Anda di halaman 1dari 7

Parotitis Epidemika

Imelda Gunawan
E1 / 102012205
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Email : meldaa.gunawan@yahoo.com

Pendahuluan
Parotitis epidemika atau biasa disebut dengan gondongan adalah penyakit virus
menyeluruh, akut, yang kelenjar ludahnya membesar dan nyeri, terutama kelenjar parotis,
merupakan tanda-tanda yang biasa ada. Gondongan ini memiliki ciri yang khas pada
penderita nya, yaitu terjadi pembesaran pada daerah bawah telinga yang menyebabkan telinga
agak terangkat. Penyakit ini merupakan self limiting disease sehingga obat yang diberikanpun
simptomatik.1
Anamnesa
Anamnesa merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan
memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit pasien.
Dengan dilakukanya anamnesis maka 70% diagnosis dapat ditegakkan. Sedangkan 30%nya
lagi didapatkan dari pemeriksaan fisik, lab, dan radiologi (kalau diperlukan). Hal yang perlu
ditanyakan dokter pada saat anamnesis antara lain:2
1. Keluhan utama yakni gangguan atau keluhan yang terpenting yang dirasakan
penderita sehingga mendorong ia untuk datang berobat dan memerlukan
pertolongan serta menjelaskan tentang lamanya keluhan tersebut. Hal ini
merupakan dasar untuk memulai evaluasi pasien.
2. Riwayat pribadi merupakan segala hal yang menyangkut pribadi pasien seperti
data diri pasien seperti nama, tanggal lahir, umur, alamat, suku, agama, dan
pendidikan.
3. Riwayat sosial mencakup keterangan mengenai pekerjaan, aktivitas, perkawinan,
lingkungan tempat tinggal, dan lain-lain.
4. Riwayat penyakit dahulu merupakan riwayat penyakit yang pernah di derita pasien
pada masa lampau yang mungkin berhubungan dengan penyakit yang dialami
sekarang.
5. Riwayat keluarga meliputi segala hal yang berhubungan dengan peranan herediter
dan kontak antara anggota keluarga mengenai penyakit yang dialami.
1

6. Riwayat Imunisasi
7. Pada riwayat penyakit sekarang dapat menanyakan mengenai:
sejak kapan muncul gangguan atau gejala-gejala tersebut
frekuensi serangan atau kualitas penyakit
sifat serangan atau kuantitas penyakit
lamanya penyakit tersebut diderita
perjalanan penyakitnya, riwayat pengobatan sebelumnya
lokasi sakitnya
akibat yang timbul
gejala-gejala yang berhubungan
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan untuk memeriksa penyakit parotitis
epidemika ini adalah dengan cara :
-

Inspeksi leher untuk melihat adanya benjolan yang nyata. Benjolan ini kadang-kadang
lebih baik dilihat daripada diraba.3 Pada inspeksi ini juga dapat dilihat warna kulit dan

ukuran benjolan yang ada.


Palpasi pada salah satu atau kedua kelenjar parotis atau kelenjar air liur dan dilihat
apakah adanya rasa nyeri atau sakit .

Pemeriksaan Penunjang
Pada kasus klasik pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan. Pada keadaan tanpa
parotitis

menyebabkan

kesulitan

mendiagnosis,

sehingga

diperlukan

pemeriksaan

laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan adalah: 4,5


1. Pemeriksaan laboratorium rutin, yang memberikan hasil tidak spesifik dan sering
menunjukkan adanya leukopenia dengan limfositis relative atau kadang normal.
2. Tes serologi, dimana didapatkan kenaikan antibody spesifik terhadap parotitis
epidemika seperti complement fixation test (CF), hemaglutionation-inhibition (HI),
enzyme linked immunosorbent eassay (ELISA) dan virus neutralization. Dengan
ditemukannya IgM, dapat menegakkan diagnosis pada kasus sulit yang dapat
dideteksi pada minggu pertama sakit ini.
3. Isolasi virus penyebab dari saliva dan urin selama masa akut penyakit. Virus masih
dapat ditemukan dari urin 2 minggu setelah onset penyakit. Isolasi virus dilakukan
dengan membuat biakan. Biakan dinyatakan positif bila terdapat hemadsorpsi dalam

biakan yang diberi cairan fosfat-NaCl dan tidak ada pada biakan yang diberi serum
hiperimun.
4. Peningkatan amylase serum pada parotitis epidemika dan pankreatitis parotitis
epidemika mencapai puncaknya pada minggu pertama dan menurun pada minggu
kedua dan ketiga. Peningkatan serum amylase terjadi pada 70% parotitis epidemika
dengan parotitis.
Working Diagnosis
Diagnosa untuk penyakit parotitis epidemika termasuk mudah ditegakan dengan
gejala-gejala dan pemeriksaan fisik. Faktor-faktor yang harus diperhatikan

