Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masa nifas merupakan masa yang dilalui oleh setiap wanita setelah
melahirkan. Pada masa tersebut dapat terjadi komplikasi persalinan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Masa nifas ini berlangsung sejak
plasenta lahir sampai dengan 6 minggu setelah kelahiran atau 42 hari setelah
kelahiran. Kunjungan selama nifas sering dianggap tidak penting oleh tenaga
kesehatan karena sudah merasa baik dan selanjutnya berjalan dengan lancar.
Konsep early ambulation dalam masa postpartum merupakan hal yang perlu
diperhatikan karena terjadi perubahan hormonal. Pada masa ini ibu
membutuhkan petunjuk dan nasihat dari bidan sehingga proses adaptasi
setelah melahirkan berlangsung dengan baik.
Masa nifas ini merupakan masa yang cukup penting bagi tenaga
kesehatan khususnya bidan untuk selalu melakukan pemantauan karena
pelaksanaan yang kurang maksimal dapat menyebaban ibu mengalami
berbagai masalah, bahkan dapat berlanjut pada komplikasi masa nifas.
Termasuk di dalamnya masalah-masalah yang berkaitan dengan
ketidaknyamanan yang dialami ibu mulai dari gangguan perkemihan, BAB,
sampai gangguan hubungan seksual.
Bidan memegang peranan penting dalam upaya pemerintah untuk
meningkatkan kesehatan dan pengertian masyarakat melalui konsep promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif. Oleh karena itulah, kami menyusun
makalah ini untuk menjelaskan apa saja gangguan atau ketidaknyamanan
yang biasanya dialami ibu nifas, bagaimana penanganannya, dan apa saja
peran bidan.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah ketidaknyamanan umum pada masa nifas apabila terjadi
gangguan perkemihan, BAB, hubungan seksual?
2. Bagaimanakah cara mengatasi ketidaknyamanan umum pada masa nifas
apabila terjadi gangguan perkemihan, BAB, hubungan seksual?
3. Bagaimanakah peran bidan dalam menghadapi ketidaknyamanan umum
pada masa nifas apabila terjadi gangguan perkemihan, BAB, hubungan
seksual?
1.3. Tujuan
1.Untuk mengetahui apa saja ketidaknyamanan umum pada masa nifas
apabila terjadi gangguan perkemihan, BAB, hubungan seksual.
2.Untuk mengetahui cara mengatasi ketidaknyamanan umum pada masa nifas
apabila terjadi gangguan perkemihan, BAB, hubungan seksual.

3.Untuk mengetahui peran bidan dalam menghadapi ketidaknyamanan umum


pada masa nifas apabila terjadi gangguan perkemihan, BAB, hubungan
seksual.
1.3. Manfaat
1. Untuk Penulis
Dapat menambah wawasan pengetahuan di bidang kebidanan.
2. Untuk Institusi
Dapat menambah kepustakaan yang dimiliki institusi S1 Kebidanan
FKUB.
3. Untuk Masyarakat
Dapat menambah wawasan pengetahuan di bidang kesehatan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. GANGGUAN PERKEMIHAN DALAM MASA NIFAS


2.1.1. Macam-Macam Gangguan Perkemihan Pada Masa Nifas
Di bawah ini terdapat beberapa jenis gangguan perkemihan pada masa
nifas :
1) Infeksi saluran kemih
Kejadian infeksi saluran kemih pada masa nifas relative
tinggi dan hal ini dihubungkan dengan hipotoni kandung kemih
akibat trauma kandung kemih waktu persalinan, kurangnya asupan
cairan, pemeriksaan dalam yang sering,kontaminasi kuman dari
perineum, atau katerisasi yang sering.
Sistitis biasanya memberikan gejala berupa nyeri berkemih
(dysuri), sering berkemih dan tak dapat ditahan. Adanya retensi
urin pasca persalinan umumnya merupakan tanda adanya infeksi.
Pielonefritis memberikan gejala yang lebih berat, demam,
menggigil, perasaan mual dan muntah. (Sastrawinata,dkk, 2011)
Penyebab infeksi postpartum :
1. Diuresis setelah pelahiran yang dapat menyebabkan distensi
yang berlebihan dan statis urine.
Diuresis terjadi setelah 2-3 hari postpartum. Diuresis terjadi
karena saluran urinaria mengalami dilatasi. Kondisi ini akan
kembali normal setelah 4 minggu postpartum. Pada awal
postpartum, kandung kemih mengalami edema, kongesti, dan
hipotonik. Hal ini disebabkan oleh adanya overdistensi pada saat
kala dua persalinan dan pengeluaran urine yang tertahan selama
proses persalinan. Sumbatan pada uretra disebabkan oleh adanya
trauma saat persalinan berlangsung dan trauma ini dapat
berkurang setelah 24 jam postpartum (Bahiyatun, 2009).
2. Penggunaan oksitosin yang menyebabkan efek antidiuresis
sampai obat ini di metabolism, lalu ada desakan dieresis yang
dengan cepat menyebabkan distensi kandung kemih
(Morgan,dkk, 2009).
2) Retensi Urine
Adalah merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih
akibat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan
kandung kemih. Hal ini menyebabkan distensi vesika urinaria atau
merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pengosongan
kandung kemih yang tidak lengkap. Dalam keadaan distensi, vesika
urinaria dapat menampung urine sebanyak 3000-4000 ml urine.
Tanda klinis :
- Ketidaknyamananan daerah pubis
- Distensi vesika urinaria
- Ketidaksanggupan untuk berkemih

- Sering berkemih saat vesika urinaria berisi sedikit urine (25-50


ml)
- Ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan
asupannya.
- Meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih.
- Adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih.
Penyebab :
- Operasi pada daerah abdomen bawah, pelvis vesika urinaria.
- Trauma sumsum tulang belakang.
- Tekanan uretra yang tinggi karena otot detrusor yang lemah.
- Spincter yang kuat
- Sumbatan
3) Inkontinensia urine
Merupakan ketidakmampuan otot spincter eksternal
sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urine.
Penyebab dari inkontinensia urine adalah proses penuaan (iaging
process), pembesaran kelenjar prostat, serta penurunan kesadaran ,
serta penurunan kesadaran, serta penggunaan obat narkotik dan
sedative (Sastrawinata,dkk, 2011).
Gambaran klinis :
- Inkontinensia urgensi : kontraksi otot detrusor yang tidak
terkontrol menyebabkan kebocoran urine, kandung kemih yang
hiperaktif atau ketidakstabilan detrusor. Disebabkan Disfungsi
neurologis, sisititis, obstruksi pintu keluar kandung kemih.
- Inkontinensia stress : urine keluar tanpa kontraksi detrusor.
Disebabkan oleh tonus otot panggul yang buruk, defisiensi
sfingter uretha, kelebihan berat badan.
- Inkontinensia kombinasi dari stress dan urgensi.
- Inkontinensia overflow : urine menetes saat kandung kemih
penuh. Didebabkan oleh disfungsi neurologis, penyakit
endokrin, penurunan kelenturan dinding kandung kemih,
obstruksi pintu keluar kandung kemih. (Musrifatul, dkk, 2009).
4) Enuresis
Merupakan ketidaksanggupan menahan kemih (mengompol)
yang diakibatkan tidak mampu mengontrol spincter eksterna.
Penyebab :
- Kapasitas vesika urinaria lebih besar dari normal
- Infeksi saluran kemih
- Perubahan fisik
- Neurologis system perkemihan
- Makanan yang banyak mengandung garam dan mineral.
5) Perubahan pola eliminasi urine

