Anda di halaman 1dari 20

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anak Prasekolah
2.1.1 Pengertian Anak Usia Pra Sekolah
Anak prasekolah adalah anak yang memasuki periode usia antara
3 sampai 6 tahun (Wong, 2000). Menurut Depdiknas (2009) Usia anak 46 tahun pertama anak TK akan mengalami perkembangan kognitif,
motorik, intelektual, emosional, bahasa dan sosial yang berlangsung
sangat cepat sehingga dapat menentukan masa depan anak-anak.
Pada usia inilah perkembangan anak mulai terbentuk dan
cenderung menetap sampai dewasa, dengan demikian betapa pentingnya
pendidikan

awal

bagi

anak TK

yang

memberikan

bekal

untuk

mempersiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya. Pada usia ini anak


akan mempersiapkan diri untuk memasuki dunia sekolah (Supartini,
2004). Menurut Pestalozzi, pendidikan taman kanak-kanak adalah tempat
untuk menyediakan pengalaman yang menyenangkan, bermakna, dan
meningkatkan perkembangan (Masitoh, 2003)
Menurut Yamin dan Sanan (2010), usia dini merupakan usia yang
sangat menentukan untuk perkembangan dan pertumbuhan anak
selanjutnya. Oleh karena itu pada masa ini disebut dengan masa emas
dalam kehidupan anak-anak untuk pertumbuhan dan perkembangan
anak.
2.1.2

Ciri-Ciri Anak Usia Prasekolah


Ciri-ciri anak usia Prasekolah 3-5 tahun meliputi aspek fisik, sosial,
emosi dan kognitif atau kemampuan mental (Patmonodewo, 2003)

2.1.2.1 Ciri Fisik Anak Usia Prasekolah

Pada usia prasekolah penampilan dan gerak gerik mudah


dibedakan dengan anak pada tahap sebelmnya (Patmonodewo, 2003).
Menurut Patmonodewo (2003) ciri-ciri fisik pada anak usia prasekolah
adalah sebagai berikut :
1. Pada anak prasekolah umumnya sangat aktif karena mereka memiliki
kontrol (penguasaan) pada tubuhnya sehingga anak akan lebih
menyukai kegiatan sendiri atau bersama.
2. Pada anak usia prasekolah sangat membutuhkan waktu istirahat
yang cukup namun banyak anak yang tidak menyadari akan
kebutuhan istirahat yang cukup.
3. Otot-otot besar pada anak prasekolah akan berkembang dari kontrol
terhadap jari dan tangan. Pada usia ini anak belum memiliki
ketrampilan yang bagus dan belum bisa melakukan kegiatan yang
rumit.
4. Anak pada usia ini masih sulit untuk memfokuskan pandanganya
pada objek-objek yang kecil.
5. Pada usia ini anak masih memiliki tubuh yang lentur, tengkorak
kepala yang melindungi otak masih lunak.
2.1.2.2 Ciri Sosial Anak Usia Prasekolah
Anak usia prasekolah umumnya mudah bersosialisasi dengan
orang disekitarnya. Menurut parten melalui pengamatanya dapat
membedakan beberapa tingkah laku sosial pada usia ini seperti :
1. Tingkah laku unoccupied
Dimana anak tidak bermain dengan sesungguhnya, mungkin anak
hanya memandang temanya tanpa melakukan kegiatan apapun.
2. Bermain soliter
Dimana anak bermain sendiri dengan menggunakan alat permainan,
mereka tidak berusaha untuk saling bicara.
3. Tingkah laku onlooker
Dimana anak akan mengamati dan kadang memberikan sebuah
komentar tentang apa yang dimainka oleh anak lain.

4. Bermain pararel
Anak bermain bersama dengan menggunkan alat mainan yang sama
namun tidak sepenuhnya anak bermain bersama dengan anak lain.
5. Bermain asosiatif
Anak akan bermain dengan anak lain dan masing-masing anak akan
bermain sesuai dengan caranya sendiri-sendiri.
6. Bermain kooperatif
Anak akan bermain dalam kelompok dan lebih terorganisir dan anak
akan melakukan kegiatan bersama.

