Anda di halaman 1dari 28

PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI

LAPORAN PERCOBAAN
FILTER AKTIF

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Praktikum Elektronika Telekomunikasi
DOSEN PEMBIMBING :

Lis Diana Mustafa,ST.,MT

PENYUSUN :
Kelompok 3
JTD 2B
No.
1

Nama
Dea Tristianti

No. Absen
04

Gustian Dwi

11

M. Firdaus Ali

12

Pambudi Prasetyo Y.

15

5
6

Ria Cahaya N.
Syarah Fattahuljannah

17
22

NIM
144116005
9
144116001
0
144116009
1
144116008
0
144116000
3
144116005
3

PROGRAM STUDI JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2016
UNIT 3
FILTER AKTIF
3.1 Tujuan
a. Mengukur besarnya frekuensi Cut-off pada filter aktif Low Pass orde satu.
b. Mengukur besarnya frekuensi Cut-off pada filter aktif Low Pass orde dua.
c. Mengukur besarnya frekuensi Cut-off pada filter aktif high Pass orde dua.
3.2 Alat dan Bahan
a. Modul Op-Amp (LM 741)
b. Osiloskop Dual Trace
c. Power Supply
d. Generator Fungsi
e. Kabel penghubung
3.3 Teori Dasar
Filter dalam bidang elektronika adalah suatu rangkaian yang berfungsi untuk
mengambil/melewatkan tegangan output pada frekuensi tertentu yang diinginkan dan untuk
melemahkan/membuang ke ground tegangan output pada frekuensi tertentu yang tidak
diiginkan. Filter dalam elektronika dibagi dalam dua kelompok yaitu filter pasif dan filter
aktif. Filter pasif dapat menggunakan komponen pasif (R, L, C). Sedangkan filter aktif
diperlukan rangkaian (R, L, C dan transistor atau Op-Amp).
Pada dasarnya filter pasif maupun filter aktif dapat dikelompokan berdasarkan respon
frekuensi yang di saring (filter) menjadi 4 kelompok, yaitu :
a. Filter Lolos Bawah (Low Pass Filter, LPF) berfungsi untuk melewatkan tegangan
output dengan frekuensi di bawah frekuensi cutt-off rangkaian.

Gambar 1.1 grafik respon frekuensi LPF

b. Filter Lolos Atas (High Pass Filter, HPF) berfungsi untuk melewatkan tegangan
output dengan frekuensi di atas frekuensi cutt-off rangkaian.

Gambar 1.2 grafik respon frekuensi HPF


c. Filter Lolos Rentang (Band Pass Filter, BPF) berfungsi untuk melewatkan tegangan
output pada frekuensi resonansi rangkaian.

Gambar 1.3 grafik respon frekuensi BPF


d. Filter Tolak Rentang (Band Stop Filter atau Notch Filter,BSF) berfungsi untuk
melemahkan tegangan output pada frekuensi resonansi rangkaian. Filter band stop ini
sering juga disebut sebgan Band reject Filter atau Notch Filter.

Gambar 1.4 grafik respon frekuensi BSF


Untuk membuat filter pada kelompok diatas dapat digunakan konfigurasi R dan C, L dan C
atau RLC. Akan tetapi penggunaan induktor sering dihindari karena fisik induktor yang
besar. Sehingga pada umumnya filter yang sering dijumpai adalah filter RC saja.
Filter aktif
Filter Aktif yaitu filter yang menggunakan komponen aktif, biasanya transistor atau penguat
operasi (op-amp). Kelebihan filter ini antara lain:
1. untuk frekuensi kurang dari 100 kHz, penggunaan induktor (L) dapat dihindari
2. relatif lebih murah untuk kualitas yang cukup baik, karena komponen pasif yang presisi
harganya cukup mahal
Beberapa macam filter yang termasuk ke dalam filter aktif adalah :
1.
Filter Lolos Bawah (Low Pass Filter)

