Anda di halaman 1dari 13

Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi.

Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses
dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella
thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan
paratyphoid

abdominalis.

(Syaifullah

Noer,

1996).

Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang
disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal,
oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).
Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber
penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier.
Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi
salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F
yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan / kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan
melalui

Feses.

Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi
kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan
hinggap dimakanan yang akan dimakan oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang
memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar
kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman
masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan
sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam
jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai selsel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam
sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan
kandung empedu.
1. Gejala thypoid
Gejala klinis demam tifoidpada anak bisanya lebih ringan jika dibandingkandengan
penderita dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Yang tersingkat4 hari jikainfeksiterjadi
melalui makanan, sedangkan yang terlama sampai 30 hari jika infeksimelalui minuman.
Selama masa inkubasi mungkin di temukan gejala prodromal, yaituperasaan tidak enak
badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat.

Kemudiaan muncul gejala klinis yang biasanya ditemukan, yaitu :


1. Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febrisremiten dan suhu
tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuhberangsur-angsur meningkat setiap
hari, biasanya menurun setiap pagi hari danmeningkat pada sore dan malam hari. Dalam
minggu ketiga suhu badanberangsur-angsur turundan normal kembali pada akhir minggu
ketiga.
2.Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah.Lidah ditutupi
selaput putih kotor (coated tangue), ujung dan tepinya kemerehan,jarang disertai tremor. Pada
abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung(meteorismus). Hati dan limpa
membesar disertai nyeri pada perabaan.
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu
apatis sampai somnolen. Jarang terjadi spoor, koma atau gelisah.
Roseola lebih sering terjadi pada akhir minggu pertama dan awal minggukedua.
Merupakan sutu nodul kecil sedikit menonjol dengan diameter 2-4 mm,berwarna merah pucat
serta hilang pada penekanan. Reseola ini merupakan embolikuman, dimana didalamnya
mengandung kuman Salmonella tyhosa dan terutamadidapatkan di daerah perut, dada,
kadang-kadang di pantat maupun bagian fleksor danlengan atas. Kadang-kadang ditemukan
bradikardia pada anak besar dan mungkinpula ditemukan epistaksis.
Pada tipe congenital, kuman dapat ditemukan pada darah, hati, limfa sertakelainan
patologis pada usus tidak didapatkan, hal ini menjelaskan bahwa pada tifoidcongenital
penularannya lewat darah dan secara cepat menimbulkan gejala-gejalatifoid seperti pada
janin. Demam tifoid pada anak dibawah usia 3 tahun jarangdilaporkan, bila terjadi biasanya
gambaran klinisnya berbeda dengan anak yang lebihbesar. Kejadiannya sering mendadak
disertai panas tinggi, muntah-muntah, kejang-kejang dan tanda-tanda rangsang meningen.
Pada pemeriksaan darah, terlihatlekositosis (20.000-25.000/mm), limpa sering teraba pada
pemeriksaan fisik.Perjalanan penyakit lebih pendek, lebih variasi, sering tidak melebihi 2
minggudengan

angka

kematian

yang

tinggi

(12,5%).

Diagnosis

ditegakkan

denganditemukannya kuman Salamonella typhii dalam darah dan feces. Reaksi widal
akanmengukur antibody terhadap kuman tifoid. Pada awal terjadinya penyakit, widal
akanpositif dan dalam perkembangan selanjutnya misalnya 1-2 minggu kemudian
akansemakin meningkat mesti demam tifoid telah diobati. Hasil test widal dianggap

positifapabila titer antibodi O = 1/200 atau lebih, atau apabila terdapat peningkatan titer 4kali
pada pemeriksaan serum sepasang.
Pada demam tifoid sering disertai anemia dari yang ringan sampai sedangdengan
peningkatan laju endap darah, gambaran eritrositnya normokrom normositer,diduga oleh
karena efek toksin supresi sumsum tulang atau perdarahan usus. Tidakselalu ditemukan
lekopeni, sering lekosit dalam batas-batas normal dan dapat pulalekositosis terutama bila
disertaikomlikasi yang lain. Jumlah trombosit menurun,gambaran hitung jenis didapatkan
limfositosis relative, aneosinodilia, dapat shift tothe left atau shift to the right tergantung dari
perjalanan penyakit.
Umumnya prognosa tifus abdominalis pada anak baik, asal penderita epatberobat.
Mortalitas pada penderita yang dirawat adalah 6%. Prognosis menjadikurang baik atau buruk
jika terdapat gejala klinik yang berat seperti :
1.Panas tinggi (hiperpireksia) atau febris kontinua
2.Kesadaran menurun sekali (stupor), koma atau delirium
3.Terdapat komlikasi yang berat misalnya dehidrasi dan asidosis, peritonitis,
bronkopneumonia dan lain-lain
4.Keadaan gizi penderita buruk (malnutrisi energi protein)
2. Komlikasi
Dapat terjadi pada :
1. Usus halus
a.

