Anda di halaman 1dari 103

1

LAPORAN PRAKTIKUM DINAMIKA EKOSISTEM PERAIRAN

DINAMIKA EKOSISTEM PERAIRAN WADUK UNIVERSITAS


RIAU

OLEH :
KELOMPOK 5
RAMAYANI
APRIANI ADHA NASUTION
AMELIA AMANDA
FUJA ARSITA SIREGAR1
PRANO J. WIRATAMA
NESHA AQILA
YOSEP FEBRIMAN LASE

1404110069
1404118113
1404118115
1404118087
1404118522
1404118723
1404119936

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


LABORATORIUM PRODUKTIVITAS PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya sehingga Laporan Praktikum Dinamika Ekosistem yang
berjudul,Perairan Dinamika Ekosistem Perairan Waduk Universitas Riau
dapat terselesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
pengampu matakuliah yang telah banyak memberikan pengajaran selama
perkuliahan, kepada asisten yang telah membimbing kami dalam praktikum, dan
kepada teman-teman satu kelompok yang saling bekerja sama dalam praktikum
juga penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini terdapat kekurangan
baik dari segi penyusunan, bahasa serta materi yang terdapat di dalamnya. Oleh
karena itu penulis menerima kritikan yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan laporan praktikum di masa yang akan datang. Semoga laporan
praktikum ini bermanfaat bagi kita semua.
Assalamualaikum Wr. Wb.

Pekanbaru,

Desember 2016

Penulis

DAFTAR ISI

ISI

HALAMAN

KATA PENGANTAR.....................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................

ii

DAFTAR TABEL...........................................................................

iii

DAFTAR GRAFIK........................................................................

iv

DAFTAR LAMPIRAN..................................................................

I.
II.
III.

IV.

V.

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang.........................................................
1
I.2 Tujuan dan Manfaat..................................................
2
TINJAUAN PUSTAKA...............................................
3
BAHAN DAN METODE
III.1.................................................................................Waktu dan
Tempat......................................................................
12
III.2.................................................................................Alat dan Bahan
..................................................................................12
III.3.................................................................................Metode
Praktikum.................................................................
13
III.4.................................................................................Prosedur
Praktikum.................................................................
13
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1.................................................................................Hasil
..................................................................................17
IV.2.................................................................................Pembahasan
..................................................................................17
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan..............................................................
V.2 Saran.........................................................................

30
30

DAFTAR PUSTAKA......................................................................

31

LAMPIRAN....................................................................................

34

DAFTAR TABEL

TABEL
1. Hasil Pengukuran Parameter Yang Diukur.............................

HALAMAN
17

DAFTAR GRAFIK

GRAFIK
1. Grafik Suhu ............................................................................
2. Grafik pH ...............................................................................
3. Grafik Kecerahan....................................................................
4. Grafik Kedalaman...................................................................
5. Grafik Konsentrasi DO...........................................................
6. Grafik Konsentrasi CO2..........................................................
7. Grafik Konsentrasi Nitrat-Nitrogen........................................
8. Grafik Konsentrasi Fosfat.......................................................
9. Grafik Konsentrasi Sulfide.....................................................
10. Grafik Konsentrasi Klorofil-a..............................................
11. Grafik Kelimpahan Plankton................................................

HALAMAN
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
29

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN

HALAMAN

1. Alat dan Bahan.......................................................................


2. Hasil Perhitungan Pengukuran...............................................

35
36

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Perairan umum adalah bagian permukaan bumi yang secara permanen atau
berkala digenangi oleh air, baik air tawar, air payau, maupun air laut, mulai dari
garis pasang surut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk
secara alami ataupun buatan. Seperti sungai, danau, waduk, rawa, goba, genangan
air lainnya (telaga, lebak embung, kolong-kolong, dan legokan) (UU No. 7, 2004).
Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma, dan dapat pula
dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat akuatik. Dalam prakteknya, suatu

habitat dikatakan akuatik apabila mediumnya baik eksternal maupun internalnya


adalah air. Kualitas suatu perairan sangat berpengaruh terhadap kemampuan
produktifitas fitoplankton, penurunan kualitas perairan akan mnyebabkan
penurunan kelimpahan fitoplankton yang pada akhirnya akan berpengaruh
terhadap kelayakan suatu perairan untuk kegiatan perikanan.
Waduk merupakan salah satu dari ekologi perairan tawar, yang mana lebih
dikenal dengan habitat lentik, yakni habitat perairan tawar yang bersifat
menggenang. Pada ekosistem lentik, pada musim panas, maka air yang
menggenang tersebut akan menjadi panas dan terbentuknya lapisan air hangat
yang bersirkulasi di atas epilimnion dan menyebabkan lapisan dasar perairan
menjadi lebih padat, oksigen rendah tetapi dengan nutrient yang tinggi.
Dalam sumberdaya perairan dapat ditentukan tinggi rendahnya tingkat
potensial berdasarkan tingkat produktivitas suatu perairan yang dilatar belakangi
oleh kajian fisik, kimiawi maupun biologi.

Baik buruknya suatu ekosistem dapat dilihat dari nilai indeks keragaman
jenis, indeks dominasi, dan nilai indeks keseragaman jenis (kesamaan
jenis).Masing-masing habitat mempunyai ciri-ciri tersendiri dan adanya
perubahan lingkungan dimana habitat itu tinggal, maka akan menyebabkan jumlah
jenis dari kelimpahan organisme yang hidup di dalamnya berbeda-beda.
1.2. Tujuan dan Manfaat Praktikum
Adapun tujuan dari pratikum dinamika ekosistem perairan yakni
memahami bagaimana perubahan yang terjadi pada ekosistem perairan

berdasarkan pengukuran oksigen terlarut, nitrat nitrogen, orthofosfat, sulfide dan


fitoplankton.
Sedangkan manfaatnya adalah dapat memperaktekkan secara langsung dan
melihat dinamika pada suatu perairan.

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. DO
Keberadaan Zat-zat beracun atau muatan bahan organik yang berlebih
akan menimbulkan gangguan terhadap kualitas air. Keadaan ini akan
menyebabkan oksigenter larut dalam air berada pada kondisi yang kritis, atau
merusak kadar kimia air. Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh
terhadap fungsi dari air (Aria, P. 2009).
Oksigen juga sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk pernapasan.
Organisme tertentu, seperti mikroorganisme, sangat berperan dalammenguraikan

senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain yang Iebih sederhana dantidak
beracun (Fauziah, I. 2010). Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan,
dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia yang sering
digunakan yaitu DO (Dissolved Oxygen), BOD (Biochemical Oxygen Demand),
dan COD (Chemical Oxygen Demad) (Nontji, 2009 : 24)
DO air laut merupakan gas terlarut yang penting, khususnya dalam proses
metabolisme. Faktor yang menentukan konsentrasi DO di laut adalah proses
fotosintesis dan respirasi, pertukaran udara dengan dipermukaan laut. Hal ini
dilakukan secara difusi. DO (Dissolved Oxygen) atau oksigen terlarut juga dapat
dijadiakn salah satu indikator apakah di perairan tersebut tercemar atau tidak.
Distribusi DO secara vertikal dipengaruhi oleh gerakan air, proses kehidupan di
laut, dansecara kimia oksigen dipakai untuk respirasi, yaitu proses penguraian zatzat organik yang membutuhkan oksigen (Supangat, 2000: 57). Oksigen terlarut
merupakan parameter penting karena dapat digunakan untuk mengetahui gerakan
masssa air serta merupakan indikator yang peka bagi proses-proses kimia dan
biologi .Kadar oksigen yang terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas,
turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi
secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pergerakan (turbulence) massa
air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dam limbah (effluent) yang masuk ke badan air
(Anonim, 2009: 1).
2.2. Fitoplankton
Salah satu indikator penentu dalam mengetahui kualitas perairan yaitu
dengan uji produktivitas primer. Produktivitas primer adalah laju produksi karbon
organik per satuan waktu yang merupakan hasil penangkapan energi matahari oleh

10

tumbuhan hijau untuk diubah menjadi energi kimia melalui fotosintesis


(Zhenhella, 2012) menyatakan bahwa, produktivitas primer adalah laju produksi
karbon organik per satuan waktu yang merupakan hasil penangkapan energi
matahari oleh tumbuhan hijau untuk diubah menjadi energi kimia melalui
fotosintesis. Produktivitas primer kotor adalah jumlah fotosintesis yang dilakukan
oleh tumbuhan dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan produktivitas primer
bersih adalah besarnya sintesis senyawa karbon organik selama proses fotosintesis
dikurangi besarnya aktivitas total respirasi pada terang dan gelap dalam jangka
waktu tertentu.
Menurut Sigid (2010) plankton sebagai jasad renik yang hidupnya
melayang layang di dalam air dapa dikelompokkan dua macam yaitu :
fitoplankton yang merupakan tumbuhan dan zooplankton yang merupakan hewan.
Fitoplankton sebagai produser primer mempunyai peran yang sangat penting bila
dipandang dari penghasil bahan organik dari anorganik via klorofil dan bantuan
sinar matahari. Berbeda dengan fitoplankton, zooplankton tidak dapat membentuk
bahan organik dari bahan anorganik tetapi mengkonsumsi fitoplankton untuk
membentuk bahan organik.
Menurut Barus (2004) bahwa fitoplankton merupakan kelompok yang
memegang peranan sangat penting dalam ekosistem air, karena kelompok ini
dengan adanya kandungan klorofil mampu melakukan fotosintesis. Proses
fotosintesis pada ekosistem air yang dilakukan oleh fitoplankton (produsen),
merupakan sumber nutrisi utama bagi kelompok organisma air lainnya yang
membentuk rantai makanan.

