Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN PADA By. Ny.

S DENGAN
INTRA UTERINE GROWTH RETARDATION (IUGR)
DI BANGSAL MELATI RSUD WONOSARI

Disusun oleh:
Eni Ernawati (2520142435 / 09)

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO YOGYAKARTA


2016
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan asuhan keperawatan pada By. Ny. S dengan Intra

Uterine Growth Retardation (IUGR) di Bangsal Melati RSUD Wonosari ini


disusun untuk memenuhi Tugas Asuhan Keperawatan Individu PKK Anak
Semester V, pada:
Hari

Tanggal

Tempat:

Praktikan,

( Eni Ernawati )

Mengetahui,

CI Lahan,

CI Akademik,

(.................................)

(.............................................)

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP DASAR MEDIS INTRA UTERINE GROWTH RETARDATION


(IUGR)

A. Definisi
Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) ialah janin dengan berat badan di
bawah presentil ke-10 pada standard intrauterine growth chart of low birth
weight untuk masa kehamilan, dan mengacu kepada suatu kondisi dimana janin
tidak dapat mencapai ukuran genetik yang optimal.
Artinya janin memiliki berat kurang dari 90 % dari keseluruhan janin
dalam usia kehamilan yang sama. Janin dengan PJT pada umumnya akan lahir
prematur (<37 minggu) atau dapat pula lahir cukup bulan (at term, >37
minggu).
Bila berada di bawah presentil ke-7 maka disebut small for gestational
age (SGA), di mana bayi mempunyai berat badan kecil yang tidak
menimbulkan kematian perinatal.
Jadi ada dua komponen penting pada PJT yaitu:
1. Berat badan lahir di bawah presentil ke-10
2. Adanya faktor patologis yang menyebabkan gangguan pertumbuhan.
Sedangkan pada SGA ada dua komponen yang berpengaruh yaitu:
1. Berat badan lahir di bawah presentil ke-7
2. Tidak adanya proses patologis.
Ada dua bentuk PJT menurut Renfield (1975) yaitu:
1. Proportionate Fetal Growth Restriction: Janin yang menderita distress
yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu
sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan
lingkar kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya
masih di bawah gestasi yang sebenarnya.
2. Disproportionate Fetal Growth Restriction: Terjadi akibat distress subakut.
Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin
lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkar kepala normal akan tetapi berat
tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak waste dengan tanda-tanda

sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit, kulit kering keriput dan mudah
diangkat, bayi kelihatan kurus dan lebih panjang.
Pada bayi PJT perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang, berat
dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badan pun mengalami
perubahan misalnya Drillen (1975) menemukan berat otak, jantung, paru dan
ginjal bertambah sedangkan berat hati, limpa, kelenjar adrenal dan thimus
berkurang

dibandingkan

bayi

prematur

dengan

berat

yang

sama.

Perkembangan dari otak, ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya.
B. Etiologi
PJT merupakan hasil dari suatu kondisi ketika ada masalah atau
abnormalitas yang mencegah sel dan jaringan untuk tumbuh atau menyebabkan
ukuran sel menurun. Hal tersebut mungkin terjadi ketika janin tidak cukup
mendapat nutrisi dan oksigen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan organ dan jaringan, atau karena infeksi. Meskipun beberapa
bayi kecil karena genetik (orang tuanya kecil), kebanyakan PJT disebabkan
oleh sebab lain.
Penyebab dari PJT dapat dibedakan menjadi tiga faktor, yaitu:
1. Maternal
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tekanan darah tinggi


Penyakit ginjal kronik
Diabetes Melitus
Penyakit jantung dan pernapasan
Malnutrisi dan anemia
Infeksi
Pecandu alkohol dan obat tertentu
Perokok

