Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

SKIZOFRENIA HERBEFRENIK
(F20.1)

Oleh :
Kingkin Resmyta Pambudi

I1A010054

Pembimbing
dr. Yulizar Darwis, Sp.KJ,MM

UPF/Lab Ilmu Kedokteran Jiwa


FK Unlam-RSUD Ulin
Maret, 2014

LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Ny. LA

Usia

: 20 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Jalan Cempaka Raya

Pendidikan

: SMA

Agama

: Islam

Suku

: Banjar/Indonesia

Status

: Belum menikah

MRS

: 24 Maret 2014

II. RIWAYAT PSIKIATRIK


Alloanamnesa hari Senin tanggal 24 Maret 2014 jam 10.30 WITA dengan Tn.
A (Ayah) dan autoanamnesa dengan pasien hari Rabu tanggal 24 Maret 2014
jam 10.50 WITA
A. KELUHAN UTAMA
Berbicara sendiri, mudah menangis
KELUHAN TAMBAHAN
Mendengar bisikan dan mempunyai teman khayalan, susah tidur,

B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Alloanamnesis :
Sejak pertengahan tahun 2008, pasien sempat mengalami kesurupan
dan sebelumnya pasien mengeluhkan sakit perut hebat. Menurut keluarga,
setelah kejadian tersebut pasien memiliki teman yang tidak dapat dilihat oleh
orang lain bernama Tika dan Siti. Semenjak itu pasien memiliki kekuatan
untuk melihat dan menyembuhkan penyakit seseorang. Pasien juga dapat
meramal kejadian yang akan datang. Banyak orang yang datang kepada pasien
untuk minta disembuhkan dan diramalkan masa depannya. Kejadian yang
diramalkan pasien hampir seluruhnya menjadi benar.
Pada bulan awal bulan Maret 2014 pasien bercerita kepada adiknya
bahwa pasien mengalami kecelakaan. Menurut pengakuan ke adiknya, pasien
menjadi

sering

sakit

kepala

setelah

kecelakaan.

Kemudian

pasien

memeriksakan diri ke dokter tanpa sepengatahuan keluarganya dan dinyatakan


pasien mengalami gegar otak ringan. Mendengar hal tersebut pasien menjadi
murung dan gelisah. Pasien menyuruh adiknya jangan memberitahu
orangtuanya karena orangtua pasien memiliki banyak hutang.
Pada hari Sabtu sore 22 Maret 2014 pasien berkelahi hebat dengan
pacarnya, kemudian pukul 22.00 WITA pasien membangunkan ayahnya
sambil menunjukkan foto pacarnya bernama Uzi. Ia berkata bahwa lelaki ini
telah mempermainkan dan menyakiti hatinya. Pasien bercerita dan mengulang
kata yang sama sambil menangis. Hari itu juga pasien mengaku bahwa ia
dinyatakan oleh dokter mengalami gegar otak ringan.

Pada hari minggu, tanggal 23 Maret 2014 pukul 03.00 WITA pasien
tiba-tiba menangis dan sering berbicara sendiri. Pasien menjadi mudah
menagis bila mengingat masalah yang terjadi dalam kehidupannya. Pasien
menyebutkan bahwa pasien merasa sakit hati pada pernyataan dokter dan
tidak ingin membebani orangtuanya yang banyak hutang. Pasien tidak tidur
sampai keesokan harinya. Pasien di rumah hanya menangis dan berbicara
terus menerus. Tidak ada pikiran dan usaha untuk menyakiti diri sendiri atau
orang lain. Pasien juga tidak mandi setelah kejadian itu. Pasien mau makan
dan minum apabila disuruh orangtuanya. Pasien tidak mengamuk maupun
merusak barang-barang.
Autoanamnesis :
Pasien datang dengan keluhan berbicara sendiri dan sering menangis.
Menurut pasien sejak SMA pasien memiliki sahabat bernama Tika dan Siti.
Pasien mngaku bahwa Tika dan Siti hanya dapat dilihat oleh orang tertentu.
Pasien mengatakan bahwa Tika dan Siti dikenalnya sejak SMA setelah ia
mengalami kesurupan. Tika sosok yang berambut panjang dan Siti merupakan
sosok Wanita cantik berjilbab. Tika dan Siti selalu memberitahukan kepada
pasien tentang kejadian yang akan datang, isi hati seseorang , dan juga
penyakit seseorang serta cara menyembuhkannya. Pasien sudah mencoba
bercerita kepada teman-temannya mengenai Tika dan Siti. Tetapi, tidak ada
satupun dari mereka yang percaya. Menurut pengakuannya pasien pernah
direkam oleh teman sekelasnya ketika berbicara dengan Tika dan Siti namun
hasil rekaman tersebut memperlihatkan bahwa pasien hanya berbicara sendiri.

