Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS PASAR KELAS IBU HAMIL DI MADURA

Terdapat kecenderungan di wilayah Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan,


dan Sumenep) memiliki persentase penolong terakhir persalinan ke tenaga kesehatan
yang kecil. Berbeda dengan di wilayah Jawa Timur bagian barat dan tengah
(Mataraman dan Arek) persentase penolong terakhir persalinan ke tenaga kesehatan
cenderung lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa ada indikasi bahwa latar belakang
budaya memengaruhi dalam memutuskan penolong persalinan. Di wilayah Madura
dan Pedalungan penolong terakhir persalinan sebagian besar adalah dukun.

Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat
kematian bayi yang cukup tinggi. Dari 29 Kabupaten dan 9 Kota di Jawa Timur,
menurut data BPS Provinsi Jawa Timur tahun 2006, terdapat sembilan wilayah yang
memiliki angka kematian bayi di atas 50% dari total kelahiran, yaitu: Sampang
(70,26%), Kabupaten Probolinggo (69,79%), Bangkalan (61,72%), Situbondo
(62,39%), Bondowoso (62,21%), Jember (61,72%), Kabupaten Pasuruan (60,17%),
Pamekasan (59,73%), Sumenep (54,59%). Dari gambaran kasar mengenai data

tersebut, dapat dilihat bahwa empat kabupaten di Madura seluruhnya masuk dalam
daerah yang memiliki angka kematian bayi yang sangat besar.

Analisis Data
Suatu proses yang sistematis yang melibatkan proses, pengumpulan data, analisis
data, interpretasi data, yang akan melahirkan suatu informasi untuk pengambilan
keputusan.

a. Analisis Demografis
1. Madura dengan empat kabupaten merupakan wilayah dengan jumlah penduduk
yang sangat besar bila dibandingkan dengan wilayah lain di Jawa Timur
2. Angka Kematian Bayi di Madura sangat tinggi bila dibandingkan dengan
wilayah lain di Jawa Timur
b. Analisis Sosial Budaya
1. Madura adalah salah satu etnis di Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat
patriakal, dimana posisi perempuan tidak memiliki posisi yang signifikan, hal
ini dapat dilihat dengan lemahnya posisi tawar perempuan Madura terhadap
laki-laki. Posisi tawar yang dimaksud adalah posisi yang dapat memungkinkan
seseorang untuk dapat berpengaruh dalam kelompoknya. Kekhasan itulah yang
mampu membuat seseorang memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam
kelompoknya.
2. Kultur Madura yang menjadikan laki-laki memilki kekuasaan atas para
perempuan, baik atas tubuhnya maupun atas kesehatannya.
3. Para ibu secara sengaja sering tidak datang ke rumah sakit ataupun pondok
bersalin untuk melahirkan, melainkan mereka lebih memilih untuk datang ke
dukun bayi.
c. Analisis Geografis

Iklim di Madura bercirikan 2 musim, musim barat atau musim hujan, dan
musim timur atau musim kemarau. Curah hujan setiap bulan tidak lebih dari 200300 mm, dengan komposisi tanah dan rendahnya curah hujan membuat tanah di
Madura menjadi kurang subur dan kurang menguntungkan secara ekonomi. Hal ini
lah yang membuat banyak orang Madura beralih pekerjaan menjadi nelayan,
pedagan, atau bermigrasi. Hal tersebut tidak berarti sektor pertanian berhenti total,
hanya saja tidak banyak dari orang Madura yang menggantungkan hidup dari
sektor tersebut (de Jonge, 1989:3-9).
Kondisi jalan dan akses jalan di Madura juga kurang merata sehingga sulit
untuk dilewati oleh alat ransportasi seperti sepeda motor dan juga mobil, dan tidak
jarang juga ada beberapa akses jalan yang hanya dapat dilewati dengan berjalan
kaki. Kondisi jalan yang tidak rata dan naik turun serta sempit di beberapa desa
membuat masyarakat desa susah untuk melewatinya dengan alat transportasi.

Interpretasi
Rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor
penentu angka kematian AKI/AKB. Tidak hanya itu, masih banyak faktor lain yang
juga cukup penting. Misalnya pemberdayaan perempuan yang tak begitu baik, latar
belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik
serta kebijakan yang ada. Tingginya kematian ibu juga karena masalah
ketidaksetaraan gender, nilai budaya, perekonomian, serta rendahnya perhatian lakilaki terhadap ibu hamil dan melahirkan.
Ketersediaan fasilitas kesehatan dan akses menuju ke fasilitas kesehatan juga
menjadi suatu faktor penting penentu angka kematian baik AKI/AKB. Perawatan
atenatal care merupakan perawatan yang harus dilakukan secara cermat agar resiko
kematian bayi dan kematian ibu dapat ditekan dan hal ini memerlukan akses
pelayanan kesehatan yang ideal dimana fasilitas kesehatan dapat dijangkau dengan
mudah oleh masyarakat lokasinya. Tetapi, di Madura akses menuju fasilitas kesehatan

masih sangat susah dan banyak hambatannya seperti jalan yang rusak, lokasi fasilitas
kesehatan seperti rumah sakit besar yang jauh dan hanya tersedia di Bangkalan
sehingga masyarakat desa susah untuk menjangkaunya, tidak aktifnya puskesmas dan
bidan desa sehingga masyarakat yang bertempat tinggal di desa desa kecil seperti
Batorasang, Camplong dan lain sebagainya lebih memilih untuk melakukan
perawatan terhadap ibu hamil sendiri tanpa ada bantuan medis dan melakukan
persalinan tanpa fasilitas yang layak dan seadanya dengan mengandalkan dukun bayi
karena secara social budaya dukun bayi lebih mendapat kepercayaan daripada
petugas medis.

Kesimpulan

SUMBER :

Noer, khaerul Umam. 2008. Angka Kematian Bayi dan Persoalan Kesehatan
Ibu Hamil dalam Budaya Madura. Surabaya. Universitas Airlangga

Pemetaan Determinan Angka Kematian Bayi di Jawa Timur (Mochamad


Setyo Pramono, dkk.)