Merupakan keadaan seseorang yang mengalami gangguan


pada eliminasi urine karena obstruksi anatomis, kerusakan motorik
sensorik, infeksi saluran kemih.
Perubahan pola eliminasi terdiri atas :
- Frekuensi
Merupakan banyaknya jumlah berkemih dalam sehari.
Penngkatan frekuensi berkemih dikarenakan meningkatnya
jumlah cairan yang masuk. Frekuensi yang tinggi tanpa suatu
tekanan asupan cairan dapat disebabkan oleh sistitis.
- Urgensi
Adalah perasaan takut mengalami inkontinensia jika tidak
berkemih.
- Disuria
Adalah rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih. Hal ini sering
ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih,trauma da
strikter uretra.
- Poliuria
Merupakan produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh
ginjal, tanpa adanya peningkatan asupan cairan.
- Urinaria supresi
Adalah berhentinya produksi urine secara mendadak. Secara
normal urine diproduksi oleh ginjal pada kecepatan 60-120
ml/jam secara terus menerus.
2.1.2. Solusi Untuk Mengatasi Gangguan Perkemihan Pada Masa Nifas
1. Infeksi Saluran Kemih
Pengobatan :
- Antibiotic golongan nitrofurantoin, sulfonamide, trimetoprim,
sulfametoksazol, atau sefalosporin
- Menjaga kebersihan vulva
- Tidak menahan kencing
- Minum banyak
- Melakukan latihan
- Menghindari kontipasi (Sastrawinata,dkk, 2011)
2. Inkontinensia Urine
Pengobatan :
- Estrogen : baik dosis oral 0,3-1,25 mg, diminum tiap hari maupun
krim vagina memperbaiki keadaan estrogen pada uretra
- Agonis adrenergic alfa : pseudoefedrin 15-30 mg dosis oral,
diminum 2 kali/hari, menghasilkan kontraksi otot polos,
memperbaiki tekanan penutupan uretha maksimal.
- Obat antikolinergik

a. Ditropan datau ditropan Xl (oksibulatinin) : mencegah kontraksi


detrusor
spontan.
Efek
samping
meliputi
mulut
kering,iritabilitas, ansietas dan retensi urine.
b. Detrol atau detrol LA (tolterodin) memiliki sedikit efek samping
karena obat ini memiliki sedikit efek samping.
c. Antidepressant trisiklik seperti imipiramin
d. Agens antimuskuskarinik : karena obat ini secara tidak langsung
berlawanan dengan saraf simpatis yang merelasasi otot polos,
obat ini digunakan untuk kandung kemih yang hiperaktif.
2.3.3 Peran Bidan Dalam Gangguan Perkemihan Dalam Masa
Nifas
1. Bidan harus memberikan kie kepada ibu untuk berkemih pasca
melahirkan
2. Bidan harus meminta ibu untuk terus memnuhi asupan cairannya.
3. Ambulansi
Ambulansi sedini mungkin sangat dianjurkan, kecuali ada
kontraindikasi. Ambulansi ini akan meningkatkan sirkulasi dan
mencegah risiko tromboflebitis, meningkatkan fungsi kerja
peristaltik dan kanung kemih, sehingga mencegah distensi
abdominal dan konstipasi. Bidan harus menjelaskan kepada ibu
tentang tujuan dan manfaat ambulansi dini. Ambulansi ini
dilakukan secara bertahap sesuai kekuatan ibu. Terkadang ibu nifas
enggan untuk banyak bergerak karena merasa letih dan sakit. Jika
keadaan tersebut tidak segera diatasi, ibu akan terancam mengalami
trombosis vena. Untuk mencegah terjadinya trombosis vena, perlu
dilakukan ambulansi dini oleh ibu nifas.
Pada persalinan normal dan keadaan ibu normal, biasanya
ibu diperbolehkan untuk mandi dan ke WC dengan bantuan orang
lain, yaitu pada 1 atau 2 jam setelah persalinan. Sebelum waktu ini,
ibu harus diminta untuk melakukan latihan menarik napas dalam
serta latihan tungkai yang sederhana dan harus duduk serta
mengayunkan tungkainya di tepi tempat tidur.
Sebaiknya, ibu nifas turun dari tempat tidur sedini
mungkin setelah persalinan. Ambulansi dini dapat mengurangi
kejadian komplikasi kandung kemih, konstipasi, trombosis vena
puerperalis, dan emboli pulmonal. Di samping itu, ibu merasa lebih
sehat dan kuat serta dapat segera merawat bayinya. Ibu harus
didorong untuk berjalan dan tidak hanya duduk di tempat tidur.
Pada ambulansi pertama, sebaiknya ibu dibantu karena pada saat
ini biasanya, ibu merasa pusing ketika pertama kali bangun setelah
melahirkan. (Bahiyatun, 2009:75-76)

4. Eliminasi
Bidan harus mengobservasi adanya distensi abdomen
dengan memalpasi dan mengauskultasi abdomen, terutama pada
post-seksio sesaria. Berkemih harus terjadi dalam 4-8 jam pertama
dan minimal sebanyak 200cc. Anjurkan ibu untuk minum banyak
cairan dan ambulansi. Rangsangan untuk berkemih dapat diberikan
dengan rendam duduk (sitz bath) untuk mengurangi edema dan
relaksasi sfingter, lalu kompres hangat/dingin. Bila perlu, pasang
kateter sewaktu. (Bahiyatun, 2009:77)

