Anda di halaman 1dari 9

Allah berfirman kepada Jibril bahwa yang

akan memotongnya adalah Jibril, yang berdiri


di hadapannya adalah cahaya Sang Pencipta
langit dan bumi sedangkan pakaiannya
diambil dari sorga, selembar daun pohon
Tuba yang berwarna hijau dengan cahayanya
yang bening. Anugerah Allah kepada Nabi
Muhammad saw melebihi atas semua nabi
dan rasul.

MUKJIZAT
NABI MUHAMMAD SAW

Jibril segera mengambil kain dari selembar


daun pohon Tuba yang suci. Yang bercahaya
begitu terang bagaikan sinar sang surya. Yang
akan diberikannya kepada Rasul saw sebagai
penutup
badannya
saat
bercukur.
Difirmankan dari Allah SWT bahwa daun
Tuba itu sebagai anugerah dari Allah atas
kenabian Muhammad saw.

Disini dikisahkan beberapa dari


sekian banyak mukjizat yang diberikan oleh
Allah SWT kepada Mabi muhammad saw.
Dipotongnya Rambut Nabi SAW

Setelah tiba di hadapan Rasulullah saw,


beliau kembali menanyakan pertanyaanpertanyaan
yang
pernah
diajukan
sebelumnya. Malaikat Jibril pun menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Ketika Nabi Muhammad saw sedang


membaca Al Quran pada malam Senin di
rumahnya,
datanglah
Malaikat
Jibril
menemuinya.

Jibril mulai memotong rambut Rasulullah


saw pada hari senin tanggal 19 Ramadhan di
hadapan para sahabatnya. Sesuatu yang
menakjubkan bahwa helaian rambut beliau
tidak ada yang jatuh ke tanah.

Jibril segera berbicara kepada Rasulullah


saw, "Aku membawa perintah dari Tuhan
Yang Mahasuci, bahwa rambut Anda harus
dipotong, dan jangan khawatir."
Nabi saw berkata, "Hai Jibril, siapakah yang
akan menghadapiku nanti. Dan siapa yang
mencukurnya. Dari mana pakaiannya yang
akan kupakai nanti."

Nabi saw pun menanyakan hal itu, "Hikmah


apa yang terkandung bahwa rambutku tidak
ada yang jatuh satu helai pun ke atas tanah?"
Jibril menjawab, "Demi banyaknya rambut
ini, jumlah rambutmu yang berada di
kepalamu aku telah menghitungnya 126.666.
Sementara itu, Bidadari-bidadari turun dari
sorga untuk meminta rambutmu atas perintah
Yang Agung."

Malaikat Jibril menyampaikan pertanyaan


tersebut kepada Allah SWT. Katanya, "Ya
Tuhanku, aku datang akan mengabarkan
bahwa kekasihmu benar-benar telah rela atas
perintah keharusan dipotong rambut. Tetapi
sekarang ini, ya Tuhan, ada permohonannya,
bahwa siapa yang mendapat ijin menyaksikan
ketika kekasihmu dipotong. Siapa yang
memotongnya, dan juga dari mana Allah
akan memberi pakaiannya."

Allah berfirman kepada para


"Kalian seluruh Bidadari, cepatlah
dunia, Nabi-Ku sedang dipotong
Kalian semua masing-masing
1

bidadari,
turun ke
rambut.
mintalah

rambut satu lembar. Hormatilah olehmu


rambut Rasulullah. Ikatkan dengan baik
rambut itu sebagai azimat agar diampuni
dosamu,"

Pada anak tangga yang keempat, dijumpai


malaikat-malaikat yang begitu banyak
jumlahnya, yang hanya Allah saja
mengetahui berapa banyak jumlahnya.
Mereka senantiasa mengucapkan La Ilaha
lila Huwal Mubin. Bacaaan itu, menurut
malaikat Jibril, berfaedah menjadikan orang
yang membacanya diampuni dosa-dosanya.

Bidadari-bidadari itu segera turun ke bumi


untuk mengambil rambut Rasulullah saw.
Kemudian mereka mengikatkannya ke jari
kelingking kanannya masing-masing.

