Anda di halaman 1dari 19

SISTEM UTILITAS BANGUNAN

Utilitas bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas bangunan yang digunakan untuk menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, kemudahan komunikasi, dan mobilitas dalam bangunan. Jenis perancangan utilitas bangunan tinggi adalah sebagai berikut:

1. Perancangan sistem plambing dan sanitasi

2. Perancangan pencegahan kebakaran

3. Perancangan tata udara atau penghawaan

4. Perancangan daya listrik dan penerangan atau pencahayaan

5. Perancangan komunikasi

6. Perancangan CCTV dan sistem sekuritas

7. Perancangan penangkal petir

8. Perancangan tata suara

9. Perancangan transportasi dalam bangunan

10. Perancangan landasan helikopter

11. Perancangan pembuangan limbah sampah

12. Perancangan alat pembersih luar bangunan

1. SISTEM PLAMBING DAN SANITASI Sistem plambing adalah suatu sistem penyediaan atau pengeluaran air ke tempat-tempat yang dikehendaki tanpa ada gangguan atau pencemaran terhadap daerah-daerah yang dilaluinya dan dapat memenuhi kebutuhan penghuninya dalam masalah air. Peran arsitek didalam merancang sistem plambing bangunan tinggi:

1. Menentukan letak/posisi denah toilet terhadap denah keseluruhan dengan mempertimbangkan letak shaft air buangan, mengingat pipa pembuangan pada umumnya berpenampang besar dan memerlukan kemiringan sehingga mempengaruhi kebutuhan ruang diatas plafon yang berakibat pada ketinggian antar lantai. (volume bangunan meningkat jadi tidak ekonomis)

2. Memilih/menentukan jenis/tipe/warna sanitary fixtures.

3. Mengatur layout/tata letak sanitary fixtures didalam ruang toilet, dengan memperhatikan daerah basah, kering, bukaan pintu, letak/arah lubang air buangan, dan lain-lain, dan juga pada ruang-ruang lainnya yang membutuhkan seperti ruang laboratorium, dapur, rumah sakit, dan lain-lain.

4.

Memilih/menentukan jenis/bentuk/bahan atap, terkait dengan sistem pembuangan air hujan.

5.

Merencanakan sistem pembuangan air hujan meliputi:

-

Kemiringan atap

-

Menentukan jumlah, dimensi, dan posisi pipa tegak pembuangan air hujan.

-

Merencanakan sistem pembuangan air hujan di halaman bangunan, meliputi: posisi, dimensi, kemiringan pipa saluran, bak kontrol, dll.

6.

Sesuai kondisi, merencanakan sistem pembuangan air selain sistem diatas.

7.

Menentukan letak/posisi bak penampung air kotoran (limbah manusia) yaitu septictank/Sewage Treatment Plant (STP)

8.

Menentukan letak/posisi kran taman (untuk penyiraman taman, pencucian, dll.)

9.

Menentukan letak/posisi sumur bor (dengan memperhatikan faktor keamanan dan kehigienisan seperti jarak terhadap septictank / rembesannya, dll.)

10.

Hal-hal lain yang berkaitan dengan sistem plambing

Jenis peralatan plambing:

1. Peralatan untuk penyediaan air bersih

2. Peralatan untuk penyediaan air panas

3. Peralatan untuk pembuangan air kotor

4. Peralatan-peralatan lain yang ada hubungannya terhadap perencanaan pemipaan

Syarat instalasi plambing:

1. Daya tahan bahan harus lama, minimal 30 tahun.

2. Permukaan harus halus dan tahan air

3. Tidak ada bagian-bagian yang tersembunyi / menyimpan kotoran pada bahan yang dimaksud.

4. Bebas dari kerusakan, baik mekanis maupun yang lain.

5. Mudah pemeliharaannya

6. Memenuhi aturan-aturan yang berlaku

1.1 JENIS AIR BANGUNAN

1.1.1 AIR BERSIH Air bersih adalah air yang digunakan baik oleh penghuninya ataupun oleh keperluan-keperluan lain yang ada kaitannya dengan fasilitas bangunan.

Sumber-sumber air bersih:

1. Mata air Merupakan sumber keluarnya air dari dalam tanah, biasanya terdapat di daerah-daerah pegunungan. Kondisi air pada umumnya masih jernih dan belum tercemar.

2. Sungai Merupakan tempat penampungan dan mengalirnya air dari hulu (sumber mata air) ke hilir (laut). Kondisi air biasanya tidak jernih atau sudah tercemar

3. Hujan Sumber air yang datang dari atas (awan/langit). Kondisi air pada umumnya relatif cukup jernih, dan diperoleh dengan cara penadahan atau penampungan

4. Dalam tanah Berupa lapisan-lapisan tanah sebagai tempat mengalirnya air tanah yang berasal dari satu sumber air tertentu. Kondisi air pada umumnya jernih, dan diperoleh dengan bantuan pompa air / hisap, setelah diadakan penggalian / pengeboran tanah (berupa sumur galian / sumur bor) sampai kedalaman

tertentu sesuai kebutuhan.

/ sumur bor) sampai kedalaman tertentu sesuai kebutuhan. Mata air Hujan Sungai Air Tanah Mata air,

Mata air

bor) sampai kedalaman tertentu sesuai kebutuhan. Mata air Hujan Sungai Air Tanah Mata air, air sungai,

Hujan

sampai kedalaman tertentu sesuai kebutuhan. Mata air Hujan Sungai Air Tanah Mata air, air sungai, dan

Sungai

kedalaman tertentu sesuai kebutuhan. Mata air Hujan Sungai Air Tanah Mata air, air sungai, dan air

Air Tanah

Mata air, air sungai, dan air hujan biasanya merupakam sumber air sebagai bahan baku untuk diproses/diolah oleh Perusahaan Air Minum (PAM) menjadi air bersih / layak minum. Kebutuhan air dibagi atas:

1. Keperluan-keperluan

2. Kebutuhan yang sifatnya sirkulasi

3. Kebutuhan yang sifatnya tetap

4. Kebutuhan air cadangan yang sifatnya berkurang karena penguapan

Penyimpanan air bersih:

1. Reservoir bawah

2. Reservoir atas

Penyimpanan air bersih: 1. Reservoir bawah 2. Reservoir atas 1.1.2 Pompa Air Reservoir AIR BUANGAN Air

1.1.2

air bersih: 1. Reservoir bawah 2. Reservoir atas 1.1.2 Pompa Air Reservoir AIR BUANGAN Air buangan

Pompa Air

bersih: 1. Reservoir bawah 2. Reservoir atas 1.1.2 Pompa Air Reservoir AIR BUANGAN Air buangan /

Reservoir

AIR BUANGAN Air buangan / air kotor adalah air bekas pakai yang dibuang. Air kotor dapat dibagi dalam beberapa bagian sesuai dengan hasil penggunaannya:

1. Air bekas buangan

2. Air limbah

3. Air hujan

4. Air limbah khusus

Untuk membuang dan mengalirkan air kotor ini, ada yang dapat digabung pembuangannya da nada yang harus dipisahkan serta diproses tersendiri. Sistem air kotor plambing harus diperhatikan cara pembuangan dan penyambungannya supaya tidak terjadi perembesan yang berakibat mencemarkan lingkungan.

1.2 SISTEM PEMIPAAN PLAMBING Sistem pemipaan, menurut cara pengaliran airnya, adalah cara untuk mengalihkan air ke tempat yang memerlukan. Ada dua cara pengaturan air yaitu sistem horizontal dan vertikal.

1.2.1 SISTEM HORIZONTAL Sistem horizontal adalah suatu sistem pemipaan yang banyak digunakan untuk mengalirkan kebutuhan air pada suatu komplek perumahan atau rumah tinggal yang tidak bertingkat.

