Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kota Banjarmasin merupakan kota yang sedang berkembang baik
ekonomi maupun pertumbuhan penduduknya. Pertumbuhan ekonomi yang
sangat pesat tersebut mengakibatkan Banjarmasin melakukan pembangunan
secara besarbesaran. Dengan terus meningkatnya jumlah penduduk, yang saat
ini penduduk banjarmasin berjumlah sekitar ratusan ribu jiwa, melihat
peluang tersebut satu kebutuhan bila pengembangan kota di masa mendatang
mengarah pada aktifitas baik transportasi, perdagangan, dan lain sebagainya.
Banjarmasin sebagai salah satu kota yang sedang berkembang di Indonesia
sering memanfaatkan pelabuhan sebagai sarana transportasi maupun eksport
dan import barang. Dengan merealisasikan Pelabuhan Tri Sakti yang dikelola
oleh PT. PELINDO III cabang Banjarmasin. Hal ini untuk menyeimbangkan
demand akibat pertumbuhan penduduk dengan terbatasnya lahan perkotaan.
Menurut salah satu definisi, reklamasi adalah suatu pekerjaan penimbunan
tanah (pasir berlanau) dengan skala volume dan luasan yang sangat besar
pada suatu kawasan/ lahan yang relatif masih kosong (Wahyudi, 1997).
Di pelabuhan Trisakti ini kapal melakukan berbagai kegiatan seperti
menarik-turunkan penumpang, bongkar muar barang, pengisian bahan bakar,
melakukan perbaikan, mengisi perbekalan dan sebagainya. Untuk bisa
melaksanakan berbagai kegiatan tersebut pelabuhan harus dilengkapi fasilitas
seperti pemecah gelombang, dermaga, peralatan tambatan, peralatan bongkar
muat

barang,

gudang-gudang,

halaman

untuk

menumpuk

barang,

perkantoran, perlengkapan pengisian bahan bakar dan lain sebagainya. Dari


data divisi PT PELINDO III, terlihat bahwa peningkatan aktifitas bongkar
muat semakin tinggi. Hal ini sejalan dengan terus berkembangnya Kota
Banjarmasin sebagai ibu kota Kalimantan Selatan. Terminal petikemas
Banjarmasin memiliki aktifitas bongkar muat yang padat. Meskipun dengan
fasilitas alat berat yang mendukung, namun masih kerap terjadi penumpukan
kapal di tambatan. Hal ini dikarenakan area terminal petikemas yang kurang

luas. Sehingga pada saat air pasang (-7 MLWS), produktifitas bongkar muat
kurang maksimal (Siti Maulidah, 2015).
Dari fakta yang terjadi dilapangan, maka muncullah ide untuk
merencanakan perluasan terminal peti kemas, dengan menambah area lahan
reklamasi. Dengan diadakannya reklamasi dimungkinkan tersedianya lahan
baru yang telah ditimbun untuk melakukan suat proyek pembangunan.
Melihat ketersediaan lahan yang minim maka dilakukan perluasan lahan ke
arah pesisir pelabuhan dengan melakukan reklamasi. Dari data tiap tahun
dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan penambahan luas rencana
area pada dermaga, dan juga kapasitas lahan petikemas beberapa tahun
kedepan, agar kinerja di pelabuhan aman dan lancar terkendali.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pembuatan laporan ini adalah :
1. Bagaimana perhitungan konsolidasi, sehingga tanah mampu menahan
beban keseluruhan penumpukan peti kemas?
2. Bagaimana perencanaan reklamasi lapangan penumpukan petikemas?
3. Bagaimana metode pelaksanaan pekerjaan hingga tercapai bangunan
yang direncanakan?
4. Bagaimana perhitungan Rencana Anggaran Biaya lapangan penumpukan
petikemas tersebut?
1.3. Tujuan
Tujuan dalam laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Mendesain metode pelaksanaan pekerjaan hingga tercapai konstruksi
bangunan yang direncanakan.
2. Merencanakan safety factor dari timbunan tersebut nantinya setelah
mencapai elevasi final yang direncanakan.

1.4. Manfaat
Manfaat dari pembuatan laporan ini adalah :

1. Diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak- pihak terkait yang akan
menjalankan proyek lapangan penumpukan petikemas Kota Banjarmasin,
Kalimantan Selatan.
1.5. Batasan
Batasan-batasan dalam penyelesaian laporan ini antara lain :
1. Perencanaan ini hanya dibatasi pada perhitungan kestabilan tanah
asli dan timbunan untuk perancangan

bangunan

berfungsi sebagai dermaga peti kemas.


2. Tinjauan
dari
segi
harga
yang

yang akan

ekonomis

tidak

diperhitungkan.
1.6. Lokasi Perencanaan
Lokasi perencanaan penambahan dermaga peti kemas adalah areal
pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Gambar 1.1 Peta Lokasi Pelabuhan Trisakti


(sumber : Google Map)

Gambar 1.2 Area Pelabuhan Trisakti


(open_jicareport.jica.go.jp)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Reklamasi
Reklamasi berasal dari kosa kata dalam Bahasa Inggris yaitu to reclaim
yang artinya memperbaiki sesuatu yang rusak. Lebih lanjut dijelaskan dalam
Kamus

Bahasa

Inggris-Indonesia

Departemen

Pendidikan

Nasional,

disebutkan arti reclaim sebagai menjadikan tanah (from the sea). Arti kata
reclamation diterjemahkan sebagai pekerjaan memperoleh tanah.
Ada beberapa sumber yang mendefinisikan arti dari reklamasi yaitu
sebagai berikut :
1. Menurut Pedoman Reklamasi di Wilayah Pesisir (2005), reklamasi
adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rangka
meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut
lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan,
pengeringan lahan atau drainase.
2. Peraturan Menteri Perhubungan No PM 52 Tahun 2011
menyebutkan bahwa, reklamasi adalah pekerjaan timbunan di
perairan atau pesisir yang mengubah garis pantai dan atau kontur
kedalaman perairan.
3. Berdasarkan Pedoman Pengembangan Reklamasi Pantai dan
Perencanaan Bangunan Pengamanannya (2004), reklamasi pantai
adalah meningkatkan sumberdaya lahan dari yang kurang
bermanfaat menjadi lebih bermanfaat ditinjau dari sudut
lingkungan, kebutuhan masyarakat dan nilai ekonomis.
4. Menurut Perencanaan Kota (2013), reklamasi sendiri mempunyai
pengertian yaitu usaha pengembangan daerah yang tidak atau
kurang produktif (seperti rawa, baik rawa pasang surut maupun

rawa pasang surut gambut maupun pantai) menjadi daerah


produktif

(perkebunan,

pertanian,

permukiman,

perluasan

pelabuhan) dengan jalan menurunkan muka air genangan dengan


membuat kanal kanal, membuat tanggul/ polder dan memompa
air keluar maupun dengan pengurugan.
5. Berdasarkan Modul Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan
Reklamasi (2007) adalah suatu pekerjaan/usaha memanfaatkan
kawasan atau lahan yang relatif tidak berguna atau masih kosong
dan berair menjadi lahan berguna dengan cara dikeringkan.
Misalnya di kawasan pantai, daerah rawa-rawa, di lepas pantai/di
laut, di tengah sungai yang lebar, atau pun di danau.
2.2

Tipologi Kawasan Reklamasi


Menurut Modul Terapan Pedoman Perencanaan Tata Ruang
Kawasan Reklamasi Pantai (2007), kawasan reklamasi dibedakan
menjadi beberapa tipologi berdasarkan fungsinya yakni :
1. Kawasan Perumahan dan Permukiman.
2. Kawasan Perdagangan dan Jasa.
3. Kawasan Industri.
4. Kawasan Pariwisata.
5. Kawasan Ruang Terbuka (Publik, RTH Lindung, RTH Binaan,
RuangTerbuka Tata Air).
6. Kawasan Pelabuhan Laut / Penyeberangan.
7. Kawasan Pelabuhan Udara.
8. Kawasan Mixed-Use.
9. Kawasan Pendidikan.
Selain berdasarkan fungsinya, kawasan reklamasi juga dibagi
menjadi beberapa tipologi berdasarkan luasan dan lingkupnya sebagai
berikut :

1. Reklamasi Besar yaitu kawasan reklamasi dengan luasan > 500


Ha dan mempunyai lingkup pemanfaatan ruang yang sangat
banyak dan bervariasi. Contoh : Kawasan reklamasi Jakarta.
2.