2.1.2.3 Ciri Emosional Anak Usia Prasekolah


Pada ciri emosional anak

usia

prasekolah

umumnya

mengekspresikan emosionalnya dengan bebas dan terbuka seperti


ekspresi marah, iri hati, dan memperebutkan perhatian dari orang lain.
2.1.2.4 Ciri Kognitif Anak Usia Prasekolah
Anak prasekolah umumnya terampil dalam bahasa, sebagian dari
mereka senang untuk berbicara, kompetensi anak dapat dikembangkan
dengan cara interaksi, minat yang diinginkan, berikan kesempatan,
berikan kasih sayang dll. Pada usia 4-7 tahun anak sudah mampu untuk
mengklasifikasi, menjumlahkan dan menghubungkan objek-objek yang
ada di sekitar dan anak mulai menunjukkan penggunaan banyak kata tapi
anak masih belum memahami maknanya (Muscari, 2005).

2.2 Bermain
2.2.1 Pengertian Bermain
Bermain merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan untuk
anak-anak

karena

dengan

bermain

bisa

memuaskan

tuntutan

perkembangan motorik, kognitif, bahasa, sosial, nilai-nilai dan sikap


dalam kehidupan (Moeslichatoen, 2004). Bermain adalah sebuah
motivasi yang berorientasi pada proses yang disenangi karena bermain

10

adalah sebuah wadah bagi anak untuk merasakan berbagai perasaan


seperti sedih, senang, emosi, kecewa, bergairah, bangga, marah, dan
sebagainya, karena dengan bermain anak akan merasa senang dan
banyak hal yang akan di dapat oleh anak ketika bermain (Simatupang,
2005).
2.2.2

Tahap-Tahap Perkembangan Bermain


Menurut Ismail (2006), terdapat

beberapa

pakar

psikolog

perkembangan yang menyatakan tentang tahap perkembangan bermain,


antara lain :
Tahap

Perkembangan

Bermain

menurut

Mildred

Parten

(Tedjasaputra,2001)
1. Unoccupied Play (Bermain yang tidak sibuk)
Pada tahap ini, anak tidaklah benar-benar terlibat sepenuhnya dalam
kegiatan bermain, anak hanya sekedar mengamati hal-hal yang
membuat menarik perhatianya.

Bila tidak ada hal yang menarik

perhatianya anak akan melakukan kegiatan dengan menyibukkan


dirinya seperti memainkan anggota tubuhnya, naik turun kursi dll.
2. Solitary Play (Bermain Sendiri)
Permainan ini biasanya sering dilakukan oleh anak usia muda, pada
tahap ini anak lebih asik dengan bermain sendiri dan tidak
memperhatikan lingkungan sekitarnya. Pada tahap ini anak memiliki
sifat egosentris yaitu lebih memusatkan perhatian ke dirinya sendiri
dan permainanya.
3. Onlooker Play (Penonton dan Pengamat)
Pada fase ini anak lebih mengamati anak-anak lain yang melakukan
kegiatan dan adanya ketertarikan yang besar terhadap kegiatan anak
lain yang diamatinya. Pada tahap ini pada umumnya terjadi pada usia
dua tahun atau pada anak yang belum mengenal orang lain,

11

lingkungan baru, sehingga masih ada perasaan ragu untuk


bergabung dengan yang lain.
4. Pararel Play (Bermain Pararel )
Pada tahap ini permainan akan dilakukan bersama oleh dua atau
lebih anak, namun belum adanya interaksi antar anak. Anak seperti
bermain bersama dan melakukan kegiatan sama tapi pada tahap ini
anak melakukan kegiatanya sendiri sendiri atau tidak ada kerjasama
dengan yang lain, contoh permainan pada tahap ini adalah bermain
balok atau merangkai sesuatu sesuai kreasi anak. Hal ini terjadi
karena anak masih terlihat egosentris dan belum mampu saling
berbagi dengan yang lain atau bekerjasama dengan yang lain.
5. Assosiative Play (Permainan Bersama)
Pada tahap ini anak mulai berinteraksi antara teman bermainya, anak
mulai saling berbagi dan saling tukar menukar alat permainanya.
Pada tahap ini anak masih belum terlibat dalam kerja sama karena
pada tahap ini anak hanya melakukan interaksi dan berbagi. Pada
tahap ini biasanya terjadi pada anak usia prasekolah.
6. Cooperative Play (Permainan Kerjasama)
Pada tahap ini anak sudah mulai bekerja sama dan adanya
pembagian tugas saat melakukan kegiatan bermain untuk mencapai
tujuan tertentu. Pada tahap ini biasanya terjadi pada kelompok usia
lima tahun.
2.2.3

