Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

MUTASI PADA BAKTERI


Achetobacter xylinum

Disusun Oleh :
Hendrik Nurfitrianto (083244218)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2007
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi
mikroba.Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Faktor lingkungan
meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia), dan faktor biotik.
Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan.
Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. James
Watson dan Francis Crick pada tahun 1953 mengajukan 2 hal, yaitu yang berhubungan dengan
AND dan implikasi genetic dari struktur AND pada proses terjadinya variasi genetic ( mutasi ).
Mutasi adalah perubahan pada AND yang bersifat permanent. Perubahan ini dapat terlihat
pada fenotip suatu organisme. Perubahan pada AND dapat meliputi perubahan satu atau lebih
nukleotida. Mutasi dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu :
a. Mutasi Spontan
b. Mutasi Buatan
Mutasi yang disebabkan oleh suatu factor atau beberapa faktor yang tidak diketahui
dengan pasti penyebabnya ialah mutasi spontan, sedangkan mutasi yang sengaja dibuat
sehingga dapat diketahui dengan jelas dan pasti ialah mutasi buatan
Perubahan pada DNA dapat meliputi perubahan satu atau lebih nukleotida. Mutasi juga
terjadi dalam genotip suatu individu yang terjadi secara tiba-tiba dan secara random yang
menyangkut perubahan yang terjadi pada bahan genetik, akan tetapi biasanya juga terjadi pada
perubahan karena aberasi kromosom yang diikut sertakan.Mutasi perubahan DNA yang bersifat
permanent. Perubahan itu dapat dilihat pada fenotip suatu organisme.
Dalam praktikum kami menyumpulkan bahwa mutasi yang terjadi adalah termasuk
mutasi buatan, karena kami merencanakan akan melakukan percobaan pada bakteri yang di
mutasi dengan sinar UV.
Untuk mengetahui pengaruh mutasi khususnya mutasi spontan pada suatu organisme,
dalam praktikum kali ini kami menggunakan bakteri Achetobacter xylinum sebagai bahan uji.
Selain itu praktikum ini ditujukan untuk mengetahui kecapatn mutasi suatu organisme khususnya
bakteri Achetobacter xylinum.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, diketahui rumusan masalah dalam eksperimen ini
adalah Bagaimanakah reaksi yang diberikan oleh Achetobacter xylinum terhadap mutasi spontan
melalui radiasi sinar UV yang dilakukan dan berapakah kecepatan mutasi yang ditunjukkan?

3. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari respon Achetobacter xylinum terhadap
terjadinya mutasi spontan mutasi spontan dan menghitung kecepatan mutasi yang terjadi.

4. Manfaat
Dari percobaan yang telah dilakukan, ada beberapa manfaat yang dapat kita
ambil:
1. Memahami dengan pengertian mutasi khususnya mutasi spontan.
2. Mengetahui reaksi Achetobacter xylinum atas perlakuan mutasi
spontan yang diberikan.
3. Mengetahui kecepatan mutasi pada Achetobacter xylinum.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Mutasi ada dua macam dilihat dari sudut penyebabnya (1) mutasi spontan yang
terjadi dengan sendirinya di alam ini (Gardner and Snustad, 1981). (2) mutasi buatan yang
disebabkan oleh agen-agen mutasi seperti radiasi ultraviolet (UV), zat-zat kimia seperti asam
nitrit (HNO2), senyawa CH yang bersifat aromatik (Koolman dan Rohm, 1994). Suatu contoh
pada lalat buah, kondisi-kondisi lingkungan seperti suhu lingkungan, pH, nutrisi dan cahaya
yang tidak sesuai dapat menyebabkan terjadinya mutasi (Zheng, 2003).

Ternyata perubahan tersebut terjadi karena adanya penyimpangan dari


kromosomnya. Seth wright juga melaporkan peristiwa mutasi pada domba jenis Ancon yang
berkaki pendek dan bersifat menurun.Istilah mutasi pertama kali digunakan olehHugo de vries,
untuk mengemukakan adanya perubahan fenotipe yang mendadak pada bunga oenothera
lamarckiana dan bersifat menurun.

