Anda di halaman 1dari 51

PERCOBAAN VI

PENGUKURAN KETEBALAN RAMBUT DENGAN PRINSIP BABINET

LAPORAN EKSPERIMEN
FISIKA OPTIK

RYAN HANKEY RANONTO


G 101 14 022

PROGRAM STUDI FISIKA JURUSAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
DESEMBER 2016

LEMBAR PENGESAHAN
1

Nama

: Ryan Hankey Ranonto

Stambuk

: G 101 14 022

Judul

: Pengukuran Ketebalan Rambut Dengan Prinsip Babinet

Kelompok

: V (Lima)

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui


Palu, Desember 2016
Mengetahui,

Kordinator Asisten

Asisten

Fazri Mangendre
Nim G 101 12 001

Rany Khaeroni
Nim G 101 12 023

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Dimana atas
limpah kasih dan karunianya sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan
praktikum yang berjudul pengukuran ketebalan rambut dengan prinsip babinet.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen, para asisten serta temanteman seperjuangan yang telah banyak membantu dan membimbing dari awal
sampai akhir praktikum.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kekurangan dan
belum sesuai dengan yang di harapkan. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan sumbangan ide, kritik serta saran yang bersifat membangun,
sehingga pada penyusunan laporan selanjutnya sesuai dengan apa yang di
harapkan. Terlepas dari kesalahan, kiranya pembaca dapat memaklumi jika dalam
penulisan laporan masih terdapat kekeliruan. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Palu, Desember 2016

Penulis

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan yang berjudul pengukuran ketebalan rambut dengan


prinsip babinet, adapun tujuan dalam percobaan kali ini yaitu untuk memahami
prinsip babinet sebagai aplikasi pada pola difraksi dan mengukur ketebalan
rambut. Dalam percobaan ini digunakan metode difraksi yang celah kisinya
digantikan oleh sehelai rambut dengan prinsip babinet untuk pengukuran
ketebalan rambut dan pola difraksi oleh sebuah rambut yang mempunyai
ketebalan rambut yang sama mempunyai ketebalan d oleh suatu celah yang
mememiliki lebar d. Nilai pengukuran ketebalan rambut yang diperoleh dalam
percobaan ini Dari hasil percobaan ini setelah di rata-ratakan nilai ketebalan
rambut diperoleh 1,3 x 10-4 m. Berdasarkan bentuk grafik yang diperoleh bahwa
semakin besar jarak antara rambut ke layar maka pola gelap terang pula akan
semakin besar, sedangkan berdasarkan metode menggunakan nilai kemiringan
grafik di kali (panjang gelombang), pada pengukuran tunggal diperoleh
sebesar 8,86 x 10-12 m, dan pengukuran tunggal berulang diperoleh sebesar 4,46 x
10-12 m, sedangkan pada pengukuran berulang diperoleh sebesar 1,64 x 10-12 m.
Nilai dari percobaan ini tidak sesuai dengan literatur. Di mana bahwa menurut
Anma (2010), diameter rambut manusia adalah 17 180 mikrometer (1
mikrometer = 1/1000 mm). Dan menurut Brian Ley (1999), diameter rambut
manusia adalah antara (17-181) m. Tingkat ketelitian yang diperoleh dari
percobaan ini sekitar 57,7%-93,23%.

Kata kunci : Prinsip babinet, Difraksi

DAFTAR ISI

Isi

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN.......................................................................ii
KATA PENGANTAR............................................................................... iii
ABSTRAK............................................................................................. iv
DAFTAR ISI........................................................................................... v
DAFTAR TABEL.................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR................................................................................ vi
DAFTAR SIMBOL................................................................................. vii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................10
1.1 Latar Belakang...........................................................................10
1.2 Rumusan masalah.......................................................................10
1.3 Tujuan percobaan.......................................................................10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................12
2.1 Difraksi.................................................................................... 12
2.2 Prinsip babinet...........................................................................13
BAB III METODE PENELITIAN ..........................................................15
3.1 Waktu dan Tempat......................................................................15
3.2 Alat dan Bahan...........................................................................15
3.3 Prosedur Kerja...........................................................................16
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN....................................................19
4.1 Hasil Pengamatan.......................................................................19
4.2 Pembahasan............................................................................... 32
BAB V PENUTUP.................................................................................35
5.1 Kesimpulan............................................................................... 35
5.1 Saran........................................................................................ 36
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................37
LAMPIRAN.......................................................................................... 38

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

4.1 Hasil pengamatan untuk data tunggal..19


4.2 Hasil pengamatan untuk data tunggal berulang...19
4.3 Hasil pengamatan untuk data berulang ...20

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

Gambar 2.2 Pola Difraksi Cahaya (Eugene Hect, 2002).12


Gambar 3.1 rangakaian alat pengukuran ketebalan rambut prinsip babinet16

DAFTAR SIMBOL

d : lebar kisi atau kongjugat kisi (m)


7

L : jarak sumber cahaya ke layar (m)


x : jarak antara pola terang gelap (m)
N : Jumlah celah
: Panjang gelombang (nm)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

Analisa Data...........................................................................................................15
Fotokopi Laporan Sementara................................................................................27
Fotokopi Kartu Kontrol..........................................................................................31
Biografi..................................................................................................................32
Lembar Asistensi....................................................................................................33

