Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum Fisiologi

Mekanisme Sensorik

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jalan Arjuna Utara no.6 Jakarta Barat 11510

Kelompok A11
Yanuar Hermawan 10.2012.033
Prahasta Listiyaningsih 10.2012.144
Supyan Tsauri 10.2012.190
Calvin Affendy 10.2012.262
Dian Nurul Hikmah 10.2012.292
Azrin Agmalina 10.2012.327
Anestesya Monica 10.2012.410
Hazwani Binti Mohamad 10.2012.477
Yoshevine L orisika 10.2012.524

Tujuan
1. Membedakan secara subjektif panas dan dingin.
2. Menemukan titik-titik panas, dingin, tekan dan nyeri pada telapak tangan manusia.
3. Mengetahui adanya mekanisme sensorik pada manusia untuk melokalisasi taktil.
4. Mengetahui kemampuan manusia untuk membedakan lokasi taktil/kemampuan
mendiskriminasikan 2 lokasi taktil baik yang dilakukan secara simultan maupun
suksesif.
5. Membuktikan adanya mekanisme sensorik pada manusia berupa perasaan iringan.
6. Mengetahui kemampuan seseorang untuk membedakan derajat kekasaran benda,
mendeskripsikan sifat-sifat benda, dan menentukan jenis bahan pakaian hanya
berdasarkan sentuhan tanpa penglihatan visual.
7. Mengetahui kemampuan seseorang untuk menafsirkan sikap yang sedang dilakukan.
Alat dan Bahan

Tiga waskom dengan air bersuhu 200, 300 dan 400


Gelas beker dan termometer kimia
Es
Alkohol dan eter
Kerucut kuningan + bejana berisi kikiran kuningan + estesiometer rambut Frey +

jarum
Pensil + jangka + pelbagai jenis ampelas + benda-benda kecil + bahan-bahan
pakaian

Cara Kerja
Perasaan Subyektif Panas dan Dingin
1. Sediakan 3 waskom yang masing-masing berisi air dengan suhu kira-kira 20 0, 300,
dan 400.
2. Masukkan tangan kanan ke dalam air bersuhu 200 dan tangan kiri ke dalam air
bersuhu 400 untuk 2 menit.
3. Catat kesan apa yang saudara alami.
4. Kemudian masukkan segera kedua tangan itu serentak ke dalam air bersuhu 30 0
C. Catat kesan apa yang saudara alami.
5. Tiup perlahan-lahan kulit punggung tangan yang kering dari jarak 10 cm.

6. Basahi sekarang kulit punggung tangan tersebut dengan air dan tiup sekali lagi
dengan kecepatan seperti di atas. Bandingkan kesan yang saudara alami antara
hasil tiupan pada nomor 5 dan nomor 6.
7. Olesi sebagian kulit punggung tangan dengan alkohol atau eter. Kesan apa yang
saudara alami?
Titik-titik Panas, Dingin, Tekan dan Nyeri di Kulit.
1. Letakkan punggung tangan kanan saudara di atas sehelai kertas dan tarik garis
pada pinggir tangan dan jari-jari sehingga terdapat lukisan tangan.
2. Pilih dan gambarkan di telapak tangan itu suatu daerah seluas 3 x 3 cm dan
gambarkan pula daerah itu di lukisan tangan pada kertas. Kotak 3 x 3 cm, dibuat
lagi menjadi 12 x 12 kotak, jadi terdapat 144 kotak kecil.
3. Tutup mata OP dan letakkan punggung tangan kanannya santai di meja.
4. Selidikilah secara teratur menurut garis-garis sejajar titik-titik yang memberikan
kesan panas yang jelas pada telapak tangan tersebut dengan menggunakan
kerucut kuningan yang telah dipanasi. Cara memanasi kerucut kuningan yaitu
dengan menempatkannya dalam bejana berisi kikiran kuningan yang direndam
air panas bersuhu 500. Tandai titik-titik panas yang diperoleh dengan tinta.
5. Ulangi penyelidikan yang serupa pada no.4 dengan kerucut kuningan yang telah
didinginkan.

Cara

mendinginkan

kerucut

kuningan

yaitu

dengan

menempatkannya dalam bejana berisi kikiran kuningan yang direndam dalam air
es. Tandai titik-titik dingin yang diperoleh dengan tinta.
6. Selidikilah pula menurut cara di atas titik-titik yang memberikan kesan tekan
dengan menggunakan estesiometer rambut Frey dan titik-titik yang memberikan
kesan nyeri dengan jarum.
7. Gambarkan dengan simbol yang berbeda semua titik yang diperoleh pada lukisan
tangan di kertas.
Lokalisasi Taktil
1. Tutup mata orang percobaan dan tekankan ujung pensil pada suatu titik di kulit
ujung jarinya.
2. Suruh sekarang orang percobaan melokalisasi tempat yang baru dirangsang tadi
dengan ujung sebuah pensil pula.
3. Tetapkan jarak antara titik rangsang dan titik yang ditunjuk.

