Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH DISKUSI KLINIK BEDAH MULUT

KISTA

Oleh:
M. Alfian Noor

I4D111206

Balqis Afifah

I4D111211

Hilda Ayu S

I4D111205

Sharla Nizmatul L

I4D111212

DeslitA Trilianti I

I4D111208

Yazid Eriansyah P

I4D111213

Anindya Putri P

I4D111207

Melinda Hairi

I4D111214

Riski Agustin

I4D111209

Novie Aprianti

I4D111215

Nabilla Kuswareni

I4D111210

Rizki Hadi

I4D110002

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


BANJARMASIN
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
2016
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah diskusi klinik ini dengan lancar.
Makalah ini diawali dengan pendahuluan, dengan menjelaskan latar
belakang, tujuan, rumusan masalah serta metode penulisan.Pembahasan
menjelaskan tentang Kista. Makalah ini juga dilengkapi dengan daftar pustaka
yang menjelaskan sumber dan referensi bahan dalam penyusunan makalah ini.
Kami sangat menyadari tentunya bahwa makalah ini belum sempurna.
Oleh karena itu, saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun sangat
kami harapkan, agar dapat kami perbaiki untuk yang akan datang. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Banjarmasin, Juli 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Judul ........................................................................................................................1
Kata Pengantar.........................................................................................................2
Daftar Isi..................................................................................................................3
Bab I

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang....................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................4
1.4 Metode Penulisan................................................................................5

Bab II

Pembahasan .............................................................................................6

2.1...................................................................................................................Def
inisi ..........................................................................................................6
2.2...................................................................................................................Etio
logi............................................................................................................6
2.3...................................................................................................................Kla
sifikasi......................................................................................................7
2.4...................................................................................................................Tata
laksana......................................................................................................18
Daftar Pustaka .........................................................................................................24

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kista sudah ditemukan sejak 4500 tahun sebelum masehi. Pada awal
abad pertama, Aulus Cornelius Celsus adalah orang pertama yang meneliti
tentang kista, dan dilanjutkan oleh Pierre Fauchard (1690 1762) dan John
Hunter (1729 1793) yang menyatakan bahwa perkembangan diagnosis dan
perawatan kista terjadi pada tahun 1850 (Pechalova et al, 2011).
Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan, dibatasi oleh lapisan
epitel dan jaringan ikat. Kista dapat menyebabkan pembesaran intraoral atau
ekstraoral yang secara klinis dapat menyerupai tumor jinak. Kista banyak
didapatkan pada regio Oral dan Maksilofasial karena adanya sisa epitel
odontogenik (Cawson, 2002).
Berdasarkan klasifikasi WHO tahun 2005, Kista odontogen
disubklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu inflammatory cyst dan developmental
cyst. Yang termasuk Inflammatory cyst adalah: radicular cyst, residual cyst dan
paradental cyst, sedangkan Yang termasuk developmental cyst adalah: gingival
cyst of newborn, gingival cyst of adult, odontogenic glandular cyst, dentigerous
cyst, orthokeratinized odontogenic cyst, eruption cyst, lateral periodontal cyst,
calcifying odontogenic cyst dan odontogenic keratocyst (Neville et al, 2010)

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana definisi kista?
2. Bagaimana etiologi kista?
3. Apa saja klasifikasi kista pada rongga mulut?
4. Bagaimana tatalaksana kista rongga mulut?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan definisi kista.
2. Menjelaskan etiologi kista.
3. Menjelaskan klasifikasi kista pada rongga mulut.

4. Menjelaskan tatalaksana kista rongga mulut


1.4 Metode Penulisan

Metode Literatur
Penyusun melakukan metode literatur dengan berpedoman pada bukubuku kedokteran dan buku-buku kesehatan lainnya serta jurnal kedokteran
yang relevan dengan topik.