Reklamasi Sedang

merupakan kawasan reklamasi dengan

luasan 100 sampai dengan 500 Ha dan lingkup pemanfaatan ruang


yang tidak terlalu banyak ( 3 6 jenis ). Contoh : Kawasan
Reklamasi Manado.
3. Reklamasi Kecil

merupakan kawasan reklamasi dengan luasan

kecil (dibawah 100 Ha) dan hanya memiliki beberapa variasi


pemanfaatan ruang ( hanya 1-3 jenis ruang saja ). Contoh :
Kawasan Reklamasi Makasar.
2.3

Tujuan dan Manfaat Reklamasi


Tujuan dari adanya reklamasi menurut Modul Terapan Pedoman
Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai (2007) yaitu untuk
menjadikan kawasan berair yang rusak atau belum termanfaatkan
menjadi suatu kawasan baru yang lebih baik dan bermanfaat.
Kawasan daratan baru tersebut dapat dimanfaatkan untuk kawasan
permukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pelabuhan udara,
perkotaan, pertanian, jalur transportasi alternatif, reservoir air tawar di
pinggir pantai, kawasan pengelolaan limbah dan lingkungan terpadu, dan
sebagai tanggul perlindungan daratan lama dari ancaman abrasi serta
untuk menjadi suatu kawasan wisata terpadu.
Namun menurut Perencanaan Kota (2013), tujuan dari reklamasi
pantai merupakan salah satu langkah pengembangan kota. Reklamasi
diamalkan oleh negara atau kota-kota besar yang laju pertumbuhan dan
kebutuhan lahannya meningkat demikian pesat tetapi mengalami kendala
dengan semakin menyempitnya lahan daratan (keterbatasan lahan).
Dengan kondisi tersebut, pemekaran kota ke arah daratan sudah tidak
memungkinkan lagi, sehingga diperlukan daratan baru.

2.4

Daerah Pelaksanaan Reklamasi


Perencanaan Kota (2013) memaparkan pelaksanaan reklamasi
pantai dibedakan menjadi tiga yaitu:
2.4.1

Daerah reklamasi yang menyatu dengan garis pantai


semula
Kawasan daratan lama berhubungan langsung dengan

daratan baru dan garis pantai yang baru akan menjadi lebih
jauh menjorok ke laut. Penerapan model ini pada kawasan
yang tidak memiliki kawasan dengan penanganan khusus atau
kawasan lindung seperti :
- kawasan permukiman nelayan
- kawasan hutan mangrove
- kawasan hutan pantai
- kawasan perikanan tangkap
- kawasan terumbu karang, padang lamun, biota laut
-

yang dilindungi
kawasan larangan ( rawan bencana )
kawasan taman lau

Gambar 2.1 Reklamasi yang menyatu dengan garis pantai semula


Sumber : www.perencanaankota.blogspot.com (2013)
2.4.2

Daerah

reklamasi

yang

memiliki

jarak

tertentu

terhadap garis pantai


Model ini memisahkan (meng-enclave) daratan dengan
kawasandaratan baru, tujuannya yaitu :

Menjaga keseimbangan tata air yang ada

Menjaga kelestarian kawasan lindung (mangrove, pantai,


hutan pantai, dll)

Mencegah terjadinya dampak/ konflik sosial

Menjaga dan menjauhkan kerusakan kawasan potensial


(biota laut, perikanan, minyak )

Menghindari kawasan rawan bencana

Gambar 2.2 Reklamasi yang memiliki jarak tertentu terhadap garis


pantai Sumber : www.perencanaankota.blogspot.com (2013)
2.4.3

Daerah reklamasi gabungan dua bentuk fisik (terpisah


dan menyambung dengan daratan)
Suatu kawasan reklamasi yang menggunakan gabungan

dua model reklamasi. Kawasan reklamasi pada kawasan yang


potensial menggunakan teknik terpisah dengan daratan dan
pada bagian yang tidak memiliki potensi khusus menggunakan
teknik menyambung dengan daratan yang lama.
Gambar

2.3

Masterplan

menggunakan

kawasan

reklamasi

gabungan dua reklamasi

Batam

Sumber : Laporan Kegiatan Kawasan Pengembangan Kota Batam (2002)


2.5 Peralatan yang digunakan dalam Pelaksanaan Reklamasi
Menurut Herman Wahyudi dalam buku Teknik Reklamasi
(1997), jenis dan jumlah peralatan untuk pelaksanaan reklamasi sangat
tergantung dari sumber material (quarry), di laut atau di darat dan lokasi
reklamasi, di laut, di pantai, di rawa-rawa, dan sebagainya.
Apabila quarry tersebut terletak di darat (sungai, bukit) maka
peralatan- peralatan yang diperlukan lebih didominasi oleh peralatan
daratan, seperti: Armada dump truck (6 ton), untuk pengangkut, motor
grader, crawler tractor, tire loader dan yang sejenis untuk pemindah dan
tanah/material. Tandem roller, vibrating roller, dan lain-lain untuk
pemadatan. Excavator dengan fungsi yang dapat diubah-ubah, misalnya :
backhoe, clamshell, shovel, dan lain-lain.
Namun jika quarry tersebut terletak di dasar laut, atau di pulau
yang harus menyeberangi lautan, maka tipe-tipe peralatan yang umum
dipakai adalah sebagaimana yang tertera dalam tabel dibawah.
Tabel 2.1 Tipe peralatan untuk pekerjaan reklamasi dan pelindung pantai
Location/Activity
Source of Sand
Material
Sand Transportation

Type of Instrument
1. Trailing Suction Hopper
2. Service Boat
3. Supporting Bridge
1. Sand Beige
2. Tug Boat
1. Cutter/Suction Dredger

Reclamation

Shore Protection

2. Clampshell Dredger
3. Reclaimer
4. Dozer and Loader
5. Shovel or Bucket Crane
6. Crane and Ladder
7. Grader
8. Dump Truck
1. Large Crane and Crab
2. Small Crane and Barge
3. Supporting Barge
4. Service Boat

Sumber : Teknik Reklamasi, Herman Wahyudi (1997)


2.6 Klasifikasi Tanah
Jenis tanah merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan
tanaman karena perbedaan jenis tanah mempengaruhi sifat-sifat dari tanah
tersebut. Untuk memahami hubungan antara jenis tanah, diperlukan
pengetahuan yang mampu mengelompokkan tanah secara sistematik sehingga
dikenal banyak sekali sistem klasifikasi yang berkembang. Untuk
mempelajari hubungan antar jenis tanah maka sistem klasifikasi tanah dibagi
menjadi sistem klasifikasi alami dan sistem klasifikasi teknis (Sutanto, 2005).
1. Test Standart Penetration Test (SPT)
Standart Penetration Test (SPT) dilakukan untuk mengestimasi nilai
kerapatan relatif dari lapisan tanah yang diuji. Untuk melakukan pengujian
SPT dibutuhkan sebuah alat utama yang disebut Standard Split Barrel
Sampler atau tabung belah standar. Alat ini dimasukkan ke dalam Bore
Hole setelah dibor terlebih dahulu dengan alat bor. Alat ini diturunkan
bersama-sama pipa bor dan diturunkan hingga ujungnya menumpu ke
tanah dasar. Setelah menumpu alat ini kemudian dipukul (dengan alat
pemukul yang beratnya 63,5 kg) dari atas.
Menurut teori Terzaghi dan Peck Hubungan nilai N dengan kerapatan
relatif adalah sebagai berikut:
Nilai N
<4
4-10
10-30