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Prinsip babinet adalah prinsip yang membahas mengenai pola difraksi dari kisi
atau celah yang seukuran dengan celah kisi. Celah pada kisi dapat digantikan oleh
sehelai rambut sebagai konjugatnya untuk memperoleh pola difraksi. Pola difraksi
oleh sebuah rambut dapat dimanfaatkan untuk mengukur ketebalan rambut (d),
sehingga dengan menggunakan prinsip babinet kita dapat menentukan ketebalan
rambut dengan mengamati pola difraksinya (Hariharan 2007).
Oleh karena latar belakang di atas maka dilakukan percobaan pengukuran
ketebalan rambut dengan prinsip babinet untuk memahamai prinsip babinet
sebagai aplikasi dari pola difraksi dengan percobaan pengukuran ketebalan
rambut yang dilakukan.
1.2 Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam percobaan ini yaitu :
1. Bagaimana memahami prinsip babinet sebagai aplikasi dari pola difraksi ?
2. Bagaimana cara mengukur ketebalan rambut.

1.3 Tujuan percobaan


Adapun tujuan dalam percobaan ini yaitu :
1. Memahami prinsip babinet sebagai aplikasi dari pola difraksi.
2. Mengukur ketebalan rambut.

1.4 Manfaat percobaan


Adapun manfaat dalam percobaan ini yaitu :
1. Mahasiswa dapat memahami prinsip babinet sebagai aplikasi dari pola difraksi
2. Mahasiswa dapat mengukur ketebalan rambut

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

11

2.1 Difraksi
Difraksi adalah peristiwa pelenturan cahaya yang memberikan pola teratur di
belakang celah. Beberapa hal yang yang berpengaruh pada pola difraksi yaitu
sumber cahaya harus koheren, jarak antara celah dan pola difraksi dan lebar celah
harus lebih kecil dari panjang gelombang cahaya yang di gunakan. Syarat ini pola
difraksi dapat di manfaatkan untuk mengukur lebar atau ketebalan benda-benda
yang sangat kecil yang tidak bisa di ukur secara langsung dengan menggunakan
alat ukur, selama benda tersebut ukurannya jauh lebih kecil dari panjang
gelombang cahaya yang di guanakan. Salah satu pemanfaatan prinsip difraksi ini
yaitu untuk mengukur ketebalan rambut yang sering di sebut prinsip babinet

(Halliday, dkk, 1999).

Gambar 2.2 Pola Difraksi Cahaya (Eugene Hect, 2002).

12

2.2 Prinsip babinet


Prinsip babinet adalah prinsip yang mengatakan bahwa pola difraksi dari kisi
dapat di hasilkan juga oleh sesuatu yang seukuran dengan celah kisi. Celah kisi
dapat di gantikan oleh sehelai rambut sebagai konjugatnya untuk memperoleh
pola difraksi yang identic. Pola difraksi oleh sebuah rambut yang memiliki
ketebalan d akan sama dengan pola difraksi oleh suatu celah yang memiliki lebar
d, oleh karena itu dalam percobaan ini dapat menggunakan prinsip babinet untuk
dapat menentukan ketebalan rambut dengan mengamati pola difraksinya.
Persamaan difraksi yang berlaku pada kisi pun berlaku juga pada konjugat dari
kisi itu sendiri. Menurut prinsip babinet, pola interferensi yang sama terjadi jika
satu atau sekelompok celah diganti dengan komplemennya. Pola difraksi yang
terbentuk oleh sebuah rambut berketebalan d akan sama dengan pola difraksi oleh
suatu celah yang memiliki lebar d Hernandez (1999).
Menurut Sanjaya (2010), literature yang ada untuk ketebalan rambut dalam
prinsip babinet di peroleh ketebalan rambut berkisar (0,0030 0,0006). Persaman
difraksi yang berlaku pada kisi pun berlaku juga pada konjugat dari kisi
itu sendiri.
N = dsin n
(2.1)
Pada difraksi dapat dirumuskan seperti persamaan 2.2 menjadi
= dsin

(2.2)

13

pada sin = tan

x
L

.Sehingga persamaan untuk menghitung lebar kisi atau

konjugat kisi menjadi

x =

l
d

(2.3)
Pada prinsip babinet pola difraksi dari suatu kisi dapat dihasilkan juga oleh
sesuatu yang seukuran dengan celah kisi. Celah kisi dapat digantikan oleh sehelai
rambut sebagai konjugatnya untuk memperoleh pola difraksi yang identik. Pola
difraksi oleh sebuah rambut yang memiliki ketebalan d akan sama dengan pola
difraksi oleh suatu celah yang memiliki lebar d, sehingga dengan menggunakan
prinsip babinet kita dapat menentukan ketebalan rambut dengan mengamati pola
difraksi yang terbentuk pada layar (Tim Penyusun Praktikum, 2016 ).

Menurut Prita (2013), diameter rambut manusia adalah 17 180 mikrometer (1


mikrometer = 1/1000 mm). Sedangkan menurut Brian Ley (1999), diameter
rambut manusia adalah antara (17-181) m.

