Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH FARMASI INDUSTRI

RUANG PRODUKSI INDUSTRI STERIL

Nama Kelompok:
Mega Shinta / 1313015086
Atria Kent / 1313015089

BAB I
PENDAHULUAN
Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan industri bahan baku
obat. Industri obat jadi adalah industri yang memproduksi suatu produk obat yang
telah melalui seluruh tahap proses pembuatan, dimana obat jadi tersebut dapat berupa
sediaan atau bahan-bahan yang sering digunakan untuk mempengaruhi atau
menyelidiki sistem fisiologis atau keadaan patologi dalam rangka penetapan
diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan
kontrasepsi. Industri bahan baku adalah industri yang memproduksi bahan baku
dimana bahan baku tersebut adalah seluruh bahan, baik berkhasiat ataupun tidak
berkhasiat yang digunakan dalam proses pengolahan obat. 2.1.2 Persyaratan Industri
Farmasi Industri farmasi wajib memperoleh izin usaha dalam melaksanakan
kegiatannya. Oleh karena itu, industri tersebut wajib memenuhi persyaratan yang
telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Persyaratan industri farmasi tercantum
dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 245//Menkes/SK/V/1990 adalah
sebagai berikut :
a. Industri farmasi merupakan suatu perusahaan umum, badan hukum berbentuk
Perseroan Terbatas atau Koperasi
b. Memiliki rencana investasi
c. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
d. Industri farmasi obat jadi dan bahan baku wajib memenuhi persyaratan CPOB
sesuai dengan ketentuan SK Menteri Kesehatan No. 43/Menkes/SK/II/1988
e. Industri farmasi obat jadi dan bahan baku, wajib mempekerjakan secara tetap
sekurang-kurangnya dua orang apoteker warga Negara Indonesia, masing-masing
sebagai penanggung jawab produksi, penanggung jawab pengawasan mutu sesuai
dengan persyaratan CPOB
f. Obat jadi yang diproduksi oleh industri farmasi hanya dapat diedarkan setelah
memperoleh izin edar sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku.

BAB II
RUANGAN PRODUKSI STERIL
Ruangan produksi steril adalah tempat yang disiapkan secara khusus dari
bahan-bahan dan tata bentuk yang harus sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang
Baik (CPOB). Ruangan ini dipersiapkan untuk produksi obat steril, sehingga harus
mempunyai syarat khusus. Obat atau bahan obat yang akan diproduksi harus
mempunyai kepastian bahwa obat tidak terkontaminasi (pure).
Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain,
konstruksi dan letak yang memadai, serta disesuaikn kondisinya dan dirawat dengan
baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan desain
ruangan harus

dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil resiko terjadinya

kekeliruan, pencemaran-silang dan kesalahan lain, dan memudahkan pembersihan ,


sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindari pencemaran silang,
penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat.
Menurut CPOB, ruangan steril dikategorikan ruang kelas I dan II atau sering
disebut white area, yang harus memenuhi syarat jumlah partikel dan mikroba. Kelas I
sebenarnya berada dalam ruangan kelas II, tetapi ruang kelas I memiliki alat LAF
(Laminar Air Flow), yaitu alat yang menjamin ruangan dalam kondisi steril dan bias
dipakai untuk pembuatan secara aseptik.
Sebaliknya, ruangan produksi steril harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Bebas mikroorganisme aktif
b. Untuk mendapatkannya, udara yang ada di dalam ruangan disaring dengan
HEPA filter agar mendapatkan udara yang bebas mikroorganisme dan
partikel.
c. Ada batasan kontaminasi dengan partikel

d. Tekanan positif, yakni tekanan udara di dalam ruangan lebih besar daripada
udara di luar, sehingga udara di dalam mengalir ke luar (udara di luar yang
lebih kotor tidak dapat masuk ke dalam ruangan yang lebih bersih)
e. Minimal terbagi atas tiga area, yaitu area kotor (black area), intermediate area
(grey area), dan area bersih (white area)
Tata letak ruang hendaklah dikaji sejak tahap perencanaan konstruksi bangunan demi
keefektifan semua kegiatan, kelancaran arus kerja, komunikasi, dan pengawasan serta
untuk menghindari ketidakteraturan. Tata letak ruang dalam area produksi yang harus
dipenuhi antara lain :
a. Untuk pengolahan produk yang mengandung bahan yang menimbulkan
sensitisasi tinggi, disediakan fasilitas tersendiri untuk masing-masing produk.
Udara yang dikeluarkan dari fasilitas itu dilewatkan atau melalui suatu sistem
b.

yang sesuai sebelum dilepaskan ke atmosfer.