Dahulu, mutasi disefinisikan sebagai perubahan sifat dari gen secara permanen,
sedangkan pada masa sekarang ini mutasi diketahui merupakan perubahan dari basa atau urutan
dari basa penyusun DNA. Pada umumnya penyebab mutasi pada makhluk hidup dari spesies
apapun baik tanaman maupun hewan adalah sama, hanya intensitasnya saja yang berbeda.
Penelitian ilmiah tentang mutasi dilakukan pula oleh Morgan ( 1910) dengan
menggunakan Drosophila melanogaster (lalat buah). Akhirnya murid Morgan yang
bernama Herman Yoseph Muller berhasil dalam percobaannya terhadap lalat buah,yaitu
menemukan mutasi buatan dengan menggunakan sinar X. Peristiwa terjadinya mutasi disebut
mutagenesis. Makhluk hidup yang mengalami mutasi disebut- mutan; dan faktor penyebab
mutasi disebut mutagen ( mutagenik agent) .

Para ilmuwan biasa menggunakan mikkroorganisme seperti bakteri untuk mengetahui


bagaimana mutasi dapat terjadi. Untuk itu para ilmuwan harus mengembangbiakkan bakteri pada
substrat tertentu dengan cara yang tertentu pula.
Pertumbuhan mikroorganisme tergantung dari tersedianya air. Bahan-bahan yang terlarut
dalam air, yang digunakan oleh mikroorganisme untuk membentuk bahan sel dan memperoleh
energi, adalah bahan makanan. Tuntutan berbagai mikroorganisme yang menyangkut susunan
larutan makanan dan persyaratan lingkungan tertentu, sangat berbeda-beda. Oleh sebab itu
diperkenalkan banyak resep untuk membuat media biak bagi mikroorganisme. Pada dasarnya
suatu larutan biak sekurang-kurangnya harus memnuhi syarat-syarat berikut. Di dalamnya harus
tersedia semua unsure yang ikut serta pada pembentukan bahan sel dalam bentuk berbagai
senyawa yang dapat diolah.
Macam mutasi ada beberapa jenis antara lain.
(1) Mutasi noktah (point mutation), yaitu salah satu basa berubah misalnya Cytosin (C) menjadi
Uracil (U) maka pada replikasi berikutnya U akan berpasangan dengan A bukan dengan G,
sehingga menyebabkan kesalahan pembacaan DNA,
(2) Penyisipan (insersi) segmen DNA ke dalam satu rangkaian DNA,
(3) Delesi yaitu hilangnya satu atau beberapa basa di dalam DNA,
(4) Inversi, yaitu DNA mengalami rotasi 180 o sehingga mmbuat satu atau beberapa pasang basa
berpindah tempat (Koolman dan Rohm, 1994) ; (Li and Graur, 1991).

Penetapan jumlah bakteri. Didalam suatu populasi bakteri tidak semua sel mampu hidup
terus menerus. Yang dianggap sebagai sel hidup adalah sel yang mampu membentuk koloni di
dalam agar biak atau membentuk suspensi dalam larutan biak. Sel sel yang mampu hidup terus
inilah yang dihitung dengan berbagai metode untuk menentukan jumlah sel.
Sterilisasi dapat dicapai dengan menggunakan pemanasan lembab, pemanasan kering,
filtrasim, penyinaran atau dengan menggunakan bahan kimia. Metode sterilisasi dapat
menggunakan pemanasan dengan suhu yang tinggi. Untuk mencapai suhu yang lebih tinggi
daripada titik didih air dapat digunakan otoklaf.
Sejumlah besar mikroorganisme yang tidak banyak tuntutan, misalnya banyak
pseudomonad dalam tanah dan air, dan juga Escherechia coli misalnya, dapat tumbuh subur
dalam larutan biak. Mikroorganisme masih memerlukan banyak unsure lain yaitu unsure
pelengkap, vitamin-vitamin dan senyawa tumbuhan yang lain. Sesuatu larutan biak yang dapat
dibuat dari senyawa kimia tertentu disebut media biak sintetik. Harus diusahakan agar intuk
setiap mikroorganisme dapat ditetapkan kebutuhan bahan makanan minimum yang tidak
mengandung lebih banyak komponen yang diperlukan untuk pertumbuhan, spesies yang
mempunyai tuntutan tinggi membutuhkan sejumlah besar zat pelengkap.
Pematian mikroorganisme mendasari metode kerja mikrobiologik dan pengawetan bahan
makanan. Pembebasan suatu bahan dari mikroorganisme hidup atau stadium istirahatnya disebut
sterilisasi. Harus dibedakan antara sterilisasi denga pateurisasi dan juga dengan konservasi. Jika
suatu larutan biak steril atau yang sudah ditanami kuman, tanpa dikehendaki dicemari oleh
milroorganisme, peristiwa ini disebut kontaminasi.
Mutasi dapat juga terjadi secara alami atau spontan dan mutasi buatan atau induksi.
I. Menurut tipe sel atau macam sel yang mengalami mutasi.
1. Mutasi somatis
Yaitu mutasi yang terjdi pada sel-sel tubuh atau sel soma.
2. mutasi germina
yaitu mutasi yang terjadi pada sel kelamin atau gamet sehingga dapat diturunkan.
II. Menurut sifat genetiknya, mutasi dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
1. mutasi dominan dan
2. mutasi resesif
III. Menurut arah mutasinya
1. mutasi maju
yaitu mutasi yang berasal dari fenotip normal menjadi abnormal.
2. mutasi balik
yaitu mutasi yang dapat mengembalikan dari fenotip tidak normal menadi fenotip
normal.

