Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN
Gizi merupakan faktor penting untuk mewujudkan manusia Indonesia. Berbagai
penelitian mengungkapkan bahwa kekurangan gizi, terutama pada usia dini akan berdampak
pada tumbuh kembang anak. Anak yang kurang gizi akan tumbuh kecil, kurus, dan pendek.
Gizi kurang pada anak usia dini juga berdampak pada rendahnya kemampuan kognitif dan
kecerdasan anak, serta berpengaruh terhadap menurunnya produktivitas anak.
Pada tahun 2013, 17% atau 98 juta anak di bawah lima tahun di negara berkembang
mengalami kurang gizi (berat badan rendah menurut umur berdasarkan standar WHO).
Prevalensi tertinggi berada di wilayah Asia Selatan sebesar 30%, diikuti Afrika Barat 21%,
Osceania dan Afrika Timur 19%, Asia Tenggara dan Afrika Tengah 16%, dan Afrika Selatan
12%.
Sedangkan di Indonesia, 18 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk-kurang di
atas angka prevalensi nasional yaitu berkisar antara 21,2 persen sampai dengan 33,1 persen.
Urutan ke 19 provinsi tersebut dari yang tertinggi sampai terendah adalah (1) Nusa Tenggara
Timur; (2) Papua Barat; (3) Sulawesi Barat; (4) Maluku; (5) Kalimantan Selatan; (6)
Kalimantan Barat; (7) Aceh; (8) Gorontalo; (9) Nusa Tenggara Barat; (10) Sulawesi Selatan;
(11) Maluku Utara; (12) Sulawesi Tengah; (13) Sulawesi Tenggara; (14) Kalimantan Tengah;
(15) Riau; (16) Sumatera Utara; (17) Papua, (18) Sumatera Barat dan (19) Jambi. Atas dasar
sasaran MDG 2015, terdapat tiga provinsi yang memiliki prevalensi gizi buruk-kurang sudah
mencapai sasaran yaitu: (1) Bali, (2) DKI Jakarta, (3) Bangka Belitung.
Masalah kesehatan masyarakat dianggap serius bila prevalensi gizi buruk-kurang antara
20,0-29,0 persen, dan dianggap prevalensi sangat tinggi bila 30 persen. Pada tahun 2013,
secara nasional prevalensi gizi buruk-kurang pada anak balita sebesar 19,6 persen, yang
berarti masalah gizi berat-kurang di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat mendekati prevalensi tinggi. Diantara 33 provinsi, terdapat tiga provinsi termasuk
kategori prevalensi sangat tinggi, yaitu Sulawesi Barat, Papua Barat dan Nusa Tenggara
Timur
Kesepakatan global yang dituangkan dalam Millenium Development Goals (MDGs)
yang terdiri dari 8 tujuan, 18 target dan 48 indikator, menegaskan bahwa tahun 2015 setiap
negara menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi pada tahun 1990. Dua
dari lima indicator sebagai penjabaran tujuan pertama MDGs adalah menurunnya prevalensi
gizi kurang pada anak balita (indikator keempat) dan menurunnya jumlah penduduk dengan
1

defisit energi (indikator kelima). Walaupun secara keseluruhan proporsi kurang gizi di Asia
sudah mendekati angka target MDGs, namun rata-rata kejadian kurang gizi berlanjut dan
menjadi sangat tinggi di Asia Selatan sebesar 30%. Hal ini berhubungan dengan populasi
yang besar, yang artinya kurang gizi terbanyak ada pada balita yang tinggal di Asia Selatan
(53 juta jiwa pada 2013). Kenaikan harga pangan dan krisis ekonomi menjadi efek dari trend
yang terjadi di beberapa populasi, namun ini terlalu dini untuk disimpulkan.
Penyebab langsung kurang gizi yaitu asupan makanan tidak seimbang dan penyakit
infeksi. Sedangkan untuk penyebab tidak langsung diantaranya tidak cukup persediaan
pangan, pola asuh anak tidak memadai, sanitasi/pelayanan kesehatan dasar tidak memadai.
Hal ini disebabkan kemiskinan, pendapatan, kurang pendidikan, pengetahuan dan
keterampilan. Sedangkan akar masalah penyebab kurang gizi adalah krisis ekonomi, politik
dan social. Seiring dengan bertambahnya umur, asupan zat gizi yang lebih rendah
dibandingkan kebutuhan, serta tingginya beban penyakit infeksi pada awal kehidupan,
menyebabkan bayi-bayi di Indonesia terus mengalami penurunan status gizi dengan puncak
penurunan pada umur kurang lebih 18-24 bulan. Pada kelompok umur inilah prevalensi balita
kurus (wasting) dan balita pendek (stunting) mencapai titik tertinggi. Setelah melewati umur
24 bulan, status gizi balita umumnya mengalami perbaikan meskipun tidak sempurna.
Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan
kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu
pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor terkait. Masalah gizi
muncul akibat masalah ketahanan pangan ditingkat rumah tangga, yaitu kemampuan rumah
tangga memperoleh makanan untuk semua anggotanya. Berdasarkan pemaparan diatas dapat
disimpulkan bahwa kasus gizi kurang termasuk giri buruk harus diatasi secara total dan
komprehensif di tengah-tengah masyarakat, dalam artian diupayakan untuk menurunkan
kasus ini hingga mencapai nol. Namun, penulis menemukan masih terdapatnya kasus gizi
buruk di wilayah kerja Puskesmas Alai. Berdasarkan alasan itulah penulis mengangkat kasus
gizi buruk ini untuk dijadikan sebagai proyek program Keluarga Binaan Dokter Muda Rotasi
II Fakultas Kedokteran Universitas Andalas periode kerja Puskesmas Alai.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Bawah garis merah
2.1.1. Definisi
Balita merupakan individu yang berumur 0-5 tahun, dengan tingkat plastisitas
otak yang masih sangat tinggi sehingga akan lebih terbuka untuk proses pembelajaran
dan pengayaan. Balita terbagi menjadi dua golongan yaitu balita dengan usia satu
sampai tiga tahun dan balita dengan usia tiga sampai lima tahun (Soekirman, 2006).
Balita BGM adalah balita dengan berat badan menurut umur (BB/U) berada di bawah
garis merah pada KMS. Balita BGM tidak selalu berarti menderita gizi kurang atau
gizi buruk. Akan tetapi, itu dapat menjadi indikator awal bahwa balita tersebut
mengalami masalah gizi.1
Gizi di bawah garis merah adalah keadaan kurang gizi tingkat berat yang
disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan
terjadi dalam waktu yang cukup lama. Tanda-tanda klinis dari gizi buruk secara garis
besar dapat dibedakan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor.1-3
Gizi buruk adalah keadaan kekurangan energi dan protein tingkat berat akibat
kurang mengkonsumsi makanan yang bergizi dan atau menderita sakit dalam waktu
lama. Itu ditandai dengan status gizi sangat kurus (menurut BB terhadap TB) dan atau
hasil pemeriksaan klinis menunjukkan gejala marasmus, kwashiorkor atau marasmik
kwashiorkor.
Gizi merupakan suatu proses organisme menggunakan makan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti absorpsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang digunakan untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan
energi. Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
variabel-variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture4.
2.1.2. Epidemiologi
Menurut Departemen Kesehatan (2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar
27,5% (5 juta balita kurang gizi), 3,5 juta anak (19,2%) dalam tingkat gizi kurang, dan
1,5 juta anak gizi buruk (8,3%). WHO (1999) mengelompokkan wilayah berdasarkan
prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok yaitu: rendah (di bawah 10%), sedang
(10-19%), tinggi (20-29%), sangat tinggi (=> 30%).
3

2.1.3. Etiologi
Pada tahun 1988, UNICEF, salah satu badan organisasi PBB yang khusus
bergerak dibidang kesejahteraan anak telah mengembangkan kerangka konsep
perbaikan gizi. Dalam kerangka tersebut ditunjukkan bahwa masalah gizi kurang
dapat disebabkan sebagai berikut.5,6,7
a. Penyebab Langsung
Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang.
Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi
juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit,
pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak
memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan
mudah terserang penyakit.
b. Penyebab Tidak Langsung
Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu:

Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan


mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya
dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya.

Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat


diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak

agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial.
Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim pelayanan
kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan
sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang
membutuhkan.
Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan

ketrampilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan,


makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pola pengasuhan maka
akan makin banyak keluarga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan.
c. Pokok Masalah di Masyarakat
Kurangnya pemberdayaan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya
masyarakat berkaitan dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung.

d. Akar Masalah
4

Kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga serta kurangnya pemanfaatan


sumber daya masyarakat terkait dengan meningkatnya pengangguran, inflasi dan
kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi, politik dan keresahan sosial yang
menimpa Indonesia sejak tahun 1997. Keadaan tersebut teleh memicu munculnya
kasus-kasus gizi buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak
memadai.

Dampak

Penyebab
langsung

Penyebab
Tidak langsung

KURANG GIZI

Makan
Tidak Seimbang

Tidak Cukup
Persediaan Pangan

Penyakit Infeksi

Pola Asuh Anak


Tidak Memadai

Sanitasi dan Air


Bersih/Pelayanan
Kesehatan Dasar
Tidak Memadai

Kurang Pendidikan, Pengetahuan dan Keterampilan

Pokok Masalah
di Masyarakat

Kurang pemberdayaan wanita


dan keluarga, kurang pemanfaatan
sumberdaya masyarakat

Pengangguran, inflasi, kurang pangan dan kemiskinan

Akar Masalah
(nasional)

Krisis Ekonomi, Politik,


dan Sosial

Gambar 2.1 Penyebab kurang gizi


2.1.4. Faktor yang menyebabkan kurang gizi9-11
5

Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat menyebabkan anak kekurangan
gizi, di antaranya adalah.
a. Perilaku ibu
Dari aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme
atau makhluk hidup yang bersangkuatan (Notoatmojo,2010), Segala kegiatan yang
dilakukan makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari untuk mempertahankan
kehidupan sehari-hari disebut dengan perilaku.6
Menurut Skiner (1938), seorang ahli psikologi yang dikutip dalam buku
Notoatmodjo (2010), merumuskan bahwa perliku merupakan respons atau reaksi
seseorang terhadap stimulasi (rangsangan dari luar). Dengan demikian perilaku
manusia terjadi melalui proses : Stimulus Organisme Respon, sehingga teori Skinner
ini disebut teori SOR. Berdasarkan pembagian domain oleh Bloom, dan untuk
kepentingan pendidikan praktis, dikembangkan menjadi tingkat ranah perilaku sebagi
berikut (Notoatmodjo,2010)

Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang

terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan
sebagainya).

Sikap (Attitiude)
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek

tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan.