Luas area kerja produksi minimal 2 kali luas yang diperlukan untuk
penempatan peralatan (termasuk wadah yang diperlukan untuk suatu kegiatan)
ditambah luas area untuk keperluan pembersihan dan perawatan mesin oleh

operator produksi dan/atau teknisi.


c. Permukaan lantai, dinding, langit-langit dan pintu hendaklah :
1. Kedap air
2. Tidak terdapat sambungan untuk mengurangi pelepasan atau pengumpulan
partikel.
3. Tidak merupakan media pertumbuhan mikroba.
4. Mudah dibersihkan, serta tahan terhadap proses pembersihan, bahan
pembersih dan disinfektan yang digunakan berulangkali dengan
memperhatikan faktor kepadatan, porositas, tekstur, dan sifat elektrostatis

Area produksi hendaknya memperhatikan beberapa hal, antara lain :

a. Untuk memperkecil resiko bahaya medis yang serius akibat terjadinya


pencemaran

silang, suatu

sarana khusus

dan self-container hendaklah

disediakan untuk produksi obat tertentu seperti produk yang dapat


menimbulkan sensitif tinggi, produk lainya seperti antibiotik tertentu (missal
penisilin). Produk hormone seks, produk sitotoksik, produk tertentu dengan
bahna aktif berpotensi tinggi, produk biologi (misal: yang berasal dari
mikroorganisme hidup ) dan produk non-obat hendaklah diprodukdsi di
bangunan terpisah
b. Pembuatan produk yang diklasifikasikan sebagai racun seperti pestisida dan
herbisida tidak boleh dilakukan disarana produksi obat
c. Tata-letak ruangan produksi sebaiknya dirancang sedemikian rupa untuk :
1. Memungkinkan kegiatan produksi dilakukan di area yang saling
berhubungan antara satu ruangan dengan ruangan lain mengikuti urutan
tahap produksi dan menurut kelas kebersihan yang di persyaratkan.
2. Mencegah kesesakan dan ketidakteraturan dan
3. Memungkinkan terlaksananya komunikasi dan pengawasan yang efektif.
d. Luas area kerja dan area penyimpanan bahan atau produk yang sedang dalam
proses hendaklah memadai untuk memungkinkan penempatan peralatan dan
bahan secara teratur dan sesuai dengan alur proses, sehingga dapat
memperkecil resiko terjadi kekeliruan antara produk obat atau komponen
obat yang berbeda, mencegah pencemaran silang dan memperkecil resiko
terlewatnya atau salah melaksanakan tahapan proses produksi atau
pengawasan.
e. Permukaan dinding, lantai dan langit-langit bagian dalam ruangan dimana
terdapat bahan baku dan bahan pengemas primer, produk antara atau ruahan
yamg terpapar ke lingkungan hendaklah halus, bebas retak dan sambungan
terbuka. Tidak melepaskan praktikulat, serta memungkinkan pelaksanaan
pembersihan (bila perlu disinfeksi) yang mudah dan efektif.
f. Konstruksi lantai di area pengolahan hendaklah dibuat dari bahan kedap air
permukaannya rata dan memungkinkan pelaksanaan pembersihan yang cepat

