Anda di halaman 1dari 22

Tugas Makalah

PARASITOLOGI
Toxoplasma gondii

DI SUSUN OLEH :
F1D1 13 061
KARTIKA DWI CAHYANTI

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas Rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga Tugas Makalah Parasitologi dapat terselesaikan dengan
baik. Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing yang
telah mengarahkan, sehingga Tugas Makalah Parasitologi ini dapat terselesaikan,
kepada Orang Tua serta teman-teman yang turut serta memberikan semangat
kepada penulis dan membantu dalam menyelesaikan Tugas Makalah ini penulis
ucapkan terima kasih.
Semoga Tugas Makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang
bermanfaat bagi kita semua serta menambah wawasan. Kritik dan saran yang
membangun sangat kami harapkan dalam kesempurnaan makalah ini. Lebih dan
kurangnya mohon dimaafkan, sesungguhnya yang Maha Sempurna hanyalah
milik Allah SWT.

Kendari,

Maret 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................................
B. Rumusan Masalah ............................................................................................
C. Tujuan ..............................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Toxoplasma gondii ...............................................................................
B. Morfologi dan klasifikasi...................................................................................
C. Siklus Hidup dan Patologi.................................................................................
D. Gejala Penyakit dan Penyebarannya..................................................................
E. Pengendalian dan Pencegahan...........................................................................
BAB III PENUTUP
A. Simpulan .........................................................................................................
B. Saran ...............................................................................................................

iii

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Penyakit parasit merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup


serius.

Salah

toksoplasmosis.

satu

penyakit

Toxoplasmosis

yang

disebabkan

merupakan

oleh

penyakit

parasit
parasitik

adalah
yang

disebabkan oleh endoparasit protozoa Toxoplasma gondii. Parasit ini dapat


ditemukan secara kosmopolit tersebar di segala penjuru dunia baik di negara
tropis, subtropis maupun negara beriklim dingin.
Indonesia sebagai negara tropik merupakan tempat yang sesuai untuk
perkembangan parasit tersebut. Keadaan ini ditunjang oleh beberapa faktor
seperti sanitasi lingkungan dan banyak sumber penularan terutama kucing dan
sebangsanya (Felidae). Selain menyerang hewan T. gondii juga menyerang
manusia. Di Indonesia, kasus toksoplasmosis pada manusia berkisar antara 43
- 88% sedangkan pada hewan berkisar antara 6 - 70% (Didik, 2006).
Prevalensi toxoplasmosis di beberpa daerah di Indonesia bervariasi antara 251% (Dharmana, 2007).
T. gondii merupakan parasit yang menarik untuk dikaji dalam sudut
pandang hubungan parasit dengan hospes (host-parasite relationship) serta
keadaan patologis yang ditimbulkannya pada tubuh hospes. Penyakit
toxoplasmosis biasanya ditularkan dari kucing atau anjing tetapi penyakit ini
juga dapat menyerang hewan lain seperti babi, sapi, domba, dan hewan
peliharaan lainnya. Walaupun sering terjadi pada hewan-hewan yang
disebutkan di atas penyakit toxoplasmosis ini paling sering dijumpai pada
kucing dan anjing. Infeksi yang disebabkan oleh T. gondii tersebar di seluruh
dunia, pada hewan berdarah panas dan mamalia lainnya termasuk manusia
sebagai hospes perantara, kucing dan berbagai jenis Felidae lainnya sebagai
hospes definitif. Manusia dapat terkena infeksi parasit ini dengan cara didapat
(Aquired toxoplasmosis) maupun diperoleh semenjak dalam kandungan
(Congenital toxoplasmosis).

