Anda di halaman 1dari 15

POLITIK DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ERA REFORMASI

POLITIK DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ERA REFORMASI


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan di era reformasi lahir sebagai koreksi, perbaikan, dan penyempurnaan atas
berbagai kelemahan kebijakan pemerintahan Orde Baru yang dilakukan secara menyeluruh yang
meliputi bidang pendidikan, pertahanan, keamanan, agama, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan,
kesehatan, dan lingkungan. Berbagai kebijakan tersebut diarahkan pada sifatnya yang lebih
demokratis, adil, transparan, akuntabel, kredibel, dan bertanggung jawab dalam rangka
mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, tertib, aman dan sejahtera.
Pendidikan era reformasi telah melahirkan sejumlah kebijakan strategis dalam bidang
pendidikan yang pengaruhnya langsung dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas dan
menyeluruh, bukan hanya bagi sekolah umum yang bernaung dibawah Kementerian Pendidikan
Nasional saja, melainkan juga berlaku bagi madrasah dan Perguruan Tinggi yang bernaung di
bawah Kementerian Agama.
B. Rumusan Masalah :
1. Bagaimana pergeseran pendidikan nasional dari masa pembangunan hingga masa reformasi?
2. Bagaimana perkembangan pendidikan masa reformasi?
C. Tujuan :
1. Untuk mengetahui pergeseran pendidikan nasional dari masa pembangunan hingga reformasi.
2. Untuk mengetahui perkembangan pendidikan masa reformasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Masa Pembangunan Hingga Reformasi
Sejak 1966 Indonesia diperintah oleh Orde Baru. Peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru
membawa konsekuensi perubahan strategi politik dan kebijakan pendidikan nasional. Pada
dasarnya Orde Baru adalah suatu koreksi total terhadap Orde sebelumnya yang didominasi oleh
PKI dan dianggap menyelewengkan Pancasila. Demikian pula munculnya era Reformasi sejak
1998 ditandai dengan berbagai upaya pembaharuan sistem politik, ekonomi, hukum, dan
pendidikan nasional.
Fokus perhatian Orde Baru ditujukan pada empat tahap strategi politik. Semuanya
berpengaruh langsung bagi kebijakan pendidikan nasional, yaitu: tahap pertama, penghancuran
PKI beserta ideologi Marxisme dari kehidupan politik bangsa, serta membersihkan semua
lembaga dan kekuatan sosial politik dari kader-kader PKI dan proses de-Nasakomisasi seluruh
aspek kehidupan bangsa. Tahap kedua, konsolidasi Pemerintah dan pemurnian Pancasila dan
UUD 1945; tahap ketiga, menghapuskan dualisme dalam kepemimpinan nasional; dan tahap

keempat mengembalikan kestabilan politik dan merencanakan pembangunan. Itu sebabnya Orde
Baru diidentikkan dengan masa pembangunan.
Apa implikasi keempat tahap strategi politik yang dilaksanakan oleh pemerintah Orde
Baru tersebut bagi kebijakan pendidikan nasional?
Implikasinya, pada tahap pertama, pembubaran PKI, menimbulkan perubahan sekolahsekolah yang bernaung di bawah PKI dan organisasi yang ada di bawahnya. Karenanya, pada
tahun 1966 sampai 1971 terdapat gejala penurunan sekolah. Setelah resmi dibubarkan, PKI
praktis tidak terlibat dalam birokrasi pemerintah maupun parpol lagi. Kondisi ini menguatkan
posisi kelompok nasionalis dengan aksi pemurnian Pancasilanya melalui Orde Baru, dan
kelompok Muslim yang smeula tersingkir dari keterlibatannya di arena politik. Tidak seperti
Orde Lama, Kebijakan pendidikan agama kini wajib diberikan mulai TK sampai Universitas.
Status madrasah disejajarkan dengan sekolah umum. Kurikulum yang semula terurai dalam
Sapta Usaha Tama dan Pancawardhana, yang berkarakter kini tersebut, diganti dengan kurikulum
bermuatan pembinaan Pancasila. Prestasi penting lainnya adalah diberlakukannya UUSPN No.2
Tahun 1989. Kurikulum 1994, manutup produk kebijakan pendidikan masa Orde Baru.
Tahap kedua, mengadakan konsolidasi pemerintah dan pemurnian pancasila, hal ini
berpengaruh besar bagi perubahan redaksi tujuan pendidikan nasional. Konsolidasi pemerintah
dilakukan dengan pembentukan kabinet baru dan menyusunan program pembangunan. Adapun
upaya pemurnian Pancasila menjadi prioritas. Sebagaimana telah disebut pada bagian
sebelumnya, ketika pengaruh ide Manipol masih kuat, maka tujuan pendidikannya
diarahkan supaya melahirkan warga negara sosialis Indonesia yang susila, yang
bertanggungjawab atas terselenggaranya masyarakat sosialis Indonesia, dan seterusnya, maka
ketika PKI dibubarkan, kembali pada UUD 1945 dan pemurnian Pancasila, tujuan pendidikannya
pun menjadi membentuk manusia berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh
pembukaan UUD 1945. Perubahan mendasar di atas menunjukkan bahwa ide manipol USDEK
telah diganti secara tegas menjadi falsafah Pancasila. Lantas, upaya pemurnian Pancasila.
Orde Baru diwarnai dengan semangat serba Pancasila. Semangat ini selalu ditekankan,
baik dalm bidang politik maupun pendidikan. Penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan
Pengenalan Pancasila) harus diberikan kepada siswa/peserta didik yang diterima di sekolah atau
PT, disamping masih adanya mata pelajaran Pancasila. Mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral
Pancasila) termasuk yang mempengaruhi kenaikan kelas atau kelulusan sekolah. Setelah
EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) diberlakukan, PMP menjadi komponen
bidang studi yang mempengaruhi nilai komulatif DANEM (Daftar Nilai EBTANAS Murni),
padahal DANEM berfungsi sebagai standar memasuki jenjang pendidikan di atasnya. Penataran
P-4 juga berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di tingkat desa pun, penduduk didata untuk
memperoleh pembinaan P-4. Sejak 1984, semua parpol dan ormas diharuskan menganut partai
tunggal, Pancasila. Orde Baru diwarnai dengan semangat serba Pancasila.
Pada tahap ketiga, menghapuskan dualisme dalam kepemimpinan nasional. Untuk itu
diadakan sidang istimewa MPRS tahun1967 dengan hasil diangkatnya Soeharto sebagai
Presiden, juga menghapuskan dualisme penafsiran tentang Pancasila dan UUD 1945.
Implikasi tahap keempat, mengembalikan kestabilan politik dan merencanakan
pembangunan. Strategi ini dilakukan dengan jalan mengisi kemerdekaan melalui pembangunan

