Anda di halaman 1dari 3

Produk penafsiran al-Qur`an mulai lahir pada abad kedua hijriah yang

dilakukan oleh Muqatil Ibnu Sulaiman, seiring berkembangnya ilmu tafsir,


para ulama banyak yang melahirkan karya-karya tafsir, seperti Jamiul
Bayan (al-Thabari), al-Kasyaf (al-Zamakhsyari), Mafatihul Ghaib (AlRazi),dsb.. penulisan tafsir ini dilakukan oleh para ulama klasik dengan
tujuan-tujuan tertentu yang konon di dalamnya terkandung bias-bias
ideologi dan pengaruh-pengaruh latarbelakang keilmuan dari penulisnya.
Adanya pergeseran paradigma keilmuan (revolusi paradigma keilmuan)
dari mufassir abad pertengahan melahirkan banyak produk-produk
penafsiran di kemudian hari. Revolusi ini muncul sebagai akibat dari
keprihatinan para ulama kontemporer terhadap produk penafsiran masa
klasik yang sifatnya elitis (hanya dimengerti sebagian orang). Mufassir
pada masa klasik menuangkan ilmu yang digelutinya ke dalam penafsiran,
sebagai implikasinya corak yang digunakan oleh mufassir akan terlihat
dengan jelas. Namun, hal ini menyebabkan tafsir tersebut hanya dapat
dipahami oleh orang yang memilki latarbelakang keilmuan seperti yang
digunakan mufassir. M.Abduh menyebutkan bahwa adanya Intelegence
Exercise pada tafsir masa klasik.
Teori-teori modern yang muncul sejak masa enlightenment membuat
keterperangahan dan keprihatinan bagi umat Islam. M. Abduh sebagai
seorang ulama yang melakukan studi di barat (France), mengalami
kekagetan atas kemajuan yang terjadi di sana. Hal ini mempengaruhi
pemikirannya dalam penafsiran al-Qur`an, ia mendambakan sebuah
produk penafsiran yang dapat dipahami semua kalangan masyarakat dan
merelevansikan dengan konteks kekinian. M. Abduh sebagai pelopor dari
corak adabi ijtimai dalam tafsir menginginkan sebuah tafsir yang
membumi, yang tidak akan menyusahkan pembacanya, dan tidak
terjebak dalam suatu cluster keilmuan. Untuk mewujudkan penafsiran
yang seperti ini perlu dilakukan beberapa perubahan dari segi metode dan
sumber, sehingga terjadi perbedaan antara tafsir masa klasik dan
modern, yaitu; dari segi sumber tafsir masa klasik mengandalkan sumber
oral dalam berbagai bentuk periwayatan, termasuk israiliyyat yang

diceritakan dari masa ke masa, sehingga tidak heran jika israiliyyat


tersebar di hampir semua karya tafsir masa klasik. Sedangkan tafsir
modern lebih memilih sumber-sumber yang berbentuk tulisan, termasuk
al-Kitab. Dari segi penggunaan bahasa, tafsir masa klasik bersifat elitis
(untuk golongan yang memiliki latarbelakang keilmuan seperti mufassir
saja), sedangkan tafsir modern bersifat populis (dapat dimengerti oleh
semua kalangan). Tafsir modern yang berbeda dengan tafsir klasik akan
mengadaptasi teori-teori sosial yang berkembang di masyarakat dalam
menguraikan makna al-Qur`an.
Kitab tafsir al-Manar yang ditulis M.Abduh dan Rasyid Ridha adalah tafsir
yang menjadi pioneer dalam tafsir modern, dengan corak adabi ijtimai.
Tafsir yang selanjutnya meneruskan dan mempertahankan penafsiran
dengan corak yang sama adalah tafsir al-Maraghi.
Ironinya, cikal bakal tafsir modern tadi, yaitu adabi ijtimai terpisah
menjadi dua kubu, yaitu adabi yang melahirkan tafsir bayani seperti tafsir
bintu syathi dan Amin al-Khulli, dan ijtimai yang melahirkan tafsir ilmu
seperti thanthawi jauhari. Dua kubu memiliki kecenderungan masingmasing dalam menafsirkan al-Qur`an. Kubu bayani yang merupakan para
mufassir yang berlatar belakang sastra dan filosofis berorientasi pada
objektivitas dalam penafsiran al-Qur`an, yang dalam arti sempit bisa
dimaknai sebagai maudhui karena adanya prinsip al-Qur`an yufassiru
badhuhu badhan (Qur`an menafsirkan ayat yang satu dengan yang lain)
yang melahirkan tafsir maudhui yang berprinsip istanthiq al`Qur`an
(membiarkan al-Qur`an menjelaskan dirinya sendiri). Berbeda dengan
kubu ilmi yang merupakan para ulama dan saintis yang menafsirkan alQur`an dengan memasukkan gagasan asing 1 untuk menjelaskan alQur`an. Cara kerja dari tafsir ilmi yang demikian memunculkan banyak
kritik terhadap tafsir ilmi.
Tafsir ilmi disebut sebagai tafsir yang mencocok-cocokkan al-Qur`an
dengan gagasan-gagasan asing tadi. Padahal teori yang ditemukan
1Gagasan asing adalah apapun yang bukan berasal dari al-Qur`an, baik itu fiqih,
tasawuf, sains, dsb.

manusia bisa saja terpatahkan jika suatu saat ditemukan teori baru yang
lebih kuat. Di antara beberapa kritik yang dilontarkan terhadap tafsir ilmi
antara lain: 1) dari segi teologis, al-Qur`an yang seharusnya adalah
sebagai kitab suci malah dijadikan seperti encyclopaedy of science,
karena di dalamnya memuat banyak sekali teori-teori sains yang dicocokcocokkan dengan al-Qur`an, sehingga hal ini dianggap bersifat apologi. 2)
dari segi lexicologis, tafsir ilmi tidak pernah memperhatikan lexicologi
bahasa Arab, padahal al-Qur`an sendiri berbahasa Arab dan diturunkan
kepada orang Arab. 3) dari segi filologis, tafsir ilmi mengabaikan konteks
sastra yang terkandung dalam al-Qur`an, padahal menurut Amin al-Khuli,
al-Qur`an adalah kitab sastra yang paling agung, sehingga kesusastraan
yang dikandungnya menjadi aspek yang sangat penting untuk dikaji. 4)
penafsiran al-Qur`an yang sifatnya atomistik dan parsial, karena dalam
tafsir ilmi biasanya terjadi pencerabutan gagasan utuh mengenai suatu
konsep, penafsiran suatu ayat dilakukan tanpa memperhatikan ayat
sebelum atau sesudahnya. 5) pemaksaan gagasan asing ke dalam
penafsiran (sebagaimana yang dijelaskan di poin 1). 6) bertele-tele dalam
menjelaskan.

7)

terburu-buru

dalam

mengambil

kesimpulan

dan

melakukan claim.
Salah satu pembacaan yang tepat untuk melihat dinamika paradigma ini
adalah Tafsir wa al-Mufassirun karya M. Husain al-Dzahabi yang memulai
tulisannya dengan mendeskripsikan kondisi umat pre-qur`an. Kemudian ia
menampilkan banyak produk penafsiran yang lahir dari masa ke masa.
Sebagai implikasinya, ia akan melihat berbagai jenis tafsir dan corak yang
dimilikinya

karena

ia

menggunakan

perspektif

historis.

Semangat

keagamaan yang dimiliki al-Dzahabi dalam menulis karya ini adalah dalam
rangka mencari tafsir manakah yang mendekati kebenaran.