Walaupun bersifat patogen, parasit ini tidak selalu menyebabkan


keadaan patologis pada hospesnya, karena parasit ini mempunyai kemampuan
sangat besar dalam beradaptasi dengan tubuh hospes. Penderita bahkan
seringkali tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi karena tidak mengalami
gejala penyakit yang jelas. Infeksi ini akan memberikan kelainan yang jelas
pada penderita dengan sistem imun yang lemah atau yang mengalami
penurunan imunitas. Manifestasi toxoplasmosis yang lebih serius adalah
apabila infeksi terjadi pada masa kehamilan. Melihat berbahayanya penyakit
ini pengenalan mengenai parasit T. gondii perlu untuk diperdalam.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
makalah ini adalah sebagai berkut :
1. Bagaimana sejarah dari T. gondii ?
2. Bagaimana morfologi dan klasifikasi dari T. gondii ?
3. Bagaimana siklus hidup dan patogenitas dari T. gondii ?
4. Bagaimana gejala penyakit dan faktor-faktor penyebaran penyakit
toxoplasmosis ?
5. Bagaimana pengendalian secara biologis dan pencegahan penyakit
tersebut?
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat
mengetahui dan memahami tentang T. gondii serta penyakit yang
disebabkannya yaitu toxoplasmosis.

II. PEMBAHASAN

A. Sejarah
Toxoplasma gondii berasal dari kata toxon (lengkung) dan gondi yang
merupakan sejenis binatang pengerat Ctenodactylus gundii. T. gondii
tergolong dalam kelas sporozoa dan ditemukan pertama kali pada tahun 1908
di 2 laboratorium hewan secara kebetulan, masing-masing oleh Charles
Nicolle dan Louis Manceaux di Tunisia serta Alfonso Splendore di Brasilia.
Nama T. gondii partama kali diberikan oleh Nicolle karena ditemukan di tubuh
Ctenodactylus gundii dan dengan ditemukannya tes serologi oleh Sabin dan
Feldman, T. gondii ternyata didapatkan secara kosmopolit pada manusia dan
binatang (Dharmana, 2007).
Toxoplasma gondii pertama kali ditemukan oleh Nicole dan Manceaux
tahun 1908 pada limfa dan hati hewan pengerat Ctenodactylus gundi di
Tunisia Afrika dan pada seekor kelinci di Brazil. Lebih lanjut Mello pada
tahun 1908 melaporkan protozoa yang sama pada anjing di Italia, sedangkan
Janku pada tahun 1923 menemukan protozoa tersebut pada penderita
korioretinitis dan oleh Wolf pada tahun 1937 telah di isolasinya dari neonatus
dengan ensefalitis dan dinyatakan sebagai penyebab infeksi kongenital pada
anak. Pada tahun 1970 daur hidup parasit ini menjadi jelas ketika ditemukan
daur seksualnya pada kucing. Di Indonesia toksoplasmosis mulai diteliti pakar
ilmu kesehatan pada tahun 1972 baik pada manusia ataupun pada hewan
(Chahaya, 2003).
B. Morfologi dan Klasifikasi
1. Morofologi
Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler.
Toxoplasma gondii terdapat dalam tiga bentuk yaitu takizoit (bentuk
poriferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista (berisi sporozoit) (Yaudza,
2010).
a) Bentuk Takizoit (Poriferatif)

Toxoplasma gondii bentuk ini memiliki ciri-ciri, yaitu:

Menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dan ujung lain
agak membulat.

Ukuran panjang 4 - 8 mikron, lebar 2 - 4 mikron dan mempunyai


selaput sel, satu inti yang terletak di tengah bulan sabit dan
beberapa organel lain seperti mitokondria dan badan golgi.

Tidak mempunyai kinetoplas dan sentrosom serta tidak berpigmen.


Bentuk ini terdapat di dalam tubuh hospes perantara seperti burung
dan mamalia termasuk manusia dan kucing sebagal hospes
definitif.

Takizoit ditemukan pada infeksi akut dalam berbagai jaringan


tubuh.

Takizoit dapat memasuki tiap sel yang berinti.

b) Bentuk Kista (Bradizoit)


Toxoplasma gondii bentuk ini memiliki ciri-ciri, yaitu:

Kista dibentuk di dalam sel hospes bila takizoit yang membelah


telah membentuk dinding.

Ukuran kista berbeda-beda, ada yang berukuran kecil hanya berisi


beberapa bradizoit dan ada yang berukuran 200 mikron berisi
kirakira 3000 bradizoit.

Kista dalam tubuh hospes dapat ditemukan seumur hidup terutama


di otak, otot jantung, dan otot bergaris.

Di otak bentuk kista lonjong atau bulat, tetapi di dalam otot bentuk
kista mengikuti bentuk sel otot.

c) Bentuk Ookista (Sporozoid)


Toxoplasma gondii bentuk ini memiliki ciri-ciri, yaitu:

Ookista berbentuk lonjong, berukuran 12,5 mikron.