ekonomi serta mengembalikan wibawa pemerintah dari pusat sampai desa. Pembangunan
dilaksanakan pada semua bidang, utamanya ekonomi dan pendidikan.
Konsentrasi pembangunan ekonomi menunjukkan record yang membanggakan.
Pertumbuhan ekonomi selama Orde Baru meningkat secara rata-rata sebesar 6,8% per tahun.
Laju pertumbuhan ini adalah lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan ekonomi rata-rata yang
ditetepkan di setiap Pelita, yaitu sebesar 5%. Pendapatan perkapita naik secara mencolok, dari
Rp. 20.000,00 pertahun pada tahun 1969 menjadi Rp. 1.038.000,00 pertahun pada 1991, yang
berarti meningkat lebih dari 51 kali lipat. Penduduk miskin telah berkurang secara drastis dari
sebanyak 54,2 juta orang atau 40,1% dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun1976 menjadi
tinggal sebanyak 27,2 juta orang atau 15,1% dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1990.
Belanja pembangunan selama Repelita I meningkat dai 1,3 trilyun rupiah menjadi hampir 78
trilyun rupiah pada Repelita V, atau meningkat 61 kali lipat. Peranan tabungan juga meningkat
dari 44,5% dalam Pelita I menjadi 49,5% dalam Repelita V. di lain pihak peranan bantuan luar
negeri semakin menurun dalam periode yang sama, yaitu dari 55,5% menjadi 50,5%. Sampai
pada 1996, pertumbuhan ekonomi berkisar 7,5%, atau lebih dari 1995 yang mencapai 8,07%
pertahun, namun perolehan ini masih dipuji bahkan menurut East Asian Standard, walaupun di
saat yang sama, sebagai isyarat mulai turunnya pertumbuhan ekonomi nasional. Ini menandakan
bahwa kemampuan dalam negeri makin meningkat dan ketergantungan pada bantuan luar negeri
makin berkurang. Secara makro, dinamika pembangunan nasional menunjukkan kemajuan yang
mengesankan, terutama kehadiran pertumbuhan ekomoni.
Kemajuan sektor pendidikan juga tampil denga record positif. Selama PJP I (1969-1991),
sekolah, guru dan murid SD meningkat secara mencolok, lebih dari 3,5 kali lipat. Kelembagaan
SLTP juga mengalami peningkatan lebih dari 4 kali lipat, dan kelembagaan SLTA meningkat
lebih dari 5,5 kali lipat. Terlebih jumlah guru dan murid SLTA, keduanya meningkat lebih dari 8
kali lipat. Di lingkugna PT, jumlah kelembagaannya meningkat lebih dari 3,5 kali lipat. Jumlah
dosen meningkat lebih dari 9 kali lipat, sementara jumlah peserta didik juga meningkat hampir 9
kali lipat. Semua peningkatan tersebut dicapai pada tahun 1991, bila dibandingkan dengan awal
Repelita I, 1969. Bias jadi perkembangan kuantitatif kelembagaan pendidikan ini berarti
peningkatan partisipasi dan kesadaran masyarakat atas pendidikan, tapi, di balik itu, bukankah
jumlah penduduk secara nasional juga meningkat tajam?
Sekarang bagaimana dengan pembangunan bidang (Pendidikan) Agama Islam? Masa
Orde Baru ini mencatat banyak keberhasilan, diantaranya adalah: pemerintah memberlakukan
pendidikan agama dari tingkat SD hingga Universitas (TAP MPRS No.XXVII/MPRS/1966),
madrasah mendapat perlakuan dan status yang sejajar dengan sekolah umum, pesantren
mendapat perhatian melalui subsidi dan pembinaan, berdirinya MUI (Majelis Ulama Indonesia)
pada 1975, pelarangan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) mulai 1993 setelah berjalan
sejak awal tahun 1980-an. Pemerintah juga akhirnya member izin pada pelajar Muslimah untuk
memakai rok panjang dan busana jilbab di sekolah-sekolah negeri sebagai ganti seragam sekolah
yang biasanya dengan rok pendek dan kepala terbuka, terbentuknya UU No.2 Tahun 1989
tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No.7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Kompilasi
Hukum Islam (KHI), dukungan pemerintah terhadap pendirian Bank Islam, Bank Muamalat
Islam yang telah lama diusulkan, lalu diteruskan dengan pendirian BAZIS (Badan Amal Zakat
Infak dan Sedekah) yang idenya telah muncul sejak 1968, berdirinya Yayasan Amal Bakti

