Anda di halaman 1dari 9

PR IMAM TAQWA

1. Persiapan Pra Anestesi


Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan
(elektif/darurat) harus dipersiapkan dengan baik. Kunjungan
pra

anestesi

pada

bedah

elektif

dilakukan

1-2

hari

sebelumnya, dan pada bedah darurat sesingkat mungkin.


Kunjungan pra anestesi pada pasien yang akan menjalani
operasi dan pembedahan baik elektif dan darurat mutlak
harus dilakukan untuk keberhasilan tindakan tersebut.
Adapun tujuan kunjungan pra anestesi adalah:1,7
a. Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal.
b. Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat
anestesi yang sesuai dengan fisik dan kehendak
pasien.
c. Menentukan

status

fisik

dengan

klasifikasi

ASA

(American Society Anesthesiology):


ASA I

: Pasien

normal

sehat,

kelainan

bedah

terlokalisir, tanpa kelainan faali, biokimiawi,


dan psikiatris. Angka mortalitas 2%.
ASA II

: Pasien dengan gangguan sistemik ringan


sampai

dengan

sedang

sebagai

akibat

kelainan bedah atau proses patofisiologis.


Angka mortalitas 16%.
ASA III : Pasien dengan gangguan sistemik berat
sehingga aktivitas harian

terbatas. Angka

mortalitas 38%.
ASA IV : Pasien dengan gangguan sistemik berat yang
mengancam

jiwa,

tidak

selalu

sembuh

dengan operasi. Misal : insufisiensi fungsi

organ, angina menetap. Angka mortalitas


68%.
ASA V

: Pasien dengan kemungkinan hidup kecil.


Tindakan operasi hampir tak ada harapan.
Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa
operasi / dengan operasi. Angka mortalitas
98%.

ASA VI : Pasien mati otak yang organ tubuhnya akan


diambil (didonorkan)6
Untuk

operasi

cito,

ASA

ditambah

huruf

(Emergency) terdiri dari kegawatan otak, jantung, paru, ibu


dan anak.
a.

Pemeriksaan praoperasi anestesi7,8

I.

Anamnesis
1.

Identifikasi pasien yang terdiri dari nama,


umur, alamat, dll.

2.

Keluhan saat ini dan tindakan operasi yang


akan dihadapi.

3.

Riwayat penyakit yang sedang/pernah diderita


yang dapat menjadi penyulit anestesi seperti alergi,
diabetes

melitus,

penyakit

paru

kronis

(asma

bronkhial, pneumonia, bronkhitis), penyakit jantung,


hipertensi, dan penyakit ginjal.
4.

Riwayat obat-obatan yang meliputi alergi obat,


intoleransi obat, dan obat yang sedang digunakan
dan

dapat

menimbulkan

interaksi

dengan

obat

anestetik seperti kortikosteroid, obat antihipertensi,


antidiabetik, antibiotik, golongan aminoglikosid, dan
lain lain.

5.

Riwayat anestesi dan operasi sebelumnya yang


terdiri dari tanggal, jenis pembedahan dan anestesi,
komplikasi dan perawatan intensif pasca bedah.

6.

Riwayat

kebiasaan

sehari-hari

yang

dapat

mempengaruhi tindakan anestesi seperti merokok,


minum alkohol, obat penenang, narkotik
7.

Riwayat keluarga yang menderita kelainan


seperti hipertensi maligna.

8.

Riwayat

berdasarkan

sistem

organ

yang

meliputi keadaan umum, pernafasan, kardiovaskular,


ginjal,

gastrointestinal,

hematologi,

neurologi,

endokrin, psikiatrik, ortopedi dan dermatologi.


II.

Pemeriksaan Fisik
1.

2.

Keadaan psikis : gelisah,takut, kesakitan

Keadaan gizi : malnutrisi atau obesitas


3.

Tinggi dan berat badan. Untuk memperkirakan


dosis obat, terapi cairan yang diperlukan, serta
jumlah urin selama dan sesudah pembedahan.

4.

Frekuensi

nadi,

tekanan

darah,

pola

dan

frekuensi pernafasan, serta suhu tubuh.


5.

Jalan nafas (airway). Jalan nafas diperiksa


untuk mengetahui adanya trismus, keadaan gigi
geligi, adanya gigi palsu, gangguan fleksi ekstensi
leher, deviasi ortopedi dan dermatologi. Ada pula
pemeriksaan mallampati, yang dinilai dari visualisasi
pembukaan mulut maksimal dan posisi protusi lidah.
Pemeriksaan

mallampati

menentukan

kesulitan

sangat
atau

penting
tidaknya

untuk
dalam

melakukan intubasi. Penilaiannya yaitu:


i.

Mallampati I
dinding posterior

: palatum molle, uvula,

oropharynk,

tonsilla

palatina

dan

tonsilla

pharingeal
ii.