Kepala Sekolah SMA pasien juga pernah mengatakan bahwa pasien gila dan
memanggilnya ke kantor kepala sekolah. Dari kejadian tersebut pasien
menjadi sakit hati dan sering merasa bahwa orang lain menghinanya serta
menjauhinya. Hingga sekarang pasien masih dapat melihat sosok Tika dan
Siti.
Pasien mengaku sering ditekan oleh orangtuanya baik secara mental
maupun fisik. Pasien dilarang keluar malam walau hanya untuk mengerjakan
tugas kuliah. Pasien juga sering dipukuli oleh ibunya jika tidak menurut.
Pada bulan Februari pasien mengaku mengalami kecelakaan lalu
lintas, terjatuh dari sepeda motor dan kepala sebelah kanannya terbentur.
Pasien merasa sering sakit kepala setelah itu. Lalu pasien memeriksakan
dirinya ke dokter dan dinyatakan mengalami gegar otak ringan dan disuruh
operasi oleh dokter. Pasien diberikan obat penahan nyeri oleh dokter, namun
tidak mengurangi keluhan. Pasien merasa sakit hati karena pernyataan dokter
tersebut. Kemudian pasien merahasiakan hal tersebut dari orangtuanya karena
pasien merasa orangtuanya banyak hutang.
Pada hari Sabtu sore 22 Maret 2014 pasien ribut dengan pacarnya.
Pasien menuduh pacarnya memiliki hubungan dengan wanita lain. Hal ini
diketahui oleh pasien dari bisikan Siti dan Tika. Puncak kekesalannya terjadi
pada hari Sabtu malam dan pasien ceritakan semua pada ayahnya.

C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien tidak pernah menderita keluhan serupa.

D. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


1. Riwayat Antenatal dan Prenatal
Pasien dilahirkan secara normal di Rumah dengan pertolongan
bidan. Usia kandungan cukup bulan. Saat mengandung ibu Pasien
dalam keadaan sehat, tidak ada sakit atau mngkonsumsi obat-obatan.
Saat lahir Pasien menangis kuat dan tidak ada kejang.
2. Riwayat Masa Bayi (0 1,5 tahun)
Pasien dapat mengkonsumsi ASI dengan baik. Pasien tidak
rewel. Tidak ada gangguan makan. Pasien dirawat di lingkungan
keluarga yang menciptakan rasa aman bagi Pasien.
3. Riwayat Usia 1,5 3 Tahun
Riwayat tumbuh kembang baik. Pasien dapat berjalan umur 11
bulan. Pada usia ini pasien memiliki kemampuan untuk melakukan
beberapa kegiatan secara mandiri seperti makan, berjalan atau
memakai sandal. Pasien tidak mengompol lagi saat tidur pada usia 3
tahun dan pasien sudah dapat memberitahukan orangtuanya jika ingin
BAB. Orang tua kurang percaya kepada pasien pada usia ini untuk
mengeksplorasi hal-hal yang dapat dilakukannya secara mandiri dan
kurang memberikan bimbingan kepadanya. Sehingga pasien menjadi
pribadi yang kurang mandiri dan tidak percaya diri.
4. Riwayat Usia 3 6 Tahun

