Anda di halaman 1dari 32

POLITEKNIK

PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Tujuan
1.1.1

Tujuan umum
Mahasiswa mampu melakukan pengujian macro etsa terhadap suatu
material.

1.1.2

Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus pada pengujian ini:
1. Mahasiswa mampu menganalisa parameter pengelasan.
2. Mahasiswa mampu menganalisa dari setiap parameter pengelasan
pada hasil lasan
3. Mahasiswa mampu menggunakan alat inspeksi dan alat ukur.
4. Mahasiswa mampu menganalisa perlakuan (treatment) yang pernah
dialami oleh suatu material.

1.2

Dasar Teori
1.2.2

Dasar Teori Makro

Pengujian

makro ( macroscope ) adalah proses pengujian

bahan yang

mengguanakan mata terbuka dengan tujuan dapat memeriksa celah dan lubang dalam
permukaan bahan. Angka kevalidan pengujian makro berkisar anatara 0.5 sampai 50 kali.
Pengujian cara demikian biasanya digunakan untuk bahan-bahan yang memiliki struktur
kristal yang tergolong besar atau kasar. Misalnya, logam hasil coran (tuangan) dan bahan
yang termasuk non metal (bukan logam).
Agar

permukaan

logam dapat diamati secara metalografi, maka terlebih dahulu

dilakukan persiapan sebagai berikut :


1.

Pemotongan specimen
Pada tahap ini, diharapkan specimen dalam keadaan datar, sehingga memudahka n

dalam pengamatan.

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

2.

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Mounting specimen (bila diperlukan)


Tahap mounting ini, specimen hanya dilakukan untuk material yang kecil atau

tipis saja. Sedangkan untuk material yang tebal tidak memerlukan proses mounting.
3.

Grinding dan polishing


Tahap grinding dan polishing ini bertujuan untuk membentuk permukaan

specimen agar benar-benar rata. Grinding dilakukan dengan cara menggosok specimen
pada mesin hand grinding yang diberi kertas gosok dengan ukuran grid yang paling kasar
(grid 240) sampai yang paling halus (grid 600). Sedangkan polishing sendiri dilakukan
dengan menggosokkan specimen diatas mesin polishing machine yang dilengkapi dengan
kain wool yang di beri serbuk alumina dengan kehalusan 1-0,05 mikron
Panambahan serbuk alumina ini bertujuan untuk lebih menghaluskan permukaan
specimen sehingga akan lebih mudah melakukan metalografi.
4.

Etsa (etching)

Proses etsa ini pada dasarnya adalah proses korosi atau mengkorosikan permukaan
specimen yang telah rata karena proses grinding dan polishing menjadi tidak rata lagi.
Ketidakrataan permukaan specimen ini dikarenakan mikrostruktur yang berbeda akan
dilarutkan dengan kecepatan yang berbeda, sehingga meninggalkan bekas permukaan
dengan orientasi sudut yang berbeda pula. Pada pelaksanaannya, proses etsa ini dilakukan
dengan cara mencelupkan specimen pada cairan etsa dimana tiap jenis logam mempunya i
cairan etsa (etching reagent) sendiri-sendiri. Perhatikan Gambar 1.1 yang menunjukka n
pengaruh efek proses etsa permukaan specimen yang telah mengalami proses grinding
dan polishing.

a. Permukaan sebelum di etsa

b. Permukaan sesudah di etsa

Gambar 1.1 Pengaruh etsa terhadap permukaan specimen

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

1.2.3

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Pengertian dan Perbedaan Polaritas DCEN DCEP Pada Mesin Las SMAW
Arus DC

Pengelasan pada mesin SMAW arus DC mempunyai dua polaritas DCEN (Direct
Current Elektroda Negatif) dan DCEP (Direct Current Elektroda Positif). Dua polaritas
ini mempunyai perbedaan dalam aplikasinya di dunia industry. Dalam bahasa Inggris
polaritas DCEN disebut sebagai DCSP (Direct Current Straight Polarity) sedangkan
polaritas DCEP disebut sebagai DCRP (Direct Current Revers Polarity).
Keuntungan mesin las arus DC adalah sebagai berikut :
1. Seluruh jenis elektroda dapat dipergunakan (elektroda dengan atau tanpa flux)
2. Seluruh jenis logam dapat dilas
3. Dapat dipergunakan untuk mengelas material yang tipis
4. Mempunyai nyala busur yang stabil
1.2.3.1 Polaritas DCEN
Pengertian polaritas DCEN adalah benda kerja atau material yang akan dilas
disambungkan dengan kutup positif (+) dan elektrodanya disambungkan dengan kutup
negative (-) pada mesin las DC, seperti pada Gambar 1.2 dibawah ini.

Gambar 1.2 Polaritas DCEN


Pada polaritas DCEN busur listrik bergerak dari electrode ke material dasar
sehingga tumbukan electron berada di material dasar yang berakibat 2/3 panas berada di
material dasar dan 1/3 panas berada di elektroda. Pada polaritas DCEN ini juga
menghasilkan pencairan material dasar lebih banyak dibanding elektrodanya, sehingga
hasil las mempunyai penetrasi yang dalam, sangat baik digunakan pada pengelasan yang

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

lambat, wilayah yang sempit dan untuk material yang tebal. Ilustrasi pengelasan
menggunakan polaritas DCEN dapat dilihat pada Gambar 1.3 dibawah ini.

