Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN PENDIDIKAN

Oleh :
WAHYU NUR ATIKAH
DAHLIANA
MARIATI
ARISMAWATI
ESIWARTI

PG PAUD
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN AISYIYAH RIAU
TP : 2016/2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan

Tugas

individu

Muhammadiyah Sebagai Gerakan Pendiikan. Terselesaikannya makalah ini


tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini
penulis ingin menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu
menyelasaikan makalah ini.
Dalam menyelesaikan tugas ini penulis telah berusaha untuk mencapai
hasil yang maksimum, tetapi dengan keterbatasan wawasan pengetahuan,
pengalaman dan kemampuan yang penulis miliki, penulis menyadari bahwa
makalah ini masih perlu penyempurnaan. Oleh karena itu, diharapkan kritik dan
saran demi perbaikan dan sempurnanya tugas ini sehingga dapat bermanfaat bagi
para pembaca.

Pekanbaru, 1 November 2016

penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................. i


Daftar Isi ............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................. 3
A. Faktor yang Melatarbelakangi Gerakan Muhammadiyah dibidang
Pendidikan.....................................................................................
1. Faktor Internal .......................................................................
a. Kelemahan dalam praktek ajaran Islam ..........................
b. Kelemahan Lembaga Pendidikan Islam .........................
2. Faktor Eksternal .....................................................................
a. Kristenisasi ....................................................................
b. Kolonialisme Belanda .....................................................
c. Gerakan Pembaharuan Timur Tengah .............................
B. Cita-cita Pendidikan Muhammadiyah .........................................
C. Bentuk dan Model Pendidikan Muhammadiyah...........................
D. Pemikiran dan Praksis Pendidikan Muhammadiyah.....................
E. Tantangan dan Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah .............

3
3
3
4
5
5
5
6
6
7
11
12

BAB III Penutup ................................................................................................ 16


A. Kesimpulan ................................................................................... 16
B. Saran ............................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar dan terpenting yang ada di
Indonesia adalah Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada
tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan tanggal 18 November 1912M di
Yogyakarta. Muhammadiyah didirikan dengan tujuan menegakkan dan
menjunjung tinggi ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya.
Jauh sebelum Muhammadiyah resmi berdiri pada tahun 1912, KH. Ahmad
Dahlan telah merintis pendidikan modern yang memadukan antara pendidikan
Barat yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu umum dan pendidikan Islam yang
hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama.Gagasan pembaharuan Muhammadiyah di
dalamnya sudah termasuk gagasan pembaharuan di bidang pendidikan. KH.
Dahlan melihat adanya problematika obyektif yang dihadapi oleh pribumi yaitu
terjadinya keterbelakangan pendidikan yang takut karena adanya dualisme model
pendidikan yang masing-masing memiliki akar dan kepribadian yang saling
bertolak belakang. Di satu pihak pendidikan Islam yang berpusat di pesantren
mengalami kemunduran karena terisolasi dari perkembangan pengetahuan dan
perkembangan masyarakat modern, di pihak lain sekolah model Barat bersifat
sekuler dan a-nasional mengancam kehidupan batin para pemuda pribumi karena
dijauhkan dari agama dan budaya negerinya.
Dalam sejarah perkembangan kehidupan manusia, pendidikan telah
menjadi semacam teknologi yang memproduksi manusia masa depan paling
efektif. Dari fenomena perkembangan yang terakhir, memberikan petunjuk bahwa
pendidikan bukan saja menjadi alat suatu lembaga atau suatu masa dalam berbagai
proyeksi berbagai macam tujuan mereka, pendidikan bahkan telah menjadi