Tapis pelewat rendah atau tapis lolos rendah (low-pass filter) digunakan untuk meneruskan
sinyal berfrekuensi rendah dan meredam sinyal berfrekuensi tinggi. Sinyal dapat berupa
sinyal listrik seperti perubahan tegangan maupun data-data digital seperti citra dan suara.
Untuk sinyal listrik, low-pass filter direalisasikan dengan meletakkan kumparan secara seri
dengan sumber sinyal atau dengan meletakkan kapasitor secara paralel dengan sumber sinyal.
Contoh penggunaan filter ini adalah pada aplikasi audio, yaitu pada peredaman frekuensi
tinggi (yang biasa digunakan pada tweeter) sebelum masuk speaker bass atau
subwoofer(frekuensi rendah). Kumparan yang diletakkan secara seri dengan sumber
tegangan akan meredam frekuensi tinggi dan meneruskan frekuensi rendah, sedangkan
sebaliknya kapasitor yang diletakkan seri akan meredam frekuensi rendah dan meneruskan
frekuensi tinggi.
Suatu filter lolos bawah orde satu dapat dibuat dari satu tahanan dan satu kapasitor. Filter
orde satu ini mempunyai pita transisi dengan kemiringan -20 dB/dekade atau 6 dB/oktav.
Penguatan tegangan untuk frekuensi lebih rendah dari frekuensi cut off adalah: Av = - R2 /
R1 sementara besarnya frekuensi cut off didapat dari: fC = 1 / (2.R2C1)

2.

Filter Lolos Atas (High Pass Filter)

High pass filter adalah jenis filter yang melewatkan frekuensi tinggi, tetapi mengurangi
amplitudo frekuensi yang lebih rendah daripada frekuensi cutoff.Nilai-nilai pengurangan

untuk frekuensi berbeda-beda untuk tiap-tiap filter ini .Terkadang filter ini disebut low cut
filter, bass cut filteratau rumble filter yang juga sering digunakan dalam aplikasi audio.High
pass filter adalah lawan dari low pass filter, dan band pass filter adalah kombinasi dari high
pass filter dan low pass filter.
Filter ini sangat berguna sebagai filter yang dapat memblokir component frekuensi rendah
yang tidak diinginkan dari sebuah sinyal komplek saat melewati frekuensi tertinggi.
High pass filter yang paling simple terdiri dari kapasitor yang terhubung secara pararel
dengan resistor, dimana reistansi dikali dengan kapasitor (RXC) adalah time constant ().
Suatu filter lolos bawah orde satu dapat dibuat dari satu tahanan dan satu kapasitor. Filter
orde satu ini mempunyai pita transisi dengan kemiringan 20 dB/dekade atau 6 dB/oktav.
Penguatan tegangan untuk frekuensi lebih tinggi dari frekuensi cut off adalah: Av = - R2 / R1
sementara besarnya frekuensi cut off didapat dari: fC = 1 / (2.R1C1)
Filter Pasif.
Filter banyak digunakan untuk memberikan sirkuit seperti amplifier, osilator dan sirkuit
power supply karakteristik frekuensi yang diperlukan. Beberapa contoh diberikan di bawah
ini. Mereka menggunakan kombinasi dari R, L dan C. Induktor dan Kapasitor bereaksi
terhadap perubahan frekuensi dengan cara yang berlawanan. Melihat sirkuit untuk filter lolos
rendah, baik LR dan kombinasi CR menunjukkan telah efek yang sama, tapi perhatikan
bagaimana posisi L dan C tempat perubahan dibandingkan dengan R untuk mencapai hasil
yang sama.
Low pass filter.

Rangkaian RC seri ini mirip dengan rangkaian pembagi tegangan dari dua buah hambatan

seri, sehingga tegangan out putnya adalah

Vout=

1 / jC
Vin
1/ jC +R

Filter lolos rendah digunakan untuk menghapus atau menipiskan frekuensi yang lebih tinggi
di sirkuit seperti amplifier audio; mereka memberikan respon frekuensi yang diperlukan
untuk rangkaian penguat. Frekuensi di mana filter low pass mulai mengurangi amplitudo
sinyal dapat dibuat disesuaikan. Teknik ini dapat digunakan dalam penguat audio sebagai

"TONE" atau "TREBLE CUT" kontrol. LR filter low pass filter dan high pass CR juga
digunakan dalam sistem speaker untuk band rute yang sesuai frekuensi untuk desain yang
berbeda dari speaker (yaitu 'woofer' untuk frekuensi rendah, dan 'Tweeters' untuk reproduksi
frekuensi tinggi). Pada aplikasi ini kombinasi pass filter tinggi dan rendah disebut "crossover
filter". Kedua filter CR dan LC lulus rendah yang menghilangkan hampir SEMUA frekuensi
di atas hanya beberapa Hz digunakan dalam rangkaian power supply, di mana hanya DC (nol
Hz) diperlukan pada output.