IV. Menurut kejadiannya


a. Mutasi alami atau mutasi spontan
Yaitu mutasi yang terjadi penyebabnya tidak diketahui. Mutasi ini terjadi di alam
secara spontan (alami), secara kebetulan dan jarang terjadi. Misalnya mutagen alam
adalah sinar kosmis, radio aktif alam, dan sinar ultraviolet.
b. Mutasi buatan atau mutasi induksi
Yaitu mutasi yang terjadi dengan adanya campur tangan manusia. Proses
perubahan gen atau kromosom secara sengaja diusahakan oleh manusia dengan zat kimia,
sinar X, radiasi, dan sebagainya, maka sering disebut juga mutasi induksi.
Mutasi buatan dengan sinar X dipelopori oleh Herman Yoshep Muller (murid
Morgan) yang berkebangsaan Amerika serikat (1890 – (1945). Muller berpendapat bahw
mutasi pada sel soma tidak membawa perubahan, sedangkan mutasi sel-sl generatif atau
gam,et kebanyakan letal dan membawa kematian sebelum atau sesudah kelahiran.
Selanjutnya pada tahun 1927 dapat diketahui bahwa sinar X dapat menyebabkan gen
mengalami ionisasi sehingga sifat menjadi labil. Dan akhirnya mutasi buatan
dilaksanakan pula dengan pemotongan daun atau penyisipan DNA pada organisme-
organisme yang kita inginkan.
Mutasi dpat terjadi pada tingkat DNA, gen, kromosom, dan mutasi terjadi secara alami atau
spontan dab buatan atau induksi.
1. Mutasi Gen
Pasangan basa nitrogen pada DNA, antar timin dan adenine atau antar guanine dan sitosin
dihubungkan dengan akatan hidrogen yang lemah. Atom-atom hidrogen dapat berpindah dari
satu posisi ke posisi lain pada purin atau pirimidin. Perubahan kima tersebut disebut
perubahan tautomer. Misalnya, secara tidak normal, adenin berpasangan dengan sitosin dan
timin berpasangan dengan guanin. Peristiwa perubahan genetik seperti ini disebut mutasi gen.
Mutasi gen disebut juga mutasi titik (point mutation). Mutasi gen dapat terjadi karena subtitusi
basa N. Macam-macam mutasi gen antara lain :
a. Mutasi tak bermakna
Terjadi perubahan kodon dari kode basa N asam amino tetapi tidak mengakibatkan
kesalahan pembentukan protein. Misalnya, UUU diganti UUS yang sama-sama kode
fenilalaanin.
b. Mutasi ganda tiga
Mutasi karena ada penambahan atau pengurangan tiga basa secara bersam-sama.
c. Mutasi bingkai
Terjadi karena adanya penambahan sekaligus pengurangan satu atau beberapa pasangan
basa secara bersama-sama.
2. Mutasi Kromosom
Mutasi kromosom atau mutasi besar pada prinsipnya digolongkan menjadi dua, yaitu
sebagai berikut :
a. Mutasi kromosom yangg terjadi karena perubahan
kromosom
Mutasi kromosom yang terjadi karena jumlah kromosom (ploid) melibatkan kehilangan
atau penambahan perangkat kromosom (genom) disebut euploid, sedangkan yang hanya terjadi
pada salah satu kromosom dari genom disebut aneuploid.
1. Euploid
Organisme yang kehilangan stu set kromosom disebbut monoploid, organosme
monoploid memiliki satu genom atau satu perangkat kromosom dalam sel somatisnya.
Sedangkan untuk organisme yang memiliki lebih dari dua genom disebut poliploid.
Poliploid ada dua yaitu, otoploid yang terjadi pada kromosom non homlog.
2. Aneuploid
Mutasi kromosom ini tidak melibatkan seluruh genom yang berubah, melainkan hanya
terjadi pada salah satu kromosom dari genom. Disebut juga dengan istilah aneusomik.
b. Mutasi kromosom yang terjadi karena perubahan struktur
kromosom