2.2. GANGGUAN BAB DALAM MASA NIFAS


Terdapat beberapa ketidaknyamanan pada masa nifas. Meskipun dianggap
normal, ketidaknyamanan tersebut dapat menyebabkan distres fisik yang
bermakna. Salah satunya berkaitan dengan masalah buang air besar.
2.2.1. Macam-Macam Gangguan BAB Pada Masa Nifas
Di bawah ini terdapat beberapa jenis gangguan buang air besar pada
masa nifas :
1) Konstipasi
Konstipasi berarti bahwa perjalanan tinja melalui kolon dan
rektum mengalami penghambatan dan biasanya disertai kesulitan
defekasi. Disebut konstipasi bila tinja yang keluar jumlahnya hanya
sedikit, keras, kering, dan gerakan usus hanya terjadi kurang dari 3 x
dalam 1 minggu.
Konstipasi yang tidak diatasi dapat menganggu kelancaran
persalinan yang normal dan menyebabkan masalah dalam masa
nifas. Konstipasi dapat pula disebabkan oleh sejumlah penyakit atau
keadaan demam. Dalam perawatan antenatal dan dalam masa nifas ,
kita harus memeriksa keadaan pireksia (demam) serta kemungkinan
infeksi saluran kemih. Konstipasi sering disebabkan oleh diet yang
buruk, kekurangan olahraga serta aktivitas fisik, keadaan dehidrasi
dan pemakaian obat-obatan (Jordan, 2004: 308).
Pada masa nifas konstipasi dapat dihubungkan dengan :
1. Faktor perubahan metabolisme yang terjadi karena tubuh sedang
mengalami proses perubahan untuk kembali ke kondisi semula
seperti sebelum hamil.
2. Faktor psikologis ibu, misalnya pada ibu yang mengalami depresi
post partum dan ibu sering menahan keinginan untuk defekasi
karena rasa takut akan nyeri akibat luka jahitan.

3. Faktor perubahan anatomi atau struktur yaitu terjadinya hemoroid


pada wanita post partum.
4. Faktor asupan nutrisi, ibu post partum biasanya malas makan
karena mereka terfokus pada bayinya.
5. Faktor mobilisasi bila ibu kurang mobilisasi pasca persalinan
karena persalinan secara seksio atau ibu yang mengalami trauma
persalinan.
Rasa takut dapat menghambat fungsi buang air besar jika
wanita takut bahwa hal tersebut dapat merobek jahitan atau akibat
nyeri yang disebabkan oleh ingatannya tentang tekanan bowel pada
saat persalinan. Konstipasi lebih lanjut mungkin diperberat dengan
longgarnya abdomen dan oleh ketidaknyamanan jahitan robekan
perineum derajat tiga atau empat (Varney, 2008: 977).
Tanda klinis : adanya feses yang keras, defekasi kurang dari
3 kali seminggu, menurunnya bising usus, adanya keluhan pada
rektum, nyeri saat mengejan dan defekasi, adanya perasaan masih
ada sisa feses, Menurunnya peristaltik; karena psikologis,dll.
2) Hemoroid
Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen / lebih
pembuluh darah vena hemoroidales (bacon) pada poros usus dan
anus yang disebabkan karena otot & pembuluh darah sekitar anus /
dubur kurang elastis sehingga cairan darah terhambat dan membesar.
Hemoroid dapat timbul pasca persalinan akibat ibu mengedan terlalu
kuat saat proses persalinan.
Jika wanita mengalami hemoroid, mungkin mereka sangat
merasakan nyeri selama beberapa hari. Hemoroid yang terjadi
selama masa kehamilan dapat menimbulkan traumatis dan menjadi
lebih edema selama kala dua persalinan karena tekanan bayi dan
distensi saat melahirkan. (Varney, 2008: 977).
Menurut Sarwono (2010: 825) bila terjadi hemoroid dapat
menimbulkan perasaan gatal, sakit, dan berdarah terutama sesudah
buang air besar yang mengeras. Penyakit Hemoroid ini lama
kelamaan akan bertambah berat, oleh karena itu diperlukan
pengobatan sesegera mungkin bila sudah terdapat tanda-tanda dan
gejala awal hemoroid. Secara umum, hemoroid dibagi dua, yaitu
hemoroid internal dan hemoroid eksternal.
a. Hemoroid Internal, pembengkakan terjadi dalam rektum sehingga
tidak bisa dilihat atau diraba. Pembengkakan jenis ini tidak
menimbulkan rasa sakit. Karena hanya ada sedikit saraf di daerah
rektum. Tanda yang dapat diketahui adalah perdarahan saat buang
air besar. Masalahnya tidak sederhana lagi bila hemoroid internal

ini membesar dan ke luar bibir anus yang menyebabkan


kesakitan. Hemoroid yang terlihat berwarna merah muda ini
setelah sembuh dapat masuk sendiri tetapi juga bisa didorong
masuk.
b. Hemoroid Eksternal, menyerang anus sehingga menimbulkan rasa
sakit, perih dan gatal.Jika terdorong keluar oleh tinja , hemoroid
ini dapat menimbulkan trombosis, yang menjadikannya berwarna
biru-ungu.
3) Diare
Merupakan keadaan individu yang mengalami atau
beresiko sering mengalami pengeluaran feses dalam bentuk cair.
Diare disertai kejang usus, mungkin ada rasa mual dan muntah.
Diare pada masa nifas dapat disebabkan oleh faktor psikologis ibu,
dimana ibu merasa takut atau cemas yang berlebihan, misalnya pada
ibu yang mengalami depresi post partum. Faktor lain adalah
terjadinya perubhan metabolisme yang menyebabkan malabsorbsi
karbohidrat, lemat dan protein.
4) Inkontinensia usus
Merupakan keadaan individu yang mengalami perubahan
kebiasaan dari proses defekasi normal mengalami proses
pengeluaran feses tak disadari. Hal ini juga disebut sebagai
inkontinensia alvi yang merupakan hilangnya kemampuan otot untuk
mengontrol pengeluaran feses dan gas melalui sfingter akibat
kerusakan sfingter. Penyebab inkontinensia pada masa nifas adalah
bila ibu mengalami laserasi hingga derajat IV dimana robekan
mengenai perineum sampai dengan otot sfingter ani dan mukosa
rektum. Tanda klinis : pengeluan feses yang tidak dikehendaki.

2.2.2. Solusi Untuk Mengatasi Gangguan BAB Pada Masa Nifas


1. Konstipasi
Masalah kontipasi dapat dikurangi dengan mengkonsumsi makanan
tinggi serat (misalnya buah-buahan, sayur-sayuran, kacangkacangan, padi-padian, agar-agar, dan gandum) dan tambahan
asupan cairan (minum yang cukup 6-8 gelas sehari). Penggunaan
laksatif pada wanita yang mengalami laserasi derajat tiga atau empat
dapat membantu mencegah wanita mengejan. Pada umumnya
penggunaan laksatif jangka panjang harus di batasi pada wanita yang
tidak hilang masalahnya dengan meyakinkan kembali dan perubahan

10

diet, agar menghindari terjadinya ketergantungan (Varney, 2008:


977). Juga bisa dilakukan olahraga ringan serta tidak menahan
keinginan untuk BAB.
2. Hemoroid
Hal yang dapat diajarkan pada ibu dengan hemoroid :
a. Perbaiki pola hidup (makanan dan minum): perbanyak konsumsi
makanan yang mengandung serat (buah dan sayuran) kurang lebih
30 gram/hari, serat selulosa yang tidak dapat diserap selama
proses pencernaan makanan dapat merangsang gerak usus agar
lebih lancar, selain itu serat selulosa dapat menyimpan air
sehingga dapat melunakkan feses.
b. Mengurangi makanan yang terlalu pedas atau terlalu asam.
Menghindari makanan yang sulit dicerna oleh usus. Tidak
mengkonsumsi alkohol, kopi, dan minuman bersoda. Perbanyak
minum air putih 30-40 cc/kg bb/hari.
c. Perbaiki pola buang air besar : mengganti closet jongkok menjadi
closet duduk. Jika terlalu banyak jongkok otot panggul dapat
tertekan kebawah sehingga dapat menghimpit pembuluh darah.
d. penderita hemoroid dianjurkan untuk menjaga kebersihan lokal
daerah anus dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15
menit tiga kali sehari. selain itu penderita disarankan untuk tidak
terlalu banyak duduk atau tidur, lebih baik banyak berjalan.

