Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keamanan pangan bukan hanya merupakan kepentingan bersama
yang juga menyangkut kepentingan dan kepedulian individual. Jaminan akan
keamananan pangan adalah merupakan hak azasi konsumen. Pangan termasuk
kebutuhan dasar terpenting dan sangat esensial dalam kehidupan manusia.
Walaupun makanan itu menarik, nikmat, tinggi gizinya, jika tidak aman
dikonsumsi, maka tidak ada nilainya sama sekali. Menurut UU No.7 tahun
1996 tentang Pangan, Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang
diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis,
kimia, dan benda lain yang bisa mengganggu, merugikan dan membahayakan
kesehatan manusia. Perhatian utama konsumen atas keamanan pangan
meliputi penyakit yang terkandung dalam makanan (kontaminasi
mikroorganisma seperti bakteri, jamur, virus dan parasit), kontaminasi
pestisida, kontaminasi lingkungan (logam berat) dan residu obat ternak dalam
makanan termasuk keraguan pada keamanan pangan atau bahan tambahan
pangan.
Adanya kontaminasi tersebut perlu diminimalisir supaya terwujud
pangann yang sehat. Kontaminasi dapat terjadi melalui beberapa faktor.
Banyak agen kontaminan yang seringkali ditemukan dalam pangan. Mikroba
pencemar seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit berpotensi menimbulkan
penyakit yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat veteriner. Salah
satu parasit yang sering menjadi agen cemaran adalah protozoa
Cryptosporidium sp. Infeksi protozoa usus merupakan masalah kesehatan
masyarakat, yang akhir akhir ini perhatian terhadap infeksi protozoa usus
meningkat di seluruh dunia. Hal ini disebabkan karena parasit usus yang
dulunya tidak dianggap penting untuk kesehatan manusia, ternyata dapat
menyebabkan penyakit yaitu Cyclospora, Blastocystis hominis, Pneumocystis
carinii dan Cryptosporidium parvum (Fikri, 2013).
Protozoa C. parvum dikenal sebagai parasit obligat intraseluler dan
bersifat sangat patogen, dapat menginfeksi saluran pencernaan manusia dan
hewan mamalia seperti sapi, kambing, domba, kuda dan lainnya. Secara klinis,
infeksinya ditandai diare, dan dapat kronis pada penderita
immunocompromise (Artama, 2005). Cryptosporidium banyak ditemukan
hampir disemua kelompok sapi bahkan pada letupan neonatal enteritis dengan
gejala diare di Scotland pada tahun 2003 paling tinggi disebabkan eleh
cryptosporidia (35%) (Mason dan Caldow, 2005). Penelitian yang dilakukan di
Karangasem Bali, telah teridentifikasi Cryptosporidium parvum dengan
prevalensi kasar sebanyak 37,39% (Artama, 2005). Infeksi parasit ini cukup
penting dalam bidang kedokteran dan kedokteran hewan menyerang sel epitel
saluran pencernaan manusia, saluran empedu dan saluran pernapasan, juga
menyerang lebih dari 45 spesies vertebrata termasuk unggas dan burung, ikan,
reptil, mamalia kecil (tikus, kucing, anjing) dan mamalia besar (terutama sapi

dan biri-biri). Infeksi tanpa gejala, sering terjadi dan merupakan sumber
infeksi bagi yang lainnya. Gejala utama pada manusia adalah diare cair yang
pada anak-anak terjadi berulang kali didahului dengan anoreksia dan muntah.
Diare diikuti dengan sakit dan kram pada perut (Menurut Kandun (2000).
Infeksi Cryptosporidium parvum disebut cryptosporidiosis. Wabah
cryptosporidiosis yang paling dikenal adalah di Milwaukee (Wisconsin) di
tahun 1993, yang menyerang lebih dari 400.000 orang (Sinambela, 2008).
Berdasarkan hal tersebut, pengetahuan kepada masyarakat dan
peternak mengenai bahaya kontaminasi pangan oleh agen parasit seperti
Cryptosporidium sp menjadi penting dan dapat dijadikan bahan informasi
untuk perbaikan mutu pangan kedepannya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penulisan ini adalah bagaimana bahaya
kontaminasi protozoa Cryptosporidium sp dalam pangan?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana bahaya
kontaminasi protozoa Cryptosporidium sp dalam pangan.
1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan ini adalah:
1. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai keamanan
pangan
2. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai bahaya
kontaminasi dalam suatu produk pangan
3. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai bahaya
kontaminasi Cryptosporidium sp dalam pangan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Keamanan Pangan
Menurut UU No.7 tahun 1996 tentang Pangan, Keamanan Pangan
adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari
kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang bisa mengganggu,
merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Pada dasarnya bahan
makanan yang akan dikonsumsi oleh manusia harus memenuhi kriteria aman
dan layak untuk dikonsumsi, sedangkan untuk pangan asal hewan pemerintah
mensyaratkan kriteria Aman, Sehat, Utuh dan untuk Negara muslim (yang
mayoritas penduduknya beragama islam) disyaratkan untuk memenuhi kriteria
Halal. Pangan sendiri menurut Menurut Undang-Undang NKRI No. 7 Tahun
1996 tentang pangan : segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air,
baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan
atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan,
bahan baku pangan, dan bahann lainnya yang digunakan dalam proses
penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman.
Pangan asal ternak sangat dibutuhkan untuk kesehatan manusia
sebagai sumber protein ftingsional maupun pertumbuhan, terutama pada anakanak usia dini (balita) dimana pada usia tersebut laju pertumbuhan dan
perkembangan sel-sel otak sangat tinggi. Protein hewani menjadi sangat
penting artinya karena mengandung asam amino yang lebih mendekati
susunan asam amino yang dibutuhkan manusia sehingga mudah dicerna dan
lebih efisien. Meskipun protein hewani tersebut sangat dibutuhkan sebagai
sumber gizi untuk kesehatan masyarakat, produk ternak dapat menjadi
berbahaya bagi kesehatan masyarakat bila tidak terjamin keamanannya . Oleh
karena itu, keamanan pangan bagi masyarakat merupakan prasyarat utama
yang tidak dapat ditawar-tawar lagi (Bahri, 2006).
Keamanan pangan bukan hanya merupakan kepentingan bersama
yang juga menyangkut kepentingan dan kepedulian individual. Jaminan akan
keamananan pangan adalah merupakan hak azasi konsumen. Pangan termasuk
kebutuhan dasar terpenting dan sangat esensial dalam kehidupan manusia.
Walaupun makanan itu menarik, nikmat, tinggi gizinya, jika tidak aman
dikonsumsi, maka tidak ada nilainya sama sekali. Indonesia telah mempunyai
beberapa standar nasional yang berkaitan dengan keamanan pangan asal
ternak yang diharapkan dapat memberikan jaminan keamanan produk pangan
asal ternak, seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai batas
maksimum cemaran mikroba dan batas maksimum residu dalam bahan
makanan asal ternak (Badan Standarisasi Nasional, 2000). Pemerintah
mensyaratkan bahwa pangan asal hewan harus memenuhi kriteria ASUH atau
Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Adapun yang dimaksudkan dengan pangan
Aman, Sehat, Utuh, dan Halal yaitu:

