Anda di halaman 1dari 35

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Umum
Sistem plambing merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan suatu
gedung. Oleh karena itu, perencanaan dan perancangan sistem plambing haruslah dilakukan
bersamaan dan sesuai dengan tahapan-tahapan perencanaan dan perancangan gedung itu
sendiri. Selain itu juga harus diperhatikan secara seksama hubungannya dengan bagian-bagian
konstruksi gedung serta dengan peralatan lainnya yang ada dalam gedung tersebut (Morimura
dan Noerbambang, 2000).
Pemasangan peralatan plambing pada sistem plambing harus dilakukan dengan penuh
perhitungan. Fungsi dari peralatan plambing ini adalah (Morimura dan Noerbambang, 2000):
1. Menyediakan air bersih ke tempat-tempat yang dikehendaki dengan tekanan yang cukup,
dilaksanakan oleh sistem penyediaan air bersih;
2. Membuang air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemarkan bagian penting
lainnya dilaksanakan oleh sistem buangan.
Kesalahan dalam perencanaan, perancangan, pemasangan, dan perawatan dari peralatan
plambing juga dapat membahayakan jiwa manusia. Beberapa kecelakaan fatal dapat terjadi
dan berbagai jenis penyakit dapat muncul akibat kesalahan perancangan, pemasangan,
penggunaan/perawatan instalasi plambing. Oleh karena itu, telah banyak negara menetapkan
Undang-Undang, peraturan, pedoman pelaksanaan, standar, dsb yang menyangkut peralatan
dan instalasi plambing (Morimura dan Noerbambang, 2000).
Peralatan plambing meliputi (Morimura dan Noerbambang, 2000):
1. Peralatan untuk penyediaan air minum;
2. Peralatan untuk penyediaan air panas;
3. Peralatan untuk pembuangan dan ven;
4. Peralatan saniter (plumbing fixture).
2.2

Dasar- Dasar Perencanaan Plambing

Prosedur perencanaan sistem plambing diantaranya (Morimura dan Noerbambang, 2000):


1. Rancangan konsep;
Hal-hal yang perlu diketahui yakni :
a. Jenis dan penggunaan gedung;
b. denah;
c. jumlah penghuni.
2. Penelitian lapangan;
Untuk kelancaran proses perencanaan dan pelaksanaan pemasangan instalasi, meliputi:
a. kunjungan ke lapangan dan melihat situasi setempat;
b. perundingan dengan instansi pemerintah;
c. penelitian lanjutan mengenai pemanfaatan air.
3. Rencana dasar;
Terdiri dari masalah umum dan pemilihan peralatan.
4. Rancangan pendahuluan;
Dilakukan berdasarkan rencana dasar yang telah dibuat.
5. Rancangan pelaksanaan.

dilakukan setelah pihak pemilik gedung telah menyetujui rancangan pendahuluan.

2.2.1

Dasar-Dasar Sistem Penyediaan Air Bersih

2.2.1.1 Kualitas Air


Tujuan terpenting dari penyediaan air adalah menyediakan air bersih. Penyediaan air minum
dengan kualitas yang tetap baik merupakan prioritas utama. Banyak negara telah menetapkan
standar kualitas untuk tujuan ini. Untuk gedung-gedung yang dibangun di daerah yang tidak
tersedia fasilitas penyediaan air minum untuk umum, air baku haruslah diolah dalam gedung
atau dalam instalasi pengolahan agar dicapai standar kualitas air yang berlaku
(Morimura dan Noerbambang, 2000).
2.2.1.2 Kebutuhan Air
Pemakaian air tergantung pada beberapa faktor yaitu: populasi, iklim, kebiasaan dan cara
hidup. Kebutuhan air bersih harus mencukupi siang dan malam, tersedia langsung bagi
pengguna tanpa adanya kekurangan air, sehingga ketersediaan air ini bisa berkelanjutan dan
memenuhi kebutuhan akan air itu sendiri baik masa sekarang maupun akan datang. Untuk
mendapatkan kebutuhan air yang cukup besar tentunya harus dilakukan pencarian sumber air
bersih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitas seperti: air tanah (air tanah dangkal, air
tanah dalam dan mata air) dan air permukaan (danau, sungai, dan sebagainya) (Suripin, 2004).
2.2.1.3 Pencemaran Air dan Pencegahannya
Sistem penyediaan air minum meliputi beberapa peralatan seperti tangki air bawah tanah,
tangki air atas atap, pompa-pompa, perpipaan, dan lain-lain. Dalam peralatan-peralatan ini, air
bersih harus dapat dialirkan ke tempat-tempat yang dituju tanpa mengalami pencemaran
(Morimura dan Noerbambang, 2000).

1.
2.
3.
4.
5.

Hal-hal yang dapat menyebabkan pencemaran antara lain (Morimura dan Noerbambang,
2000):
Masuknya kotoran, tikus, serangga ke dalam tangki;
Terjadinya karat dan rusaknya tangki dan pipa;
Terhubungnya pipa air minum dengan pipa lain;
Tercampurnya air bersih dengan air dari jenis kualitas lain;
Aliran balik air dari jenis kualitas lain ke dalam pipa air minum.
Contoh pencemaran dan pencegahannya adalah (Morimura dan Noerbambang, 2000):
1. Larangan hubungan pintas
Yang dimaksud dengan hubungan pintas (cross connection) adalah hubungan fisik antara
dua sistem pipa yang berbeda, satu sistem pipa untuk air bersih dan sistem pipa lainnya
berisi air yang tidak diketahui atau diragukan kualitasnya, di mana air akan dapat mengalir
dari satu sistem ke sistem lainnya. Demikian pula sistem penyediaan air bersih tidak boleh
dihubungkan dengan sistem perpipaan lainnya. Sistem perpipaan air bersih dan
peralatannya tidak boleh terendam dalam air kotor atau bahan lain yang tercemar;
2. Pencegahan aliran balik
Aliran balik (back flow) adalah aliran air atau cairan lain, zat atau campuran, ke dalam
sistem perpipaan air bersih, yang berasal dari sumber lain yang bukan untuk air bersih.
Aliran balik tidak dapat dipisahkan dari hubungan pintas dan ini disebabkan oleh
terjadinya efek siphon-balik (back siphonage). Efek siphon-balik terjadi karena masuknya
II-2

aliran ke dalam pipa air bersih dari air bekas, air tercemar, dari peralatan saniter atau
tangki, disebabkan oleh timbulnya tekanan negatif dalam pipa. Sebagai contoh dapat
dilihat kemungkinan-kemungkinan pada bak mandi, bak cuci, mesin pencuci, dan lainlain. Apabila pencucian dilakukan dalam bak dengan slang air tersambung pada keran
sedang ujung slang terendam dalam air cucian, air kotor bekas cucian dapat terisap ke
dalam sistem pipa air bersih pada waktu tekanan negatif. Tekanan negatif dalam sistem
pipa sering disebabkan oleh terhentinya penyediaan air, atau karena pertambahan
kecepatan aliran yang cukup besar dalam pipa. Pencegahan aliran balik dapat dilakukan
dengan menyediakan celah udara atau memasang penahan aliran-balik;
3.

Pukulan air
Penyebab pukulan air bila aliran dalam pipa dihentikan secara mendadak oleh keran atau
katup, tekanan air pada sisi atas akan meningkat dengan tajam dan menimbulkan
gelombang tekanan yang akan merambat dengan kecepatan tertentu, dan kemudian
dipantulkan kembali ke tempat semula. Gejala ini menimbulkan kenaikan tekanan yang
sangat tajam sehingga menyerupai suatu pukulan dan dinamakan gejala pukulan air
(water hammer). Pukulan mengakibatkan berbagai kesulitan seperti kerusakan pada
peralatan plambing, getaran pada sistem pipa, patahnya pipa, kebocoran sehingga dapat
mengurangi umur kerja peralatan dan sistem pipa;
Pukulan air cenderung terjadi dalam keadaan (Morimura dan Noerbambang, 2000):
a. Tempat-tempat di mana katup ditutup/dibuka mendadak;
b. Keadaan di mana tekanan air dalam pipa selalu tinggi;
c. Keadaan di mana kecepatan air dalam pipa selalu tinggi;
d. Keadaan di mana banyak jalur ke atas dan ke bawah dalam sistem pipa;
e. Keadaan di mana banyak belokan dibandingkan jalur lurus;
f. Keadaan di mana temperatur air tinggi.
Pencegahan gejala pukulan air menyangkut tindakan untuk mengatasi keadaan-keadaan
diatas, dan meliputi cara-cara berikut ini (Morimura dan Noerbambang, 2000):
a. Menghindarkan tekanan kerja yang terlalu tinggi;
b. Menghindarkan kecepatan aliran yang terlalu tinggi;
c. Memasang rongga udara atau alat pencegah pukulan-air;
d. Menggunakan dua katup-bola-pelampung pada tangki air.
2.2.1.4 Sistem Penyediaan Air Dingin
Sistem penyediaan air dingin yang banyak digunakan dapat dikelompokkan dalam berbagai
jenis yaitu (Morimura dan Noerbambang, 2000).
1. Sistem sambungan langsung
Dalam sistem ini pipa distribusi dalam gedung disambung langsung dengan pipa utama
penyediaan air bersih Perusahaan Air Minum;

II-3

Gambar 2.1 Sistem Sambungan Langsung


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

2. Sistem tangki atap


Dalam sistem ini, air ditampung terlebih dahulu dalam tangki bawah (yang berada di lantai
terendah bangunan atau di bawah muka tanah) dan kemudian dipompakan ke suatu tangki
atas yang biasanya dipasang di atas atap atau di atas lantai tertinggi bangunan, ini
dilakukan jika tekanan air kecil dari pipa utama, tapi jika tekanan air cukup tinggi tangki
bawah dapat dihilangkan;

Gambar 2.2 Sistem Tangki Atap


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

3. Sistem tangki tekan


Kerja dari sistem ini yaitu air yang telah ditampung di dalam tangki bawah dipompakan ke
dalam suatu bejana (tangki) tertutup, sehingga udara di dalamnya terkompresi dan air
dapat dialirkan ke dalam sistem distribusi bangunan;

II-4

Gambar 2.3 Sistem Tangki Tekan


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

4. Sistem tanpa tangki (booster system)


Dalam sistem ini tidak digunakan tangki apapun baik tangki bawah, tangki tekan, ataupun
tangki atap. Air dipompakan langsung ke sistem distribusi bangunan dan pompa
menghisap air langsung dari pipa utama (misalnya, pipa utama Perusahaan Air Minum).
Sistem ini sebenarnya dilarang di Indonesia, baik oleh Perusahaan Air Minum maupun
pada pipa-piap utama dalam pemukiman khusus.
2.2.1.5 Sistem Pengaliran Air Dingin
Pada dasarnya ada tiga sistem pipa penyediaan air dalam gedung, yaitu (Morimura dan
Noerbambang, 2000):
1. Sistem pengaliran ke atas
Dalam sistem pengaliran ke atas, pipa utama dipasang dari tangki atas ke bawah sampai
lengit-langit lantai terbawah dari gedung, kemudian mendatar dan bercabang-cabang
tegak ke atas untuk melayani langit-langit di atasnya.

