Anda di halaman 1dari 16

Case Report Session

INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)

Oleh:

Nurul Aini Yudita

1110311001

Preseptor:
dr. Sabrina Ermayanti, Sp.P(K)

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI II


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PUSKESMAS AIR DINGIN
PADANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

Saat ini penyakit ISPA masih menjadi masalah di Indonesia. ISPA merupakan salah satu
penyebab utama kematian balita. Menurut Riskesdas (2007), penyebab kematian balita karena
ISPA pneumonia adalah nomor dua dari seluruh kematian balita (15,5%). Sehingga jumlah
kematian balita akibat penumonia tahun 2007 adalah 30.470 balita, atau rata-rata 83 orang balita
meninggal setiap hari akibat pneumonia.1
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, bersin, udara pernafasan yang mengandung kuman
yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernafasannya. Infeksi saluran pernafasan bagian atas
terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada
bulan-bulan musim hujan. Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada
anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan
yang tidak hygiene.1
ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien pada sarana kesehatan.
Sebanyak 40% - 60% kunjungan berobat di Puskesmas dan 15% - 30% kunjungan berobat di
bagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit disebabkan oleh ISPA (Dirjen P2ML, 2000).
Berdasarkan data kunjungan poli anak Puskesmas Air Dingin dari bulan Juli-November 2016,
didapatkan bahwa ISPA merupakan penyakit terbanyak yang diderita oleh pasien-pasien yang
berobat di poli anak setiap bulannya dengan persentase 25-30% dari seluruh penyakit.1
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengajukan topik ini dalam laporan kasus.
Diharapkan dokter dapat berperan dalam pencegahan, deteksi dini, terapi maupun rehabilitasi
dari infeksi saluran pernafasan akut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1

2.1 Definisi
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernafasan atas atau bawah,
menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa
gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen
penyebabnya, faktor lingkungan, dan faktor pejamu.2
2.2 Epidemiologi
Menurut WHO tahun 2012, sebesar 78% balita yang berkunjung ke pelayanan kesehatan
adalah akibat ISPA. ISPA lebih banyak terjadi di negara berkembang dibandingkan negara maju
dengan persentase masing-masing sebesar 25%-30% dan 10%-15%. Kematian balita akibat ISPA
di Asia Tenggara sebanyak 2.1 juta balita pada tahun 2004. India, Bangladesh, Indonesia, dan
Myanmar merupakan negara dengan kasus kematian balita akibat ISPA terbanyak.3
ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Hampir
empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98% disebabkan oleh infeksi saluran
pernafasan bawah. Tingkat mortalitas sangat tinggi pada bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia,
terutama di negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dan menengah. Begitu pula,
ISPA merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas pelayanan
kesehatan terutama pada bagian perawatan anak.2
Kematian balita akibat ISPA di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 20.6% dari tahun
2010 hingga tahun 2011 yaitu 18.2% menjadi 38.8%.4
2.3 Etiologi
Mayoritas penyebab dari ISPA adalah virus, dengan frekuensi lebih dari 90% untuk ISPA
bagian atas, sedangkan untuk ISPA bagian bawah frekuensinya lebih kecil. Dalam Harrisons
Principle of Internal Medicine disebutkan bahwa penyakit infeksi saluran pernafasan akut bagian
atas mulai dari hidung, nasofaring, sinus paranasalis, sampai dengan laring hampir 90%
disebabkan oleh viral , sedangkan infeksi akut saluran nafas bagian bawah hampir 50%
disebabkan oleh bakteri. Penyebab ISPA oleh Streptococcus pneumonia sekitar 70-90%,
sedangkan Stafilococcus aureus dan H. influenza sekitar 10-20%. Saat ini telah diketahui bahwa

infeksi saluran pernafasan akut ini melibatkan lebih dari 300 tipe antigen dari bakteri maupun
virus.5
Tabel 2.1 Ragam Penyebab ISPA Menurut Umur