dan efisien apabila terjadi tumpahan bahan. Sudut antara dinding dan lantai di
area pengolahan hendaklah berbentuk lengkungan.
g. Pipa, fiting lampu, titik fentilasi dan instalasi sarana penunjang lain hendaklah
dirancang sedemikian rupa untuk menghindari terbentuknya ceruk yang sulit
dibersihkan. Untuk kepentingan perawatan sedapat mungkin instalasi sarana
penujang seperti ini hendaklah dapat di jangkau dari luar area pengolahan.
h. Pipa yang terpasang didalam ruangan tidak boleh menempel diding tetapi
digantung dengan menggunakan siku-siku pada jarak cukup untuk
memudahkan pembersihan menyeluruh.
i. Pemasangan rangka atap, pipa dan saluran udara di dalam hendaklah
dihindari. Apabila tidak terhindarkan, maka prosedur dan jadwal pembersihan
instalasi tersebut hendaklah dibuat dan di ikuti.
j. Lubang udara masuk dan keluar serta pipa-pipa dan salurannya hendaklah
dipasang sedemikian rupa untuk mencegah pencemaran terhadap produk.
k. Saluran pembuangan air hendaklah cukup besar, dirancang dan dilengkapi
dengan bak control serta ventilasi yang baik maupun mencegah aliran balik
sedapat mungkin saluran terbuka dicegah tetapi bila perlu hendaklah cukup
dangkal untuk memudahkan pembersihan dan disinfeksi.
l. Area produksi hendaklah diventilasi secara efektif dengan mengunakan sistem
pengendalian udara termasuk filter udara dengan tingkat efisiensi yang dapat
mencegah pencemaran dan pencemaran silang, pengendalian kelembaban
udara sesuai kebutuhan produk yang diproses dan kegiatan yang dilakukan di
dalam ruangan dan dampaknya terhadap lingkungan luar pabrik. Area
produksi hendaklah dipantau secara teratur baik selama ada maupun tidak ada
kegiatan produksi untuk memastikan pemenuhan terhadap spesifikasi yang
dirancang sebelumnya.
m. Area dimana dilakukan kegiatan yang menimbulkan debu misalnya pada saat
pengambilan sempel, penimbangan bahan /produk, pencampuran dan
pengolahan bahan atau produk pengemasan produk serbuk, memerlukan
sarana penunjang khusus untuk mencegah pencemaran silang dan
memudahkan pembersihan.

n. Tata letak ruang area pengemasan dirancang khusus untuk mencegah campur
baur atau pencemaran silang.
o. Area produksi hendaklah mendapat penerangan yang memadai, terutama
penerangan di mana pengawasan visual dilakukan pada saat proses berjalan.
p. Pengawasan selama proses dapat dilakukan di dalam area produksi sepanjang
kegiatan tersebut tidak menimbulkan resiko terhadap produksi obat.
q. Pintu area produksi yang berhubungan langsung ke lingkungan luar, separti
pintu bahaya kebakaran, hendaklah ditutup rapat. pintu tersebut hendaklah
diamankan sedemikian rupa sehingga hanya dapat digunakan dalam keadaan
darurat sebagai pintu keluar. Pintu dalam area produksi yang berfungsi
sebagai barier terhadap pencemaran silang hendaklah selalu ditutup apabila
sedang tidak digunakan.
Ruangan

produksi

didesain

sedemikian

rupa

sehingga

mengurangi

risiko

terkontaminasi mikroorganisme, partikel, atau kotoran. Tahapan proses untuk


mendapatkan ruangan produksi steril bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Bersihkan lantai, dinding, dan langit-langit dari debu dan kotoran. Hampir
seluruh benda-benda yang di sterilkan harus secara fisik bersih terlebih dahulu
sebelum proses standar sterilisasi dilakukan. Kontaminasi mikroba pada
dasarnya dapat dihilangkan melalui pembersihan dengan menggunakan
deterjen dan air atau dihancurkan dengan cara sterilisasi atau desinfektisasi.
Pembersihan yang dilanjutkan dengan pengeringan terhadap permukaan
hampir dapat dinyatakan efektif sebagaimana halnya jika menggunakan
desinfektan.
b. Bersihkan lantai, dinding, dan langit-langit dengan cairan disinfektan hingga
bebas mikroorganisme. Beberapa disinfektan yang banyak digunakan :
1. Alcohol : Etil atau Isopropil alcohol (60-90 %)
Mekanisme kerjanya denaturasi protein.
Keuntungan : daya bunuh cepat dengan sifat bakterisidal, tuberkulosidal,
fungsidal, dan virusidal.
Kerugian :

