Anda di halaman 1dari 11

HUBUNGAN KUALITAS KOMUNIKASI LANSIA DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA

LANSIA DI PANTI WERDHA PANGESTI DAN GRIYA ASIH LAWANG


Setyoadi, Ika Setyo Rini, Ni Kadek Ayu Depy Irmayanti
ABSTRAK
Depresi adalah gangguan mood yang sering terjadi pada lanjut usia. Beberapa
penelitian sebelumnya menunjukkan adanya peningkatan angka depresi pada lanjut usia
yang tinggal di Panti Werdha. Peningkatan depresi pada lanjut usia dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor salah satunya adalah kualitas komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis hubungan antara kualitas komunikasi lansia dengan tingkat depresi pada
lansia di Panti Werdha Pangesti dan Griya Asih Lawang. Desain penelitian yang digunakan
yaitu analitik observasional dengan metode pendekatan cross sectional. Sampel dipilih
dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50
lansia. Variabel independen yaitu kualitas komunikasi dan variabel dependen yaitu tingkat
depresi diukur dengan menggunakan kuisioner. Hasil uji statistik Spearman Rho diperoleh
nilai p=0,009 dan nilai koefisien korelasi yaitu -0,366, maka dapat diartikan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara kualitas komunikasi dengan tingkat depresi pada lansia.
Arah korelasi dalam penelitian ini adalah negatif artinya semakin baik kualitas komunikasi
maka semakin rendah tingkat depresi dan kekuatan korelasinya bersifat lemah. Kesimpulan
dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan kualitas komunikasi dengan tingkat depresi pada
lansia di Panti Werdha Pangesti dan Griya Asih Lawang. Saran yang dapat diberikan dari
hasil penelitian ini adalah perawat atau pengelola Panti Werdha dapat membantu
memfasilitasi lansia dalam berinteraksi dan berkomunikasi seperti membuat kelompok
aktivitas agar lansia dapat berkomunikasi satu sama lain.

Kata kunci: Lansia, Kualitas Komunikasi, Tingkat Depresi, Panti Werdha


ABSTRACT
Depression is a mood disorder that always happened in elderly. Some previous
research showed an increasing of depression in elderly who stayed in nursing home care.
The increasing of depression in elderly can be influenced by many factors, one of them is
communication quality. This study aimed to analyze the association of communication
quality with depression in elderly at nursing home care Werdha Pangesti and Griya Asih
Lawang. The design of this study is an observational analytic with cross sectional approach.
Samples were selected by purposive sampling and total samples are 50 elderly. The
independent variable is communication quality and the dependent variable is depression in
elderly which was measured by questionnaires. The result on statistical test by Spearman
Rho obtainable p value is 0,009 and coefficient correlation value is -0,366. It means that
there are significant assosiation between communication quality and depression in elderly at
nursing home care Werdha Pangesti and Griya Asih Lawang. The direction of this correlation
is negative, it means if the communication quality increasing, the depression will be
decreasing and the strength of this correlation is low. The suggestion from this study is the
nurse in nursing home care should facilitate elderly in doing the interaction and
communication like making one activity group so the elderly can communicate to one
another.

Keywords: Elderly, Communication quality, Depression, Nursing home care

PENDAHULUAN
Lanjut usia atau lansia menurut
World
Health
Organization
(WHO)
merupakan orang yang telah mencapai
usia 60 tahun keatas. Lansia adalah suatu
proses alami yang merupakan kelanjutan
dari usia dewasa yang akan dialami oleh
setiap orang dan merupakan anugerah
dari Tuhan Yang Maha Esa (Nugroho,
2000). Hasil survei United Nation
International Children Found (UNICEF),
mengemukakan bahwa pertambahan
jumlah lanjut usia di Indonesia dalam
kurun waktu tahun 1990-2025 tergolong
tercepat di dunia. Tahun 2014, jumlah
lansia di Indonesia sekitar 20 juta dan
diproyeksi akan bertambah menjadi 28,8
juta atau sebesar 11,34% penduduk pada
tahun 2020.
Lansia membutuhkan penanganan
yang serius sebab secara alamiah lansia
akan mengalami proses penurunan baik
secara fisik maupun mental dan hal ini
tidak terlepas dari masalah ekonomi,
sosial dan budaya sehingga perlu adanya
peran keluarga ataupun sosial dalam
penanganannya (Nugroho, 2000). Salah
satu bentuk perawatan sosial bagi lansia
adalah panti jompo atau panti werdha baik
yang dioperasikan oleh pemerintah
ataupun swasta. Lansia yang tinggal
dipanti jompo memiliki beragam masalah
seperti
adanya
hambatan
untuk
berkomunikasi antar lansia seperti lansia
yang menarik diri jika diajak berbicara,
tampil
diam
dan
pasif,
serta
ketidakefektifan komunikasi antar lansia
(Wreksoatmodjo, 2013).
Komunikasi tidak efektif tersebut
terjadi akibat adanya gangguan kognitif
seperti kepikunan dan perubahan fisik
seperti
kelelahan
sehingga
lansia
cenderung diam dan pasif. Nussbaum
(2004), menemukan bahwa penghuni
panti jompo sering mengalami interaction
starving karena terbatas dan miskin
kualitas interaksi dengan penghuni lain.
Lansia di panti jompo sering tidak
melakukan
pembicaraan
karena
hambatan
lingkungan
untuk

