Anda di halaman 1dari 6

LIMBAH GAS

A. DEFINISI LIMBAH GAS


Limbah gas adalah salah satu penyebab terjadinya pencemaran udara. Hal ini
disebabkan karena limbah gas mengandung zat partikulat yang berbentuk asap,
nitrogen, karbon monoksida, hidrokarbon, sulfur dioksida yang dilepas ke udara.
Udara merupakan sarana pencemaran dari limbah gas ini. Limbah gas biasanya
berasal dari industri pabrik yang memiliki cerobong besar untuk mengalirkan sisa
pembuangan produksi dalam bentuk gas. Selain itu, asap yang keluar dari knalpot
kendaraan bermotor juga dapat disebut sebagai limbah gas.
B. ZAT ZAT YANG TERKANDUNG DALAM LIMBAH GAS
a. Karbon monoksida (CO)
Pencemaran karbon monoksida berasal dari sumber alami seperti: kebakaran
hutan, oksidasi dari terpene yang diemisikan hutan ke atmosfer, produksi CO
oleh vegetasi dan kehidupan di laut. Sumber CO lainnya berasal dari sumber
antropogenik yaitu hasil pembakaran bahan bakar fosil yang memberikan
sumbangan 78,5% dari emisi total. Pencemaran dari sumber antropogenik
55,3% berasal dari pembakaran bensin pada otomotif.
b. Nitrogen oksida (NOx)
\Cemaran nitrogen oksida yang penting berasal dari sumber antropogenik yaitu:
NO dan NO2. Sumbangan sumber antropogenik terhadap emisi total 10,6%.
c. Sulfur oksida
(SOX)Senyawa sulfur di atmosfer terdiri dari H2S, merkaptan, SO2, SO3,
H2SO4 garam-garam sulfit, garam-garam sulfat, dan aerosol sulfur organik.
Dari cemaran tersebut yang paling penting adalah SO2 yang memberikan
sumbangan 50% dari emisi total. Cemaran garam sulfat dan sulfit dalam
bentuk aerosol yang berasal dari percikan air laut memberikan sumbangan 15%
dari emisi total.
d. Hidrokarbon (HC)

Cemaran hidrokarbon yang paling penting adalah CH4 (metana) + 860/ dari
emisi total hidrokarbon, dimana yang berasal dari sawah 11%, dari rawa 34%,
hutan tropis 36%, pertambangan dan lain-lain 5%. Cemaran hidrokarbon lain
yang cukup penting adalah emisi terpene (a-pinene p-pinene, myrcene, dIimonene) dari tumbuhan 9,2 % emisi hidrokarbon total. Sumbangan emisi
hidrokarbon dari sumber antrofogenik 5% lebih kecil daripada yang berasal
dari pembakaran bensin 1,8%, dari insineratc dan penguapan solvent 1,9%.
e. Partikulat
Cemaran partikulat meliputi partikel dari ukuran molekul s/d > 10 m.
Partikel dengan ukuran > 10 m akan diendapkan secara gravitasi dari
atmosfer, dan ukuran yang lebih kecil dari 0,1 m pada umumnya tidak
menyebabkan masalah lingkungan. Oleh karena itu cemaran partikulat yang
penting adalah dengan kisaran ukuran 0,1 - 10 m. Sumber utama partikulat
adalah pembakaran bahan bakar 13% - 59% dan insinerasi.
f. Karbondioksida (CO2)
Emisi cemaran CO2 berasal dari pembakaran bahan bakar dan sumber alami.
Sumber cemaran antropogenik utama adalah pembakaran batubara 52%, gas
alam 8,5%, dan kebakaran hutan 2,8%
g. Metana (CH4)
Metana merupakan cemaran gas yang bersama-sama dengan CO2, CFC, dan
N2O menyebabkan efek rumah kaca sehingga menyebabkan pemanasan global.
Sumber cemaran CH4 adalah sawah (11%), rawa (34%), hutan tropis (36%),
pertambangan dll (5%). Efek rumah kaca dapat dipahami dari Gambar 30. Sinar
matahari yang masuk ke atmosfer sekitar 51% diserap oleh permukaan bumi
dan sebagian disebarkan serta dipantulkan dalam bentuk radiasi panjang
gelombang pendek (30%) dan sebagian dalam bentuk radiasi inframerah (70%).
Radiasi inframerah yang dipancarkan oleh permukaan bumi tertahan oleh awan.
Gas-gas CH4, CFC, N2O, CO2 yang berada di atmosfer mengakibatkan radiasi

inframerah yang tertahan akan meningkat yang pada gilirannya akan


mengakibatkan pemanasan global.
h.