4. Ulangi percobaan ni sampai 5 kali dan tentukan jarak rata-rata untuk kulit ujung
jari, telapak tangan, lengan bawah, lengan atas dan tengkuk.
Diskriminasi Taktil
1. Tentukan secara kasar ambang membedakan dua titik untuk ujung jari dengan
menempatkan kedua ujung sebuah jangka secara serentak (simultan) pada kulit
ujung jari.
2. Dekatkan kedua ujung jangka itu sampai di bawah ambang dan kemudian
jauhkan berangsur-angsur sehingga kedua ujung jangka itu tepat dapat
dibedakan sebagai 2 titik.
3. Ulangi percobaan ini dari suatu jarak permulaan di atas ambang. Ambil angka
ambang terkecil sebagai ambang diskriminasi taktil tempat itu.
4. Lakukan percobaan di atas sekali lagi, tetapi sekarang dengan menempatkan
kedua ujung jangka secara berturut-turut (suksesif).
5. Tentukan ambang dengan cara yang sama (simultan dan suksesif) ambang
membedakan 2 titik ujung jari, tengkuk dan pipi.
6. Catat apa yang saudara alami.
Perasaan Iringan (After Image)
1. Letakkan sebuah pensil antara kepala dan daun telinga dan biarkan di tempat itu
selama saudara melakukan percobaan VI.
2. Setelah saudara selesai dengan percobaan VI, angkatlah pensil dari telinga
saudara dan apakah yang saudara rasakan setelah pensil itu diambil?
Daya Membedakan Berbagai Sifat Benda
a. Kekasaran Permukaan Benda
1. Dengan mata tertutup, suruh orang percobaan meraba-raba permukaan ampelas
yang mempunyai derajat kekasaran yang berbeda-beda.
2. Perhatikan kemampuan orang percobaan untuk membedakan derajat kekasaran
ampelas.
b. Bentuk Benda
1. Dengan mata tertutup, suruh orang percobaan memegang-megang benda-benda
kecil yang saudara berikan (pensil, penghapus, rautan, koin, dan lain-lain).
2. Suruh orang percobaan menyebutkan nama/bentuk benda-benda itu.

c. Bahan Pakaian
1. Dengan mata tertutup, suruh orang percobaan meraba-raba bahan-bahan pakaian
yang saudara berikan.
2. Suruh orang percobaan setiap kali menyebutkan jenis/sifat bahan yang dirabanya
itu. Bila OP membuat kesalahan dalam membedakan sifat benda (ukuran,
bentuk, berat, permukaan), apa nama kelainan neurologis yang dideritanya?
Tafsiran Sikap
1. Suruh orang percobaan duduk dan tutup mata.
2. Pegang dan gerakkan secara pasif lengan bawah orang percobaan ke dekat
kepalanya, ke dekat dadanya, ke dekat lututnya, dan akhirnya gantungkan di sisi
badannya.
3. Tanyakan setiap kali sikap dan lokasi lengan orang percobaan.
4. Suruh orang percobaan dengan telunjuknya menyentuh telinga, hidung, dan
dahinya dengan perlahan-lahan setelah setiap kali mengangkat lurus lengannya.
5. Perhatikan apakah ada kesalahan. Bila OP membuat kesalahan dalam
melokalisasikan tempat-tempat yang diminta, apa nama kelainan neurologis
yang dideritanya?

Hasil Percobaan
1. Perasaan Subyektif Panas dan Dingin
Kesan 1
Untuk waskom bersuhu 200 = dingin (hanya 1 tangan)
Untuk waskom bersuhu 400 = panas (hanya 1 tangan)
Ketika kedua tangan dimasukkan ke dalam waskom yang bersuhu 300, maka
tangan yang sebelumnya berada pada waskom bersuhu 200 akan terasa panas,
sedangkan tangan yang sebelumnya berada pada waskom bersuhu 40 0 akan terasa
dingin.
Kesan 2

Setelah punggung tangan dibasahi dengan air dan ditiup perlahan-lahan, punggung
tangan terasa lebih dingin dibandingkan sebelum dibasahi dengan air
Kesan 3
Setelah punggung tangan diolesi dengan alkohol/eter dan ditiup, punggung tangan
terasa lebih dingin dibandingkan setelah dibasahi dengan air. (alkohol/eter sangat
mudah menguap apabila sudah berkontak dengan udara luar)
2. Titik-titik Panas, Dingin, Tekan, dan Nyeri
(NB: Hasil percobaan dilampirkan di bagian belakang makalah ini)
3. Lokalisasi Taktil
Percobaan
Ujung Jari