14

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat


Adapun waktu dan tempat pelaksanaan percobaan ini yaitu :
Hari / Tanggal : Senin, 5 Desember 2016
Pukul

: 13.30 WITA - Selesai

Tempat: Laboratorium Fisika Dasar Jurusan Fisika FMIPA UNTAD


3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
1. Bangku optik berfungsi sebagai lintasan / dudukan alat
2. Laser HeNe berfungsi sebagai cahaya koheren / sumber cahaya
3. Optik lensa berfungsi sebagai penerus laser ke layar / memfokuskan sumber
cahaya
4. Slit tunggal berfungsi sebagai celah untuk lewatnya laser / tempat melekatnya
sehelai rambut
5. Sehelai rambut berfungsi sebagai bahan percobaan untuk di ukur ketebalan /
konjugat kisi
6. Kertas milimeter blok berfungsi sebagai penangkap pola difraksi
7. Layar berfungsi sebagai penangkap pola difraksi
15

8. Perekat (lem atau double tipe ) berfungsi sebagai perekat sehelai rambut ke
slit
9. Meteran 2 meter berfungsi sebagai alat ukur untuk mengukur jarak dari slit
tunggal ke layar
3.3 Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja percobaan ini, yaitu :
1. Merangkai alat seperti pada gambar

Gambar 3.1 rangakaian alat pengukuran ketebalan rambut prinsip babinet


2. Meletakkan laser HE-NE sejajar dengan bangku optik
3. Memasangkan lensa pada bangku optic sejajar dengan laser
4. Merekatkan sehelai rambut pada slit tunggal baik dalam posisi vertical atau pun
horizontal ( gunakan lem, double tipe, lakban atau perekat lainnya )
5. Meletakkan slit sejajar dengan lensa dan laser
6. Melekatkan millimeter block pada layar
7. Memasangkan layar sejajar dengan slit, lensa dan laser
8. Mengusahakan cahaya laser terfokus oleh lensa hingga mengenai sehelai
rambut sehingga menghasilkan pola difraksi pada layar

16

A. engambilan Data
Data I
1.Mencatat panjang gelombang cahaya yang digunakan
2.Mengukur jarak layar terhadap rambut sebagai kisi difraksi, jarak ini adalah
jarak L
3.Mengukur jarak antara terang pusat dan terang terdekat yang tertera pada layar,
jarak ini adalah x
4.Mengubah jarak L sebanyak 5 kali, pada setiap pengubahan jarak ini ukur pula
jarak x
Data II
1.Mencatat panjang gelombang cahaya yang digunakan
2.Mengukur jarak layar terhadap rambut sebagai kisi difraksi, jarak ini adalah
jarak L
3.Mengukur jarak antara pusat terhadap terang terdekat pertama sampai terang
terdekat ke-6 yang tertera pada layar, jarak ini adalah x
4.Mengubah jarak L sebanyak 5 kali, pada setiap pengubahan jarak ini ukur pula
jarak x pertama hingga ke-6
Data III
1.Mencatat panjang gelombang cahaya yang digunakan

17

2.Mengukur jarak layar terhadap rambut sebagai kisi difraksi, jarak ini adalah
jarak L
3.Mengukur jarak antara pusat terhadap terang terdekat pertama sampai terang
terdekat ke-6 yang tertera pada layar, jarak ini adalah x
4.Mengubah jarak L sebanyak 5 kali, pada setiap pengubahan jarak ini ukur pula
jarak x pertama hingga ke-6

18

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 4.1 Hasil pengamatan untuk data tunggal
No
1.
2.
3.
4.
5.

x (cm)

L (cm)
50
100
150
200
250

0,1
0,2
0,3
0,3
0,4

( nm)

633

Tabel 4.2 Hasil pengamatan untuk data tunggal berulang


No

1.

2.

x (cm)
0,1
0,1
0,1
0,2
0,1
0,1
0,2
0,1
0,3
0,2
0,2
0,2

x rata-rata (cm)

L (cm)

(nm)

0,116666667

50

633

0,2

100

633

19

3.

4.

5.

0,3
0,3
0,2
0,2
0,2
0,3
0,3
0,4
0,3
0,3
0,4
0,3
0,4
0,4
0,5
0,4
0,5
0,5

0,25

150

200

0,333333

0,45

633

633

250
633

Tabel 4.3 Hasil pengamatan untuk data berulang


No

1.

2.

3.

x (cm)

x rata-rata
(cm)

L (cm)

0,116

50,2

0,1

50,3

0,1
0,116

0,11083333

50,1
49,8

0,133

50,4

0,1

50,5

0,25

100

0,167

100,1

0,25
0,233

0,22766667

99,9
100,2

0,216

100,1

0,25

100,3

0,367
0,4

0,3165

150,1

L rata-rata
(cm)

(nm)

50,21667

633

100,1

633

150,217

633

149,9
20

4.

5.