2.4 Klasifikasi
ISPA diklasifikasikan menjadi ISPA ringan, ISPA sedang dan ISPA berat (Ditjen P2PL,
2009).
1

ISPA Ringan
Tanda dan gejalanya adalah merupakan satu atau lebih dari tanda dan gejala seperti batuk,
pilek (mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung), serak (bersuara parau ketika
berbicara), sesak yang disertai atau tanpa disertai demam (> 37,2oC), keluarnya cairan
dari telinga yang lebih dari 2 minggu tanpa ada rasa sakit pada telinga.6

ISPA Sedang
Tanda dan gejala ISPA ringan ditambah satu atau lebih gejala berikut seperti pernafasan
yang cepat lebih dari 50 kali permenit atau lebih (tanda utama) pada umur < 1 tahun dan
40 kali per menit pada umur 1-5 tahun, panas dengan suhu 39 oC atau lebih, wheezing,
tenggorokan berwarna merah, mengeluarkan cairan dari telinga, timbul bercak dikulit

menyerupai campak, dan pernafasan berbunyi seperti mengorok.6


ISPA Berat
Tanda dan gejalanya adalah ringan dan sedang ditambah satu atau lebih dari gejala seperti
penarikan dada ke dalam pada saat menarik nafas (tanda utama), adanya stridor atau
mengeluarkan nafas seperti mengorok, serta tidak mampu atau tidak mau makan. Tanda
dan gejala ISPA berat yang lain seperti kebiru-biruan (sianosis), pernafasan cuping
hidung, kejang, dehidrasi, kesadaran menurun, nadi cepat (lebih dari 160 kali per menit

atau tak teraba) dan terdapatnya selaput difteri.6


Selain itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengklasifikasikan ISPA sesuai dengan
kelompok usia dan gejala yang dialami oleh pasien. Gejala ISPA sesuai dengan ISPA yang
diderita dapat dilihat pada tabel 2.2 sebagai berikut.
Tabel 2.2 Gejala dan tanda ISPA Berdasarkan Kelompok Usia

2.5 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis ISPA meliputi demam, batuk dan sering juga nyeri tenggorok, pilek,
sesak nafas, mengi, atau kesulitan bernafas. Infeksi saluran pernafasan akut dapat terjadi
dengan berbagai gejala klinis. Untuk membedakan gejala klinis pada ISPA yang disebabkan
oleh virus atau bakteri sangat sulit untuk diidentifikasi.5
2.6 Patogenesis
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, droplet melalui batuk dan bersin, udara
pernafasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke dalam saluran
pernafasannya.8
ISPA juga dapat diakibatkan oleh polusi udara. ISPA akibat polusi udara adalah ISPA
yang disebabkan oleh faktor risiko polusi udara seperti asap rokok, asap pembakaran rumah
tangga, gas buang sarana transportasi dan industri, kebakaran hutan, dan lain-lain. Agen
infeksius dapat menyebabkan timbulnya ISPA, namun keberadaan agen infeksius tidak
langsung menimbulkan ISPA karena pertahanan tubuh juga menjadi faktor yang penting.9
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan interaksi antara virus/bakteri dengan
tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang
terdapat pada permukaan saluran pernafasan bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring
atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka
virus/bakteri dapat merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan. Iritasi
virus/bakteri pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering. Kerusakan
struktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan peningkatan aktivitas kelenjar
mucus, yang banyak terdapat pada dinding saluran pernafasan. Hal ini mengakibatkan
terjadinya pengeluaran cairan mukosa yang melebihi normal. Rangsangan cairan yang
berlebihan tersebut dapat menimbulkan gejala batuk sehingga pada tahap awal gejala ISPA
yang paling menonjol adalah batuk.10
Adanya infeksi virus merupakan faktor predisposisi terjadinya infeksi bakteri. Akibat
infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme
perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan
bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti Streptococcus
pneumonia, Staphylococcus aureus dan H. influenza menyerang mukosa yang telah rusak
tersebut. Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mucus bertambah banyak dan
5