Halal :Berasal dari sumber atau hewan yang dipotong dan ditangani
sesuai syariat Islam dan tidak mengandung atau kontak langsung
maupun tidak langsung dengan bahan atau zat yang diharamkan.
Aman : tidak mengandung agen penyebab penyakit dan bahan
berbahaya (bahaya biologis, Kimia dan fisik).
Utuh : tidak ditambahkan atau dikurangi sesuatu apapun yang sifatnya
bisa merugikan kesehatan konsumen yang mengkonsumsi pangan
tersebut.
Sehat : mengandung zat gizi (protein, lemak, vitamin dll) dalam jumlah
yang cukup dan seimbang.
Perhatian utama konsumen atas keamanan pangan meliputi penyakit
yang terkandung dalam makanan (kontaminasi mikroorganisma seperti
bakteri, jamur, virus dan parasit), kontaminasi pestisida, kontaminasi
lingkungan (logam berat) dan residu obat ternak dalam makanan termasuk
keraguan pada keamanan pangan atau bahan tambahan pangan. Pemerintah
No 22 tahun 1982 tentang kesehatan masyarakat veteriner merupakan salah
satu perangkat dalam pelaksanaan Undang-Undang No 6 tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan
Kesehatan
Masyarakat
Veteriner. Dalam peraturan pemerintah tersebut dinyatakan pentingnya
pengamanan bahan pangan asal ternak serta pencegahan penularan
penyakit zoonosis, serta perlunya menjaga keamanan bahan pangan asal
ternak dengan melindunginya dari pencemaran dan kontaminasi serta
kerusakan akibat penanganan yang kurang higienis. Keamanan pangan
juga merupakan bagian penting dalam Undang-Undang Pangan No 7 tahun
1996. Di samping itu juga telah ada Undang-Undang No 8 tahun 1999
tentang perlindungan konsumen yang dapat menjadi landasan hukum
bagi pemberdayaan dan perlindungan konsumen dalam memperoleh
haknya atas pangan yang aman. Dalam pelaksaannya keamanan pangan
memilki beberapa konsep yang harus dilaksanakan dan diawasi serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari baik untuk industry pangan
ataupun konsumen, diantaranya adalah :
1. Sanitasi Pangan
Harus diperhatikan sarana dan prasarana serta proses produksi pangan,
seperti : semua sarana dan prasarana produksi pangan harus memenuhi
persyaratan dasar tentang sanitasi, harus adanya prosedur pengawasan
terhadap program sanitasi, pengawasan pemenuhan persyaratan dasar, dan
yang paling terpenting adanya kewenangan pemerintah dalam penetapan
persyaratan sanitasi bagi produsen pangan.
2. Penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP)
Dilarang menggunakan BTP yang dinyatakan dilarang atau bahan kimia
berbahaya atau melampaui batas BTP yang diijinkan. Kewenangan
pemerintah (Badan Pengawsan Obat dan Makanan) menetapkan jenis dan
dosis BTP. Memeriksa keamanan BTP bila belum diketahui dampaknya bagi
manusia
3. Rekayasa Genetika
Pangan Hasil Rekayasa Genetika (Genetically Modified Organism)
harus memenuhi keamanan hayati dan keamanan pangan dan sebelum beredar