Manfaat Bermain
Menurut Claparade (Satya, 2006), bermain bukan hanya untuk
pertumbuhan organ tubuh karena anak bergerak aktif, tetapi bermain juga
memiliki manfaat lain seperti memberikan kesenangan dan melepaskan
masalah dan tekanan, berikut ini adalah manfaat bermain pada anak
anak :

12

1. Perkembangan aspek fisik, hal ini dikarenakan anak akan sering


menggerakkan tubuh sehingga menjadikan otot-otot akan menjadi
kuat.
2. Perkembangan motorik kasar dan halus
3. Perkembangan aspek sosial, dengan bermain anak akan belajar
tentang nilai-nilai yang ada di masyarakat dan moral anak akan
muncul sesuai yang di anut oleh masyarakat atau lingkungan
sekitarnya.
4. Perkembangan aspek emosi dan kepribadian anak, ketika anak
bermain anak akan melepaskan ketegangan dan masalah masalah
yang dihadapi dan anak akan terlihat lebih relaks dan bahagia atu
senang.
5. Perkembangan aspek kognisi, dimana anak akan belajar tentang
konsep dasar, anak akan mampu mengembangkan daya cipta, dan
anak akan dapat memahami apa yang dikatakan teman-temanya.
6. Mengasah anak terhadap pengindraan, dimana anak akan menjadi
lebih kreatif, kritis, dan lebih peduli dengan lingkungannya.
7. Sebagai media terapi untuk anak-anak karena saat anak bermain
anak akan terlihat bebas dan karena bermain merupakan sesuatu
secara alamiah sudah dimiliki anak sejak kecil.
8. Bermain sebagai media intervensi, untuk melatih kemampuankemamuan konsep dasar dan melatih konsentrasi.
2.2.4

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anak Bermain


Menurut Sujono Riyadi (2009), terdapat

faktor

yang

mempengaruhi bermain anak, yaitu :


1. Tahap Perkembangan
Setiap perkembangan anak memiliki potensi atau keterbatasan dalam
permainan contoh pada perkembangan motorik, apa yang dilakukan
waktu bermain tergantung pada perkembangan motorik mereka,

13

ketika pengendalian motorik baik mungkin anak akan terlibat dalam


permainan aktif.
2. Status Kesehatan
Pada saat anak sakit kemampuan dalam psikomotor/kognitif akan
terganggu sehingga anak sama sekali tidak punya keinginan untuk
bermain.
3. Jenis Kelamin
Pada anak usia sekolah, anak laki-laki menunjukkan rasa malu ketika
bermain dengan anak perempuan, dan mereka akan membentuk
komunitas sendiri, dimana anak wanita bermain dengan sesama
wanita. Sehingga alat permainan akan berbeda.
4. Lingkungan
Lingkungan sangat penting bagi anak, anak yang berasal dari
lingkungan desa kurang bermain ketimbang mereka yang berasal
dari lingkungan kota, itu semua karena kurangnya teman bermain
serta kurangnya peralatan dan waktu bebas. Memperhatikan
kebutuhan anak dalam bermain akan memenuhi psikologis fisik,
emosi, sosial dan perkembangan mental anak terpenuhi sehingga
anak

dapat

mengekspresikan

perasaanya

dan

menunjukkan

kreatifitasnya (Suherman, 2000).


5. Alat permainan yang cocok
Disesuaikan dengan tahap perkembangan anak sehingga anak akan
merasa senang ketika menggunakan alat permainanya.
2.3 Konsep PermainanCongklak
2.3.1 Definisi Permainan Congklak
Permainan congklak merupakan permainan tradisional yang
dimainkan oleh anak-anak tempo doeloe yang diturunkan secara turun
menurun. Permainan congklak ini dimainkan oleh dua anak yang
memasukkan biji-bijian pada setiap lubang congklak (Echa, 2009).
Permainan congklak merupakan permainan tradisional yang mempunyai