Perdarahan usus. Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaantinja dengan
benzidin. Bila perdarahan banyak terjadi melena dan bila beratdapat disertai perasaan nyeri
perut dengan tanda-tanda renjatan.

b. Perforasi usus. Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelah itu danterjadi pada bagian
distal ileum. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanyadapat ditemukan bila terdapat
udara di ronggan peritoneum, yaitu pekak hatimenghilang dan terdapat udara diantara hati
dan diafrkma pada foto roentgenabdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.
c.

Peritonitis. Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasiusus. Ditemukan
gejala abdomen akut yaitu nyeri perut yang hebat, dindingabdomen tegang (defence
muskulair) dan nyeri pada tekanan.

2. 2.Komlikasi di luar usus


3. Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakteremia) yaitu meningitis,kolesistitis,
ensefelopati dan lain-lain. Terjadi karean infeksi sekunder, yaitubronkopneumonia.
4.Pencegahan thipoid.

1.

Cuci tangan dengan air hangat dan sabun setelah melakukan BAB/BAK. Sebelum makan
ataupun sebelum menyediakan makanan.

2. Cuci sayuran dan buah sebelum di makan.


3. Sebelum dipakai cuci peralatan makan dan minum.
5.Penatalaksanaan :
1. Perawatan
o Pasien diistirahatkan 7 hari sampai demam turun atau 14 hari untuk mencegah
komplikasi perdarahan usus.
o Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila
ada komplikasi perdarahan.
2. Diet
o Diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein.
o Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
o Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
o Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7
hari.
3. Pengobatan
1. Klorampenikol
2. Tiampenikol
3. Kotrimoxazol
4. Amoxilin dan ampicillin

D. Penularan Demam Tifoid


Basil Salmonella menular ke manusia melalui makanan dan minuman. Jadi
makanan atau minuman yang dikonsumsi manusia telah tercemar oleh
komponen feses atau urin dari pengidap tifoid. Beberapa kondisi kehidupan
manusia yang sangat berperan, pada penularan adalah :
Higiene perorangan yang rendah, seperti budaya cuci tangan yang tidak
terbiasa. Hal ini jelas pada anak-anak, penyaji makanan serta pengasuh anak.
Higiene makanan dan minuman yang rendah. Faktor ini paling berperan pada
penularan tifoid. Banyak sekali contoh untuk ini diantaranya : makanan yang
dicuci dengan air yang terkontaminasi (seperti sayursayuran dan buahbuahan), sayuran yang dipupuk dengan tinja manusia, makanan yang tercemar
dengan debu, sampah, dihinggapi lalat, air minum yang tidak masak, dan
sebagainya.
Sanitasi lingkungan yang kumuh, dimana pengelolaan air limbah, kotoran dan
sampah yang tidak memenuhi sarat-syarat kesehatan.
Penyediaan air bersih untuk warga yang tidak memadai.
Jamban keluarga yang tidak memenuhi syarat.
Pasien atau karier tifoid yang tidak diobati secara sempurna. Belum
membudaya program imunisasi untuk tifoid.
E. Pencegahan dan Pengobatan
3 pilar strategi program pencegahan yakni :
1. Mengobati secara sempurna pasien dan karier tifoid
2. Mengatasi faktor-faktor yang berperan terhadap rantai penularan
3. Perlindungan diri agar tidak tertular.