0,25

150,1

0,316

150,4

0,25

150,3

0,316

150,5

0,45

200,5

0,483

200,4

0,43
0,4

0,44383333

299,8
200,2

0,5

200,1

0,4

199,5

0,583

250,2

0,567

250,4

0,567
0,416

0,51383333

249,9
250,1

0,55

250,3

0,4

249,8

216,75

633

250,117

633

4.2 Pembahasan
Difraksi adalah pelenturan cahaya yaitu saat suatu cahaya melalui celah maka
cahaya dapat terpecah-pecah menjadi bagian yang lebih kecil dan memiliki sifat
seperti cahaya baru. Sifat difraksi cahaya dapat dibuktikan dengan melihat pola
interferensi yang terjadi pada layar saat dipasang di belakang celah. Pola difraksi
dapat dimanfaatkan untuk mengukur lebar atau ketebelan benda-benda yang
sangat kecil yang tidak bisa diukur dengan menggunakan alat ukur, selama benda
tersebut ukurannya jauh lebih kecil dari panjang gelombang cahaya digunakan.

21

Salah satu pemanfaatkan prinsip difraksi ini yaitu untuk mengukur ketebalan
rambut atau yang sering disebut dengan prinsip babinet (Eugene Hect, 2002).

Pada percobaan ini digunakan slit tunggal yang di tengahnya direkatkan sehelai
rambut kemudian disinari laser yang di depannya diletakkan lensa konvergen
untuk memfokuskan sumber cahaya. Metode yang digunakan pada percobaan ini
ada dua, yaitu pengamatan tunggal dan pengamatan berulang pada jarak antara
pola terang-gelap pada layar. Metode yang digunakan untuk menghitung
ketebalan rambut ada dua, yaitu menggunakan persamaan dan menggunakan nilai
kemiringan dari grafik. Terbentuknya pola-pola pada layar disebabkan karena
superposisi dua gelombang yang menempuh jarak berbeda untuk mencapai suatu
titik pada layar. Pola- pola ini adalah pola yang terjadi akibat interferensi
destruktif maupun konstruktif, sehingga menghasilkan daerah yang gelap dan
daerah yang terang. Dari pola ini diukur jarak antara pola terang pusat ke pola
terang terdekat, sebagai

x , sehingga di peroleh nilai ketebalan atau diameter

rambut (Anma, 2010).


Dalam percobaan ini untuk menentukan ketebalan rambut maka dilakukan analisi
data dari data tunggal, data tunggal berulang dan berulang-ulang. Pada
pengukuran tunggal diperoleh nilai rata-rata ketebalan rambut sebesar
6,37 105 m

dan pengukuran tunggal berulang diperoleh nilai rata-rata

ketebalan rambut sebesar 3,46 x

105 m, sedangkan pengukuran berulang nilai

22

rata-rata yang diperoleh yaitu 29,14 x

105

m dengan nilai rata-rata secara

keseluruhan sebesar 1,3 x 10-4 m. Berdasarkan bentuk grafik yang diperoleh


bahwa semakin besar jarak antara rambut ke layar maka pola gelap terang pula
akan semakin besar, sedangkan berdasarkan metode menggunakan nilai
kemiringan grafik di kali

(panjang gelombang), pada pengukuran tunggal

diperoleh sebesar 8,86 x 10-12 m, dan pengukuran tunggal berulang diperoleh


sebesar 4,46 x 10-12 m, sedangkan pada pengukuran berulang diperoleh sebesar
1,64 x 10-12 m. Ketelitian yang diperoleh pada percobaan ini berkisar antara 57,7%
% - 93,23%.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh hubungan jarak celah kelayar berbanding
lurus dengan jarang pola terang gelap pada layar. Semakin besar jarak rambut
kelayar maka semakin besar pula jarak antar pola terang gelap pada layar. Dimana
pada literatur menurut Ley B. (1999), menyatakan bahwa diameter rambut pada
manusia berkisar antara (17-181)

m . Pada percobaan ini diperoleh nilai

ketebalan rambut tidak sesuai dengan literatur. Hal ini mungkin disebabkan oleh
beberapa hal diantaranya alat yang digunakan tidak dikalibrasi terlebih dahulu,
kemudian disebabkan karena laser yang terpasang pada bangku optik kurang
sejajar dengan slit tunggal, sehingga cahaya laser kurang terfokus pada saat
mengenai layar. Selain itu, disebabkan karena kurangnya ketelitian praktikan pada
saat pengambilan data seperti mengukur jarak antara terang pusat dan terang
terdekat yang tertera pada layar, sehingga hasil yang diperoleh masih jauh dengan
literatur.

23

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa:
1. Pola difraksi sebagai aplikasi dari prinsip babinet yaitu mengukur lebar atau
ketebalan benda-benda yang sangat kecil yang tidak bisa diukur secara
langsung dengan menggunakan alat ukur misalnya ketebalan rambut.
Peristiwa pelenturan cahaya yang dihasilkan membentuk pola teratur
dibelakang celah yang memiliki lebar d dengan syarat dimana d harus lebih
kecil dari panjang gelombang.
2. Berdasarkan hasil perhitungan pada pengukuran tunggal diperoleh nilai ratarata ketebalan rambut sebesar

6,37 10 m

dan pengukuran tunggal


24

berulang diperoleh nilai rata-rata ketebalan rambut sebesar 3,46 x

105

m,

sedangkan pengukuran berulang nilai rata-rata yang diperoleh yaitu 29,14 x


5

10

m dengan ketelitian berkisar antara 57,7% % - 93,23%. Berdasarkan

bentuk grafik yang diperoleh bahwa semakin besar jarak antara rambut ke
layar maka pola gelap terang pula akan semakin besar, sedangkan
berdasarkan metode menggunakan nilai kemiringan grafik di kali

(panjang gelombang), pada pengukuran tunggal diperoleh sebesar 8,86 x 10 -12


m, dan pengukuran tunggal berulang diperoleh sebesar 4,46 x 10-12 m,
sedangkan pada pengukuran berulang diperoleh sebesar 1,64 x 10-12 m.