Perlu waktu kontak minimum 5 menit untuk mencapai tingkat

desinfeksi
- Tidak memiliki aktivitas residual
- Mudah menguap dan terbakar
- Terinaktivasi oleh materi organic
- Tidak bersifat sporisidal
2. Halogen : Chlorine (Na-hipoklorit)
Mekanisme kerjanya kemungkinan menginhibisi reaksi enzimatik dalam
sel, denaturasi protein, dan inaktivasi asam nukleat.
Keuntungan : efektif terhadap mikroorganisme gram positif dan gram
negative, tuberkulosidal, fungsidal, dan virusidal dengan daya kerja yang
cepat.
Dosis :
50 ppm dapat membunuh vegetatif vakteri dan virus HIV
200 ppm dapat membunuh virus-virus lain
500 ppm dapat membunuh hepatitis B
1000 ppm dapat membunuh Mycrobacterium tuberculosis
Kerugian :
a) Terinaktivasi oleh materi organic
b) Korosif terhadap alat dan wadah
c) Tidak bersifat sporisidal
3. Glutaraldehid
Pada konsentarsi 2 %, pH 7,5-8,5 bertindak sebagai high level disinfectant
(HLD) yang berarti dapat menghancurkan semua mikroorganisme
vegetative, basil TBC, fungi, virus ukuran kecil dan non lipid, serta virus
berukuran sedang kecuali sejumlah tertentu spora bakteri.
Mekanisme kerjanya adalah membunuh mikroorganisme melalui proses
alkilasi protein.
Keuntungan:
- Dapat membunuh vegetative bakteri dalam waktu 2 menit.
- Bakterisidal, tuberkulosidal, fungisidal, virusidal, dan sporisidal.
Waktu yang dibutuhkan antara 10-30 menit, sedangkan proses
sterilisasi perendaman butuh waktu sampai dengan 10 jam
Kerugian:
- Bau yang menyegat
- Dapat menyebabkan muntah-muntah bila ventilasi ruangan buruk

Konsentrasi 0,2 ppm dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran

pernafasan
- Dapat menguap
- Tidak mempunyai kemampuan membersihkan
4. Hidrogen peroksida
Pada konsentrasi 6 % berfungsi sebagai high Level disinfectant (HLD)
Mekanisme kerjanya menyerang membran lipid mikroorganisme.
Keuntungan :
Bakterisidal, virusidal, tuberkulosidal, fungsidal, dan sporisidal.
Kerugian :
Terpengaruh oleh perubahan pH

5. Formaldehid
Konsentrasi 8 % formaldehid + 70 % alcohol berfungsi sebagai HLD.
Sebaliknya, konsentrasi kurang dari 4 % berfungsi sebagai Low Level
Disinfektan (LLD), yaitu: disinfektan tidak memiliki daya bunuh terhadap
spora bakteri, mikrobakterium, semua fungi, serta semua virus ukuran
kecil dan sedang.
Mekanisme kerjanya menginaktivasi mikroorganisme melalui reaksi
alkilasi terhadap gugus amino dan gugus sulfhidril pada protein.
Keuntungan :
- Bakterisidal, tuberkulosidal, fungisidal, dan virusidal
- Sporisidal (8% formaldehid dalam 70 % alcohol)
Kerugian :
- Terinaktivasi oleh materi organic
- Potensial karsinogen
- Menimbulkan uap yang mengiritasi
- Korosif
6. Fenol
Mekanisme kerjanya penetrasi terhadap dinding sel dan mengendapkan
protein sel. Fenol biasa digunakan untuk melakukan desinfeksi dinding,
lantai, dan permukaan meja (permukaan keras)
Keuntungan :
- Spektrum luas, bakterisidal gram positif dan negative, fungisidal,
tuberkulosidal, dan virus lipofilik

- Toleransi cukup baik terhadap beban organic dan air sadah


- Mempunyai aktivitas residual
Kerugian :
- Tidak bersifat sporisidal
- Terinaktivasi oleh materi organic
- Korosif terhadap karet dan sebagian plastic
7. Campuran chlorhexidine dan cetrimide
Contoh
: Cairan Hibicet dari SSL International plc Oldham, England
Komposisi:
Chlorhexidine Gluconate 1,5% b/v, Cetrimide 15%b/v (masing-masing
setara dengan 7,5% v/v chlorhexidine gluconate solution Ph.Eur. 37,5%
v/v strong cetrimide solution B.P 40%)
Pemakaian : Satu bagian di dalam 100 bagian air; 10 ml + air hingga
menjadi genap 1000 ml. fungsinya sebagai pembersih dan antiseptik.
c. Bersihkan udara dengan alat pengasapan (fogging) yang mengandung cairan
air borne disinfectants of surfaces
Contoh : Anios Special DJP, Laboratories Anios.
Komposisi
:
Formaldehyde,
Didecyldimethylammonium

chloride,

Dimethicone.
Dapat membunuh mikroba : E. coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas
aeruginosa, Streptococcus Faecalis dalam 4 ml/m3
d. Sinari ruangan dengan ultraviolet minimum selama 24 jam
e. Setelah itu, ruangan ditutup dan dialiri udara yang telah bebas
mikroorganisme, sehingga didapatkan ruangan clean area untuk produksi
steril.
Clean area mempunyai klasifikasi atau grade A, B, C, dan D. Klasifikasi dibagi
berdasarkan

jumlah

maksimum

partikel

dan

jumlah

mikroba

yang

mengkontaminasinya per meter kubik udara.


