Anda di halaman 1dari 9

kebutuhan air irigasi

BAB I
KEBUTUHAN AIR IRIGASI
1.1 UMUM
Irigasi adalah penambahan kekurangan kadar air tanah secara buatan dengan cara menyalurkan
air yang perlu untuk pertumbuhan tanaman ke tanah yang diolah dan mendistribusikannya secara
sistematis. Sebaliknya pemberian air yang berlebih pada tanah yang diolah itu akan merusakkan
tanaman. Jika terjadi curah hujan yang lama yang disebabkan oleh curah hujan yang deras, maka
tanah yang diolah itu akan tergenang dan dibanjiri air, yang kadang-kadang mengakibatkan
kerusakan yang banyak. Daerah-daerah yang rendah yang kurang baik drainasenya, selalu akan
tergenang air. Pada daerah-daerah demikian, pelapukan dan dekomposisi tanah tidak
berkembang, sehingga daerah itu tidak akan menjadi lingkungan yang baik untuk pertumbuhan
padi. Jadi di daerah-daerah demikian, kelebihan air itu harus di drainase secara buatan dan
pengeringan harus dilaksanakan secepat-cepatnya.
Di daerah-daerah dengan distribusi curah hujan yang tidak merata, meskipun curah hujannya itu
banyak dengan kondisi meteorologi yang cocok untuk pertumbuhan tanaman, diperlukan juga
irigasi buatan, mengingat kadar air tanah tidak dapat dipertahankan dalam interval kadar air
efektif oleh curah hujan saja. Pemberian air yang cukup adalah faktor utama yang sangat
dibutuhkan oleh pertumbuhan tanaman. Setiap tanaman mencoba mengabsorbsi kadar air
secukupnya dari tanah untuk pertumbuhan. Jadi yang terpenting untuk tanaman itu ialah bahwa
kebutuhan air dalam tanah mencukupi.
1.2 KEBUTUHAN AIR TANAMAN
Banyaknya air yang diperlukan untuk berbagai tanaman, masing-masing daerah dan masingmasing musim adalah berlainan. Hal ini tergantung dari beberapa faktor antara lain Jenis
tanaman, sifat tanah, keadaan tanah, cara pemberian air, pengelolaan tanah, iklim, waktu tanam,
kondisi saluran dan bangunan, serta tujuan pemberian air.
1.2.1 Jenis Tanaman
Kebutuhan air untuk berbagai jenis tanaman tidak sama, ada tanaman yang hanya memerlukan
air sedikit untuk pertumbuhannya, ada juga tanaman yang akan tumbuh dengan baik kalau
tanahnya selalu digenangi air dan pemberian airnya untuk jangka waktu tertentu harus dilakukan
terus menerus seperti halnya tanaman padi sawah. Selanjutnya ada tanaman yang sesudah
menghisap air dari dalam tanah tidak memerlukan air yang mengalir diatas tanah, dan sebaliknya
ada tanaman yang tidak dapat menghisap air yang agak dalam dibawah permukaan tanah. Pada
umumnya tanah harus selalu dalam keadaan basah yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan
dari jenis-jenis tanaman.
1.2.2 Keadaan Medan Tanah
Untuk kemiringan medan tanah agak besar, air yang dialirkan diatasnya relatif akan cepat hilang
mengalir ke tempat-tempat yang lebih rendah, dengan demikian air tidak atau kurang ada

kesempatan untuk meresap ke dalam tanah untuk membasahi tanah tersebut. Untuk pembasahan
yang sama pada tanah-tanah yang kemiringannya besar akan memerlukan air yang lebih banyak
daripada tanah yang datar.
1.2.3 Sifat tanah
Tekstur tanah mempunyai pengaruh yang besar akan kemampuan tanah di dalam menahan air,
jadi akan menentukan kapasitas kapiler tanah. Bilamana tanah mempunyai butir-butir yang
seragam, jadi teksturnya beraturan, maka liang reniknya mempunyai volume yang tidak
ditentukan oleh besarnya butir.
Permeabiltas tanah banyak dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah, juga oleh alur-alur
pembajakan, akar-akar tumbuh-tumbuhan, lubang-lubang cacing atau keaktifan jenis makhluk
yang terdapat di dalam tanah. Memelihara permeabiltas tanah pertanian yang baik untuk sesuatu
jenis tanaman akan menjamin hasil baik produksi tanaman.