Metode Teknologi
Penyusun mengambil sebagian bahan dari internet dengan sumber yang
valid.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Definisi
Kista adalah rongga patologis berisi cairan,dibatasi oleh lapisan epitel dan
jaringan ikat, Kista dapat menyebabkan pembesaran intraoral atau ektraoral yang
secara klinis dapat menyerupai tumor jinak (Danudiningrat, 2006).
Kista lebih sering tumbuh di rahang bawah dari pada rahang atas, terutama
diposterior mandibula dan cenderung terjadi pada laki-laki daripada perempuan,
odontogenik dapat tumbuh bersama kista. Kista dapat tumbuh dengan ukuran
besar dan mengakibatkan destruksu pada tulang rahang sehingga pada perawatan
harus dilakukan reseksi tulang rahang (Danudiningrat, 2006).
2.2. Etiologi
Pada umumnya, sebagian besar kista odontogen terjadi akibat adanya
proliferasi dari sisa epitel pada saat perkembangan gigi. Epitel yang berperan
pada proses terjadinya kista odontogen adalah sebagai berikut : Epithelial rests
of Malassez, reduced enamel epithelium, dan glands of Serres. Epithelial rests
of Malassez merupakan epitel yang terbentuk akibat dari proses fragmentasi dari
epithelial root sheath of Hertwig pada saat proses odontogenesis, epitel ini
berperan pada proses pembentukan kista radikular, kista residual, dan kista
paradental. Reduced enamel epithelium merupakan epitel yang berasal dari
enamel organ dan menyelubungi mahkota gigi yang tidak erupsi, epitel ini
berperan pada pembentukan kista dentigerous dan kista erupsi. Glands of Serres
merupakan epitel yang tersisa setelah proses disolusi dari dental lamina, epitel ini
berperan pada pertumbuhan odontogenic keratocyst, kista lateral, dan kista pada
gingiva (Soames, 2005).

2.3. Klasifikasi
1. Kista Odontogen
Berdasarkan klasifikasi WHO tahun 2005, Kista odontogen
disubklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu inflammatory cyst dan developmental cyst.
Yang termasuk Inflammatory cyst adalah: radicular cyst, residual cyst dan paradental
cyst, sedangkan Yang termasuk developmental cyst adalah: gingival cyst of newborn,
gingival cyst of adult, odontogenic glandular cyst, dentigerous cyst, orthokeratinized
odontogenic cyst, eruption cyst, lateral periodontal cyst, calcifying odontogenic
cyst dan odontogenic keratocyst (Neville et al, 2010, p. 679).
A. Kista Inflammatory
1) Kista radikular
Kista radikular adalah kista yang terjadi akibat dari proses keradangan.
Dinding epitel dari kista radikular berasal dari proliferasi sel epitel Malassez
yang berada di ligamen periodontal. Pada saat proses odontogenesis
berlangsung, eksternal dan internal dental epithelium akan bergabung untuk
membentuk cervical loop. Gabungan dari eksternal dan internal dental
epithelium disebut sebagai Hertwigs epithelial root sheath yang berfungsi
untuk mengontrol formasi pembentukan akar. Setelah proses pembentukan akar
selesai, Hertwigs epithelial root sheath akan mengalami proses disintegrasi
menjadi jaring- jaring epitel di ligamen periodontal yang dinamakan sel epitel
Malassez (Lin et al, 2007, p.1).
Proses patogenesis kista radikular dibagi menjadi 3 fase yaitu: fase
inisiasi, fase formasi kista, dan fase pembesaran kista. Pada fase inisiasi, produk
iritan berupa endotoksin dari bakteri yang disekresi secara konstan akan
menginfeksi pulpa, menyebar ke jaringan periapikal dan merangsang terjadinya
proses inflamasi. Pada saat proses inflamasi berlangsung, host cell (Fibroblast,
granulosit, makrofag, dan limfosit) akan mensekresi proinflammatory cytokines
(IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF-), mediator inflamasi (Prostaglandin), dan growth
factor (EGF, KGF, TGF-, FGF, dan HGF) untuk mengeliminasi bakteri.
Kolaborasi dari mediator inflamasi, proinflammatory cytokine, dan growth factor
akan memicu proliferasi sel epitel malassez (Shear 2007, p.128-130).
Sel epitel Malassez merupakan sel yang tidak bermetabolisme secara aktif
karena memiliki kandungan rough endoplasmic reticulum, free ribosomes, dan