Ada dua cara yang dipakai untuk sistem pemipaan horizontal:

1. Pemipaan yang menuju ke satu titik akhir Keuntungannya adalah pemakaian bahan pipa yang lebih efisien, sedangkan kerugiannya adalah daya pancar air tidak sama, semakin jauh semakin kecil

2. Pemipaan yang melingkar/membentuk ring

Keuntungannya adalah daya pancar air ke semua titik sama, sedangkan kerugiannya adalah penggunaan bahan pipa yang banyak

kerugiannya adalah penggunaan bahan pipa yang banyak 1.2.2 SISTEM VERTIKAL Sistem pengaliran air bersih dengan

1.2.2 SISTEM VERTIKAL Sistem pengaliran air bersih dengan sistem vertikal banyak digunakan pada bangunan-bangunan bertingkat tinggi. Cara pendistribusiannya adalah dengan menampung lebih dulu pada tangki air (ground reservoir) yang terbuat dari beton dengan kapasitas sesuai dengan kebutuhan air pada bangunan tersebut. Kemudian

air dialirkan dengan menggunakan pompa untuk langsung ke titik-titik kran yang diperlukan. Cara lain adalah dengan menggunakan pompa untuk menampung air pada tangki di atas bangunan. Kemudian dari tangki dialirkan ke tempat-tempat yang memerlukan dengan menggunakan sistem gravitasi / turun langsung. Pada tempat tertentu dengan jarak kurang dari 9m biasa menggunakan pompa tekan.

dengan jarak kurang dari 9m biasa menggunakan pompa tekan. 2. PENCEGAHAN KEBAKARAN Untuk menghindari terjadinya
dengan jarak kurang dari 9m biasa menggunakan pompa tekan. 2. PENCEGAHAN KEBAKARAN Untuk menghindari terjadinya

2. PENCEGAHAN KEBAKARAN Untuk menghindari terjadinya kebakaran pada suatu bangunan, diperlukan suatu cara /

sistem pencegahan kebakaran karena kebakaran dapat menimbulkan kerugian berupa korban manusia, harta benda, terganggunya proses produksi barang dan jasa, kerusakan lingkungan dan terganggunya masyarakat. Peran arsitek dalam perancangan sistem pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran:

1. Merencanakan / menentukan lokasi area isolasi pada perencanaan denah bangunan seperti area core bangunan, tangga kebakaran, ruangan-ruangan khusus, dan lain-lain.

2. Menentukan bahan-bahan / finishing bangunan yang bersifat tahan api (fireproof), tidak mudah terbakar (non-combustible), dan tidak menghasilkan asap apabila terbakar.

3. Merencanakan letak dan jenis tangga kebakaran.

4. Menentukan letak alat-alat pemadam kebakaran seperti:

a. Di dalam bangunan

: - sprinkler

- detector

- hydrant

- fire extinghuiser

a. Di luar gedung

- gas (mis: halon)

- lift kebakaran

: - hydrant taman

- pompa kebakaran

5. Merencanakan posisi helipad (bila ada)

6. Merencanakan jalan masuk / akses untuk mobil pemadam kebakaran pada halaman gedung,

terutama untuk mencapai sarana / peralatan pemadam kebakaran

7. Menentukan posisi pintu-pintu ruangan yang karena letak dan fungsi ruangannya harus membuka keluar (baik ruangan maupun bangunan

Pertimbangan pokok kebutuhan sistem penanggulangan kebakaran pada bangunan tinggi:

1. Sebagian terbesar lantai bangunan tinggi berada diluar jangkauan tangga kebakaran

2. Evakuasi darurat menyeluruh pada bangunan tinggi mustahil dilakukan dalam waktu yang singkat (< 10 menit) Tips aman terhindar dari bahaya kebakaran:

1. Ketika anda memasuki gedung:

a. Pahami sarana jalan keluar (emergency exit) pada saat anda memasuki gedung / mall

b. Perhatikan dan ingat peralatan tombol alarm kebakaran pada lantai tempat anda

berada

c. Anda harus tahu dimana letak alat pemadam api ringan / hidran gedung, harus tahu pula menggunakannya

2. Ketika anda melihat adanya kebakaran:

a. Jika menjumpai kebakaran gunakan tombol alarm terdekat untuk memberikan tanda bahaya atau menghubungi operator telepon

b. Gunakan alat pemadam kebakaran api / hidran gedung terdekat untuk memadamkan

kebakaran, hindari resiko keselamatan jiwa

c. Jika kebakaran tidak dapat dikendalikan tutup semua pintu yang dilewati, tinggalkan gedung melalui tangga kebakaran. Jangan sekali-sekali menggunakan lift ataupun elevator

3. Ketika anda terjebak dalam kebakaran / asap:

a. Minta tolong, beritahukan dimana anda berada dengan cara menghubungi operator telepon, dengan cara memukul-mukul pintu atau dengan mengibarkan sesuatu pada jendela untuk menerangkan orang-orang yang ada di bawah

b. Agar api tidak masuk ke dalam ruangan, tutuplah celah-celah pintu dengan kain / handuk basah

c. Jika disekeliling anda penuh dengan asap, bernafaslah pendek-pendek, dan berjalanlah dengan merangkak karena udara pada permukaan lantai lebih bersih

d. Janganlah melompat, regu penyelamat pasti segera menolong anda

TAHAN API TIDAK MUDAH BAHAN TERBAKAR TIDAK MENGHASILKAN ALFA PENCEGAHAN AREA ISOLASI PEMBATASAN DAMPER
TAHAN API
TIDAK MUDAH
BAHAN
TERBAKAR
TIDAK MENGHASILKAN
ALFA
PENCEGAHAN
AREA ISOLASI
PEMBATASAN
DAMPER
PENJALARAN
PENUTUPAN SHAFT
ANTAR LAIN
ASAP ( SMOKE
DETECTOR)
PERINGATAN DINI
PENDETEKSIAN
PANAS (HEAT
DETECTOR)
BAHAYA KEBAKARAN
DAERAH / AREA
ISOLASI
SISTEM KELUAR (EXIT)
FIRE ESCAPE
TABUNG / KOLOM
LUNCUR
HELIPAD
SPRINKLER
FIRE EXTINGUISHER
PEMADAMAN
FIRE FIGHTING
FIRE HYDRANT
GAS (HALON)
LIFT KEBAKARAN

2.1 KLASIFIKASI BANGUNAN MENURUT KETENTUAN STRUKTUR UTAMA Klasifikasi bangunan menurut ketentuan struktur utamanya terhadap api, dibagi dalam 4 kelas:

1. Kelas A Struktur utamanya harus tahan terhadap api sekurang-kurangnya 3 jam. Bangunan kelas A ini biasanya merupakan bangunan untuk kegiatan umum, seperti hotel, pertokoan dan pasar raya, perkantoran, rumah sakit, bangunan industri, tempat hiburan, museum, dan bangunan dengan penggunaan ganda / campuran.

2. Kelas B Struktur utamanya harus tahan terhadap api sekurang-kurangnya 2 jam. Bangunan-bangunan tersebut meliputi perumahan bertingkat, asrama, sekolah, dan tempat ibadah.

3. Kelas C Bangunan-bangunan dengan ketahanan api dari struktur utamanya selama 1 jam biasanya bangunan-bangunan yang tidak bertingkat dan sederhana.

4. Kelas D Bangunan-bangunan yang tidak tercakup ke dalam kelas A, B, C dan diatur tersendiri, seperti instalasi nuklir dan gudang-gudang senjata atau mesin.

2.2 SISTEM PENCEGAHAN KEBAKARAN Sistem pencegahan kebakaran dapat berfungsi dengan baik asalkan sebelumnya dilakukan suatu persyaratan pada bangunan atau komplek perumahannya. Syarat-syarat untuk mencegah bahaya kebakaran pada bangunan atau komplek perumahan:

1. Mempunyai bahan struktur utama dan finishing yang tahan api

2. Mempunyai jarak bebas dengan bangunan-bangunan di sebelahnya atau terhadap lingkungannya

3. Melakukan penempatan tangga kebakaran sesuai dengan persyaratan- persyaratannya

4. Mempunyai pencegahan terhadap sistem elektrikal

5. Mempunyai pencegahan terhadap sistem penangkal petir

6. Mempunyai alat kontrol untuk ducting pada sistem pengkondisian udara

7. Mempunyai sistem pendeteksian dengan sistem alarm, sistem automatic smoke, dan heat ventilating

8. Mempunyai alat kontrol terhadap lift

9. Melakukan komunikasi dengan stasiun komando

2.3

PENGAMAN TERHADAP API

 

NO.

BAHAN-BAHAN STRUKTUR

PENGAMANAN TERHADAP API

1

BATU :

Tidak perlu dilindungi → tahan sampai 1100°

-

Alam

C

-

Buatan : bata, bataco, dll.