1.2.4 Cara pemberian air
Cara pemberian air kepada tanaman yang memerlukannya akan mempengaruhi banyaknya air
irigasi yang diperlukan. Pada sistim irigasi yang baik dengan adanya saluran pembawa dan
pembuang akan membutuhkan air irigasi yang lebih banyak. Cara pemberian air secara bergiliran
(rotasi) akan menghemat pemberian air irigasi dari pada dengan cara terus menerus.
1.2.5 Pengolahan tanah
Cara pengolahan tanah untuk tanaman merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian.
Pengolahan tanah untuk keperluan penanaman padi di sawah akan membutuhkan air irigasi dari
pada pengolahan tanah untuk tanaman palawija. Pada tanaman padi di sawah, banyaknya
keperluan air irigasi untuk pengolahan tanah adalah yang paling besar dan banyaknya air pada
masa pengolahan tanah ini yang paling menentukan didalam perhitungan- perhitungan kapasitas
saluran.
1.2.6 Iklim
Banyaknya hujan yang turun mempengaruhi besarnya air irigasi yang diperlukan untuk tanaman.
Apabila tinggi hujan cukup dan selang waktunya sesuai keperluan air untuk pertumbuhan
tanaman, maka air irigasi yang diperlukan dipengaruhi pula oleh suhu (temperature), lamanya
penyinaran matahari, kelembaban udara, serta kecepatan angin.
1.2.7 Waktu Penanaman
Pada musim hujan air yang diperlukan akan lebih sedikit dari pada waktu musim kemarau. Pada
perhitungan banyaknya air irigasi, hujan yang diperhitungkan adalah hujan efektif, yang akan
dijelaskan kemudian. Waktu menanam mempengaruhi besarnya kebutuhan air irigasi, termasuk
pula sistem pemberian air irigasi, apakah secara terus menerus atau dengan rotasi dalam
pemberian air ke lahan-lahan pertanian, sehingga pemberian air tidak serentak secara bersamaan
akan tetapi diberikan secara bergiliran bagian demi bagian dengan selang waktu tertentu.
1.2.8 Keadaan saluran dan bangunan
Bilamana keadaan saluran dan bangunan irigasi dalam keadaan kurang baik, maka akan terjadi
banyak kehilangan air baik karena rembesan maupun kebocoran, sehingga akan mempengaruhi
besarnya kebutuhan air irigasi yang diperlukan.

1.2.9 Tujuan Pemberian Air


Dalam Irigasi tujuan pemberian air ada yang untuk membasahi tanah saja, ada juga yang
disamping membasahi tanah juga untuk merabuk. Kalau tujuan pemberian air tersebut disamping
untuk membasahi tanah juga untuk merabuk, maka air yang diperlukan akan menjadi lebih
banyak. Untuk merabuk ini lebih banyak pemberian air akan lebih baik apalagi bila unsur hara
yang diperlukan untuk tanaman tidak terdapat didalam air irigasi.
Apabila air tersebut diperlukan juga untuk menghilangkan zat-zat garam didalam tanah yang
mermbahayakan tanaman dan untuk membersihkan air yang kotor, maka banyaknya air irigasi
yang diperlukan lebih banyak.
KEBUTUHAN AIR KONSUMTIF TANAMAN (Consumtive Use of Water, CU )
Yang dimaksud kebutuhan air konsumtif tanaman adalah banyaknya air yang diperlukan oleh
pertumbuhan tanaman dalam daerah yang diairi. Besarnya kebutuhan air ini tergantung dari pola
tata tanam dan faktor iklim .(Kelembaban udara, temperature, radiasi matahari, kecepatan angin,
dll).
Perhitungan besarnya kebutuhan air ini dapat diformulasikan sebagai berikut :
Cu = k x Et.( 1-1 )
Cu = Consumtive Use
K = Koefisien tanaman, tergantung dari jenis tanamannya
Et = Evapotranspirasi Potensial
Pada gambar 1.1 dan 1.2 dapat dilihat besarnya nilai koefisien masing masing tanaman. Besarnya
nilai Et sangat tergantung dari faktor iklim. Untuk menghitung besarnya Et tersebut dapat
dipergunakan metode Penman, Blaney Criddle, Thorn-waith.