dapat menyumbat saluran pernafasan sehingga timbul sesak nafas dan batuk produktif. Invasi
bakteri ini dipermudah dengan adanya faktor-faktor cuaca dingin dan malnutrisi.10
Serangan infeksi virus pada saluran pernafasan dapat menimbulkan gangguan gizi akut
pada bayi dan anak. Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempattempat lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga dapat
menyebar ke saluran nafas bawah. Dampak infeksi sekunder bakteri menyebabkan bakteribakteri yang biasanya ditemukan di saluran nafas atas dapat menyerang saluran nafas bawah
seperti paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri. 10
2.7 Faktor Risiko
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya ISPA, seperti lingkungan dan
host. Menurut berbagai penelitian sebelumnya, faktor lingkungan yang dapat menyebabkan
ISPA adalah kualitas udara dalam ruangan yang dipengaruhi oleh polusi udara dalam ruangan
(indoor air polution). Pencemaran udara dalam ruangan disebabkan oleh aktivitas penghuni
dalam rumah, seperti perilaku merokok anggota keluarga dalam rumah dan penggunaan kayu
bakar sebagai bahan bakar dalam rumah tangga. Sedangkan faktor host yang dapat
mempengaruhi terjadinya ISPA antara lain status imunisasi, Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR), dan umur.11
2.8 Diagnosis
Diagnosis ISPA ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik seperti yang
disebutkan pada klasifikasi di atas.5
2.9 Tatalaksana
1 Medikamentosa
a

Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen dan
sebagainya.

b Pneumonia : diberi obat sesuai organisme penyebab


c

Bukan Pneumonia : tanpa pemberian antibiotik, terapinya berupa terapi simptomatik.


Diberikan

perawatan

di

rumah,

untuk

batuk

dapat

diberikan

kodein,

dekstromethorphan dan antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu
parasetamol.5
6

Pemberian antibiotik yang tidak sesuai untuk infeksi saluran pernafasan akut dapat
menyebabkan peningkatan prevalensi dan resistensi antibiotik. Lebih dari setengah dari
seluruh pemberian resep antibiotik untuk ISPA tidak perlu karena infeksi ini lebih sering
disebabkan oleh virus dan tidak memerlukan antibiotik. Mengetahui penyebab ISPA
karena infeksi bakteri atau virus sangatlah penting untuk menentukan jenis pengobatan
yang akan diberikan.12
Sebelum hasil kultur keluar, maka antibiotik yang dapat diberikan adalah antibiotik
spektrum luas. Lama pemberian terapi ditentukan berdasarkan adanya penyakit
penyerta.13
2

Non medikamentosa
Penatalaksanaan non medikamentosa yaitu:14
a

Perbanyak istirahat

Perbanyak minum air putih

Hindari makanan berminyak dan es

Konsumsi makanan gizi seimbang

2.10 Komplikasi
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) sebenarnya merupakan penyakit yang sembuh
sendiri dalam 5-6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lain, tetapi ISPA yang tidak
mendapatkan pengobatan dan perawatan yang baik dapat menimbulkan oklusi tuba
eustachius, laringitis, bronkhitis, bronkopneumonia, dan berlanjut pada kematian karena
adanya sepsis yang meluas.15
2.11 Prognosis
Pada dasarnya, prognosis ISPA adalah baik apabila tidak terjadi komplikasi yang berat.
Hal ini juga didukung oleh sifat penyakit ini sendiri, yaitu self limiting disease sehingga tidak
memerlukan tindakan pengobatan yang rumit.16