Ookista mempunyai dinding, berisi satu sporoblas yang membelah


menjadi dua sporoblas.

Pada perkembangan selanjutnya ke dua sporoblas membentuk


dinding dan menjadi sporokista.

Masing-masing sporokista tersebut berisi 4 sporozoit yang


berukuran 8 x 2 mikron dan sebuah benda residu.

2. Klasifikasi
Toxoplasma gondii dalam klasifikasi termasuk kelas Sporozoasida,
karena berkembang biak secara seksual dan aseksual yang terjadi secara
bergantian. Klasifikasi parasit Toxoplasma gondii adalah sebagai berikut :
Dunia

: Animalia

Sub Dunia

: Protozoa

Filum

: Apicomplexa

Kelas

: Sporozoasida

Sub Kelas

: coccidiasina

Bangsa

: Eucoccidiorida

Sub Bangsa

: Eimeriorina

Suku

: Sarcocystidae

Marga

: Toxoplasma

Jenis

: Toxoplasma gondii

(Chahaya, 2003).

C. Siklus Hidup dan Patogenitas


1. Siklus Hidup
Daur hidup T. gondii melalui dua siklus yaitu siklus enteroepitel
dan siklus ekstraintestinal. Siklus enteroepitelial di dalam tubuh hospes
definitif seperti kucing. Siklus ekstraintestinal pula di dalam tubuh hospes
perantara seperti manusia, kambing dan domba (Yaudza, 2010).
Siklus hidup Toxoplasma gondii memiliki dua fase. Yaitu seksual
bagian dari siklus kehidupan (coccidian) seperti berlangsung hanya dalam
kucing, baik domestik maupun liar (keluarga Felidae). Tahap kedua,
aseksual bagian dari siklus kehidupan, dapat terjadi pada hewan berdarah
panas lain, termasuk kucing, tikus, manusia, dan burung (Suriantika,
2013).

Siklus hidup Toxoplasma gondii pada kucing


Dalam sel epitel usus kucing berlangsung daur seksual (skizogoni) dan
daur seksual (gametogoni sporogoni)

ookista (dalam tinja kucing)

Kucing dan hewan sejenisnya merupakan hospes definitif dari


T. gondii. Di dalam usus kecil kucing sporozoit menembus sel epitel
dan tumbuh menjadi trofozoit. Inti trofozoit membelah menjadi banyak
sehingga terbentuk skizon. Skizon matang pecah dan menghasilkan
banyak merozoit (skizogoni). Daur aseksual ini dilanjutkan dengan
daur seksual. Merozoit masuk ke dalam sel epitel dan membentuk
makrogametosit dan mikrogametosit yang menjadi makrogamet dan
mikrogamet (gametogoni). Setelah terjadi pembuahan terbentuk
ookista, yang akan dikeluarkan bersama tinja kucing. Di luar tubuh
kucing, ookista tersebut akan berkembang membentuk dua sporokista
yang masing-masing berisi empat sporozoit (sporogoni).
Pada siklus ekstraintestinal, ookista yang keluar bersama tinja
kucing belum bersifat infektif. Setelah mengalami sporulasi, ookista
akan berisi sporozoit dan menjadi bentuk yang infektif. Manusia dan
hospes perantara lainnya akan terinfeksi jika tertelan bentuk ookista
tersebut (Yaudza, 2010).

Siklus hidup Toxoplasma gondii pada manusia


Trofozoit (apabila tertelan manusia)

Takizoit

secara endodiogenis)

kista (berisi bradizoit) atau

sel pecah

(berkembang

membentuk dinding (kista jaringan).


