Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu permasalahan yang dihadapi secara seri oleh setiap negara
didunia adalah masalah kemiskinian. Kemiskinan bisa terjadi dimana saja dan
dimensi kemiskinan itu sangatlah luas. Kemiskinan bisa saja terjadi dikalangan
masyarakat manapun, bisa terjadi diberbagai tingkat usia manapun maupun
diberbagai tingkat usia maupun diberbagai tingkat pendapatan masyarakat.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi
kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan
kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh
kebutuhan

dasar,

ataupun

sulitnya

akses

terhadap

pendidikan

dan

pekerjaan.Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami


istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yanga lainnya melihatnya
dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut
ilmiah yang telah mapan,dll.Dalam Al-Quran Q.S Ibrahim 34 :

Artinya : Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang
kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah,
tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu,
sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

Suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup untuk memelihara


dirinya sendiri yang sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak
mampu untuk memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelempok
tersebut. Kemiskinan dianggap sebagi problema sosial apabila perbedaan
kedudukan ekonomi dan warga masyarakat di tetapkan secara tegas.Pada
masyarakat yang masih sederhana susunan-susunan dan organisasi kemiskinan
bukan merupakan problema sosial karena mereka menganggap semuanya

sudah di takdirkan sehingga usaha-usaha untuk mengatasinya mereka tidak


terlalu memperhatikan keadaan tersebut kecuali apabila mereka betul-betul
menderita karenanya.Pada masyarakat modern yang kompleks kemiskinan
menjadi problema social seseorang merasa miskin bukan karena kurang makan,
pakaian atau perumahan tapi harta miliknya dianggap kurang cukup untuk
memenuhi taraf-taraf kehidupan yang ada.
Kota Bandung sebagai kota sentral ekonomi di daerah Jawa Barat adalah
kota yang mempunyai perkembangan yang tumbuh dengan pesat, oleh karena
itu maka pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarana kota untuk
menunjang kelancaran dari pertumbuhan kota Bandung itu sendiri. Kota
Bandung dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang luar
biasa. Perkembangan yang dimaksud terjadi juga dalam aspek ekonomi ataupun
sosial, dan juga dalam pemanfaatan ruang kota. Sebagai salah satu fenomena
sosial dan ekonomi di masyarakat sekarang ini di mana banyak hal yang bisa
dilakukan demi untuk melangsungkan kehidupan yang layak. Tetapi tidak semua
orang dalam kehidupannya punya jalan hidup yang sama. Di mana terdapat
bebagai perbedaan di antaranya perbedaan dalam hal mata pencaharian. Begitu
pula yang terjadi dikota bandung, kemiskinan menjadi masalah yang masih
belum bisa diatasi meskipun banyaknya kegiatan ekonomi yang menunjang
kehidupan masyarakatnya tetapi tetap saja taraf kehidupan masyarakat Rendah,
atau tingkat kemiskinan di kota bandung masih sangat tinggi itu dibuktikan
dengan melihat hasil susenas (survey sosial dan ekonomi nasional), adapun
penyebab kemiskinan yaitu :

Huhh

Hjhjj

Vfvyh

Ugbguh

hhnh

Untuk mengetahui bagaimana tingkat kemiskinan dikota bandung maka


dilakukan analisis di tiga kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung, yaitu
Kecamatan Coblong, Kecamatan Cicendo dan Kecamatan Mandalajati, Untuk
kondisi ekonomi pada Kecamatan Coblong, dapat dikatakan masih dibawah rata-

rata, karena meskipun banyak kegiatan ekonomi yang ada di kecamatan coblong
itu tidak menjamin bahwa keadaan masyarakatnya terjamin, karena jika dilihat
secara luas dibeberapa kelurahan yang ada di kecamatan ini masih ada yang
taraf ekonominya rendah, permukiman kumuh, dan banyak rumah yang tidak
layak ditempati, untuk tingkat kemiskinan di Kecamatan Cicendo masih ditaraf
stabil keadaan lingkungan dan keadaan ekonominya bisa mengimbangi taraf
hidup masyarakat, meskipun ada beberapa kelurahan yang tingkat ekonominya
dibawah rata-rata, tetapi ini masih ditingkat stabil, dan untuk Kecamatan
Mandalajati adalah yang paling tinggi tingkat kemiskinannya, selain mandalajati
merupakan kecamatan baru hasil pemekaran dari Kecamatan Cicadas lama
(sekarang Kec Antapani) dan Kec Arcamanik, selain padat penduduk, kecamatan
ini tidak banyak kegiatan ekonomi yang menunjang masyarakatnya sehingga
tidak bisa menunjang kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, berdasarkan
kondisi di atas perlu dicari indikator yang memepengaruhi tingkat kemiskinan di
tiga kecamatan tersebut, serta di kecamatan mana yang tingkat kemiskinannya
paling tinggi.
1.2 Tujuan dan Sasaran
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah untuk dapat
menentukan wilayah kecamatan mana yang memiliki tingkat kemiskinan paling
besar yang sesuai standar dan kriteria yang ditentukan, dengan wilayah yang
telah ditentukan yaitu, Kecamatan Coblong, Kecamatan Cicendo dan Kecamatan
Mandalajati. Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah
sebagai berikut :