harus ada persetujuan dari Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan
(BPOM).
4. Iradiasi Pangan
Untuk pangan yang menggunakan irradiasi (sterilisasi pangan
menggunakan radiasi) wajib memenuhi persyaratan kesehatan yang
disyaratkan oleh pemerintah. Harus diperhatikan juga pengolahan dan
pembuangan limbahnya serta penanggulangan bahaya yang diikuti dengan
system penjaminan keselamatan pangan , pekerja dan lingkungan sekitarnya.
5. Kemasan Pangan
Diwajibkan untuk menggunakan kemasan yang tidak dilarang dan tidak
berbahaya (beracun) dalam mengemas pangan, BPOM telah menetapkan
jenis-jenis kemasan apa saja yang diperbolehkan dan dilarang digunakan
untuk pengemasan pangan, dan adanya peraturan tentang pelarangan
pembukaan kemasan pangan untuk dilakukan pengemasan ulang
(repackaging) apabila tidak memiliki ijin.
6. Jaminan Mutu Pangan
Untuk industry atau produsen pangan diwajibkan memiliki suatu
system jaminan mutu yang menjamin tentang keamanan pangan (seperti
GMP, HACCP, NKV dll), pemerintah dalam hal ini instansi yang berkaitan
dengan produk pangan untuk menetapkan persyaratn untuk diuji terlebih
dahulu di laboratorium pengujian pangan yang telah terakreditasi atau
ditunjuk oleh pemerintah sebelum diedarkan ke masyarakat/ konsumen.
7. Pangan Tercemar
Dalam hal peredaran pangan, pemerintah telah mengeluarkan peraturan
tentang pelarangan pengedar pangan yang tercemar seperti beracun,
berbahaya, merugikan atau membahayakan bagi kesehatan konsumen.
Dilarang untuk mengedarkan pangan yang tercemar oleh bahan pencemar
yang melebihi standar batas yang ditetapkan oleh pemerintah. Dilarang
mengedarkan pangan yang mengandung bahan yang dilarang peredarannya.
Dilarang mengedarkan pangan yang kotor, tengik, busuk, terurai, bahan
berpenyakit, berasal dari bangkai yang bisa merugikan dan membahayakan
kesehatan konsumen.
8. Pangan Kadaluwarsa
Produsen pangan diwajibkan untuk mencnatumkan dan menetapkan
tanggal kadaluwarsa pada kemasan pangan, dan diwajibkan untuk menarik
produk dari pasar apabila ditemukan pangan yang sudah kadaluwarsa.
Foodborne disease merupakan penyakit berasal dari makanan tercemar
yang bersifat infeksius. Timbulnya penyakit ini karena adanya faktor
lingkungan (makanan) yang tidak sehat seperti tercemar oleh bahan kimia,
racun dan mikroorganisme. Berdasarkan kasus lapang, foodborne disease
umumnya terjadi akibat kontaminasi oleh kuman patogen terutama yang
berhubungan dengan gejala-gejala gastrointestinal seperti nausea (mual),
muntah, sakit perut dan diare (Bahri, 2006). Secara umum penyebab utama
kesakitan akibat mengkonsumsi pangan adalah mikroba/ kuman pathogen
seperti bakteri, virus, jamur (kapang/khamir) dan parasit:
a. Virus
Virus merupakan organisme yang sangat kecil, lebih kecil daripada
bakteri, kapang khamir dan parasit. Virus hanya dapat berkembang biak

dalam sel hidup pada tubuh inangnya dan tidak bisa berkembang biak pada
pangan. Tapi, beberapa strain virus tetap bersifat infeksius di lingkungan dan
dapat ditularkan/ menginfeksi melalui pangan/ makanan. Virus yang
menyebabkan foodborne diseases mempunyai karakter dapat berkembang
biak di saluran pencernaan dan dapat mencemari lingkungan melalui feces
(kotoran), lebih dari 100 jenis strain virus yang merupakan virus saluran
pencernaan, tapi hanya sedikit yang bisa bersifat infeksius seperti Rotavirus,
Hepatitis-A, Norwalk virus, adenovirus dan lainnya). Virus tidak
menyebabkan keracunan makanan, tapi hanya menyebabkan infeksi saja.
Kejadian foodborne diseases akibat virus jarang sekali dilaporkan (datanya
sedikit), hal ini akibat susahnya mendeteksi virus pada pangan, dan biasanya
pangan dapat tercemar virus akibat terkontaminasi dari orang yang terinfeksi
yang tidak menerapkan hygiene personal atau ketika pangan bersentuhan
langsung dengan wadah/ tempat yang terkontaminasi virus.
b. Bakteri
Bakteri merupakan mikroba sel tunggal yang memilki dinding sel,
ukurannya tidak terlalu kecil sehingga bisa diamati dengan mikroskop biasa.
Bakteri berkembang biak melalui pembelahan sel, tidak seperti virus atau
parasit, bakteri bisa bermultiplikasi (berkembang biak) denagn cepat pada
pangan/ makanan pada kondisi (suhu, kelembaban, dan kadar air) yang
optimum. Beberapa bakteri pathogen seperti Bacillus cereus, Clostridium
botulinum, dan Clostridium perfringens membentuk spora yang dapat
mencegah keruskan sel dari pengaruh lingkungan. Mikroba pembentuk spora
sangat bersifat pathogen, Karen pada saat mengkontaminasi pangan/ makanan
spora tidak bisa dimusnahkan atau dibunuh. Bakteri pathogen dapat
menyebabkan kesakitan dan keracunan akibat mengkonsumsi makanan
tercemar bakteri tersebut. Bakteri Salmonella merupakan salah satu strain
bakteri yang sangat pathogen, karena hanya cukup dengan satu (1) sel bakteri
Salmonella, sanggup untuk menyebabkan kesakitan pada manusia. Sedangkan
jenis bakteri yang sering menyebabkan keracunan makanan (makanan dalam
kaleng, susu, sayuran, daging susu dan telur) adalah Bacillus cereus,
Clostridium botulinum, staphylococcus aureus.
c. Kapang/ khamir/ jamur
Secara umum kapang/ khamir/ jamur adalah mikroorganisme multi sel
dan ukurannya cukup besar sehingga bisa dilihat secara kasat mata (mata
telanjang). Kebanyakan kasus yang ditimbulkan adalah kasus keracunan
makanan (food intoxication) akibat makanan/ pangan tercemar oleh kapang/
jamur/ khamir. Jamur bisa menghasilkan racun, terutama racun syaraf
(neurotoxin), tapi ada juga jamur yang bisa dikonsumsi seperti jamur tiram,
jamur kuping dan jamur konsumsi lainnya, hal ini tergantung pada konsumen
bagaimana bisa membedakan antara jamur yang beracun dengan yang bisa
dikonsumsi. Kebanyakan jamur jenis kapang menghasilkan mikotoxin (racun)
yang sangat berbahaya bagi manusia maupun hewan dan berakibat yang
sangat fatal apabila termakan oleh manusia. Contohnya adalah : aflatoxin
(toksin yang dihasilkan oleh Aspergillus flavus/ fumigates), ergotamine,
Patulin, Deoksinivalenol, Zearalenon, Okhratoxin, Sterigmatosistin, Muskarin
dan Phalin.
d. Parasit