Gambar 2.4 Sistem Pengaliran ke Atas


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

2. Sistem pengaliaran ke bawah


II-5

Dalam sistem pengaliran ke bawah, pipa utama dari tangki atas dipasang mendatar dalam
langit-langit lantai teratas dari gedung, dan dari pipa mendatar ini dibuat cabang-cabang
tegak ke bawah untuk melayani lantai-lantai di bawahnya.

Gambar 2.5 Sistem Pengaliran ke Bawah


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

3. Sistem pengaliran satu pipa


Dalam sistem ini, pipa hantar dari pompa tangki air bawah ke tangki atas dan pipa air
utama yang melayani lantai-lantai gedung menggunakan satu pipa.

Gambar 2.6 Sistem Pengaliran Satu Pipa


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

2.2.1.6 Peralatan Sistem Pengaliran Air Dingin


Peralatan sistem pengaliran air dingin yang banyak digunakan dapat dikelompokkan dalam
berbagai jenis, yaitu (Morimura dan Noerbambang, 2000):
1. Tangki atas

II-6

Tangki ini mendapat air dari pompa yang menyedot dari tangki bawah. Tangki atas
berfungsi untuk menyimpan air kebutuhan singkat dan untuk menstabilkan tekanan air
sehubungan dengan fluktuasi pemakaian air sehari-hari. Biasanya dibuat dari pelat baja,
kayu, dan juga fiberglass.
2. Tangki bawah
Air dari jaringan air minum kota atau dari sumber lain yang disyaratkan dialirkan melalui
katup bola dan ditampung dalam tangki bawah dan kemudian dipompa ke dalam jaringan
pipa penyediaan air gedung. Tangki bawah dapat dibuat dari baja, beton bertulang, kayu
atau dari bahan FRP (Fiberglass Reinforced Plastic).
3. Tangki tekan
Prinsip kerja dari sistem ini yaitu air yang telah ditampung di dalam tangki bawah
dipompakan ke dalam suatu bejana (tangki) tertutup, sehingga udara di dalamnya
terkompresi dan air dapat dialirkan ke dalam sistem distribusi bangunan. Pompa bekerja
secara otomatis
Fungsi tangki tekan:
a. Memberikan tekanan konstan pada sistem;
b. mengatur hidup mati pompa secara otomatis;
c. menyimpan air.
2.2.1.7 Pompa
Pompa yang menyedot air dari tangki bawah atau tangki bawah tanah dan mengalirkannya ke
tangki atas atau tangki atap dinamakan pompa angkat (mengangkat air dari bawah ke atas),
sedangkan pompa yang mengalirkan air ke tangki tekan dinamakan pompa tekan. Pompa
penyediaan air dapat diputar oleh motor listrik, motor turbin, motor baker, dan sebagainya
(Morimura dan Noerbambang, 2000).
Jenis-jenis pompa penyediaan air yang banyak digunakan adalah (Morimura dan
Noerbambang, 2000):
1. Pompa sentrifugal
Komponen dari pompa sentrifugal adalah impeller dan rumah pompa. Pompa dengan
impeller tunggal disebut pompa tingkat tunggal (single stage). Apabila beberapa impeller
dipasang pada satu poros dan air dialirkan dari impeller pertama ke impeller kedua dan
seterusnya secara berturutan, disebut pompa dengan tingkat banyak (multi stage)
2. Pompa submersibel
Pompa submersibel adalah suatu pompa dengan konstruksi di mana bagian pompa dan
motor listriknya merupakan suatu kesatuan dan terbenam dalam air. Pompa submersibel
terbagi atas pompa turbin untuk sumur dan pompa submersil untuk sumur dalam.
Kelebihan dan ciri-ciri pompa submersibel, adalah:
a. Tidak diperlukan suatu bangunan pelindung pompa;
b. Tidak berisik;
c. Konstruksinya sederhana, karena tidak ada poros penyambung dan bantalan perantara;
d. Pompa dapat bekerja pada kecepatan putaran tinggi;
e. Mudah dipasang;
f. Harga relatif murah.
2.2.2 Dasar-dasar Sistem Penyediaan Air Panas
Sistem penyediaan air panas adalah instalasi yang menyediakan air panas dengan
menggunakan sumber air bersih, dipanaskan dengan berbagai cara, baik langsung dari alat
pemanas ataupun melalui sistem perpipaan (Morimura dan Noerbambang, 2000).
II-7

2.2.2.1 Instalasi Penyediaan Air Panas


Dalam memenuhi kebutuhan akan air panas, ada dua jenis instalasi yang dapat di gunakan
yaitu (Morimura dan Noerbambang, 2000):
1. Instalasi lokal
Pada jenis ini suatu pemanas air dipasang di tempat atau berdekatan dengan alat plambing
yang membutuhkan air panas. Pemanas dapat menggunakan gas, listrik ataupun uap
sebagai sumber kalor;
2. Instalasi sentral
Jenis ini yaitu air panas yang dihasilkan di suatu tempat dalam gedung, kemudian dengan
pipa distribusi dialirkan keseluruh lokasi alat plambing yang membutuhkan air panas.
2.2.2.2 Temperatur Air Panas
Air panas dalam alat plambing digunakan untuk mencuci muka dan tangan, mandi, mencuci
pakaian, alat-alat dapur dan sebagainya. Temperatur air yang digunakan untuk berbagai
keperluan tersebut berbeda-beda. Standar temperatur air panas menurut jenis pemakaiannya
dapat dilihat pada Tabel 2.1 (Morimura dan Noerbambang, 2000).
Tabel 2.1 Standar Temperatur Air Panas Menurut Jenis Pemakaiannya
No
1
2
3
4
5
6
7

9
10

Jenis Pemakaiannya
Minum
Mandi: - dewasa
- anak-anak
Pancuran mandi
Cuci muka dan cuci tangan
Cuci tangan untuk keperluan pengobatan
Bercukur
Dapur:
* Macam-macam keperluan
* Untuk mesin cuci:
- proses pencucian
- proses pembilasan
Cuci pakaian:
* Macam-macam pakaian
* Bahan sutra dan wol
* Bahan linen dan katun
Kolam renang
Cuci mobil (di bengkel)

Temperatur (C)
50-55
42-45
40-42
40-43
40-42
43
46-52
45
45-60
70-80
60
33-49
49-60
21-27
24-30

Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

2.2.2.3 Sistem Pipa


Sistem penyediaan air panas dapat dibagi menjadi beberapa klasifikasi berdasarkan sistem
pipa, cara pengaliran dan cara sirkulasinya.
Menurut sistem pipanya dapat dibagi menjadi dua macam yaitu (Morimura dan
Noerbambang, 2000):
1. Sistem aliran ke atas (up feed)
Air panas dialirkan kepada alat-alat plambing melalui pipa-pipa cabang dari suatu pipa
utama yang di pasang pada lantai terbawah gedung;
2.

Sistem aliran ke bawah (down feed)


II-8

Air panas dialirkan kepada alat-alat plambing melalui pipa-pipa cabang dari suatu pipa
utama yang dipasang pada lantai paling atas gedung.
Menurut cara penyediaannya dibagi lagi menjadi dua macam yaitu (Morimura dan
Noerbambang, 2000):
1. Sistem pipa tunggal
Pipa hanya akan mengantarkan air panas dari tangki penyimpanan atau pemanas tanpa
pipa balik;
2. Sistem sirkulasi atau dua pipa
Pipa akan menghantarkan air panas dari tangki penyimpanan atau pemanas dan kemudian
air akan dibalikkan kembali ke tangki penyimpanan dengan pipa balik apabila tidak ada
pemakaian air panas pada alat plambing.
Sedangkan menurut cara sirkulasinya dibedakan atas sirkulasi gravitasi dan sirkulasi paksaan
dengan menggunakan pompa.
2.2.2.4 Cara Pemanasan
Cara pemanasan ada dua, yaitu (Morimura dan Noerbambang, 2000):
1. Cara pemanasan langsung
a. Ketel Pemanas Air (storage hot water boiler)
Proses pemanasan air seluruhnya terjadi secara konveksi, air dipanaskan oleh dinding
ruang bakar ketel dan kemudian didistribusikan.
Kelebihan:
1) Air langsung dipanaskan oleh ketel, sehingga pemanasan relatif cepat;
2) Efisiensi tinggi.
Kelemahan:
1)
Dinding ketel mengalami perubahan temperatur yang besar saat air
panas didistribusikan sehingga umur ketel relatif lebih pendek;
2)
Jika air pengisi ketel mempunyai kualitas yang kurang baik, bisa
menimbulkan kerak pada dinding ketel, sehingga efisiensi menurun.
3)
Tekanan air masuk ketel berpengaruh langsung pada kekuatan dinding
ketel; tekanan kerja ketel harus lebih besar dari tekanan air masuk tersebut.