1.3 PERKOLASI
Perkolasi didefinisikan sebagai gerakan air ke bawah dari zone tidak jenuh (antara permukaan
tanah sampai ke permukaan air tanah ) ke dalam daerah jenuh (daerah di bawah permukaan air
tanah ). Perkolasi ini dipengaruhi antara lain oleh:
a. Tekstur tanah, tanah dengan tekstur halus mempunyai angka perkolasi yang rendah, sedangkan
tanah dengan tekstur yang kasar mempunyai angka perkolasi yang besar.
b. Permeabilitas tanah, Angka perkolasi dipengaruhi oleh permeabilitas tanah.
c. Tebal lapisan tanah bagian atas, makin tipis lapisan tanah bagian atas ini makin rendah/kecil
angka perkolasinya.
Perkolasi ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu perkolasi vertikal dan horizontal. Menurut hasil
penelitian di lapangan, perkolasi vertikal lebih kecil dari pada perkolasi horizontal, angkanya
berkisar antara 3 sampai 10 kali, hal ini terutama untuk sawah-sawah dengan keadaan lapangan
yang mempunyai kemiringan besar yaitu sawah-sawah dengan teras-teras. Akan tetapi perkolasi
horizontal ini, masih dapat dipergunakan lagi oleh petak sawah dibawahnya sehingga perkolasi
horizontal tidak diperhitungkan. Di Jepang menurut hasil penelitian di lapangan, angka-angka
perkolasi untuk berbagai jenis tanah disawah dengan lapisan tanah bagian atas (top soil) lebih
tebal dari 50 Cm adalah sebagai berikut:

Tabel 1
Perkolasi Vertikal (mm/hari)
Macam Tanah Perkolasi
Sandy loam
Loam
Clay Loam 3 - 6
2-3
1-2
Sumber : Rice Irrigation in Japan, OTCA 1973
Di Indonesia menurut penelitian di lapangan, angka perkolasi ini seperti untuk Proyek Irigasi
Sempor adalah 0,70 mm/hari. Didaerah daratan pantai utara pulau Jawa dari percobaanpercobaan yang telah dilakukan berkisar 1 mm/hari. Untuk menentukan besarnya perkolasi
secara tepat, satu satunya cara yang diperlukan adalah dengan mengadakan pengukuran di
lapangan.
1.4 PENGOLAHAN TANAH ( Puddling Requirement, Pd ) DAN PEMBIBITAN
Untuk penanaman padi, tanah terlebih dahulu harus diolah, untuk pengolahan tanah diperlukan
air agar tanah tersebut menjadi lembek. Banyaknya air yang diperlukan dalam periode
pengolahan tanah berkisar antara 150-250 mm. Banyaknya air irigasi yang paling banyak adalah
saat terjadi pengolahan tanah, apalagi bila tidak terjadi turun hujan atau waktu untuk pengolahan
tanah tersebut sangat sempit.
Pengolahan tanah pada umumnya dilakukan 20-30 hari sebelum penanaman dimulai pengolahan
tanah ini dilakukan dalam 2 tahap, yaitu pembajakan dan panggarukan.
Banyaknya air yang diperlukan untuk saat pengolahan tanah dapat dihitung dari rumus sebagai
berikut :
Wp = [ A . S + A . d (n-1) / 2 ] . 10 (m3).(1-2)
Wp = Banyaknya air saat pengolahan tanah
N = Jumlah hari pengolahan tanah
S = Tinggi air untuk pengolahan (mm)
D = Unit water requirement (mm)
(Evapotranspirasi + Perkolasi)
A = Luas daerah yang tanahnya diolah
Banyaknya air untuk pengolahan tanah pada hari ke- X dapat dihitung dari persamaan sebagai
berikut:
W px = A/n [ s + (x-1) d ] 10 m3...(1-3)
Sebagai contoh :
n = 7 hari, s=200 mm, d=15mm/hari, A= 2100 Ha
Jumlah air yang diperlukan saat pengolahan tanah :
Wp = [ 2100 x 200 +2100 x 15 (7-1)/2] 10 = 5.145.000 m3
Banyaknya air yang di perlukan untuk pengolahan tanah pada hari ke-7:
Wp7 =2100/7 [200 + (7-1) 15] . 10

= 870.000 m3/hari
1.5. PEMBIBITAN / PERSEMAIAN (Nr)
Pekerjaan persemaian tanaman biasanya bersamaan dengan pekerjaan pengolahan tanah, tetapi
karena kurang tenaga kerja terkadang dilakukan sekitar 5 hari setelah pengolahan tanah . Untuk
persemaian ini biasanya diperlukan waktu 20-25 hari adapun luas yang diperlukan untuk
persemaian pada umumnya 5% dari luas lahan. Sedang kebutuhan air untuk persemaian lebih
kurang 6 mm/hari.