high nuclear-cytoplasmic ratio dalam jumlah yang sedikit, walaupun demikian


sel ini masih memiliki kemampuan untuk berproliferasi. Pada proses siklus sel,
epitel malassez merupakan sel yang stabil dan diam dalam fase G0, jika ingin
berproliferasi dan membelah, sel tersebut harus bisa mensintesis RNA dan protein
untuk masuk ke fase G1 lalu selanjutnya mensintesis DNA dan kromosom untuk
masuk ke fase S, dan akhirnya berlanjut ke fase M (mitosis). Untuk menstimulasi
sel di fase G0 agar bisa memasuki fase G1 dibutuhkan extracellular signal atau
mitogen seperti mediator inflamasi dan growth factor (Lin et al, 2007, p.1-2).
Saat massa semakin membesar, sel yang terletak di bagian tengah

massa terletak semakin jauh dari pembuluh darah sehingga mengakibatkan


suplai nutrisi terhambat, sel yang berada di tengah massa akan mati dan
ruangan di tengah massa akan menjadi suatu lumen.
Proses pembesaran kista radikular berhubungan dengan adanya
peningkatan tekanan hidrostatik di dalam lumen kista yang lebih besar
daripada tekanan kapiler pembuluh darah, sehingga untuk menyeimbangkan
tekanan akan terjadi proses transudasi dimana cairan dari luar kista radikular
bisa masuk ke lumen yang akan mengakibatkan ukuran kista semakin besar
(Marx, 2003, p.579). Pertumbuhan kista radikular akan disertai dengan
resorbsi tulang karena adanya aktivasi dari osteoklas. Proinflammatory
cytokines, interleukins, prostaglandins, dan TNF- merupakan substansi
yang bisa menstimulasi proses resorbsi tulang melalui peningkatan regulasi
dari RANKL yang akan berperan pada proses aktivasi osteoklas (Lin et al,
2007, p.8).
2) Kista Residual
Merupakan kista yang ditemukan pada regio yang tidak bergigi dengan
riwayat ekstraksi akibat tidak terambilnya granuloma atau kista radikular
secara sempurna pada saat dilakukan enukleasi (Regezi, 2003, p.244).
Kista residual bersifat asimptomatis dengan proses pembesaran secara
perlahan-lahan yang tidak disadari oleh penderita sehingga kista residual
sering ditemukan secara tidak sengaja pada saat dilakukan pemeriksaan
radiologis rutin. Kista residual bisa menggangu ketepatan pemasangan dari
gigi tiruan, karena adanya penebalan yang progresif pada epithelial lining dari
kista (Cawson, 2002, p.106).

B. Kista Developmental
Kista developmental bukan merupakan kista yang terjadi akibat dari
suatu proses keradangan, namun merupakan perkembangan dari sisa epitel
odontogenik (Marx, 2003, p.567).
1) Odontogenic keratocyst
Odontogenic keratocyst merupakan kista berasal dari proliferasi dental
lamina atau sisa epitel pertumbuhan yang terdapat pada rahang. Istilah
odontogenic keratocyst pertama kali diperkenalkan oleh Phillipsen pada tahun
1956 untuk menunjukkan tipe spesifik dari perubahan yang terjadi dalam kista
dentigerous, kista residual, dan kista radikular (Cawson, 2002, p.252).
Odontogenic keratocyst sering menyebabkan pembengkakan di daerah
fasial atau lingual dari tulang rahang, dan terlihat menonjol. Gejala klinis lainnya
adalah parestesi pada bibir, gigi tanggal, dan nyeri (Marx, 2003, p.592)
2) Kista dentigerous
Kista dentigerous merupakan kista yang terbentuk di sekitar mahkota gigi
dan melekat pada cemento-enamel junction gigi yang tidak erupsi (Cawson, 2002,
p.108). Kista dentigerous juga disebut sebagai kista folikular sebab merupakan
hasil pembesaran folikel, berasal dari akumulasi cairan antara reduced enamel
epithelium dan enamel gigi (Regezi, 2003, p.246). Ada dua teori mengenai
pembentukan kista dentigerous. Teori pertama menyatakan bahwa proses
perkembangan kista disebabkan oleh adanya akumulasi cairan antara reduced
enamel epithelium dan mahkota gigi. Tekanan cairan akan memicu proliferasi
reduced enamel epithelium. Teori kedua menyatakan bahwa proses terjadinya
kista dentigerous diawali dengan rusaknya stellate reticulum yang akan
membentuk cairan diantara outer dan inner enamel epithelium. Tekanan cairan
tersebut akan memicu proliferasi outer enamel epithelium yang menyisakan
perlekatan pada gigi di bagian cemento enamel junction, sehingga inner
enamel epithelium tertekan ke atas permukaan mahkota. Kista dentigerous akan
terbentuk mengelilingi mahkota dan melekat pada cemento enamel junction dari
gigi. Saat telah terbentuk sempurna, mahkota akan berprotrusi ke dalam lumen,
dan akar-akarnya memanjang ke sisi luar kista. Kedua teori menjelaskan bahwa