Di anak tangga kelima, mereka melihat para


malaikat yang raut wajahnya bagaikan bulan
purnama. Masing masing mengucapkan
Asyhadu An Laa llaha lllallaah Wa Asyhadu
Anna Muhammadan Rasuulullaah. Dan juga
senantiasa
mengucapkan
tahmid
(Alhamdulillah). Di sini, Rasulullah saw juga
melihat dua cahaya yang berdampingan
bagaikan dian yang tak kunjung padam.
Gemerlapnya begitu dahsyat.

Nabi Muhammad Saw Menyusuri Langit


Bersama Jibril, Rasulullah saw mikraj
menemui Allah SWT melalui tangga emas
yang dihiasi mutiara dan permata yang
berasal dari sorga. Perjalanan akan melalui
langit yang tujuh lapis. Namun pada setiap
anak tangga, mereka berdua telah menjumpai
pemandangan-pemandangan
yang
menakjubkan bagi Rasulullah saw. Pada anak
tangga pertama, Rasulullah saw melihat tujuh
ribu barisan malaikat yang seluruhnya
mengenakan
mahkota
emas
seraya
mengucapkan: Subhanallah Wabihamdihi.

Rasul saw pun menanyakan mengenai hal itu,


"Wahai Jibril, cahaya apakah gerangan yang
kulihat itu. Dua berdampingan."
Jibril a.s. menjawab, "Wahai Muhammad,
itulah tempatnya nyawa. Pada bagian sebelah
timur, itulah yang disebut Baitul Mukmuran,
yaitu tempat bersemayamnya nyawa yang
tidak digunakan di dunia, adapun nyawa yang
sudah digunakan, itulah yang dinamakan
Jabatul Hannanu, yaitu tempat nyawa-nyawa
yang sudah digunakan di dunia Kemudian
tinggal tergantung di Arsy."

Di anak tangga yang kedua dilihatnya pula


barisan malaikat bermahkotakan emas,
namun ada perbedaannya dengan malaikatmalaikat tadi, yaitu di dahinya tertulis
Subhanallahi Wabihamdihi, Subhanallahi
Malikul Quddusi.
Selanjutnya di anak tangga yang ketiga,
mereka menjumpai malaikat yang berjumlah
300.000 berpakaian penuh ragamnya dan
bermahkotakan emas pula. Dari mulutnya
terpancar cahaya. Nabi Muhammad saw
bertanya kepada Jibril mengenai mereka.

Dalam sekejap mata seperti juga yang terjadi


pada perjalanan sebelumnya mereka berdua
telah sampai di anak tangga keenam. Lalu
pada yang ketujuh. Anak tangga ini
berjumlah tidak kurang dari 50 buah hingga
langit ketujuh.

Dijawab oleh Jibril alaihissalam, "Siapa saja


umatmu yang membaca seperti yang dibaca
oleh para malaikat itu yang berbunyi
Astaghfirullaah, apabila mereka menguap,
maka begitu pula cahaya yang akan keluar
dari mulutnya.

Kini, sampailah Rasulullah saw di langit


yang pertama. Setelah meminta ijin terlebih
dahulu kepada malaikat penjaganya, mereka
berdua masuk ke langit ini. Para malaikat
menghaturkan sujud penghormatan bagi
2

makhluk mulia, Nabi Muhammad saw. Di


sini, Jibril mengajak Rasulullah saw berjalanjalan melihat keadaan sekitar. Di tempat ini,
terlihat bintang-bintang yang gemerlapan di
angkasa
luas.
Kemudian
Jibril
mengumandangkan
adzan
untuk
melaksanakan shalat. Dengan diimami oleh
Rasul saw, para malaikat bermakmum shalat
sunat dua rakaat. Di langit pertama ini juga
dilihat bulan oleh Rasulullah saw.

shalat sunat bersama para malaikat dan Nabi


Adam a.s.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke langit


kedua. Di langit ini, para malaikat
mengucapkan shalawat ketika mengetahui
kedatangan
makhluk
utama,
Nabi
Muhammad saw. Di langit kedua ini juga
dilaksanakan shalat sunat.

"Ayam apa gerangan itu, wahai Jibril," tanya


Nabi saw.