kebutuhan manusia sendiri secara masal, karenanya pendidikan yang diterima


oleh manusia hendaknya pendidikan yang seimbang antara pendidikan lahir dan
batin, antara pendidikan dunia dan akhirat, sehingga manusia dalam memperoleh
pendidikan tersebut memiliki keseimbangan dalam mengelola kehidupannya
untuk dapat mencapai tujuan yang ideal yakni fi al-dunya hasanatan wa fi alakhirati hasanatan. Tujuan ideal inilah yang digagas oleh KH. Ahmad Dahlan
dalam hal perjuangan di bidang pendidikan yang menjadi warna pendidikan
Muhammadiyah.
Gagasan pembaharuan di bidang pendidikan yang menghilangkan
dikotomi pendidikan umum dan pendidikan agama pada hakikatnya merupakan
terobosan besar dan sangat fundamental karena dengan itu Muhammadiyah ingin
menyajikan pendidikan yang utuh, pendidikan yang seimbang yakni pendidikan
yang dapat melahirkan manusia utuh dan seimbang kepribadiannya, tidak terbelah
menjadi manusia yang berilmu umum saja atau berilmu agama saja.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja faktor yang melatarbelakangi gerakan Muhammadiyah di
2.
3.
4.
5.

bidang pendidikan?
Apa cita-cita pendidikan Muhammadiyah?
Bagaimana bentuk dan model pendidikan Muhammadiyah?
Bagaimana pemikiran dan praksis pendidikan Muhammadiyah?
Apa saja tantangan dan revitalisasi pendidikan Muhammadiyah?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui faktor yang melatarbelakangi gerakan Muhammadiyah di
2.
3.
4.
5.

bidang pendidikan?
Mengetahui cita-cita pendidikan Muhammadiyah?
Mengetahui bentuk dan model pendidikan Muhammadiyah?
Mengetahui pemikiran dan praksis pendidikan Muhammadiyah?
Mengetahui tantangan dan revitalisasi pendidikan Muhammadiyah?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Faktor yang Melatarbelakangi Gerakan Muhammadiyah dibidang


Pendidikan
1.
Faktor Internal
a.
Kelemahan dalam praktek ajaran Islam.
Kelemahan praktek ajaran agama Islam dapat dijelaskan melalui
dua bentuk.
1) Tradisionalisme
Pemahaman dan praktek Islam tradisionalisme ini ditandai
dengan pengukuhan yang kuat terhadap khasanah intelektual
Islam masa lalu dan menutup kemungkinan untuk melakukan
ijtihad dan pembaharuan pembaharuan dalam bidang
agama. Paham dan praktek agama seperti ini mempersulit
agenda umat untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan
baru yang banyak datang dari luar(barat). Tidak jarang,
kegagalan dalam melakukan adaptasi itu termanifestasikan
dalam bentuk bentuk sikap penolakan terhadap perubahan
dan kemudian berapologi terhadap kebenaran tradisional yang
telah menjadi pengalaman hidup selama ini.
2) Sinkretisme
Pertemuan Islam dengan budaya lokal disamping telah
memperkaya khasanah budaya Islam, pada sisi lainnya telah
melahirkan format format sinkretik, percampuradukkan
antara sistem kepercayaan asli masyarakat masyarakat
budaya setempat. Sebagai proses budaya, percampuradukkan
budaya ini tidak dapat dihindari, namun kadang kadang
3

menimbulkan

persoalan

ketika

percampuradukkan

itu

menyimpang dan tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam


tinjauan aqidah Islam. Orang Jawa misalnya, meski secara
formal mengaku sebagai muslim, namun kepercayaan terhadap
agama asli mereka yang animistik tidak berubah. Kepercayaan
terhadap roh roh halus, pemujaan arwah nenek moyang,
takut pada yang angker, kuwalat dan sebagainya menyertai
kepercayaan orang Jawa. Islam, Hindu, Budha, dan animisme
hadir secara bersama sama dalam sistem kepercayaan
mereka, yang dalam aqidah Islam banyak yang tidak dapat
dipertanggung jawabkan secara Tauhid.
b.