berkomunikasi seperti suara televisi yang


keras di area duduk dan penempatan
kursi yang menghambat komunikasi
dengan penghuni lain (Grainger, 2004).
Selain itu, penggunaan medikasi yang
berat di beberapa panti jompo dapat
mempengaruhi keefektifan komunikasi
lansia yang dapat menyebabkan lansia
jatuh dalam kondisi stress dan depresi
karena pesan yang disampaikan tidak
dapat diterima dengan baik (Nussbaum,
Ragan, & Whaley, 2004).
Depresi merupakan suatu keadaan
gangguan mood atau perasaan yang tidak
hanya ditandai dengan rasa sedih biasa
namun terdapat beberapa perubahan
kondisi emosional, motivasi, fungsi dan
perilaku motorik, serta kognitif pada diri
seseorang (Nugroho, 2010). Depresi
dapat terjadi pada seluruh lapisan
masyarakat tanpa membedakan status
sosial, ekonomi dan pendidikan. Menurut
World Health Organization (WHO) tahun
2013, depresi merupakan masalah yang
serius karena merupakan urutan keempat
penyakit dunia dan saat ini terdapat 510% orang di dunia yang mengalami
depresi. Sekitar 20% wanita dan 12% pria
pada suatu waktu dalam kehidupannya
pernah mengalami depresi (Keliat, 2006).
Dalam penelitian ini, kualitas
komunikasi
lansia
menjadi
focus
penelitian
karena
belum
terdapat
penelitian mengenai hubungan kualitas
komunikasi lansia dengan tingkat depresi
pada lansia di panti werdha. Tujuan dari
penelitian
ini
adalah
mengetahui
hubungan antara kualitas komunikasi
lansia dengan tingkat depresi pada lansia
di panti werdha pangesti dan griya asih
lawing.

METODE PENELITIAN
a. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analitik
observasional melalui pendekatan Cross
Sectional.

b. Sampel Penelitian
Jenis
sampel
penelitian
yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
non-probability dengan teknik purposive
sampling dimana dari total populasi lansia
sebanyak 57 orang didapatkan sampel
sebanyak 50 lansia.
c. Instrumen Penelitian
Variabel kualitas komunikasi lansia
menggunakan instrumen kuisioner yang
dimodifikasi sesuai dengan teori Joseph
de Vito yang mencakup 5 komponen
kualitas komunikasi dan terdiri dari 15
pertanyaan, dengan nilai uji validitas
didapatkan r hitung berada pada rentang
0,535-0,831 dan r tabel 0,514 dan
dikatakan valid karena r hitung > r tabel.
Uji reliabilitas dilakukan dengan hasil nilai
Cronbach alpha () yaitu 0,908 dan
dikatakan reliabel karena >0,6. Variabel
tingkat depresi lansia menggunakan
instrumen Geriatric Depression Scale
(GDS) 15 dengan 15 pertanyaan.
Instrumen GDS tidak dilakukan uji
validitas dan reliabilitas karena sudah
dinyatakan baku secara internasional.
d. Analisa Data
Data univariat terdiri dari usia, jenis
kelamin, tingkat pendidikan, status
perkawinan, suku, pekerjaan, riwayat
penyakit, lama tinggal di panti, dan alasan
masuk panti. Data bivariat yaitu kualitas
komunikasi terdiri dari baik, sedang, dan
buruk dan tingkat depresi terdiri dari
ringan, sedang, dan berat diubah dalam
bentuk presentase dan disajikan dalam
bentuk tabel. Uji statistik yang digunakan
adalah uji non parametrik yaitu uji
Spearman.

HASIL PENELITIAN
a. Analisa Data Univariat
Distribusi
frekuensi
karakteristik
responden disajikan dalam bentuk tabel
sebagai berikut:

Tabel 1. Distribusi Usia


Usia
60-74 tahun
(elderly)
75-90 tahun
(old)
Total

Frekuensi
(n)
28

Presentas
e (%)
56.0

22

44.0

50

100.0

Berdasarkan Tabel 1, dari 50 responden


sebagian besar berada pada rentang usia
elderly yaitu sebanyak 28 responden
(56%).
Tabel 2. Distribusi Jenis Kelamin
Jenis
Kelamin
Pria
Wanita
Total

Frekuensi
(n)
7
43
50

Presentase
(%)
14.0
86.0
100.0

Berdasarkan Tabel 2, dari 50 responden


sebagian besar berjenis kelamin wanita
yaitu sebanyak 43 responden (86%).
Tabel 3. Distribusi Tingkat Pendidikan
Pendidikan
Kuliah
SMA
SMP
SD
Tidak sekolah
Total

Frekuensi
(n)
6
9
17
15
3
50

Presentase
(%)
12.0
18.0
34.0
30.0
6.0
100.0

Berdasarkan Tabel 3, dari 50 responden


sebagian besar adalah tamatan SMP
sebanyak 17 responden (34%), dan hanya
3 responden yang tidak bersekolah dalam
penelitian ini.
Tabel 5. Distribusi Status Perkawinan
Status
Perkawinan
Belum
Menikah
Menikah
Janda/ Duda
Total

