Anda di halaman 1dari 19

Makalah Studi Quran

PERTUMBUHAN dan PERKEMBANGAN TAFSIR

Dosen Pengampu:
M. Imamuddin, M.A

Disusun Oleh :
1. Ihsan Tholabi

(13620053)

2. M. Rizqi Ngadzimul F.

(13620113)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2016

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................................................ i


DAFTAR ISI ........................................................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Tafsir pada Masa Nabi .................................................................................................................. 3
2.2 Tafsir pada Masa Sahabat .............................................................................................................. 5
2.3 Tafsir pada Masa Tabiin ............................................................................................................... 9
2.4 Tafsir pada Masa Pembukuan ..................................................................................................... 10
2.5 Kelompok-kelompok para Mufasir ............................................................................................. 12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWTyang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
kepada penulis sehingga penyusun dapat menyelesaikan Makalah Studi Quran ini tepat pada
waktunya. Melalui kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih banyak kepada dosen
pengajar mata kuliah Studi Quran yang telah banyak membantu penyusun selama ini
sehingga dapat menyelesaikan makalah yang masih jauh dari sempurna ini.
Penyusun sangat mengharapkan saran maupun kritik yang bersifat membangun
sehingga dapat memperbaiki makalah yang masih sangat sederhana ini sehingga menuju
kesempurnaan dan juga penyusun akan berusaha untuk dapat menyelesaikan pembuatan
makalah yang lebih baik pada waktu yang akan datang.
Penyusun mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan
juga agar makalah ini dapat diterima sebagaimana mestinya. Amin.

Malang, 31 Oktober 2016

Penyusun

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Umat Islam bisa berkembang, atau bahkan manusia secara umum pun,

adanya perkembangan mereka tidaklah mungkin dengan hanya berpegang kepada


pengalaman semata tanpa adanya petunjuk-petunjuk dari ajaran Al Quran yang
meliputi segala unsur yang menuntun munusia pada jalan menuju kebahagiaan.
Dan untuk bisa memahami ajaran-ajaran Al Quran, tidaklah cukup dengan kita
membaca teksnya tanpa mengetahui penafsirannya. Karena dengan mengetahui
penafsiran, kita akan lebih mengetahui maksud yang terkandung dalam al-Quran
tersebut. Oleh kerena itu, dapat kita sebut bahwa mengetahui tafsir adalah anak
kunci perbendaharaan isi Al Quran yang diturunkan untuk menjelaskan tuntunan
dan memperbaiki keadaan manusia, melepaskan manusia dari kehancuran dan
menyejahterakan alam ini.
Kenyataan sejarah membuktikan bahwa tafsir itu selalu berkembang
seiring

dengan

perkembangan

peradaban

dan

budaya

manusia. Hal

ini dikarenakan adanya permasalahan-permasalahan yang terus berkembang, yang


pada masa Nabi belum pernah ada. Jadi untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut tanpa keluar dari aturan al-Quran, para ulama akhirnya membuat
penafsiran al-Quran yang nantinya bisa dijadikan hujjah untuk menyelesaikan
problem masyarakat. Maka dari itu, mau tidak mau, tafsir harus mengalami
perkembangan dan bahkan perubahan pada setiap perkembangan zaman, guna
memenuhi kebutuhan manusia dalam suatu generasi.
Hal itulah yang membuat para peminat studi al-Quran khususnya dan
umat Islam pada umumnya dituntut untuk selalu cerdas mengembangkan
penafsiran al-Quran. Sebab setiap zaman memiliki kekhasannya sendiri-sendiri.
Tiap-tiap generasi melahirkan tafsir-tafsir al-Quran yang sesuai dengan
kebutuhannya masing-masing dengan tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan
agama Islam sendiri. Maka dari itu perlunya untuk mengetahui tentang sejarah
dari pertumbuhan dan perkembangan tafsir Al Quran adalah lantaran sangat
berhajatnya kita kepada tafsir al-Quran ini.

Untuk memberikan gambaran dan menambah wawasan pembaca


mengenai perkembangan tafsir, dalam makalah ini akan dibahas sejarah awal
mulai adanya penafsiran al-Quran, mulai dari penafsiran pada masa Nabi, masa
Sahabat, masa Tabiin, masa pembukuan, dan kelompok-kelompok para mufasir.

1.2

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut :
1. Bagaimana Tafsir pada masa Nabi?
2. Bagaimana Tafsir pada masa Sahabat?
3. Bagaimana Tafsir pada masa Tabiin?
4. Bagaimana Tafsir pada masa pembukuan?

