Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara-negara maju seperti Amerika, Perancis, Kanada, Rusia, dan Jepang
saat ini menggunakan uranium sebagai bahan bakar nuklir pada PLTN
(Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Selain itu, uranium juga dapat digunakan
sebagai bahan baku untuk pembuatan senjata pemusnah masal yaitu bom atom.
Sejauh ini, energi nuklir adalah sumber energi yang paling padat dari semua
sumber energi di alam ini yang bisa dikembangkan manusia. Sebagai contoh
pembandingnya, energi fisi dari 1 gram uranium setara dengan energi 13,7 barel
minyak atau 2,3 ton batubara yaitu 1 Mwd (Mega watt days).
Thorium merupakan bahan baku untuk pembuatan bahan bakar nuklir
masa depan sebagai pengganti uranium. Saat ini thorium sudah digunakan sebagai
bahan reaktor riset di India, Rusia, Jepang, Amerika Serikat, dan Canada. Negara
negara tersebut sedang mengembangkan thorium agar dapat digunakan sebagai
bahan bakar nuklir untuk pembangkit tenaga listrik sebagai pengganti uranium.
Di Indonesia, uranium dan thorium umumnya terdapat di dalam mineral
monasit. Berdasarkan genesa pembentukannya monasit terbentuk pada granit,
genes, batupasir, dan endapan aluvial hasil pelapukan ketiga batuan tersebut.
Secara tektonik keterdapatan monasit di Bangka dikontrol oleh granit jalur timah
yang membentang dari Thailand-Malaysia-Bangka Belitung. (Gambar 1.1).

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

Gambar 1.1. Penyebaran Jalur Timah (Ngadenin dan Saksama, 2013).


Mengacu pada peta geologi regional berskala 1 : 25.000, di Bangka Barat
terdapat beberapa granit yaitu Granit Menumbing, Granit Pelangas, Granit Jebus
(Klabat), dan Granit Tempilang. Dengan adanya granit di Bangka Barat yang
merupakan sebagai granit jalur timah maka diduga kuat akan terdapat monasit
pada granit tersebut sehingga granit-granit tersebut berpotensi sebagai sumber
uranium dan thorium.
1.2 Perumusan Masalah
Secara geologi daerah Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka
Belitung dan sekitarnya merupakan dataran bergelombang denudasional hingga
perbukitan dimana terdapat beberapa granit yaitu Granit Menumbing, Granit
Seminar Geologi-Mukharramah M.K
410011133

Pelangas, Granit Jebus, dan Granit Tempilang. Secara tekonik granit-granit


tersebut merupakan granit jalur timah atau granit sumber timah yang dapat
berperan sebagai granit sumber uranium dan thorium.
Inti masalah yang penulis angkat atau dibahas dalam seminar ini adalah :
1. Apakah kondisi geologi daerah Muntok, Bangka Barat dan sekitarnya
mendukung terjadinya mineral radioaktif ?
2. Apakah tipe granit yang menyusun daerah Muntok, Bangka Barat dan
sekitarnya dapat menghasilkan mineral uranium dan thorium ?
3. Apakah metode analisa butir mineral berat dapat digunakan untuk
mengetahui kadar uranium dan thorium pada Granit Menumbing ?

1.3 Lokasi Penelitian


Secara administratif lokasi penelitian termasuk wilayah Kecamatan
Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Secara
geografis letaknya pada koordinat 105o 06` - 105o 11` BT dan 2o 00` - 2o 05` LS,
dengan luas daerah penelitian sekitar 70 km2. Untuk menuju ke lokasi daerah
penelitian rute perjalanannya adalah Jakarta-Pangkal Pinang di tempuh selama 2
jam dengan pesawat udara. Dari Pangkal Pinang dilanjutkan perjalanan darat ke
kota Muntok berjarak 130 km ditempuh dengan kendaraan roda empat selama
kurang lebih 3 jam dengan kondisi jalan beraspal baik, lokasi daerah penelitian
dapat dilihat pada (Gambar 1.2).

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

Gambar 1.2. Peta Lokasi Penelitian.


: Lokasi Penelitian.