2. Uterus dan Plasenta


a. Penurunan aliran darah di uterus dan plasenta
b. Plasenta abruption, plasenta praevia, infark plasenta (kematian sel pada
plasenta), korioangioma.
c. Infeksi di jaringan ikat sekitar uterus
d. Twin-to-twin transfusion syndrome
3. Janin
a. Janin kembar

b. Penyakit infeksi (Infeksi bakteri, virus, protozoa dapat menyebabkan


PJT. Rubela dan cytomegalovirus (CMV) adalah infeksi yang sering
menyebabkan PJT).
c. Kelainan kongenital
d. Kelainan kromosom (Kelainan kromosom seperti trisomi atau triploidi
dan kelainan jantung bawaan yang berat sering berkaitan dengan PJT.
Trisomi 18 berkaitan dengan PJT simetris serta polihidramnion (cairan
ketuban berlebih). Trisomi 13 dan sindroma Turner juga berkaitan
dengan PJT) .
e. Pajanan teratogen (zat yang berbahaya bagi pertumbuhan janin).
Berbagai macam zat yang bersifat teratogen seperti obat anti kejang,
rokok, narkotik, dan alkohol dapat menyebabkan PJT.
Penyebab dari PJT menurut kategori retardasi pertumbuhan simetris dan
asimetris dibedakan menjadi:
1) Simetris : Memiliki kejadian lebih awal dari gangguan pertumbuhan
janin yang tidak simetris, semua organ mengecil secara proporsional.
Faktor yang berkaitan dengan hal ini adalah kelainan kromosom,
kelainan organ (terutama jantung), infeksi TORCH (Toxoplasmosis,
Other

Agents

Cytomegalovirus,

<Coxsackie
Herpes

virus,

Listeria),

simplex/Hepatitis

B/HIV,

Rubella,
Syphilis),

kekurangan nutrisi berat pada ibu hamil, dan wanita hamil yang
merokok. Faktor-faktor lainnya :
a) Pertambahan berat maternal yang jelek
b) Infeksi janin
c) Malformasi kongenital
d) Kelainan kromosom
e) Sindrom Dwarf
2) Kombinasi Simetris dan Asimetris
a) Obat-obat teratogenik: Narkotika, tembakau, alkohol, beberapa
preparat antikonvulsan.
b) Malnutrisi berat
3) Asimetris : Gangguan pertumbuhan janin asimetris memiliki waktu
kejadian lebih lama dibandingkan gangguan pertumbuhan janin

simetris. Beberapa organ lebih terpengaruh dibandingkan yang lain,


lingkar perut adalah bagian tubuh yang terganggu untuk pertama
kali, kelainan

panjang

tulang paha

umumnya

terpengaruhi

belakangan, lingkar kepala dan diameter biparietal juga berkurang.


Faktor yang mempengaruhi adalah insufisiensi (tidak efisiennya)
plasenta yang terjadi karena gangguan kondisi ibu termasuk
diantaranya tekanan darah tinggi dan diabetes dalam kehamilan
dalam kehamilan. Faktor-faktor lainnya :
a) Penyakit vaskuler
b) Penyakit ginjal kronis
c) Hipoksia kronis
d) Anemia maternal
e) Abnormalitas plasenta dan tali pusat
f) Janin multipel
g) Kehamilan postterm
h) Kehamilan ekstrauteri
C. Manifestasi Klinis
Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT biasanya tampak kurus, pucat,
dan berkulit keriput. Tali pusat umumnya tampak rapuh dam layu dibanding
pada bayi normal yang tampak tebal dan kuat. PJT muncul sebagai akibat dari
berhentinya pertumbuhan jaringan atau sel.
Hal ini terjadi saat janin tidak mendapatkan nutrisi dan oksigenasi yang
cukup untuk perkembangan dan pertumbuhan organ dan jaringan, atau karena
infeksi. Meski pada sejumlah janin, ukuran kecil untuk masa kehamilan bisa
diakibatkan karena faktor genetik (kedua orangtua kecil), kebanyakan kasus
PJT atau Kecil Masa Kehamilan (KMK) dikarenakan karena faktor-faktor lain.
Beberapa diantaranya sebagai berikut:
PJT dapat terjadi kapanpun dalam kehamilan. PJT yang muncul sangat dini
sering berhubungan dengan kelainan kromosom dan penyakit ibu. Sementara,
PJT yang muncul terlambat (>32 minggu) biasanya berhubungan dengan
problem lain. Pada kasus PJT, pertumbuhan seluruh tubuh dan organ janin
menjadi terbatas. Ketika aliran darah ke plasenta tidak cukup, janin akan
menerima hanya sejumlah kecil oksigen, ini dapat berakibat denyut jantung