Dapat membandingkan antara kriteria yang satu dengan kriteria yang


lainnya, Kecamatan mana yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi.

Menilai atau mempertimbangkan secara subjektif tentang seberapa


pentingnya antara kriteria kriteria yang diinginkan dalam penentuan,
kecamatan mana yang memilki tingkat kemiskinan tinggi.

Mengambil keputusan yang efektif dari beberapa alternatif dalam


penentuan kecamatan mana yang memiliki tingkat kemiskinan yang
tinggi.

1.3 Ruang Lingkup


Ruang lingkup pada kajian ini terdiri atas ruang lingkup wilayah yang
terdiri dari, ruang lingkup makro yang memaparkan secara umum kondisi wilayah
studi dan ruang lingkup secara mikro yang memaparkan letak daerah dimana
objek kajian yang diobservasi dan ruang lingkup materi yang memaparkan
batasan materi yang dikaji.
1.3.1 Ruang Lingkup Makro
Secara geografis Kota Bandung terletak di wilayah Jawa Barat dan
merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak di antara 107 0
430 Bintang Timur dan 60 00 60 20 Lintang Selatan. Kota Bandung memiliki luas
wilayah 167,45 Km yang terbagi menjadi 30 kecamatan, 139 Kelurahan, 1.494
Rukun Warga dan 4.9.205 Rukun Tetangga.Adapun batas-batas administratif
Kota Bandung, sebagai berikut :

Utara

: Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.

Timur

: Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung.

Barat

Jalan Terusan Pasteur Kecamatan Cimahi Utara,

Cimahi Selatan dan Kota Cimahi.

Selatan : Kecamatan Dayeuh Kolot, Bojongsoang, Kabupaten Bandung.


Kota Bandung terletak pada ketinggian 768 Meter di atas permukaan laut,

titik tertinggi di daerah Utara dengan ketinggian 1.050 Meter dan terendah di
sebelah Selatan adalah 675 Meter di atas permukaan laut. Kota Bandung di
bagian Selatan permukaan tanah relative datar, sedangkan di wilayah Kota
Bandung bagian Utara berbukit-bukit, sehingga merupakan panorama yang
indah (BPS Kota Bandung, 2012).
Iklim asli kota Bandung dipengaruhi oleh pegunungan di sekitarnya
sehingga cuaca yang terbentuk sejuk dan lembab. Temperatur rata-rata yaitu
23,3 oC dan mencapai suhu tertinggi yaitu pada bulan April yaitu 30,2 oC. Curah
hujan rata-rata di Kota Bandung yaitu 322,4 mm (BPS Kota Bandung,2012).
1.3.2 Ruang Lingkup Wilayah Mikro

Ruang lingkup wilayah mikro ini memaparkan letak daerah-daerah


dimana objek kajian yang diobservasi, yang terdiri dari bebrapa kecamatan yaitu
Kecamatan Coblong, Kecamatan Cicendo dan Kecamatan Mandalajati.