11

Keberadaan plankton sangat mempengaruhi kehidupan di perairan karena


memegang peranan penting sebagai makanan bagi berbagai organisme laut.
Plankton sudah dianggap sebagai salah satu unsur penting dalam ekosistem bahari
baik positif maupun negatif bila di lihat melalui kaca mata manusia. Berubahnya
fungsi perairan sering diakibatkan oleh adanya perubahan struktur dan nilai
kuantitatif plankton. Perubahan ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang
berasal dari alam maupun dari aktivitas manusia seperti adanya peningkatan
signifikatif konsentrasi unsur hara secara sporadis sehingga dapat menimbulkan
peningkatan nilai kuantitatif plankton melampaui batas normal yang dapat
ditolerir oleh organisme hidup lainnya. Kondisi ini dapat menimbulkan dampak
negatif berupa kematian massal organisme perairan akibat persaingan penggunaan
oksigen terlarut seperti yang terjadi di berbagai perairan di dunia dan beberapa
perairan Indonesia (Romimohtarto dan juwana, 2001).

2.3. Sulfide
Sulfur adalah senyawa multivalensi non logam dan terdapat banyak di
alam, terutama daerah sekitar gunung merapi. Belerang adalah Kristal padat
berwarna kuning, namun keberadaannya di alam dapat berupa elemen murni atau
sebagai sulfide dan mineral sulfat. Belerang tidak bersifat toksik. Tetapi yang
bersifat toksik adlah senyawa gas turunan dari belerang seperti hydrogen sulfide
(H2S). Sifat H2S adalah asam, tidak berwarna, mudah terbakar dan merupakan
bentuk belerang paling umum di alam (Lenntech,2009). Sulfat yang berikatan
dengan hydrogen membentuk asam sulfur dan sulfat yang berikatan dengan logam

12

alkali merupakan bentuk sulfur yang paling banyak ditemukan di danau dan
sungai (Effendi, 2003).
Perairan alami yang mendapat cukup aerasi biasanya tidak ditemukan H 2S
karena telah teroksidasi menjadi sulfat. Kadar sufat pada perairan tawar alami
berkisar antara 2-80 mg/liter. Kadar sulfat pada perairan yang melewati gypsum
dapat mencapai 1.000 mg/liter. Kadar sulfat mencapai 1.000 mg/liter di sekitar
pembuangan limbah industry. Kadar sulfat air minum sebaiknya tidak melebihi
400 mg/liter (Efendi, 2003).
2.4. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur
proses kehidupan dan penyerapan organisme. Proses kehidupan vital yang sering
disebut proses metabolisme hanya berfungsi dalam kisaran suhu yang relatif
sempit biasanya 0C 40C (Nybakken 1992 dalam Sembiring, 2008).
Menurut Hardjojo dan Djokosetianto (2005) dalam irawan (2009), suhu air
normal adalah suhu air yang memungkinkan makhluk hidup dapat melakukan
metabolisme dan berkembang biak. Suhu merupakan faktor fisik yang sangat
penting di air.
Menurut Kurniawati et al., (2006), penyebaran suhu dilapisan bawah
permukaan secara vertical menunjukkan adanya pelapisan yang terdiri :lapisan
Homogen yaitu pada lapisan ini air umumnya sama dari permukaan kedalaman
100 meter, dilapisan tropic seperti Indonesia suhu lapisan ini berkisar 29 0
C,lapisan Termoklin yaitu pada lapisan ini suhu turun dengan cepat sekali yakni
dai 280 C pada kedalaman 100 meter menjadi 4 0 C pada kedalaman 600 meter,
lapisan Dalam yaitu lapisan ini turunnya suhu dengan peningkatan kedalaman

13

menjadi lambat sekali yang berlangsung hingga kedalaman 2500 meter, gradient
suhu yang terjadi kira-kira 0,50 C/100 m, lapisan Dasar yaitu pada lapisan ini suhu
biasannya tidak berubah lagi hingga ke dasar biasanya trjadi di samudra lepas,
berarti pada kedalaman 3000 m lebih.
Pola temperatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara
sekelilingnya, ketinggian geografis dan juga oleh faktor kanopi (penutup oleh
vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi (Brehm & Meifering, 1990 dalam
Barus, 2001). Disamping itu pola temperatur perairan dapat dipengaruhi oleh
faktor-faktor anthropogen (faktor yang diakibatkan oleh aktifitas manusia) seperti
limbah panas yang berasal dari pendinginan pabrik, pengetahuan DAS yang
menyebabkan hilangnya perlindungan sehingga badan air terkena cahaya matahari
secara langsung. Hal ini terutama akan menyebabkan peningkatan temperatur
suatu sistem perairan (Barus, 2001). Faktor-faktor mempengaruhi distribusi suhu
dan salinitas di perairan ini adalah penyerapan panas chear fluy, curah hujan (resi
protein) aliran sungai (flux) dan pula sirkulasi arus (Hadiksumah, 2008).
2.5. Kecerahan
Kecerahan adalah ukuran transporansi perairan yang ditentukan secara
visual dengan mengunakan scchi disk satuan untuk nilai kecerahan dari suatu
perairan dengan alat tersebut adalah satuan meter (Effendi, 2003 dalam kiki,
2011).
Menurut effendi (2003) dalam Adhariyan 2011, strafikasi kolam air
berdasarkan intensitas cahaya yang masukkeperairan yaitu Lapian bawah eutrofik
yaitu lapisan yang masih mendapatcukup cahaya matahari, lapisan komposisi

14

yaitu lapisanyang intensitah cahaya sebesar 1% dari intensitas cahaya permukaan,


dan lapisan protundal yaitu dibawah lapisan komposisi dengan intensitas cahaya
kecilatau bahkan tidak ada (afotik).
Kecerahan merupakan tingkat penetrasi cahaya matahari yang dinyatakan
dengan satuan panjang. Alat yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat
kecerahan air adalah sechi disk,yaituberupa pirigan yang diberi warna hitam putih
dan dihubungkan dengan tali pegangan yang mempunyai garis garis skala. Pada
perairan tambak,keerahan erat dikaittanya dan berbanding terbalik dengan jumlah
fitoplankton didalamnya ( Marindro, 2008).
2.6. pH
pH adalah cerminan dari derajat keasaman yang di ukur dan jumlah ion
hidrogen menggunakan rumus pH = -log (H ). Air murni terdiri dari ion H dan
ion OH dalam jumlah berimbang hingga pH air murni biasa 7. Makin banyak ion
H dalam larutan cairan makin rendah ion H dan makin tinggi pH, cairan
demikian disebut cairan alkalis. Sebaliknya makin ttinggi ion H makin rendah
pH dan cairan tersebut bersifat asam ( Andayani, 2005).
pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi
kehidupan jasad renik perairan asam atau kurang produktif. Malah dapat
menumbuhkan hewan budidaya. Pada pH rendah (keasaman yang tinggi)
kandungan oksigen terlarut akan berkurang. Hal yang sebaliknya menjadi pada
suasana basa . Atas dasar ini maka usaha budidaya di perairan akan berhasil baik
dalam air dengan pH 6,5 9,0 dan kisaran optimal pH 7,8 8,7 (Kardi dan Andi,
2007).

15

Salah satu pengukuranyang sangat penting dalam berbagaicairan adalah


Ph. Yaitu pengukuran ion hydrogen dalam suatu yang harg pH nya tinggi
dinamakan basa skala pH terentang dari 0 ( asam kuat) 14 (basa kuat) dengan 7
adalah harga tengah mewakili air murni (netral) (Suparni, 2009).
2.7. CO2
Karbon dioksida sangat mudah larut dalam air namun sangat sedikit yang
berada dalamlarutan biasa karena jumlahnya dalam udara atmosfer sangat
sedikit .selain itu dekmposisi bahan organic dan pernafasan tumbuhan dan hewan
memberi sumbangan padakarbon dioksida yang sudah ada. Karbondioksida
bergabung secarakimiawi dengan air membentuk asam karbonat yang
mempengaruhi pH air (Saltiana, 2010).
2.3. Fosfat
Menurut Jefferies and Miles (1996 dalam Effendi 2003), bahwa unsur
fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen, melainkan dalam
bentuk senyawa organik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa
organik yang berupa partikulat. Fosfor membentuk kompleks dengan ion besi dan
kalsium pada kondisi aerob, bersifat larut dan mengendap pada sedimen sehingga
tidak dapat dimanfaatkan oleh algae akuatik.
Sumber-sumber alami fosfor di perairan adalah pelapukan batuan mineral
dan dekomposisi bahan organik. Sumber antropogenik fosfor adalah dari limbah
industri dan limbah domestik, yakni yang berasal dari deterjen. Sumbangan dari
daerah pertanian yang menggunakan pupuk juga memberikan kontribusi yang
cukup besar bagi keberadaan fosfor (Effendi, 2003).