Gambar 1.3 polaritas DCEN

1.2.3.2

Polaritas DCEP

Pengertian polaritas DCEP adalah benda kerja atau material dasar yang akan
dilakukan pengelasan disambungkan dengan kutup negative (-) dan elektrodanya
disambungkan dengan kutup positif (+) dari mesin las DC, seperti pada Gambar 1.4
dibawah ini.

Gambar 1.4 Polaritas DCEP


Pada polaritas DCEP ini busur listrik dari material dasar ke elektroda dan tumbukan
electron berada di elektroda yang berakibat 2/3 panas berada di elektroda dan 1/3 panas
berada di material dasar. Polaritas DCEP menghasilkan pencairan elektroda lebih banyak
sehingga hasil las mempunyai penetrasi dangkal serta baik digunakan pada pengelasan
material yang tipis dengan manic las yang lebar. Ilustrasi pengelasan menggunaka n
polaritas DCEN dapat dilihat pada Gambar 1.5 dibawah ini.

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Gambar 1.5 polaritas DCEP


1.2.4

Besarnya penembusan atau penetrasi

Untuk mendapatkan kekuatan sambungan yang tinggi diperlukan penembusan


atau penetrasi yang cukup. Sedangkan besarnya penembusan tergantung kepada sifat-sifat
fluks, polaritas, besarnya arus, kecepaan las dan tegangan yang digunakan. Pada dasarnya
makin besar arus las makin besar pula daya tembusnya. Sedangkan tegangan memberika n
pengaruh yang sebaliknya yaitu makin besar tegangan makin panjang busur yang terjadi
dan makin tidak terpusat, sehingga panasnya melebar dan menghasilkan penetrasi yang
lebar dan dangkal. Dalam hal tegangan ada pengecualian terhadap beberapa elektroda
khusus untuk penembusan dalam yang memang memerlukan tegangan tinggi. Pengaruh
kecepatan seperti diterangkan sebelumnya bahwa sampai pada suatu kecepatan tertentu
naiknya kecepatan akan memperdalam penembusan, tetapi melampaui kecepatan tersebut
penembusan akan turun dengan naiknya
1.2.5

kecepatan.

Parameter Pengelasan
a. Heat Input
Dari sumber panas yang digunakan, pemanasan logam induk sampai pada

suhu puncak (mencair), mempunyai karakteristik sesuai sifat fisik logam tersebut
antara lain pada suhu tertentu logam tersebut mengalami transformasi baik
sebagian atau seluruhnya, tergantung kecepatan pemanasanya (heating rate).
Sedangkan heating rate tersebut tergantung dari jenis proses pengelasan antara

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

lain arus listrik, tegangan, efisiensi mesin, dan kecepatan las. Adapun rumus untuk
mencari Heat Input sebagai berikut :
=

. .
x100%

b. Tegangan Busur Las


Tingginya

tegangan

busur tergantung

pada panjang

busur yang

dikehendaki dan jenis elektroda yang digunakan. Pada elektroda yang sejenis,
tinggi tegangan busur yang diperlukan berbanding lurus dengan panjang busur.
Pada dasarnya busur listrik yang terlalu panjang tidak dikehendaki karena
stabilitasnya mudah terganggu sehingga hasil pengelasan tidak rata. Disamping
itu tingginya tegangan tidak banyak mempengaruhi kecepatan pencairan,
sehingga tegangan yang terlalu tinggi hanya akan membuang-buang energy saja.
Tegangan busur yang rendah akan menghasilkan penembusan yang dalam
dengan manic yang sempit yang menyebabkan terbentuknya manic buah pir.
Tegangan yang tinggi akan menghasilkan penembusan yang kurang dalam dan
manic yang datar dapat menyebabkan terjadinya retak tegangan seperti terlihat
pada Gambar 1.6. Disamping itu bila tegangan dinaikkan maka keperlua fluks
juga bertambah.
Panjang busur yang dianggap baik kira-ira sama dengan garis tengah
elektroda. Tegangan yang diperlukan untuk mengelas dengan elektroda bergaris
tengah 3 sampai 6mm, kira-kira antara 20 sampai 30 volt untuk posisi datar.
Sedangkan untuk posisi tegak atau atas kepala biasanya dikurangi lagi dengan 2
sampai 5 volt. Kestabilan busur dapat juga didengar dari kestabilan suaranya
selama pengelasan.