Tindakan atau Praktik (Practice)


Seperti telah disebutkan diatas bahwa sikap adalah kecenderungan untuk

bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk
terwujudnya tindakan perlu faktor lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana.
b. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba,
sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmodjo, 2010).
Menurut WHO pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau
pengalaman orang lain. Selanjutnya menurut Poejawijatna (1991), orang yang tahu
6

disebut mempunyai pengetahuan. Jadi pengetahuan adalah hasil dari tahu. Dengan
demikian pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,2010). Penelitian Rogers (1983),
mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi tahapan pengetahuan dalam diri
orang tersebut terjadi adalah sebagai berikut :

Knowledge (Pengetahuan), yakni orang tersebut mengetahui dan memahami


akan adanya perubahan baru.

Persuasion (Kepercayaan), yakni orang mulai percaya dan membentuk sikap


terhadap perubahan tersebut .

Decision (Keputusan), yakni orang mulai membuat suatu pilihan untuk


mengadopsi atau menolak perubahan tersebut

Implementation (Pelaksanaan), orang mulai menerapkan perubahan tersebut


dalam dirinya.

Comfirmation (Penegasan), orang tersebut mencari penegasan kembali


terhadap perubahan yang telah diterapkan, dan boleh merubah keputusannnya
apabila perubahan tersebut berlawanan dengan hal yang diinginkannya.
Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa

perubahan perilku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut. Apabila penerima


perubahan perilku baru atau adopsi perilku melalui proses seperti ini didasari oleh
pengetahuan , kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku itu tidak didasari oleh
pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2003).
c. Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi
hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata
menunjukan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu
(Notoatmodjo, 2007).
d. Pola pengasuhan
Pola pengasuhan merupakan salah satu kejadian pendukung untuk mencapai
status yang baik bagi anak. Pola pengasuhan merupakan kejadian pendukung anmun
secara tidak langsung. Dengan pola pengasuhan yang baik, maka perkembangan anak
juga akan baik. Ahli psikologi perkembangan, dewasa ini menilai secara kritis

pentingnya pengasuhan anak oleh orang tuanya. Proses pengasuhan ini erat
hubungannya dengan kelekata antara anak dan orang tua dimana proses tersebut.
2.1.5. Klasifikasi
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No:
1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi
Anak, kategori dan ambang batas status gizi anak adalah sebagai berikut.3,12,13
Tabel 1. Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks
Indeks
Berat Badan menurut
Umur (BB/U) Anak Umur
0-60 Bulan
Panjang Badan menurut
Umur (PB/U) atau Tinggi
Badan menurut Umur

Kategori Status Gizi


Gizi Buruk
Gizi Kurang
Gizi Baik
Gizi Lebih
Sangat Pendek
Pendek
Normal
Tinggi

Ambang Batas (Z-Score)


< -3 SD
-3 SD sampai dengan -2 SD
-2 SD sampai dengan 2 SD
>2 SD
< -3 SD
-3 SD sampai dengan -2 SD
-2 SD sampai dengan 2 SD
>2 SD

Sangat Kurus
Kurus
Normal
Gemuk

< -3 SD
-3 SD sampai dengan -2 SD
-2 SD sampai dengan 2 SD
>2 SD

Sangat Kurus
Kurus
Normal
Gemuk
Sangat Kurus
Kurus

< -3 SD
-3 SD sampai dengan -2 SD
-2 SD sampai dengan 2 SD
>2 SD
< -3 SD
-3 SD sampai dengan <-2

(TB/U) Anak umur 0-60


Bulan
Berat Badan menurut
Panjang Badan (BB/PB)
atau Berat Badan menurut
Tinggi Badan (BB/TB)
Anak umur 0-60 Bulan
Indeks Massa Tubuh
menurut Umur (IMT/U)
Anak Umur 0-60 Bulan
Indeks Massa Tubuh
menurut Umur (IMT/U)

SD
Normal
-2 SD sampai dengan 1 SD
Gemuk
>1 SD sampai dengan 2 SD
Obesitas
>2 SD
Penentuan KEP dilakukan dengan menimbang BB anak dibandingkan dengan umur

Anak Umur 5-18 Tahun

dan menggunakan KMS dan Tabel BB/U Baku Median WHO-NCHS


1. KEP ringan bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak pada pita warna
kuning
2. KEP sedang bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak di Bawah Garis
Merah (BGM).

3. KEP berat/gizi buruk bila hasil penimbangan BB/U <60% baku median WHO-NCHS.
Pada KMS tidak ada garis pemisah KEP berat/Gizi buruk dan KEP sedang, sehingga
untuk menentukan KEP berat/gizi buruk digunakan Tabel BB/U Baku Median WHONCHS.2
Bila dilihat berdasarkan gejala klinisnya gizi buruk dapat dibagi menjadi 3 yaitu
sebagai berikut:
1. Marasmus
Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering
ditemukan pada balita. Hal ini merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi
buruk. Gejala marasmus antara lain anak tampak kurus, rambut tipis dan jarang,kulit
keriput yang disebabkan karena lemak di bawah kulit berkurang, muka seperti orang
tua (berkerut), balita cengeng dan rewel meskipun setelah makan, bokong baggy pant,
dan iga gambang.
2. Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan
oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang adekuat.
Hal ini seperti marasmus, kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari tingkat
keparahan gizi buruk. Tanda khas kwashiorkor antara lain pertumbuhan terganggu,
perubahan mental,pada sebagian besar penderita ditemukan oedema baik ringan
maupun berat, gejala gastrointestinal,rambut kepala mudah dicabut,kulit penderita
biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan
lebar,sering ditemukan hiperpigmentasi dan persikan kulit,pembesaran hati,anemia
ringan,pada biopsi hati ditemukan perlemakan.
3. Marasmiks-Kwashiorkor
Marasmic-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran dari beberapa
gejala klinis antara kwashiorkor dan marasmus dengan Berat Badan (BB) menurut
umur (U) < 60% baku median WHO-NCHS yang disertai oedema yang tidak
mencolok. Bentuk kelainan digolongkan menjadi 4 macam yaitu :
a. Undernutrition, yaitu kekurangan komsumsi pangan secara relatif dan absolute
dalam bentuk tertentu.
b. Spesifik depesiensi yaitu kekurangan zat gizi tertentu.
c. Overnutrition yaitu kelebihan konsumsi zat gizi dalam priode tertentu.

d. Imbalance, ketidak seimbangan karena disporsi zat gizi tertentu (Supriasa dkk,
2002)
2.1.6. Kebutuhan zat gizi balita14,15
Bila ditinjau dari segi umur, maka anak balita yang sedang tumbuh kembang
adalah golongan yang awan terhadap kekurangan energi dan protein, kerawanan pada
anak - anak disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut, (Kardjati, dkk, 1985):

a. Kemampuan saluran pencernaan anak yang tidak sesuai dengan jumlah


volume makanan yang mempunyai kandungan gizi yang dibutuhkan anak.
b. Kebutuhan gizi anak per satuan berat badan lebih besar dibandingkan
dengan orang dewasa, karena disamping untuk pemeliharaan juga diperlukan
untuk pertumbuhan.

10

c. Segera anak dapat bergerak sendiri, tanpa bantuan orang lain, dia akan
mengikuti pergerakan disekitarnya sehingga memperbesar kemungkinan
terjadinya penularan penyakit.
d. Meskipun mempunyai nilai tertentu dalam keluarga, akan tetapi dalam hal
penyajian makanan, anggota keluarga yang mempunyai nilai produktif akan
mendapatkan pilihan yang terbaik, baru selebihnya yang diberikan pada
anggota keluarga yang lain. Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur
12 - 59 bulan). Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan
terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak
halus) serta fungsi ekskresi.
Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan
perkembangan sel-sel otak masih berlangsung dan terjadi pertumbuhan serabut serabut syaraf dan cabang - cabangnya, sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak
yang kompleks. Jumlah dan pengaturan hubungan-hubungan antar sel syaraf ini
sangat mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan,
mengenal huruf, sehingga bersosialisasi.
Pada masa balita, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreatifitas,
kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan
landasan

perkembangan

berikutnya.

Perkembangan

moral

serta

dasar-dasar

kepribadian anak juga dibentuk pada masa ini, sehingga setiap kelainan/
penyimpangan sekecil apapun apabila tidak dideteksi apalagi tidak ditangani dengan
baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari, (Depkes RI,
2006).
Anak kelompok balita di Indonesia menunjukkan prevalensi paling tinggi
untuk penyakit kurang kalori protein dan defesiensi vitamin A serta anemia
defesiensin Fe. Kelompok umur sulit dijangkau oleh berbagai upaya kegiatan
pebaikan gizi dan kesehatan lainnya, karena tidak dapat datang sendiri ke tempat
berkumpul yang telah ditentukan tanpa diantar, padahal yang mengantar sedang
semua, (Seadiaoetama, 2000). Adapun kebutuhan nutrisi pada anak balita sebagai
berikut :
1. Asupan Kalori, Anak-anak usia balita membutuhkan kalori yang cukup
banyak disebabkan bergeraknya cukup aktif pula. Mereka membutuhkan
setidaknya 1500 kalori setiap harinya. Dan balita bisa mendapatkan kalori
11

yang dibutuhkan pada makanan-makanan yang mengandung protein,


lemak dan gula.
2. Pasokan Lemak
Roti, santan, mentega merupakan makanan yang mengandung lemak
dan baik diberikan pada anak balita sebab lemak sendiri mampu membentuk
Selubung Mielin yang terdapat pada saraf otak.
3. Kebutuhan Protein
Asupan gizi yang baik bagi balita juga terdapat pada makanan yang
mengandung protein. Karena protein sendiri bermanfaat sebagai prekursor
untuk neurotransmitter demi perkembangan otak yang baik nantinya. Protein
bisa didapatkan pada makanan-makanan seperti ikan, susu, telur 2 butir,
daging 2 ons dan sebagainya.
4. Zat besi
Usia balita merupakan usia yang cenderung kekurangan zat besi
sehingga balita harus diberikan asupan makanan yang mengandung zat besi.
Makanan atau minuman yang mengandung vitamin C seperti jeruk merupakan
salah satu makanan yang mengandung gizi yang bermanfaat untuk penyerapan
zat besi.
5. Karbohidrat
Dalam kehidupan sehari-hari manusia membutuhkan karbohidrat
sebagai energi utama serta bermanfaat untuk perkembangan otak saat belajar
dikarnakan karbohidrat di otak berupa Sialic Acid. Begitu juga dengan balita,
mereka juga membutuhkan gizi tersebut yang bisa diperoleh pada makanan
seperti roti, nasi kentang dan lainnya.
6. Kalsium
Balita juga membutuhkan asupan kalsium secara teratur sebagai
pertumbuhan tulang dan gigi balita. Salah satu pemberi kalsium terbaik adalah
susu yang diminum secara teratur.
7. Vitamin
Vitamin merupakan nutrisi yang juga dibutuhkan, tidak hanya balita,
namun untuk semua umur membutuhkannya. Banyak manfaat yang bisa
didapat dari vitamin seperti misalnya vitamin A sebagai perkembangan kulit
sehat, vitamin C yang berfungsi sebagai penyerapan zat besi. Vitamin E yang
berperan untuk mencegah kerusakan struktur sel membrane dan antioksidan.
12