Grade

Jumlah maksimum partikel dan jumlah mikrobakteri per meter kubik


0,5 m

5 m

Jumlah mikroorganisme

3500

<1

3500

10

350000

2000

100

3500000

20000

200

Petugas yang akan bekerja di dalam ruangan produksi steril harus mengganti baju dan
membersihkan diri menggunakan cairan antiseptik di dalam ruangan clean changing
area dan dibilas dengan udara steril, sehingga diharapkan petugas bebas dari kotoran
dan mikroorganisme.
Petugas yang akan bekerja di dalam ruangan produksi steril saat masuk ke rumah
changing area, harus mengganti baju dan sepatu serta memakai topi dan kacamata
steril yang telah tersedia. Setelah itu, dia baru masuk ke ruangan clean filling room
atau ruangan preparation area.
Laminair airflow merupakan tempat bekerja secara aseptic, untuk tes sterilitas,
aseptic dispensing, dan i.v. mixture (pencampuran obat suntik). Tekanan yang ada di
dalam ruangan laminair airflow dibuat menjadi tekanan negatif. Artinya, aliran udara
yang ada mengalir kembali kedalam ruangan laminair airflow.
Penyebab kontaminasinya adalah :
a. Udara yang masuk ke ruangan, baik dara dai dalam maupun dari luar.
b. Hasil-hasil produksi yang ada di ruangan
Oleh karena itu, control kualitas diperlukan untuk :
1. Control udara
Dengan menggunakan HEPA filter, bila berasap menggunakan smoke detector.
2. Temperature dan humidity Target temperature 20C dan relative humidity 35-45%
dengan tekanan positif.

Pada pembuatan produk steril dibedakan 4 Kelas kebersihan:


1. Kelas A
Zona untuk kegiatan yang berisiko tinggi, misal zona pengisian, wadah tutup
karet, ampul dan vial terbuka, penyambungan secara aseptis. Umumnya
kondisi ini dicapai dengan memasang unit aliran udara laminar (laminar air
flow) di tempat kerja. Sistem udara laminar hendaklah mengalirkan udara
dengan kecepatan merata berkisar 0,36 0,54 m/detik (nilai acuan) pada
posisi kerja dalam ruang bersih terbuka. Keadaan laminar yang selalu terjaga
hendaklah dibuktikan dan divalidasi. Aliran udara searah berkecepatan lebih
rendah dapat digunakan pada isolator tertutup dan kotak bersarung tangan.
2. Kelas B
Untuk pembuatan dan pengisian secara aseptis, Kelas ini adalah lingkungan
latar belakang untuk zona Kelas A.
3. Kelas C dan D
Area bersih untuk melakukan tahap proses pembuatan yang mengandung
risiko lebih rendah.
KLASIFIKASI RUANG BERSIH DAN SARANA UDARA BERSIH
Ruang bersih dan sarana udara bersih diklasifikasikan sesuai dengan EN ISO 146441. Klasifikasi hendaklah dibedakan dengan jelas dari pemantauan lingkungan pada
saat operasional. Jumlah maksimum partikulat udara yang diperbolehkan untuk tiap
Kelas kebersihan adalah sebagai berikut:
a.