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Gambar 1.6 Pengaruh tegangan pengelasan

c. Arus Las
Besarnya arus las yang diperlukan tergantung dari bahan dan ukuran
material, geometri sambungan, posisi pengelasan, macam elektroda dan diameter
inti elektroda. Dalam hal ini daerah las mempunyai kapasitas panas yang tinggi
maka dengan sendirinya diperlukan arus las yang kecil. Bila ada kemungk ina n
terjadi retak panas seperti ada pengelasan baja tahan karat austenite maka dengan
sendirinya harus diusahakan menggunakan arus yang kecil saja. Dalam mengelas
baja paduan, dimana daerah HAZ dapat megeras dengan mudah, maka harus
dilakukan pendinginan yang lambat dan unutuk ini diperlukan arus yang besar dan
mungkin masih memerlukan pemanasan lagi.
Arus las memberikan pengaruh yang terbesar pada penembusan dan
penguatan. Arus yang terlalu kecil akan menghasilkan penembusan yang rendah,
dan bila terlalu besar akan menghasilkan manic berbentuk buah pir seperti terlihat
pada Gambar 1.7 dan akan mudah terjadi retak panas

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Gambar 1.7 Pengaruh arus las

d. Kecepatan Pengelasan
Kecepatan pengelasan tergantung pada jenis elektroda, diameter inti
elektroda, geometri sambungan, ketelitian sambungan dan lain-lainya. Hamper
tidak ada hubunganya dengan tegangan las tetapi berbanding lurus dengan arus
las. Karena itu pengelasan yang cepat memerlukan arus las yang tinggi.
Bila tegangan dan arus dibuat tetap, bila kecepatan pengelasan dinaikkan
maka jumlah deposit persatuan panjang las jadi menurun. Tetapi disamping itu
sampai pada suatu kecepatan tertentu, kenaikan kecepatan akan memperbesar
penembusan. Bila kecepatan pengelasan dinaikkan terus maka masukan panas per
satuan panjang juga akan menjadi kecil, sehingga pendinginan akan berjalan
terlalu cepat yang mungkin dapat memperkeras daerah HAZ.
Pada umunya dalam pelaksanaan kecepatan selalu diusahakan setinggutngginya tetapi masih belum merusak kualitas manic las. Bahwa makin tinggi
kecepatan maka makin kecil perubahan bentuk yang terjadi.
Kecepatan pengelasan yang rendah akan menyebabkan pencairan yang
banyak dan pembentukan manic datar yang dapat menimbulkan terjadinya lipatan
manik. Sedangkan kecepatan yang tinggi akan menurunkan lebar manic dan

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

menyebabkan terjadinya bentuk manic yang cekung dan takik, terlihat seperti
Gambar 1.8 dibawah ini.

Gambar 1.8 Pengaruh kecepatan las

Fungsi Jangka Sorong


1. Untuk mengukur panjang suatu benda dengan ketelitian 0,1 mm (rahang tetap
dan dan rahang geser bawah)
2. Rahang tetap dan rahang geser atas, untuk mengukur diameter benda yang
sangat kecil misal cincin, pipa, dll
3. Tangki ukur dibagian bawah, untuk mengukur kedalaman misalnya kedalaman
tabung, lubang kecil, atau perbedaan tinggi yang kacil.
Cara untuk membaca jangka sorong yaitu sebagai berikut :
1. Tentukan angka yang ditunjukkan skala utama yang tepat terbaca sebelum angka
nol skala nonius pada jangka sorong
2. Tentukan angka dari skala nonius yang berhimpit/segaris dengan skala utama,
kemudian kalikan dengan angka ketelitian alatnya
3. Jumlah angka yang diperoleh dari skala utama dan skala nonius
Cara Menggunakan Jangka Sorong untuk Menghitung dan Mengukur diameter
1. Cara menggunakanya adalah dengan rapatkan rahang atas lalu ditempatkan
benda yang ingin diukur diameternya.

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

2. Taring rahang geser sampai kedua rahang menempel dan menekan bagian dalam
benda
3. Pastikan bahwa dinding bagian dalam benda tegak lurus dengan skala,
maksudnya benda jangan sampai lurus
Cara Menggunakan Jangka Sorong untuk Mengukur Kedalaman
1. Cara menggunakan jangka sorong untuk menghitung atau mengukur kedalaman
adalah dengan menempatkan benda yang ingin diukur kedalamanya pada tangki
ukur
2. Taring rahang geser sampai dengan menyentuh permukaan dalam(dasar lubang)
usahakan agar benda yang diukur kedalamanya dalam keadaan statis/ tidak
bergeser
Cara Membaca Jangka Sorong
Contoh soal cara membaca jangka sorong sebagai berikut, pada contoh Gambar 1.

Gambar 1. Skala pada jangka sorong


Tata cara pembacaan sebagai berikut :
1. Tentukan terlebih dahulu skala utama. Pada Gambar 1. Terlihat skala nonius
terletak diantara skala 2,2 cm dan 2,3 cm pada skala tetap. Jadi, skala tetap
bernilai 2,2 cm
2. Menentukan skala nonius. Skala nonius yang berhimpit dengan skala tetap
adalah angka 4. Jadi skala nonius 4 x 0,01 cm = 0,04 cm

10

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

3. Menjumlahkan skala tetap dan skala nonius. Hasil pengukuran = 2,2 cm + 0,04
cm = 2,24 cm
4. Jadi hasil pengukuran diameter silinder sebesar 2,24 cm

