Anda di halaman 1dari 59

AKUNTANSI UNTUK PERUBAHAN HARGA

Oleh
I Gst Ayu Erika Pradini

1317051021

Luh Putu Kartika Sari Dewi

1317051022

Ni Nyoman Mastriani

1317051023

Luh Yeni Merta Sari

1317051024

Putu Yuni Anggreni

1317051172

Putu Sukma Dewi

1317051174

Nidya Apriani

1317051175

JURUSAN AKUNTANSI PROGRAM S1


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Akuntansi bagi perubahan harga secara khusus berhubungan erat dengan
manajer-manajer perusahaan multinasional karena tingkat inflasi bervariasi
secara substansial antara suatu negara dengan negara lainnya, sehingga
meningkatkan kemungkinan dipengaruhinya pelaporan hasil-hasil operasi oleh
efek-efek distortif dari inflasi. Inflasi lokal mempengaruhi kurs yang digunakan
untuk menetranslasikan saldo-saldo valuta asing kedalam valuta domestiknya
yang ekuivalen. Jadi, dalam akuntansi operasi luar negeri sulit untuk memisahkan
isu translasi valuta asing dari isu inflasi.
Karena inflasi mengikis standar penghasilan tetap dan memperumit
pengambilan keputusan bisnis secara signifikan, terjadinya kegelisahan politik
dan sosial yang luas. implikasi langsung dari kenyataan diatas, paling tidak bagi
kalangan bisnis, adalah bahwa inflasi merupakan sebuah fenomena yang sebagian
besar berada diluar kendali manajemen dan para manajer harus belajar
menanggulanginya. Dalam hal ini, program-program penentuan harga yang
rasional, program produktivitas, dan manajemen aset merupakan perangkatperangkat manajemen yang berharga. Teknik-teknik manajemen inflasi yang
efektif, sebaliknya, sangat tergantung pada suatu sistem informasi yang
memungkinkan para manajer untuk mengukur efek-efek distortif dari inflasi
terhadap kinerja perusahaan dan elemen-elemen posisi keuangan. Data-data
akuntansi yang mencerminkan efek-efek perubahan harga sangat diperlukan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun Rumusan Masalah dalam Makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Rerangka Akuntansi Pokok terhadap Akuntansi untuk
Perubahan Harga ?
2. Bagaimana Pos-Pos Moneter dan Nonmoneter terhadap Akuntansi untuk
Perubahan Harga ?
3. Bagaiamana Perubahan Harga terhadap Akuntansi untuk Perubahan
Harga?
4. Bagaimana Akuntansi Daya Beli Konstan terhadap Akuntansi untuk
Perubahan Harga?

5. Bagaimana Akuntansi Kos Sekarang terhadap Akuntansi untuk Perubahan


Harga ?
6. Bagaimana Standar Akuntansi Perubahan terhadap Akuntansi untuk
Perubahan Harga ?
7. Bagaimana Model Akuntansi dan Implementasinya terhadap Akuntansi
untuk Perubahan Harga ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Rerangka Akuntansi Pokok terhadap Akuntansi untuk
Perubahan Harga.
2. Untuk mengetahui Pos-Pos Moneter dan Nonmoneter terhadap Akuntansi
untuk Perubahan Harga.
3. Untuk mengetahui Perubahan Harga terhadap Akuntansi untuk Perubahan
Harga.
4. Untuk mengetahui Akuntansi Daya Beli Konstan terhadap Akuntansi
untuk Perubahan Harga.
5. Untuk mengetahui Akuntansi Kos Sekarang terhadap Akuntansi untuk
Perubahan Harga.
6. Untuk mengetahui Standar Akuntansi Perubahan terhadap Akuntansi untuk
Perubahan Harga.
7. Untuk mengetahui Model Akuntansi dan Implementasinya terhadap
Akuntansi untuk Perubahan Harga.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Rerangka Akuntansi Pokok terhadap Akuntansi untuk Perubahan


Harga
Rerangka Akuntansi Pokok
Rerangka akuntansi pokok akan menghasilkan statemen keuangan
dasar. Paton dan Littleton menegaskan bahwa data dasar hendaknya merupakan

angka yang terandalkan yaitu obyektif dan dapat diverifikasi. Tujuan pelaporan
keuangan tidak terbatas pada masalah pertanggungjelasan tetapi juga pada
pemenuhan kebutuhan pengambilan keputusan ekonomi yang lebih luas.
Tujuan penyajian informasi untuk pertanggung jawaban menjadi tidak berarti
atau bahkan dapat diganti sama sekali. Kos merupakan jumlah rupiah
kesepakatan dalam rangka memperoleh barang dan jasa dan merupakan jumlah
rupiah kesepakatan dalam rangka penyerahan produk atau jasa yang dihasilkan
perusahaan.
Masalah Akuntansi
Perubahan harga menimbulkan masalah bagi akuntansi dalam hal
penilaian unit pengukur dan pemertahanan kapital. Masalah penilaian
berkaitan dengan dasar yang harus digunakan untuk mengukur nilai pos pada
suatu saat. Masalah pemertahanan kapital berkaitan dengan pengertian laba
sebagai selisih dua kapital yang harus ditentukan jenisnya. Perubahan harga
umunya terjadi karena perbedaan jumlah rupiah yang dapat digunakan
untuk memperoleh barang yang sama dalam jangka waktu yang berbeda.
Rerangka akuntansi pokok dilandasi oleh asumsi bahwa daya beli uang stabil dan
manfaat ekonomik barang tidak berubah. Jadi apabila terjadi perubahan harga
yang cukup mencolok akuntansi mengalami permasalahan dalam penilaian, unit
pengukur dan pemertahanan kapital.

a. Masalah Penilaian
Nilai aset individual atau spesifik akan berubah kalau dibandingkan
dengan aset tertentu yang lain meskipun daya beli uang tidak berubah.
Perubahan ini disebabkan oleh penggunaan teknologi yang berbeda atau
kemampuan produk baru yang lebih tinggi. Persepsi atau selera orang terhadap
manfaat atau nilai barang tertentu dapat pula menyebabkan perubahan nilai
yang akhirnya mempengaruhi harga barang tersebut. Perubahan harga
semacam ini disebut dengan perubahan harga spesifik. Model akuntansi untuk
menghadapi masalah ini adalah akuntansi nilai sekarang yang pengukuran

nilainya bergantung pada dasar penilaian yang dianut yaitu kos sekarang atau
nilai keluaran sekarang.
b. Masalah Unit Pengukur
Daya beli uang dapat berubah sehingga unit moneter sebagai pengukur
nilai tidak bersifat homogenus lagi kalau dikaitkan dengan waktu. Perubahan
nilai unit pengukur ini terjadi karena perubahan tingkat harga secara umum
dalam ekonomi suatu negara. Artinya, kalau nilai atau manfaat suatu barang
tidak berubah, jumlah unit moneter yang dapat digunakan untuk memperoleh
barang yang sama akan berbeda dari waktu ke waktu karena daya beli uang
berubah.
Secara umum, daya beli uang semakin menurun karena adanya inflasi.
Akuntansi menghadapi masalah ini karena kos yang diukur satuan rupiah
nominal tidak lagi homogenus untuk beberapa pos sehingga penjumlahan kos
vertikal atau horisontal sebenarnya tidak bermakna lagi.
c. Masalah Pemertahanan Kapital
Laba adalah kenaikan kapital dalam suatu periode yang dapat
didistribusi atau dinikmati setelah kapital awal dipertahankan. Untuk
menentukan laba dengan mempertahankan kapital, tiga hal penting dalam
mengukur kapital harus dipertimbangkan yaitu dasar penilaian, skala
pengukuran, dan jenis kapital terutama dalam hal terjadi perubahan harga atau
nilai. Masalah unit pengukur dalam perubahan harga berkaitan dengan skala
pengukuran. Masalah pemertahanan kapital dalam perubahan harga berkaitan
dengan jenis kapital yang harus dipertahankan yaitu finansial atau fisis.
Bila pengaruh perubahan harga seperti di atas tidak diperhatikan, dalam
keadaan perubahan harga menarik, perhitungan laba atas dasar kos historis
cenderung tersaji lebih. Hal ini disebabkan perubahan akibat kenaikan harga
atau untuk penahanan melekat pada angka laba. Angka laba yang tersaji lebih
dapat mengakibatkan distribusi laba yang melebihi jumlah yang dapat
menyisakan laba untuk mempertahankan kapital.

2.2 Pos-Pos Moneter dan Nonmoneter terhadap Akuntansi untuk Perubahan


Harga
Pos-Pos Moneter dan Non Moneter
Perubahan harga mempunyai implikasi yang berbeda antara pos-pos
moneter dan nonmoneter. Pos-pos moneter berkaitan dengan masalah untung/
rugi daya beli sedangkan pos-pos non moneter berkaitan dengan untung/rugi
penahanan. Pos moneter dan non moneter berkaitan erat dengan implikasi
perubahan harga .pembagian pos-pos neraca menjadi moneter dan non moneter
didasarkan pada potensi jasa yang melekat pada pos bersangkutan yaitu potensi
jasa berupa aliran kas atau berupa aliran potensi jasa fisis (non kas).
Pos Moneter
Pos-pos moneter terdiri atas aset moneter dan kewajiban moneter. Aset
moneter adalah klaim untuk menerima kas di masa mendatang dengan jumlah
dan saat yang pasti tanpa mengaitkan dengan harga masa datang barang dan
jasa tertentu.
Kewajiban moneter adalah keharusan untuk membayar uang di masa
mendatang dengan jumlah dan saat pembayaran yang sudah pasti. Implikasi
perubahan harga terhadap pos-pos moneter lebih berkaitan dengan perubahan
daya beli yang menimbulkan untung atau rugi daya beli. Untung atau rugi daya
beli timbul kalau perusahaan menahan pos-pos moneter dalam keadaan daya
beli berubah. Contoh kewajiban moneter antara lain adalah utang dagang,
utang wesel, dan utang obligasi.
Pos-Pos Nonmoneter
Pos-pos nonmoneter adalah pos-pos selain yang bersifat moneter yang
juga terdiri atas aset nonmoneter dan kewajiban nonmoneter. Aset nonmoneter
adalah aset yang mengandung jumlah rupiah yang menunjukkan nilai dan nilai
tersebut berubah-ubah dengan berjalannya waktu atau aset yang merupakan
klaim untuk menerima potensi jasa atau manfaat fisis tanpa memperhatikan
perubahan daya beli. Beberapa pos yang masuk dalam pengertian aset
nonmoneter adalah sediaan barang dagangan, fasilitas fisis, investasi dalam
saham, ekuitas dan goodwill.