dalam

menegakkan diagnosis parotitis epidemika adalah:4


1. Riwayat kontak dengan penderita parotitis epidemika 2-3 minggu sebelum onset
penyakit
2. Adanya parotitis dan keterlibatan kelenjar yang lain
Diagnosis dibuat secara klinis antara lain dengan peningkatan amylase serum khas
dan pembengkakan parotis. Diagnosis spesifik dapat dipastikan dengan isolasi virus dari
saliva, CSS, urine, atau darah melalui biakan virus rutin. Peningkatan antibody serum
terhadap mumps juga bersifat diagnostic. Antibodi serum terhadap antigen S mencapai
puncaknya pada sekitar 75% penderita dan dapat dideteksi pada saat gejala-gejala muncul. 1
Differential Diagnosis
1. Parotitis supuratif, infeksi bakteri pada kelenjar parotis dan biasanya disebabkan oleh
Staphylococcus aureus. Nanah atau pus dapat keluar dari duktus Stensoni jika terjadi
penekanan

pada

kelenjar

tersebut

dan

dapat

dilihat

adanya

peningkatan

polimorfonuklear leukosit pada pemeriksaan darah rutin. Kulit diatas kelenjar panas,
memerah dan nyeri tekan. 1,4,5
2. Parotitis rekurens, radang pada kelenjar parotis. Penyakit ini ditandai dengan
pembengkakan frekuen dari kelenjar parotis. Infeksi dan hipersensitifitas terhadap
iodide dan phenotiazine

berhubungan dengan keadaan ini.

Tidak terjadi

pembengkakan kelenjar sublingual dan submaksila. Bersifat alergi yang berulang. 1,4,5
3. Limfadenitis servikal anterior et preaurikuler, pembengkakan unilateral maupun
bilateral limfonodus servikal yang penyebabnya adalah Staphylococcus aureus. Bila
dilakukan palpasi maka akan menghasilkan pembesaran limfonodus servikalis dan
rasa sakit akibat tekanan. Palpasi pada bagian leher juga dapat menentukan
konsistensi dari pembengkakannya. Penyakit ini lebih sering mengenai laki-laki dan

adanya gejala demam dan pembengkakan di daerah leher. Anak-anak di bawah usia 5
tahun juga sering menjadi target dari penyakit ini. 1,4,5
Manifestasi Klinis
Masa inkubasi berkisar dari 14-24 hari, dengan puncak pada hari ke 17-18 . Pada
anak, manifestasi prodromal jarang terjadi. Biasanya disertai dengan demam, nyeri otot
(terutama pada leher), nyeri kepala, dan malaise. Awalnya ditandai dengan nyeri
pembengkakan pada satu atau kedua kelenjar parotis. Pembengkakan parotis khas, mula-mula
mengisi rongga antara tepi posterior mandibula dan mastoid dan kemudian meluas dalam
deretan yang melengkung kebawah dan ke depan, diatas dibatasi oleh zigoma. Edema kulit
dan jaringan lunak biasanya meluas lebih lanjut dan menghilangkan batas pembengkakan
kelenjar, sehingga pembengkakan lebih mudah disadari dengan pandangan daripada dengan
palpasi. Pembengkakan dapat berkembang dengan sangat cepatnya, mencapai maksimal
hanya dalam beberapa jam, walaupun biasanya berpuncak pada 1-3 hari. Pembengkakan
jaringan mendorong lobus telinga ke atas dan ke luar, dan sudut mandibula tidak lagi dapat
dilihat. Pembengkakan perlahan-lahan menghilang dalam 3-7 hari tetapi kadang-kadang
berakhir lebih lama. Satu kelenjar parotis biasanya membengkak sehari atau dua hari sebelum
yang lain, tetapi lazim pembengkakan terbatas pada satu kelenjar. Daerah pembengkakan
lunak dan nyeri, nyeri diperoleh terutama oleh cairan rasa asam seperti jus lemon atau cuka.
Kemerahan dan pembengkakan sekitar lubang saluran stensen biasa terjadi. Edema faring dan
palatum molle homolateral menyertai pembengkakan parotis dan memindah tonsil ke medial.
Edema akut laring telah juga diuraikan. Edema di atas manubrium dan dinding dada sebelah
atas mungkin dapat terjadi karena penyumbatan limfatik. 1
Walaupun

