Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva yang disebabkan
mikroorganisme (virus, jamur, bakteri, parasit, klamidia), alergi, iritasi bahanbahan kimia, idiopatik, penyakit sistemik. Konjungtivitis dibedakan dalam bentuk
akut dan kronis. Insidensi konjungtivitis di Indonesia pada tahun 2007 berkisar
antara 2 75%. Data perkiraan jumlah penderita penyakit mata di Indonesia
adalah 10% dari seluruh golongan umur penduduk per tahun dan pernah
menderita konjungtivitis. Data lain menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata
utama, konjungtivitis menduduki tempat kedua (9,7%) setelah kelainan refraksi
(25,35%). 1,2
Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang
disebabkan oleh Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba, dan C. Trakoma adalah
suatu penyakit yang paling tua dan terkenal di dunia sejak dahulu, mengenai 1/6
dari penduduk di dunia, keadaan ini merupakan salah satu penyakit menahun yang
paling banyak dijumpai. Penyakit ini dapat mengenai segala umur tapi lebih
banyak ditemukan pada orang muda dan anak-anak. Infeksi mata ini banyak
ditemukan di daerah Semenanjung Balkan. Ras yang banyak terkena ditemukan
pada ras Yahudi, penduduk asli Australia dan Indian Amerika atau daerah dengan
hygiene yang kurang. Penyakit ini termasuk 9 penyakit yang menular yang sedang
berkembang di berbagai belahan dunia. Prevalensi dan berat penyakit yang
beragam per regional bergantung pada variasi higiene individu dan standar
kehidupan masyarakat dunia, keadaan cuaca tempat tinggal, usia saat terkena,
serta frekuensi dan jenis infeksi bakteri mata yang sudah ada. 3,4
Cara penularan penyakit ini adalah melalui kontak langsung dengan sekret
penderita trakoma atau melalui alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk,
alat-alat kecantikan, dan lain-lain. Penularan terjadi terutama antara anak-anak
dan orang tua, saudara kandungnya dan orang yang merawatnya. Masa inkubasi
rata-rata 7 hari (5-14 hari). Trakoma umumnya bilateral. Vektor serangga,
khususnya lalat, dapat berperan dalam transmisi. Bentuk akut penyakit ini lebih
infeksius daripada bentuk sikatriksnya. Penyebaran sering dihubungkan dengan

epidemi konjungtivitis bakterial dan musim kemarau di negara tropis dan


subtropis. Episode berulang dari reinfeksi dalam keluarga menyebabkan kronik
folikular atau inflamasi konjungtiva berat (trakoma aktif) yang menimbulkan
scarring konjungtiva tarsal. Scarring pada konjungtiva tarsal atas, pada sebagian
individu, berlanjut menjadi entropion dan trichiasis (cicatrical trachoma). Hasil
akhirnya antara lain abrasi kornea, ulkus kornea, dan opasifikasi dan akhirnya
kebutaan. Pencegahan trakoma berkaitan dengan kebutaan, dan hal ini
membutuhkan banyak intervensi. WHO (World Health Organization) menerapkan
Surgical care, Antibiotics, Facial cleanliness, Environmental improvement
(SAFE) untuk penatalaksanaan trakoma. 4,5

BAB II
ISI
2.1 Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa tipis dan transparan, yang
membungkus permukaan anterior dari bola mata dan permukaan posterior dari
palpebra. Lapisan permukaan konjungtiva, yaitu lapisan epitel berhubungan
dengan epidermis dari palpebra dan dengan lapisan permukaan dari kornea, yaitu
epitel kornea. Konjungtiva berperan dalam produksi mukus, yang penting dalam
menjaga stabilitas tear film dan transparansi kornea. Selain itu, konjungtiva juga
mampu melindungi permukaan okular dari patogen, baik sebagai barrier fisik,
maupun sebagai sumber sel-sel inflamasi. 6,7
Konjungtiva dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Konjungtiva palpebra
Pada sambungan mukokutaneus, lapisan epidermis dari kulit palpebra
berubah menjadi konjungtiva palpebra atau konjungtiva tarsal yang
melapisi permukaan posterior palpebra. Lapisan ini melekat secara erat
dengan lempeng tarsus. Pada batas superior dan inferior dari tarsus,
konjungtiva berlanjut ke posterior dan melapisi jaringan episklera sebagai
konjungtiva bulbi.3
2. Konjungtiva forniks
Dari permukaan dalam palpebra, konjungtiva palpebra melanjutkan diri ke
arah bola mata membentuk dua resesus, yaitu forniks superior dan inferior.
Forniks superior terletak kira-kira 8 10 mm dari limbus, dan forniks
inferior terletak kira-kira 8 mm dari limbus. Pada bagian medial, struktur
ini menjadi karunkula dan plika semilunaris. Di sisi lateral, forniks terletak
kira-kira 14 mm dari limbus. Konjungtiva forniks superior dan inferior
melekat longgar dengan pembungkus otot rekti dan levator yang terletak di
bawahnya. Kontraksi otot-otot ini akan menarik konjungtiva sehingga ia
akan ikut bergerak saat palpebra maupun bola mata bergerak. Perlekatan
yang longgar tersebut juga akan memudahkan terjadinya akumulasi
cairan.3

3. Konjungtiva bulbi
Konjungtiva bulbi meluas dari daerah limbus ke daerah forniks. Lapisan
ini sangat tipis dan transparan sehingga sklera yang terletak di bawahnya
dapat terlihat. Konjungtiva bulbi melekat secara longgar dengan sklera
sehingga memungkinkan bola mata bergerak bebas ke segala arah. Selain
memberikan kebebasan bola mata untuk bergerak, hal ini juga akan
memperluas permukaan sekresi konjungtiva. 3
Ket. Gambar :
1.
2.
3.
4.
5.

