Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

NIKAH SIRI

Disusun untuk memenuhi tugas


Matakuliah Pendidikan Agama Islam
DOSEN PENGASUH : Drs. M. Taufik, M.Si

DISUSUN OLEH :

DIANI FITRIANTI
03.013.0....

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
DARUL MAARIF AL-INSAN
BATURAJA
2013

BAB I
PENDAHULAAN

A. Latar Belakang
Allah menciptakan sesuatu dengan pasang-pasangan, laki-laki perempuan ,
hewan jantan dan betina, siang dam malam dan sebagainya, manusia hidup
berpasangan-pasangan menjadi suami istri menbangun rumah tangga yang damai
dan teratur. Untuk itu haruslah diadakan ikatan dan pertalian yang kekal dan tidak
mudah diputuskan, yaitu ikatan akad nikah atau ijab Kabul perkawinan. Bila akad
nikah telah dilangsungkan maka mereka telah berjanji dan setia akan membangun
rumah tangga yang sakinah dan mawadah warohmah, yang natinya akan akan
lahir keturunan-keturunan dari mereka.
Dalam hukum islam tujuan perkawianan adalah menjalankan perintah
allah SWT agar meperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat, dan
membentuk keluarga yang bahagia. Artinya ketika seseorang memutuskan untuk
menikah, maka lembaga perkawinan tersebut pastilah bertujuan untuk untuk
menciptakan ketenangan. Dan kedamaian bagi manusia yang telah mampuh unuk
melaksanakannya. Sebagai firman allah :


hai sekalian pemuda . siap yang sanggup bersetubu (Karena ada belanja nika),
hendaklah berkawin

Maka kawianlah perempuan yang kamu sukai, satu, dua, tiga dan emapat,
tetapi kalau kamu kautir tidak berlaku adil (diantara prempuan-prempuan Itu),
hendaklah satu saja(QS.Anisa.ayat 3)
Dalam firman Allah SWT dan sabda rosulnya mengajukan perkawinan. yang
diatas sudah jelas.
Namun akhir ini banyak temuan kasus perkawinan sirih di berbagai
kalangan, misalnya media cetak, maupun media elektronik dalam acara infotemen
dalam siaran TV swasta, banyak sekali tayangan-tanyangan maraknya tentang
perkawinan sirih mulai dari kalangan tokoh politik, selebritis maupun masyarakat
biasa, meski perkawinan tersebut sah menurut agama namun belum tentu secara
hukum.
Berdarakan uraian latarbelakang diatas, maka penulis merasa perlu untuk
mengangkatnya dalam suatu judul makalah Yaitu: Nikah Siri Menuruut
Pandangan Ulama Dan Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apa yang dimaksud dengan nikah siri?


Bagaimana tata cara pernikahan menurut islam?
Faktor apa saja yang melatarbelakangi terjadinya nika siri?
Sah tidaknya nikah siri menurut hukum agama dan hukum positif indonesia ?
Bagaimana pandangan para ulama tentang nikah sirih?
Bagai mana dampak yang ditimbulkan dari nikah siri terhadap perempuan
dan anaknya?

C. Maksud dan Tujuan


1. Agar kita mengetahui yang dimaksud niakah siri.
2. Agar kita mengetahui tata cara pernikahan menurut islam.

3. Agar kita mengetahui sah tidahnya nikah sirih menurut hukum islam dan
hukum posotifindonesia.
4. Agar kita mengetahui bagaimana pandangan ualam tentang nikah siri.
5. Agar kita mengetahui faktor apa saja yang melatarbelakangi terjadinya nikah
siri.
6. Agar kita mengetahui dampak yang ditimulkan dari nikah siri terhadap
perempuan dan anaknya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Nikah Siri