Kewajiban nonmoneter adalah keharusan untuk menyerahkan barang


dan jasa atau potensi jasa lainnya dengan kuantitas tertentu tanpa
memperhatikan daya beli atau perubahan nilai barang atau potensi jasa tersebut
pada saat diserahkan. Implikasi perubahan harga terhadap pos nonmoneter
adalah terjadinya perbedaan nilai tukar antara saat pos-pos tersebut diperoleh
atau terjadi dan nilai tukar saat meretia diserahkan atau dilaporkan pada akhir
perioda. Pos-pos moneter berkaitan dengan untung atau rugi daya beli
sedangkan pos-pos nonmoneter dengan untung atau rugi penahanan.
2.3 Perubahan Harga terhadap Akuntansi untuk Perubahan Harga
Perubahan Harga
Harga merepresentasi nilai tukar barang dan jasa pada suatu saat dalam
suatu lingkungan ekonomik. Barang dan jasa dapat berupa barang dan jasa
antara yaitu berupa faktor produksi atau produk akhir (barang dan jasa untuk
konsumsi). Harga masukan adalah harga faktor produksi dan harga barang atau
jasa antara yang diperoleh untuk tujuan diolah lebih lanjut. Harga keluaran
adalah harga barang dan jasa yang dijual sebagai produk perusahaan. Pasar
faktor produksi disebut pasar masukan dan pasar produk akhir disebut pasar
keluaran.
Secara umum, perubahan harga adalah perbedaan jumlah rupiah untuk
memperoleh barang atau jasa yang sama pada waktu yang berbeda dalam pasar
yang sama (masukan atau keluaran). Dari segi akuntansi, perubahan harga
adalah perbedaan antara kos tercatat suatu objek (pos) dan jumlah rupiah yang
menggambarkan nilai objek (pos) pada saat tertentu. Dari sudut perusahaan,
perbedaan harga masukan dan keluaran bukan merupakan perubahan harga
tetapi lebih merupakan laba yaitu kenaikan nilai ekonomik yang diharapkan
karena proses produksi.
Karakteristik perubahan harga barang dan jasa, ada tiga jenis perubahan harga
yaitu : (1) perubahan harga umum, (2) perubahan harga spesifik, dan (3)
perubahan harga relatif

Karena seluruh harga barang berubah dengan tingkat yang sama (60%)
dalam suatu periode, perubahan tersebut dapat dianggap terjadi karena perubahan
daya beli atau perubahan harga umum. Dengan adanya perubahan harga umum,
harga barang pada saat tertentu dapat dibandingkan dengan harga pada waktu
yang lain sebagai dasar (bila waktu tahunan, waktu tersebut disebut tahun dasar).
Rasio atau perbandingan ini biasanya dinyatakan dalam angka kelipatan 100 dan
disebut dengan indeks harga dengan tahun dasar tertentu.
Yang dimaksud dengan indeks harga umum (general price index) biasanya
tidak mempresentasikan perubahan harga seluruh barang dan jasa dalam suatu
perekonomian negara. Pengertian umum atau agregat lebih menunjukan index
berbobot untuk sekelompok barang dan jas tertentu yang dibeli oleh kelompok
konsumen tertentu di pasar tertentu pula (disebut market basket of goods and
service). Hal ini disebabkan oleh kerumitan atau kekompleksan dalam
menentukan index harga umum untuk seluruh barang dan jasa dalam suatu
perekonomian negara. Selain itu harga index umum semacam itu justru tidak
cukup bermanfaat atau tepat untuk tujuan tertentu. Salah satu contoh index harga
umum sekelompok barang yang sering digunakan dalam analisis economic atau
bisnis adalah index harga consumer gabungan.
Indeks harga consumer untuk kelompok tertentu hanya mewakili
perubahan harga dalam kelompok tersebut. Untuk barang yang tidak masuk dalam
kelompok barang dan jasa yang harganya digunakan untuk menghitung indeks

harga consumer, angka indeks harga konsumen harus digunakan dengan hati-hati
dan bijaksana karena perrubahan yang ditunjukan dalam index belum tentu
menggambarkan perubahan harga barang bersangkutan. Kalau dianggap bahwa
barang konsumsi dapat mewakili tingkat perubahan harga umum, index harga
consumer gabungan dapat dijadikan dasar untuk tujuan analisis yang memerlukan
indeks harga umum.

Angka index harga suatu periode yang disajikan oleh suatu institusi
misalnya badan pusat statistik (BPS) dapat menunjukan index awal, akhir, ataupun
rata-rata untuk periode bersangkutan. Index dalam gambar 13.3 merupakan index
rata-rata untuk tahun bersangkutan. Selain index harga consumer, BPS
mengeluarkan pula beberapa indikator ekonomi lain seperti index harga consumer,
BPS mengeluarkan pula beberapa indikator ekonomi lain seperti index harga
perdagangan Besar, Index Harga Sembilan Bahan Pokok, Indeks Triwulan Harga
Produksi Industri, dan Indeks Harga Beberapa Komoditas Penting di Pasar Dunia.
Inflasi dan Daya Beli Uang
Indeks harga dapat memberi gambaran perubahan tingkat harga dari waktu
ke waktu. Dari sisi lain, perubahan indeks harga merefleksikan pula perubahan
daya beli atau nilai tukar uang. Kenaikan indeks harga berarti penurunan daya beli

demikian pula sebaliknya. Daya beli uang adalah kemampuan satuan uang pada
saat tertentu untuk ditukarkan dengan barang . Gejala kenaikan tingkat harga
umum dari waktu kewaktu disebut inflasi. Inflasi ditunjukan oleh indeks harga
umum yang cenderung menaik dari waktu ke waktu. Perubahan relatif indeks
harga dari periode satu ke periode selanjutnya disebut dengan laju inflasi
Gambar 13.4
Hubungan Indeks Harga, Daya Beli, dan Laju inflasi
Berdasarkan indeks Harga Konsumer (HK) Gabungan 43 Kota
(1996=100.2002= Basis Daya Beli)
Tahun
1998
1999
2000
2001
2002

IHK

Daya beli per Rp

Laju Inflasi
(%)

198,47
202,46
221,37
249,15
274,13

1000.000
KRp 1.381.216
1.353.996
1.238.334
1.100.260
1.000.000

200
9,34
12,55
10,03

Gambar diatas menunjukan bahwa daya beli uang semakin menurun


manakala indeks harga semakin menaik. Pola laju inflasi bergantung pada
fluktuasi indeks harga antar tahun.
Implikasi Akuntansi
Dengan berubahnya daya beli sepanjang waktu, kos berbagai objek yang
diukur dengan satuan uang pada waktu yang berbeda-beda sebenarnya merupakan
jumlah rupiah yang tidak homogenus sehingga dapat dijumlahkan. Seandainya di
jumlah, hasil penjualan sebenarnya tidak bermakna jelas. Hal ini dapat dijelaskan
dengan ilustrasi berikut. Pada awal tahun 2005 suatu perusahaan membeli mesin
dengan harga Rp.30.000.000 dan kemudian membeli mesin lagi yang sama pada
akhir tahun 2005 dengan harga Rp.40.000.000. Dimisalkan indeks harga pada
awal dan akhir tahun masing-masing adalah 120 dan 160 sedangkan indeks ratarata atau tengah adalah 150 (tahun 2002=100). Perhitungan saldo akhir mesin
berikut menggambarkan masalah yang dihadapi akuntansi.

Pada akhir tahun :


Daya beli kas awal yang ditahan: 160/100 X Rp 1.000.000.KRp 1.600.000
Daya beli kas yang dimiliki akhir tahun : 160/200 X Rp 1.000.000KRp
Rugi daya beli karena menahan aset moneter . KRp

800.000

800.000

Pada saat pelunasan utang :


Daya beli utang awal yang ditunda : 160/100 X Rp 1.500.000KRp 2.400.000
Daya beli pelunasan tengah tahun : 160/160 X Rp 1.500.000KRp 1.500.000
Untung daya beli karena menunda pembayaran utang moneterKRp 900.000
Karena akuntansi kos historis menganggap day beli uang konstan, untung
atau rugi daya beli tidak akan tampak dalam statement laba rugi. Untung atau rugi
tersebut melekat atau tersembunyi dalam angka laba sehingga ada kemungkinan
pemertahanan capital terlanggar karena kebijakan untuk mendistribusi dividen
melebihi jumlah yang seharusnya untuk mempertahankan capital. Usaha
perbaikan dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk akuntansi daya beli konstan .
Interpretasi Untung/Rugi Daya Beli
Jumlah rupiah untung atau rugi daya beli merupakan informasi untuk
membantu pemakai dalam menentukan laba ekonomik perusahaan karena

informasi tersebut berkaitan dengan seberapa jauh kapital secara ekonomik


harus dipertahankan.
Untung daya beli penahanan utang dapat diperlakukan sebagai
pengurangan aset yang diperoleh dengan utang tersebut. Untung atau rugi
daya beli pos moneter lancar dapat dianggap terrealisasi pada saat pos aset
moneter lancar diterima uangnya atau pada saat utang moneter lancar dilunasi.
Dari sudut pandang perusahaan sebagai kesatuan usaha, untung atau rugi daya
beli utang jangka panjang dalam suatu perioda tidak mempengaruhi besarnya
laba.
Dari sudut likuiditas, untung atau rugi daya beli akan memberi informasi
apakah perusahaan dapat menjaga likuiditas operasinya. Dalam kondisi inflasi,
tentu saja modal kerja moneter akan cenderung menurun daya belinya.
Dalam kondisi inflasi, tentu saja modal kerja moneter akan cenderung
menurun daya belinya. Kalau volume usaha tidak mengalami perubahan atau
akan dipertahankan, modal kerja moneter tentunya harus dinaikan. Ini berarti
bahwa perushaan mungkin harus membatasi jumlah pembagian dividen.
Dengan pelaporan rugi daya beli, investor akan memperoleh informasi bahwa
laba yang tersedia untuk dibagikan sebagian harus ditahan untuk
mempertahankan daya beli modal kerja moneter. Jadi, laba atau rugi daya beli
merupakan sarana untuk mempertahankan capital dalam kebijakan dividen. Hal
ini sejalan dengan pengertian laba sebagai tambahn kemampuan ekonomik
yang dapat dibagi/dikonsumsi setelah capital awal dipertahankan.
Perubahan Harga Spesifik
Perubahan harga spesifik adalah perubahan harga barang tertentu karena
nilai instrinsik barang tersebut berubah sehingga nilai tukarnya juga berubah
baik di pasar masukan maupun pasar keluaran.
Perubahan harga spesifik terjadi karena berbagai faktor antara lain
perubahan selera konsumer, perubahan teknologi di bidang teknik industri dan

spekulasi atau perubahan harapan masyarakat terhadap kuantitas barang dan


jasa tertentu yang tersedia dalam masyarakat.
Perubahan harga spesifik dalam pasar masukan akan mengakibatkan
kenaikan atau penurunan kos aset yang yang akhirnya mempengaruhi biaya
bagi perusahan. Perubahan harga spesifik dalam pasar keluaran akan
mengakibatkan kenaikan atau penurunan pendapatan perusahaan.

Dalam gambar di atas, barang A dan C mengalami perubahan harga


sementara harga sementara harga barang lainnya tidak berubah. Perubahan rp 550
untuk barang A dan Rp 2.400 untuk barang B merupakan perubahan harga
spesifik. Dalam hal ini dianggap bahwa barang A dan B independen satu sama
lainnya. Perubahan harga tersebut mencerminkan perubahan nilai tukar barang
bukan perubahan daya beli karena secara umum tidak ada perubahan tingkat
harga.
Perubahan harga spesifik dalam pasar masukan akan mengakibatkan
kenaikan atau penurunan kas aset yang akhirnya mempengaruhi biaya bagi
perusahaan. Sementara itu, perubahan harga spesifik dalam pasar keluaran akan
mengakibatkan kenaikan atau penurunan pendapatan perusahaan. Perubahan
harga spesifik biasanya tidak dapat dikendalikan oleh manajemen. Oleh karena

itu, naik turunnya laba karena perubahan ini sebenarnya tidak menggambarkan
kemampuan manajemen dan mengelola capital fisis perusahaan.
Implikasi Akuntansi
Dalam akuntansi kos historis, perubahan harga spesifik ini tidak
diperhatikan dan dengan sendirinya perubahan ini akan tersembunyi dalam
perhitungan dalam perhitungan laba. Hal ini sering dikritik sebagai kelemahan
akuntansi kos historis karena angka laba tidak menggambarkan efisiensi operasi
perusahaan yang sebenarnya. Seandainya pengaruh perubahan harga spesifik
tersebut dikeluarkan dari perhitungan laba, pengaruh ini akan menjadi untung atau
rugi penahanan (holding gains or losses).
Ilustrasi berikut ini menjelaskan konsep perubahan harga spesifik dan
implikasinya terhadap perhitungan laba. Misalnya, suatu perusahaan mempunyai
separtai sediaan barang pada awal periode dengan kos Rp 1.500.000. Seluruh
barang tersebut dijual pada tengah periode dengan harga Rp 2.500.000. Pada saat
dijual, nilai atau kos pengganti (kos sekarang) sediaan barang tersebut adalah Rp
2.100.000. Atas dasar data ini, dua pendekatan statemen laba-rugi disajikan
berikut ini.
Kos Historis
Rp 2.500.000