1 kali
0,2 cm

2 kali
0,1 cm

3 kali
0,3 cm

4 kali
0,1 cm

5 kali
0,3 cm

Telapak

1,5 cm

0,5 cm

1,1 cm

0,2 cm

0,3 cm

Tangan
Lengan Bawah

1 cm

0,5 cm

0,6 cm

1,1 cm

2 cm

Lengan Atas

2,3 cm

1,1 cm

1,2 cm

2 cm

2 cm

Tengkuk

1,2 cm

0,3 cm

0,5 cm

0,9 cm

0,8 cm

4. Diskriminasi Taktil
1. Hasil percobaan dari rangsang Atas Ambang :
Atas

6 cm

4,9

3,9

2,9

1,5

1 cm

0,8

0,6

0,4

Ambang
Ujung

2 cm

cm
2 cm

cm
2 cm

cm
2 cm

cm
2 cm

2 cm

cm
2 cm

cm
2 cm

cm
1 cm

Jari
Tengkuk
Pipi

2 cm
2 cm

2 cm
2 cm

2 cm
2 cm

2 cm
2 cm

1 cm
2 cm

1 cm
2 cm

1 cm
2 cm

1 cm
2 cm

1 cm
1 cm

2. Hasil percobaan dari rangsang Bawah Ambang :

Bawah

0,4

0,6

0,8

1 cm

1,5

2,9

3,9

4,9

6 cm

Ambang
Ujung

cm
1 cm

cm
2 cm

cm
2 cm

2 cm

cm
2 cm

cm
2 cm

cm
2 cm

cm
2 cm

2 cm

jari
Tengkuk
Pipi

1 cm
1 cm

1 cm
2 cm

1 cm
2 cm

2 cm
2 cm

2 cm
2 cm

2 cm
2 cm

2 cm
2 cm

2 cm
2 cm

2 cm
2 cm

5. Perasaan Iringan (After Image)


Percobaan ini dilakukan dengan meletakkan pensil yang diselipkan di telinga OP
dan tetap dibiarkan terselip selama beberapa saat. Ketika pensil diambil dari telinga
OP, OP masih dapat merasakan adanya keberadaan pensil yang terselip di telinganya.
Fenomena OP yang masih dapat merasakan keberadaan pensil walaupun pensil telah
diambil dari telinganya inilah yang disebut sebagai perasaan iringan.
6. Daya Membedakan Berbagai Sifat Benda
a. Kekasaran Permukaan Benda
Untuk membedakan kekasaran permukaan benda, digunakan berbagai macam
ampelas dengan derajat kekasaran yang berbeda. OP mampu membedakan
kekasaran benda dengan tepat dan mampu pula mengurutkan kekasaran ampelas
dari yang paling halus, sederhana kasar hingga yang paling kasar.
Kekasaran Permukaan Ampelas

Jawapan Orang Percobaan

Kasar

Kasar

Sederhana Kasar

Sederhana Kasar

Licin

Licin

b. Bentuk Benda
Untuk membedakan bentuk benda, kami menggunakan berbagai macam bendabenda kecil, antara lain tutup pulpen, penghapus, rautan, dan kotak isi pensil
mekanik. Selama percobaan, OP mampu menyebutkan nama-nama benda yang
disentuhnya dan mampu pula mendeskripsikan bagaimana bentuk benda yang
sedang dipegangnya.

Bahan yang Diberi

Jawapan Orang Percobaan

Penghapus

Penghapus

Pen

Pen

Pencil

Pencil

Sharpener

Sharpener

Lead Box

Lead Box

c. Bahan Pakaian
Untuk percobaan ini, kami menggunakan berbagai macam bahan pakaian yang
telah disediakan. Selama percobaan, OP mampu mendeskripsikan bagaimana jenis
bahan pakaian yang dipegangnya.

Bahan Pakaian yang Diberi

Jawapan Orang Percobaan

Tipis dan Berserabut

Tipis dan Berserabut

Tipis dan Kasar

Tipis dan Kasar

Tebal dan Bergelombang

Tebal dan Bergelombang

Tipis dan Licin

Tipis dan Licin

Tebal dan Kasar

Tebal dan Kasar

7. Tafsiran Sikap
Selama percobaan, OP tidak menemukan kesulitan dalam menyebutkan lokasilokasi mana saja yang baru saja disentuh oleh tangannya, selain itu OP juga tidak
menemukan kesulitan berarti dalam menyentuh telinga, hidung, dan dahinya setelah
mengangkat lurus lengannya. OP tidak memiliki gangguan neurologis dan masih
memiliki sistem saraf yang bekerja normal.
Pembahasan
Pembahasan Percobaan I dan II
Sekilas Mengenai Alat Indra Kulit
Reseptor sensorik dapat merupakan bagian dari neuron atau sel khusus yang

membangkitkan potensial aksi di neuron. Reseptor sensorik bersatu dengan sel non-saraf
yang melingkupinya dan membentuk alat indra. Reseptor di tiap indera disesuaikan untuk
berespon terhadap satu bentuk energi tertentu. Bentuk energi tertentu ketika reseptor ini
paling sensitif dinamakan rangsangan yang adekuat.
Terdapat empat sensasi kulit : raba-tekan (tekanan adalah rabaan yang ditahan agak
lama), dingin, hangat, dan nyeri. Representasi dari berbagai sensasi di kulit ini bersifat
pungtata. Ketika kulit dipetakan secara cermat dan di gambar garis setiap milimeternya,
sensasi akan timbul dari titik-titik yang terletak di atas reseptor raba.
Sebagian besar kulit dapat merasakan keempat sensasi tersebut. Hal ini menunjukkan
bahwa reseptor terletak di ujung saraf bebas, terutama di kulit dan jaringan subkutis. Unit
reseptor kulit secara umum, depolarisasi disebabkan oleh hambatan kanal K+, pengaktifan
kanal Na+, atau penghambatan Na+-K+ATPase (masih belum pasti).