Frekuensi
(n)
27
7
16

Presentase
(%)
54.0
14.0
32.0

50

100.0

Berdasarkan Tabel 5, dari 50 responden


sebagian besar belum menikah yaitu
sebanyak 27 responden (54%).
Tabel 6. Distribusi Berdasarkan Lama di
Panti
Lama di
Panti
<1 tahun
1-5 tahun
>5 tahun
Total

Frekuensi (n)
19
23
8
50

Presentase
(%)
38.0
46.0
16.0
100.0

Berdasarkan Tabel 6, dari 50 responden


sebagian besar telah tinggal di panti
selama 1-5 tahun yaitu sebanyak 23
responden (46%).
Tabel 7. Distribusi Berdasarkan Alasan
Masuk Panti
Alasan Masuk
Keinginan sendiri
Saran keluarga
Lain-lain (saran
pendeta, teman,
penertiban Satpol
PP)
Total

Frekuensi
(n)
23
13
14

Presentase
(%)
46.0
26.0
28.0

50

100.0

Berdasarkan Tabel 7, dari 50 responden


sebagian besar tinggal di panti karena
keinginan sendiri yaitu sebanyak 23
responden (46%).

b. Analisa Data Bivariat


Tabel
10.
Tabel
Silang
Kualitas
Komunikasi dengan Tingkat Depresi
Kualitas
Komunikasi
Baik
Sedang
Buruk
Nilai signifikansi

Koefisien korelasi

Tingkat Depresi
Ringan
9
30
5

Sedang
0
2
2
0,009
0.05
-0,366

Berat
1
0
1

Tabel 10 menunjukkan hasil dari uji


Spearman didapatkan nilai p value
sebesar 0.009 dengan nilai yaitu 0.05
dimana jika nilai p< maka terdapat
hubungan yang siginifikan antara kedua
variabel yaitu kualitas komunikasi dengan
tingkat depresi pada lansia. Nilai koefisien
korelasi yaitu
-0,366 yang berarti
arah korelasinya negatif dimana semakin
baik kualitas komunikasi maka semakin
rendah tingkat depresi dengan kekuatan
variabel bersifat lemah.
PEMBAHASAN
a. Kualitas Komunikasi
Kualitas
komunikasi
yaitu
kemampuan
setiap
individu
untuk
berkomunikasi dengan baik. Komunikasi
efektif menurut pakar komunikasi Vito
(1997), menyebutkan ada lima kualitas
komunikasi untuk efektivitas sebuah
komunikasi dan untuk memastikan
apakah komunikasi yang dilakukan
memenuhi kualitas yang baik yaitu
keterbukaan,
sikap
positif,
sikap
mendukung, empati dan kesetaraan.
Berdasarkan analisa data dan intepretasi
data didapatkan hasil bahwa sebagian
besar
responden
memiliki
kualitas
komunikasi sedang yaitu sebanyak 64%.
Hal ini kemungkinan dipengaruhi
oleh karakteristik responden yaitu usia
dimana dalam penelitian ini kebanyakan
responden berada pada rentang usia
elderly 60-74 tahun (56%). Menurut teori
Backhaus (2011), komunikasi seseorang
dipengaruhi oleh aging process. Aging
process mempengaruhi cara seseorang
berkomunikasi baik dari segi bahasa
maupun proses pikir dan gangguan
komunikasi akan selalu meningkat seiring
pertambahan usia seseorang. Dalam
penelitian ini, penurunan yang dapat
terlihat dari sebagian besar lansia adalah
penurunan fiisik seperti lansia susah
berjalan. Akan tetapi, fungsi kognitif dari
seluruh responden masih baik sehingga
lansia masih mampu untuk memproses
informasi dan menyampaikannya dengan
baik.
Selain usia, kualitas komunikasi
sedang
yang
dimiliki
kebanyakan

responden dapat dipengaruhi oleh tingkat


pendidikan terakhir lansia. Pendidikan
terakhir lansia terbanyak adalah SMP
(34%) dan dari 50 responden, hanya 3
responden
yang
tidak
bersekolah.
Menurut Mundakir (2006), lansia yang
tingkat pengetahuannya rendah akan sulit
merespon pertanyaan atau pembicaraan
yang mengandung bahasa verbal dengan
tingkat pengetahuan yang lebih tinggi
sehingga pesan yang disampaikan lansia
satu kepada lansia lainnya akan sulit
dimengerti sehingga dapat menimbulkan
kesalahpahaman.
Hasil penelitian Susenas (2009),
mengatakan bahwa pendidikan penduduk
lansia di Indonesia relatif masih rendah,
masih banyak lansia yang tidak/belum
pernah sekolah dan tidak tamat SD.
Padahal dalam penelitian ini, 94%
responden bersekolah baik dari jenjang
SD sampai perguruan tinggi sehingga
lansia memiliki cukup pengetahuan dan
informasi dalam berkomunikasi sehingga
menghasilkan
kualitas
komunikasi
sedang. Hasil penelitian ini sebanding
dengan hasil penelitian Rinajumita (2011)
dimana
jumlah
responden
yang
berpendidikan SMP ke bawah lebih
banyak dibanding responden yang
berpendidikan SMA ke atas.
Hasil penelitian ini menemukan
bahwa 23 responden yang tinggal di Panti
karena kemauan sendiri memiliki kualitas
komunikasi
sedang
sebanyak
17
responden (34%) dan memiliki kualitas
komunikasi baik sebanyak 5 responden
(10%). Lansia yang tinggal di Panti atas
kemauan sendiri cenderung lebih terbuka
dan memang menginginkan suasana
baru, mereka lebih senang tinggal di Panti
karena
dapat
berinteraksi
dan
berkomunikasi dengan orang lain. Lansia
yang memutuskan untuk tinggal di Panti
atas
kemauannya
sendiri
telah
mempertimbangkan hal apa saja yang
mungkin terjadi.
Lansia yang tinggal di Panti
cenderung berpikir bahwa tinggal di Panti
akan
menambah
teman
untuk
berinteraksi, tidak merasa kesepian,
kebutuhan sandang, pangan, papan
terpenuhi dengan baik. Terdapat pula
kegiatan- kegiatan positif yang dapat
mereka lakukan seperti merajut, melukis,