1.3

Tujuan
Tujuan dari makalah ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Tafsir pada masa Nabi.
2. Untuk mengetahui Tafsir pada masa Sahabat.
3. Untuk mengetahui Tafsir pada masa Tabiin.
4. Untuk mengetahui Tafsir pada masa pembukuan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Tafsir Pada Masa Nabi

Bisa dikatakan bahwa tafsir pertama kali ada mulai sejak ayat-ayat alQuran itu mulai di turunkan. Dalam praktiknya, ketika Rasulullah menerima
wahyu berupa ayat al-Quran, kemudian Rasulullah menyampaikan wahyu
tersebut kepada sahabat dan menjelaskannya berdasarkan apa yang beliau terima
dari

Allah Subnahu

wa

Tal.{1}

Sebagai

mana

riwayat

dari

Siti

Aisyah RaiyallahuAnha yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak menafsirkan


ayat-ayat al-Quran kecuali beberapa ayat yang telah diajarkan oleh Jibril Alayhi
al-Salam.{2}
Allah memberikan jaminan kepada Rasulnya-Nya bahwa Dialah yang
bertanggung jawab melindungi Al-Quran dan menjelaskannya, Sesungguhnya
atas tanggungan Kamilah menghimpunnya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah
bacannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya
(Al-Qiyamah: 17-19).
Menurut al-Suyui, pada masanya, Nabi merupakan penafsir tunggal dari
al-Quran yang memiliki otoritas spiritual, intelektual, dan sosial.{3} Akan tetapi
kebutuhan terhadap penafsiran pada masa itu tidak sebesar pada masa-masa
berikutnya.
Dalam penyampaiannya, tidak semua ayat dalam Al Quran dijelaskan
oleh Nabi allallah Alayhi wa Sallam. Beliau hanya menjelaskan ayat-ayat yang
makna dan maksudnya tidak diketahui oleh para sahabat, karena memang hanya
beliau yang dianugerahi Allah Subnahu wa Tal tentang tafsiran al-Quran.
Begitupun dengan ayat-ayat yang menerangkan tentang hal-hal gaib, yang tidak
ada seorang pun tahu kecuali Allah Subnahu wa Tal, seperti terjadinya hari

1
2
3

Yayan Rahtikawati, Dadan Rusmana, Metodologi Tafsir al-Quran, (Bandung : Pustaka Setia, 2013) 31.
Ibid., 31.
Jalaluddin al-Suyui, Al-Itqan f Ulm al-Quran, (Bairut : DKI, 2012) 173.

kiamat, dan hakikat ruh, semua itu tidak dijelaskan dan ditafsiri oleh
Rasulullah allallah Alayhi wa Sallam.{4}
Selain itu, dalam menafsirkan al-Quran, Nabi juga menggunakan bahasa
yang tidak panjang lebar, beliau hanya menjelaskan hal-hal yang masih samar dan
global, memerinci sesuatu yang masih umum, dan menjelaskan lafadz dan hal-hal
yang berkaitan dengannya.

2.1.1

Bentuk Tafsir pada Masa Nabi


Dalam menafsirkan al-Quran, Rasulullah Salla Allah Alayhi wa

Sallam juga memiliki bentuk-bentuk tersendiri. Bentuk-bentuk penafsiran yang


dilakukan oleh Rasulullah Salla Allah Alayhi wa Sallam diantaranya adalah
menafsirkan ayat Al-Quran dengan ayat Al-Quran yang lain, hal ini sesuai
dengan riwayat yang disampaikan oleh Al-Bukhari, Muslim dan lainnya dari Ibnu
Masud yang mengatakan bahwa tatkala turun ayat;



{ 5}

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka
dengan kelaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan
mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Banyak para sahabat yang merasa resah karena mereka menganggap tidak
akan bisa manusia hidup tanpa pernah melakukan kealiman. Melihat hal tersebut,
Rasulullah menjelaslaskan bahwa hakikat makna lafa di ayat tersebut adalah
sebagaimana lafa pada ayat :{6}




{ 7}

Janganlah kalian menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah
adalah kealiman yang besar.
Penafsiran dengan bentuk menafsirkan ayat Al-Quran dengan ayat AlQuran merupakan cara yang tepat dan paling baik. Ibnu Taimiyah berkata bahwa,
4