Bila ookista tertelan oleh mamalia seperti domba, babi, sapi
dan tikus serta ayam atau burung, maka di dalam tubuh hospes
perantara akan terjadi daur aseksual yang menghasilkan takizoit. Hal
ini dimulai di dalam ileum, dimana dinding ookista yang tertelan akan
hancur sehingga sporozoit bebas. Sporozoit-sporozoit ini menembus
mukosa ileum dan mengikuti aliran darah dan limfa menuju berbagai

organ tubuh seperti otak, mata, hati dan jantung. Sporozoit bebas akan
membentuk pseudokista setelah berada dalam sel organ-organ tersebut.
Pseudokista tersebut berisi endozoit atau yang lebih dikenal sebagai
takizoit (Yaudza, 2010). Takizoit akan membelah, kecepatan
membelah takizoit ini berkurang secara berangsur kemudian terbentuk
kista yang mengandung bradizoit atau dalam bentuk kista jaringan.
Bradizoit dalam kista biasanya ditemukan pada infeksi menahun
(infeksi laten). Bentuk kista jaringan inilah yang disebut sebagai
stadium istirahat (Chahaya, 2003).

Gambar Siklus hidup Toxoplasma gondii


2. Patogenitas
Pengetahuan patogenesis yang ada dewasa ini menunjukkan
bahwa pada dasarnya takizoit dapat menginfeksi hampir semua jenis sel
berinti berbagai jenis hewan dan manusia bahkan juga insekta. Walaupun
demikian, terdapat beberapa jenis sel dan organ yang dominan diinfeksi
oleh takizoit. Dominasi sel dan jaringan yang diinfeksi oleh takizoit sangat
ditentukan oleh rute infeksi dan jenis inangnya. Buktibukti dominasi
takizoit pada sel tertentu berasal dari penelitian in vivo (dalam tubuh

organisme) maupun in vitro (di luar tubuh organisme, misalnya pada


kultur set).
Pada sistem sirkulasi misalnya, di antara sel-sel darah putih
(leukosit) meskipun semua jenis selnya dapat diinfeksi tetapi hanya
beberapa yang paling dominan diinfeksi. Belum diketahui secara tepat
alasan mengapa fenomena tersebut dapat terjadi. Komponen sel darah
putih adalah neutrofil, eosinofil, basofil, monosit dan limfosit. Monosit
dalam darah akan berdiferensiasi menjadi makrofag dalam jaringan. Di
antara sel-sel tersebut, yang dominan diinfeksi secara berurutan sesuai
dominansinya adalah monosit (dan juga makrofag), neutrofil dan limfosit.
Apabila

takizoit

menginfeksi

neutrofil

maka

kecepatan

perkembangbiakannya menjadi menurun, tetapi setelah keluar dari


neutrofil dan menginfeksi sel dan jaringan lain kecepatannya kembali
seperti sediakala. Adapun jaringan atau organ yang umumnya diinvasi
pada ternak di antaranya adalah hati, ginjal, otak, otot skeletal, diafragma
dan jantung.
Proporsi masing-masing jaringan berbeda-beda di antara beberapa
jenis ternak. Pada infeksi intraperitoneal menggunakan mencit diketahui
bahwa takizoit akan segera ditemukan dalam peredaran darah paling lama
dua hari sejak infeksi. Selanjutnya, penyebaran ke berbagai organ dapat
dideteksi paling lambat empat hari pascainfeksi. Secara umum, organ yang
diinfeksi di antaranya adalah limpa, paru-paru, hati, otak dan kelenjar
limfe mesenterik maupun perifer. Percobaan lain menggunakan kelinci
juga menunjukkan pola serupa. Pada infeksi intraperitoneal, intravena dan
oral masing-masing menunjukkan kesamaan organ yang diinfeksi namun
berbeda dalam hal tingkat kerusakannya. Penyebaran takizoit sampai pada
organ yang jauh disebabkan oleh dua faktor, pertama gerakan aktif dari
takizoit maupun gerakan pasif dengan memanfaatkan leukosit yang
menyebar ke berbagai jaringan melalui aliran darah (Subekti, 2006).
Setelah terjadi infeksi T. gondii ke dalam tubuh akan terjadi
proses yang terdiri dari tiga tahap yaitu parasitemia, di mana parasit