Raba (Mechanoreseptor)
Tekanan adalah rasa raba yang menetap. Reseptor raba paling banyak ditemukan
dikulit jari tangan serta bibir. Serabut sensorik A yang menyalurkan impuls dari reseptor
raba ke susunan saraf pusat memiliki diamter 5-12 m dan memiliki kecepatan konduksi
30-70 m/det. Sebagian impuls saraf raba juga dihantarkan melalui serabut C. Informasi
rasa raba disalurkan melalui jalur lembarniskus maupun jalur anterolateral, sehingga
hanya lesi yang sangat kuat yang dapat menghilangkan sensasi raba. Apabila columna
dorsalis dirusak, sensasi getaran dan propriosepsi akan berkurang, ambang rasa raba akan
meningkat, dan jumlah daerah yang yang peka terhadap rasa raba di kulit menjadi
berkurang. Mechanoreseptor sangat sensitif terhadap rangsangan yang terjadi pada
membran sel. Membran sel memiliki regulasi mekanis ion channel dimana bisa terbuka
ataupun tertutup bila ada respon terhadap tegangan, tekanan dan yang bisa menimbulkan
kelainan pada membran. Terdapat tiga jenis mechanoreseptor antara lain:
Tactile reseptor atau reseptor taktil memberikan sensasi sentuhan, tekanan dan getaran.
Sensasi sentuhan memberikan inforamsi tentang bentuk atau tekstur, dimana tekanan
memberikan sensasi derajat kelainan mekanis. Sensasi getaran memberikan sensasi
denyutan/ debaran.

Baroreseptor untuk mendeteksi adanya perubahan tekanan pada dinding pembuluh darah
dan pada tractus digestivus, urinarius dan sistem reproduksi.
Proprioseptor untuk memonitor posisi sendi dan otot, hal ini merupakan struktur dan
fungsi yang kompleks pada reseptor sensoris.
Suhu (Thermoreseptor)
Temperatur reseptor/ thermoreseptor merupakan free nerve ending yang terletak pada
dermis, otot skeletal, liver, hipotalamus. Reseptor dingin tiga/ empat kali lebih banyak
daripada reseptor panas. Tidak ada strukur yang membedakan reseptor dingin dan panas.
Sensasi temperatur diteruskan pada jalur yang sama dengan sensasi nyeri. Mereka dikirim
terlebih dahulu ke formasio retikularis, thalamus dan korteks primer sensoris.
Thermoreseptor merupakan phasic reseptor, yang akan segera aktif bila temperatur
berubah, tetapi cepat beradaptasi sehingga menjadikan temperatur tubuh cepat stabil.
Kulit manusia itu sendiri, memiliki daerah peka-dingin dan daerah peka-panas yang
terpisah. Daerah peka-dingin terdapat empat sampai sepuluh kali lebih banyak
dibandingkan dengan daerah peka-panas. Reseptor dingin berespon terhadap suhu 1038C, dan reseptor panas terhadap suhu dari 30-45C. aferen untuk suhu dingin adalah
serabut C dan A, sedangkan eferen untuk panas adalah serabut C. Karena organ indra
terletak didaerah sub-epitel, suhu jaringan subkutis lah yang menentukan respon. Benda
logam dingin terasa lebih dingin dibandingkan dengan benda kayu dengan suhu sama,
karena logam menghantarkan panas ke luar kulit lebih cepat sehingga menyebabkan
jaringan sub kutis lebih dingin.
Nyeri (Nosiseptor)
Organ indra untuk nyeri adalah ujung-ujung saraf telanjang yang dijumpai di hampir
semua jaringan tubuh. Impuls nyeri dihantarkan ke susunan saraf pusat oleh dua sistem
serabut. Satu sistem nonisepor berbentuk serabut A bermielin dengan diameter 2-5 m.
Sistem ini menghantarkan dengan kecepatan 12-30 m/det. Sistem yang satu lagi terdiri
dari serabut C tak bermielin dengan diameter 0,4-1,2 m. Serabut ini sering ditemukan di
bagian lateral radiks dorsalis sehingga sering disebut serabut C radiks dorsalis. Serabutserabut ini menghantarkan impuls dengan kecepatan sebesar 0,5-2 m/det. Transmitter