Limbus
Konjungtiva bulbi
Konjungtiva forniks
Konjungtiva palpebra
Pungtum lakrimalis
6. Konjungtiva marginalis

Gambar 1. Anatomi konjungtiva (Sumber: Basic Human Anatomy)


Konjungtiva seperti halnya membran mukosa lainnya, terdiri atas 2
lapisan, yaitu:
1. Lapisan epitel bertingkat
Ketebalan lapisan epitel konjungtiva bervariasi mulai dari 2-4 lapisan pada
daerah tarsal, 6-8 lapisan pada daerah pertemuan korneoskleral, hingga 810 lapisan pada daerah tepi konjungtiva. Di daerah forniks, epitel
konjungtiva berbentuk kolumnar dan berubah menjadi epitel kuboid di
daerah bulbar dan tarsal. Di limbus, epitel berubah menjadi epitel
skuamous bertingkat tak bertanduk yang akan melanjutkan diri menjadi
epitel kornea. 7,8
2. Lapisan stroma (substansia propria)
Stroma kunjungtiva dipisahkan dengan lapisan epitel konjungtiva oleh
membrana basalis. Lapisan ini dibagi atas lapisan adenoid yang terletak di
permukaan dan lapisan fibrosa yang terletak lebih dalam. Lapisan adenoid
mengandung jaringan limfoid dan pada beberapa area juga mengandung
struktur mirip folikel. Lapisan fibrosa tersusun atas jaringan ikat yang

mengandung pembuluh darah dan serabut saraf dan melekat pada lempeng
tarsus. Substansia propria mengandung sel mast (6000/mm 3), sel plasma,
limfosit, dan netrofil yang memegang peranan dalam respons imun seluler.
Jenis limfosit yang paling banyak ditemukan adalah sel T, yaitu kira-kira
20 kali lebih banyak dibanding sel B. Selain itu ditemukan pula IgG, IgA,
IgM yang terletak ekstraseluler. 7,8
Permukaan epitel konjungtiva ditutupi oleh mikrovili. Mikrovili dibentuk
oleh penonjolan sitoplasma yang menonjol ke permukaan sel epitel. Ukuran
diameter dan tinggil mikrovili kira-kira 0,5 m dam 1 m. Fungsi mikrovili selain
untuk memperluas daerah absorpsi juga untuk menjaga stabilitas dan integritas
tear film. Epitel konjungtiva mengandung sejumlah kelenjar yang penting untuk
mempertahankan kelembaban dan menghasilkan lapisan air mata. Kelenjar
lakrimal asesorius ditemukan pada konjungtiva forniks dan sepanjang tepi
superior lempeng tarsus. Kelenjar Krause ditemukan pada forniks superior
sebanyak kira-kira 20-40 buah, sedangkan pada forniks inferior hanya 6-8
kelenjar. Kelenjar-kelenjar ini ditemukan pada jaringan ikat subkonjungtiva.
Kelenjar Krause memiliki struktur yang sama dengan kelenjar lakrimal utama
yang terletak pada rongga orbita. Kelenjar lakrimal asesorius lainnya adalah
kelenjar Wolfring. Kelenjar ini ditemukan pada sepanjang tepi superior lempeng
tarsus sebanyak 2-5 buah. 7,8

Gambar 2. Kelenjar konjungtiva (Sumber: Basic Human Anatomy)


Vaskularisasi konjungtiva berasal dari 2 sumber, yaitu:
1. Arteri palpebralis

Pleksus post tarsal dari palpebra, yang diperdarahi oleh arkade marginal
dan perifer dari palpebra superior akan memperdarahi konjungtiva
palpebralis. Pembuluh darah dari arkade perifer palpebra akan menembus
otot Muller dan memperdarahi sebagian besar konjungtiva forniks. Arkade
ini akan memberikan cabang desenden untuk menyuplai konjungtiva tarsal
dan juga akan mengadakan anastomose dengan pembuluh darah dari
arkade marginal serta cabang asenden yang melalui forniks superios dan
inferior untuk kemudian melanjutkan diri ke konjungtiva bulbi sebagai
arteri konjungtiva posterior. 3
2. Arteri siliaris anterior
Arteri siliaris anterior berjalan sepanjang tendon otot rektus dan
mempercabangkan diri sebagai arteri konjungtiva anterior tepat sebelum
menembus bola mata. Arteri ini mengirim cabangnya ke pleksus
perikorneal dan ke daerah konjungtiva bulbi sekitar limbus. Pada daerah
ini, terjadi anastomose antara pembuluh darah konjungtiva anterior dengan
cabang terminal dari pembuluh darah konjungtuva posterior, menghasilkan
daerah yang disebut Palisades of Busacca. 3,6

Gambar 3. Arteri-Arteri Konjungtiva (Sumber : Basic Human Anatomy)