16

Pada sedimen, sumber utama fosfor adalah dari endapan terestrial yang
mengalami erosi dan pupuk pertanian yang dibawa oleh aliran sungai. Fraksi lain
dari fosfat yang terlarut yang sebagian berbentuk koloid berasal dari ekskresi
organisme dan juga terbentuk dari hasil autolisis organisme yang mati (Horax,
1998 dalam Saleh 2003).
Fosfor yang terdapat dalam air laut umumnya berasal dari dekomposisi
organisme yang sudah mati. Fosfor merupakan salah satu senyawa nutrien yang
penting karena akan diabsorbsi oleh fitoplankton dan masuk ke dalam rantai
makanan (Hutagalung dan Rozak, 1997). Ortofosfat merupakan bentuk fosfor
yang dapat langsung dimanfaatkan oleh tumbuhan akuatik, sedang polifosfat
harus direduksi dulu menjadi ortofosfat sebelum dimanfaatkan. Fosfor dalam
bentuk fosfat merupakan mikronutrien yang diperlukan dalam jumlah kecil namun
sangat esensial bagi organisme akuatik. Kekurangan fosfat juga dapat
menghambat pertumbuhan fitoplankton (Zulfitria, 2003).
Keberadaan fosfor secara berlebihan yang disertai keberadaan nitrat dapat
menstimulir ledakan pertumbuhan alga di perairan yang dapat menggunakan
oksigen dalam jumlah besar sehingga berdampak pada penurunan kadar oksigen
terlarut. Berdasarkan kadar fosfor total, perairan diklasifikasikan menjadi tiga,
yaitu : perairan dengan tingkat kesuburan rendah kadar fosfor total berkisar antaa
0 0.02 mg/liter; perairan dengan tingkat kesuburan sedang yang memiliki kadar
fosfor total berkisar antara 0.021 0.05 mg/l; dan perairan dengan tingkat
kesuburan tinggi yang memiliki kadar fosfat total 0.051 0.1 mg/l (Yoshimura
dan Liaw, 1969 dalam Effendi, 2003).
2.4. Nitrat

17

Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan


merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat nitrogen
sangat mudah terlarut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan dari
proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan. Nitrifikasi yang
merupakan proses oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat dengan bantuan
mikroorganisme adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen (Effendi,
2003).
Distribusi horisontal kadar nitrat semakin tinggi menuju ke arah pantai dan
kadar tertinggi biasanya ditemukan di perairan muara. Hal ini diakibatkan adanya
sumber nitrat dari daratan berupa buangan limbah yang mengandung nitrat
(Hutagalung dan Rozak, 1997). Bahan organik yang terdekomposisi adalah
sumber amonia yang merupakan awal pembentukan nitrat melalui pemecahan
nitrogen organik dan anorganik yang terdapat dalam tanah dan air dengan bantuan
mikroba dan jamur (Effendi, 2003). Menurut Olsen dan Dean (1965 dalam Alkaf
2003) bahwa ada tiga kategori dalam menilai tinggi rendahnya kandungan nitrat
dalam tanah, yaitu <> 10 ppm adalah kategori tinggi
III METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat


Praktikum dinamika ekosistem perairan dilaksanakan pada setiap hari senin

mulai tanggal 4 November 2016 2 Desember 2016 pada pukul Sabtu, 10.0012.00 wib di salah satu waduk yang terletak di depan Rektorat Universitas Riau
serta pengamatan hasil praktikum dilaksanakan di Laboratorium Produktivitas
Perairan.

18

Alat dan Bahan

Tabel 1. Alat dan Bahan Pratikum

Alat

Oksigen
Nitrat nitrogen
Orthofosfat
terlarut
-Botol BOD -Spektrofotometer -spektrofotometer

-botol BOD

-botol

-Kertas whatman

-milipore

-kertas pH

sampel

Erlenmeyer

-Pipet tetes

-vacuum pump

-Erlenmeyer

-mikroskop

- Pipet tetes

-Gelas piala

-pipet tetes

-pipet tetes

-buku

Sulfide

-gelas piala
Bahan

identifikasi

- MnSO4

- H2SO4

- SnCl2

- Zn-acetat

- NaOHKI

- Larutan Brucine

-ammonium

- NaOH

molybdate

- Iodine

- H2SO4

fitoplankton

- thiosulfate

- HCL

- amilum

-Na-tiosulfat

- Lugol

3.3. Metode Praktikum


Pada pratikum ini metode yang digunakan adalah metode brucine untuk
pengukuran nitrat, metode stannous chloride untuk mengukur fosfat , metode
sapuan untuk menghitung kelimpahan fitoplakton, dan metode iodometri untuk
mengukur sulfide.
Pada pratikum oksigen terlarut metode yang digunakan adalah Metoda
titrasi

dengan

cara

winkler.

Prinsipnya dengan

menggunakan

titrasi

iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan


MnCl2 den Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan Mn0 2. Dengan

19

menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan
juga akanmembebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen
terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar
natrium tiosulfat (Na2S203) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji).
3.4 Prosedur Pratikum
3.4.1. Oksigen Terlarut
Prosedur pengukuran oksigen terlarut, yaitu :
Pengukuran kadar oksigen dalam air dilakukan dengan cara titrasi dengan
prosedur sebagai berikut:
-

Air sampel diambil dengan menggunakan botol BOD tanpa terjadi

atau tanpa gelembung udara.


Tambahkan 1ml reagen MnSO4 dan 1ml NaOH-KI, kemudian botol

dikocok lalu didiamkan sampai terbentuk endapan cokelat.


Ditambahkan 1 ml H2SO4, kemudian botol dikocok lagi sampai semua
endapan hilang ( warna menjadi kuning). Jika endapan masih belum

larut, tambahkan H2SO4 sampai semua endapan larut.


Diambil sampel air tersebut sebanyak 50ml masukkan kedalam

Erlenmeyer.
Dititrasi dengan Na2S2O3 5 H2O sampai warnanya berubah menjadi

kuning pucat.
Ditambahkan lagi 2 tetes amilum sampai terbentuk warna biru.
Dititrasi kembali dengan Na2S2O3 5 H2O sampai warna biru hilang.
Dihitung oksigen terlarut dengan rumus:

20

DO

(mg/L)

ml titran x N Thiosulfat x 8000


(ml botol BODml reagen terpakai)
ml sampel x
ml botol BOD

3.4.2 Nitrat Nitrogen


Pertama pratikan menyaring air sampel yang di ambil dari waduk faperika
dengan menggunakan kertas whatman, kemudian ambil 5 ml air sampel dan
masukkan kedalam tabung reaksi, tambahkan 0,1 ml larutan brucine dan 1ml
H2SO4 hingga berwarna kuning. Selain itu, pratikan juga perlu menyiapkan
larutan blanko terlebih dahulu, campurkan 5 ml aquades dengan 0,1 ml brucine
dan 1 ml H2SO4. Lalu ukur dengan menggunakan alat ukur spectro, dengan
langkah-langkah sebagai berikut : tekan tombol ON pada alat hingga muncul main
menu, pilih program test dan enter, pilih all test dan enter, pilih nitrat NLR dan
enter,pilih scan blank dan masukkan larutan blanko ke dalam kuvet, dan keluarkan
larutan. Kemudian bersikan kuvet dari larutan blanko menggunkan aquades, lalu
isi menggunakan air sampel, pilih scan sampel dan enter, masukkan air sampel ke
dalam kuvet.
3.4.3 Orthophospat
Pertama kita menyaring air sampel dengan menggunakan miliphore yang
dibantu dengan alat pompa vacum, hasil dari saringan masukkan ke dalam tabung
reaksisebanyak 5 ml, tambahkan 0,2 ammonium molybdate dan 1 tetes SnCl2
hingga larutan berwarna biru. Kemudian siapkan 5m larutan blanko yang

21

ditambahaan dengan 0,2 ammonium molybdate dn 1 tetes SnCl2 sampai berwarna


biru. Dan kemudian tentukan konsentrasi fosfat dengan menggunakan spectro
dengan langkah-langkah yang sama seperti nitrat-nitrogen, namun pada saat
setelah enter all test pilih pospat L dan enter, pilih scan blank, masukkan larutan
blanko kedalam kuvet lalu keluarkan, kemudian pilih scan sampel dan enter,
masukkan air sampel sampai keluar harga t, A dan konsentrasi fosfat lalu tekan
exit berkali-kali samapai muncul main menu dan tekan off.
3.4.4. Sulfide
Prosedur pengukuran sulfide yaitu :
-

ambil air sampel dengan menggunakan botol BOD, hindari terjadinya

bubbling.
Tambahkan 8 -9 tetes Zn-acetat.
Tambahkan 5-6 tetes NaOH 6 N hingga pH mencapai 9 ( ukur dengan pH

meter atau kertas pH.