Parasit adalah organism sel tunggal (protozoa) maupun multi sel (insect
dan Helmint) yang hidupnya sangat tergantung pada inang (hidup dengan
cara berparasit) dan merugikan inangnya. Parasit hanya dapat menyebabkan
Kesakitan/ Infeksi melalui pangan, tapi tidak menyebabkan keracunan
makanan dan serupa dengan virus , parasit tidak dapat berkembang biak
dalam pangan/ makanan, tapi dapat hidup (selamat) pada lingkungan dan
dapat ditularkan melalui makanan/ pangan. Contoh parasit yang dapat
ditularkan lewat makanan adalah : Giardia Lamblia, Entamoeba histolytica,
Toxoplasma gondii, Criptosporidium, Trchinella spiralis, Taenia saginata,
Taenia solium, dan diphyllobothrium.
2.2 Cryptosporidium sp.
Cryptosporidium sp. parasit yang cukup penting dalam bidang
kedokteran dan kedokteran hewan menyerang sel epitel saluran pencernaan
manusia, saluran empedu dan saluran pernapasan, juga menyerang lebih dari
45 spesies vertebrata termasuk unggas dan burung, ikan, reptil, mamalia kecil
(tikus, kucing, anjing) dan mamalia besar (terutama sapi dan biri-biri)
(Kandun, 2000). Cryptosporidium banyak ditemukan hampir disemua
kelompok sapi bahkan pada letupan neonatal enteritis dengan gejala diare di
Scotland pada tahun 2003 paling tinggi disebabkan eleh cryptosporidia (35%)
(Mason dan Caldow, 2005). Infeksi protozoa usus merupakan masalah
kesehatan masyarakat, yang akhir-akhir ini perhatian terhadap infeksi protozoa
usus meningkat di seluruh dunia. Hal ini disebabkan karena parasit usus yang
dulunya tidak dianggap penting untuk kesehatan manusia, ternyata dapat
menyebabkan penyakit yaitu Cyclospora, Blastocystis hominis, Pneumocystis
carinii dan Cryptosporidium parvum (Fikri, 2013). Cryptosporidium parvum
adalah protozoa yang termasuk dalam divisi Apicomplexa, subclass Coccidia.
Mikroorganisme yang telah ditemukan pada awal abad kedua puluh, oleh
Tyzzer pada 1907, di tentukan sebagai agent patologis dari infeksi
cryptosporidiosis pada tahun1970-an dan pada tahun 1976, telah diidentifikasi
di Johns Hopkins School of Medicine (Tzipori, 2002). Protozoa C. parvum
dikenal sebagai parasit obligat intraseluler dan bersifat sangat patogen, dapat
menginfeksi saluran pencernaan manusia dan hewan mamalia seperti sapi,
kambing, domba, kuda dan lainnya. Secara klinis, infeksinya ditandai diare,
dan dapat kronis pada penderita immunocompromise (Artama, 2005).
Penelitian yang dilakukan di Karangasem Bali, telah teridentifikasi
Cryptosporidium parvum dengan prevalensi kasar sebanyak 37,39% (Artama,
2005). Infeksi Cryptosporidium parvum disebut cryptosporidiosis. Wabah
cryptosporidiosis yang paling dikenal adalah di Milwaukee (Wisconsin) di
tahun 1993, yang menyerang lebih dari 400.000 orang (Sinambela, 2008).
Protozoa ini memiliki ukuran jauh lebih kecil dari pada koksidia dan
memiliki kemampuan untuk melekat pada sel lapisan usus halus dan merusak
mikrovili, akibatnya akan menghambat proses penyerapan. Diare disesabkan
oleh agen protozoa ini biasanya terjadi pada anak sapi umur tujuh sampai 21
hari. Anak sapi neonatal dilaporkan terserang diare akibat infeksi oleh
Cryptosporidium parvum (Trotz et al., 2005). Distribusi geografis parasit ini