3. Vena-vena konjungtiva lebih banyak dibandingkan arteri konjungtiva.
Diameter vena-vena ini bervariasi dari 0,01 hingga 0,1 mm dan dapat
diidentifikasi dengan mudah. Drainase utama dari konjungtiva tarsalis dan
konjungtiva bulbi langsung mengarah ke vena-vena palpebralis. Beberapa
vena tarsalis mengarah ke vena-vena oftalmikus superior dan inferior,
yang akan berakhir pada sinus kavernosus. 3,6

Gambar 4. Vena-Vena Konjungtiva (Sumber :Basic Human Anatomy)


Aliran limfatik yang berasal dari lateral akan mengarah ke kelenjar limfe
preaurikuler, sementara aliran limfatik yang berasal dari medial akan mengarah ke
kelenjar limfe submandibular. Pembuluh limfe konjungtiva dibentuk oleh 2
pleksus, yaitu:
1. Pleksus superfisial, terdiri atas pembuluh-pembuluh kecil yang terletak di
bawah kapiler pembuluh darah yang menerima aliran limfatik dari area
limbus.
2. Pleksus profunda, terdiri dari pembuluh-pembuluh yang lebih besar yang
terletak di substantia propria.6

Gambar 5. Sistem limfatik konjungtiva (Sumber: Basic Human Anatomy)


Inervasi sensoris konjungtiva bulbi berasal dari nervus siliaris longus, yang
merupakan cabang dari nervus nasosiliaris, cabang dari divisi oftalmikus nervus
trigeminus. Saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit.

Sistem Pertahanan Konjungtiva Terhadap Infeksi


Selain bertanggung jawab terhadap produksi musin, konjungtiva juga
memiliki kemampuan yang besar dalam melawan infeksi. Hal ini dapat dipahami
oleh karena:
1.
2.
3.
4.

Epitel konjungtiva yang intak mencegah invasi dari mikroba


Konjungtiva mengandung banyak immunoglobulin
Adanya flora bakteri normal di konjungtiva
Sekresi musin oleh sel goblet konjungtiva dapat mengikat mikroba untuk

kemudian dikeluarkan melalui sistem sekresi lakrimal


5. Aktivitas enzimatik konjungtiva memungkinkan jaringan ini dalam
melokalisir dan menetralisir partikel-partikel asing
6. Conjunctiva-Associated Lymphoid Tissue (CALT)
2.2 Definisi
Trakoma merupakan salah satu jenis penyakit mata yang menular yang
disebabkan oleh Chlamidia trachomatis serotipe A, B, Ba, atau C yang termasuk
dari konjungtivitis folikular kronik yang berkembang hingga terbentuknya parut
konjungtiva. Trakoma juga termasuk infeksi mata yang berlangsung lama yang
menyebabkan inflamasi dan jaringan parut pada konjungtiva dan kelopak mata
serta kebutaan.4
2.3 Epidemiologi
Insidensi konjungtivitis di Indonesia pada tahun 2007 berkisar antara 2
75%. Data perkiraan jumlah penderita penyakit mata di Indonesia adalah 10% dari
seluruh golongan umur penduduk per tahun dan pernah menderita konjungtivitis.
Data lain menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis
menduduki tempat kedua (9,7%) setelah kelainan refraksi (25,35%).1,2
Secara umum, trakoma diderita oleh sekitar 84 juta orang di 55 negara
yang endemis, dan sekitar 1,3 juta orang diantaranya buta karena penyakit mata
ini. Penyakit ini ditunjukkan pada hasil tertinggi nya yaitu pada usia 3-5 tahun.
Infeksi mata ini banyak ditemukan di daerah Semenanjung Balkan. Ras yang
banyak terkena ditemukan pada ras Yahudi, penduduk asli Australia dan Indian
Amerika. Trakoma yang membutakan terdapat pada banyak daerah Afrika,
beberapa daerah Asia, diantara suku Aborigin Australia, dan di Brazil Utara.
Trakoma yang lebih ringan yang tidak membutakan terdapat di daerah yang sama
dan di beberapa daerah Amerika Latin dan Pulau Pasifik. 2,3

Trias epidemiologi trakoma terbagi menjadi 3 yaitu host, agent dan


environment. Host-nya adalah manusia terutama pada remaja dan anak-anak yang
berumur 3-5 tahun. Agent dari penyakit trakoma ini yaitu Chlamidia trachomatis.
Environment-nya adalah lingkungan sosial dan ekonomi yaitu lingkungan yang
higienenya kurang dan ekonomi bawah lebih rentan terjangkit penyakit mata ini.
Cara penularan dari penyakit ini yaitu melalui :

Melalui kontak langsung dengan sekret yang keluar dari mata yang terkena
infeksi atau dari discharge nasofaring.