5.1 Saran
Sebaiknya sebelum dilakukannya sebuah percobaan, alat harus dipastikan dapat
berfungsi dengan baik. Hasil yang diperoleh lebih maksimal dan akurat sesuai
dengan hasil percobaan, serta diperlukan kefokusan ketika pengambilan data.

25

DAFTAR PUSTAKA

Hernndez, 1999, Teori Prinsip Babinet,. Erlangga, Jakarta.


Halliday dan Resnick, R, 1999, Pola Difraksi pada Prinsip Babinet, ITB, Bandung.
Hariharan, P., 2007, Pola Prinsip Babinet, Secong Edition, Elsevier, ITB,
Bandung.
Sanjaya, M., 2010, Modul Eksperimen Fisika II,. Universitas IslamNegeri Sunan
Gunung Djati Bandung, Bandung.
Anma, 2010, Interferometer dan Prinsip Babinet, http://anma13.blogspot.co.id/,
diakses pada tanggal 27 November 2015 jam 12.28 WITA.
Eugene, H., 2002, Interferometer dan Prinsip Babinet, https://www.scribd.com/,
diakses pada tanggal 27 November 2015 jam 16.15 WITA.
Ley, B., Diameter Of Human Hair, http://hypertextbook.com/, diakses pada
tanggal 29 November 2015 jam 20.20 WITA.

26

Tim Penyusun 2016, Penuntun Praktikum Eksperimen Fisika Optik, Laboratorium


Fisika Eksperimen Fakultas MIPA, Universitas Tadulako, Palu.

LAMPIRAN
I.

Analisa Data
A. Perhitungan Umum
1. Data Tunggal
= 633 nm = 633 x 10-9 m
a. Spot I
L = 50,0 cm = 0,5 m
x = 0,1 x 10-2 m

L 633 109 m x 0,5 m


5
d=
=
=31,65 10 m
2
x
0,1 10 m
b. Spot II
L = 100 cm = 1 m
x = 0,2 cm = 0,2 x 10-2 m