Gambar 2.7 Sistem Pemanasan Langsung


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

b. Kombinasi ketel pemanas dan tangki penyimpan


Air panas keluar dari ketel dimasukkan terlebih dahulu ke dalam suatu tangki
penyimpan sebelum didistribusikan (Gbr 2.7(b)).
II-9

c. Pemanas satu jalan (once through)


Pemanas sesaat (instant taneous dengan gas).

Gambar 2.8 Ketel Pemanas Air Satu Jalan


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

2.

Cara pemanasan tidak langsung


Dalam cara ini uap air panas, air panas atau air sangat panas yang dihasilkan oleh suatu
ketel dialirkan ke dalam suatu jaringan pipa di dalam tangki penyimpan air panas, dan
kemudian dialirkan kembali ke dalam ketel.
Kelebihan:
a. Umur ketel lebih lama dibanding dengan cara pemanasan langsung;
b. Tidak mempunyai kelemahan seperti pada pemanasan langsung.
Kelemahan:
a. Efisiensi pemanasan relatif lebih rendah jika dibanding dengan jenis
pemanasan
langsung.

Gambar 2.9 Sistem Pemanasan Tak Langsung


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

2.2.3

Dasar-Dasar Sistem Penyaluran Air Buangan

2.2.3.1 Jenis Air Buangan


Air buangan atau sering juga disebut air limbah adalah semua cairan yang dibuang baik yang
mengandung kotoran manusia, hewan, bekas tumbuh-tumbuhan maupun yang mengandung
sisa-sisa proses industri.
Air buangan dapat dibedakan atas (SNI 03-6481-2000):
II-10

1.

Air kotor
Air buangan yang berasal dari kloset, peturasan, bidet dan air buangan mengandung
kotoran manusia yang berasal dari alat plambing lainnya;
2. Air bekas
Air buangan yang berasal dari alat-alat plambing lainnya, seperti: bak mandi (bath tub),
bak cuci tangan, bak dapur, dan lain-lain;
3. Air hujan
Air hujan yang jatuh pada atap bangunan;
4. Air buangan khusus
Air buangan ini mengandung gas, racun atau bahan-bahan berbahaya, seperti: yang
berasal dari pabrik, air buangan dari laboratorium, tempat pengobatan, rumah sakit,
tempat pemotongan hewan, air buangan yang bersifat radioaktif atau mengandung bahan
radioaktif, dan air buangan yang mengandung lemak.
2.2.3.2 Sistem Penyaluran Air Buangan
Sistem pembuangan air terdiri atas (Morimura dan Noerbambang, 2000):
1. Sistem pembuangan air kotor dan air bekas
Sistem ini terdiri atas 2 macam yaitu:
a. Sistem tercampur: sistem pembuangan yang mengumpulkan dan mengalirkan air kotor
dan air bekas kedalam satu saluran;
b. Sistem terpisah: sistem pembuangan yang mengumpulkan dan mengalirkan air kotor
dan air bekas kedalam saluran yang berbeda.
2. Sistem penyaluran air hujan
Pada dasarnya air hujan harus disalurkan melalui sistem pembuangan yang terpisah dari
sistem pembuangan air bekas dan air kotor. Jika dicampurkan, maka apabila saluran
tersebut tersumbat, ada kemungkinan air hujan akan mengalir balik dan masuk kedalam
alat plambing terendah dalam sistem tersebut.
Dalam sistem penyaluran air buangan, air buangan yang biasanya mengandung bagian-bagian
padat harus mampu dialirkan dengan cepat. Untuk maksud tersebut pipa pembuangan harus
mempunyai ukuran dan kemiringan yang cukup dan sesuai dengan banyak dan jenis air
buangan yang akan dialirkan. Sistem penyaluran air hujan pada prinsipnya hanya mengalirkan
debit hujan yang terjadi di atap bangunan ke tempat yang diinginkan, seperti: drainase
perkotaan.
2.2.3.3 Perangkap Air Buangan
Tujuan utama sistem pembuangan adalah mengalirkan air buangan dari dalam gedung keluar
gedung, ke dalam instalasi pengolahan atau riol umum, tanpa menimbulkan pencemaran pada
lingkungan maupun terhadap gedung itu sendiri. Karena alat plambing tidak terus menerus
digunakan, pipa pembuangan tidak selalu terisi air dan dapat menyebabkan masuknya gas
yang berbau ataupun beracun, bahkan serangga. Untuk mencegah hal ini, harus dipasang
suatu perangkap sehingga bisa menjadi penyekat atau penutup air yang mencegah masuknya
gas-gas tersebut (f).
Suatu perangkap harus memenuhi syarat-syarat berikut (Morimura dan Noerbambang, 2000):
1. Kedalaman air penutup

II-11

Kedalaman air penutup ini biasanya berkisar antara 50 mm sampai 100 mm. Pada
kedalaman 50 mm, kolom air akan tetap dapat diperoleh penutup air sebesar 25 mm
dengan tekanan (positif maupun negatif) sebesar 25 mm. Angka 100 mm merupakan
pedoman batas maksimum, walaupun batas ini tidak mutlak. Ada beberapa alat plambing
khusus yang mempunyai kedalaman air penutup lebih dari 100 mm, tetapi perangkapnya
dibuat dengan konstruksi yang mudah dibersihkan;
2. Konstruksinya harus sedemikian rupa agar selalu bersih dan tidak menyebabkan kotoran
tertahan atau mengendap;
3. Konstruksinya harus sedemikian rupa sehingga fungsi air sebagai penutup tetap dapat
terpenuhi;
Kriteria yang harus dipenuhi untuk syarat ini adalah:
a.
Selalu menutup kemungkinan masuknya gas dan serangga;
b.
Mudah diketahui dan diperbaiki kalau ada kerusakan;
c.
Dibuat dari bahan yang tidak berkarat.
4. Konstruksi perangkap harus cukup sederhana agar mudah membersihkannya karena
endapan kotoran lama kelamaan akan tetap terjadi;
5. Perangkap tidak boleh dibuat dengan konstruksi di mana ada bagian bergerak ataupun
bidang-bidang tersembunyi yang membentuk sekat penutup.
Perangkap alat plambing dapat dikelompokkan sebagai berikut (Morimura dan Noerbambang,
2000):
1. Perangkap yang dipasang pada alat plambing
a. Perangkap jenis P, berbentuk menyerupai huruf P dan banyak digunakan. Perangkap
jenis ini dapat diandalkan dan sangat stabil kalau dipasang pipa ven. Perangkap jenis P
biasanya dipasang pada kloset, lavatory, dan lain-lain;
b. Perangkap jenis S, berbentuk menyerupai huruf S dan seringkali menimbulkan
kesulitan akibat efek siphon, biasanya dipasang pada lavatory.
2. Perangkap yang dipasang pada pipa pembuangan
a. Perangkap jenis U, berbentuk menyerupai huruf U dan dipasang pada pipa
pembuangan mendatar, umumnya untuk pembuangan air hujan. Kelemahan jenis ini
adalah memberikan tambahan tahanan terhadap aliran. Perangkap jenis ini biasanya
dipasang pada peturasan, pada pipa pembuangan air hujan di dalam tanah;
b. Perangkap jenis tabung, mempunyai sekat berbentuk tabung, sehingga mengandung
air lebih banyak dibandingkan jenis-jenis lainnya sehingga air penutup tidak mudah
hilang, biasanya dipasang pada floor drain dan bak cuci dapur.
3. Perangkap yang menjadi satu dengan alat plambing
Perangkap jenis ini merupakan bagian dari alat plambing itu sendiri, misalnya pada kloset
dan beberapa jenis peturasan;
4. Perangkap yang dipasang di luar gedung.
Perangkap diletakkan di luar bangunan.
2.2.4

Dasar-dasar Sistem Ven

Sistem ven merupakan bagian penting dalam sistem suatu pembuangan, sedangkan tujuan dari
sistem ven ini antara lain (Morimura dan Noerbambang, 2000):
1.
2.
3.

Menjaga sekat perangkap dari efek sifon atau tekanan;


Menjaga aliran yang lancar dalam pipa pembuangan;
Mensirkulasi udara dalam pipa pembuangan.
II-12

Karena tujuan utama dari sistem ven ini adalah menjaga agar perangkap tetap mempunyai
sekat air, oleh karena itu pipa ven harus dipasang sedemikian rupa agar mencegah hilangnya
sekat air tersebut.
2.2.4.1 Jenis Sistem Ven
Sistem itu sendiri dapat dibedakan atas beberapa jenis yaitu (Morimura dan Noerbambang,
2000):
1. Sistem ven tunggal (individual)
Pipa ven dipasang untuk melayani satu alat plambing dan disambungkan kepada sistem
ven lainnya atau langsung terbuka ke udara luar;
2. Sistem ven lup
Pipa ven yang melayani dua atau lebih perangkap alat plambing dan disambungkan
kepada ven pipa tegak;
3. Sistem ven tegak
Pipa ini merupakan perpanjangan dari pipa tegak air buangan diatas cabang mendatar pipa
air buangan tertinggi;
4. Sistem ven lainnya, diantaranya:
a. Ven bersama
Pipa ven yang melayani perangkap dari dua alat plambing yang dipasang bertolak
belakang atau sejajar dan dipasang pada tempat di mana kedua pipa pengering alat
plambing tersebut disambungkan bersama;
b. Ven basah
Ven yang juga berfungsi sebagai pipa pembuangan;
c. Ven menerus
Ven tegak yang merupakan kelanjutan dari pipa pembuangan yang dilayaninya;
d. Ven sirkit
Ven cabang yang melayani dua perangkap atau lebih dan berpangkal dari bagian
depan penyambungan alat plambing terakhir suatu cabang datar pipa pembuangan
sampai ke pipa tegak ven;
e. Ven pelepas
Pipa ven yang dipasang pada tempat khusus untuk menambah sirkulasi udara antara
sistem pembuangan dan sistem ven.
2.2.4.2 Persyaratan Pipa Ven
Adapun persyaratan yang harus dipenuhi dalam sistem plambing antara lain (Morimura dan
Noerbambang, 2000):
1. Kemiringan pipa ven
Pipa ven harus dibuat dengan kemiringan cukup agar titik air yang terbentuk atau air yang
terbawa masuk kedalamnya dapat mengalir secara gravitasi ke pipa pembuangan;
2. Cabang pada pipa ven
Dalam membuat cabang pipa ven harus diusahakan agar udara tidak akan terhalang oleh
masuknya air kotor atau air bekas manapun. Pipa ven untuk cabang mendatar pipa air
buangan harus disambungkan secara vertikal pada bagian tertinggi dari penampang pipa
cabang tersebut, jika terpaksa dapat disambungkan dengan sudut tidak lebih dari 45o