Mallampati II

palatum

molle,

sebagian uvula, dinding


posterior uvula
iii.

Mallampati III

: palatum molle, dasar

Mallampati IV

: palatum durum saja

uvula
iv.
6.

Jantung, untuk mengevaluasi kondisi jantung

7.

Paru-paru, untuk melihat adanya dispneu, ronki


dan mengi

8.

Abdomen,

untuk

melihat

adanya

distensi,

massa, asites, hernia, atau tanda regurgitasi.


9.

Ekstremitas, terutama untuk melihat adanya


perfusi distal, sianosis, adanya jari tabuh, infeksi
kulit, untuk melihat di tempat-tempat pungsi vena
atau daerah blok saraf regional

III.

Pemeriksaan laboratorium dan penunjang lain

Lab rutin :
1.

Pemeriksaan lab. Darah

2.

Urine : protein, sedimen, reduksi

3.

Foto rongten ( thoraks )

4.

EKG

Pemeriksaan khusus, dilakukan bila ada indikasi :


1.

EKG pada anak

2.

Spirometri pada tumor paru

3.

Tes fungsi hati pada ikterus

4.

Fungsi ginjalpada hipertensi

5.

AGD, elektrolit.

2.Pemberian transfusi darah ??


JENIS TRANSFUSI DARAH

Darah lengkap (whole blood)

Darah lengkap mempunyai komponen utama yaitu eritrosit, darah lengkap juga
mempunyai kandungan trombosit dan faktor pembekuan labil (V, VIII). Volume
darah sesuai kantong darah yang dipakai yaitu antara lain 250 ml, 350 ml, 450 ml.
Dapat bertahan dalam suhu 42C. Darah lengkap berguna untuk meningkatkan
jumlah eritrosit dan plasma secara bersamaan. Hb meningkat 0,90,12 g/dl dan Ht
meningkat 3-4 % post transfusi 450 ml darah lengkap. Tranfusi darah lengkap
hanya untuk mengatasi perdarahan akut dan masif, meningkatkan dan
mempertahankan proses pembekuan. Darah lengkap diberikan dengan golongan
ABO dan Rh yang diketahui. Dosis pada pediatrik rata-rata 20 ml/kg, diikuti
dengan volume yang diperlukan untuk stabilisasi.
Indikasi :
1. Penggantian volume pada pasien dengan syok hemoragi, trauma atau luka
bakar
2. Pasien dengan perdarahan masif dan telah kehilangan lebih dari 25% dari
volume darah total.
Rumus kebutuhan whole blood
6 x Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB
Ket :
-Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal
-Hb pasien : Hb pasien saat ini
Darah lengkap ada 3 macam. Yaitu :
1. Darah Segar
Yaitu darah yang baru diambil dari donor sampai 6 jam sesudah pengambilan.
Keuntungan pemakaian darah segar ialah faktor pembekuannya masih lengkap
termasuk faktor labil (V dan VIII) dan fungsi eritrosit masih relatif baik.
Kerugiannya sulit diperoleh dalam waktu yang tepat karena untuk pemeriksaan
golongan, reaksi silang dan transportasi diperlukan waktu lebih dari 4 jam dan
resiko penularan penyakit relatif banyak.

1. Darah Baru
Yaitu darah yang disimpan antara 6 jam sampai 6 hari sesudah diambil dari donor.
Faktor pembekuan disini sudah hampir habis, dan juga dapat terjadi peningkatan
kadar kalium, amonia, dan asam laktat.
1. Darah Simpan
Darah yang disimpan lebih dari 6 hari sampai 35 hari. Keuntungannya mudah
tersedia setiap saat, bahaya penularan lues dan sitomegalovirus hilang. Sedang
kerugiaannya ialah faktor pembekuan terutama faktor V dan VIII sudah habis.
Kemampuan transportasi oksigen oleh eritrosit menurun yang disebabkan karena
afinitas Hb terhadap oksigen yang tinggi, sehingga oksigen sukar dilepas ke
jaringan. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar 2,3 DPG. Kadar kalium,
amonia, dan asam laktat tinggi.