Perkawinan adalah aqad antara calon laki istri untuk memenuhi hajat jenis
kelamin yang diatur oleh syariat. Sedangkan pengertian dari ikah siri adalah
nikah secara rahasia (sembunyi-sembuyi). Disebut secara rahasia karena tidak
dilaporkan kekantor urusan agama atau KAU bagi muslim atau kantor catatan
sipil bagi non muslain.
Biasanya

nikah

siri

dilakukan

karena

dua

pihak

belum

siap

meresmikannya atau meramaikannya, namun dipihak lain untuk menjadi agar


tidak terjadi hal-hal yag tidak dinginkan atau terjerumus kepada hal-hal yang
dilarang agama.
Pendapat Imam Abu Hanifah, Yang dimaksud dengan nikah siri adalah
nikah yang tidak bisa menghadirkan wali dan tidak mencatatkan pernikahannya ke
KUA dengan tiga imam madzab lainnya. Beliau menetapkan bahwa wanita yang
telah baligh dan berakal (dalam kondisi normal) maka diperbolehkan memilih
sendiri calon suaminya. Dia tidak hanya tergantung pada walinya saja. Lebih
lanjut beliau menjelaskan wanita baligh dan berakal juga diperbolehkan aqad
nikah sendiri baik dalam kondisi perawan atau janda.

B. Bagaimana Tata Cara Pernikahan Menurut Islam


Sesungguhnya Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya yang
akan memasuki jenjang pernikahan, lengkap dengan tata cara atau aturan-aturan
Allah Subhanallah. Sehingga mereka yang tergolong ahli ibadah, tidak akan
memilih tata cara yang lain.

Namun di masyarakat kita, hal ini tidak banyak diketahui orang. Kami
akan mengungkap tata cara penikahan sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad
SAW yang hanya dengan cara inilah kita terhindar dari jalan yang sesat (bidah).
Jelas tentang ajaran agamanya karena meyakini kebenaran yang
dilakukannya. Dalam masalah pernikahan sesunggguhnya Islam telah mengatur
sedemikian rupa. Dari mulai bagaimana mencari calon pendamping hidup sampai
mewujudkan sebuah pesta pernikahan.
Berikut ini kami akan membahas tata cara pernikahan menurut Islam
secara singkat. Hal-Hal Yang Perlu Dilakukan Sebelum Menikah
1. Minta Pertimbangan
Bagi seorang lelaki sebelum ia memutuskan untuk mempersunting seorang
wanita untuk menjadi isterinya, hendaklah ia juga minta pertimbangan dari
kerabat dekat wanita tersebut yang baik agamanya. Mereka hendaknya orang
yang tahu benar tentang hal ihwal wanita yang akan dilamar oleh lelaki
tersebut, agar ia dapat memberikan pertimbangan dengan jujur dan adil.
Begitu pula bagi wanita yang akan dilamar oleh seorang lelaki, sebaiknya ia
minta pertimbangan dari kerabat dekatnya yang baik agamanya.
2. Shalat Istikharah
Setelah mendapatkan pertimbangan tentang bagaimana calon isterinya,
hendaknya ia melakukan shalat istikharah sampai hatinya diberi kemantapan
oleh Allah Taala dalam mengambil keputusan. Shalat istikharah adalah shalat
untuk meminta kepada Allah Taala agar diberi petunjuk dalam memilih mana
yang terbaik untuknya. Shalat istikharah ini tidak hanya dilakukan untuk
keperluan mencari jodoh saja, akan tetapi dalam segala urusan jika seseorang
mengalami rasa bimbang untuk mengambil suatu keputusan tentang urusan
yang penting. Hal ini untuk menjauhkan diri dari kemungkinan terjatuh

