Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1

Hasil Pengamatan

4.1.1 Batok Kelapa ( Endocarpium Cocos nucifera)


Gambar Literatur

Hasil Pengamatan

(Knox, 2013)

Gambar 4.1.1 Batok Kelapa ( Endocarpium Cocos nucifera)


Perbesaran 1010
4.1.2 Biji Asam Jawa (Semen Tamarindus indica)
Gambar Literatur

Hasil Pengamatan

(Mustapa, M.A, 2016)

1. Noktah
2. Limen
3. Dinding sel sekunder
14

15

Gambar 4.1.2 Biji Asam Jawa (Semen Tamarindhus indica)


Perbesaran 10 x 10
4.1.3 Daun Sukun (Folium Artocarpus communis)
Hasil Pengamatan

Gambar Literatur

4.2

(Mustapa, M.A, 2016)

1. Trikoma
2. epidermis

Gambar 4.1.3 Daun Sukun (Folium Artocarpus communis)


Perbesaran 10 x 10
Pembahasan
Sel adalah unit terkecil dari makhluk hidup, baik secara struktural dan
fungsional. Sel merupakan satuan dasar yang menyusun organisme. Pada tahun
1665 seorang ilmuwan asal Inggris yang bernama Robert Hooke mengamati
sayatan sel gabus botol mikroskop yang amat sederhana yang terlihat olehnya
adalah struktur dari ruang kecil , dimana dinamakan sel. Nehemiah grew
menuliskan deskripsi pertamanya tentang jaringan tumbuhan pada tahun 1671.
Pada tahun 1980, Heinstein menggunakan istilah protoplas bagi satuan
protoplasma dalam sel (Syamsuri, I. 2000).
Dinding sel merupakan bagian sel yang bersifat mati. Dinding sel
menentukan bentuk sel serta tekstur jaringan, berfungsi sebagai penguat

16

dan melindungi protoplas. Dinding sel pada tumbuhan mempunyai tebal


yang bermacam-macam tergantung pada umur dan tipe sel. Berdasarkan
perkembangannya dan strukturnya dibedakan menjadi tiga bagian
pokok yaitu lamela tengah, dinding primer dan dinding sekunder. Semua
sel mempunyai lamela tengah dan dinding primer sedangkan adanya
dinding sekunder hanya terdapat pada sel-sel tertentu (Sitompul, 1995).
Penebalan dinding sel dapat dibedakan berdasarkan arah
penebalannya, yaitu penebalan sentrifugal (penebalan ke arah luar. dan
penebalan sentripetal (penebalan kearah dalam) (Woelaningsih, 1984).
Pada percobaan kali ini kami mengamati penebalan dinding sel
pada batok kepala (Endocarpium Cocos nucifera), biji Asam Jawa
Tamarindus indica), dan daun sukun (Artocarpus communis). Tahap
pertama yang dilakukan yaitu disiapkan mikroskop sesuai prosedur
penggunaannya. Lalu kaca objek dibersihkan dengan alcohol 70%
bertujuan agar kaca objek terbebas dari debu dan lemak seta organisme
organisme yang dapat merusak sampel (Tjitrosomo, 1983).
Pada percobaan pertama pada irisan membujur permukaan
endocarpium kelapa (Cocos nucifera) dan pada perbesaran mikroskop 10 x
10, hasil pengamatan kami terdapat penebalan sentripetal yaitu penebalan
ke arah pusat sel/dalam, misalnya terdapat pada sel epidermis daun
beringin pada pembentukkan sistolit. Sedangkan untuk bagian dinding
selnya tidak tampak jelas disebabkan hasil gambar pengamatan atau
gambar yang diambil tidak jelas, sedangkan pada literatur

terdapat

dinding sel primer, dinding sel sekunder, noktah dan saluran noktah.
Dinding primer tersusun dari selulosa, senyawa pectin, polisakarida yang
bukan selulosa dan hemiselulosa. Dinding sel sekunder tersusun dari
selulosa, polisakarida non-selulosa dan hemiselulosa , dinding sekunder
berbentuk cincin, sabuk spiral dan berupa potongan-potongan diatas
dinding primer. Noktah dibentuk secara berpasangan dengan letak saling
berhadapan pada sisi-sisi dinding sel yang berlawanan, dan secara
morfologis sering disebut pasangan noktah. Pada hasil pengamatan irisan

17

membujur permukaan endocarpium kelapa, terdapat dinding sel primer,


dinding sel sekunder, noktah dan saluran noktah (Knox, 2013).
Pada percobaan kedua yaitu pada irisan melintang permukaan biji Asam
jawa (Tamarindus indica) pada perbesaran mikroskop 10 x 10. Pada hasil
pengamatan kami, tampak tidak jelas disebabkan karena pengirisan pada biji
asam jawa (Tamarindus indica) yang tidak tepat, karena biji tersebut terlalu
tua sehingga sulit untuk diiris. Sedangkan menurut Kartasapoetra (1991)
struktur sel pada biji asam jawa, terjadi penebalan sel secara sentripetal atau
penebalan dinding sel kearah bagian dalam. Tetapi hasil pengamatan yang
kami dapatkan kami tidak bisa melihat bagian-bagian sel secara jelas yang
kami dapatkan hanya dinging sel sedangkan pada gambar literature terdapat
bagian-bagian sel berupa dinding sel, noktah dan limen.
Pada percobaan ketiga, yaitu daun sukun yang diiris dipastikan
benar-benar tipis agar deck glass yang akan menutupinya benar-benar
melekat dengan baik ketika ditutup. Hal ini sesuai dengan pernyataan,
bahwa deck glass yang tidak melekat dengan baik diatas kaca preparat
akan menyebabkan terjadinya gelembung air di bagian dalam deck glass
tersebut , sehingga akan menggangu ketika pengamatan dibawah
mikroskop (Haruna, 1996).
Pada hasil pengamatan kami pada irisan membujur daun sukun
(Artocarpus communis), yaitu pada perbesaran mikroskop 10 x 10.
terdapat penebalan kearah luar yang disebut penebalan sentrifugal yaitu
penebalan kearah luar, misalnya pada dinding luar butir polen dan spora
lainnya, yaitu dalam pembentukkan eksin. Selain itu terlihat trikoma yang
berbentuk sisik. Hal tersebut sesuai dengan literatur yang ada, yaitu pada
hasil pengamatan irisan membujur dari folium Artocarpus communis,
terlihat pada dinding luar serta rambut daun yang disebut trikoma pada
folium Artocarpus communis (Mustapa, M.A, 2016).

Anda mungkin juga menyukai