BAB III
7

LAPORAN KASUS
1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur/ : An.A/ Perempuan/ 4 tahun
b. Pekerjaan/pendidikan
:c. Alamat
: Permandian
2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga
a. Jumlah Saudara
:b. Status Ekonomi Keluarga : Cukup mampu
c. Kondisi Rumah
:
- Rumah permanen, pekarangan cukup luas.
- Listrik ada.
- Sumber air : PDAM.
- Jamban ada 1 buah, di dalam rumah.
- Sampah dibuang ke tempat pembuangan sementara dan diambil oleh petugas.
Kesan : Hygiene dan sanitasi baik
d. Kondisi Lingkungan Keluarga
- Pasien tinggal di lingkungan yang jarang penduduk.
- Ayah pasien sering merokok di dalam rumah.
3. Aspek Psikologis di keluarga
- Hubungan dengan anggota keluarga lainnya baik.
- Faktor stres dalam keluarga tidak ada.
4. Keluhan utama
Demam sejak 3 hari yang lalu.
5. Riwayat Penyakit Sekarang
- Demam sejak 3 hari yang lalu, tidak tinggi, hilang timbul, tidak menggigil dan
-

tidak berkeringat.
Batuk sejak 2 hari yang lalu, berdahak sedikit.
Pilek sejak 2 hari yang lalu, ingus encer dan selalu mengalir keluar, berwarna

putih.
- Sesak nafas tidak ada
- Mencret-mencret tidak ada
- Mual muntah tidak ada
- BAK jumlah dan warna biasa
- BAB warna dan konsistensi biasa
6. Riwayat Penyakit Dahulu / Penyakit Keluarga
- Pasien pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya 4 bulan yang lalu,
berobat ke puskesmas dan diberikan obat penurun panas. Pasien sembuh.
7. Riwayat kelahiran, imunisasi, dan makanan
- Pasien anak tunggal, lahir spontan, ditolong bidan, dengan BBL 3700 gram, dan
-

PBL 52 cm.
Riwayat imunisasi lengkap.

Riwayat ASI eksklusif, makan nasi, lauk, sayur dan buah dari usia 2 tahun sampai

sekarang.
8. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaran
Nadi
Nafas
TD
Suhu
BB
TB
Status gizi
Mata
Kulit
THT
KGB

: Sedang
: CMC
: 100x/ menit
: 30x/menit
:: 37,8 0C
: 20 kg
: 115 cm
: Gizi baik
: Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik
: sianosis tidak ada, pucat tidak ada
: Status lokalis THT
: tidak ada pembesaran KGB

Dada
Paru
Inspeksi

: simetris kiri sama dengan kanan

Palpasi

: fremitus sukar dinilai

Perkusi

: sonor

Auskultasi

: vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)

Inspeksi

: iktus tidak terlihat

Palpasi

: iktus teraba LMCS RIC V

Perkusi

: batas jantung sukar dinilai

Auskultasi

: bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Perut tidak tampak membuncit


: Hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-)
: Timpani
: BU (+) normal

Jantung

Abdomen

Punggung

: Nyeri tekan dan nyeri ketok CVA tidak ada.

Alat kelamin : Tidak diperiksa


Anggota gerak : Refleks fisiologis +/+, Refleks patologis -/Status Lokalis THT :
Telinga : sulit dilakukan
Hidung
Pemeriksaan

Hidung luar

Kelainan
Deformitas
Kelainan kongenital
Trauma
Radang
Massa

Dekstra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Sinistra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Sinus paranasal
Pemeriksaan
Nyeri tekan
Nyeri ketok

Dekstra
Tidak ada
Tidak ada

Rinoskopi Anterior

: Sulit dilakukan

Rinoskopi Posterior

: Tidak dilakukan

Sinistra
Tidak ada
Tidak ada

Orofaring dan mulut


Pemeriksaan
Palatum mole
Arkus faring
Dinding Faring
Tonsil

Gigi

Kelainan
+ Simetris/tidak
Warna
Edema
Bercak/eksudat
Warna
Permukaan
Ukuran
Warna
Permukaan
Muara kripti
Detritus
Eksudat
Perlengketan