Tim Forum Karya Ilmiah RADEN, Al Quran Kita: Studi Ilmu, Sejarah, dan Tafsir Kalamullah, (Kediri: Lirboyo Press,
2011). h. 201-202
5
Al-Quran, 6:82.
6
Muhammad Abdurrahman Muhammad, Penafsiran Al-Quran Dalam Perspektif Nabi Muhammad SAW,terj. Rosihon
Anwar, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999), 99.
7
Al-Quran, 31:13.

apabila seseorang bertanya tentang cara penafsiran yang baik ,maka jawabannya
adalah menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran itu sendiri.{8}
Selain menggunakan ayat Al-Quran yang lain untuk menafsirkan suatu
ayat Al-Quran, Rasulullah Salla Allah Alayhi wa Salla juga menggunakan hadis
dalam menafsirkan suatu ayat. Misalnya dalam menafsirkan ayat;

{ 9}
Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan
berhak memberi ampun.
Rasulullah menggunakan hadis

qudsi

yang diriwayatkan

oleh

sahabat

Anas Raiyallahu Anhu, bahwa Allah Subnahu wa Tala telah berfirman;

{ 10}
Aku (Allah) adalah Dhat yang patut disembah. Barang siapa yang
bertakwa

dan

tidak

menjadikan

sekutu

bagi-Ku,

maka

Aku

akan

mengampuninya.
Bentuk dan karakteristik penafsiran yang dilakukan oleh Rasulullah Salla
Allah Alayhi wa Sallam tersebut sekarang kita kenal dengan nama tafsir bi alMathur yang kehujjahannya tidak perlu dipertanyakan lagi.

2.2

Tafsir Pada Masa Sahabat


Tafsir pada masa ini mulai muncul setelah Rasulullah Salla Allah Alayhi

wa Sallam wafat. Sebelumnya pada waktu Nabi allallah Alayhi wa Sallam masih
hidup, tak ada seorangpun dari sahabat yang berani menafsirkan Al Quran, hal ini
karena Nabi masih berada di tengah-tengah mereka, sehingga ketika ditemukan
suatu permasalahan, para sahabat cukup menayakannya kepada Nabi dan
permasalahan tersebut akan selesai.
Abdullah ibn Abbas yang wafat pada tahun 68 H, adalah tokoh yang biasa
dikenal senagai orang pertama dari sahabat nabi yang menafsirkan al-Quran
setelah nabi Muhammad allallah Alayhi wa Sallam. Ia dikenal dengan julukan
Muhammad Abdurrahman Muhammad, Penafsiran Al-Quran Dalam Perspektif Nabi Muhammad SAW,terj. Rosihon
Anwar, 101.
9
Al-Quran, 74:56.
10
H.R. At-Turmudhi.
8

Bahrul Ulm (Lautan Ilmu), Habrul Ummah (Ulama Umat), dan Turjamanul
Quran(Penerjemah Al-Quran) sebagaimana telah diriwayatkan di atas, bahwa
nabi pernah berdoa kepada Allah agar Ibnu Abbas diberi ilmu pengetahuan
tentang tawil al-Quran (lafadz-lafadz yang bersifat tawil dalam al-Quran).{11}

2.2.2

Bentuk dan karakteristik tafsir Sahabat


Sahabat dalam menafsirkan al-Quran cenderung pada penekanan arti

lafadz yang sesuai serta menambahkan qawl (perkataan atau pendapat) supaya
ayat al-Quran mudah dipahami.
Sifat tafsir pada masa-masa pertama ialah sekedar menerangkan makna dari segi
bahasa dengan keterangan-keteranagan ringkas dan belum lagi dilakukan istimba
hukum-hukum fiqih.{12}
Seperti

halnya

Ibnu

Abbas,

dalam

menafsirkan

ia

al-Quran

mempergunakan Syawhidu as-Syair Arabi (Syair-syair kuno) guna untuk


membuktikan kebenaran al-Quran. Selain itu pula ia juga bertanya kepada
golongan ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Kaab al-Akhbar dan
Abdullah ibn Salam. Menurut ibnu Abbas, Apabila terdapat dalam al-Quran
sesuatu yang sulit dimengerti maknanya, maka hendaklah kamu melakukan
penelitian (melihat) pada syair-syair, karena syair-syair itu adalah sastra Arab
kuno. Dan di dalam al-Quran telah ditetapkan adanya sebagian kalimatkalimat muarabah (kata-kata asing yang diarabkan).{13}
Firman Allah yang berbunyi :