2

KAYU

Perlu dilindungi (misalnya dengan cat tahan api)

3

BAJA :

Perlu dilindungi, karena walaupun sukar terbakar, tetapi kalau terkena api / panas MUDAH MEMUAI → berkurang daya dukungnya pada ±10-15 menit setelah terbakar

-

Utama

Pendukung (misalkan tulangan pada beton)

-

4

BETON

Terbaik dalam ketahanan terhadap api. Akan lebih baik lagi kalau terlindungi oleh bahan finishing seperti marmer, keramik, dll.

2.4

HIDRAN KEBAKARAN Selain mengusahakan peralatan, penggunaan bahan, dan persyaratan- persyaratannya, perlu direncanakan alat-alat lainnya seperti hidran. Hidran kebakaran adalah satu alat untuk memadamkan kebakaran yang sudah terjadi dengan alat baku air. Hidran dibagi menjadi:

1. Hidran kebakaran dalam gedung

2. Hidran kebakaran di halaman

Untuk memasang peralatan hidran diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:

1. Sumber persediaan air hidran kebakaran harus diperhitungkan pemakaian selama 30-60 menit dengan daya pancar 200 galon/menit.

2. Pompa-pompa kebakaran dan peralatan listrik lainnya harus mempunyai aliran listrik tersendiri dari sumber daya listrik darurat

3. Selang kebakaran dengan diameter antara 1,5” – 2” harus terbuat dari bahan yang tahan panas, dengan panjang selang 20-30 m

4. Harus disediakan kopling penyambungan yang sama dengan kopling dari unit pemadam kebakaran

5. Penempatan hidran harus terlihat jelas, mudah dibuka, mudah dijangkau, dan tidak terhalang oleh benda-benda / barang-barang lain.

6. Hidran di halaman harus menggunakan katup pembuka dengan diameter 4” untuk 2 kopling, diameter 6” untuk 3 kopling, dan mampu mengalirkan 250 galon/menit atau 950 liter/menit untuk setiap kopling.

2.5

galon/menit atau 950 liter/menit untuk setiap kopling. 2.5 SPRINKLER Jika kebakaran terjadi pada bangunan-bangunan
galon/menit atau 950 liter/menit untuk setiap kopling. 2.5 SPRINKLER Jika kebakaran terjadi pada bangunan-bangunan

SPRINKLER Jika kebakaran terjadi pada bangunan-bangunan tinggi yang kesulitan dalam mengadakan pemadaman harus menggunakan alat pemadam kebakaran tambahan yang

bersifat otomatis, tidak dilakukan secara manual atau dengan tenaga manusia. Selain itu, apabila unit pemadam kebakaran setempat belum memiliki tangga pemadam kebakaran setinggi 40 m, maka ketentuan mulai dipakainya instalasi sprinkler harus disesuaikan dengan tangga maksimum 1 unit pemadam kebakaran yang dimiliki daerah tersebut. Penyediaan air sprinkler dapat diusahakan melalui:

1. Tangki gravitasi, harus diletakkan sedemikian rupa sehingga air dapat menghasilkan aliran dan tekanan cukup pas setiap kepala sprinkler

2. Tangki bertekanan, harus selalu berisi 2/3 dari volume dan diberi tekanan 5 kg/cm²

3. Jaringan air bersih khusus untuk pipa sprinkler

Kepala sprinkler adalah bagian dari sprinkler yang berada pada ujung jaringan pipa,

diletakkan sedemikian rupa sehingga perubahan suhu tertentu akan memecahkan kepala sprinkler tersebut dan akan memancarkan air secara otomatis. Kepala sprinkler ada beberapa jenis yang dibedakan dengan warna untuk menentukkan tingkat kepekaannya terhadap suhu:

1. Jingga, tabung pecah pada suhu 57º C

2. Merah, tabung pecah pada suhu 68º C

3. Kuning, tabung pecah pada suhu 79º C

4. Hijau, tabung pecah pada suhu 93º C

5. Biru, tabung pecah pada suhu 141º C

pada suhu 93º C 5. Biru, tabung pecah pada suhu 141º C 2.6 HALON Pada daerah
pada suhu 93º C 5. Biru, tabung pecah pada suhu 141º C 2.6 HALON Pada daerah

2.6 HALON Pada daerah yang penanggulangan pemadam kebakarannya tidak diperbolehkan menggunakan air, seperti pada ruangan penuh dengan peralatan-peralatan atau ruangan arsip. Ruangan tersebut harus dilengkapi dengan sistem pemadam kebakaran, yaitu sistem halon.

Tabung gas halon diletakkan dan dihubungkan dengan instalasi ke arah sprinkler. Kalau terjadi kebakaran, kepala sprinkler akan pecah dan secara otomatis gas halon akan mengalir keluar untuk memadamkan kebakaran. Selain gas halon yang sudah tidak boleh dipergunakan, terdapat sistem lain yaitu alat pemadam yang menggunakan busa (foam), Dry Chemical CO 2 , atau bahan lainnya.

2.7 FIRE DAMPER Fire damper adalah satu alat yang diletakkan pada ujung-ujung ducting yang terdapat diatas plafon, yang dapat menutup secara otomatis ketika terdeteksi adanya asap. Tahan terhadap api, minimal selama satu setengah jam.

2.8 SMOKE AND HEAT VENTILATING Alat ini dipasang pada daerah-daerah yang menghubungkan udara luar. Kalau terjadi kebakaran, asap yang timbul segera dapat mengalir ke luar, sehingga para petugas pemadam kebakaran akan terhindar dari asap-asap tersebut

2.9 VENT AND EXHAUST Alat ini dipasang pada tempat-tempat khusus seperti di tangga kebakaran:

1. Dipasang di depan tangga kebakaran yang akan berfungsi mengisap asap yang akan masuk pada tangga yang dibuka pintunya.

2. Dipasang di dalam tangga, secara otomatis berfungsi memasukkan udara untuk memberikan tekanan pada udara di dalam ruangan tangga. Tekanan tersebut akan mengatur tekanan udara di dalam bangunan khususnya yang sedang terjadi kebakaran, sehingga kalau pintu kebakaran terbuka, udara di dalam tangga akan menekan ke dalam ruangan dan asap tidak akan masuk ruangan tangga.

3. Untuk bangunan dengan sistem atrium (ruangan lantai yang terbuka menerus), dipakai alat exhaust yang secara otomatis terbuka pada saat terjadi kebakaran sehingga asap dapat keluar ke atas melewati alat tersebut.

2.10 TANGGA KEBAKARAN Tangga adalah satu tempat untuk menghubungkan ruangan bawah dengan ruangan diatasnya. Selain untuk menghubungkan ruangan-ruangan tersebut, tangga berfungsi juga sebagai tempat untuk melarikan diri dari gangguan kebakaran, sehingga disebut tangga kebakaran. Tangga kebakaran ini mempunyai syarat-syarat tertentu, yaitu:

1. Tangga terbuat dari konstruksi beton atau baja yang punya ketahanan kebakaran selama 2 jam

2. Tangga dipisahkan dari ruangan-ruangan lain dengan dinding beton yang tebalnya minimum 15 cm atau tebal tembok 30 cm yang memiliki ketahanan kebakaran selama 2 jam.

3. Bahan-bahan finishing, seperti lantai dari bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak licin, susuran tangan terbuat dari besi

4. Lebar tangga minimum 120 cm (untuk lalu lintas 2 orang)

5. Pintu tangga terbuat dari bahan yang tahan kebakarannya 2 jam (pintu tahan api)

6. Pintu paling atas membuka ke arah luar (atap bangunan) dan semua pintu lainnya membuka ke arah ruangan tangga, kecuali pintu paling bawah membuka ke luar dan langsung berhubungan dengan ruang luar

7. Daun pintu yang terbuat dari pintu tahan api dilengkapi dengan engsel, kunci, dan pegangan yang juga tahan api. Pintu tak dapat dibuka secara otomatis dari ruangan tangga, kecuali pintu paling atas atau paling bawah.