Asuhan yang diberikan untuk mengurangi nyeri hemoroid, antara


lain :
1. Memasukkan hemoroid yang keluar dari rektum
2. Melakukan rendam duduk dalam air hangat atau dingin
sedalam 10-15 cm dalam bak mandi, selama kurang lebih 30
menit, 2 atau 3 kali sehari, pastikan kebersihan bak mandi
3. Meletakkan kantong es pada daerah anus
4. Berbaring miring
Menurut Prawiroharjo (2010: 826) hal yang bisa dilakukan untuk
mencegah terjadinya hemoroid diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Hindari mengejan terlalu kuat saat buang air besar
2. Banyak mengonsumsi makanan yang berserat (sayur, buah,
serta kacang-kacangan serta banyak minum air putih minimal
delapan gelas sehari untuk melancarkan buang air besar).
3. Segera ke belakang jika niat buang air besar muncul, jangan
menunda-nunda sebelum tinja mengeras.
4. Kurangi konsumsi cabai dan makanan pedas

11

5. Tidur cukup
6. Jangan duduk terlalu lama
7. Senam/olahraga rutin

2.3. GANGGUAN HUBUNGAN SEKSUAL DALAM MASA NIFAS


Dalam bahasa latin, hubungan seksual disebut coitus : co, bersama dan ire,
pergi, sehingga artinya pergi bersama (Llewellyn and Jones, 2005).
Sedangkan menurut Wiknjosastro (1999), istilah seks dan seksualitas, yang
belum ada sinonimnya dalam bahasa Indonesia, mempunyai arti kata yang
sempit (bersatunya tubuh antara wanita dan pria).
Kebutuhan seksual sering menjadi perhatian ibu dan keluarga. Seksualitas ibu
dipengaruhi oleh derajat ruptur perineum dan penurunan hormon steroid
setelah persalinan. Keinginan seksual ibu menurun karena kadar hormon
rendah, adaptasi peran baru, keletihan (kurang istirahat dan tidur).
Kembalinya perilaku seksual setelah kehamilan pada umumnya akan berjalan
sangat lambat (Prawirohardjo, 2009:365).
Hubungan seksual tidak boleh dilakukan segera karena involusi uteri belum
kembali normal dan kemungkinan luka episiotomi belum pulih. Tujuh puluh
persen wanita melakukan hubungan seksual pada minggu ke-8 pascapartum.
Banyak ibu yang masih takut untuk melakukan hubungan seksual karena
trauma persalinan atau ibu takut terjadi perdarahan. Lebih dari 90% primipara
mengungkapkan bahwa mereka mulai aktif melakukan hubungan seksual.
Wanita dianjurkan untuk menyusui bayinya karena dengan menuyusui akan
menekan produksi estrogen yang tentu saja akan berpengaruh pada pemulihan
alat-alat kandungan (Syafrudin & Hamidah, 2009:111).
Hubungan seksual yang kembali dilakukan terlalu dini dapat menimbulkan
ketidaknyamanan, jika tidak begitu nyeri, akibat penyembuhan episiotmi atau
laserasi yang tidak sempurna. Selain itu, epitel vagina tipis dan sangat sedikit
lubrikasi setelah rangsangan seksual. Ini kemungkinan besar disebabkan oleh
keadaan hipoestrogenik setelah melahirkan dan berlanjut sampai kembalinya
ovulasi. Ini terutama sekali menjadi masalah bagi wanita yang menyusui yang
hipoestrogenik selama berbulan-bulan pascapartum (Palmer dan Likis, 2003);
Wisniewski dan Wilkinson, 1991). Untuk terapi, sedikit krim estrogen topical
dapat dioleskan pada vagina dan jaringan vulva setiap hari selama beberapa
minggu. Sebagai tambahan, pelumas vagina dapat digunakan ketika koitus
(Cunningham, 2012:687).
2.3.1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Seksualitas Pada Masa Nifas

12

Hal-hal yang mempengaruhi seksual pada masa nifas, yaitu :


1. Intensitas respons seksual berkurang karena perubahan faal tubuh.
Tubuh menjadi tidak atau belum sensitif seperti semula.
2. Rasa lelah akibat mengurus bayi mengalahkan minat untuk
bermesraan.
3. Bounding dengan bayi menguras semua cinta kasih, sehingga
waktu tidak tersisa untuk pasangan.
4. Kehadiran bayi di kamar yang sama membuat ibu secara psikologis
tidak nyaman berhubungan intim.
5. Pada minggu pertama setelah persalinan, hormon estrogen menurun
yang mempengaruhi sel-sel penyekresi cairan pelumas vagina
alamiah yang berkurang. Hal ini menimbulkan rasa sakit bila
berhubungan seksual. Untuk itu, diperlukan pelumas atau lubrikan.
6. Ibu mengalami let down ASI, sehingga respons terhadap orgasme
yang dirasakan sebagai rangsangan seksual pada saat menyusui.
Respons fisiologis ini dapat menekan ibu, kecuali mereka
memahami bahwa hal tersebut adalah normal.
7. Adanya luka bekas episiotomi juga menjadi salah satu alasan, ibu
menjadi lebih takut bila jahitannya akan lepas.
Sedangkan menurut Close (2008) banyak wanita tidak
bergairah untuk melakukan hubungan seks pada minggu-minggu
pertama dan bulan-bulan awal setelah melahirkan. Hal ini bahkan
mungkin dialami oleh wanita yang sebelumnya mempunyai dorongan
seksual yang kuat, tidak ada satu penyebab khusus tetapi banyak
faktor yang mempengaruhi yaitu :
a. Ada pasangan suami istri yang berpendapat bahwa hal itu tidak
dapat diterima dari segi kebersihan.
b. Kelahiran bayi untuk sementara bisa menjadi pengalaman yang
menimbulkan stess dan bahkan traumatik.
c. Wanita yang mengalami persalinan yang sulit atau rumit dan yang
memerlukan pertolongan obstetri untuk dapat kembali normal
secara menyeluruh.
2.3.2. Solusi Untuk Mengatasi Gangguan Seksual Pada Masa Nifas
Adapun solusi untuk mengatasi masalah tersebut, menurut Bahiyatun
(2009) antara lain adalah sebagai berikut :
1. Bidan biasanya memberi batasan rutin 6 minggu pascapersalinan.
Akan tetapi, jika pasangan ingin lebih cepat, konsultasikan hal ini
untuk mengetahui dengan pasti jenis persalinan, kondisi perineum,