Tang Ampere
Cara Menggunakan Tang Ampere (Clamp Meter) dan Prinsip Kerjanya
Tang ampere atau dalam bahasa inggrisnya disebut dengan Clamp Meter adalah alar
ukur yang digunakan untuk mengukur arus listrik pada sebuah kabel konduktor dengan
dialiri arus listrik dengan menggunakan dua rahang penjepitnya (Clamp) tanpa harus
memiliki kontak langsung dengan terminal listriknya. Dengan demikian, tidak perlu
mengganggu rangkaian listrik yang akan diukur, cukup ditempatkan pada sekeliling
kabel listrik yang akan diukur.
Pada umunya, tang ampere (Clamp Meter) yang terdapat dipasaran memiliki fungsi
sebagai multimeter juga. Jadi selain terdapat dua rahang penjepit, Clamp Meter juga
memiliki dua Probe yang dapat digunakan untuk mengukur resistensi, tegangan AC,
tegangan DC.
Cara Mengukur Arus Listrik (Ampere) dengan Menggunakan Tang Ampere (Clamp
Meter)
Cara menggunakan Tang Ampere ini sebenarnya cukup mudah, yaitu dengan
menjepitkan rahang penjepitnya kek kabel listrik yang diinginkan. Berikut ini adalah
langkah-langkah selengkapnya untuk mengukur Arus Listrik AC atau AC dengan
menggunakan Tang Ampere.
1. Putar atau setting Saklar Clamp Meter ke posisi Ampere Meter (biasanya tertulis
huruf A dengan gelombang sinus diatasnya)
2. Tekan Trigger untuk membuka rahang penjepit Tang Ampere
3. Jepitkan rahang penjepit ke kabel konduktor yang dialiri arus listrik AC (kabel
listrik berada di tengah-tengah rahang penjepit) kemudian lepaskan Trigger
Tang Ampere
Catatan : Jika kabel listrik tersebut belum dialiri listrik, hubugnkan kabel
tersebut atau ON-kan perangkat yang ingin diukur arus listriknya

11

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

4. Baca Nilai Ampere yang tertera di layar Clamp Meter (Tang Ampere).
Untuk mengukur Tegangan dan Resistansi, cara pengukurannya hampir sama dengan
Multimeter yaitu dengan menggunakan Probe yang dicolokan di Terminal COM yang
berwarna Hitam dan Terminal Positif yang berwarna Merah.
Dibawah ini adalah perbedaan Multimeter dan Clamp Meter dalam mengukur Arus
listrik, seperti Gambar 1. :

Gambar 1. A. Pengukuran tegangan, B. Pengukuran arus listrik


Prinsip Kerja Tang Ampere (Clamp Meter)
Pada dasarnya, Tang Ampere (Clamp Meter) menggunakan prinsip induksi
Magnetik untuk menghasilkan pengukuran non-kontak terhadap arus listrik AC.
Arus Listrik yang mengalir di kabel konduktor akan menghasilkan Medan
Magnet. Seperti yang diketahui bahwa, arus AC adalah arus dengan polaritas
yang bolak-balik, hal ini akan menyebabkan fluktuasi dinamis dalam medan
magnet yang sebanding dengan aliran arus listriknya. Sebuah Transformator
yang terdapat di dalam Clamp Meter/Tang Ampere akan merasakan fluktuasi
magnet tersebut dan kemudian mengkonversikannya menjadi nilai Ampere (arus

12

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

listrik) sehingga kita dapat membacanya di layar Clamp Meter. Cara Pengukuran
dengan teknologi ini sangat mempermudahkan kita dalam mengukur arus listrik
AC terutama pada arus listrik AC yang tinggi.

Pengertian Stopwatch
Stopwatch adalah alat yang digunakan untuk mengukur lamanya waktu yang diperlukan
dalam kegiatan. Stopwatch secara khas dirancang untuk memulai dengan menekan
tombol diatas dan berhenti sehingga suatu waktu detik ditampilkan sebagai waktu yang
berlalu. Kemudian dengan menekan tombol diatas yang kedua kali, kemudian
memasang lagi stopwatch pada nol.

Kekurangan dan Kelebihan Stopwatch


a. Kelebihan

Proses perhitungan lebih cepat

Setiap jenis gerakan waktunya diketahui

Biayanya lebih murah

Lebih praktis dalam mencatat data

Data yang di peroleh lebih akurat


b. Kekurangan

Dibutuhkan ketelitian bagi seorang pengamat yang melakukan perhitungan,

karena akan mempengaruhi hasil perhitungan.