High pass filter.

Dengan
Vout=

memanfaatkan

rangkaian

pembagi

tegangan

maka

dapatlah

outputnya

R
Vin
1/ jC +R

Pass filter tinggi digunakan untuk menghilangkan atau meredam frekuensi yang lebih rendah
di amplifier, terutama audio amplifier mana ia dapat disebut "BASS CUT" sirkuit.
3.3 Prosedur Percobaan
LPF orde satu
1. Membuat rangkaian seperti berikut ini.
2. Mengatur keluaran generator fungsi sehingga diperoleh keluaran sebesar filter sebesar
1 Vpp, frekuensi 100 Hz. Mengukut besar teganganinput dan melengkapi tabel 3.1.
3. Membesarkan frekuensi generator ke 200 Hz dan mengukur Vout (kondisi Vin tetap)
dan melengkapi tabel 3.1
4. Mengulangi langkah ke -3 diatas sesuai dengan frekuensi yang ada dalam tabel 3.1.
5. Menghitung besar penguatan ( Av= Vout/Vin) serta dalam bentuk dB (AV dB = 20 log
Av)
6. Menggunakan hasil pengukuran untuk menggambar kurva respon frekuensi filter (Av
dB sebagai fungsi frekuensi)
LPF orde dua
1. Membuat rangkaian seperti berikut ini.
2. Mengatur keluaran generator fungsi sehingga diperoleh keluaran sebesar filter sebesar

1 Vpp, frekuensi 100 Hz. Mengukut besar teganganinput dan melengkapi tabel 3.2

3. Membesarkan frekuensi generator ke 200 Hz dan mengukur Vout (kondisi Vin tetap)
dan melengkapi tabel 3.2
4. Mengulangi langkah ke -3 diatas sesuai dengan frekuensi yang ada dalam tabel 3.2.
5. Menghitung besar penguatan ( Av= Vout/Vin) serta dalam bentuk dB (AV dB = 20 log
Av)
6. Menggunakan hasil pengukuran untuk menggambar kurva respon frekuensi filter (Av
dB

sebagai fungsi frekuensi)

HPF orde dua


1. Membuat rangkaian seperti berikut ini.
2. Mengatur keluaran generator fungsi sehingga diperoleh keluaran sebesar filter sebesar
1 Vpp, frekuensi 10k Hz. Mengukut besar teganganinput dan melengkapi tabel 3.3
3. Membesarkan frekuensi generator ke 200 Hz dan mengukur Vout (kondisi Vin tetap)
dan melengkapi tabel 3.3
4. Mengulangi langkah ke -3 diatas sesuai dengan frekuensi yang ada dalam tabel 3.3.
5. Menghitung besar penguatan ( Av= Vout/Vin) serta dalam bentuk dB (AV dB = 20 log
Av)
6. Menggunakan hasil pengukuran untuk menggambar kurva respon frekuensi filter (Av
dB

sebagai fungsi frekuensi)

3.4 Hasil Percobaan


LPF orde satu
Frekuensi Cut Off menurut perhitungan :
1
Frekuensi Cut Off = (2 R 2 C 1)
=

1
6
(2 x 3,14 x 10000 x 0,01 x 10 )

= 1592,35 Hz
Tabel 3.1 pengukuran LPF orde satu
No.
Frekuensi (Hz)
1.
100
2.
200
3.
500
4.
1000
5.
2000
6.
5000
7.
10000
8.
22200
Perhitungan :
Av

1.

2.

Av =

3.
4.

6.

8.

Vout 1.18 V
=
=9.2187
Vin 0.128V
Av ( dB ) =20 log Av=20 log9.2187=19.29 dB

Vout 1.16 V
=
=9.0625
Vin 0.128 V

Vout 1.16 V
=
=8.529
Vin 0.128 V

Av ( dB ) =20 log Av=20 log8.529=18.617 dB


Av =

7.

Vout (Vpp)
1.18
1.16
1.16
0.82
0.72
0.38
0.28
0.0905

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 9.0625=19.14 dB


Av =

5.

