Anda di halaman 1dari 9

1.

Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang di gunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
a. Alat
Ember
Gelas Ukur
Gayung
Masker
Sarung Tangan Karet
b. Bahan
Air
5 Liter Cairan Developer untuk bentuk cair
5 Liter Cairan Fixer untuk bentuk cair
2. Pendahuluan
Dalam suatu proses radiografi prosessing room atau kamar gelap merupakan salah
satu pendukung yang penting dalam menunjang keberhasilan suatu proses pemotretan . Hal
ini disebabkan karena processing room kita dapat mengubah film dari bayangan laten
kedalam bayangan tampak. Processing room disebut juga final proses akhir karena processing
room merupakan rangkaian yang terakhir dalam suatu proses radiografi . Pengertian
Processing Room atau Kamar Gelap adalah suatu area atau tempat dilakukan pengolahan film
sebelum dan sesudah di expose ( dari bayangan laten menjadi bayangan tetap ). Ada beberapa
a.

jenis prosesing diantaranya :


Manual Prosessing
Manual Prosessing yakni dalam prosesnya menggunakan tenaga manusia secara langsung
melalui beberapa proses yaitu developing (pembangkitan), Rinsing (pembilasan), Fixing

(penetapan), Washing (pencucian), Drying (pengeringan)


b. Automatic Prosessing
Dalam prosessing automatic hampir sama dengan processing manual hanya perbedaannya
pada prosesnya tidak mengalami proses rinsing ( pembilasan ), serta dalam proses ini
menggunakan tenaga mesin .

Dalam proses pengolahan film, baik yang secara Automatic ataupun secara Manual tetap
membutuhkan beberapa bahan atau cairan kimia yang penggunanannya bertujuan untuk
mengubah bayangan laten menjadi bayangan nyata. Adapun bahan-bahan kimia tersebut
yakni cairan Devoloper dan cairan fixer. Di mana nantinya cairan developer ini akan
mengubah kristal-kristal perak bromida yang terpapar sinar X dan mengandung atom-atom
silver netral pada latent image sites menjadi butiran-butiran padat silver metalik (Gb C).
sedangkan cairan fixer berfungsi untuk melarutkan kristal perak Bromida yang tidak terpapar
sinar X dan tidak terproses oleh developer, sehingga menyisakan butir-butir silver metalik
padat saja. (Gb D)
Ket : a. Gambar C adalah film yang telah di masukkan kedalam cairan developer
sedangakan gambar d adalah film yang sebelumnya sudah di masukkan
kedalam cairan devoloper kemudian dimasukkan lagi kedalam cairan fixer.
A. Developing
Developing merupakan proses mengubah Kristal-kristal Silver Bromida yang terpapar
oleh sinar-x dan mengandung atom-atom Silver Netral pada latent image sites menjadi
butiran-butiran silver metalik, Proses developing dilakukan dengan cara memasukkan dan
menggoncangkan film dalam larutan developer selama 5-10 detik, sampai terbentuk
bayangan putih. Larutan developer inilah yang nantinya berfugsi membangkitkan bayangan
latent menjadi bayangan nyata dengan cara mereduksi AgBr yang terkena sinar menjadi perak

metalik. Menurut penggunannya, cairan developer di bagi menjadi 3 jenis yakni Developer
untuk Manual Prosessing, Developer untuk Automatic Prosessing serta Developer untuk
Rapid Prosessing ( untuk di Kamar Operasi) atau untuk film gigi. Suhu developer di harapkan
pada suhu 18o-20o C (Ball and Price 1990). Adapun penggunaan larutan developer dalam suhu
dan waktu dapat dilihat dalam tabel berikut :
SUHU
Fahrenhed (F)
Celcius (C)
60
62
64
66
68
20
70
72
74
76