Beberapa kegiatan dalam aspek pencegahan dan pengendalian tifoid, di


antaranya :
1. Perbaikan sanitasi lingkungan.
a. Penyediaan air bersih untuk seluruh warga. Penyediaan air yang aman,
khlorinasi, terlindung dan terawasi. Tidak tercemar oleh air limbah dan kotoran
lain. Untuk air minum masyarakat membiasakan dengan memasak sampai
mendidih, kurang lebih selama 10 menit.
b. Jamban keluarga yang memenuhi syarat-syarat kesehatan. Tidak
terkontaminasi oleh lalat dan serangga lain.
c. Pengelolaan air limbah, kotoran dan sampah, harus benar, sehingga tidak
mencemari lingkungan.
d. Kontrol dan pengawasan terhadap kebersihan lingkungan, terlaksana dengan
balk dan berkesinambungan.
e. Membudayakan perilaku hidup bersih dan lingkungan bersih yang berlaku
untuk seluruh lapisan masyarakat.
2. Peningkatan higiene makanan dan minuman.
a. Hati-hati pilih makanan yang sudah diproses, demi keamanan.
b. Panaskan kembali secara benar makanan yang sudah dimasak.
c. Hindarkan kontak antara makanan mentah dengan yang sudah dimasak.
d. Mencuci tangan dengan sabun.
e. Permukaan dapur dibersihkan dengan cermat.

f. Lindungi makanan dari serangga, binatang mengerat dan binatang lainnya.


g. Gunakan air bersih atau air yang dibersihkan.
h. Menggunakan cara-cara yang cermat dan bersih dalam pengolahan dan
penyajian makanan, sejak awal pengolahan, pendinginan sampai penyajian
untuk dimakan.
i. Mendorong penggunaan ASI untuk bayi, serta mendidihkan seluruh susu dan
air yang akan digunakan sebagai makanan bayi.

3. Peningkatan higiene perorangan.


Peningkatan higiene perorangan adalah pilar ketiga dari program pencegahan
yakni perlindungan diri terhadap penularan tifoid. Kegiatan ini merupakan ciri
berperilaku hidup sehat. Budaya cuci tangan yang benar adalah kegiatan
terpenting. Setiap tangan yang dipergunakan untuk memegang makanan, maka
tangan sudah harus bersih. Kegiatan ini sangat penting untuk bayi, anak-anak,
penyaji makanan di restoran, atau warung serta orang-orang yang merawat dan
mengasuh anak. Setiap tangan kontak dengan feses, urin atau dubur maka harus
dicuci pakai sabun dan kalau dapat disikat.
4. Pencegahan dengan imunisasi.
Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin tifoid yakni :
a. Vaksin oral Ty2l a Vivotif Berna
Vaksin yang mengandung Salmonella typhi galurTy 21 a. Daya proteksi
dilaporkan, ada yang mencapai 100% dan sayangnya di Indonesia hanya 36-66%
Vaksin ini tesedia dalam kapsul yang diminum selang sehari dalam 1 minggu,
satu jam sebelum makan. Vaksin ini dikontraindikasikan pada wanita hamil,
menyusui, penderita imunokompromais, sedang demam, sedang minum
antibiotik dan anak <>

Pengertian Penyakit Typhoid


Dalam masyarakat penyakit ini dikenal dengan nama Tipes atau thypus, tetapi dalam
dunia kedokteran disebut TYPHOID FEVER atau Thypus abdominalis, karena berhubungan
dengan usus pada perut.
Typhoid adalah penyakit infeksi bakteri pada usus halus dan terkadang pada aliran
darah yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B dan C,
selain ini dapat juga menyebabkan gastroenteritis (keracunan makanan) dan septikemia (tidak
menyerang usus)
B. Penyebab Penyakit Typhoid
Penyebab typhoid adalah kuman salmonella typosa dan salmonella paratyphi A, B,
dan C memasuki saluran pencernaan. Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui
berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku),
Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.
Penyebab lain dari penyakit Typhoid adalah :
1.
2.
3.
4.

Makanan dan minuman yang terkontaminasi Bakteri Salmonella Typhi.


Makanan Mentah atau belum masak.
Kurangnya Sanitasi dan Higienitas.
Daya tahan tubuh yang menurun.

C. Tanda dan gejala Penyakit Typhoid


1.
Pada minggu pertama, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada
umumnya yaitu : demam, nyeri kepala, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, konstipasi atau
diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya
didapatkan pemeriksaan suhu tubuh.
2.

Pada minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardia,

lidah kotor, hepatomegali, splenomegali, gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma
(Rampengan, 1993).
Menurut Ngastiyah (2005), gejala prodromal ditemukan seperti perasaan tidak
enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat, nafsu makan berkurang.
Gambaran klinis yang biasa ditemukan ialah :
1.