II-13

terhadap vertikal. Syarat ini bertujuan untuk mencegah masuknya air buangan pada pipa
yang dalam keadaan penuh ke dalam pipa ven;
3. Letak bagian mendatar pipa ven
Dari tempat sambungan pipa ven dengan cabang mendatar pipa air buangan, pipa ven
tersebut harus dibuat tegak sampai sekurang-kurangnya 150 mm di atas muka air banjir
alat plambing tertinggi yang dilayani oleh ven tersebut, sebelum dibelokkan mendatar atau
disambungkan kepada cabang pipa ven. Walaupun demikian cukup banyak ditemukan
keadaan di mana terpaksa dipasang pipa ven di bawah lantai. Pipa ven semacam itu
melayani pipa cabang mendatar air buangan dan dari tempat sambungannya dengan
cabang mendatar tersebut pipa ven hanya dibuat pendek dari sambungannya dari arah
tegak kemudian langsung dibelokkan mendatar masih dibawah lantai (tetapi letaknya
masih berada di atas cabang mendatar tersebut);
4. Ujung pipa ven
Ujung pipa ven harus terbuka ke udara luar, tetapi harus dengan cara yang tidak
menimbulkan gangguan kesehatan.
2.2.5 Dasar-dasar Sistem Pencegahan Kebakaran
Prinsip dari sistem pencegahan kebakaran ini adalah harus selalu tersedia volume air yang
cukup untuk keperluan pencegahan kebakaran, tanpa mengganggu pemakaian air bersih.
2.2.5.1 Pipa Tegak dan Slang Kebakaran
Pipa tegak dan slang kebakaran adalah suatu rangkaian perpipaan, katup, penyambung slang
kebakaran, slang kebakaran, dan sistem penyediaan air yang digunakan untuk menanggulangi
kebakaran.
Sistem dari pipa tegak dan slang kebakaran mempunyai berbagai jenis yaitu:
1. Wet stand pipe system
Wet stand pipe system yaitu pipa tegak dengan pipa yang selalu berisi air dan tekanan air
pada sistem di jaga tetap. Katup suplai air pada sistem ini selalu dalam kondisi terbuka
dan bila katup slang kebakaran dibuka maka air akan mengalir keluar;

1.

2.

Dry stand pipe system


Suatu pipa tegak yang tidak berisi air, di mana peralatan penyediaan air akan mengalirkan
air ke sistem secara otomatis jika katup slang kebakaran dibuka;

3.

Sistem pipa tegak dengan pengadaan air ke sistem melalui operasi manual
Sistem pipa tegak dengan pengadaan air ke sistem melalui operasi manual yaitu dengan
menggunakan kontrol jarak jauh yang terletak pada kotak slang kebakaran untuk
menghidupkan suplai air;

4.

Sistem pipa tegak tanpa suplai air yang permanen


Jenis ini digunakan untuk mengurangi waktu yang diperlukan petugas pemadam
kebakaran untuk membawa slang kebakaran ke lantai atas pada gedung tinggi dan suplai
air diperoleh dari mobil tangki pemadam kebakaran.

Jika dilihat dari manusia yang mengoperasikannya maka sistem pipa tegak dan slang
kebakaran digolongkan atas 3 kelas pelayanan, yaitu:
Kelas 1

II-14

Sistem pipa tegak dan slang kebakaran yang dioperasikan oleh petugas pemadam
kebakaran dan mereka yang terlatih untuk menangani kebakaran besar dan ukuran slang
yang digunakan berdiameter 2,5;
2.

Kelas 2
Sistem pipa tegak dan slang kebakaran yang dioperasikan oleh penghuni bangunan sendiri
sambil menunggu petugas pemadam kebakaran datang dan ukuran slang yang digunakan
berdiameter 1,5;

3.

Kelas 3
Sistem pipa tegak dan slang kebakaran yang dioperasikan oleh penghuni bangunan dan
petugas pemadam kebakaran dan ukuran slang yang digunakan berdiameter 1,5 dan 2,5.
2.2.5.2 Sprinkler
Sistem sprinkler otomatis akan bekerja jika fusible bulb/fusible link penahan orifice kepala
sprinkler pecah/meleleh akibat panas dari kebakaran, sehingga air menyembur keluar dari
kepala sprinkler. Akibatnya tekanan air dari dalam pipa akan berkurang, katup pengontrol
akan terbuka dan pompa akan bekerja memompakan air dari bak penampung ke jaringan pipa
yang dibantu juga dengan pressure tank. Aliran air yang melalui katup pengontrol akan
mengaktifkan tanda bahaya yang terletak di dekat katup kontrol.
Jenis-jenis sistem sprinkler adalah (Dept. Pekerjaan umum, 1987):
1. Wet pipe system
Jenis ini menggunakan kepala sprinkler otomatis yang dipasang pada jaringan pipa berisi
air yang bertekanan sepanjang waktu. Jika terjadi kebakaran, sprinkler akan diaktifkan
oleh panas yang membuka penahan orifice kepala sprinkler dan air akan segera
menyembur, akibatnya tekanan air pada pipa akan berkurang dan katup kontrol akan
membuka dan mengaktifkan pompa kebakaran;
2. Dry dipe system
Jenis ini menggunakan kepala sprinkler otomatis yang dipasang pada pipa berisi udara
atau nitrogen yang bertekanan. Jika kepala sprinkler terbuka karena panas dari api,
tekanan udara akan berkurang dan katup kontrol dry pipe akan terbuka oleh tekanan air,
sehingga pompa kebakaran akan hidup dan air akan mengalir mengisi jaringan dan
menyembur dari kepala sprinkler yang terbuka;
3. Preaction system
Sistem ini adalah sistem dry pipe dengan udara bertekanan atau tanpa tekanan pada pipa.
Jika terjadi kebakaran maka alat deteksi akan bekerja dan mengaktifkan pembuka katup
kontrol, sehingga air mengalir mengisi pipa dan keluar dari kepala sprinkler otomatis yang
terbuka akibat panas dari api;
4. Deluge system
Sistem ini sama dengan preaction system, kecuali bahwa semua kepala dalam keadaaan
terbuka. Jika api mengaktifkan peralatan deteksi, maka katup kontrol sprinkler akan
terbuka dan air akan mengalir disepanjang pipa dan keluar dari semua kepala sprinkler
pada daerah operasi dan membanjiri daerah operasi;
5. Kombinasi dry dan preaction
Sistem ini berisi udara bertekanan. Jika terjadi kebakaran, peralatan deteksi akan
membuka katup kontrol air dan udara dikeluarkan pada akhir pipa suplai, sehingga sistem
ini akan berisi air dan bekerja seperti wet pipe.

II-15

Sistem sprinkler yang ada didesain berdasarkan atas jenis hunian itu sendiri, seperti ukuran
pipa, jarak kepala sprinkler, densitas semburan sprinkler dan kebutuhan airnya sendiri.
Berdasarkan jumlah barang yang mudah terbakar dan sifat mudah terbakarnya, maka jenis
hunian diklasifikasikan atas:
1. Hunian bahaya dengan kebakaran ringan
Adalah jenis hunian di mana jumlah dan sifat mudah terbakar dari isi gedung tergolong
rendah dan kebakaran dengan pelepasan panas yang rendah. Contohnya: sekolah, rumah
sakit, museum, perpustakaan, hotel, tempat tinggal, dan sebagainya;
2. Hunian bahaya dengan kebakaran sedang
Jenis ini dibedakan atas 3 kelompok yaitu:
a. Kelompok I: Untuk sifat mudah terbakar yang rendah, jumlah bahan yang mudah
terbakar menengah dan kebakaran dengan pelepasan panas menengah seperti: tempat
parkir mobil, pabrik roti, pengolahan susu, pabrik elektronika, dan sebagainya;
b. Kelompok II: Untuk jumlah dan sifat mudah terbakar dari isi gedung tergolong
menengah dan kebakaran dengan pelepasan panas menengah. Seperti: pabrik pakaian,
tumpukan buku perpustakaan, percetakan, pabrik tembakau, dan sebagainya;
c. Kelompok III: Untuk jumlah dan atau sifat mudah terbakar dari isi gedung tergolong
tinggi dan kebakaran dengan pelepasan panas yang tinggi, seperti : pabrik gula, pabrik
kertas, pabrik ban, bengkel, dan sebagainya;
3. Hunian bahaya dengan kebakaran tinggi
Yang termasuk kelas ini adalah hunian yang dianggap rawan terhadap bahaya kebakaran.
Contohnya hanggar pesawat, pabrik plastik, perakitan bahan peledak, dan sebagainya.
Setiap sistem sprinkler harus memiliki sumber penyediaan air otomatis dengan kapasitas dan
tekanan yang memadai untuk mensuplai sistem sprinkler dengan periode minimal 30 menit.
Sumber air untuk sistem sprinkler dapat diperoleh dari: sistem air PAM, pompa kebakaran
otomatis, tangki tekan, dan tangki gravitasi (Standar Nasional Indonesia 03-6481, 2000).