BAB II

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 GEOLOGI REGIONAL
2.1.1

Fisiografi
Secara fisiografi, Pulau Bangka termasuk ke dalam Sunda Land dan

merupakan bagian terangkat dari peneplain Sunda (van Bemmelen, 1970). Bila
ditinjau dari sudut geologi, penyebaran bijih timah di Indonesia masih merupakan
kelanjutan dari Granite Belt yang berumur Yura Kapur yang membentang
mulai dari Birma, Muangthai, Malasyia, Kepulauan Riau (P. Singkep, P. Karimun
dan P. Kundur), P. Bangka dan P. Belitung hingga P. Karimata. (Gambar 2.1.)
Granite Belt sendiri merupakan deretan formasi batuan granit kaya akan mineral
cassiterite yang kemudian dikenal dengan sebutan The Tin Belt (Katili, 1967 ;
Sitanggang 1974).

Gambar 2.1. Tin Mayor South East Asian Tin Belt (Katili, 1980 dalam Tania 2009)

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

Pulau-pulau dari The Tin Belt diinterpretasikan merupakan sisa bagian


resisten dari gunung yang muncul pada masa terbentuknya Sunda Shelf. (Pupili,
1973) menyatakan bahwa Malaysia, Kepulauan Riau dan Bangka berada dalam
kelompok elemen tektonik yang sama. Evolusi tektonik di wilayah ini telah
dimulai sejak Paleozoikum Bawah dimana berdasarakan Teori Tektonik Lempeng
bahwa daerah penunjaman (subduction zone) berada di bagian timur Malaysia dan
pada Mesozoikum Bawah tengah menghasilkan busur gunung api (magmatic
arc) dalam bentuk deretan Pulau Kundur, Pulau Singkep, Pulau Bangka, Pulau
Belitung dan sebagian dari Kalimantan Barat. Pada zaman Paleozoikum Pulau
Bangka dan laut di sekitarnya merupakan daratan di mana proses seperti transgresi
atapun regresi belum berkembang. Selanjutnya pada zaman Karbon-Trias berubah
menjadi laut dangkal / shallow marine. Orogenesa kedua terjadi pada masa
mesozoikum, Pulau Bangka dan Riau muncul ke permukaan (Katili, 1967). Intrusi
granit menerobos batuan sedimen detritus kasar sampai halus seperti batupasir,
batulempung, dll pada Trias-Yura atas. Pada batas antara sedimen dan granit
terjadi metamorfosa sentuh. Bersamaan intrusi granit ini terjadi proses
pneumotolitik yang menghasilkan kasiterit. Proses ini dengan proses hidrotermal
yang menghasilkan kasiterit yang mengisi rekahan-rekahan pada granit
membentuk beberapa struktur khusus seperti sugary atau vuggy structure . Erosi
intensif terjadi pada kenozoikum dimana lapisan yang menutupi granit terkikis
habis sehingga batuan granit tersingkap yang memanjang mulai dari ujung pulau
Sumatera sampai ke Lampung walaupun sejatinya granit tersebut berasal dari
Cina Selatan dimana proses awal pembentukannya dimulai pada Paleozoikum

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

Bawah, sekitar Kambrium - Devon dan membentang dengan arah umum Barat
Laut Tenggara.
Selanjutnya diikuti oleh proses eksogenik mulai dari pelapukan, erosi,
transportasi, dan pengendapan di banyak lembah. Suasana daratan di Bangka pun
mulai berkembang dan berlanjut sampai zaman Tersier sedangkan proses glasiasi
atau biasa disebut pencairan es pada kala Pliostosen mengakibatkan beberapa
daerah di Bangka menjadi laut dangkal atau shallow marine seperti yang kita lihat
sekarang ini (Katili, 1967). Dan diakhiri dengan proses deformasi yang cukup
intensif seperti erosi yang menjadikan Pulau Bangka sekarang menjadi daratan
yang mempunyai elevasi cukup landai di mana tersebar baik di Tanjung Limau
,Tanjung Gosong di Bangka Selatan dan Bukit Telang, Bukit Besar di Bangka
Utara. Di bawah ini bisa dilihat peta geologi Pulau Bangka (Tania, 2009) pada
(Gambar 2.2) sebagai berikut :