Kini perjalanan dilanjutkan kembali menuju


langit keempat. Di langit ini mereka
menjumpai seekor ayam berbulu putih.
Mulut, mata, dan kakinya berwarna kuning.
Di lidahnya dihiasi dengan permata yang
berasal dari sorga. Di matanya dihiasi intan.
Potoknya berwarna emas murni.

Jibril menjawab, "Itulah ayamnya Arsy.


Kalau berkokok di sepertiga terakhir malam,
akan mengikuti pula ayam-ayam yang ada di
bumi. Kokoknya mengatakan, Wahai segenap
yang tidur, bangunlah kalian semua. Lalu
sampaikan puji-pujian kepada Allah Taala,
agar kamu semuanya diberi rahmat Allah
Taala di akhirat."

Pada lapisan langit yang ketiga, Rasul SAW


menjumpai seorang lelaki yang tengah duduk
di atas kursi cahaya dengan dikelilingi oleh
para malaikat yang bermahkotakan emas.
Nabi SAW pun mengucapkan salam kepada
lelaki itu. Namun, ia tidak langsung
menjawabnya, melainkan bertanya terlebih
dahulu kepada Jibril, "Siapa yang memberiku
salam?"

Adapun bunyi kokoknya di siang hari ialah,


Sadarlah kalian seluruhnya atas keesaan
Allah Taala Mudah-mudahan kamu semua
tidak dimasukkan-Nya ke dalam neraka."
Di tempat lain, mereka menjumpai malaikat
yang tengah duduk di atas kursi yang
bercahaya api, dalam keadaan yang sangat
marah seraya memegang sabuk yang berasal
dari api neraka. Pada setiap sabuknya ada
delapan puluh orang yang mendapat
hukuman. Apabila sabuk itu disimpan di atas
bumi, akan hancurlah bumi ini.

Jibril
menjawab,
"Tidakkah
kamu
mengetahui Muhammad, orang pilihan Allah
Taala serta diberi keselamatan."
Orang itu adalah Nabi Adam. Beliau sangat
gembira mengetahui siapa yang memberi
salam tadi. Segera Rasul saw dihampiri dan
diciumnya.
Rasulullah
SAW
belum
mengetahui siapa orang yang tengah
dihadapinya, dan ditanyakanlah kepada Jibril.
Nabi Adam a s. itu akan menangis ketika
duduk kemudian menengok ke sebelah kiri,
karena menyaksikan anak cucunya yang
berada di dalam neraka. Dan akan tertawa,
apabila melihat ke sebelah kanan, karena
dilihatnya anak cucunya berada di sorga. Di
tempat ini, Rasul SAW juga melaksanakan

Nabi Muhammad saw menyampaikan salam


kepada malaikat tersebut. Namun, ia tidak
menanggapinya. Maka Allah Taala pun
mengingatkannya, "Wahai malaikat si
penjaga neraka. Kenapa engkau tidak sudi
menyahuti salam orang yang Kurahmati.
Sesungguhnya Aku tidak menciptakan
engkau bersama dengan neraka dan sorga
beserta seluruh isinya, kalau bukan karena
3

Muhammad. Maka dialah yang kuinginkan


mendapat kebesaran dan kemuliaannya."

laki-laki yang tengah dirantai kakinya.


Rantainya membara karena terbuat dan api
neraka. Kedua matanya ditusuk dengan besi.
Mulutnya dituangi dengan timah panas yang
meleleh. Tulang-belulangnya terkelupas
terbakar api dan seraya terpangganglah ia di
atas api neraka. Nabi saw bertanya, "Siapa
gerangan yang disiksa sedemikian itu?"

Bergetarlah
malaikat
penjaga
neraka
menerima teguran dari Allah Taala tersebut.
Berkata Malaikat Jibril a.s., "Wahai Malaikat,
tidakkah engkau mengenal orang yang
dirahmati Allah Taala di dua dunia."
Malaikat Penjaga Neraka itu berkata, "Wahai
Muhammad, mohon kiranya dengan sangat
engkau
memaafkanku.
Sebab
saya
ditakdirkan oleh Allah Taala berwajah
pemarah yang kutunggu ialah umatmu yang
tidak mengikuti kelakuanmu. Akan Kuambil
seluruh perlakuan buruknya yang sudah
dilakukannya di dunia." Kemudian Nabi saw
meminta untuk dibukakanya pintu neraka.