Kelemahan Lembaga Pendidikan Islam


Lembaga pendidikan tradisional Islam, Pesantren, merupakan
sistem pendidikan Islam yang khas Indonesia. Transformasi nilai
nilai keIslamaan ke dalam pemahaman dan kesadran umat secara
institusional sangat berhutang budi pada lembaga ini. Namun
terdapat kelemahan dalam sistem pendidikan Pesantren yang
menjadi kendala untuk mempersiapkan kader kader umat Islam
yang dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan zaman. Salah
satu kelemahan itu terletak pada mmateri pelajaran yang hanya
mengajarkan pelajaran agama, seperti Bahasa Arab, Tafsir, Hadist,
Ilmu Kalam, Tasawuf dan ilmu falak.
Pesantren tidak mengajarkan materi materi pendidikan umum
seperti ilmu hitung, biologi, kimia, fisika, ekonomi dan lain
sebagainya, yang justru sangat diperlukan bagi umat Islam untuk
memahami perkembangan zaman dan dalam rangka menunaikan
tugas sebagai khalikfah di muka bumi. Ketiadaan lembaga
pendidikan yang mengajarkan kedua materi inilah yang menjadi
salah satu latar belakang dan sebab kenapa K.H. Ahmad Dahlan

mendirikan Muhammadiyah, yakni untuk melayani kebutuhan


umat terhadap ilmu pengetahuan yang seimbang antara ilmu agama
dan ilmu duniawi.
2.

Faktor Eksternal
a.
Kristenisasi
Faktor eksternal yang paling banyak mempengaruhi kelahiran
Muhammadiyah adalah Kristenisasi, yakni kegiatan kegiatan
yang terprogram dan sistematis untuk mengubah agama penduduk
asli, baik yang muslim maupun bukan, menjadi kristen. Kristenisasi
ini mendapatkan peluang bahkan didukung sepenuhnya oleh
pemerintah Kolonialisme Belanda. Misi Kristen, baik Katholik
maupun Protestan di Indonesia, memiliki dasar hukum yang kuat
dalam Konstitusi Belanda. Bahkan kegiatan kegiatan Kristenisasi
ini didukung dan dibantu dana dana negara Belanda. Efektifitas
penyebaran agama Kristenisasi inilah yang terutama menggugah
K.H. Ahmad Dahlan untuk membentengi umat Islam dari
pemurtadan.
b.

Kolonialisme Belanda
Penjajahan Belanda telah membawa pengaruh yang sangat buruk
bagi perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, baik secara
sosial politik, ekonomi maupun kebudayaan. Ditambah dengan
praktek politik Islam Pemerintah Hindia Belanda yang secara sadar
dan terencana ingin menjinakkan kekuatan Islam, semakin
menyadarkan umat Islam untuk melakukan perlawanan. Menyikapi
hal ini, K.H. Ahmad Dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah
berupaya melakukan perlawanan terhadap kekuatan penjajahan
melalui pendekatan kultural, terutama upaya meningkatkan kualitas
sumber daya manusia melalui jalur pendidikan.

c.

Gerakan Pembaharuan Timur Tengah


5

Gerakan Muhammadiyah di Indonesia pada dasarnya merupakan


salah satu mata rantai dari sejarah panjang gerakan pebaharuan
yang dipelopori oleh Ibnu Taymiyah, Ibnu Qayyim, Muhammad
bin Abdul Wahhab, Jamaluddin al - Afgani, Muhammad Abduh,
Rasyid Ridha dan lain sebagainya. Persentuhan itu terutama
diperoleh melalui tulisan tulisan Jamaluddin al Afgani yang
dimuat dala majalah al-Urwatul Wutsqa yang dibaca oleh K.H.
Ahmad Dahlan. Tulisan tulisan yang membawa angin segar
pembaharuan itu, ternyata sangat mempengaruhi K.H. Ahmad
Dahlan, dan merealisasikan gagasan gagasan pembaharuan ke
dalam tindakan amal yang riil secara terlembaga.

B. Cita-cita Pendidikan Muhammadiyah


Pada awal perkembangannya, tujuan yang diprogramkannya Muhamadiyah
yaitu : Menyebarkan pengajaran agama Nabi Muhammad SAW kepada penduduk
bumi putera residensi Yogyakarta dan memajukan agama kepada ahli-ahlinya.
Tujuan itu terungkap dalam usaha untuk menegakan dan menjunjung tinggi agama
Islam

yang

sebenar-benarnya.