14

manfaat untuk meningkatkan kemampuan berhitung, karena permainan


congklak menjadikan siswa lebih mudah untuk memahami konsep
berhitung matematika, selain itu dakon dapat menyenangkan siswa
karena memiliki unsur permainan (Legowo, 2006).
Menurut Kurniati (2006) Permainan congklak ini anak dapat
belajar berhitung dengan menggunakan biji-biji congklak, selain itu ketika
anak mulai memainkan dengan meletakkan biji satu persatu pada lubang
congklak, motorik halus anak akan terlatih. Permainan ini juga melatih
kesabaran anak ketika menunggu giliran untuk bermain. Menurut Susanti
(2013) permainan congklak atau dakon adalah permainan yang
menggunakan alat seperti papan yang bisa terbuat dari kayu, plastik,
tanah dan sebagainya. Cara memainkan congklak atau dakon ini
biasanya menggunakan kecik dari biji sawo, plastik dan sebagainya, yang
akan di isi di setiap lubang dengan jumlah yang sama, papan congklak
memiliki lubang sebanyak tujuh. Permainan congklak ini memiliki tujuan
agar anak mampu menghitung dengan menggunakan benda konkrit yaitu
dengan biji-bijian (biji dakon) (Kemendiknas, 2010).
2.3.2

Manfaat Permainan Congklak


Ada beberapa manfaat yang terdapat pada permainan congklak
(Mutiatin, 2010) yaitu;
1. Melatih kemampuan motorik halus
Saat memegang dan memainkan biji-biji congklak tersebut, yang
paling

berperanan

adalah

motorik

halus,

yaitu

jari

jemari.

Kemampuan motorik halus ini sangat bermanfaat bagi anak untuk


memegang dan menggenggam alat tulis.
2. Melatih Kesabaran dan Ketelitian

15

Permainan ini

sangat

memerlukan

kesabaran dan

ketelitian.

Terutama pada saat si pemain harus membagikan biji congklak ke


dalam lubang-lubang yang ada di papan congklak. Pemain juga
dilatih kesabaran untuk menunggu giliran bermain.
3. Melatih jiwa sportivitas
Dalam permaianan ini diperlukan kemampuan untuk menerima
kekalahan. Karena permainan ini dilakukan hanya dua (2) orang saja,
maka akan terlihat jelas antara menang dan kalah. Kondisi kalah
tentu saja sangat tidak menyenangkan, namun bagaimana pun
kondisi tersebut harus diterima dengan besar hati. Beda dengan
bermain dengan komputer yang bisa direstart ketika akan kalah.
4. Melatih kemampuan menganalisa
Untuk

bisa

menjadi

pemenang,

maka

kemampuan

untuk

menganalisa sangat diperlukan, terutama saat lawan mendapatkan


giliran untuk bermain. Bagi yang mampu menganalisa dengan baik,
anak dapat memenangkan permain tersebut.
5. Menjalin kontak sosial
Dapat dikatakan, faktor ini merupakan hal terpenting dalam
permainan ini, Karena dilakukan secara bersama-sama, maka terjalin
suatu kontak sosial antara pemainannya.
2.3.3

Kekurangan Permainan Congklak


Menurut Sutiono (2012)media permainan congklak memiliki
Kekurangan dan kelemahan sebagai berikut:
1. Belum semua siswa dan guru mengerti cara memainkan congklak.
2. Media pembelajaran menggunakan alat congklak mudah hilang dan
rusak.

16

3. Belum semua daerah mengetahui cara permainan congklak, karena


permainan congklak merupakan permainan tradisional yang berasal
dari daerah jawa.
2.3.4

Pengaruh

Permainan

Congklak

dengan

Kecerdasan

Logika

Matematika
Permainan dakon atau congklak adalah salah satu permainan
tradisional yang digemari oleh anak-anak. Permainan congklak dapat
meningkatkan kemampuan logika matematika pada anak karena anak
tanpa sadar memainkan permainan ini dengan menggunangkan angka
angka secara spontan, karena permainan congklak ini dimainkan dengan
melibatkan angka, menghitung agar bisa menang. Permainan congklak ini
diharapkan anak dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak seperti
berhitung,

anak

dapat

mengembangkan

kemandirian,

belajar

memecahkan masalah, dan dalam pengambilan sebuah keputusan


(Kemendiknas, 2010).
2.4 Konsep Game Edukasi dalam Smartphone
2.4.1 Pengertian Game Edukasi dalam Smartphone
Gadget merupakan alat yang mengalami perkembangan teknologi
masa kini yang sangat di gandrungi kalangan orang tua, dewasa, bahkan
anak-anak. Gadget bisa berupa tablet, smartphone, note book, dan
sebagainya. Smartphone merupakan alat yang seperti komputer, namun
seiring dengan perkembangan smartphone memiliki fungsi yang luas
dengan aplikasi-aplikasi yang sangat mendukung anak pembelajaran
anak seperti game edukasi. Smartphone adalah alat yang memiliki fungsi
seperti komputerisasi, pengiriman pesan (email), akses internet dan
memiliki

berbagai

aplikasi

sebagai

permainan dan lain-lain (Brusco, 2010).

