Anda di halaman 1dari 8

SPOROTRICOSIS

Sebagai tugas mata kuliah Ilmu Penyakit Bakteri dan Mikal

FENY MUTIARA DARIS

1309012009

KRISPINUS SEHANDI

1309012010

JEANE J KONDAMALIK

1309012011

EWALDUS F PATMAWAN 1309012012

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2015

SPOROTRIKOSIS

A.

DEFENISI
Sprotrichosis adalah infeksi oleh kapang yang disebabkan kapang dimorfik Sporothrix

schenkii. Umumnya kapang ini menginfeksi dermis dan subkutis. Selain itu,kapang ini dapat
menyebabkan infeksi sistemik dengan gangguan paru-paru, arthritis hingga meningitis. Dengan
kata lain, kapang ini dapat menyebabkan infeksi local (subkutan) maupun sistemik. Lesi
biasanyan terletak pada ekstremitas, yang dimulai dengan bentuk nodul, nodul ini menjadi lunak
dan membentuk ulkus. Kadang-kadang di dalam jaringan, sel jamur dikelilingi sebuah rumbai
reftraktil eosinofil, badan asteroid, yang merupakan karakteristik organisme, walaupun gambaran
yang sama dapat ditemukan pada infeksi organism lain (misalnya telur schistosoma).
Sporotrikosis memiliki sinonim sebagai rose gardeners disease. Hal ini disebabkan oleh adanya
kontaminasi dari duri mawar sebagai factor penting infeksi dari sporotrikosis
B.

SEJARAH
Sporotrikosis pertama kali ditemukan oleh Benjamin Schenk pada tahun 1898. Schenck

mengisolasi agen penyebab penyakit ini lalu mengirim sampel tersebut ke Erwin Smith, seorang
mikologis yang kemudian menyimpulkan bahwa organism penyebab penyakit ini termasuk
dalam genus Sporotrichum. Di Eropa, kasus sporotrikosis pertama kali dilaporkan pada tahun
1903 dan lebih dari 200 kasus dilaporkan dalam kurun waktu 10 tahun (Maret 1968). Kasus
sporotrikosis di Brazil pertama kali dilaporkan pada tahun 1907 oleh Lutz dan Splendore, mereka
juga merupakan orang yang menemukan bahwa bentuk ragi dari jamur ini dapat dibiakkan secara
in vitro. Bentuk dimorfik dari jamur ini pertama kali ditemukan oleh Howard (1961). Bentuk
dimorfik tersebut adalah bentuk miselium dan bentuk ragi. Bentuk miselium ini di dapatkan pada
biakan dengan temperature 25oC sedangkan bentuk ragi ditemukan pada temperature 37oC.
C.

PENYEBAB
Penyebab penyakit ini adalah Sporothrix schenckii yang dapat hidup di tanah, hewan,

tumbuh-tumbuhan dan sayuran yang telah membusuk.

D.

HOSPES
Hospes dari penyakit sporotrichosis ini adalah manusia dan hewan.

E.

EPIDEMIOLOGI
Sporotrichosis banyak dilaporkan pada daerah beriklim sedang. Secara umum, infeksi

terjadi dari inokulasi kapang yang masuk melalui duri, serpihan, goresan, dan trauma kecil, yang
sering terjadi saat beraktivitas memelihara bunga, bercocok tanam, memancing, berburu, bertani,
berternak, pertambangan dan penebangan kayu. Sporotrichosis tersebar luas ke seluruh dunia.
F.
1.

MORFOLOGI
Morfologi Makroskopis
Tampilan makroskopis
sporotrichosis pada kaki kucing

yang terinfeksi

Morfologi makroskopis dari Sporothrix schenckii merupakan jamur kosmopolitan, yang


diisolasi dari tanah dan bahan tanaman membusuk. Ditanam pada media agar Sabouraud
dekstrosa pada suhu Pada 25 C, warna koloni yang awalnya putih, menjadi cokelat kemerahan
di permukaan. Pada 37 C, yang diperkaya koloni adalah krim untuk warna buff, krem di
tekstur. S. schenckii dibedakan dari jamur lain oleh pertumbuhan yang lambat, koloni awalnya
putih berubah hitam, bulat telur dan konidia yang dihasilkan sympodially (pembentukan roset).
Nonpathogenic spesies Sporothrix tidak mengkonversi ke fase ragi pada 37 C pada diperkaya
media. S. schenckii isolat rentan terhadap amfoterisin B, itrakonazol, dan ketokonazol, tetapi
kurang rentan terhadap flukonazol.