Kerapatan Relatif (Dr)


Sangat Tidak Padat
Tidak Padat
Kepadatan Sedang

30-50
>50

Padat
Sangat Padat

2.7 Penurunan Tanah


Bila suatu lapisan tanah mengalami pembebanan akibat beban di
atasnya, maka tanah di dibawah beban yang bekerja tersebut akan mengalami
kenaikan tegangan, ekses dari kenaikan tegangan ini adalah terjadinya
penurunan elevasi tanah dasar (settlement). Pembebanan ini mengakibatkan
adanya deformasi partikel tanah, relokasi partikel tanah, dan keluarnya air
pori dari tanah yang disertai berkurangnya volume tanah. Hal inilah yang
mengakibatkan terjadinya penurunan tanah.
Pada umumnya tanah, dalam bidang geoteknik, dibagi menjadi 2
jenis, yaitu tanah berbutir dan tanah kohesif. Pada tanah berbutir (pasir/sand),
air pori dapat mengalir keluar struktur tanah dengan mudah, karena tanah
berbutir memiliki permeabilitas yang tinggi. Sedangkan pada tanah kohesif
(clay), air pori memerlukan waktu yang lama untuk mengalir keluar
seluruhnya. Hal ini disebabkan karena tanah kohesif memiliki permeabilitas
yang rendah.
Secara umum, penurunan dapat diklasifikasikan menjadi 3 tahap, yaitu :
1.

Immediate Settlement (penurunan seketika), diakibatkan dari


deformasi elastis tanah kering, basah, dan jenuh air, tanpa adanya
perubahan kadar air. Umumnya, penurunan ini diturunkan dari teori
elastisitas. Immediate settlement ini biasanya terjadi selama proses
konstruksi berlangsung. Parameter tanah yang dibutuhkan untuk
perhitungan adalah undrained modulus dengan uji coba tanah yang
diperlukan seperti SPT, Sondir (dutch cone penetration test), dan
Pressuremeter test.

2.

Primary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi


primer), yaitu penurunan yang disebabkan perubahan volume tanah
selama periode keluarnya air pori dari tanah. Pada penurunan ini,

tegangan air pori secara kontinyu berpindah ke dalam tegangan efektif


sebagai akibat dari keluarnya air pori. Penurunan konsolidasi ini
umumnya terjadi pada lapisan tanah kohesif (clay / lempung)
3.

Secondary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi


sekunder), adalah penurunan setelah tekanan air pori hilang
seluruhnya. Hal ini lebih disebabkan oleh proses pemampatan akibat
penyesuaian yang bersifat plastis dari butir-butir tanah.

2.7.1

Immediate Settlement Penurunan Seketika


Penurunan seketika / penurunan elastic terjadi dalam kondisi
undrained (tidak ada perubahan volume). Penurunan ini terjadi dalam
waktu yang sangat singkat saat dibebani secara cepat. Besarnya
penurunan elastic ini tergantung dari besarnya modulus elastisitas
kekakuan tanah dan beban timbunan diatas tanah.

Gambar 2.1 Immediete Settlement

Dimana :

Sc = Immediate settlement
= Beban timbunan (kN/m2)
Es = Modulus elastisitas tanah
s = Poissons Ratio
B = Lebar / diameter timbunan (m)
Ip = non-dimensional influence factor
Schleicher (1926) mendefinisikan factor Ip ini sebagai :

Dimana m1 = L/B (panjang/lebar beban yang bekerja)

2.7.2

Primary Consolidation Konsolidasi Primer


Pada tanah lempung jenuh air, penambahan total tegangan

akan diteruskan ke air pori dan butiran tanah. Hal ini berarti
penambahan tegangan total () akan terbagi ke tegangan efektif dan

tegangan air pori. Dari prinsip tegangan efektif, dapat diambil korelasi
:

= + u
Dimana :
= penambahan tegangan efektif
u = penambahan tegangan air pori
Karena lempung mempunyai daya rembes yang sangat rendah
dan air adalah tidak termampatkan (incompressible) dibandingkan
butiran tanah, maka pada saat t = 0, seluruh penambahan tegangan,
, akan dipikul oleh air (u = ) pada seluruh kedalaman lapisan
tanah.
Penambahan tegangan tersebut tidak dipikul oleh butiran tanah ( =
0).Sesaat setelah pemberian penambahan tegangan, , pada lapisan
lempung, air dalam pori mulai tertekan dan akan mengalir keluar.
Dengan proses ini, tekanan air pori pada tiap-tiap kedalaman pada
lapisan lempung akan berkurang secara perlahan-lahan, dan tegangan
yang dipikul oleh butiran tanah keseluruhan (tegangan efektif / )
akan bertambah. Jadi pada saat 0 < t <
= + u

( > 0 dan u < )

Tetapi, besarnya dan u pada setiap kedalaman tidak sama,


tergantung pada jarak minimum yang harus ditempuh air pori untuk
mengalir keluar lapisan pasir yang berada di bawah atau di atas
lapisan lempung. Pada saat t = , seluruh kelebihan air pori sudah
hilang dari lapisan lempung, jadi u = 0. Pada saar ini tegangan total,
, akan dipikul seluruhnya oleh butiran tanah seluruhnya (tegangan
efektif, ). Jadi = .
Berikut adalah variasi tegangan total, tegangan air pori, dan
tegangan efektif pada suatu lapisan lempung dimana air dapat

mengalir keluar struktur tanah akibat penambahan tegangan, , yang


ditunjukan gambar dibawah.

Proses terdisipasinya air pori secara perlahan, sebagai akibat


pembebanan yang disertai dengan pemindahan kelebihan tegangan air
pori ke tegangan efektif, akan menyebabkan terjadinya penurunan
yang merupakan fungsi dari waktu (time-dependent settlement) pada
lapisan lempung. Suatu tanah di lapangan pada kedalaman tertentu
telah mengalami tegangan efektif maksimum akibat beban tanah
diatasnya (maximum effective overburden pressure) dalam sejarah
geologisnya. Tegangan ini mungkin sama, atau lebih kecil dari
tegangan overburden pada saat pengambilan sample.
tegangan di lapangan tersebut bisa diakibatkan oleh beban
hidup. Pada saat diambil, contoh tanah tersebut terlepas dari tegangan
overburden yang telah membebani selama ini. Sebagai akibatnya,
tanah tersebut akang mengalami pengembangan. Pada saat dilakukan
uji konsolidasi pada tanah tersebut, suatu pemampatan yang kecil

(perubahan angka pori yang kecil) akan terjadi bila beban total yang
diberikan pada saat percobaan adalah lebih kecil dari tegangan efektif
overburden maksimum (maximum effective overburden pressure)
yang pernah dialami sebelumnya.
Apabila beban total yang dialami pada saar percobaan lebih
besar dari maximum effective overburden pressure, maka perubahan
angka pori yang terjadi akan lebih besar. Ada 3 definisi dasar yang
didasarkan pada riwayat geologis dan sejarah tegangan pada tanah,
yaitu :
1. Normally consolidated (Terkonsolidasi secara normal), dimana
tegangan efektif overburden saat ini merupakan tegangan
maksimum yang pernah dialami oleh tanah selama dia ada.
2. Overconsolidated, dimana tegangan efektif overburden saat ini
lebih kecil daripada tegangan yang pernah dialami oleh tanag
tersebut. Tegangan efektif overburden maksimum yang pernah
dialami

sebelumnya

dinamakan

tegangan

prakonsolidasi.

(preconsolidation pressure / PC).