Muslim Pancasila, pemberlakuan label halal atau haramoleh MUI bagi produk makanan dan
minuman pada kemasannya, terutama bagi jenis olahan. Selanjutnya, pemerintah juga
memfasilitasi penyebaran dai ke daerah terpencil dan lahan transmigrasi, mengadakan MTQ
(Musabaqah Tilawatil Quran), peringatan hari besar Islam di Masjid Istiqlal, mencetak dan
mengedarkan Mushaf Al-Quran dan buku-buku agama Islam untuk kemudian diberikan ke
Masjid atau perpustakaan Islam, terpusatnya jamaah haji di Asrama Haji, berdirinya MAN PK
(Program Khusus) mulai 1968, dan pendidikan Pascasarjana untuk dosen IAIN baik ke dalam
maupun luar negeri, merupakan keberhasilan lainnya. khusus mengenai Kebijakan ini,
Departemen Agama telah membuka program Pascasarjana IAIN sejak 1983 dan join
cooperation dengan negara-negara Barat untuk studi lanjut jenjang Magister maupun Doktor.
Selain itu, penayangan pelajaran bahasa Arab di TVRI dilakukan sejak 1990, serta berdirinya
Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 1990, dan sebagainya. Akibat semua
kebijakan tersebut, pembangunan bidang agama Islam yang dilakukan Orde Baru mempercepat
peningkatan jumlah umat Islam terdidik dan kelas menengah Muslim perkotaan.
Data di atas adalah sebuah prestasi. Akan tetapi, prioritas pembangunan ekonomi berjalan
tidak seimbang dengan demokrasi. Konsentrasi pembangunan ekonomi menyebabkan kehidupan
demokrasi agak terlantar. Pemilu dilaksanakan tanpa system multipartai sebagaimana Pemilu
1955, bahkan sejak 1973 jumlah partai disederhanakan menjadi tiga kontestan, yang pada 1984
semua parpol harus berasas tunggal, Pancasila. Kebebasan pers dan mimbar diawasi secara ketat,
di penghujung tahun 1960 sampai 1980, terjadi banyak insiden kekerasan yang diklaim oleh
pemerintah sebagai ekstrim kanan, dimana hal itu dijadikan oleh pemerintah untuk mewaspadai
gerakan Islam militan. Termasuk dalam hal ini adalah peristiwa pembajakan pesawat Garuda,
pengeboman bank-bank milik etnis Tionghoa, Pengeboman Candi Borobudur di Jawa Tengah,
ketegangan sosial diberbagai daerah antara kelompok Muslim dengan pemerintah lokal, serta
protes para pekerja Muslim di Tanjung Priok, Jakarta, terhadap pengotoran Masjid oleh tentara
beragama Kristen. Kulminasi kekerasan kian meningkat dipenghujung Orde Baru, tahun 1996
diwarnai dengan kekerasan, seperti: pelanggaran hak-hak politik oleh aparat menimbulkan aksi
kekerasan missal, pelanggaran HAM dan kerusuhan antar agama terjadi diberbagai tempat,
seperti Situbondo, Tasikmalaya, Pekalongan dan Purwakarta. Lebih dari itu, kasus pertanahan,
aksi kaum buruh dan kekerasan terhadap perempuan meningkat.
Ketimpangan antara pembangunan ekonomi dengan demokratisasi demikian menjadikan
pembangunan bersifat artificial atau semu karena yang tampak dipermukaan adalah gedung dan
menara yang tinggi, melambangkan kemampuan usaha dan ekonomi yang unggul, sementara
pada lapis bawah (grass-root), rakyat tidak merasakan pemerataan hasil pembangunan
ekonomi. Akibat lain berimbas pada bidang pendidikan. Pendidikan tidak menjadi headline,
karena alokasi dana pendidikan jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan alokasi dana bidang
pembangunan ekonomi dan industri. Meskipun bidang ekonomi dan pendidikan, keduanya
dirancang melalui Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) dan PJP (Pembangunan Jangka
Panjang), kebijakan yang ditempuh adalah sekotoral, ternyata tidak mampu saling menutupi.
Kembali kepada konteksnya, apa yang berubah dalam produk kebijakan pendidikan pada
masa pembangunan ini? Produk kebijakan pendidikan pada masa pembangunan ini dihasilkan
melalui program jangka pendek dalam Repelita maupun PJP. Produknya tercermin dalam Garis-

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.

garis Besar Haluan Negara (GBHN), Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN)
No.2 Tahun 1989, Peraturan Pemerintah (PP), serta Surat Keputusan Menteri, dan lain-lain.
GBHN memuat berbagai bidang pembangunan nasional, termasuk bidang pendidikan. GBHN
menginginkan agar setiap warga negara memperoleh kesempatan yang maksimal untuk
menikmati pendidikan setinggi-tingginya. Berikut ini adalah uraian ringkas mengenai pola isi
dan tema pokok GBHN yang menunjukkan adanya perubahan kebijakan pendidikan nasional.
GBHN 1973, GBHN1978, GBHN 1983, GBHN 1988, dan GBHN 1993 memiliki pola isi dan
tema yang tak jauh berbeda, yaitu:
Dasar dan tujuan pendidikan nasional
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)
Pendidikan Moral Pancasila (PMP)
Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB)
Wajib Belajar
Kesempatan Belajar
Sistem Pendidikan Nasional
Pendidikan umum dan kejuruan
Pendidikan Luar Sekolah
Perguruan swasta
Perguruan tinggi
Tenaga pendidik
Sarana dan prasarana
Pendidikan olah raga
Pendidikan bahasa Indonesia
Perpustakaan
Berikut ini disampaikan kutipan GBHN 1978 yang terkait dengan pendidikan:

a.

b.

c.

d.