tekanan dari cairan akan menyebabkan proliferasi kistik karena kandungan


hiperosmolar yang dihasilkan oleh kerusakan dari sel sehingga menyebabkan
adanya tekanan osmotik yang akan memompa cairan ke dalam lumen. Proses
terjadinya kista dentigerous juga berhubungan dengan gigi yang tidak erupsi atau
impaksi. Gigi impaksi yang mempunyai potensi untuk erupsi akan menyebabkan
penyumbatan aliran vena (venous outflow) dan mengakibatkan transudasi serum
dinding kapiler. Hal ini mengakibatkan meningkatnya tekanan hidrostatik yang
akan memisahkan folikel dari mahkota gigi (Shear, 2007, p.69).
Kista dentigerous bersifat asimtomatik, namun ukuran dari kista
dentigerous bisa menjadi sangat besar (10-15cm) sehingga bisa menyebabkan
adanya asimetris wajah pada penderita (Neville, 2010, p.679)
3) Kista lateral periodontal
Kista lateral periodontal merupakan jenis kista yang tumbuh dari sisa
epitel dental lamina yang tertinggal di daerah tulang regio interradicular crestal
atau di daerah tulang setinggi setengah panjang akar (Shear, 2007, p.85).
Kista lateral periodontal bersifat asimptomatik, tidak tampak secara
klinis, sehingga sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan
radiologis rutin (Neville, 2010, p.693).
4) Kista Periodontal
Kista ini berasal dari degenerasi kistik dari sisa-sisa epitel malassez / epitel
embryonal pembentuk gigi ataupun berasal dari proliferasi dental granuloma yang
terdapat di sepanjang jaringan periodontal sekitar akar gigi. Pada umumnya
terdapat di sekitar apeks gigi yang sudah non vital atau gigi dengan karies
profunda perforasi.
Bila kista ini besar maka dengan palpasi terasa adanya krepitasi yang
disebut pingpong phenomena yaitu rongga patologis dalam rahang yang dapat
digerakkan. Sedangkan, bila kista ini kecil dalam foto rontgen akan sulit
dibedakan dengan periapikal granuloma.
Patogenesa kista ini dimulai dengan timbulnya suatu keradangan
periapikal kronis (radang granulomatik) yang mengalami degenerasi kistik.
Dengan terjadinya inflamasi kronis pada jaringan periodontal tersebut maka akan

menyebabkan terbentuknya jaringan granulasi pada periapikal periodontal


membrannya, dimana pada akhirnya akan terbentuk granuloma. Di tengah
jaringan epitel tersebut tidak mendapat supply darah yang cukup sehingga bagian
tersebut akan berubah menjadi rongga yang penuh dengan epitel serta cairan yang
disebut weg liquivatic, dan juga banyak terdapat jaringan yang nekrotik maupun
hasil-hasil metabolisme lainnya, sehinga lama kelamaan menjadi kista.
5) Kista erupsi
Kista erupsi terbentuk dalam gusi di atas mahkota gigi yang akan erupsi
karena terjadi akumulasi cairan jaringan atau darah di dalam suatu ruang folikular
yang membesar di sekitar mahkota gigi (Neville, 2010, p.682).
Kista erupsi tampak sebagai pembengkakan gusi yang lunak, translusen,
dan bila terisi darah akan berwarna biru keunguan (Neville, 2010, p.682).
2. Kista Non Odontogen
A. Kista Duktus Nasopalatina / Nasopalatine Duct Cyst
Sinonim : Nasopalatine canal cyst, incisive canal cyst, nasopalatine cyst,
median palatine cyst, and median anterior maxillary cyst
Gambaran Klinis
Biasanya terdapat di midline anterior maksila dekat foramen
insisivus
Biasanya asimptomatik namun nyeri tekan, dan pembengkakan
bisa terjadi
bila kista kecil pembengkakan terlihat di papila incisivus, bila kista
besar menyebabkan terjadinya ekspansi di regio labial & palatal.

