Anda di halaman 1dari 27

HUKUM SYARA

(Al-hukm As-Syari)
Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ushul Fiqh
Dosen Pengampu : Bp. Ainun Yudhistira, S.H.I., M.H.I.

Oleh :
1. Artanti Wulansuci Utami

(163111103)

2. Dewi Murni Wulandari

(163111104)

3. Annisa Fauziah Nur Rahmawati

(163111105)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah


melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah
Ushul Fiqh.
Keberhasilan dalam penyusunan makalah ini tentunya tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat
beberapa kekurangan. Untuk itu, demi tercapainya kesempurnaan pada makalah
selanjutnya kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dari pembaca.
Akhir kata semoga makalah yang kami susun ini dapat memberikan
manfaat kepada mahasiswa khusunya dan bagi masyarakat pada umumnya.

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

COVER .....................................................................Error! Bookmark not defined.


KATA PENGANTAR........................................................................................... ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Tujuan Penyusunan Makalah ....................................................................... 1
C. Rumusan Masalah ........................................................................................ 1
BAB II ................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN .................................................................................................... 2
A. Hukum Syara .............................................................................................. 2
1.

Pengertian Hukum Syara......................................................................... 2

2.

Pembagian Hukum Syara........................................................................ 2

3.

Perbedaan Hukum Taklifi dengan Hukum Wadhi ................................ 20

BAB III................................................................................................................. 22
PENUTUP............................................................................................................ 22
A. Simpulan .................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 24

iii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap amal perbuatan manusia di muka bumi ini terutama umat islam diatur
dengan hukum hukum Allah SWT. Dalam agama islam, hukum-hukum Allah SWT
tersebut biasa dikenal dengan hukum syara. Dengan adanya hukum-hukum ini,
diharapkan umat islam dimuka bumi ini dapat beribadah sesuai dengan syariat atau
tuntunan islam yang benar yaitu sesuai dengan dasar hukum islam yang berlaku yakni
Al Quran, Al-hadits maupun sumber hukum islam yang lain seperti Ijma dan Qiyas.
Hukum syara ini sangat penting untuk dipelajari karena peraturannya yang
bersifat mengikat bagi seluruh umat islam di dunia terutama bagi mereka yang sudah
mampu untuk dikenai kewajiban menunaikan ibadah sesuai dengan syariat islam
(baligh).
Untuk itu, sebagai umat islam supaya amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT
hendaknya kita mau belajar untuk lebih memahami tentang hukum-hukum islam yang
berlaku. Agar kita termasuk ke dalam hamba Allah yang senantiasa bertaqwa yaitu
menjalankan segala apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi segala
larangan-Nya.

B. Tujuan Penyusunan Makalah


Adapun tujuan yang hendak kami capai dalam penyusunan makalah ini yaitu :
1. Dapat memberikan penjelasan kepada para pembaca mengenai pengertian hukum
syara.
2.Dapat memberikan pengetahuan kepada para pembaca mengenai pembagian hukum
syara.
3.Dapat memberikan pemahaman kepada para pembaca mengenai hukum taklifi dan
hukum wadhi.

C. Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang penyusunan makalah di atas, kami mengambil


beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan hukum syara ?
2. Bagaimana pembagian dari hukum syara ?
3. Apa perbedaan dari hukum taklifi dengan hukum wadhi ?
1

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hukum Syara
1. Pengertian Hukum Syara
Menurut etimologi kata hukum (al-hukm) berarti mencegah (al-

manu) atau memutuskan (al-qadha). Hukum juga berarti menetapkan


sesuatu atas sesuatu yang lain (itsbat syai ala syai). Menurut terminologi
ushul fiqh hukum berarti khitab Allah yang mengatur amal perbuatan
mukallaf, baik berupa

iqtidha (perintah, larangan, anjuran untuk

melakukan atau anjuran untuk meninggalkan), takhyir (kebolehan bagi


orang mukallaf untuk memilih antara melakukan dan tidak melakukan),
atau wadhi (ketentuan yang menerapkan sesuatu sebagai sebab, syarat, dan
mani). 2Menurut Ushuliyun (Ulama ahli Ushul Fiqih) hukum adalah titah
Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf baik dalam bentuk
tuntutan, pilihan maupun wadhi. Sedang menurut Fuqaha (Ulama ahli
fiqih), hukum adalah sifat yang bersifat syari yang merupakan pengaruh
dari titah Allah. Atau pengaruh titah Allah yang berkaitan dengan
perbuatan orang mukallaf, baik dalam bentuk tuntunan, pilihan, maupun
wadhi.
2. Pembagian Hukum Syara
Hukum syara dibagi menjadi dua, yaitu hukum taklifi dan hukum wadhi.
a. Hukum Taklifi
1) Pengertian Hukum Taklifi
Hukum Taklifi adalah firman Allah SWT yang berisi tuntunan untuk
dikerjakan atau ditinggalkan atau berisi pilihan antara dikerjakan atau
ditinggalkan.