Kemampuan motorik dan bahasa pasien mulai matang, sehingga


pasien lebih agresif dalam mengeksplor lingkungan mereka baik
secara fisik maupun sosial. Pada usia ini pasien sudah mulai memiliki
inisiatif dalam melakukan suatu tindakan misalnya berlari, bermain,
melompat dan melempar. Pasien memasuki tahapan prasekolah.
Pasien sudah memiliki beberapa kecakapan dalam mengolah
kemampuan motorik dan bahasa. Dengan kecakapan-kecakapan
tersebut, dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. Namun, karena
kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami
kegagalan dan orangtua pasien membimbing pasien dengan baik bila
terjadi kegagalan. Pasien dapat membantu orang tua dalam melakukan
tugas sehari-hari. Pasien mampu mengerjakan tugas yang diberikan
oleh orang tua.
5. Riwayat Usia 6 12 Tahun
Pasien mulai bersekolah pada usia 6 tahun. Pasien mampu
mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Pasien aktif dalam
bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah. Pada tahap ini,
kemampuan kemampuan akademiknya mulai berkembang. Selain itu,
kemampuan sosial pasien untuk berinteraksi di luar anggota
keluarganya juga mulai berkembang. Pasien belajar berinteraksi
dengan teman-temannya maupun dengan gurunya. Pasien cukup rajin,
pasien memperoleh keterampilan sosial dan akademik.
6. Riwayat Usia 12 18 Tahun

Pasien bukan seseorang yang suka melanggar peraturan dan


suka mencari perhatian. Pasien sudah memiliki pacar pada usia ini.
Pasien mulai memiliki kemampuan spiritual dan mulai menutup diri.
7. Riwayat Pendidikan
Pasien mulai bersekolah di usia 6 tahun masuk Sekolah Dasar
hingga tamat. Lalu pasien melanjutkan sampai tamat SMA pada tahun
2011. Sekarang pasien kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta
Banjarmasin jurusan keperawatan semester 6. Tidak ada riwayat
tinggal kelas dan pasien lulus tepat waktu.

E. RIWAYAT KELUARGA
Genogram :

Keterangan :
= Penderita
= Laki-laki
= Perempuan
/

= meninggal dunia

Tidak terdapat riwayat gangguan yang serupa dalam keluarga pasien.


F. RIWAYAT SITUASI SEKARANG
Pasien tinggal bersama dengan kedua orang tuanya di sebuah rumah
yang terletak di daerah yang padat penduduk.
G. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA
Pasien menyangkal bahwa dirinya sakit dan mengerti saat dibawa ke
rumah sakit akan tetapi pasien tidak mau diperiksa kejiwaannya.

III. STATUS MENTAL


A. DESKRIPSI UMUM
1. Penampilan
Pasien datang ke Poli Jiwa RSUD Ulin pada tanggal 24 Maret 2014.
Seorang perempuan dengan perawakan kurus dengan tinggi sedang
memakai pakaian lengkap dengan baju lengan pendek berwarna coklat dan
celana pendek kain berwarna pink datang bersama orangtuanya. Pasien
tampak cukup berantakan dengan rambut pirang. Selama wawancara, Pasien
terlihat gelisah, cemas dan duduk sembarangan ketika berada di depan
pemeriksa. Pasien terkadang terlihat kebingungan dan mengeluhkan
kepalanya terasa sakit. Ketika ditanya, Pasien bersifat kooperatif dan tidak
mengalihkan pandangan terhadap pemeriksa.
2. Kesadaran
Jernih, pasien untuk menjelaskan tentang keadaan sekitar
3. Perilaku dan aktivitas motorik

Hiperaktif
4. Pembicaraan
Koheren, lancar, menjawab jika ditanya tidak ada blocking
5. Sikap terhadap pemeriksa
Kooperatif
6. KontakPsikis
Kontak (+) wajar (-) tidak bisa dipertahankan

B. KEADAAN

AFEKTIF,

PERASAAN,

EKSPRESI

AFEKTIF,

KESERASIAN DAN EMPATI


1. Afek(mood)

: Hipothym

2. Ekspresiafektif

: Murung

3. Keserasian

: Serasi

4. Empati

: Tidak dapat dirabarasakan

5. Hidup Emosi

: Labil

6. Pengendalian

: Tidak terkendali

7. Dramatisasi

: Ada

8. Skala differensiasi : Sempit


C. FUNGSI KOGNITIF
1. Kesadaran : Compos Mentis
2. Orientasi

: Waktu
Tempat

: Baik
: Baik

10

Orang

: Baik

3. Konsentrasi : kurang
4. Dayaingat : Jangka panjang

: Baik

Jangka pendek

: Baik

Segera

: Baik

5. Intelegensia dan Pengetahuan Umum : Sesuai dengan tingkat


pendidikan formal pasien.