janin menjadi abnormal, dan janin berisiko tinggi mengalami kematian. Bayibayi yang dilahirkan dengan PJT akan mengalami keadaan berikut :
1. Penurunan level oksigenasi
2. Nilai APGAR rendah (suatu penilaian untuk menolong identifikasi adaptasi
bayi segera setelah lahir)
3. Aspirasi mekonium (tertelannya faeces/tinja bayi pertama di dalam
kandungan) yang dapat berakibat sindrom gawat nafas
4. Hipoglikemi (kadar gula rendah)
5. Kesulitan mempertahankan suhu tubuh janin
6. Polisitemia (kebanyakan sel darah merah)
D. Klasifikasi
Antara PJT dan SGA banyak terjadi salah pengertian karena definisi
keduanya hampir mirip. Tetapi pada SGA tidak terjadi gangguan pertumbuhan,
bayi hanya mempunyai ukuran tubuh yang kecil. Sedangkan pada IUGR terjadi
suatu proses patologis sehingga berat badan janin tersebut kecil untuk masa
kehamilannya.
Berdasarkan gejala klinis dan ultrasonography janin kecil dibedakan atas:
1. Janin kecil tapi sehat. Berat lahir di bawah presentil ke-10 untuk masa
kehamilannya. Mempunyai ponderal index dan jaringan lemak yang normal.
Ponderal index = BB(gram) x 100
PB(cm)
2. Janin dengan gangguan pertumbuhan karena proses patologis, inilah yang
disebut true fetal growth restriction. Berdasarkan ukuran kepala, perut, dan
panjang lengan dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
a.

Simetris (20%), gangguan terjadi pada fase Hiperplasia, di mana


total jumlah sel kurang, ini biasanya disebabkan oleh gangguan
kromosom atau infeksi kongenital misalnya TORCH. Proses patologis
berada di organ dalam sampai kepala.

b.

Asimetris (80%), gangguan terjadi pada fase Hipertrofi, di mana


jumlah total sel normal tetapi ukurannya lebih kecil. Biasanya
gangguan ini disebabkan oleh faktor maternal atau faktor plasenta.

SIMETRIS

ASIMETRIS

Semua bagian tubuh kecil

Kepala lebih besar dari perut

Ponderal index normal

Meningkat

Perbandingan

kepala,

perut

dan Meningkat

panjang tangan normal


Etiologi: faktor genetik dan infeksi

Insufisiensi plasenta kronik

Jumlah sel-lebih kecil

Normal

Ukuran sel normal

Kecil

Bayi dengan komplikasi prognosisnya Biasanya


buruk

tanpa

komplikasi

baik

prognosisnya

E. Morbiditas Dan Mortalitas


Pada kasus PJT bayi lahir dengan asphyxia, meconium aspiration,
hipoglikemi, hipotermi, polisitemi yang semua hal ini menyebabkan kelainan
neurologi baik pada bayi cukup bulan atau kurang bulan.
Resiko kematian pada kehamilan kurang bulan akibat PJT lebih tinggi daripada
kehamilan cukup bulan. Kematian terutama diakibatkan oleh infeksi virus,
kelainan kromosom, penyakit ibu, insufisiensi plasenta, atau akibat faktor
lingkungan dan sosial ekonomi.
F. Diagnosisi
1. Faktor Ibu
Ibu hamil

dengan

penyakit

hipertensi,

penyakit

ginjal

dan

kardiopulmonal dan pada kehamilan ganda.


2. Tinggi Fundus Uteri
Cara ini sangat mudah, murah, aman, dan baik untuk diagnosa pada
kehamilan kecil. Caranya dengan menggunakan pita pengukur yang di
letakkan dari simpisis pubis sampai bagian teratas fundus uteri. Bila pada
pengukuran di dapat panjang fundus uteri 2 (dua) atau 3 (tiga) sentimeter di
bawah ukuran normal untuk masa kehamilan itu maka kita dapat mencurigai
bahwa janin tersebut mengalami hambatan pertumbuhan.
Cara ini tidak dapat diterapkan pada kehamilan multipel, hidramnion,
janin letak lintang.