2.2.5

Dasar-dasar Sistem Penyaluran Air Hujan

Dalam sistem pengaliran air hujan yang harus diperhatikan hanyalah luas tangkapan hujan
dan arah aliran dari air, sedangkan prinsip pengalirannya tidak jauh berbeda dengan air
buangan.
2.3 Dasar-Dasar Perhitungan Sistem Plambing
2.3.1 Perancangan Sistem Penyediaan Air Bersih
Dalam perencanaan air bersih hal-hal yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan antara
lain (Morimura dan Noerbambang, 2000):
1. Laju aliran
Dalam perencanaan sistem penyediaan air untuk suatu bangunan, kapasitas peralatan dan
ukuran-ukuran pipa didasarkan pada jumlah dan laju aliran yang harus disediakan kepada
bangunan tersebut. Metoda yang digunakan dalam menaksir jumlah pemakaian air
berdasarkan jumlah pemakai.
Metoda ini didasarkan pada pemakaian air rata-rata sehari setiap penghuni dan perkiraan
jumlah penghuni. Dengan demikian jumlah pemakaian air sehari dapat ditentukan.
Apabila jumlah penghuni diketahui atau ditetapkan pada suatu gedung, maka angka
tersebut dipakai untuk menghitung pemakaian air rata-rata sehari berdasarkan standar
II-16

pemakaian air orang per hari sesuai dengan sifat penggunaan gedung tersebut. Jika jumlah
penghuni tidak diketahui, biasanya ditaksir berdasarkan luas lantai dan menetapkan
kepadatan hunian perluas lantai. Luas lantai yang dimaksud adalah luas lantai efektif.
Untuk memperkirakan jumlah kebutuhan air dalam perancangan digunakan persamaaan:
Qh

Qd

..........................................(2.1)

Qh max c1 Qh ....(2.2)

Qh
................................................(2.3)
60

Q m max c 2

= pemakaian air sehari (m3/hari)


= pemakaian air rata-rata perjam (m3/jam)
= jangka waktu pemakaian air (jam)
= debit jam puncak (m3/jam)
= debit menit puncak (m3/menit)
= konstanta dengan nilai 1,5 2 dan 3 4

dimana: Qd
Qh
T
Qh-max
Qm-max
c1 , c2
2.

Tangki bawah dan tangki atas


Tangki (reservoar) bawah berfungsi menyimpan air untuk kebutuhan selama sehari dan
tangki atas berfungsi untuk menampung kebutuhan puncak, dan biasanya disediakan
dengan kapasitas cukup untuk jangka waktu kebutuhan puncak. Dalam perhitungan
kapasitas tangki bawah dan tangki atas didasarkan pada fluktuasi pemakaian air tiap jam
selama sehari. Untuk menghitung kapasitas tangki atas dan tangki bawah digunakan
persamaan:
Tangki Bawah
( VR ) Qd Qs T
dimana: Qd
Qs
T

...............................................................................................(2.4)

= kebutuhan air sehari (m3/hari)


= kapasitas pipa dinas (m3/jam)
= rata-rata pemakaian air perhari (jam/hari)

Tangki Atas
( VE )

Qm max Qh max Tp Q pu Tpu


.......................................................................(2.5)

dimana: Qm-max
Qh-max
Qpu
Tp
Tpu

= kebutuhan menit puncak (liter/menit)


= kebutuhan jam puncak (liter/menit)
= kapasitas pompa pengisi (liter/menit)
= jangka waktu pengisian puncak (menit)
= jangka waktu kerja pompa pengisi (menit)
II-17

3. Kebutuhan alat plambing


Menurut Badan Standarisasi Nasional tahun 2000, kebutuhan alat plambing dibedakan
atas dasar fungsi gedung, yaitu untuk hunian niaga, hunian industri, hunian gudang,
hunian kumpulan, hunian usaha, hunian lembaga (meliputi: rumah sakit, rumah sakit jiwa,
lembaga permasyarakatan), kolam renang dan pemandian umum, dan rumah makan. Mal
memiliki fungsi sebagai hunian kumpulan yang terbatas lingkup gerak pengunjung,
sehingga harus dilengkapi dengan alat plambing sesuai ketentuan. Jumlah dan jenis alat
plambing yang disyaratkan untuk pengunjung sama dengan syarat untuk hunian
kumpulan, yang dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Jumlah Kloset, Bak Cuci Tangan dan Peturasan untuk Hunian Usaha
Jumlah
kloset

Jumlah
Jumlah bak
Jumlah
Pengunjung
cuci tangan
pengunjung
1
1 - 100
1
1 100
2
101 - 200
2
101 200
3
201 - 400
3
201 400
4
401 - 700
4
401 700
5
701 - 1100
5
701 1100
Pengunjung lebih dari 1100 Pengunjung lebih dari 1100
orang ditambahkan 1 kloset orang ditambahkan 1 kloset
untuk setiap pertambahan 400 untuk setiap pertambahan 400
orang pengunjung
orang pengunjung
Sumber: Standar Nasional Indonesia 03-6481, 2000

Jumlah
peturasan
1
2
3
4
5

Jumlah pengunjung
laki-laki
1 - 100
101 - 200
201 - 400
401 - 700
701 - 1100

Pengunjung lebih dari 1100 orang


ditambahkan 1 kloset untuk setiap
pertambahan 400 orang pengunjung

Keterangan:
a. Pancaran air minum atau alat plambing sejenis harus disediakan untuk setiap 1100 orang pengunjung atau
sekurang-kurangnya sebuah alat plambing sejenis tersebut disediakan pada setiap tingkat bangunan atau balkon.
b. Bila dalam ruangan proyektor terdapat lebih dari sebuah proyektor, maka harus dilengkapi sekurang-kurangnya
dengan sebuah kloset dan sebuah bak cuci tangan di lantai yang bersangkutan dan terletak 69-7 m dari ruang
proyektor tersebut.
c. Alat plambing untuk pengunjung dapat pula dipakai oleh karyawan, akan tetapi setidak-tidaknya fasilitas toilet
karyawan harus sesuai dengan jumlah dan jenis yang disyaratkan untuk karyawan seperti pada bangunan usaha.
d. Fasilitas toilet untuk laki-laki dan perempuan harus terpisah serta harus mudah dicapai.

4. Ukuran pipa
Untuk menentukan ukuran pipa distribusi air bersih baik untuk pipa tegak maupun pipa
cabang mendatar, di pakai metoda untuk menentukan besarnya fixture unit masingmasing alat plambing yang didapat dari Tabel 2.3. Berdasarkan fixture unit tersebut lalu
ditentukan laju aliran air. Lengkung perkiraan kebutuhan air dapat dilihat pada Gambar
2.10.
Tabel 2.3 Beban Unit Alat Plambing
Alat Plambing
Closet
Lavatory
Urinal
Shower
Kitchen sink

Jenis Penyediaan Air


Katup gelontor
Kran
Katup gelontor
Kran pencampur air dingin dan panas
Kran

Unit Beban Alat Plambing


Umum
Pribadi
10
2
5
4
5

6
1
2
-

Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

II-18

(a) Untuk unit beban sampai 3000

(b) Untuk unit beban sampai 250 (skala gambar diperbesar)


Gambar 2.10 Hubungan Unit Alat Plambing dengan Laju Aliran
Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

5. Headloss pipa distribusi


Setelah didapat diameter pipa yang direncanakan, maka headloss pipa dapat diketahui.
Penetapan jenis perlengkapan pipa (fitting) ditentukan berdasar gambar denah/isometri
dan diameter pipa yang telah ditentukan. Panjang ekivalen (Lek) perlengkapan pipa didapat
dari Tabel 2.4, sedangkan panjang pipa (Lpipa) diperoleh dari gambar denah perpipaan air
minum. Panjang total (Ltot) merupakan jumlah dari panjang ekivalen perlengkapan pipa
dan panjang pipa.
Tabel 2.4 Panjang Ekivalen Perlengkapan Pipa
Panjang ekivalen ( m )

II-19

Diameter
nominal
(mm)
15
20
25
32
40
50
65
80
100
125
150
200
250

Belokan
90

Belokan
90

0,60
0,75
0,90
1,2
1,5
2,1
2,4
3,0
4,2
5,1
6,0
6,5
8,0

0,36
0,45
0,54
0,72
0,90
1,2
1,5
1,8
2,4
3,0
3,6
3,7
4,2

T 90
Aliran
cabang
0,90
1,2
1,5
1,8
2,1
3,0
3,6
4,5
6,3
7,5
9,0
14,0
20,0

T 90
Aliran
lurus
0,18
0,24
0,27
0,36
0,45
0,60
0,75
0,90
1,2
1,5
1,8
4,0
5,0

Katup
sorong
0,12
0,15
0,18
0,24
0,30
0,39
0,48
0,63
0,81
0,99
1,2
1,4
1,7

Katup
bola
4,5
6,0
7,5
10,5
13,5
16,5
19,5
24,0
37,5
42,0
49,5
70,0
90,0

Katup
sudut
2,4
3,6
4,5
5,4
6,6
8,4
10,2
12,0
16,5
21,0
24,0
33,0
43,0

Katup
satu
arah
1,2
1,6
2,0
2,5
3,1
4,0
4,6
5,7
7,6
10,0
12,0
15,0
19,0

Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

Kehilangan tekanan tiap satuan panjang diperoleh dari persamaan:


H 0.54

dimana :