D. GANGGUAN PERSEPSI
1. Halusinasi

A/V: (+/+)

2. Depersonalisasi/ Derealisasi : (-)

E. PROSES PIKIR
1. Aruspikir :

a. Produktivitas : Berbicara spontan dan lancar .


b. Kontinuitas

: Relevan

c. Hendaya berbahasa : Tidak ada


2. Isi Pikir : a. Preocupasi : (-)
b. Waham

: (+) Waham mistik, waham curiga

F. PENGENDALIAN IMPULS
Tidak terganggu
G. DAYA NILAI
a. Daya norma sosial : Baik

11

b. Uji daya nilai

: Baik

c. Penilaian realita

: Tidak baik

H. TILIKAN
T1

: Pasien menyangkal bahwa dirinya sakit

I. TARAF DAPAT DIPERCAYA


Tidak dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT


1. STATUS INTERNUS
Keadaan Umum : Tampak baik
Tanda vital :

TD : 110/80 mmHg
N

: 84 x/menit

RR : 24 x/menit
T
Kepala

Mata

: 36,5 C
: palpebra tidak edema, konjungtiva tidak anemis,
sclera tidak ikterik.

Telinga : sekret -/Hidung : sekret -/- epistaksis (-)

Thoraks

Mulut

: mukPasiena bibir lembab

Leher

: KGB tidak membesar, JVP tidak meningkat

I : bentuk dan gerakan simetris

12

Pa : fremitus vokal simetris


Pr : Pulmo : sonor
Cor

: batas jantung normal

A : Pulmo : vesikuler, Ronki/wheezing -/Cor


Abdomen

: S1S2 tunggal, bising (-)

I : datar
P : hepar/lien/massa tidak teraba
P : timpani
A : BU (+) normal

Ekstremitas Superior : akral hangat +/+, parese -/-, tremor -/Inferior : akral hangat +/+, parese -/-, tremor -/-

2. STATUS NEUROLOGIS
Pemeriksaan N I XII :
I (Olfactorius)

: Baik, dapat mencium bau kopi dan tembakau (rokok)

II (Opticus)

: Tes konfrontas i: D (-)/S(+) baik ke segala arah


Reflek Pupil : Respon Cahaya Langsung D/S (+/+)
Respon Cahaya Konsensual D/S (+/+)

III (Oculomotorius) : PtPasienis (-/-), Gerakan Bola Mata D/S ke segala arah,
Pupil 3mm/3mm, Respon Cahaya Langsung D/S
(+/+), Respon Cahaya Konsensual D/S (+/+)
IV (Troklearis)

: Gerakan mata ke lateral bawah D/S baik, strabismus (-),


diplopia (-)

V (Trigeminus)

: Sensibilitas baik, motorik baik, reflek kornea D/S (+/+)

13

VI (Abdusens)

: Gerakan bola mata ke lateral D/S (+/+)

VII (Fasialis)

: asimetris wajah (+), angkat alis (+/+), memperlihatkan


gigi(+)

VIII (Vestibulocochlearis) : suara petikan jari (+/+), tes garpu tala (sde),
tes keseimbangan (sde)
IX (GlPasienofaringeus) & X (Vagus) : pergeseran uvula (-), reflek muntah
(+)
XI (Asesorius)

: mengangkat bahu (+), memutar kepala (+)

XII (HipoglPasienus)

: deviasi lidah (+) ke kiri, tremor lidah (-)

Gejala rangsang meningeal : Tidak ada


Gejala TIK meningkat

: Tidak ada

Refleks Fisiologis

: Normal

Refleks patologis

: Tidak ada

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Alloanamnesa
Pasien memiliki halusinasi audio dan visual sejak tahun 2009
Riwayat pemicu gangguan berkelahi dengan pacarnya
Pasien mulai berbicara sendiri dan menangis sendiri pada hari minggu
pagi jam 03.00 WITA
Pasien menjadi susah tidur dan saat tidak tidur pasien berbicara sendiri
dan sering menangis bila mengingat masalahnya.
Autoanamnesa
Pasien merasa memiliki sahabat yang tak dapat dilihat orang lain