Dan

pada

prinsipnya,

sebagaimana

dikemukakan Deliar Noer bahwa bagi Muhamadiiyah, masalah pokok adalah


pembinan umat yang diridhoi Alloh.
Tujuan yang dirumuskan dinilai dengan kondisi dan kebutuhan umat Islam
pada masa itu, terutama di Yogyakarta dan sekitarnya. K.H Ahmad Dahlan
melalui pengamatannya yaitu mengembalikan umat Islam kepada ajarannya yang
murni. Usaha dan pemurnian akan lebih efektif dilakukan dengan mengadakan
pembaharuan di bidang pendidikan.
Pada tahun 1977 dirumuskan tujuan pendidikan Muhamadiyah secara
umum: Terwujudnya manusia muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya
pada diri sendiri, berguna bagi masyarakat dan negara. Beramal menuju
terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Memajukan dan
6

memperkembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk pembangunan dan


masyarakat negara republik Indonesia yang berdasar pancasila dan UUD 1945.
Cita-cita pendidikan yang digagas Kyai Dahlan adalah lahirnya manusiamanusia baru yang mampu tampil sebagai ulama-intelek atau intelek-ulama,
yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat
jasmani dan rohani. Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan
tersebut, Kyai Dahlan melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran
agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah
sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua
tindakan itu sekarang sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah
diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan
pendidikan Islam lain. Namun, ide Kyai Dahlan tentang model pendidikan
integralistik yang mampu melahirkan muslim ulama-intelek masih terus dalam
proses pencarian. Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang
musti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah
teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan perkembangan ilmu pendidikan atau
psikologi perkembangan.

C. Bentuk dan Model Pendidikan Muhammadiyah


Dalam rangka menjamin kelangsungan sekolahan yang ia dirikan maka atas
saran

murid-muridnya

Kyai

Dahlan

akhirnya

mendirikan

persyarikatan

Muhammadiyah tahun 1912. Metode pembelajaran yang dikembangkan Kyai


Dahlan bercorak kontekstual melalui proses penyadaran. Contoh klasik adalah
ketika Kyai menjelaskan surat al-Maun kepada santri-santrinya secara berulangulang sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan supaya kita
memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan harus mengamalkan isinya.
Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu baru diganti surat berikutnya.
Ada semangat yang musti dikembangkan oleh pendidik Muhammadiyah, yaitu

bagaimana

merumuskan

sistem

pendidikan

ala al-Maun

sebagaimana

dipraktekan Kyai Dahlan.


1. Pendidikan Integralistik
K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah tipe man of action sehingga
sudah pada tempatnya apabila mewariskan cukup banyak amal usaha
bukan tulisan. Oleh sebab itu untuk menelusuri bagaimana orientasi
filosofis pendidikan, ia harus merujuk pada cara membangun sistem
pendidikan.
Pribadi Ahmad Dahlan

adalah pencari kebenaran hakiki yang

menangkap apa yang tersirat dalam tafsir Al-Manar sehingga meskipun


tidak punya latar belakang pendidikan Barat tapi ia membuka lebar-lebar
gerbang rasionalitas melalui ajaran Islam sendiri, menyerukan ijtihad dan
menolak taqlid. Dia dapat dikatakan sebagai suatu model dari bangkitnya
sebuah generasi yang merupakan titik pusat dari suatu pergerakan yang
bangkit untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi golongan
Islam yang berupa ketertinggalan dalam sistem pendidikan dan
kejumudan paham agama Islam. Berbeda dengan tokoh-tokoh nasional
pada zamannya yang lebih menaruh perhatian pada persoalan politik dan
ekonomi.
Pendidikan di Indonesia pada saat itu terpecah menjadi dua: pendidikan
sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, yang tak mengenal ajaran-ajaran
yang berhubungan dengan agama; dan pendidikan di pesantren yang
hanya mengajar ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama saja.
Dihadapkan pada dualisme sistem (filsafat) pendidikan ini Ahmad
Dahlan gelisah, bekerja keras sekuat tenaga untuk mengintegrasikan,
atau paling tidak mendekatkan kedua sistem pendidikan itu.
Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut,
Ahmad Dahlan melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran
agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan
8