Sejenis lalat, terutama jenis Musca sorbens di Afrika dan Timur Tengah dan
spesies jenis Hippelates di Amerika bagian selatan

Alat-alat kebutuhan sehari-hari yang telah terkontaminasi (misalnya handuk


atau saputangan)

2.4 Etiologi
Trakoma disebabkan oleh Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba dan C.
Masing- masing serotipe ditemukan di tempat dan komunitas yang berbeda beda.
Chlamydia adalah gram negatif, yang berbiak intraseluler. Spesies C trachomatis
menyebabkan trakoma dan infeksi kelamin ( serotipe D-K) dan limfogranuloma
venerum ( serotipe L1-L3). Serotipe D-K biasanya menyebabkan konjungtivitis
folikular kronis yang secara klinis sulit dibedakan dengan trakoma, termasuk
konjungtivitis folikular dengan pannus, dan konjungtiva scar. Namun, serotipe
genital ini tidak memiliki siklus transmisi yang stabil dalam komunitas. Karena
itu, tidak terlibat dalam penyebab kebutaan karena trakoma.9
2.5 Patofisiologi
Chlamydia trachomatis memiliki kecenderungan untuk menginfeksi kedua
mata. Pada stadium dini, penyakit ini mirip dengan konjungtivitis kronis pada
umumnya, yaitu mata merah dan didapatkan folikel maupun hipertrofi papiler
pada tarsus bagian atas. Hipertrofi papiler dan inflamasi konjungtiva
mengakibatkan sikatrik konjungtiva yang dapat mengakibatkan penyulit-penyulit
yang ringan maupun berat, pada sikatrik yang berat dapat terjadi tear deficiency
syndrome.10,11
Kelainan di kornea dapat berupa epithelial keratitis, subepithelial keratitis,
infiltrate disertai neovaskularisasi (pannus), ulkus kornea, sikatrik folikel-folikel
9

di limbus yang disebut Herberts pits. Entropion dan trikiasis dapat terjadi akibat
sikatrik konjungtiva yang hebat, dimana bulu-bulu mata menggores kornea dan
mengakibatkan ulkus kornea bahkan kadang-kadang dapat menyebabkan perforasi
kornea.11
Infeksi menyebabkan inflamasi, yang predominan limfositik dan infiltrat
monosit dengan plasma sel dan makrofag dalam folikel. Gambaran tipe folikel
dengan pusat germinal dangan pulau- pulau proliferasi sel B yang dikelilingi
sebukan sel T. Infeksi konjungtiva yang rekuren menyebabkan inflamasi yang
lama yang menyebabkan conjungtival scarring. Scarring diasosiasikan dengan
atrofi epitel konjungtiva, hilangnya sel goblet, dan pergantian jaringan normal,
longgar dan stroma vaskular subepitel dengan jaringan ikat kolagen tipe IV dan
V.9
2.6 Manifestasi Klinis
Secara klinis, trakoma dapat dibagi menjadi fase akut dan fase kronis, tetapi
tanda akut dan kronis dapat muncul dalam waktu yang bersamaan dalam satu
individu. Derajat keparahan dari infeksi mata oleh Chlamidia trachomatis dapat
ringan sampai dengan berat. Banyak infeksinya bersifat asimptomatis. Sesuai
dengan masa inkubasinya yaitu 5-14 hari, infeksi konjungtiva menyebabkan
iritasi, mata merah, dan discharge mukopurulen. Keterlibatan kornea pada proses
inflamasi akut dapat menimbulkan nyeri dan fotofobia. 4,5
Tanda awal infeksi yang kurang spesifik adalah vasodilatasi dari pembuluh
darah konjungtiva. Perubahan spesifik terjadi beberapa minggu setelah infeksi,
yaitu dengan munculnya folikel-folikel pada konjungtiva forniks, konjungtiva
tarsal dan limbus. Folikel terlihat sebagai massa abu-abu dengan diameter 0,2-3
mm. Papil juga dapat terlihat pada fase ini, pada kasus ringan terlihat titik-titik
merah kecil dengan mata telanjang. Dengan bantuan slit lamp, papil terlihat
sebagai pembengkakan kecil konjungtiva, dengan vaskularisasi di tengahnya.
Ketika inflamasi bertambah berat, reaksi papilar pada konjungtiva tarsal
diasosiasikan

dengan

penebalan

konjungtiva,

pertambahan

vaskularisasi pembuluh tarsal, dan kadang kadang edema palpebra. Bila kornea
terlibat pada proses inflamasi, keratitis pungtata superficialis dapat dideteksi
dengan test flouresensi. 4,5

10

Infiltrat superfisial atau pannus (infiltrasi subepitel dari jaringan fibrovaskular


ke perifer kornea) mengindikasikan inflamasi kornea. Folikel, papil dan tanda
kornea lain adalah tanda dari fase aktif, namun pannus dapat bertahan setelah fase
aktif. Resolusi dari folikel ditandai dengan terjadinya scarring pada subepitel
konjungtiva. Deposisi dari skar biasanya di konjungtiva tarsal atas, walaupun
konjungtiva bulbi dan daerah atas kornea dapat terkena. Di daerah endemis
trakoma, sikatrik pada daerah tarsal karena episode infeksi berulang menjadi dapat
terlihat secara makroskopis dengan mengeversi palpebra atas, nampak seperti
plester putih dengan latar konjungtiva yang eritematous. Di limbus, pergantian
folikel menjadi scar menghasilkan formasi depresi translusen pada corneoscleral
junction yang disebut Herberts pits. 4,5
Bila scar pada konjungtiva tarsal cukup banyak berkumpul, menyebabkan
kelopak mata atas menekuk ke dalam dan menyebabkan bulu mata mengenai bola
mata (trikiasis) dan ketika semua bagian kelopak mengarah ke dalam disebut
entropion. Trikiasis sangat mengiritasi. Penderita kadang mencabut sendiri
bulumata atau memplester kelopak mata agar menghadap ke luar. Selain nyeri,
trikiasis juga mencederai kornea, sebagai efek abrasi kornea dapat terjadi infeksi
sekunder oleh jamur atau bakteri. Karena sikatrik bersifat opak maka penglihatan
dapat terganggu bila mengenai daerah sentral kornea. (Solomon et al, 2004) 4,5,9
Untuk memastikan trakoma endemic di sebuah keluarga atau masyarakat,
sejumlah anak harus menunjukkan sekurang-kurangnya dua tanda berikut:4