Q
1.67 C d 2.63 1000

Q
C
d
H
L

=
=
=
=
=

L
.......................(2.6)

laju aliran (l/menit)


koefisien kekasaran pipa (diambil angka 120)
diameter pipa (m)
headloss (m)
panjang pipa (m)

II-20

Gambar 2.11(a) Kerugian Gesek dalam Pipa Baja Karbon


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

II-21

Gambar 2.11(b) Kerugian Gesek dalam Pipa PVC-kaku


Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

II-22

6. Pompa
Jika akan digunakan sistem dengan tangki atas atau dengan tangki bawah kombinasi
dengan tangki tekan, maka diperlukan pompa untuk menaikkan air. Kapasitas pompa
biasanya diambil sama dengan kebutuhan air pada jam maksimum, sedangkan jika
digunakan sistem tanpa tangki kapasitas pompa diambil sama dengan kebutuhan air
puncak. Kecepatan air yang disarankan dalam pipa hisap berkisar antara 23 m/dt dan
kadang-kadang sampai dengan 4 m/dt. Untuk menentukan daya pompa terlebih dahulu
ditentukan tinggi angkat pompa, dengan rumus sebagai berikut :

H H a H fsd

dimana:

H
Hs
Hfsd
V2/2g

v2

2g
=
=
=
=

......................(2.7)

tinggi angkat total (m)


tinggi potensial (m)
kerugian gesek dalam pipa hisap dan pipa tekan (m)
tekanan kecepatan pada lubang keluar pipa (m)

Maka, daya poros pompa ditentukan dengan rumus berikut:


Np

dimana:

0.163 Q H
p

...............................(2.8)

Np = daya poros pompa (hp)


Q = kapasitas pompa (m3/menit)
H = tinggi angkat total (m)

= berat spesifik (kg/l)

= efisiensi pompa

Untuk efisiensi pompa dapat dilihat pada Gambar 2.12 berikut ini :

II-23

Gambar 2.12 Efisiensi Pompa Sentrifugal Ukuran Kecil

Gambar 2.13 Efisiensi Pompa Sentrifugal Kecil, Bertingkat Banyak

Daya motor pompa ditentukan dengan rumus berikut:


Nm

dimana:

(0.163 Q H )(1 A)
p k
......(2.9)

= Faktor yang bergantung jenis motor


0,1 s/d 0,2 untuk motor listrik
0,2 untuk motor bakar besar
0,25 untuk motor bakar kecil
= efisiensi hubungan poros
1 untuk poros kopel langsung
0,9 sampai 0,95 untuk ban mesin dan roda gigi
II-24

7. Tangki tekan
Prinsip kerja tangki tekan adalah sebagai berikut: air yang telah ditampung dalam tangki
bawah dipompakan ke tangki tertutup sehingga udara didalamnya terkompresi yang
kemudian air dalam tangki tersebut di alirkan ke sistem distribusi bangunan. Pada
penggunaan tangki tekan ini pompa bisa berhenti beberapa saat setelah tekanan dalam
tangki telah mencapai suatu batas maksimum yang telah ditetapkan dan berhenti pada
batas minimum yang telah ditetapkan pula. Daerah fluktuasi tekanan biasanya ditetapkan
antara 1 sampai 1,5 kg/cm2. Untuk melayani kebutuhan air yang besar maka akan
diperlukan tangki tekan yang besar pula. Maka untuk mengatasi hal ini tekanan awal
udara dalam tangki tekan dibuat lebih besar dari tekanan atmosfir. Udara dimasukkan ke
dalam pressure tank dengan bantuan kompresor.
p' p
V'
100
100
...............................................(2.10)
V
p'1,033

dimana: V
V
p
p

=
=
=
=

volume tangki total pada tekanan p (m3)


volume tangki pada tekanan p (m3)
tekanan udara awal (kg/cm2)
tekanan udara akhir (kg/cm2)

2.3.2 Perancangan Sistem Penyediaan Air Panas


1. Laju aliran air panas
Dalam penentuan laju aliran air panas digunakan cara berdasarkan jumlah orang seperti
pada penentuan laju aliran untuk air dingin (Morimura dan Noerbambang, 2000):
a. Perhitungan berdasarkan jumlah orang
Untuk setiap jenis pemakaian gedung jumlah kebutuhan air panas sehari dapat
dihitung berdasarkan jumlah orang dan kebutuhan air panas setiap orang setiap
harinya. Rumus yang digunakan antara lain:
Qd N q d .............................................(2.11)

Qh Qd q h .........................................(2.12)
V Q.................................................(2.13)
d v

H Qd t h t c

dimana: Qd
N
qd
Qh
qh
V
H

th
tc
v

=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

.............................................(2.14)
jumlah air panas per hari (l/hari)
jumlah orang pemakai air panas
kebutuhan air panas orang per hari (l/org/hari)*
laju aliran air panas maksimum (l/jam)
maksimum per jam untuk pemakaian seharian (l/jam)*
volume tangki penyimpanan (liter)
kapasitas pemanas (kcal/jam)
berat spesifik (kg/l)
temperatur air panas (oC)
temperatur air dingin (oC)
kapasitas tangki penyimpanan untuk pemakaian sehari (liter)*
II-25

b. Berdasarkan jenis dan jumlah alat plambing


Laju aliran panas maksimum yang diperlukan dapat dihitung dengan mengalikan
jumlah alat plambing dengan jumlah air panas tiap alat plambing dan
menjumlahkannya, kemudian mengalikannya dengan faktor pemakaian alat plambing;
Tabel 2.5 Pemakaian Air Panas Tiap Alat Plambing Menurut Jenis Penggunaan Gedung
Alat Plambing
Sink
Pancuran Mandi
Faktor pemakaian
Koef kapasitas pemanas

Laju aliran ( liter/jam )


38
114
0,30
1,25

Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

2. Penentuan kapasitas pemanas dan volume tangki penyimpan air panas


Volume tangki penyimpan air panas dapat dihitung dengan mengalikan Q h dengan
koefisien kapasitas pemanas. Untuk menghitung kapasitas pemanas, dilakukan dengan
mengalikan Qh dengan beda temperatur air panas dengan air dingin yang masuk pemanas;
3. Penentuan ukuran pipa
Penentuan ukuran pipa air panas dilakukan dengan cara yang sama seperti penentuan
ukuran pipa air dingin yaitu dengan menentukan laju aliran air pada setiap bagian pipa.
Lengkung laju aliran dapat dilihat pada Gambar 2.14. Cara yang biasa digunakan yaitu
dengan menghitung jumlah fixture unit masing-masing alat plambing air panas, mirip
seperti pada air dingin, dengan menggunakan Tabel 2.6;
Tabel 2.6 Unit Alat Plambing untuk Air Panas
No
1.
2.
3.
4.

Alat Plambing
Sink
Shower
Lavatory
Bathtube

Unit Alat Plambing


0,75
1,5
0,75
1,5

Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

II-26

Gambar 2.14 Pengaliran Serentak Berdasar Unit Alat Plambing Air Panas
Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

4. Pompa
Pompa yang digunakan pada penyediaan air panas juga berfungsi untuk pompa sirkulasi.
Pompa sirkulasi ini digunakan agar aliran air panas tetap mengalir walaupun tidak ada
pemakaian alat plambing untuk air panas. Selain itu pompa ini juga harus mampu untuk
memenuhi kebutuhan puncak air panas. Laju aliran air panas sirkulasi diperlukan untuk
mengatasi kerugian panas dalam pipa. Tekanan yang dibutuhkan oleh pompa ini
ditentukan berdasarkan kerugian gesek dalam pipa hantar dan pipa balik terjauh, tidak
termasuk kerugian gesek dalam pipa-pipa cabang karena air sirkulasi tidak masuk ke
dalam pipa cabang. Laju aliran sirkulasi dapat ditentukan dengan persamaan:
W sir

Q
.................................................(2.15)
(t h t b ) 60

di mana: Wsir = Laju aliran sirkulasi ( liter/menit )


Q = Kerugian panas ( kcal/jam )
th = Temperatur dalam pipa hantar ( oC )
tb = Temperatur pipa balik ( oC )
Biasanya beda temperatur air dalam pipa hantar dan pipa balik untuk sirkulasi paksaan
diambil 5oC. Perhitungan kapasitas pompa air panas sama dengan perhitungan pompa
pada air dingin.

2.3.3 Perancangan Sistem Penyaluran Air Buangan


Ukuran pipa pembuangan dalam penentuan ukuran pipa pembuangan dapat didasarkan atas
jumlah nilai unit alat plambing yang dilayani pipa yang bersangkutan. (Morimura dan
Noerbambang, 2000).
1. Ukuran minimum pipa cabang mendatar
Pipa cabang mendatar harus mempunyai ukuran yang sekurang-kurangnya sama dengan
diameter terbesar dari perangkap alat plambing yang dilayani. Diameter minimum pipa air
buangan untuk setiap alat plambing dilihat pada Tabel 2.7.
Tabel 2.7 Diameter Minimum Pipa Air Buangan Tiap Alat Plambing
Alat Plambing
Closet
Lavatory
Urinal
Floor drain
Shower
Sink

Diameter Minimum
( mm )
75
32
40
40,50,75
50
50

Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

2. Ukuran minimum pipa tegak


II-27

Pipa tegak harus mempunyai ukuran yang sekurang-kurangnya sama dengan diameter
terbesar cabang mendatar yang disambungkan ke pipa tegak tersebut;
3. Pengecilan ukuran pipa
Pipa tegak maupun pipa cabang mendatar tidak boleh diperkecil diameternya dalam aliran
air buangan. Pengecualian hanya pada kloset, di mana pada lubang keluar dengan
diameter 100 mm dipasang pengecilan pipa (reducer) 100 x 75;
4. Pipa bawah tanah
Pipa pembuangan yang ditanam di dalam tanah atau di bawah lantai bawah tanah harus
mempunyai ukuran sekurang-kurangnya 50 mm;
5. Penentuan ukuran pipa
Ukuran pipa pembuangan ditentukan berdasarkan jumlah beban unit alat plambing
maksimum yang diizinkan untuk setiap diameter pipa. Nilai unit beban alat plambing
dapat dilihat pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8 Nilai Unit Alat Plambing untuk Air Buangan
Unit Alat Plambing

Alat Plambing
Kloset dengan tangki gelontor
Urinal
Lavatory
Sink
Floor drain

4
4
1
4
1

Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000.