Biarkan selama 30 menit agar semua bahan tersuspensi mengendap.

Penentuan sulfide
-

pipet 5 ml iodine 0,025 N, masukkan kedalam Erlenmeyer.


Tambahkan 0,5 ml HCL 6 N.
Pipet 50 ml sampel supernatant ( atau endapan yang telah dilarutkan
kembali dengan akuades sampai 50 ml ) masukkan kedalam Erlenmeyer
diatas.

22

Titrasi dengan Na- thiosulfate, hingga kuning muda, kemudian tambahkan


2-3 tetes amilum , lanjutkan titrasi hingga terjadi perubahan warna dari
biru menjadi tidak berwarna.

3.4.5. Fitoplankton
Prosedur menghitug fitoplankton yaitu :
-

Menyiapkan mikroskop dan peralatan pratikum.


Mengambil sampel fitoplankton dengan menggunakan pipet tetes.
Menaruh sampel kedalam objek glass, kemudian ditutup dengan cover

glass.
Mengamati sampel fitoplankton dengan perbesaran tertentu.
Gambarkan dan identifikasi menggunakan buku identifikasi.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Dari pengukuran diatas di dapatkan hasil sebagai berikut :


No.
1.
2.
3.
4.
5.

Parameter yang
Diukur
0
Suhu ( C)
pH
Kecerahan (cm)
Kedalaman (cm)
DO (mg/L)

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

270C
5
112.5 cm
170 cm
8.19 mg/L

300C
5
112 cm
170 cm
8.40 mg/L

300C
5
110 cm
120 cm
7.56 mg/L

320C
5
71 cm
90 cm
8.47 mg/L

Minggu 5
300C
5
94 cm
115 cm
6.36 mg/L

23

6.
7.
8.
9.
10.
11.

CO2 bebas (mg/L)


Nitrat (ppm)
Fosfat (ppm)
Sulfide (mg/L)
Klorofil-a (ug/L)
Fitoplankton (sel/L)

12.

Benthos

9.99 mg/L
0.30 ppm
0.30 ppm
13.6 mg/L
0.18 ug/L
20.2 sel/L

19.98 mg/L
0.13 ppm
0.001 ppm
17.6 mg/L
0.34 ug/L
25 sel/L

9.99 mg/L
0.03 ppm
0.14 ppm
28.8 mg/L
0.26 ug/L
42 sel/L

9.99 mg/L
0.14 ppm
0.07 ppm
28 mg/L
0.51 ug/L
20 sel/L

29.964 mg/L
0.4 ppm
0.11 ppm
28 mg/L
0.18 ug/L
12.2 sel/L

Tidak ditemukan adanya benthos


Tabel 1. Hasil Pengukuran Parameter Yang Diukur

4.2 Pembahasan
Suhu
Pengukuran suhu dilakukan sekali dalam 5 minggu berturut-turut untuk
mendapatkan hasil yang lebih akurat. Pengukuran suhu dilakukan dengan
menggunakan Termometer yang diikat dengan tali benang bagian atasnya
kemudian Termometer di masukan kedalam perairan sampel 5 menit kemudian
diangkat dan dilihat hasil nya. Rata-rata hasil pengukuran suhu dari tiap
minggunya pada air sampel yang didapat dari waduk di depan Rektorat UR yaitu
270C pada minggu pertama dan 320C pada minggu ke 4, serta 300C pada minggu
ke-2, 3 dan 5.

24

Grafik 1.

Suhu
32
30

30

Minggu 2

Minggu 3

30

0C
27

Minggu 1

Minggu 4

Minggu 5

Waktu

S
uhu
Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu
penyebaran organisme baik dilautan maupun diperairan tawar dibatasi oleh suhu
perairan tersebut. Suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kehidupan

25

biota air. Secara umum, laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan
suhu, dapat menekan kehidupan hewan budidaya bahkan menyebabkan kematian
bila peningkatan suhu sampai ekstrim(drastis) (Kordi dan Andi, 2009).
pH
Dari hasil pengukuran tiap minggunya terdapat pH yang bernilai 5. pH air
mempengaruhi tangkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad
renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh hewan
budidaya. Pada pH rendah( keasaman tinggi), kandungan oksigan terlarut akan
berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktivitas naik dan
selera makan akan berkurang. Hal ini sebaliknya terjadi pada suasana basa. Atas
dasar ini, maka usaha budidaya perairan akan berhasil baik dalam air dengan pH
6,5 9.0 dan kisaran optimal adalah ph 7,5 8,7(Kordi dan Andi,2009). Maka
waduk yang berlokasi di depan Rektora UR tersebut kurang baik untuk tempat

26

pH
5

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 5

Waktu

p
embudidayaan ikan.
Grafik 2. pH
Kecerahan
Pengukuran kecerahan dilakukan dengan menggunakan secchi disk.
Kemudian dengan menghitung nilai kecerahan dengan rumus, sehingga kecerahan
yang diperoleh pada hasil pengukuran setiap minggunya pada air sampel yang
didapat dari waduk di depan rektorat UR yaitu nilai kecerahan yang tertinggi
sebesar 112.5 cm pada minggu ke-1, 112 cm pada minggu ke-2, 110 cm pada
minggu ke-3, 71 cm pada minggu ke-4, dan 94 cm pada minggu ke-5.
Kecerahan air merupakan ukuran kejernihan suatu perairan, semakin tinggi
suatu kecerahan perairan semakin dalam cahaya menembus ke dalam air.
Kecerahan air menentukan ketebalan lapisan produktif. Berkurangnya kecerahan
air akan mengurangi kemampuan fotosintesis tumbuhan air, selain itu dapat pula
mempengaruhi kegiatan fisiologi biota air, dalam hal ini bahan-bahan ke dalam
suatu perairan terutama yang berupa suspensi dapat mengurangi kecerahan air
(Effendi, 2000).
Grafik 3. Konsentrasi Kecerahan

27

Kedalaman
Pengukuran kedalaman pada air sampel waduk di depan rektorat UR
dengan menggunakan meteran, diperoleh hasil pengukuran setiap minggunya
yaitu 170 cm pada minggu ke-1 dan ke-2 dan kedalaman turun pada minggu ke-4
sebesar

90

cm.

Konsentrasi Kecerahan
112.5

112

110
94
71

cm

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3
Waktu

Minggu 4

Minggu 5

28

Kedalaman perairan berperan penting terhadap kehidupan biota pada


ekosistem tersebut. Semakin dalam perairan maka terdapat zonazona yang masing
masing memiliki kekhasan tertentu, seperti suhu, kelarutan gas-gas dalam air,
kecepatan arus, penetrasi cahaya matahari dan tekanan hidrostatik. Perubahan
faktor - faktor fisik dan kimiawi perairan akibat perubahan kedalaman akan
menyebabkan respon yang berbeda biota di dalamnya. (Satino, 2010 : 13).

29

Grafik 4. Konsentrasi Kedalaman

Konsentrasi Kedalaman
170

170

120

115
90

cm

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 5

Waktu

DO (Oksigen Terlarut)
Oksigen terlarut adalah jumlah gas oksigen yang terlarut dalam air yang
berasal dari hasil fotosintesis oleh fitoplankton atau tanaman air lainnya ataupun
difusi dari udara. Dari hasil pengamatan dari mingguannya dapat diketahui bahwa
nilai oksigen terlarut pada air sampel yang didapat dari waduk di depan rektorat

30

UR terbanyak yaitu 8.47 mg/L yang diperoleh pada minggu ke-4 dan paling
sedikit pada data minggu ke-5 sebesar 6,36 mg/L.
Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan,
karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik
dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan khan biologis yang dilakukan
oleh organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen
adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya
adalah nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan (Salmin,
2005).