menyerang

organ

dan

jaringan

serta

memperbanyak

diri

dan

menghancurkan sel-sel inang. Perbanyakan diri ini paling nyata terjadi


pada jaringan retikuloendotelial dan otak, di mana parasit mempunyai
afinitas paling besar. Pembentukan antibodi merupakan tahap kedua
setelah terjadinya infeksi. Tahap ketiga merupakan fase kronik, terbentuk
kista-kista yang menyebar di jaringan otot dan saraf, yang sifatnya
menetap tanpa menimbulkan peradangan lokal.
Infeksi primer pada janin diawali dengan masuknya darah ibu
yang mengandung parasit tersebut ke dalam plasenta, sehingga terjadi
keadaan plasentitis yang terbukti dengan adanya gambaran plasenta
dengan reaksi inflamasi menahun pada desidua kapsularis dan fokal reaksi
pada vili. Inflamasi pada tali pusat jarang dijumpai. Kemudian parasit ini
akan menimbulkan keadaan patologik yang manifestsinya sangat
tergantung pada usia kehamilan (Yaudza, 2010).
D. Gejala Penyakit dan Penyebaran Penyakit
1. Gejala Penyakit
Pada garis besarnya sesuai dengan cara penularan dan gejala
klinisnya, toksoplasmosis dapat dikelompokkan atas: toksoplasmosis
akuisita (dapatan) dan toksoplasmosis kongenital. Baik toksoplasmosis
dapatan maupun kongenital, sebagian besar asimtomatis atau tanpa gejala.
Keduanya dapat bersifat akut dan kemudian menjadi kronik atau laten.
Gejalanya nampak sering tidak spesifik dan sulit dibedakan dengan
penyakit lain. Toksoplasmosis dapatan biasanya tidak diketahui karena
jarang menimbulkan gejala. Tetapi bila seorang ibu yang sedang hamil
mendapat infeksi primer, ada kemungkinan bahwa 50% akan melahirkan
anak dengan toksoplasmosis kongenital. Gejala yang dijumpai pada orang
dewasa maupun anak-anak umumnya ringan. Gejala klinis yang paling
sering dijumpai pada toksoplasmosis dapatan adalah limfadenopati dan
rasa lelah, disertai demam dan sakit kepala.
Pada infeksi akut, limfadenopati sering dijumpai pada kelenjar getah
bening daerah leher bagian belakang. Gejala tersebut di atas dapat disertai

demam, mialgia dan malaise. Bentuk kelainan pada kulit akibat


toksoplasmosis berupa ruam makulopapuler yang mirip kelainan kulit
pada demam titus, sedangkan pada jaringan paru dapat terjadi pneumonia
interstisial.
Gambaran klinis toksoplasmosis kongenital dapat bermacammacam. Ada yang tampak normal pada waktu lahir dan gejala klinisnya
baru timbul setelah beberapa minggu sampai beberapa tahun. Ada
gambaran eritroblastosis, hidrops fetalis dan triad klasik yang terdiri dari
hidrosefalus, korioretinitis dan perkapuran intrakranial atau tetrad sabin
yang disertai kelainan psikomotorik. Toksoplasmosis kongenital dapat
menunjukkan gejala yang sangat berat dan menimbulkan kematian
penderitanya karena parasit telah tersebar luas di berbagai organ penting
dan juga pada sistem saraf penderita.
Gejala susunan syaraf pusat sering meninggalkan gejala sisa,
misalnya retardasi mental dan motorik. Kadang-kadang hanya ditemukan
sikatriks pada retina yang dapat kambuh pada masa anak-anak, remaja atau
dewasa. Korioretinitis karena toksoplasmosis pada remaja dan dewasa
biasanya akibat infeksi kongenital. Akibat kerusakan pada berbagai organ,
maka kelainan yang sering terjadi bermacam-macam jenisnya.
Kelainan pada bayi dan anak-anak akibat infeksi pada ibu selama
kehamilan trimester pertama, dapat berupa kerusakan yang sangat berat
sehingga terjadi abortus atau lahir mati, atau bayi dilahirkan dengan
kelainan seperti ensefalomielitis, hidrosefalus, kalsifikasi serebral dan
korioretinitis. Pada anak yang lahir prematur, gejala klinis lebih berat dari
anak yang lahir cukup bulan, dapat disertai hepatosplenomegali, ikterus,
limfadenopati, kelainan susunan syaraf pusat dan lesi mata (Yaudza,
2010).
Infeksi

T.