14

Bisikan dan sosok sahabat mempengaruhi pikiran pasien (dapat


meramalkan masa depan, mengobati penyakit, mengetahui isi hati
seseorang)
Pasien sering curiga dengan setiap orang, sakit hati dengan pernyataan
dokter, kecewa dengan teman-temannya yang menjauhinya, sakit hati
dengan pacarnya yang selingkuh, dan memikirkan hutang orangtuanya.
Kontak (+) wajar(+) dapat dipertahankan
Perilaku dan aktifitas psikomotor : hiperaktif
Pembicaraan

: Koheren, logorrhea (+), ecolalia (+)

Afek

: Hiporthym

Ekspresi afektif

: Murung

Empati

: Tidak dapat dirabarasakan

Keserasian

: Serasi

Konsentrasi

: Terganggu

Daya ingat

: Jangka panjang baik, jangak pendek baik, daya


ingat segera baik

Intelegensi

: Sesuai pendidikan formal

Halusinasi A/V

: (+/+)

Arus pikir

: Spontan, lancar

Tilikan

: T1

Penilaian realita

: Tidak baik

Taraf dapat dipercaya : Tidak dapat dipercaya

15

VI. EVALUASI MULTIAKSIAL


1. Aksis I

: Skizofrenia Herbefrenik (F20.1) dd Episode depresi


berat dangan gelala psikotik (F32.3)

2. Aksis II

: F60.0s

3. Aksis III

: None

4. Aksis IV

: Masalah Psikososial (berkelahi dengan pacar)

5. Aksis V

: GAF scale 50 - 41 (Gejala berat (serious), disabilitas

berat )

VII. DAFTAR MASALAH


1. Organobiologik
Status internus dan neurologi tidak ada kelainan
2. Psikologik
Perilaku

dan

aktivitas

psikomotor

normoaktif,

afek

hipotym,

pembicaraan koheren, sikap terhadap pemeriksa kooperatif, ekspresi


afektif sedih dan menangis, keserasian serasi, empati dapat dirabarasakan, pendidikan sesuai taraf pendidikan, konsentrasi kurang,
orientasi baik, daya ingat baik, halusinasi auditorik dan visual, dapat
dipercaya, penilaian realitas baik dan tilikan derajat 1.
3. Sosial Keluarga
Pasien dijauhi oleh teman-temannya karena dianggap gila. Hubungan
dengan keluarga baik-baik saja.

16

VIII. PROGNOSIS
Diagnosis penyakit

: dubia ad bonam

Perjalanan penyakit

: dubia ad malam

Ciri kepribadian

: dubia ad malam

Stressor psikososial

: dubia ad bonam

Usia saat menderita

: dubia ad malam

Pendidikan

: dubia ad bonam

Ekonomi

: dubia ad bonam

Lingkungan sosial

: dubia ad bonam

Organobiologi

: dubia ad bonam

Pengobatan psikiatrik

: dubia ad bonam

Ketaatan berobat

: dubia ad bonam

Kesimpulan

: dubia ad bonam

IX. RENCANA TERAPI


Psikofarmaka

: Clorpromazine 3 x 100 mg

Psikoterapi

: Support terhadap penderita dan keluarga (family therapy)

Religius

: Bimbingan /ceramah agama, shalat berjamaah, pengajian

Rehabilitasi

: Sesuai bakat dan minat penderita

X. DISKUSI
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi
penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu

17

bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang
tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya.
Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan
karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar
(inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih dan
kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran
kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.
Adapun pedoman diagnostik skizofrenia, yaitu :

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan
biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau
kurang jelas) :

a.

- thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya
sama, namun kualitasnya berbeda ; atau
- thought insertion or withdrawal = isi yang asing dan luar masuk ke
dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu
dari luar dirinya (withdrawal); dan
- thought broadcasting= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain
atau umum mengetahuinya;

b. - delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu


kekuatan tertentu dari luar; atau
- delusion of passivitiy = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk

18

kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau


penginderaan khusus);
- delusional perception = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;

c. Halusinasi auditorik:

Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku


pasien, atau

Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai


suara yang berbicara), atau

Jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh.

d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat


dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan
mahluk asing dan dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
a. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan
(over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus-menerus.