Demam. Biasanya berlangsung 3 minggu, bersifat febris remiten, dan suhu tidak tinggi
sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap hari, biasanya
menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua,
pasien terus berada dalam keadaan demam. Pada minggu ketiga, suhu berangsur-angsur turun
dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.

2. Gangguan pada saluran pencernaan. Pada mulut nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan
pecah-pecah, lidah kotor, perut kembung, hati dan limpa membesar disertai nyeri pada
perabaan, dapat disertai konstipasi atau diare.
3.

Gangguan kesadaran. Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu
apatis sampai somnolen, jarang terjadi sopor, koma atau gelisah (kecuali penyakitnya berat).
Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola (bintik-bintik kemerahan).

D. Pengobatan pada Pasien Typhoid


1. Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi
perdarahan usus.
2. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi
perdarahan.
3. Diet
a. Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
b. Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
c. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
d. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.
4. Obat-Obatan
a.
Klorampenikol
b. Tiampenikol
c. Kotrimoxazol
d. Amoxilin dan ampicillin
E. Pencegahan Penyakit Typhoid
Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari
toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan.
Pencegahan tipus dapat kita lakukan mulai dari hal yang sederhana, seperti
memperhatikan makanan dan minuman kita sehari-hari. Hindari jajan atau membeli makanan
dan minuman di tempat yang kurang bersih. Selain itu, makanlah makanan dan minuman
yang sudah dimasak. Jangan lupa, air minum kita harus dimasak terlebih dulu hingga
mendidih (100C). Lindungi makanan kita dari lalat, kecoa dan tikus karena hewan-hewan
tersebut dapat membawa bakteri Salmonella typhi yang merupakan penyebab tipus.
Selanjutnya, kita harus senantiasa memperhatikan kebersihan diri sendiri dan
lingkungan kita. Cucilah tangan dengan sabun setelah ke WC. Pembuangan kotoran manusia
juga harus pada tempatnya. Jangan pernah membuangnya secara sembarangan sehingga

mengundang lalat karena lalat dapat membawa bakteri Salmonella typhi dari feses ke
makanan. Oleh karena itu, bila di rumah banyak lalat harus dibasmi hingga tuntas untuk
menghindari dari penyebaran bakteri penyebab tipus.
Selain dengan memperhatikan kebersihan makanan dan lingkungan, saat ini
pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama
chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Vaksinasi dapat mencegah
kuman masuk dan berkembang biak. Vaksinasi ini sebaiknya dilakukan terhadap seluruh
keluarga, bahkan untuk anak usia balita yang masih rentan dapat juga divaksinasi.
F. Cara Mencuci Tangan yang Baik dan Benar
7 LANGKAH CARA MENCUCI TANGAN YANG BENAR MENURUT WHO
Cuci tangan 7 langkah merupakan cara membersihkan tangan sesuai prosedur yang
benar untuk membunuh kuman penyebab penyakit. Dengan mencuci tangan anda pakai sabun
baik sebelum makan atau pun sebelum memulai pekerjaan, akan menjaga kesehatan tubuh
anda dan mencegah penyebaran penyakit melalui kuman yang menempel di tangan.
Bagaimana langkah cuci tangan yang benar?
Pengertian cuci tangan 7 langkah adalah tata cara mencuci tangan menggunakan
sabun untuk membersihkan jari jari, telapak dan punggung tangan dari semua kotoran,
kuman serta bakteri jahat penyebab penyakit. Tanggal 15 oktober adalah hari cuci tangan
sedunia pakai sabun yang dicanangkan oleh PBB sebagai salah satu cara menurunkan angka
kematian balita serta mencegah penyebaran penyakit.
Manfaat melakukan 7 langkah mencuci tangan yaitu membersihkan dan membunuh
kuman yang menempel secara cepat dan efektif karena semua bagian tangan akan dicuci
menggunakan sabun.
Cara Cuci Tangan 7 Langkah Pakai Sabun Yang Baik dan Benar :
1. Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan lengan memakai air yang mengalir, ambil
2.
3.
4.
5.
6.
7.

sabun kemudian usap dan gosok kedua telapak tangan secara lembut
Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian
Jangan lupa jari-jari tangan, gosok sela-sela jari hingga bersih
Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan
Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian
Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan
Bersihkan kedua pergelangan tangan secara bergantian dengan cara memutar, kemudian
diakhiri dengan membilas seluruh bagian tangan dengan air bersih yang mengalir lalu
keringkan memakai handuk atau tisu.