3. USG Fetomaternal
Pada USG yang diukur adalah diameter biparietal atau cephalometry
angka kebenarannya mencapai 43-100%. Bila pada USG ditemukan
cephalometry yang tidak normal maka dapat kita sebut sebagai asimetris
PJT. Selain itu dengan lingkar perut kita dapat mendeteksi apakah ada
pembesaran organ intra abdomen atau tidak, khususnya pembesaran hati.
Tetapi yang terpenting pada USG ini adalah perbandingan antara
ukuran lingkar kepala dengan lingkar perut (HC/AC) untuk mendeteksi
adanya asimetris PJT.Pada USG kita juga dapat mengetahui volume cairan
amnion, oligohidramnion biasanya sangat spesifik pada asimetris PJT dan
biasanya ini menunjukkan adanya penurunan aliran darah ke ginjal.
Setiap ibu hamil memiliki patokan kenaikan berat badan. Misalnya,
bagi Anda yang memiliki berta badan normal, kenaikannya sampai usia
kehamilan 9 bulan adalah antara 12,5 kg-18 kg, sedangkan bagi yang
tergolong kurus, kenaikan sebaiknya antara 16 kg-20 kg. Sementara, jika
Anda termasuk gemuk, maka pertambahannya antara 6 kg11,5 kg. Bagi ibu
hamil yang tergolong obesitas, maka kenaikan bobotnya sebaiknya kurang
dari 6 kg. Untuk memantau berat badan, terdapat parameter yang disebut
dengan indeks massa tubuh (IMT). Patokannya, bila:
IMT 20 24 = normal IMT 25 29 = kegemukan (overweight) IMT lebih
dari 30 = obesitas IMT kurang dari 18 = terlalu keras
Jadi, jika IMT Anda 20-24, maka kenaikan bobot tubuh selama kehamilan
antara 12,5 kg-18 kg, dan seterusnya. Umumnya, kenaikan pada trimester
awal sekitar 1 kg/bulan. Sedangkan, pada trimester akhir pertambahan bobot
bisa sekitar 2 kg/bulan.
4. Doppler Velocimetry
Dengan menggunakan Doppler kita dapat mengetahui adanya bunyi
end-diastolik yang tidak normal pada arteri umbilicalis, ini menandakan
bahwa adanya PJT.
G. Komplikasi PJT
PJT yang tidak segera diberi tindakan penanganan dokter dapat
menyebabkan bahaya bagi janin hingga menyebabkan kematian. Kondisi ini
disebabkan karena terjadinya kondisi asupan nutrisi dan oksigenasi yang tidak

lancar pada janin. Jika ternyata hambatan tersebut masih bisa di tangani
kehamilan bisa dilanjutkan dengan pantauan dokter, sebaliknya jika sudah
tidak bisa ditangani maka dokter akan mengambil tindakan dengan memaksa
bayi untuk dilahirkan melalui operasi meski belum pada waktunya.
Komplikasi pada PJT dapat terjadi pada janin dan ibu :
1. Janin
Antenatal : gagal nafas dan kematian janin
Intranatal : hipoksia dan asidosis
Setelah lahir:
a. Langsung:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Asfiksia
Hipoglikemi
Aspirasi mekonium
DIC
Hipotermi
Perdarahan pada paru
Polisitemia
Hiperviskositas sindrom
Gangguan gastrointestinal

b. Tidak langsung
Pada simetris PJT keterlambatan perkembangan dimulai dari lambat
dari sejak kelahiran, sedangkan asimetris PJT dimulai sejak bayi lahir di
mana terdapat kegagalan neurologi dan intelektualitas. Tapi prognosis
terburuk ialah PJT yang disebabkan oleh infeksi kongenital dan
kelainan kromosom.(5)
2. Ibu
a. Preeklampsi
b. Penyakit jantung
c. Malnutrisi
H. Penatalaksanaan
Langkah pertama dalam menangani PJT adalah mengenali pasienpasien yang mempunyai resiko tinggi untuk mengandung janin kecil. Langkah
kedua adalah membedakan janin PJT atau malnutrisi dengan janin yang kecil
tetapi sehat. Langkah ketiga adalah menciptakan metode adekuat untuk