WAKTU
Menit
7
6
5.5
4.5
4
3.5
3
2.25
2.5

Dalam proses developer ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembangkitan,
yakni suhu cairan, agitasi dan derajat kelemahan developer. Larutan developer memiliki
beberapa kandungan yang ada di dalamnya, diantranya :
1. Developing Agent
Developing agent Bersifat basa lemah dan Bahan-bahan yang dapat berfungsi developing
agent/reducing agent adalah :
- Sodium hydrosulphite
- Hydrogen peroxida
- Forenal dehida
2. Activator/Accelerator
Bahan pengaktif terhadap bahan pembangkit, bahan ini digunakan karena developer
hanya akan aktif pada pH basa saja. Bahan yang biasa digunakan adalah Na 2Co3 (manual)
karena sifatnya yang dapat bereaksi dengan air sehingga menghasilkan Na2 OH sebagai
cadangan, bentuk reaksinya
Na2 Co3 + H2O NaHCO2 + NaOH
NaOH disini berfungsi untuk menetralisir asam sebagai hasil reaksi oleh bahan
developer. Kemudian bahan yang selanjutnya adalah NaOH (automatic) Merupakan larutan
basa kuat yang sangat mudah menarik CO2 dari udara Na 2CO3
NaOH + CO2 + H2O
Maka harus disimpan dalam wadah tertutup rapat karena mudah rusak yang berakibat
memperpendek umur larutan developer.
3. Preservative (Antioxidant)

Biasanya berupa Sodium Sulfite/Natrium Sulfite yang berfungsi untuk mengurangi atau
menangkal pengaruh oksidasi dari udara terhadap bahan pembangkit dan Membentuk bahan
pereduksi baru.
4. Restrainer
Biasanya dari Potassium Bromide yang berfungsi untuk memperthankan Kristal-kristal
siver halide yang tidak terpapar oleh sinar-X dari proses developing.
B. Rinsing
Rinsing merupakan proses pembilasan dengan menggunakan air mengalir selama 2030
detik yang bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa larutan developer, menghilangkan
activator alkali serta mencegah netralisasi asam fixer. Proses rinsing di lakukan secara
manual tetapi tidak dilaksanakan pada proses otomatis (aoutomatic). Terdapat dua cara
rinsing yaitu dengan :
1.

Plain rinse bath ( dengan air , sebaiknya dengan air mengalir, jika dengan air diam harus
sering diganti karena sudah banyak mengandung larutan developer dan itu akan menghambat

proses penghilangan sisa cairan developer.


2. Acid Stop Bath ( dengan larutan asam asetat 3% ).
C. Fixing
Proses fising di lakukan bertujuan untuk melarutkan dan menghilangkan kristal silver
halide dari emulsi film, Menghentikan proses pembangkitan sehingga tidak ada lagi proses
perubahan bayangan pada film serta Menyamak emulsi agar tidak mudah rusak. Proses fixing
dilakukan dengan cara memasukkan film dalam larutan fixer selama 10 menit dan
menggoncangkan film setiap 5-30 detik untuk mencegah terbentuknya gelembung udara
sampai terbentuk bayangan gigi dan jaringan sekitarnya. Dalam proses fixing ada eberapa
faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas fixer yakni kandungan larutan fixer, suhu
fixer dan waktu fixer. Larutan fixer memiliki beberapa kandungan di dalamnya, diantanya :
1. Clearing Agent
Mengubah atau melarutkan butiran Kristal perak bromide (AgBr) yang tidak terekspose
pada saat penyinaran menjadi komponen yang larut dalam air. Adapun sifat bahannya adalah
Bereaksi dengan perak halogen dan membentuk komponen yang larut dalam air, tidak
merusak gelatin serta tidak memberi pengaruh/efek terhadap gas yang terbentuk. Bahan yang
biasa digunakan seperti Ammonium thiosulfate (NH4)2 S2 O3 serta Sodium Thiosulfat Na2S2O3
.
2. Acidifier