tersebar luas (ubiquitos) dengan vertebrata sebagai inang. Parasit keluar


bersama feses dan mencemari lingkungan dalam bentuk ookista. Ookista yang
bersumber dari hewan maupun manusia dapat mengkontaminasi lingkungan
secara berlanjut (Grinberg et al., 2002). Ookista bertahan hidup dalam periode
waktu cukup lama pada lingkungan buruk, dan air minum. Kondisi tersebut
dapat menyebabkan terjadinya infeksi secara endemis. Kejadian infeksi C.
parvum cukup tinggi menginfeksi bayi, dan anak-anak di negara-negara
berkembang (Clinton dan Flanigan, 2003). Penularan parasit ini terutama
terjadi melalui air minum dan makanan yang terkontaminasi ookista yang
infektif. Infeksi terjadi secara langsung melalui feses, dan masuk melalui oral.
Kriptosporidiosis menjadi masalah serius di Amerika Serikat dan beberapa
negara Eropa (Artama, 2005).
Cryptosporidium parvum menginfeksi orang dan berbagai jenis
binatang di seluruh dunia. Infeksi ini diperoleh dengan mencerna parasit di
dalam air atau makanan yang terkontaminasi oleh kotoran manusia atau hewan
dengan bersentuhan dengan tanah, seseorang, atau benda yang telah
terkontaminasi dengan parasit. Infeksi Cryptosporidium parvum disebut
cryptosporidiosis merupakan penyebab yang paling umum pada diare di antara
anak-anak yang tinggal di daerah berkembang dimana sanitasinya buruk. Telur
(oocysts) pada Cryptosporidium sangat kuat dan seringkala terdapat pada
permukaan air di Amerika Serikat. Parasit tersebut tidak bisa dibunuh dengan
pembekuan atau dengan kadar klorin yang biasa di dalam kolam renang atau
air minum. Gejala bisa terjadi dengan tiba-tiba 7 sampai 10 hari setelah infeksi
dan terutama terdiri dari kram perut dan sering, mencret. Mual, muntah,
kehilangan nafsu makan, demam, dan kelemahan bisa terjadi (Fikri, 2013).
Gejala utama pada manusia adalah diare cair yang pada anak-anak
terjadi berulang kali didahului dengan anoreksia dan muntah. Diare diikuti
dengan sakit dan kram pada perut. Gejala utama adalah kram perut dan diare.
Parasit Cryptosporidium parvum menginfeksi orang dan berbagai jenis
binatang di seluruh dunia. Infeksi ini diperoleh dengan mencerna parasit di
dalam air atau makanan yang terkontaminasi oleh kotoran manusia atau hewan
dengan bersentuhan dengan tanah, seseorang, atau benda yang telah
terkontaminasi dengan parasit. Cara penularan melalui rute oral - fekal, yaitu
penularan dari orang ke orang, dari binatang ke orang, melalui air dan
penularan melalui makanan. Parasit menginfeksi sel epitel saluran pencernaan
dan parasit memperbanyak diri mula-mula dengan cara schizogony, diikuti
dengan siklus aseksual dengan membentuk oocyst dan dapat ditemukan pada
feses. Oocyst dapat hidup di lingkungan yang jelek dalam waktu yang lama.
Oocyst sangat resisten terhadap desinfektan kimia yang digunakan untuk
menjernihkan dan disinfeksi air minum. Sekali waktu siklus autoinfeksi bisa
terjadi pada manusia. Masa inkubasi tidak diketahui dengan pasti; kirakira
antara 1 12 hari, dengan rata-rata sekitar 7 hari. Masa penularan melalui
Oocyst pada stadium infeksius yang keluar melalui feses langsung dapat
menular kepada orang lain. Oocyst terus-menerus masih dikeluarkan melalui
feses selama beberapa minggu sesudah tidak ada gejala klinis; diluar tubuh
manusia, oocyst dapat tetap infektif selama 2 6 bulan pada lingkungan yang
lembab (Fikri, 2013).

Penelitian yang dilakukan pada sapi di Bali oleh Artama (2005)