GBHN 1978
Bahwa pendidikan nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan
meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan,
keterampilan, memepertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan
mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia
pembangunan yang dapat membangun diri sendiri serta bersama-sama
bertanggungjawab atas pembangunan bangsa.
Dalam rangka melaksanakan pendidikan nasional perlu diambil langkahlangkah yang memungkinkan penghayatan dan pengamalan Pancasila oleh
seluruh lapisan masyarakat.
Pendidikan Pancasila termasuk Pendidikan Moral Pancasila dan unsur yang
meneruskan dan mengembangkan jiwa dan nilai-nilai 1945 kepada generasi
muda dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah, mulai dari Taman
Kanak-kanak dampai Universitas baik negeri maupun swasta.
Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan
rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung
jawab bersama anatar keluarga, masyarakat dan pemerintah.

e.

Perguruan swasta mempunyai peranan dan tanggungjawab dalam usaha


melaksanakan pendidikan nasional. Untuk itu perlu dikembangkan
pertumbuhan sesuai dengan kemampuan yang ada berdasarkan pola pendidikan
nasional yang mantap, dengan tetap mengindahkan ciri-ciri khas perguruan
yang bersangkutan.
f. Pendidikan juga menjangkau program-progran luar sekolah yaitu pendidikan
yang bersifat kemasyarakatan, termasuk kepramukaan, latihan-latihan
keterampilan dan pemberantasan buta huruf dengan mendayagunakan sarana
dan prasarana yang ada.
g. Mutu pendidikan diangkat untuk mengejar ketinggalan di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi yang mutlak diperlukan untuk mempercepat
pembangunan.
h. Sistem pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan segala
bidang yang memerlukan segala jenis-jenis keahlian dan keterampilan serta
dapat sekaligus meningkatkan produktivitas mutu dan efisiensi kerja.
Sumber.TAP MPR No.IV/MPR/1978
Di antara perubahan isi GBHN adalah bahwa Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa
(PSPB) yang telah dimuat sejak GBHN 1983, atas prakarsa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
(Prof. Dr. Nugroho Notosusanto), dalam praktiknya mata pelajaran ini tidak berlangsung lama
karena terjadi pergantian menteri. Sementara itu sejak GBHN 1988 telah dinyatakan pentingnya
pendidikan yang terpadu dan serasi (konsep link and match), suatu konsep yang pelaksanaannya
lebih populer pada masa Kabinet Pembangunan VI. Hal lain yang ebrbeda adalah
dikembangkannya upaya pendidikan seumur hidup (life long education).
Selain dalam GBHN, produk kebijakan pendidikan nasional yang penting pada mas ini
adalah UUSPN No.2 tahun 1989. Sebelum tahun 1989, Undang-undang yang berlaku adalah
UUP No.4 Tahun 1950 jo UUP No.12 Tahun 1954 dan UUPP No.2 Tahun 1961 yang sering
dipandang sebagai suatu kendala yang cukup mendasar bagi pembangunan pendidikan yang
berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Undang-undang tersebut, di samping tidak
mencerminkan landasan kesatuan sistem pendidikan nasional, karena didasarkan pada UndangUndang Dasar Republik Indonesia Serikat, juga tidak sebagaimana diamanatkan oelh UUD
1945. Sedangkan UUSPN No.2 Tahun 1989 memberikan arah bagi terwujudnya sati sistem
pendidikan nasional dilaksanakan secara semesta, menyeluruh dan terpadu. Semestaartinya
terbuka bagi seluruh rakyat dan berlaku di seluruh wilayah negara. Menyeluruh berarti
mencakup semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, sedangkan terpadu berarti adanya saling
keterkaitan antara pendidikan nasional dengan seluruh usaha pembangunan nasional. UUSPN
No.2 Tahun 1989 ini menganut demokrasi pendidikan, asas pendidikan seumur hidup, bersifat
luwes dan fleksibel.
Perbandingan isi UUP No.4 Tahun 1950 dengan UUSPN No.2 Tahun 1989 dan
perkembangan rumusan tujuan pendidikan nasional sejak masa kolonial Belanda, pendudukan
Jepang hingga masa Orde Baru disampaikan di halaman sendiri setelah ini.

Semua langkah strategis dan keputusan politik di atas, membuktikan bahwa kebijakan
politik di Indonesia berpengaruh besar dan langsung bagi pendidikan nasional. Berangkat dari
sini dapat ditarik beberapa argumen bahwa: pertama, perubahan politik selalu menimbulkan
perubahan kebijakan pendidikan. Pada masa kolonial, kebijakan pendidikan dilaksanakan
menurut kepentingan penjajah. Setelah merdeka, orientasi pendidikan untuk kepentingan
masyarakat luas, bangsa dan negara. Kedua, perkembangan politik lebih cepat dari pada
perkembangan pendidikan. Keputusan politik yang diambil oleh individu dan atau kelompok
dalam pemerintahan tertentu memiliki implikasi luas bagi masyarakat. Itu sebabnya membenahi
praktik pendidikan mestilah disertai dengan pembaharuan kebijakannya. Ketiga, arah kebijakan
pendidikan nasional bidang agama Islam pasca kolonial cenderung terus mengalami
pembaharuan substansial maupun operasional, meskipun intensitasnya berbeda abtara satu fase
dengan fase berikutnya.
Mengakhiri bagian ini, berikut ini disampaikan tabel perbandingan isi UUPP No.4 Tahun
1950, UUSPN No.2 Tahun 1989 dengan Sisdiknas 2003, tabel pergeseran tujuan pendidikan di
Indonesia sejak masa kolonial Belanda, Jepang sampai masa kemerdekaan, serta sistem
persekolahan yang dianut sampai dengan diundangkanny UUSPN No.2 Tahun 1989 yang hingga
kini masih berlaku.
TABEL IV
PERBANDINGAN ISI UUPP NO.4 TAHUN 1950,
UUSPN NO.2 TAHUN 1989 DAN SISDIKNAS 2003
Bab UUPP NO.4 TAHUN 1950 UUSPN NO.2 TAHUN 1898