Mutasi karena perubahan struktur kromosom atau kerusakan bentuk kromosom disebut
juga dengan istilah aberasi. Aberasi ada dua macam yaitu :
a. Delesi
Adalah mutasi karena kekurangan segmen kromosom. Delesi ada beberapa macam
antara lain : delesi terminal, delesi interstitial, delesi cincin, dan delesi loop.
b. Duplikasi
Adalah mutasi karena kelebihan segmen kromosom.
c. Translokasi
Adalah mutasi yang mengalami pertukaran segmen kromosom ke kromosom
homolognya. Macam-mcam translokasi antara lain :
1. Translokasi homozigot
Adalah translokasi yang mengalami pertukaran segmen kedua kromosom homolognya
dengan segmen kedua kromosom non homolognya.
2. Translokasi heterozigot
Adalah translokasi yang hanya mengalami pertukaran satu segmen kromosom ke satu
segmen kromosom non homolog.
3. Translokasi Robertson
Adalah translokasi yang terjadi karen apenggabungan dua kromosom akosentrik menjadi
satu kromosom metasentrik, maka disebut juga fusion (penggabungan).
3. Inversi
Adalah mutasi yang mengalami perubahan letak gen-gen, karena selama meosis
kromosom terpilin dan terjadi kiasma. Inversi ada beberapa macam antara lain : inversi
parassentrik terjadi karena klromosom tidak bersentromer dan inversi perisentrik yang terjadi
pada kromosom yang bersentromer.
4. Isokromosom
Adalah mutasi kromosom yang terjadi pada waktu menduplikasikan diri, pembelahan
sentromernya mengalami perubahan arah pembelahan sehingga terbentulkah dua kromosom
yang masing-masing berlengan identik (sama).
5. Katenasi
Adalah mutasi kromosom yang terjadi pada dua kromosom non homolog yang pada
waktu membelah menjadi empat kromosom, saling bertemu ujng-ujunnya sehingga
membentuk lingkaran.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penetilian
Penelitian yang kami lakukan ini merupakan penelitian eksperimental karena penelitian ini
menggunakan variabel kontrol, variabel manipulasi, dan variabel respon.
B. Variable
Variabel kontrol : konsentrasi dan jumlah bakteri dalam media biak
Variabel manipulasi : Induksi sinar UV pada mutasi spontan dengan
inkubasi sampel bakteri ditempat terang dan gelap
Variabel respon : Hasil induksi sinar UV pada mutasi bakteri
seberapa besar dan perbedaan kecepatan mutasi spontan dari induksi UV 40 watt pada
inkubasi terang dan gelap.
C. Alat dan Bahan
Pada percobaan ini yang berjudul Mutasi Pada Bakteri diperlukan alat dan bahan yaitu sebagai
berikut :
1. kultur Achetobacter xylinum
2. medium kultur “ nutrient broth “
3. MgSO4 0,1 M steril
4. lampu ultra violet ( UV 40 watt )
5. Erlemeyer steril
6. 6 buah tabung reaksi yang besar yang berisi 9,9 ml medium “ nutrient broth “
steril dan diberi label Dil – 1, Dil – 2, Dil – 3, Dil – 5, Dil – 6, dan Dil – 7
7. 2 buah tabung reaksi yang besar yang berisi 9,0 ml medium “ nutrient broth “
steril dan diberi label Dil – 4 dan Dil – 8
8. 4 cawan Petri yang berisi medium padat “ nutrient agar “ dan diberi label
NA - 1, NA – 2, NA – 3, NA – 4
9. 6 cawan Petri yang berisi medium padat “ nutrient agar “ yang mengandung
anti biotic amoxilin 30 mg/l ( dapat juga antibiotic yang lain ) dan diberi label
NAA – 1, NAA – 2, NAA – 3, NAA – 4, NAA – 5 dan NAA – 6
10. beberapa tabung reaksi steril
11. pengaduk gelas berbentuk L
12. pipet steril berukuran 1 ml dan 0,1 ml
13. alkohol 70%
14. pensil lilin
15. kertas karbon