3. Underconsolidated, dimana tegangan efektif overburden saat ini
belum mencapai maksimum, sehingga peristiwa konsolidasi masih
berlangsung pada saat sample tanah diambil.
Ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan dalam penurunan
konsolidasi ini, yaitu :
Besarnya penurunan yang terjadi.
Kecepatan penurunan terjadi.
2.7.3

Secondary Consolidation Konsolidasi Sekunder


Pada akhir konsolidasi primer (setelah tegangan air pori U =
0), penurunan pada tanah masih tetap terjadi sebagai akibat dari
penyesuaian plastis butiran tanah. Tahapan konsolidasi ini dinamakan

konsolidasi sekunder. Variasi angka pori dan waktu untuk penambahan


beban akan sama seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut.
Besarnya konsolidasi sekunder dapat dihitung dengan rumus :
dimana :
Ca = Indeks pemampatan sekunder
e = Perubahan angka pori
t

= Waktu

ep = angka pori pada akhir konsolidasi primer


H

= tebal lapisan lempung, m


Penurunan yang diakibatkan konsolidasi sekunder sangat

penting untuk semua jenis tanag organic dan tanah anorganik yang
sangat mampu mampat (compressible). Untuk lempung anorganik
yang terlalu terkonsolidasi, indeks pemampatan sekunder sangat
kecil sehingga dapat diabaikan.
2.8

Penyebab Penurunan Tanah


Menurut Whittaker and Reddish 1989, penurunan tanah disebabkan
oleh beberapa hal, antara lain:
1. Penurunan tanah alami (natural subsidence) yang disebabkan oleh
proses proses geologi seperti aktifitas vulkanik dan tektonik, siklus
geologi, adanya rongga di bawah permukaan tanah dan sebagainya.
2. Penurunan tanah yang disebabkan oleh pengambilan bahan cair dari
dalam tanah seperti air tanah dan minyak bumi.
3. Penurunan tanah yang disebabkan oleh adanya beban beban berat di
atasnya seperti struktur bangunan sehingga lapisan lapisan tanah
dibawahnya mengalami kompaksi / konsolidasi.
4. Penurunan tanah akibat pengambilan bahan padat dari tanah (aktifitas
penambangan).

2.9

Perbaikan Tanah Lunak


Karakteristik dari tanah lunak adalah daya dukung yang relatif
rendah dan pemampatan relatif besar dan berlangsung lebih lama. Adapun
nilai negatif dari pembangunan kontruksi di atas tanah lempung lunak

antara lain beban bangunan yang mampu dipukul oleh tanah dasar relatif
terbatas, bangunan akan mengalami penurunan yang relatif besar dan
berlangsung relatif lama, dan bangunan sekitar lokasi pembangunan akan
berpontensi mengalami ganguan. Melihat kondisi sebagaian besar tanah di
Indonesia yang merupakan tanah lunak, maka diperlukan metode
perbaikan tanah yang efektif dan efisien. Beberapa metode baru
bermunculan untuk memudahkan dalam memilih dan mempercepat proses
perbaikan tanah lunak. Berikut beberapa metode yang sudah diterapkan
beserta fungsinya:

Tabel 2.2 Beberapa metode perbaikan tanah dan spesifikasinya

2.9.1

Metode Preloading / Vertical Drain


Sistem precompression atau preloading ialah metode
perbaikan tanah dengan memberikan beban awal yang berlebih
Pf+s sedemikian rupa sehingga pada waktu yang pendek
didapatkan penurunan yang sama besarnya dengan total penurunan
Sf dari beban rencana Pf yang disajikan pada gambar berikut:

Gambar 2.3 Prinsip Pembebanan Preloading Pada Pemampatan


Tanah Dengan Beban Awal pf + s > pf (Mochtar 2010)
2.10 Faktor Keamanan Tanah / Slope
Tingkat keamanan pada lereng ataupun tanah sangat penting untuk
menjaga baungunan yang ada di atasnya.

Dengan menjaga tingkat

keamanan dari lereng kita menjaga agar tidak terjadi kelongsoran. Berikut
adalah perumusan safety factor:
2.11 Peningkatan Daya Dukung Tanah
Daya dukung tanah dasar dapat meningkat jika beban timbunan
diletakkan secara bertahap sampai mencapai tinggi timbunan kritis (Hcr).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ardana dan Mochtar
(1999), diketahui bahwa terdapat hubungan antara kekuatan geser
undrainned (Cu) dan tegangan tanah vertikal efektif. Peningkatan daya
dukung tanah akibat pemampatan dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut:
a. Untuk harga Plasticity Index, PI tanah < 120% Cu (kg/cm2) = 0,0737 +
(0,1899 - 0,0016 PI) o'
b. Untuk harga Plasticity Index, PI tanah > 120% Cu (kg/cm2) = 0,0737 +
(0,0454 - 0,00004 PI) o' Dimana harga o' dalam kg/cm2
2.12 Kestabilan Lereng Timbunan (Geotextile)
Geotextile adalah, polimer (sintetis atau alami) bahan tekstil, bukan
tenunan, rajutan atau tenunan, digunakan dalam kontak dengan tanah /
batuan dan / atau bahan geoteknik lainnya dalam aplikasi teknik sipil. Disisi

lain disebutkan pula Geotekstile adalah lembaran sintesis yang tipis,


fleksibel, permeable yang digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah
dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil. Pemanfaatan geotekstil merupakan
cara modern dalam usaha untuk perkuatan tanah lunak. (Sumber : PT.
Teknindo Geosistem Unggul).
Adapun kelebihan / fungsi dari geotextile adalah sebagai berikut:
1. Untuk perkuatan tanah lunak.
2. Untuk konstruksi teknik sipil yang mempunyai Umur
rencana cukup lama dan mendukung beban yang besar
seperti jalan rel dan dinding penahan tanah.
3. Sebagai lapangan pemisah, penyaring, drainase dan sebagai
lapisan pelindung.
2.12.1 Woven Geotextile (Anyaman)
Geotextile Woven adalah geotekstil yang diproduksi dengan
proses interlacing, biasanya di sudut kanan, dua atau lebih benang, serat,
filamen, atau elemen lainnya.Penggunan Woven Geotextile akan
memberikan hasil yang lebih baik sebab arah gaya dapat disesuaikan
dengan arah serat, sehingga deformasi dapat dikontrol dengan baik

2.12.2 Perencanaan Geotextile Sebagai Perkuatan Timbunan

Perhitungan perencanaan geotekstile memerlukan data

yang

didapat dari program bantu seperti GEOSLOPE, antara lain nilai faktor
keamanan (SF), momen penahan/ momen resisten (Mr), jari-jari
kelongsoran (R), serta koordinat titik pusat bidang longsor.

BAB III
METODE PERENCANAAN
3.1 Tinjauan Umum
Metode perancangan yang tersusun bertujuan untuk menganalisa
gambaran singkat mengenai urutan pengerjaan yang dilakukan. Alur dan
tahapan penelitian dijelaskan secara rinci pada bab ini. Adanya metodologi
penelitian ini memudahkan untuk kontrol pengerjaan penelitian yang
dilakukan dan menarik kesimpulan akhir dari serangkaian pengerjaan.
3.2 Studi Literatur
Studi literatur adalah mempelajari buku-buku atau literatur-literatur
untuk mempelajari teori-teori yang telah didapat di perkuliahan untuk
dibandingkan dengan kenyataan pelaksanaan di lapangan.
3.3 Pengumpulan Data dan Analisa Data Sekunder
Data-data yang telah ada bersumber dari data sekunder. Adapun
data-data yang telah didapat berupa layout, data pengujian lapangan, data
spesifikasi bahan.
3.4 Perencanaan Geoteknik
Untuk mendapatkan tinggi timbunan, safety factor, dan metode
pelaksanaan apa yang akan digunakan, maka dilakukan perhitungan secara
manual.
3.5 Perencanaan Timbunan Pre-loading
Perencanaan timbunan pre-loading untuk mengetahui besar beban
timbunan yang mampu ditopang oleh tanah dasar. Perencanaan ini begitu
penting untuk mengetahui apakah tanah mengalami longsor atau aman
untuk diberi beban.