2.1.7. Patofisiologi
KEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi, dalam
makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan
biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Disebut
malnutrisi primer bila kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi, yang pada
umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi, pendidikan serta rendahnya
pengetahuan di bidang gizi. Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti
diatas disebabkan karena adanya penyakit utama, seperti kelainan bawaan, infeksi
kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan
nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan
nutrisi. Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai
cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai
dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein
dengan melalui proses katabolik. Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka
kebutuhan akan protein akan meningkat, sehingga dapat menyebabkan defisiensi
protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD (2SD--3SD),

maka

terjadilah

kwashiorkor

(malnutrisi

akut/decompensated

malnutrition). Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. Bila
stres katabolik ini terjadi pada saat status gizi dibawah -3 SD, maka akan terjadilah
marasmik-kwashiorkor. Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai
dibawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik (malnutrisikronik/compensated
malnutrition). Dengan demikian pada KEP dapat terjadi : gangguan pertumbuhan,
atrofi otot, penurunan kadar albumin serum, penurunan hemoglobin, penurunan
sistem kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesa enzim.
2.1.8. Patofisiologi
KEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi, dalam
makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan
biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Disebut
malnutrisi primer bila kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi, yang pada
umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi, pendidikan serta rendahnya
pengetahuan dibidang gizi. Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti
diatas disebabkan karena adanya penyakit utama, seperti kelainan bawaan, infeksi
kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan
nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan
13

nutrisi. Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai


cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai
dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein
dengan melalui proses katabolik. Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka
kebutuhan akan protein akan meningkat, sehingga dapat menyebabkan defisiensi
protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD (2SD--3SD),

maka

terjadilah

kwashiorkor

(malnutrisi

akut/decompensated

malnutrition). Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. Bila
stres katabolik ini terjadi pada saat status gizi dibawah -3 SD, maka akan terjadilah
marasmik-kwashiorkor. Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai
dibawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik (malnutrisikronik/compensated
malnutrition). Dengan demikian pada KEP dapat terjadi : gangguan pertumbuhan,
atrofi otot, penurunan kadar albumin serum, penurunan hemoglobin, penurunan
sistem kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesa enzim.
2.1.9. Diagnosis
Evaluasi status nutrisi yang tepat sukar. Gangguan berat dengan mudah
tampak, tetapi gangguan ringan dapat terlewati, walaupun sesudah pemeriksaan fisik
dan laboratorium yang teliti. Diagnosis malnutrisi berdasar pada riwayat diet yang
tepat; pada evaluasi adanya deviasi berat badan, tinggi badan, lingkaran kepala ratarata dan kecepatan pertumbuhan; pada pengukuran komparatif lingkaran dan
ketebalan kulit di tengah-tengah lengan atas; dan pada uji kimia dan lain-lain.
Penurunan ketebalan lipatan kulit memberi kesan malnutrisi protein kalori; ketebalan
yang berlebihan menunnjukkan kegemukan. Massa otot dihitung dengan mengurangi
lingkaran lengan atas dengan ukuran lipatan kulit. Untuk lingkaran otot lengan atas
tengah anak dan orang dewasa (cm) = lingkaran lengan atas tengah (cm) (ketebalan
lipatan kulit [cm] x 3,14). Berat badan tanpa lemak dapat diperkirakan dari ekskresi
kreatinin 24 jam. Defisiensi beberapa nutrien dapat ditunjukkan dengan kadar nutrien
atau produk-produknya secara klinik, atau dengan memberi penderita sejumlah besar
nutrien yang sesuai dan memperhatikan angka yang diekskresikan. Cadangan protein
dinilai dari albumin serum dan kecepatan penggantian protein. Kadar penggantian
protein yang cepat, transthiretin dengan waktu paruh 12 jam, prealbumin dengan
waktu paruh 1,9 hari dan transferin dengan waktu paruh 8 hari, menurun karena
sintesis protein viseral tidak cukup atau karena pengosongan simpanan protein. Kadar
asam amino esensial serum mungkin lebih rendah daripada kadar serum asam amino
14

nonesensial. Ekskresi hidroksiprolin menurun dan 3-metilhistidin naik, dan rambut


dengan mudah dicabut pada anak malnutrisi berat.
Gangguan nutrisi yang paling akut adalah gangguan yang melibatkan air dan
elektrolit, terutama ion natrium, kalium, klorida dan hidrogen. Malnutrisi kronik
biasanya melibatkan defisit lebih daripada satu nutrien. Insufisiensi imunologis sering
ada pada malnutrisi dan ditunjukkan oleh angka limfosit total yang kurang dari
1.500/mm3 dan anergi terhadap uji antigen kulit, seperti streptokinase-streptodornase,
Candida, parotitis, atau tuberkulin pada orang yang terpajan.
2.1.10.

Mekanisme Pelayanan Gizi15

Mekanisme pelayanan gizi terhadap balita yang mengalami Kekurangan Energi


Protein Berat atau gizi buruk terbagi atas beberapa tingkat seperti berikut.
1. Tingkat Rumah Tangga
Pada tingkat rumah tangga, mekanisme pelayanan adalah sebagai berikut.
a. Ibu membawa anak untuk ditimbang di posyandu secara teratur setiap bulan
untuk mengetahui pertumbuhan berat badannya
b. Ibu memberikan hanya ASI kepada bayi usia 0-4 bulan
c. Ibu tetap memberikan ASI kepada anak sampai usia 2 tahun
d. Ibu memberikan MP-ASI sesuai usia dan kondisi kesehatan anak sesuai
anjuran pemberian makanan (lampiran 5)
e. Ibu memberikan makanan beraneka ragam bagi anggauta keluarga lainnya
f. Ibu segera memberitahukan pada petugas kesehatan/kader bila balita
mengalami sakit atau gangguan pertumbuhan
g. Ibu menerapkan nasehat yang dianjurkan petugas
2. Tingkat Posyandu
Pada tingkat posyandu, mekanisme pelayanan adalah sebagai berikut.
a. Kader melakukan penimbangan balita setiap bulan di posyandu serta mencatat
hasil penimbangan pada KMS
b. Kader memberikan nasehat pada orang tua balita untuk memberikan hanya ASI
kepada bayi usia 0-4 bulan dan tetap memberikan ASI sampai usia 2 tahun
c. Kader memberikan penyuluhan pemberian MP-ASI sesuai dengan usia anak
dan kondisi anak sesuai kartu nasehat ibu
d. Kader menganjurkan makanan beraneka ragam untuk anggauta keluarga
lainnya
e. Bagi balita dengan berat badan tidak naik (T) diberikan penyuluhan gizi
seimbang dan PMT Penyuluhan
f. Kader memberikan PMT-Pemulihan bagi balita dengan berat badan tidak naik 3
kali (3T) dan berat badan di bawah garis merah (BGM)

15

g. Kader merujuk balita ke puskesmas bila ditemukan gizi buruk dan penyakit
penyerta lain
h. Kader melakukan kunjungan rumah untuk memantau perkembangan kesehatan
balita
3. Pusat Pemulihan Gizi (PPG)
PPG merupakan suatu tempat pelayanan gizi kepada masyarakat yang ada di desa
dan dapat dikembangkan dari posyandu. Pelayanan gizi di PPG difokuskan pada
pemberian makanan tambahan pemulihan bagi balita KEP. Penanganan PPG dilakukan
oleh kelompok orang tua balita (5-9 balita) yang dibantu oleh kader untuk
menyelenggarakan PMT Pemulihan anak balita. Layanan yang dapat diberikan adalah
sebagai berikut.
a. Balita KEP berat/gizi buruk yang tidak menderita penyakit penyerta lain dapat
dilayani di PPG
b. Kader memberikan penyuluhan gizi /kesehatan serta melakukan demonstrasi
cara menyiapkan makanan untuk anak KEP berat/gizi buruk
c. Kader menimbang berat badan anak setiap 2 minggu sekali untuk memantau
perubahan berat badan dan mencatat keadaan kesehatannya

Bila anak berat badan nya tidak naik atau tetap maka berikan penyuluhan
gizi seimbang untuk dilaksanakan di rumah

Bila anak sakit dianjurkan untuk memeriksakan anaknya ke puskesmas

d. Apabila berat badan anak berada di pita warna kuning atau di bawah garis merah
(BGM) pada KMS, kader memberikan PMT Pemulihan

Makanan tambahan diberikan dalam bentuk makanan jadi dan diberikan


setiap hari.

Bila makanan tidak memungkinkan untuk dimakan bersama, makanan


tersebut diberikan satu hari dalam bentuk matang selebihnya diberikan
dalam bentuk bahan makanan mentah

Apabila berat badan anak berada di pita warna kuning pada KMS
teruskan pemberian PMT pemulihan sampai 90 hari

Apabila setelah 90 hari, berat badan anak belum berada di pita warna
hijau pada KMS kader merujuk anak ke puskesmas untuk mencari
kemungkinan penyebab lain

16

e. Apabila berat badan anak berada di pita warna hijau pada KMS, kader
menganjurkan pada ibu untuk mengikuti pelayanan di posyandu setiap bulan
dan tetap melaksanakan anjuran gizi dan kesehatan yang telah diberikan
f. Ibu memperoleh penyuluhan gizi/kesehatan serta demontrasi cara menyiapkan
makanan untuk anak KEP
g. Kader menganjurkan pada ibu untuk tetap melaksanakan nasehat yang diberikan
tentang gizi dan kesehatan
h. Kader melakukan kunjungan rumah untuk memantau perkembangan kesehatan
dan gizi anak
4. Puskesmas
Mekanisme pelayanan di tingkat puskesmas adalah sebagai berikut.
a. Puskesmas menerima rujukan KEP Berat/Gizi buruk dari posyandu dalam
wilayah kerjanya serta pasien pulang dari rawat inap di rumah sakit
b. Menyeleksi kasus dengan cara menimbang ulang dan dicek dengan Tabel BB/U
Baku Median WHO-NCHS

Apabila ternyata berat badan anak berada di bawah garis merah (BGM)
dianjurkan kembali ke PPG/posyandu untuk mendapatkan PMT pemulihan