senam lansia dan berjemur. Alasan


tersebut
dapat
mendasari
kenapa
sebagian besar lansia yang memilih
tinggal di Panti atas kemauan sendiri
memiliki
kualitas
komunikasi
yang
dominan sedang dan baik.
Faktor lain yang mempengaruhi
adalah jenis kelamin, dalam penelitian ini
86% responden adalah wanita dimana
56% memiliki kualitas komunikasi sedang
dan 20% memiliki kualitas komunikasi
baik. Menurut penelitian wanita memiliki
cara berkomunikasi yang lebih ekspresif,
menggunakan gesture, dan lebih empati
dibanding laki-laki. Menurut Friedman
(2010), gender adalah faktor yang
mempengaruhi pola komunikasi. Wanita
bisaanya mencari kesempatan dalam
berkomunikasi sedangkan pria mencari
keputusan yang tepat.
Hasil ini sesuai dengan penelitian
Adinegara
dan
Puspita
dalam
penelitiannya yang berjudul Hubungan
Antara Pola Komunikasi Keluarga dengan
Tingkat Depresi Pada Lanjut Usia yang
menyebutkan bahwa lansia wanita lebih
banyak memiliki pola komunikasi yang
fungsional dibandingkan pria dengan
persebaran jumlah responden laki-laki
sebanyak 33% dan responden wanita
sebanyak 38%. Walaupun terdapat
persamaan hasil bahwa lansia wanita
memiliki komunikasi yang lebih baik
dibandingkan lansia pria namun terdapat
perbedaan
tempat
penelitian
dan
persebaran responden dalam penelitian
ini sehingga masih banyak kemungkinan
lain yang dapat mempengaruhi hasil.
b. Tingkat Depresi
Depresi merupakan suatu keadaan
gangguan mood atau perasaan yang
tidak hanya ditandai dengan rasa sedih
bisaa
namun
terdapat
beberapa
perubahan kondisi emosional, motivasi,
fungsi dan perilaku motorik, serta kognitif
pada diri seseorang. Beberapa tanda dan
gejala depresi yang sering muncul pada
lansia
sesuai
dengan
Geriatric
Depression Scale yaitu kecemasan, rasa
bosan, tidak berharga, menyendiri, tidak
berdaya
dan tidak puas dengan
kehidupan. Berdasarkan analisa dan

intepretasi data didapatkan hasil bahwa


sebagian besar responden memiliki
tingkat depresi ringan yaitu sebanyak
88%.
Berdasarkan data yang didapatkan
dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa
terdapat perbedaan tingkat depresi pada
lansia berdasarkan kategori usia lansia.
Dari 50 responden menunjukkan bahwa
kategori usia responden yang memiliki
tingkat depresi ringan terbanyak adalah
kategori usia 60-74 tahun sebanyak 26
responden (52%) dari total 44 responden
(88%). Usia lanjut merupakan tahap dari
suatu proses kehidupan yang ditandai
dengan penurunan kemampuan tubuh
untuk
beradaptasi
dengan
stress
lingkungan. Pada proses penuaan akan
terjadi berbagai perubahan dimulai dari
perubahan fungsi fisik, kognitif, sampai
perubahan
psikososial
yang
mempermudah terjadinya depresi pada
lansia (Effendi, 2009). Namun dalam
penelitian ini ternyata kebanyakan lansia
hanya mengalami depresi ringan. Hal ini
kemungkinan terjadi karena seiring
pertambahan usia, lansia lebih banyak
mengalami penurunan dalam aspek fisik
dibandingkan
aspek
kognitif
dan
psikososial sehingga lansia masih mampu
mengatasi gejala-gejala depresi yang
muncul secara positif. Aspek kognitif dan
psikososial yang masih dimiliki lansia
dapat
berperan
dalam
mencegah
timbulnya gejala depresi seperti perasaan
tidak berguna, bosan, tidak berdaya
karena lansia yang memiliki fungsi kognitif
yang baik akan mampu berpikir secara
positif tentang keadaannya saat ini. Hasil
ini sesuai dengan penelitian Schneider
yang mengemukakan bahwa depresi
berhubungan dengan penambahan usia
seseorang. Semakin tinggi usia lansia
maka akan semakin besar pula resiko
terjadinya tingkat depresi yang semakin
berat.
Dilihat
dari
jenis
kelamin,
kebanyakan responden wanita mengalami
depresi ringan dibandingkan responden
laki-laki yaitu sebanyak 76% dari total
responden wanita sebanyal 86%. Hal ini
kemungkinan
karena
persebaran
responden antara pria dan wanita tidak
sebanding sehingga sebagian besar
responden dalam penelitian ini adalah