1
2

Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqih, I, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013, hlm. 29.
Suwarjin, Ushul Fiqih, I, Teras, Yogyakarta, 2012, hlm. 24.

a) Contoh firman Allah yang bersifat menuntut untuk dikerjakan :

Artinya : Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan


menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya
doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah
Maha Mendengar Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah ayat 103)

Artinya : Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan taatilah Rasul,


supaya kamu diberi rahmat. (QS. An-Nur : 56)
b) Contoh firman Allah SWT yang dilarang untuk dikerjakan

Artinya: Dan janganlah kamu memakan harta diantara kamu


dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta
itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan
sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu
mengetahui. (QS. Al-Baqarah ayat 188)

http://legacy.quran.com/9/103, diakses pada 5 Oktober 2016, pukul 17.01 WIB.


http://www.quran.mu/surah-an-nur.html, diakses pada tanggal 5 Oktober 2016, pukul 17.10 WIB
5
http://www.theonlyquran.com/quran/Al-Baqarah/English_Abdullah_Yusuf_Ali/?ayat=187, diakses pada tanggal 5
Oktober 2016, pukul 17.20 WIB.
6
http://www.theonlyquran.com/quran/Al-Israa/English_Transliteration/?pagesize=0, diakses pada tanggal 5 Oktober
2016, pukul 18.10 WIB.
4

Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh


suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra ayat
32)
c) Contoh firman Allah yang bersifat memilih (fakultatif)

Artinya : Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah

kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah


banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS. Al-Jumuah ayat 10)

Artinya : Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah


berdosa kamu mengqashar salat jika kamu takut diserang orang
kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata
bagimu. (QS. An-Nisa ayat 101)

2) Bentuk-Bentuk Hukum Taklifi


Terdapat dua golongan ulama yang menjelaskan mengenai bentukbentuk dari hukum taklifi yaitu :
Pertama, menurut Jumhur Ulama Ushul Fiqh/Mutakallimin. Menurut

mereka bentuk-bentuk hukum taklifi ada lima macam yaitu :


a) Ijab yaitu titah Allah SWT untuk melaksanakan sesuatu dan tidak
boleh ditinggalkan. Misal, dalam surah An-Nur ayat 56.

http://www.quran.mu/surah-al-jumuah.html, diakses pada tanggal 5 Oktober 2016, pukul 18.20 WIB.


diakses pada tanggal 5 Oktober 2016, pukul
18.26 WIB
9
Rachmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqih, IV, CV Pustaka Setia, Bandung, 2010, hlm. 297.
8 http://www.quran30.net/2012/10/surah-an-nisa-translation-english.html,

10

Artinya : Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah


kepada Rasul, agar kamu diberi rahmat. (QS. An-Nur : 56)

b) Nadb yaitu titah Allah SWT yang tidak bersifat memaksa atau
mengikat, melainkan hanya sebagai anjuran, sehingga tidak ada
larangan bagi seseorang yang meninggalkannya. Orang yang
meninggalkan tidak dikenai sanksi. Misal terdapat dalam :

11

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu


bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis
di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis
10
11

http://www.quran.mu/surah-an-nur.html, diakses pada tanggal 5 Oktober 2016, pukul 18.40 WIB


http://legacy.quran.com/2/282, diakses pada tanggal 5 Oktober 2016, pukul 19.20 WIB.

enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka


hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu
mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia
bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi
sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang
lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak
mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan
dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orangorang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka
(boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi
yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang
mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi
keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu
menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu
membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih
menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan)
keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu
perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak
ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan
persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan
saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian),
maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan
bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu. (QS.Al-Baqarah : 282)
Lafal faktubuuhu (maka tuliskanlah olehmu), dalam ayat

12

ini pada dasarnya mengandung perintah (wujub), namun terdapat


indikasi yang mengubah perintah itu menjadi nadb yang terdapat
pada kelanjutan ayat tersebut:

12

Rachmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqih, IV, CV Pustaka Setia, Bandung, 2010, hlm. 299.

13

Artinya : Dan jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak


secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka
hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang
berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai
sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu
menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa
kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi)
menyembunyikan

persaksian.

Dan

barangsiapa

yang

menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang


berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (Surah Al-Baqarah ayat 283)
Indikasi yang mengubah dari perintah (wujub) menjadi
nadb yaitu pada kelanjutan ayat diatas yakni pada Surah Al-Baqarah
ayat 283, yaitu Allah menyatakan jika ada rasa saling mempercayai,
maka penulisan hutang tersebut tidak begitu penting. Tuntutan Allah
seperti ini disebut nadb sedangkan perbuatan yang dituntut untuk
dikerjakan (menuliskan utang - piutang) disebut mandub, akibat dari
tuntutan Allah diatas disebut nadb.
c) Tahrim yaitu titah Allah SWT yang menunjukkan adanya larangan
dalam melakukan sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang memaksa
atau larangan yang pasti. Akibat dari tuntutan ini disebut hurmah dan
perbuatan yang dilarang atau dituntut itu disebut haram. Misal
firman Allah dalam surah Al-Anam ayat 151.