sinaps yang disekresi oleh serabut aferen primer yang menghantarkan nyeri ringan
dengan cepat adalah glutamat, dan yang menghantarkan nyeri hebat dengan lambat
adalah subtansi P. Nyeri, oleh Sherrington, disebut sebagai aspek pelengkap fisik dari
refleks protektif mutlak. Rangsangan nyeri umumnya memicu respon menarik diri atau
menghindar yang kuat. Sensasi nyeri bersifat unik karena nyeri memiliki pembawaan
berupa efek yang tidak menyenangkan. Reseptor nyeri/nosiseptor itu sendiri terletak pada
daerah superfisial kulit, kapsul sendi, dalam periostes tulang sekitar dinding pembuluh
darah. Jaringan dalam dan organ visceral mempunyai beberapa nosiseptor. Reseptor nyeri
merupakan free nerve ending dengan daerah reseptif yang luas, hal ini menyebabkan
sering kali kita sulit membedakan sumber rasa nyeri yang tepat.
Nosiseptor sensitif terhadap temperatur yang ekstrim, kerusakan mekanis dan kimia
seperti mediator kimia yang dilepaskan sel yang rusak. Bagaimanapun juga rangsangan
yang kuat akan diterima oleh ketiga tipe reseptor. Untuklah kita bisa merasakan sensasi
rasa nyeri yang disebabkan oleh asam, panas, luka yang dalam. Rangsangan pada dendrit
di nosiseptor menimbulkan depolarisasi, bila segmen akson mencapai batas ambang dan
terjadi potensial aksi di susunan saraf pusat.
Pada kulit, terdapat sejumlah reseptor seperti reseptor panas, dingin, tekan, dan nyeri.
Reseptor-reseptor tersebut merupakan badan akhir saraf atau sel-sel khusus untuk fungsi
sensorik. Klasifikasi reseptor dapat dibuat berdasarkan tipe energi khusus atau kepekaan
terhadap modalitas tertentu yaitu :
1.
2.
3.
4.

Termo-reseptor (peka terhadap perubahan suhu)


Mekano-reseptor (peka terhadap sentuhan dan tekanan)
Kemo-reseptor (peka terhadap perubahan kimiawi)
Osmo-reseptor (peka terhadap perubahan tekanan osmotik)
Kemudian berdasarkan berdasarkan letak sumber rangsang sehubungan dengan tubuh,
yaitu :
1. Ekstero-reseptor, terletak pada permukaan tubuhn dan berespon terhadap rangsang
eksternal/luar.
2. Propioreseptor, berespon terhadap perubahan posisi dan pergerakan terutama

berhubungan dengan sistem muskuloskeletal.


3. Interoreseptor, terletak pada visera/alat dalaman dan pembuluh darah.
Berdasarkan morfologik, reseptor dibagi atas dua jenis utama :

1. Badan akhir yang bebas/ terbuka (tanpa kapsul) yang tidak berhubungan dengan
tipe sel lainnya.
2. Badan akhir yang berkapsul (korpuskular) yang mengandung unsur bukan saraf
disamping badan akhir saraf.
Terdapat sejumlah reseptor yang bisa didapati pada permukaan kulit dan bagian lain
dari tubuh . Pertama adalah beberapa ujung saraf bebas, yang dapat dijumpai di semua
bagian kulit, dan jaringan jaringan lain, dapat mendeteksi rabaan dan tekanan serta rasa
sakit. Kedua, badan Meissner, suatu reseptor raba dengan sesitivitas khusus. Badan ini
banyak dijumpai pada bagian kulit yang tidak berambut dan terutama banyak sekali
dijumpai di ujung jari, bibir, dan daerah kulit lain sehingga orang mempu membedakan
lokasi spesial dari sensasi raba yang sangat berkembang. Badan Meissner terutama sekali
peka terhadap pergerakan objek diatas permukaan kulit seperti juga getaran berfrekuensi
rendah.
Ketiga, diskus Merkel, suatu reseptor taktil yang ujungnya meluas yang biasa didapati
pada hampir seluruh bagian kulit, berambut ataupun tidak berambut. Jenis reseptor ini
berbeda dengan badan Meissner karena jenis reseptor ini menjalarkan sinyal yang pada
awalnya kuat, namun daya adaptasinya lambat. Oleh karena itu reseptor ini berperan
dalam menjalarkan sinyal tetap yang dapat menyebabkan orang dapat terus-menerus
menentukan macam perabaan suatu objek pada kulitnya.
Keempat, pergerakan sedikit saja pada rambut tubuh akan merangsang serabut saraf
yang pangkalnya melilit. Jadi, setiap rambut dan bagian dasar serabut saraf, yang disebut
organ ujung rambut, juga merupakan suatu reseptor raba. Reseptor ini terutama
mendeteksi pergerakan objek pada permukaan tubuh atau kontak awal dengan tubuh.
Kelima, ujung organ Ruffini, terdapat pada lapisan kulit dan jaringan bagian dalam.
Ruffini berperan khas dalam deteksi rasa panas dan berguna untuk menjalarkan sinyal
yang datang terus-menerus. Reseptor ini dapat dijumpai di sendi dan membantu
menjalarkan sinyal derajat rotasi sendi.
Keenam, badan Vater-Pacini. Reseptor ini terletak tepat dibawah kulit dan jaringan
fasia tubuh. Reseptor ini hanya dapat dirangsang oleh penekanan lokal jaringan yang
cepat. Oleh sebab itu reseptor ini terutama berguna untuk mendeteksi perubahan mekanis
yang cepat pada jaringan.