Lima atau lebih folikel pada konjungtiva tarsal rata yang melapisi palpebra

superior
Parut konjungtiva yang khas di konjungtiva tarsal superior
Folikel limbus atau sekuelenya (sumur Herbert)
Perluasan pembuluh darah ke atas kornea, paling jelas di limbus atas.
WHO mengembangkan cara sederhana untuk menggambarkan penyakit

tersebut dengan mencakup tanda-tanda sebagai berikut:4,12,13


TF

: lima atau lebih folikel pada konjungtiva tarsal superior

TI

: infiltrate difus dan hipertrofi papiler konjungtiva tarsal superior


yang sekurang-kurangnya menutupi 50 % pembuluh profunda
normal.

TS

: parut konjungtiva trakomatosa

11

TT

: trikiasis atau entropion (bulu mata terbalik kedalm)

CO

: kekeruhan kornea

Adanya TF dan TI menunjukkkan suatu trakoma infekisosa aktif dan harus


diobati. TS adalah bukti kerusakan akibat penyakit ini. TT berpotensi
membutakan dan merupakan indikasi untuk tindakan operasi koreksi palpebra.
CO adalah lesi trakoma terakhir, yang dapat menyebabkan kebutaan.

Gambar 6. Gambaran Penyakit Trakoma (sumber: World Health


Organization.)

2.7 Klasifikasi
Menurut klasifikasi Mac Callan, trakoma dibagi menjadi 4 stadium yaitu :

Stadium 1 (hiperplasi limfoid) : terdapat hipertrofi papil dengan folikel


yang kecil-kecil pada konjungtiva tarsus superior, yang memperlihatkan

12

penebalan dan kongesti pada pembuluh darah konjungtiva. Sekret yang


sedikit dan jernih bila tidak ada infeksi sekunder. Kelainan kornea sukar
ditemukan tetapi kadang-kadang dapat ditemukan neovaskularisasi dan
keratitis epitelial ringan.

Stadium 2 : terdapat hipertrofi papilar dan folikel besar yang matang pada
konjungtiva tarsus superior. Pada stadium ini dapat ditemukan pannus
trakoma yang jelas. Terdapat hipertrofi papil yang berat seolah-olah
mengalahkan gambaran folikel pada konjungtiva superior.

Stadium 3 : terdapat parut pada konjungtiva tarsus superior yang terlihat


sebagai garis putih yang halus sejajar dengan margo palpebra. Parut folikel
pada limbus kornea disebut cekungan Herbert. Gambaran papil mulai
berkurang.

Stadium 4 : suatu pembentukan parut yang sempurna pada konjungtiva


tarsus superior sehingga menyebabkan perubahan bentuk pada tarsus yang
dapat menyebabkan entopion dan trikiasis. 3
Tabel 1. Klasifikasi dan strafikasi trakoma menurut Mc Callan 3

13

Pembagian menurut WHO Simplified Trachoma Grading Scheme adalah : 3

Trakoma Folikular (TF)


Trakoma dengan adanya 5 atau lebih folikel dengan diameter 0,5mm di daerah
sentral konjungtiva tarsal superior. Bentuk ini umumnya ditemukan pada anakanak dengan prevalensi puncak pada usia 3-5 tahun.

Gambar 7. Trakoma Folikular (Sumber : Treatment and Medication.eMedicine


Ophtalmology. 214: 29-38)

Trakoma Inflamasi Berat (TI)


Ditandai konjungtiva tarsal superior yang menebal dan pertumbuhan vaskular
tarsal. Papil terlihat dengan pemeriksaan slit lamp.

14

Gambar 8. Trakoma Inflamasi Berat (Sumber: Treatment and


Medication.eMedicine Ophtalmology. 214: 29-38)

Sikatrik Trakoma (TS)


Ditandai dengan adanya sikatrik yang mudah terlihat pada konjungtiva tarsal.
Memiliki resiko trikiasis ke depannya, semakin banyak sikatrik semkin besar
resiko terjadinya trikiasis.

Gambar 9. Sikatrik Trakoma (Sumber : Treatment and Medication.eMedicine


Ophtalmology. 214: 29-38 )

Trikiasis (TT)
Ditandai dengan adanya bulu mata yang mengarah ke dalam. Potensial untuk
menyebabkan opasitas kornea.

Gambar 10. Trikiasis (Sumber: Treatment and Medication.eMedicine


Ophtalmology. 214: 29-38 )

Opasitas Kornea (CO)


Ditandai dengan kekeruhan kornea yang terlihat di atas pupil. Kekeruhan
kornea menandakan prevalensi gangguan visus atau kebutaan akibat trakoma.

