Anda di halaman 1dari 15

INTERPRETASI KUALITATIF ATRIBUT DAN INVERSI SEISMIK UNTUK ANALISA POTENSI

HIDROKARBON PADA LAPANGAN F3


Nomensen Sitorus 3713100020, Fadlillah Nur R 3713100022, Adib Banuboro 3713100024
Albert Leonardo S 3713100025
Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, ITS
Dosen Pengampu: Firman Syaifuddin, MT
Mata Kuliah: Interpretasi Data Seismik

Abstrak
Lapangan F3 terletak di sebelah selatan dari Laut Utara Belanda yang mempunyai potensi
hidrokarbon. Pada studi ini kami menganalisis dan menginterpretasi atribut seismik sebagai Direct
Hydrocarbon Indicator (DHI) di lapangan F3. Atribut yang kami gunakan merupakan atribut
sebagai identifikasi amplitude brightspot. Atribut yang kami gunakan antara lain RMS average,
raw amplitude, instantaneous phase, variance, dan amplitude envelope. Zona yang kami anggap
interest adalah zona dengan horizon FS8 sampai dengan MFS4. Atribut yang kami gunakan akan
sangat berguna untuk mengidentifikasi reservoir sebagai DHI pada lapangan F3.
Keywords: Lapangan F3, Atribut Seismik, Potensi Hidrokarbon
1. PENDAHULUAN
Lapangan F3 adalah sebuah blok di sektor
Laut Utara bagian selatan Belanda. Pada

Gambar 1.1. Lokasi sumur F3 di Laut Utara


bagian selatan Belanda

lapangan ini telah dilakukan akuisisi seismic


3D untuk eksplorasi minyak dan gas yang
terbentuk antara zaman Jurassic sampai
Cretaceous. Pada penelitian ini digunakan
atribut seismic antara lain RMS average, raw
amplitude, instantaneous phase, variance,
dan amplitude envelope. Sehingga dengan
atribut seismic tersebut dapat membantu
dalam memetakan distribusi reservoar pada
lapangan F3.

Gambar 1.2. Peta area studi Lapangan F3

2. TEORI
2.1. Geological

Setting

Laut

Utara

Bagian Selatan Belanda


Cekungan sedimen di Southern North
Sea dapat dilihat sebagai sebuah cekungan
yang didominasi oleh rifting dari zaman
Mesozoic

dengan

fase

post-rift

sag

Kenozoikum. Rifting sudah dimulai pada


zaman Trias, dan memuncak dalam zaman
Jurassic dan zaman Kapur Awal dengan
berbagai
Kimmerian

fase

tektonik

yang

ekstensional

berkaitan

dengan

terbentuknya Samudra Atlantik. Rifting aktif


yang terjadi diikuti oleh fase post-rift sag
dari zaman Kapur Akhir sampai saat ini,
yang sebagian besar ditandai dengan
ketenangan tektonik dan penurunan dari
cekungan, dengan pengecualian beberapa
pergerakan kompresial tektonik selama era

Gambar 2.1. Gambaran umum dari unsur-unsur

Kapur Akhir dan Tersier. Selama fase post-

tektonik Belanda Utara

rift,

sebagian

besar

cekungan

mengakumulasi lapisan tebal sedimen


dalam bagian yang sangat besar.
Dalam cekungan sedimen ini batuan
sumber hidrokarbon yang paling menonjol
adalah Westphalian c oalbeds untuk gas,
dan serpih Lower Jurassic Posidonia untuk
minyak.

Dorongan

terakhir

tektonik

regional yang signifikan terjadi selama MidMiosen,

sehingga

membentuk

ketidakselarasan Mid-Miosen. Permukaan


ini sekarang terkubur di kedalaman yang
berkisar dari sekitar 1000 - 1500 m.