menyebutkan bahwa faktor lingkungan yang endemis dapat mendorong
terjadinya infeksi pada berbagai tingkat umur. Keadaan lingkungan daerah
dataran rendah dan dataran tinggi menyebabkan perkembangan C. Parvum
berbeda. Prevalensi kriptosporidiosis lebih tinggi di daerah dataran tinggi
dibandingkan dataran rendah. Kejadian kriptosporidiosis sangat erat
hubungannya dengan kondisi daerah. Kriptosporidiosis lebih tinggi pada
periode musim dingin daripada musim panas. Daerah dataran tinggi memiliki
kelembaban berkisar 6585%, suhu lingkungan 2432oC. Curah hujan cukup
tinggi pertahunnya mencapai 2801 ml-3785 ml, merupakan kondisi sesuai
untuk berkembang dan menyebarnya C. parvum. Daearah dataran rendah
dengan kelembaban 5565%, suhu lingkungan 2833oC dan curah hujan
pertahunnya berkisar 904 ml-1964 ml merupakan kondisi yang kurang
mendukung perkembangan protozoa karena daerahnya kering dan musim
panas yang lebih lama dibandingkan dengan daerah dataran tinggi. Ookista C.
parvum penyebarannya dipengaruhi pula oleh sifat biologi yang dimiliki.
Ookista cukup tahan pada kondisi lembab. Ookista tahan di lingkungan akibat
morfologi dindingnya cukup tebal, yang menyebabkan tetap tahan di alam
sehingga dikenal dengan hidden spore atau undergroundspore. Ookista sangat
tahan terhadap disinfektan termasuk pengapuran, tetapi dapat mati pada
tempertur 160oF (71oC) melalui pengeringan. Ookista dapat mati bila
diperlakukan dalam keadaan diluar kebiasaan dan berlebihan.
Kriptosporidiosis dapat ditularkan melalui air minum ataupun
makanan yang terkontaminasi oleh ookista. Air permukaan yang diminum
tanpa dimasak seperti air sungai, danau, ataupun menelan air dalam jumlah
sedikit ketika berenang, dan air kolam yang sudah diklorinasi juga dapat
menularkan kriptosporidiosis. Air permukaan dapat tercemar ookista mencapai
97% sedangkan dengan perlakuan penyaringan mencapai 54%, serta dapat
menyebabkan diare mencapai 27,30% (Barbara et al., 2004). Pengelolaan air
permukaan yang dialiri kotoran ternak merupakan salah satu resiko potensial
menyebarkan C. parvum (Sischo et al., 2000). Parasit juga dapat menyebar
melalui makanan yang tidak dimasak, ataupun makanan lainnya yang dicuci
dengan air terkontaminasi ookista. Buah-buahan segar yang tidak tercuci
ataupun sayuran kemungkinan juga mengandung ookista jika lokasi panen
dipergunakan menggembalakan ternaknya (Barbara et al., 2004).
Kriptosporidiosis pada pedet kejadiannya mencapai 92% (Faubert dan
Litvinsky, 2000) dengan menggunakan metode kit komersial
immunoflorescent dan acid fast assay untuk pewarnaan ookista. C. Parvum
umumnya lebih dominan sebagai parasit ternak sapi yang masih muda. Pada
hewan yang lebih dewasa dapat menyebabkan infeksi dengan perkembangan
yang lambat. Kriptosporidiosis pada sapi setelah melahirkan mencapai
47,50%. Hal ini karena sapi dewasa dianggap sebagai reservoar dan dapat
terinfeksi bersifat asimtomatik (Mizic et al., 2002). Daerah peternakan dapat
mencapai 55% (Fonseca et al., 2001). Kejadian pada ternak biri-biri umur
lebih dari 1 tahun prevalensinya 7,80% (Causape et al., 2002). Penderita
kriptosporidiosis manifestasi klinisnya dapat bervariasi sesuai dengan status
kekebalan inang. Gejala infeksi umumnya ditemukan pada wilayah endemik
dan dapat diidentifikasi melalui survey serologis yang dilakukan terhadap

suatu populasi. Pada hewan muda kemungkinan peran sistim kekebalan yang
masih belum sempurna, jika dibandingkan dengan hewan dewasa. Sehingga
infeksi Cryptosporidium pada hewan muda lebih tinggi dibandingkan dengan
hewan dewasa. Pada infeksi eksperimental menggunakan pedet, disamping
didapatkannya IgA di dalam feses, juga didapatkan IgG dan IgM. Pada anak
domba dan pedet, turunnya pengeluaran ookista berhubungan erat dengan
meningkatnya titer fIgA (Sara et al., 2000). Salah satu faktor penyebab
kriptosporidiosis pada pedet adalah adanya kontak langsung dengan lantai
yang sebelumnya sudah tercemar C. parvum yang berasal dari ternak dan
lingkungan tercemar. Kualitas kolostrum yang bermutu jelek juga merupakan
predisposisi terjadinya kriptosporidiosis pada pedet. Penggunaan pupuk
kandang untuk tanaman baik di ladang dan sawah merupakan faktor yang
dapat menyebarkan kejadian kriptosporidiosis pada pedet (Sischo et al., 2000).
Kriptosporidiosis yang terjadi pada hewan dewasa dapat disebabkan karena
adanya autoinfeksi serta sebagai reservoar parasit anthropozoonosis yang
berbahaya bagi manusia serta merupakan zoonotik patogen yang potensial
(Merle et al., 2004), dan memungkinkan terjadinya infeksi berlanjut. Pada
hewan dewasa infeksi nampak tidak begitu menonjol dibandingkan dengan
hewan muda. Hal ini disebabkan adanya peran sistem kekebalan yang telah
terbentuk sehingga kriptosporidiosis dapat terjadi secara asimtomatis yang
bisa mencapai 80% (Melon dan Thomson, 1996; Nizeyi et al., 2002).
Kriptosporidiosis mencapai 93,30% terjadi pada sapi di daerah endemik
positif ookista C. parvum, dan 91% terjadi pada peternakan (Sischo et al.,
2000). Faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi C. Parvum pada
semua tingkat umur adalah akibat tatalaksana peternakan. Perilaku peternak
umumnya menggabungkan ternak mereka pada satu kandang. Selain itu belum
tertanganinya limbah kotoran ternak secara baik, dan belum adanya bak
penampungan untuk menampung kotoran ternak.