15

Gambar 11. Opasitas Kornea (Sumber: Treatment and Medication.eMedicine


Ophtalmology. 214: 29-38)
2.8

Diagnosis 3,4,9
Diagnosa trakoma ditegakkan berdasarkan :
a. Gejala Klinik :
Bila terdapat 2 dari 4 gejala klinik yang khas, sebagai berikut :
1) Adanya prefolikel di konjungtiva tarsalis superior
2) Folikel di konjungtiva forniks superior dan limbus kornea 1/3 bagian atas
3) Pannus aktif di 1/3 atas limbus kornea
4) Sikatrik berupa garis-garis atau bintang di konjungtiva palpebra / forniks
superior, Herberts pit di limbus kornea 1/3 bagian atas.
Riwayat Penyakit : Trakoma aktif biasanya ditemukan pada anak anak, dan
penduduk pada daerah endemis, hanya menimbulkan sedikit keluhan. Penderita
dengan trikiasis bisa simptomatis. Beratnya keluhan bergantung pada banyaknya
bulu mata yang menyentuh bola mata, ada atau tidaknya abrasi kornea, dan ada
tidaknya blefarospasme.
b. Kerokan konjungtiva, yang dengan pewarnaan giemsa dapat ditemukan badan
inklusi Halbert staedter Prowazeki. Diagnosa trakoma juga dapat ditegakkan
bila terdapat satu gejala klinis yang khas ditambah dengan kerokan konjungtiva
yang menghasilkan badan inklusi.
c. Biakan kerokan konjungtiva dalam yolk sac, menghasilkan badan inklusi
dan badan elementer dengan pewarnaan giemsa.
d. Tes serologis dengan :
1) Tes fiksasi komplemen, untuk menunjukkan adanya antibodi terhadap
trakoma, dengan menggunakan antigen yang murni. Melakukannya mudah, tak

16

memerlukan peralatan canggih, cukup mempergunkan antigen yang stabil,


mudah didapat di pasaran. Mempunyai nilai diagnostik yang tinggi.
2) Tes mikro-imunofluoresen, menentukan antibodi antichlamydial yang
spesifik, beserta sifat-sifatnya (IgM, IgA, IgG). Lebih sukar dan memerlukan
peralatan canggih.
2.9 Diagnosis Banding
Tabel 2. Diagnosis Banding Trakoma 3,5
Trakoma

Konjungtivitis

Vernal Katarrh

Gambaran

(kasus awal) papula

Folikularis
Penonjolan merah

lesi

kecil atau bercak

muda pucat tersusun

dalam susunan

merah bertaburan

teratur seperti

cobblestone pada

dengan bintik putih

deretan beads

konjungtiva tarsal atas

Nodul lebar datar

kuning (folikel

dan bawah, diselimuti

trakoma) pada

lapisan susu

konjungtiva tarsal
(kasus lanjut) granula
dan parut, terutama
Ukuran lesi
Lokasi lesi

konjungtiva tarsal atas


Penonjolan besar lesi
Penonjolan kecil
Konjungtiva tarsal atas Terutama

Penonjolan besar
Tipe tarsus atau

dan teristimewa

konjungtiva tarsal

palpebra : konjungtiva

lipatan retrotarsal

bawah dan forniks

tarsus terlibat, forniks

kornea pannus,

bawah.

bebas

bawah infiltrasi abu

Tarsus tidak terlibat

Tipe limbus atau

abu dan pembuluh.

bulbus: limbus terlibat,

Tarsus terlibat

forniks bebas,
konjungtiva tarsus
bebas
Tipe campuran: tarsus

Tipe sekresi

Kotoran air berbusa

Mukoid atau

tidak terlibat
Bergetah, bertali,

atau frothy pada

purulen

seperti susu

17

Kerokan

stadium lanjut
Kerokan epitel dari

Kerokan tidak

Eosinofil karakteristik

konjungtiva dan

karakteristik (Koch

dan konstan pada

kornea

Weeks, Morax

sekresi

memperlihatkan

Axenfeld,

eksfoliasi, proliferasi,

mikrokokus

inklusi selular

kataralis
stafilokokus,

Penyulit /

Kornea: panus,

pneumokokus)
Ulkus kornea

Infiltrasi kornea (tipe

sekuele

kekeruhan kornea,

Blefaritis

limbus)

xerosis

Ektropion

Pseodoptosis (tipe

Konjungtiva:

tarsal)

simblefaron
Palpebra: ektropion
atau enteropion,
trikiasis
2.10 Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan trakoma untuk mendapatkan konjungtiva dalam keadaan licin
dengan jaringan sikatrik yang minimal. Hal ini dapat dicegah bila pengobatan
diberikan sedini mungkin, sehingga mengurangi kesempatan pembentukan
jaringan sikatrik. Kunci pentalaksanaan trakoma yang dikembangkan WHO
adalah

strategi

SAFE

(Surgical

care,

Antibiotics,

Facial

cleanliness,

Environmental improvement).
1. Tindakan Bedah 3

Pembedahan kelopak mata untuk memperbaiki trikiasis sangat


penting pada penderita dengan trikiasis, yang memiliki resiko tinggi
terhadap gangguan visus dan penglihatan.

Rotasi kelopak mata membatasi perlukaan kornea. Pada beberapa kasus,


dapat memperbaiki visus, karena merestorasi permukaan visual
dan pengurangan sekresi okular dan blefarospasme.

2. Terapi antibiotik 3,9

18

WHO merekomendasikan dua antibiotik untuk trakoma yaitu azitromisin


oral dan salep mata tetrasiklin.

Azitromisin lebih baik dari tetrasiklin namun lebih mahal.