Konsentrasi DO
8.19

8.47

8.4
7.56

6.36
mg/L

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 5

Waktu

Grafik 5. Konsentrasi DO
Kelarutan oksigen di dalam air sangat dipengaruhi terutama oleh faktor
temperatur dan oleh jumlah garam terlarut dalam air. Kelarutan maksimum
oksigen di dalam air terdapat pada suhu 0 oC, yaitu sebesar 14,16 mg/l O 2.
Konsentrasi ini akan menurun sejalan dengan meningkatnya suhu air. Dengan

31

peningkatan suhu akan menyebabkan konsentrasi oksigen akan menurun dan


sebaliknya suhu yang semakin rendah akan meningkatkan konsentrasi oksigen
terlarut. Sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari
udara melalui kontak antara permukaan air dan udara dan dari proses fotosintesis
(Barus, 2004)
CO2 Bebas
Dari hasil pengamatan dari tiap minggunya dapat diketahui bahwa nilai
CO2 Bebas pada air sampel yang didapat pada waduk di depan Rektorat UR yaitu
sebesar 9.99 mg/L yang dipeoleh pada minggu ke -1, 3 dan 4. Sedangkan pada
minggu ke-2 diperoleh 19.98 mg/L dan minggu ke-5 diperoleh 29,964 mg/L CO 2
Bebas.

32

Grafik 6. Konsentrasi CO2

Konsentrasi CO2
29.96

19.98
mg/L
9.99

Minggu 1

Minggu 2

9.99

9.99

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 5

Waktu

Ekosistem air yang proses fotosintesisnya berjalan dengan cepat dan


membutuhkan sejumlah karbondioksida. Namun pemakaian CO2 dalam proses ini
yang berlebihan, akan menyebabkan CO2 berkurang bahkan hilang, sehingga tidak
baik bagi pertumbuhan organisme. Kadar CO2 bebas yang bisa ditolelir oleh ikan

33

adalah lebih dari 5 mg/liter. Dapat pula sebesar 10 mg/liter asal diimbangi dengan
kadar oksigennya (Barus, 2002).
Nitrat - Nitrogen
Nitrat adalah bentuk utama nitrogen di perairan dan merupakan nutrien
utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat nitrogen sangat mudah larut
dalam air dan bersifat stabil. Hasil pengukuran nitrat tiap minggunya yaitu 0.30
ppm pada minggu ke-1, 0.13 ppm minggu ke-2, 0.03 ppm minggu ke-3, 0.14 ppm
minggu ke-4, dan 0.4 ppm minggu ke-5. menunjukkan kadar nitrat yang normal,
hal tersebut sesuai dengan pernyataan Effendi (2007) bahwa kadar nitrat
diperairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi dari pada kadar amonium.
Kadar nitrat-nitrogen pada perairan alami tidak pernah lebih dari 0,1 mg/liter dan
sesuai pula pada pernyataan dari Azman (2005) bahwa nitrat sebagai factor
pembatas jika konsentrasinya <0,1 mg/l dan > 4,5 mg/l (Malik, 2011)

Konsentrasi Nitrat - Nitrogen


0.4
0.3
ppm
0.14

0.13
0.03
minggu 1

minggu 2

minggu 3

minggu 4

minggu 5

34

Grafik 7. Konsentrasi Nitrat-Nitrogen


Fosfat
Hasil pengukuran fosfat tiap minggunya yaitu 0.30 ppm pada minggu ke1, 0.001 ppm pada minggu ke-2, 0.14 ppm pada minggu ke-3, 0.07 ppm pada
minggu ke-4, 0.11 ppm pada minggu ke-5. Waduk tersebut merupakan jenis
perairan ologotrofik sehingga kadar phosfatnya hanya berkisar antara 0,003 0,01
mg/liter, hal ini sesuai dengan pendapat Efenddi (2007) yang menyatakan
bahwa Berdasarkan kadarnya fosfat perairan dapat dikelompokkan menjadi tiga
kelompok, yaitu perairan oligotrofik yang memiliki kadar fosfat 0,003 0,01
mg/liter. Perairan mesotrofik memiliki kadar fosfat 0,011- 0,03 mg/liter. Dan
perairan eurotrofik memilki kadar fosfat 0,031 0,1 mg/liter.

35

Grafik 8. Konsentrasi Fosfat

Konsentrasi Fosfat
0.3

Fosfat (ppm)

0.14

0.11
0.07

Minggu 1

0
Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 5

Waktu

Kadar phosfat yang dimiliki waduk tersebut menunjukkan kadar phosfat


yang tinggi, dimana kadar phosfat yang tinggi tidak baik untuk pertumbuhan
organisme perairan maupun bagi petambaknya sendiri, hal ini sesuai dengan
pendapat Zaed (2012) yang berpendapat bahwa keberadaan phospat yang terlalu
tinggi akan menyebabkan eutrofikasi pada perairan yang akan menyebabkan
keracunan serta penyakit pada makhluk hidup ,bahkan pada manusia yang dapat
menyerang system saraf , pernapasan dan pencernaan, serta akan membuat tanah

36

bersifat asam, sehingga bersifat toksik atau racun yang kurang baik untuk kegiatan
tambak budidaya.
Sulfide
Hasil pengukuran Pada pengamatan waduk di depan Rektorat UR setiap
minggunya yaitu 13.6 mg/L pada minggu ke-1, 17.6 mg/L pada minggu ke-2, 28.8
mg/L pada minggu ke-3, dan 28 mg/L pada minggu ke-4 dan 5.

37

Grafik 9. Konsentrasi

Konsentrasi Sulfide

mg/L

28.8

28

28

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 5

17.6
13.6

Minggu 1

Minggu 2

Waktu

S
ulfide
Pada umumnya bentuk sulfur di air permukaan adalah sulfat (SO42-)
(Boyd, 1988). Pada perairan alami yang mendapat cukup aerasi biasanya
tidakditemukan adanya H2S karena telah teroksidasi menjadi sulfat (Effendi,

38

2003). Sulfat merupakan sulfur yang paling banyak dioksidasi, dan menjadi salah
satuanion utama dalam air laut (Madigan et al., 1996). Kadar sulfat pada perairan
tawar alami berkisar antara 2-80 mg/liter (Effendi, 2003 dalam Rezqi VelyanS.K.
2010)
Chlorofil-a
Hasil pengukuran Pada pengamatan waduk di depan Rektorat UR setiap
minggunya yaitu 0.18 ug/L pada minggu ke-1 dan 5, 0.34 ug/L pada minggu ke-2,
0.26 ug/L pada minggu ke-3, dan 0.51 ug/L pada minggu ke-4.

39

Grafik 10. Konsentrasi

Konsentrasi Klorofil-a
0.51

0.34
ug/L

0.26
0.18

Minggu 1

0.18

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 5

Waktu

Klorofil-a
Konsentrasi klorofil-a suatu perairan sangat ditentukan oleh intensitas
cahaya dan keberadaan nutrien. Perairan laut tropis pada umumnya memiliki
kandungan klorofil-a rendah karena keterbatasan nutrien dan kuatnya stratifikasi
kolom air. Tubawalony (2007) menyatakan bahwa stratifikasi kolom air

40

disebabkan oleh pemanasan permukaan perairan yang hampir sepanjang tahun.


Selanjutnya bahwa berdasarkan pola persebaran klorofil-a secara musiman
maupun spasial, dibeberapa bagian perairan dijumpai kosentrasinya yang cukup
tinggi. Hal ini disebabkan karena terjadinya pengkayaan nutrien pada lapisan
permukaan perairan melalui berbagai proses dinamika massa air, diantaranya
upwelling, percampuran vertikal massa air serta pola pergerakkan massa air, yang
membawa massa air kaya nutrien dari perairan sekitarnya.

Klorofil-a dipermukaan perairan dikelompokkan ke dalam tiga kategori


yaitu rendah, sedang dan tinggi dengan kandungan klorofil-a secara berturut-turut
<0,07; 0,07-0,14 dan >0,14 mg/m3 (Hatta, 2002). Ditambahkan Legender (1983)
bahwa kandungan klorofil dengan kisaran 0,07 mg/m3 termasuk rendah, dimana
klorofil tersebut sangat dipengaruhi oleh cahaya, oksigen dan karbohidrat.
Fitoplankton
Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang
hidupnya mengapung atau melayang diperairan. Ukurannya sangat kecil sehingga
tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2
200m (1 m = 0,001mm). Fitoplankton merupakan parameter biologi yang dapat
dijadikan indikator untuk mengevaluasi kualitas dan tingkat kesuburan suatu
perairan, fitoplankton
Dari hasil yang diperoleh, dapat dilihat bahwa kelimpahan fitoplankton
tiap minggunya sangat bervariasi, yaitu 20.2 sel/L pada minggu ke-1, 25 sel/L

41

pada minggu ke-2, 42 sel/L pada minggu ke-3, 20 sel/L pada minggu ke-4,

dan

12.2 sel/L pada minggu ke-5.

Kelimpahan Fitoplankton
sel/L

20.2 25

42

20 12.2

Waktu

Grafik 11. Kelimpahan Fitoplankton


Hasil analisis data menunjukkan bahwa kelimpahan plankton di
perairan cukup tinggi dimana dipengaruhi dengan kecerahan perairan
yang tinggi dengan arus yang tidak terlalu tinggi shingg kelimpahan
plankton menjadi stabil. Hal ini didukung oleh pernyataan Sidabutar
(2000),

bahwa variasi kelimpahan plankton sangat dipengaruhi oleh

intensitas cahaya dan kecerahan suatu perairan. Hal ini dikarenakan


fitoplankton membutuhkan cahaya matahari untuk proses fotosintesis
dan fitoplankton sendiri merupakan utama dari zooplankton. Faktor lain
yang mempengaruhi kelimpahan plankton yaitu arus yang dipicu dari

42

kombinasi kondisi pasang surut harian dan angin yang berhembus di


permukaan.