Jenis-Jenis Stopwatch
A. Stopwatch Analog
Stopwatch analog berfungsi sebagai alat untuk mengukur lamanya waktu yang
diperlukan dalam suatu kegiatan. Misalnya, stopwatch dapat digunakan untuk
mengukur lamanya waktu yang dibutuhkan oleh seorang pelari untuk dapat
mencapai jarak 50 km. Selain itu,dalam ilmu kimia stopwatch juga dapat
digunakan untuk mengukur lamanya waktu yang dibutuhkan oleh suatu larutan
agar dapat mengalami perubahan suhu. Dalam praktikum fisika, stopwatch

13

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

sering digunakan. Misalnya pada praktikum pengukuran dasar, viskosimeter


aliran fluida, pesawat dan lain sebagainya.
B. Stopwatch Digital
Stopwatch digital merupakan jenis stopwatch yang menggunakan layar/monitor
sebagai penunjuk hasil pengukuran. Waktu hasil pengukuran dapat kita baca
hingga satuan detik
Prinsip Kerja Stopwatch
Stopwatch Analog
Stopwatch analog mempunyai penunjuk seperti jarum jam dan mempunyai dua buah
tombol yaitu tombol start/stop dan tombol kalibrasi . Perhitungan waktu pada stopwatch
analog ini berdasarkan gerakan mekanik. Sistem yang mekanik sangat sulit diubah,
(ditambah atau dikurang) karena peletakan komponen -komponennya memerlukan presisi
yang sangat tinggi.
Pada stopwatch analog ini tidak memakai baterai, sehingga jika sewaktu-waktu stopwatch
analog ini mati ( jarumnya tidak bergerak saat ditekan tombol start), maka hal yang perlu
dilakukan adalah memutar tombol start pada stopwatch tersebut.

Bagian-Bagian Stopwatch Analog :

Tombol start / stop, untuk menjalankan dan menghentikan stopwatch.

Tombol riset, untuk meriset stopwatch ke nol.

Jarum besar, berfungsi sebagai jarum penunjuk dalam satuan detik

Jarum kecil, berfungsi sebagai jarum penunjuk satuan menit

Lingkaran detik, merupakan lingkaran yang berisi angka-angka mulai dari angka

1 sampai 60 dalam satuan detik

Lingkaran menit, merupakan lingkaran yang berisi angka-angka mulai dari 5

sampai 30 dalam satuan menit.

Prinsip kerja stopwatch Analog adalah sebagai berikut :

Saat tombol start ditekan penahan pegas pertama akan terbuka sehingga gerigi

berputar dan pegas pertama akan terkalibrasi secara periodik. Sehingga jarum bergerak.

14

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Pada saat yang sama pegas kedua tertekan sehingga tercipta kombinasi kerja

secara mekanik. Pada saat kalibrasi penekan pegas akan membuat pegas kedua
terkalibrasi sehingga pegas pertama kembali ke tertekan seperti semula. Dan jarum
kembali ke posisi nol.

Stopwatch Digital
Stopwatch digital merupakan jenis stopwatch yang menggunakan layar/monitor sebagai
penunjuk hasil pengukuran, seperti jam digital dimana berhitungan waktu berdasarkan
perhitungan elektronik. Stopwatch Digital Otomatis Peka Cahaya dapat dibuat dengan
menggunakan sensor cahaya sebagai saklar elektronik untuk menentukan awal dan akhir
pencatatan rangkaian pencacah digital dengan ketelitian 0,0001 sekon atau 0,1 ms.

Adapun bagian-bagian dan dari stopwatch digital adalah sebagai berikut :

L.C.D

4 digit tampilan waktu menunjukkan menit ("M") dan waktu detik ("S")

Timer dapat diprogram maksimum sampai 99 menit, 59 detik dan menghitung

mundur

Bel alarm output saat waktu menghitung mundur ke nol

Timer ini juga dapat berfungsi sebagai memory recall


Cara kerja stopwatch digital dimulai saat tombol dalam keadaan ON arus dari sumber
tegangan (baterai) akan mengalir ke komponen-komponen elektronik dalam stopwatch
digital. Komponen-komponen elektronik tersbut yang melakukan perhitungan waktu
dan menampilkanya dalam monitor dalam bentuk angka digital

Alat Ukur Mistar


Cara Penggunaan Alat Ukur Mistar
Caranya:
1. Tempelkan penggaris atau mistar pada benda yang akan diukur panjangnya.
Titik nol pada penggaris harus tepat dengan ujung awal dari panjang benda yang
diukur.

15

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

2. Nilai ukur benda ditunjukkan oleh garis pada skala penggaris atau mistar yang
bertepatan dengan ujung akhir panjang benda.
Contoh:

Nilai hasil pengukuran penggaris atau mistar menunjukkan skala penggaris pada ujung
akhir benda yaitu 2,5 cm dan ada ditengah garis kelima dan keenam dari angka dua
(atau garis 25 dan 26 dari angka Nol) menunjukkan ukuran skala 0,5 mm.
Jadi secara matematisnya:
Hasil pengukuran = 2,5 cm + 0,5 mm (konversikan satuan mm jadi cm --> : 10)
= 2,5 cm + 0,05 cm
= 2,55 cm
Catatan :
1. Skala terkecil penggaris atau mistar adalah 1 mm atau 0,1 cm. Jadi,
tingkat ketelitian penggaris sama dengan 1 mm atau 0,1 cm (tetapi, ada
juga penggaris atau mistar yang tingkat ketelitiannya 0,5 cm).
2. Penggaris atau mistar sering digunakan untuk mengukur panjang benda
yang bentuknya tidak bulat.