Dan yang terakhir adalah badan Krause yang berperan dalam mendeteksi penarikan
kalor dari reseptor atau disebut sebagai reseptor rasa dingin.
Hampir seluruh informasi sensorik yang berasal dari segmen somatik tubuh memasuki
medula spinalais melalui saraf-saraf spinal pada radiks dorsalis. Meskipun demikian, dari
titik masuk ke dalam medula spinalis ini dan kemudian ke otak, sinyal sensorik akan
dibawa melalui salam satu dari dua jaras sensorik bolak-balik yaitu sistem kolumnya
dorsalis-lemnikus medialis atau sistem anterolateral. Kedua sistem ini bertemu kembali
pada tingkat talamus.
Sistem komlumna dorsalis-lemnikus medialis, sesuai dengan namanya, menjalarkan
sinyal naik ke medula otak terutama dalam kolumna dorsalis medula spinalis. Lalu
setelah sinyal tersebut bersinaps dan menyilang ke sisi berlawanan didalam medula,
sinyal tersebut akan naik melalui lemnikus medialis di batang otak menuju talamus.
Jenis-jenis sensasi yang dijalarkan melalui sistim ini adalah sensasi raba dengan derajat
lokalisasi tinggi, sensasi raba dengan intensitas gradasi halus, sensasi getaran, sensasi
gerakan permukaan kulit, dan sensasi tekan.
Sementara itu, dalam sistim anterolateral. Segera setelah memasuki meddula spinalis
dari radiks saraf spinalis dorsalis, bersinaps di dalam kornu dorsalis substansia grisea
medula spinalis, lalu menyilang ke sisi yang berlawanan dan naik melalui substansia alba
anterior dan lateral medula spinalis. Sinyal tersebut lalu berakhir pada seluruh tingkat
batang otak yang lebih rendah dan juga di talamus. Jenis-jenis sensasi yang dijalarkan
melalui sistem ini adalah rasa nyeri, sensasi termal, sensasi raba dan tekan kasar, sensasi
geli dan gatal, dan sensasi seksual.
Setelah semua rangsang dihantar menuju talamus, rangsang tersebut akan
diterjemahkan otak menjadi rangsang yang kita kenal sebagai rasa tekan, nyeri, dan
sebagainya di area somatosensorik satu dan dua, serta area asosiasi somato sensorik (area
Brodman 5 dan 7)
Pembahasan Percobaan III dan IV
Reseptor Taktil
Reseptor taktil adalah alat indera yang paling luas, terletak di seluruh permukaan kulit
dan beberapa selaput lendir. Ada dua fungsi penting dari reseptor ini yaitu untuk survival;

dengan mengidentifikasi sentuhan ringan secara umum, temperatur, dan rasa nyeri.
Sedangkan fungsi diskriminasi yang berkembang kemudian, penting untuk mengenal
tekstur, bentuk, lokasi akurat dari suatu sentuhan dan berperan penting dalam
perkembangan persepsi tubuh, keterampilan motorik halus dan praksis.
Reseptor indera taktil terletak pada kulit dan beberapa lokasi selaput lendir. Indera
taktil memberikan informasi tentang kualitas benda-benda yang diraba (keras, halus,
dsb), arah gerak dari input taktil dan lokasi dari input tersebut (=fungsi diskriminatif).
Selain itu sistem taktil juga menerima rasa raba halus, nyeri dan temperatur (=fungsi
protektif).
Dalam kaitannya dengan percobaan III, daerah ujung jari memiliki nilai rata-rata
yang paling kecil di antara yang lainnya, hal ini disebabkan karena daerah ujung jari
manusia memiliki medan reseptif yang kecil (medan reseptif: regio tertentu permukaan
kulit dimana setiap neuron somatosensorik dapat berespon terhadap informasi
rangsangan). Medan reseptif ini memiliki ukuran yang berbanding terbalik dengan
densitas reseptor. Semakin rapat reseptor jenis tertentu tersusun maka akan semakin kecil
luas kulit yang dipantau oleh masing-masing reseptor. Semakin sempit medan reseptif
dalam suatu daerah, maka akan semakin tinggi ketajaman atau kemampuan diskriminasi.
Hal inilah yang terjadi pada daerah ujung jari manusia. Daerah ujung jari manusia kaya
akan saraf karena memiliki medan reseptif yang kecil sehingga informasi rangsangan
akan didapat dengan lebih spesifik, oleh karena itulah OP akan lebih mudah
melokalisasikan taktil pada daerah ujung jari ketimbang di daerah yang memiliki medan
reseptif lebih luas seperti pada lengan bawah maupun lengan atas. Selain kerapatan
reseptor, hal lain yang mempermudah lokalisasi rangsangan ialah inhibisi lateral. Dengan
inhibisi lateral, jalur reseptor yang paling terangsang (mis: oleh karena rangsangan ujung
pensil) akan menghambat transmisi impuls di jalur-jalur reseptor yang ikut terangsang
namun dengan derajat rangsangan yang lebih ringan sehingga lokalisasi ujung pensil
akan lebih jelas dan tidak samar. Penghambatan transmisi impuls lebih lanjut terhadap
masukan yang lebih lemah akan meningkatkan kontras antara informasi yang diinginkan
dan tidak diinginkan sehingga lokasi ujung pensil dapat diketahui dengan pasti.
Kemampuan seseorang untuk menentukan tempat rangsang taktil dikenal sebagai
toponogsia. Selain memiliki kemampuan untuk menentukan tempat rangsang taktil,