sekolah-sekolah sendiri dimana agama dan pengetahuan umum bersamasama diajarkan. Kedua tindakan itu sekarang sudah menjadi fenomena
umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah
banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun, ide model
pendidikan integralistik mampu melahirkan muslim ulama-intelek masih
terus dalam proses pencarian.
Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang mesti
dieksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah
teknik pendidikan bisa berubah sesuai dengan perkembangan ilmu
pendidikan atau psikologi perkembangan. Dalam rangka menjamin
kelangsungan sekolahan yang ia dirikan maka atas saran muridmuridnya, ia akhirnya mendirikan persyarikatan Muhammadiyah tahun
1912.
Metode pembelajaran yang dikembangkan Ahmad Dahlan bercorak
kontekstual melalui proses penyadaran. Contoh klasik adalah ketika ia
menjelaskan surat al-Maun kepada santri-santrinya secara berulangulang sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan supaya
kita memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan harus mengamalkan
isinya. Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu baru diganti
surat berikutnya. Ada semangat yang harus dikembangkan oleh pendidik
Muhammadiyah, yaitu bagaimana merumuskan sistem pendidikan ala alMaun sebagaimana dipraktekkan Ahmad Dahlan. Anehnya, yang
diwarisi oleh warga Muhammadiyah adalah teknik pendidikannya, bukan
cita-cita pendidikan, sehingga tidak aneh apabila ada yang tidak mau
menerima

inovasi

pendidikan.

Inovasi

pendidikan

dianggap

sebagai bidah. Sebenarnya, yang harus kita tangkap dari Ahmad Dahlan
adalah semangat untuk melakukan perombakan atau etos pembaruan,
bukan bentuk atau hasil ijtihadnya. Menangkap api tajdid, bukan
arangnya.

2. Mengadopsi Substansi dan Metodologi Pendidikan Modern Belanda


dalam Madrasah-madrasah Pendidikan Agama
Metode yang ditawarkan adalah sintesis antara metode pendidikan
modern Barat dengan tradisional. Dari sini tampak bahwa lembaga
pendidikan yang didirikan Ahmad Dahlan berbeda dengan lembaga
pendidikan yang dikelola oleh masyarakat pribumi saat ini. Sebagai
contoh Ahmad Dahlan mula-mula mendirikan SR di Kauman dan daerah
lainnya di sekitar Yogyakarta, lalu sekolah menengah yang diberi
nama al-Qism al-Arqa yang kelak menjadi bibit madrasah Muallimin dan
Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta. Sebagai catatan, tujuan umum
lembaga

pendidikan

di

atas

baru

disadari

sesudah

24 tahun

Muhammadiyah berdiri, tapi disimpulkan bahwa tujuan umum


pendidikan Muhammadiyah menurut Ahmad Dahlan adalah: baik budi,
alim dalam agama, luas pandangan, alim dalam ilmu-ilmu dunia (umum),
dan bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.
3. Memberi Muatan Pengajaran Islam pada Sekolah-sekolah Umum
Modern Belanda
Muhammadiyah baru memutuskan meminta kepada pemerintah agar
memberi izin bagi orang Islam untuk mengajarkan agama Islam di
sekolah-sekolah Goebernemen pada bulan April 1922. sebenarnya
sebelum Muhammadiyah didirikan ini sudah diusahakan namun baru
mendapat izin saat itu. Hingga akhirnya Muhammadiyah mendirikan
sekolah-sekolah swasta yang meniru sekolah Gubernemen dengan
pelajaran agama di dalamnya. Tujuan pokok organisasi dan pendirian
lembaga pendidikan menjadi orientasi utama Ahmad Dahlan sehingga
berusaha untuk menandingi sekolah pemerintahan Belanda dengan
mengikuti contoh misi kristen dengan menyebarkan fasilitas dan
mendesakkan pengalaman iman.