wanita. Akan tetapi, depresi sedang dan


berat ternyata lebih banyak dialami oleh
wanita. Depresi sedang yang dialami
responden wanita sebanyak 3 responden
(6%) sedangkan responden laki-laki
sebanyak 1 responden (2%). Depresi
berat yang dialami responden wanita
sebanyak 2 responden (4%) dan tidak
ditemukan depresi berat pada responden
laki-laki.
Hasil ini sesuai dengan penelitian
Wedhari dan Ardhani (2013) tentang
angka kejadian depresi di Panti Werdha
yang
mengatakan
bahwa
depresi
terbanyak terjadi pada responden yang
berjenis kelamin wanita. Penelitian
Kurniasari (2014) juga menyebutkan
bahwa berdasarkan hasil uji didapatkan
hubungan yang signifikan antara jenis
kelamin dengan depresi pada lansia. Hasil
ini
mungkin
disebabkan
karena
perempuan sering terpapar stressor
lingkungan dan memiliki ambang stressor
yang lebih rendah dibanding laki-laki.
Selain itu, adanya depresi pada wanita
juga
erat
kaitannya
dengan
ketidakseimbangan hormon sehingga
depresi lebih sering terjadi pada wanita
(Amir, 2005).
Hasil penelitian ini tidak sesuai
dengan penelitian mengenai depresi
lansia di Poliklinik Geriatri RS Dr. Sardjito
yang dilakukan oleh Widiatmoko dan
Arianti (2001) dimana dalam penelitiannya
ditemukan
bahwa
tidak
terdapat
perbedaan antara jenis kelamin terhadap
depresi.
Penelitian
lainnnya
yang
dilakukan oleh Lovestone dan Howard
juga menyebutkan bahwa gejala-gejala
depresi yang muncul pada lansia tidak
berkaitan
dengan
jenis
kelamin.
Perbedaan hasil yang didapat pada
penelitian ini dengan penelitian lainnya
terjadi
karena
adanya
perbedaan
persebaran responden yang tidak merata,
tempat dan waktu penelitian yang
berbeda.
Depresi ringan yang dialami
kebanyakan lansia pada penelitian ini
dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan
lansia. Pendidikan merupakan hal yang
penting dalam proses adaptasi manusia
baik dengan orang lain ataupun
lingkungan. Pendidikan yang dimiliki
lansia
dapat
berupa
cara
untuk

mengurangi stress, menghilangkan rasa


bosan, koping terhadap stressor dan halhal
lain
yang
berkaitan
dengan
manajemen depresi. Lansia yang memilki
riwayat bersekolah baik secara formal
ataupun
informal
setidaknya
lebih
mengerti bagaimana cara mengontrol diri
agar tidak jatuh dalam kondisi stress
ataupun depresi.
Hasil penelitian ini, 47 responden
(94%) pernah bersekolah baik dari jenjang
SD sampai perguruan tinggi dan hal
tersebut dapat menjelaskan kenapa
kebanyakan lansia dalam penelitian ini
hanya mengalami depresi ringan. Menurut
penelitian Lievre, Alley & Crimmins (2010),
mengatakan bahwa pendidikan yang
rendah
berkaitan
dengan
depresi
terutama pada lanjut usia, hal ini
dikarenakan
orang-orang
dengan
pendidikan rendah akan mencapai usia
tua dengan penurunan kognitif dan
kesehatan fisik yang buruk. Proporsi
gangguan depresi pada usia 70 tahun
atau lebih tua dengan tingkat pendidikan
rendah adalah 11,5% sedangkan lansia
yang berpendidikan tinggi hanya 3,5%.
Status perkawinan responden
dalam penelitian ini adalah kebanyakan
belum menikah dan janda/duda yaitu
dengan proporsi belum menikah sebanyak
27 responden (54%), menikah 7
responden
(14%)
dan
janda/duda
sebanyak 16 responden (32%). Hasil
analisa data, didapatkan bahwa depresi
ringan
kebanyakan
dialami
oleh
responden yang belum menikah yaitu
sebanyak 24 responden diikuti oleh
responden duda/janda sebanyak 14
responden. Hasil ini tidak sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Kurniasari
(2014) yang mengatakan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara status
perkawinan dengan depresi pada lansia.
Menurut Kaplan dan Sadock (2007), salah
satu faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya
depresi
adalah
status
perkawinan dimana orang yang tidak
memiliki pasangan terutama perempuan
lebih rentan terhadap depresi, sehingga
seseorang yang kehilangan pasangan
hidupnya atau tidak memiliki pasangan
hidup akan kekurangan dukungan dari
orang terdekat. Lansia akan merasa
terabaikan, hidup sendiri, tidak berharga,

