Anda di halaman 1dari 5

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

DINAS KESEHATAN
UPTD PUSKESMAS SIWALANKERTO
JL. SIWALANKERTO 134 SURABAYA (60236)
TELP. 031 8482487
KERANGKA ACUAN KEGIATAN
KESEHATAN LANSIA
A. PENDAHULUAN
Semakin majunya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terutama dalam
bidang Kesehatan memberikan dampak terhadap peningkatan usia harapan hidup.
Peningkatan usia harapan hidup terutama kualitas usia lanjut tidak diikuti oleh
peningkatan kualitas kehidupannya, karena secara fisiologis usia lanjut akan mengalami
banyak kemunduran dalam semua aspek kehidupannya. Hal ini dapat mengakibatkan
tingkat produktifitas dan kemandiriannya secara nyata semakin berkurang, karena
kemunduran ini mungkin akan menimbulkan ketergantungan pada orang lain. Namun
harus disadari bahwa manusia menjadi tua bukan suatu hal yang luar biasa, karena
proses ini adalah peristiwa yang alami yang sudah pasti datang pada orang-orang yang
berumur panjang.
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan
manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang
kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih
dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).
Penetapan usia 65 tahun ke atas sebagai awal masa lanjut usia (lansia) dimulai pada
abad ke-19 di negara Jerman. Usia 65 tahun merupakan batas minimal untuk kategori
lansia. Namun, banyak lansia yang masih menganggap dirinya berada pada masa usia
pertengahan. Usia kronologis biasanya tidak memiliki banyak keterkaitan dengan
kenyataan penuaan lansia. Setiap orang menua dengan cara yang berbeda-beda,
berdasarkan waktu dan riwayat hidupnya. Setiap lansia adalah unik, oleh karena itu
perawat harus memberikan pendekatan yang berbeda antara satu lansia dengan lansia
lainnya (Potter & Perry, 2009).
Klasifikasi pada lansia berdasarkan Depkes RI (2003) dalam Maryam dkk (2009)
yang terdiri dari : pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun,
lansia ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, lansia resiko tinggi ialah
seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
dengan masalah kesehatan, lansia potensial ialah lansia yang masih mampu melakukan
pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa, lansia tidak potensial
ialah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada
bantuan orang lain.

B. LATAR BELAKANG
Salah satu dampak keberhasilan pembangunan kesehatan adalah terjadinya
penurunan angka kelahiran, angka kesakitan dan angka kematian serta peningkatan
angka harapan hidup penduduk Indonesia. Indonesia termasuk dalam lima besar negara
dengan jumlah lanjut usia terbanyak di dunia. Berdasarkan sensus penduduk pada tahun
2010, jumlah lanjut usia di Indonesia yaitu 18,1 juta jiwa (7,6% dari total penduduk).
Pada tahun 2014, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia menjadi 18,781 juta jiwa
dan diperkirakan pada tahun 2025, jumlahnya akan mancapai 36 juta jiwa.
Lanjut Usia mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Berdasarkan UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan
bahwa untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat dilaksanakan
berdasarkan prinsip non diskriminatif, partisipatif dan berkelanjutan. Dalam undangundang kesehatan pasal 138 disebutkan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan bagi
lanjut usia harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara
sosial maupun ekonomis. Disamping itu, diupayakan dengan penerapan tata nilai di
puskesmas yaitu dengan kekeluargaan, profesional, berintegritas, disiplin, adil, gak
pantang menyerah, mandiri, amanah dan inovatif. Dengan penerapan tata nilai yang ada
diharapkan dapat meningkatkan kinerja kita untuk menjalankan kegiatan.
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Meningkatakan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa
tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyakat
sesuai dengan keberadaannya dalam strata kemasyarakatan.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri
kesehatannya.
b. Meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat termasuk
keluarganya dalam menghayati dan mengatasi kesehatan usia lanjut.
c. Meningkatkan jenis dan jangkauan kesehatan usia lanjut.
d. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut.
D. PERAN SERTA LINTAS PROGRAM DAN LINTAS SEKTOR
Kerjasama lintas program dan lintas sektor dalam kegiatan kesehatan lansia ini
sangat berperan, karena tanpa dukungan dari lintas program dan lintas sektor maka
kegiatan ini tidak dapat berjalan. Tim Pelaksana dari pemegang program yang
selanjutnya bekerjasama dengan program lain sebagai bahan dalam tindak lanjut
pengembangan Kesehatan Lansia sehingga pelaksanaan kegiatan ini dapat berjalan
dengan baik dan lancar. Selain itu juga kerjasama dengan kader dan masyarakat
juga diperlukan dalam pelaksanaan Kesehatan Lansia yang ada di masyarakat.

E. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


1. Pemeriksaan Kesehatan Usila di tingkat layanan Puskesmas
a. Pelayanan kesehatan dasar

2. Pembentukan Posyandu Usila


a. Sosialisasi tentang posyandu usila
b. Pembentukan kader usila
c. Penjelasan tentang tugas 5 meja di posyandu usila
d. Penjelasan tentang cara membaca dan mengisi KMS usila
e. Penjelasan tentang cara mengukur tekanan darah dan nadi
3. Pembinaan Posyandu Usila
a. Penyuluhan
b. Evaluasi pelaksanaan 5 meja
4. Skrening Kesehatan Usila
a. Pendataan usila sesuai usia dilakukan skrening yang dibantu kader
b. Melakukan skrening pada usila di posyandu dengan alat yang sudah
ditentukan
5. Senam Usila
Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan
kemampuan usia lanjut serta tetap merasa sehat dan bugar.
6. Refreshing Kader Usila
Dilakukan satu kali dalam satu tahun bertujuan untuk menyegarkan kader usila
mengenai kesehatan usila dan pelaksanaan posyandu usila.
7. Pencatatan dan pelaporan
F. SASARAN
1. Sasaran pembinaan Secara Langsung
a. Kelompok usia menjelang usia lanjut (45 -54 tahun) atau dalam virilitas
dalam keluarga maupun masyarakat luas.
b. Kelompok usia lanjut dalam masa prasenium (55 -64 tahun) dalam
keluarga, organisasi masyarakat usia lanjut dan masyarakat umumnya.
c. Kelompok usia lanjut dalam masa senescens (> 65 tahun) dan usia lanjut
dengan resiko tinggi (lebih dari 70 tahun) hidup sendiri, terpencil, hidup
dalam panti, penderita penyakit berat, cacat dan lain-lain.
d. Kader Usila
2. Sasaran Pembinaan Tidak Langsung
a. Keluarga dimana usia lanjut berada.
b. Masyarakat luas.
G. BIAYA
Kegiatan pelaksanaan Kesehatan Lansia didanai oleh BOK dan JKN.

H. JADWAL PELAKSANAAN
No
1.
3.
4.

Kegiatan
Posyandu
Senam
Refreshing
Kader

1
v

2
v

3
v

4
v

5
v

Bulan
6 7
v v

8
v

9
v

10 11 12
v v v

I. MONITORING,
EVALUASI
PELAKSANAAN
KEGIATAN
DAN
PELAPORAN
Monitoring adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam rangka pengawasan,
pengontrolan atau pengendalian terhadap suatu kegiatan yang akan, sedang atau
yang sudah dilaksanakan.
Agar kegiatan Kesehatan Lansia senantiasa sesuai dengan tuntutan / kebutuhan
setiap waktu, maka umpan balik dari lapangan sangat diperlukan. Untuk itu perlu
diadakan monitoring secara terus menerus, baik terhadap persiapan maupun proses
pelaksanaan sebagai penyempurnaan lebih lanjut.
Monitoring dilakukan oleh Koordinator UKM bersama Kepala Puskesmas
dengan tujuan adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana manfaat maupun
keberhasilan dari program tersebut, mengetahui kendala dan hambatan serta untuk
mengetahui penyimpangan penyimpangan yang mungkin terjadi baik pada tahap
perencanaan kegiatan dan pencapaian dari kegiatan yang dilaksanakan. Apabila
program ini ada yang kurang sesuai / menyimpang dapat dilakukan koreksi baik
pada perencanaan maupun pada saat proses pelaksanaan kegiatan tersebut.
Sehingga pelaksanaan kegiatan dapat sesuai dengan tujuan yang di tetapkan.
Evaluasi adalah salah satu kegiatan pembinaan melalui proses pengukuran
hasil yang dapat dibandingkan dengan sasaran yang telah ditentukan sebagai bahan
penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaan. Tujuan Evaluasi ini adalah untuk
memberikan umpan balik sebagai dasar penyempurnaan kegiatan dari program dan
mengukur keberhasilan seluruh proses kegiatan yang dilaksanakan pada akhir
kegiatan.
Pelaporan adalah Suatu kegiatan melaporkan / menyampaikan secara tertulis
segala kegiatan yang telah dilakukan, mencakup seluruh dari kegiatan yang
dilaksanakan. Adapun tujuan dari pelaporan adalah untuk mengetahui daya guna,
hasil guna dan tepat guna kegiatan serta penyimpangan-penyimpangan yang
mungkin terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan.

J. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN


Pelaporan program ini dilakukan oleh pemegang program dan dikirim ke Dinas
Kesehatan Kota Banjarmasin. Setelah dilakukan pelaporan sesuai dengan hasil
mengevaluasi tersebut dengan menganalisa laporan yang diterima dan
menyampaikan umpan balik penerimaan laporan dan hasil analisisnya dalam
rangka penilaian dan pengembangan kegiatan Kesehatan Lansia serta untuk
memicu kesinambungan pelaporan.

Kepala UPTD
Puskesmas Siwalankerto

5
drg. Gaguk Septijo
Widodo
Pembina / VI A
NIP 196009131987011002