13

luka episiotomi, dan kecepatan pemulihan sesungguhnya. Jika


permintaan ditolak dokter atau bidan, pasangan hendaknya menaati
dan menunggu hingga 6 minggu pascapersalinan agar tidak
menyakitkan ibu secara fisik.
2. Ungkapkan cinta dengan cara lain, seperti dengan duduk berpelukan
di depan TV, menggosok punggung pasangan, dan berdansa berdua.
Jika tidak lelah, dapat membantu melakukan pasangan dengan
masturbasi. Jika keduanya menginginkan, dapat melakukan
hubungan intim secara oral. Namun, kadang tidak ada keintiman
yang lebih memuaskan dari berbaring dan berpelukan.
3. Program kontrasepsi harus segera dilakukan sebelum hubungan
seksual karena ada kemungkinan hamil kembali dalam kurun waktu
kurang dari 6 minggu (kontrasepsi untuk mencegah kehamilan).
Hal-hal bermanfaat yang dapatdilakukan untuk menghidupkan
aktivitas seksual pasca melahirkan yaitu menjaga agar badan tetap
sehat. Perlu dingat jika badan sehat berarti hubungan seks juga akan
sehat, makan makanan yang bergizi cukup, cukup berarti tidak
berlebihan dan tidak kurang. Cukup istirahat karena biasanya ibu lebih
lelah akibat sering terjaga saat malam hari. Olahraga secara teratur,
hindari stres, hindari merokok dan mengkonsumsi alkohol, serta
lakukan perawatan diri (Bahiyatun, 2009, hal. 82)
Jika pasangan ingin lebih cepat melakukan hubungan dari yang
disarankan yaitu enam minggu pasca bersalin, maka dapat menyarankan
pada pasangan untuk memakai pelumas atau jelly. Bila saat
berhubungan masih terasa sakit, ibu sebaiknya mengatakan dengan
jujur kepada pasangan. Jangan takut untuk berterus terang kepada
pasangan. Pastikan jika luka episiotomi sudah pulih atau kering. Ibu
serta pasangan juga dapat melakukan konsultasi kepada dokter
kandungan atau bidan jika dirasa perlu (Bahiyatun,2009,hal.84).
2.3.3 Peran Bidan Dalam Gangguan Hubungan Seksual Dalam Masa
Nifas
Bidan berperan menjelaskan pada ibu dan suaminya tentang hubungan
seks selama masa nifas :
1. Nasihatkan pasangan untuk tidak berhubungan seksual sampai luka
episiotomi sembuh dan lokia telah terhenti yang biasanya di akhir
minggu ketiga.
2. Beberapa bentuk lubrikan yang larut air, seperti jeli K-Y sangat
diperlukan
saat
berhubungan
seks
untuk
mencegah

14

3.

4.

5.

6.

7.

ketidaknyamanan akibat vagina yang mungkin telah kering (kurang


hormon).
Ingatkan bahwa ibu dapat mengalami penurunan keinginan
berhubungan seksual karena adanya perubahan hormon, keletihan,
ketidakpuasan dengan penampilan diri, dan ketidaknyamanan yang
tidak menghilang (kadang berhubungan dengan luka episiotomi).
Kumpulan gejala ini dapat membuat frustasi, khususnya bagi
pasangan. Pasangan dapat menemukan cara memecahkan masalah
tersebut dengan mendiskusikannya secara terbuka
Untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, nasihatkan
pasangan untuk memakai kontrasepsi ketika mereka memulai
kembali aktifitas seksual, meskipun siklus haid ibu belum kembali.
Secara fisik, aman untuk memulai hubungan seks antara suami istri
ketika darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau
dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Ketika darah merah
berhenti dan ibu tidak merasa nyeri, aman untuk memulai
melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami
istri sampai masa waktu tertentu. Misalnya, setelah 40 hari atau 6
minggu setelah persalinan. Keputusan bergantung pada pasangan
yang bersangkutan.
Beri ibu konseling tentang hubungan seksual setelah persalinan,
yakni ibu tidak perlu takut untuk melakukan hubungan seksual
setelah 6 minggu pascapartum.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
1. Masa nifas merupakan masa yang dilalui oleh setiap wanita setelah
melahirkan. Masa nifas ini berlangsung sejak plasenta lahir sampai dengan
6 minggu setelah kelahiran atau 42 hari setelah kelahiran.
2. Pada masa tersebut dapat terjadi komplikasi persalinan baik secara
langsung maupun tidak langsung. Termasuk di dalamnya masalah-masalah
yang berkaitan dengan ketidaknyamanan yang dialami ibu mulai dari
gangguan perkemihan, BAB, sampai gangguan hubungan seksual.

15

3. Gangguan perkemihan meliputi berbagai macam, diantaranya adalah


infeksi saluran kemih, retensi urine, inkontinensia urine, anuresis, dan
perubahan pola eliminasi urine. Sedangkan gangguan BAB diantaranya
konstipasi, hemoroid, diare, dan inkontinensia usus dan juga gangguan
hubungan seksual.
4. Gangguan-gangguan tersebut harus segera diatasi dengan memberikan
solusi-solusi juga perawatan pengobatan jika diperlukan kepada ibu.
5. Bidan diharuskan membimbing dan memonitoring masa nifas ibu dari
segala aspek agar dapat terhindar dari gangguan-gangguan dalam masa
nifas.
3.2. Saran
1. Mampu mendeteksi dini adanya gangguan dalam masa nifas dan
memberikan solusi yang tepat.
2. Memberikan KIE dengan benar mengenai masa nifas dan perawatan yang
harus dilakukan.
3. Mampu memberikan dukungan psikologis bagi ibu maupun keluarga ibu
berkaitan dengan kondisi kesehatannya selama masa nifas.
4. Mampu memberikan pendampingan terhadap ibu saat melewati masa
nifasnya.

DAFTAR PUSTAKA
Alexander J., Roth C., Levy V. 2007. Praktik Kebidanan: Riset Dan Isu. Alih
Bahasa Devi Yulianti. Jakarta: EGC.
Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC .
Cunningham, F.G. 2012. Obstetri Williams. Jakarta: EGC
Jordan, Sue. 2004. Farmakologi Kebidanan. Jakarta: EGC.
Kemenkes RI. 2009. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia

16

Morgan, G, Hamilton, C. 2009. Practice Guidelines For Obstetrics And


Gynecology, Second Ed. Jakarta: EGC.
Musrifatul, H., Alimul, H. 2008. Ketrampilan Dasar Praktik Klinik Untuk
Kebidanan. Jakaraka: Salemba Medika.
Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: EGC
Prawiroharjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Sastrawinata, S., Martaadisoebrata, D., Wirakusumah, F.F. 2010. Ilmu Kesehatan
Reproduksi :Obstetric Patologi, Edisi 2. Jakarta: EGC.
Sulistyawati, A. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta:
Andi Offset.
Syafrudin & Hamidah. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC
Varney H., Kriebs Jan M., Gegor L.C. 2008. Buku ajar asuhan kebidanan edisi 4.
Jakarta: EGC.

LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1. Jurnal Tentang Gangguan Perkemihan Dan Resume
Judul Jurnal

: Reliability Of An Automatic Ultrasound System For


Detecting Postpartum Urinary Retention After Vaginal Birth

Judul Terjemahan : Reliabilitas Dari Sistem USG Otomatis Untuk Mendeteksi


Adanya Retensi Urin Postpartum Setela Persalinan
Pervaginam
Resume :
ABSTRAK

17

Post partum urinary retention (PUR) adalah suatu komplikasi setelah


melahirkan secara vagina. Biasanya komplikasi terjadi pada nulipara,
epidural atau analgesic epidural, persalinan dengan tindakan dan persalinan
yang panjang.retensi urin dapat menyebabkan over distensi pada VU,
kerusakn saraf detrusor dan gangguan kekosongan urine. Insiden terjadinya
komplikasi ini berkisar 0,45%-14,1%. Apabila perempuan setelah
melahirkan tidak bisa mengosongkan kandung kemih mereka 3 jan setelah
melahirkan, maka harus dikateter untuk mengeluarkan residu 1000ml, dan
bisa dimasukkan selama 48 jam. Kateter postpartum itu sendiri bisa
menyebabkan hematuria, ketidaknyamanan dan meningkatkan risiko infeksi
saluran kemih.
Sebuah system USG otomatis yang bisa digunakan bidan untuk
pengukuran urin lebih dari 100ml, yaitu The Bladder ScanT M BVI 6100.
alat ini merupakan potable USG 3 dimensi. Penelitian ini bertujuan untuk
menguji keandalan nya dalam menilai volume kandung kemih pada wanita
berisiko untuk PUR setelah kelahiran per vaginam.
METODE
Prosedur dalam penelitian ini meggunakan studi prospektif yang telah
disetujui oleh Research Komite Etika Medis Regional untuk norwegia
selatan. Pengumpulan data dimulai bulan Juli 2005 dan berakhir pada bulan
November 2006 dan melibatkan 100 perempuan. Selama periode ini, ada
perempuan melahirkan pervaginam sebanyak 1.954. perempuan yang diteliti
perempuan yang diteliti adalah Semua wanita postpartum yang telah
melahirkan melalui vagina setelah 22 minggu kehamilan, dan yang berisiko
untuk terkena retensi urin dengan memenuhi syarat dengan perempuan yang
tidak dapat BAK secara spontan 3 jam setelah melahirkan, secar klinis
berisiko terkena PUR. Gejala klinisnya adalah tinggi fundus normal,
kandung kemih teraba, tidak bisa secara spontan berkemih. Pengecualian
pada ada pada persalinan yang terlalu panjang pengosongan antara cateter
dan proses scanner, dan tidak ada keteter setelah scanning. Prosedurnya
dalam penggunaan scanner ultrasound pengukuran tertinggi dicatat dari 3
pengukuran berikutnya. Scanning yang bagi orang kedua harus dilakukan
dalam 5 menit dari scan pertama. Selanjutnya perempuan tersebut dikateter
dengan kateter ch 12 yang dilakukan selam 10 menit dari scanning terakhir.
Scanner ultrasound memiliki batas pengukuran volume 999ml,
sehingga pengamatan dengan katerisasi lebih dari 1000ml (n=5) karena akan
menciptakan ketidaknaturalan dengan perbedaan yang besar. Mulai 3 pasien
yang discanning hanya sekali, jumlah observasi yang digunakan dalam
analisis adalah 95 untuk scan nomer 1 dan 92 untuk scan nomer 2. Ketika
volume kandung kemih diperkirakan sulit untuk dipastikan, maka scanner
USG menambhakan tanda >. Hal ini menunjukkan bahwa volume kandung

18

kemih mungkin lebih besar dari yang diberikan


nilainya. Ini
mengindikasikan bahwa volume pada VU lebih besar dari nilai yang
diberikan. Jika variasi nilai lebih besar dari nilai >. Namun lebih sedikit
tanda dengan (13 dari 97 pada scanning yang kedua0 itu akan sulit untuk
menentukan secara actual dengan banyak variasi.
HASIL
Karakteristik dari 100 perempuan termasuk dalam studi ini disajikan
pada Tabel I. Sekitar 65 perempuan yang dilibatkan karena mereka tidak
mampu untuk buang air secara spontan setelah melahirkan. Tiga puluh lima
perempuan yang dilibatkan berdasarkan tanda-tanda klinis lainnya
sebagaimana dinilai oleh bidanPada hasil percobaan menyajikan perbedaan
antara volume kateterisasi dan volume ultrasound scanner, dan rata-rata
mereka. Perbedaan rata-rata antara perkiraan USG dan pengukuran volume
kateter adalah 26 ml, dengan 95% interval kepercayaan yang sesuai (2.6,
49.4 ml. Pemindaian dilakukan oleh total 70 anggota staf (bidan, mahasiswa
bidan, perawatan asisten, perawat, dan mahasiswa-perawat). Hanya 8
anggota staf melakukan lebih dari 5 pembacaan USG pada wanita termasuk
dalam penelitian.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa scanner ultrasound
(BladderScanTM BVI 6100 ) merupakan instrumen skrining yang dapat
diandalkan untuk mendeteksi PUR pada wanita berisiko setelah kelahiran
vagina. Ini termasuk perempuan tidak dapat secara spontan mengosongkan
kandung kemih mereka 3 jam setelah melahirkan, dan wanita yang
kesehatan psikisnya bermasalah. Kami menemukan bahwa volume kandung
kemih yang diukur dengan kateterisasi biasanya lebih tinggi dari
pengukuran ultrasound scanner.
Produksi urin dapat sangat meningkat pada periode postpartum awal.
Ekskresi maksimum fisiologis ditemukan dalam percobaan berkisar 15 ml /
kg per jam. Pada tingkat ini, seorang wanita dengan berat 80 kg bisa
menghasilkan 200 mlurin dalam 10 menit. Akibatnya, bahkan penundaan
singkat antara ultrasound scanning dan pengosongan kandung kemih dapat
ditemukan adanya bias, dan ultrasound scanner mungkin lebih dapat
diandalkan dibandingkan analisis yang ditemukan. Hal ini penting untuk
menghindari Volume kandung kemih di atas 400 ml. sensitivitas adalah
antara 0.61 dan 0.91 (95% CI). Ini berarti bahwa dari 100 pasien yang perlu
kateterisasi, mungkin sedikitnya 61 akan kateter. Oleh karena itu, jelas
bahwa menggunakan ambang batas 400-ml tidak tepat.
Untuk mengidentifikasi wanita yang benar-benar memiliki lebih 400
ml urin di kandung kemih mereka, tampaknya dianjurkan untuk kateterisasi