3.6 Perhitungan Pemampatan

Perhitungan pemampatan sangat berguna untuk menentukan berapa


besar penurunan tanah yang terjadi sehingga dapat diketahui volume tanah
yang memampat dan waktu yang dibutuhkan terjadinya pemampatan.
Penurunan yang terjadi pada tanah yang ditimbun dicek berapa lama
waktu penurunannya. Jika waktu tidak mencukupi, maka dipakai preloading
dan PVD. Sedangkan, jika waktu yang dibutuhkan cukup, maka hanya
menggunakan preloading. Setelah ditentukan, cek nilai safety factornya.
Dari nilai safety factor yang telah didapat, untuk perkuatan tanahnya apakah
perlu digunakan geotekstil.
3.7 Perhitungan Pemampatan
Perencanaan detail Infrastruktur reklamasi sebagai berikut :

a. Pekerjaan penyiapan lahan dan pembuatan prasarana


b. Perencanaan pembersihan dan perataan tanah dasar dari vegetasi dan
kotoran lainnya
c. Perencanaan pengambilan/penambangan bahan reklamasi dari quarry
(pengerukan) darat dan/atau laut
d. Perencanaan pembuatan talud penahan tanah dan tembok laut (
seawall )
e. Perencanaan pengangkutan material reklamasi dari quarry darat
dan/atau laut
f. Perencanaan perbaikan tanah dasar
g. Perncanaan penanganan dan penebaran material reklamasi dari darat
atau dari laut
h. Perencanaan pengembangan lahan reklamasi seperti perencanaan
dermaga dan fasilitas pendukungnya
Tahapan ini juga meliputi perencanaan dan perhitungan bangunan
infrastruktur reklamasi pantai termasuk didalamnya gambar desain yang
terdiri atas lay-out dan gambar detail. Adapun alternatif bangunan yang
akan direncanakan antara lain berupa revetment, groin dan seawall, jettty.

3.8 Flow Chart


Mulai

Pengumpulan data dan analisa


data
Perhiutngan Geoteknis Reklamasi
Perencanaan Shore Protection

Perencanaan Pengerukan Material


(Dredging)

Perencanaan Metode Pelaksanaan

Perhitungan RAB

Kesimpulan

Selesai

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisa penurunan dan waktu konsolidasi akan dihitung pada satu dari 4 titik
yang dianggap paling kritis (ketebalan tanah lempung yang paling besar) yaitu B-09.
Penurunan (settlement) yang dianalisa pada analisis besar penurunan ini hanya
diakibatkan oleh konsolidasi primer. Teori terzaghi akan digunakan dalam perhitungan
besar penurunan dan waktu untuk mencapai 90% konsolidasi.

4.1

Perencanaan Tebal Lapisan Perkerasan


Susunan lapisan perkerasan dapat dilihat pada gambar di bawah.

Gambar 4.1 susunan lapisan perkerasan


4.2

Data dan Hasil Parameter Tanah


4.2.1

Hasil Bor
Hal pertama yang dilakukan adalah membuat stratifikasi tanah

berdasarkan hasil
pengujian

penyelidikan

lapangan berjumlah

titik

data

(Standard Penetration Test/SPT). Penentuan lapisan tanah

dilihat dari keseragaman nilai spt serta deskripsi tanah tercantum pada
hasil bor-log. Perhitungan dan pengolahan data dapat dilihat sebagai
berikut:

4.3 Data Tanah Timbunan


Material timbunan merupakan tanah biasa yang memiliki spesifikasi teknis sebagai berikut:
-

Sifat fisik tanah timbunan:


sat

=1.80 t/m3

= 1.27 t/m3

= 30o

=0

Geometri timbunan
Tinggi timbunan (Hfinal) direncanakan hingga elevasi +3.00 mLWS (termasuk tebal perkerasan setebal 90 cm). Pada
perencanaan ini, direncanakan kemiringan talud 1:2 dengan lebar 100 meter. Dimensi rinci perencanaan geometri
timbunan dapat dilihat pada gambar 4.2

4.4

Perhitungan Konsolidasi

4.4.1

Analisa Besar Penurunan


Berikut ini adalah perhitungan besar penurunan yang diambil dari analisa pada titik B-9. Tinggi inisial yaitu tinggi

timbunan awal yang harus digelar dilapangan agar dapat mencapai tinggi akhir (final) seperti yang direncanakan
dengan menghilangkan settlement pada lapisan compressible tersebut.
Adapun langkah-langkah perhitungan adalah sebagai berikut :
1. Menetukan lapisan compressible
Data tanah adalah data tanah sekunder. Didapatkan tebal lapisan compressible (H) yang diperhitungkan adalah
yang masih bisa mengalami konsolidasi primer (N-SPT < 10 dan qc < 40 kg/cm2). Sebagai pendekatan antara nilai qc
dan NSPT, Meyerhof menyarankan :
qc = 4 N (kg/cm2)
N = Jumlah pukulan pada uji SPT

sehingga

berdasarkan

data

tanah

tersebut

lapisan compressible adalah sekitar 31.5 m dengan jumlah

pukulan sebanyak 8 kali.


2. Membagi lapisan compressible
Menjadi lapisan dengan ketebalan lebih tipis. Pembagian lapisan ini bisa dilakukan tiap 0.5 meter-an 1 meter-an
ataupun 3 meter-an tergantung perencanaan. Pembagian lapisan ini dimaksudkan untuk mendapatkan harga settlement yang
lebih teliti. Dalam perencanaan ini, perencana membagi layer per 3 meter.
3. Mencari nilai Po (tegangan overburden)
Po' ' xh
dimana : h = tinggi lapisan tanah (z) meter

'

= gamma efektif, yaitu

'

sat -

Perhitungan untuk mendapatkan Popada lapisan pertama,


h

= 3 meter

= 1,5 meter

sat

Po

= 1,9 ton/m3
= 1 ton/m3
= 2,7 ton/m2

4. Mencari nilai Pc (tegangan pra konsolidasi)

Pc' Po'2P
f

Pf =

tambahan tegangan yang terjadi pada tanah akibat adanya beban di waktu lampau atau karena flukuasi muka air

tanah. Didapat dari data konsolidasi dengan nilai sebesar 2,7 ton/m2
Jadi

Pc = Po + 2Pf = 2,7 +(2 x 2,7) = 8,1 ton/m2

5. Mencari nilai P
P merupakan tambahan tegangan akibat pengaruh beban timbunan yang ditinjau di tengah-tengah lapisan. Menurut
Braja M. Das (1986), dalam bukunya Principles of Foundation Engineering, Second Edition diagram tegangan tanah
akibat timbunan adalah sbb :
Cara mencari nilainya :
B1

qo =
H

1
21a1

B2

p = qo/ [{(B1+B2)/B2}(1+2) -B1/B2(2)]


dimana :
qo

= beban timbunan (t/m2) qo = timb x htimb

= besarnya tegangan akibat pengaruh beban timbunan ditinjau di tengah-tengah lapisan (t/m2)

= tan-1 {(B1+B2)/z} - tan-1 (B1/z) (radian)

= tan-1 (B1/z) (radian)

B1

= lebar timbunan

B2

= panjang proyeksi horisontal kemiringan timbunan

Contoh perhitungan:
Misal htimb = 3 meter; timb = 1,8 ton/m3; lebar timbunan = 88 m dan kemiringan talud 1:2, maka harga P pada lapisan pertama
adalah :
z

= 1,5 meter

B1

= 44 meter

B2

= 6 meter

= tan-1 {(44+6)/1,5} - tan-1 (44/1.5) (radian)


= 0,23 o

= tan-1 (44/1,5) (radian)


= 88 o

qo

= 1,8 x 3 m
= 5,4 ton/m2

= 5,4/180 [{(44+6)/6}(0,23+88)-44/6(88)]
= 2,7 ton/m2

Harga tersebut akibat beban timbunan; untuk timbunan total yang simetris maka harga tersebut harus dikalikan 2 kalinya,
sehingga :
2p

= 2 x 2,7
= 5,40 kN/m2

6. Menghitung Settlement yang terjadi pada setiap lapisan tanah. Tanah pada perencanaan ini merupakan tanah overkonsolidasi
karena mengalami fluktuasi muka air tanah misal setinggi 1.8 meter.
Perhitungan settlement pada tanah jenis ini dibedakan menjadi 2, yaitu:

jika (Po + P) Pc'