Vin (Vpp)
0.128
0.128
0.128
0.128
0.128
0.128
0.128
0.128

Vout 0.82V
=
=6.212
Vin 0.128 V

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 6.212=15.86 dB

Av
9.2187
9.0625
8.529
6.212
5.625
2.8787
2.059
0.707

Av (dB)
19.29
19.14
18.617
15.86
15.002
9.18
6.27
-3.01

Av =

9.

10.

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 5.625=15.002 dB

Av =

11.

12.

14.

Vout 0.38 V
=
=2.8787
Vin 0.128 V

Av ( dB ) =20 log Av=20 log2.8787=9.18 dB

Av =

13.

Vout 0.72V
=
=5.625
Vin 0.128 V

Vout 0.28 V
=
=2.059
Vin 0.128 V

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 2.059=6.27 dB

Vout 0.0905 V
Av
=
=
=0.707
15.
Vin
0.128 V
16.

Av ( dB ) =20 log Av=20 log0.707=3.01 dB

17. LPF orde dua


18.

Frekuensi Cut Off menurut perhitungan :

19. Frekuensi Cut Off =

1
(2 R 1 R 2 C 1C 2)
1

20.

(2 x 3,14 10000 x 10000 x 0.02 x 10 x 0.01 x 10 )


6

21. = 1125,9 Hz
22.
23. Tabel 3.2 pengukuran LPF orde dua
24.

25.

Frekuensi

26.

No.
30.

Vin

27.

Vout

(Hz)
31.

100

(Vpp)
32.
0.98

(Vpp)
33.
1

1.
36.

37.

200

38.

0.98

39.

2.
42.

43.

500

44.

0.98

45.

28.

Av

29.

Av

34.

1.02

(dB)
35.

0.17

40.

1.02

41.

0.17

46.

1.02

47.

0.17

3.
48.
4.
54.

49.

1000

55.

1100

50.
56.

0.98
0.96

51.
57.

0.80
0.712

52.
58.

0.816

53.

0.742

1.766
59.
-

5.
60.

61.

2000

62.

0.98

63.

0.34

64.

0.347

2.596
65.
-

6.
66.

67.

5000

68.

69.

0.14

70.

0.14

9.1934
71.
-

0.12

17.08
77.
-18.4

7.
72.

73.

10000

74.

75.

0.12

76.

8.
78. Perhitungan :
1.

Av

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 1.02=0.17 dB

79.
2.

Av =

Vout
1V
=
=1.02
Vin 0.98 V

80.
3.

Av =

Av =

Av =

Av =

Av =

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 0.742=2.596

dB

Vout 0.34 V
=
=0.347
Vin 0.98V

84.
7.

Av ( dB ) =20 log Av=20 log0.816=1.766 dB

Vout 0.712 V
=
=0.742
Vin
0.98 V

83.
6.

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 1.02=0.17 dB

Vout 0.80 V
=
=0.816
Vin 0.98 V

82.
5.

Av ( dB ) =20 log Av=20 log1.02=0.17 dB

Vout
1V
=
=1.02
Vin 0.98 V

81.
4.

Vout
1V
=
=1.02
Vin 0.98V

Av ( dB ) =20 log Av=20 log0.347=9.1934 dB

Vout 0.14 V
=
=0.14
Vin
1V

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 0.14=17.08 dB

85.
8.

Av =

Vout 1.12 V
=
=0.12
Vin
1V
Av ( dB ) =20 log Av=20 log0.12=18.4

86.

dB

87.
88. HPF orde dua
89. Frekuensi Cut Off menurut perhitungan :
1
90. Frekuensi Cut Off = (2 R 1 R 2 C 1C 2)
91.

=
92.

1
(2 x 3,14 10000 x 22000 x 0.01 x 106 x 0.01 x 106 )

= 1075,27 Hz

93.
94. Tabel 3.3 pengukuran HPF orde dua
95.

Frekuensi

97.

No. (Hz)
101. 102.

100

(Vpp)
103. 1

(Vpp)
104. 0.094

1.
107. 108.

200

109.

110.

2.
113.

500

115.

116.

3.
119.

96.

114.

Vin

98.

Vout

99.

Av

100.

Av

105.

0.094

(dB)
106.

0.104

111.

0.104

20.53
112. -

0.24

117.

0.24

19.65
118. -

960

121.

122.

0.70

123.

0.70

12.39
124. -3

4.
125. 126.