10

4. Menerapkan Sistem Kooperatif dalam Bidang Pendidikan


Terlihat adanya kerjasama yang harmonis antara pemerintahan Belanda
dengan Muhammadiyah. Keduanya sama-sama memperoleh keuntungan.
Pertama, dari sikap non oposisional. Kedua, mendukung program
pembaharuan keagamaan

termasuk di dalam bidang pendidikan.

Sikapnya yang akomodatif dan kooperatif memberikan ketentuan mutlak


untuk bertahan hidup di tengah iklim yang sangat tidak ramah terhadap
gerakan nasionalis pribumi dan di saat tidak satupun gerakan yang
sebanding dengannya dapat bertahan saat itu. Sehingga Ahmad Dahlan
dapat masuk lebih dalam pada lingkungan pendidikan kaum misionaris
yang diciptakan oleh pemerintah Belanda, yang saat itu lebih maju ke
depan dari pada sistem penddikan pribumi yang tradisional.

D. Pemikiran dan Praksis Pendidikan Muhammadiyah


Latar belakang keluarga dan masyarakat berperan penting dalam
mengaktualkan kepribadian pragmatis K.H . Ahmad Dahlan sebagai perintis
pendidikan berkemajuan. Hal itu juga diperkaya dengan radius pergaulan yang
luas pada tingkat nasional (kebangkitan nasional) maupun internasional (diskursus
pembaharuan Islam).
Melalui Muhammadiyah, KH Dahlan menempatkan pendidikan menjadi
prioritas tertinggi dalam melakukan pembangunan kembali masyarakat.
Pendidikan menjadi kunci memajukan bangsa maupun dalam menyejahterakan
penduduknya. Beliau menegaskan bahwa pendidikan bukan sekedar dunia
persekolahan, tetapi merentang jauh seluas kehidupan itu sendiri, sehingga selain
mendirikan sekolah agama modern, juga merintis amal-amal usaha yang lainnya.
Banyaknya arus pemikiran yang mempengaruhi dan mematangkan
pemikiran KH Dahlan, dapat diramu dan diolah sedemikian rupa sehingga
memungkinkan melakukan ijtihad secara mandiri. Berpikir dan bertindak adalah

11

satu rangkaian yang berjalan beriringan. Suatu tindakan dilakukan setelah berpikir
mendalam, suatu pemikiran mendalam harus berujung pada sebuah tindakan.

E. Tantangan dan Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah


1. Masalah Kualitas Pendidikan
Perkembangan amal usaha Muhammadiyah khususnya dalam bidang
pendidikan yang sangat pesat secara kuantitatif belum diimbangi
peningkatan kualitas yang sepadan, sehingga sampai batas tertentu
kurang memiliki daya saing yang tinggi, serta kurang memberikan
sumbangan yang lebih luas dan inovatif bagi pengembangan kemajuan
umat dan bangsa.
Bahwa amal usaha Muhammadiyah dalam hal kualitas mengalami dua
masalah sekaligus, yaitu, pertama, terlambatnya pertumbuhan kualitas
dibandingkan dengan penambahan jumlah yang spektakuler, sehingga
dalam beberapa hal kalah bersaing dengan pihak lain. Kedua, tidak
meratanya pengembangan mutu lembaga pendidikan.Dalam sejumlah
aspek banyak disoroti kelemahan amal usaha khususnya di bidang
pendidikan yang kurang mampu menunjukkan daya saing di tingkat
nasional apalagi internasional. Amal usaha Muhammadiyah tidak
mengalami proses inovasi yang merata dan signifikan, sehingga
cenderung berjalan di tempat, kendati beberapa lainnya mulai bangkit
mengembangkan ide-ide dan metode baru dalam peningkatan kualitas
dan keberadaan amal usaha Muhammadiyah.
2.

Permasalahan Profesionalisme Guru


Salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan dan proses
pembelajaran adalah pendidik atau guru. Betapapun kemajuan taknologi
telah menyediakan berbagai ragam alat bantu untuk meningkatkan
efektifitas proses pembelajaran, namun posisi guru tidak sepenuhnya

12

dapat tergantikan. Itu artinya guru merupakan variable penting bagi


keberhasilan pendidikan.
3.