13

http://www.theonlyquran.com/quran/Al-Baqarah/English_Arthur_John_Arberry/?ayat=279, diakses pada tanggal 5


Oktober 2016, pukul 19.40 WIB.

14

Artinya : Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang


diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu
mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap
kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anakanak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki
kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya
maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa
yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu
(sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh
Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).
(QS. Al-Anam : 151)
d) Karahah yaitu titah Allah SWT atau tuntutan yang menunjukkan
adanya larangan mengerjakan sesuatu dengan larangan yang tidak
pasti atau tidak memaksa. Seseorang yang melakukan perbuatan
yang dilarang disini tidak dikenai sanksi. Akibat dari tuntutan ini
disebut karahah. Karahah ini merupakan kebalikan dari nadb. Misal
hadist Nabi Muhammad SAW :
Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

15

Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah talak.


(H.R. Abu Daud, Ibn Majah, Al-Baihaqi dan Hakim)
Khitab hadist ini disebut karahah dan akibat dari khitab ini
disebut dengan karahah, sedangkan perbuatan yang dikenai khitab ini
disebut makruh.
14

http://www.theonlyquran.com/quran/Al-An'am/English_EH_Palmer/?ayat=126&pagesize=0, diakses pada tanggal 5


Oktober 2016, pukul 20.05 WIB.
15
Rachmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqih, IV, CV Pustaka Setia, Bandung, 2010, hlm. 300.

e) Ibahah yaitu

titah Allah SWT yang bersifat fakultatif, yaitu

memberikan kebebasan kepada mukallaf

antara

melakukan

perbuatan atau tidak melakukan perbuatan semua itu sama saja.


Akibat titah Allah ini disebut dengan ibahah, dan perbuatan yang
boleh dipilih disebut mubah. Misalnya firman Allah SWT dalam
surah Al-Maidah ayat 2 :

16

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar


syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan
haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatangbinatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang
mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan
dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji,
maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu)
kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat
siksa-Nya. (QS. Al-Maidah ayat 2)
Kedua, bentuk-bentuk hukum taklifi menurut ulama Hanafiyyah :
a) Iftiradh yaitu tuntutan Allah kepada mukallaf yang bersifat
memaksa berdasarkan dalil yang qathi. Misalnya, tuntutan untuk
16

http://theonlyquran.com/quran/Al-Maida/English_Prof_Shaykh_Hasan_Qaribullah/?pagesize=0, diakses pada tanggal 5


Oktober 2016, pukul 20.15 WIB.

melaksanakan shalat dan membayar zakat. Ayat dan hadist yang


mengandung tuntutan mendirikan shalat dan membayar zakat
sifatnya qathi.
b) Ijab yaitu tuntutan Allah bersifat memaksa pada mukallaf untuk
melaksanakan perbuatan, tetapi melalui dalil yang bersifat zhanni
(relatif benar). Misal, kewajiban membayar zakat fitrah, membaca
surah Al- Fatihah dalam shalat, dan berkurban. Perbuatan tersebut
menurut ulama Hanafiyah, tuntutannya bersifat ijab dan wajib
dilaksanakan, tetapi kewajibannya didasarkan tuntutan yang
zhanni.
c) Nadb maksudnya sama dengan nadb yang dikemukakan jumhur
ulama Ushul Fiqh/Mutakallimin.
d) Ibahah maksudnya juga sama seperti yang dikemukakan jumhur
ulama Ushul Fiqh/Mutakallimin.
e) Karahah Tanzihiyyah yaitu tuntutan Allah kepada mukallaf untuk
meninggalkan

perbuatan,

tetapi

tuntutannya

tidak

bersifat

memaksa. Misalnya : larangan berpuasa pada hari Jumat. Karahah


tanzihiyyah di kalangan ulama Hanafiyyah pengertiannya sama
dengan karahah pada ulama Ushul Fiqh/mutakallimin
f) Karahah Tahrimiyyah yaitu tuntutan Allah SWT kepada mukallaf
untuk meninggalkan suatu perbuatan dengan cara memaksa atau
mengikat, tetapi didasarkan dalil yang relatif benar (zhanni).
Apabila perbuatan ini dilakukan maka akan dikenai sanksi. Hukum
ini

sama

dengan

haram

seperti

pendapat

Ulama

Ushul

Fiqh/Mutakallimin.
g) Tahrim yaitu tuntutan kepada mukallaf untuk meninggalkan
pekerjaan secara memaksa dengan didasarkan dalil yang qathi.
Misalnya, larangan membunuh orang

(QS. Al-Isra : 23) dan

berbuat zina (QS. An-Nur : 2)