D. Prosedur Kerja
Pada percobaan ini yang berjudul Mutasi Pada Bakteri diperlukan langkah percobaan yaitu
sebagai berikut :
1. Biakan Achetobacter xylinum yang dipergunakan adalah Achetobacter xylinum yang
telah ditumbuhkan di dalam 400 ml “ nutrient broth “ selama 24 jam pada suhu 37º C.
Konsentrasi bakteri didalam medium ini diperkirakan 10² samapi 10 bakteri per milimeter.
Kumpulkan bakteri ini dengan jalan disentrifugasi pada kecepatan 200 pm selam 5 menit.
Buang supernatannya, lalu diresuspensikan kembali dengan 70 ml larutan mgso4 0,1 ml
( hal ini dilakukan untuk keperluan seluruh kelas )
2. Untuk setiap kelompok diambil 2 ml suspensi bakteri tadi
3. Dari 2 ml suspensi bakteri tadi diambil masing – masing 0,5 ml dengan pipet steril
untuk dibiakkan di dalam cawan Petri yang berlabel NAA – 1 dan NAA – 2. Meratakan
tetesan tersebut dengan pengaduk gelas berbentuk L yang streil ke seluruh permukaan
medium agar
4. Dari 2 ml suspensi bakteri ( sisanya ) diambil 0,1 ml dan dimasukkan dalam tabung
reaksi yang berlabel DIL – 1 dan diaduk dengan vortex
5. Mengambil o,1 ml dari DIL – 1 ke DIL – 2 dan dicampur. Lalu memindah 0,1 ml dari
dil – 2 ke DIL – 3 dan dicampur hingga homogen
6. Mengambil sebanyak 0,5 ml dengan pipet steril dari DIL – 3 dan diteteskan ke medium
agar NA-1 disebarkan sampai rata dengan menggunakan pengaduk kaca berbentuk L yang
steril
7. Mengambil 1 ml dari DIL -3 dimasukkan ke DIL – 4 lalu dicampur hingga homogen.
Lalu diambil 0,5 ml dari Dil – 4 dan diteteskan pada medium padat NA – 2 dan diratakan
tetesan tersebut dengan pengaduk kaca berbentuk L yang steril. Yang perlu anda ingat
adalah bahwa NAA – 1 dan NAA – 2 ditanami dengan suspensi bakteri yang di encerkan
10 . NA – 1 ditanami suspensi bakteri yang di encerkan sampai 10-6 dan NA – 2 ditanami
suspensi bakteri yang di encerkan sampai 10-7 .
8. Sesudah semua pekerjaan pada no 1 s/d 7 dikerjakan maka cawan Petri yang telah
ditanami dengan bakteri diinkubasi pada suhu 37º C selama 24 jam. Pada saat diinkubasi
cawan Petri dibalik sehingga bagian medium agar berada di atas. Hal ini untuk menjaga
agar koloni – koloni yang tumbuh tidak keliahatn kabur karena adanya pengembunan
9. Langkah berikutnya adalah mengambil 40 ml suspensi bakteri di dalam larutan mgso4
0,1 M dan diletakkan di dalam cawan Petri yang steril, memasukkan ke dalam suspensi
tersebut pengaduk magnetic yang steril lalu ditempatkan cawan petri tersebut di atas alat
pengaduk magnetic, tutuplah cawan Petri tersebut dan sinarilah dengan UV ( 40 watt )