putus asa dan mencetuskan terjadinya


gangguan depresi.
Dukungan tidak harus didapatkan
dari keluarga, tapi bisa juga dari sesama
lansia yang tinggal di Panti. Support
system antar sesama lansia yang tinggal
di Panti tidak kalah penting dari support
system keluarga, apalagi sebagian besar
responden dalam penelitian ini adalah
belum menikah sehingga mereka terbiasa
hidup sendiri tanpa dukungan dari
pasangan. Dengan tinggal di Panti, lansia
yang belum menikah ataupun tidak
memiliki pasangan akan mendapatkan
teman untuk saling berinteraksi sehingga
lansia tidak merasa kesepian, tidak bosan
dan dapat saling membantu memecahkan
masalahnya.
Hasil penelitian ini, sebagian besar
lansia yang tinggal di Panti selama 1-5
tahun memiliki tingkat depresi yang ringan
yaitu sebanyak 22 responden. Sedangkan
lansia yang tinggal di panti selama < 1
tahun memiliki tingkat depresi sedang
yaitu sebanyak 2 responden (4%) dan
tingkat depresi berat sebanyak 1
responden (2%) dan lansia yang tinggal di
Panti selama > 5 tahun memiliki tingkat
depresi sedang dan berat masing-masing
1 responden (2%). Perbedaan tingkat
depresi pada lansia berdasarkan lamanya
tinggal di Panti kemungkinan dipengaruhi
oleh proses adaptasi dimana lansia yang
awalnya tinggal bersama keluarga harus
tinggal bersama orang lain di Panti.
Menurut teori adaptasi Calista Roy
mengatakan bahwa lingkungan termasuk
komponen adaptasi individu. Keadaan
sekitar
yang
mengelilingi
dan
mempengaruhi
perkembangan
dan
kepribadian
seseorang.
Perubahan
lingkungan merangsang lansia untuk
membuat respon adaptasi. Sehat terjadi
jika lansia mampu beradaptasi pada
masalah-masalah
dilingkungan
yang
selalu berubah sedangkan sakit terjadi jika
lansia tidak mampu beradptasi dengan
semua perubahan yang terjadi sehingga
dapat mencetuskan berbagai penyakit,
tidak hanya fisik tetapi juga mental.
Selain faktor-faktor diatas, alasan
lansia tinggal di Panti juga dapat
mempengaruhi kenapa kebanyakan lansia
yang tinggal di panti karena kemauan
sendiri memiliki depresi ringan yang lebih

banyak yaitu sebanyak 22 responden.


Kebutuhan akan dukungan pada usia
lanjut semakin meningkat seiring dengan
melemahnya kemampuan fisik lansia.
Menurut hasil penelitian Adinegara dan
Puspita
(2014)
dikatakan
bahwa
penyebab dari lansia mengalami depresi
karena tidak adanya tempat bagi lansia
untuk mencurahkan informasi dimana
keluarga merupakan sistem terdekat
lansia yang seharusnya menjadikan
stressor lansia menjadi rendah. Dalam
penelitian ini, dukungan-dukungan yang
seharusnya didapat dari keluarga bisa
didapatkan dari sesama lansia di Panti
dibuktikan dengan kualitas komunikasi
lansia yang kebanyakan kearah positif
berarti terjadi proses interaksi yang baik
antar lansia. Stressor pada lansia dapat
dikurangi dengan adanya interaksi
tersebut sebab pada proses interaksi
terjadi pengungkapan perasaan yang
dapat dilakukan lansia terhadap lansia lain
yang dipercayainya.
c. Hubungan Kualitas Komunikasi
dengan Tingkat Depresi
Hasil tabulasi silang antara kualitas
komunikasi lansia dengan tingkat depresi
pada lansia didapatkan hasil bahwa
sebagian besar lansia memiliki kualitas
komunikasi sedang yaitu 32 responden
(64%) dan mengalami depresi ringan yaitu
44
responden
(88%).
Hasil
ini
menunjukkan bahwa kualitas komunikasi
baik dan sedang mampu menyebabkan
lansia memiliki tingkat depresi yang
ringan. Walaupun sebelumnya belum
terdapat penelitian yang membahas
mengenai hubungan antara kualitas
komunikasi lansia dengan tingkat depresi
lansia di panti werdha namun penelitian
lain mengenai pola komunikasi keluarga
dan lansia dengan tingkat depresi pada
lansia sudah pernah dilakukan.
Penelitian dari Adinegara dan Puspita
dalam
penelitiannya
yang
berjudul
Hubungan Antara Pola Komunikasi
Keluarga dengan Tingkat Depresi Pada
Lansia
mengatakan bahwa anggota
keluarga lansia senantiasa mendengarkan
segala pernyataan lansia baik positif
ataupun
negatif.
Mendengarkan
pernyataan lansia saat proses komunikasi