Seperti telah dinyatakan sebelumnya, S. schenckii memang jamur dimorfik termal dan
morfologi makroskopik bervariasi tergantung pada suhu pertumbuhan. Pada 25 C, koloni
tumbuh cukup pesat. Mereka lembab, kasar ke beludru, dan memiliki permukaan halus berkerut.
Dari depan dan sebalik koloni, warna putih awalnya dan menjadi krim coklat tua. Pada 37 C,
koloni tumbuh cukup pesat membentuk ragi.
2. Morfologi Mikroskopis
Tampilan mikroskopis

Sporothrix schenckii yang


berbentuk dimorfik

Mikroskopis Sporothrix schenckii juga bervariasi tergantung pada temperatur


pertumbuhan. Pada 25 C, septate hialin hifa, konidiofor, dan konidia yang diamati. Konidiofor
adalah pucuk dan tampak lemah dibedakan dari hifa vegetatif. Mereka sering memiliki basis
meningkat dan muncul di sudut kanan dari hifa. Konidia memiliki dua jenis. Tipe pertama adalah
uniseluler, hialin sampai coklat, lonjong, berdinding tipis, dan biasanya diatur dalam roset seperti
berkelompok pada ujung konidiofor. Tipe kedua konidia berwarna coklat (dematiaceous), oval
atau segitiga, berdinding tebal, cessile, dan melekat langsung ke sisi hifa. Jenis yang terakhir
konidia biasanya hadir hanya dalam strain baru diisolasi.
Pada 37 C, Sporothrix schenckii menghasilkan oval untuk berbentuk cerutu (juga
disebut "tubuh cerutu") sel ragi. Tunas tunggal atau ganda dapat diproduksi oleh sel ragi tunggal.

G.

GEJALA KLINIS
Sporotrikosis dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok yaitu :

1.limfokutanus
2.fixed cutaneus
3.disseminated
4.ekstrakutaneus
Bentuk limfokutan adalah bentuk yang paling umum, sekitar 75% dari seluruh kasus.
Biasanya setelah masa inkubasi 1-10 minggu atau lebih, lesi berwarna unggu kemerahan,
nekrotik, lesi nodular kutaneus mengikuti jalur limfatik dan biasanya membentuk ulserasi. Selain
itu pada bentuk limfokutan tidak dijumpai adanya gejala sistemik.
Pada bentuk fixed cutaneous sporotrichosis, lesi primer berkembang dari tempat
implamasi jamur, biasanya pada tempat-tempat seperti tungkai, tangan, dan jari. Umumnya pada
saat awal lesi berupa nodul yang tidak nyeri yang kemudian menjadi lunak dan pecah menjadi
ulkus dengan discharge yang serous. Infeksi disseminated seperti infeksi sporotrikosis visceral,
osteoartikular, sering terjadi pada pasien dengan penyakit seperti diabetes militus, keganasan
hematologi, alkoholisme, penyakit paru menahun, dan infeksi HIV.
Bentuk ekstrakutaneus adalah bentuk yang jarang terjadi dan bentuk ini biasanyua berasal
dari inhalasi konidia atau penyebaran secara hetogen yang berasal dari inokulasi yang dalam.
Penyakit osteoartikular dengan monoartritis atau tenosinovitis seringditemukan pada
sporotrikosis ekstrakutaneus.

H.

DIAGNOSIS
Diagnosis

dilakukan

berdasarkan

gambaran

klinik

yang

khas

dan

pemeriksaan penunjang, terutama kultur jamur. Pasien dengan sporotrichosis akan memiliki
antibodi terhadap jamur S. schenckii, namun, karena variabilitas dalam sensitivitas dan
spesifisitas membuat diagnose antibody sulit dilakukan. Diagnose dapat diambil preparat kulit,
dahak, cairan sinovial, dan cairan serebrospinal.

I.

PENGOBATAN
Pengobatan sporotrichosis tergantung pada tingkat keparahan dan lokasi penyakit.

Berikut ini adalah pilihan pengobatan untuk kondisi ini:


1. iodide jenuh kalium
Meskipun mekanismenya tidak diketahui, penerapan kalium iodida dalam bentuk tetesan
dapat menyembuhkan sporotrichosis kulit. Hal ini biasanya membutuhkan 3 sampai 6
bulan pengobatan.
2. Itrakonazol (Sporanox) dan flukonazol
Ini adalah obat antijamur. Itrakonazol saat obat pilihan dan secara signifikan lebih efektif
daripada flukonazol. Flukonazol harus disediakan untuk pasien yang tidak dapat
mentolerir itrakonazol.
3. Amfoterisin B
Obat antijamur ini disampaikan secara intravena. Banyak pasien, bagaimanapun, tidak
bisa mentolerir Amfoterisin B karena potensi efek samping yang demam, mual, dan
muntah. Formulasi lipid amfoterisin B biasanya dianjurkan bukannya amfoterisin B
deoxycholate karena profil efek samping yang lebih baik. Amfoterisin B dapat digunakan
untuk infeksi yang parah selama kehamilan. Untuk anak-anak dengan penyakit
disebarluaskan atau berat, amfoterisin B deoxycholate dapat digunakan awalnya, diikuti
oleh itrakonazol. Dalam kasus sporotrichosis meningitis, pasien dapat diberikan
kombinasi amfoterisin B dan 5-fluorocytosine / Flusitosin.
4. Operasi
Dalam kasus infeksi tulang dan nodul cavitatory di paru-paru, operasi mungkin
diperlukan
J.

PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan memakai baju lengan panjang dan

sarung tangan saat bekerja dengan tanah, bal jerami, mawar, bibit pinus, dan sphagnum moss.

PERTANYAAN
1. Bagaimanakah kita mendiagnosa sporotrikosis? (Bergita soge)
Diagnose diketahui dengan pemeriksaan hasil ulasan di skin, eksudat, sputum, cairan
sinovial, dan cairan cerebrospinal. Jamur ini tumbuh di brain heart infusion agar, blood agar
(37 C) dan sabouraud agar dengan cycloheximide dan chorampenicol (25-27 C) dalam 1-3
minggu. Pada suhu 37 C, koloni akan tumbuh pada hari ke 3-5 ditandai dengan morfologi
seperti yeast, lembut, halus, dan berwarna cream.
2. Pada pathogenesis dikatakan bahwa eksudat dapat berupa purulen yang mengindikasikan
adanya bakteri. Bagaimanakah bakteri tersebut dapat masuk dan bakteri apakah itu?
Tepat sekali bahwa purulen disebabkan oleh bakteri. Bakteri yang ada merupakan
second infection. Rusaknya epitel akibat infasi jamur menyebabkan pertahanan tubuh
melemah. Saat itu, flora normal dan bakteri yang ada di dalam rongga hidung dapat bereaksi
dan menyebabkan second infection. Bakteri yang dimaksud adalah streptococcus dan
stapilococus yang secara normal ada di dalam rongga hidung. Jalur masuk bakteri ini sendiri
dapat melalui aerosol atau mekanik(sentuhan benda,dll)
3. Tipe apakah jenis jamur ini?
Jamur ini merupakan tipe subkutan dan sistemik. Bersifat subkutan karena jamur ini
tumbuh di daerah sub kutan setelah hospes terinfeksi yaitu melalui luka akibat tusukan duri
atau etiologi lainnya. Selain sub kutan, infeksi jamur ini menyebabkan infeksi sistemik yaitu
pada system pernapasan. Jamur ini dapat merusak epitel rongga hidung bahkan masuk ke
dalam paru-paru dan menyebabkan pneumonia.

DAFTAR PUSTAKA

Carter GR. Sporotrichosis. In: Carter GR, Payne PA, editors. A concise guide to infectious and
parasitic diseases of dogs and cats. Ithaca, NY: International Veterinary Information Service
[IVIS]; 2005 Sept. Available at: http://www.ivis.org/special_books/carter/toc.asp Accessed 15
March 2006.
Carvalho MT, de Castro AP, Baby C, Werner B, Filus Neto J, Queiroz-Telles F. Disseminated
cutaneous sporotrichosis in a patient with AIDS: report of a case. Rev Soc Bras Med Trop. 2002
Nov-Dec;35(6):655-9.
Centers for Disease Control and Prevention [CDC]. Sporotrichosis. [online]. CDC; 2005 Oct.
Available at http://www.cdc.gov/ncidod/dbmd/diseaseinfo/sporotrichosis_g.htm Accessed 17
March 2006.
Kauffman CA, Hajjeh R, Chapman SW. Practice guidelines for the management of patients with
sporotrichosis. For the Mycoses Study Group. Infectious Diseases Society of America. Clin
Infect Dis. 2000 Apr;30(4):684-7.
Neafie RC, Marty AM. Unusual infections in humans. Clin Microbiol Rev. 1993 Jan;6(1):34-56.
Nobre Mde O, Antunes Tde A, de Oliveira IA, Berg V, Lucia T, Fernandes CG, Meireles MCA,
Ferreiro L. Development of experimental sporothrichosis in a murine model with yeast and
mycelial forms of Sporothrix schenckii. Acta Sci Vet. 31(3): 161-166, 2003.
Public Health Agency of Canada, Office of Laboratory Security. Material Safety Data Sheet:
Sporothrix schenckii [online]. Office of Laboratory Security; 2001 March. Available at:
http://www.phac-aspc.gc.ca/msds-ftss/msds141e.html Accessed 26 Feb 2006.

Wikipedia free encyclopedia