Dekstra
Sinistra
Simetris
Simetris
Merah muda
Merah muda
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Hiperemis
Rata
T1
T1
Merah muda
Rata
Tidak melebar
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada

dengan pilar
Karies/radiks

Caries (-)
10

Caries (-)

Lidah

Kesan
Warna
Bentuk
Deviasi
Massa

Hygiene mulut baik


Merah muda
Simetris
Tidak Ada
Tidak Ada

9. Laboratorium : tidak dilakukan


10. Pemeriksaan anjuran :
Pemeriksaan darah lengkap
11. Diagnosis Kerja
Infeksi saluran pernafasan akut
12. Diagnosis Banding : 13. Manajemen
a. Preventif :
- Hindari pasien kontak dengan orang-orang yang berpotensi untuk terkena infeksi
- Meningkatkan daya tahan tubuh dengan memberi makanan bergizi, berkalori dan
protein tinggi, serta buah-buahan yang tinggi vitamin.
- Hindari hal-hal yang menyebabkan kelelahan fisik pada pasien.
b. Promotif :
- Edukasi ayah pasien untuk berhenti merokok.
- Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi.
- Jaga lingkungan agar tetap bersih.
- Selalu menjaga hygiene mulut dan tangan.
c. Kuratif
:
- Istirahat dan minum air putih yang cukup.
- Medikamentosa :
Parasetamol tab 500 mg 3 x (pulveres)
CTM tab 4 mg 3 x (pulveres)
Ambroxol tab 30 mg 3 x (pulveres)
d. Rehabilitatif :
Jika panas tidak turun dalam 5 hari, dahak berwarna kuning-hijau, sesak nafas segera
dibawa ke puskesmas atau ke Rumah sakit.

Dinas Kesehatan Kodya Padang


Puskesmas Air Dingin

11

Dokter
Tanggal

: Nurul Aini Yudita


: 27 Desember 2016

R/ Paracetamol 250 mg
CTM 1 mg
Ambroxol 7,5 mg
mf pulv dtd No IX
3 dd pulv I
__________________________________________

Pro : An.A
Umur : 4 tahun
Alamat : Permandian

BAB IV
PEMBAHASAN

12

Telah dilaporkan kasus seorang anak perempuan umur 4 tahun, berobat ke Puskesmas Air
Dingin Padang pada tanggal 27 Desember 2016 dengan keluhan utama demam sejak 3 hari
sebelum datang ke puskesmas. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik.
Dari anamnesis diketahui demam sejak 3 hari yang lalu, tidak tinggi, hilang timbul, tidak
menggigil dan tidak berkeringat. Batuk sejak 2 hari yang lalu, berdahak sedikit, disertai pilek
dengan sekret berwarna putih encer dan selalu mengalir keluar. Pasien pernah mengalami gejala
yang sama 4 bulan yang lalu, ibunya membawa pasien berobat ke puskesmas dan sembuh.
Keluhan-keluhan yang dialami oleh pasien relevan dengan gejala-gejala timbulnya ISPA, yakni
berupa batuk, demam serta pilek.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu 37,8C dan dinding faring hiperemis. Berdasarkan
data pemeriksaan fisik tersebut, didapatkan pasien demam tidak tinggi. Dinding faring hiperemis
menunjukkan proses inflamasi akibat adanya infeksi pada saluran pernafasan.
ISPA dapat disebabkan oleh infeksi bakteri maupun virus, namun demikian patogen tersering
yang menyebabkan ISPA adalah virus atau infeksi gabungan virus bakteri. Keluhan pasien
berupa demam yang tidak tinggi, pilek dengan sekret berwarna putih encer biasanya dijumpai
pada penderita ISPA yang disebabkan oleh virus, namun hal tersebut belum bisa memastikan
penyebab ISPA. Untuk mengetahui lebih jelas penyebab dari ISPA perlu dilakukan pemeriksaan
darah lengkap dan sputum.
Pasien seorang anak tunggal yang tinggal bersama ibu dan ayahnya di rumah. Ayah pasien
sering merokok di dalam rumah. Asap rokok yang secara tidak langsung dihirup pasien dapat
menyebabkan iritasi pada mukosa saluran pernafasan. Dari uraian singkat ini dapat diketahui
bahwa lingkungan menjadi salah satu faktor risiko pasien menderita ISPA.
Obat yang diminum pasien adalah Ambroxol, Paracetamol dan Chlorpheniramine maleate
(CTM). Pasien diberikan Ambroxol yang mempunyai cara kerja mengencerkan dahak pada
saluran pernafasan sehingga mempermudah pengeluaran dahak. Oleh karena itu obat ini
digunakan untuk meredakan batuk berdahak.
Paracetamol adalah obat yang mempunyai efek mengurangi nyeri (analgetik) dan
menurunkan demam (antipiretik). Cara menurunkan demam dengan cara menghambat pusat
pengatur panas tubuh di hipotalamus. Pada kondisi demam, paracetamol hanya bersifat
simptomatik yaitu meredakan keluhan demam (menurunkan suhu tubuh) dan tidak mengobati
penyebab demam itu sendiri.
13