merupakan bagian dari komponen kualitas


komunikasi yaitu keterbukaan, sikap
mendukung, sikap positif, empati dan
kesetaraan. Inti dari proses komunikasi
adalah mendengarkan dan didengarkan.
Menurut
Friedman
(2010),
keselarasan merupakan bangunan kunci
dalam model komunikasi. Keluarga
merupakan support system utama bagi
lansia dalam mempertahankan dan
meningkatkan status mental lansia
(Maryam, 2008). Salah satu cara untuk
mengurangi gejala depresi pada lansia
adalah dengan meningkatkan kesehatan
psikososial lansia yaitu dengan cara
berkomunikasi
untuk
meningkatkan
promosi dan harga diri terhadap kontrol
diri melalui dukungan sosial terutama
keluarga sebagai orang terdekat.
Berdasarkan
hasil
uji
statistik
Spearman, didapatkan nilai p-value
sebesar 0.009 dengan nilai koefisien
korelasi adalah -0.366. Berdasarkan hasil
uji korelasi tersebut dapat disimpulkan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara kedua variabel yaitu kualitas
komunikasi lansia dengan tingkat depresi
pada lansia (Ho ditolak) dilihat dari nilai p
< ( 0.009 < 0.05) dan hubungan antara
kedua variabel bersifat lemah karena
nilai korelasi sebesar -0.366 dimana nilai
tersebut kurang mendekati nilai 1 dan
arah korelasi dalam penelitian ini adalah
negatif (-) dimana semakin baik kualitas
komunikasi lansia maka akan semakin
rendah tingkat depresi pada lansia.
KESIMPULAN
Sebagian
besar
responden
memiliki kualitas komunikasi sedang
sebanyak 32 responden (64%).
Sebagian
besar
responden
memiliki tingkat depresi ringan sebanyak
44 responden (88%).
Terdapat hubungan yang signifikan
antara kualitas komunikasi dengan tingkat
depresi pada lansia dengan p value =
0,009 (<0,05).
SARAN
Peneliti selanjutnya dapat
meneliti
mengenai pola interaksi lansia dengan
petugas panti untuk mengetahui apakah
interaksi
dengan
petugas
juga

mempengaruhi depresi lansia. Selain itu


peneliti
selanjutnya
bisa
mempertimbangkan distribusi usia dan
jenis kelamin lansia agar lebih merata.

249
265.
Available
from
http://focus.psychiatryonline.org/cg
i content/full/7/1/118. [ accessed 10
Mei 2015]
Dahlan, S. 2008. Statistik untuk
Kedokteran dan Kesehatan. Edisi
3. Jakarta : Salemba Medika.
Devito, J.A.
2012.
Komunikasi Antar
Manusia: Edisi Kelima.Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA
Adinegara,
INR & Puspita, D.
2000.
Hubungan
Antara
Pola
Komunikasi Keluarga
dengan
Tingkat Depresi Pada Lanjut Usia
di
Desa Lelayangan
Kecamatan
Ungaran Timur
Kabupaten
Semarang.
Semarang: STIKES Ngudi Waluyo
Ungaran
Ali, L. 2008. Dasar-dasar Komunikasi
Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka
Belajar

Devito, J.A.1997.
MemperbaikiKomunikasi
Antarpribadi, Terjemahan Edisi
Kelima. Jakarta: Profesional Book.
Efendi,

Friedman, M.M. 2010. Buku Ajar


Keperawatan Keluarga : Riset,
Teori dan Praktek. Jakarta : EGC
Gallo,

American Psychiatric Association. 2000.


Diagnostic and Statistical Manual
of Mental Disorders Fourth Edition
Text Revision. Washington, DC.
Amir, N. 2005. Depresi: neurobiology,
diagnosis, tata laksana. Jakarta :
Balai Penerbit FK UI.
Arianti, M.R. 2001.
Pengaruh Stresor
Psikososial Terhadap Depresi
Pada Lansia di Poliklinik Geriatri
RS Dr. Sardjito Yogyakarta.
Yogyakarta : Universitas Gajah
Mada.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Edisi
Revisi VI. Jakarta : Rineka Cipta
Backhaus, P. 2011. Communication in
Elderly Care: CrossCultural
Perspectives. New York.
Blazer, D.G. 2003. Depression in Late
Life: Review and Commentary. J
Gerontology Med Sci 58A, No.3:

F.
&
Makhfudli.
2009.
Keperawatan
Kesehatan
Komunitas Teori dan
Praktik
dalam
Keperawatan.
Jakarta:
Salemba Medika.

J.J. & Gonzales, J. 2001.


Depression and
Other
Mood
Disorder.
In:
Adelman, A.M., Daly, M.P., and
Weiss, B.D., eds. 20 Common
Problems in Geriatrics. New York:
McGraw-Hill, 205-235.

Jerger, J., Oliver, T., & Pirozzolo, F. 1995.


Impact
of
Central
Auditory
Processing Disorder and Cognitive
Deficit on The Self Assesment of
Hearing Handicap in Elderly.
Journal of The
American
Academy and Audiology , 1, 7580.
Kaplan, H.I., Sadock, B.J., & Grebb, J.A.
2010. Sinopsis Psikiatri : Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis. Jilid Satu. Editor : Dr. I.
Made Wiguna S. Jakarta : Bina
Rupa Aksara : 113 129, 149-183
Keliat, B.A .2006. Proses Keperawatan
Kesehatan Jiwa Edisi 2. Jakarta:
EGC.

Kurniasari,N.D. 2014. Faktor-faktor yang


Berhubungan Dengan Depresi
Pada
Lansia
di
Dusun
Kalimanjung
Ambarketawang
Gamping Sleman Yogyakarta.
Yogyakarta
:
Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
Kurniawan,F.S. 2011. Gambaran Status
Kesehatan Lansia : Studi Kasus di
Wilayah Paroki Kristoforus Jakarta
Barat. Jakarta : FKUI

Pasien
Geriatri
dengan
Pendekatan Interdisiplin. Pusat
Informasi dan Penerbitan Bagian
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta: 113-121.
Maryam, S. 2008. Mengenal Usia Lanjut
dan
Perawatannya.
Jakarta:
Salemba Medika.
Mundakir.
2006.
Komunikasi
Keperawatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu.

Kuswarno,
H.E.
2010.
Metodologi
Penelitian
Komunikasi
Fenomenologi. Jakarta: Yayasan
Pustaka Obor Indonesia.