Kos Sekarang
Rp 2.500.000

Kos barang terjual

1.500.000

2.100.000

Laba kos historis (operasi)

1.000.000

Penjualan

Laba kos sekarang (operasi)

Rp 400.000

Untung penahanan terealisasi


Laba Terealisasi

600.000
Rp 1.000.000

Dalam perhitungan diatas, biaya operasional diabaikan. Untung penahanan


Rp 600.000 (yaitu Rp 2.100.000-Rp 1.500.000) sama-sama terealisasi dalam
kedua model diatas. Bedanya, laba penahanan Rp 600.000 tersembunyi dalam
model kos historis. Laba operasi yang sebenarnya adalah Rp 400.000 yaitu selisih
antara harga jual produk sekarang dan semua biaya atas dasar kos sekarang.
Jumlah inilah yang memenuhi makna laba berdasarkan konsep pemertahanan

capital. Seandainya capital harus dipertahankan, untung penahanan tidak dapat


didistribusi sebagai dividen.
Interpretasi Untung/Rugi Penahanan
Terlihat dari contoh diatas bahwa untuk mempertahankan capital,
akuntansi kos sekarang merupakan model untuk mengatasi kelemahan model kos
historis dalam hal terjadi perubahan harga spesifik. Untung penahanan merupakan
informasi tentang jumlah rupiah untuk mempertahankan capital.
Dari segi evaluasi, kinerja manajemen, akuntansi kos sekarang sebenarnya
memberi informasi tentang kegiatan yang benar-benar merupakan upaya
manajemen (ditunjukkan oleh laba operasi) dan kegiatan yang semata-mata hanya
menahan aset (ditunjukkan oleh untung penahanan) dalam kaitannya dengan
pengelolaan capital fisis. Laba operasi atas dasar kos sekarang merupakan
pengukur efisiensi pengelolaan dana atau capital fisis perusahaan yang
sebenarnya. Pemisahan semacam ini juga merupakan keunggulan akuntansi kos
sekarang.
Dalam kondisi harga yang menaik, biaya atas dasar kos sekarang yang
dibebankan ke pendapatan akan cenderung lebih tinggi daripada biaya historis
karena itu laba akan cenderung lebih kecil. Hal yang perlu dibedakan adalah
pengertian untung atau rugi daya beli dan untung/rugi penahanan. Keduanya
berkaitan dengan penahanan. Pengertian yang pertama berkaitan dengan
penahanan pos nonmoneter sedangkan yang kedua berkaitan dengan penahanan
pos nonmoneter dalam suatu periode. Akan tetapi, keduanya mempunyai
kesamaan yaitu keduanya timbul atau terjadi bukan karena suatu transaksi tetapi
timbul karena proses penilaian.
Perubahan Harga Relatif
Telah disebutkan bahwa memisahkan perubahan hargaspesifik dari
perubahan daya beli sangat sulit untuk dilakukan karena kedua factor yang
menyebabkan perubahan tersebut bekerja secara serentak. Dengan kata lain, setiap
terjadinya perubahan harga suatu barang atau jasa maka perubahan tersebut
sebenarnya merefleksi perubahan daya beli uang dan perubahan struktur harga

barang atau jasa tersebut secara bersamaan. Namun demikian untuk pelaporan
keuangan, secara teoritis pemisahan dapat dilakukan dengan menggunakan konsep
perubahan harga relative.
Perubahan harga relative mengukur tingkat penyimpangan perubahan harga
barang atau jasa tertentu terhadap perubahan harga barang ayau jasa terhadap
perubahan akibat perubahan tingkat harga umum seluruh barang dan jasa. Dengan
kata lain, perubahan harga relative adalah perubahan harga setelah pengaruh
perubahan daya beli dikeluarkan adatau deperhitungkan .
Dalam ilustrasi tersebut, barang C mengalami tidak hanya perubahan akibat
perubahan harga umum tetapi juga akibat perubahan nilai barang sedangkan
barang-barang yang lain hanya mengalami perubahan akibat perubahan tingkat
harga umum. Perubahan harga barang C sebesar Rp 2.400 sebenarnya terdiri atas
dua komponen yaitu perubahan akibat daya beli sebesar Rp 600 (10% x Rp6.000)
dan perubahan akibat perubahan nilai sebesar Rp1.800 (Rp2.400-Rp600) atau
30% dari harga semula. Perubahan sebesar Rp1.800 itulah yang disebut perubahan
harga relative. Jadi, dapat dikatakan bahwa perubahan harga relatif merupakan
perubahan harga spesifik setelah pengaruh perubahan daya beli diperhitungkan.
Gambar 13.6
Makna Perubahan Harga Relatif
Barang (Aset)
Harga dulu (t=0)
Nominal
Persen
Harga sekarang
(t=1)
Nominal
Persen
Perubahan
Nominal
Persen
Perubahan relatif
Nominal
Persen

Rp2.200
100%

Rp4.000
100%

Rp6.000
100%

Rp12.000
100%

Rp8.500
100%

Rp2.420
110%

Rp4.400
110%

Rp8.400
140%

Rp13.200
110%

Rp9.350
110%

Rp220
10%

Rp400
10%

Rp2.400
40%

Rp1.200
10%

Rp850
10%

Rp0
0%

Rp0
0%

Rp1.800
30%

Rp0
0%

Rp0
0%

Penahanan aset real selama suatu periode terjadi mulai saat aset diperoleh
sampai aset tersebut keluar karena dijual (dalam hal sediaan barang dagangan),
karena dibebankan kepada periode pada akhir tahun melalui depresiasi (dalam hal
aset operasi), atau karena melekat pada produk (dalam hal fasilitas fisis produksi).
Saat keluar atau akhir tahun merupakan saat untuk mengukur perubahan harga dan
menentukan untung atau rugi penahanan aset real. Bila akhir periode dijadikan
saat pengukuran bersamaan dengan penentuan laba periodik, dapat terjadi untung
atau rugi tersebut telah terealisasi (realized) atau belum terealisasi (un-realized).
2.4 Akuntansi Daya Beli Konstan terhadap Akuntansi untuk Perubahan
Harga
Akuntansi Daya Beli Konstan
Tujuan akuntansi daya beli konstan adalah mempertahankan capital atas
dasar daya beli. Dengan daya beli sebagai bais pengukuran, diharapkan
perusahaan mampu mempertahankan sumber ekonomiknya untuk membeli barang
dan jasa dan berlangsung terus dalam suatu kondisi perekonomian tertentu. Dalam
operasinya perusahaan akan menggunakan atau mengorbankan daya beli aset
untuk memperoleh aset (potensi jasa) lain dalam rangka menghasilkan
pendapatan. Investor berkepentingan dengan informasi daya beli untuk menilai
apakah daya beli yang dikorbankan dalam rangka memperoleh pendapatan dapat
dipertahankan.
Pemilihan Indeks Harga Untuk Konversi
Untuk dapat menyajikan statemen keuangan berbasis daya beli, data kos
historis harus dikonversi menjadi kos daya beli pada saat pelaporan. Dalam SFAS
No. 89 paragraf 8, FASB menyarankan agar penentuan indeks harga didasarkan
pada periode dasar yang digunakan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of
Labor Statistic) dalam menghitung Indeks Harga Konsumer untuk semua
Konsumer Perkotaan.
Untuk menyusun statemen keuangan lengkap dalam daya beli, semua pos
baik neraca atau laba-rugi harus dikonversi. Bila indeks rata-rata digunakan dan
pos-pos laba rugi (operasi) terjadi secara merata selama periode, rupiah daya beli

yang didapat untuk suatu pos biasanya hampir sama dengan jumlah rupiah
nominalnya. Dengan begitu, pos-pos operasi mungkin tidak perlu dikonversi
tetapi pos-pos neraca tetap harus dikonversi.

Keunggulan dan Kelemahan


Berikut merupakan beberapa argument yang biasanya diajukan untuk
mendukung penyajian informasi daya beli kostan adalah:
1. Akuntansi daya beli konstan menjadikan angka akuntansi lebih bermakna
(meaningful).
Kalau unit pengukur dalam akuntansi mempunyai daya beli yang tidak sama
karena perubahan harga, angka-angka rupiah dalam akuntansi sebenarnya
tidak dapat dijumlahkan secara aljabar. Artinya penjumlahan dalam akuntansi
akan menghasilkan angka yang sebenarnya tidak mempunyai interpretasi
ekonomik.
2. Dengan akuntansi daya beli konstan, pembandingan antar periode akan
memberikan informasi yang lebih bermakna daripada pembandingan atas
dasar rupiah nominal.
Hal ini semakin nyata khususnya dalam kondisi ekonomik yang di dalamnya
harga berubah cukup tajam. Misalnya, pembandingan angka kos barang
terjual misalnya, dapat memberikan hasil yang menyesatkan kalau unit
pengukurnya tidak sama antara periode yang satu dengan yang lain.
3. Pembandingan data antarperusahaan juga akan menjadi lebih berarti dan
informative.
Perubahan harga akan sangat mempengaruhi perusahaan secara berbeda
bergantung pada umur serta komposisi aset dan utang. Misalnya, dalam
keadaan inflasi, perusahaan yang padat modal akan cenderung melaporkan
biaya depresiasi daya beli konstan yang lebih tinggi daripada biaya depresiasi
kos historis.
4. Akuntansi daya beli konstan akan menghasilkan informasi laba atas dasar
konsep mempertahankan capital.

Dengan demikian, perusahaan terhindar dari kebijakan dividen yang dapat


mengurangi kemampuan perusahaan menghasilkan laba di masa mendatang
khususnya dalam kondisi inflasi. Hal ini dimungkinkan karena untung daya beli
merupakan bagian yang harus dipertahankan dalam perusahaan agar capital fisis
atau kapasitas produksi dapat tetap dipertahankan seperti semula.
5. Pejabat pemerintah sudah terbiasa menganalisis data keuangan atas dasar nilai
real (in real term) sehingga pelaporan keuangan perusahaan dengan
menggunakan rupiah nominal kemungkinan dapat menyebabkan kebijakan
pemerintah yang merugikan perusahaan.
6. Akuntansi daya beli konstan merupakan sarana mengeluarkan pengaruh
perubahan harga umum tanpa harus mengubah atau mengganti struktur
akuntansi yang sudah berjalan. Ini berarti bahwa rerangka akuntansi pokok
berbasis kos historis dapat tetap berjalan.
7. Akuntansi daya beli konstan dapat mengatasi atau meniadakan sama sekali
metode akuntansi yang dimaksudkan untuk menanggulangi perubahan harga
secara parsial atau secara pos per pos seperti misalnya.
Walaupun Paton dan Littleton (1970) menolak akuntansi daya beli konstan
yang dilakukan secara rutin dan tidak mendukung penggantian angka kos dengan
daya beli konstan, mereka dapat menerima statemen keuangan daya beli konstan
sebagai pelengkap statemen keuangan utama. Beberapa keberatan dan kelemahan
yang sering dilontarkan terhadap akuntansi daya beli konstan adalah:
1. Akuntansi daya beli konstan mendasarkan diri pada data kos historis
sehingga kelemahan kelemahan yang melekat pada kos historis tidak
seluruhnya dapat dihilangkan atau diatasi. Jadi, akuntansi daya beli
konstan belum memperhitungkan pengaruh perubahan harga spesifik.
2. Manfaat informasi tambahan kemungkinan besar tidak sepadan dengan
kos untuk menyusun statemen keuangan daya beli konstan.
3. Acapkali statemen keuangan daya beli konstan diinterpretasi secara keliru
sebagai informasi tentang nilai sekarang padahal informasi yang disajikan
oleh akuntansi daya beli konstan bukan merupakan nilai sekarang, nilai
yang dapat direalisasi, atau bahkan nilai diskunan.