kepada penderitaan hidup. Insya Allah ia akan mendapatkan kemudahan


dalam menetapkan suatu pilihan.
3. Khithbah (peminangan)
Setelah seseorang mendapat kemantapan dalam menentukan wanita
pilihannya, maka hendaklah segera meminangnya. Laki-laki tersebut harus
menghadap orang tua/wali dari wanita pilihannya itu untuk menyampaikan
kehendak hatinya, yaitu meminta agar ia direstui untuk menikahi anaknya.
Adapun wanita yang boleh dipinang adalah bilamana memenuhi dua syarat
sebagai berikut, yaitu:
a. Pada waktu dipinang tidak ada halangan-halangan.
syari yang menyebabkan laki-laki dilarang memperisterinya saat itu.
Seperti karena suatu hal sehingga wanita tersebut haram dini kahi
selamanya(masih mahram) atau sementara (masa iddah/ditinggal suami
atau ipar dan lain-lain).
b. Belum dipinang orang lain secara sah
Sebab Islam mengharamkan seseorang meminang pinangan saudaranya.
Dari Uqbah bin Amir radiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam bersabda: "Orang mukmin adalah saudara orang mukmin yang
lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin menjual barang yang sudah
dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang wanita yang sudah
dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu meninggalkannya." (HR.
Jamaah) Apabila seorang wanita memiliki dua syarat di atas maka haram
bagi seorang laki-laki untuk meminangnya.
4. Melihat Wanita yang Dipinang
Islam adalah agama yang hanif yang mensyariatkan pelamar untuk melihat
wanita yang dilamar dan mensyariatkan wanita yang dilamar untuk melihat
laki-laki yang meminangnya, agar masing- masing pihak benar-benar

mendapatkan kejelasan tatkala menjatuhkan pilihan pasangan hidupnya Dari


Jabir radliyallahu anhu, bersabda : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
"Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, maka
apabila ia mampu hendaknya ia melihat kepada apa yang mendorongnya
untuk menikahinya."
Jabir berkata: "Maka aku meminang seorang budak wanita

dan aku

bersembunyi untuk bisa melihat apa yang mendorong aku untuk


menikahinya. Lalu aku menikahinya." (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh
Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Abu Dawud, 1832).
Adapun ketentuan hukum yang diletakkan Islam dalam masalah melihat
pinangan ini di antaranya adalah:
a.
Dilarang berkhalwat dengan laki-laki peminang tanpa disertai mahram.
b.
Wanita yang dipinang tidak boleh berjabat tangan dengan laki- laki
yang meminangnya
5. Aqad Nikah
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi:
a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
b. Adanya ijab qabul. Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu
perkataan.
Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul itu artinya seseorang
menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya
menyatakan menerima. Dalam perkawinan yang dimaksud dengan "ijab
qabul" adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan
mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan
yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang
mengambil
c.

perempuan

tersebut

sebagai

isterinya.

Lalu

lelaki

bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.


Adanya Mahar (mas kawin)
Islam memuliakan wanita dengan mewajibkan laki-laki yang hendak
menikahinya menyerahkan mahar (mas kawin). Islam tidak menetapkan

batasan nilai tertentu dalam mas kawin ini, tetapi atas kesepakatan kedua
belah pihak dan menurut kadar kemampuan. Islam juga lebihmenyukai
mas kawin yang mudah dan sederhana serta tidak berlebih-lebihan dalam
memintanya.
Dari Uqbah bin Amir, bersabda Rasulullah shallallahualaihi wa sallam:
"Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan."
(HR.Al-Hakim dan Ibnu Majah, shahih, lihat Shahih
Al-Jamius Shaghir 3279 oleh Al-Albani)
d.

Adanya Wali
Dari Abu Musa radliyallahu anhu, Nabi shallallahualaihi wa sallam
bersabda:
"Tidaklah sah suatu pernikahan tanpa wali." (HR. Abu Daud dan
dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
Wali yang mendapat prioritas pertama di antara sekalian wali-wali yang
ada adalah ayah dari pengantin wanita. Kalau tidak ada barulah kakeknya
(ayahnya ayah), kemudian saudara lelaki seayah seibu atau seayah,
kemudian anak saudara lelaki. Sesudah itu barulah kerabat-kerabat
terdekat yang lainnya atau hakim.

e.

Adanya Saksi-Saksi
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak sah suatu
pernikahan tanpa seorang wali dan dua orang saksi yang adil." (HR. AlBaihaqi dari Imran dan dari Aisyah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius
Shaghir oleh Syaikh Al-Albani no. 7557).
Menurut sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam, sebelum aqad nikah
diadakan khuthbah lebih dahulu yang dinamakan khuthbatun nikah

ataukhuthbatul-hajat.
6. Walimah

Walimatul Urus hukumnya wajib. Dasarnya adalah sabda

Rasulullah

shallallahu alaih wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf:"....Adakanlah


walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing." (HR. Abu Dawud dan
dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854)
Memenuhi undangan walimah hukumnya juga wajib."Jika kalian diundang
walimah, sambutlah undangan itu (baik undangan perkawinan atau yang
lainnya).