Apabila anak dengan KEP berat/gizi buruk (BB < 60% Tabel BB/U Baku
Median WHO-NCHS) tanpa disertai komplikasi, anak dapat dirawat jalan
di puskesmas sampai berat badan nya mulai naik 0,5 Kg selama 2 minggu
dan mendapat PMT-P dari PPG

Apabila setelah 2 minggu berat badannya tidak naik, lakukan pemeriksaan


untuk evaluasi mengenai asupan makanan dan kemungkinan penyakit
penyerta, rujuk ke rumah sakit untuk mencari penyebab lain

c. Anak KEP berat/Gizi Buruk dengan komplikasi serta ada tanda-tanda


kegawatdaruratan segera dirujuk ke rumah sakit umum
d. Tindakan yang dapat dilakukan di puskesmas pada anak KEP berat/ gizi buruk
tanpa komplikasi

Memberikan penyuluhan gizi dan konseling diet KEP berat/Gizi buruk


(dilakukan di pojok gizi)

Melakukan pemeriksaan fisik dan pengobatan minimal 1 kali per minggu

Melakukan evaluasi pertumbuhan berat badan balita gizi buruk setiap dua
minggu sekali
17

Melakukan peragaan cara menyiapkan makanan untuk KEP berat/Gizi


buruk

Melakukan pencatatan dan pelaporan tentang perkembangan berat badan


dan kemajuan asupan makanan

Untuk keperluan data pemantauan gizi buruk di lapangan, posyandu, dan


puskesmas diperlukan laporan segera jumlah balita KEP berat/gizi buruk
ke Dinas kesehatan kabupaten/kota dalam 24 jam dengan menggunakan
formulir W1 dan laporan mingguan dengan menggunakan formulir W2

e. Apabila berat badan anak mulai naik, anak dapat dipulangkan dan dirujuk ke
posyandu/PPG serta dianjurkan untuk pemantauan kesehatan setiap bulan sekali
f. Petugas kesehatan memberikan bimbingan terhadap kader untuk melakukan
pemantauan keadaan balita pada saat kunjungan rumah
2.1.11.

Penatalaksanaan pelayanan kurang gizi


Pelayanan rutin yang dilakukan di puskesmas berupa 10 langkah penting

yaitu:
1. Atasi/cegah hipoglikemia
2. Atasi/cegah hipotermia
3. Atasi/cegah dehidrasi
4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
5. Obati/cegah infeksi
6. Mulai pemberian makanan
7. Fasilitasi tumbuh-kejar (catch up growth)
8. Koreksi defisiensi nutrien mikro
9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental
10. Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh.
Dalam proses pelayanan KEP berat/Gizi buruk terdapat 3 fase yaitu fase stabilisasi, fase
transisi, dan fase rehabilitasi. Petugas kesehatan harus terampil memilih langkah mana yang
sesuai untuk setiap fase.

18

Gambar 2.2 Sepuluh langkah utama tatalaksana kekurangan gizi


Penatalaksanaan Kekurangan Energi Protein (KEP) Berat atau Gizi Buruk dikenal
dengan sepuluh langkah utama yaitu sebagai berikut.

Pengobatan atau pencegahan hipoglikemia (kadar gula dalam darah rendah).


Hipoglikemia merupakan salah satu penyebab kematian pada anak
dengan KEP berat/Gizi buruk. Pada hipoglikemia, anak terlihat lemah, suhu
tubuh rendah. Jika anak sadar dan dapat menerima makanan usahakan
memberikan makanan saring/cair 2-3 jam sekali. Jika anak tidak dapat makan
(tetapi masih dapat minum) berikan air gula dengan sendok. Jika anak
mengalami gangguan kesadaran, berikan infus cairan glukosa dan segera rujuk
ke RSU kabupaten.

19

Pengobatan dan pencegahan hipotermia (suhu tubuh rendah)


Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 36 0 C.
Pada keadaan ini anak harus dihangatkan. Cara yang dapat dilakukan adalah
ibu atau orang dewasa lain mendekap anak di dadanya lalu ditutupi selimut
(Metode Kanguru). Perlu dijaga agar anak tetap dapat bernafas.
Cara lain adalah dengan membungkus anak dengan selimut tebal, dan
meletakkan lampu didekatnya. Lampu tersebut tidak boleh terlalu dekat
apalagi sampai menyentuh anak. Selama masa penghangatan ini dilakukan
pengukuran suhu anak pada dubur (bukan ketiak) setiap setengah jam sekali.
Jika suhu anak sudah normal dan stabil, tetap dibungkus dengan selimut atau
pakaian rangkap agar anak tidak jatuh kembali pada keadaan hipothermia.

Pengobatan dan Pencegahan kekurangan cairan


Tanda klinis yang sering dijumpai pada anak penderita KEP berat/Gizi
buruk dengan dehidrasi adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Ada riwayat diare sebelumnya


Anak sangat kehausan
Mata cekung
Nadi lemah
Tangan dan kaki teraba dingin
Anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama.

Tindakan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.


a.

Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap setengah
jam sekali tanpa berhenti. Jika anak masih dapat minum, lakukan
tindakan rehidrasi oral dengan memberi minum anak 50 ml (3 sendok
makan) setiap 30 menit dengan sendok. Cairan rehidrasi oral khusus
untuk KEP disebut ReSoMal.

b.

Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan KEP berat/Gizi buruk
dapat menggunakan oralit yang diencerkan 2 kali. Jika anak tidak
dapat minum, lakukankan rehidrasi intravena (infus) cairan Ringer
Laktat/Glukosa 5 % dan NaCL dengan perbandingan 1:1.

Lakukan pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit


Pada semua KEP berat/Gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan

elektrolit diantaranya sebagai berikut.


a.

Kelebihan natrium (Na) tubuh, walaupun kadar Na rendah .


20

b.

Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg)


Ketidakseimbangan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan, untuk

pemulihan keseimbangan elektrolit diperlukan waktu paling sedikit 2 minggu.


Tindakan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
a.

Makanan tanpa diberi garam/rendah garam

b.

Untuk rehidrasi, berikan cairan oralit 1 liter yang diencerkan 2 X


(dengan penambahan 1 liter air) ditambah 4 gr KCL dan 50 gr gula
atau bila balita KEP bisa makan berikan bahan makanan yang banyak
mengandung mineral ( Zn, Cuprum, Mangan, Magnesium, Kalium)
dalam bentuk makanan lumat/lunak

Lakukan Pengobatan dan pencegahan infeksi


Pada KEP berat/Gizi buruk, tanda yang umumnya menunjukkan adanya

infeksi seperti demam seringkali tidak tampak, oleh karena itu pada semua KEP
berat/Gizi buruk secara rutin diberikan antibiotik spektrum luas. Hal-hal yang
perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
a. Mengingat pasien KEP berat/Gizi buruk umumnya juga menderita
penyakit infeksi, maka lakukan pengobatan untuk mencegah agar infeksi
tidak menjadi lebih parah. Bila tidak ada perbaikan atau terjadi
komplikasi rujuk ke Rumah Sakit Umum.
b. Diare biasanya menyertai KEP berat/Gizi buruk, akan tetapi akan
berkurang dengan sendirinya pada pemberian makanan secara hati-hati.
Berikan metronidasol 7,5 mg/Kgbb setiap 8 jam selama 7 hari. Bila diare
berlanjut segera rujuk ke rumah sakit

Pemberian makanan balita KEP berat/Gizi buruk


Pemberian diet KEP berat/Gizi buruk dibagi dalam 3 fase, yaitu Fase
Stabilisasi, Fase Transisi dan Fase Rehabilitasi.

a. Fase Stabilisasi ( 1-2 hari)


Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati-hati,
karena keadaan faali anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang.
Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang
sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi
metabolisma basal saja. Formula khusus seperti Formula WHO 75/
modifikasi/ Modisco yang dianjurkan dan jadwal pemberian makanan harus
21

disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai prinsip tersebut diatas dengan
persyaratan diet sebagai berikut.

Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa

Energi : 100 kkal/kg/hari

Protein : 1-1.5 gr/kg bb/hari

Cairan : 130 ml/kg bb/hari (jika ada edema berat 100 ml/Kg bb/hari)

Bila anak mendapat ASI teruskan , dianjurkan memberi Formula WHO


75/pengganti/Modisco dengan menggunakan cangkir/gelas, bila anak
terlalu lemah berikan dengan sendok/pipet

Pemberian Formula WHO 75/pengganti/Modisco atau pengganti dan


jadwal pemberian makanan harus disusun sesuai dengan kebutuhan anak

Selain itu, perlu diperhatikan bahwa pada anak dengan selera makan baik dan
tidak edema, maka tahapan pemberian formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari
(setiap

jam).

Bila

pasien

tidak

dapat

menghabiskan

Formula

WHO

75/pengganti/Modisco dalam sehari, maka berikan sisa formula tersebut melalui


pipa nasogastrik ( dibutuhkan ketrampilan petugas ). Pada fase ini jangan beri
makanan lebih dari 100 Kkal/Kg bb/hari.
Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadi setiap jam
dan pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4 jam. Lanjutkan pemberian
makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1).
Kemudian perlu dilakukan pemantauan dan pencatatan terhadap jumlah yang
diberikan dan sisanya, banyaknya muntah, frekwensi buang air besar dan konsistensi
tinja, berat badan (harian), selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada
penderita dengan edema, mula-mula berat badannya akan berkurang kemudian berat
badan naik.
b.

Fase Transisi (minggu ke 2)


Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahan-lahan untuk

menghindari risiko gagal jantung, yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi
makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.
Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0.9-1.0 g per 100 ml)
dengan formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal dan protein 2.9 gram per 100 ml)
dalam jangka waktu 48 jam. Modifikasi bubur/makanan keluarga dapat digunakan
asalkan dengan kandungan energi dan protein yang sama.
22

Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit formula


tersisa, biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgbb/kali pemberian (200
ml/kgbb/hari).
Pada fase transisi perlu dilakukan pemantauan frekwensi nafas dan frekwensi
denyut nadi. Bila terjadi peningkatan detak nafas > 5 kali/menit dan denyut nadi > 25
kali /menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan, kurangi volume pemberian
formula. Setelah normal kembali, ulangi menaikkan volume seperti di atas. Selain itu
juga dilakukan penimbangan anak setiap pagi sebelum diberi makan.
Setelah

fase

transisi

dilampaui,

anak

diberi

Formula

WHO

100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan sering. Energi berkisar


150-220 Kkal/kg bb/hari, Protein 4-6 gram/kg bb/hari. Bila anak masih mendapat
ASI, teruskan, tetapi juga beri formula WHO 100/Pengganti/Modisco 1, karena energi
dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar.
b.