1.6. CURAH HUJAN EFEKTIF (EFFECTIVE RAINFALL, Re )
Curah hujan efektif adalah curah hujan yang jatuh selama masa pertumbuhan tanaman yang
dapat dipergunakan untuk memenuhi air konsumtif tanaman.
Cara mendapatkan Curah Hujan Efektif banyak metode yang bisa digunakan diantaranya adalah :
Metode Basic Year. Yang terdiri dari :
1. Metode Gulbel.
2. Metode IWAI.
3. Hazen Plotting.
4. Analisa Frekwensi.
5. R 80.
Metode Hazen Plotting
Batasan batasannya sebagai berikut
1. Curah hujan harian < 5mm dianggap tidak efektif. 2. Curah hujan antara 5 36mm dianggap
efektif. 3. Curah hujan yang berturut-turut. < 30mm dianggap curah hujan efektif. Diselinggi
satu hari tak hujan masih dianggap efektif. Apabila curah hujan yang beturut turut melebihi : Re
= 30 + 6x atau CH perhitungan > Re maka CH efektif = CH perhitungan.
Apabila CH berturut-turut < Re perhitungan, maka untuk CH yang diambil nilai CH
berturut-turut. 1.7. EFISIENSI IRIGASI. Harga Efisiensi Jenis Efisiensi Tanaman Padi Tanaman
Lain Tingkat Tersier Pengunaan air Di salurkan Efisiensi keseluruhan 95% 90% 85% 80% 75%
60% Tingkat Sekunder Disalurkan Keseluruhan 90% 77% 90% 54% Tingkat Primer Di salurkan
Keseluruhan 90% 70% 90% 50% BAB II PERENCANAAN JARINGAN IRIGASI 2.1.
GAMBAR DAERAH RENCANA Dalam laporan ini, daerah rencana merupakan suatu daerah
yang direncanakan untuk lahan pertanian teknis. Luas daerah kurang lebih 800 Ha. Daerah
rencana ini kondisi geografisnya di bagian selatan berbukit-bukit yang merupakan daerah hulu,
sedangkan di bagian utara terdiri dari tanah datar dan bergelombang dengan perbedaan elevasi
antara 1 sampai 2 meter yang luasnya berkisar 60% dari luas daerah. Sumber air utama untuk
pertanian bergantung pada kapasitas air dari kali yang di hulu yang mengalir dari bagian selatan
menuju daerah yang lebih rendah di sebelah utara. Bendung direncanakan pada daerah hulu yang
merupakan pintu pengambilan air dari kali di sebelah selatan kemudian dibawa ke saluran primer
yang membagi menjadi saluran sekunder untuk mengairi petak sekunder. Sebagian besar semua
daerah dapat diairi karena kemiringan medan yang merata dan tidak terlalu berbukit-bukit

sehingga dengan bantuan gravitasi bumi (kemiringan medan) daerah irigasi dapat terairi. 2.2.
LAY OUTING 2.2.1 Umum Lay outing atau tata letak jaringan adalah merencanakan tata letak
dari saluran -saluran, bangunan-bangunan irigasi sesuai dengan kondisi geografi atau peta kontur
dari daerah yang direncanakan. Adapun langkah-langkah me-lay out adalah : a. Membuat peta,
yang didalamnya tergambar batas batas daerah yang jelas, letak sungai, bukit desa, jalan dan
sebagainya. b. Menentukan luas dari suatu daerah rencana. c. Mengetahui syarat-syarat luas
daerah rencana, misalnya - Petak primer : 3000 Ha - Petak Sekunder : 750 1500 Ha. - Petak
tersier : 50 100 Ha. d. Mengetahui kondisi medan secara umum, yang didalamnya terdapat
elemen-elemen medan antara lain : hutan, kuburan, sungai, dan sarana prasarana lingkungan.
Kondisi medan ini menunjukan kemiringan medan dan ditunjukkan dengan anak panah misal : e.