Gambar 2.2. Generalized geologi lintasbagian di Laut Utara Inggris

Gambar 2.3. Schematic diagram of the 4 sequences with key lithostratigraphic units of the northern Dutch
offshore

Perkembangan North Sea bagian Selatan


dimulai

dari

jaman

Silurian

(Caledonian

Unconformity), 420-410 juta tahun yang lalu,


Late Carboniferous (Variscan Unconformity)
sekitar 300-290 juta tahun yang lalu, kemudian
Late

Jurassic

(Cimmerian

Unconformity)

sekitar 160-140 juta tahun yang lalu, Late


Cretaceous sekitar 97-66 juta tahun yang lalu
dan beberapa waktu selama the mid-Cenozoic
(Cameron et al.1992).

3. METODOLOGI PENELITIAN
Dalam interpretasi ini digunakan data yang
di download melalui website opendtect sumur

Inversi Maximum Sparse Spike

F3 Belanda. Kemudian di olah menggunakan


software HRS 8 dan Petrel 2014 untuk
mendapatkan Depth Structure Map untuk
menganalisa potensi HC di lapangan F3.
Dilakukan inversi Maksimum Sparse Spike
terlebih dahulu.
Gambar 3.1. Alur kerja penelitian sumur F3

4. DATA DAN PEMBAHASAN


4.1 Well Tie
Well seismic tie adalah proses yang
sangat penting dalam pengolahan data
seismic untuk menentukan potensi HC pada
suatu daerah. Domain sumur yang berupa
kedalaman dirubah dlam waktu sehingga
dapat diketahui posisi pada data seismic.
Untuk mengubah domain kedalaman
menjadi
domain
waktu
dengan
menggunakan koreksi checkshot yang
dilakukan di Strata HRS. Ketika data sumur
diubah domain kedalaman menjadi domain
waktu diperlukan data seismik sintetik.
Seismik sintetik ditunjukkan oleh gambar 4.1.

Gambar 4.1. Seismik Sintetik F3

Kemudian dilakukan scan data untuk


mendapatkan phase shift sebelum proses
welltie dimulai. Dengan cara rotasi di tiap
sumur dan diambil rata-ratanya. Pada sumur
F02-1 didapatkan -35, sumur F03-2
didapatkan 152, sumur F03-4 didapatkan 162 dan sumur F06-1 didapatkan -157.
Dalam penelitian ini didapatkan phase shift
sebesar 50. Angka tersebut kemudian
dimasukkan dalam seismik sintetik dengan
memilih menu bar Process, kemudian Utility
dan pilih phase shift sehingga tampilan
seperti gambar di bawah ini.

Gambar 4.2. Phase shift 50

Pada menu E-log HRS, dilakukan korelasi


data sumur dengan masing masing sumur
mendapatkan nilai korelasi yang ditunjukkan
oleh tabel 4.1. Dimana apabila nilai korelasi
mendekati 1, maka data seismik mendekati
keadaan sebenarnya. Namun dengan nilai
korelasi >0,5 data seismik sudah relative
bagus. Seperti ditunjukkan pada gambar
dibawah ini.
Digunakan wavelet tipe bandpass
dengan pilih Wavelet lalu New Bandpass
Wavelet Menu. Dimasukkan low cut senilai 5,
dan low pass senilai 20, high pass senilai 70,
high cut senilai 85. Dimasukkan nilai
wavelength 81 ms.
Tabel 4.1. Korelasi Sumur F3
Sumur
F02-01
F03-02
F03-04
F06-01

Korelasi
0,411
0,498
0,530
0,574

Setelah well tie sumur yang diolah menggunakan HRS, kemudian di masukkan data sumur ke
dalam software Petrel untuk didapatkan Depth Structure Map.

Gambar 4.3. Wavelet Bandpass

(a)

(c)

(b)

(d)

(e)

(f)

Gambar 4.4. Tampilan data sumur F3 di software HRS. (a) sumur F02-1, (b) sumur F03-2, (c) sumur F03-4, (d)
sumur F06-1 setelah dilakukan checkshot dan well tie. Sebelum dilakukan korelasi di koreksi checkshot dan
di masukkan phase shift untuk well tie. (e) proses koreksi checkshot dipilih tipe interpolasi Spline.