{ 14}
dan buah-buahan serta rerumputan.
Abu Ubaidah memuatkan dalam buku al-Fail dari Anas, bahwa Umar
bin Khattab pernah membaca ayat tersebut di atas mimbar. Dari ayat itu kemudian
Umar

mengatakan

Kalau Fqihah

sudah

umum

kita

ketahuai,

tapi

apakah Abba itu?, sesudah itu dia melihat dirinya sendiri. Lalu Abu Ubaidah

11

Ahmad Syurbasyi, Studi tentang sejarah perkembangan tafsir al-quran al-karim,(Jakarta : Kalam Mulia, 1999) 87.
Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Quran Dan Tafsir,(Semarang : Pustaka
Rizki Putra, 2009) 183.
13
Ibid., 88.
14
Al-Quran, 80 : 31
12

mengatakan : . (ini sesuatu yang diberat-beratkan wahai


umar.){15}
Juga firman Allah yang berbunyi :

{ 16}






Peliharalah semua shalat dan shalat wushtha
Siti

Aisyah

menyandarkan

ayat

tersebut

dengan

menambahkan

penafsirannya yaitu : shalat Ashar.{17}


Dalam berpendapat tentang tafsir dari suatu ayat, para sahabat juga tidak
menggunakan kehendak nafsunya sendiri atau dengan pemikiran tercela,
melainkan menggunakan pemikiran yang terpuji.
Tafsir

dengan

pikiran

yang

tercela

ialah

apabila mufassir dalam

memahami pengertian kalimat yang khas dan mengistimbakan hukum hanya


dengan menggunakan pikirannya saja dan tidak sesuai dengan ruh syariat.{18}
Sedangkan tafsir yang menggunakan pikiran yang terpuji ialah
apabila mufassirdalam menafsirkan ayat tidak bertentangan dengan tafsir mathr.
Selain itu penafsirannya harus berbentuk ijtihad muqayyad atau yang dikaitkan
dengan satu kaitan berpikir mengenai kitab Allah menurut hidayah sunnah Rasul
yang mulia.
Maka dari itu, ulama mensyaratkan agar mufassir mempunyai ilmu yang
memadai tentang ilmu fiqih, ilmu al-Quran; ilmu Islam dan ilmu sosial.
Ditambah dengan sifat wara atau mawas diri dan takut kepada Allah serta
mempunyai daya nalar akal yang tinggi.{19}

2.2.2

Metode Sahabat dalam menafsirkan ayat al-Quran


Dalam menafsirkan ayat al-Quran, para shahabat juga memiliki metode

dan materi tafsir tersendiri. Adapun metode dan materi tafsir menurut mereka
adalah :{20}

15

Al-Dzahabi, Muhammad Husain. Tafsir wa al-Mufassirn, (Kairo : Maktabah wahbah, t.th) juz 1, 29.
Al-Quran, 2 : 238
17
Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Quran Dan Tafsir, 98.
18
Kahar Masyhur, Pokok-Pokok Ulumul Quran, (Jakarta : Rineka Cipta, 1992) 173.
19
Ibid., 174.
20
Ibid., 166.
16

1. Menafsirkan al-Quran dengan al-Quran. Inilah yang paling baik.


2. Mengambil dari tafsir Nabi yang dihafal sahabat beliau.
3. Menafsirkan dari apa yang mereka sanggupi dari ayat-ayat yang
bergantung

pada

kekuatan

pemahaman

mereka,

keluasan

daya

mendapatkannya, kedalaman mereka mengenai bahasa al-Quran dan


rahasianya, keadaan manusia pada waktu itu, dan adat istiadat mereka di
tanah arab.
4. Mengambil masukan dari apa yang mereka dengar dari tokoh-tokoh Ahli
Kitab yang telah masuk Islam dan baik Islam mereka.

2.2.3

Tokoh-tokoh tafsir pada masa sahabat

As-Suyuthy dalam al-Itqan mengatakan bahwa sahabat yang terkemuka


dalam bidang ilmu tafsir ada sepuluh orang, yaitu:{21}
1. Abu Bakar ash-Shiddiq
2. Umar al-Faruq
3. Utsman Dzun Nurain
4. Ali bin Abi Thalib
5. Abdullah ibn Masud
6. Abdullah ibn Abbas
7. Ubay ibn Kaab
8. Zaid ibn Tsabit
9. Abu Musa al-Asyary, dan
10. Abdullah ibn zubair
Yang paling banyak diterima tafsirnya dari kalangan khulafa ialah Ali ibn
Abi Thalib. Sedangkan yang paling banyak diterima tafsirnya dari kalangan
bukan khulafaadalah Ibnu abbas, Abdullah ibn Masud dan Ubay ibn kaab.
Keempat mufassir ahabi ini mempunyai ilmu dan pengetahuan yang luas
dalam bahasa Arab. Mereka selalu menemani RasulullahSalla Allah Alayhi wa
Sallamyang memungkinkan mereka mengetahui kejadian dan peristiwa-peristiwa
nuzul al-quran dan tidak pula merasa ragu menafsirkan al-Quran dengan ijtihad.
21

Imam Jalaluddin as-Suyui, Al-Itqan f Ulm al-Quran, (Bairut : DKI, 2012) 587.