Sisdiknas 2003

Ketentuan Umum

Ketentuan Umum

Tujuan Pendidikan
Pengajaran

Dasar-dasar Pendidikan danHak Warga Negara UntukPrinsip Penyelanggaraan Pendidikan


Pengajaran
Memperoleh Pendidikan

Tentang Bahasa

Tentang Jenis PendidikanJenjang Pendidikan


dan
Pengajaran
dan
Maksudnya

Peserta Didik

Pendidikan Jasmani

Peserta Didik

Jalur, Jenjang, dan Jenis Pendidikan

Kewajiban Belajar

Tenaga Kependidikan

Bahasa Pengantar

Tentang Mendirikan danSumber Daya Manusia


Menyelenggarakan Sekolah

Wajib Belajar

Tentang Sekolah Partikelir Kurikulum

Standar Nasional Pendidikan

10

Tentang Guru

Haru Belajar dan Libur

Kurikulum

11

Tentang Murid-Murid

Bahasa Pengantar

Pendidik dan Tenaga Kependidikan

12

Tentang Pengajaran AgamaPenilaian


di Sekolah Negeri

Sarana dan Prasarana Pendidikan

13

Tentang

Pendanaan Pendidikan

Ketentuan Umum
danDasar, Fungsi, dan Tujuan

Satuan, Jalur
Pendidikan

dan

PendidikanPeran Serta Masyarakat

Dasar, Fungsi, dan Tujuan

JenisHak dan Kewajiban Warga Negara, Orang


tua, Masyarakat, dan Pemerintah

Campuran dan Pendidikan


Terpisah
14

Tentang Uang Sekolah danBadan


PertimbanganPengelolaan Pendidikan
Uang Alat-Alat Pengajaran Pendidikan Nasional

15

Tentang Liburan SekolahPengelolaan


dan Hari-Hari Sekolah

Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan

16

Tentang Pengawasan danPengawasan


Pemerliharaan Pendidikan
dan Pengajaran

Evaluasi, Akreditasi, dan Sertifikasi

17

Aturan Penutup

Ketentuan lain-lain

Pendirian Satuan Pendidikan

18

Ketentuan Pidana

Penyelenggaraan Pendidikan oleh Lembaga


Negara Lain

19

Ketentuan Peralihan

Pengawasan

20

Ketentuan Penutup

Ketentuan Pidana

21

Ketentuan Peralihan

22

Ketentuan Penutup

Dari tabel perbandingan di atas dapat diakatakan bahwa; pertama, UUPP No.4 tahun
1950 isinya bersifat terbatas baik dari sisi berlakunya, yakni untuk pendidikan dan pengajaran di
sekolah (Bab I pasal 1), sedang pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah ditetapkan dalam
undang-undang lain (pasal 2), maupun masa berlakunya yang sementara, yakni hanya berlaku di
daerah Republik Indonesia yang ketika itu ibu kotanya di Yogyakarta, lalu ditetapkan untuk
seluruh Indonesia melalui UUPP No.12 Tahun 1954. Sedangkan UUSPN No.2 Tahun 1989
isinya bersifat lebih luas, tidak hanya berlaku bagi sekolah semata, melainkan juga mencakup
sekolah-sekolah agama, misalnya madrasah, maupun cakupan isi sebagaimana tercermin dalam
bab dan pasalnya, lebih rinci dan komprehensif. Status demikian kian diperkuat dalam sisdiknas
2003.
Kedua, pelajaran agama menurut UUPP No.2 Tahun 1950diadakan di sekolah-sekolah
negeri, dan orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran tersebut atau
tidak (Bab XII pasal 1), sedang pelajaran agama menurut UUSPN No.2 Tahun 1989 mewajibkan
diberikannya pelajaran agama mulai dari TK sampai PT (negeri maupun swasta, bahkan dalam
PP No. 27 Tahun1990 tentang pendidikan prasekolah (TK), dinyatakan bahwa isi program
belajar pendidikan di TK meliputi pengembangan bidang agama). Kebijakan ini diteruskan
dalam Sisdiknas 2003. Jelas hal ini menunjukkan adanya penguatan unsur agama dalam
kebijakan pendidikan nasional.
Ketiga, sistem persekolahan berdasarkan UUPP No.4 Tahun 1950 dan UU No.22 Tahun
1961 berpola 2-6-3-3-5 tahun, masing-masing untuk TK-SD-SMP-SMA-PT, sedang sistem
persekolahan berdasarkan UUSPN No.2 Tahun 1989 berpola 2-6-3-3-4 tahun dengan
penghapusan jenajng Sarjana Muda sebagai Sarjana Strata Satu selama empat tahun. Perbedaan
lain, ada UUSPN No.2 TAHUN 1989 dan Sisdiknas 2003, diselenggarakan pendidika program
Diploma, jenjang Magister (Strata Dua), dan Doktor (Strata Tiga). Di samping itu, Bustanul
Athfal, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA),