manusia juga memiliki daya untuk membedakan 2 titik yang disebut two point
discrimination. Two point discrimination ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk
masih dapat membedakan tekanan dari 2 titik pada kulit sebagai 2 titik yang terpisah.
Jarak minimum antara 2 rangsang raba yang masih dirasakan terpisah disebut sebagai
ambang 2 titik. Secara teori, untuk ujung jari, ambang 2 titiknya sekitar 2,3mm dan untuk
tengkuk sekitar 54 mm. Apabila jumlah reseptor raba semakin banyak, katakanlah
tersusun dengan padat maka ambang 2 titik akan semakin kecil. Ambang 2 titik untuk
daerah tengkuk pada hasil percobaan menunjukkan nilai yang paling besar, maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa rangsangan 2 titik pada daerah tengkuk sulit dibedakan,
sedangkan pada ujung jari menunjukkan nilai yang paling kecil sehingga dapat dikatakan
bahwa rangsangan 2 titik pada ujung jari lebih mudah dibedakan oleh karena keberadaan
reseptor raba yang lebih banyak dan dengan medan reseptif ujung jari yang kecil.
Pembahasan Percobaan V
Perasaan Iringan (After Image/After Disharge)
Sistem saraf mempunyai sirkuit, salah satunya adalah sirkuit reverberasi atau
sirkuit bolak balik (oscilatory). Sirkuit ini dapat disebabkan oleh adanya umpan balik
positif di dalam sirkuit neuron. Umpan balik ini ditujukan untuk merangsang kembali
masukan sirkuit yang sama sehingga sirkuit itu dapat mengeluarkan letupan berulangulang untuk waktu yang lama. Umpan balik positif ini dapat terjadi apabila suatu neuron
memiliki percabangan ke neuron lain yang memiliki percabangan yang menuju kembali
ke neuron sebelumnya. Adanya sirkuit reverberasi atau sirkuit bolak balik sehingga
rangsangan yang telah diteruskan oleh satu neuron kembali lagi kepada neuron tersebut
akan menimbulkan perasaan iringan (after image). Perasaan iringan ini terjadi karena
adanya impuls yang terus beredar dalam lingkaran rantai neuron daerah yang terangsang,
walaupun stimulus sudah tidak ada lagi. Itulah sebabnya, OP masih mampu merasakan
keberadaan pensil yang terselip di telinganya walaupun pensil (atau impulsnya) sudah
tidak ada.
Pembahasan Percobaan VI