2.3.4
1.

2.

Perancangan Sistem Ven

Ukuran pipa ven harus berdasarkan pada ketentuan-ketentuan (Sistem Plambing, 2000):
Ukuran pipa ven lup dan pipa ven sirkit
Ukuran pipa ven lup dan ven sirkit minimum 32 mm dan tidak boleh kurang dari setengah
kali diameter cabang mendatar pipa buangan atau pipa tegak ven yang disambungkannya.
Ukuran pipa ven pelepas minimum 32 mm dan tidak boleh kurang dari setengah kali
diameter cabang mendatar pipa pembuangan yang dilayaninya;
Ukuran ven pipa tegak
Ukuran pipa ven tegak tidak boleh kurang dari ukuran pipa tegak air buangan yang
dilayaninya dan selanjutnya tidak boleh diperkecil ukurannya sampai ke ujung terbuka.
Penentuan ukuran pipa ven, sebagai berikut:
1. Pipa ven mendatar
Perhitungan ven horizontal menggunakan Tabel 2.9. Penentuan dimensi pipa ven
horizontal ini dengan melihat pada unit beban alat plambing maksimum yang dilayani,
panjang pipa ven maksimum dan dimensi air buangan yang di lalui;
2. Pipa ven tegak
Perhitungan ven tegak menggunakan Tabel 2.10. Penentuan dimensi pipa ven horizontal
ini dengan melihat pada unit beban alat plambing maksimum yang dilayani, panjang pipa
ven maksimum dan dimensi air buangan yang dilalui.
Tabel 2.9 Ukuran Pipa Cabang Horizontal Ven dengan Lup
40

Diameter ven lup ( mm )


50
65
75
100

II-28

Nomor
Jalur 1
2
3
4
5
6
7
8
9

Ukuran Pipa air


40
buangan
50
50
75
75
75
100
100
100

Unit alat plambing


10
maksimum
12
20
10
30
60
100
200
500

Panjang max horizontal (m)


6
4,5
3

12
9
6
2,1
1,8

12
12
48
6
5,4
4,2

30
30
24
15,6
15
10,8

60
54
42

Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

Tabel 2.10 Ukuran dan Panjang Pipa Tegak Ven dan Pipa Ven Horizontal
Ukuran pipa tegak air
kotor atau air buangan

Unit alat plambing yang


dihubungkan

32
40

2
8

40

10

50

12

50

20

65

42

80

10

80

30

80

60

100

100

100

200

100

500

125

200

Ukuran pipa ven yang di syaratkan


4
5
6
80
10
12
15
20
0
0
5
0
5
0
0
Panjang ukuran maksimum pipa ven ( m )
9
1
4
5
5
9
3
0
9
2
0
7
1
5
9
3
9
0
0
9
3
6
18
0
0
0
1
6
15
8
0
0
1
2
12
5
4
0
1
3
75
30
0
0
0
9
2
75
27
7
0
6
2
54
21
0
0
1
24
10
0
5

3
2

Dst
Sumber: Standar Nasional Indonesia 03-6481, 2000

2.3.5 Penentuan Diameter dan Slope Pipa Air Buangan


Suatu sistem pembuangan harus mampu mengalirkan dengan cepat air buangan yang
mengandung bagianbagian padat. Karena itu pipa pembuangan harus mempunyai ukuranukuran dan kemiringan yang cukup, sesuai dengan banyaknya dan jenis air buangan yang
harus dialirkan.
Dalam perencanaan biasanya pipa dianggap berisi air buangan sebanyak 2/3 bagian
penampang pipa, sehingga bagian atas yang kosong cukup mengalirkan udara. Sedangkan
kecepatan terbaik dalam pipa berkisar antara 0,6 sampai 2,1 m/detik. Tabel 2.11 dibawah ini
memuat standar kemiringan untuk pemakaian umum.
Tabel 2.11 Kemiringan Pipa Pembuangan Horizontal

II-29

Diameter Pipa (mm)

Kemiringan Minimum

75 atau kurang
100 atau kurang

1/50
1/100

Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

1.

2.

Dalam perencanaan ukuran pipa pembuangan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
yaitu:
Lay out sistem, digunakan untuk:
a. Memudahkan dalam instalasi (pemasangan);
b. Memudahkan dalam operasi (pemeliharaan);
c. Menghindari kemungkinan tumpang tindih dengan pipa yang lain.
Dimensionering (pengukuran penentuan dimensi)
Harus diketahui tipe atau jumlah alat plambing dengan persyaratan:
a. Ukuran minimum pipa cabang mendatar dengan diameter terbesar alat perangkap
plambingnya;
b. Ukuran minimal pipa tegak sama besar dengan diameter terbesar dari pipa cabang
mendatar;
c. Pengecekan ukuran pipa tidak diperbolehkan.
Tahap-tahap untuk menentukan diameter pipa pembuangan dengan metoda unit alat plambing
berdasarkam standar National Plambing Code, Minimum Requirements for Plumbing
A.S.A.A 40.8 1955:
1. Gunakan tabel unit alat plambing sebagai beban, setiap alat atau kelompok serta tabel
beban maksimum unit alat plambing yang diizinkan. Untuk cabang horizontal dan pipa
tegak buangan serta untuk pipa pembuangan gedung;
2. Tentukan unit alat plambing;
3. Tentukan ukuran pipanya serta kemiringan saluran horizontal.

1.

Penyaluran air buangan di hotel terdiri dari:


Penyaluran air kotor
Air kotor ini berasal dari kloset dan urinal yang disaluran ke septic tank;
2. Penyaluran air bekas
Air bekas berasal dari lavatory dan floor drain yang disalurkan ke IPAL;
2.3.6 Tangki Septik, Sistem Resapan, dan Grase Trap
Tangki septik adalah suatu tanki yang berfungsi menampung dan mengolah air buangan
dengan kecepatan aliran yang lambat, sehingga memberi kesempatan untuk terjadi
pengendapan terhadap suspensi benda-benda padat dan penguraian bahan-bahan organik oleh
bakteri anaerobik membentuk bahan-bahan larut air dan gas (Badan Standardisasi
Nasional,03-2398-2002).
Tangki septik ini banyak digunakan untuk mengolah air buangan domestik karena dianggap
lebih efektif, murah dan efisien.
Prinsip kerja dari septic tank adalah mengolah dan memisahkan antara air dengan kotoran
dengan cara pengendapan. Pengolahan dilakukan oleh bakteri anaerobik yang merubah
kotoran baku menjadi lumpur. Air hasil pemisahan (70% lebih bersih) dialirkan keluar secara
gravitasi dan diresapkan ke tanah, sedangkan hasil endapan (lumpur) harus dibuang secara
berkala dengan bantuan layanan mobil tangki air kotor pemerintah setempat. Dengan
demikian septic tank biasanya terletak diluar bangungan (mudah dicapai mobil tangki) dan
tidak ada peralatan pompa yang dipasangkan.
Ruang-ruang yang terdapat dalam septic tank terdiri dari (Ehlers dan Steel, 1976):
II-30

1.

Ruang lumpur
Ruangan lumpur ini digunakan untuk mengendapkan lumpur segar yang terdiri dari zatzat organik yang akan diuraikan oleh bakteri pengurai aerobik menjadi mineral-mineral.
Lamanya proses mineralisasi antara 60 - 100 hari, tipikal daerah panas 60 hari sedangkan
tipikal daerah dingin 100 hari. Lumpur yang sudah menjadi mineral harus dikuras setelah
1 - 4 tahun, dan waktu yang paling baik adalah 2 tahun;

2.

Ruang air
Ruang air ini terletak di atas ruang lumpur yang isinya tergantung dari banyaknya air
kotor yang dimasukkan dan lamanya air kotor ditahan dalam tangki. Kalau air bekas cuci
dan mandi dimasukkan dalam septic tank, maka ukuran tangki harus lebih besar. Fungsi
air selain untuk penggelontor juga digunakan untuk menghancurkan kotoran. Air yang ada
di ruangan ini sangat berbahaya karena mengandung mikroba yang patogen. Untuk
menghindari pengaruhnya terhadap lingkungan, air dalam tangki harus ditahan di dalam
selama 12 - 24 jam agar mikroba tersebut mati;

3.

Ruang udara bebas


Kegunaan ruangan ini untuk tempat penampungan sementara gas-gas hasil dekomposisi
air buangan. Tinggi ruangan ini disebut freeboard dan gas-gas tersebut dikeluarkan
melalui pipa ven.
Sarana untuk mengolah efluen yang keluar dari septic tank dapat berupa bidang resapan atau
sumur resapan. Bidang resapan sering digunakan untuk meresapkan air buangan. Sebelum
membuat bidang resapan, terlebih dahulu dilakukan uji perkolasi untuk mengetahui daya
resap tanah.
Grease (lemak) dari dapur adalah salah satu limbah domestik yang tidak bisa diurai secara
alami. Sumber grease adalah dari minyak goreng, mentega, susu, keju, daging, dll. Jika
limbah grease ini tidak ditangani secara tepat, akan menyebabkan :
1.
2.

Saluran pipa akan tertutup oleh grease yang membeku.


Jika sampai keluar ke saluran kota, akan menyebabkan bau yang tidak sedap
(pencemaran) dan dapat menimbulkan penyakit.
3.
Jika sampai masuk kedalam septic tank, akan menganggu proses septic tank
untuk menangani grease ini, salah satunya dengan cara memasang grease trap portable
(perangkap lemak).