27

d=

L 633 109 m x 1 m
5
=
=31,65 10 m
2
x
0,2 10 m

c. Spot III
L = 150 cm = 1,5 m
x = 0,3 cm = 0,3 x 10-2 m
d=

L 633 109 m x 1,5 m


5
=
=31,65 10 m
2
x
0,3 10 m

d. Spot IV
L = 200 cm = 2 m
x = 0,3 cm = 0,3 x 10-2 m
d=

L 633 109 m x 2 m
5
=
=42,2 10 m
2
x
0,3 10 m

e. Spot V
L = 250 cm = 2,5 m
x = 0,4 cm = 0,4 x 10-2 m
d=

L 633 109 m x 2,5 m


5
=
=39,56 10 m
2
x
0,4 10 m

2. Data Tunggal Berulang

= 633 nm = 633 x 10-9 m


a. Spot I
L = 50,0 cm = 0,5 m
x

0,1102+ 0,1105+ 0,1 105+ 0,2 105 +0,1 105 +0,1 105
6

0,116 102 m
d=

L 633 109 m x 0,5 m


5
=
=27,13 10 m
2
x
0,1 10 m

28

b. Spot II
L = 100 cm = 1 m
x

0,2102+ 0,1102+ 0,3 102+ 0,2 102+ 0,2 102+ 0,2 102
6

0,2 102 m
d=

L 633 109 m x 1 m
5
=
=31,65 10 m
2
x
0,1 10 m

c. Spot III
L = 150 cm = 1,5 m
x

0,3 102+ 0,3 102 +0,2 102 +0,2 102 +0,2 102 +0,3 102
6

0,25 102 m
d=

L 633 109 m x 0,25 m


=
=38 105 m
2
x
0,1 10 m

d. Spot IV
L = 200 cm = 2 m
x

0,3 102+ 0,4 102 +0,3 102+ 0,3 102+ 0,4 102 +0,3 102
6

0,33 102 m
d=

L 633 109 m x 2 m
5
=
=38 10 m
2
x
0,33 10 m

e. Spot V
L = 250 cm = 2,5 m

29

=
2

0,4 10 +0,4 10 + 0,5 10 +0,4 10 + 0,5 10 + 0,5 10


6
0,45 10
d=

L 633 109 m x 2,5 m


5
=
=31,71 10 m
x
0,45 102 m

2. Data Berulang-ulang
= 633 nm = 633 x 10-9 m
a. Spot I
x rata-rata =
10-2 m

=
L

d=

0,116+0,1+0,1+ 0,116+0,13+ 0,1


6

0,502+ 0,503+ 0,501+0,498+0,504+ 0,505


6

x rata-rata =

0,25+ 0,167+0,25+ 0,23+ 0,216+0,25


6

0,227 x 10-2 m
1+1,001+0,999+1,102+1,101+1,103
L =
6

= 0,502 m

L 633 109 m x 0502m


5
=
=28,6 10 m
2
x
0,113 10 m

b. Spot II

d=

= 0,113 cm = 0,11 x

= 0,227 cm =

= 1,001 m

L 633 109 m x 1,001 m


=
=27,8 105 m
2
x
0,227 10 m

c. Spot III
x rata-rata =

0,36+0,4+ 0,25+0,316+0,25+ 0,316


6

= 0,316cm = 0,316

x 10-2 m

30

150,1+149,9+150,1+150,4+ 150,3+ 150,5


6

= 150,21cm =

1,5021m
d=

L 633 109 m0,911m


5
=
=30 10 m
2
x
0,5 10 m

d . Spot IV

x rata-rata =
m

0,45+ 0,483+0,43+0,4 +0,5+0,4


6

= 0,44 cm = 0,44 x 10-2

200,5+ 200,4+199,9+200,3+200,1+199,5
6

= 200,1 cm = 2,001

m
d=

L 633 109 m x 2,001 m


5
=
=28,5 10 m
2
x
0,44 10 m

e . Spot V

x rata-rata =
L=

0,9+ 1,0+0,9+0,9+0,9+ 0,9


6

= 0,9 cm = 0,9 x 10-2 m

145,0+145,2+145,1+145,2+145,3+145
6

= 145,1 cm = 1,451 m

L 633 109 m1,451 m


5
d=
=
=30,80 10 m
2
x
0,9 10 m
B. Perhitungan Ralat
1. Ralat Tunggal
a. Spot I
d
d
d = L | L|+ x | x|

| | | |

|x|| L|+|( xL) || x|

31

||

||

|| |

633 109 1
633 109 0,5 1
0,001
+
0,001
2
2
0,1 102 2
( 0,1 102 )

|0,000317 105|+|16 105|


5

16 10

d
16 105

100
=
100 =50
KTPR
d
31,65 105
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 50% = 99,04%
0,5= 1 AB
AB 1log d =1log
d
4
Pelaporan d d=( 3 2 ) 10 m

b. Spot II

| dL|| L|+|dx|| x|

d=

|x|| L|+|( xL) || x|

||

||

|| |

633 109 1
633 109 1 1
0,001
+
0,001
2
0,2 102 2
( 0,2 102 ) 2

|0,0158 105|+|1,58 105|

3,97 105 m
d
3,97 105

100
=
100 =12,55
5
KTPR
d
31,65 10
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 12,55% = 87,45%

32

0,1255= 2 AB
AB 1log d =1log
d
5
Pelaporan d d=( 31 3,9 ) 10 m

c. Spot III

| dL|| L|+|dx|| x|

d=

|x|| L|+|( xL) || x|

||

|| |

633 109 1
633 109 1,5 1
0,001
+
0,001
2
2
0,3 102 2
( 0,3 102 )

|0,0106 105|+|3,95 105|


5

3,96 10

d
3,96 105

100
=
100 =12,53
5
KTPR
d
31,65 10
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 4,17 % = 87,46 %
0,125= 2 AB
AB 1log d =1log
d
5
Pelaporan d d=( 31 3,9 ) 10 m

d. Spot IV

| dL|| L|+|dx|| x|

d=

33

|x|| L|+|( xL) || x|

||

|| |

633 109 1
633 109 2 1
0,001
+
0,001
2
0,3 102 2
( 0,3 102 ) 2

|0,106 105|+|3,95 105|

3,96 105 m
d
3,96 105

100
=
100 =9,4
KTPR
d
42,2 105
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 9,4% = 90,6 %
d
AB 1log d =1log 0,094 2 AB
5
Pelaporan d d=( 42 3,9 ) 10 m

e. Spot V

| dL|| L|+|dx|| x|

d=

|x|| L|+|( xL) || x|


2

||

|| |

633 109 1
633 109 2,5 1

0,001 +
0,001
2
2
0,4 102 2
( 0,4 102 )
|0,0079 105|+|3,95 105|
3,96 105 m
5

d
3,96 10
KTPR d 100 = 39,5 105 100 =10,2

34

Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 10,2% = 89,98%


0,1002= 2 AB
AB 1log d =1log
d
5
Pelaporan d d=( 39 3,9 ) 10 m

C. Perhitungan Ralat Tunggal Berulang


= 633 nm = 633 x 10-9 m
Spot I
a. Spot I
x

= 0,000166667

d=

d
L

|| | | |

2
d
L +
| x|2
3
x

633 109
0,116 102

|0,000003304 10 |+|0,1524 10 |

|| | | |

2
L
2
| x|
L +
2
3
( x)
2

||

||

21
633 109 x 0,5 m
2
0,001 +
|0,000167|
2
2
32
( 0,116 10 )
8

3,903 105 m
d
3,903 105

100
=
100 =14,39
KTPR
d
27,12 105
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 14,39 = 85,65%
0,1439= 2 AB
AB 1log d =1log
d