Mengetahui sistim saluran, baik saluran pembawa maupun saluran pembuang. Saluran
pembawa : (1) (2) (3) (4) No 1 dan 2 merupakan jaringan irigasi yang searah. No 3 adalah yang
merupakan jaringan yang ideal karena ekonomis. No 4 sedapat mungkin dihindarkan karena :
Pendistribusian air menjadi lambat, karena kemiringan medan tidak terlalu besar. Kemungkinan
penyerobotan air dibagian hilir. 2.2.2 Lay Out Petak Tersier a. Pendahuluan Perencanaan teknis
petak tersier harus menghasilkan perbaikan kondisi pertanian. Masalah-masalah yang
diperkirakan dalam menghalangi tujuan ini harus dikenali dan dipertimbangkan dalam
pembuatan Lay out dan perencanaan jaringan irigasi/ tersier. Untuk merencanakan lay out aspekaspek berikut akan dipertimbangkan : Luas petak tersier Batas-batas petak tersier Bentuk
yang optimal Kondisi medan Jaringan irigasi yang ada Ekaploitasi jaringan Berhubung para
petani harus mengelola sendiri jaringan tersier maka kebutuhan untuk eksploitasi dan
pemeliharaan harus dibuat minim. Pembagian harus adil, seimbang dan efisien. b. Petak Tersier
Yang Ideal Petak tersier bisa dikatakan tersier, jika masing-masing sawah milik petani telah
memiliki air sendiri / pengambilan air sendiri dan dapat membuang kelebihan langsung ke
jaringan pembuang. Juga para petani dapat mengangkut hasil pertanian dan hasil perkebunan
dengan peralatan mesin atau ternak mereka ke dan dari sawah melalui jalan yang ada. Untuk
mencapai pola pemilikan yang ideal dalam petak-petak sawah mereka dengan cara saling
menukar bagian tertentu dari sawah mereka atau dengan cara lain menurut tersebut di atas yang
sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Kebalikan dari tersebut di atas adalah
mempertahankan situasi yang lama, dimana hal ini perencanaan yang paling cocok adalah
memperbaiki situasi yang ada tersebut, kemudian diusahakan sedapat mungkin untuk mencapai
karateristik yang ideal misalnya : Emam sampai delapan pemilikan sawah yang ada di organisir
sendiri Air diberikan dari saluran kwarter dan kelebihan air dibuang melalui pembuangan
kwarter. Pembagian air proporsionaldengan box bagi yang dilengkapi dengan pintu guna
memudahkanpembagian air secara berselang seling ke petak-petak kwarter. c. Ukuran dan
Bentuk Petak Tersier dan Kwarter Ukuran petak tersier tergantung pada besarnya biaya
eksploitasi dan pemeliharaan jaringan. Menurut pengalaman ukuran optimum suatu petaktersier
adalah 50-100 Ha, ukuran dapat ditambah sampai dengan maksimum 150 Ha jika keadaan
topografi memungkinkan demikian. Dipetak tersier yang kecil, efisiensi irigasi menjadi tinggi
karena : Saluran-saluran yang lebih pendek menyebabkan kehilangan air yang lebih sedikit.
Diperlukan lebih sedikit titik pembagian air. Lebih sedikit petani yang terlibat, jadi kerja lebih
baik. Pengaturan air yang lebih baik sesuai dengan kondisi tanaman. Perencanaan lebih
fleksibel sehubungan dengan batas-batas desa. Bentuk optimum suatu petak tergantung dari
biaya minimum pembuatan saluran, jalan dan box bagi. Apabila saluran kwarter diberi air dari
saluran tersier, maka panjang total jalan dan saluran menjadi minimum. Dengan dua saluran
tersier untuk areal yang sama, maka panjang total saluran dan jalan bertambah. Bentuk optimum

petak tersier adalah bujur sangkar karena pembagian air akan menjadi sulit pada petak tersier
dalam bentuk memanjang. Ukuran petak tersier dan kwarter tergantung pada ukuran sawah,
keadaan topografi, tingkat teknologi yang ada, kebiasaan yang ada, kebiasaan bercocok tanam,
biasanya pelaksanaan dan sistim pembagian air secara efisien. Jumlah petani-petak kwarter
sebaiknya tidak boleh lebih dari 30 orangagar koordinasi antara petani baik. Ukuran petak
sebiknya tidak lebih boleh dari 15 Ha agar pembagian air menjadi lebih efisien. Ukuran optimum
petak kwarter adalah 8-15 Ha. kriteria umum untuk mengembangkan petak tersier: Ukuran
petak tersier 50 100 Ha. Ukuran petak kwarter 8 -15 Ha. Panjang saluran tersier lebih kecil
dari 1500 m. Jarak antara saluran kwarter dan pembuang kurang dari 300 m. d. Batas Petak
Batas-batas petak tersier didasarkan pada kondisi topografi. Daerah tersebut hendaknya diatur
sebaik mungkin, sehingga petak tersier dalam satu daerah administrasi desa agar eksploitasi
jaringan lebih mudah. Jika ada dua desa pada petak tersier yang sama diajurkan untuk membagi
petak menjadi dua sub petak tersier yang berdampingan sesuai dengan arah desa masing-masing.