C. Faktor Yang Melatarbelakangi Terjadinya Nika Siri


Bermacam alasan yang melatarbelakangi seseorang melakukan nikah
siri. Ada yang menikah karena terbentur ekonomi, sebab sebagian pemuda
tidak mampu menanggung biaya pesta, menyiapkan rumah milik dan harta
gono gini, maka mereka memilih menikah dengan cara misyar yang penting
halal, hal ini terjadi di sebagian besar Negara Arab . Adajuga yang tidak
mampu mengeluarkan dana untuk mendaftarkan diri ke KUA yang
dianggapnya begitu mahal. Atau malah secara finansial pasangan ini cukup
untuk membiayai, namun karena khawatir pernikahannya tersebar luas
akhirnya mengurungkan niatnya untuk mendaftar secara resmi ke KUA atau
catatan sipil. Hal ini untuk menghilangkan jejak dan bebas dari tuntutan
hukum dan hukuman administrasi dari atasan, terutama untuk perkawinan
kedua dan seterusnya (bagi pegawai negeri dan TNI).
Menurut psikolog Ekorini Kuntowati, nikah siri juga dilatarbelakangi oleh
model keluarga masing-masing pasangan. Pernikahan siri ataupun bukan,
tidak menjadi jaminan untuk mempertahankan komitmen. Seharusnya orang
lebih bijak, terutama bila hukum negara tidak memfasilitasinya. Nikah siri
terjadi bukan hanya karena motivasi dari pelaku/pasangan atau latar belakang

keluarganya, lingkungan sosial atau nilai sosial juga turut membentuknya.


Sebut saja ketika biaya pencatatan bikah terlalu mahal sehingga ada kalangan
masyarakat tak mampu tidak memedulikan aspek legalitas.
Faktor lain, ada kecenderungan mencari celah-celah hukum yang tidak
direpotkan oleh berbagai prosedur pernikahan yang dinilai berbelit, yang
penting dapat memenuhi tujuan, sekalipun harus rela mengeluarkan uang
lebih banyak dari seharusnya. UU 1/1974 tentang Perkawinan beserta
peraturan pelaksanaannya mengatur syarat yang cukup ketat bagi seseorang
atau pegawai negeri sipil (PNS) yang akan melangsungkan pernikahan untuk
kali kedua dan seterusnya, atau yang akan melakukan perceraian. Syarat yang
ketat itu, bagi sebagian orang ditangkap sebagai peluang ''bisnis'' yang cukup
menjanjikan. Yaitu dengan menawarkan berbagai kemudahan dan fasilitas,
dari hanya menikahkan secara siri (bawah tangan) sampai membuatkan akta
nikah asli tapi palsu (aspal). Bagi masyarakat yang berkeinginan untuk
memadu, hal itu dianggap sebagai jalan pintas atau alternatif yang tepat.
Terlebih, di tengah kesadaran hukum dan tingkat pengetahuan rata-rata
masyarakat yang relatif rendah. Tidak dipersoalkan, apakah akta nikah atau
tata cara perkawinan itu sah menurut hukum atau tidak, yang penting ada
bukti tertulis yang menyatakan perkawinan tersebut sah. Penulis menyebut
fenomena itu sebagai ''kawin alternatif''.
D. Sah Tidaknya Nikah Siri Menurut Hukum Agama Dan Hukum
Positif Indonesia
1. Hukum Agama
Hukum nikah sirih hukum nikah siri secara agama adalah sah atau legal
dan dihalalkan atau diperbolehkan jika sarat dan rukun nikanya terpenuhi
pada saat ini nikah sirih digelar. Rukun nikah yaitu 1). Adanya kedua