Untuk tujuan klasifikasi zona Kelas A, perlu diambil sampel udara minimum

1 m3 per lokasi pengambilan sampel.


b. Untuk Kelas A klasifikasi partikulat udara adalah ISO 4.8 ditentukan oleh
batas jumlah partikel dengan ukuran > 5,0 m.
c. Untuk Kelas B (nonoperasional) klasifikasi partikulat udara adalah ISO 5
untuk kedua ukuran partikel. Untuk Kelas C, klasifikasi partikulat udara
adalah ISO 7 untuk nonoperasional dan ISO 8 untuk operasional.
d. Untuk Kelas D (nonoperasional), klasifikasi partikulat udara adalah ISO 8.
e. Untuk tujuan klasifikasi, metodologi EN/ISO 14644-1 menjelaskan jumlah
lokasi minimal untuk pengambilan sampel udara dan volume sampel

berdasarkan batas ukuran partikel terbesar bagi Kelas kebersihan terkait serta
metode untuk mengevaluasi data yang terkumpul.
f. Untuk tujuan klasifikasi hendaklah dipakai alat penghitung partikel portabel
dengan selang pendek untuk pengambilan sampel, karena akan terjadi
presipitasi yang tinggi dari partikel >5,0 m apabila menggunakan sistem
pengambilan sampel dari jarak jauh yang menggunakan selang yang panjang.
Pada sistem aliran udara unidirectional hendaklah digunakan sample heads
isokinetis.
Klasifikasi saat operasional dapat dilakukan selama kegiatan rutin, proses simulasi
atau selama pelaksanaan media fill karena diperlukan simulasi pada kasus terburuk
untuk tujuan klasifikasi ini. EN ISO 14644-2 memberikan informasi tentang cara
melakukan pengujian untuk membuktikan pencapaian secara berkesinambungan
klasifikasi kebersihan yang ditetapkan.
PEMANTAUAN RUANG BERSIH DAN SARANA UDARA BERSIH
Ruang bersih dan sarana udara bersih hendaklah dipantau secara rutin pada
saat kegiatan berlangsung dan penentuan lokasi pengambilan sampel hendaklah
berdasarkan studi analisis risiko yang dilakukan secara formal dan dari data yang
diperoleh selama penentuan klasifikasi ruangan dan/atau sarana udara bersih.
Untuk zona Kelas A, pemantauan partikel hendaklah dilakukan selama proses
kritis berlangsung, termasuk perakitan alat, kecuali bila dijustifikasi bahwa
kontaminasi yang terjadi dalam proses dapat merusak alat penghitung partikel atau
menimbulkan bahaya, misal organisme hidup dan bahan berbahaya radiologis. Pada
kasus demikian, pemantauan selama kegiatan rutin penyiapan alat hendaklah
dilakukan sebelum terpapar ke risiko kontaminasi tersebut di atas. Pemantauan
selama kegiatan proses yang disimulasikan hendaklah juga dilakukan. Frekuensi
pengambilan sampel dan ukuran sampel dalam pemantauan zona Kelas A hendaklah
ditetapkan sedemikian rupa sehingga mudah diintervensi. Kejadian yang bersifat
sementara dan kegagalan sistem apa pun dapat terdeteksi dan memicu alarm bila

batas waspada terlampaui. Jumlah rendah dari partikel yang berukuran > 5,0 m di
lokasi di titik pengisian pada saat proses pengisian berlangsung tidak selalu dapat
tercapai. Hal ini dapat diterima karena ada sebaran partikel atau tetesan produk itu
sendiri.
Sistem yang sama dianjurkan untuk Kelas B, walaupun frekuensi
pengambilan sampel dapat dikurangi. Kepentingan akan sistem pemantauan partikel
hendaklah ditetapkan berdasarkan efektivitas pemisahan Kelas A dan Kelas B yang
berdampingan. Pemantauan Kelas B hendaklah dilakukan pada frekuensi dan jumlah
sampel yang memadai sehingga perubahan pola kontaminasi dan kegagalan sistem
dapat terdeteksi dan memicu alarm bila batas waspada terlampaui.
Sistem pemantauan partikel udara dapat terdiri dari beberapa alat penghitung
partikel yang independen; suatu jaringan dari serangkaian titik pengambilan sampel
yang dihubungkan dengan manifold pada satu penghitung partikel; atau kombinasi
dari kedua sistem tersebut. Sistem yang dipilih hendaklah disesuaikan dengan ukuran
partikel.
Klasifikasi Ruang Industri Farmasi
Ruangan di industri farmasi merupakan salah satu aspek yang harus dijaga
kebersihannya. Untuk menghindari terjadinya kontaminasi silang antar produk maka
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1.

Permukaan ruangan harus kedap air, tidak terdapat sambungan atau retakan,
tidak merupakan tempat pertumbuhan mikroba, mudah dibersihkan, bagian

sudut dan tepi dinding dibuat melengkung.