Gambar 2.15 Grase Trap


Sumber: www.co.thurston.wa.us

II-31

2.3.7

Perancangan Sistem Penyaluran Air Hujan

Talang hujan pada sistem penyaluran air hujan ini meliputi pipa horizontal dan pipa tegak.
Ukuran talang tergantung pada luas atap yang dilayani oleh talang tersebut.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merancang talang tegak dan talang horizontal antara
lain:
1. Talang tegak tidak boleh kurang dari 3 kecuali untuk atap serambi dan dak beton boleh
2 (jika luas tangkapan hujan tidak melebihi ketentuan);
2. Jika jarak antar pipa tegak sejauh 50 ft (15 m) atau kurang maka diameter talang
horizontal yang digunakan sama dengan diameter pipa tegak atau tidak boleh kurang dari
4;
3. Untuk atap datar tambahan 1 untuk diameter talang tegak setiap pertambahan 30 ft
panjang talang horizontal.
Tabel 2.12 Beban Maksimum Yang Diizinkan Untuk Talang Atap (per m2 luas atap)
Ukuran pipa
Mm

Pipa tegak air hujan


50
65
80
100
125
150
200
250
300

Pipa datar pembuang air hujan


Kemiringan
1%
2%
4%

63
120
120
200
200
425
800
1290
2690

75
170
310
490
1065
1920
3090

105
245
435
700
1510
2710
4365

150
345
620
990
2135
3845
6185

Sumber : SNI 03-6481-2000

Catatan:
Tabel ini berdasarkan pada intensitas curah hujan 100 mm/jam. Bila intensitas curah hujan berbeda, nilai
luas pada tabel tersebut diatas harus disesuaikan dengan cara mengalikan dengan 10 dan membaginya
dengan data intensitas hujan lokal yang digunakan dalam mm/jam.

2.3.8 Perancangan Sistem Pencegahan Kebakaran


2.3.8.1 Pipa Tegak dan Slang Kebakaran
1. Aliran dan ukuran pipa tegak
Ditentukan dengan memperhatikan tinggi gedung, ukuran dan jumlah aliran air yang
dibutuhkan secara serentak:
a. Kelas 1 dan 3
Setiap pipa tegak harus direncanakan untuk aliran air minimum 62,3 l/dt (jika
menggunakan satu pipa tegak), tetapi jika menggunakan lebih dari satu pipa tegak,
maka pipa tegak tambahan direncanakan untuk aliran 31,2 l/dt. Diameter pipa tegak
dengan ketinggian tidak lebih dari 30 m menggunakan diameter minimum 100 mm,
jika lebih menggunakan diameter minimum 150 mm;
b. Kelas 2
Aliran air untuk kelas 2, jika hanya menggunakan satu pipa tegak mempunyai aliran
minimum 12,5 l/dt, tetapi jika menggunakan lebih dari satu pipa tegak maka aliran
II-32

untuk pipa tegak tambahan sebesar 12,5 l/dt. Ukuran pipa tegak dengan ketinggian
kurang dari 15 m digunakan pipa dengan diameter minimum 50 mm , tapi jika lebih
dari 15 m digunakan diameter minimum 62 mm.
2. Jumlah pipa tegak dan slang kebakaran
Jumlah kotak slang kebakaran adalah sedemikian rupa sehingga setiap bagian gedung
berada dalam jangkauan 9m. Untuk perletakan hidran didasarkan atas luas lantai dan
klasifikasi bangunan serta jumlah lantai bangunan. Untuk menentukan jumlah hidran
tersebut dapat menggunakan Tabel 2.13;
Tabel 2.13 Perletakan Hidran Berdasarkan Luas Lantai, Klasifikasi dan Jumlah Lantai
Klasifikasi
Bangunan

Ruang tertutup
Jumlah/luas lantai
1 buah per 1000 m2
1 buah per 1000 m2
1 buah per 1000 m2
1 buah per 800 m2
1 buah per 800 m2

A
B
C
D
E

Ruang tertutup dan terpisah


Jumlah/luas lantai
2 buah per 1000 m2
2 buah per 1000 m2
2 buah per 1000 m2
2 buah per 800 m2
2 buah per 800 m2

Sumber: Panduan Sistem Hidran untuk Pencegahan Kebakaran pada Bangunan Rumah Tinggal dan Gedung, Dept.P.U,
1987

Tabel 2.14 Klasifikasi Bangunan Menurut Tinggi dan Jumlah Lantai


Klasifikasi Bangunan

Ketinggian dan Jumlah Lantai

A
Ketinggian sampai dengan 8 meter atau 1 (satu) lantai
B
Ketinggian sampai dengan 8 meter atau 2 (dua) lantai
C
Ketinggian sampai dengan 14 meter atau 4 (empat) lantai
D
Ketinggian sampai dengan 40 meter atau 8 (delapan) lantai
E
Ketinggian lebih dari 40 meter atau 8 (delapan) lantai
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 1987

Tabel 2.15 Diameter Pipa Hidran Minimal


Total Akumulasi Aliran
Jarak Total Pipa Terjauh dari Keluaran
gpm
l/menit
< 15,2 m
15,2 m 30,5 m
> 30,5 m
100
379
2 inci
2 inci
3 inci
101 500
382 1893
4 inci
4 inci
6 inci
501 750
1896 2839
5 inci
5 inci
6 inci
751 1250
2843 4731
6 inci
6 inci
6 inci
1251 ke atas
4735 ke atas
8 inci
8 inci
8 inci
Sumber: Standar Nasional Indonesia 03-6481, 2000

2.3.8.2 Sprinkler
Jarak maksimum antara sprinkler untuk hunian bahaya ringan adalah 4,6 m dan jarak
maksimum antara dinding dengan sprinkler yang terdekat adalah 2,3 m. Untuk menentukan
ukuran pipa sprinkler di peroleh dari jumlah beban sprinkler yang dilayaninya. Instalasi
sprinkler merupakan suatu sistem instalasi pemadam kebakaran yang dipasang secara
tetap/permanen di dalam bangunan yang dapat memadamkan kebakaran secara otomatis
dengan menyemprotkan air di tempat mula terjadi kebakaran (Badan Standardisasi
Nasional,03-3989-2000).
Tabel 2.16 Pipa Cabang untuk Sistem Bahaya Kebakaran Ringan
Ukuran Pipa
(mm)

Jumlah Maksimum Kepala


Sprinkler

Keterangan

II-33

25

Masih memungkinkan pemakaian pipa


berukuran 25 mm di antara 2-3 titik kelompok
sprinkler dan katup kendali apabila
perhitungan hidrolik mengizinkan. Apabila
titik kelompok sprinkler 2 sebagai titik
desain, pipa berukuran 25 mm tidak boleh
dipakai diantara kepala sprinkler ke 3 dan ke 4.

Sumber: Standar Nasional Indonesia, 03-3989-2000

Pemakaian pipa ukuran 25 mm dimungkinkan di antara titik kelompok springkler 2-3 dan
katup kendali asal sesuai dengan perhitungan. Hal ini tidak berarti bahwa pipa berukuran 25
mm selalu boleh dipasang antara titik springkler ke 3 dan ke 4 apabila titik desain ditentukan
untuk titik kelompok springkler 2.
Apabila pipa cabang terdapat 3 kepala springkler atau lebih ditempatkan pada bubungan atap
atau apabila 3 kepala springkler atau lebih di dalam lorong atau ruangan sempit memanjang,
maka kehilangan tekanan yang terjadi,
1. Diantara titik kelompok springkler 3 dan katup kendali dimana terdapat hanya kepala
springkler pada pipa cabang.
2. Diantara titik kelompok springkler 3 dan katup kendali dimana terdapat 4 kepala
springkler atau lebih pada pipa cabang.
3. Tidak boleh lebih besar dari 0,7 kg/cm2 untuk titik kelompok springkler 3 dan
kehilangan tekanan tersebut dihitung sesuai dengan tabel 2.17 kolom 3.
Tabel 2.17 Kehilangan Tekanan Pipa untuk Kebakaran Ringan
Kehilangan tekanan 10 -3 atm/m panjang pipa

Ukuran Pipa (mm)


Kolom 1

Kolom 2

Kolom 3

25

44

200

32

12

51

40

5,5

25

50

1,7

7,8

65
0,49
Sumber: Badan Standardisasi Nasinal, 03-3989-2000

2,2

Sumber air untuk sistem sprinkler dapat diperoleh dari sistem air PAM, pompa kebakaran
otomatis, tangki tekan, dan tangki gravitasi. Dalam penyediaan suplai air ada 2 alternatif
sistem. Alternatif 1 penyediaan air bersih dan air pemadam kebakaran (sprinkler dan hidran)
dilakukan dengan sistem tangki secara terpisah, sedangkan untuk alternatif 2 tangki
penyediaan air bersih dan pemadam kebakaran digabung. Kelebihan dan kekurangan dari
masing-masing alternatif dapat dilihat dari Tabel 2.18
Tabel 2.18 Kelebihan dan Kekurangan Alternatif Tangki
Alternatif 1 (dipisah)
Kelebihan
Kekurangan

Tidak perlu pengolahan


air untuk kebakaran.
Biaya pengolahan lebih

murah.
Tidak ada air yang
diam.

Membutuhkan tempat
yang luas untuk
perletakan tangki.

Sulit dalam
pemeliharaan.

Alternatif 2 (digabung)
Kelebihan
Kekurangan
Tangki dapat diletakkan
pada satu tempat.
Masih tersedia cadangan

air jika listrik mati.


Lebih mudah dalam
pemeliharaan.

Air yang telah diolah


juga digunakan untuk
kebakaran.
Adanya air yang diam.

II-34

Sumber: Noerbambang dan Morimura, 2000

II-35