19

pasien dengan pembacaan scan 300 ml atau lebih. Dengan menetapkan titik
acuan pada 300 ml, beberapa wanita tidak perlu dikateter. Sejumlah
penelitian telah dilakukan untuk menilai keandalan dari berbagai jenis USG
otomatis untuk mengukur volume urine. Di antara penelitian yang dilakukan
pada wanita postpartum, hanya Pallis dan Wilson yang menyarankan bahwa
scanner ultrasound mereka yang telah diuji (BladderScan BVI 3000) tidak
dapat digunakan dalam memperkirakan volume dalam kandung kemih.
Mereka yang menggunakan kateter Foley ukuran 12 untuk mengeluarkan
kandung urin, mengakui bahwa kateter ini memiliki kinerja yang buruk
dibandingkan dengan kateter wanita pendek. Berdasarkan penelitian ini,
dapat disimpulkan bahwa metode menggunakan ultrasound scanner
otomatis lebih diterima oleh perempuan dan lebih suka kateterisasi.
KESIMPULAN
The ultrasound scanner adalah alat skrining yang dapat diandalkan
untuk mendeteksi PUR setelah kelahiran vagina yang dapat mengurangi
jumlah catheterisations yang tidak perlu dilakukan.

Lampiran 2. Jurnal Tentang Gangguan Hubungan Seksual Dan Resume


Judul Jurnal

: The Effect of Mode of Delivery on Postpartum Sexual


Functioning in Primiparous Women

Judul Terjemahan : Efek Dari Jenis Persalinan Terhadap Fungsi Seksual


Postpartum Pada Wanita Primipara
Resume :
ABSTRAK
Tujuan : Untuk mengevaluasi efek dari jenis persalinan terhadap fungsi
seksual postpartum pada wanita primipara
Metode : Menggunakan penelitian cross-sectional deskriptif. 150 wanita
primipara dalam periode postpartum yang datang ke klinik untuk

20

ber-KB atau untuk vaksinasi, mereka itulah yang terdaftar dalam


penelitian ini. 81 orang melakukan persalinan pervaginam dengan
episiotomi dan 69 melakukan persalinan seksio sesarea. Fungsi
seksual dievaluasi oleh Female Sexual Function Index dalam
waktu 3 dan 6 bulan setelah melahirkan.
Hasil
: Sekitar 29% pada kelompok persalinan pervaginam dan 37%
pada kelompok persalinan seksio sesarea, mulai melakukan
hubungan seksual kembali empat minggu setelah melahirkan
(p=0,280). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara jenis
persalinan dan fungsi seksual, yang meliputi keinginan, gairah,
lubrikasi, orgasme, kepuasan dan rasa sakit.
Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi seksual postpartum
tidak berhubungan dengan jenis persalinan.
PENDAHULUAN
Persalinan mempengaruhi tubuh, terutama genitalia wanita. Perubahan
ini membuat wanita kesulitan dalam memulai kembali hubungan seksual.
Banyak wanita pada masa postpartum mengalami masalah seperti
dispareuni, kehilangan hasrat, kekurangan lubrikasi vagina, nyeri saat
orgasme, perdarahan post-coitus, gatal dan terbakar.
Sekitar 20% wanita mengalami dispareunia pada 3 sampai 5-6 bulan
pospartum. Sepersembilan dari mereka tidak bisa melakukan hubungan
seksual. Jenis persalinan dan luka perineum selama persalinan berhubungan
dengan masalah seksual setelah melahirkan. 80% primipara mengalami
masalah ini.
Karena persalinan seksio sesarea bertujuan untuk mencegah terjadinya
kerusakan pada perineum, kemungkinan ini juga bisa mencegah terjadinya
gangguan seksual setelah melahirkan. Inilah mengapa sebagian besar wanita
dan dokter kandungan lebih memilih persalinan dengan seksio sesarea,
meskipun tidak ada data ilmiah yang mendukung pendapat ini. Di Iran,
persalinan dengan seksio sesarea mencapai 45%, salah satu alasannya
adalah ketakutan akan trauma pada vagina dan perineum.
Dalam penelitian ini, dengan membandingkan fungsi seksual pada
wanita primipara yang melahirkan secara pervaginam dengan episiotomi
atau secara seksio sesarea, kami mencoba untuk menentukan jenis
persalinan mana yang bisa meningkatkan kejadian gangguan seksual pada
masa postpartum.
METODE
Penelitian ini adalah penelitian cross-sectional deskriptif. Kami
menggunakan Female Sexual Medical Index (FSFI). Penelitian ini
menggunakan kuesioner yang berisi 19 item untuk mengetahui fungsi

21

seksual (keinginan, gairah, lubrikasi, orgasme, kepuasan dan rasa sakit).


FSFI menyediakan score dengan 6 domain. Setiap domain mempunyai score
antara 0-6. Score yang lebih tinggi berarti mempunyai fungsi seksual yang
lebih baik. Score 0 berarti wanita tersebut tidak melakukan hubungan
seksual selama bulan terakhir. Total score mempunyai rentang antara 2,0
sampai 36,0. Kami menyeleksi wanita primiprara agar tidak ada efek
confounding karena riwayat persalinan sebelumnya.
Surat persetujuan diberikan sebelum penelitian ini dimulai. Wanita
primipara yang membawa bayinya untuk vaksinasi atau untuk ber-KB ke
klinik yang ada di Bandar Abbas, mulai September 2010 sampai April 2010,
terdaftar dalam penelitian ini. Subyek diminta untuk melengkapi jawaban
kuesioner. Informasi dari setiap wanita juga dicatat, seperti karakteristik
demografi, waktu yang dibutuhkan uuntuk kembali melakukan hubungan
seksual.
Kriteria inklusi disini adalah wanita primipara yang melahirkan bayi
tunggal dan aterm, sudah menikah, tinggal dengan suami, dan memiliki
pendidikan minimal sekolah dasar 5 tahun.
Wanita yang melahirkan bayi preterm, melahirkan secara seksio
sesarea ketika sudah inpartu, pervaginam tetapi dibantu dengan alat,
perluasan episiotomi, TBJ lebih dari 4000 gram, bayi dengan anomali,
riwayat preeklamsia, riwayat DM, depresi pospartum, dan yang mengalami
gangguan seksual pada kehamilan selanjutnya, dikeluarkan. Kemudian
sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok seksio sesarea elektif
dan kelompok pervaginam dengan episiotomi mediolateral.
Evaluasi statistik menggunakan SPSS untuk windows v.16.
Signifikansi statistik dicapai dengan nilai p<0,050.