Cs
p ' p
log 0
Hi
1

e
p
'
0
o

Sci

jika (Po + P) > Pc'

Cs
p '
p' p
Cc
log c
log 0
Hi
p'0 1 e0
pc '
1 e0

Sci

Perhitungan besar konsolidiasi


Misal htimb = 3 meter;

timb

= 22 kN/m3; lebar timbunan = 60 m dan kemiringan talud 1:2, maka harga Sc pada lapisan 1 meter

pertama adalah :
Misal :
Cc = 0.825
Cs = 0.147
eo = 1,217
Dari hasil perhitungan di atas :
Po

= 2,7 ton/m2

Pc

= 8,1 ton/m2

= 2,7 ton/m2

Po + 2P = 8,1 ton/m2
Karena Po + P < Pc maka digunakan rumus kedua, sehingga :

Cc
p ' p
log o

p'o
1 eo

Sci =
7

Hi

= 0,112 meter

Mencari settlement total


Tebal lapisan tanah lembek yang mengalami settlement adalah 31,5 m, maka settlement total merupakan penjumlahan dari
settlement setiap lapisan, yaitu sebesar 0,442 meter. Hasil perhitungan settlement terlihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 : Hasil Perhitungan Consolidation Settlement untuk Hrencana = 3 meter


9
H inisial

Menentukan H-inisial
q final ( Sc.( timb w sattimb ))

timb

Perhitungan

H inisial

Pada timbunan dengan tinggi (htimb) = 3 meter dari perhitungan sebelumnya didapatkan :
htimb

= 3 meter

timb

= 1,8 ton/m3

sat timb = 1,8 ton/m3


w

= 1 ton/m3

qfinal

= 5,4 ton/m2

Sc

= 0,442 meter

H inisial

5,4 (0,442 x(1,8 1 1,8))


1,8

= 3,24 meter
Hfinal

= Hinisial - Sc
= 3,24 0,442
= 2,8 meter

4.3

Perhitungan waktu konsolidasi

Perhitungan waktu konsolidasi untuk Uv = 90%


dari data sebelumnya didapatkan :

Hfinal

= 2,8 meter

Hinisial

= 3,24 meter

Sc

= 0,442 meter

Tebal lapisan compressible (Hdr) = 31,5 meter

Cvrata rata

h 2

Cv1

hi

h2

Cv2

h3
...

Cv3

hi
Cvi

Harga Cv rata-rata

25 2



0,00108

0,00109

0,0011

0,0019

= 0,001378631 cm2/sec
= 4,34765

m2/thn


0,0023

Harga Tv
harga Tv diambil berdasarkan Tabel 4.14
Derajat
konsolidasi
U%

Faktor
Waktu
Tv

10

0.008

20
30

0.031
0.071

40
50

0.126
0.197

60
70
80
90
100

0.287
0.403
0.567
0.848

Tabel 4.4 : Variasi Faktor Waktu terhadap Derajat Konsolidasi (Braja M. Das, 1985)
dari tabel diatas untuk derajat konsolidasi U90% didapat Tv = 0.848

Waktu konsolidasi (t)

T90% ( H dr ) 2
Cv
0,848 x(25) 2
4,34765

= 121,905 tahun
Berdasarkan analisa diatas adalah.
Waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan consolidation settlement 121,905 tahun. Sehingga diperlukan upaya untuk membantu
mempercepat proses konsolidasi yaitu dengan pemakaian PVD.
BAB V
SOLUSI
5.1

Perencanaan Geoteknik

5.1.1

Perencanaan PVD
Desain PVD dengan tipe mebradrain memiliki lebar (a) 10 cm, dan tebal (b) 0.3 cm. Dipasang sepanjang lapisan tanah yang

terkonsolidasi yaitu hingga lapisan tanah dangan nilai SPT < 10. Pola pemasangan PVD yang akan digunakan adalah pola segitiga dengan

variasi jarak sebesar 0.5 m, 0.8 m , 1.0 m, 1.3 m, 1.5 m, 2 m, dan 2.5 m. Hal ini dilakukan agar mendapatkan hasil yang efisien untuk
mencapai derajat konsolidasi yang ditargetkan adalah 90%. Contoh perhitungan dalam perencanaan PVD sebagai berikut :
1. Perhitungan Diameter equivalent untuk PVD
Dari data diatas didapat diameter equivalent PVD:
dw

dw =

2( a b )

2(100 3)
3.141592654

= 65,572 mm

Diameter equivalent ( D ) dari lingkaran tanah pengaruh dari PVD.


Harga D = 1.05 S, untuk pola susunan Segitiga untuk perhitungan harga diameter equivalent pada perencanaan di dalam ini untuk
berbagai variasi jarak pemasangan PVD dengan pola pemasangan segitiga diberikan pada Tabel 5.1.
2. Perhitungan Fungsi hambatan yang diakibatkan jarak antar PVD(F(n))
Perhitungan besar fungsi hambatan yang diakibatkan jarak antar PVD untuk berbagai variasi jarak pemasangan PVD dihitung
dengan menggunakan Persamaan berikut:
F(n) = (n2/(n2-1))x(ln(n)-3/4-(1/4n2))
dimana n = D/dw, hasilnya diberikan pada Tabel 5.1.

Jarak PVD
S (m)
1.5
1.75
2
2.25
2.5

D
a
b
Dw
n
(mm)
(mm)
(mm)
(mm)
1575
100
3
65.55
24.03
1838
100
3
65.55
28.03
2100
100
3
65.55
32.04
2363
100
3
65.55
36.04
2625
100
3
65.55
40.05
Tabel 5.1: Perhitungan Faktor Hambatan oleh PVD untuk Pola Pemasangan Segitiga

F (n)
2.43
2.59
2.72
2.84
2.94

3. Perhitungan derajat konsolidasi total


Perhitungan derajat konsolidasi arah horizontal dan vertikal untuk jarak pemasangan PVD, S = 1.50 m untuk tinggi timbunan 1.7 m
dengan pola pemasangan segiempat dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan diatas dengan memberikan waktu sembarang
seperti berikut:
Untuk :

= 1.50 m

= 1.575 m

F(n) = 2.43
t

1 hari

Cv

= 0.00108 cm2/s
= 0.0093312 m2/hari

Ch

kh
kv

.Cv berkisar (2 5) .Cv


dipakai Ch = 2 x Cv
= 2 x 0.00933 m2/hari
= 0.1309 m2/minggu

Derajat konsolidasi vertikal :


t.Cv
Tv
2
Hdr
= (1 x 0.1309)/(252)
= 0.000209

Uv

Tv

=
=

0.01631

Uh 1

1
t 8Ch

D 2 xF n
2




Derajat konsolidasi horisontal :

= 0.1846
Derajat konsolidasi total :
_

Utotal

(1 - (1-

Uh

).(1 -

Uv

)) x 100%

= 18.346 %
Perhitungan derajat konsolidasi total (Utotal) untuk minggu selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 5.2.
t
(minggu)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Tv

Uv

Uh

0.000209
0.000209
0.000209
0.000209
0.000209
0.000209
0.000209
0.000209
0.000209
0.000209
0.000209

0.01631
0.01631
0.01631
0.01631
0.01631
0.01631
0.01631
0.01631
0.01631
0.01631
0.01631

0.1846
0.3352
0.4579
0.558
0.7061
0.7604
0.8046
0.8407
0.8701
0.8941
0.9045

Tabel 5.2 : Hasil Perhitungan Derajat Konsolidasi dengan Spasi 1.50m.

U total
(%)
19.78988
34.60426
46.67414
56.52088
71.08934
76.43078
80.77869
84.32981
87.22186
89.58272
90.60576

4. Menentukan jarak spasi PVD yang digunakan


Dalam perencanaan ini diputuskan menggunakan pola pemasangan segitiga dengan spasi 1,5 meter dengan waktu 11 minggu
untuk mencapai U = 90 %
5.1.2 Pemasangan Horizontal Drain
Dengan menggunakan PHD CETEAU CT-SD100-20, dengan kapasitas pengaliran = 3.77 x 10-4 m3/detik.