Ibnu Abbas banyak pengetahuannya dalam hal tafsir, karena dapat bergaul
lama dengan sahabat-sahabt besar, walaupun beliau tidak lama dapat bergaul
dengan Rasulullah Salla Allah Alayhi wa Sallam.
Demikian pula sahabat Ali, beliau hidup lebih lama daripada khalifahkhalifahlainnya, saat umat Islam membutuhkan sekali kepada para ahli yang dapat
menafsirkan al-quran.
Demukian pula banyak diterima riwayat dari Ibnu Masud. Dan demikian pula
banyak diterima riwayat dari Ubay ibn Kaab al-Anshary salah seorang penulis
wahyu.{22}

2.3

Tafsir Pada Masa Tabiin

Tokoh-tokoh sahabat banyak yang dikenal

sebagai penafsir Al

Quran,maka sebagian tokoh tabiin yang menjadi murid dan belajar kepada
mereka pun terkenal di bidang tafsir.Dalam hal sumber tafsir para tabiin
berpegang teguh pada sumber-sumber yang ada pada masa para pendahulunya di
samping ijtihad dan pertimbangan nalar mereka sendiri.
Para tabiin hanya menafsirkan bagian-bagian yang sulit dipahami bagi orangorang pada masa mereka.Kemudian kesulitan ini meningkat secara bertahap di
saat manusia bertambah jauh dari masa nabi dan sahabat.Maka para tabiin yang
menekuni bidang tafsir merasa perlu untuk menyempurnakan sebagian
kekurangan ini.Karenanya mereka pun menambahkan ke dalam tafsir keteranganketerangan yang dapat menghilangkan kekurangan tersebut.Setelah itu muncullah
generasi setelah tabiin,generasi ini pun berusaha menyempurnakan tafsir Quran
secara terus-menerus dengan berdasarkan pada pengetahuan mereka atas bahasa
arab dan cara bertutur kata.
Penaklukkan islam yang semakin meluas, hal ini mendorong tokoh-tokoh
sahabat berpindah ke daerah-daerah taklukkan dan masing-masing dari mereka
membawa ilmu.Dari sinilah para tabiin belajar dan menimba ilmu,selanjutnya
tumbuhlah berbagai mazhab dan perguruan tafsir.Di Mekkah misalnya berdiri
perguruan Ibn Abbas,muridnya yang terkenal diantaranya,Said bin Jubair,
22

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Quran Dan Tafsir, 182-183.

Mujahid, Ikrimah maula Ibn Abbas,dsb.Di Madinah Ubai bin Kaab lebih terkenal
di bidang tafsir dari rang lain,Muridnya diantaranya:Zaid bin Aslam,Abu Aliyah,
dan Muhammad bin Kaab al Qurazi.Di Irak berdiri pergurusn Ibnu Masud yang
dipandang oleh para ulam sebagai cikal bakal mazhab ahli ray.Danyak pula
tabiin di Irak yang dikenal dalam bidang tafsir.Yang masyhur,diantaranya,Al
Qamah bin qais,Masruq,al Aswad bin Yazid,dsb.Merekalah mufasir-mufasir
terkenal dari kalangan tabiin di berbagai wilayah islam.
Pada masa ini tafsir tetap konsisten dengan cara khas, penerimaan dan
periwayatan (talaqqi wa talqin).Akan tetapi setelah banyak ahli kitab masuk islam
para tabiin banyak menukil dari mereka cerita-cerita Israiliyat yang kemudian
dimasukkan ke dalam tafsir.Di samping itu pada masa ini mulai timbul silang
pendapat mengenai status tafsir yang diriwayatkan dari mereka karena banyaknya
pendapat-pendapat mereka. Namun demikian pendapat-pendapat

tersebut

sebenarnya berdekatan satu dengan yang lain atau hanya merupakan sinonim
saja.Dengan demikian perbedaan itu hanya dari segi redaksional bukan perbedaan
yang saling bertentangan dan kontra.