Masalah kebudayaan (alkulturasi)


Kebudayaan yaitu suatu hasil budi daya manusia baik bersifat material
maupun mental spiritual dari bangsa itu sendiri ataupun dari bangsa
lain. Suatu perkembangan kebudayaan dalam abad moderen saat ini
adalah tidak dapat terhindar dari pengaruh kebudayan bangsa lain.
Kondisi demikian menyebabkan timbulnya proses alkulturasi yaitu
pertukaran dan saling berbaurnya antara kebudayaan yang satu dengan
yang lainnya.
Dari sinilah terdapat tantangan bagi pendidikan-pendidikan islam yaitu
dengan adanya alkulturasi tersebut maka akan mudah masuk pengaruh
negatif bagi kebudayaan, moral dan akhlak anak. Oleh karena itu hal ini
merupakan tantangan bagi pendidikan islam untuk memfilter budayabudaya yang negatif yang diakibatkan oleh pengaruh budaya-budaya
barat.

4.

Permasalahan Strategi Pembelajaran


Era globalisasi dewasa ini mempunyai pengaruh yang sangat signifikan
terhadap pola pembelajaran yang mampu memberdayakan para peserta
didik. Tuntutan global telah mengubah paradigma pembelajaran dari
paradigma pembelajaran tradisional ke paradigma pembelajaran baru.
Paradigma pembelajaran sebagai berpusat pada guru, menggunakan
media tunggal, berlangsung secara terisolasi, interaksi guru-murid
berupa pemberian informasi dan pengajaran berbasis faktual atau
pengetahuan.

5.

Masalah Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Sebagimana telah kita sadari bersama bahwa dampak positif dari pada
kemajuan

teknologi

sampai

kini,

adalah

bersifat

fasilitatif
13

(memudahkan). Teknologi menawarkan berbagai kesantaian dan


ketenangan yang semangkin beragam.
Dampak negatif dari teknologi moderen telah mulai menampakan diri
di depan mata kita, yang pada prinsipnya melemahkan daya mentalspiritual / jiwa yang sedang tumbuh berkembang dalam berbagai bentuk
penampilannya.

Pengaruh negatif dari teknologi elektronik dan

informatika dapat melemahkan fungsi-fungsi kejiwaan lainya seperti


kecerdasan pikiran, ingatan, kemauan dan perasaan (emosi) diperlemah
kemampuan aktualnya dengan alat-alat teknologi-elektronis dan
informatika seperti Komputer, foto copy dan sebagainya.
Alat-alat diatas dalam dunia pendidikan memang memiliki dua dampak
yaitu dampak positif dan juga dampak negatif. Misalnya pada pelajaran
bahasa asing anak didik tidak lagi harus mencari terjemah kata-kata
asing dari kamus, tapi sudah bisa lewat komputer penerjemah atau
hanya mengcopy lewat internet. Nah dari sinilah nampak jelas bahwa
pengaruh teknologi dan informasi memiliki dampak positif dan negatif.
6.

Tantangan era globalisasi terhadap pendidikan agama Islam di


antaranya, krisis moral.
Melalui tayangan acara-acara di media elektronik dan media massa
lainnya, yang menyuguhkan pergaulan bebas, sex bebas, konsumsi
alkohol dan narkotika, perselingkuhan, pornografi, kekerasan, liar dan
lain-lain. Hal ini akan berimbas pada perbuatan negatif generasi muda
seperti tawuran, pemerkosaan, hamil di luar nikah, penjambretan,
pencopetan, penodongan, pembunuhan oleh pelajar, malas belajar dan
tidak punya integritas dan krisis akhlaq lainnya.

7.

Dampak negatif dari era globalisasi adalah krisis kepribadian.