4. Untung atau rugi daya beli tidak mempunyai makna atau interpretasi yang
jelas atau intuitif.
5. Acapkali indeks yang digunakan untung menghomogenuskan unit
pengukur tidak mewakili perubahan daya beli yang terkandung dalam aset
perusahaan sehingga hasil perhitungan akuntansi daya beli konstan
diragukan keterandalannya.
Untung atau rugi daya beli tidak relevan terhadap keputusan pemakai statemen
keuangan. Misalnya, dalam keadaan inflasi, suatu perusahaan dapat meminjam
uang untuk membayar dividen kas atau memperoleh kembali saham treasuri.
Transaksi ini dapat menimbulkan untung daya beli. Akan tetapi, untung tersebut
tidak menggambarkan aktivitas sesungguhnya yang menimbulkan untung tersebut
sehingga tidak dapat dijadikan dasar untuk memprediksi aliran kas masa
mendatang. Demikian juga, perusahaan dapat mengalami rugi penahanan
sementara kas yang diperoleh dari penjualan saham prioritas untuk membeli
fasilitas fisis tertentu yang akan meningkatkan laba perusahaan di masa
mendatang. Kalau rugi daya beli tersebut dilaporkan maka akan timbul kesan
bahwa penjualan saham tersebut merupakan keputusan yang salah dan informasi
rugi tersebut tidak dapat mengungkapkan informasi bahwa laba perusahaan di
masa mendatang akan meningkat karena pembelian fasilitas fisis tersebut. Dengan
demikian, boleh jadi pelaporan untuk atau rugi daya beli secara terpisah tidak
memberikan informasi tambahan apapun karena keterkaitan antara untung dan
rugi ini dengan transaksi lain dalam perusahaan.
Kapital Daya Beli
Kapital digolongkan menjadi kapital finansial dan kapital fisis. Dengan
konsep daya beli konstan, sebenarnya daya beli dapat menjadi golongan kapital
yang lain yaitu kapital daya beli (purchasing power capital). Bila dikaitkan
dengan konsep laba, akuntansi daya beli konstan sebenarnya merupakan aplikasi
konsep mempertahankan kapital daya beli. Laba merupakan selisih lebih kapital
akhir dan awal tahun yang keduanya dinyatakan dalam daya beli konstan atas
dasar indeks harga tertentu.

Kapital daya beli sebenarnya merupakan kapital finansial. Dengan konsep


mempertahankan kapital finansial, laba terjadi dari kenaikan jumlah rupiah kapital
tanpa memperhatikan wujud kapital tersebut. Kapital daya beli adalah jumlah
rupiah kapital finansial yang telah dikonversi menjadi daya beli. Dengan dasar
pikiran ini, selisih konversi merupakan penyesuai kapital (capital adjustment)
untuk mempertahankan kapital daya beli sebagai kapital finansial.
Akuntansi kos historis pun sebenarnya menganut konsep mempertahankan
kapital finansial karena laba baru dapat dikatakan timbul kalau pendapatan
melebihi kos historis yang dikorbankan dalam rangka memperoleh pendapatan
tersebut dan secara artikulasi jumlah laba ini akan sama dengan selisih aset bersih
awal dan akhir perioda atas dasarrupiah nominal sehingga tidak ada penyesuaian
kapital. Dengan demikian, seluruh laba dapat didistribusi sepanjang aset bersih
awal (kapital finansial) tidak terpengaruh atau berkurang.
2.5 Akuntansi Kos Sekarang terhadap Akuntansi untuk Perubahan Harga.
Akuntansi Kos Sekarang
Tujuan akuntansi kos sekarang adalah mengukur laba suatu perioda
dengan mempertahankan kapital semula. Kapital diukur atas dasar kapasitas
operasi atau kemampuan untuk menyediakan barang dan jasa dengan kuantitas
yang sama dengan kapasitas atas kemampuan kapital sebelumnya. Akuntansi kos
sekarang menuntut agar semua sumber ekonomik (potensi jasa) yang dikonsumsi
atau keluar dari kesatuan usaha diganti dengan sumber ekonomik yang
mempunyai fungsi atau kemampuan yang sama atau lebih besar.
Dengan dasar pikiran tersebut, kos sekarang dipandang merefleksi harga
yang harus dibayarkan untuk aset yang digunakan atau dijual pada saat tertentu
seandainya pada saat tersebut perusahaan belum mempunyai aset tersebut.
Artinya, seandainya pada saat penggunaan atau penjualan tersebut aset belum
tersedia (dimiliki), dengan jumlah rupiah berapa perusahaan harus
memperolehnya. Dengan kata lain, untuk mempertahankan kapital, bagaimana

kapital diukur pada akhir perioda untuk dibandingkan dengan kapital awal
perioda.

Dasar Pengukuran Kos Sekarang


Kos sekarang dapat berupa nilai masukan maupun keluaran. Dalam
kaitannya dengan akuntansi kos sekarang, konsep penilaian aset yang masuk
dalam pengertian kos sekarang dalam arti luas adalah kos pengganti (masukan),
nilai jual sekarang (keluaran), da nilai terealisasi harapan (keluaran). Berikut ini
adalah pembahasan secara ringkas ketiga dasar pengukuran tersebut dalam
kaitannya dengan perubahan harga.
Kos Pengganti
Dengan dasar ini, penekanan diletakkan pada kos penggantian aset yang
dikuasai perusahaan dengan aset yang sejenis atau sama fungsinya. Tiap jenis aset
akan diukur kos sekarangnya atas rupiah yang diperlukan sekarang untuk
mengganti aset dengan aset sejenis dalam kondisi dan fungsi yang sama.
Pengertian sejenis tidak berarti bahwa aset tersebut sama wujud fisisnya. Sejenis
disini lebih menekankan pada potensi jasa (service potential) yang terkandung
dalam aset. Untuk aset berupa fasilitas fisis misalnya, kos sekarang diartikan
sebagai kos untuk memperoleh potensial jasa yang sama dengan potensi jasa yang
terkandung atau melekat pada fasilitas fisis yang sekarang dimiliki perusahaan.
Kos pengganti ini, secara konseptual laba perioda akan terdiri atas dua
unsur yaitu: (1) laba operasi dan (2) untung atau rugi penahanan akibat penahanan
akibat perubahan harga relatif. FASB menyebut unsur yang kedua sebagai
increase or decrease in the current cost amounts.
Pengukuran kos sekarang mengalami masalah teknis. Untuk beberapa
jenis aset, misalnya sediaan barang dan asuransi dibayar dimuka, kos pengganti
dapat ditentukan dengan cukup teliti dan objektif. Akan tetapi untuk beberapa

jenis aset yang lain yang tidak mempunyai pasar masukan yang luas, terutama
fasilitas fisis, akan sulit menentukan secara objektif kos penggantinya. Sebagai
gantinya, digunakanlah kos taksiran atau nilai keluaran yang dianggap mendekati
kos pengganti. Akan tetapi, untuk aset yang memang tidak dimaksudkan untuk
dijual penggunaan nilai keluaran kurang sesuai dengan makna kos yang ingin
dilekatkan pada aset tersebut. Oleh karena itu, FASB memberi pedoman
pengukuran fasilitas fisis yang sudah terpakai (used assets) dengan cara berikut:
a. Mengukur kos sekarang suatu fasilitas fisis baru yang mempunyai potensi
jasa yang sama dengan potensi jasa fasilitas fisis pada waktu dibeli
perusahaan (kos sekarang aset seandainya tia baru) dan menguranginya
dengan depresiasi yang diperhitungkan atas dasar kos baru sesuai metode
yang sama.
b. Mengukur kos sekarang suatu fasilitas fisis bekas yang sama umum dan
kondisinya degan aset yang sekarang dikuasai/dimiliki perusahaan.
c. Mengukur kos sekarang suatu fasilitas fisis baru yang mempunyai potensi
jasa yang berbeda dengan yang sekarang dikuasai/dimiliki perusahaan dan
menyesuaikan kos baru tersebut terhadap perbedaan-perbedaan nilai potensi
jasa akibat perbedaan umur, kapasitas, kualitas jasa, dan kos
pemeliharaan/pengoperasian.
Sebagai alternatif pengukuran diatas adalah penggunaan indeks harga
spesifik fasilitas fisis bersangkutan. Nilai buku fasilitas fisis dikalikan dengan
indeks ini akan menghasilkan angka yang kira-kira mendekati kos sekarang
fasilitas fisis tersebut. Pendekatan yang manapun yang dipakai, hasil yang
diperoleh semata-mata merupakan pendekatan (approximation) kos atau nilai
sekarang yang sebenarnya (true current cost). Nilai sekarang yang sesungguhnya
dan objektif hanya dapat ditentukan kalau suatu pertukaran terjadi. Hal ini
merupakan salah satu kelemahan akuntansi kos sekarang.
Nilai Jual Sekarang

Dengan dasar ini, kos sekarang aset diukur atas dasar harga aset seandainya
pada saat sekarang perusahaan memilih untuk menjual aset tersebut alih-alih
(instead of) memakainya untuk operasi. Masalah teknis penilaian atau pengukuran
yang dihadapi adalah tidak dapat ditentukan secara objektif dan tidak dapat diuji
kebenarannya. Kesukaran ini timbul untuk aset yang memang tujuannya tidak
untuk dijual seperti misalnya fasilitas fisis perusahaan. Oleh karena itu, dasar
penilaian yang digunakan dalam penentuan kos sekarang tidak harus sama untuk
semua jenis aset. Untuk aset tertentu, misalnya sediaan dan surat berharga, nilai
keluaran lebih menggambarkan kos sekarang sedangkan untuk aset yang lain,
misalnya fasilitas fisis, harga masukan lebih merefleksi kos sekarang.
Dasar pengukuran ini sebenarnya terterapkan hanya untuk aset yang belum
terjual atau potensi jasa yang belum digunakan sampai akhir tahun. Nilai jual
sekarang berarti jumlah rupiah pendapatan yang dapat direalisasi seandainya aset
dijual sekarang (disebut pendapatan cukup pasti terealisasi atau realizable
revenue). Secara konseptual laba perioda untuk akuntansi perubahan harga ini
akan terdiri atas tiga unsur utama yaitu: (1) laba operasi, (2) untung atau rugi
penahanan akibat perubahan nilai yang dapat direalisasi selama aset disimpan atau
ditahan, dan (3) margin pembelian (purchasing margin) yang merupakan selisih
antara pendapatan cukup pasti terealisasi dan kos pemerolehan aset tersebut.
Disebut margin pembelian karena aset memang dianggap tidak dijual dan hanya
seandainya dijual pada saat pengukuran (akhir perioda). Dengan kata lain, margin
pembelian adalah laba perioda belum terealisasi. Bila ternyata barang tersebut
telah terjual, margin pembelian pada saat penjualan sebenarnya sama dengan laba
operasi atas dasar kos historis. Lebih dari itu, kalau barang telah terjual, tidak
bermanfaat lagi menentukan kos sekarang aset atas dasar pendapatan yang cukup
pasti terealisasi karena dengan penjualan tersebut pendapatan telah terealisasi.
Dapat juga nilai jual sekarang dianggap sebagai kos pengganti yang diukur
dengan harga jual. Akan tetapi, kalau aset benar-benar terjual, selisih antara harga
jual dengan nilai jual sekarang menjadi sulit diinterpretasi makna dan manfaatnya.
Nilai Terealisasi Harapan