Gambar 2.2. Peta Geologi Pulau Bangka


(Mangga dan Djamal, 1994 dalam Tania, 2009)

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

2.1.2

Stratigrafi
Stratigrafi regional Pulau Bangka menurut Osberger (1965) dari tua ke

muda tersusun oleh Kompleks Pemali (CpP), Formasi Tanjung Genting (Trt),
Granit Klabat (TrJkg), Formasi Ranggam (TQr) dan Alluvium (Qa) dengan
pemerian dan gambaran tabel stratigrafi menurut (Mangga dan Djamal, 1994 ;
Margono et al.,1995) dilihat pada (Tabel 2.1).
Tabel 2.1. Stratigrafi Pulau Bangka (Mangga dan Djamal, 1994;
Margono et al., 1995)

A. Kelompok Pemali (CpP)


Terdiri dari skiss, phillit, batulempung, rijang, tuff, gneiss, sisipan kuarsit
dan lensa batugamping. Batuan tersebut berstruktur sedimen masif, dengan
Seminar Geologi-Mukharramah M.K
410011133

kandungan fosil berupa Fusulinidae dan Radiolaria. Batuannya terlipat


kuat, terkekarkan dan terpatahkan. Kompleks yang berumur Perm ini
secara umum diterobos oleh Granit Klabat.
B. Formasi Tanjung Genting (Trt)
Berupa perselingan batupasir termetamorfkan dan batupasir lempungan
dengan lensa batugamping. Batuan berumur Trias tersebut berstruktur
sedimen silang siur dan mengandung fosil Montlivaltia moluccana,
Perodinella sp., Entrochus sp. dan Encrinus sp. Formasi ini terlipat kuat,
terkekarkan dan terpatahkan dan berada tidak selaras di atas Kelompok
Pemali serta diterobos pula oleh Granit Klabat.
C. Satuan Granit Klabat (TrJkg)
Terdiri dari granit, granodiorit, diorite dan diorite kuarsa. Granit berumur
Trias Akhir Yura Awal ini menerobos Kelompok Pemali dan Formasi
Tanjung Genting di atasnya. Terkadang dijumpai singkapan granit yang
telah lapuk. Terdapat pula granit segar yang tersingkap sebagai tonjolan
blok-blok (boulder) granit yang tersebar di pantai.
D. Formasi Ranggam (TQr)
Terdiri dari perselingan batupasir, batulempung, dengan sisipan lapisan
tipis batulanau dan organic matter. Batuan tersebut memiliki struktur
sedimen perlapisan dan silang siur serta mengandung fosil Molusca berupa
Turitellaterbra sp., Olivia triciment mzrt., Cypraea sonderavamart dan
fosil Foraminifera Bentos berupa Celathus creticulatus, Ammonia sp.,
Celcarina sp. dan Triculina sp. serta geraham gigi gajah berumur

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

Pleistosen, Formasi berumur Miosen Akhir ini berada tidak selaras di atas
Granit Klabat.
E. Alluvium (Qa)
Berupa endapan rawa dan endapan sungai yang terdiri dari material lepas
dan tersebar mengikuti aliran sungai di sepanjang lembah maupun pantai.
Satuan yang berumur Quarter ini berada tidak selaras di atas Formasi
Rangggam.
Gambaran Stratigrafi Regional Pulau Bangka menurut Osberg, (1965)
dalam Katili, (1980) Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Stratigrafi Regional Pulau Bangka ( Osberg, 1965 dalam Katili, 1980,
Geotectonics of Indonesia, p. 10)

2.1.3

Umur

Stratigrafi ( Osberger, 1965)

Holosen
Pleistosen
Pliosen
Miosen
Oligosen
Eosen
Paleosen
Kapur
Yura
Trias
Perm
Karbon