4.2 Picking Horizon

4.3.2 Raw Amplitude

Picking horizon dilakukan dengan HRS. Pada


data sintetik terdapat 7 horizon namun pada
sintetik data dipilih horizon yang masuk target
menurut kelompok kami. Horizon dipilih
rentang FS8 sampai dengan MFS4. Karena
dilihat dari nilai gamma ray, porositas, dan P
impedance menunjukkan karakter reservoir
yang baik.

Dalam gelombang seismik, amplitudo


menggambarkan jumlah energi dalam domain
waktu. Atribut amplitudo yang digunakan
dalam penelitian ini adalah adalah amplitudo
rms. Amplitudo rms merupakan akar dari
jumlah energi dalam domain waktu. Berikut ini
adalah hasil Raw Amplitude pada daerah
target (FS8 MFS4).

4.3 Atribut Seismik


4.3.1 RMS Average
Digunakan untuk meratakan nilai atribut yang
digunakan. Misal digunakan atribut amplitudo
bararti merata-ratakan nilai amplitudo di
sebaran zona.

Gambar 4.5. Hasil Raw Amplitude

4.3.3 Instantaneous Phase

menentukan batas aliran reservoar. Berikut ini


adalah hasil dari instantaneous phase dengan
RMS Average pada FS8 MFS 4. Digunakan
untuk identifikasi patahan pada Xline 775.

Instantaneous phase: fase yang diekstrak


sepanjang sand horizon untuk menentukan
ketidakmenerusan atau patahan dengan

Fault

Gambar 4.6. Hasil Instantaneous Phase menggunakan HRS 8

Gambar 4.7. Hasil Instantaneous Phase menggunakan Petrel 2014

4.3.4 Amplitude Envelope


Envelope merepresentasikan total energi
sesaat (instantaneous), nilai ampitudonya
bervariasi antara nol sampai amplitude
maksimum
tras
seismik.
Envelope
berhubungan langsung dengan kontras
impedansi akustik yang bermanfaat untuk
melihat kontras impedansi akustik, bright spot,
akumulasi gas, batas sekuen, efek ketebalan
tuning, ketidakselarasan, perubahan lithologi,
perubahan lingkungan pengendapan, sesar,
porositas, dan lain lain.
Gambar 4.8. Hasil Amplitude Envelope

4.4 Log Analysis


Pada gambar 4.1. merupakan gambar
crossplot hubungan antara porositas dan P
impedance dengan data berdasarkan gamma
ray dari sumur F03-2. Dan gambar 4.2. adalah
gambar crossplot hubungan antara porositas
dan P impedance dari sumur F02-1. Untuk
sumur F03-4 dan sumur F06-1 hasil
crossplotnya tidak terbaca karena persebaran

tidak terlihat. Dari crossplot tersebut


didapatkan titik-titik persebaran nilai dari
porositas dan p-impedance. Warna hijau
menunjukkan nilai Gamma Ray yang semakin
kecil sementara warna ungu nilai GR yang
semakin besar. Tujuan dilakukannya crossplot
ini adalah untuk mendapatkan determinasi
kandungan shale pada setiap lapisan.

Gambar 4.9. Crossplot Porositas Vs P Impedance sumur F03-2

Gambar 4.10. Crossplot Porositas Vs P Impedance sumur F02-1

4.5. Inversi Analysis


4.5.1 Post Stack Inversion Analysis
Dalam hal ini, model yang muncul
merupakan hasil dari ke empat sumur, pada
pembuatan Build Strata model sumber
amplitudo data merupakan data dari well
logs, data yang digunakan diantaranya p-

wave, density dan p-impedance dengan high


cut frequency 10/15Hz. Lihat gambar 4.11.
Pada analisa inversi ini, p-impedance
yang digunakan merupakan hasil dari build
model yang telah dibuat, dengan processing
time 4 1848, dengan processing sample
rate 4 ms. Untuk analisa nya sendiri dapat
dilihat nilai korelasi untuk setiap well. Pada

kasus ini, nilai korelasi yang didapatkan


sekitar 0,9 dimana terdapat kecocokan
dengan top yang sudah dimarker. Setelah itu
dapat dilakukan inversi. Inversi dilakukan
pada horison target sekitar FS8 MFS4
dengan nilai amplitudo yang konstan.
Number of spike : 462, dengan spike

detection threshold 10%. Nilai Maximum


Impedance Change yang digunakan adalah
single value dengan iterasi sebanyak 5 kali.
Inversi dilakukan dengan tipe single-trace.
Untuk nilai P Impedance pada daerah target
sekitar 4500 (m/s)*(g/cc).