35

5
Pelaporan d d=( 27 3,9 ) 10 m

b. Spot II
x

= 0,000258199

633 109
d=
0,2 102

||

||

21
633 109 x 1m
2
0,001 +
|0,000258|
2
2
32
( 0,2 10 )

|0,000011110 |+|1,66 10 |
9

4,07 105 m
d
4,07 105

100
=
100 =12,85
KTPR
d
31,65 105
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 12,85 = 87,14%
d
AB 1log d =1log 0,1285=2 AB
5
Pelaporan d d=( 31 4,1 ) 10 m

c. Spot III
x

= 0,0002236

||

||

633 109 2 1
633 109 x 1,5m
2
d=
0,001
+
|0,000236|
2
2
2
32
0,25 10
( 0,25 10 )

|0,000007116 10 |+|2,561 10 |
9

5,06 105 m
d
5,06 105

100
=
100 =13,3
5
KTPR
d
38 10
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 13,3 = 86,7%

36

0,187= 2 AB
AB 1log d =1log
d
5
Pelaporan d d=( 38 5,1 ) 10 m

d. Spot IV
x

= 0,0002108

||

||

633 109 2 1
633 109 x 2m
2
d=
0,001 +
|0,000236|
2
2
2
32
0,33 10
( 0,33 10 )

|0,00000407 10 |+|0,59 10 |
9

2,4 105

m
5

d
2,4 10
KTPR d 100 = 38 105 100 =6,3
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 6,3 = 93,6%
0,21= 2 AB
AB 1log d =1log
d
5
Pelaporan d d=( 38 2,4 ) 10 m

e. Spot V
x

= 0,0002236

||

||

633 109 2 1
633 109 x 2,5 m
2
d=
0,001 +
|0,000236|
2
2
2
32
0,45 10
( 0,45 10 )

||

| |

633 109 1
633 109 x 2,5 m 1
0,001
+
0,001
2
2
2
0,45 10 2
( 0,45 102 )

37

|0,000002186 109|+|0,35 109|


1,87 105 m
d
1,87 105

100
=
100 =5.3
KTPR
d
35,2 105
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 5.3 = 94,6%
0,14= 2 AB
AB 1log d =1log
d
5

Pelaporan d d=( 35 1,8 ) 10 m


2. Data Berulang-ulang
a. Spot I
t

2
L = t 2 N

2
= t 2 N

= 0,11 m

= 0,0052 m

| | |

d
2
d
2
d=
L| +
X|
|
|
L
x

| | |

2
L
2
L| +
X|
|
2 |
x
( x)

38

633 109
2
633 109 0,502
2

|0,11| +
|0,0052|
2
0,0011
( 0,0011 )
|4,17 109|+|4,66 109|
=

9,4 105 m

d
9,4 105

100
=
100 =32,86
KTPR
d
28,6 105
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 32,86 = 67,13%
0,328= 2 AB
AB 1log d =1log
d
5

Pelaporan d d=( 28 9,4 ) 10 m

b. Spot II

2
= t 2 N

2
= t 2 N

= 0,224 m

= 0,00052 m

| | |

d
2
d
2
d=
L| +
X|
|
|
L
x

39

| | |

2
L
2
L| +
X|
|
2 |
x
( x)

633 109
2
633 109 1,001
2

|0,224| +
|0,00052|
2
0,0023
( 0,0,0023 )
|1,77 10

|+|2,89 108|

9,39 105 m
d
9,39 105

100
=
100 =33,76
KTPR
d
22,77 105
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 33,76

= 66,32%

d
AB 1log d =1log 0,3376=2 AB
5
Pelaporan d d=( 22 9,4 ) 10 m

c. Spot III

2
= t 2 N

2
= t 2 N

= 0,335 m

= 0,00077 m

40

| |

d
2
d
2
d=
L| +
x|
|
|
L
x

| | |

2
L
2
L| +
x|
|
2 |
x
( x)

633 109
2
633 109 1,502
2

|0,335| +
|0,00077|
2
0,00316
( 0,00316 )
|0,0506 108|+|0,0613 108|
3,34 105

m
5

d
3,34 10
KTPR d 100 = 30,02 105 100 =11,14
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 11,14 = 88,85%
d
AB 1log d =1log 0,11=2 AB
5
Pelaporan d d=( 30 3,3 ) 10 m

d. Spot IV

2
= t 2 N

= 0,525 m

41

2
= t 2 N

d=

= 0,00103 m

| |

d
2
d
2
| L| + x | x|
L

| | |

2
L
2
L| +
x|
|
2 |
x
( x)
2

633 109
2
633 109 1,18
2

|0,525| +
|0,00103|
2
0,00452
( 0,00452 )
|0,026 108|+|0,0289 108|
2,34 105 m
d
2,34 105

100
=
100 =8,23
KTPR
d
28,5 105
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 8,23 = 91,76%
d
AB 1log d =1log 0,0823=2 AB
5
Pelaporan d d=( 28 2,3 ) 10 m

e. Spot V

42

2
= t 2 N

2
= t 2 N

= 0,61 m

= 0,0012 m

| |

d
2
d
2
d=
L| +
x|
|
|
L
x

| | |

2
L
2
L| +
x|
|
2 |
x
( x)

633 109
2
633 109 1,451
2

|0,61| +
|0,0012|
2
0,00536
( 0,00536 )
|0,019 10

|+|0,024 108|

2,08 105 m
d
2,08 105

100
=
100 =6,76
KTPR
d
30,8 105
Ketelitian = 100% - KTPR= 100% - 6,76 = 93,23%
d
AB 1log d =1log0,067=2 AB
5
Pelaporan d d=( 30 2,1 ) 10 m

43

Hasil Regresi hubungan antara L(jarak sumber cahaya ke layar) terhadap x

(jarak antara pola gelap terang)


1. Data tunggal
No

x(m)

L(m)

0,001

0,5

0,002

0,003

1,5

0,003

0,004

2,5

0
0

f(x) = 0x + 0
R = 0.94

0
0
0
L(m) 0
0
0
0
0
0

0.5

1.5

2.5

x(m)

Gambar 1 Grafik Hubungan antara L terhadap x

Y = Ax + B = 0,00001x 0,000005
9
12
d = A x = 0,006 x 633 10 m = 8,86 10 m

No

X2

Y2

XY

1.