Selain terapi farmakologis, diperlukan terapi non farmakologis yang bertujuan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh. Edukasi kepada keluarga untuk menjaga pola hidup sehat,
makan yang bergizi dan teratur serta istirahat yang cukup. Selain itu perlu dijelaskan kepada
ayah pasien agar berhenti merokok karena ISPA dapat berulang kembali jika pasien sering
terpapar dengan asap rokok.

DAFTAR PUSTAKA
1
2
3

Kemenkes RI. 2010. Buletin jendela epidemiologi Pneumonia balita vol.3. Jakarta: Depkes
RI.
WHO. 2007. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang
Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Usman, Iskandar. 2012. Penderita ISPA. (online) Diakses 30 Maret 2014.
14

4
5
6
7
8
9
10

11
12
13
14
15
16

Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan. 2011. Laporan Program P2 ISPA Dinas Kesehatan
Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar: Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan.
Rubin, Michael A, et al. Harrisons Principle of Internal Medicine, USA : McGraw Hill.
2005.
Ditjen P2PL. 2007. Pedoman Tatalaksana Pneumonia Balita. Jakarta : Depkes RI
Abdullah. 2003. Pengaruh Pemberian ASI terhadap Kasus ISPA pada Bayi Umur 0-4 Bulan.
Tesis Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta.
Ditjen P2PL. 2009. Pedoman Pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut.
Jakarta : Depkes RI.
Machmud, Rizanda. (2006). Pneumonia balita di Indonesia dan peranan kabupaten dalam
menanggulanginya. Andalas University Press.
Ria, Epi. 2012. Kualitas Lingkungan Rumah dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan
Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Warakas Kecamatan
Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2011. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia : Skripsi.
Rerung, Ribka. 2012. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada Balita di
Lembang Batu Sura. Jurnal FKM Universitas Hasanuddin Makassar.
Deasy, Joan and Werner. 2009. Acute Respiratory Tract Infenstions; When Are Antibiotics
Indicated. Available from www.jappa.com
Dahlan Z. Pnuemonia. In : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Editors, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Kedokteran Universitas
Indonesia.
Savitri Oryza. Rekam Medik Pasien Poli dalam scribd.com
Whaley and Wrong, 2000. Nursing care of Infant And Childern, Mosby, Inc. Yasir, 2009,
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Supatondo dan Roosheroe AG. 2007. Pedoman Memberi Obat pada Pasien Geriatri Serta
Mengatasi Masalah Polifarmasi. In Sudoyo A.W., Setyiohadi B., Alwi I., Simadibrata M. dan
setiati S. (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta : Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

15