1.3.2.1 Ruang Lingkup Wilayah Mikro Kecamatan Coblong


Kecamatan Coblong merupakan salah satu Kecamatan dari 30
kecamatan yang berada di Kota Bandung dengan luas wilayah 743,3 Ha.
Kecamatan Coblong dengan jumlah penduduk 105.689 jiwa dari 75 Rukun
Warga (RW) dan 464 Rukun Tetangga (RT) dengan kepadatan penduduk 137
jiwa / Ha.Mempunyai batas wilayah sebgai berikut :

Utara

: Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung

Timur

: Kecamatan Cibeunying Kaler

Selatan

: Kecamatan Bandung Wetan

Barat

: Kecamatan Sukajadi dan Kecamatan Cidadap

1.3.2.2 Ruang Lingkup Wilayah Mikro Kecamatan Cicendo


Kecamatan Cicendo, merupakan salah satu kecamatan dari 30
Kecamatan yang ada di Kota Bandung. Sebagai pintu gerbang sebelah barat
kota Bandung, secara geografis Kecamatan Cicendo terletak di sebelah Barat
Kota Bandung dengan Luas Wilayah 688,84 ha. Dengan kepadatan penduduk
rata-rata 138 jiwa per ha. Wilayah kecamatan terbagi dalam 6 kelurahan, 18
lingkungan , 56 Rukun Warga dan 413 Rukun Tetangga, dengan batas wilayah
sebagai berikut :

Utara
Selatan
Timur
Barat

: kecamatan sukajadi,
: kecamatan andir,
: kecamatan sumur bandung dan bandung wetan,
: kota cimahi

1.3.2.3 Ruang Lingkup Wilayah Mikro Kecamatan Mandalajati


Secara geografis wilayah kecamatan Mandalajati merupakan salah satu
dari 30 kecamatan yang ada di kota bandung, terletak di bagian timur kota
bandung, Kec Mandalajati, merupakan kecamatan baru hasil pemekaran dari
Kecamatan Cicadas lama (sekarang Kec Antapani) dan Kec Arcamanik, dengan

luas wilayah 717 Ha, dengan jumlah penduduk 49.531 jiwa. Kecamatan
Mandalajati, terdiri dari 4 kelurahan ( Jatihandap, Karang pamulang, Pasirimpun
dan Sindangjaya), dengan jumlah 47 RW dan 278 RT, dengan batas wilayah
sebagai berikut :

Bagian Selatan

Bagian Utara : Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung

Bagian Timur : Kecamatan Ujungberung Kota Bandung

Bagian Barat : Kecamatan Cibeunying Kidul Kota Bandung


1.3.2

: Kecamatan Antapani Kota Bandung

Ruang Lingkup Materi


Ruang lingkup materi dalam kajian ini terfokus dalam mencari Kecamatan

yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi yang diharapkan. Pemilihan Kecamatan


dengan

tingkat

kemiskinan

tinggi

dipilih

sesuai

dengan

pertimbangan-

pertimbangan tertentu, dengan melihat berbagai faktor dan kriteria - kriteria yang
telah ditetapkan oleh masing-masing responden mengeni penentuan Kecamatan
dengan tingkat kemiskinan tinggi yang diharapkan. Untuk mendapatkan jawaban
dari responden kami menyebarkan kuisioner yang berisi pertanyaan tentang
kriteria - kriteria apa saja yang akan dipilih dalam mencari penentuan Kecamatan
dengan tingkat kemiskinan tinggi yang diharapkan.
Terdapat tiga faktor penilai yang menjadi materi yang dipergunakan
sebagai pertimbangan dalam mencari penentuan Kecamatan dengan tingkat
kemiskinan tinggi yang diharapkan yaitu faktor BPS, Kantor Kecamatan dan
BKKBN
1.4 Metodologi
Metodologi yang digunakan untuk mendukung kajian ini adalah metode
pendekatan studi yang dilengkapi dengan penjabaran variabel, metode
pengumpulan data dan metode analisis.
1.4.1 Metode Pendekatan

Metode

pendekatan

studi

yang

dipergunakan

dalam

kajian

ini

menggunakan metode pendekatan pohon hirarki, prinsip dari pendekatan


metode ini adalah untuk menentukan variabel apa yang mempengaruhi
penentuan Kecamatan dengan tingkat kemiskinan tinggi yang diharapkan. Untuk
membuat pohon hirarki, sebelumnya kita harus mengumpulkan variabel-variabel
yang berkepentingan dalam kasus ini, setelah mengumpulkan variabel maka
terjadi pengelompokan dalam pohon hirarki yang memiliki keterkaitan satu sama
lain.
Untuk membuat pohon hirarki yang mengacu pada keadaan real maka
perlunya ada interaksi langsung dari peneliti terhadap para ahli di bidang ini.
maka kami sebagai peneliti akan melakukan interaksi kepada masyarakat untuk
menentukan penempatan subvariabel pada variabel yang memiliki hubungan
yang sangat tinggi dari pada variabel lain.
1.4.2

Metode Pengumpulan Data


Dalam kajian ini telah dilakukan pengumpulan data untuk menunjang

studi atau kajian yang secara garis besar akan di paparkan di bawah ini:
Survey Primer
Data yang diperoleh dari survey lapangan dengan langsung mengamati
obyek sasaran kajian. Adapun bentuk survey primer, diantaranya yaitu:

Wawancara

Wawancara yang telah dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan


kepada beberapa masyarakat yang akan memberikan informasi tentang kriteria
kriteria dalam mencaripenentuan Kecamatan dengan tingkat kemiskinan
tinggiyang diharapkan.