2. Pipa saluran udara, listrik, air dipasang diatas langit-langit.
3. Lampu penerangan harus dipasang rata dengan langit-langit.
4. Tahan terhadap bahan pembersih.
Area pabrik dibagi menjadi 4 zona dimana masing-masing zona memiliki spesifikasi
tertentu. Empat zona tersebut meliputi :
a. Unclassified Area

Area ini merupakan area yang tidak dikendalikan (Unclassified area) tetapi
untuk kepentingan tertentu ada beberapa parameter yang dipantau. Termasuk
didalamnya adalah laboratorium kimia (suhu terkontrol), gudang (suhu
terkontrol untuk cold storage dan cool room), kantor, kantin, ruang ganti dan
ruang teknik.
b. Black area
Area ini disebut juga area kelas F. Ruangan ataupun area yang termasuk
dalam kelas ini adalah koridor yang menghubungkan ruang ganti dengan area
produksi, area staging bahan kemas dan ruang kemas sekunder. Setiap
karyawan wajib mengenakan sepatu dan pakaian black area (dengan penutup
kepala)
c. Grey area
Area ini disebut juga area kelas D/E. Ruangan ataupun area yang masuk
dalam kelas ini adalah ruang produksi produk non steril, ruang pengemasan
primer, ruang timbang, laboratorium mikrobiologi (ruang preparasi, ruang uji
potensi dan inkubasi), ruang sampling di gudang. Setiap karyawan yang
masuk ke area ini wajib mengenakan gowning (pakaian dan sepatu grey).
Antarablack area dan grey area dibatasi ruang ganti pakaian grey dan airlock.
d. White area
Area ini disebut juga area kelas C, B dan A (dibawah LAF). Ruangan yang
masuk dalam area ini adalah ruangan yang digunakan untuk penimbangan
bahan baku produksi steril, ruang mixing untuk produksi steril , background
ruang filling , laboratorium mikrobiologi (ruang uji sterilitas). Setiap
karyawan yang akan memasuki area ini wajib mengenakan
pakaian antistatik (pakaian dan sepatu yang tidak melepas partikel). Antara grey area
dan white area dipisahkan oleh ruang ganti pakaian white dan airlock. Airlock
berfungsi sebagai ruang penyangga antara 2 ruang dengan kelas kebersihan yang
berbeda untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari ruangan dengan kelas
kebersihan lebih rendah ke ruang dengan kelas kebersihan lebih tinggi. Berdasarkan
CPOB, ruang diklasifikasikan menjadi kelas A, B, C, D, E dan F, dimana setiap kelas

memiliki persyaratan jumlah partikel, jumlah mikroba, tekanan, kelembaban udara


dan air change rate.
Tabel pembagian kelas ruangan berdasarkan jumlah partikel
Hygine
Zoning

Kelas

A
B
C
D
E1
E2
E3

100
100
10.000
100.000
UC
UC
UC

Hygine
Zoning

Class

A
100
B
100
C
10.000
D
100.000
E1
UC
E2
UC
E3
UC
Keterangan :

Jumlah partikel/m3
At rest
In Operational
0,5 (m)
5,0 (m)
0,5 (m)
5,0 (m)
3.520
20
3.520
20
3.520
29
352.000
2.900
352.000
2.900
3.520.000
29.000
3.520.000
29.000
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
Limit for Microbial contamination (In operation)
Settle plates
Glove print, 5
3
Air sample (cfu/m )
diam. 90mm
fingers
(cfu/4 hours)
(cfu/glove)
<1
<1
<1
10
5
5
100
50
NS
200
100
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS
NS

UC = Unclassified
NS = No Specification
Kondisi at rest yaitu kondisi dimana tidak ada operator yang beraktivitas di dalam
ruangan, mesin dalam kondisi beroperasi, sedangkan kondisi in operational yaitu
kondisi dimana ada operator yang sedang bekerja di dalam ruangan dan kondisi
mesin sedang beroperasi.

DAFTAR PUSTAKA
Stefanus Lukas. 2006. Formulasi Steril. Yogyakarta: Andi offset.
Anonim. 2006. Lampiran Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI
tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: RI.
Suciati Tri. Layout dan Alur Kerja Laboratorium Steril. Bandung: ITB (Online)