BAB III

10

PEMBAHASAN
Program Keamanan Pangan merupakan suatu langkah strategis yang
perlu dilaksanakan secara terpadu untuk memberikan jaminan perlindungan bagi
kesehatan masyarakat. Pengembangan Keamanan Pangan perlu didukung oleh
riset dan teknologi dari berbagai bidang keilmuan dan kebijakan diantaranya
kesehatan (medis), veteriner, pangan, peternakan dan pertanian. Pangan asal
ternak mempunyai hubungan yang erat untuk meningkatkan pembangunan
sumber daya manusia (meningkatkan kualitas) yaitu daya intelektual masyarakat
melalui perbaikan gizi protein hewani. Dengan adanya tuntutan kualitas hidup dan
kehidupan yang semakin baik, maka pembangunan peternakan sebagai sumber
protein tidak hanya dituntut untuk meningkatkan kuantitas pangan tetapi juga
kualitas dan keamanannya. Oleh karena itu, pemerintah Republik Indonesia
mengeluarkan Undang-undang No. 8 tahun 1998 tentang Perlindungan
Konsumen. Untuk memberikan perlindungan terhadap kesehatan masyarakat,
maka diperlukan jaminan keamanan terhadap pangan produk peternakan. Namun
untuk mendapatkan pangan produk peternakan yang aman harus melalui proses
yang panjang mulai dari farm (proses praproduksi) sampai dengan proses
pascaproduksi yang lebih dikenal dengan jaminankeamanan from farm to table
Keamanan pangan asal ternak yang berkaitan dengan proses pascaproduksi lebih
ditekankan kepada pengawasan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet).
Dalam hal ini pengawasan terhadap penanganan (handling), pengangkutan
(transportasi), peredaran (distribusi) dan penyimpanan (storing) produk peternaka.
Disamping itu, pengawasan juga diarahkan untuk melakukan pengujian terhadap
produk ternak yang dihasilkan, yang meliputi kegiatan pemeriksaan kesehatan
bahan pangan asal ternak dan untuk mengetahui kelayakan, kesehatan dan
keamanan bahan pangan tersebut terhadap kesehatan masyarakat.
Telah diketahui bahwa agen kontaminasi protozoa Cryptosporidium
sp. Dapat menyebabkan makanan menjadi tercemar dan menimbulkan kesakitan.
Tidak hanya pada hewan, namun juga pada manusia protozoa ini telah
menyebabkan kasus penyakit yang cukup tinggi. Pencegahan kontaminasi ini
dapat dicegah dengan lebih menjaga kebersihan baik itu kebersihan diri dan
kebersihan lingkungan. Hendaknya masyarakat selalumencuci dengan air yang
bersih pada setiap bahan pangan yang akan diolah. Menjaga sanitasi air juga
sangat penting dalam hal ini. Penularan Cryptosporidium sp. dapat terjadi melalui
air. Air yang kotor sangat berpotensi membawa agen penularan ini. Selain itu,
setiapindividu hendaknya selalu mencuci tagan dengan sabun dan air yang bersih
agar tidak ada agen patogen yang ikut terbawa di tangan yang dapat mencemari
makanan.
Artama (2005) menyebutkan bahwa lingkungan endemis
kriptosaporidiosis dapat mencemari lingkungan yang lainya seperti air sungai.
Penggunaan air sungai untuk memandikan ternak sapi para petani ditemukan
tercemar Cryptosporidium parvum mencapai 100%, dengan tingkat pencemaran
sedang, banyak dan sangat banyak. Dari hasil penelitiannya dapat disarankan
kepada para peternak untuk melaksanakan penangan sanitasi lingkungan kandang
secara lebih intensif di lokasi penelitian, terutama di daerah dataran tinggi.

11

Pencemaran air oleh sejumlah ookista Cryptosporidium parvum diperlukan


langkah-langkah penanggulangan seperti perlunya pembuatan saptik tang untuk
menampung kotoran ternak, dan diupayakan pengeringan kotoran sebelum
dipakai pupuk. Mengingat kriptosporidiosis adalah penyakit zoonotik maka para
peternak perlu diberikan penyuluhan untuk mengetahui dan mencegah
kriptosporidiosis.
Keamanan pangan asal ternak berkaitan erat dengan rantai penyediaan
pangan tersebut. Sedangkan aspek pakan, penyakit, cemaran mikroba,
pengawasan dan kelengkapan sarana/prasarana merupakan beberapa faktor
dominan yang berpengaruh terhadap permasalahan keamanan pangan asal ternak
di Indonesia. Oleh karena itu, penerapan HACCP pada setiap mata rantai proses
penyediaan pangan asal ternak akan dapat menjamin keamanan produk yang
dihasilkan. Perlu digalakkan program sosialisasi/penyuluhan kepada peternak
tentang pentingnya menjaga kesehatan ternak dan dampak yang dapat
ditimbulkan. Tidak hanya kepada para peternak saja, sosialisai/penyuluhan
sebagai himbauan kepada masyarakat sangatlah penting dilakukan agar
masyarakat juga lebih menjaa kebersihan pangan dan lingkungan,sehingga
terwujud masyarakat yang sehat dan pangan yang ASUH.