1000

127.

128.

0.68

129.

0.68

130.

-3.3

5.
131. 132.

2000

133.

134.

0.96

135.

0.96

136.

-0.35

6.
137. 138.

5000

139.

140.

141.

142.

7.
143. 144.

10000

145.

146.

147.

148.

8.
149.

120.

Perhitungan :

1.

Av

150.
2.

Av =

Av =

4.

Av =

Av =

Av =

8.

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 1=0 dB

Vout 1 V
=
=1
Vin 1 V

157.
158.

Av ( dB ) =20 log Av=20 log0.96=0.35 dB

Vout 1 V
=
=1
Vin 1 V

156.

Av =

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 0.68=3.3 dB

Vout 0.96 V
=
=0.96
Vin
1V

155.
7.

Av ( dB ) =20 log Av=20 log0.70=3 dB

Vout 0.68 V
=
=0.68
Vin
1V

154.
6.

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 0.24=12.39 dB

Vout 0.70 V
=
=0.70
Vin
1V

153.
5.

Av ( dB ) =20 log Av=20 log0.104=19.65 dB

Vout 0.24 V
=
=0.24
Vin
1V

152.
Av =

Av ( dB ) =20 log Av=20 log 0.094=20.53 dB

Vout 0.104 V
=
=0.104
Vin
1V

151.
3.

Vout 0.094 V
=
=0.094
Vin
1V

Av ( dB ) =20 log Av=20 log1=0 dB

159.
160.161.

Tabel 3.4 Perbandingan Simulasi dan pengukuran LPF orde satu


Simulasi

162.

N
o
.
163.164.
1
.
165.

166.167.
2
.
168.

169.170.
3
.
171.

Pengukuran

172.173.
4
.
174.

175.176.
5
.
177.

178.179.

180.

6
.

181.

182.183.
7
.
184.

185.186.
8
.

188.
189.

187.

190.

Tabel 3.5 Perbandingan Simulasi dan pengukuran LPF orde dua

191.

192.

No.
194.

195.

Simulasi

193.

1.

196.

197.

198.

2.

199.

200.

201.

3.

202.

Pengukuran

203.

204.

4.

205.

206.

207.

5.

208.

209.

210.

6.

211.

212.

213.

7.

214.

215.

216.

8.

217.

218.
219.

220.

Tabel 3.6 Perbandingan Simulasi dan pengukuran HPF orde dua

221.

222.

No.
224.

225.

Simulasi

223.

1.

226.

227.

228.

2.

229.

230.

231.

3.

232.

Pengukuran

233.

234.

4.

235.

236.

237.

5.

238.

239.

240.

6.

241.

242.

243.

7.

244.

245.

246.

8.

247.

248.
249.

250.

3.5 Analisis Data

251.

Analisis I

1. Pada percobaan LPF orde satu pengukuran dilakukan mulai frekuensi 100Hz sampai
dengan 22200Hz, dengan nilai Vin yang konstan sebesar 128mV. Pada percobaan Low
Pass Filter ini nilai penguatan -3dB (titik cutoff) didapatkan pada frekuensi yang cukup
tinggi yaitu 22200Hz dengan nilai Vout 90.5 mV( penguatan yang relatif besar dibanding
LPF orde 2 ). Semakin tinggi nilai frekuensi maka nilai gainnya semakin menurun.
2. Pada percobaan LPF orde dua yang dilakukan mulai dari frekuensi 100 Hz sampai
dengan 10000 Hz dengan Vin 980 mV didapatkan nilai gain mulai dari penguatan 1.02
kali sampai 0.12 kali ( penguatan yang relatif kecil dibanding LPF orde 1 ). Semakin
tinggi nilai frekuensi maka nilai gainnya semakin menurun. Pada percobaan ini frekuensi
cut off ditemukan pada frekuensi 1100 KHz dengan Vout 712 mV.
3. Pada percobaan HPF orde dua yang dilakukan mulai dari frekuensi 100 Hz sampai
dengan 10000 Hz dengan Vin 1 V didapatkan nilai gain mulai dari penguatan 1 kali
sampai 0.094 kali ( penguatan yang relatif kecil dibanding LPF orde 1 dan 2 ). Semakin
tinggi nilai frekuensi maka nilai gainnya semakin besar. Pada percobaan ini frekuensi cut
off ditemukan pada frekuensi 960 KHz dengan Vout 700 mV.
252.
253.