gondii

pada

individu

dengan

imunodefisiensi

menyebabkan manifestasi penyakit dari tingkat ringan, sedang sampai


berat, tergantung kepada derajat imunodefisiensinya. Pada penderita
imunodefisiensi, infeksi T. gondii menjadi nyata, misalnya pada penderita

karsinoma, leukemia atau penyakit lain yang diberi pengobatan


kortikosteroid dosis tinggi atau radiasi. Gejala yang timbul biasanya
demam tinggi, disertai gejala susunan syaraf pusat karena adanya
ensefalitis difus. Gejala klinis yang berat ini mungkin disebabkan oleh
eksaserbasi akut dari infeksi yang terjadi sebelumnya atau akibat infeksi
baru yang menunjukkan gejala klinis yang dramatis karena adanya imunodefisiensi. Pada penderita AIDS, infeksi T. gondii sering menyebabkan
ensefalitis dan kematian. Sebagian besar penderita AIDS dengan
ensefalitis akibat T. gondii tidak menunjukkan pembentukan antibodi
dalam serum (Chahaya, 2003).
Secara ringkas gejala klinis yang ditimbulkan pada penyakit
toxoplasmosis adalah sebagai berikut:

Infeksi Toxoplasma gondii ditandai dengan gejala seperti demam, malaise,


nyeri sendi, pembengkakan kelenjar getah bening (toxoplasmosis
limfonodosa acuta). Gejala mirip dengan mononukleosis infeksiosa.

Hidrosefalus, yaitu: kondisi abnormal dimana cairan serebrospinal


terkumpul di ventrikel otak, pada janin dapat menyebabkan cepatnya
pertumbuhan kepala dan penonjolan fontanela (sehingga kepala tampak
membesar karena berisi cairan) dan wajah yang kecil.

Korioretinitis, yaitu: radang/inflamasi lapisan koroid di belakang retina


mata.

Pengapuran (calcification) otak dan intraseluler.

Kondisi ini paling berat saat infeksi maternal (yang berasal dari ibu)
terjadi sejak dini saat masa kehamilan.

Sekitar 15-55% anak yang menderita infeksi bawaan atau sejak lahir
(congenitally infected children) tidak memiliki antibodi IgM spesifikT.gondii yang dapat dideteksi saat lahir atau masa tumbuh-kembang awal
(early infancy).

Sekitar 67% penderita tidak disertai tanda atau gejala infeksi. Juga
dilaporkan: radang mata (chorioretinitis) terjadi pada sekitar 15%
penderita, penulangan intrakranial (10%), kepala kecil (microcephaly).

Disertai ketidaknormalan jumlah sel darah putih (leukosit) di cairan otak


dan sumsum tulang (cerebrospinal fluid), yang dalam istilah medis
disebut dengan pleocytosis. Sedangkan nilai protein meningkat pada 20%
penderita.

Janin baru lahir yang terinfeksi T.gondii dapat mengalami anemia,


penurunan trombosit, dan penyakit kuning (jaundice) saat lahir.

Janin yang terinfeksi dapat tanpa gejala sama sekali, atau hanya
didapatkan pertumbuhan janin terhambat, atau gambaran hyperechoic
bowel.

Bayi yang bertahan hidup (affected survivors) dapat menderita retardasi


mental, kejang (seizures), kerusakan penglihatan (visual defects),
spasticity, atau gejala sisa neurologis (berhubungan dengan saraf) yang
berat lainnya.

2. Penyebaran Penyakit
Penyebaran penyakit toxoplasmosis oleh Toxoplasma gondii dapat
terjadi melalui berbagai cara, yaitu:

Pada Toksoplasmosis congenial transmisi Toxoplasma kepada janin


terjadi in utero melalui plasenta, bila ibunya mendapat infeksi primer
waktu hamil

Pada Toksoplasmosis akuisita infeksi dapat terjadi bila memakan


daging mentah atau kurang matang (misalnya sate), kalau daging
tersebut mengandung kista jaringan atau takizoit Toxoplasma. Pada
orang yang tidak makan daging dapat terinfeksi bila ookista yang
dikeluarkan dengan tinja kucing tertelan.

Terinfeksi melalui transplantasi organ tubuh dari donor penderita


toksoplasmosis laten kepada resipien yang belum pernah terinfeksi
Toxoplasma gondii.

Kecelakaan laboratorium dapat terjadi melalui jarum suntik dan alat


laboratoriurn lain yang terkontaminasi oleh Toxoplasma gondii.