sarana

informasi

pendidikan,

17

Game edukasi yaitu game yang memiliki unsur pendidikan yang


bertujuan untuk meningkatkan minat belajar anak, sehingga dengan
perasaan senang anak bisa cepat memahami materi pelajaran yang
disajikan (Jason, 2009). Game edukasi bukan semata mata hanya untuk
hiburan tapi bisa digunakan sebagai alat bantu pembelajaran yang
bersifat edukasi (Satriyanta, 2012). Menurut Andang (2006), education
games adalah suatu kegiatan yang membuat anak senang dan bersifat
mendidik atau yang mengandung unsur pendidikan.
Bagi anak-anak, game merupakan hal

yang

sangat

menyenangkan untuk sebuah hiburan, akan tetapi banyak permainan


sekarang yang dapat mengganggu kegiatan belajar anak karena macam
macam permainan yang tidak bersifat edukatif. Sebagai orang tua
haruslah pintar memilih dan mengawasi anak terhadap game yang di
mainkan anak. Jika orang tua dapat memberikan anak game yang
bersifat edukatif maka akan memiliki banyak manfaat untuk membantu
perkembangan anak (Samuel, 2010).
2.4.2

Manfaat Game Edukasi dalam Smartphone


Penggunaan
smartphone
akan
membantu

memberikan

pengalaman yang bermakna kepada anak, karena dapat mempermuda


anak untuk memahami sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkrit.
Menurut Andang (2006), game edukasi dalam smartphone memiliki
beberapa keuntungan, yaitu :
1. Meningkatkan motivasi

kreativitas

anak

dalam

ketrampilan,

semangat dalam belajar lebih konsisten, daya ingat dalam belajar.


2. Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan.
3. Mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera baik.
4. Mengembangkan kemampuan siswa dalam berinteraksi langsung
dengan lingkungan dan sumber belajar.

18

5. Memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan


kemampuanya dan minat anak.
6. Memungkinkan siswa untuk dapat mengukur atau mengevaluasi
sendiri dari hasil belajarnya.

2.4.3

Dampak Positif Game Edukasi dalam Smartphone Pada Anak


Menurut Oktaria (2014) yang memberikan dampak positif terhadap
penggunaan game edukasi dalam smartphone terhadap anak adalah:
1. Tidak bisa dipungkiri jika anak tidak bisa jauh dari kemajuan
teknologi terutama pada teknologi informasi yang semakin hari
semakin cepat. Dan ini dapat membuat anak mendapatkan
kemudahan terhadap informasi.
2. Akibat kemajuan teknologi, banyak permainan-permainan kreatif
dan menantang yang ternyata banyak disukai oleh anak-anak. Dan
hal ini secara tidak langsung sangat menguntungkan untuk anakanak karena sangat memberi pengaruh terhadap tingkat kreativitas
anak.
3. Meningkatkan konsentrasi
4. Menambah pengetahuan anak melalui tayangan pendidikan dan
aplikasi pengetahuan lainnya, sebagai alat untuk refreshing dan
rekreasi (asal penggunaan tepat waktu dan terbatas, tidak
menyebabkan ketergantungan)
5. Meningkatkan kemampuan belajar anak-anak (jika sesuai dengan
usia). Namun aplikasi itu hanya terbatas sebagai alat mengajar
karena aplikasi tersebut biasanya hanya fokus pada satu jenis
pembelajaran. Aplikasi itu tidak mengajarkan keterampilan dan
latihan. Mereka hanya mengajarkan anak-anak untuk benar
mengidentifikasi huruf, benda, warna dan lain sebagainya. Anak