Jawab Jibril bahwa itu adalah umat Nabi saw


yang selalu bertikai dan saling konflik di
antara mereka.
Terlihat pula sekelompok orang yang tengah
disiksa dengan cara kepalanya berada di
bawah, wajahnya terbalik menghadap ke
belakang. Mukanya diserupakan dengan
wajah babi. Sementara kedua tangannya
terpotong. Tiba-tiba ia terlontar ke dalam api
neraka yang tengah menyala-nyala. Jelas
Jibril bahwa itu adalah umat Nabi saw yang
sering mangambil hak milik sesama, serta
busuk hatinya terhadap sesamanya juga.

Malaikat Penjaga Neraka itu berkata, "Wahai


Muhammad, tidak akan kubiarkan pintu
neraka dibuka sebelum dunia kiamat."
Namun tiba-tiba terdengar suara yang
berbunyi, "Bukakanlah pintu neraka, sebab
tidaklah kuciptakan dunia itu bersama isinya
kalau bukan karena Muhammad."

Di tempat lain, Nabi SAW menyaksikan


seorang penghuni neraka yang meraungraung yang suaranya terdengar hingga ke
langit ke tujuh, la adalah orang muda yang
mati tidak bertobat.

Akhirnya pintu neraka itu pun dibukakan


untuk Nabi Muhammad saw. Seandainya
neraka bocor sebesar lubang jarum saja,
maka akan gelaplah langit dan bumi.

Ada juga orang yang disiksa mulutnya dikait


dengan besi yang lidahnya menjulur ke tanah,
la adalah orang yang durhaka kepada orang
tuanya hingga matinya.

Rasul saw dan Jibril a.s. masuk ke dalamnya.


Pertama yang dijumpainya adalah seorang
laki-laki yang tengah disiksa dengan cara
direbus di dalam dulang api neraka lalu dikait
dengan besi. Lidahnya terjulur hingga ke
tanah. Ketika Rasul saw menanyakan kepada
Jibril perihal orang itu, maka dijawabnya,
"Itulah umatmu yang menganiaya sesamanya,
dan ia tidak bertobat sampai meninggalnya."

Disaksikan pula seorang wanita yang berada


di tengah api neraka. Wajahnya menghadap
ke belakang. Lidahnya dituangi dengan
cairan timah yang yang sedang mendidih.
Mulutnya ditusuk dengan besi yang
membara. "Itulah umatmu yang berkunjung
ke tetangganya (pergi ke luar) tanpa
mengenakan kerudung (jilbab)," jelas Jibril.

Kemudian dilihat ada sebuah rumah di dalam


neraka. Di dalamnya terdapat tujuh puluh
orang yang tengah disiksa. Ada lagi seorang

Dilihatnya juga seorang wanita yang tengah


berada di atas, sedangkan kemaluannya
4

ditusuk dengan besi dan menembus hingga ke


mulutnya. Sementara itu kedua tangannya
memegang erat bara api. la disiksa demikian
karena sering pergi ke luar rumah tanpa
seizin suaminya.

dan diberikan oleh Allah Taala kepada Rasul


saw.
Kemudian Jibril mengumandangkan adzan
tanda akan didirikannya shalat bersama Nabi
Musa dan para malaikat.

Peninjauan di dalam neraka dirasa sudah


cukup. Mereka berdua pun keluar.
Selanjutnya didirikanlah shalat sunat bersama
para malaikat.

Perjalanan
pun
dilanjutkan
kembali.
Menyeberangi lautan-lautan yang begitu luas
dan daerah-daerah yang penuh cahaya terang
benderang. Melewati pula daerah-daerah
yang gelap. Tiap macamnya dipisahkan oleh
jarak 500 tahun perjalanan, la melewati tabirtabir keindahan, kesempurnaan, rahasia
keagungan. Di balik itu, terdapat 70.000
kelompok malaikat yang tengah bersujud.
Mereka akan sujud dan tidak meninggalkan
tempat, hingga hari akhir kelak.