8. Letak pintu kebakaran ini paling jauh dapat dijangkau oleh pengguna dalam jarak radius 25 m. Oleh karena itu, diperlukan satu tangga kebakaran dalam satu bangunan dengan luas 600 m², yang ditempati 50-70 orang

9. Supaya asap kebakaran tidak masuk dalam ruangan tangga, diperlukan: Exhaust fan yang berfungsi menghisap asap yang ada di depan tangga dan Pressure fan yang berfungsi menekan / memberi tekanan di dalam ruang tangga yang lebih besar daripada tekanan di ruang luar

10. Di dalam dan di depan tangga diberi alat penerangan sebagai penunjuk arah ke tangga dengan daya otomatis / emergency

3. TATA UDARA ATAU PENGHAWAAN

Untuk mencapai kenyamanan, kesehatan, dan kesegaran hidup dalam rumah tinggal atau bangunan-bangunan bertingkat, khususnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada daerah yang beriklim tropis dengan udaranya yang panas dan kelembaban udaranya yang tinggi, maka diperlukan usaha untuk mendapatkan udara segar dari aliran udara alam dan aliran udara buatan Udara yang nyaman mempunyai kecepatan tidak lebih dari 5 km/jam dengan suhu temperature < 30°C dan banyak mengandung O 2 . Dengan memenuhi persyaratan tersebut, kenyamanan akan dinikmati sehingga semua kegiatan di bangunan dapat berjalan dengan baik.

semua kegiatan di bangunan dapat berjalan dengan baik. Peran arsitek dalam perancangan sistem tata udara (AC)

Peran arsitek dalam perancangan sistem tata udara (AC)

1. Bersama-sama Mechanical Engineering memilih / menentukan sistem / jenis AC yang akan digunakan

2. Merencanakan tata letak peralatan / perlengkapan AC bangunan:

a. Di dalam ruangan / bangunan:

i. Plafon : - Sistem sentral:

Grille / exhaust grille FCU (Fan Coil Unit)

ii. Dinding

iii.

Lantai

- Sistem split / multi split:

Indoors unit (ceiling type)

- Sistem package unit:

Grille / exhaust grille

: - Kotak window unit

- Sistem split / multi split:

Indoors unit (wall type)

- Sistem package unit:

Grille / exhaust grille

: - Sistem split:

Indoors unit (floor type)

- Sistem sentral:

Ruang AHU (Air Handling Unit)

b. Di luar ruangan / bangunan:

i. Lantai / atap

: - Sistem split / multi split:

Outdoors unit Mesin multi split

- Sistem package unit:

Mesin package unit

- Sistem sentral:

ii. Atap

Mesin chiller

: - Cooling tower

(floor to ceiling) dan lantai ke lantai (floor to floor),

berdasarkan kebutuhan ketinggian ruang diatas plafon karena adanya jaringan pipa / ducting AC, dimensi struktur, dan lain-lain Tujuan dari sistem tata udara (air conditioning) adalah untuk memberikan kenyamanan kepada

3. Menentukan ketinggian plafon

penghuni bangunan / gedung. Sistem tata udara meliputi pendinginan (cooling) dan pemanasan (heating). Unsur-unsur sistem tata udara:

1. Mengatur temperatur udara

2. Mengatur kelembaban udara

3. Mengatur sirkulasi udara

3.1 KOMPONEN POKOK UNIT AIR CONDITIONER Compressor, berfungsi memberi tekanan, sehingga cairan refrigerant akan mengalir ke seluruh sistem dan bentuk refrigerant akan berubah dari gas menjadi cair dan kembali menjadi gas, serta temperature dan tekanannya akan berubah-rubah. Condensor, berfungsi mendinginkan, sehingga gas dengan temperatur dan tekanan tinggi akan membuang panasnya keluar dan didalam pipa terjadi pengembunan (kondensasi), dan gas akan berubah bentuk menjadi cair pada temperatur pengembunan (tetapi tekanannya masih tinggi) Expansion valve, berfungsi menurunkan tekanan cairan refrigerant dank arena mendapat pendinginan maka temperaturnya pun kan turun Evaporator, berfungsi untuk penguapan dan untuk proses ini cairan akan mengambil panas dari udara yang dialirkan melalui rusuk-rusuk evaporator dan akan berubah menjadi gas engan temperatur dan tekanan rendah, dan mengalir kembali ke compressor.

berubah menjadi gas engan temperatur dan tekanan rendah, dan mengalir kembali ke compressor. 4. Menjaga kualitas
berubah menjadi gas engan temperatur dan tekanan rendah, dan mengalir kembali ke compressor. 4. Menjaga kualitas
Compressor (Tekanan) ----------------------- Gas: Tek Rendah Temp rendah
Compressor
(Tekanan)
-----------------------
Gas: Tek Rendah
Temp rendah
----------------------- Gas: Tek Rendah Temp rendah Evaporator (Penguapan) ----------------------- Cairan
Evaporator (Penguapan) ----------------------- Cairan dingin: Tek rendah Temp rendah
Evaporator
(Penguapan)
-----------------------
Cairan dingin:
Tek rendah
Temp rendah
Cairan dingin: Tek rendah Temp rendah Condensor (Pengembunan) ----------------------- Gas: Tek
Cairan dingin: Tek rendah Temp rendah Condensor (Pengembunan) ----------------------- Gas: Tek
Condensor (Pengembunan) ----------------------- Gas: Tek Tinggi Temp tinggi Expansion valve (Penurunan Tekanan dan
Condensor
(Pengembunan)
-----------------------
Gas: Tek Tinggi
Temp tinggi
Expansion valve
(Penurunan
Tekanan dan
Temperatur)

3.2 JENIS-JENIS UNIT AIR CONDITIONING Window unit, keempat komponen pokok (Compressor, condensor, expansion valve, dan evaporator) berada di dalam satu tempat / wadah, akan tetapi pada pemasangannya secara fisik evaporator berada dalam ruangan sedangkan compressor, condensor, dan expansion valve berada di bagian luar ruangan. Split system, prinsip kerja dan pengelompokkan / grouping komponen pokok sama dengan sistem window unit, akan tetapi secara fisik penempatannya pada 2 tempat / wadah yang terpisah sehingga 3 komponen pokok yang ditempatkan di luar ruangan dapat ditempatkan dengan jarak yang cukup jauh dengan ruangan yang bersangkutan, dan saling dihubungkan dengan refrigerant. Sistem sentral, karena berkapasitas besar, maka dimensi indoor unit dan outdoor unit pun besar, sehingga penempatannya pun dapat dimana saja dengan syarat outdoor unit harus diletakkan di ruang terbuka yang mempunyai sirkulasi udara yang baik untuk kebutuhan pendinginan komponen condensor. Package unit, prinsipnya sama dengan window unit, hanya saja berukuran besar (karena dibuat untuk men-supply beberapa buah ruangan). Penempatannya bias dimana

saja, sedangkan untuk men-supply udara dingin ke ruangan-ruangan adalah dengan sistem pemipaan / ducting (supply duct dan return duct)

3.3 SISTEM PENDINGINAN

1. AIR COOLED:

Proses pendinginan pada condensor dengan menggunakan udara luar yang disirkulasikan denngan menggunakan fan.

2. WATER COOLED:

Proses pendinginan pada condensor dengan menggunakan air.

3.4 PENEMPATAN RUANG AC DAN SISTEM DISTRIBUSI PENGUDARAAN Untuk merancang penempatan ruang AC diperlukan beberapa cara:

1. Ruang AC terletak di tengah ruangan yang akan diberikan pengudaraan. Sistem ini paling efisien baik pemipaan maupun penyebaran udaranya.

2. Ruang AC terletak langsung berhadapan dengan ruangan yang akan diberikan pengudaraan. Kerugiannya adalah pengurangan cahaya alam dan terhalangnya pandangan.

3. Ruang AC berada di luar bangunan. Kerugiannya adalah pemipaan isolasi dari udara yang dingin banyak terbuang. Keuntungannya hanya memudahkan servis dan kebutuhan air untuk AC.