19

menjadi lebih terstimulasi terhadap visualisasi dan pendengaran


yang lebih beragam.
6. Meningkatkan koordinasi tangan dan mata. Penelitian yang
dilakukan di Manchester University dan Central Lanchashire
University menyatakan bahwa orang yang bermain game 18 jam
seminggu

atau

sekita

dua

setengah

jam

perhari

dapat

meningkatkan koordinasi antara mata dan tangan meningkatkan


kemampuan membaca. Psikolog dari Finland Univesity menyatakan
bahwa game meningkatkan kemampuan membaca pada anakanak. Jadi pendapat yang menyatakan bahwa jenis permainan ini
menurunkan tingkat minat baca anak sangat tidak beralasan.
7. Meningkatkan kemampuan berbahasa inggris. Sebuah

studi

menemukan bahwa gamers mempunyai skil berbahasa inggris yang


lebih baik meskipun tidak mengambil kursus pada masa sekolah
maupun kuliah. Ini karena banyak alur cerita yang diceritakan dalam
bahasa inggris dan kadang kala mereka chat dengan pemain lain
dari berbagai negara.
8. Meningkatkan kemampuan mengetik. Kemampuan mengetik sudah
pasti meningkat karena mereka menggunakan keyboard dan mouse
untuk mengendalikan permainan.
2.4.4

Dampak Negative Game Edukasi dalam Smartphone


Menurut Romo (2013), game edukasi dalam smartphone memiliki
dampak negative bagi anak, antara lain :
a. Mengganggu kesehatan
Efek radiasi yang terdapat pada smartphone jika digunakan secara
terus menerus sangat berbahaya bagi kesehatan terutama pada anak
usia kurang dari 12 tahun. Efek radiasi dari smartphone jika
diguanakan secara berlebihan bisa menyebabkan kanker.
b. Mengganggu perkembangan anak

20

Fiture-fiture yang terdapat di smartphone sangat canggih, namun bisa


mengganggu proses pembelajaran di sekolah karena anak akan lebih
tertarik pada smartphone dari pada apa yang dijelaskan guru.
c. Dapat mempengaruhi perilaku anak
Kemajuan teknologi pada zaman sekarang bisa membuat anak
mudah puas dengan apa yang telah didapatkan dan cenderung
berfikiran dangkal karena anak akan menganggap info dari
samrtphone merupakan jawaban yang paling benar dan cepat.
d. Membuat anak jadi ketagihan
Kecanduan atau ketagihan pada anak ketika menggunakan
smartphone, karena anak akan asik dan meningkat konsentrasi pada
smartphone sehingga anak akan menjadi apatis.
2.4.5

Pengaruh Bermain Game Edukasi dalam Smartphone terhadap


Kecerdasan Logika Matematika
Bermain game edukasi dalam smartphone pada anak memberikan
rasa senang dan memiliki manfaat untuk perkembangan kecerdasan
logika matematika sesuai dengan permainan yang di mainkan. Permainan
game edukasi dalam smartphone untuk anak akan dituntut untuk berfikir
bagaimana mempermainkan permainan ini dan bagaimana anak dapat
menyelesaikan

dan

memenangkan

permainan

yang

terdapat

di

smartphone.
Menurut Anonim (2014) bermain smartphone memiliki manfaat
pada anak, yaitu :
1. Melatih fungsi kognitif
Game yang terdapat pada smartphone mempu meningkatkan fungsi
kognitif pada anak karena anak akan berfikir kritis untuk dapat
menyelesaikan atau memecahkan masalah pada permainan dan
anak secara tidak langsung di stimulus untuk perkembangan kognitif.
2. Media membangun relasi

21

Tidak dipungkiri, bahwa gadget semakin mempermudah menjalin


komunikasi dengan banyak orang termasuk pada anak. Media sosial
yang ada pada saat ini tidak membuat komunikasi terhalang oleh
jarak. Contohnya seperti facebook atau twitter.
3. Melatih fungsi motorik
Aplikasi yang ada pada gadget mampu melatih motorik pada anak,
yaitu bisa melatih koordinasi tangan dan mata anak yang membuat
semakin terampil dikegiatan fisik seperti bermain bola.
Dari manfaat-manfaat yag telah disebutksn diatas

dapat

disimpulkan bahwa bermain gadget dapat menstimuli kemampuan


kecerdasan logika matematika dengan bermain game edukasi pada
smartphone.
2.5 Konsep Kecerdasan Logika Matematika
2.5.1 Pengertian Kecerdasan Logika Matematika
Gardner (1999) menjelaskan dalam teori kecerdasan majemuknya
bahwa manusia memiliki 8 kecerdasan dasar yaitu kecerdasan linguistik,
kecerdasan logis matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal,
kecerdasan kinestetik-ragawi, kecerdasan interpersonal, kecerdasan
natural.
Kecerdasan logis matematis adalah kemampuan seseorang untuk
mengenal dan memahami bilangan dan perhitungan, dan memiliki
pemikiran yang logis dan ilmiah. Kecerdasan logika matematika
mencakup tentang kemampuan untuk mengelola angka, matematika dan
apapun yang berhubungan dengan angka (Fadilah, 2008). Kecerdasan
logika matematika juga dapat di artikan sebagai kemampuan dalam
menyelesaikan masalah dengan matematika sebagai solusinya (Prasetyo
& Andriani, 2009).
Anak dengan kemampuan ini akan lebih condong senang dengan
rumus dan pola-pola abstrak, namun tidak hanya menyangkut tentang