0,5

0,00001

0,25

0,000000000
1

0,000005

44

2.

0,00002

3.

1,5

0,00003

2,25

4.

0,00003

5.

2,5

0,00004

6,25

7,5

0,00013

13,75

56,25

0,00000001
7

0,000000000
4
0,000000000
9
0,000000000
9
0,000000001
6
0,000000003
9

0,00002
0,000045
0,00006
0,0001
0,00023

Nilai a dan b yaitu :


n X i Yi ( X i )( Yi )
n X ( X i )
2
i

a=

0,000175
12,5

= 0,00001

( Yi )( X i2 ) ( X i )( X i Yi )
n X ( X i )
2
i

b=

0,0000625
12,5

==

= 0,000005

2. Data tunggal berulang


No

x(m)

L(m)

0,000012

0,5

0,00002

0,000025

1,5

0,000033

0,000045

2,5

45

0
0
0
0
0

f(x) = 0x + 0
R = 0.94

0
0
0

L(m)

0
0
0
0

0.5

1.5

2.5

x(m)

Gambar 1 Grafik Hubungan antara L terhadap x

Y = Ax + B = 0,00001x 0,000007
9
12
d = A x = 0,006 x 633 10 m = 4,4689 10 m

No

X2

Y2

XY

1.

0,5

0,000017

0,25

0,0000000001

0,000005

2.

0,00002

0,0000000004

0,00002

3.

1,5

0,000025

2,25

0,0000000009

0,000045

4.

0,000033

0,0000000009

0,00006

5.

2,5

0,000045

6,25

0,0000000016

0,0001

7,5

0,00014

4,8643

0,0000000001

0,00023

56,25

0,0000000
8

46

Nilai a dan b yaitu :


n X i Yi ( X i )( Yi )
n X ( X i )
2
i

a=

0,000174
12,5

= 0,00001

( Yi )( X i2 ) ( X i )( X i Yi )
n X i2 ( X i ) 2

b=

0,0000883
12,5
==

= 0,000007

3. Data berulang
No

x(m)

L(m)

0,000012

0,5

0,00002

0,000025

1,5

0,000033

0,000045

2,5

47

0
0

f(x) = 0x + 0
R = 1

0
L(m)

0
0
0
0
0

0.5

1.5

2.5

x(m)

Gambar 1 Grafik Hubungan antara L terhadap x

Y = Ax + B = 0,00002x 0,000003
9

d = A x = 0,00002 x 633 10 m = 1,64 10

12

No

X2

Y2

XY

1.

0,5021

0,000012

0,25210441

0,00000000131

0,0000059
2

2.

1,001

0,000023

1,002001

0,00000000515

0,0000227

No

X2

Y2

XY

3.

1,50217

0,000032

2,25651470
9

0,000000001

0,0000475

4.

2,1675

0,000044

4,69805625

0,00000000196

0,000096

5.

2,5011

0,000051

6,25550121

0,000000026

0,000128

7,674

0,000161

14,46

0,00000000622

0,0003

58,88

0,00000002
6

48

Nilai a dan b yaitu :


n X i Yi ( X i )( Yi )
n X ( X i )
2
i

a=

0,00026
13,43

= 0,00002

( Yi )( X i2 ) ( X i )( X i Yi )
b=

n X i2 ( X i ) 2

0,00003
13,43
==

= 0,000003

49

BIOGRAFI

Penulis bernama Ryan Hankey Ranonto. Penulis


lahir pada tanggal 24 Januari 1996 di desa Pendolo.
Penulis

merupakan

Ch.Ranonto

dan

putra

tunggal

dari

Ibu

Y.Tolokee.

bapak
Penulis

berpendidikan sekolah dasar di SD GKST 1 Tentena


pada tahun 2002 dan selesai

pada tahun

2008.

Setelah itu penulis melanjutkan


pendidikan di SMP N 1 Pamona Utara pada tahun 2008 dan selesai pada tahun
2011. Setelah itu penulis melanjutkan pendidikan di SMA N 1 Pamona Utara pada
tahun 2011 dan selesai pada tahun 2014. Setelah itu penulis melanjutakn
pendidikan di perguruan tinggi Negeri di Universitas Tadulako dan dan
mengambil kosentrasi di jurusan Fisika Fakultas Matematia Dan Ilmu
Pengetahuan Alam.

LEMBAR ASISTENSI

Nama

Ryan.H.Ranonto

Stambuk

G 101 14 022

No
.

Hari / Tanggal

Catatan

Kelompok

IV (Lima)

Asisten

Rani Khaeroni

Paraf

Beri Nilai