pengawasan janin pada pasien-pasien PJT dan melakukan persalinan di bawah


kondisi optimal.
Untuk mengenali

pasien-pasien

dengan

resiko

tinggi

untuk

mengandung janin kecil, diperlukan riwayat obstetrik yang terinci seperti


hipertensi kronik, penyakit ginjal ibu dan riwayat mengandung bayi kecil pada
kehamilan sebelumnya. Selain itu diperlukan pemeriksaan USG. Pada USG
harus dilakukan taksiran usia gestasi untuk menegakkan taksiran usia gestasi
secara klinis. Kemudian ukuran-ukuran yang didapatkan pada pemeriksaan
tersebut disesuaikan dengan usia gestasinya. Pertumbuhan janin yang
suboptimal menunjukkan bahwa pasien tersebut mengandung janin PJT.
Tatalaksana kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi
yang paling efektif sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah cukup
usia dalam kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu. Tatalaksana
yang harus dilakukan adalah :
1. PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah segera
dilahirkan
2. PJT jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada janin
ini, dan bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan
cairan ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah
janin dianjurkan
a. Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan
kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus
dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Tirah baring dengan posisi
miring ke kiri, Perbaiki nutrisi dengan menambah 300 kal perhari, Ibu
dianjurkan untuk berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol,
Menggunakan aspirin dalam jumlah kecil dapat membantu dalam
beberapa kasus IUGR Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan
maka harus segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin
termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta pertumbuhan
janin menggunakan USG setiap 3-4minggu
b. Tatalaksana khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya
dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila

penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat maka nutrisi harus
diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik dan
alkohol, maka semuanya harus dihentikan
c. Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin
prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk
mencegah komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan
apabila terjadi distress janin serta perawatan intensif neonatal care segera
setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan kejadian distress
janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena umumnya PJT
banyak disebabkan oleh insufisiensi plasenta yang diperparah dengan
proses melahirkan
I. Pencegahan
Beberapa penyebab dari PJT tidak dapat dicegah. Bagaimanapun juga,
faktor seperti diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol. Untuk
mencegah komplikasi yang serius selama kehamilan, sebaiknya seorang ibu
hamil mengikuti nasihat dari dokternya; makan makanan yang bergizi tinggi;
tidak merokok, minum alkohol dan menggunakan narkotik; mengurangi stress;
berolahraga teratur; serta istirahat dan tidur yang cukup. Suplementasi dari
protein, vitamin, mineral, serta minyak ikan juga baik dikonsumsi. Selain itu
pencegahan dari anemia serta pencegahan dan tatalaksana dari penyakit kronik
pada ibu maupun infeksi yang terjadi harus baik.
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencegah PJT pada janin untuk
setiap ibu hamil sebagai berikut:
1. Usahakan hidup sehat.
Konsumsilah makanan bergizi seimbang. Untuk kuantitas, makanlah seperti
biasa ditambah ekstra 300 kalori/hari.
2. Hindari stress selama kehamilan.
Stress merupakan salah satu faktor pencetus hipertensi.
3. Hindari makanan obat-obatan yang tidak dianjurkan selama kehamilan.
Setiap akan mengkonsumsi obat, pastikan sepengetahuan/resep dokter
kandungan.
4. Olah raga teratur
Olah raga (senam hamil) dapat membuat tubuh bugar, dan mampu memberi
keseimbangan oksigenasi, maupun berat badan.
5. Hindari alkohol, rokok, dan narkoba.

6. Periksakan kehamilan secara rutin.


Pada saat kehamilan, pemeriksaan rutin sangat penting dilakukan agar
kondisi ibu dan janin dapat selalu terpantau. Termasuk, jika ada kondisi PJT,
dapat diketahui sedini mungkin. Setiap ibu hamil dianjurkan melakukan
pemeriksaan setiap 4 minggu sampai dengan usia kehamilan 28 minggu.
Kemudian, dari minggu ke 28-36, pemeriksaan dilakukan setidaknya setiap
2 minggu sekali. Selanjutnya, lakukan pemeriksaan setiap 1 minggu sampai
dengan usia kelahiran atau 40 minggu. Semakin besar usia kehamilan,
semakin mungkin pula terjadi hambatan atau gangguan. Jadi, pemeriksaan
harus dilakukan lebih sering seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.
J. Masalah Keperawatan Yang Biasa Muncul
1. Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi paru
NOC:
respirasi ventilasi, dengan kriteria hasil klien:
No

kriteria hasil
RR dalam batas normal
kedalaman inspirasi
pengembangan dada simetris