Fase Rehabilitasi (minggu ke 3-7)


Pada fase rehabilitasi, anak diberikan formula WHO-F 135/pengganti/Modisco

1 dengan jumlah tidak terbatas dan sering. Kemudian diberikan energy sebanyak
150-220 kkal/kgbb/hari dan protein 4-6 g/kgbb/hari. Bila anak masih mendapat ASI,
teruskan ASI, ditambah dengan makanan Formula (lampiran 2) karena energi dan
protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar. Setelah itu, secara perlahan
anak diperkenalkan dengan makanan keluarga.
Selama fase rehabilitasi, pemantauan perlu dilakukan. Kemajuan dinilai
berdasarkan kecepatan pertambahan badan. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi
makan.Setiap m inggu kenaikan bb dihitung. Baik bila kenaikan bb 50 g/Kg
bb/minggu, kurang bila kenaikan bb < 50 g/Kg bb/minggu, perlu re-evaluasi
menyeluruh.

TAHAPAN PEMBERIAN DIET


FASE STABILISASI
:
FORMULA WHO 75 ATAU PENGGANTI
FASE TRANSISI
:
FORMULA WHO 75 FORMULA WHO
100 ATAU PENGGANTI

23

FASE REHABILITASI

FORMULA WHO 135 (ATAU PENGGANTI)

MAKANAN KELUARGA

Lakukan penanggulangan kekurangan zat gizi mikro


Semua pasien KEP berat/Gizi buruk, mengalami kurang vitamin dan mineral.

Walaupun anemia biasa terjadi, jangan tergesa-gesa memberikan preparat besi (Fe).
Tunggu sampai anak mau makan dan berat badannya mulai naik (biasanya pada
minggu ke 2). Pemberian besi pada masa stabilisasi dapat memperburuk keadaan
infeksinya.
Pada anak, berikan setiap hari tambahan multivitamin lain. Bila berat badan
mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi folat atau sirup besi dengan dosis
sebagai berikut :
Tabel Dosis Pemberian Tablet Besi Folat dan Sirup Besi
UMUR

TABLET BESI/FOLAT

DAN

Sulfas ferosus 200 mg + Sulfas ferosus 150 ml

BERAT BADAN

0,25 mg Asam Folat

6 sampai 12 bulan

Berikan 3 kali sehari


tablet

(7 - < 10 Kg)
12 bulan sampai

5 tablet

SIRUP BESI
Berikan 3 kali sehari
2,5 ml (1/2 sendok teh)
5 ml (1 sendok teh)

tahun

Bila anak diduga menderita kecacingan berikan Pirantel Pamoat dengan dosis
tunggal sebagai berikut.
UMUR ATAU BERAT BADAN

PIRANTEL

PAMOAT

(125mg/tablet)
4 bulan sampai 9 bulan (6-<8 Kg)

(DOSIS TUNGGAL)
tablet
24

9 bulan sampai 1 tahun (8-<10 Kg)


1 tahun sampai 3 tahun (10-<14 Kg)
3 Tahun sampai 5 tahun (14-<19 Kg)

tablet
1 tablet
1

tablet

Selain itu Vitamin A oral berikan 1 kali dengan dosis sebagai berikut.
Umur
6 bln sampai 12 bln
12 bln sampai 5 Thn

Kapsul Vitamin A
200.000 IU
1 kapsul

Kapsul Vitamin A
100.000 IU
1 kapsul
-

Berikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional


Pada KEP berat/gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan

perilaku. Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah berikut ini.

Kasih sayang

Ciptakan lingkungan yang menyenangkan

Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 30 menit/hari

Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh

Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dsb)

Persiapan untuk tindak lanjut di rumah


Bila berat badan anak sudah berada di garis warna kuning anak dapat dirawat

di rumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan di desa. Pola
pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan dirumah setelah
pasien dipulangkan dan ikuti pemberian makanan, dan aktifitas bermain.
Selain itu nasehatkan kepada orang tua untuk melakukan hal-hal berikut ini.

Melakukan kunjungan ulang setiap minggu, periksa secara teratur di Puskesmas


Pelayanan di PPG (lihat bagian pelayanan PPG) untuk memperoleh PMT-Pemulihan
selama 90 hari. Ikuti nasehat pemberian makanan (lihat lampiran 5) dan berat badan

anak selalu ditimbang setiap bulan secara teratur di posyandu/puskesmas.


pemberian makan yang sering dengan kandungan energi dan nutrien yang padat
penerapan terapi bermain dengan kelompok bermain atau Posyandu
Pemberian suntikan imunisasi sesuai jadwal
Anjurkan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI atau 100.000 SI )
sesuai umur anak setiap Bulan Februari dan Agustus.
2.1.12.
Tatalaksana Diet pada Kurang Gizi
Tatalaksana diet pada KEP Berat/gizi buruk dibedakan berdasarkan tingkatan
sebagai berikut.

a. Tingkat Rumah Tangga


25

Di tingkat rumah tangga, tatalaksana diet pada KEP Berat/Gizi Buruk adalah
sebagai berikut.

Ibu memberikan aneka ragam makanan dalam porsi kecil dan sering kepada anak
sesuai dengan kebutuhan

Teruskan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun

b. Tingkat Posyandu/PPG
Di tingkat rumah tangga, tatalaksana diet pada KEP Berat/Gizi Buruk adalah
sebagai berikut.

Anjurkan ibu memberikan makanan kepada anak di rumah sesuai usia anak, jenis
makanan yang diberikan mengikuti anjuran makanan

Selain butir 1, maka dalam rangka pemulihan kesehatan anak, perlu mendapat
makanan tambahan pemulihan (PMT-P) dengan komposisi gizi mencukupi
minimal 1/3 dari kebutuhan 1 hari, yaitu :

Energi 350 400 kalori


Protein 10 - 15 g

Bentuk makanan PMT-P

Kudapan (makanan kecil) yang dibuat dari bahan makanan


setempat/lokal.

bahan makanan mentah berupa tepung beras,atau tepung lainnya,


tepung susu, gula minyak, kacang-kacangan, sayuran, telur dan
lauk pauk lainnya

Contoh paket bahan makanan tambahan pemulihan (PMT-P) yang


dibawa pulang

Contoh bahan makanan yang dibawa pulang :


Alternative
I

Kebutuhan Paket Bahan Makanan/Anak/Hari


Beras 60 g
Telur 1 butir atau kacang- gula 15 g

II
III

kacangan 25 g
Beras 70 g
Ikan 30 g
Ubi/singkong 150 Kacang-kacangan 40 g

gula 20 g

g
Tepung ubi 40 g

gula 20 g

Kacang-kacangan 40 g

1. Lama PMT-P

26

Pemberian makanan tambahan pemulihan (PMT-P) diberikan setiap hari kepada


anak selama 3 bulan (90 hari).
2. Cara penyelenggaraan
1) Makanan kudapan diberikan setiap hari di Pusat Pemulihan Gizi (PPG) atau
2) Seminggu sekali kader melakukan demonstrasi pembuatan makanan
pendamping ASI/makanan anak, dan membagikan makanan tersebut kepada
anak balita KEP, selanjutnya kader membagikan paket bahan makanan mentah
untuk kebutuhan 6 hari.
c. Tingkat Puskesmas
Tata laksana diet pada balita KEP berat/gizi buruk ditujukan untuk
memberikan makanan tinggi energi, tinggi protein, dan cukup vitamin mineral secara
bertahap, guna mencapai status gizi optimal. Ada 4 (empat) kegiatan penting dalam
tata laksana diet, yaitu : pemberian diet, pemantauan, dan evaluasi, penyuluhan gizi,
serta tindak lanjut.
I.

Pemberian diet balita KEP berat/gizi buruk harus memenuhi syarat sebagai
berikut :
a. Melalui 3 fase yaitu : fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi
b. Kebutuhan energi mulai 100-200 kal/Kgbb/hari
c. Kebutuhan protein mulai 1-6 g/Kgbb/hari
d. Pemberian suplementasi vitamin dan mineral khusus, bila tidak tersedia
diberikan bahan makanan sumber mineral tertentu (lihat hal 12)
e. Jumlah cairan 130-200 ml/kgbb/hari, bila ada edema dikurangi menjadi 100
ml/Kg bb/hari
f. Jumlah pemberian peroral atau lewat pipa nasogastrik
g. Porsi makanan kecil dan frekwensi makan sering
h. Makanan fase stabilisasi harus hipoosmolar, rendah laktosa, dan rendah serat
i. Terus memberikan ASI
j. Makanan padat diberikan pada fase rehabilitasi dan berdasarkan berat badan,
yaitu : bb < 7 kg diberikan kembali makanan bayi dan bb > 7 Kg dapat
langsung diberikan makanan anak secara bertahap

II.

Evaluasi Dan Pemantauan Pemberian Diet


a. Timbang berat badan sekali seminggu, bila tidak naik kaji penyebabnya
(asupan gizi tidak adequat, defisiensi zat gizi, infeksi, masalah psikologis).
27

b. Bila asupan zat gizi kurang, modifikasi diet sesuai selera.


c.

Bila ada gangguan saluran cerna (diare, kembung,muntah) menunjukkan


bahwa formula tidak sesuai dengan kondisi anak, maka gunakan formula
rendah atau bebas lactosa dan hipoosmolar, misal: susu rendah laktosa, formula
tempe yang ditambah tepung-tepungan.

d. Kejadian hipoglikemia : beri minum air gula atau makan setiap 2 jam
III.

Penyuluhan Gizi Di Puskesmas


a. Menggunakan leaflet khusus yang berisi jumlah, jenis, dan frekwensi
pemberian bahan makanan
b. Selalu memberikan contoh menu (lampiran 6)
c. Mempromosikan ASI bila anak kurang dari 2 tahun
d. Memperhatikan riwayat gizi (lampiran 3 dan 4)
e. Mempertimbangkan sosial ekonomi keluarga
f. Memberikan demonstrasi dan praktek memasak makanan balita untuk ibu

IV.

Tindak Lanjut
a. Merencanakan kunjungan rumah
a.Merencanakan pemberdayaan keluarga

2.2. Cara Penilaian Status Gizi 10,16


2.2.1. Langsung
a.
Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi.
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan
asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan itu terlihat pada pola pertumbuhan
fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh.
b.

Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untk menilai status gizi

masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang


dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan

28

epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau
pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid
clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda
klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan
untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik
yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.
c.

Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji

secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan
tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja, dan juga beberapa jaringan
tubuh seperti hati dan otot.
Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan
terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah. Banyak gejala klinis yang kurang
spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan
kekurangan gizi yang spesifik.
d.

Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi

dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan


struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti
kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindness). Cara yang digunakan
adalah tes adaptasi gelap.
2.2.2. Tidak Langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu survey
komsumsi makanan, statistic vital dan factor ekologi.
1. Survei konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung
dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi
makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat,
keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat
gizi.
2. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data
beberapa statistik kesehatan seperti angaka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan
29

kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran
status gizi masyarakat.
2.2.3.

Jenis Parameter
Jenis-jenis parameter antropometri gizi adalah sebagai berikut.

1) Umur
Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan
umur akan mempengaruhi hasil dan menyebabkan stautus gizi menjadi salah.
Menurut Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur digunakan adalah
2 thn : Tahun Usia Penuh (completed year)
Contoh : 7tahun 2 bulan, dihitung 7 tahun.
0-2 tahun : Bulan Usia Penuh (completed month)
Contoh : 4 bulan 5 hari, di hitung 4 bulan.
2) Berat Badan
a. Merupakan parameter terpenting, namun terdapat hambatan pada keadaan
adanya dehidrasi, asites, edema dan tumor
b. Merupakan parameter terbaik karena mudah terlihat bila ada perubahan.
c. Memberikan gambaran status gizi sekarang.
d. Apabila pengukuran dilakukan secara periodik dapat memberikan gambaran
yang baik tentang pertumbuhan.
e. Berat badan juga digunakan sebagai dasar pengisian KMS (Kartu Menuju
Sehat).
Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang dapat
memenuhi persyaratan dan kemudian dipilih dan di anjurkan untuk digunakan dalam
penimbangan anak balita adalah dacin. Beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam
menimbang berat badan anak adalah sebagai berikut.

Pemeriksaan alat timbang


Dacin yang baik adalah apabila bandul geser berada pada posisi 0,0 kg, jarum
penunjuk berada pada posisi seimbang.
Anak balita yang ditimbang.
Anak balita yang ditimbang sebaiknya memakai pakaian yang seminim dan
seringan mungkin. Sepatu baju dan topi sebaiknya di lepaskan. Apabila tidak

memungkinkan maka hasil di koreksi dengan berat pakaian yang dikenakan.


Keamanan
Perhatikan keamanan penggantungan dacin, lantai dan keadaan disekitarnya.
Pengetahuan petugas

30

Petugas dianjurkan untuk mengetahui berat badan anak secara umum pada umurumur tertentu. Hal ini sangat penting diketahui untuk dapat memperkirakan posisi
bandul geser yang mendekati skala berat pada dacin sesuai dengan umur anak
3)

yang di timbang.
Tinggi Badan
a.

Dapat mengetahui keadaan lalu & dan sekarang, terutama bila umur tidak

diketahui.
b.

Merupakan ukuran kedua yang penting.

2.2.4.

Indeks Antropometri110
Di Indonesia ukuran baku hasil pengukuran dalam negeri belum ada, maka untuk

berat badan dan tinggi badan digunakan baku Harvard yang disesuaikan untuk Indonesia
(100% baku Indonesia = 50 presentile baku Harvard ) dan untuk LILA digunakan baku
Wolansky.

Table 2.3. Penggolongan Keadaan gizi menurut indeks Antropometri.


Status gizi

Ambang batas baku untuk keadan gizi berdasarkan indeks

Gizi baik

BB/ U
>80%

TB/U
>85%

BB/TB
>90%

LLA/U
>85%

LLA/TB
>85%

Gizi kurang

61-80%

71-85%

81-90%

71-85%

76-85%

Gizi buruk

60%

70%

80%

70%

75%

a. Berat Badan Menurut Umur (BB/U)


Parameter gambaran massa tubuh, sensitif terhadap perubahan mendadak sangat
labil.
Indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi saat ini (current nutritional status).
Kelebihan :
1. Mudah, baik untuk akut atau kronis.
2. BB berfluktuasi sehinggga sangat sensitif dalam penilaian.
3. Dapat mendeteksi obesitas/over weight.
31

Kelemahan :
1. Interpretasi bisa keliru bila edema / asites.
2. Perlu data umur yang akurat .
3. Bisa terjadi salah pengukuran karena pakaian atau gerakan saat menimbang.
b. Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Keadaan Normal : TB tumbuh seiring BB.
Kurang sensitif terhadap masalah waktu singkat dan pengaruhnya nampak dalam
waktu lama, sehingga lebih menggambarkan status gizi masa lalu.
Menurut Beaton & Bengoa (1973), TB/U juga erat kaitannya dg sosial-ekonomi.
Kelebihan :
1. Baik untuk status gizi masa lampau.
2. Alat ukur murah & mudah.
Kelemahan :
1. TB tidak cepat naik dan tidak mungkin turun.
2. Pengukuran relatif sulit, perlu 2 orang.
3. Ketepatan umur sulit didapat.
c. Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
BB berhubungan linier dengan TB.
Indikator yang baik untuk nilai status gizi sekarang, independen terhadap umur.
Kelebihan :
1. Tidak perlu umur.
2. Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal & kurus)
Kelemahan :
1. Tak dapat memberi gambaran pendek, tinggi / kelebihan TB terhadap umur.
2. Sulit untuk pengukuran pada balita.
3. Perlu 2 macam alat ukur dan butuh waktu lebih lama.
4. Bisa terjadi salah pembacaan hasil ukur, terutama kelompok non profesional .

32

DAFTAR PUSTAKA
1. Azwar. 2000. Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Jakarta: Dirjen
Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Indonesia.
2. Departemen Kesehatan R.I. 2000. Makanan Pendamping ASI. Jakarta: Departemen
Kesehatan R.I
3. Departemen Kesehatan R.I. 2002. Pemantauan Pertumbuhan Balita. Jakarta:
Departemen Kesehatan republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Kesehatan
Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
4. Departemen Kesehatan R.I. 2008a. Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program
Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Bina
Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
5. Departemen Kesehatan R.I. 2008b. Modul Pelatihan Penilaian Pertumbuhan Anak:
Konseling Pertumbuhan dan Pemberian Makan. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
6. Irawan, R. 2004. Diagnosis Gizi Buruk. Surabaya: RSUD dr. Soetomo.
7. Khomsan, Setiawan, Kusharto, Pranadji, Karsin, Anwar, Riyadi, Hardiansyah,
Roosita, Yuliati, Rimbawan, Retnaningsih, Mudajinah, Sibarani dan Baliwati. 2004.
Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya.
8. Moehji,S. 2002. Ilmu Gizi: Pengetahuan Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Papas Sinar
Sinanti.
9. Moehji. 2003. Ilmu Gizi: Penanggulangan Gizi Buruk. Jakarta: Papas Sinar Sinanti.
10. Ningtyias, F. W. 2010. Penentuan Status Gizi Secara Langsung. Jember: Jember
University.
11. Departemen Kesehatan RI, WHO, Unicef. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita
Sakit (MTBS) Indonesia, Jakarta 1997
12. Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Binkesmas Depkes.
Pedoman
Penanggulangan Kekurangan Energi Protein (KEP) dan Petunjuk Pelaksanaan PMT
pada Balita, Jakarta 1997.
13. London School of Hygiene and Tropical Medicine. Dietary Management of PEM
(Not Published, 1998)
14. WHO. Guideline for the Inpatient Treatment of Severely Malnourished Children,
WHO Searo, 1998.
15. Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pelaksanaan Pojok Gizi (POZI) di Puskesmas,
Jakarta 1997.
16. Waterlaw JC. Protein Energy Malnutrition, Edward Arnold , London, 1992
33

BAB III
LAPORAN KASUS
A. STATUS PASIEN
1. Identitas Pasien
a. Nama
: MAH
b. Jenis Kelamin
: Laki-laki
c. Umur
: 6 bulan
d. Pekerjaan
:e. Alamat
: Jl. Khatib Sulaiman No. 15 Belakang Kopertis RT 03/ RW 13
2. Latar Belakang Sosial-Ekonomi-Demografi-Lingkungan Keluarga
a. Status Perkawinan
: Belum Menikah
b. Jumlah Saudara
:c. Status Ekonomi Keluarga :
- Penghasilan orang tua Rp 1.500.000/bulan
d. KB
:e. Kondisi Rumah
:
- Rumah pasien permanen, pekarangan cukup luas
- Ventilasi cukup, pencahayaan cukup, jumlah kamar 3 buah
- Lantai rumah terbuat dari semen
- Kamar kurang rapi dan bersih. Beberapa barang ditumpuk dan tidak
-

tersusun dengan baik.


Tepat di depan pintu masuk, terdapat 2 buah sangkar ayam jantan. Di
belakang rumah juga terdapat kandang ayam yang jaraknya 1 meter dari

rumah.
Di pekarangan depan rumah, ada beberapa drum yang tidak tertutup. Di
dalam drum tersebut, terdapat botol dan kaleng bekas yang menampung air

hujan.
Sumber air : air PDAM, air minum: air galon
Listrik ada
Pasien memiliki WC 2 buah di dalam rumah dan digunakan secara
bersama untuk 2 keluarga lainnya
34

Sampah dibuang ke tempat pembuangan sementara dan diambil oleh

petugas setiap hari


Kesan: hygiene dan sanitasi kurang baik
f. Kondisi Lingkungan Keluarga
- Pasien tinggal dengan orang tua, dan juga dua keluarga lainnya.
- Pasien anak tunggal, tetapi merupakan kehamilan kedua bagi ibu pasien.
Anak pertama meninggal di dalam kandungan.
- Pasien tinggal di daerah perkotaan yang padat penduduk.
3. Aspek Psikologis Keluarga
- Hubungan pasien dengan keluarganya baik
4. Riwayat Penyakit Dahulu
-

Pasien sering mengalami batuk, pilek, dan demam.

Pasien sering sesak nafas, dan baru diketahui memiliki penyakit kelainan katup
jantung (ASD sekundum sedang) pada November 2016 setelah berobat ke RSUP
Dr.M.Djamil Padang.

5. Riwayat Penyakit Keluarga


- Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.
6. Keluhan Utama
- Batuk sejak 1 minggu yang lalu
7. Riwayat Penyakit Sekarang
- Batuk sejak 1 minggu yang lalu, batuk berdahak. Batuk disertai pilek.
- Demam 10 hari yang lalu, tidak tinggi, tidak menggigil, tidak berkeringat. Demam
-

hilang setelah beberapa hari.


Sesak nafas ada
Mencret tidak ada
Berat badan anak tidak mengalami kenaikan sesuai dengan usianya.
Anak sering menangis ketika menyusu sehingga ibu hanya dapat menyusui
anaknya sebentar-sebentar, paling lama hanya sekitar 5-10 menit setiap kali

menyusui. Dan juga sering muntah setelah menyusu.


Riwayat kehamilan : Selama hamil tidak pernah menderita penyakit berat, tidak

merokok, tidak mengkonsumsi obat-obatan, kontrol teratur ke bidan.