dengan jarak 30 cm – 40 cm selama 60 detik. Setelah diradiasi dengan UV ditambahkan ke
dalamnya 30 ml “ nutrient broth “, dicampur hingga homogen dan selanjutnya membagi
suspensi bakteri tersebut ke dalam 2 erlemeyer yang steril. Satu erlemeyer ditutup dengan
kertas karbon dan di beri label D. Sedangkan erlemeyer yang satunya diberi label L dan
dibiarkan terkena sinar lampu. Mengikubasi kedua erlemeyer tersebut selama 30 menit,
setelah 30 menit mengambil 2 ml suspensi bakteri baik dari L maupun dari D lalu
memasukkan masing – masing suspensi tersebut ke dalam 2 tabung reaksi yang steril.
10. Mengambil 0,5 ml suspensi bakteri dan tabung reaksi yang diisi oleh suspensi bakteri
yang terdapat pada erlemyer yang berlabel L untuk ditanami pada NAA – 3 dan 0,5 ml lagi
ditanam pada NAA – 4. Meratakan dengan pengaduk kaca yang berbentuk L dan sudah steril.
11. Membuat pengenceran bertingkat dengan jalan mengambil 0,1 ml kultur L untuk
dimasukkan ke dalam Dil – 5 dan dicampur hingga homogen. Lalu ambil 0,1 ml dari Dil – 5
dan dimasukkan ke Dil – 6 lalu campur. Ambil 0,1 ml dari Dil – 6 dan pindahkan ke Dil – 7
lalu campur. Pengenceran ini adalah 10-6.
12. Mengambil 0,5 ml dari Dil – 7 dan diteteskan pada medium agar NA – 3 dan disebar
dengan kaca pengaduk L yang steril
13. Mengambil 1 ml dari Dil – 7 dan dimasukkan ke Dil – 8 lalu campur. Ini adalah
pengenceran 10-7.
14. Mengambil 0,5 ml di Dil – 8 dan ditanam pada medium agar NA – 4 dan disebar
dengan kaca pengaduk L yang steril.
15. Mengambil 0,5 ml dari kultur D dan ditanam pada NAA – 5 dan diambil lagi 0,5 ml
untuk ditanam pada NAA – 6 lalu disebar dengan pengaduk kaca berbentuk L
16. Membuat pengenceran bertingkat dengan jalan mengambil 0,1 ml kultur D untuk
dimasukkan ke dalam Dil – 5 dan dicampur hingga homogen. Lalu ambil 0,1 ml dari Dil – 5
dan dimasukkan ke Dil – 6 lalu campur. Ambil 0,1 ml dari Dil – 6 dan pindahkan ke Dil – 7
lalu campur. Pengenceran ini adalah 10-6.
17. Mengambil 0,5 ml dari Dil – 7 dan diteteskan pada medium agar NA – 5 dan disebar
dengan kaca pengaduk L yang steril.
18. Mengambil 1 ml dari Dil – 7 dan dimasukkan ke Dil – 8 lalu campur. Ini adalah
pengenceran 10-7.
19. Mengambil 0,5 ml di Dil – 8 dan ditanam pada medium agar NA – 6 dan disebar
dengan kaca pengaduk L yang steril.
20. Mengikubasi bakteri yang telah ditanam dalam cawan Petri tadi selama 24 jam pada
suhu 37 º C dengan posisi terbalik ( lapisan agar di atas )
21. Sesudah 24 jam, menghitung jumlah koloni bakteri pada semua cawan Petri dan
mencatat jumlah