Benthos
Dari hasil praktikum Dinamika Ekosistem setiap minggunya di waduk
depan rektorat (stasiun 1) tidak ditemukan adanya benthos.

V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Pada waduk tersebut terjadi dinamika ekosistem yang mana sangat
mempengaruhi produktivitas perairan tersebut. Dinamika ekosistem waduk
tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keberadaan kosentrasi oksigen
terlarut yang dipengaruhi oleh suhu dan kelimpahan fitoplankton yang
menyebabkan berkurangnya kosentrasi oksigen terlarut pada kolam tersebut dan
organisme akuatik lainnya yang menggunakan oksigen untuk pernafasan. Faktor
lain yang mempengaruhi dinamika perairan adalah keberadaan nitrat dan fosfat
pada perairan. Nitrat dan fosfat dijadikan tolak ukur untuk menentukan apakah
perairan tersebut subur atau tidak karena dengan keberadaan fosfat dan nitrat
diperairan sangat penting sebab keduanya dibutuhkan oleh fitoplankton maupun
organisme akuatik lainnya untuk pertumbuhan dan perkembangan. Semakin tinggi
kelimpahan fitoplankton di perairan maka perairan tersebut dikategorikan subur
dan begitupula sebaliknya. Kemudian yang tidak kalah pentingnya dalam
dinamika ekosistem adalah keberadaan sulfide di perairan. Sulfide bersifat toksit

43

(racun) yang apabila kosentrasinya tinggi diperairan maka akan berbahanya bagi
organisme yang hidup di perairan tersebut.
2

Saran
Perlunya kita sebagai manusia untuk selalu menjaga kondisi perairan agar

tetap stabil. Keberadaan perairan sangat penting bagi keberlangsungan hidup


manusia maupun mahluk hidup didalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

Andayani, Sri. 2005. Manajemen Kualitas Air untuk Budidaya Perairan.


Universitas Brawijaya. Malang.
Aria, Perwira. 2009. Oksigen Terlarut. http://www.perwira-aria.blogspot.com/.
Diakes tanggal 22/10/2011 pukul 20.00 WIB.
Barus, T. A. 2002. Pengantar Limnologi. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Barus, T. A. 2004. Pengantar Limnologi: Studi Tentang Ekosistem Air Daratan.
USU Press, Medan.
Barus. 2001. Pengantar Limnologi. Swadaya Cipta, Jakarta.
Effendi, H. 2000. Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumber daya dan
lingkungan perairan. Yogjakarta: Kanisius.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualita Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Kanisus. Yogyakarta.
Effendi, H. 2007. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Fauziah, Ima. 2010. Oksigen Terlarut. http://www.ima-fauziah.wordpress.com/.
Diakses tanggal 22/10/2011 pukul 20.00 WIB.

44

Hadikusumah. 2008. Pengantar oceanografi. UI Press, Jakarta.


Hatta, M. 2002. Hubungan Antara Klorofil-a dan Ikan Pelagis. IPB, Bogor.
Irawan. 2009. Faktor-Faktor Penting dalam Proses Pembesaran Ikan di fasilitas
Nursery dan Pembesaran. www.sith.ipb.ac.id pada 28November 2010,
pukul 17.00 WIB.
Kardi,K.M.N.G dan Andi Basli Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam
Budidaya Perairan. PT Bineka Cipta.Jakarta.
Kiki, 2011. Pengamatan Suhu dan Kecerahan. http://riskihan dayani.wordpress.
com. Diakses pada 14 Juli 2014.
Kordi, K Ghufron dan Andi Baso Tancung. 2009. Pengelolaan Kualitas Air dalam
Budidaya Perairan. Rineka Cipta: Jakarta.
Kurniawati NE, Azizah R. 2006. Pengaruh penggunaan cerobong asap model
water spons filter (WSF) terhadap penurunan kadar SO 2 pada industri
tahu di Sukun, Malang. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 3 (1): 59-66.
Lenntech. 2009. Teflon. Lenntech Water Treatment & Purification Holding B.V.
Marindro, 2007. Pengelolaan Kualitas Air Tambak, Kecerahan Perairan Tambak.
Diakses pada 14 Juli 2014 pukul 10.00 WIB.
Malik, Idham. 2011. Analisis Sederhana Kandungan Nitrat dan Phosfat pada Air
Tambak Glacillaria. http://bontocina-kaizen.blogspot.com. Diakses pada
tanggal 27 Mei 2013 pukul 15:21 WITA.
Nontji, Anugerah. 2002. Laut Nusantara. Djambatan: Jakarta.
Rezqi Velyan S.K. 2010. Pengaruh Tiga Cara Pengolahan Tanah Tambak terhadap
Pertumbuhan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei). Program Studi
Teknologi dan Manajemen Akuakultur Departemen Budidaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

45

Romimohtarto,K. dan S. Juwana. 2001. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan tentang


Biota Laut. Puslitbang Oseanologi LlPI. Jakarta. 527 hal.
Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)
sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan. Jurnal
Oseana, 30 (3) : 21-26.
Saltiana,

2010.

http://staff uny.ac.id/sites/defaults/files/Pratikum

Karbondioksida.
\%20Limnology.pdf.

Diakses pada 20 Oktober 2011 pukul 20.00 WIB.


Satino. 2010. Diktat Kuliah Biologi Perairan. Yogyakarta: FMIPA UNY.
Sembiring. 2008. Keanekaragaman dan Kelimpahan Ikan serta Kaitannya dengan
faktor Fisik Kimia. Diambil dari www.repository.usu.ac.id pada 28
November 2010.
Sigid, Asmika Harnalin, dkk. 2010. Penuntun Praktikum Limnologi. Fakultas
Supangat, Agus. 2000. Pengantar Oseanografi. Institute Teknologi Bandung:
Bandung.
Suparni.

2009.

Pengukuran

pH.

http://www.chem-is

try.org/motorikimia/

pengukuranpH. Diakses pada 1 Juni 2012 pukul 10.20WIB.


Tubawalony, S. 2007. Produktivitas Primer Perairan. IPB, Bogor.
Zaed.2011. Limnologi. http://zaedkfc.blogspot.com. Diakses pada tanggal 25
Mei2013 pukul 19 : 33 WITA.
Zhenhella. 2012. Laporan Praktikum Produktivitas Perairan BOD5 dan
Produktivitas Primer. http:// www.zhenhella.web.iddiakses tanggal 2 Maret
2013

46

LAMPIRAN

47

1. Alat dan bahan

Boto BOD

Elemeyer

Gelas ukur

Larutan MnSO4

Larutan amilum

Larutan NaOH-KI

9
48

Larutan thiosulfate

Mikroskop

Spektrofotometer

Objek glass

Aerator

Pipet tetes

2. Hasil Perhitungan Pengukuran


A. Fitoplankton
Tabel 1. Fitoplankton Minggu Ke-1
Tetes
Sapuan
Jumlah Total
Jumlah Rata-rata

49

1 Skeletonema sp.
15

20

10

45
4.5
Synedra acus
1

3
0.3

50

Synedra acus

10

10
0.1
3

Tidak ditemukan

Peridinium sp

51

1
0.1
Synedra acus

1
1

3
0.3
5

Skeletonema sp.

52

100

100
11.1
6 Tidak ditemukan

Synedra acus

53

3
0.3
8

Merismopedia sp

2
0.2
Skeletonema sp.

10

54

10
1
9

Synedra acus

2
0.2
10 Skeletonema sp.

10

55

10
1.1
Merismopedia sp

5
0.5
TOTAL

202
20.2

56

Rumus: N= n x

A
B

C
D

1
E

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

N Skeletonema sp. = 45 x

125
10 x 0.05

1
100

= 45 x 0.53 x 250 x 0,01


= 45 Sel/L

N Synedra acus

=3x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 3 x 0.53 x 250 x 0.01


= 60 Sel/L

N Synedra acus

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 10 x

125
10 x 0.05

1
100

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0,01


= 13 Sel/L
3

Tidak ditemukan

N Peridinium sp.