Data yang di dapatkan dari perhitungan sebelumnya :

Besar pemampatan tanah

= 1.234 m

Waktu konsolidasi 90%

= 11 miggu

Debit air vertikal rata-rata per m2 tanah


1.234 m

Gambar 5.1 : sketsa keluarnya debit air

Debit =

volume aliran air


waktu pengaliran

1.234 m x 1 m2
21 hari

= 0.0587619 m3 / hari = 6.80 x 10-7 m3/dt

Estimasi debit air per 1 titik PVD

Untuk pemasangan PVD pola segitiga dangan spacing 2 meter :


Luas layanan 1 titik PVD = Ae = Ae = / 4 ( 1,05 x 2 )2 = 3.461 m2
Artinya, setiap 1 titik ujung PVD mengalirkan air seluas 3.461 m2
Sehingga setiap 1 titik ujung PVD mengeluarkan air vertikal sebesar :
= 3.461 x 6.80 x 10-7 m3/detik = 2.35 x 10-6 m3/detik

Jumlah maksimum titik ujung PVD


Panjang maksimum lajur PHD = x 60 m = 30 m
Jarak tititk-titik ujung PVD = 2 m
Jumlah ujung PVD pada 1 lajur PHD = 15 titik
Estimasi debit maksimum aliran air horizontal

Gambar 5.2 : Sketsa penambahan debit air pada setiap titik PVD

estimasi debit maksimum aliran air horisontal pada 1 lajur PHD


= 15 titik x 2.35 x 10-6 m3/detik/titik
= 3.53 x 10-5 m3/detik
Sehingga didapatkan faktor keamanan
kapasitas pengaliran
Debit pengaliran

(SF) =

3.77 x 104 m3 /detik


3.53 x 105 m3 /detik

= 10.67

Konsolidasi, U<100%
Derajat Konsolidasi U%
Kedalama
n

Po'

(meter)

P1'
2

ton/m

H=0m
Umur
Timbunan
0
1
2
3
4

1
2
3
4
5

100
0.3000
0.9000
1.5000
2.1000
2.7000

P2'
2

ton/m

H = 0.5 m

P3'
2

ton/m

H=1m

P4'
2

P5'
2

ton/m

ton/m

ton/m2

H = 1.5

H=2

H = 2.5

m
2

m
1

5 minggu 4 minggu 3 minggu minggu


97.44
94.70
89.04
77.29
1.0458
1.0244
0.9590 0.8238
1.0595
1.0289
0.9625 0.8272
1.0635
1.0314
0.9649 0.8297
1.0653
1.0329
0.9665 0.8316
1.0661
1.0337
0.9675 0.8330

minggu
52.78
0.5517
0.5547
0.5570
0.5589
0.5603

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

3.3000
3.9000
4.5000
5.1000
5.7000
7.1400
7.8200
8.5000
9.1800
9.8600
10.5400
11.2200
11.9000
12.5800
13.2600
13.3250
13.9750
14.6250
15.2750
15.9250

1.0662
1.0659
1.0651
1.0639
1.0622
1.0603
1.0578
1.0547
1.0512
1.0473
1.0429
1.0381
1.0329
1.0272
1.0212
1.0147
1.0080
1.0009
0.9935
0.9859

1.0339
1.0337
1.0330
1.0319
1.0303
1.0287
1.0262
1.0232
1.0198
1.0159
1.0115
1.0068
1.0016
0.9959
0.9899
0.9835
0.9768
0.9698
0.9625
0.9549

0.9680
0.9680
0.9676
0.9667
0.9653
0.9641
0.9618
0.9590
0.9558
0.9521
0.9480
0.9435
0.9385
0.9332
0.9274
0.9212
0.9148
0.9081
0.9011
0.8939

0.8338
0.8342
0.8341
0.8336
0.8326
0.8321
0.8302
0.8279
0.8252
0.8221
0.8186
0.8147
0.8104
0.8057
0.8007
0.7952
0.7896
0.7838
0.7776
0.7713

0.5614
0.5620
0.5624
0.5624
0.5620
0.5622
0.5612
0.5599
0.5582
0.5562
0.5539
0.5514
0.5485
0.5454
0.5421
0.5382
0.5345
0.5305
0.5263
0.5220

Tabel 5.3 : Perubahan Tegangan di Tiap Lapisan Tanah pada Derajat Konsolidasi, U<100%

1. Menghitung kenaikan daya dukung tanah (akibat kenaikan harga Cu).


Harga Cu baru diperoleh dengan menggunakan rumus berikut :
a.

Untuk harga PI tanah <120 %

Cu (kg/cm2) = 0.0737 + (0.1899 0,0016 PI) p


b. Untuk harga PI tanah >120 %
Cu (kg/cm2) = 0.0737 + (0.0454 0,00004 PI) p
2. Mencari Hcr dengan menggunakan harga Cu baru.
Tahap selanjutnya pengecekan daya dukung tanah dasar pada tahap 6 dengan tinggi timbunan total adalah H = 3 meter di
minggu ke- 6. Dengan memasukan nilai Cu pada takedalam rumus didapatkan, SF = 1.273 > 1.2 maka penimbunan boleh
dilanjutkan ketahap 6. Dengan cara yang sama pengecekan dilanjutkan pada ketahap 7 di minggu ke-7 di dapatkan SF = 1.180
<1.2 maka penimbunan tidak boleh dilakukan (ditunda 1 minggu). kemudian di cek kembali daya dukung tanah dasarnya di
dapatkan SF 1.237 > 1.2 maka penimbunan di lanjutkan ketahap 8. Pada tahap 8 dilakukan pengecekan sampai minggu ke 18
dengan nilai Cu mendekati 100% didapat SF = 1.177 <1.2 maka penimbunan harus dilakukan dengan bantuan perkuatan
menggunaka geotextile.
Kedalama
n
(meter)
Umur

Ttahap 6
Cu baru
(kg/cm2)
minggu

Timbunan

ke-6

ke-7

ke-8

ke-9

0.127
0.134

0.136
0.143

0.146
0.153

0.150
0.157

0
1

1
2

Tahap 1 -5
Cu lama
(kg/cm2)

0.140
0.140

Tahap 7
Cu baru
Cu baru
2
(kg/cm ) (kg/cm2)
minggu
minggu

Cu baru
(kg/cm2)
minggu

Cu baru
(kg/cm2)
minggu
ke-10
0.154
0.161

Tahap 8
Cu baru
Cu baru
2
(kg/cm ) (kg/cm2)
minggu
minggu

Cu baru
(kg/cm2)
minggu

Cu baru
(kg/cm2)
minggu

ke-11

ke-12

ke-13

ke-18

0.156
0.163

0.157
0.164

0.158
0.164

0.158
0.165

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

0.140
0.140
0.140
0.140
0.140
0.140
0.140
0.140
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180
0.180

0.141
0.148
0.155
0.162
0.168
0.175
0.182
0.189
0.243
0.253
0.263
0.273
0.282
0.292
0.302
0.311
0.321
0.330
0.331
0.345
0.354
0.364
0.373

0.150
0.159
0.163
0.168
0.157
0.166
0.170
0.174
0.164
0.173
0.177
0.181
0.171
0.180
0.184
0.188
0.178
0.187
0.190
0.195
0.184
0.193
0.197
0.201
0.191
0.200
0.204
0.208
0.198
0.207
0.210
0.215
0.255
0.267
0.272
0.277
0.265
0.276
0.281
0.287
0.275
0.286
0.291
0.296
0.284
0.296
0.301
0.306
0.294
0.305
0.310
0.315
0.304
0.315
0.320
0.325
0.313
0.324
0.329
0.334
0.323
0.334
0.339
0.344
0.332
0.343
0.348
0.353
0.342
0.353
0.357
0.362
0.342
0.353
0.358
0.363
0.357
0.368
0.372
0.377
0.366
0.377
0.381
0.386
0.375
0.386
0.390
0.395
0.384
0.395
0.399
0.404
Table 5.6: rekapitulasi nilai Cu per minggu