Transfusi darah lengkap dapat menyebabkan infeksi (Suriantika,


2013).

E. Pengendalian Biologis dan Cara Pencegahan


Pengendalian secara biologi untuk penyebaran Toxoplasma gondii
belum diketahui. Namun secara umum tindakan pencegahan tentu saja
harus dilakukan demi menghindari terinfeksi parasit ini. Beberapa langkah
yang bisa dilakukan adalah:

Jangan memberi makan hewan peliharaan dengan daging jeroan dan


tulang mentah/tidak dimasak. Demikian juga susu harus dimasak dulu.

Mencegah kucing dan anjing berburu burung, tikus, lalat, dan kecoa.

Pasir tempat kotoran kucing sebaiknya dibersihkan setiap hari. Ookista


yang mungkin keluar bersama kotoran memerlukan waktu 24 jam
untuk menginfeksi.

Setelah mencuci daging mentah, sebaiknya cuci tangan dengan sabun.

Untuk ibu-ibu yang sedang hamil jangan mencuci/membersihkan


daging/jeroan yang akan dimasak.

Sebaiknya sayuran maupun buah-buahan yang akan dimakan dicuci


bersih.

Untuk orang-orang yang biasa makan dengan tidak memakai sendok,


jangan lupa mencuci tangan dengan sabun.

Untuk ibu-ibu yang merencanakan kehamilan sebaiknya periksa darah,


untuk mengetahui ada tidaknya infeksi toxoplasma. Setelah hamil,
pemeriksaan darah diulang pada trisemester pertama dan akhir
kehamilan.

Ibu

hamil

jangan

membersihkan

(Erkus/berbagai sumber).

tempat

kotoran

kucing.

(Suriantika, 2013)

III. PENUTUP
A. Simpulan
Simpulan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Toxoplasma gondii pertama kali ditemukan oleh Nicole dan Manceaux
tahun 1908 pada limfa dan hati hewan pengerat Ctenodactylus gundi di
Tunisia Afrika dan pada seekor kelinci di Brazil oleh Alfonso
Splendore.
2. Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler yang
terdapat dalam tiga bentuk yaitu takizoit (bentuk poriferatif), kista
(berisi bradizoit) dan ookista (berisi sporozoit). Toxoplasma gondii ini
termasuk dalam dunia Animalia, sub dunia Protozoa, filum
Apicomplexa, kelas Sporozoasida, sub kelas coccidiasina, bangsa
Eucoccidiorida, sub bangsa Eimeriorina, suku Sarcocystidae, dan
marga Toxoplasma.
3. Siklus hidup Toxoplasma gondii memiliki dua fase. Yaitu seksual
bagian dari siklus kehidupan (coccidian) seperti berlangsung hanya
dalam kucing, baik domestik maupun liar (keluarga Felidae). Tahap
kedua, aseksual bagian dari siklus kehidupan, dapat terjadi pada hewan
berdarah panas lain, termasuk kucing, tikus, manusia, dan burung.
4. Gejala klinis yang paling sering dijumpai pada toksoplasmosis dapatan
adalah limfadenopati dan rasa lelah, disertai demam dan sakit kepala.
Penyakit toxoplasmosis dapat menginfeksi hewan termasuk manusia
serta janin ibu hamil.
5. Hidup bersih dan sehat adalah kunci untuk terhindar dari penyakit ini,
termasuk memeriksa secara rutin hewan peliharaan pada dokter hewan.
B. Saran
Saran yang dapat penyusun ajukan dalam pembuatan makalah ini
adalah dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan

maupun kesalahan dalam pemamparan materinya, sehingga diharapkan


pemaparan materi yang lebih jelas dari dosen mata kuliah.