Gambar : Skema kerja mutasigenesis pada bakteri


BAB IV
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

1. Hasil
Data yang diperoleh dari percobaan yang telah dilakukan oleh kelompok kami adalah
sebagai berikut :
Jumlah Koloni
Label Jumlah
Faktor Sesudah Rata -
Cawan Koloni Keterangan
koreksi Pengenceran Faktor Rata
Petri Bakteri
Koreksi
NAA-1 24 1 24
NAA-2 18 1 18
Tidak Diberi UV
NA-1 69 10-6 69 106
NA-2 195 10-7 195 107
NAA-3 17 1 18
NAA-4 12 1 12 Diberi UV,
-6 6
NA-3 48 10 48 10 Dikenai cahaya
-7 7
NA-4 37 10 37 10
NAA-5 11 1 12
Diberi UV,
NAA-6 9 1 9
Ditutup Kertas
NA-5 23 10-6 23106
karbon
NA-6 15 10-7 15 107

2. AnalisisData
Cawan petri NAA-1, NAA-2, NA-1 dan NA-2 merupakan cawan petri yang tidak diberi
radiasi sinar UV. Pada cawan petri NA-1 terdapat 69 koloni bakteri Achetobacter xyllinum. Pada
cawan Petri NA-2 jumlah koloni lebih besar yaitu195 koloni. Pada cawan petri NAA-1 terdapat
24 koloni bakteri Achetobacter xyllinum. Pada cawan Petri NAA-2 jumlah koloni lebih besar
yaitu 18 koloni.
Cawan petri NAA-3, NAA-4, NA-3 dan NA-4 merupakan cawan petri yang diberi radiasi
sinar UV dan tidak ditutup oleh kertas karbon. Pada cawan petri NAA-3 terdapat 18 koloni. Pada
cawan petri NAA-4 terdapat 12 koloni. Pada cawan petri NA-3 terdapat 48 koloni bakteri
Achetobacter xyllinum. Pada cawan Petri NA-4 hanya terdapat 37 koloni.
Cawan petri NAA-5, NAA-6, NA-5 dan NA-6 merupakan cawan petri yang diberi
radiasi sinar UV tetapi ditutup oleh Kertas karbon. Pada cawan petri NAA-5 terdapat 12 koloni
bakteri dan NAA-6 terdapat 9 Achetobacter xyllinum. Pada cawan petri NA-5 terdapat 23 koloni
bakteri Achetobacter xyllinum. Pada cawan Petri NA-6 terdapat 15 koloni.
a. Frekuensi mutasi sponta
∑ koloni pada NAA-1 dan NAA-2 = 24 + 18
2 2
= 21

∑ koloni pada NA-1 dan NA-2 = 69.106 + 195.107


2 2
4
= 10,1 10

frekuensi mutasi spontan = ∑ koloni pada NAA-1 dan NAA-2


∑ koloni pada NA-1 dan NA-2

= 21 = 2,08 10-4
10,1.104

b. Frekuensi pengiduksian mutasi (dengan perlakuan terang)


∑ koloni pada NAA-3 dan NAA-4 = 17+12
2 2
= 14,5

∑ koloni pada NA-3 dan NA-4 = 48.106 + 37.107


2 2
= 2,09 104
Frekuensi penginduksian mutasi (dengan perlakuan terang)

. ∑ koloni pada NAA-3 dan NAA-4 = 14,5


∑ koloni pada NA-3 dan NA-4 2,09.104
= 6,93 10-4

c. Frekuensi penginduksian mutasi (dengan perlakuan gelap).


∑ koloni pada NAA-5 dan NAA-6 = 11 + 9
2
= 10

∑ koloni pada NA-5 dan NA-6 = 23.106 + 15.107


2 2
= 0,87 104
Frekuensi penginduksian mutasi (dengan perlakuan gelap)