Pada prinsipnya, pendekatan ini sama dengan nilai jual sekarang hanya
pengukuran dilakukan atas dasar nilai sekarang aliran kas masa datang yang
diterima dari aset atau dibayar untuk aset atau utang bersangkutan. Untuk aset,
dasar ini dilandasi gagasan bahwa semua aset diperoleh untuk memberikan
potensi jasa masa datang yang akhirnya mendatangkan aliran masuk dana atau
kas. Aliran kas harapan (expected cash flows) yang akan diterima di masa
mendatang dijadikan pertimbangan dalam memutuskan pemerolehan aset tersebut.
Hanya aset yang akan mendatangkan aliran kas yang cukup untuk menutup
pengeluaran akan diputuskan untuk dibeli. Jadi, secara implisit atau eksplisit, kos
pemerolehan berkaitan erat dengan nilai sekarang (present value) aliran kas masa
mendatang. Penilaian ini disebut juga aliran kas masa datang diskunan
(discounted future cash flow). Nilai sekarang aliran kas masa datang dianggap
dapat merepresentasi kos sekarang suatu aset. Validitas dasar penilaian ini untuk
mengukur kos sekarang bergantung pada validitas faktor yang menentukan yaitu
ketepatan estimasi aliran kas, saat penerimaan kas, dan kelayakan tarif diskun.
Yang sering menjadi keberatan terhadap akuntansi perubahan harga ini
adalah bahwa aset perusahaan saling berkaitan antara yang satu dengan lainnya
dalam menghasilkan aliran kas. Pendapatan dihasilkan oleh seluruh potensi jasa
yang melekat pada aset secara keseluruhan. Oleh karena itu, kalau aliran kas yang
dapat dihasilkan perusahaan secara keseluruhan dapat ditentukan dan faktor
diskun cukup wajar, sangat sulit untuk menentukan berapa kontribusi yang
sebenarnya tiap aset dalam menimbulkan aliran kas. Jadi, tidak ada basis yang
cukup rasional untuk menentukan berapa aliran kas yang dapat dihasilkan oleh
tiap jenis aset secara individul. Untuk aset moneter seperti investasi dalam
obligasi, tidak ada masalah yang sulit untuk menentukan aliran kasnya. Akan
tetapi, untuk fasilitas fisis pada umumnya, penentuan aliran kas merupakan
taksiran yang mungkin tidak cukup terandalkan.
Pertimbangan untuk memilih dasar yang tepat untuk pengukuran aset
tertentu bergantung pada jenis aset dan keadaan yang melingkupinya. Dasar yang
dipilih tentunya adalah dasar yang akan menghasilkan angka yang melingkupinya.
Dasar yang dipilih tentunya adalah dasar yang akan menghasilkan angka yang

paling mendekati kos sekarang asetbersangkutan. Akan tetapi, pengertian


sekarang tidak harus berarti tanggal pelaporan. Biasanya pengertian sekarang
adalah tanggal potensi jasa digunakan atau keluar dari kesatuan usaha melalui
penjualan. Memang sekarang adalah tanggal neraca. Dalam hal ini, FASB
memberi pedoman saat dan dasar pengukuran kos sekarang untuk sediaan,
fasilitas fisis, kos barang terjual, dan depresiasi sebagai berikut:
a. Sediaan diukur atas dasar jumlah rupiah yang lebih rendah antara kos
sekarang dan jumlah rupiah terperoleh kembali (recoverable amount) pada
tanggal pengukuran.
b. Fasilitas fisis diukur atas dasar jumlah rupiah yang lebih rendah antara kos
sekarang dan jumlah rupiah terperoleh kembali dari sisa potensi jasa fasilitas
fisis pada tanggal pengukuran.
c. Sumber ekonomik yang digunakan untuk kontrak-kontrak (konstruksi) belum
selesai diukur atas dasar jumlah rupiah yang lebih rendah antara kos sekarang
dan jumlah rupiah terperoleh kembali pada tanggal pemakaian atau tanggal
sumber tersebut dinyatakan dipakai untuk kontrak.
d. Kos barang terjual diukur atas dasar jumlah rupiah yang lebih rendah antara
kos sekarang dan jumlah rupiah terperoleh kembali pada tanggal penjualan
atau pada tanggal barang tersebut digunakan atau dinyatakan untuk
dibebankan ke kontrak tertentu.
e. Biaya depresiasi, deples, dan amortisasi diukur atas dasar kos sekarang atau
jumlah rupiah terperoleh kembali rata-rata dari potensi jasa aset selama
perioda pemakaian.
f. Pendapatan, biaya, untung, dan rugi lainnya dapat diukur sebesar jumlah
rupiah yang tersaji dalam statemen laba rugi utama.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kos sekarang yang harus digunakan
adalah yang terendah antara kos sekarang dan jumlah rupiah terperoleh kembali.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa FASB menganut konsep konservatisma
dalam penentuan kos sekarang. Karena FASB memberi pilihan untuk jumlah

rupiah yang akan mengganti kos historis (yaitu kos sekarang atau jumlah rupiah
terperoleh kembali), FASB memperbolehkan penggunaan nilai masukan, nilai
keluaran, dan nilai sekarang diskunan.
Jumlah rupiah terperoleh kembali adalah nilai sekarang jumlah rupiah bersih
yang diharapkan didapat dari penjualan atau penggunaan suatu aset. Dua dasar
dapat digunakan untuk menentukan jumlah terperoleh kembali yaitu nilai
penggunaa (value in use) atau nilai pasar sekarang (current market value).
Nilai penggunaan adalah nilai sekarang aliran kas di masa mendatang
(termasuk hasil penjualan aset bekas/residual) yang diharapkan akan diterima dari
penggunaan oleh perusahaan. Aliran kas disini adalah aliran kas tambahan
(incremental cash inflows) akibat investasi dalam aset bersangkutan. Dasar ini
digunakan hanya apabila aset bersangkutan tidak dimaksudkan untuk dijual. Tarif
diskun yang digunakan adalah tarif atas dasar risiko yang melekat pada investasi
dalam aset bersangkutan.
Kos Sekarang Dan Pemertahanan Kapital
Seperti akuntansi daya beli, akuntansi kos sekarang juga dilandasi konsep
mempertahankan kapital. Perubahan harga aset yang ditahan selama suatu periode
menimbulkan untung atau rugi penahanan. Perbedaan utama antara konsep
mempertahankan kapital fisis dan kapital finansial adalah bahwa dalam
mempertahankan kapital fisis, untung atau rugi penahanan tidak dimasukkan
sebagai komponen laba perioda tetapi diperlakukan sebagai penyesuaian ekuitas
pemegang saham. Ini berarti bahwa sebagian dari laba dikapitalisasi dan tidak
dapat didistribusikan sebagai deviden karena perusahaan harus melakukan
reinvestasi untuk mempertahankan kapasitas produk seperti sediakala.
Sumber Infromasi Dan Teknik Pengukuran
Dengan konsep diatas, terdapat masalah teknis dalam pelaksanaan akuntansi kos
sekarang. Masalah ini bersangkutan dengan penentuan kos sekarang secara
objektif atas dasar bukti yang terverifikasi karena kos sekarang bukan merupakan
angka yang terjadi akibat suatu transaksi.

Pengindeksan (Indexation)
Sumber informasi dapat berupa (1) indeks harga yang dihasilkan pihak
eksternal untuk kelompok barang atau jasa yang diukur atau (2) indeks harga
yang dihasilkan sendiri oleh perusahaan berdasarkan catatan historis untuk
kelompok barang ataujasa yang diukur.
Penghargaan Langsung (Direct Pricing)
Teknik ini membebankan secara langsung bahan dan tenaga kerja ke suatu
asset atau kelompok asset. Informasi dari luar berupa (1) harga faktur
sekarang, (2) daftar harga dari penjual barang atau jasa (price list) atau kutipan
harga lain atau taksiran, dan (3) kos produksi standar yang menggambarkan
kos sekarang.
Pengkosan Unit (Unit Costing)
Teknik ini digunakan untuk menaksir kos reproduksi suatu barang. Dengan
tekinik ini, setiap komponen kos yang membentuk kos reproduksi harus
dihitung dengan menggunakan daya yang tersedia. Teknik ini digunakan untuk
barang tau jasa yang tidak mempunyai pasar keluaran atau barang yang bersifat
khusus (tidak standar).
Penghargaan Fungsional (Fungcional Pricing)
Teknik ini digunakan untuk menentukan kos pengganti suatu fungsi produksi
atau pemrosesan dan bukanya suatu aset secara individual atau kelompok aset
yang masing-masing berdiri sendiri.
Keunggulan Dan Kelemahan
Berikut ini ringkasan dan argumen yang diajukan untuk mendukung
disediakannya informasi kos sekarang :
1. Tindakan manajemen untuk menghadapi perubahan harga biasanya
diwujudkan dalam keputusan yang didasarkan atas harapan atau

prediksi adanya perubahan harga di masa datang untuk barang atau jasa
yang diperoleh perusahaan.
2. Akuntansi kos sekarang dapat menunjukkan laba operasi dan untung
penahanan sehingga dapat memberikan informasi tentang pengaruh
perubahan harga terhadap profitabilitas perusahaan yang sesungguhnya.
3. Informasi kos sekarang bermanfaat dalam analisis kemampuan
perusahaan untuk menjaga kapasitas operasi sekaligus untuk membagi
dividen.
4. Neraca atas dasar kos sekarang menggambarkan nilai ekonomik aset
dan utang yang lebih realistik dibandingkan neraca berbasis kos
historis.
5. Akuntansi kos sekarang akan memberikan informasi tentang efisiensi
suatu perusahaan yang lebih baik dan dapat diperbandingkan secara
lebih bermakna dengan perusahaan lain.
6. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, akuntansi kos
sekarang mendasarkan pada konsep pemertahanan kapital yang
semestinya atas dasar perkembangan dan kondisi perusahaan yang
mutakhir.
Kritik umum yang ditujukan terhadap akuntansi kos sekarang :
1.

Belum ada definisi yang tegas dan tunggal tentang apa yang dimaksud

2.

aset pengganti dan bagaimana aset tersebut diukur.


Akuntansi kos sekarang belum mempertimbangkan pengaruh perubahan

3.

daya beli uang.


Konsep mempertahankan kapital yang menjadi landasan kos sekarang
sebenarnya bukan merupakan fungsi akuntansi atau laporan tetapi

4.

fungsi manajemen.
Kerumitan penyususunan informasi kos sekarang sebagai pelengkap tidak
sepadan dengan manfaat yang diperoleh.

Informasi Kos Sekarang Sebagai Pelengkap


Sebagai informasi pelengkap tentu saja informasi kos sekarang
mengandung nilai tambah informasi. Bila demikian. Pertimbangan untuk
menyediakan kos sekarang tidak lagi didasarkan atas kelemahan kos sekarang
tetapi didasarkan pada pertimbangan kos dan manfaat.

Akuntansi Hibrida
Akuntansi daya beli konstan berusaha untuk mengatasi masalah unit
pengukur tidak stabil sedangkan akuntansi kos sekarang berusaha untuk
mengatasi masalah panilaian.
Perbedaan Akuntansi Daya Beli Konstan dan Kos Sekarang
N

Akuntansi daya beli

Akuntansi kos sekarang

o
1

Mengatasi masalah unit

Mengatasi masalah penilaian.

pengukur.
2

Merevisi atau merevaluasi aset

Merevisi atau merevaluasi aset

moneter pada akhir perioda.

nonmoneter secara terus menerus.

Menggunakan indeks harga

Menggunakan indeks harga spesifik

umum karena sasaeannya

karena sasarannya perubahan harga

perubahan umum.

spesifik.

Mengabaikan untung atau rugi

Mengabaikan untung atau rugi daya

penahanan pada saat revaluasi.

beli.

Mengungkapkan untung atau rugi

Mengungkapkan untung atau rugi

daya beli atas aset monoter reto.

penahanan atas aset nonmoneter


neto.

Untung atau rugi sebagai selisih

Untung atau rugi sebagai selisih

lebih bermakna sebagai

lebih bermakna sebagai komponen

penyesuai kapital daripada

laba daripada penyesuai kapital

komponen laba dalam rangka

dalam rangka pemertahanan kapital.

pemertahanan kapital.