mempelai ,2) adanya wali, 3) adanay saki nika, 4) adanay mahar atau ma
kawin, 5) adanay ijab gobul atau akad.
2. Hukum Positif Indonesia
Undang-Undang (UU RI) tentang Perkawinan No. 1 tahun 1974 diundangundangkan pada tanggal 2 Januari 1974 dan diberlakukan bersamaan
dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yaitu Peraturan Pemerintah
No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974 tentang
Perkawinan. Menurut UU Perkawinan, perkawinan ialah ikatan lahir batin
antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan
membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1 UU Perkawinan). Mengenai sahnya
perkawinan dan pencatatan perkawinan terdapat pada pasal 2 UU
Perkawinan, yang berbunyi: "(1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu; (2)
Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku."
Dari Pasal 2 Ayat 1 ini, kita tahu bahwa sebuah perkawinan adalah sah
apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya itu. Ini berarti bahwa jika suatu perkawinan telah
memenuhi syarat dan rukun nikah atau ijab kabultelah dilaksanakan (bagi
umat Islam) atau pendeta/pastur telah melaksanakan pemberkatan atau
ritual lainnya, maka perkawinan tersebut adalah sah terutama di mata
agama dan kepercayaan masyarakat. Tetapi sahnya perkawinan ini di mata
agama dan kepercayaan masyarakat perlu disahkan lagi oleh negara, yang
dalam hal ini ketentuannya terdapat pada Pasal 2 Ayat 2 UU Perkawinan,

tentang pencatatan perkawinan . Bagi mereka yang melakukan perkawinan


menurut agama Islam pencatatan dilakukan di KUA untuk memperoleh
Akta Nikah sebagai bukti dari adanya perkawinan tersebut. (pasal 7 ayat 1
KHI "perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat
oleh Pegawai Pencatat Nikah"). Sedangkan bagi mereka yang beragama
non muslim pencatatan dilakukan di kantor Catatan Sipil, untuk
memperoleh Akta Perkawinan.
Mengenai pencatatan perkawinan, dijelaskan pada Bab II Pasal 2 PP No. 9
tahun 1975 tentang pencatatan perkawinan. Bagi mereka yang melakukan
perkawinan menurut agama Islam, pencatatan dilakukan di KUA.
Sedangkan untuk mencatatkan perkawinan dari mereka yang beragama
dan kepercayaan selain Islam, cukup menggunakan dasar hukum Pasal 2
Ayat 2 PP No. 9 tahun 1975. Tata cara pencatatan perkawinan
dilaksanakan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal
9 PP No. 9 tahun 1975 ini, antara lain setiap orang yang akan
melangsungkan perkawinan memberitahukan secara lisan atau tertulis
rencana perkawinannya kepada pegawai pencatat di tempat perkawinan
akan

dilangsungkan,

selambat-lambatnya

10

hari

kerja

sebelum

perkawinan dilangsungkan. Kemudian pegawai pencatat meneliti apakah


syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat
halangan perkawinan menurut UU. Lalu setelah dipenuhinya tata cara dan
syarat-syarat pemberitahuan serta tidak ditemukan suatu halangan untuk
perkawinan, pegawai pencatat mengumumkan dan menandatangani
pengumuman

tentang

pemberitahuan

kehendak

melangsungkan

perkawinan dengan cara menempel surat pengumuman pada suatu tempat


yang sudah ditentukan dan mudah dibaca oleh umum .