Martin, J.N. & Thomas,


K.N. 2003.
Intercultural Communication in
Contexts., United States: The
McGraw-Hill Companies.

LittleJhon
&
Foss.
2009.
Teori
Komunikasi. Jakarta: Salemba
Humanika.

Mulyana, D. & Jalaludin, R.1993.


Komunikasi
Antarbudaya.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Lievre, A., Alley, D., & Crimmins, E.M.


2010. Educational Differentials in
Life Expectancy With Cognitive
Impairment Among Elderly in the
United States. J Aging Health
2010 June 20(4): 456-477.

Mulyana, D. 2004. Komunikasi Efektif,


Suatu Pendekatan Lintasbudaya.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Lovestone, S &
Depression
London :

Howard, C. 1998.
in Elderly People.
Martin Dunitz Ltd.

Mattay, V.S., Fera, F., Tessitore, A., Hariri,


A.R.,
Das, S.,
et al. 2002.
Neurophysiological Correlates of
Age related Changes in Human
Motor
Function.
Neurology;
58:630635.
Missah, C.L. 2014. Komunikasi Antar
Pribadi Pada Orang Tua Lanjut
Usia di Panti Rumah Doa Kanaan.
Miller, C. 2008. Nursing for Wellness in
Older Adults: Ed 5. Philadelphia.
Mudjaddid, E. 2003.
Depresi dan
Komorbiditasnya pada Pasien
Geriatri.
Dalam:
Supartondo,
Setiati, S., dan Soejono, C.H.,
(eds). 2003. Prosiding Temu Ilmiah
Geriatri 2003 Penatalaksanaan

Nugroho, W. 2008. Gerontik & Geriatik.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.
EGC.
Potter, A.P. & Perry, A.G. 2009.
Fundamental Keperawatan: Edisi7.
Jakarta: Salemba Medika.
Porter, R.E. & Larry, A.S. 1993. Suatu
Pendekatan terhadap KAB dalam
buku Komunikasi Antarbudaya,
Penyunting: Deddy Mulyana dan
Jalaludin Rakhmat. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Priyanto, A. 2009. Komunikasi dan
Konseling.
Jakarta:
Salemba
Medika.
Rinajumita. 2011. Faktor-faktor yang
Berhubungan Dengan Kemandirian
Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Lampasi Kecamatan Payakumbuh
Utara. Padang : FK Universitas
Andalas.

Rosmawaty, H.P. 2010. Mengenal Ilmu


Komunikasi. Yogyakarta: Widya
Padjajaran.
Rush, A.J. 2000. Handbook of Psychiatric
Measures.
Washington,
DC:
American Psychiatric Association.
Sadock, B.J. & Sadock, V.A. 2007. Kaplan
& Sadocks Synopsis of Psychiatry:
Behavioral
Science/Clinical
Psychiatry. 10th ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.
Santrock & John, W. 2002. Life Span
Development Jilid 2. Jakarta :
Erlangga
Stanley & Beare. 2006. Buku Ajar
Keperawatan Gerontik. Edisi 2.
Jakarta: EGC.
Suranto. 2011. Komunikasi Interpersonal.
Yogyakarta: Graha Ilmu Edisi
Pertama.

Stanley,M. 2002. Buku Ajar Keperawatan


Gerontik. Edisi2. Jakarta : EGC.
Unutzer, J. 2002. Collaborative Care
Management
of
Late
Life
Depression in The Primary Care
Setting. Journal American Medical
Association. Dec, 288, 2836 2845.
Available from : http://jama.amaassn.org/cgi/content/full/288/22/28
36[ accessed 7 Juni 2015]
Wedhari, I.A.A & Ardhani, I.G.A.I. 2013.
Angka Kejadian Depresi Pada
Lansia di Panti Tresna Werdha
Wana Seraya Denpasar Bali.
Denpasar: Universitas Udayana.
Widiatmoko, D. 2001. Korelasi Dukungan
Sosial Dengan Derajat Depresi
Pada Pasien Usia Lanjut di
Poliklinik Geriatri RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta. Yogyakarta :
Universitas Gajah Mada.
Wood,

Schoever, R.A., Geerlings, M.I., Beekman,


A.T.F., Pennix, B.W.J.H., Deeg,
D.J.H., Jonker,C., & Tilburg, W.V.
2000. Association of Depression
and Gender with Mortality in Old
Age. Br J Psychiatry 177:336-342.
Available
from:
http://bjp.rcpsych.org/cgi/content/fu
ll/177/4/ 36 [ accessed 15 Mei
2015]
Schneider, D.L. Insomnia : Safe and
Effective Therapy for Sleep
Problems in The OlderPatient.
Geriatrics, May, 57:24-35,202.

J.T.
2013.
Komunikasi
Interpersonal
:
Interaksi
Keseharian.
Edisi
Keenam,
Penerjemah Rio Dwi Setiawan.
Jakarta: Salemba Humanika.

Mengetahui,
Dosen Pembimbing 1

Susenas C. 2009. Kemandirian Pada


Lansia. Jakarta
Suryani. 2006. Komunikasi Terapeutik.
Jakarta:
Penerbit
Buku
Kedokteran. EGC.

Ns. Setyoadi, S.Kep., M.Kep., Sp. Kom.