10

Yang membedakan pembagian hukum taklifi menurut pendapat

17

Jumhur Ulama Ushul Fiqh dengan Ulama Hanafiyyah yaitu pada sisi
kekuatan dalil yang digunakan.
3) Pembagian Hukum Taklifi Menurut Fuqaha
a) Wajib, yaitu tuntunan yang pasti agar suatu perbuatan dilaksanakan.
Apabila perbuatan tersebut dilakukan akan mendapat pahala dan
apabila ditinggalkan mendapat dosa. Contohnya sholat dan puasa
ramadhan.
Dilihat dari segi yang dibebani kewajiban, dibagi menjadi
wajib ain dan wajib kifai (kifayah). Wajib ain dibebankan pada
orang yang sudah baligh dan berakal tanpa terkecuali, misalnya:
kewajiban melaksanakan shalat fardhu, puasa di bulan ramadhan dan
menjauhi

hal-hal

yang

diharamkan

sedangkan

wajib

kifai

dibebankan kepada seluruh mukallaf tetapi dapat diwakilkan oleh


sebagian umat Islam, contoh : sholat jenazah, menjawab salam ketika
berkumpul bersama orang banyak, jihad, amar maruf nahi munkar.
Dilihat dari segi kandungan perintah, wajib dibagi menjadi
wajib muayyan dan wajib mukhayyar. Wajib muayyan objeknya
sudah tentu dan tidak ada pilihan selain yang telah ditentukan.
Misalnya : shalat fardhu, puasa Ramadhan dan lain sebagainya.
Sedangkan wajib mukhayyar yaitu kewajiban tertentu yang boleh
dipilih oleh mukallaf. Contoh kewajiban membayar kifarat sumpah
seperti pada :
18

17

Rachmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqih, IV, CV Pustaka Setia, Bandung, 2010, hlm. 302.
http://theonlyquran.com/quran/Al-Maida/English_Prof_Shaykh_Hasan_Qaribullah/?pagesize=0, diakses pada tanggal 7
Oktober 2016, pukul 18.10 WIB.
18

11

Artinya : Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahsumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia
menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja,
Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh
orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada
keluargamu,

atau

memberi

pakaian

kepada

mereka

atau

memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan


yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang
demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah
(dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah
menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur
(kepada-Nya). (QS. Al-Maidah ayat 89).
Dilihat dari segi keterikatan waktu, wajib dibagi menjadi wajib
muthlaq dan muaqqat (muqayyad). Wajib muthlaq pelaksanaannya
tidak terikat atau dibatasi waktu tertentu, contoh : mengqadha puasa
ramadhan dan membayar kaffarat sedangkan wajib muaqqat
pelaksanaanya terikat atau dibatasi waktu tertentu,tidak boleh
didahulukan atau di akhirkan dari waktu yang ditentukan contoh :
shalat fardhu, puasa Ramadhan.
Wajib Muaqqat dibagi menjadi tiga yaitu :
i. Wajib Muwassa yaitu kewajiban yang mempunyai waktu yang
lapang sehingga dalam waktu itu bias dikerjakan amalan yang
sejenis, misalnya : ketika sudah masuk waktu shalat zuhur,
seseorang bisa melaksanakan shalat zuhur dan shalat sunnah
rawatib.
ii. Wajib Mudhayyaq yaitu kewajiban yang waktunya ditentukan
secara khusus (batas waktunya sempit) hanya diperuntukkan pada
suatu amalan dan waktu itu tidak bisa digunakan untuk amalan lain,
misalnya : puasa ramadhan harus dilaksanakan sebulan penuh
sehingga pada waktu itu tidak bisa diselingi puasa sunnah.

12

iii. 19Wajib dzu asy-syibhain yaitu kewajiban yang mempunyai waktu


yang lapang namun tidak bisa digunakan untuk amalan yang sejenis
secara berulang-ulang. Misalnya : waktu haji itu cukup lapang,
seseorang bisa melaksanakan beberapa amalan haji pada waktu itu
berkali-kali, namun amalan yang berulang itu tidak diperhitungkan
syara sebagai suatu kewajiban. Akan tetapi, Ulama Syafiiyyah
berpendapat bahwa waktu untuk ibadah haji termasuk waktu Wajib
al-muthlaq, karena seseorang boleh melaksanakan ibadah haji itu
kapan saja ia mau selama ia masih hidup.
Para Ulama Ushul Fiqh juga mengemukakan bahwa dalam persoalan