Dokumentasi

Dokumentasi yang dilakukan yaitu dengan cara mengambil gambar atau foto
lokasi penentuan di Kecamatan Coblong, Kecamatan Cicendo, dan Kecamatan
Mandalajati.
Survey Sekunder
Data survey sekunder diperoleh dari literatur yaitu internet dan buku maupun
pedoman yang ada dan juga memperoleh data dari bebrapa instansi yang

terkaituntuk mendapatkan data dan informasi terkait dengan penentuan


Kecamatan dengan tingkat kemiskinan tinggi yang diharapkan.
1.4.3

Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah metode analisis

hirarki proses (AHP) yang berguna sebagai

salah satu model analisis

pengambilan keputusan yang efektif atas persoalan yang kompleks dengan


menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan melalui
pemecahan persoalan tersebut kedalam bagian bagiannya, menata variabel ke
dalam suatu susunan hirarki, memberikan nilai numerik pada pertimbangan
subjektif tentang pentingnya tiap variabel, dan mensintesiskan berbagai
pertimbangan untuk menetapkan variabel.
Beberapa keunggulan Metode Analisis Hirarki Perencanaan ini, diantaranya :

Mampu menghadapi situasi kompleks dan tidak tersturktur (data dan informasi
statistik sangat minim bahkan tidak ada sama sekali.

Dapat menangani saling ketergantungan elemen - elemen dalam suatu sistem


dan tidak memaksakan pemikiran linier.

Ahp memberi suatu skala dalam mengukur hal-hal yang tidak terwujud untuk
mendapatkan proiritas.

AHP melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang


digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas.

AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap


alternatif

AHP mempertimbangkan prioritas prioritas relatif dari berbagai faktor sistem


dan memungkinkan memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan.

AHP memungkinkan orang memperhalus defiinisi pada suatu persoalan dan


memperbaiki pertimbangan dan pengertian melalui peluang.
Sedangkan kelemahan yang dimiliki metode ini adalah skala banding

berpasangan yang mempunyai nilai 1-9 dan data yang digunakan adalah data
primer dari hasil kuisioner di lapangan.

Tabel 1.1 Skala Penilaian Tingkat Kepentingan Pasangan Faktor


Skala

Defiinisi

Keterangan

Kepentingan
1

Sama penting

Sedikit lebih penting

5
7

Kedua faktor mempunyai dukungan sama


penting terhadap tujuan
Terlihat nyata pentingnya faktor tersebut
dibanding

faktor

lainnya,

tetapi

tidak

Perlu dan kuat

meyakinkan
Jelas, nyata dan terbukti lebih penting dari

kepentingannya
Menyolok

yang lain
Jelas, nyata dan terbukti jauh lebih penting

kepentingannya

dari yang lain


Jelas, nyata dan terbukti secara meyakinkan

Mutlak penting

faktor tersebut sangat lebih penting dalam


pemufakatan yang paling ekstrim

Sumber : Modul Praktikum Metode Analisis Perencanaan, 2013

1.5 Sistematika Penulisan


Laporan ini terdiri dari :
BAB I

PENDAHULUAN
Bab pendahuluan ini berisikan tentang latar belakang, tujuan,
dan sasaran, ruang lingkup kajian, meliputi ruang lingkup
wilayah, dan ruang lingkup materi, metodologi kajian yang
meliputi metode pendekatan, metode pengumpulan data dan
metode analisis, serta sistematika penyajian.

BAB II

LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan penjelasan mengenai analisis hirarki
proses / AHP dan Expert Choice.

BAB III

GAMBARAN UMUM DAN VARIABEL YANG DIGUNAKAN


Berisikan penjelasan tentang gambaran umum tentang
kawasan studi dan penentuan objek dan variabel penelitian.

10

BAB IV

ANALISIS
Berisikan output analisis dan interpretasi hasil analisis.

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

11