2.4

Tafsir Pada Masa Pembukuan

Masa pembukuan dimulai pada akhir dinasti Bani Umayyah dan awal
dinasti Abbasiyah.Dalam hal ini hadits mendapat prioritas utama dan
pembukaannya meliputi berbagai bab, sedangkan tafsir hanya merupakan salah
satu bab dari sekian banyak bab yang dicakupnya. Pada masa ini penulisan tafsir
belum dipisahkan secara khusus yang hanya memuat tafsir Quran, surat demi
surat dan ayat demi ayat dari awal Quran sampai akhir
Perhatian segolongan ulama terhadap periwayatan tafsir yang dinisbahkan
pada nabi, sahabat, atau tabin sangat besar disamping perhatian terhadap
pengumpulan hadits .Tokoh terkemuka diantara mereka dalam bidang ini ialah
Yazid bin Harun as-Sulami,Syubah bi al Hajjah, Waki bin Jarrah, Sufyan bin
Uyainah, Rauh bin Ubadah al Basri,dsb. Tafsir golongan ini tidak ada yang
sampai pada kita , yang kita terima hanyalah nukilan-nukilan yang dinisbahkan
kepada mereka seperti yang termuat dalam kitab tafsir bil masur.

10

Sesudah golongan ini datanglah generasi berikutnya yang menulis tafsir secara
khusus dan independen serta menjadikannya ilmu yang berdiri sendiri dan
terpisah dari hadis.Diantara mereka adalah Ibn Majah Ibn Jarir at Tabari. Abu
Bakar bin al al Munzir an Naisaburi. Tafsir generasi ini memuat riwayat-riwayat
yang disandarkan kepada Rasulullah, sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin dan
terkadang disertai pentarjihan terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan dan
penyimpulan ( istinbat ) sejumlah hukum serta penjelasan kedudukan kata jika
diperlukan.
Ilmu semakin berkembang pesat, mencapai kesempurnaan, cabang-cabangnya
bermunculan, perbedaan pendapat terus meningkat Ini menyebabkan tafsir
terpolusi hawa yang tidak sehat. Sehingga para mufassir dalam menafsirkan al
quran berdasarkan pada pemahaman pribadi dan kecenderungan tertentu. Dalam
diri mufassir melekat istilah ilmiah, akidah madzabi, dan pengetahuan falsafi.
Para mufassir dalam menafsirkan Al Quran hanya dengan ilmu yang paling
dikuasainya tanpa memperhatikan ilmu lainnya. Ahli ilmu rasional hanya
memperhatikan dalam tafsirnya kata-kata pujangga dan filosof, seperti fakhruddin
ar-Razi. Ahli fikih hanya membahas masalah fikih saja, seperti al-Jassas dan
al_Qurtubi. Sejarawan hanya mementingkan kisah-kisah dan berita-berita, seperti
as-Salabi dan al-Khazin.Demikian pula golongan lainnya.
Disamping tafsir dengan corak tersebut juga banyak tafsir yang
menitikberatkan pada pada pembahasan ilmu nahwu, sharaf, dan balaghah.
Demikianlah kitab-kitab tafsir menjadi bercampur baur antara yang haq dan yang
batil, masing-masing golongan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan
penafsiran yang tidak dapat diterima oleh ayat itu sendiri demi mendukung
madzhabnya, sehingga tafsir kehilangan jati diri fungsi sebagai sarana
penunjuk,pembimbing, dan pengetahuan agama.
Pada masa selanjutnya penulisan tafsir mengikuti pola diatas, melalui upaya
golongan mutaakhirin yang mengambil begitu saja penafsiran golongan
mutaqaddimin, tetapi dengan cara meringkas dan memberikan komentar. Keadaan
terus berlanjut sampai lahirnya pola baru dalam tafsir muasir (modern) yang
berlaku pada masa sekarang ini.

11

2.5

Kelompok-kelompok para Mufasir

Berdasarkan uraian di atas kita dapat mengelompokkan mufassir sebagai


berikut :
1. Mufassir dari kalangan sahabat. Diantara mereka yang paling terkenal empat
khalifah, Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit Abu
Musa Al-Asyari, Abdullah bin Az- Zubair, Anas bin Malik, Abu Hurairah,
Jabir dan Abdullah bin Amr bin Ash. Di antara empat khalifah yang banyak
diriwayatkan tafsirnya adalah Ali bin Abi Thalib, sedang