E. Bagaimana Pandangan Para Ulama Tentang Nikah Siri


Menurut pandangna mahzab hanfi dan hambali suatu penikahan yang sarat
dan rukunya mka sah menurut agama islam walaupun pernikah itu adalah
pernikahn siri. Hal itu sesuai dengan dalil yang berbunyi :
artinya takutlah kamu terhadap wanita, kamu ambil mereka (dari orang
tuanya ) dengan amanah allah dan kamu halalkan percampuran kelamin
dengan mereka dengan kalimat allah(ijab qabul)(rohil muslaim).
Sedangkan menurut kiayai hisen muhamad seorang komisioner komnas
prempuan mnyatakan pernikahan pria dewasa dengan wanita secara sirih
merupakan pernikahan terlarang karena pernikahn tersebut dapat merugikan
si perempauan, sedangkan islam jusru melindungi prempuan bukan malah
merugikannya.
Menurut kalangan Ulama Syiah memang membolehkan cara pernikahan
seperti itu. Yaitu nikah siri, sebih baik ketimbang berjinah yang sangat
dilaknat oleh Allat SWT.
Kalangan Ulama Suni di Indonesia yang berpendapat bahwa Nikah sirih
adalah Halal berdasarkan nash Al Quran (Anisa:3), dan bahkan tidak sedikit
diantaranya yang melakukannya, bukan semata-mata karena kebutuhan
seksual, tetapi guna menunjukan ke-halalan Nikah sirih itu sendiri.

F. Bagai Mana Dampak Yang Ditimbulkan Dari Nikah Siri Terhadap


Perempuan Dan Anaknya

Pertama, perkawinan dianggap tidak sah. Meski perkawinan dilakukan


menurut agama dan kepercayaan, namun di mata negara perkawinan tersebut
dianggap tidak sah jika belum dicatat oleh KUA atau Kantor Catatan Sipil (KCS).
Kedua, anak hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga
ibu (pasal 42 dan 43 UU Perkawinan). Sedangkan hubungan perdata dengan
ayahnya tidak ada. Ini artinya anak tidak dapat menuntut hak-haknya dari ayah.
Dengan dilahirkan dalam perkawinan yang tidak dicatatkan, kelahiran anak
menjadi tidak tercatatkan pula secara hukum dan hal ini melanggar hak asasi anak
(Konvensi Hak Anak). Anak-anak ini berstasus anak di luar perkawinan.
Ketiga, akibat lebih jauh dari perkawinan yang tidak tercatat adalah, baik istri
maupun anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut tidak berhak
menuntut nafkah ataupun warisan dari ayahnya.
Secara garis besar, perkawinan yang tidak dicatatkan sama saja dengan
membiarkan adanya hidup bersama di luar perkawinan, dan ini sangat merugikan
para pihak yang terlibat (terutama perempuan), terlebih lagi kalau sudah ada anakanak yang dilahirkan. Mereka yang dilahirkan dari orang tua yang hidup bersama
tanpa dicatatkan perkawinannya, adalah anak luar kawin yang hanya mempunyai
hubungan hukum dengan ibunya, dalam arti tidak mempunyai hubungan hukum
dengan bapaknya. Dengan perkataan lain secara yuridis tidak mempunyai
bapak (Wila Chandrawila, 2001). Sebenarnya, tidak ada paksaan bagi masyarakat
untuk mencatatkan perkawinan. Dalam artian, jika kita tidak mencatatkan
perkawinan, bukan berarti kita melakukan suatu kejahatan. Namun jelas pula
bahwa hal ini memberikan dampak atau konsekuensi hukum tertentu yang
khususnya merugikan perempuan dan anak-anak.

Bersinggungan

dengan

pentingnya

pencatatan

perkawinan,

seperti

juga

pembuatan KTP atau SIM, kita sesungguhnya membicarakan pelayanan publik


yang menjadi tanggung jawab negara. Sehingga sudah semestinya memperhatikan
prinsip good governance, salah satunya adalah menetapkan biaya yang sesuai
dengan taraf kehidupan masyarakat dan prosedur yang tidak berbelit-belit (userfriendly). Dengan prosedur yang tidak berbelit-belit dan biaya yang sesuai
masyarakat diajak untuk mencatatkan perkawinannya.