Sel darah merah

Packed red cell


Packed red cell diperoleh dari pemisahan atau pengeluaran plasma secara tertutup
atau septik sedemikian rupa sehingga hematokrit menjadi 70-80%. Volume
tergantung kantong darah yang dipakai yaitu 150-300 ml. Suhu simpan 42C.
Lama simpan darah 24 jam dengan sistem terbuka.(3)
Packed cells merupakan komponen yang terdiri dari eritrosit yang telah
dipekatkan dengan memisahkan komponen-komponen yang lain. Packed cells
banyak dipakai dalam pengobatan anemia terutama talasemia, anemia aplastik,
leukemia dan anemia karena keganasan lainnya. Pemberian transfusi bertujuan
untuk memperbaiki oksigenasi jaringan dan alat-alat tubuh. Biasanya tercapai bila
kadar Hb sudah di atas 8 g%.
Untuk menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr/dl diperlukan PRC 4 ml/kgBB atau 1
unit dapat menaikkan kadar hematokrit 3-5 %. Diberikan selama 2 sampai 4 jam
dengan kecepatan 1-2 mL/menit, dengan golongan darah ABO dan Rh yang
diketahui.
Kebutuhan darah (ml) :
3 x Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB
Ket :

-Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal


-Hb pasien : Hb pasien saat ini
Tujuan transfusi PRC adalah untuk menaikkan Hb pasien tanpa menaikkan
volume darah secara nyata. Keuntungan menggunakan PRC dibandingkan dengan
darah jenuh adalah:
1. Mengurangi kemungkinan penularan penyakit
2. Mengurangi kemungkinan reaksi imunologis
3. Volume darah yang diberikan lebih sedikit sehingga kemungkinan
overload berkurang
4. Komponen darah lainnya dapat diberikan pada pasien lain.
Indikasi: :
1. Kehilangan darah >20% dan volume darah lebih dari 1000 ml.
2. Hemoglobin <8 gr/dl.
3. Hemoglobin <10 gr/dl dengan penyakit-penyakit utama : (misalnya
empisema, atau penyakit jantung iskemik)
4. Hemoglobin <12 gr/dl dan tergantung pada ventilator
3.

Komplikasi posisi litotomi ??


Walaupun beberapa komplikasi telah dilaporkan, termasuk

rasa terbakar pada jari, low back pain (14%) pada pasien post
operasi, rhabdomiolisis, dan peningkatan kreatinin kinase akibat
kompresi otot betis dan iskemia, tidak ada satupun yang
ditemukan pada anak-anak.

Sindrom compartment, sangat jarang tetapi merupakan

komplikasi yang mengancam jiwa, terjadi setelah prosedur yang


cukup lama pada kelompok usia pediatrik. Fasciotomi diperlukan
untuk pemulihan sindrom compartment,
Untuk prosedur yang cukup lama, penggunaan penyangga kaki
yang ditempatkan pada fossa poplitea atau betis sebaiknya
dihindari.

Hipotensi sistemik sebaiknya dihindari dan resiko pemberian


zat-zat vasokonstriktor yang menurunkan aliran darah perifer
sebaiknya harus diperhatikan.

Rehidrasi yang adekuat dan alkalinisasi urine adalah hal

terpenting pada terapi gagal ginjal akut.

Neuropati persisten dilaporkan terjadi pada 1 per 3608

populasi pada pasien-pasien bedah yang teranestesi. Pada


pasien yang kurus dengan BMI lebih dari 20, diabetes mellitus
dan

penyakit

predisposisi

vaskular

pada

perifer

pasien

untuk

pada

perokok

berkembangnya

merupakan
neuropati

ektremitas bawah. Prosedur yang lama (lebih dari 4 jam)


menunjukkan hubungan yang difinitif. Setiap jam pada posisi
lithotomi meningkatkan resiko neuropati motorik 100 kali.

40% neuropati sciatik yang diisolasi berhubungan dengan

operasi yang menggunakan posisi litotomi. cedera nervus sciatik


dapat

terjadi

melakui

prosedur

yang

singkat.

Mekanisme

perkembangan dari neuropraksia termasuk perubahan iskemik


sindrom compartment atau kompresi langsung pada saraf.
Nervus sciatik dapat terkena kekuatan regangan yang eksesif.
Nervus peroneus communis dan cabang distalnya adalah nervus
motorik utama yang pada ekstremitas bawah paling umum
terkena pada posisi litotomi. Nervus peroneus communis dapat
terkompresi oleh bagian atas penyangga besi kaki ketika
melewati

kaput

fibula

pada

saat

kaki

ditempatkan

pada

sanggahan besi. Hal ini dapat ditambah dari tekanan yang


diberikan asisten bedah yang bersandar pada lutut pasien.
Nervus saphenus dapat terkompresi karena nervus ini berada
pada bagian superfisial dekat dari malleolus media pada saat
kaki diletakkan.
Neuropati femoral dilaporkan dan diduga merupakan hasil dari
abduksi yang berlebihan dari paha dengan rotasi eksternal pada

panggul sehingga menyebabkan iskemik pada nervus femoralis


karena terlipat pada ligamentum inguinal.
4.Obat obat emergency??
1.Epinefrin
2.Heparin
3.dopamin
4.dobutamin
5.Sulfas atropin
6.Magnesium sulfat
7.Morfin
8.Kortikosteroid
9.Natrium bicarbonat
10.kalsium gluconas
11.furosemid
12.Diazepam
13.Aminopilin
14.Efedrin
15.Manitol