Batas-batas petak kwarter biasanya akan berupa saluran irigasi dan saluran pembuang yang
memotong kemiringan medan dan saluran irigasi tersier, pembuang tersier atau yang mengikuti
kemiringan medan. e. Identifikasi Daerah-daerah Yang Dialiri Dibeberapa petak tersier pada
bagian-bagian yang tidak dialiri karena alasan-alasan tertentu, misalnya : Tanah tidak cocok
untuk tanaman pertanian Muka tanah terlalu tinggi Tak ada petani penggarap Tergenang air
Harus dicek apakah daerah-daerah ini tidak diairi selamanya, atau untuk sementara waktu
saja,jika sudah jelas tidak ditanami damasa yang akan dating,maka derah itu ditandai pada petak
dan tidak ada fasilitas irigasi yang akan diberikan. Kecocokan tanah di seluruh daerah dipelajari
dan dibuat rencana optimalisasi pemanfaatan air irigasi yang tersedia. Berdasarkan hasil
penilaian ini dapat diputuskan apakah akan dibuat jaringan tersier atau tidak. f. Trase Saluran
Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan trase saluran ini yaitu : 1. Daerah
yang sudah diairi 2. Daerah yang belum diairi Dalam hal mana yang pertama, trase saluran
kurang lebih sudah tetap, tetapi saluran-salurannya perlu ditingkatkan atau diperbesar disini
sedapat mungkin trase saluran akan mengikuti yang ada. Jika daerah baru akan dibangun maka
kriteri umum yang diberikan di bawah ini akan sangat membantu. Aturan yang akan sebainya
diikuti daerah baru adalah menetapkn lokasi saluran pembuang terlebih dahulu, ini biasanya
sudah ada di daerah tadah hujan. 3.2.3 Lay Out Jaringan Irigasi Saluran irigasi tersier adalah
saluran pembagi yang membawa air dan mengambil air dari bangunan sadap melalui box atau
sampai box terakhir, pada tanah terjal saluran mengikuti kemiringan medan, sadangkan pada
tanah bergelombang atau datar saluran mengikuti kaki bukit atau tempat-tempat yang tinggi. Box
kwarter akan memberikan air ke saluran saluran kwarter. Saluran-saluran kwarter adalah saluran
saluran bagi, umumnya dimulai dari box sampai ke saluran pembuang. Panjang maksimum yang
diijinkan adalah 500m karena jika ada suatu hal yang istimewa. Didasarkan di daerah yang terjal
saluran kwarter biasanya merupakan saluran garis tinggi yang tidak memerlukan bangunan
terjun, jika hal ini tidak mungkin maka saluran kwarterbiasanya dibuat mengalir mengikuti
kemiringan medan dangan menyediakan bangunan terjun rendah yang sederhana. Pada tanah
yang bergelombang saluran kwarter mengikuti kaki bukit atau berdasarkan berdampingan
dengan saluran tersier. Bangunan ditempatkan di ujung saluran irigasi kwarter yang bertemu
pada saluran pembuang dan berfungsi untuk mencegah agar debit kecil tidak terbuang pada
ujung saluran pembuang. Didaerah terjal, saluran kwarter juga diperoleh untuk di pakai sebagai
saluran pembuang kwarter. 3.2.4 Lay Out Saluran Pembuang Saluran pembuang intern harus
sesuai dengan kerangka kerja saluran primer. Jaringan tersier dipakai untuk : Mengeringkan
sawah. Membuang kelebihan air hujan Membuang kelebihan air irigasi. Saluran pembuang

kwarter biasanya berupa saluran buatan yang merupakan garis tinggi pada medan terjal atau alur
alami kecil medan yang bergelombang. Kelebihan air ditampung langsung dari sawah di daerah
atas atau searah saluran pembuang cacingan di daerah sawah. Saluran tersier menampung air dari
saluran pembuang kwarter sering merupakan batas antara petak-petak tersier. Saluran
pembuangan tersier biasanya merupakan saluran yang mengikuti kemiringan medan.diusahakan
agar saluran irigasi dan pembuang tidak saling bersebelahan karena saluran pembuang dapat
mengikis dan merusak saluran irigasi, jika hal ini tidak mungkin dan kalau ada kemiringan
hidrolis antara saluran irigasi akan banyak mengalami kehilangan air akibat rembesan dan
kemungkinan bisa runtuh. Jarak antara saluran irigasi dan pembuangan hendaknya cukup jauh
agar kemiringan hidrolis tidak kurang. Berikut ini diberikan paduan untuk menentukan trase
saluran baru atau saluran tambahan : Sedapat mungkin ikuti batas-batas sawah. Rencanakan
saluran irigasi pada punggung medan dan saluran pembuangan pada daerah lembah / depresi.