20

wajib Muaqqat juga dibahas tentang :


i. Ada, menurut Ibnu Al-Hajib yaitu melaksanakan suatu amalan
untuk pertama kalinya dengan waktu yang ditentukan syara.
ii. Iadah yaitu amalan yang dilakukan untuk kedua kalinya dengan
waktu yang ditentukan karena amalan yang pertama mengandung
uzur`.
iii. Qadha yaitu amalan yang dikerjakan di luar waktu yang ditentukan
sifatnya sebagai pengganti.
Hukum wajib dari segi ukuran yang diwajibkan :
i. Wajib al-muhaddad yaitu kewajiban yang ditentukan oleh syara
dengan ukuran tertentu dan tidak boleh ditambahi atau dikurangi.
Misalnya : jumlah harta yang wajib dizakatkan dan jumlah rakaat
dalam shalat.
ii. Wajib ghairu al-muhaddad yaitu kewajiban yang ukuran dan
jumlahnya tidak ditentukan oleh syara akan tetapi diserahkan
kepada para ulama dan pemimpin umat islam. Misalnya : penentuan
hukuman dalam jarimah tazir (tindak pidana di luar hudud dan
qishash) diserahkan kepada qadhi (hakim).
b) Mandub atau sunnah, yaitu khitab syari yang menuntut suatu
perbuatan untuk dilakukan atau tidak harus dilakukan . Orang yang
19
20

Rachmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqih, IV, CV Pustaka Setia, Bandung, 2010, hlm. 303.
Rachmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqih, IV, CV Pustaka Setia, Bandung, 2010, hlm. 304.

13

melakukan mendapat pahala sedangkan yang tidak melakukan tidak


berdosa.
Hukum sunnah menurut Abdul Karim Zaidan :
i. Sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), yaitu perbuatan yang
biasanya dilakukan oleh Rasulullah dan jarang ditinggalkan.
Misalnya : shalat fajar
ii. Sunnah ghairumuakkadah (sunnah biasa), yaitu perbuatan yang
dilakukan Rasulullah, namun bukan menjadi kebiasaannya.
Misalnya : shalat sunnah dua rakaat sebanyak dua kali sebelum
shalat zuhur.
iii. Sunnah al-Zawait (sunnah tambahan), yaitu meliputi kebiasaan
sehari-hari Rasululla sebagai manusia biasa. Misalnya : adab
adab yang dicontohkan Rasulullah sebelum makan , sebelum tidur
maupun ketika berpakaian.
c) Haram yaitu khitab syari yang menuntut untuk meninggalkan suatu
perbuatan dengan tuntutan yang tegas. Orang yang melakukan akan
mendapat dosa sedang yang meninggalkan akan mendapat pahala.
Haram terbagi menjadi dua yaitu :
i. Haram lidzatih, yaitu sesuatu yang keharaman melakukannya
telah ditetapkan, karena mengandung kemudharatan. Contoh
larangan berzina dalam QS. Al-Isra: 32.
ii. Haram lighairih, yaitu sesuatu yang keharamannya tidak
ditetapkan, tapi ada sesuatu yang menyebabkannya haram. Contoh
jual beli pada waktu adzan sholat Jumat, mentalak istri di waktu
haid, jual beli dengan menipu.
d) Makruh. Menurut bahasa makruh berarti sesuatu yang dibenci.
Sedangkan

menurut

istilah

makruh

yaitu

tuntutan

untuk

meninggalkan suatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak tegas.


Orang yang melakukan tidak mendapat dosa, sedangkan yang
meninggalkan mendapat pahala.
Menurut ulama Hanafiyah makruh terbagi menjadi dua, yaitu :

14

i. Makruh tahrim, yaitu tuntutan syari untuk meninggalkan suatu


perbuatan dengan tuntutan yang pasti tetapi didasarkan pada dalil
yang zhanni. Menurut mayoritas ulama, makruh ini sama dengan
haram dari segi sama - sama diancam dengan siksaan. Misalnya :
larangan meminang wanita yang sedang dalam pinangan orang
lain, larangan memakai sutera dan perhiasan emas bagi kaum laki
laki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Keduanya ini (emas
dan sutra) haram bagi umatku yang laki laki dan halal bagi
wanita. (H.R. Abu Daud, An-Nasai, Ibn Majah dan Ahmad Ibn
Hanbal)
ii. Makruh

tanzih,

yaitu

sesuatu

yang

dianjurkan

untuk

meninggalkannya. Contoh memakan daging kuda disaat sangat


membutuhkannya ketika perang, sebagian kalangan hanafiyah,
berpendapat bahwa pada dasarnya memakan daging kuda
hukumnya haram, karena sangat butuh dalam perang, maka
hukumnya makruh.
e) Secara bahasa mubah berarti sesuatu yang diizinkan. Kata ini
bersinonim dengan kata halal. Menurut istilah mubah yaitu khitab
syari

yang

mengandung

pilihan

antara

mengerjakan

atau

meninggalkannya. Orang yang mengerjakan maupun meninggalkan


tidak mendapat pahala maupun dosa. Abu Ishaq dalam bukunya
membagi mubah menjadi tiga yaitu :
i. Mubah yang menjadikan seseorang wajib untuk melakukannya,
seperti makan dan minum hukumnya mubah akan tetapi menjadi
wajib karena untuk memperoleh energi untuk beribadah kepada
Allah SWT.
ii. Sesuatu dianggap hukumnya mubah apabila dilakukan sekali-kali
bukan setiap waktu seperti bermain dan mendengarkan nyayian
akan tetapi menjadi haram hukumnya jika menghabiskan waktu
seharian hanya untuk bermain dan mendengarkan nyanyian.
iii. Mubah yang berfungsi untuk mencapai sesuatu yang mubah pula.
Seperti membeli perabotan rumah tangga untuk kesenangan.