G. Pengertian poligami , Nikah Siri dan kawin Kontrak


Poligami adalah uangkapan bagi seorang lelaki yang beristri lebih dari
satu, dan ini dalam ajaran Islam tidak dilarang meski untuk melakukannya harus
memenuhi syarat dan kriteria tertentu. Dalam perkembangannya poligami
terkadang hanya dijadikan alasan oleh sebagian orang sebagai legalisasi, namun
tidak sedikit penganut poligami yang Rumah tangganya bahagia karena di dasari
dengan ajaran Agama yang diyakini kebenarannya.
Nikah Siri adalah sebuah perbuatan dalam melakukan pernihakan sesuai
aturan agama dalam hal ini Ajaran Islam namun karena berbagai hal yang
menghalanginya menjadikan tidak terjadinya pencatatan secara syah atau legal
oleh aparat yang berwenang dalam hal ini Pemerintah yang di wakili Departemen
Agama.
Kawin Kontrak adalah sebuah perkawinan yang di batasi waktu sehingga
akan berakhir sesuai ketentuan waktu yang telah disepakati oleh kedua belah
pihak yang melakukan perkawinan itu sendiri. Kawin kontrak yang dalam ajaran

Islam di kenal dengan Istilah Nikah Mut ah yang dalam perkembangan syariat
Islam nikah model ini telah dilarang.
Ketiga type perkawinan tersebut kini telah digodog rancangan undangundangnya oleh Pemerintah yang di wakili oleh Departemen Agama dengan
sebuah Rancangan Undang-undang , yang didalamnya diatur bagi orang yang
melakukannya akan di kenai sangsi hukum. Akankah RUU tersebut efektif,
mungkinkah ini akan menjadi sebuah solusi atau hanya akan menjadi masalah
baru ? dalam kehidupan masyarakat kita, setujukah rekan-rekan semua dengan
rancangan Undang-undang tersebut, sesuatu yang di halalkan oleh Tuhan
mungkinkah dilarang oleh Manusia, wallahu Alam.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan.
Pernikah siri adalah nika dibawah tangan atau nikah secara sembunyisembunyi. Disebut secara sembunyi karena tidak dilaporakan kekantor urusan
agama bagi muslaim atau catatan sipil non muslim. Pendapat Imam Abu Hanifah,
Yang dimaksud dengan nikah sirih adalah nikah yang tidak bisa menghadirkan
wali dan tidak mencatatkan pernikahannya.
Sesungguhnya Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya yang
akan memasuki jenjang pernikahan, lengkap dengan tata cara atau aturan-aturan
Allah Subhanallah. Penikahan sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam yang hanya dengan cara inilah kita terhindar dari jalan yang
sesat (bidah).
Hukum nikah sirih secara aturan agama adalah sah. Dan dihalalkan atau
diperbolehkan jika sarat dan rukun nikanya terpenuhi. Namun secara hukum yang
berlaku di Negara kita tentang perundang-undangan pernikahan itu tidak sah
karena di dalam perundangan ada yang tidak lengkap secara administrasi.
Dampak yang ditimbulkan dari nikah sirih lebih banyak faktor kerugaiannya
dibandingkan faktor keuntungannya. Kerugaian yang terbesar dari nikah siri
berdampak pada pihak perempuan dan anaknya untuk masa depannya.
Faktor yang melatarbelakangi adanya nikah sirih yaitu 1) faktor ekonomi,
2) proses admisntrasi pernikahan yang dianggap terlalu sukar, 3) bagi pria yang
yang ingin menukah lagi atau poligami tetap tidak mendapat persetujuan atau
disetujui dari istri ke pertama, 4) dari awal baik siwanita atau pria yang

melakukan nikah siri mempunyai itikad tidak baik, hanya sekedar menghalalkan
hubungan persetubuhan saja.

B. Saran
Kepada pemuda pemudi islam tidak mengikuti tata cara perkawinan sirih
karena dapat merugikan. Dan berusaha menghindari pernikahan sirih. Juga kepada
pemerintah melakukan penyuluhan dan dapat menghimbau masyarakat tentang
kerugian nikah siri.

DAFTAR PUSTAKA

http://iusyusephukum.blogspot.com/2013/04/makalah-hukum-nikahsirih-dalam.html
http://mahathir71.blogspot.com/2012/05/poligami-dalam-perspektifhukum-islam.html
http://thoha.files.wordpress.com/2011/06/makalah-poligami-menurutperspektif-islam.pdf