pH asam diperlukan untuk memungkinkan difusi thiosulfate kedalam emulsi film dan
kompleks silver thiosulfate keluar dari emulsi film. Kondisi larutan fixer yang asam akan
meng-inaktifasi developing agent yang terbawa dalam emulsi film.
3. Preservative
Meskipun bahan yang digunakan sebagai accelerator adalah acid lemah namun tetap
terjadi decomposisi hypo dan penglepasan unsur S, untuk mencegah digunakannya unsur
sulfit sebagai stabilisator. Pada fixer untuk stabilisator /preservative adalah pasangan acetic
acid dan selfit sebagai alternatif sering digunakan bahan yang dapat berfungsi keduanya.
Sebagai acidifisasi dan stabilisator yaitu Sodium Meta Sulfit (NaHSO3) dan Potassium Meta
Sulfit (KHSO3)
4. Hardener
Berfungsi untuk mengeraskan emulsi yang mengalami pembengkakan. Bahan-bahanya :
Chrom potassium alum Sangat efektif pada larutan yang masih segar, aksi penyamakan cepat
turun meskipun fikser tidak digunakan, bekerja efektif dibawah pH 4,7 yaitu 3,5-4,7. Cocok

digunakan untuk fikser yang siap pakai.


Potassium allum Tahan lama, bekerja efektif pada pH 4,5-4,9 dan masih aktif pada pH 5,5
Jika digunakan nilai pH 5,5 dapat terjadi endapan aluminium hydroksida dengan potassium

alum yang kelihatan putih pada film


Aluminium chloride Daya penyamaknya sangat singkat Biasanya di kombinasikan dengan
ammonium thiosulfate.

D. Washing
Merupakan proses pencucian film dengan air sampai bau asam dari larutan fixer
menghilang Tujuannya yakni menghilangkan bahan bahan kimia selama proses fixing,
antara lain Argento thiosulfat, sisa-sisa sodium thiosulfat dan bahan lain yang semuanya
mudah larut di air. Sebaiknya dengan air mengalir dengan suhu tidak melebihi 25 C. Jika
lebih akan merusak gelatin. Waktu ideal 10 menit di air mengalir (Jenkins, 1980), waktu yang
terlau singkat menyebabkan masih banyak sisa-cairan kimia yang terbawa di film
menyebabkan fim mudah rusak. Proses washing yang tidak baik dapat menyebabkan
discolorisasi dan menyebabkan stains (kotoran/noda) pada film yang dapan mengurangi
keakuratan informasi diagnostik.
E. Drying
Tujuan di lakukannya proses drying yakni Agar mudah dibawa dan disimpan, mengurangi
kandungan air dalam film. Hal ini akan membuat emulsi lebih kuat dan mudah untuk

dipegang serta menjaga visualisasi Image dengan cara membatasi efek radiasi dan refleksi
yang disebabkan adanya air yang ada dipermukaan emulsi. suhu pengeringan sebaiknya 3040 C dengan kelembaban yang rendah yakni 60%.
F. Viewing
Tahap akhir adalah viewing, dengan menggunakan illuminator (viewing box). Hasil akhir
dalam bentuk negatif image.
3. Metode
A.
1.
2.
3.
4.

Pembuatan larutan developer yang cair melalui beberapa langkah, diantaranya :


Siapkan alat dan bahan
Gunakan masker dan sarung tangan karet terlebih dahulu untuk keselamatan
Isilah tangki developer dengan air sebanyak 20 liter
Masukkan 5 liter cairan developer kedalam air yang sudah di isi ditangki developer, aduk

B.
1.
2.
3.
4.
5.
C.
1.
2.
3.
4.

hingga merata dan kemudian warnanya akan berubah


Pembuatan larutan developer yang bubuk melalui beberapa langkah, diantaranya :
Siapkan alat dan bahan
Gunakan masker dan sarung tangan karet terlebih dahulu untuk keselamatan
Siapkan air dengan suhu 50 sebanyak 75% bagian tanki developer
masukkan bahan Reducing agent aduk sampai semua bahan larut
masukkan bahan lainnya aduk rata, masukkan air sampai tanki penuh
pembuatan larutan fixer yang cair melalui beberapa langkah, diantaranya :
siapkan alat dan bahan
gunakan masker dan sarung tangan karet terlebih dahulu untuk keselamatan
isilah tangki fixer dengan air sebanyak 20 liter
masukkan 5 liter cairan fixer kedalam air yang sudah diisi di tangki fixer, aduk hingga