Hindari persilangan dengan salura pembuangan. Saluran irigasi sedapat mungkin mengikuti
kemiringan medan. Saluran irigasi tidak boleh melewati petak-petak tersier yang lain. Hindari
pekerjaan tanah yang besar. Batasi jumlah bangunan. Batas-batas petak tersier-tersier dan
kwarter, batas-batas tiap sawah, batas-batas desa danindekasi daerah yang bisa diairi dan yang
tidak bisa diairi. Saluran-saluran primer, sekunder, tersier primer serta saluran pembuang.
Semua bangunan termasuk indikasi type bangunan seperti box tersier, gorong-gorong, jembatan
dll. Jalan-jalan inspeksi dan jalan petani. Sistim tata nama (nomenklatur) saluran pembuang
dan bangunan. Ukuran petak tersier dan masing-masing petak kwarter. 2.3. SKEMA
JARINGAN IRIGASI Skema jaringan irigasi merupakan bagian dari tahap perencanaan irigasi
yang berupa tentang jalannya air dari pembendungan, dibawa oleh saluran pembawaprimer,
sekunder, tersier, dan kwarter sampai pada laha yang diairi. Dalam skema jaringan juga luas tiaptiap petak tersier, disertai pula nomen klatur, dari setiap saluran dan bangunan yang ada.
Keterangan lain dapat dilihat pada skema jaringan irigasi yang dibuat pada laporan ini. 2.4.
PETAK TERSIER PERCONTOHAN Petak tersier adalahpetak dasar dari jaringan irigasi. Petak
ini merupakan bagian dari daerah yang mendapat air irigasi dari bangunan sadap tersier dan
dilayani oleh satu jaringan irigasi (jaringan tersier). Petak tersier dibagi-bagi menjadi petak-petak
kwarter. Petak sub tersier diterapkan hanya apabila petak tersier berada di dalam daerah
administrasi yang meliputi dua desa atau lebih. Jaringan tersier terdiri dari : Jaringan Bagi :
Saluran dan bangunan yang membawa dan membagi air dari bangunan sadap tersier ke petak
kwarter (saluran tersier). Jaringan Pemakai : Saluran dan bangunan yang membawa air dari
bangunan bagi ke petak sawah. Jaringan Pembuang : Saluran dan pembangun yang membuang
kelebihan air dari petak sawah ke saluran pembuang. Saluran tersier membawa air dari bangunan
sadap tersier pada jaringan utama ke petak kwarter. Batas-batas ujung tersier dalam box bagi
kwarter yang terakhir, Para petani tidak diperkenakanmengambil dari saluran tersier. Saluran
pembawa membawa air dari box bagi kwarter melalui lubang sadap sawah atau saluran cacingan
ke sawah-sawah. Jika pemilikan sawah terletak lebih dari 5m dari saluran kwarter, saluran
kwarter sebaiknya berakhir di saluran pembuang agar air irigasi yang terpakai dapat dibuang
supaya tidak tergerus, diperlukan bangunan akhir. Box kwarter hanya membagi air irigasi antara
saluran kwarter dan saluran tersier. Saluran pembuang kwarter terletak di dalam petak tersier
untuk menampung air langsung dari sawah dan membuang air itu ke saluran pembuang tersier.
Saluran pembuang tersier terletak di antara petak-petak tersier dari jaringan irigasi sekunder yang
sama, serta menampung air dari saluran pembuang kwarter maupun langsung dari sawah. BAB
III PERENCANAAN SALURAN IRIGASI Umum Untuk membawa air dari sumbernya hingga
ke petak tersier sawah diperlukan adanya saluran irigasi. Saluran-saluran itu adalah saluran

primer, saluran sekunder, saluran tersier dan saluran kwarter. Sedangkan air yang tidak berguna
bagi tanaman dibuang melalui saluran pembuang ( Drainase ). Dengan dibuatnya saluran
pembuang itu, diharapkan tidak terjadi genangan pada petak-petak sawah yang dapat berakibat
mati atau menurunnya produksi tanaman. Pada masing-masing saluran diatas dilengkapi dengan
berbagai macam bangunan yang berfungsi untuk mempermudah air pada saluran yang lebih
kecil, atau pada petak sawah. Berdasarkan hal diatas dapat diartikan bahwa seluruh saluran
beserta bangunannya dalam suatu daerah irigasi disebut jaringan irigasi. Adapun yang dimaksud
bangunan irigasi disini adalah : 1. Bangunan Utama 2. Bangunan Persilangan 3. Bangunan Bagi