Asap kabut fotokimia


Asap kabut merupakan cemaran hasil reaksi fotokimia antara O3, hidrokarbon
dan NOX membentuk senyawa baru aldehida (RHCO) dan Peroxy Acil Nitrat
(PAN) (RCNO5).

i. Hujan asam
Bila konsentrasi cemaran NOx dan SOX di atmosfer tinggi, maka akan diubah
menjadi HNO3 dan H2SO4.
Adanya hidrokarbon, NO2, oksida logam Mn (II), Fe (II), Ni (II), dan Cu (II)
mempercepat reaksi SO2 menjadi H2SO4.
HNO3 dan H2SO4 bersama-sama dengan HCI dari emisi HCI menyebabkan
derajad keasaman (pH) hujan menjadi rendah <>
C. MANFAAT LIMBAH GAS
Limbah gas SO2 dan SO3 dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan asam
sulfat (H2SO4), yaitu dengan mereaksikan atau absorpsi gas SO2 atau SO3 dengan
air, konsentrasi H2SO4 yang dihasilkan selanjutnya dimurnikan sehingga
dihasilkan asam sulfat dengan kualitas tinggi.
D. DAMPAK
Limbah juga dapat berasal dari gas tertentu yang dihasilkan dari sebuah proses
produksi, jika gas tersebut memiliki tingkat konsentrasi yang melebihi ambang
batasnya di udara maka dapat menimbulkan berbagai gangguan. Suatu contoh
timbulnya pencemaran dari Gas buang kendaran bermotor, peledak, maupun industri
pupuk, pembakaran yang dilakukan dari aktibitas ini menghasilkan gas Nitrogen
Oksida (N2O), bila kandungannya dalam udara melebihi batas normal dapat
menggangu dan melemahkan sistem beserta saluran pernapasan sehingga dampak
terburuknya dapat membuat paru paru mudah terserang infeksi. Dampak lain dari
berbagai limbah gas yang dihasilkan oleh industri maupun rumah tangga diantaranya :

Gas Sulfur Dioksida (SO2) yang bersumber dari pembakaran dari batu bara atau
bahan bakar minyak yang mengandung Sulfur. Dampak-nya dapat Menimbulkan
efek iritasi pada saluran nafas sehingga menimbulkan gejala batuk dan sesak nafas.

Gas Amoniak (NH3) yang bersumber dari proses Industri. Dampak-nya


menimbulkan bau yang tidak sedap/menyengat, merusak sistem pernapasan,
bronchitis, merusak indera penciuman.

Gas Karbon Dioksida (CO2), Karbon Monoksida (CO) dan Hidrokarbon yang
bersumber dari proses pembakaran yang menghasilkan asap tebal / banyak asap.
Dampak-nya menimbulkan efek sistematik, karena meracuni tubuh dengan cara
pengikat melalui hemoglobin yang amat vital bagi oksigenasi jaringan tubuh
akaibatnya apabila otak kekurangan oksigen dapat menimbulkan kematian, dalam
jumlah kecil dampak-nya dapat menimbulkan gangguan berfikir, gerakan otot,
gangguan jantung.