Gambaran Histologis

Kista dilapisi oleh lapisan stratified squamous epitel dan sebagian


ditemukan epitel respiratory
Dinding duktus nasopalatinus sering ditemukan jaringan saraf &
dinding pembuluh darah
Gambaran Radiografis
gambaran bulat atau berbentuk hati radiolusen, berbatas tegas,
terletak di antara I1 Rahang atas.
Pengaruh terhadap gigi yang berdekatan : perpindahan, jarang
teresorbsi.

Diagnosa Banding / DD
granuloma periapikal
Kista radikular
B. Kista Nasolabial / Nasolabial Cyst
Sinonim : naso alveolar cyst
Gambaran Klinis
Sangat jarang & tumbuh terbatas hanya di jaringan lunak di daerah
vestibulum anterior maksila, di bawah ala nasii (dasar hidung)
bengkak yang tumbuh perlahan mengisi lipatan nasolabialis
nyeri & sukar bernafas melalui hidung
terjadi pada usia rentang 40 tahun dan 50 tahun
biasanya unilateral
asimptomatik pembengkakan jaringan lunak
ukuran kurang dari 1.5 cm
terjadi pada regio maksilari bibir dan dasar alar, lateral ke midline
Gambaran Histologis
Dinding kista pseudostratified, epitel collumnar & tidak bersilia,
banyak ditemukan sel mukus

Gambaran Radiografis
Tidak terlihat pada radiograf karena lesi jaringan lunak
Radiofacity sferikal ada di dekat midline sampai fossa caninus

Diagnosis Banding
infeksi odontogen
3. Kista Jaringan Lunak
A. Mucocele
a. Foto

b. Gambaran klinis
Pembengkakan berbentuk kubah
Berwarna kebiru-biruan
Tranlusen
Menonjol
Tidak sakit
Diameter <1cm

Lesi mudah pecah serta mengeluarkan cairan mucous yang asin


dan encer
Rekuerensi tinggi ( sering muncul kembali

c. Terapi
Bila tidak terasa sakit dan kecil, amati saja ; bila sebaliknya lakukan
cryosurgery atau eksisi

B. Ranula
a. Foto

b. Gambaran klinis
Mukosel besar yang berbentuk perut katak di dasar mulut
Menyerang kelenjar sublingual
Meluas melalui mylohyoid (plugging ranula)
Bisa Unilateral atau Bilateral di dasar mulut
Berwarna Kebiruan
Ukuran > 5-10 cm
c. Terapi
Marsupialisasi
C. Kista Dermoid/Epidermoid
a. Foto

b. Gambaran klinis
Pembengkakan di daerah garis tengah dasar mulut yang membuat
lidah terangkat
Pembengkakan meluas hingga ke leher sehingga pasien seperti
memiliki dua buah dagu
Saat di palpasi teraba lunak
c. Terapi
Enukleasi ( di RS GA)

D. Kista Limfo-epitelial
a. Foto

b. Gambaran Klinis
Pembengkakan yang lunak dan nyeri tekan
Ukuran bervariasi hingga d= 10 cm
Bersifat superfisial
Terletak sebelah anterior dari sternocleidomastoideus, dekat
dengfan sudut rahang bawah
c. Terapi
Eksisi
E. Kista Intraoral Lymphoepithelial
a. Foto

b. Gejala Klinis
Banyak terdapat di daerah dasar mulut
Kadang-kadang terjadi pembengkakan dan keluar cairan
Ukuran 1-10mm
Palpasi lunak->kenyal
Warna normal kuning-> putih
c. Terapi
Eksisi/ Enukleasi

F. Kista Duktus Tiroglosus


a. Foto

b. Gambaran Klinis
Konsistensi Lunak
Dapat digerakan
Biasanya terletak di daerah tulang hyoid
Pembengkakan lunak dan fluktuasi
Ukuran 1-10mm pada median line/ lateral leher
c. Terapi
Eksisi/Enukleasi dengan GA
G. Kista Parasitik
a. Foto

b. Gejala Klinis
Terjadi pembengkakan pada lidah
Tidak sakit
Disebabkan cacing pita Echinococcus granulossus
c. Terapi
Eksisi
2.4. TATALAKSANA