Riwayat kelahiran : lahir dengan sectio caesarea, cukup bulan, berat badan lahir

2,8 kg, langsung menangis


- Riwayat imunisasi :
a. Hepatitis B
: 0, 1 bulan
b. BCG
: 1 bulan, scar (+)
c. Polio
: usia 0, 2, 3, 4 bulan
d. DPT
: usia 2, 3, 4 bulan
e. Campak
:Kesan : imunisasi lengkap
-

Riwayat tumbuh kembang :


a. Tangan dan kaki bergerak aktif
b. Tengkurap sendiri

: 1 bulan
: belum bisa
35

c. Menoleh ke suara
: 5 bulan
- Riwayat makanan dan minuman :
ASI ekslusif
: tidak
Susu formula
: ada, sejak usia 4 bulan
Bubur susu
: ada, sejak usia 4 bulan. 3 kali sehari dengan porsi
setengah mangkuk kecil
Kesan : Kuantintas dan kualitas makanan dan minuman kurang
8. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaran
Nadi
Nafas
Tekanan Darah
Suhu
Berat Badan
Tinggi Badan
Status Gizi
Rambut
Mata

: Tampak sakit sedang


: Composmentis Cooperative
: 100 kali/menit
: 60 kali/menit
:: 37,00 C
: 3,6 kg
: 52 cm
: IMT = 13,31
IMT/ U = < -3 SD ( Sangat kurus )
: hitam dan tidak mudah dicabut
: cekung, air mata ada, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
reflek cahaya +/+, pupil isokor, diameter 2 mm

Telinga

: tidak ditemukan kelainan

Hidung

: tidak ditemukan kelainan

Mulut

: mukosa mulut dan bibir basah

Tenggorokan

: tonsil T1 T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis

Thorak
Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis


: Fremitus hemitorak kiri sama dengan kanan
: Sonor
: Suara nafas vesikuler, Ronkhi -/-, wheezing -/: iktus cordis tidak terlihat
: iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC IV
: Batas jantung dalam batas normal
: Bunyi jantung murni, bising tidak ada
: Perut tidak tampak membuncit
: Hepar dan lien tidak teraba, Nyeri tekan (-), defans muskuler (-)
: Timpani
: Bising usus normal

36

Ekstremitas

: jari-jari tangan dan kaki berwarna agak biru, edema (-), akral hangat,
refilling kapiler baik

9. Laboratorium Anjuran
- Pemeriksaan darah rutin
10. Diagnosis Kerja
- ISPA
- Gizi buruk ec low intake ec ASD sekundum sedang
11. Diagnosis Banding : B. MENETAPKAN MASALAH KESEHATAN DALAM KELUARGA
Masalah kesehatan dalam keluarga adalah sebagai berikut.
a. An. MAH
1. Berat badan bawah garis merah (BGM).
2. Diketahui menderita kelainan jantung bawaan yaitu ASD sekundum sedang.
3. Anak menyusu sebentar-sebentar, susah makan, dan sering muntah.
4. Tidak ASI Ekslusif.
5. Sesak nafas.
6. Sering mengalami batuk, pilek dan demam.
b. Ny. S
1. Obesitas.
2. Posisi ibu saat menyusui belum benar.
3. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi, ASI, dan bagaimana memberikan
ASI yang baik.
4. Ibu menikah usia 38 tahun, hamil anak pertama saat usia 39 tahun (IUFD), hamil
kedua usia 40 tahun (An. MAH).
5. Kehamilan berikutnya berisiko, selain itu juga berisiko kanker payudara.
c. Kesehatan Lingkungan
1. Tinggal bersama dalam satu rumah dengan 2 keluarga yang lain (keluarga kakak
dan adik Ny.S). Anggota keluarga yang tinggal satu rumah berjumlah 12 orang.
2. Hanya mempunyai 2 kamar mandi dan jamban.
3. Kandang ayam hanya berjarak 1 meter dari rumah (berada di belakang rumah)
dan 2 sangkar ayam jantan tepat di depan pintu masuk.
4. Terdapat beberapa tempat peranakan nyamuk (ember penampung air hujan,
genangan air di tanah, dan selokan di belakang rumah).
5. Kain yang menumpuk di dalam kamar, serta beberapa barang-barang lain yang
tidak tersusun, dapat menjadi tempat peristirahatan nyamuk.
C. REKOMENDASI

SOLUSI

SESUAI

DENGAN

MASALAH

KESEHATAN

KELUARGA MELALUI PENDEKATAN KOMPREHENSIF DAN HOLISTIK


1. Preventif
a. Memberikan penyuluhan tentang gizi, gizi kurang dan makanan yang bisa diberikan
kepada anak untuk meningkatkan berat badannya.
37

b. Rajin membawa anak ke posyandu, timbang berat badan secara teratur minimal 1 kali
sebulan.
c. Mengikuti program puskesmas untuk masalah gizi, menjalankan program tersebut
sampai selesai.
d. Terus memberikan ASI dan makanan pendamping ASI yang bergizi seperti bubur
susu, bubur saring dengan telur, tahu, sayur-sayuran, kacang ijo, hati, ikan, telur
puyuh, dagng ayam, daging sapi, dan lain-lain.
e. Memberi makan dalam porsi kecil tetapi sering.
f. Mengkonsumsi makanan tambahan yang bisa di dapatkan di puskesmas atau setiap
g.
h.
i.
j.

kunjungan ke posyandu.
Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak.
Bawa segera ke puskesmas/ Rumah Sakit jika anak sakit.
Minum obat dan kontrol ke Rumah Sakit secara teratur.
Membuka usaha dirumah seperti membuat kue, berjualan atau berkebun untuk

menambah pemasukan keluarga.


k. Menggunakan KB non hormonal jika ingin menggunakan KB.
l. Melakukan skrining benjolan di payudara setiap bulannya.
m. Menurunkan berat badan Ny. SY.
2. Promotif
a. Menjelaskan kepada orang tua tentang masalah kesehatan anaknya, dimana si anak
mengalami gizi buruk karena berat badannya tidak sesuai dengan tinggi badan dan
umurnya. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena asupan yang kurang dan juga
penyakit jantung bawaan yang didertanya.
b. Menjelaskan bahwa ASI dan gizi seimbang perlu untuk perkembangan dan
pertumbuhan bayi, juga penting untuk mencegah agar tidak tidak terkena penyakit
seperti infeksi.
c. Mengajarkan bagaimana posisi menyusui yang benar, cara memerah, menyimpan, dan
menyajikan ASI untuk bayi.
d. Menyarankan kepada Ny.SY untuk diet rendah kalori tinggi protein, tinggi serat, serta
meningkatkan olahraga dan aktivitas fisik.
e. Bahan makanan yang bisa diberikan kepada bayi berupa :
- Karbohidrat : nasi tim saring, bubur susu, sereal halus, roti dilunakkan, dan
-

gandum.
Protein hewani : daging ayam, ikan, telur, kerang, udang, cumi dan sumber laut

lain.
Protein nabati : tempe, tahu, oncom, kacang-kacangan (kacang ijo, kacang merah,

kedele ) dan jamur.


Sayuran : kangkung, bayam, wortel, toge, sawi, selada, dan lain-lain.
Buah : jeruk, apel ,papaya, semangka,melon, jambu air, dan lain-lain.
Susu formula dan ASI.

38

f. Menjelaskan pentingya pemberian imunisasi secara lengkap bagi bayi, karena


imunisasi akan membentuk kekebalan tubuh sehingga anak akan terhindar dari
penyakit-penyakit tertentu seperti campak, polio, hepatitis B, TBC, tetanus,dll.
g. Mengajarkan ibu mengasah perkembangan bayi.
h. Menjelaskan pentingnya memantau berat badan dan tinggi badan secara berkala.
i. Menjelaskan bagaimana dampak obesitas untk kesehatan, faktor risiko menjadi
diabetes melitus, hipertensi dan penyakit metaboliklainnya.
j. Menjelaskan faktor risiko kanker payudara, dan mengenai kehamilan berisiko.
k. Mengajarkan ibu bagaimana menghitung berat badan ideal, kebutuhan kalori, dan
mengatur pola makan ibu (Ny. SY).
3. Kuratif
A. Penyakit Jantung Kongenital :
Kontrol ke Rumah Sakit dan minum obat teratur.
B. Gizi buruk
Rencana program perbaikan gizi :
- Membuat jadwal kunjungan rutin puskesmas ke rumah pasien untuk melakukan
-

penimbangan berat badan.


Memberikan makanan tambahan seperti telur, MP-ASI, dan susu formula.
Pemberian imunisasi dasar dan booster.
Pemberian vitamin A setiap 6 bulan (dosis sesuai umur), asam folat, tablet besi
(tablet besi hanya diberikan setelah minggu ke-2).
Target pencapaian berat badan untuk 1 tahun kedepan adalah :
Berdasarkan rumus konvensional, dapat ditentukan berat badan yang seharusnya
dimiliki anak sesuai umurnya :
{ Umur (tahun) x 2 } + 8 = { (0,5x2) } + 8
=1+8
= 9 kg
Jadi target pencapaian berat badan yang harus dicapai dalam 1 tahun adalah 9 kg,
karena berat badan pasien saat ini adalah 3,6 kg. Sehingga setidaknya dalam

sebulan berat badan pasien lebih kurang naik 0,5 kg.


Memberikan menu harian kepada pasien yang bisa diterapkan (untuk 1 bulan
pertama telah disisipkan jadwal pemberian F-75/F-100, bulan berikutnya
menyesuaikan pemberian F-100/4 jam). F-100 diberikan hingga minggu ke-26
(bulan ke-7) atau hingga tercapai BB/PB >-2 SD Standar WHO 2005 (kriteria
sembuh tercapai) Belum bisa dilakukan karena terkendala persediaan F-75/F-

100 yang tidak ada di puskesmas.


Contoh menu harian :
a. Usia 6-7 bulan
Pukul :
06.00
ASI (sekehendak)
07.00
*F-75/F-100
09.00
Buah/ Sari Buah
11.00
*F-75/F-100
12.00
ASI
39

14.00
15.00
16.00
18.00
20.00
21.00

*F-75/F-100
Buah/ Sari Buah
*F-75/F-100
ASI
*F-75/F-100
ASI dst

* F-75 diganti menjadi F-100 pada hari ke-4 dan seterusnya jika toleransi baik dengan F-75. Jumlah sekali pemberian
disesuaikan dengan berat badan.

b. Usia 7-8 bulan


Pukul :
06.00
09.00
12.00
15.00
18.00
21.00
c. Usia 8-9 bulan
Pukul :
06.00
08.00
12.00
15.00
18.00
21.00

d. Usia 9-10 bulan


Pukul :
06.00
08.00
10.00
13.00
15.00
18.00
21.0

ASI (sekehendak)
Buah/ Sari buah
Bubur susu
Buah/ Sari buah
ASI
ASI dst
ASI (sekehendak)
Buah/ sari buah
Bubur Susu
Biskuit
Tim Saring
ASI dst

ASI
Bubur Susu
Buah/ Sari buah
Tim Saring
Biskuit
Tim Saring
ASI dst

e. Usia 11-12 bulan


Pukul :

06.00
08.00
10.00
12.00
15.00
18.00
21.00

ASI
Nasi Tim
Buah/ Sari Buah
Nasi Tim
Biskuit
Nasi Tim
ASI dst.