4. Ruang AC terletak di antara ruangan yang akan didistribusi penghawaan.

Dalam pendistribusian udara dingin dari ruang mesin AC ke ruangan yang

memerlukan, terdapat 3 cara sistem pendistribusian:

1. Sistem radial pattern, dapat memperpendek jangkauan / pemipaan pengudaraan

2. Sistem perimeter loop, membuat pemipaan melingkar sehingga kekuatan pancaran udara dingin akan mempunyai nilai yang sama

3. Sistem lateral, yang paling praktis dengan menggunakan pemipaan utama dan cabang

4. DAYA LISTRIK DAN PENERANGAN ATAU PENCAHAYAAN Perancang bangunan bertingkat harus mempelajari masalah penerangan atau
4. DAYA LISTRIK DAN PENERANGAN ATAU PENCAHAYAAN Perancang bangunan bertingkat harus mempelajari masalah penerangan atau

4. DAYA LISTRIK DAN PENERANGAN ATAU PENCAHAYAAN Perancang bangunan bertingkat harus mempelajari masalah penerangan atau pencahayaan

sehingga bangunan dapat berfungsi seperti yang diharapkan. Selain itu, perancang bangunan harus

penerangan atau pencahayaan alam selama masih dapat

juga memperhatikan manfaat

dimanfaatkan. Peran arsitek di dalam perancangan sistem daya listrik bangunan tinggi:

1. Menentukan jumlah dan letak . posisi electrical fixtures seperti: titik lampu, sakelar, stop kontak, dan lain-lain baik di dalam maupun di luar bangunan sesuai rencana denah / layout furniture, peralatan, dan perlengkapan bangunan.

2. Menentukan letak / posisi ruang trafo, panel, ruang control, dan ruang diesel / genset.

3. Menentukan letak / posisi gardu listrik (apabila ada / diperlukan)

4. Menentukan letak / posisi meteran listrik, box sekring, dan lain-lain.

5. Menentukan jenis, warna, dan bentuk fixtures.

6. Merencanakan sistem penerangan halaman / taman

7. Dan lain-lain dengan kebutuhan sistem daya listrik bangunan lainnya

Sumber listrik:

1. Perusahaan Listrik Negara (PLN)

- Merupakan sumber penghasil daya listrik utama dengan tegangan sebesar 20 KV (20.000 V)

- Untuk kebutuhan daya dan penerangan secara umum / menyeluruh / normal

2.

Generator (Generator Set / Genset) Merupakan sumber penghasil daya listrik darurat (berfungsi sebagai cadangan / backup) maka kapasitasnya tidak sama dengan kapasitas daya listrik yang di supply dari PLN, tetapi didtetapkan oleh pemilik bangunan sesuai kebutuhan (biasanya berkisar 25%-60% dari total kebutuhan), misalnya:

- Beban Esensial / Penting (yang harus tetap hidup pada saat terjadi kebakaran gedung), seperti:

Pompa kebakaran

Lift pemadam kebakaran

Sebagian lampu penerangan

Sistem evakuasi dan sekuriti

- Beban Non Esensial (dengan tujuan agar operasional gedung tetap berjalan pada

saat PLN padam), seperti:

Sebagian atau seluruh lampu penerangan

Sebagian atau seluruh lift

Sebagian AC dan ventilasi

3.

Baterai Merupakan sumber penghasil daya listtrik yang konstan dan tidak terputus

(Uninterupted Power Supply) untuk kebutuhan peralatan / perlengkapan khusus seperti:

- Lampu darurat (±60 menit)

- Komputer

- Peralatan khusus (rumah sakit, laboratorium, dll.)

4.1

CAHAYA MATAHARI Matahari adalah sumber cahaya atau penerangan alami yang paling udah didapat dan banyak manfaatnya, oleh karena itu, harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Apalagi di Indonesia sebagai daerah tropis yang terletak di garis khatulistiwa, matahari memancarkan sinarnya sepanjang tahun tanpa perbedaan siang dan malam. Matahari selain memberikan panas (radiasi) juga memberikan cahaya (sinar). Mengingat cahaya matahari pada siang hari adalah cahaya yang bermanfaat sekali bagi semua kehidupan di darat dan air, maka cahaya matahari sangat diperlukan khususnya dalam pencahayaan bangunan.

Tujuan pemanfaatan cahaya matahari sebagai penerangan alami dalam bangunan adalah sebagai berikut: 1. Menghemat energi
Tujuan pemanfaatan cahaya matahari sebagai penerangan alami dalam bangunan adalah sebagai berikut: 1. Menghemat energi

Tujuan pemanfaatan cahaya matahari sebagai penerangan alami dalam bangunan adalah sebagai berikut:

1. Menghemat energi dan biaya operasional bangunan

2. Menciptakan ruang yang sehat mengingat sinar matahari mengandung ultraviolet yang memberikan efek psikologis bagi manusia dan memperjelas kesan ruang.

3. Mempergunakan cahaya alami sejauh mungkin ke dalam bangunan,

baik sebagai sumber penerangan langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan cahaya matahari ke dalam ruang dapat dilakukan dengan berbagai cara, dilihat dari arah jatuhnya sinar matahari dan kompenen / bidang- bidang yang membantu memasukkan dan memantulkan cahaya matahari. Sudut jatuhnya sinar matahari ini berbeda-beda pada setiap daerah. Untuk mengukur jatuhnya sinar matahari digunakan diagram lintang matahari. Matahari merambat dari arah timur ke barat. Hal ini mempengaruhi besar cahaya ke dalam ruangan yang menghadap ke arah timur, barat, utara, dan selatan. Pada perancangan bangunan, khususnya bangunan bertingkat tinggi, permukaan kacanya diusahakan menghadap arah utara atau selatan untuk menghindari radiasi panas matahari yang masuk ke dalam ruangan. Oleh karena cahaya yang cukup dibutuhkan pada waktu bekerja, sedangkan cahaya yang masuk ke dalam ruangan dibatasi, mengingat semua bangunan (khususnya bangunan bertingkat banyak) menghindari banyaknya cahaya matahari, maka diperlukan suatu cara untuk menggantikan cahaya tersebut dengan cahaya buatan.

4.2 CAHAYA BUATAN Cahaya buatan dikelola atau diperoleh dari perusahaan pemerintah melalui

suatu pembangkit tenaga. Perusahaan tersebut adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang menyelenggarakan dan menyiapkan suatu tenaga pembangkit listrik dengan sistem:

1. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)

2. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

3. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD)

Di luar negeri terdapat pembangkit tenaga listrik lain, yaitu:

1. Pembangkit Listrik Tenaga Surya

2. Pembangkit Listrik Tenaga Angin

3. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Dari tempat pembangkit ini, listrik dialirkan melalui kawat-kawat / kabel- kabel bertegangan tinggi ke kota-kota yang memerlukan dan diubah dari tegangan tinggi ke tegangan menengah pada gardu-gardu induk. Tegangan menengah yang berada di jalan-jalan besar untuk menuju ke gardu-gardu tertentu perlu diubah

menjadi kabel tegangan rendah sehingga dapat disalurkan pada bangunan-bangunan rumah.

ke gardu-gardu tertentu perlu diubah menjadi kabel tegangan rendah sehingga dapat disalurkan pada bangunan-bangunan rumah.

Daya penerangan yang masuk dalam panel-panel pembagi (subpanel) dibagi dalam 2 bagian:

Generator akan mengeluarkan suara gaduh dan asap dari bekas pembakaran minyak diesel maka sebaiknya diletakkan berjauhan dengan ruang kerja. Ruang

TELEPON

1. Pencahayaan / daya langsung Pencahayaan yang berupa titik-titik lampu penerangan. Peletakan lampu penerangan ini harus diatur sedekimian rupa sehingga menghasilkan pencahayaan yang baik, memenuhi syarat yang diminta, dan merata. Selain itu, harus diatur posisinya terhadap letak-letak diffuser AC, sprinkler, fire alarm, smoke detector, speaker, dan sebagainya.

panel dan ruang stabilisator adalah tempat untuk menyambung kabel-kabel dari generator sebagai daya emergency sehingga ruang generator harus sedekat mungkin dengan ruangan tersebut. Karena mengeluarkan asap generator harus diletakan bersebelahan dengan ruang terbuka. Ruang untuk generator sebaiknya tertutup rapat, paling baik dengan atap beton dan dinding dibuat dari tembok rangkap, dan kalau perlu diberi alat peredam

2. Daya yang tidak langsung

suara, semuanya berfungsi mengurangi suara bising yang dihasilkan generator.