Kesimpulan :
Pada percobaan filter aktif yang terdiri 3 jenis filter, yang pertama LPF

orde 1 dimana meloloskan frekuensi rendah sampai frekuensi cut off ( lebih tinggi ),
percobaan dilakukan mulai frekuensi 100 Hz sampai frekuensi 22.2 KHz, sehingga frekuensi
ditemukan pada frekuensi 22.2 KHz dengan Av (dB) sebesar -3,01. Pada percobban LPF orde
2 pada dasarnya sama dengan LPF orde 1 yaitu hanya meloloskan frekuensi rendah sampai
frekuensi cut off ( lebih tinggi ), kemudian ditemukan nilai frekuensi cut off sebesar 1100 Hz
dengan Av (dB) sebesar -2,49. Lalu yang terakhir adalah filter HPF orde 2 dimana fungsinya
meloloskan frekuensi tinggi sampai dengan frekuensi cut off ( lebih rendah ), kemudian
ditemukan frekuensi cut off nya pada 960 Hz dengan Av(dB) sebesar -3.
254.
255.

(Dea Tristianti - 04)

256.

Analisis III :

1. Penguatan pada LPF orde satu lebih besar dari LPF order dua, semakin tinggi frekuensi
gain akan semakin menurun. Hasil yang didapat dari pengukuran dan simulasi hampir
sama 100Hz sampai 22,2KHz dengan penguatan tertinggi 9kali
2. Ditemukan pada LPF orde dua frekuensi cut off pada frekuensi 1100KHz dan amplitudo
712mV, dari pengukuran yang didapat dimulai dari frekuensi 100Hz 10KHz didapat
gain tertinggi 1.02 kali dan terendah 0.12 kali, hal ini membuktikan gain lebih kecil dari
LPF orde satu
3. Pengukuran HPF orde dua dimulai dari frekuensi 100Hz - 10KHz dengan tegangan input
1V ditemukan frekuensi cut off 960KHz dengan tegangan 0,7V dan penguatan tertinggi 1
kali, hal ini membuktikan gain lebih kecil dari LPF orde satu dan dua
257.
258.

Kesimpulan :
Pada percobaan filter aktif yang terdiri 3 jenis filter, yang pertama LPF

orde 1 dimana meloloskan frekuensi rendah sampai frekuensi cut off ( lebih tinggi ),
percobaan dilakukan mulai frekuensi 100 Hz sampai frekuensi 22.2 KHz, sehingga frekuensi
ditemukan pada frekuensi 22.2 KHz dengan Av (dB) sebesar -3,01. Pada percobban LPF orde
2 pada dasarnya sama dengan LPF orde 1 yaitu hanya meloloskan frekuensi rendah sampai
frekuensi cut off ( lebih tinggi ), kemudian ditemukan nilai frekuensi cut off sebesar 1100 Hz
dengan Av (dB) sebesar -2,49. Lalu yang terakhir adalah filter HPF orde 2 dimana fungsinya
meloloskan frekuensi tinggi sampai dengan frekuensi cut off ( lebih rendah ), kemudian
ditemukan frekuensi cut off nya pada 960 Hz dengan Av(dB) sebesar -3.
259.

(M Firdaus Ali)

260.
261.

Analisis IV:

1. Hasil Analisa untuk percobaan Low Pass Filter (LPF) Orde satu menunjukkan bahwa
semakin tinggi frekuensi input naka nilai Gain (Penguatan) semakin kecil. Dari range
frekuensi 100Hz 22,2 KHz dengan Vin 128mV diperoleh frekuensi cutoff pada
frekuensi 22,2 KHz dengan Vout = 90,5 mV.
262.

2. Analisa untuk percobaan Low Pass Filter (LPF) orde dua menunjukkan bahwa Semakin
tinggi nilai frekuensi maka nilai gainnya semakin menurun. pada frekuensi 100 Hz
sampai dengan 10 KHz dengan Vin 980 mV didapatkan nilai gain (Penguatan) mulai dari
1.02 kali sampai 0.12 kali. Pada percobaan ini frekuensi cut off ditemukan pada frekuensi
1100 KHz dengan Vout 712 mV.
263.
264.
3. Hasil Analisa untuk percobaan High Pass Filter (HPF) orde dua menunjukkan bahwa.
Semakin tinggi nilai frekuensi maka nilai gainnya semakin besar. dilakukan mulai dari
frekuensi 100 Hz sampai dengan 10 KHz dengan Vin = 1V didapatkan nilai gain mulai
dari penguatan 1 kali sampai 0.094 kali. Pada percobaan ini frekuensi cut off ditemukan
pada frekuensi 960 KHz dengan Vout 700 mV.
265.