Dalam melakukan percobaan, OP tidak menemukan kesulitan dalam menentukan


derajat kekasaran ampelas, mendeskripsikan berbagai macam benda yang dipegangnya
dengan mata tertutup dan menentukan jenis-jenis bahan pakaian yang disediakan. Apabila
OP melakukan kesalahan dalam membedakan sifat benda baik dari segi bentuk, ukuran,
berat ataupun permukaan, maka OP dapat disimpulkan mengalami kelainan neurologis
yang disebut astereognosis. Astereognosis didefinisikan sebagai kelainan neurologis
dimana seseorang tidak mampu membedakan sifat-sifat benda yang disentuhnya dengan
mata yang tertutup atau tanpa penglihatan visual. Astereognosis digolongkan sebagai
agnosia taktil dan umumnya diasosiasikan dengan adanya lesi pada lobus parietal atau
kolumna dorsalis baik dari hemisferi kiri atau kanan dari korteks serebral.
Pembahasan Percobaan VII
Gerak merupakan suatu hal yang lumrah terjadi dalam hidup seorang manusia.
Sepanjang hari, kehidupan manusia tidak terlepas dari gerak. Mulai dari manusia bangun
tidur, hingga akhirnya menutup hari dengan tidur kembali, sudah banyak sekali gerak
yang dilakukan oleh manusia. Gerak itu sendiri merupakan suatu bukti nyata bahwa di
dalam tubuh manusia terjadi penghantaran impul saraf. Gerakan pada manusia, terutama
didasari oleh beredarnya impuls listrik di dalam tubuh manusia. Sehingga bila membahas
mengenai gerak, maka kita pun akan membahas pula bagaimana mekanisme sistem saraf
yang ada di dalam tubuh kita. Sistem saraf pada manusia tersusun menjadi 2 kelompok
besar, yaitu susunan saraf pusat (SSP) yang terdiri atas otak dan medulla spinalis, dan
susunan saraf tepi (SST) yang terdiri dari serat-serat saraf yang membawa informasi
antara SSP dan bagian tubuh lain (perifer). Susunan saraf tepi terbagi lagi menjadi 2
divisi, yaitu divisi aferen yang membawa informasi ke SSP (terutama informasi yang
berkaitan dengan alat indera manusia/rangsangan sensorik) dan divisi eferen yang
membawa informasi ke organ efektor. Divisi eferen dibagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu
sistem saraf somatik yang mempersarafi otot rangka manusia sehingga dapat
menghasilkan pergerakan dan sistem saraf otonom yang mempersarafi otot polos dan otot
jantung serta kelenjar pada manusia. Pada sistem saraf otonom inilah, kita akan
menemukan sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis yang bekerja antagonis

atau berlawanan. Kesemua bagian-bagian itulah yang bekerja bersama-sama dengan


fungsinya masing-masing untuk menunjang aktivitas yang dilakukan oleh manusia, baik
aktivitas gerak yang disadari maupun aktivitas yang tidak dapat dilakukan berdasarkan
kemauan sendiri. Apabila terdapat kelainan pada salah satu bagian, maka akan
memperngaruhi kinerja bagian yang lain. Apalagi, jika kelainan terdapat pada bagian
yang utama/penting maka koordinasi gerakan pada manusia akan menjadi kacau.
Selama melakukan percobaan, OP mampu menyebutkan lokasi-lokasi mana saja yang
disentuh oleh tangannya (kepala, dada, dan lutut) dan OP juga dapat dengan mudah
menyentuh telinga, hidung dan dahinya setelah mengangkat lurus lengannya. Apabila OP
melakukan kesalahan dalam percobaan ini, maka OP dapat dicurigai mengalami kelainan
neurologis yang disebut dysdiadochokinesis.
Kesimpulan
Percobaan I : Manusia dapat membedakan secara subjektif antara panas dan dingin
karena manusia memiliki reseptor pada tubuhnya yang dapat mengenali
perbedaan suhu dan mampu pula beradaptasi terhadap perubahan suhu.
Percobaan II: Pada bagian kulit yang mengandung reseptor tertentu, akan dirasakan
sensasi tertentu sesuai dengan reseptornya.
Percobaan III: Manusia memiliki kemampuan untuk melokalisasi taktil atau merasakan
dan memastikan secara tepat dimana rangsangan diberikan di bagian
tubuhnya. Ujung jari memiliki ketepatan paling tinggi untuk melokalisasi
taktil karena ujung jari kaya akan saraf sehingga fokus terhadap rangsang
yang diberikan lebih tinggi dan akurat. Hal ini sesuai dengan
homunkulus sensorik bahwa tangan memiliki porsi saraf yang paling
banyak, dengan melihat fungsi tangan yang sangat penting.
Percobaan IV: Manusia memiliki kemampuan untuk mendiskriminasikan 2 titik, yang
disebut sebagai two-point discrimination. Ambang 2 titik yang terkecil
dapat ditemukan pada ujung jari sehingga dapat ditarik kesimpulan
bahwa ujung jari memiliki medan reseptif yang kecil dengan
komposisinya yang kaya akan saraf. Sedangkan, pemisahan 2 titik di

tengkuk lebih sulit dibedakan.


Percobaan V: Reseptor melakukan adaptasi terhadap rangsangan yang berupa tekanan,
getaran ataupun sifat fisik benda sehingga ketika rangsang ditiadakan,
maka rangsang masih dapat dirasakan. Fenomena inilah yang disebut
sebagai perasaan iringan/ikutan (After Image/ After Discharge)
Percobaan VI: OP dapat membedakan derajat kekasaran amplas, mendeskripsikan
bentuk benda-benda yang disediakan, dan dapat menyebutkan sifat bahan
pakaian yang dirabanya, hal ini

dikarenakan adanya reseptor

kinaesthesia, yang membuat manusia dapat membeda-bedakan benda


tanpa memerlukan penglihatan secara visual (mata tertutup). Reseptor
tersebut juga bisa membuat sensasi raba, tekanan dan getaran.
Percobaan VII: Kerja saraf yang normal akan menghasilkan penghantaran impuls dari
SSP ke organ motorik dengan lancar, sehingga koordinasi gerak dan juga
pengenalan sikap dapat dilakukan dengan mudah tanpa kesulitan berarti.