Thermo Gun
Fungsi dan Definisi
Adapun fungsi dari infrared Thermo Gun adalah untuk mengetahui temperature kerja
dari sebuah benda atau bahan yang ingin kita ketahui tingkat thermal/panasnya,

16

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

sehingga dapat mendiagnosa atau menganalisa secara dini apabila terjadi penyimpangan
pada komponen yang diukur tadi.
Display dan fungsi yang ada pada Thermo Gun bisa dilihat pada Gambar 1. Dan
Gambar 1. sebagai berikut :

Gambar 1. Display thermo gun

Gambar 1. LCD thermo gun

Keterangan bagian bagian thermo gun sebagai berikut :


A.Visual & audible alarm.
B. Display.
C. Up and Down Keys.
D. Enter.E. Switches for adjusments( inside the units handle )
F. Trigger.
G. Tripod mount( underside of unit )

Display :
1. Laser condition & lock symbol.
2. Main temperature display.
3. Graphic display.
4. Emissivity value.
5. Status bar.
6. Battery life indicator.

Cara Penggunaan

17

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Untuk mendapatkan pengukuran temperature yang akurat, lihat Gambar 1.


Disamping. Tujukan lampu infrared ke target yang akan diukur. Tekan trigger ( F
), temperature object yang di ukurakan muncul di display ( B ). Temperature object
akan muncul selama 7 detik setelah tombol trigger di release/ lepas. Penembakan
terhadap object yang diukur harus dilakukan secarafokus dan jarak antara infrared
dengan object yang di ukur harus sesuai dengan range jarak yang di ijinkan, seperti pada
Gambar 1.. Jika jarak pengukurannya terlalu jauh atau terlalu dekat maka akan
mempengaruhi hasil pengukuran, untuk pengukuran pada exhaust manifold diusahakan
titik fokus tepat pada elbow exhaust manifold, bukan pada cylinder headnya.

Gambar 1.

Gambar 1. Jarak penembakan thermo gun

Setting infrared

18

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Untuk setting infrared diharapkan sama dengan factory default


pabrikan, untuk melakukan perubahan setting bisa dilakukan sesuai
kebutuhan pemakaian di lapangan, dapat dilihat pada Gambar 1.
Adjust/ setting nilai emissivity : Sebelum melakukan pengukuran
temperature menggunakan infrared, hendak nya kita harus mengetahui
jenis bahan apa yang akan di ukur.
Contoh : besi, baja, alumunium atau plastik. Setiap jenis bahan memiliki
nilai emissivity yang berbeda, tergantung dari bahan & permukaannya.
Nilai akan sangat mempengaruhi hasil pengukuran.

Gambar 1. Menu setting thermo gun


Untuk melakukan adjust nilai setting emissivity dapat dilakukan dengan cara tekan
tombol trigger maka akan muncul nilai emissivity yang tertera di display ( 4 ), tahant
ombol trigger sambil dilakukan adjustment tombol nomor ( C ), sesuaikan
dengan tabel emissivity , lihat Gambar 1.. Cara di atas hanya dapat dilakukan dengan
cara meng-aktifkan switch ON tombol DIP setup di dalam handle unit infrared.

19

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Gambar 1. Nilai emifisitas


Perawatan/ Maintenance infrared. Agar infrared terjaga dengan baik & selalu
dalam kondisi siap pakai, maka diperlukan perawatan terhadap infrared. Untuk
perawatan itu sendiri dapat dilakukan dengan cara bersihkan permukaan kaca
memakai kapas yang sedikit dibasahi dengan air untuk menghilangkan debu yang
menempel. Untuk bodi infrared dapat dilakukan pembersihan menggunakan kain
lap biasa, seperi pada Gambar 1. Untuk tempat penyimpanan maksimum
temperature nya sampai 50derajat celcius.

Gambar 1. Pembersihan thermo gun

Welding Gauge
Welding gauge adalah sebuah alat yang biasanya digunakan welding inspector guna
mengukur dari awal sudut groove sampai dengan pengukuran reinforcement baik

20

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

capping maupun root. Welding gauge sendiri memiliki beberapa jenis namun hanya
beberapasaja yang sering digunakan. Didalam welding gauge terdiri dari beberapa item
yang memliki fungsi sendiri-sendiri.

Gambar diatas adalah gambar dari salah satu jenis welding gauge yang sering
digunakan beserta cara pakai dari beberapa item yangada di welding gauge tersebut.

21

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


2.1.1 Proses Pengelasan
2.1.1.1 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam proses pengelasan :
1. Plat 200mm x 50mm x 5mm
2. Electrode E7016 2,6mm
3. Electrode E7018 3,2mm
2.1.1.2 Alat
Alat yang digunakan dalam proses pengelasan :
1. Mistar
2. Jangka sorong
3. Thermo gun
4. Welding gauge
5. Mesin las DC
6. Kapur penggores
2.1.1.3 Langkah Kerja
1. Buat garis lurus memanjang dengan menggunakan kapur pada kedua
permukaan plat sebanyak 2 garis dengan bertujuan hasil lasan yang
diinginkan lurus.
2. Lakukan pengelasan dengan menggunakan variasi antara polaritas dan
ampere dengan tujuan mendapatkan hasil lasan yang berbeda sehingga
nantinya hasil lasan dapat dianalisa dan dibandingkan.
3. Ketika proses pengelasan berlangsung catat dan dokumentasi ampere,
voltase

dan waktu

pengelasan.