0.170
0.176
0.183
0.190
0.197
0.203
0.210
0.217
0.279
0.289
0.299
0.308
0.318
0.327
0.337
0.346
0.355
0.365
0.365
0.380
0.389
0.398
0.406

0.171
0.177
0.184
0.191
0.198
0.204
0.211
0.218
0.281
0.290
0.300
0.310
0.319
0.329
0.338
0.347
0.357
0.366
0.366
0.381
0.390
0.399
0.408

0.171
0.178
0.185
0.191
0.198
0.205
0.211
0.218
0.281
0.291
0.301
0.310
0.320
0.329
0.339
0.348
0.357
0.367
0.367
0.381
0.390
0.399
0.408

0.172
0.178
0.185
0.192
0.198
0.205
0.212
0.218
0.282
0.291
0.301
0.311
0.320
0.330
0.339
0.348
0.358
0.367
0.367
0.382
0.391
0.400
0.409

3. Perencanaan perkuatan menggunakan geotextile.


Untuk H final = 2.5 m
Dari data Dxstable pada lampiran didapat data-data sebagai berikut :
Hinisial = 4 m
SFmin = 1.131 (Pada minggu ke- 9)
Circle center : x1 = 83.19
y1 = 46.72
r (jari-jari kelongsoran) = 18.74 m
MRmin = 14140 kNm
Koordinat dasar timbunan : x = 80
y = 37
koordinat y dasar bidang longsor = 28.02
Spesifikasi dari material Geotextile yang digunakan dalam perencanaan ini adalah
sebagai berikut :
Tipe Geotextile = Polypropylene woven geotextiles UW-250
Kekuatan tarik max = 52 kN/m
Urutan perhitungan perencanaan geotextile sebagai perkuatan timbunan :
1

Mencari nilai Momen Dorong

SF

MRmin
M dorong

M dorong

14140
1.131

= 12502.210 kNm
2

Mencari nilai Momen Rencana dengan angka keamanan rencana


SFrencan = 1.2
SFrencana

= 1.2

MRrencana

= Mdorong x SFrencana
= 12502.210 x 1.2
= 15002.653 kNm

Mencari nilai Tambahan Momen Penahan (MR)


MR

= MRrencana - MRmin
= 15002.653 14140
= 862.653 kNm

Mencari Kekuatan Geotextile yang Diizinkan


Kekuatan tarik max

= 52 kN/m

T
FSib xFScr xFScd xFSbd

Tallow

dimana :
Tallow = Kekuatan geotextile yang tersedia
T

= Kekuatan tarik max geotextile yang digunakan

FSid

= Faktor keamanan akibat kerusakan saat pemasangan


(untuk timbunan = 1.1-2.0) diambil = 1.1

FScr

= Faktor keamanan terhadap kerusakan akibat rangkak


(untuk timbunan = 2.0-3.0) diambil = 2

FScd = Faktor keamanan terhadap kerusakan akibat bahan-bahan kimia


(untuk timbunan = 1.1-1.5) diambil = 1.1
FSbd = Faktor keamanan terhadap kerusakan akibat aktifitas biologi
dalam tanah
(untuk timbunan = 1.1-1.3) diambil = 1.1
Tallow

52
1.1x3.0 x1.1x1.1

=
5

19.534 kNm

Menghitung Panjang Geotextile di Belakang Bidang Longsor


Fx 0
TallowxFS 1 2 xLe xE
Le

TallowxFS
1 2 xE

dimana :
Le

= Panjang geotextile di belakang bidang bidang longsor

= tegangan geser antar tanah timbunan dengan geotextile

1 Cu1 v tan 1
2

= tegangan geser antar tanah dasar dengan geotextile

2 Cu 2 v tan 2
E

= efisiensi diambil E = 0.8

FSrencana

= 1.2

Hi

= Tinggi timbunan di atas geotextile

dari perhitungan sebelumnya didapatkan :


Tallow

= 19.534 kNm

Data timbunan :
Hi

= 1.7 meter

timb

= 22 kN/m3

= timb x Hi
=

1.7 x 22

= 37.4 kN/m2
Cu1

= 0.12 kN/m2

= 17.7o

= 0.12 + (1.7 x tan 17.7o)


= 0.663 kN/m2

Data lapisan atas tanah dasar :

= 22 kN/m3

= timb x Hi
= 4 x 22 kN/m3
= 88 kN/m2

Cu2

= 0.12 kN/m2

= 17,7o

= 0.12 + (88 x tan 17.7o)


= 28.204 kN/m2

Panjang geotextile di belakang bidang longsor :

Le

Tallow xFS
1 2 xE
19.534 x1.2
28.204 28.204 x0.8

= 0.519 meter
6

Menghitung Kebutuhan Geotextile

Dengan rumus di atas didapatkan :


Mgeotextile

= Tallow x Ti x n

dimana :

Hi = Tinggi timbunan di atas geotextile


Ti = Jarak vertikal antara geotextile dengan pusat bidang
longsor
n

= jumlah lapisan (dipakai 2 lapis)

pada geotextile lapisan pertama (pada dasar timbunan)


Hi1 = H timbunan = 4 meter
Ti1

= yo yZ
= 46.72 37
= 9.52 meter

Mgeotextile = 9.52 x 19.534 x 2


= 379.745 kNm
dengan bantuan Tabel 5. 13 diperoleh :
jumlah geotextile = 3 lapis, untuk dapat menghasilkan :
Momen

> MR

= Mgeotextile1 + Mgeotextile2 + ... + Mgeotextile-n > MR

937.641 kNm > 862.653 kNm (OK)


sehingga geotextile yang dibutuhkan dalam perencanaan ini dengan adanya
timbunan bertahap sebanyak 3 lapis. Lapisan pertama memiliki tebal Sv 20
cm di pasang satu lapis Geotextile, serta lapisan kedua dan ketiga memiliki
tebal Sv 15 di pasang dua lapis geotextile.
h
Jumla

timbunan

Tallow

(kN/m2

(kN/m2

Mgeotextile

h (n)
(m)
Ti (m) (kNm)
)
)
(kNm)
Le (m)
1
4.000
9.72 19.534 28.204
28.204
379.745
0.519
2
3.850
9.57 19.534 27.151
27.151
373.884
0.540
3
3.700
9.42 19.534 26.098
26.098
184.012
0.561
Tabel 5.5: Hasil Perhitungan Momen Penahan oleh Geotextile dan Panjang
Geotextile di Belakang Bidang Longsor.
7

Menghitung Panjang Geotextile di depan bidang longsor (LD)

Panjang geotextile di depan bidang longsor adalah sebagai berikut :


Jumlah

koortina

(n)

koordinat pakai

kordinat
Xtepi

Ld (m)

Ygeotextile

y
45.1

40.85

104.04

2
45.1

72

32.04

40.7

104.04

2
45.1

72.3

31.74

timbunan

3
40.5
104.04
2
72.7
31.34
Tabel 5.6: Perhitungan panjang geotextile di depan bidang longsor
8

Menghitung Panjang Total Geotextile


Panjang total geotextile 1 sisi = Le + LD
Panjang total geotextile 2 sisi = 2 x (Le + LD)
Panjang total geotextile dapat dilihat pada Tabel 5. 15.
Karena sisa geotextile sedikit maka untuk memudahkan pelaksanaan
geotextile dipasang selebar timbunan.
Jumlah
(n)

lebar
Le

1 sisi
Ld

LTotal
32.55

2 sisi
LTotal
65.118890

timb
(m)

0.519

32.04

9
32.28

94
64.559188

65

0.540

31.74

0
31.90

31
63.802738

64.4

0.561
31.34
1
02
Tabel 5.7: Perhitungan Panjang Total Geotextile

63.8

Gambar 5.3: Sketsa pemasangan geotextile (gambar tidak


berskala)