periwayatan

dari

tiga khalifah lainnya jarang sekali. Yang demikian disebabkan mereka


meninggal terlebih dahulu, sebagaimana terjadi pada Abu Bakar. Sementara itu
Ibnu Masud lebih banyak diriwayatkan tafsirnya daripada Ali.
2. Dari kalangan Tabiin. Ibnu Taimiyah menjelaskan, orang yang paling
mengetahui tafsir itu penduduk Mekkah, yaitu murid-murid Ibnu Abbas,
seperti Mujtahid, Atha bin Abi Rabah, Ikrimah seorang maula (sahaya yang
dimerdekakan oleh Ibnu Abbas), Said bin Jubair, Thawus dan lain-lain. Di
Kufah adalah murid-murid Ibnu Masud dan di Madinah adalah Zaid bin
Aslam yang tafsirnya diriwayatkan oleh putranya sendiri Abdurrahman bin
Zaid, dan Malik bin Anas.
3. Kelompok berikutnya adalah mereka yang menyusun kitab-kitab tafsir dengan
metode koleksi pendapat-pendapat para sahabat dan tabiin, seperti Sufyan
bin Uyainah, Waki bin Al Jarrah, Syubah bin Al Hajjaj, Yazid bin Harun,
Abdurrazzaq, Adam bin Abu Iyas, Ishaq bin Rahawaih, Abd bin Humaid,
Rauh bin Ubadah, Abu Bakar bin Abi Syaibah dll.
4. Kemudian disusul generasi Ali bin Abi Talhah, Ibnu Jarir Ath-Thabari, Ibnu
Abi Hatim, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Mardawaih, Abu Asy-Syaih bin
Hibban, Ibnu Al Mundzir dll. Tafsir-tafsir mereka memuat riwayat-riwayat
yang disandarkan pada sahabat, tabiin dan tabiit tabiin, semuanya sama
kecuali yang disusun oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, di mana ia mengemukakan
berbagai pendapat dan mentarjihkan salah satu atas yang lain, serta
menerangkan irab dan istinbath hukum. Karena itu tafsir ini lebih unggul dari
lainnya.

12

5. Kelompok mufassir yang memberi perhatian terhadap penafsiran Al-Quran


yang menggunakan pendekatan kebahasaan, membahas problematika qiraat,
seperti Abu Ishaq Az-Zajjaj, Abi Ali Al-Farisi, Abi Bakar An-Nuqasy, dan
Abu Jafar An-Nahhas.
6. Golongan mutaakhirin menulis pula kitab-kitab tafsir. Mereka meringkas
sanad- sanad riwayat dan mengutip pendapat-pendapat secara terputus.
Karenanya masuklah ke dalam tafsir sesuatu yang asing dan riwayat yang
shahih bercampur baur dengan yang tidak shahih.
7. Kemudian, setiap mufassir memasukkan begitu saja ke dalam tafsirnya
pendapat yang diterima dan apa saja yang terlintas dalam pikiran yang
dipercayainya. Kemudian generasi sesudahnya mengutip apa adanya semua
yang tercantum di sana dengan asumsi semua kutipan itu asli, tanpa meneliti
lagi tulisan yang datang dari ulama salaf yang saleh yang menjadi panutan.
Sampai Asy Suyuti mengatakan, bahwa penafsiran firman Allah Ghairil
Maghdhubi alaihim wa la adh-dhallin ada sepuluh pendapat. Padahal
penafsiran yang berasal dari nabi, para sahabat dan tabiin hanya satu, yaitu
orang Yahudi dan Nasrani.
8. Sesudah itu , banyak mufassir yang mempunyai keahlian dalam berbagai
disiplin ilmu mulai menulis tafsir. Mereka memenuhi kitabnya dengan cabang
ilmu tertentu dan hanya

membatasi

seakan-akan

hanya diturunkan untuk ilmu itu saja, bukan untuk

Al-Quran

pada

bidang

yang

dikuasainya,

yang lain, padahal Al-Quran memuat penjelasan mengenai segala sesuatu.


9. Masa kebangkitan modern. Pada masa ini para mufassir menempuh langkah
dan pola baru dengan memperhatikan keindahan uslub (redaksi), kehalusan
ungkapan,

dan

menitikberatkan

pada

kontemporer, dan aliran-aliran modern,


sosial.

Diantara

mufassir

aspek-aspek

sehingga

kelompok

sosial,

lahirlah

tafsir

pemikiran
sastra-

ini adalah Muhammad Abduh,

Sayyid Muhammad Rasyid Rida, Muhammad Mustafa Al-Maraghi, Sayyid


Quthub dan Muhammad Izzah Darwazah.