BAB IV

12

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan ini adalah bahwa
menciptakan produk pangan asal hewan yang aman sangatlah penting.
Perwujudan pangan yang sehat dapat dilakukan oleh pemerintah dibantu oleh
peternak dan masyarakat. Penyuluhan mengenai bahaya cemaran mikroba
seperti Cryptosporidium sp. hendaknya juga diberitahukan kepada
masyarakat agar dapat meminimalisir kejadian foodborne disesae akibat agen
tersebut. Bahaya Cryptosporidium sp.dalam pangan utamanya dapat
menyebabkan diare ringan hingga berat, demam, mual dan muntah, hingga
kematian. Selain itu, sanitasi air menjadi sumber penularan agen tersebut,
sehingga menjaga kebersihan air di sekitar kita harus diperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA

13

Tzipori, S. And H. Ward. 2002. Cryptosporidiosis: Biology, Pathogenesis And


Disease. Microbes And Infections. 4. 10471058.
Mason, C And G. Caldow. 2005. The Control And Management Of Calf Diarrhea
In Beef Herds. Technical Note (Tn) 576. Supporting The Land-Based
Industries For Over A Century (Sac). West Mains Road, Edinburgh Eh9
3jg. Sac Reseives Support From The Scottish Executive Environmrnt
And Rural Affairs Departement.
Trotz-Williams, L.A., B.D. Jarvie, S.W.Martin, K.E. Leslie And A.S.Peregrine.
2005. Prevalence Of Cryptosporidium Parvum Infection In South
Western Ontario And Its Association With Diarrhea In Neonatal
Dairycalves. Can. Vet. J. 46:349-351.
Kandun, I Nyoman. 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular.
Artama, I.K., U. Cahyaningsing Dan E. Sudarnika. 2005. Prevalensi Infeksi
Cryptosporidium Parvum Pada Sapi Bali Di Dataran Rendah Dan
Dataran Tinggi Di Kabupaten Karangasem Bali. Pros. Seminar Teknologi
Peternakan Dan Veteriner. Bogor 12-13 September 2005. Puslitbang
Peternakan, Balitbangtan, Deptan. 926-933.
Fikri, Z. 2013. Identifikasi Cryptosporidium Parvum Penyebab Cryptosporidiosis
Pada Manusia Dari Air Kolam Pemandian, Air Sumur Dan Air Sungai Di
Pulau Lombok Ntb. Media Bina Ilmiah. 7(3) : 46-59
Sinambela, A. H. 2008. Cryptosporidiosis. Fakultas Kedokteran. Universitas
Sumatera Utara.
Clinton, W. And T.P. Flanigan. 2003. Cryptosporidiosis. Current Treatment
Options In Infectious Diseases. 5: 301306.
Grinberg, A. Marcovics, J. Galindez, N. Lopezvillalobos, A. Kozak And V.M.
Tranquino. 2002. Controlling The Onset Of Natural Cryptosporidiosis In
Calves With Paromomycin Sulphate. Veterinary Record. 151: 606608.
Barbara, K., S. Darling And A. Lemley. 2004. Cryptosporidium; A Waterborne
Pathogen. Usda Water Quality Program, Cornell University Cooperative
Extension.
Sischo, W.M, E.R. Atwill, Le Lanyon And J. George. 2000. Cryptosporidia On
Dairy Farms And The Role These Farms May Have In Contaminating
Surface Water Supplies In Th Northeastern United States. Preventive Vet.
Med. 43: 253267.
Causape, A.C., J. Quilez, C. Sanchez-Acedo, Cacho, E. Del And Lopez-Bernad, F.
2002. Prevalence And Analisis Of Potential Risk Factors For
Cryptosporidium Parvum Infection In Lambs In Zagaroza (Northeastern
Spain). Vet. Parasitol. 104(4): 287298.
Misic, Z., S. Katic-Radovojevic And Z. Kulisic. 2002. Cryptosporidium Infection
In Weaners, Bull Calves And Postparturient Cows In The Belgrade Area.
Acta Veterinaria (Beograd). 52(1): 3441. Nizeyi, J.B., M.R.
Cranfield And T.K. Graczyk. 2002. Cattle Near The Bwindi Impenetrable
National Park, Uganda, As A Reservoir Of Cryptosporidium Parvum And
Giardia Duodenalis For Local Community And Freeranging Gorillas.
Parasitol. Res. 88(4): 380385.

14

Faubert, G.M. And Litvinsky. 2000. Natural Transmission Of Cryptosporidium


Parvum Between Dams And Calves On A Dairy Farm. J. Parasitol. 86(3):
495500.
Fonseca, I. P.D.A., I. Facendro And F. Antunes. 2002. Genetic Characterizations
Of Cryptosporidium Parvum Isolates From Cattle In Portugal: Animal
And Human Implications. J. Eukaryotic Microbiol. Portugal.
Merle, E.O., R.M. Ohandley, B.J. Ralston, T.A. Mcallister And R.C.A. Thomson.
2004. Update On Cryptosporidium And Giardia Infections In Cattle.
Trends In Parasitology. 20(4): 188191.
Sara, M.D., P.C. Okhuysen, B.M. Salameh, H.L. Dupont And C.L. Chappell.
2000. Fecal Antibodies To Cryptosporidium Parvum In Healthy
Volunteers. Infection And Immunity. 68(9): 50685074.
Bahri, S., Y. Sani., dan Indraningsih. 2006. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi
Keamanan Pangan Asal Ternak Di Indonesia. Wartazoa. 16 (1) : 1-13.

15