merata, namun cairan fixer ini tidak akan mengalami perubahan warna.
D. Pembuatan larutan fixer yang bubuk melalui beberapa langkah, diantaranya :
1. Siapkan alat dan bahan
2. Gunakan masker dan sarung tangan karet terlebih dahulu untuk keselamatan
3.
4. Pertanyaan
1. Fungsi dari developer dan fixer ?
Jawab :
Fungsi utama dari developer ialah mengubah kristal silver halide yg telah terpapar sinar X
menjadi butiran silver metal sedangkan fungsi utama dari fixer ialah melarutkan dan
menghilangkan kristal silver halide dari emulsi film, Menghentikan proses pembangkitan
sehingga tidak ada lagi proses perubahan bayangan pada film serta Menyamak emulsi agar
tidak mudah rusak.
2. Kemampuan developer dan fixer ?
Jawab:

3. Proses terbentuknya bayangan pada radiograf ?


Jawab :
1.

Sebelum paparan, banyak kristal silver bromida terdapat

dalam emulsi (Gb.A)


2.

Setelah paparan, kristal-kristal yang terpapar sinar X

mengandung atom-atom silver netral pada latent image sites (area yang diarsir pd Gb.B ).

3.

Ketika film sudah terpapar sinar-X , maka selanjutnya

film akan dimasukkan ke dalam larutan developer kemudian digoncang selama 5-10 detik,
yang kemudian nantinya Kristal-kristal yang terpapar pada latent image sites akan diubah
menjadi butiran-butiran padat silver metalik oleh larutan developer (Gb.C)
4.

Setelah film melalui tahapan developing, maka selanjutnya film akan di bilas dengan air
selama 2030 detik yang bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa larutan developer,
menghilangkan activator alkali serta mencegah netralisasi asam fixer.

5.

Film yang sudah di bilas akan di masukkan ke dalam

larutan fixer selama 10 menit dan setiap 5-30 detik film digoncangkan untuk mencegah
terjadinya gelembung udara. Setelah 10 menit maka pada proses ini akan menyisakan
butiran-butiran silver metalik saja karena Kristal-kristal silver bromide yang tidak terpapar
sinar-X dan terproses oleh developer akan dilarutkan oleh larutan fixer (Gb.D). pada akhir
proses inilah nantinya akan di lihat bentuk dari bayangan pada film radiograf.
6.

Setelah film melalui proses fixing, maka film akan di cuci dengan air kembali, hal ini
dilakukan untuk menghilangkan bahan bahan kimia selama proses fixing, antara lain
Argento thiosulfat, sisa-sisa sodium thiosulfat dan bahan lain yang semuanya mudah larut di
air serta menghilangkan bau asam dari larutan fixer tersebut. Sebaiknya dengan air mengalir
dengan suhu tidak melebihi 25 C. Jika lebih akan merusak gelatin. Waktu ideal 10 menit di

air mengalir.
7. Selanjutnya film di keringkan pada suhu kira-kira 30-40 C dengan kelembaban yang rendah
yakni 60%. Setelah film kering maka prossing film radiografi selesai dan siap di tampilkan
pada viewing box untuk menegakkan diagnose.
5. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat di ambil dari praktikum pembuatan larutan developer dan fixer ini
adalah :
1. Larutan developer bersifat basa , sedangkan larutan fixer bersifat asam.

2. Larutan developer berwarna , sedangkan larutan fixer bening.


3. Larutan developer berbau basa karena itu menunjukan sifat larutannya, sedangkan larutan
fixer berbau asam karena itu menunjukkan sifat larutannya.
4. Larutan developer saat disentuh oleh tangan terasa licin akan lebih terasa licin lagi apabila
5.

dicelupkan ke dalam air, sedangkan larutan fixer saat disentuh oleh tangan terasa kesat.
Larutan developer dapat menghitamkan film (radio opac), sedankan larutan fixer dapat
melarutkan AgBr yang tidak terkena eksposi sehingga menjadi radio loosen.

Anda mungkin juga menyukai