15

Hidup senang hukumnya mubah, untuk mencapai kesenangan itu


harus dengan cara yang mubah pula bukan dengan jalan yang
haram untuk dilakukan.
Hukum mubah menurut Ulama Ushul Fiqh, dari segi kemudharatan
dan kemanfaatannya :
i. Mubah yang jika dilakukan tidak mengandung mudharat. Misalnya
: makan dan minum.
ii. Mubah yang jika dilakukan tidak mengandung mudharat tetapi
pada dasarnya itu haram dilakukan. Misalnya : seseorang dalam
keadaan terdesak memakan daging babi karena tidak ada makanan
lain selain itu, jika tidak memakannya orang tersebut bisa
meninggal.

Selain

itu

hukumnya

menjadi

mubah

ketika

meninggalkan sesuatu yang pada dasarnya wajib dilakukan karena


darurat . Misalnya : berbuka puasa bagi ibu hamil, musafir,
maupun ibu yang menyusui anaknya.
iii. Sesuatu yang pada dasarnya bersifat mudharat tidak boleh
dilakukan oleh syara tetapi karena Allah memaafkannya maka
hukumnya menjadi mubah. Misalnya : mengerjakan perbuatan
haram sebelum islam meliputi menikahi dua orang wanita yag
bersaudara, menikahi ibu tiri, memiliki istri lebih dari empat,
meminum khamr dan sebagainya. Kemudian turunlah ayat
Alquran yang mengharamkan perbuatan tersebut dan Allah
memaafkannya. Sesuai firman Allah :

21

Artinya : Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan


yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali (kejadian) pada masa
yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu sangat keji dan

21

http://www.theonlyquran.com/quran/An-Nisaa/English_Transliteration/?pagesize=0, diakses pada tanggal 7 Oktober


2016, pukul 20.00 WIB.

16

dibenci (oleh Allah) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).


(QS.An-Nisa : 22)

b. Hukum Wadhi
Hukum Wadhi adalah firman Allah SWT

yang menuntut untuk

menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau penghalang bagi sesuatu


yang lainnya.
Contoh firman Allah SWT yang menjadikan sesuatu sebagai sebab :

22

Artinya : Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai


gelap malam dan (dirikan pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat
subuh itu disaksikan oleh malaikat. (QS. Al-Isra ayat 78)
Contoh firman Allah SWT yang menjadikan sesuatu sebagai syarat :

23

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak


mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai
dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan
kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu
22

http://www.theonlyquran.com/quran/Al-Israa/English_Transliteration/?pagesize=0, diakses pada tanggal 7 Oktober


2016, pukul 20.15 WIB.
23
https://alquranmulia.wordpress.com/2014/12/10/tafsir-ibnu-katsir-surah-al-maa-idah-ayat-6-5/ , diakses pada
tanggal 8 Oktober 2016, pukul 16.46 WIB.

17

sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus)
atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu
dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu,
tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Maidah : 6)
Khitab Allah SWT yang menjadikan sesuatu sebagai penghalang
terdapat dalam suatu hadist yang artinya :
Pembunuh tidak mendapat waris. (HR. Nasai dalam Sunan Al-Kubra
dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra).
Hukum wadhi dibagi menjadi :
1) Sebab, menurut bahasa berarti sesuatu yang bisa menyampaikan
seseorang kepada sesuatu yang lain. Contoh terbenamya matahari
menjadi sebab bagi seorang muslim wajib melaksanakan sholat
maghrib.
Ulama ushul fiqh membagi sebab menjadi dua, yaitu :
a) Sebab yang bukan merupakan perbuatan mukallaf dan berada
diluar kemampuannya. Contoh datangnya hilal ramadhan
menjadi sebab kewajiban berpuasa, kekerabatan menjadi sebab
adanya hak saling mewarisi.
b) Sebab yang merupakan perbuatan mukallaf dan dalam batas
kemampuannya. Contoh perjalanan jauh menjadi sebab bolehnya
berbuka puasa disiang hari pada bulan ramadhan, pembunuhan
menjadi sebab adanya qishash, akad nikah menjadi sebab
halalnya hubungan suami istri.
2) Syarat, menurut bahasa berarti sesuatu yang menghendaki adanya
sesuatu yang lain atau sebagai tanda.
Para ulama ushul membagi syarat menjadi dua, yaitu

24

a) Syarat syari, yaitu syarat yang datang langsung dari syariat itu
sendiri (ditetapkan oleh Allah SWT). Contoh : keadaan suci
merupakan syarat sahnya shalat seperti pada QS. Al-Maidah ayat
24

Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqih, I, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013, hlm. 38-39.