Daya ini digunakan untuk menghidupkan alat-alat tertentu seperti computer dan mesin ketik. Perancangan utilitas untuk pencahayaan / penerangan harus dikoordinasikan

Pondasi generator dibuat terpisah dengan pondasi bangunan dengan cara diberi lapisan ijuk dengan pasir. Mengingat udara di dalam ruang generator akan menjadi panas akibat dari mesin generator maka perlu adanya ventilasi atau diberi bantuan

antara perancang arsitektur, elektrikal, dan bagian - bagian lain sehingga dapat memnuhi persyaratan pencahayaan pada ruangan / bangunan yang dimaksud.

5.

1. CU ( Coeffisien of Utilization ) rata rata 50% - 65%, tergantung dari :

alat exhaust untuk mengalirkan udara ke dalam ruang tersebut.

Jumlah titik lampu dalam ruangan banyak dipengaruhi oleh factor :

Sistem telepon harus menggunakan sistem hubungan seperti saluran untuk daya pembangkit computer, yaitu aliran di dalam lantai (floor duct). Diperlukan juga sistem panel

- = persentase pantulan

P

panel atau terminal telepon, yang dapat langsung berhubungan dengan luar melalui penggunaan

- = persentase pantulan pada ceiling

Pc

sistem terminal utama menuju titik titik yang diperlukan atau penggunaan sistem PABX (Private

- = persentase pantulan pada wall

Pw

Automatic Branch Exchange).

- = persentase pantulan pada floor

Pf

Supaya sistem telepon ini dapat berfungsi harus dipersiapkan :

4.3

juga dipengaruhi oleh furniture, tetapi yang lebih menonjol lagi dalam pantulan adalah warna

2. LLF ( Light Loss Factor ) rata rata 0,7 0,8

GENERATOR Generator adalah alat pembangkit tenaga listrik dalam bangunan-bangunan yang bersifat sebagai pembangkit tenaga listrik dengan menggunakan bahan minyak diesel dalam skala kecil. Fungsinya untuk pengganti sementara untuk mendapatkan tenaga aliran listrik ketika PLN mengalami pemdaman Generator memerlukan alat pembakar yaitu minyak diesel yang harus memerlukan alat pembakar yaitu minyak diesel yang harus dapat disimpan di dalam ruangan generator dan di luar ruang generator. Perputaran mesin yang dihasilkan daya listrik tidak dapat stabil, karena itu perlu adanya alat pengatur tegangan / stabilisator dan juga perlu adanya alat tambahan untuk menghidupkan secara otomatis jika aliran PLN mati.

1. Panel distribusi saluran telepon.

2. Unit PABX sesuai dengan jumlah sambungan

3. Handset telepon sama dengan jumlah kebutuhan

4. Kabel telepon dalam bangunan

5. Konektor kabel bangunan

Untuk menentukan jumlah pesawat telepon direct line maupun extensions harus

mempertimbangkan faktor faktor :

1. Jabatan personel

2. Tugas personel yang dianggap cukup penting sehingga memerlukan sarana telepon

3. Jumlah dari penyewa gedung perkantoran bertingkat

4. Fungsi ruangan dan lokasi

6. CCTV DAN SISTEM SEKURITI CCTV ( Closed Circuit Television ) adalah suatu alat yang

6. CCTV DAN SISTEM SEKURITI CCTV (Closed Circuit Television) adalah suatu alat yang berfungsi untuk memonitor suatu

ruangan melalui layar televisi / monitor, yang menampilkan gambar dari rekaman kamera yang dipasang di setiap sudut ruangan yang diinginkan oleh bagian keamanan. Sistem kamera dan TV ini terbatas pada gedung tersebut. Semua kegiatan di dalamnya dapat dimonitori di suatu ruangan sekuriti. CCTV ini dapat bekerja 24 jam sesuai dengan kebutuhan. Setiap gambar dapat ditayang-ulang pada posisi waktu yang diinginkan oleh operator. Karena bersifat rahasia, maka perletakan kamera dan tempat monitor diatur oleh bagian sekuriti, dalam sistem ini, peralatan yang diperlukan adalah :

1.

Kamera

2.

Monitor televisi

3.

Kabel koaxial

4.

Timelaps video recorder

5.

Ruangan sekuriti (ruangan yang dipasangi monitor monitor dan dilengkapi fasilitas AC, toilet serta penerangan tersendiri)

dilengkapi fasilitas AC, toilet serta penerangan tersendiri) 7. PENANGKAL PETIR Pada bangunan bertingkat perlu dilakukan
dilengkapi fasilitas AC, toilet serta penerangan tersendiri) 7. PENANGKAL PETIR Pada bangunan bertingkat perlu dilakukan

7. PENANGKAL PETIR

Pada bangunan bertingkat perlu dilakukan pengamanan bahaya sambaran petir dengan cara memasang penangkal petir yang diletakkan pada puncak bangunan. Penangkal petir harus dipasang pada bangunan yang minimal memiliki ketinggian 2 lantai dan yang lebih utama adalah bangunan yang memiliki ketinggian paling tinggi dari bangunan yang berada di sekitarnya. Fungsi dari penangkal petir itu sendiri adalah untuk pengamanan bangunan dari bahaya sambaran petir Jadi, sistem penangkalan petir harus dapat melindungi seluruh bagian bangunan dan manusia yang ada di dalamnya. Berikut ini adalah pembagian sistem instalasi penangkal petir.

7.1 SISTEM KONVENSIONAL/FRANKLIN

Batang runcing yang dipasang paling atas terbuat dari copper spit, batang tersebut dihubungkan dengan batang tembaga menuju ke batang elektroda yang ditanahkan. Pada batang eletroda tersebut dibuat bak kontrol untuk memudahkan pemeriksaan dan pengetesan. Sistem ini sederhana, instalasinya cepat dan mudah, biayanya murah dan mampu melindungi rumah dari efek sambaran petir. Akan tetapi sistem ini tidak cocok pada daerah yang memiliki frekuensi sambaran petirnya tinggi, jangkauan perlindungan terbatas dan tidak mampu melindungi peralatan-peralatan listrik yang ada di dalam bangunan dari medan magnet yang ditimbulkan oleh petir.

listrik yang ada di dalam bangunan dari medan magnet yang ditimbulkan oleh petir. Sistem Konvensional Penangkal

Sistem Konvensional Penangkal Petir

7.2 SISTEM SANGKAR FARADAY

Sistem ini hampir sama dengan sistem Konvensional/Franklin, akan tetapi sistem ini dapat dibuat memanjang sehingga jangkauannya lebih luas. Biaya yang dibutuhkan sedikit lebih mahal dari sistem Konvensional dan sistem ini sedikit mengganggu keindahan pada bangunan.

Cara kerja sistem ini adalah menyalurkan aliran listrik yang diterima melalui kabel- kabel konduktor yang dibuat, sehingga partikel muatan yang berada dalam aliran listrik akan bertabrakan dengan medan elektromagnetik yang diciptakan oleh konduktor dan kemudian disalurkan ke tanah. Kerusakan peralatan-peralatan listrik yang ada di dalam bangunan akibat sambaran listrik dapat diminimalisir dengan menggunakan sistem ini.

listrik dapat diminimalisir dengan menggunakan sistem ini. Sistem Sangkar Faraday 7.3 SISTEM RADIOAKTIF ATAU

Sistem Sangkar Faraday

7.3 SISTEM RADIOAKTIF ATAU SEMI-RADIOAKTIF/SISTEM THOMAS

Sistem ini cocok untuk bangunan tinggi dan besar, karena menggunakan sistem payung yang pemasangannya tidak perlu dibuat tinggi. Cara pemasangan sistem ini adalah dengan menghubungkan titik puncak dari alat penangkal petir dengan pipa tembaga yang menuju ke tanah yang berair. Pada satu bangunan cukup menggunakan satu tempat penangkal petir sebab bentangan perlindungan sistem ini cukup besar. Keindahan bangunan tidak akan terganggu jika tempat-tempat tersebut dibuat sedemikian rupa.

jika tempat-tempat tersebut dibuat sedemikian rupa. Sistem Thomas Faktor-Faktor Perancangan Sistem Penangkal

Sistem Thomas

Faktor-Faktor Perancangan Sistem Penangkal Petir

- Keamanan teknis

- Penampang hantaran-hantaran pentanahan

- Ketahanan teknis

- Ketahanan terhadap korosi

- Bentuk dan ukuran bangunan

- Faktor ekonomis

Jenis-Jenis Bangunan yang Memerlukan Sistem Penangkal Petir

1. Bangunan yang paling tinggi dari bangunan di sekitarnya.

2. Bangunan yang menyimpan bahan-bahan yang mudah terbakar dan meledak, seperti pabrik amunisi dan gudang penyimpanan bahan peledak, cairan atau gas yang mudah terbakar.