Endapan Pantai / Sungai


Lapisan Ranggam

Seri Batupasir Lempungan


Filit, Kuarsit, Batulanau, Batugamping.
Ketidakselarasan

Pra Karbon

Metamorf Dinamik

Ketidakselarasan

Struktur
Geologi Pulau Bangka berhubungan dengan cekungan Sumatera Selatan

yang merupakan suatu hasil kegiatan tektonik yang berkaitan erat dengan
Seminar Geologi-Mukharramah M.K
410011133

10

penunjaman Lempeng India-Australia, yang bergerak ke arah utara hingga timur


laut terhadap Lempeng Eurasia yang relatif diam. Zone penunjaman lempeng
meliputi daerah sebelah barat Pulau Sumatera dan selatan Pulau Jawa. Beberapa
lempeng kecil (micro-plate) yang berada di antara zone interaksi tersebut turut
bergerak dan menghasilkan zone konvergensi dalam berbagai bentuk dan arah.
Penunjaman lempeng Indi-Australia tersebut dapat mempengaruhi keadaan
batuan, morfologi, tektonik dan struktur di Sumatera Selatan. Tumbukan tektonik
lempeng di Pulau Sumatera menghasilkan jalur busur depan, magmatik, dan busur
belakang. Cekungan Sumatera Selatan terbentuk dari hasil penurunan (depression)
yang

dikelilingi

oleh

tinggian-tinggian

batuan

Pratersier. Pengangkatan

Pegunungan Barisan terjadi di akhir Kapur disertai terjadinya sesar-sesar bongkah


(block faulting). Selain Pegunungan Barisan sebagai pegunungan bongkah (block
mountain) beberapa tinggian batuan tua yang masih tersingkap di permukaan
adalah di Pegunungan Tigapuluh, Pegunungan Duabelas, Pulau Lingga dan Pulau
Bangka yang merupakan sisa-sisa tinggian "Sunda Landmass", yang sekarang
berupa Paparan Sunda. Cekungan Sumatera Selatan telah mengalami tiga kali
proses orogenesis, yaitu yang pertama adalah pada Mesozoikum Tengah, kedua
pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal dan yang ketiga pada Plio-Plistosen.
Orogenesis Plio-Plistosen menghasilkan kondisi struktur geologi seperti terlihat
pada saat ini.
Tektonik dan struktur geologi daerah Cekungan Sumatera Selatan dapat
dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu, Zone Sesar Semangko, zone perlipatan
yang berarah baratlaut-tenggara dan zona sesar-sesar yang berhubungan erat
dengan perlipatan serta sesar-sesar Pratersier yang mengalami peremajaan.
Seminar Geologi-Mukharramah M.K
410011133

11

Secara fisiografis Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan Tersier


berarah barat laut tenggara, yang dibatasi Sesar Semangko dan Bukit Barisan di
sebelah barat daya, Paparan Sunda di sebelah timur laut, Tinggian Lampung di
sebelah tenggara yang memisahkan cekungan tersebut dengan Cekungan Sunda,
serta Pegunungan Dua Belas dan Pegunungan Tiga Puluh di sebelah barat laut
yang memisahkan Cekungan Sumatra Selatan dengan Cekungan Sumatera
Tengah.
Tektonik Regional, Blake (1989) menyebutkan bahwa daerah Cekungan
Sumatera Selatan merupakan cekungan belakang busur berumur Tersier yang
terbentuk sebagai akibat adanya interaksi antara Paparan Sunda (sebagai bagian
dari lempeng kontinen Asia) dan lempeng Samudera India. Daerah cekungan ini
meliputi daerah seluas 330 x 510 km2, dimana sebelah barat daya dibatasi oleh
singkapan Pra-Tersier Bukit Barisan, di sebelah timur oleh Paparan Sunda (Sunda
Shield), sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh dan ke arah tenggara
dibatasi oleh Tinggian Lampung.
Menurut Salim et al. (1995), Cekungan Sumatera Selatan terbentuk selama
Awal Tersier (Eosen Oligosen) ketika rangkaian (seri) graben berkembang
sebagai reaksi sistem penunjaman menyudut antara lempeng Samudra India di
bawah lempeng Benua Asia.
De Coster, 1974 (dalam Salim, 1995), diperkirakan telah terjadi 3 episode
orogenesa yang membentuk kerangka struktur daerah Cekungan Sumatera Selatan
yaitu orogenesa Mesozoik Tengah, tektonik Kapur Akhir Tersier Awal dan
Orogenesa Plio Plistosen.