Diera globalisasi sekarang ini, bangsa Indonesia sedang mengalami
sebuah perubahan yang besar disegala sektor.Ini dibuktikan dengan

14

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat.Dengan


kemajuan teknologi dan informasi seperti televisi, komputer, internet,
media cetak dan elektronik mengakibatkan bangsa Indonesia dapat
dengan mudah mengakses informasi baik dari dalam negeri maupun
luar negeri. Selain itu, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi juga dapat menimbulkan kemerosotan norma-norma dalam
kehidupan bermasyarakat, kebobokran akhlak (perilaku), serta bentuk
penyimpangan lainnya yang kini telah merebak dalam masyarakat
Indonesia khususnya generasi muda dalam hal ini pelajar atau
mahasiswa. Mereka lebih mementingkan urusan duniawi daripada
urusan akhirat.
Dari semua bentuk penyimpangan ini membutuhkan suatu upaya yang
sangat serius untuk mengatasinya. Salah satu cara mengatasinya adalah
melalui pendidikan, dalam hal ini pendidikan kemuhammadiyahan.
Dengan kemuhammadiyahan dampak-dampak buruk dari kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi bisa di minimalisir.

15

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam sejak awal berdiri memiliki
komitmen yang teguh dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui jalur
pendidikan, hingga saat ini lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah
terus berkembang dan bertambah baik secara kuantitas maupun kualitas,
walaupun di sisi lain tidak dapat dipungkiri ada lembaga pendidikan
Muhammadiyah yang mengalami keterpurukan bahkan ada yang tutup, hal ini
merupakan dinamika lembaga pendidikan yang dimiliki oleh Muhammadiyah.
Muhammadiyah didirikan untuk menyerukan pentingnya kembali pada Al
Quran dan Sunnah sebagai usaha mengatasi perbuatan menyimpang dalam
kehidupan beragama umat islam di Indonesia yang melakukan praktik takhayul,
bidah, dan kurafat dengan tidak mendasarkan dirinya pada madzhab atau
pemikiran tertentu. Dari latar belakang yang demikian, membuat Ahmad Dahlan
mendirikan Muhammadiyah dan didalamnya didirikan Lembaga Pendidikan yang
disesuaikan dengan sistem pendidikan Islam agar tidak terisolasi. Bahwa pada
dasarnya pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah cenderung mengarah
kepada pendidikan umum. Dalam pelaksanaan pendidikannya Muhammadiyah
merupakan sistem pendidikan yang memadukan antara sistem pendidikan
pesantren dengan sistem pendidikan sekolah, menjadi sistem pendidikan
madrasah atau sekolah agama.
B. Saran
Manajemen yang selama ini berlaku di Muhammadiyah justru membuat
para perintis lembaga pendidikan di Muhammadiyah bersemangat untuk
berkompetisi secara positif, walaupun demikian, menurut hemat penulis
manajemen yang sekarang berlaku membutuhkan evaluasi secara mendalam untuk
peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah secara umum.

16

DAFTAR PUSTAKA

Anam, Zahrul dan Sidik Jatmika. 2010. Kauman (Muhammadiyah Undercover).


Yogyakarta: Gelanggang,
Rais, Muhammad Amien dkk. 1985. Pendidikan Muhammadiyah dan Perubahan
Sosial (sarasehan pimpinan pusat ikatan pelajar muhammadiyah).
Yogyakarta : PLP2M
Safwan, Mardanas dan Sutrisno Kutojo. 1991. K.H. Ahmad Dahlan : riwayat
hidup dan perjuangannya. Bandung: Angkasa
Syahrul, Gerakan Pembaharuan Pendidikan Islam Di Indonesia Studi Kasus
Pendidikan Muhammadiyah Dan Nahdlatul Ulama (NU). http//www.
http://pendidikannyamanusia.blogspot.co.id/2013/06/studi-konseppendidikan-muhammadiyah-nu.html, didownload pada 3 November 2016
Yunus, Mahmud. 1996. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta:
Hidakarya Agung
Sejarah Pendidikan Muhammadiyah, http://kultum648.blogspot.co.id/2014/01/
sejarah-pendidikan-muhammadiyah.html, didownload pada 3 November
2016