Gambar 4.11. Maximum likelihood sparse spike

4.5.2 Maximum Sparse Spike Inversion

Gambar 4.12. Maximum Sparse Spike Inversion

4.6 Depth Structure Map


Konversi kedalaman adalah salah satu
tahap yang penting dalam melakukan
interpretasi. Karena tanpa melakukan
konversi ini maka tidak akan dapat
memetakan kontur struktur berdasarkan
kedalaman. Untuk memperoleh gambaran
mengenai bawah permukaan, diperlukan
peta struktur kedalaman. Untuk membuat
peta struktur kedalaman adalah dengan
membuat peta struktur waktu. Pembuatan
peta struktur waktu dilakukan dengan
mengekstrapolasi hasil dari penarikan
horizon dan patahan (seismic picking).
Peta struktur kedalaman dibuat
dengan perkalian antara peta struktur waktu
dengan peta kecepatan interval. Pembuatan
peta kecepatan interval dilakukan dengan
menganalisa kecepatan terlebih dahulu.

Peta kecepatan interval yang telah dihasilkan


dari ekstrapolasi tersebut dikalikan dengan
peta struktur waktu sehingga menghasilkan
peta struktur kedalaman. Untuk melihat
seberapa akurat peta struktur kedalaman
yang telah dihasilkan, dilakukanlah analisis
residu yang mununjukan selisih kedalaman
batas-batas formasi pada sumur dengan
kedalaman batas-batas formasi pada peta
kontur struktur kedalaman. Berdasarkan hasil
analisis ini diperoleh selisih rata-rata antara
batas-batas formasi pada sumur dengan
batas-batas formasi pada peta struktur
kedalaman.
Apabila
memiliki
selisih
kedalaman yang cukup berarti, maka
seharusnya dilakukan pengurangan atau
penambahan ketinggian datum pada peta
struktur kedalaman sesuai dengan selisih
yang diperoleh.

Gambar 4.13. Hasil Depth Structure Map (Lampiran)

Peta struktur kedalaman diperoleh


dari perhitungan data time structure
map.Peta ini menghitung kedalaman struktur
dari data di picking horizon.Metode yang
digunakan adalah perhitungan dengan
pendekatan rumus persamaan garis lurus
yang digunakan pada perangkat lunak
petrel.Perlapisan yang dianalisa dilakukan
pada
formasi
FS6,FS7,FS8,MFS4,Top
Forsets,dan Truncantion.Hal ini dilakukan
karena ingin melihat pengaruh struktur di
sekitar daerah prospek yang telah ditentukan
dengan data sumur pada rentang horizon
FS8 hingga MFS4.Nilai biru hingga ungu
menunjukkan semakin tinggi sebuah struktur
sedangkan nilai biru hingga oranye
menunjukkan nilai yang rendah.Hasil depth
structure map akan menunjukkan daerah
yang memiliki tinggian dan rendahan
sehingga dapat di interpretasikan pada
setiap lapisan ditunjukkan pada gambar
dibawah ini.

amplitudo yang tinggi dan memberikan efek


fenomena
seismik
brightspot
(Brown,2002).Atribut ini akan memberikan
kenampakan Bright Spot atau Dim Spot pada
data seismik.Bright Spot menunjukkan nilai
amplitudo yang tinggi sedangkan Dim Spot
menunjukkan adanya nilai amplitudo yang
rendah.Keberadaan hidrokarbon berasosiasi
dengan
kenaikan
nilai
amplitudo
(Tangkalalo,1999).
Untuk analisa direct hidrocarbon
indicator digunakan penampang seismik
pada area inline data seismik.Rentang yang
digunakan disesuaikan dengan lokasi sumur
yaitu pada.