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

12

Episode pertama, hadirnya endapan endapan Paleozoik dan Mesozoik


termetamorfosa, terkekarkan, terlipat dan terpatahkan menjadi bongkah struktur
dan diintrusi oleh batolit granit serta telah membentuk pola dasar struktur
cekungan. Menurut Pulunggono, 1992 (dalam Wisnu dan Nazirman, 1997), fase
ini membentuk sesar berarah barat laut tenggara yang berupa sesar sesar geser
baik left handed strike slip fault dan right handed strike slip fault.
Episode kedua pada Kapur Akhir berupa fase ekstensi menghasilkan gerak
gerak tensional yang membentuk graben dan horst dengan arah umum utara
selatan. Dikombinasikan dengan hasil orogenesa Mesozoik dan hasil pelapukan
batuan batuan Pra Tersier, gerak gerak tensional ini membentuk struktur tua
yang mengontrol pembentukan Formasi Pra Talang Akar yang ada di Sumatera
Selatan dan sampai saat ini diketahui mengandung minyak bumi.
Episode ketiga berupa fase kompresi pada PlioPlistosen yang menyebabkan
pola pengendapan berubah menjadi regresi dan berperan dalam pembentukan
struktur perlipatan dan sesar sehingga membentuk konfigurasi geologi sekarang.
Pada periode tektonik ini juga terjadi pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan
yang menghasilkan sesar mendatar Semangko yang berkembang sepanjang
Pegunungan Bukit Barisan. Pergerakan horisontal yang terjadi mulai Plistosen
Awal sampai sekarang mempengaruhi kondisi Cekungan Sumatera Selatan dan
Tengah sehingga sesar sesar yang baru terbentuk di daerah ini mempunyai
perkembangan hampir sejajar dengan sesar Semangko. Akibat pergerakan
horisontal ini, orogenesa yang terjadi pada Plio Plistosen menghasilkan lipatan
yang berarah baratlaut tenggara tetapi sesar yang terbentuk berarah timurlaut

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

13

baratdaya dan baratlaut tenggara. Jenis sesar yang terdapat pada cekungan ini
adalah sesar naik, sesar mendatar dan sesar normal.
Kenampakan struktur yang dominan adalah struktur yang berarah barat laut
tenggara sebagai hasil orogenesa Plio Plistosen. Dengan demikian pola struktur
yang terjadi dapat dibedakan atas pola tua yang berarah utara selatan dan
baratlaut tenggara serta pola muda yang berarah baratlaut tenggara yang
sejajar dengan Pulau Sumatera untuk pola tektonik (Gambar 2.3).

Gambar 2.3. Peta tektonik Paparan Sunda dan batas


subduksi Pulau Sumatera Jawa (Barber et al.2005)
Di pihak lain, Asikin dan Soeria-Atmadja (1972) menyebutkan adanya
pergerakan orogen yang terjadi sebelum Masa Yura Atas yang menyebabkan
Seminar Geologi-Mukharramah M.K
410011133

14

terjadinya pola lipatan berarah baratlaut tenggara pada batuan sedimen yang
berumur Karbon Trias. Deformasi tersebut juga menghasilkan retakan geser dan
tarik (shear and tension fractures).
2.2 GEOLOGI LOKAL
2.2.1 Geomorfologi
Morfologi daerah Muntok Kabupaten Bangka Barat dan sekitarnya (Gambar
2.4) secara umum merupakan dataran bergelombang denudasional hingga
perbukitan dengan ketinggian berkisar 0 hingga 455 m di atas permukaan laut
(Saksama dan Ngadenin 2013). Di beberapa tempat terdapat bukit-bukit yang
tersusun dari batuan plutonik, bukit tertinggi adalah Gunung Menumbing (455 m)
terletak di utara kota Muntok. Sungai utama adalah Sungai Menjelang, Sungai
Baru, Sungai Air Belo, Sungai Air Putih yang mengalir ke Selat Bangka. Secara
umum aliran sungai berpola radier dengan hulu di Gunung Menumbing.