22

matematika namun juga kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual,

Contohnya: biasanya anak akan melihat suatu mesin bukan dari


keindahannya tetapi dari bagaimana cara kerja mesin itu (urutan
kerjanya), juga biasanya senang main catur dan otomatis biasanya
senang dengan pelajaran matematika.Kecendengannya nanti pada
saat bekerja juga ada hubungannya dengan angka-angka tersebut
(Winataputra, 2007).
2.5.2

Ciri-Ciri Kecerdasan Logika Matematika


Menurut

Musfiroh

(2008),

Kecerdasan

logis

matematika

mempunyai ciri ciri antara lain :


1) Menghitung problem aritmatika dengan cepat diluar kepala, dimana
anak akan cepat menjawab ketika dihadapkan dengan soal yang
berkaitan dengan angka tanpa harus berfikir lama untuk menjawab
pertanyaan tersebut.
2) Menjelaskan masalah secara logis, karena pada anak yang memiliki
kecerdasan logika matematika ini suka dengan pernyataan yang
sesuai dengan kenyataan dan dapat di terima oleh fikiran dengan
alasan yang logis atau masuk akal.
3) Banyak bertanya tentang cara kerja suatu hal, karena pada anak

yan memiliki kecerdasan logika matematika lebih suka bertanya


terhadap cara kerja sesuatu yang baru diketahuinyadan bisa
menerima ketika mendapatkan jawaban dengan logis atau masuk
akal.
4) Mudah memahami rumus dan cara kerjanya serta tepat dalam
mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari dan
5) Pandai
menggunakan
pengetahuannya
dan

memberi

pendapatnya untuk memecahkan persoalan sehari-hari, karena

23

mereka

menggunakan

pengetahuan

yang

sesuai

dengan

kenyataan yang dapat diterima oleh akal sehat manusia.


2.5.3

Tahapan Kecerdasan Logika Matematika Anak


Menurut Susanto (2011), tahapan kemampuan logika matematika
anak usia Taman Kanak-Kanak adalah sebagai berikut :
1. Tahap konsep / pengertian
Pada tahap ini anak akan menunjukkan ekspresi untuk menghitung
segala macam benda yang dapat dihitung dan dilihat.
2. Tahap transmisi/ peralihan
Tahap ini merupakan masa peralihan dari yang konkret ke lambang
dimana anak sudah benar-benar memahami jumlah benda kedalam
lambang bilangan.
3. Tahap lambang
Tahap ini merupakan tahap dimana anak sudah mulai menulis sendiri
tentang lambang bilangan, bentuk-bentuk, dan segala hal untuk
mengenalkan kegiatan berhitung.
Depdiknas (2008), menjelaskan bahwa ada 3 (tiga) cara untuk
belajar logika matematika pada anak usia dini, diantaranya adalah
1. Enactive yaitu cara belajar sesuatu konsep secara konkret.
2. Iconic yaitu cara belajar konsep melalui gambar.
3. Simbolik yaitu cara belajar konsep melalui simbol seperti gambar dan
huruf.
Menurut Yus (2011), pada anak usia 5-6 tahun akan mengalami
perkembangan

kecerdasan

logika

matematika

dengan

indikator

perkembangan kecerdasan logika matematika sebagai berikut


Mengenal perbedaan berdasarkan ukuran lebih dari, kurang dari,

atau paling/ter.
Mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran (3

variasi).
Mengklasifikasikan benda yang lebih banyak ke dalam kelompok
yang sama atau kelompok yang sejenis, atau kelompok berpasangan
yang lebih dari 2 variasi.

24

2.5.4

Mengenal pola ABCD-ABCD


Mengurutkan benda berdasarkan ukuran dari paling kecil ke paling

besar dan sebaliknya.