Konsentrasi azitromisin di plasma rendah, tapi konsentrasi di jaringan


tinggi, menguntungkan untuk mengatasi organisme intraselular.

Azitromisin adalah drug of choice karena mudah diberikan dengan


single dose. Pemberiannya dapat langsung dipantau. Karena itu
compliancenya lebih tinggi dibanding tetrasiklin.

Azitromisin memiliki efikasi yang tinggi dan kejadian efek samping


yang rendah. Ketika efek samping muncul, biasanya ringan; gangguan
GI danrash adalah efek samping yang paling sering. Infeksi Chlamydia
trachomatis biasanya terdapat juga di nasofaring, maka bisa terjadi
reinfeksi bila hanya diberi antibiotik topikal. Keuntungan lain
pemberian azitromisin termasuk mengobati infeksi genital, sistem
respirasi, dan kulit.

Resistensi C. Trachomatis terhadap azitromisin dan tetrasiklin belum


dikemukakan.

Azitromisin : dewasa 1 gram per oral sehari; anak anak 20 mg/kgBB


per oral sehari

Salep atau tetes topikal, termasuk preparat sulfonamide, tetrasiklin,


erythromycin dan rifampin, empat kali sehari selama enam minggu,
sama efektifnya. Salep tetrasiklin 1% : mencegah sintesis bakteri
protein dengan binding dengan unit ribosom 30S dan 50S. Gunakan bila
azitromisin tidak ada. Efek samping sistemik minimal.

Perbaikan klinik mencolok umumnya dicapai dengan tetrasiklin 1-1,5 g/


hari per os dalam empat dosis selama 3-4 minggu ; doksisiklin 100 mg/
2 kali sehari selama 3 minggu; atau eritromisin 1 gram / hari per os
dibagi dalam empat dosis selama 3-4 minggu. Kadang-kadang
diperlukan beberapa kali pengobatan agar benar-benar sembuh.
Tetrasiklin sistemik jangan diberi pada anak dibawah umur 7 tahun atau
untuk wanita hamil. Karena tetrasiklin mengikat kalsium pada gigi yang

19

berkembang dan tulang yang tumbuh dan dapat berakibat gigi menjadi
kekuningan dan kelainan tulang.

Saat mulai terapi, efek maksimum biasanya belum dicapai selama 10


12 minggu. Karena itu, tetap adanya folikel pada tarsus superior selama
beberapa minggu setelah terapi berjalan jangan dipakai sebagai bukti
kegagalan terapi.

3. Kebersihan Wajah 3

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa kebersihan wajah pada anakanak menurunkan resiko dan juga keparahan dari trakoma aktif.

Untuk mensukseskannya, pendidikan dan penyuluhan kesehatan


harus berbasis komunitas dan berkesinambungan.

4. Peningkatan Sanitasi Lingkungan 3

Penyuluhan peningkatan sanitasi rumah dan sumber air, dan


pembuangan feses manusia yang baik.

Lalat yang bisa mentransmisikan trakoma bertelur di feses manusia


yang ada di permukaan tanah. Mengontrol populasi lalat dengan
insektisida cukup sulit.

Kriteria kesembuhan berdasarkan pemeriksaan dengan mata telanjang


adalah :

Folikel (-)

Infiltrat kornea (-)

Panus aktif (-)

Hiperemia (-)

Konjungtiva, meskipun ada sikatrik, tampak licin.

Pada kasus individual, kriteria penyembuhan harus ditambah :


o Pada pemeriksaan fluoresein, yang dilihat dengan slit lamp,
menunjukkan tidak ada keratitis epitelial di kornea.
o Pada

pemeriksaan

mikroskopis

dan

kerokan

konjungtiva,

tidak menunjukkan adanya badan inklusi.


2.11 Komplikasi

20

Ulkus kornea

Terjadi karena adanya destruksi epitel kornea oleh infiltrasi trakoma. Pada
stadium II atau III, dapat terjadi tarsitis, dengan akibatnya timbul penyulit
entropion dan trikiasis. Adanya entropion dengan trikiasis menimbulkan
kerusakan kornea yang dimulai dengan erosi kornea dari bila disertai infeksi
sekunder, berubah menjadi ulkus yang dalam. Ulkus kornea yang terkena infeksi
sekunder, kemudian dapat menimbulkan jaringan parut berupa nebula, makula,
leukoma, dan bila terjadi perforasi kornea menimbulkan leukoma adherens,
stafiloma kornea bahkan ptisis bulbi kalau perforasi kornea di ikuti
endoftalmitis, panoftalmitis. Kebutaan dapat terjadi dapat disebbakan oleh
karena adanya jaringan parut di kornea yang hebat sehingga menghalangi cahaya
masuk ataupun disebabkan kerusakan seluruh jaringan mata, sehingga
penglihatan tidak dapat kembali lagi.
Xerosis konjungtiva dan epitel kornea
Parut di konjungtiva dalah komplikasi yang sering terjadi pada trakoma dan
dapat merusak kelenjar lakrimalis dan menutupi muara kelejar lakrimal. Hal ini
secara drastis mengurangi komponen air dalam film air mata pre- kornea, dan
komponen mukus film mungkin berkurang karena hilangnya sebagian sel goblet
Ptosis, obstruksi duktus nasolakrimalis, dakriosistitis, dan simblefaron
2.12