19

b. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan


(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme;
c. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme,
dan stupor;
d. Gejala-gejala negative, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang,
dan respons empenderitaional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya
yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun


waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
(prodromal)

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan
penarikan diri secara sosial.
Berdasarkan hasil anamnesis (alloanamnesis dan autoanamnesis) serta

pemeriksaan status mental menunjukkan bahwa penderita berdasarkan kriteria


diagnostik dari PPDGJ III, pada pasien ditemukan adanya emosi yang labil
cenderung mudah menangis, berbicara tanpa henti, halusinasi visual yang

20

berlangsung sejak pasien SMA. Sehingga berdasarkan PPDGJ-III di diagnosis


sebagai Skizofrenia Hebefrenik (F20.1)
Diagnosa skizofrenia hebefrenik dapat ditegakkan apabila memenuhi
kriteria pedoman diagnosis berikut ini:

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

Diagnosis skizofrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada


usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun)

Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas: pemalu dan senang


menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk
menentukan diagnosis

Untuk diagnosis hebefrenia yang meyakinkan umumnya diperlukan


pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk
memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang
bertahan:
-

Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak bisa


diramalkan, serta mannerisme; ada kecenderungan untuk
selalu menyendiri (solitary), dan perilaku menunjukkan
hampa tujuan dan hampa perasaan;

Afek

pasien

dangkal

(shallow)

dan

tidak

wajar

(inappropriate), sering disertai oleh cekikikan (giggling)


atau perasaan puas diri (self-satisfied, senyum sendiri (selfabsorbed smiling) atau oleh sikap tinggi hati (lofty manner),
tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli

21

secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondriakal,


dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases);
-

Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak


menentu (rambling) serta inkoheren.

Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses


pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungin ada
tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delucions
and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang
bertujuan (determination) hilang serta sasarna ditinggalkan,
sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu
perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of
purpose). Adanya suatu perokupasi yang dangkal dan bersifat
dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya,
makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.

Penderita ini dianjurkan untuk mendapat terapi psikofarmaka dengan


Chlorpromazine 3 x 100 mg/hari yang merupakan obat anti psikotik yang berguna
untuk menghindari terjadinya gejala peningkatan aktivitas fisik dan mental, serta
kurang tidur. Mekanisme kerja obat antipsikosis adalah memblokade Dopamin
pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak, khususnya di sistem limbik dan
sistem ekstrapiramidal sehingga efek samping obat anti psikosis adalah :
1.

Sedasi dan inhibisi psikomotor

22

2.

Gangguan otonomik (hipotensi ortostatik, antikolonergik berupa mulut


kering, kesulitan miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur

3.

Gangguan endokrin

4.

Gangguan ekstrapiramidal (distonia akut, sindrom Parkinson)

5.

Hepatotoksik.

Obat anti psikotik digolongan menjadi 2 golongan, yaitu4 :


1. Anti-psikotik tipikal
Chlorpromazin, Perpherazin, Trifluoperazin, Haloperidol, Pimozide
2. Anti-psikotik atipikal
Supiride, Clozapin, Risperidon
Obat-obatan

anti

psikotik

tipikal

merupakan

obat

yang

perlu

dipertimbangkan pada gangguan dengan gejala positif yang lebih menonjol. Pada
pasien ini gejala negatif lebih menonjol dibangding gejala positif, sehingga terapi
yang digunakan adalah anti-psikotik atipikal yaitu clozapine.
Disamping terapi medikamentosa, dianjurkan juga pemberian psikoterapi
berupa pemberian support pada pasien dan keluarga serta terapi religius dan
perilaku yang bertujuan untuk menguatkan daya tahan mental dan membantu
pemecahan masalah hidupnya.
Prognosis pada penderita ini dubia ad bonam karena dilihat dari diagnosa
penyakit, perjalanan penyakit, ciri kepribadian, usia saat menderita, pola keluarga,
aktivitas pekerjaan, lingkungan sosial, pengobatan psikiatri, dan ketaatan berobat.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Rujukan Ringkasan dari


PPDGJ III. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya,
2002.
2. Kaplan, Sadock, Grebb. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku
Psikiatri Klinis Jilid Satu. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997.

24

3. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi


ketiga. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, 2007.
4. Indriani R. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Badan POM RI:
Jakarta, 2008.
5. Damping C.V.,Nasrun M.W., Wijono R. Gambaran dan Karakteristik
Penggunaan Triheexifenidil pada Pasien yang Mendapat Terapi
Antipsikotik. J Indon Med Assoc 2013. 63; 1

25