13

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas bahwasannya dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut :
a. Pada Masa Nabi
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara kongrit dapat
dikatakan bahwa tafsir al-Quran pada masa Rasulullah Salla Allah Alayhi wa
Sallam dan pada awal pertumbuhan Islam sifatnya pendek-pendek dan ringkas.
Hal ini dikarenakan penguasaan bahasa Arab yang murni pada saat itu cukup
untuk memahami gaya bahasa al-Quran (Ushlub Kalam Al-Quran).
Dalam penyampaiannya, tidak semua ayat dalam Al Quran dijelaskan
oleh Nabi allallah Alayhi wa Sallam. Beliau hanya menjelaskan ayat-ayat yang
makna dan maksudnya tidak diketahui oleh para sahabat. Begitupun dengan ayatayat yang menerangkan tentang hal-hal gaib seperti terjadinya hari kiamat dan
hakikat ruh, semua itu juga tidak dijelaskan dan ditafsiri oleh Rasulullah allallah
Alayhi wa Sallam.
Selain itu, dalam menafsirkan al-Quran, Nabi juga menggunakan bahasa
yang tidak panjang lebar, beliau hanya menjelaskan hal-hal yang masih samar dan
global, memerinci sesuatu yang masih umum, dan menjelaskan lafadz dan hal-hal
yang berkaitan dengannya.

b. Pada Masa Sahabat


Kemudian untuk tafsir Shahabi itu muncul setelah adanya tafsir Rasulullah
Salla Allah Alayhi wa Sallam. Bentuk dan karakteristik tafsir Sahabat itu
cenderung pada penekanan arti lafadz yang sesuai serta menambahkan qawl
supaya ayat al-Quran mudah difahami.
Dan dalam menafsirkan ayat al-Quran, para sahabat juga memiliki
metode dan materi tafsir tersendiri, yaitu : Menafsirkan al-Quran dengan alQuran, mengambil dari tafsir Nabi yang dihafal sahabat beliau, menafsirkan dari
apa yang mereka sanggupi dari ayat-ayat yang bergantung pada kekuatan

14

pemahaman mereka, keluasan daya mendapatkannya, kedalaman mereka


mengenai bahasa al-Quran dan rahasianya, keadaan manusia pada waktu itu, dan
adat istiadat mereka di tanah arab dan mengambil masukan dari apa yang mereka
dengar dari tokoh-tokoh Ahli Kitab yang telah masuk Islam dan baik Islam
mereka.
c. Pada Masa Tabiin
Pada zaman Tabiin penafsiran Al-Quran dilakukan dengan dua cara.
Pertama, Penafsiran Al-Quran dengan Sumber ulama terdahulu, Kedua penafsiran
Al Quran dengan pemahaman dan ijtihad pada masa itu.Cara penafsiran dengan
ijtihad dilakukan jika tidak ditemukan sumber dari ulama terdahulu dalam
penafsiran Al-Quran.
d. Pada Masa Pembukuan
Pada

masa

Pembukuan

penafsiran

Al-Quran

telah

mengalami

perkembangan yang luar biasa karena sudah mulai dilakukan pembukuan kitab
tafsir dan ilmu tafsir Al-Quran menjadi ilmu yang berdiri sendiri tidak terikat dan
bergantung pada ilmu lain.

15

DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran.
Al-Qaththan, Syaikh Manna. 2006. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar
Dzahabi (al), Muhammad Husain. Tafsir wa al-Mufassirn. Kairo : Maktabah
wahbah, t.th. juz 1.
Masyhur, Kahar. 1992. Pokok-Pokok Ulumul Quran. Jakarta : Rineka Cipta
Muhammad, Muhammad Abdurrahman. 1999. Penafsiran Al-Quran Dalam
Perspektif Nabi Muhammad SAW, terj. Rosihon Anwar. Bandung: CV
Pustaka Setia
Shiddieqy (ash), Teungku Muhammad Hasbi. 2009. Sejarah Dan Pengantar Ilmu
Al-Quran Dan Tafsir. Semarang : Pustaka Rizki Putra
Syurbasyi, Ahmad. 1999. Studi tentang sejarah perkembangan tafsir al-quran alkarim. Jakarta: Kalam Mulia
Suyui (as), Imam Jalaluddin. 2012. Al-Itqan f Ulm al-Quran. Bairut : DKI
Tim Forum Karya Ilmiah RADEN. 2011. Al Quran Kita: Studi Ilmu, Sejarah,
dan Tafsir Kalamullah. Kediri: Lirboyo Press
Rahtikawati, Yayan, Dadan Rusmana. 2013. Metodologi Tafsir al-Quran.
Bandung: Pustaka Setia

16