2.1 Standar Akuntansi Perubahan terhadap Akuntansi untuk Perubahan


Harga
Standar Akuntansi Perubahan Harga

Dengan dikeluarkannya SFAS No. 89, FASB telah mengubah status


pelaporan informasi perubahan harga dari wajib menjadi anjuran. Secara
autoritatif pengungkapan informasi perubahan harga setelah SFAS No. 89
sebenarnya bersifat sukarela. Standar akuntansi perubahan harga dalam profesi
akuntansi di Amerika memang mempunyai riwayat yang agak unik. Standar
yang cukup penting yang berpautan dengan pembahasan dalam bab ini adalah
SFAS No. 33, No. 82 (1984), dan terakhir No. 89 (1986).
SFAS No. 33
Semula melalui SFAS No. 3, FASB mewajibkan informasi pelengkap
atas pengaruh inflasi dan perubahan harga spesifik dalam laporan tahunan.
SFAS No. 33 tidak menuntut penyajian komprehensif statemen keuangan atas
dasar kos sekarang atau daya beli kostan tetapi hanya mewajibkan
pengungkapan sebagian informasi yang membantu pemakai untuk
mengevaluasi pengaruh perubahan harga.
Untuk akuntansi daya beli konstan, butir-butir minimum yang harus
diungkapkan adalah :
1. Informasi tentang laba dari operasi berlanjut untuk tahun berjalan atas
dasar daya beli konstan.
2. Untung atu rugi daya beli atas pos-pos moneter neto untuk tahun
berjalan.
Dalam SFAS No. 33, FASB menetapkan informasi minimal yang harus
diungkapkan atas dasar kos sekarang sebagai berikut :
1. Informasi tentang laba dari operasi berlanjut untuk tahun berjalan atas
dasar kos sekarang.
2. Jumlah rupiah kos sekarang sediaan dan fasilitas fisis pada akhir tahun.
3. Untung dan rugi perusahaan selama tahun berjalan untuk sediaan dan
fasilitas fasis.
SFAS No. 82
Setelah lima tahun sejak SFAS No. 33 diterbitkan sebagai ekdperimen,
sudah saatnya SFAS meninjau standar tersebut. FASB menerbitkan SFAS No.

82 yang isinya meniadakan beberapa pengungkapan yang sebelumnya diatur


dalam SFAS No. 33. Pada intinya, standar baru ini meniadakan atau
membatalkan ketentuan untuk mengungkapkan informasi daya beli konstan.
SAFAS No. 89
SFAS No. 89 sebenrnya masih merupakan bagian dari eksperimen FASB
terhadap pengaruh perubahan harga. Setelah bereksperimen dan mengkaji standar
akuntansi perubahan harga selama dua tahun sejak diterbitkan SFAS No. 82,
akhirnya FASB mengganti satndar tersebut dengan menerbitkan SFAS No. 89.
SFAS No. 89 tidak lagi mewajibkan (to require) pengungkapan pengaruh
perubahan harga sebagai informasi pelengkap tetapi sangat menganjurkan (to
encourage) pengungkapan tersebut.
Bila hanya butir-butir minimum yang diungkapkan, informasi pelengkap
atas dasar daya beli konstan dan kos sekarang dapat disajikan secara terpisah. Ini
berarti pengaruh perubahan harga relatif tidak diperhitungkan. Akan tetapi,
apabila perusahaan ingin menyajikan pengungkapan kos sekarang secara
komprehensif dengan menyusun kembali statemen keuangan atas dasar kos
sekarang. Pengaruh perubahan harga harus diperhitungkan juga. Jadi
pengungkapan secara komprehensif sebenarnya menggunakan akuntansi hibrida.
Pengungkapan kos sekarang sebagai informasi pelengkap
memperhitungkan pula pengaruh perubahan daya beli sehingga akuntansi
perubahan harga tersebut sebenarnya merupakan akuntansi hibrida. Hal ini terlihat
dari masuknya pengaruh perubahan harga umum dan harga spesifik untuk
mendapatkan angka kelebihan pengaruh kenaikan tingkat harga umum diatas
kenaikan harga spesifik sebesar Rp(67.896).
Pengaruh kenaikan harga spesifik dan fasilitas fisis sebesar Rp126.924
sebesarnya adalah untung penahanan belum terealisasi yang melekat pada aset
sebelum angka tersebut dikonversi dalam unit daya beli. Setelah angka dikonversi,
selisihnya merupakan pengaruh kenaikan tingkat harga umum. Jadi, kelebihan

pengaruh tingkat harga umum sebesar Rp(67.896) sebenarnya adalah rugi


penahanan terealisasi neto yang melekat pada aset.
Selain informasi pelengkap atau pengungkapan kos sekarang
komprehensif seperti diatas, SPAS No. 33 juga mewajibkan perusahaan yang
memenuhi kriteria untuk menyajikan ringkasan data financial tertentu untuk lima
tahun terakhir. Data financial tertentu atau terpilih tersebut adalah :
1. Penjualan bersih dan pendapatan operasi lainnya.
2. Laba atas dasar kos histori atau daya beli konstan dari operasi berlanjut.
3. Laba per saham atas dasar kos historis atau daya beli konstan dari oprasi
4.
5.
6.
7.
8.

berlanjut.
Aset bersih atas dasar kos sekarang pada akhir tahun.
Laba atas dasar kos sekarang dari operasi berlanjut.
Laba persaham atas dasar kos sekarang dari operasi berlanjut.
Aset bersih atas dasar kos sekarang pada akhir tahun.
Kenaikan atau penurunan kos sekarang selama tahun berjalan untuk sediaan

dan fasilitas fisis.


9. Untung atau rugi atas aset moneter.
10. Dividen kas tyang diseklarasi per saham biasa.
11. Harga pasar saham per saham biasa pada akhir tahun.
12. Indeks harga umum yang digunakan untuk mengkonversi rupiah nominal
menjadi daya beli.
Butir-butir diatas sebenarnya adalah gabungan informasi minimal yang
diwajibkan dalam akuntansi daya beli konstan dan kos sekarang secara terpisah.
Jadi, informasi kos sekarang belum memasukkan pengaruh perubahan daya beli.

SFAS No.82
Setelah lima tahun sejak SFAS No.33 diterbitkan sebagai eksperimen, sudah
saatnya PASB meninjau standar tersebut. Setelah mengkaji ulang dan
mempertimbangkan usulan dari berbagai pihak termasuk praktisi, FASB
menerbitkan SFAS No.82 yang isinya meniadakan beberapa pengungkapan yang
sebelumnya diatur dalam SFAS No.33. pada intinya, standar baru ini meniadakan
atau membatalkan ketentuan untuk mengungkapkan informasi daya beli konstan.
Dari segi kualitas informasi, kos penyediaan informasi daya beli tidak sepadan
dengan manfaat informasi. Artinya, kriteria benefit>kos tidak dipenuhi. Dengan

standar ini, yang masih diwajibkan adalah akuntansi kos sekarang untuk
pengungkapan minimum, akuntansi kos sekarang atau daya beli konstan untuk
pengungkapan komprehensif dan ringkasan lima tahun.
SFAS No.89
SFAS No. 82 sebenarnya masih merupakan bagian dari eksperimen FASB
terhadap pengaruh perubahan harga. Setelah bereksperimen dan mengkaji standar
akuntansi perubahan harga selama dua tahun sejak diterbitkannya SFAS No.82,
akhirnya FASB mengganti standar tersebut dan beberapa standar lain yang
berkaitan dengan menerbitkan SFAS No.89.
Pada intinya, SFAS No.89 tidak lagi mewajibkan (to require)
pengungkapan pengaruh perubahan harga sebagai informasi pelengkap tetapi
sangat menganjurkan (to encourage) pengungkapan tersebut. Meskipun sangat
dianjurkan, pada dasarnya pengungkapan tersebut bersifat sukarela. Karena masih
dianjurkan, FASB tetap member petunjuk tentang pengukuran dan penyajian
dalam Appendix A SFAS No.89. Appendix ini pada dasarnya sama dengan yang
terdapat dalam SFAS No.33. sifat anjuran tersebut diwujudkan FASB dalam
bentuk pemertahanan kata shall (harus) dalam petunjuk pengungkapan yang
dimuat di apendiks meskipun standar bersifat sukarela. Anjuran ini terutama
ditujukan kepada perusahaan-perusahaan yang telah mengimplementasi standar
akuntansi sebelumnya bahkan mereka diharapkan tidak berhenti melakukan
eksperimen dan pembelajaran dalam mengungkapan pengaruh perubahan harga.
Artinya, standar baru ini tidak dimaksudkan untuk mendorong perusahaan untuk
berhenti dalam upaya mengembangkan dan mengungkapkan informasi pelengkap.
Dalam mengkaji standar perubahan harga, FASB mempertimbangkan saran-saran
dari berbagai sumber antara lain penelitian empiris, pengguna (institutional
investment community, banker, dan investors in general), masukan dari dengar
pendapat publik (public hearing), dan permintaan komentar (invitation to
Comment). Argumen-argumen pendukung dan penolak akuntansi perubahan harga
sebagaimana telah dibahas sebelumnya menjadi pertimbangan FASB dalam
memutuskan. Atas dasar saran-saran dari berbagai sumber diatas, FASB member
bobot yang cukup tinggi pada argumen yang keberatan terhadap akuntansi

perubahan harga sehingga menerbitkan SFAS No.89 tersebut. Masukan dan saran
dari pihak-pihak diatas yang dijadikan basis penyimpulan FASB antara lain :
a) Informasi pelengkap dalam kenyataannya tidak dipakai secara luas
b) Informasi daya beli membingungkan pemakai
c) Masyarakat keuangan tidak menggunakan informasi perubahan harga karena
mempunyai informasi alternatif
d) Pedoman dalam standar terlalu kompleks sehingga kos penyusunan tidak
sepadan dengan manfaat dan,
e) Perubahan daya beli atau harga tidak cukup siginifikan pada saat ini.
Anggota yang menolak diberlakukannya SFAS No.89 mengajukan argumen
antara lain bahwa :
a) Laba kos historis menimbulkan ilusi (illusory) karena menyembunyikan erosi
capital
b) Pemberlakuan kembali standar ini pada saat-saat nanti akan memakan upaya
(kos) yang besar
c) Standar ini hanya berlaku untuk perubahan tertentu dan sudah banyak yang
mengimplementasinya dan
d) Dimasa datang perusahaan yang memenuhi makin banyak sehingga standar
ini makin relevan.
2.2 Model Akuntansi dan Implementasinya terhadap Akuntansi untuk
Perubahan Harga
Model Akuntansi dan Implementasinya
Akuntansi perubahan harga menjadi penting karena ia berkaitan dengan
pemertahanan capital dan penentuan laba. Walaupun standar FASB tidak lagi
mewajibkan pengungkapan pengaruh perubahan harga. Bukan berarti pemikiran
teoritis tentang perubahan harga menjadi tidak penting. Pembahasan teoritis
menjadi penting manakala perubahan harga merupakan gejala ekonomik yang
cukup berarti dalam suatu wilayah Negara tertentu. Oleh karena itu, masih
sangat relevan untuk membahas berbagai teori atau model perubahan harga
Suatu model akuntansi perubahan harga merupakan kombinasi dari tiga
faktor (dimensi) penting yaitu dasar penilaian, skala pengukuran dan jenis
capital. Model 1 adalah model akuntansi perubahan harga yang pengukurannya
berbasis kos historis dengan skala pengukuran nominal untuk capital bersifat

financial. Model ini adalah model akuntansi konvensional yang berfungsi


sebagai rerangka akuntansi pokok dan dalam konteks perubahan harga statemen
keuangannya disebut dengan statemen keuangan utama (Primary financial
statements).
Model 1

Model diatas adalah akuntansi kos historis yang disebut juga dengan
akuntansi konvensional. Dalam pembahasan ini, akuntansi seperti itu disebut
dengan rerangka akuntansi pokok.
Model 2