18

6, keadaan rusyd (kemampuan untuk mengatur pembelanjaan


sehingga tidak menjadi mubadzir) bagi seorang anak yatim,
dijadikan oleh syariat sebagai syarat wajib menyerahkan harta
miliknya sebagaimana terdapat pada QS. An-Nisa ayat 6.
b) Syarat Jaly (syarat buatan), yaitu syarat yang datang dari
kemauan mukallaf itu sendiri. Contoh : syarat antara penjual dan
pembeli untuk mengantarkan barang sampai tujuan tanpa
tambahan biaya, seorang suami berkata kepada istrinya jika
engkau memasuki rumah si fulan, maka jatuhlah talak mu 1, dan
seperti pada pernyataan seseorang bahwa ia bersedia menjamin
membayarkan utang si fulan dengan syarat si fulan tidak mampu
membayar utangnya.
3) Mani,

secara

maksudnya

etimologi

berarti

penghalang

dari

sesuatu

sesuatu yang karena adanya tidak ada hukum atau

membatalkan sebab hukum. Mani ada dua macam, yaitu :


a) Mani terhadap hukum. Contoh perbedaan agama dalam hal waris
mewarisi adalah suatu penghalang (mani).
b) Mani terhadap sebab hukum. Contoh: seseorang berkewajiban
membayar zakat tetapi hartanya belum memenuhi nishab maka ia
menjadi tidak wajib zakat.
4) Shihhah (sah) yaitu terpenuhinya sebab, syarat dan tidak ada mani
(penghalang). Misalnya : mengerjakan shalat Zuhur setelah
tergelincirnya matahari (sebab), sudah dalam keadaan berwudhu
(syarat), tidak sedang haid, nifas dan sebagainya (mani)`.
5) Bathil (tidak sah) yaitu tidak terpenuhinya syarat dan rukun pada
perbuatan mukallaf sehingga tidak ada akibat hukum yang
ditimbulkannya. Misalnya : shalat yang tidak sah tidak dapat
membebaskan seseorang dari kewajibannya untuk melaksanakan
shalat, jual beli yang tidak sah mengakibatkan tidak berpindahnya
kepemilikan barang pada pembeli dan kepemilikan harga pada
penjual.

19

6) Azimah adalah hukum hukum yang disyariatkan oleh Allah kepada


seluruh hamba-Nya sejak semula, sehingga seluruh mukallaf wajib
mengikutinya. Misalnya : jumlah rakaat shalat zuhur empat rakaat.
7) Ruhsah (keringanan) yaitu hukum yang ditetapkan berbeda dengan
dalil yang ada karena terdapat uzur (halangan). Misalnya : seseorang
yang melaksanakan perjalanan jauh dapat mengqashar shalat zuhur
menjadi dua rakaat.25

3. Perbedaan Hukum Taklifi dengan Hukum Wadhi


Berikut ini perbedaan antara hukum taklifi dengan hukum wadhi :

26

No
1.

Hukum Taklifi

Hukum Wadhi

Mengandung tuntutan untuk Mengandung


melaksanakan,
ataupun

keterkaitan

(hanya

meninggalkan menghubungkan) antara dua persoalan

memilih

antara yang salah satu diantara nya bisa

melaksanakan

atau dijadikan sebab, penghalang, atau

meninggalkan suatu perbuatan. syarat. Misalnya : menghubungkan


Misalnya

shalat

fardhu antara tergelincirnya matahari dengan

(melaksanakan),

berzina kewajiban

shalat

zuhur,

meng

(meninggalkan), makan dan hubungan antara keadaan suci dengan


minum (mengandung pilihan)
2.

shalat.

Merupakan tuntutan langsung Tidak dimaksudkan untuk langsung


untuk

dilaksanakan, dilakukan.

ditinggalkan
antara

atau

hukum

ini

memilih ditentukan syari agar hukum taklifi

dilaksanakan

ditinggalkan.

Tetapi

atau dapat

dilaksanakan.

Misalnya

membayar zakat hukumnya wajib,


namun

kewajiban

ini

tidak

bisa

langsung dilaksanakan jika harta yang


dimiliki

tidak

mencapai

nishab

tertentu dan belum haul.


3.

25
26

Berada

dalam

kesanggupan Ada yang berada dalam kesanggupan

Rachmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqih, IV, CV Pustaka Setia, Bandung, 2010, hlm. 315.
Rachmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqih, IV, CV Pustaka Setia, Bandung, 2010, hlm. 316.

20

dan kemampuan mukallaf.

mukallaf, misalnya : transaksi jual beli


menjadi sebab adanya kepemilikan,
berthaharah sebagai syarat sah shalat,
pembunuhan menjadi penghalang hak
mewarisi. Dan ada yang di luar
kesanggupan mukallaf, misalnya :
hubungan kekerabatan menjadi sebab
adanya hak mewarisi, haid menjadi
penghalang shalat, baligh menjadi
syarat sahnya jual beli.

4.

Ditujukan

kepada

para Ditujukan

kepada

seluruh

umat

mukallaf (orang-orang yang manusia baik mukallaf atau belum


sudah baligh dan berakal)

misalnya : sahnya jual beli anak-anak


yang belum baligh .