Kesimpulan :

266.

Pada percobaan filter aktif yang terdiri 3 jenis filter, yang pertama LPF

orde 1 dimana meloloskan frekuensi rendah sampai frekuensi cut off ( lebih tinggi ),
percobaan dilakukan mulai frekuensi 100 Hz sampai frekuensi 22.2 KHz, sehingga frekuensi
ditemukan pada frekuensi 22.2 KHz dengan Av (dB) sebesar -3,01. Pada percobban LPF orde
2 pada dasarnya sama dengan LPF orde 1 yaitu hanya meloloskan frekuensi rendah sampai
frekuensi cut off ( lebih tinggi ), kemudian ditemukan nilai frekuensi cut off sebesar 1100 Hz
dengan Av (dB) sebesar -2,49. Lalu yang terakhir adalah filter HPF orde 2 dimana fungsinya
meloloskan frekuensi tinggi sampai dengan frekuensi cut off ( lebih rendah ), kemudian
ditemukan frekuensi cut off nya pada 960 Hz dengan Av(dB) sebesar -3.
267.

(Pambudi Prasetyo )

268.

269.
270.

Analisis V
271.

Ada dua tipe rangkaian filter yaitu filter aktif dan filter pasif. Filter pasif

menggunakan komponen pasif sedangan filter aktif menggunakan komponen aktif


misalnya menggunakan op-amp. Pada Low Pass Filter orde satu dan dua adanya

kecenderungan terjadi penurunan tegangan keluaran untuk setiap kenaikan frekuensi.


Pada Low Pass Filter orde satu menurut percobaan kami terjadi penguatan terendah pada
frekuensi 10.000 Hz dengan nilai penguatan 2.059 kali atau sebesar 6.27 dB dan terjadi
penguatan terbesar pada frekuensi 100 Hz dengan nilai penguatan 9.2187 kali atau
sebesar 19.29 dB. Frekuensi Cut off pada Low Pass Filter orde satu dapat dicari

menggunakan rumus

1
2 R 2 c 1 . Pada percobaan ini frekuensi cut off ditemukan pada

frekuensi 22,2 KHz dengan Vout 90.5 mV.


272.

Pada low pass orde dua menurut percobaan kami terjadi penguatan

terendah pada frekuensi 10.000 Hz dengan nilai penguatan 0.12 kali atau sebesar -18.4
dB dan terjadi penguatan terbesar pada frekuensi 100 Hz dengan nilai penguatan 1.02 kali
atau sebesar 0.17 dB. Penguatan pada Low Pass Flter orde dua relatif lebih kecil
dibandingkan Low Pass Orde satu. Frekuwnsi cut off untuk Low Pass Orde dua dengan

rumus

1
2 R 1. R 2. C 1. C 2 . Pada percobaan ini frekuensi cut off ditemukan pada

frekuensi 1100 KHz dengan Vout 712 mV.


273.

Pada High Pass Filter orde dua terdapat kecenderungan kenaikan tegangan

keluaran. Pada High Pass Filter orde satu menurut percobaan kami terjadi penguatan
terendah pada frekuensi 10.000 Hz dengan nilai penguatan 2.059 kali atau sebesar 6.27
dB dan terjadi penguatan terbesar pada frekuensi 100 Hz dengan nilai penguatan 9.2187
kali atau sebesar 19.29 dB. Penguatannya relatif lebih rendah dibandingkan dengan LPF
orde satu maupun orde dua. Semakin tinggi nilai frekuensi maka nilai gainnya semakin
besar. Pada percobaan ini frekuensi cut off ditemukan pada frekuensi 960 KHz dengan
Vout 700 mV.
274.

Kesimpulan

1. Pada filter aktif dengan menggunakan op-amp dapat digunakan untuk mengukur LPF
orde satu, LPF orde dua dan HPF orde dua.