Menghitung Untung/Rugi Daya Beli Perioda


Besarnya untung atau rugi daya beli suatu perioda (tahun) ditentukan oleh
indeks harga yang dipilih sebagai basis. Perhitungan di atas dapat pula dilakukan

atas dasar indeks harga awal atau akhir. Kalau pos moneter tidak ditahan
perusahaan sampai akhir perioda seperti dalam kasus diatas, penghitungan untung
atau rugi daya beli selama perioda ditentukan sebagai berikut :
1. Menghitung pos moneter bersih awal tahun yaitu asset moneter dikurangi
utang moneter.
2. menghitung perubahan pos moneter selama perioda yaitu aliran asset
moneter masuk (misalnya dari penjualan) dikurangi aliran asset moneter
keluar termasuk terjadinya utang moneter (untuk biaya dan pembelian
asset).
3. Menghitung pos moneter bersih akhir tahun yaitu penggabungan langkah 1
dan 2 diatas.
4. Mengkonversi pos-pos di atas menjadi daya beli dengan basis indeks awal,
tengah, atau akhit (umumnya indeks tengah atau rata-rata).
5. Menentukan untung atau rugi daya beli.
Jadi, Penghitungan untung atau rugi daya beli atas pos moneter melibatkan
dua langkah pokok yaitu (a) menentukan jumlah rupiah daya beli pos moneter
neto yang ditahan selama perioda dengan basis indeks tertentu dan (b)
menentukan jumlah rupiah daya beli pos monter neto yang nyatanya dimiliki
perusahaan pada akhir perioda dengan basis indeks yang sama. Dalam contoh di
atas, pada akhir perioda perusahaan seharusnya mempunyai asset moneter KRp
22.361.500. Pada kenyataannya, di akhir tahun perusahaan memegang asset
moneter sebesar Rp 21.580.000 pada saat indeks harga 130. kalau jumlah tersebut
dikonversi dengan indeks harga rata-rata, asset moneter tersebut bernilai KRp
21.082.000 sehingga perusahaan menderita rugi daya beli sebesar KRp 1.279.500.
Kalau perusahaan mengguanakan indeks harga umum akhir perioda
sebagai basis, jumlah rupiah pos moneter bersih akhir tahun sudah merefleksi
daya beli akhir tahun sehingga dapat langsung dikurangkan pada butir (a) yang
telah dikonversi dengan indeks harga akhir tahun.
Secara ekonomik, angka laba KRp 2.676.500 adalah laba real (real
income). Bila dikaitkan dengan konsep pemertahanan capital, rugi daya beli KRp
1.279.500 adalah jumlah untuk mempertahankan capital sehingga jumlah yang
dapat dikonsumsi atau didistribusi hanyalah KRp 1.397.000. Jumlah inilah yang

memenuhi makna laba atas dasar konsep pemertahanan capital. Sebagai informasi
pelengkap, rugi daya beli tidak dicatat atau diakui dalam system pembukuan dan
jumlah tersebut akan tetap melekat pada laba ditahan kos historis.
Model 2 hanya mengatasi masalah unit pengukur dalam akuntansi
perubahan harga. Semua penilaian masih bersifat kos historis dan hanya skala
pengukurannya yang distandarkan menjadi daya beli.

Model 3
Dalam model ini, untuk pos kos barang terjual, kos sekarang sebenarnya
adalah kos sekarang pada saat penjualan. Karena tidak praktis untuk selalu
mencatat kos pengganti pada saat terjadinya penjualan, cara yang termudah adalah
mengambil rata-rata kos pengganti selama perioda yang dalam kasus diatas adalah
SRP 6.350 dengan asumsi penjualan terjadi secara merata sepanjang tahun. Pos
penjualan juga dianggap terjadi merata sepanjang tahun sehingga harga jual pada
saat penjualan sudah menunjukkan kos sekarang. Demikian juga, angka penjualan
kos sekarang dengan sendirinya sama dengan angka rupiah penjualan nominal bila
digunakan harga jual rata-rata. Hal yang sama berlaku untuk biaya lain-lain. Hal
ini sejalan dengan yang dibahas mengenai konversi pos-pos operasi ke dalam daya
beli konstan. Dengan dasar pikiran yang sama, depresiasi yang dibebankan selama
perioda didasarkan pula atas kos sekarang rata-rata selama perioda. Dapat juga
digunakan kos pengganti akhir perioda tetapi akan menjadi kurang realistic karena
transaksi terjadi selama satu perioda tidak hanya pada akhir perioda.

Dengan pendekatan ini, masalah yang sebenarnya adalah pemisahan antara


kegiatan operasi dan aktivitas menahan asset tertentu. Dengan dasar pengukuran
kos historis, keduanya akan tergabung menjadi satu. Kegiatan operasi
bersangkutan dengan kegiatan menghasilkan pendapatan, sedangkan kegiatan
penahanan asset bersangkutan dengan perubahan harga asset nonmoneter yang
terjadi selama perusahaan menahan/menggunakan asset tersebut selama satu
perioda. pemisahan ini diperlukan karena perubahan harga merupakan kegiatan
yang tidak dapat dikendalikan oleh manajemen sehingga untuk mengukur prestasi
perusahaan dan manajemen, perhitungan lama perlu mempertimbangkan
perubahan harga tersebut.
laba operasi atas dasar kos sekarang SRp 2.748.000 lebih rendah daripada
laba atas dasar kos historis karena biaya diperhitungkan atas dasar kos sekarang
yang lebih tinggi. Dengan mengacu pada contoh, laba terrealisasi SRp 3.336.000
sama dengan laba kos historis. Akan tetapi, dengan akuntansi kos sekarang laba

tersebut dipecah menjadi bagian yang merupakan hasil kegiatan penahanan yaitu
SRp 2.748.000 dan bagian yang merupakan hasil kegiatan penahanan yaitu SRp
588.000 yang sudah terealisasi. Untung penahanan terealisasi ini sebenarnya
merupakan angka penyesuaian laba atas dasar kos sekarang agar menjadi laba kos
historis. Di bawah ini merupakan cara menentukan untung atau rugi penahanan
terealisasi.

Untung penahanan terrealisasi sebenarnya menggambarkan laba yang


diperoleh karena kenaikan harga suatu potensi jasa dan untung tersebut dapat
dikatakan terrealisasi kalau potensi jasa tersebut telah terjual (misalnya sediaan)
atau potensi jasa tersebut telah digunakan (misalnya depresiasi).
Akuntansi kos sekarang juga berusaha menentukan laba total perusahaan
(operasi dan penahanan total). oleh karena itu, tia juga menyediakan informasi
tambahan berupa untung atau rugi penahanan yang belum terealisasi. Untung
penahanan belum terealisasi di atas sebenarnya merupakan informasi tambahan
yang menunjukkan selisih kos sekarang sisa potensi jasa atau sediaan dengan kos
historis atau nilai buku potensi jasa tersebut. perbedaan antara kos sekarang neto
dan kos historis neto perlengkapan pada akhir tahun (SRp 2.870.000 untuk
perlengkapan lama) tidak menggambarkan untung penahanan selama tahun 2005
saja tetapi menggambarkan fluktuasi harga kumulatif. Oleh karena itu, untuk

menentukan untung fluktuasi tahun 2005 saja, jumlah kumulatif tersebut harus
dikurangi dengan untung belum terealisasi awal tahun (SRp 2.192.000). Berikut
ini adalah cara menentukan untung penahanan belum terealisasi.

Model 4
Model ini merupakan model hibrida yaitu penggabungan akuntansi daya
beli konstan (model 2) dan akuntansi kos sekarang (model 3) yang semula berdiri
sendiri. Model 2 mengabaikan perubahan harga spesifik sedangkan Model 3
mengabaikan perubahan harga umum. Model hibrida ini berusaha untuk
memisahkan pengaruh akibat perubahan harga umum dan harga spesifik.
Angka laba operasi dalam model ini (yaitu 2.748.000) sama dengan angka
dalam model 3. Perbedaan terletak pada satuan rupiahnya. dalam Model 3 satuan
rupiahnya adalah SRp sedangkan dalam Model 4 satuannya adalah KSRp. Angka
tersebut sama karena digunakan indekss harga rata-rata dan semua pos operasi
dianggap terjadi secara merata sepanjang tahun. factor pengali 127/127 digunakan
semata-mata untuk mengubah SRp menjadi KSRp.

Perbedaan untung terealisasi untuk sediaan atas dasar kos sekarang saja
sebesar SRp 113.500 (dalam model 3) dan untung atas dasar kos sekarang konstan
KSRp 0 (kebetulan sama dengan 0) adalah selisih karena perbedaan daya beli. Ini
berarti perbedaan untung penahanan yang dalam model 3 dipandang sebagai
akibat perubahan harga spesifik terrnyata dalam model 4 perbedaan tersebut
semuanya adalah akibat perubahan daya beli. Karena sediaan merupakan pos
nonmoneter, perubahan akibat daya beli inilah yang oleh wolk, Tearney, dan Dodd
(2001) disebut dengan untung penahanan moneter. Berikut ini adalah cara untuk
penentuan untung atau rugi terrealisasi atas asset nonmoneter.

Demikian juga untuk perlengkapan, dari untung penahanan terrealisasi


melalui depresiasi dalam model 3 (yaitu SRp 474.500), ternyata KSRp 71.500
merupakan rugi penahanan real sehingga selisihnya (SRp 474.500
KSRp(71.500) = KSRp 546.000) merupakan rugi penahanan moneter. Dengan
kata lain, model hibrida dapat menyediakan informasi bahwa untung penahanan
terealisasi atas dasar kos sekarang SRp 474.500 sebenarnya terdiri atas rugi
penahanan real KSRp 71.500 dan untung penahanan moneter KSRp 546.000.

Saldo untung atau rugi belum terealisasi untuk perlengkapan pada awal
atau akhir perioda bersifat kumulatif sehingga untung atau rugi perioda
merupakan selisih saldo awal dan akhir. Dari perhitungan di atas terlihat bahwa
untuk perlengkapan lama dan baru telah terjadi untung sebelum terealisasi KSRp
127.000 dan KSRp 1.485.900. Keduanya merupakan untung penahanan real.
Adanya untung penahanan real menunjukkan bahwa selama perioda kenaikan
harga spesifik lebih tinggi daripada kenaikan tingkat harga umum (inflasi).
Sebaliknua bila terjadi rugi penahanan real seperti pada sediaan, hal tersebut
menunjukkan bahwa kenaikan harga spesifik sediaan lebih rendah daripada

kenaikan tingkat harga umum (inflasi). Seperti pada sediaan sebagai pos
nonmoneter, informasi untung atau rugi moneter dan mana untung atau rugi real.
Seperti pada Model 3, perhitungan laba disini berusaha untuk menganalisis
berbagai factor yang menentukan laba perioda. Laba sebesar KSRp 3.009.900
sebenarnya menggambarkan laba ats dasar konsep mempertahankan capital. Laba
perusahaan dengan hanya memperhatikan perubahan daya beli (laba terealisasi
setelah untung atau rugi daya beli) adalah KSRp 1.397.000. Dengan
menggunakan kos sekarang daya beli konstan, dapat ditunjukkan adanya untung
menahan asset nonmoneter sebesar KRp 1.612.900 sehingga laba bersih
perusahaan atas dasar kos sekarang daya beli konstan adalah KSRp 3.009.900.
Seperti model kos sekarang, model hibrida juga memasukkan untung atau rugi
penahanan sebagai komponen penentu laba.
Model 5
Model ini sama dengan Model 3 tetapi jenis capital yang diukur adalah
fisis. Telah dibahas sebelumnya bahwa penyesuaian untuk mempertahankan
kapital menunjukkan kos yang harus dikapitalisasi sehingga tidak dapat
didistribusi kepada pemegang saham kalau capital fisis harus dipertahankan
kapasitas produksi. Dalam kasus ini, jumlah rupiah penyesuaian ini akan sama
dengan untung atau rugi penahanan baik sudah maupun belum terealisasi dalam
Model 3. Untung atau rugi ini bukan merupakan bagian dari laba yang
menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Jadi, model ini tidak berbeda dengan Model 3 kecuali cara penyajiannya.
Dalam hal ini, untung atau rugi penahanan diintepretasikan sebagai jumlah untuk
mempertahankan capital dan tidak menjadi komponen penentu laba. Bila
perubahan daya beli diperhitungkan, model ini akan menjadi model di bawah ini.
Penghitungan dan Penyajian Laba dengan model ini disajikan di halaman
berikut ini :