Prognosis
Secara karekteristik tarkoma merupakan penyakit kronik yang berlangsung
lama. Dengan kondisi hygiene yang baik (khususnya, mencuci muka pada anakanak), penyakit ini dapat sembuh atau bertambah ringan sehingga sekuele berat
dapat terhindarkan. Pengobatan dini sebelum skar berkembang dan deformitas
kelopak terjadi akan memiliki prognosis baik. Sedangkan reinfeksi mempunyai
prognosis buruk.6,7

21

BAB III
PENUTUP
Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang
disebabkan oleh Chlamydia trachomatis serotipe A, B, Ba, dan C. Trakoma adalah
salah satu penyakit menahun yang paling banyak dijumpai, mengenai 1/6 dari
penduduk di dunia. Penyakit ini dapat mengenai segala umur tapi lebih banyak
ditemukan pada orang muda dan anak-anak. Prevalensi dan berat penyakit yang
beragam per regional bergantung pada variasi higiene individu dan standar
kehidupan masyarakat dunia, keadaan cuaca tempat tinggal, usia saat terkena,
serta frekuensi dan jenis infeksi bakteri mata yang sudah ada. Cara penularan
penyakit ini adalah melalui kontak langsung dengan sekret penderita trakoma atau
melalui alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan, dan
lain-lain. 3,4,5
Grading trakoma menurut WHO adalah : trakoma folikular, trakoma
inflamasi berat, trakoma scarring, trikiasis, dan kekeruhan kornea. Klasifikasi
trakoma menurut Mc Callan adalah trakoma insipien, trakoma dengan hipertrofi
papilar dan folikular yang menonjol, trakoma sikatrik, dan trakoma sembuh.
Diagnosa trakoma ditegakkan bila terdapat 2 dari gejala klinik yang khas, 1 gejala
klinik dengan kerokan konjungtiva yang positif atau dengan test serologis.
Banyak infeksinya bersifat asimptomatis. Sesuai dengan masa inkubasinya yaitu
5-14 hari, infeksi konjungtiva menyebabkan iritasi, mata merah, dan discharge

22

mukopurulen. Keterlibatan kornea pada proses inflamasi akut dapat menimbulkan


nyeri dan fotofobia.3,4,5
WHO

(World

Health

Organization)

menerapkan

Surgical

care,

Antibiotics, Facial cleanliness, Environmental improvement (SAFE) untuk


penatalaksanaan trakoma, Azitromisin dan tetrasiklin adalah antibiotik yang
direkomendasikan WHO untuk trakoma. Peningkatan higiene individual dan
sanitasi lingkungan mengurangi resiko penularan, penyakit ini bisa sembuh atau
bertambah ringan sehingga sekuele berat terhindarkan. Sekitar 6 9 juta orang di
dunia telah kehilangan penglihatannya karena trakoma. Komplikasi yang dapat
terjadi adalah ulkus kornea, xerosis konjungtiva dan epitel kornea, ptosis,
obstruksi duktus nasolakrimalis, dakriosistitis, dan simblefaron. 3,9
DAFTAR PUSTAKA

1. James B, Chew C, Bron A. Konjungtiva, Sklera, dan Kornea. Dalam :


Oftalmologi. Edisi 9. Jakarta : Erlangga, 2005 : 61-65.
2. American Optometric Association. Care of the Patient with Conjunctivitis.
Available at : http://www.aoa.org/documents/CPG-11.pdf, diunduh tanggal 03
eptember 2016
3. Wijana, Nana. Konjungtiva. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Abadi
Tegal, 1993 : 40-69.
4. Vaughan D, Asbury T. Konjungtiva. Dalam : Oftalmologi Umum. Edisi ke17. Jakarta: EGC, 2007 : 97-104.
5. Ilyas, Sidarta. Mata Merah Dengan Penglihatan Normal. Dalam : Ilmu
Penyakit Mata, Cetakan ke-4. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2010 : 137-140.
6. Vaughan D, Asbury T. Anatomi dan Embriologi Mata. Dalam : Oftalmologi
Umum. Edisi ke-17. Jakarta : EGC, 2007 : 1-22.
7. Ilyas, Sidarta. Anatomi dan Fisiologi Mata. Dalam : Ilmu Penyakit Mata,
Cetakan ke-4. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 2010 : 1-10.

23

8. O'Rahilly.

Basic

Human

Anatomy.

Available

at

http://www.dartmouth.edu/~humananatomy/figures/chapter_46/4610_files/IMAGE001.JPG, diunduh tanggal 03 september 2016.


9. Salomon, Anthony dan Hugh R Taylor. 2010. Trachoma: Treatment and
Medication.eMedicine Ophtalmology. 214: 29-38
10. International Trachoma Initiative. Diagnosing Trachoma. The Task Force for
Global Health. 325 Swanton Way; Decatur, GA USA 30030. 2012. 1-800765-7173.

11. Newell F.W: Ophtalmology, principles and Concepts, Fifth edition, The CV
Mosby Co St Louis, 1982.
12. Thylefors B, Dawson CR, Jones BR, West SK, Taylor HR (1987). "A simple
system for the assessment of trachoma and its complications". Bull. World
Health Organ. 65 (4): 47783. PMC 2491032. PMID 3500800
13. Solomon, AW; Zondervan M, Kuper H, et al. (2006). "Trachoma control: a
guide for programme managers.". World Health Organization.

24