Gambar 2.4 Kenampakan bentang alam daerah tinggian di Bangka Barat


(G.Kelumpang) yang di susun oleh batuan beku granit Formasi Granit Klabat
( Zulfikar, 2013 )
Seminar Geologi-Mukharramah M.K
410011133

15

2.2.2

Stratigrafi
Stratigrafi daerah Muntok Kab. Bangka Barat dari tua ke muda adalah

Satuan Metabatupasir, Satuan terobosan Granit Menumbing, dan Satuan endapan


alluvial (Saksama dan Ngadenin 2013).
1. Satuan Metabatupasir
Satuan ini tersusun oleh perselingan batupasir malih, batupasir, patupasir
lempungan, dan batulempung dengan lensa oksida besi. Batupasir malih
berwarna abu-abu kekuningan kehitaman, non foliasi, kristaloblastik,
ukuran butir pasir halus sedang dengan komposisi mineral terdiri atas
kuarsa dan feldspar. Batupasir, berwarna abu-abu kekuningan, ukuran butir
pasir sedang, bentuk butir membundar, komposisi mineral terdiri atas
kuarsa dan feldspar. Batupasir lempungan, berwarna abu abu kecoklatankemerahan, ukuran butir lempung-pasir halus, membundar, komposisi
mineral terdiri atas kuarsa, feldspar, dan mineral lempung. Batulempung
berwarna abu-abu kehijauan, ukuran butir lempung, tersusun oleh mineral
lempung. Satuan ini secara regional dapat diasumsikan sebanding dengan
Formasi Tanjunggenting yang berumur Trias.
2. Satuan Terobosan Granit Menumbing
Secara umum granit segar berwarna abu-abu berbintik hitam, lapuk
berwarna abuu-abu kekuningan hingga kecoklatan, tekstur holokristalin
idiomorfik granular, fanerik sedang-pegmatitik, komposisi mineral terdiri
atas kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, muskovit, ilmenit, rutil, monasit,
dan zirkon. Terobosan ini secara regional dapat diasumsikan sebanding
dengan Granit Klabat yang berumur Trias-Yura.
3. Satuan Endapan Aluvial

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

16

Endapan aluvial tersusun oleh material lepas yang belum terkonsolidasikan


berukuran bongkah, kerakal, kerikil, pasir, lempung, serta gambut, yang
berumur Holosen.
2.2.3 Struktur Geologi
Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah sesar dan
kekar. Kekar berkembang baik pada satuan metabatupasir dan terobosan Granit
Menumbing. Kekar yang berkembang baik di daerah ini adalah kekar-kekar yang
berarah barat laut tenggara, timur laut barat daya, utara selatan, dan barat
timur, sedangkan sesar yang berkembang adalah sesar yang berarah umum barat
timur ( Gambar 2.5 ).
.

Gambar 2.5. Peta Geologi Daerah Muntok Kab.Bangka Barat dan


Sekitarnya (Ngadenin dan Saksama , 2013)

BAB III
Seminar Geologi-Mukharramah M.K
410011133

17

MAKSUD, TUJUAN DAN MANFAAT

3.1 Maksud

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mempelajari kondisi geologi


daerah Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung dan
sekitarnya yang berkaitan dengan terbentuknya mineralisasi uranium dan thorium
di daerah tersebut.
3.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan seminar ini adalah untuk memberikan informasi
secara umum mengenai keterdapatan mineral radioaktif pada batuan beku di
Indonesia khususnya potensi Granit Menumbing sebagai sumber uranium dan
thorium di daearah Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung.
3.3 Manfaat
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan suatu
pemahaman baru mengenai proses pembentukan mineral uranium dan thorium di
daerah penelitian untuk kepentingan keilmuan dan pengembangan ilmu geologi
khususnya mineralisasi mineral radioaktif. Selain itu dengan mengetahui
keterdapatan mineralisasi uranium tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui
sumber energi baru yaitu energi nuklir.

Seminar Geologi-Mukharramah M.K


410011133

18