memiliki status yang sejajar dengan TK, SD, SLTP, dan SMU. Untuk lebij jelasnya dapat dilihat
dalam Tabel VI di bagian akhir bab ini.
Keempat, beberapa pasal yang tidak dimuat dalam UUPP No.4 Tahun 1950, seperti hak
warga negara, satuan, jalur dan jenis-jenis pendidikan, kurikulum, peran serta masyarakat dan
BPPN, dimuat secara jelas dala UUSPN No.2 Tahun 1989. Sementara beberapa komponen
UUPP No.4 Tahun 1950 yang telah tidak sesuai, misalnya tentang pendidikan agama dan tujuan
pendidikan dari waktu ke waktu, sejak masa kolonial Belanda Jepang, awal Kemerdekaan hingga
terbentuknya UUSPN No.2 Tahun 1989, disajikan dalam tabel di bawah ini.
Kelima, pengembangan kurikulum secara mendasar terjadi pasa Sisdiknas 2003. Pada
UUSPN No.2 Tahun 1989 memberlakukan kurikulum 1994 yang dipandang sebagai
penyempurnaan kurikulum 1984, sedang kurikulum Berbasis kompetensi (KBK). Bedanya,
kurikulum 1994 (konvensional) berorientasi pada penguasaan isi/materi (content based),
sementara kurikulum 2004 berorientasi pada kemapuan (competency based). Perbedaan tersebut
mengakibatkan pola hubungan guru-murid menjadi lebih humanistik, proses belajar-mengajar
yang inetraktif-dinamis, serta evaluasi yang holistik. Bila kurikulum 1994 menekankan pada
pencapaian tujuan, maka Kurikulum Berbasis Kompetensi mengutamakan proses dan produk.

TABEL V
PERGESERAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL
KURUN WAKTU TUJUAN PENDIDIKAN ANALISIS
FAKTOR PERUBAHAN
Kurun Waktu Tujuan Pendidikan
Analisis Faktor Perubahan
Masa Belanda: Membentuk kelas elite
1. Sebelum 1900
Untuk memenuhi kebutuhan
2. Sesudah 1900
tenaga buruh, kepentingan
Membentuk kelas elite dan tenagakaum modal dan tenaga
terdidik murah
administrasi
Masa Jepang Memenuhi tenaga buruh dan militer Kepentingan perang Jepang
(1942-1945)
Tahun 1946
Membentuk warga negara yangs ejatiSemangat nasionalisme dan
dan dapat menyumbangkan tenaga danpatriotisme
pikiran untuk negara
UUPP
No.4 Membentuk Manusia susila yangPengaruh bentuk negara RIS
Tahun 1950
cakap dan warga negara yangdan
sistem
Demokrasi
demokratis serta bertanggung jawabParlementer
tentang kesejahteraan masyarakat dan
tanah air
KEPRES RI Melahirkan warga negara sosialIde Manipol USDEK dan
No.145 Tahun Indonesia
yang
susila
yang pengaruh PKI
1965
bertanggung
jawab
atas
terselenggaranya masyarakat sosialis

Indonesia, adil dan makmur baik


spiritual maupun materiil yang berjiwa
Pancasila, yaitu:
a. KeTuhanan Yang Maha Esa
b. Perikemanusiaan yang adil dan
beradab
c. Kebangsaan
d. kerakyatan
e. Keadilan
sosial,
seperti
yang
dijelaskan dalam Manipol USDEK
TAP MPRS RI Membentuk manusia Pancasila sejati
- Pembubaran PKI
No.XXVII/
berdasarkan
ketentuan-ketenutan
- Munculnya Orde Baru dengan
MPRS/1966
seperti yang dikehendaki oleh UUDsemangat kembali kepada
Bab II pasal 30 1945
Pancasila dan UUD 1945
GBHN 1973
Membentuk
manusia-manusiaKebijakan
politik
pembangunan yang berPancasila untukpembangunan dalam Repelita
membentuk manusia Indonesia yangI.
sehat jasmani dan rohaninya, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, dapat
mengemabngkan
kreativitas
dan
tanggung
jawab,
dapat
mengembangkan kecerdasan yang
tinggi dan disertai budi pekerti yang
luhur, mencintai bangsanya dan
mencintai sesama manusia sesuai
dengan ketentuan yang termasuk
dalam UUD 1945
GBHN 1978
Pendidikan nasional berdasarkan atasKebijakan
politik
Pancasila dan bertujuan untukpembangunan dalam Repelita I
meningkatkan ketawaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan,
keterampilan, mempertinggi budi
pekerti, memperkuat kepribadian dan
mempertebal semangat kebangsaan
agar dapat menumbuhkan manusiamanusia pembangunan yang dapat
memebangun dirinya sendiri serta
bersama-sama bertanggung jawab atas
pembangunan bangsa.
GBHN 1983
Menigkatkan ketaqwaan terhadapKebijakan
politik
Tuhan Yahg Maha Esa, kecerdasan danpembangunan dalam Repelita
keterampilan, mempertinggi budiII
pekerti, memperkuat kepribadian, dan

mempertebal semangat kebangsaan


dan cinta tanah air, agar dapat
menumbuhkan
manusia-manusia
pembangunan yang dapat memabngun
dirinya sendiri serta bersama-sama
bertanggung jawab atas pembangunan
bangsa.
GBHN 1988
Meningkatkan
kualitas
manusiaKebijakan
politik
Indonesia
manusia
Indonesia,pembangunan dalam Repelita
yaitumanusia yang beriman danIII dan menguatnya pengaruh
bertaqwa terhadap Tuhan Yang MahaUmat (Islam)
Esa,
berbudi
pekerti
luhur,
berkepribadia, berdisiplin, bekerja
keras, tangguh, bertanggungjawab,
mandiri, cerdas, terampil, serta sehat
jasmani dan rohani.
Sisdiknas 2003 Pendidikan
nasional
berfungsiKebijakan
reformasi
mengembangkan kemampuan danpendidikan nasional
memebentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan
untuk
berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi
manusia
yang beriman
dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratif serta
bertanggungjawab
Diolah dari berbagai sumber.
TABEL VI
SISTEM PERSEKOLAHAN UUSPN NO.2 TAHUN 1989
Usia
24

Pendidikan Doktor (STinggi


3)

23

Magister
(S-2)

22

Sarjana
(S-1)

21
20

Program
Doktor
(S-3)

Spesialis II
(SP II)

Program
Spesialis I
Magister (S(SP I)
2)
Program
Sarjana
(S-1)

Diploma 4 Diploma 3
(D-4) (D-3)