3. Bangunan yang perlu dilindungi dengan baik, seperti museum dan gedung arsip negara.

8. SISTEM TATA SUARA

Sistem tata suara perlu direncanakan untuk memberikan fasilitas kelengkapan pada bangunan. Tata suara tersebut dapat berupa background music dan announcing system (public address) yang berfungsi sebagai penghias keheningan ruangan atau jika terdapat pengumuman-pengumuman yang penting. Pada bangunan-bangunan umum terdapat sistem untuk car call. Beberapa peralatan yang berhubungan dengan tata suara, seperti speaker, volume control, microphone, cassette deck, mix amplifier, speaker selector switch dan horn speaker yang biasanya digunakan utuk car call.

Speaker Sound Pressure

Peletakan speaker sangat mempengaruhi rencana langit-langit pada ruangan umum atau kantor. Hal tersebut menjadikan letak speaker satu dengan yang lain perlu diperhatikan agar suara yang dihasilkan dapat dinikmati dengan baik.

Horn Speaker

yang dihasilkan dapat dinikmati dengan baik. Horn Speaker Speaker-Speaker Horn speaker biasanya terletak di tempat

Speaker-Speaker

Horn speaker biasanya terletak di tempat parkir terbuka dan di tempat sopir-sopir beristirahat, sehingga suara yang dihasilkan oleh horn speaker hanya dapat didengarkan oleh sopir-sopir yang menunggu mobil.

Microphone dan Amplifier

Alat-alat ini biasanya diletakkan di tempat yang aman, strategis, mudah dijangkau dan tidak mengganggu ruangan. Sebaiknya alat-alat ini diletakkan di reception desk atau pada ruangan khusus yang dekat dengan reception desk. Ruangan tersebut harus ditangani oleh operator yang berperan sebagai pengelola alat-alat tersebut.

operator yang berperan sebagai pengelola alat-alat tersebut. Microphone 9. TRANSPORTASI DALAM BANGUNAN Sebuah bangunan

Microphone

9. TRANSPORTASI DALAM BANGUNAN

Sebuah bangunan tinggi memerlukan suatu alat transportasi angkut yang memberi kenyamanan. Berikut adalah beberapa alat angkut sesuai dengan arah geraknya :

1. Elevator (arah geraknya secara vertikal)

arah geraknya : 1. Elevator (arah geraknya secara vertikal) Elevator atau yang sering disebut lift adalah

Elevator atau yang sering disebut lift adalah sebuah alat angkut yang digunakan untuk mengangkut orang atau barang dalam suatu bangunan yang tinggi. Lift dapat dipasang pada bangunan-bangunan yang memiliki ketinggian lebih dari 4 lantai, karena manusia hanya mampu naik dan turun bangunan sampai 4 lantai.

Berdasarkan fungsinya, secara umum elevator atau lift dapat dibagi menjadi :

a. Lift Penumpang (Passenger Elevator) Lift ini digunakan untuk mengangkut penumpang manusia. Terdapat 2 macam lift penumpang yaitu lift penumpang yang tertutup dan terbuka. Lift penumpang yang tertutup dengan kecepatan rendah hanya bisa melayani bangunan yang tingkatannya tidak lebih dari 10 lantai, sedangkan kecepatan tinggi bisa melayani bangunan yang

memiliki tingkatan lebih dari 10 lantai. Pada lift penumpang perlu dibedakan dari segi kapasitas, jumlah muatan dan kecepatan.

b. Lift Barang (Freight Elevator) Lift ini biasa disebut lift service karena lift ini biasanya digunakan untuk mengangkut barang/beban berat dan peralatan atau perlengkapan gedung. (Gambar 2)

c. Lift Makanan (Dumb Weiters) Lift ini digunakan untuk mengangkut makanan. Letaknya biasanya ada di dalam dapur. Biasanya lift ini digunakan di dalam restoran. (Gambar 3)

d. Lift Pemadam Kebakaran Lift ini biasanya digunakan oleh petugas pemadam kebakaran pada saat teerjadi kebakaran. Karena lift ini digunakan untuk pemadam kebakaran, maka lift ini harus tahan terhadap api minimal selama 2 jam. Pintu pada lift terakhir harus dapat langsung dijangkau dari luar.

e. Lift Rumah Sakit Lift ini digunakan untuk mengangkut orang sakit. Biasanya lift ini ukurannya memanjang dan memiliki 2 pintu yang letaknya berlawanan. (Gambar 4)

dan memiliki 2 pintu yang letaknya berlawanan. (Gambar 4) Gambar 1 Gambar 2 Gambar 4 Gambar

Gambar 1

2 pintu yang letaknya berlawanan. (Gambar 4) Gambar 1 Gambar 2 Gambar 4 Gambar 3 Sistem

Gambar 2

pintu yang letaknya berlawanan. (Gambar 4) Gambar 1 Gambar 2 Gambar 4 Gambar 3 Sistem Pergerakan

Gambar 4

letaknya berlawanan. (Gambar 4) Gambar 1 Gambar 2 Gambar 4 Gambar 3 Sistem Pergerakan Elevator -

Gambar 3

Sistem Pergerakan Elevator

- Sistem gearless yaitu mesin di atas. Biasanya sistem ini digunakan untuk lift kantor, pertokoan, hotel, apartemen dan rumah sakit.

- Sistem hydrolic yaitu mesin di bawah terbatas 3-4 lantai. Sistem ini biasanya digunakan pada lift makanan.

Berikut adalah bagian utama lift yang harus diperhatikan dalam proses perancangan :

- Lift Pit Lift pit adalah tempat pemberhentian terakhir yang paling bawah berupa buffer sangkar dan buffer beban pengimbang.

- Ruang Luncur (Hoist Way) Ruang luncur adalah tempat meluncurnya sangkar/kereta lift, tempat pintu-pintu masuk ke sangkar/kereta lift, tempat meluncurnya beban pengimbang (counter weight) dan tempat meletakkan rel-rel peluncur.

- Ruang Mesin Ruang mesin adalah tempat untuk meletakkan mesin atau motor traksi lift dan tempat panel kontrol untuk mengatur jalannya lift.

Cara Kerja Lift

Keseimbangan antara kereta penumpang dengan beban pengimbang dapat mengatur naik dan turunnya lift. Motor traksi lift yang ada di ruang mesin bekerja melalui panel kontrol sesuai dengan sentuhan tombol-tombol yang ada pada pintu lift. Jika panel kontrol bekerja secara manual, kereta penumpang akan berada di lantai paling bawah dengan keadaan terbuka ketika tidak ada penumpang yang akan naik dan turun. Sedangkan jika panel kontrol bekerja secara otomatis, kereta penumpang akan bergerak naik dan turun mencari penumpang. Pada saat terjadinya kebakaran hanya lift kebakaran yang menyala dengan bantuan diesel, sedangkan lift lain secara otomatis akan bergerak turun dan tidak dapat digunakan karena semua aliran listrik mati.

Kriteria Perancangan Elevator

- Tipe dan fungsi bangunan

- Jumlah lantai bangunan

- Luas lantai bangunan

- Mudah dicapai dan dioprasikan

- Banyaknya jumlah pemberhentian

- Jumlah penghuni bangunan

- Jumlah total penumpang yang diangkut

- Waktu menunggu

- Kapasitas daya angkut

- Kecepatan

2. Kenveyor (arah geraknya secara horizontal)

- Kecepatan 2. Kenveyor (arah geraknya secara horizontal) Kenveyor adalah alat angkut berupa landasan/lantai berjalan

Kenveyor adalah alat angkut berupa landasan/lantai berjalan untuk manusia atau barang yang dipasang dalam keadaan datar atau kemiringan tertentu. Landasan tersebut berupa plat yang terpotong-potong kemudian plat yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan rantai dan dinding sebagai pegangan. Lebar alat ini dibuat untuk 2 orang. Alat ini bertujuan untuk mengurangi beban dalam membawa beban berat dan menghilangkan kejenuhan ketika berjalan dalam jarak tempuh yang cukup jauh. Jarak jangkauan tergantung kebutuhan. Alat ini umumnya dapat kita temukan di terminal, airport, stasiun dan pabrik.