Tujuan

dari pencatatan

dan

dokumentasi foto digunakan pada pembuatan WPS dan PQR nantinya.


4. Bersihkan kerak dan spatter yang ada di daerah lasan. Membersihka n
hasil pengelasan bertujuan untuk mempurmudah proses kualifika s i

22

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

oleh para welding inspector untuk pengukuran panjang, lebar dan


ketinggian dari las-lasan.
5. Ukur reinforcement kaping dengan menggunakan welding gauge.
Digunakan demi mandapatkan data ketinggian untuk tujuan inspeksi
las dan dapan dikatan acc, repair maupun reject nantinya. Karna tinggi
las lasan dapat mempengaruhi umur las lasan.

6. Ukur lebar weld metal dengan menggunakan jangka sorong untuk


mengetahui HAZ yang akan terbentuk.

23

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

7. Hitung travel speed untuk memenuhi variable proses perhitungan H


input nantinya.
8. Ukur panjang lasan dengan menggunakan mistar untuk proses
perhitungan travel speed.
9. Hitung Heat Input untuk mengetahui masukan panas yang masuk pada
material sehingga dapat diidentifikasi dari HAZnya.

2.2 Alat dan Bahan


2.2.1 Pengujian Makro
2.2.1.1 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam pengujian makro :
1. 4 buah specimen
2. Kertas gosok (grid 240,320,400 dan 600)
3. Larutan nital 2% (HNO 3 2% + Alkohol 98%)
4. Kain bersih
2.2.1.2 Alat
Adapun beberapa alat yang digunakan saat melakukan pengujian makro :
1. Polishing machine
2. Cawan kimia

24

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

3. Pipet
4. Dryer
2.2.1.3 Langkah Kerja
Langkah langkah dalam melakukan pengujian makro meliputi :
1. Pemotongan specimen
Proses ini tidak dilakukan pada praktik metalografi, karena specimen yang
disediakan telah dipotong dengan ukuran tertentu. Hal ini bertujuan untuk
mempersingkat waktu.
2. Grinding
Adapun langkah kerja saat menggerinda specimen seperti di bawah ini:
Mengambil kertas gosok yang paling kasar (grid 240 ) yang telah digunting
sesuai dengan bentuk piringan hand grinding dan pasang pada polishing
machine.
Menyalakan polishing machine, buka katup sehingga air mengalir di kertas
gosok tersebut dan sampai permukaan halus.
Mengangkat specimen dan amati permukaan yang digosok. Bila masih ada
goresan yang tidak searah dengan orientasi gosokkan, gosok lagi sampai tidak
ada lagi goresan yang tidak searah.
Bila goresan sudah searah, matikan polishing machine dan aliran air, kemudian
ganti kertas gosok dengan grid yang lebih halus ( 400 dan 600) dan gosok lagi
seperti langkah sebelumnya.
Bila proses grinding telah selesai, mematikan polisher kemudian cuci specimen
dengan air.
Hal yang perlu di perhatikan dalam proses grinding yaitu setiap pergantian kertas
gosok maka arah orintasi penggosokan harus tegak lurus dengan arah orientasi
penggosokan sebelumnya. Adapun proses grinding dapat dilihat pada Gambar
2.1 di bawah ini:

25

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Gambar 2.1 Grid kertas gosok (240,320,400, dan 600) dan proses grinding

3. Etsa
Adapun langkah kerja saat melakukan etching pada specimen:
Menyiapkan alat-alat yang diperlukan seperti : pipet, cawan kimia dan hand
dryer yang telah dibersihkan terlebih dahulu.
Mengambil HNO 3 2 ml dengan pipet dan tuangkan ke cawan kimia.
Kemudian campur alkohol 98 ml
Masukkan specimen ke dalam cawan kimia tersebut selama beberapa detik dan
ambil kembali kemudian disiram dengan air.
Mengeringkan specimen dengan dryer.
Adapun proses etching dapat dilihat pada Gambar 2.1 di bawah ini:

Gambar 2.1 Pencampuran larutan antara alkohol 98 ml + HNO 3 2 ml untuk proses etsa

26

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Gambar 2.1 proses pencelupan material ke larutan etsa

Gambar 2.1 Drying speciment setelah pencelupan di larutan antara alkohol 98 ml +


HNO 3 2 ml

27

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengujian Makro
Adapun hasil dan pembahasan pada pengujian makro yang ditunjukkan Tabel 3.1
dibawah ini:
Item

Kanan

kiri

Dalam(DCEN)/dangkal(DCEP)

Dalam(DCEN)/dangkal(DCEP)

G6

Dangkal (DCEP)

Dalam(DCEN)

G6

Dangkal (DCEP)

Dangkal (DCEP)

G6

Dangkal (DCEP)

Dangkal (DCEP)

G6

Dangkal (DCEP)

Dalam(DCEN)