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

=1x

125
10 x 0.05

= 1 x 0.53 x 250 x 0,01


= 1 Sel/L
N Synedra acus

=3x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 3 x 0.53 x 250 x 0,01


= 4 Sel/L

N Skeletonema sp. = 100 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 100 x 0.53 x 250 x 0.01


= 1 Sel/L

125
10 x 0.05

1
100

57

Tidak ditemukan

N Synedra acus

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

=3x

125
10 x 0.05

1
100

= 3 x 0.53 x 250 x 0,01


= 4 Sel/L

N Merismopodia sp. = 2 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

125
10 x 0.05

1
100

1
100

= 2 x 0.53 x 250 x 0,01


= 3 Sel/L

N Skeletonema sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 10 x 0.53 x 250 x 0,01


= 1 Sel/L

N Synedra acus. = 2 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 2 x 0.53 x 250 x 0,01


= 3 Sel/L

10 N Synedra acus

= 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0,01


= 13 Sel/L

N Merismopodia sp. = 5 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 5 x 0.53 x 250 x 0,01


= 7 Sel/L

Tabel 2. Fitoplankton Minggu Ke-2

125
10 x 0.05

1
100

9
58

Tetes
Sapuan
Jumlah Total
Jumlah Rata-rata

Rhizoselonia heberata

10

10
1
2

30

Ankitrodesmus sp.

59

30
3
Rhizoselonia imbicata

10

10
1
3

10

Esallatoria amphibia

60

10
1
4

Leptocylendricus danicus

40

40
4
Thallasionema nitzchiodes
10
10

20

61

40
4
5

Pleurosigma cepense

20

20
2
Closterium chyntia

30

30
3

62

Poimidium tenus

20

20
2
6

Mougeotia sp

10

10
1
7
10

Stichococcus sp.

63

10
1
8

Tidak ditemukan

Tribonema sp.

10

64

10
1
10 Synedra sp.

10

10
1
TOTAL

65

250
25

Rumus: N= n x

A
B

C
D

1
E

N Rhizoselonia heberata. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100
= 10 x 0.53 x 250 x 0,01
= 13 Sel/L

N Ankitrodesmus sp. = 30 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 30 x 0.53 x 250 x 0,01


= 40 Sel/L

N Rhizoselonia imbicata = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250x0.01
= 13 Sel/L

N Esallatoria amphibia = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01

125
10 x 0.05

1
100

66

= 13 Sel/L

N Leptocylendricus danicus = 40 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100
= 40 x 0.53 x 250 x 0.01
= 53 Sel/L
N Thallasionema nitzchiodes = 40 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100
= 40 x 0.53 x 250 x 0.01
= 53 Sel/L

N Pleurosigma cepense = 20 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 20 x 0.53 x250 x 0.01


= 27 Sel/L
N Closterium chyntia = 30 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 30 x 0.53 x 250 x 0.01


= 40 Sel/L
N Poimidium tenus= 20 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

= 20 x 0.53 x 250 x 0.01


= 27 Sel/L

N Mougeotia sp = 10 x

20 x 20
10 (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

1
100

9
67

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

N Stichococcus sp = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
x 100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L
8

Tidak ditemukan
N Tribonema sp = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L
10 Synedra sp.= 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L
Tabel 3. Fitoplankton Minggu Ke-3
Tetes
Sapuan
Jumlah Total
Jumlah Rata-rata

1
10

Prasiola sp.

1
100

1
100

68

20
30
3
Charasium sp.

10

10
1
Ankistrodesmus sp.

10

69

10
1
2

Ankistrodesmus sp.

40
30
10

80
8
Stigeocionium sp.

10

70

10
1
Aphanizomenon sp.

10

10
1
3
10

Gleochotrichia sp.

71

10
1
Ankistrodesmus sp.

10
20

10

40

80
8
Ochromonas sp.

10

10
1

72

Hyglotesha sp

10

10
1
Ankistrodesmus sp.

10

10
1
5
10

Ankistrodesmus sp.

73

40

50
5
Zygemua sp.

20

20
2
6
10

Chlorogonium sp.

74

10
1
Enteromorpha sp.
10

10
1
7

10

Euglena sp.

75

10
1
8

Enteromorpha sp.

10

10
1
Prasiola sp.
10

76

10
1
9

Charasium sp.

10

10
1
Anwstrodem sp.

10

77

10
1
10 Prasiola sp.

10

10
1
TOTAL

420
42

78

Rumus: N= n x

A
B

C
D

N Prasiola sp.= 30 x

1
E

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 30 x 0.53 x 250 x 0.01


= 40 Sel/L
N Charasium sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L
N Ankistrodesmus sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

125
10 x 0.05

1
100

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

N Ankistrodesmus sp. = 80 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 80 x 0.53 x 250 x 0.01


= 106 Sel/L
N Stigeocionium sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L
N Aphanizomenon sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

125
10 x 0.05

1
100

79

N Gleochotrichia sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L
N Ankistrodesmus sp. = 80 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 80 x 0.53 x 250 x 0.01


= 106 Sel/L
N Ochromonas sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 25
= 13 Sel/L

N Hyglotesha sp = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 25
= 13 Sel/L
N Ankistrodesmus sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 25
= 13 Sel/L

N Ankistrodesmus sp. = 50 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 50 x 0.53 x 250 x 0.01


= 66 Sel/L
N Zygemua sp. = 20 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

= 20 x 0.53 x 250 x 0.01


= 26 Sel/L

1
100

80

N Chlorogonium sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L
N Enteromorpha sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

N Euglena sp. = 10 x

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

N Enteromorpha sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L
20 x 20
10 x (20 x 3.74)

N Prasiola sp. = 10 x

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

N Charasium sp.= 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

125
10 x 0.05

1
100

1
100

9
81

N Anwstrodem sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

10 N Prasiola sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

Tabel 4. Fitoplankton Minggu Ke-4


Tetes
Lapangan Pandang
Jumlah Total
Jumlah Rata-rata

10

Gloetricina sp.

1
100

1
100

82

10
1
2

Tidak ditemukan

Tidak ditemukan

83

Enteromorpha sp.

50

50
5
5

Skeletonema costatum

10

10
1

84

Ceratium dens

10

10
1
Ceratium furca

10
10
1
7

Enteromorpha sp.

85

20

20
2
Thalassiosira hyalina

10

10
1
Ceratium dens

86

10

10
1
Skeletonema costatum

10

10
1
8

10

Rapidhonema sp.

87

10
1
9

Ankistrodesmus angorlus

10

10
1
10 Ankistrodesmus convlutus

88

10
10
1
TOTAL

200
20

Rumus: N= n x

A
B

C
D

N Gloetricina sp. = 10 x

1
E

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L
2
3

Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
N Enteromorpha sp.= 50 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 50 x 0.53 x 250 x 0.01

125
10 x 0.05

1
100

89

= 66 Sel/L

N Skeletonema costatum. = 30 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 30 x 0.53 x 250 x 0.01


= 40 Sel/L

N Ceratium dens = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

N Ceratium furca = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

N Enteromorpha sp. = 20 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
0.05

1
100

= 20 x 0.53 x 25
= 27 Sel/L

N Thalassiosira hyalina = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

N Ceratium dens = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

125
10 x 0.05

1
100

1
100

90

N Skeletonema costatum = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

N Rapidhonema sp. = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 10 x 0.53 x 250 x 0.01


= 13 Sel/L

N Ankistrodesmus angorlus = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100
= 10 x 0.53 x 250 x 0.01
= 13 Sel/L

10 N Ankistrodesmus convolutus = 10 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

1
100
= 10 x 0.53 x 25
= 13 Sel/L

Tabel 5. Fitoplankton Minggu Ke-5


Tetes
Sapuan
Jumlah Total

125
10 x 0.05

9
91

Jumlah Rata-rata

Skeletonema costatum

2
15
10
12
39
3.9
2
10
10
10
-

Ceratium furca

92

1
31
3.1
3. Thalassiosira hyalina
5
10
15
1.5
4

Rapidhonema sp.

4
4
1
5
10
25

93

2.5
5

Ankistrodesmus convulotus

2
10
12
1.2
TOTAL

122
12.2

94

Rumus: N= n x

A
B

C
D

1
E

N Skeletonema costatum = 39 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100
= 39 x 0.53 x 250 x 0,01
= 52 Sel/L

N Ceratium furca = 31 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100

= 31 x 0.53 x 250 x 0,01


= 41 Sel/L

N Thalassiosira hyalina = 15 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100
= 15 x 0.53 x 250 x 0,01
= 20 Sel/L

N Rapidhonema sp. = 25 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

= 25 x 0.53 x 250 x 0,01


= 33 Sel/L

125
10 x 0.05

1
100

95

N Ankistrodesmus convolutus = 12 x

20 x 20
10 x (20 x 3.74)