1
2
3

awal target
4
5
4
5
4
5

Skala:
1 : severe deviation from normal range
2: substantial deviation from normal range
3: moderate deviation from normal range
4: mild deviation from normal range
5: no deviation from normal range
no
4

kriteria hasil
penggunaan
otot

5
6

pernafasan
dipsnea
retraksi dinding dada

Skala:

awal target
bantu 4
5
4
4

5
5

1 : severe
2: substantial
3: moderate
4: mild
5: none
NIC:
Monitor Pernafasan
Monitor rata-rata, irama, kedalaman dan usaha respirasi
Perhatikan pergerakan dada, amati kesemetrisan, penggunaan oto-otot
aksesoris, dan retraksi otot supraklavikuler dan interkostal
Monitor respirasi yang berbunyi, seperti mendengkur
Monitor pola pernafasan: bradipneu, takipneu, hiperventilasi, respirasi
Kussmaul, respirasi Cheyne-Stokes, dan apneustik Biot dan pola taxic
Perhatikan lokasi trakea
Auskultasi bunyi nafas, perhatikan area penurunan/tidak adanya
ventilasi dan adanya bunyi nafas tambahan
Monitor peningkatan ketidakmampuan istirahat, kecemasan, dan haus
udara, perhatikan perubahan pada SaO2, SvO2, CO2 akhir-tidal, dan
nilai gas darah arteri (AGD), dengan tepat
Terapi Oksigen:
Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
Pertahankan jalan nafas yang paten
Atur peralatan oksigenasi
Monitor aliran oksigen
Pertahankan posisi pasien
Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
2. Risiko infeksi b/d pertahanan primer tidak adekuat dan prosedur invasif

NOC: Kontrol Risiko


setelah perawatan selama niminal 3x24 jam pasien menunjukkan :
no
1

kriteria hasil
awal target
pasien bebas dari tanda 5
5
gejala infeksi

skala:
1= tidak pernah
2= jarang
3= kadang-kadang
4= sering
5= selalu
NIC:
Proteksi Infeksi
Aktivitas:

1. Kaji tanda-tanda vital dan kondisi umum pasien


2. Monitor tanda dan gejala infeksi
3. Gunakan teknik aseptik ketika perawatan
4. Dorong pasien memperbanyak istirahat
5. Monitor hasil laboratorium (leukosit)
6. ajarkan keluarga cara mencegah infeksi
7. Kolaborasi pemberian antibiotik
Tube Care:
1. Jaga kepatenan IV line, dan kateter urine
2. Jaga urine bag pada posisinya
3. Kosongkan urine bag sesuai jadwal
4. Ganti tube sesuai protokol
5. Inspeksi area sekitar insersi tube

DAFTAR PUSTAKA

Wikojosastro H, Abdul B. S., Triatmojo R. 2010. Buku Ajar Ilmu Kebidanan, edisi
ke 5. Jakarta; Balai Penerbit FKUI.

Resnik R. 2003. High Risk Pregnancy. In: Emedicine journal obstetrics and
gynekology. Volume 99. No: 3.
Leveno KJ, Cunningham FG, Norman F. Alexander GJM, Blomm SL, Casey BM.
Dashe JS, Shefield JS, Yost NP. In: William Manual of Obstetrics. Edisi
2003. The University of Texas Southwestern Medical Centre at Dallas.
2003:743-760
Konar H. 2000. Dutta Text Book of Obstetrics Including Perinatology and
Contraception. Edisi ke-4.
Johnson, M., Maas, M., Moorhead, S. 2008. Nursing Outcomes Classification
Fourth Edition. Mosby, Inc : Missouri.
McCloskey, J.C., Bulechek, G.M. 2008. Nursing Intervention Classification
FourthEdition. Mosby, Inc : Missouri.
North American Nursing Diagnosis Association. 2015. Nursing Diagnoses :
Definition & Classification 2015-2017. Philadelphia.