DAFTAR PUSTAKA

Chahaya, I., 2003, Epidemiologi Toxoplasma gondii, Digitized by USU digital


libarary, Sumatera Utara.
Dharmana, E., 2007, Toxoplasma gondii Musuh Dalam Selimut, Universitas
Diponegoro, Diponegoro.
Subekti, D.T., Arrasyid, N.K., 2006, Imunopatogenesis Toxoplasma gondii
Berdasarkan Perbedaan Galur, Jurnal Wartazoa, XVI (3): 128-145
Suriantika, C., Elfiyana, E., Sampa, K.A., Purnasita, O.T., Herdiana, O., Erviani,
R.T., dan Ristiana, Y., 2013, Toxoplasma gondii, Universitas
Muhammadiyah, Jakarta.
Yaudza, N., 2010, Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur tentang
Toksoplasmosis di Poliklinik Ginekologi Departemen Obstetri dan
Ginekologi Rumah Sakit Pusat Haji Adam Malik Medan, Universitas
Sumatera Utara, Medan.

Soal & Jawaban


1. Menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dan ujung lain agak
membulat, merupakan ciri dari Toxoplasma gondii dalam bentuk.....
a. Bentuk Takizoit (Poriferatif)
b. Bentuk Kista (Bradizoit)
c. Bentuk Ookista (Sporozoid)
Jawaban: Bentuk Takizoit (Poriferatif)
2. Bentuk Toxoplasma gondii yang dapat berada dalam tubuh hospes dapat
ditemukan seumur hidup terutama di otak, otot jantung, dan otot bergaris
adalah......
a. Bentuk Takizoit (Poriferatif)
b. Bentuk Kista (Bradizoit)
c. Bentuk Ookista (Sporozoid)
Jawaban: Bentuk Kista (Bradizoit)
3. Siklus hidup Toxoplasma gondii yang terjadi di dalam tubuh hospes definitif
seperti kucing yaitu pada sel epitelnya disebut.....
a. Siklus enteroepitel
b. Siklus ekstraintestinal
c. Siklus aseksual
Jawaban: Bentuk Kista (Bradizoit)
4. Reproduksi seksual Toxoplasma gondii menghasilkan ookista yang keluar
melalui tinja kucing. Di luar tubuh kucing, ookista tersebut akan berkembang
membentuk....
a. Trofozoit
b. Sporozoit
c. Takizoid
Jawaban: Sporozoit
5. Setelah terjadi infeksi Toxoplasma gondii dalam tubuh akan terjadi proses
yang terdiri dari tiga tahap secara berurut yaitu....
a. Tahap parasitemia-pembentukan antibodi-fase kronik
b. Tahap pembentukan antibodi-fase kronik-parasitemia
c. Tahap parasitemia-fase kronik-pembentukan antibodi
Jawaban: Tahap parasitemia-pembentukan antibodi-fase kronik
6. Bentuk Toxoplasma gondii yang dapat menginfeksi semua jenis sel berinti
adalah....
a. Bentuk Takizoit (Poriferatif)
b. Bentuk Kista (Bradizoit)
c. Bentuk Ookista (Sporozoid)
Jawaban: Bentuk Takizoit (Poriferatif)
7. Apabila takizoit menginfeksi sel darah putih ini maka kecepatan
perkembangbiakannya menjadi menurun, tetapi setelah keluar dari sel ini dan
menginfeksi sel dan jaringan lain kecepatannya kembali seperti sediakala.
Jenis sel darah putih apakan yang diserang tersebut....
a. Eosinofil

b. Basofil
c. Neutrofil
Jawaban: Neutrofil
8. Gambaran klinis toksoplasmosis pada janin dapat tampak normal pada waktu
lahir dan gejala klinisnya baru timbul setelah beberapa minggu sampai
beberapa tahun. Berdasarkan cara penularan dan gejala klinisnya,
toksoplasmosis ini merupakan jenis.....
a. Toksoplasmosis dapatan atau akuisita
b. Toksoplamosis kongenital
c. Tokzoplasmosis primer
Jawaban: Toksoplamosis kongenital
9. Cara penularan dari toksoplasmosis dapatan atau akuisita adalah....
a. Infeksi melalui ibu hamil
b. Infeksi apabila memakan daging mentah atau kurang matang
c. Infeksi melalui transplantasi organ
Jawaban: Infeksi apabila memakan daging mentah atau kurang matang
10. Gejala yang timbul pada toksoplasmosis pada remaja dan dewasa akibat
infeksi kongenital adalah.....
a. Pembengkakan kelenjar getah bening
b. Penyakit kuning (jaundice)
c. Korioretinitis
Jawaban: Korioretinitis yaitu: radang/inflamasi lapisan koroid di belakang
retina mata.