7 langkah mencuci tangan di atas umumnya membutuhkan waktu 15 20 menit.


Pentingnya mencuci tangan secara baik dan benar memakai sabun adalah agar kebersihan
terjaga secara keseluruhan serta mencegah kuman dan bakteri berpindah dari tangan ke tubuh
anda.

Pencegahan Demam Tifoid


Pencegahan adalah segala upaya yang dilakukan agar setiap anggota masyarakat tidak
tertular oleh bakteri Salmonella. Ada 3 pilar strategis yang menjadi program
pencegahan yakni:
a

Mengobati secara sempurna pasien dan carrier demam tifoid.

Mengatasi faktor-faktor yang berperan terhadap rantai penularan.

Perlindungan dini agar tidak tertular.

Demam tifoid dapat dicegah dengan kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan.
Orang Indonesia itu umumnya cuci tangan setelah makan, padahal harusnya sebelum
makan. Setelah makan, tangannya kotor, baru dicuci. Tapi kalau sebelum makan dia
lupa. Padahal tangan itu paling kotor, kena segala macam. Lewat tangan kita bisa
memindahkan kuman.
Berikut beberapa petunjuk untuk mencegah penyebaran demam tifoid:
a

Cuci tangan.
Cuci tangan dengan teratur meruapakan cara terbaik untuk mengendalikan
demam tifoid atau penyakit infeksi lainnya. Cuci tangan anda dengan air
(diutamakan air

mengalir) dan sabun terutama

sebelum makan

atau

mempersiapkan makanan atau setelah menggunakan toilet. Bawalah pembersih


tangan berbasis alkohol jika tidak tersedia air.

Hindari minum air yang tidak dimasak.


Air minum yang terkontaminasi merupakan masalah pada daerah endemik tifoid.
Untuk itu, minumlah air dalam botol atau kaleng. Seka seluruh bagian luar botol
atau kaleng sebelum anda membukanya. Minum tanpa menambahkan es di

dalamnya. Gunakan air minum kemasan untuk menyikat gigi dan usahakan tidak
menelan air di pancuran kamar mandi.
c

Tidak perlu menghindari buah dan sayuran mentah.


Buah dan sayuran mentah mengandung vitamin C yang lebih banyak daripada
yang telah dimasak, namun untuk menyantapnya, perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut. Untuk menghindari makanan mentah yang tercemar, cucilah buah
dan sayuran tersebut dengan air yang mengalir. Perhatikan apakah buah dan
sayuran tersebut masih segar atau tidak. Buah dan sayuran mentah yang tidak
segar sebaiknya tidak disajikan. Apabila tidak mungkin mendapatkan air untuk
mencuci, pilihlah buah yang dapat dikupas.

Pilih makanan yang masih panas.


Hindari makanan yang telah disimpan lama dan disajikan pada suhu ruang. Yang
terbaik adalah makanan yang masih panas. Walaupun tidak ada jaminan makanan
yang disajikan di restoran itu aman, hindari membeli makanan dari penjual di
jalanan yang lebih mungkin terkontaminasi.

Jika anda adalah pasien demam tifoid atau baru saja sembuh dari demam tifoid,
berikut beberapa tips agar anda tidak menginfeksi orang lain:
-

Sering cuci tangan anda.


Ini adalah cara penting yang dapat anda lakukan untuk menghindari
penyebaran infeksi ke orang lain. Gunakan air (diutamakan air mengalir) dan
sabun, kemudian gosoklah tangan selama minimal 30 detik, terutama sebelum
makan dan setelah menggunakan toilet.

Bersihkan alat rumah tangga secara teratur.

Bersihkan toilet, pegangan pintu, telepon, dan keran air setidaknya sekali
sehari.
-

Hindari memegang makanan.


Hindari menyiapkan makanan untuk orang lain sampai dokter berkata bahwa
anda tidak menularkan lagi. Jika anda bekerja di industri makanan atau
fasilitas kesehatan, anda tidak boleh kembali bekerja sampai hasil tes
memperlihatkan anda tidak lagi menyebarkan bakteri Salmonella.

Gunakan barang pribadi yang terpisah.


Sediakan handuk, seprai, dan peralatan lainnya untuk anda sendiri dan cuci
dengan menggunakan air dan sabun.