21

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan makalah yang telah kami susun dapat kami simpulkan bahwa :
1.Hukum Syara adalah sifat yang bersifat syari, merupakan pengaruh dari titah
Allah SWT terhadap perbuatan mukallaf yang bisa berupa tuntutan, pilihan
ataupun wadhi.
2.Hukum Syara secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu :
a.Hukum Taklifi adalah firman Allah SWT yang berisi tuntunan untuk
dikerjakan atau ditinggalkan atau berisi pilihan antara dikerjakan atau
ditinggalkan. Terbagi menjadi:
Pertama Menurut Jumhur Ulama Ushul Fiqh/Mutakallimin. Hukum taklifi
terbagi menjadi : Ijab, Nadb, Tahrim, Karahah, Ibahah.
Kedua, menurut ulama Hanafiyyah hukum taklifi terbagi menjadi : Iftiradh,
Ijab, Nadb, Ibahah, Karahah Tanzihiyyah, Karahah Tahrimiyyah, Tahrim.
Bentuk bentuk hukum taklifi menurut Fuqaha yaitu :
1) Wajib terbagi menjadi :
a) Dari segi yang dibebani kewajiban : wajib ain dan wajib kifai
(kifayah).
b) Dari segi kandungan perintah : wajib muayyan dan wajib mukhayyar.
c) Dari segi keterikatan terhadap waktu : wajib muthlaq dan muaqqat
(muqayyad). Wajib Muaqqat : Wajib Muwassa, Wajib Mudhayyaq,
Wajib dzu asy-syibhain. Dalam persoalan wajib Muaqqat juga dibahas
tentang :Ada, Iadah, Qadha.
d) Dari segi ukuran : Wajib al-muhaddad, Wajib ghairu al-muhaddad
2) Mandub atau sunnah : sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), Sunnah
ghairumuakkadah (sunnah biasa), Sunnah al-Zawait (sunnah tambahan)
3) Haram : Haram lidzatih dan Haram lighairih.
4) Makruh : makruh tahrim, makruh tanzih.
5) Mubah

22

b.Hukum Wadhi adalah firman Allah SWT yang menuntut untuk menjadikan
sesuatu sebagai sebab, syarat, atau penghalang bagi sesuatu yang lainnya.
Terdiri dari : sebab, syarat, mani(penghalang), shihhah (sah), Bathil (tidak
sah), azimah, ruhsah (keringanan).
3. Perbedaan hukum taklifi dengan hukum wadhi
Berikut ini tabel perbedaan antara hukum taklifi dengan hukum wadhi :
No
1.

Hukum Taklifi
Mengandung

Hukum Wadhi

tuntutan Mengandung

(hanya

(melaksanakan

dan menghubungkan) antara dua persoalan

meninggalkan)

maupun yang salah satu diantara nya bisa

pilihan

dalam

melakukan dijadikan

perbuatan.
2.

keterkaitan

sebab,

penghalang,

atau

syarat.

Merupakan tuntutan langsung Tidak untuk langsung dilaksanakan.


untuk

dilaksanakan, Tetapi hukum ini ditetapkan oleh syari

ditinggalkan
antara

atau

memilih agar hukum taklifi dapat dilaksanakan.

dilaksanakan

atau

ditinggalkan.
3.

Berada dalam kesanggupan Ada yang berada dalam kesanggupan


dan kemampuan mukallaf.

mukallaf.

Dan

ada

yang

di

luar

kesanggupan mukallaf.
4.

Ditujukan

kepada

para Ditujukan kepada seluruh umat manusia

mukallaf (orang-orang yang baik mukallaf atau belum (anak kecil


sudah baligh dan berakal)

dan orang gila).

Demikian makalah yang dapat kami buat, semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi kami khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Kami sepenuhnya menyadari bahwa makalah yang kami buat ini tidak lepas dari
kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami sangat
memerlukan saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca, guna
memperbaiki makalah yang InsyaAllah akan kami buat untuk selanjutnya.

23

DAFTAR PUSTAKA

Hasbiyallah. 2013. Fiqh dan Ushul Fiqh. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.
Suwarjin. 2012. Ushul Fiqh. Yogyakarta: Teras.
Syafei Rachmat. 2010. Ilmu Ushul Fiqih. Bandung: CV Pustaka Setia.
http://legacy.quran.com/9/103. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2016.
http://www.quran.mu/surah-an-nur.html. Diakses pada tanggal 5 Oktober
2016.
http://www.theonlyquran.com. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2016.
http://www.quran.mu/surah-al-jumuah.html. Diakses pada tanggal 5
Oktober 2016.
http://www.quran30.net/2012/10/surah-an-nisa-translation-english.html.
Diakses pada tanggal 5 Oktober 2016.
https://alquranmulia.wordpress.com/2014/12/10/tafsir-ibnu-katsir-surahal-maa-idah-ayat-6-5/. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2016.

24