Diploma 2 Diploma 1
(D-2)
(D-1)

19

18 Pendidikan
17 Menengah
16

15 Pendidikan
14 Dasar
13

12
11

Madrasah
Aliyah
(MA)

Sekolah
Menengah
Umum
(SMU)

Sekolah
Menengah
Kejuruan
(SMK)

Madrasah
Tsanawiyah
(MTs)

Sekolah
Lanjutan
Tingkat
Pertama
(SMP)

Madrasah
Ibtidaiyah

Sekolah Dasar

10
9
8
7
6

Pra-Sekolah Bustanul Athfal (BA)


Raudhatul Athfal (RA)

Taman Kanak-Kanak

B. Perkembangan Pendidikan pada Masa Reformasi


Sejalan dengan adanya berbagai perbaikan politik tersebut di atas, telah menimbulkan
keadaan pendidikan era reformasi keadaannya jauh lebih baik dari keadaan pemerintah era Orde
Baru. Karena dibentuknya kebijakan-kebijakan pendidikan era reformasi, kebijakan itu antara
lain:
Pertama, kebijakan tentang pemantapan pendidikan islam sebagai bagian dari Sistem
pendidikan nasional. Upaya ini dilakukan melalui penyempurnaan Undang-Undang Nomor 2
Tahun 1989 menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional. Jika pada Undang-Undang No 2 Tahun 1989 hanya menyebutkan madrasah saja yang
masuk dalam system pendidikan nasional, maka pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
manyebutkan pesantren, mahad Ali, Roudhotul Athfal (Taman Kank-Kanak) dan Majlis Talim
termasuk dalam system pendidikan nasional. Dengan masuknya pesantren, mahad Ali,
Roudhotul Athfal (Taman Kank-Kanak) dan Majlis Talim ke dalam system pendidikan nasional
ini, maka selain eksistensi dan fungsi pendidikan islam semakin diakui, juga menghilangkan
kesan dikotomi dan diskriminasi. Sejalan dengan itu, maka berbagai perundang-undangan dan
peraturan tentang standar nasional pendidikan tentang srtifikasi Guru dan Dosen, bukan hanya

mengatur tentang Standar Pendidikan, Sertifikasi Guru dan Dosen yang berada di bawah
Kementerian Pendidikan Nasional saja, melainkan juga tentang Standar Pendidikan, Sertifikasi
Guru dan Dosen yang berada di bawah Kementerian Agama.
Kedua, kebijakan tentang peningkatan anggaran pendidikan. Kebijakan ini misalnya
terlihat pada ditetapkannya anggaran pendidikan islam 20% dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) yang di dalamnya termasuk gaji Guru dan Dosen, biaya operasional
pendidikan, pemberian beasisiwa bagi siswa kurang mampu, pengadaan buku gratis,
infrastruktur, sarana prasarana, media pembelajaran, peningkatan sumber daya manusia bagi
lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan
Nasional. Dengan adanya anggaran pendidikan yang cukup besar ini, pendidikan saat ini
mengalami pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan yang signifikan dibandingkan dengan
keadaan pendidikan sebelumnya, termasuk keadaan pendiidkan islam.
Ketiga, program wajib belajar 9 tahun, yaitu setiap anak Indonesia wajib memilki
pendidikan minimal sampai 9 tahun. Program wajib belajar ini bukan hanya berlaku bagi anakanak yang berlaku bagi anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan yang berada di bawah
naungan Kementeria Pendidikan Nasional, melainkan juga bagi anak-anak yang belajar di
lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Agama.
Keempat, penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Nasional (SBN), Sekolah Bertaraf
Internasional (SBI), yaitu pendidikan yang seluruh komponen pendidikannya menggunakan
standar nasional dan internasional. Dalam hal ini, pemerintah telah menetapkan, bagi sekolah
yang akan ditetapkan menjadi SBI harus terlebih dahulu mencapai sekolah bertaraf SBN.
Sekolah yang bertaraf nasional dan internasional ini bukan hanya terdapat pada sekolah yang
bernaung di bawah Kementerian Pendidikan Nasional, melainkan juga pada sekolah yamg
bernaung di bawah Kementerian Agama.
Kelima, kebijakn sertifikasi bagi semua Guru dan Dosen baik Negeri maupun Swasta,
baik umum maupun Guru agama, baik Guru yang berada di bawah naungan Kementerian
Pendidikan Nasional maupun Guru yang berada di bawah Kementerian Pendidikan
Agama.Program ini terkait erat dengan peningkatan mutu tenaga Guru dan Dosen sebagai tenaga
pengajar yang profesional. Pemerintah sangat mendukung adanya program sertifikasi tersebut
dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2005 tentang sertifikasi Guru dan
Dosen, juga mengalokasikan anggaran biayanya sebesar 20% dari APBN. Melalui program
sertifikasi tersebut, maka kompetensi akademik, kompetensi pedagogik (teaching skill),
kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial para Guru dan Dosen ditingkatkan.
Keenam, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK/tahun 2004) dan
kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP/tahun 2006). Melalui kurikulum ini para peserta
didik tidak hanya dituntut menguasai mata pelajaran (subject matter)`sebagaimana yang
ditekankan pada kurikulum 1995, melainkan juga dituntut memilki pengalaman proses
mendapatkan pengetahuan tersebut, seperti membaca buku, memahami, menyimpulkan,
mengumpulkan data, mendiskusikan, memecahkan masalah dan menganalisis. Dengan cara
demikian para peserta didik diharapkan akan memiliki rasa percaya diri, kemampuan
mengemukakan pendapat, kritis, inovatif, kreatif dan mandiri. Peserta didik yang yang demikian
itulah yang diharapkan akan dapat menjawab tantangan era globalisasi, serta dapat merebut
berbagai peluang yang terdapat di masyarakat.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ketujuh, pengembangan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya terpusat pada Guru
(teacher centris) melalui kegiatan teachimg, melainkan juga berpusat pada murid (student
centris) melalui kegiatan learnig (belajar) dan research (meneliti) dalam suasana yang
partisipatif, inovatif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dengan pendekatan ini metode
yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar bukan hanya ceramah, seperti diskusi, seminar,
pemecahan masalah, penugasan dan penemuan. Pendekatan proses belajar mengajar ini juga
harus didasarkan pada asas demokratis, humanis dan adil, dengan cara menjadikan peserta didik
bukan hanya menjadi objek pendidikan melainkan juga sebagai subjek pendidikan yang berhak
mengajukan saran dan masukan tentang pendekatan dan metode pendidikan.
Kedelapan, penerapan manajemen yang berorientasi pada pemberian pelayanan yang
naik dan memuaskan (to give good service and satisfaction for all customers). Dengan
pandangan bahwa pendidikan adalah sebuah komoditas yang diperdagangkan, agar komoditas
tersebut menarik minat, maka komoditas tersebut harus diproduksi dengan kualitas yang unggul.
Untuk itu seluruh komponen pendidikan harus dilakukan standarisasi. Standar tersebut harus
dikerjakan oleh sumber daya manusia yang unggul, dilakukan perbaikan terus menerus, dan
dilakukan pengembangan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Berkaitan dengan ini, maka di
zaman reformasi ini telah lahir Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi:
Standar Isi (kurikulum)
Standar Mutu Pendidikan
Standar Proses Pendidikan
Standar Pendidik dan tenaga kependidikan
Standar Pengelolaan
Standar Pembiayaan
Standar Penilaian.
Kesembilan, kebijakan mengubah sifat madrasah menjadi sekolah umum yang berciri
khas keagamaan. Dengan ciri ini, maka madrasah menjadi sekolah umum plus. Karena di
madrasah (Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah) ini, selain para siswa memperoleh pelajaran
umum yang terdapat pada sekolah umu seperti SD, SMP, dan SMU. Dengan adanya kebijakan
tersebut, maka tidaklah mustahil jika suatu saat madrasah akan menjadi pilihan utama
masyarakat.
Seiring dengan lahirnya berbagai kebijakan pemerintah tentang pendidikan nasional telah
disambut positif dan penuh optimisme oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama para pengelola
pendidikan. Berbagai inovasi dan kreatifitas dalam mengembangkan komponen-komponen
pendidikan telah bangyak bermunculan di lembaga pendidikan. Melalui dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) telah memberi peluang bagi masyarakat yang kurang mampu untuk
menyekolahkan putra putrinya. Melalui program sertifikasi Guru dan Dosen telah menimbulkan
perhatian kepada para Guru dan Dosen untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Melalui
program Kuirkulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) telah melahirkan suasana akademik dan dan proses belajar mengajar yang lebih kreatif,
inovatif dan mandiri. Demikian juga dengan adanya Standar Nasional Pendidikan telah timbul
kesadaran gagi kalangan para pengelola pendidikan untuk melakukan akreditasi terhadap
program studi yang dilaksanakan.

BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dan analisis sebagaimana tersebut diatas, maka dapat di kemukakan
beberapa catatan penutup sebagai berikut.
Pertama, pemerintah di era reformasi lahir sebagai koreksi, perbaiakan, dan
penyempurnaan atas berbagai kelemahan kebijakan pemerintah Orde Baru yang dilakukan
secarah menyeluruh, yang meluputi bidang politik, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
Berbagai kebijakan tersebut diarahkan pada sifat yang lebih demokratis, adil, transparan,
akuntabel, bertanggung jawab dan fairness dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil,
makmur, tertib, aman, dan sejahterah.
Kedua, Pendidikan bertujuan mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang
menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional perasaan
dan indera. Dengan demikian pendidikan menyandang misi keseluruhan aspek kebutuhan hidup
serta perubahan-perubahan yang terjadi, dan pemerintahan di era reformasi teleh melehirkan
sejumlah kebijakan strategis dalam bidang pendidikan yang pengaruhnya langsung dapat
dirasakan masyarakat.yaitu, kebijakan tentang pembaruan Undang-undang sistem pendidikan
nasional dari Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 menjadi Undang-undang Nomor 20 Tahun
2003 peningkatan jumlah anggaran pendidikan yang amat signifikan, yakni dari yang semula
hanya 5% menjadi 20% dari total anggaran APBN, perubahan kurikulum dari subjek matter ke
arah pengembangan para kompetensi para lulusan, peningkatan mutu pendidikan melalui
program sertifikasi, perubahan paradigma strategi, pendekatan dan metode pembelajaran ke arah
yang lebih terpusat pada peserta didik (studen center).
Ketiga, barbagai kebijakan pemerintahan era roformasi dalam bidang pendidikan tersebut
berlaku bukan hanya bagi sekolah umum yang bernaung di bawah kementrian pendidkan
nasional saja, melainkan juga berlakau bagi madrasah dan perguruan tinggi agama yang
bernaung di bawah kementrian agama. Dengan demikian kesan dikotomis antar pendidikan
agama dan pendidikan umum, dan kesan perlakuan diskriminasi pemerintah terhadap pendidikan
agama sudah tidak tampak lagi.
Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (2005, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional).
http://masarevormasi.blogspot.com/2012/07/normal-0-false-false-false-en-us-xnone.htmlacessed, 09 october 2013. 09.47 am.
Assegaf, Abd.Rachman, Politik Pendidikan Nasional Pergeseran Kebijakan Pendidikan Agama
Islam dari Praproklamasi ke Reformasi (Yogyakarta: Kurnia Kalam, 2005)