HASIL
150 wanita telah menyelesaikan kuesioner FSFI. 46% dari semua
kelahiran melakukan bedah sesar (n=69), dengan penyebab seksio sesarea
yang ditunjukkan pada tabel 1. Karakterisitik kelompok demografis
ditunjukkan pada tabel 2. Tidak ada perbedaan antara kelompok yang
berkaitan dengan karakteristik domografis. 24 kasus (30%) pada kelompok
persalinan pervaginam dan 26 kasus (38%) pada kelompok persalinan sectio
caesaria mulai melakukan hubungan seksual kembali saat satu bulan setelah
melahirkan. 55 kasus (68%) persalinan pervaginam dan 41 kasus (59%)
pada kelompok persalinan sectio caesaria melakukan hubungan seksual
kembali pada saat dua bulan setelah melahirkan. 2 kasus dalam setiap
kelompok hingga enam bulan setelah melahirkan belum melakukan
hubungan seksual dan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik
diantara kedua kelompok (p = 0.280).

22

PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini, peneliti mengevaluasi jenis persalinan terhadap
fungsi seksual perempuan sampai 6 bulan setelah melahirkan. 29% pada
kelompok persalinan pervaginam dan 37% pada kelompok persalinan sectio
caesaria telah kembali berhubungan seksual empat minggu setelah
melahirkan. Temuan ini mirip dengan penelitian sebelumnya yaitu sekitar
90% dari wanita postpartum telah kembali berhubungan seksual pada saat 34 bulan setelah persalinan. Waktu dimulainya kembali hubungan seksual
setelah melahirkan tergantung pada tingkat cedera perineum, menyusui, usia
ibu, ras dan kebangsaan.
Menyusui tampaknya berhubungan dengan dispareunia (karena
kekeringan vagina) atau kehilangan keinginan.. Nyeri di daerah genital
adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi dimulainya kembali
hubungan seksual setelah melahirkan. Dalam sebuah penelitian, intensitas
dispareunia dikaitkan dengan intensitas robekan dan luka perineum. Dalam
penelitian ini, rata-rata skor nyeri pada kedua kelompok berkurang pada 6
bulan setelah melahirkan dibandingkan 3 bulan setelah melahirkan, yang
menunjukkan bahwa lebih jauh jarak waktu dari melahirkan akan
mengurangi intensitas dispareunia. Namun, antara dua kelompok, skor ratarata dispareunia tidak berbeda pada 3 dan 6 bulan setelah melahirkan,
dengan demikian menunjukkan bahwa jenis persalinan tidak mempengaruhi
keparahan dispareunia setelah melahirkan.
Tapi, Safarinejad et al. melaporkan intensitas dispareunia tertinggi
terjadi pada persalinan dengan alat dan intensitas terendah pada persalinan
sectio caesaria. Signorello et al. melaporkan bahwa dispareunia pada 3 bulan
setelah melahirkan berkaitan dengan tingkat kerusakan perineum tetapi pada
6 bulan setelah melahirkan dispareunia berkaitan dengan wanita yang telah
menyusui dan persalinan dengan alat.
Hartmann et al. melakukan tinjauan sistematis untuk mengevaluasi
hasil persalinan pervaginam dengan episiotomi, menemukan bahwa
dispareunia lebih sering terjadi pada wanita dengan episiotomi. Woranitat
dan Taneepanichskul dan Hicks et al. melaporkan tidak ada perbedaan yang
signifikan secara statistik antara jenis persalinan dengan fungsi seksual.
Hosseni et al. mengikuti wanita selama dua tahun setelah melahirkan
dan menunjukkan tidak ada perbedaan antara jenis persalinan dengan fungsi
seksual. Botros et al. mengevaluasi hubungan paritas pada fungsi seksual
menunjukkan bahwa terjadi penurunan hasrat seksual dan rangsangan yang
signifikan dipengaruhi oleh persalinan sebelumnya dan jenis persalinan
(pervaginam atau sesar) tidak memiliki peran secara jelas.
Di sisi lain Basksuet al. menunjukkan bahwa persalinan pervaginam
dengan episiotomi menurunkan tingkat semua domain kecuali rasa sakit

23

pada 6 bulan pascapersalinan dibandingkan dengan persalinan sesar. Dean et


al. mengikuti wanita selama enam tahun setelah melahirkan dan melaporkan
bahwa kepuasan seksual dan otot vagina secara signifikan lebih rendah pada
wanita dengan persalinan pervaginam dibandingkan persalinan sectio
caesaria.
Safarinejad et al. menunjukkan bahwa wanita dengan persalinan
pervaginam dan sectio caesaria darurat memiliki skor FSFI yang lebih
rendah dibandingkan dengan sectio caesaria. Gungor et al. melaporkan
bahwa persalinan pervaginam memiliki kecenderungan prevalensi lebih
tinggi dari ketidakpuasan dibandingkan persalinan sectio caesaria.
Mousavi et al. menemukan bahwa wanita dengan persalinan
pervaginam lebih puas dengan kehidupan seksual mereka dan penampilan
tubuh pada periode postpartum. Perbedaan-perbedaan diatas dengan
penelitian pada jurnal ini disebabkan desain penelitian, ukuran sampel atau
perbedaan demografis. Peneliti tidak mengevaluasi penggunaan metode
kontrasepsi pada wanita, beberapa metode ini mungkin akan mempengaruhi
fungsi seksual dan ini adalah keterbatasan pada penelitian ini.
Karena masalah seksual antara pasangan merupakan faktor penting
dalam menciptakan rasa sukacita, kepuasan dan berpengaruh pada kualitas
hidup mereka. Dalam penelitian ini fungsi seksual tidak terkait dengan jenis
persalinan. Temuan dari penelitian ini akan sama dengan sebagian besar
artikel relevan yang diterbitkan tentang hal ini dan tidak ada dasar yang
mendukung operasi sesaria untuk menjaga fungsi seksual.
Beberapa wanita karena takut persalinan pervaginam, mereka
meminta operasi caesar dan salah satu penyebab takut persalinan
pervaginam adalah takut masalah seksual setelah melahirkan sehingga
meningkatkan berulangnya operas caesar serta morbiditas ibu dan janin.
Mengingat tingkat yang relatif tinggi pada operasi caesar dalam penelitian
ini (46%) dan perempuan yang takut mengalami cedera genitalia selama
persalinan pervaginam, penyedia layanan kesehatan dapat mengurangi rasa
takut persalinan pervaginam dengan konsultasi dalam kunjungan prenatal.
KESIMPULAN
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara jenis persalinan dan
fungsi seksual. Oleh karena itu, dapat diusulkan bahwa persalinan
pervaginam memiliki sedikit dampak pada fungsi seksual setelah
melahirkan. Jadi dalam hal menjaga fungsi seksual setelah postpartum,
seksio sesarea tidak efektif dan tidak dianjurkan.