kelenjar

parotis

yang

terkena

pada

sebagian

besar

penderita,

pembengkakan kelenjar submandibuler sering terjadi dan biasanya menyertai atau dekat
pasca pembengkakan kelenjar parotis. Pada 10-15% penderita hanya kelenjar-kelenjar
submandibuler yang mungkin membengkak. Kelenjar sublingual paling kurang sering
terinfeksi, biasanya secara bilateral, pembengkakan jelas pada daerah submental dan pada
dasar mulut.1
Etiologi
Virus ini adalah anggota kelompok paramikso virus, yang juga mencakup
parainfluenza, campak, dan virus penyakit Newcastle. Hanya diketahui ada satu serotype.
Biakan manusia atau sel ginjal kera terutama digunakan untuk isolasi virus. Pengaruh
sitopatik kadang-kadang ditemukan, tetapi hemadsorpsi merupakan indikator infeksi yang
4

paling sensitif. Virus telah diisolasi dari ludah, cairan cerebrospinal, darah, otak, dan jaringan
terinfeksi lain.1
Epidemiologi
Parotitis adalah endemik pada kebanyakan populasi perkotaan, virus tersebar dari
reservoar manusia dengan kontak lansung, tetesan yang dibawa udara, benda yang
terkontaminasi oleh ludah, dan urin. Virus ini tersebar ke seluruh dunia dan mengenai kedua
jenis kelamin secara sama, 85% infeksi terjadi pada anak yang lebih muda dari umur 15 tahun
sebelum penyebaran imunisasi. Sekarang penyakit ini sering terjadi pada orang dewasa muda,
menimbulkan epidemik di perguruan tinggi atau di tempat bekerja. Epidemik tampaknya
terutama terkait dengan tidak adanya imunisasi bukannya pada penyusuttan imunitas.
Epidemik terjadi pada semua musim tetapi sedikit lebih sering pada musim dingin akhir dan
musim semi. Sumber infeksi mungkin sukar dilacak karena 30-40% infeksi adalah subklinis.
Ada penurunan insiden sejak pengenalan vaksin parotitis epidemika di tahun 1968.1
Virus telah diisolasi dari ludah selama 6 hari sebelum dan sampai 9 hari sesudah munculnya
pembengkakan kelenjar ludah. Penularan biasanya tidak terjadi lebih lama daripada 24 jam
sebelum munculnya pembengkakan atau lebih lambat dari 3 hari sesudah menyembuh. Virus
telah diisolasi dari urin dari hari pertama sampai hari ke-14 sesudah mulai pembengkakan
kelenjar ludah.1
Imunitas seumur hidup biasanya menyertai infeksi klinis atau subklinis, walaupun
infeksi kedua telah terdokumentasi. Antibodi transplasenta beekerja lumayan efektif dalam
memproteksi bayi selama 6-8 bulan pertama. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita
parotitis dalam minggu sebelum persalinan mungkin mendertia parotitis yang tampak secara
klinis pada saat lahir atau mengalami sakit pada masa neonatus.1
Patofisiologis
Masa inkubasi 14 sampai 24 hari kemudian virus ber-replikasi di dalam traktus
respiratorius atas dan nodus limfatikus servikalis, dari sini virus menyebar melalui aliran
darah ke organ-organ lain, termasuk selaput otak, gonad, pankreas, payudara, tiroid, jantung,
hati, ginjal, dan saraf otak.6,7
Setelah masuk melalui saluran respirasi, virus mulai melakukan multiplikasi atau
memperbanyak diri dalam sel epitel saluran nafas. Virus kemudian menuju ke banyak
jaringan serta menuju ke kelenjar air liur dan parotis. Bila testis terkena virus tersebut maka
terdapat perdarahan kecil dan nekrosis sel epitel tubuli seminiferus. Pada pankreas kadangkadang terdapat degenerasi dan nekrosis jaringan.5,6