2. LPF orde satu dan LPF orde dua terdapat kecenderungan penurunan nilai tegangan
output.
3. Penguatan pada LPF orde dua relatif lebih rendah dibandingkan dengan LPF orde satu.
275.
Dimana LPF orde satu memiliki penguatan terendah sebesar 6.27 dB dan
penguatan tertinggi sebesar 19.29 dB sedangkan pada LPF orde dua memiliki penguatan
terendah sebesar -18.4 dB dan penguatan tertinggi sebesar 0.17 dB.
276.
4. Penguatan HPF orde dua relatif lebih rendah dibandingkan LPF orde satu dan LPF orde
dua. Dimana penguatan terendah sebesar -20.53 dB dan penguatan tertinggi sebesar 0 dB
(tidak ada penguatan)
277.
278.
279.

(Ria Cahaya Ningsih

-17)
280.
281.

Analisis VI

1. Ada dua tipe rangkaian filter yaitu filter aktif dan filter pasif. Filter pasif menggunakan
komponen pasif sedangkan filter aktif menggunakan komponen aktif misalnya
menggunakan op-amp.
2. Pada percobaan LPF orde satu pengukuran dilakukan mulai frekuensi 100Hz sampai
dengan 22200Hz, dengan nilai Vin yang konstan sebesar 128mV. Pada percobaan Low
Pass Filter ini nilai penguatan -3dB (titik cutoff) didapatkan pada frekuensi yang cukup
tinggi yaitu 22200Hz dengan nilai Vout 90.5 mV( penguatan yang relatif besar dibanding
LPF orde 2 ). Semakin tinggi nilai frekuensi maka nilai gainnya semakin menurun.
3. Frekuensi Cut off pada Low Pass Filter orde satu dapat dicari menggunakan rumus
1
2 R 2 c 1 . Pada percobaan ini frekuensi cut off ditemukan pada frekuensi 22,2 KHz
dengan Vout 90.5 mV.
4. Frekuensi cut off untuk Low Pass Orde dua dengan rumus

1
2 R 1. R 2. C 1. C 2 .

5. Pada percobaan Low Pass orde 2 ini nilai frekuensi berbanding terbalik dengan
penguatannya. Semakin besar nilai frekuensinya, maka nilai penguatannya akan semakin

kecil. Untuk frekuensi cut off pada percobaan ini terletak pada frekuensi 1100 Hz dengan
Vout 712 mV dan AV(dB) mendekati -3dB.
6. Pada percobaan High Pass Filter orde 2 nilai frekuensi semakin meningkat maka nilai
penguatan (dB)nya akan semakin menurun. Untuk frekuensi cut off nya pada percobaan
ini terdapat pada frekuensi 960 Hz dimana nilai Vout nya sebesar 700mV dan
penguatannya sebesar 0.7x / -3dB.
282.

Kesimpulan

5. Pada filter aktif dengan menggunakan op-amp dapat digunakan untuk mengukur LPF
orde satu, LPF orde dua dan HPF orde dua.
6. LPF orde satu dan LPF orde dua terdapat kecenderungan penurunan nilai tegangan
output.
7. Penguatan pada LPF orde dua relatif lebih rendah dibandingkan dengan LPF orde satu.
283.
Dimana LPF orde satu memiliki penguatan terendah sebesar 6.27 dB dan
penguatan tertinggi sebesar 19.29 dB sedangkan pada LPF orde dua memiliki penguatan
terendah sebesar -18.4 dB dan penguatan tertinggi sebesar 0.17 dB.
284.
8. Penguatan HPF orde dua relatif lebih rendah dibandingkan LPF orde satu dan LPF orde
dua. Dimana penguatan terendah sebesar -20.53 dB dan penguatan tertinggi sebesar 0 dB
(tidak ada penguatan)
285.
286.
287.

(Syarah

Fattahuljannah - 22)
288.
289.

290.
Daftar Pustaka
1. http://elektronika-dasar.web.id/filter-pasif/ diakses pada 20 April 2016 pukul 11.41 WIB
2. http://comp-eng.binus.ac.id/files/2014/05/Filter-Frekuensi.pdf diakses pada 20 April
2016 pukul 11.56 WIB
3. http://andri19921119.blogspot.co.id/p/filter-aktif-dan-filter-pasif.html diakses pada 20
April 2016 pukul 11.59 WIB
4.
5.
291.
292.