Kode
Specimen
TL6B
M1
TL6B
M2
TL6B
M3
TL6B
M4

Tabel 3.1 Data pengujian makro etsa

Dari hasil pengujian yang telah kami lakukan dapat dilihat pada Gambar 3.1 dibawah ini:

28

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Gambar 3.1 Hasil pengujian makro


Dari hasil pratikum macro etsa yang dilakukan pada Spesimen dengan ada 2 pas
lasan. Di mana kedua lasan tersebut dilakukan dengan proses pengelasan SMAW dengan
variasi polaritas dan elektroda yang berbeda. Dihasilkan perbedaan dari proses
pengelasannya. Lasan yang menggunakan polaritas DCEN tembusannya lebih dalam dan
DCEP lebih dangkal dari DCEN tadi. Hal ini karena Pada polaritas DCEN busur listrik
bergerak dari electrode ke material dasar sehingga tumbukan electron berada di material
dasar yang berakibat 2/3 panas berada di material dasar dan 1/3 panas berada di elektroda.
Pada polaritas DCEN ini juga menghasilkan pencairan material dasar lebih banyak
dibanding elektrodanya, sehingga hasil las mempunyai penetrasi yang dalam, sangat baik
digunakan pada pengelasan yang lambat, wilayah yang sempit dan untuk material yang
tebal. Jika DCEP lebih dangkal karena Pada polaritas DCEP ini busur listrik dari material
dasar ke elektroda dan tumbukan electron berada di elektroda yang berakibat 2/3 panas
berada di elektroda dan 1/3 panas berada di material dasar. Polaritas DCEP menghasilka n
pencairan elektroda lebih banyak sehingga hasil las mempunyai penetrasi dangkal serta
baik digunakan pada pengelasan material yang tipis dengan manic las yang lebar.

29

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

3.2

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

Proses pengelasan
Adapun hasil dan pembahasan pada pengujian makro yang ditunjukkan Tabel 3.2
dibawah ini:
Tabel 3.2 Data pengelasan
Voltase (V)

No Waktu

107 s

132 s

Tank
ampere
23,95
30,5

Polaritas

Panjang
Lasan

Elektroda

26,2

DCEN

199 mm

2,6 mm

33,36

DCEP

199 mm

3,2 mm

Mesin

Lebar
Lasan

Travel
Efisiensi
H input Tank
Capping
H Input mesin
Speed
Mesin
ampere
Jarak/waktu
0,65
H = I.E.V/v =
H = I.E.V/v =
= 199/107
7,35 mm
2,5
65.0,65.23,95/1,86 65.0,65.26,2/1,86
= 1,86
=542,89 J/mm
=595,13J/mm
mm/s
Jarak/waktu
0,65
H = I.EV/v =
H = I.EV/v =
= 199/132
8,8 mm
2,8
75.0,65.30,5/1,51 75.0,65.33,36/1,51
= 1,51
=984,685 J/mm
=1077,01 J/mm
mm/s
Table diatas berisi tentang variable variable pengelasan yang diperoleh ketika proses
pengelasan berlangsung dengan tujuan mendapatkan data untuk acuan proses pembuatan
WPS dan PQR nantinya. Semua dari proses pengelasan tidak boleh sedikit hal terkecil
yang tertinggal untuk dicatat atau didokumentasi arena data tersebut mempengaruhu hasil
lasan dan life cycle dari produk yang dibuat.

30

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang terdapat pada bab III, adapun kesimpulan yang
dapat ditarik dari pengujian metallography ini adalah sebagai berikut :
1. Dari pengujian makro etsa, didapatkan tembusan yang dangkal di setiap material yang
di uji.
2. Perbedaan polaritas dan amper tidak terlalu mempengaruhi penetrasi.
Penggunaan alat ukur sangat mempengaruhi keakuratan hasil uji coba.

31

POLITEKNIK
PERKAPALAN
NEGERI
SURABAYA

LAB UJI BAHAN

KELOMPOK 8

MACRO ETSA TEST

PRAKTIKUM
WPS

PRODI
TEKNIK
PENGELASAN

DAFTAR PUSTAKA

1. Budi Prasojo ST. 2002. Buku Petunjuk Praktek Uji Bahan, Jurusan Teknik
Permesinan Kapal. PPNS-ITS Surabaya
2. Dosen Metallurgi. 1986. Petunjuk Praktikum Logam Jurusan Teknik Mesin. FTI-ITS
Surabaya
3. Harsono & T.Okamura. 1991. Teknologi Pengelasan Logam. PT. Pradya Paramita :
Jakarta
4. M.M. Munir. 2000. Modul Praktek Uji Bahan Vol 1 Jurusan Teknik Banguna n
Kapal. PPNS-ITS Surabaya
5. Wahid suherman Ir. 1987. Diktat Pengetahuan Bahan Jurusan Teknik Mesin. FTIITS Surabaya
6.

http://awan05.blogspot.co.id/2009/02/parameter-parameter-dasar-pengelasan.html

7.

http://www.pengelasan.com/2015/12/pengertian-perbedaan-polaritas-dcen.html

32