Penatalaksanaan
Parotitis epidemika tidak memerlukan pengobatan yang spesifik. Parotitis epidemika
adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri setelah 3 atau 4 hari. Terapi konservatif diberikan
berupa hidrasi yang adekuat dan nutrisi yang cukup untuk membantu penyembuhan.
Pengobatan ditujukan untuk mengurangi keluhan atau simptomatis dan istirahat selama
penderita demam dan kelenjar membengkak. Keluhan demam dapat dikurangi dengan
memberikan parasetamol. Pada penderita yang mengalami pembengkakan testis, sebaiknya
penderita menjalani istirahat tirah baring di tempat tidur. Tirah baring harus diatur menurut
kebutuhan penderita, tetapi tidak ada bukti statistik yang menunjukkan bahwa tirah baring ini
mencegah komplikasi. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres es pada area
testis yang membengkak. Terapi cairan intravena juga dapat ditujukan untuk penderita
meningoensefalitis dan muntah-muntah yang persisten. Diet makanan lunak dan pemberian
cairan harus disesuaikan dengan kemampuan penderita untuk mengunyah dan menelan. Tidak
ada antivirus yang tepat digunakan untuk parotitis epidemika.1
Komplikasi
Meningoensefalitis merupakan komplikasi tersering pada masa anak. Insiden yang
sebenarnya sukar diperkirakan karena infeksi subklinis sistem saraf sentral, serperti
dibuktikan oleh pleositosis cairan cerebrospinal, telah dilaporkan lebih dari 65% penderita
dengan parotitis.1
Orkitis, epididimitis jarang pada anak laki-laki pubertas tetapi sering pada remaja dan
orang dewasa dan dapat menyebabkan kemandulan. Nefritis, pancreatitis, tiroiditis,
miokarditis juga dapat merupakan komplikasi dari parotitis.1
Prognosis
Biasanya prognosis untuk parotitis epidemika baik, tetapi jika sudah terjadi
meningoensefalitis akan terjadi ketulian dan strerilisasi karena atrofi testis.
Pencegahan
Vaksinasi gondongan termasuk imunisasi rutin pada masa kanak-kanak. Vaksin ini
terdapat dalam kombinasi dengan campak dan rubella (MMR) yang disuntikkan melalui otot
paha atau lengan atas. Pemberian vaksin MMR dilakukan pada usia 16 bulan. Imunisasi ini
dapat diberikan kepada remaja dan orang dewasa yang belum menderita gondong. Pemberian
imunisasi ini tidak menimbulkan efek panas atau gejala lainnya. Anak yang divaksinasi
biasanya tidak mengalami demam atau reaksi klinis lain yang dapat dideteksi, tidak
mengeksekresi virus, dan tidak menular terhadap kontak yang rentan. Jarang parotitis dapat
berkembang 7-19 hari sesudah vaksinasi. Parotitis dan meningoensefalitis merupakan
komplikasi yang jarang dari vaksinasi mumps yang sangat protektif.9
6

Kesimpulan
Parotitis epidemika merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan virus mumps
dengan tanda khas pembengkakan kelenjar parotis yang disertai nyeri yang kadang mengenai
kelenjar gonad, pankreas dan organ lain, Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi MMR.
Gejala klinis dimulai dengan masa tunas 14 sampai 24 hari, dengan stadium prodromal 1
sampai 2 hari dengan gejala, demam, anoreksia, sakit kepala,muntah dan nyeri otot.
Kemudian timbul pembengkakan kelenjar parotis yang mula-mula unilateral tetapi kemudian
dapat bilateral. Pembengkakan terasa nyeri baik spontan maupun pada perabaan. Diagnosis
ini ditegakkan bila jelas ada gejala infeksi parotitis epidemika pada pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium tidak spesifik sehingga tidak bisa dijadikan patokan bila gejala
fisik tidak jelas maka diagnosis didasarkan atas pemeriksaan serologis, amilase dan virologi.
Penyembuhan atau terapi penyakit ini bersifat simptomatik dan suportif, karena tidak ada
terapi yang spesifik. Prognosis baik, tetapi bila terjadi komplikasi maka akan terjadi
kemandulan pada pria dan ketulian.

Daftar Pustaka
1.

Behrman, Kliegman, Arvin. Ilmu kesehatan anak nelson. Vol 2. Ed 5. Jakarta :

2.
3.
4.

EGC; 1996. H. 1074-77


Santoso M. Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Yayasan Diabetes Indonesia; 2005.
Burnside JW, MycGlynn TJ. Diagnosis Fisik. Jakarta: EGC; 1995.h. 157,159.
Lubis, CP. Buku ajar ilmu kesehatan anak, infeksi & penyakit tropis. Ed. 1.

Jakarta: EGC; 2002.h. 195-202.


5.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku kuliah ilmu kesehatan anak
6.

2. Jakarta: Infomedika jakarta; 2007.h. 629-33.


Yvonne M. Parotitis Epidemika (Gondong, Mumps) dalam Ilmu Kesehatan

7.

Anak Nelson. Jakarta :EGC ;1999.h.1074-6.


Adam A, Rosenberg, David

W.

Kaplan,

Gerald

B.

Merenstein,

Mumps(Epidemic Parotitis) dalam Handbook Of Pediatrics. Corolado : Edisi XVI;


1991.h.442-4.
8.
Gillespie SH, Bamford KB. At a glance mikrobiologi medis dan infeksi. Ed. 3.
9.

Jakarta: Erlangga; 2008.h. 71.


Cahyono JBSB. Vaksinasi, cara ampuh cegah penyakit infeksi. Yogyakarta:
Kanisius; 2010.h. 86-9.