Dua teknik pembedahan digunakan dalam praktik klinis pengangkatan


kista, yaitu enukleasi dan marsupialisasi (Fragiskos, 2007)
1. Enukleasi
Teknik ini melibatkan pengangkatan kantung kista seutuhnya dan
penyembuhan luka dengan primary intention. Teknik ini merupakan metode
yang paling sering digunakan dalam perawatan kista dan diindikasikan pada
semua kasus kista, yang dapat diangkat tanpa merusak struktur anatomis atau
gigi di sekitarnya.
Prosedur bedah perawatan kista dengan nukleasi terdiri dari tahapan
berikut :
1.
2.
3.
4.

Flap mukoperiosteal dibuat


Mengurangi tulang dan eksposur bagian kista
Enukleasi kantung kista
Debridement dan suturing luka

Setelah dilakukan radiografi untuk menentukan lokasi dan ukuran pasti lesi,
flap trapezoidal dibuat, dengan lebar yang mampu memberikan akses dan
visualisasi yang cukup terhadap daerah bedah (gambar 12.1-12.4).
Selanjutnya, tulang yang menutupi lesi dievaluasi, di mana tulang bisa jadi
tetap normal, telah menipis, atau sudah hancur. Pada tulang normal, bur round
digunakan untuk menghilangkan bagian plate kortikal bukal yang menutupi
kista, dan tergantung luasnya, rongeur juga dapat digunakan untuk
memperbesar jendela osseus yang dibuat (gambar 12.5, 12.6).
Jendela osseus harus cukup besar sehingga semua kavitas kista dapat diakses
dan diangkat tanpa kesulitan yang berarti.
Apabila tulang telah menipis atau perforasi, tulang dihilangkan menggunakan
rongeur, hingga mencapai tulang kompak. Kuret digunakan untuk enukleasi
kista ukuran kecil, sementara untuk kista yang lebih besar, ujung lebar dari
elevator periosteal biasanya lebih dipilih, yang diletakkan di dalam kavitas dan
ditekan pelan di antara dinding kista dan tulang, sementara kista dijepit secara
berhati-hari menggunakan forcep (gambar 12.7).

Setelah pengangkatan kista, kuret digunakan untuk menginspeksi kavitas


apakah terdapat sisa kista, dan diikuti oleh irigasi salin yang banyak setera
suturing (gambar 12.8-12.10).
2. Marsupialisasi
Metode ini biasanya digunakan untuk mengangkat kista berukuran
besar dan telah mengganggu struktur anatomis di sekitarnya. Metode ini
dilakukan dengan membuat jendela bedah pada bagian yang tepat di atas lesi.
Pembuatan jendela bedah dimulai dengan membuat insisi sirkular, pada
mukoperiosteum, dan tulang di bawahnya (yang biasanya telah perforasi),
serta dinding kantung kista yang terlibat (gambar 12.19-12.23). Setelah
prosedur ini, isi kista dikeluarkan, dan suture interrupted dilakukan di sekitar
kista, dengan menjahit mukoperiosteum dan dinding kista menjadi satu
(gambar 12.24).
Setelah itu kavitas kista diirigasi menggunakan larutan salin dan dipack
menggunakan gauze iodoform (gambar 12.25, 12.26), yang akan dilepas
seminggu kemudian bersama suture. Selama periode tsb, margin luka akan
telah sembuh, sehingga membentuk komunikasi permanen. Irigasi kavitas
kista dilakukan beberapa kali sehari, untuk menjaganya dari debris makanan
dan mencegah infeksi potensial. Penyembuhan luka menggunakan teknik ini
adalah melalui secondary intention dan epitel kista akan berubah menjadi
mukosa oral.

ENUKLEASI

MARSUPIALISASI

DAFTAR PUSTAKA
Danudiningrat CP. Kista Odontogen dan Nonodontogen. Surabaya : Airlangga
University Press, 2006: 14-24, 32-34
Fragiskos FD (ed). Oral Surgery. Springer : Berlin. 2007