E. SOLUSI PENCEMARAN LIMBAH GAS


1. Mengontrol Emisi Gas Buang
Gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, dan
hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya melalui beberapa metode. Gas sulfur
oksida dapat dihilangkan dari udara hasil pembakaran bahan bakar dengan cara
desulfurisasi menggunakan filter basah (wet scrubber). Mekanisme kerja filter
basah ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan berikutnya, yaitu mengenai
metode menghilangkan materi partikulat, karena filter basah juga digunakan untuk
menghilangkan materi partikulat. Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil
pembakaran kendaraan bermotor dengan cara menurunkan suhu pembakaran.
Produksi gas karbon monoksida dan hidrokarbon dari hasil pembakaran kendaraan
bermotor dapat dikurangi dengan cara memasang alat pengubah katalitik (catalytic
converter) untuk menyempurnakan pembakaran. Selain cara-cara yang disebutkan
di atas, emisi gas buang juga dapat dikurangi dengan cara mengurangi kegiatan
pembakaran bahan bakar atau mulai menggunakan sumber bahan bakar alternatif
yang lebih sedikit menghasilkan gas buang yang merupakan polutan.

2. Menghilangkan Materi Partikulat dari Udara Pembuangan


a. Filter udara
Filter udara adalah alat untuk menghilangkan materi partikulat padat, seperti debu,
serbuk sari, dan spora, dari udara. Alat ini terbuat dari bahan yang dapat
menangkap materi partikulat sehingga udara yang melewatinya akan tersaring dan
keluar sebagai udara bersih (bebas dari materi partikulat). Filter udara dapat
digunakan pada ventilasi ruangan atau bangunan, mesin atau cerobong pabrik,
mesin kendaraan bermotor, atau pada area lain yang membutuhkan udara bersih.
Jenis dan bahan yang digunakan sebagai filter udara bermacam-macam, tergantung
pada kandungan udara yang disaring, rnisalnya apakah berdebu banyak, berssifat
asam atau alkalis, dan sebagainya.
b. Pengendap siklon
Pengendap siklon atau Cyclone Separator adalah alat pengendap materi partikulat
yang ikut dalam gas atau udara buangan. Prinsip kerja pengendap siklon adalah
pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara/gas buangan yang sengaja dihembuskan
melalui tepi dinding tabung siklon sehingga partikel yang relatif berat akan jatuh ke
bawah. Ukuran materi partikulat yang bisa diendapkan oleh alat ini adalah antara 5
-40u. Makin besar ukuran partikel, makin cepat partikel tersebut diendapkan.
c. Filter basah
Filter basah (wet scrubber) membersihkan udara yang kotor dengan cara
menyalurkan udara ke dalam filter kemudian menyemprotkan air ke dalamnya.
Saat udara kontak dengan air, materi partikulat padat dan senyawa lain yang larut
air akan ikut terbawa air turun ke bagian bawah sedangkan udara bersih
dikeluarkan dari filter. Air yang digunakan untuk menyemprot udara kotor juga
dapat diganti dengan senyawa cair lain yang dapat bereaksi/melarutkan polutan
udara. Contoh senyawa atau materi partikulat yang dapat dibersihkan dari udara
dengan menggunakan filter basah adalah debu, sulfur oksida, amonia, hidrogen
klorida, dan senyawa asam atau basa lain.
d. Pengendap sistem gravitasi
Alat pengendap sistem gravitasi hanya dapat digunakan untuk membersihkan udara
yang mengandung materi partikulat dengan ukuran partikel relatif besar, yaitu
sekitar 50p atau lebih. Cara kerja alat ini sangat sederhana sekali, yaitu dengan
mengalirkan udara yang kotor ke dalam alat yang dapat memperlambat kecepatan
gerak udara. Saat terjadi perubahan kecepatan secara tiba-tiba (speed drop), materi

partikulat akan jatuh terkumpul di bagian bawah alat akibat gaya beratnya sendiri
(gravitasi).
e. Pengendap elektrostatik
Alat pengendap elektrostatik (Electrostatic precipitator) digunakan untuk
membersihkan udara yang kotor dalam jumlah (volume) yang relatif besar dan
pengotor udaranya umumnya adalah aerosol atau uap air. Alat pengendap
elektrostatik ini menggunakan elektroda yang dialiri arus searah (DC). Udara kotor
disalurkan ke dalam alat dan elektroda akan menyebabkan materi partikulat yang
terkandung dalam udara mengalami ionisasi. Ion-ion kotoran tersebut akan ditarik
ke bawah sedangkan udara bersih akan terhembus keluar.