125
10 x 0.05

1
100
= 12 x 0.53 x 250 x 0,01
= 15 Sel/L

B. DO
Minggu 1. DO (mg/L) =

2 x 0.025 x 8000
125 ml3 ml
50 x
125 ml
400
48.8

Minggu 2. DO (mg/L) =

ml titran x N thiosulfat x 8000


ml botol BODml reagenterpakai
ml sampel x
ml botol BOD

= 8.19 mg/L

ml titran x N thiosul fat x 8000


ml botol BODml reagenterpakai
ml sampel x
ml botol BOD

2 x 0.025 x 8000
125 ml6 ml
50 x
125 ml
400
47.6

Minggu 3. DO (mg/L) =

= 8.40 mg/L

ml titran x N thiosulfat x 8000


ml botol BODml reagenterpakai
ml sampel x
ml botol BOD

96

1.8 x 0.025 x 8000


125 ml6 ml
50 x
125 ml
360
47.6

Minggu 4. DO (mg/L) =

ml titran x N thiosulfat x 8000


ml botol BODml reagenterpakai
ml sampel x
ml botol BOD

2 x 0.025 x 8000
125 ml7 ml
50 x
125 ml
400
47.2

Minggu 5. DO (mg/L) =

= 7.56 mg/L

= 8.47 mg/L

ml titran x N thiosulfat x 8000


ml botol BODml reagenterpakai
ml sampel x
ml botol BOD

1,5 x 0.025 x 8000


125 ml7 ml
50 x
125 ml
300
47.2

= 6,36 mg/L

C. CO2 Bebas
ml titran x N titran x
Minggu 1. CO2 (mg/L) =

ml sampel
44
x 1000
2
50 ml

0.5 x 0.0454 x
=

44
x 1000
2

97

499.4
50

= 9.99 mg/L

ml titran x N titran x
Minggu 2. CO2 (mg/L) =

44
x 1000
2

ml sampel
44
x 1000
2
50 ml

1 x 0.0454 x
=

998.8
50

= 19.98 mg/L

ml titran x N titran x
Minggu 3. CO2 (mg/L) =

44
x 1000
2

ml sampel
44
x 1000
2
50 ml

0.5 x 0.0454 x
=

499.4
50

= 9.99 mg/L

ml titran x N titran x
Minggu 4. CO2 (mg/L) =

44
x 1000
2

ml sampel
44
x 1000
2
50 ml

0.5 x 0.0454 x
=

499.4
50

= 9.99 mg/L

ml titran x N titran x
Minggu 5. CO2 (mg/L) =

ml sampel

44
x 1000
2

98

44
x 1000
2
50 ml

1.5 x 0.0454 x
=

1498,2
50

= 29,964 mg/L

D. Suhu
Minggu 1. Suhu 27oC
Minggu 2. Suhu 30oC
Minggu 3. Suhu 30oC
Minggu 4. Suhu 32oC
Minggu 5. Suhu 300C

E. Kecerahan
Minggu 1. Kecerahan =

a+b
2

150+75
2

= 112.5 cm

Minggu 2. Kecerahan =

a+b
2

150+74
2

= 112 cm

Minggu 3. Kecerahan =

a+b
2

150+70
2

= 110 cm

Minggu 4. Kecerahan =

a+b
2

57+ 85
2

Minggu 5. Kecerahan =

a+b
2

103+ 85
2

F. Kedalaman
Minggu 1. Kedalaman 170 cm
Minggu 2. Kedalaman 170 cm

= 71 cm

= 94 cm

99

Minggu 3. Kedalaman 120 cm


Minggu 4. Kedalaman 90 cm
Minggu 5. Kedalaman 115 cm

G. pH
Minggu 1. pH perairan 5 (asam)
Minggu 2. pH perairan 5 (asam)
Minggu 3. pH perairan 5 (asam)
Minggu 4. pH perairan 5 (asam)
Minggu 5. pH perairan 5 (asam)

H. Nitrat-Nitrogen
Minggu 1. Transmittan : 98.1% Absorbance : 0.390 Konsentrasi 0.30
Minggu 2. Transmittan : 94.6% Absorbance : 0.0146 Konsentrasi 0.13
Minggu 3. Transmittan : 96.4% Absorbance : 0.0096 Konsentrasi 0.03
Minngu 4. Transmittan : 81.1% Absorbance : 0.0916 Konsentrasi 0.14
Minngu 5. Transmittan : 99.8% Absorbance : 0.0016 Konsentrasi 0.4

I. Orthofosfat
Minggu 1. Transmittan : 71.8% Absorbance : 0.1450 Konsentrasi 0.30
Minggu 2. Transmittan : 100% Absorbance : 0.006 Konsentrasi 0.001
Minggu 3. Transmittan : 92.8% Absorbance : 0.0174 Konsentrasi 0.14
Minngu 4. Transmittan : 88.4% Absorbance : 0.054 Konsentrasi 0.11
Minngu 5. Transmittan : 92.4% Absorbance : 0.035 Konsentrasi 0.07

J. Sulfide

100

Minggu 1. Sulfide (mg/L) Terlarut


0.4 x 1000 x
=

0.4 x 1000 x
=

ml Io x N ml Thio x N

0.025
20.025
ml sampel
5 x 0.025 4 x 0.025

0.025
20.025
50

= 400/50 = 8 mg/L

Endapan
0.4 x 1000 x
=

0.4 x 1000 x
=

ml I o x N ml Thio x N

0.025
20.025
ml sampel
5 x 0.025 4.3 x 0.025

0.025
20.025
50

= 280/50 = 5.6 mg/L

Total = 8 mg/L + 5.6 mg/L = 13.6 mg/L

Minggu 2. Sulfide (mg/L) Terlarut


0.4 x 1000 x
=

0.4 x 1000 x
=

ml Io x N ml Thio x N

0.025
20.025
ml sampel
5 x 0.025 3.5 x 0.025

0.025
20.025
50

= 600/50 = 12 mg/L

Endapan
0.4 x 1000 x
=

0.4 x 1000 x
=

ml Io x N ml Thio x N

0.025
20.025
ml sampel
5 x 0.025 4.3 x 0.025

0.025
20.025
50

= 280/50 = 5.6 mg/L

101

Total = 12 mg/L + 5.6 mg/L = 17.6 mg/L

Minggu 3. Sulfide (mg/L) Terlarut


0.4 x 1000 x
=

0.4 x 1000 x
=

ml Io x N ml Thio x N

0.025
20.025
ml sampel
5 x 0.025 3 x 0.025

0.025
20.025
50

= 800/50 = 16 mg/L

Endapan
0.4 x 1000 x
=

0.4 x 1000 x
=

ml Io x N ml Thio x N

0.025
20.025
ml sampel
5 x 0.025 3.5 x 0.025

0.025
20.025
50

= 600/50 = 12.8 mg/L

Total = 16 mg/L + 12.8 mg/L = 28.8 mg/L

Minggu 4. Sulfide (mg/L) Terlarut


0.4 x 1000 x
=

0.4 x 1000 x
=

ml Io x N ml Thio x N

0.025
20.025
ml sampel
5 x 0.025 3 x 0.025

0.025
20.025
50

Endapan
0.4 x 1000 x
=

ml Io x N ml Thio x N

0.025
20.025
ml sampel

= 800/50 = 16 mg/L

102

0.4 x 1000 x
=

5 x 0.025 3.5 x 0.025

0.025
20.025
50

= 600/50 = 12 mg/L

Total = 16 mg/L + 12 mg/L = 28 mg/L

Minggu 5. Sulfide (mg/L) Terlarut


0.4 x 1000 x
=

0.4 x 1000 x
=

ml Io x N ml Thio x N

0.025
20.025
ml sampel
5 x 0.025 3 x 0.025

0.025
20.025
50

= 800/50 = 16 mg/L

Endapan
0.4 x 1000 x
=

0.4 x 1000 x
=

ml Io x N ml Thio x N

0.025
20.025
ml s ampel
5 x 0.025 3.5 x 0.025

0.025
20.025
50

= 600/50 = 12 mg/L

Total = 16 mg/L + 12mg/L = 28mg/L

K. Benthos
Dari hasil praktikum Dinamika Ekosistem setiap minggunya di waduk depan
rektorat (stasiun 1) tidak ditemukan adanya benthos.

L. Chlorofil-a
Tabel 6. Data Chlorofil-a
Stasiun I

Minggu ke
1

A665
0.025

A750
0.016

103

DEP Sabtu

2
3
4
5

0.071
0.046
0.130
0.060

0.054
0.033
0.105
0.051

Rumus :
1 Chlorofil-a = 11.9 x (A665- A750) x V/L x S/1000
= 11.9 x (0.025-0.016) x 8.5/1 x 100/500
= 0.18 ug/L
2 Chlorofil-a = 11.9 x (A665- A750) x V/L x S/1000
= 11.9 x (0.071-0.054) x 8.5/1 x 100/500
= 0.34 ug/L
3 Chlorofil-a = 11.9 x (A665- A750) x V/L x S/1000
= 11.9 x (0.046-0.033) x 8.5/1 x 100/500
= 0.26 ug/L
4 Chlorofil-a = 11.9 x (A665- A750) x V/L x S/1000
= 11.9 x (0.130-0.105) x 8.5/1 x 100/500
= 0.51 ug/L
5 Chlorofil-a = 11.9 x (A665- A750) x V/L x S/1000
= 11.9 x (0.060-0.051) x 8.5/1 x 100/500
= 0.18 ug/L