4. Bangunan Sadap 5. Bangunan Pengatur Muka 6. Bangunan Pengukur Debit dan lain-lain.
Kriteria dan kemantapan perencanaan teknis dari suatu saluran dalam suatu jaringan irigasi
teknis mutlak diperlukan, oleh karena yang dimaksud dengan saluran disini adalah yang mampu
menahan erosi. Analisa teknis perencanaan dimensi yang perlu dilakukan antara lain : 1. Tipe
Saluran yang paling cocok 2. Efisiensi Hidrolis 3. Metode pelaksanaan yang paling efektif dan
efisien 4. Ekonomis Untuk menunjang perencanan teknis tersebut, maka faktor-faktor yang perlu
diperhatikan dalam merencanakan saluran adalah : 1. Macam material yang membentuk tubuh
saluran untuk menentukan koefisien kekerasan. 2. Kecepatan aliran minimum yang diijinkan
agar tidak terjadi pengendapan apabila air mengandung Lumpur dan sisa kotoran. 3. Kemiringan
dasar dan dinding saluran. 4. Tinggi jagaan (free board) 5. Penampung yang paling efisien, baik
hidrolis maupun empiris Perlu diperhatikan pula alternatif pemilihan bangunan pelengkap dalam
saluran, tanpa mengabaikan keempat analisa teknis diatas. Terkadang dalam perencanaan ini
jarang dilakukan sistem coba banding alternatif, untuk memperoleh perencanaan yang optimal.
Dengan memperhitungkan faktor-faktor tersebut diatas diharapkan kita akan mendapatkan suatu
saluran yang betul-betul mampu membawa debit yang kita rencanakan dari bangunan
pengambilan utama sampai ke tempat yang memerlukan air tersebut, tanpa menimbulkan efek
yang kurang baik terhadap daerah yang dilewatinya, misalnya banjir. Dalam jaringan irigasi
dibedakan menjadi beberapa macam saluran pembawa sesuai dengan fungsinya : Saluran
Primer : Membawa air dari bangunan utama sampai bangunan terakhir. Saluran Sekunder :
Membawa air dari bangunan bagi pada saluran primer sampai bangunan bagi atau sadap akhir.
Saluran Tersier : Saluran yang berfungsi mengairi suatu petak tersier yang mengambil airnya dari
saluran sekunder maupun primer. Saluran Kwarter : Saluran dari mana sawah mengambil air
secara langsung. 3.1 MACAM-MACAM SALURAN Berdasarkan material yang membentuk
tubuh saluran macamnya saluran adalah sebagai berikut : 3.1.1 Saluran Tanah Saluran tanah
sudah umum dipakai untuk saluran irigasi, karena biayanya jauh lebih murah jika dibandingkan
dangan saluran pasangan. Sedangkan kapasitas dari saluran tersebut ditentukan oleh luas area
(A), angka pemberian (q) dan koefisien lengkung tegal (c). kecepatan minimum V = 0.25 m/det.
Lebar dasar minimum b = 0.30m, sedangkan kriteria perbandingan b dan h, freeboard, kecepatan
air, kemiringan talud tergantung pada debit yang dibawa oleh saluran tersebut. 3.1.2 Saluran
Pasangan Saluran ini dibuat apabila talud mudah longsor, tanahnya porous dan mengandung zatzat yang merusak atau merugikan tanaman, hewan maupun manusia. Bahannya dapat dibuat dari
pasangan batu, beton, aspal maupun blok-blok batu. Kecepatan maksimum bahan : 1. pasangan
batu V = 2.0m/det 2. beton V = 3.0m/det Kemiringan talud bisa dibuat lebih tegak dari saluran
tanah. 3.1.3 Saluran Terowongan (TUNNEL) Saluran Tertutup Terowongan dibuat apabila
penggalian saluran terlalu dalam ( > 15 m ) ataupun bila saluran melalui batuan keras. Sedangkan
saluran tertutup dibuat apabila tanggul saluran mudah longsor dan juga dalam keadaan dimana
saluran berada dibawah muka air tanah maksimum dihilir bendung.