4. Rehabilitatif
a. Mempertimbangkan bayi untuk dirawat inap agar dapat diberikan makanan per NGT.
b. Menimbang berat badan tiap bulan hingga mencapai berat badan sesuai umur.
c. Upayakan anak selalu menghabiskan makanannya dan mengkonsumsi susu bantu atau
makanan tambahan dari puskesmas.
d. Menjalankan program pemulihan gizi buruk secara konsisten dan terevaluasi.
e. Kontrol ulang secara teratur :
a. Bulan I : 1x/minggu
40

b. Bulan II : 1x/2 minggu


c. Bulan III-IV : 1x/bulan
f. Memberikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional
D. FOLLOW UP ( HOME VISITE )
1. Tanggal 19 November 2016
Riwayat penyakit sekarang :
-

Batuk sejak 9 hari yang lalu, batuk berdahak disertai pilek. Batuk dan pilek sudah

mulai berkurang.
- Sesak nafas ada
- Mencret tidak ada
- Berat badan anak tidak naik dari berat badan sebelumnya.
- Anak masih menyusu sebentar-sebentar.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Composmentis Cooperative
Nadi
: 100 kali/menit
Nafas
: 60 kali/menit
Tekanan Darah
:Suhu
: 37,00 C
Berat Badan
: 3,6 kg
Tinggi Badan
: 52 cm
Status Gizi
: IMT = 13,31
IMT/ U = < -3 SD ( Sangat kurus )
Rambut

: hitam dan tidak mudah dicabut

Mata

: cekung, air mata ada, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
reflek cahaya +/+, pupil isokor, diameter 2 mm

Telinga

: tidak ditemukan kelainan

Hidung

: tidak ditemukan kelainan

Mulut

: mukosa mulut dan bibir basah

Tenggorokan

: tonsil T1 T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis

Thorak
Abdomen
Ekstremitas
Diagnosis :

: Paru dan jantung dalam batas normal


: Dalam batas normal
: Edema (-), akral hangat, Refilling kapiler baik
ISPA
Gizi buruk et causa low intake et causa ASD sekundum sedang

Pada kunjungan pertama ke rumah pasien, kami lebih banyak melakukan anamnesis
kepada ibu pasien, mengenai pasien dan saudaranya, kehidupan ekonomi keluarga, keadaan
lingkungan rumah. Selain kami melakukan kembali pengukuran terhadap berat badan, tinggi
41

badan, lingkar lengan. Dari hasil pemeriksaan ini kami menjelaskan beberapa hal kepada ibu
pasien :
a. Berat badan si anak tidak sesuai dengan umur dan tinggi badannya
b. Menjelaskan penyebab yang mungkin menyebabkan berat badan anak tidak naik
sesuai dengan usianya, yaitu low intake akibat penyakit jantung bawaan yang
diderita anak. Kami memberikan nasihat kepada ibu pasien untuk rutin mengobati
penyakit jantung anaknya ini.
c. Menjelaskan mengenai penyakit yang akan mungkin diderita pasien, jika berat
badannya tidak sesuai dengan umur.
d. Pada anak dengan gizi buruk biasanya akan terjadi keterlambatan perkembangan
mental dan perilaku, karenanya harus diberikan :
- Kasih sayang
- Lingkungan yang ceria
- Keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain, dsb)
2. Tanggal 26 November 2016
Riwayat penyakit sekarang :
- Batuk berdahak dan pilek tidak ada
- Sesak nafas sedikit berkurang
- Mencret tidak ada
- Berat badan anak turun dari berat badan sebelumnya
- Anak masih menyusu sebentar-sebentar
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Composmentis Cooperative
Nadi
: 110 kali/menit
Nafas
: 55 kali/menit
Tekanan Darah
:Suhu
: 36,90 C
Berat Badan
: 3,4 kg
Tinggi Badan
: 52 cm
Status Gizi
: IMT = 12,57
IMT/ U = < -3 SD ( Sangat kurus )
Rambut

: hitam dan tidak mudah dicabut

Mata

: cekung, air mata ada, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
reflek cahaya +/+, pupil isokor, diameter 2 mm

Telinga

: tidak ditemukan kelainan

Hidung

: tidak ditemukan kelainan

Mulut

: mukosa mulut dan bibir basah

Tenggorokan

: tonsil T1 T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis


42

Thorak
Abdomen
Ekstremitas
Diagnosis :

: Paru dan jantung dalam batas normal


: Dalam batas normal
: Edema (-), akral hangat, Refilling kapiler baik
Gizi buruk et causa low intake et causa ASD sekundum sedang

Pada kali kedua kunjungan ke rumah pasien, kami melakukan penilaian bagaimana
cara ibu menyusui bayinya, cara ibu memberikan bubur susu untuk bayinya. Kami dapati
bahwa cara ibu menyusui bayi belum benar. Selain itu, kami juga memberikan PMT
untuk si anak. Kemudian kami memberikan beberapa edukasi :
-

Mengajarkan ibu tentang cara menyusui yang benar, menjelaskan posisi bayi

terhadap ibu saat menyusui.


Mengajarkan ibu tentang cara memompa ASI.
Mengajarkan ibu tentang cara membuat bubur susu dari PMT.
Memberikan penyuluhan tentang gizi, makanan yang bisa diberikan kepada anak
Rajin membawa anak ke posyandu, timbang berat badan secara teratur minimal 1

kali sebulan
Memberi makan dalam porsi kecil tetapi sering
Membuat sendiri cemilan untuk anak yang bergizi dan dijaga kebersihannya.
Memberi dukungan untuk ibu agar selalu bersemangat menyusui bayinya.
Meskipun bayinya hanya dapat menyusu sebentar-sebentar, tetapi ibu tidak boleh
lelah menyusui anaknya.

3. Tanggal 3 Desember 2016


Riwayat penyakit sekarang :
-

Batuk dan pilek tidak ada


Sesak nafas berkurang
Mencret tidak ada
Berat badan anak sedikit naik dibandingkan berat badan sebelumnya.
Anak masih sebentar menyusu, tetapi anak sudah mulai lahap makan bubur susu.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Kesadaran
Nadi
Nafas
Tekanan Darah
Suhu
Berat Badan
Tinggi Badan
Status Gizi

: Tampak sakit sedang


: Composmentis Cooperative
: 105 kali/menit
: 50 kali/menit
:: 37,20 C
: 3,5 kg
: 52 cm
: IMT = 12,94
IMT/ U = < -3 SD ( Sangat kurus )
43

Rambut

: hitam dan tidak mudah dicabut

Mata

: cekung, air mata ada, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
reflek cahaya +/+, pupil isokor, diameter 2 mm

Telinga

: tidak ditemukan kelainan

Hidung

: tidak ditemukan kelainan

Mulut

: mukosa mulut dan bibir basah

Tenggorokan

: tonsil T1 T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis

Thorak
Abdomen
Ekstremitas

: Paru dan jantung dalam batas normal


: Dalam batas normal
: Edema (-), akral hangat, Refilling kapiler baik

Diagnosis : Gizi buruk et causa low intake et causa ASD sekundum sedang
Pada kunjungan ke 3, dilakukan evaluasi mengenai pertumbuhan anak. Anak sudah
mulai lahap makan dan berat badan anak naik dibandingkan dengan berat badan sebelumnya.
Kami memberitahu ibu bahwa anak sudah bisa diberikan buah/sari buah. Selain itu, kami
menerangkan contoh menu harian yang bisa diberikan untuk anak. Kami juga memberikan
beberapa edukasi tentang lingkungan rumah, agar ibu dan anggota keluarga lainnya dapat
menjaga kebersihan lingkungan rumah seperti dengan menutup drum-drum yang terbuka agar
tidak lagi digenangi air sehingga tidak menjadi tempat perindukan nyamuk. Juga memberikan
saran untuk memindahkan sangkar ayam dan kandang ayam agar sedikit jauh dari rumah (> 1
meter).
4. Tanggal 10 Desember 2016
Riwayat penyakit sekarang :
- Batuk dan pilek tidak ada
- Sesak nafas berkurang
- Mencret tidak ada
- Berat badan anak sedikit naik dibandingkan berat badan sebelumnya.
- Anak masih sebentar menyusu, tetapi anak sudah mulai lahap makan bubur susu.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Composmentis Cooperative
Nadi
: 100 kali/menit
Nafas
: 50 kali/menit
Tekanan Darah
:Suhu
: 37,00 C
Berat Badan
: 3,7 kg
Tinggi Badan
: 52 cm
44

Status Gizi

: IMT = 13,68
IMT/ U = < -3 SD ( Sangat kurus )

Rambut

: hitam dan tidak mudah dicabut

Mata

: cekung, air mata ada, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
reflek cahaya +/+, pupil isokor, diameter 2 mm

Telinga

: tidak ditemukan kelainan

Hidung

: tidak ditemukan kelainan

Mulut

: mukosa mulut dan bibir basah

Tenggorokan

: tonsil T1 T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis

Thorak
Abdomen
Ekstremitas

: Paru dan jantung dalam batas normal


: Dalam batas normal
: Edema (-), akral hangat, Refilling kapiler baik

Diagnosis : Gizi buruk et causa low intake et causa ASD sekundum sedang
Pada kunjungan ke empat, didapatkan bahwa keluarga belum dapat memberikan
makanan kepada pasien sesuai menu yang kami sarankan. Oleh sebab itu kami merasa
perlu bekerja sama dengan puskesmas secara langsung agar puskesmas bisa membantu
dalam hal sebagai berikut :
-

Membuat jadwal kunjungan rutin puskesmas ke rumah pasien untuk melakukan

penimbangan berat badan. Kunjungan dilakukan 1x/bulan.


Penyediaan makanan tambahan.
Pemberian imunisasi, termasuk imunisasi ulangan (booster)
Pemberian vitamin A setiap 6 bulan (dosis sesuai umur)

45

LAMPIRAN

Kamar pasien

Sangkar ayam di dekat pintu masuk rumah

46

Saat menimbang berat badan pasien

Memberikan PMT

Leaflet yang diberikan

47