Model 5
Dasar Penilaian

: Kos Sekarang

Jenis Kapital

: Fisis

Skala

: Nominal

Model 6

Laba yang dapat didistribusi (sebelum disesuaikan dengan untung atau


rugi daya beli) adalah sama dengan Model 5 karena indeks harga umum yang
digunakan adalah indeks harga umum rata-rata dan semua pos operasi dianggap
terjadi secara merata. Perbedaan terletak pada unit pengukur yang telah berubah
dari SRp menjadi KSRp. Hal lain yang berbeda adalah diperhitungkan rugi daya
beli dan besarnya jumlah rupiah penyesuaian capital fisis untuk mempertahankan
capital. Berikut ini adalah hitungan untuk menentukan besarnya penyesuaian
capital.
Jumlah untuk mempertahankan capital fisis disini KSRp 1.541.400 lebih
rendah daripada jumlah dalam model 5 sebesar 3.741.000. Selisihnya sebesar
2.199.600 sebenarnya menggambarkan rugi penahanan moneter. Karena capital
fisis yang harus dipertahankan, hanya perubahan harga yang meerefleksikan
untung penahanan real yang digunakan untuk mempertahankan capital. Rugi
penahanan moneter akan melekat pada asset dan laba ditahan. Jumlah ini
digunakan sebagai basis untuk membatasi distribusi dividen.
Karena penentuan laba atas dasar konsep mempertahankan capital
dilakukan dengan membandingkan capital awal dan akhir, penggunaan angka

indeks akhir periode mungkin lebih relevan. Penggunaan angka indeks rata-rata di
sini semata-mata dimaksudkan agar konsisten dengan model-model yang lain.
Model 7
Model ini sebenarnya tidak berbeda dengan kos sekarang hanya kos
sekarang didefinisi sebagai harga jual sehingga laba dimaknai sebagai aliran kas
(dana) bersih masa dating baik yang terealisasu maupun belum. Laba dipandang
sebagai aliran dana kas masuk dari operasi dan aliran kas masuk dari penjualan
sisa capital fisis. Jadi, berbeda dengan model kos sekarang, laba serta untung atau
rugi penahanan (baik yang terealisasi maupun belum) dinyatakan dalam aliran kas
harapan. Perubahan harga sediaan akhir dapat dipandang sebagai tambahan aliran
kas masuk karena penjualan sediaan tersebut. Depresiasi dimaknai sebagai
penurunan nilai fasilitas fisis. Jadi, depresiasi dipandang sebagai suatu proses
penilaian dengan menggunakan harga jual asset sebagai dasar penilaiannya. Dua
format dapat digunakan untuk penghitungan laba dan penyajian dalam model ini
sebagaimana tampak berikut ini.#
Model 7
Dasar penilaian

: Harga jual sekarang

Jenis capital

: Finansial

Skala

: nominal

Dalam contoh diatas, penurunan nilai perlengkapan lama JRp 1.122.000


dipandang sebagai depresiasi yang mengurangi aliran kas masuk harapan.
Sementara itu, kenaikan harga perlengkapan baru JRp 921.000 dipandang sebagai
penghematan kos yang menambah aliran kas masuk masa dating. Gabungan

keduanya menghasilkan jumlah yang dapat menaikan harga atau penurunan harga
neto. Karena terjadi penurunan neto sebesar JRp 201.000, jumlah ini lebih
menggambarkan depresiasi atau kos antisipasian.
Format 2 didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan dilikuidasi pada akhir
tahun sehingga penghitungan laba tidak memperhatikan aliran fisis produk selama
perioda. Dengan demikian, laba dihitung sebagai selisih aliran kas yang masuk
dan yang keluar selama perioda termasuk hasil penjualan sediaan akhir. Pembelian
sediaan barang dipandang sebagai aliran dana keluar sehingga dikurangkan semua
ke pendapatan. Penurunan nilai asset adalah jumlah untuk mempertahankan
capital sehingga aliran kas yang dapat dikonsumsi adalah JRp 23.161.500.

Model 8

Model 7 belum mempertimbangkan pengaruh perubahan harga umum atau


daya beli. Model 8 merupakan pengembangan model 7 dengan memasukkan
unsur perubahan daya beli dalam perhitungan laba sehingga semua angka rupiah
dikalikan dengan indeks yang sesuai. Seperti pada Model 7, karena persediaan
barang dibeli selama tahun 2005 aliran kas masuk harapan merupakan
perbandingan antara kos historis dengan harga jual sekarang pada akhir perioda.
Jumlah ini kemudian dikonversi ke rupiah harga jual konstan (KJRp). Aliran kas
masuk harapan dari sediaan inilah yang disebut dengan margin pembelian. Untuk
perlengkapan baru harga jual awal sama dengan kos historis karena perlengkapan
dibeli pada awal tahun. Untuk perlengkapan lama, aliran kas masuk merupakan
selisih harga jual awal dan akhir periode, Dalam contoh diatas, terjadi penurunan
nilai total perlengkapan KJRp 2.197.100. Penurunan ini merupakan jumlah untuk
mempertahankan capital finansial sehingga mengurangi aliran kas masuk harapan
dari penahanan asset nonmoneter.
Dua model terakhir sebagai contoh masih sederhana sifatnya karena belum
menyajikan perubahan nilai untuk asset dan utang moneter jangka panjang.
Meskipun demikian, meretia memberi dasar tentang apa yang disebut dengan
akuntansi harga atau nilai keluaran.

Berbagai pembahasan model-model di atas merupakan interaksi antara tiga


factor penent laba atas dasar konsep mempertahankan capital dalam kondisi
harga-harga berubah. ketiga factor tersebut adalah dasar penilaian, jenis capital,
dan skala pengukur. Pembahasan difokuskan pada bagaimana rerangka akuntansi
pokok kos historis dapat ditingkatkan keberpautannya dengan cara menambah
informasi perubahan harga sebagai pelengkap.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Rerangka akuntansi pokok akan menghasilkan statemen keuangan dasar.


Tujuan penyajian informasi untuk pertanggung jawaban menjadi tidak berarti
atau bahkan dapat diganti sama sekali. Perubahan harga menimbulkan
masalah bagi akuntansi dalam hal penilaian unit pengukur
dan pemertahanan kapital. Masalah penilaian berkaitan dengan dasar yang harus
digunakan untuk mengukur nilai pos pada suatu saat. Masalah pemertahanan
kapital berkaitan dengan pengertian laba sebagai selisih dua kapital yang harus
ditentukan jenisnya. Perubahan harga umunya terjadi karena perbedaan jumlah
rupiah yang dapat digunakan untuk memperoleh barang yang sama
dalam jangka waktu yang berbeda. Rerangka akuntansi pokok dilandasi oleh
asumsi bahwa daya beli uang stabil dan manfaat ekonomik barang tidak berubah.
Jadi apabila terjadi perubahan harga yang cukup mencolok akuntansi mengalami
permasalahan dalam penilaian, unit pengukur dan pemertahanan kapital.
Perubahan harga mempunyai implikasi yang berbeda antara pos-pos
moneter dan nonmoneter. Pos-pos moneter berkaitan dengan masalah untung/
rugi daya beli sedangkan pos-pos non moneter berkaitan dengan untung/rugi
penahanan. Pos moneter dan non moneter berkaitan erat dengan implikasi
perubahan harga .pembagian pos-pos neraca menjadi moneter dan non moneter
didasarkan pada potensi jasa yang melekat pada pos bersangkutan yaitu potensi
jasa berupa aliran kas atau berupa aliran potensi jasa fisis (non kas).
Secara umum, perubahan harga adalah perbedaan jumlah rupiah untuk
memperoleh barang atau jasa yang sama pada waktu yang berbeda dalam pasar
yang sama (masukan atau keluaran). Dari segi akuntansi, perubahan harga
adalah perbedaan antara kos tercatat suatu objek (pos) dan jumlah rupiah yang
menggambarkan nilai objek (pos) pada saat tertentu. Dari sudut perusahaan,
perbedaan harga masukan dan keluaran bukan merupakan perubahan harga

tetapi lebih merupakan laba yaitu kenaikan nilai ekonomik yang diharapkan
karena proses produksi. Karakteristik perubahan harga barang dan jasa, ada
tiga jenis perubahan harga yaitu : (1) perubahan harga umum, (2) perubahan
harga spesifik, dan (3) perubahan harga relatif
Untuk dapat menyajikan statemen keuangan berbasis daya beli, data kos
historis harus dikonversi menjadi kos daya beli pada saat pelaporan. Dalam SFAS
No. 89 paragraf 8, FASB menyarankan agar penentuan indeks harga didasarkan
pada periode dasar yang digunakan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of
Labor Statistic) dalam menghitung Indeks Harga Konsumer untuk semua
Konsumer Perkotaan.
Untuk menyusun statemen keuangan lengkap dalam daya beli, semua pos
baik neraca atau laba-rugi harus dikonversi. Bila indeks rata-rata digunakan dan
pos-pos laba rugi (operasi) terjadi secara merata selama periode, rupiah daya beli
yang didapat untuk suatu pos biasanya hampir sama dengan jumlah rupiah
nominalnya. Dengan begitu, pos-pos operasi mungkin tidak perlu dikonversi
tetapi pos-pos neraca tetap harus dikonversi.
Kapital digolongkan menjadi kapital finansial dan kapital fisis. Dengan
konsep daya beli konstan, sebenarnya daya beli dapat menjadi golongan kapital
yang lain yaitu kapital daya beli (purchasing power capital). Bila dikaitkan
dengan konsep laba, akuntansi daya beli konstan sebenarnya merupakan aplikasi
konsep mempertahankan kapital daya beli. Laba merupakan selisih lebih kapital
akhir dan awal tahun yang keduanya dinyatakan dalam daya beli konstan atas
dasar indeks harga tertentu.
Tujuan akuntansi kos sekarang adalah mengukur laba suatu perioda
dengan mempertahankan kapital semula. Kapital diukur atas dasar kapasitas
operasi atau kemampuan untuk menyediakan barang dan jasa dengan kuantitas
yang sama dengan kapasitas atas kemampuan kapital sebelumnya. Akuntansi kos
sekarang menuntut agar semua sumber ekonomik (potensi jasa) yang dikonsumsi
atau keluar dari kesatuan usaha diganti dengan sumber ekonomik yang
mempunyai fungsi atau kemampuan yang sama atau lebih besar.
Dengan dikeluarkannya SFAS No. 89, FASB telah mengubah status
pelaporan informasi perubahan harga dari wajib menjadi anjuran. Secara

autoritatif pengungkapan informasi perubahan harga setelah SFAS No. 89


sebenarnya bersifat sukarela. Standar akuntansi perubahan harga dalam profesi
akuntansi di Amerika memang mempunyai riwayat yang agak unik. Standar
yang cukup penting yang berpautan dengan pembahasan dalam bab ini adalah
SFAS No. 33, No. 82 (1984), dan terakhir No. 89 (1986).
Akuntansi perubahan harga menjadi penting karena ia berkaitan dengan
pemertahanan capital dan penentuan laba. Walaupun standar FASB tidak lagi
mewajibkan pengungkapan pengaruh perubahan harga. Bukan berarti pemikiran
teoritis tentang perubahan harga menjadi tidak penting. Pembahasan teoritis
menjadi penting manakala perubahan harga merupakan gejala ekonomik yang
cukup berarti dalam suatu wilayah Negara tertentu. Oleh karena itu, masih sangat
relevan untuk membahas berbagai teori atau model perubahan harga

DAFTAR PUSTAKA
Suwardjono. 2008. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan.
Yogyakarta : BPFE

Anda mungkin juga menyukai