3. Eskalator (arah geraknya secara diagonal)

dan pabrik. 3. Eskalator (arah geraknya secara diagonal) Eskalator adalah alat transportasi angkut yang serupa dengan

Eskalator adalah alat transportasi angkut yang serupa dengan alat angkut konveyor. Alat ini berupa tangga berjalan untuk pergerakan orang yang padat dan ramai. Kemiringan alat ini berbeda dengan konveyor. Kemiringan konveyor kurang dari 10°, sedangkan eskalator kemiringannya lebih besar dari 10°. Alat ini bertujuan mengangkut orang dengan aman,

nyaman dan cepat tanpa membutuhkan waktu untuk menunggu. Panjang eskalator disesuaikan dengan kebutuhan dan lebar eskalator untuk 2 orang. Penyusunan dan pemasangannya dibuat sejajar, berurutan atau saling bersilangan.

Eskalator dapat bergerak maju dan mundur karena terdiri atas segmen-segmen dari tiap anak tangga yang dihubungkan satu dengan yang lainnya. Sama seperti elevator, eskalator dapat bekerja secara otomatis. Eskalator pada waktu tertentu akan berhenti dan akan berjalan kembali ketika terdapat sinyal yang menunjukkan bahwa ada penumpang yang akan menggunakan eskalator tersebut. Lokasi penempatan eskalator biasanya berada di arus sirkulasi utama sehingga mudah dilihat oleh pengguna, di area yang mendominasi serta tempat yang memudahkan dan memberikan kenyamanan bagi pengguna untuk mencapainya. Terdapat 2 macam penyunan eskalator yaitu secara crisscross plan dan paralel. Penyusunan secara paralel biayanya lebih mahal dan penggunaan ruang kurang efisien, sedangkan crisscross plan biayanya lebih murah dan penggunan ruang lebih efisien.

Syarat-Syarat Keamanan dan Kenyamanan

Syarat-syarat keamanan

- Untuk menciptakan keseimbangan handrail dan step travel harus memiliki kecepatan yang sama.

- Anak tangga lebar, stabil dan tidak licin.

- 2 sampai 3 anak tangga harus disediakan pada akhir eskalator untuk mencegah tersandungnya pengguna eskalator.

- Penghentian otomatis pada keadaan darurat.

- Desain dari komponen eskalator dibuat agar komponen tidak dapat menangkap pakaian serta barang bawaan pengguna.

- Pencahayaan yang cukup.

Syarat-syarat kenyamanan

- Kapasitas eskalator harus sesuai dengan kebutuhan.

- Pada level selanjutnya harus disediakan ruang pengumpul.

- Eskalator yang paling atas dan paling bawah mengarah ke area terbuka.

10. LANDASAN HELIKOPTER

Bangunan-bangunan tinggi yang memiliki tinggi lebih dari 10 lantai atau 40 m dianjurkan untuk membuat suatu landasan helikopter. Landasan helikopter berfungsi sebagai tempat mendaratnya helikopter agar lebih mudah dan cepat dalam memberikan pertolongan ketika terjadi kebakaran dan terdapat orang-orang yang terjebak di lantai atas. Pada bangunan yang tingginya lebih dari 40 lantai biasanya tidak dibangun landasan helikopter karena kekuatan angin yang dimiliki lebih besar dibandingkan dengan bangunan yang memiliki ketinggian 30 lantai.

dengan bangunan yang memiliki ketinggian 30 lantai. Landasan Helikopter Persyaratan-Persyaratan Landasan

Landasan Helikopter

Persyaratan-Persyaratan Landasan Helikopter

- Strukturnya sudah diperhitungkan agar dapat menahan beban helikopter yang mendarat sebesar 2.284 kg.

- Memiliki ukuran tertentu dari berbagai macam jenis helikopter yang sering digunakan, khususnya dari Dinas Kebakaran atau Dinas Keamanan/Kepolisian atas izin Ditjen Perhubungan Udara.

- Landasan tidak boleh terganggu oleh pagar kabel-kabel penangkal petir, antena dan sebagainya.

- Landasan dihubungkan dengan tangga terbuka menuju atap bangunan.

11. PEMBUANGAN SAMPAH

Sampah adalah limbah buangan dari bangunan-bangunan, khususnya bangunan yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Bangunan-bangunan tersebut seperti pabrik, hotel, restoran dan supermarket. Sampah terdiri dari 2 jenis yaitu sampah basah (sisa makanan) dan sampah kering (kertas, plastik, dll). Dengan hasil buangan yang berupa limbah, maka diperlukannya tempat khusus untuk menampung sampah yang akan dibuang ke luar dari bangunan.

Tempat tersebut adalah gudang sampah. Hal-hal yang perlu disiapkan pada bangunan-bangunan bertingkat seperti :

- Boks-boks yang terletak di tempat-tempat bagian servis di setiap lantai untuk tempat pembuangan sampah.

- Boks penampungan yang berada di bagian paling bawah berupa gudang yang dilengkapi kereta-kereta bak sampah.

Boks yang berada di setiap lantai dihubungkan oleh pipa-pipa penghubung yang terbuat dari beton, PVC atau asbes dengan diameter sekitar 10” -14”. Pada bagian atas dinding diberi lubang untuk udara masuk.

Fasilitas-Fasilitas Pelengkap

- Keran air untuk pembersihan

- Sprinkler untuk mencegah kebakaran

- Lampu untuk penerangan

- Alat pendingin untuk bak sampah basah agar tidak terjadi pembusukan

Sistem Pembuangan Sampah

1. Tempat Sampah Sampah yang dibuang pada tempat sampah yang berada di masing-masing ruangan dibuang ke tempat pengumpulan sampah dengan troli, lift atau shaft.

2. Troli Sampah-sampah yang ada di ruangan-ruangan dibuang ke troli yang berada di beberapa tempat tertentu di setiap lantai dan kemudian dibawa turun ke tempat pengumpulan sampah dengan menggunakan lift.

3. Shaft Sampah-sampah dibuang melalui shaft yang berhubungan langsung dengan tempat pengumpulan sampah yang berada di lantai dasar.

12. ALAT PEMBERSIH LUAR BANGUNAN

Pada bangunan tinggi dibutuhkan alat untuk membersihkan bagian luar dari bangunan dari debu-debu yang melekat pda dinding dan kaca bangunan agar warna bangunan tetap terjaga dan terawat. Alat tersebut berupa gondola yang dipasang di dinding setiap bangunan bertingkat yang berfungsi sebagai tempat untuk mengangkut orang-orang yang akan membersihkan bagian luar bangunan. Pada bangunan yang memiliki ketinggian kurang dari 4-5 lantai tidak menggunakan gondola untuk membersihkan luar bangunan melainkan alat lain yang memiliki fungsi yang dama seperti gondola.

Ukuran kereta yang digunakan untuk orang bekerja berukuran 1-3 orang. Kereta terbuat dari alumunium yang ringan. Ketika gondola sedang tidak digunakan sebaiknya simpan di tempat yang aman agar tidak terkena panas dan hujan.

Cara Kerja Gondola

1. Gondola digerakkan oleh alat penggerak yang diatur oleh penumpangnya dari dalam kereta sehingga gondola dapat bergerak naik dan turun. Cara manual digunakan untuk menggerakkan gondola ke kiri dan ke kanan. Ketika kereta sudah sampai di bawah, kereta tersebut digeser dan tempat angkur di atas tali dilepas kemudian dipindahkan ke tempat angkur berikutnya.

2. Secara otomatis gondola dapat digerakkan ke kiri dan ke kanan kemudian ke atas dan ke bawah dari dalam kereta. Diperlukan alat di atas yang bergerak menggunakan rel agar kereta dapat bergerak ke samping. Alat ini membutuhkan sumber tenaga.

Penggunaan Gondola

Tipe gondola yang digunakan untuk membersihkan bangunan tinggi disesuaikan dengan ketinggian bangunan dan berat gondola yang sudah termasuk tenaga pembersih dan perlengkapannya.

- Tinggi bangunan kurang dari 100 m kapasitasnya 200 kg.

- Tinggi bangunan antara 100-150 m kapasitasnya 300 kg.

- Tinggi bangunan lebih dari 150 m kapasitasnya 400-600 kg.