Menyebutkan lambang bilangan 1-50
Mencocokkan bilangan dengan lambang bilangan
Mengenal berbagai huruf vokal dan konsonan.

Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Logika Matematika Anak


Menurut kohnstan (2003), terdapat faktor yang mempengaruhi
kecerdasan logika anak antara lain :
1. Faktor Herediter (faktor keturunan)
Semua anak akan memiliki gen pembawa kecerdasan dengan tingkat
kecerdasan berbeda.
2. Faktor Lingkungan
Di mulai sejak anak lahir, anak sudah mulai berinteraksi dengan
lingkungan tempat hidupnya. Ketika semua panca indra anak mulai
berfungsi

anak

akan

semakin

banyak

berhubungan

dengan

lingkungan sekitar karena lingkungan sangat berpengaruh besar


terhadap kecerdasan anak.
3. Kecukupan Asupan Nutrisi
Nutrisi merupakan salah satu yang dapat mendukung perkembangan
kecerdasan anak. Jumlah nutrisi yang harus dikonsumsi harus sesuai
dengan kebutuhan yang di perlukan sesuai dengan usia tumbuh
kembangnya.
4. Aspek Kejiwaan
Kondisi emosi sangat penting dalam membangun minat dan bakat
anak dan sangat berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak.
2.5.5

Sistem Neurologis Kecerdasan Logika Matematika


Kecerdasan logika matematika sering dihargai lebih istimewa dari
jenis kecerdasan lainya, khususnya pada masyarakat modern ini.
Kecerdasan logika matematika sering di sebut dengan kecerdasan otak
kiri yang memiliki ciri sering menggunakan ketrampilan tradisional berpikir
kritis,

dan

cenderung

merendahkan

pemikiran

intuitif

atau

25

sebaliknya,sering cemburu dan cenderung terhadap kebebasan mental.


Orang yang memiliki kecerdasan logika matematika yang tinggi sering
memahami prinsip system kausal, cara seorang ilmuan atau pengguna
logika untuk melakukan sesuatu, atau dapat memanipulasi angka atau
bilangan.
Kecerdasan logika matematika terletak di wilayah primer di
hamisfer kiri bagian depan atau terletak di lobus frontal dan hemisfer
kanan bagian atas atau pariental. Sering kali lobus frontal pada otak
dinamakan sebagai area akademik atau perkembangan kognitif karena
lobus

ini

memiliki

fungsi

untuk

berfikir, membuat

perencanaan,

memecahkan masalah dan melakukan penilaian. Lobus frontal dan


hemisfer kiri memiliki tugas sebagai kalkulasi dan perhitungan rumit,
sedangkan lobus pariental sebagai pusat sensorik. Inilah yang menjadi
dasar lokasi yang digunakan ketika dalam berhitung, penulisan bilangan,
dan bentuk geometri (Markam, 2003).
2.5.6

Keterkaitan

Permainan

Congklak

dan

Game

Edukasi

dalam

Smartphone Terhadap Kecerdasan Logika Matematika pada Anak


Setiap anak memiliki tingkat kecerdasan logika matematika yang
berbeda-beda. Pada anak usia prasekolah merupakan usia yang sangat
bagus untuk meningkatkan perkembangan anak. Stimulus yang baik
untuk anak dalam merangsang perkembangan anak adalah dengan
bermain karena anak usia prasekolah tidak bisa dilepaskan dari dunia
bermain. Pada zaman ini banyak terjadi perkembangan teknologi, dimana
anak tidak bisa menolak akan perubahan perkembangan teknologi.
Salah satu permainan yang dapat mempengaruhi kecerdasan
logika matematika anak adalah permainan congklak dan game edukasi
dalam smartphone, karena ketika anak bermain congklak maka anak

26

tanpa sadar akan belajar tentang konsep dasar matematika karena


permainan congklak menggunakan perhitungan matematika, sedangkan
game edukasi juga bisa meningkatkan kecerdasan logika matematika
anak karena game edukasi dalam smartphone akan mengajari anak
untuk berfikir kreatif. Permainan yang terdapat dalam smartphone ini
adalah permainan mancala bugs, dimana anak akan menggunakan
konsep dasar matematika untuk memainkanya. Permainan congklak dan
game edukasi dalam smartphone ini akan mempengaruhi otak kiri anak,
dimana otak kiri merupakan tempat untuk perkembangan kecerdasan
logika matematika anak.