No
1
2
3
4

Sumur
F02-1
F03-2
F03-4
F06-1

Inline
362
722
442
244

4.7. Direct HC Indicator


Direct
Hidrocarbon
Indicator
digunakan untuk mengetahui indikasi
keberadaan fluida hidrokarbon secara
kualitatif.Salah satu metode yang digunakan
yaitu bekerja
berdasarkan kenampakan
amplitudo pada data seismik. Salah satu Cara
yang
digunakan
adalah
dengan
menggunakan atribute seismik jenis RMS
Amplitude (Road Mean Square).Dimana
lapisan yang memiliki densitas besar karena
ruang pori pada reservoir terisi oleh fluida
hidrokarbon akan menunjukkan anomali nilai

Daerah prospek yang digunakan


pada dalam analisa telah ditentukan
berdasarkan analisa data sumur untuk target
zona reservoir,yaitu dalam rentang sekitar
800 ms 1043 ms.Jika di lihat berdasarkan
formasi ,daerah yang menjadi zona prospek
terletak antara top formasi FS8 hingga
MFS4.Top formasi FS8 ditandai dengan garis
putus putus berwarna hijau muda sedangkan
top formasi MFS4 ditandai dengan garis
putus berwarna oranye.Berikut merupakan
hasil kenampakan amplitudo RMS pada
setiap inline seismik yang terdapat sumur

Inline 332 | Sumur F02-1

Pada lintasan ini , indikasi hidrokarbon terletak pada xline 700 930 pada FS8 dan 939 1097
antara FS8 hingga MFS4 yang menunjukkan adanya kecerahan kontras pada data seismik yang di
indikasikan adanya hidrokarbon.

Inline 442 | Sumur F03-2

Pada lintasan ini , indikasi hidrokarbon terletak pada xline 859 939 yang menunjukkan adanya
kecerahan kontras pada data seismik yang di indikasikan adanya hidrokarbon pada lapisan top
FS8 .

Inline 442 | Sumur F03-2

Pada lintasan ini , indikasi hidrokarbon terletak pada xline 700 859 di top formasi FS8 , pada
xline 1099 ,dan pada rentang 779 1019 diantara formasi FS8 MFS4 yang menunjukkan adanya
kecerahan kontras bright spot pada data seismik yang di indikasikan adanya hidrokarbon.

Inline 244 | F06-1

Pada lintasan ini , indikasi hidrokarbon terletak pada xline 859 1099,Xline 630 700 di top
FS8,dan Xline 1099 1179 diantara formasi FS8 hingga MFS4 yang menunjukkan adanya
kecerahan kontras pada data seismik yang di indikasikan adanya hidrokarbon.

DAFTAR PUSTAKA

Brown. Seismic Attributes for Reservoir Characterization. USA: Society of Exploration


Geophysicists, 2002
Harsono, Adi, 1997, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Edisi revisi-8 mei 1997, Schlumberger Oil
Services.
Magoon, L.B, & Dow, W.G, 1995, The Petroleum System from Source to Trap, American Association
of Petroleum 98 Geologists and Society of Economic Paleontologists and Mineralogists, vol.
4.
Pulunggono, A., & Martodjojo, S, 1994. Perubahan Tektonik Paleogen Neogen Merupakan
Peristiwa Tektonik terpenting di Jawa. Procceeding Geologi dan Geotektonik Pulau Jawa Sejak
Akhir Mesozoik Hingga Kuarter, Teknik Geologi UGM, Yogyakarta.
Sukmono. S., 1999. Interpretasi Seismik Refleksi, Bandung: ITB
Sukmono, S., 2007. Post and Pre Stack Seismic Inversion for Hydrocarbon Reservoar
Characterization, Bandung: ITB
Tangkalalo, D. dan W. Hindadari. 1999. Aplikasi Data Seismik 3D Untuk Reassement Lapangan
Minyak Tua Studi Kasus Struktur Rantau, Jakarta. Prosiding Lomba Karya Tulis. Direktorat
Eksplorasi dan Produksi. Pertamina. hal 81 85.