laki-laki karena lebih
banyak terpapar dengan lingkungan dan trauma. Deviasi septum yang ringan tidak
memberikan keluhan, sedangkan yang berat dapat menyebabkan kesulitan bernapas akibat
obstruksi nasal.7
Terapi konservatif untuk obstruksi nasal dapat dilakukan dengan pemberian obatobatan untuk mengatasi gejala pada pasien. Namun untuk mengkoreksi deviasi septum,
tindakan pembedahan sangat penting. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya
perburukan kondisi pasien sehingga menyebabkan berbagai komplikasi. Tingkat keberhasilan
tindakan pembedahan yang diharapkan tergantung pada berat ringannya deviasi septum nasi
yang terjadi.6
Secara umum, sebagian besar pasien dengan deviasi septum nasi lebih baik dilakukan
tindakan septoplasty dibandingkan dengan sub-mucous resection (SMR) karena adanya
komplikasi post-SMR, seperti perforasi septum, perdarahan, dan saddle nose.5,7

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiman BJ, Asyari A. Pengukuran Sumbatan Hidung Pada Deviasi Septum Nasi. Bagian
Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL) Fakultas Kedokteran
Universitas

Andalas:

Padang:

28

Juli

2011.h.

1-7.

Available

at:

http://repository.unand.ac.id/17339/1/Pengukuran_Sumbatan_Hidung_Pada_Deviasi_Sep
tum.pdf (Accessed : 2016 Januari 25)
2. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editor. Kelainan Septum. Dalam:.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Ke-6.
Cetakan Ke-4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.h.126-7.
3. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Hidung: Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam:. Boies
Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6. Cetakan Ke-3. Jakarta: EGC; 1997.h.173-88.
4. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editor. Hidung. Dalam: Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Ke-6. Cetakan Ke-4.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.h.118-22.
5. Park JK, Edward IL. Deviated Septum. The Practice of Marshfield Clinic, American
Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery; 2005. Available at:
http://www.marshfieldclinic.org/proxy/MC-ent-DeviatedSeptum.1.pdf (Accessed: 2016
Januari 25)
6. Bull PD. The Nasal Septum. In: Lecture Notes on Diseases of The Ear, Nose and Throat.
9th Edition. USA: Blackwell Science Ltd;2002.p.81-5.
7. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong, editor. Kepala dan Leher. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah.

Edisi ke-2. Cetakan ke-I. Jakarta: EGC; 2005.h.365-6.

23