. ∑ koloni pada NAA-5 dan NAA-6 = 10


∑ koloni pada NA-5 dan NA-6 0,87 104
= 11,5 10-4

3. Pembahasan
Dari data dan analisa data diatas, dapat diketaui bahwa sinar UV dapat menginduksi
bakteri Acetobacter xylinum. Data yang mendukungnya adalah jumlah koloni bakteri
Acetobacter xylinum yang termutasi spontan lebih besar dibandingkan jumlah koloni bakteri
Acetobacter xylinum termutasi diinduksi oleh UV 40 watt bakteri ditempat terang maupun di
tempat gelap. Mutasi spontan NAA-1, NAA-2 (komposisi medium NAA) jumlah koloni yang
tumbuh masing-masing 24 dan 18. Untuk mutasi spontan yang diinduksi UV 40 watt pada
inkubasi sampel bakteri ditempat terang NAA-3 dan NAA-4 (komposisi medium NAA + UV)
jumlah koloni yang tumbuh masing-masing 17 dan 12. Sedangkan untuk mutasi spontan yang
diinduksi UV 40 watt pada inkubasi sampel bakteri ditempat gelap NAA-5 dan NAA-6
(komposisi medium NAA + UV) jumlah koloni yang tumbuh masing-masing 11 dan 9.
Sedangkan pada frekuensi penginduksian mutasi diperoleh untuk mengetahui tingkat
keseringan dari bakteri saat terjadi mutasi. Semakin besar frekuensinya maka semakin sering
terjadi mutasi dan semakin sedikit koloni bakteri yang tumbuh.
Dari uraian diatas terlihat jelas adanya perbedaan perlakuan medium-medium yang
digunakan. Medium dengan komposisi NAA berarti mengandung nutrient agar dan antibiotik
Amoxillin. Pemberian antibiotik Amoxillin ini bertujuan untuk menjadikan Acetobacter xylinum
termutasi. Amoxillin adalah semacam Penisilina semisintetik dengan aktivitas antibakteri
spektrum luas yang bersifat bakterisid, efektif terhadap sebagian besar bakteri gram positip dan
beberapa gram negatip yang pathogen. Antibiotik ini tidak membunuh bakteri secara langsung
tetapi dengan cara mencegah bakteri membentuk semacam lapisan yang melekat disekujur
tubuhnya. Lapisan ini bagi bakteri berfungsi sangat vital yaitu untuk melindungi bakteri dari
perubahan lingkungan dan menjaga agar tubuh bakteri tidak tercerai berai. Bakteri tidak akan
mampu bertahan hidup tanpa adanya lapisan ini. Berikut struktur kimia Amoxillin :
Amoxillin memiliki struktur kimiawi C16H19N3O5S atau (2S, 5R, 6R)-6-[(R)-2-amino-
2-(4-hydroxyphenyl) acetamido]-3, 3-dimethyl-7-oxo-4-thia-1-azabicyclo[3.2.0] heptane-2-
carboxylic acid dan ditemukan pada tahun 1972. Tetapi pada kenyataannya, koloni bakteri
Acetobacter xylinum masih dapat tumbuh pada medium ini. Ini membuktikan bahwa bakteri
Acetobacter xylinum mengalami resistensi terhadap antibiotik Amoxillin.
Medium dengan komposisi NAA + UV berarti medium tersebut selain mendapatkan
mutagen antibiotik juga dilakukan radiasi UV 40 watt selama 60 detik. Efek dari radiasi UV ini
bisa berdampak pada kerja enzim pada tubuh bakteri. Enzim menjadi inaktif, sehingga
metabolisme terganggu dan energi yang dihasilkan menjadi berkurang, akibatnya aktivitas selnya
menjadi terganggu yang pada akhirnya bakteri akan mengalami kematian. Akan tetapi, bakteri
memiliki mekanisme perbaikan (repair) terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh radiasi sinar
UV sehingga koloni bakteri Acetobacter xylinum masih dapat tumbuh pada media ini. Ada dua
macam mekanisme perbaikan, yaitu perbaikan dengan cahaya (light repair) dan perbaikan tanpa
cahaya (dark repair).

• Pada perbaikan dengan cahaya (light repair) pada media penumbuhan NAA-3 dan NAA-
4.

Bakteri memiliki enzim fotoliase yang menggunakan energi cahaya visible untuk
memisahkan ikatan dimer timin.

• Pada perbaikan tanpa cahaya (dark repair) pada media penumbuhan NAA-5 dan NAA-6.

Cahaya tidak diperlukan dalam mekanisme perbaikan ini. Mekanisme perbaikan ini
disebut juga sebagai nucleotide excision repair. Pada mekanisme ini, enzim bakteri dapat
memotong bagian timin DNA yang rusak dan menghasilkan bagian yang terbuka. Enzim
yang lain akan mengisi gap (bagian yang terbuka) ini dengan DNA baru yang
komplementer dengan rantai DNA yang tidak rusak. Langkah terakhir adalah reaksi
penyegelan (sealing) oleh enzim DNA ligase.
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Terjadi mutasi spontan pada bakteri Achetobacter xyllinum setelah diberi sinar
ultraviolet secara langsung, sedangkan pada koloni yang tidak diberi sinar UV
pertumbuhan koloni terjadi seperti biasa. Pemberian antibiotic juga berpengaruh terhadap
pertumbuhan bakteri.

B. Saran
Bagi mahasiswa yang akan melakukan praktikum mutasi bakteri harus lebih
berhati-hati dalam membuat media dan memasukkan bakteri agar tidak terjadi
kontaminasi. Untuk praktikum selanjutnya dapat digunakan sinar dengan panjang
gelombang dan lama penyinaran yang lebih variatif.
DAFTAR PUSTAKA

Endang. Penuntun praktikum Genetika Mutasi Bakteri. BIOLOGI UNESA SURABAYA


Schlegel. Hans G. 1994. Mikrobiologi Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Suryo. GENETIKA. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press