Kini mereka pergi menuju ke langit kelima.


Di langit ini mereka menjumpai seorang lakilaki berada di tempat yang terbuat dari besi
bersama para malaikat yang bermahkotakan
emas "Siapakah itu wahai Jibril," tanya Nabi
saw.
"Itulah Nabi Isa alaihiasalam," ujar Jibril a.s.

Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril


kini berada di langit ketujuh Mereka
menjumpai sebuah pohon yang sangat besar.
Selembar daunnya saja masih lebih lebar dari
planet bumi ini. Rasul saw meminta buah
pohon tersebut kepada Malaikat penjaganya,
namun ia menolaknya karena takut kepada
Allah yang menugaskan menjaga pohon
tersebut.
Jibril menegur Malaikat penjaga itu, "Wahai
Malaikat,
kenapa
engkau
enggan
memberikan buah pohon Katubi itu.
Tidakkah engkau mengenal orang yang
dirahmati Allah Taala ini."

Nabi saw pun menghampiri untuk


menyalaminya. Namun, Nabi Isa belum
menanggapinya, dan bertanya kepada Jibril
mengenai siapa orang yang menghampirinya
itu. Ketika mengetahui siapa yang tengah
berada di hadapannya, Nabi Isa segera
mencium Nabi Muhammad saw. Lalu mereka
melaksanakan shalat sunat.
Kini, perjalanan mikraj sudah berada di langit
keenam. Di sini mereka menjumpai seorang
laki-laki yang duduk di atas kursi cahaya.
Dikelilingi oleh para malaikat. Ia adalah Nabi
Musa alaihiasalaam.

Jibril pun mengambil buah pohon tersebut.


Ternyata, di dalam buah itu terdapat.seorang
anak bidadari. Seorang wanita yang
mengenakan
pakaian
yang
beragam
coraknya. Bidadari itu akan dianugerahkan
juga oleh Allah Taala kepada umat Nabi
Muhammad saw yang mengikuti akhlak
beliau.

Nabi Musa menanyakan orang yang ada di


hadapannya tersebut "Itulah orang yang
dirahmati oleh Allah Taala. la hendak naik
ke langit menjumpai Tuhannya," ucap Jibril.
Dihampirilah Nabi Muhammad saw oleh
Nabi Musa a s. seraya berpesan bahwa
apabila telah kembali dari Arsy, hendaklah
singgah terlebih dahulu di tempatnya. Agar
diketahui mengenai apa-apa yang disaksikan

Setelah diperintahkan oleh Rasul saw,


bidadari itu pun masuk kembali ke buahnya.
Setelah itu mereka berdua melanjutkan
5

perjalanannya kembali. Di suatu tempat,


dijumpai banyak malaikat yang berada di
sekitar sebuah pohon.

di negeri anu," kata Malaikat Maut. "Jika


saya ingin melihat seluruh isi dunia, hanya
bagaikan sebuah cangkir yang kulihat di
hadapanku. Tidak satu pun isi dunia yang
luput dari penglihatanku."

"Pohon apakah itu, wahai Jibril," tanya Nabi


saw.

Mereka berdua menjumpai pula sekelompok


malaikat. Malaikat-malaikat tersebut disapa
oleh Nabi saw, namun mereka tidak
menjawabnya. Kemudian Allah menegur
mereka. Teguran itu menghentakkan hati para
malaikat tersebut. Pintanya kepada Nabi
Muhammad saw. "Mohon dengan sangat,
sudikah engkau memaafkan diriku. Sebab
saya sudah ditakdirkan untuk tidak berkatakata sebelum dunia kiamat."

"Itulah yang dinamakan pohon Sidratul


Muntaha," kata Jibril.
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat
Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.
Di dekatnya ada sorga tempat tinggal.
(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul
Muntaha diliputi oleh sesuatu yang
meliputinya. (Q.S. 53:13-16)

Ada lagi kelompok malaikat yang berjumlah


tujuh ribu orang. Setelah diperhatikan oleh
Nabi saw, mereka terdiri atas empat jenis
wajah. Ada yang berwajah mirip kerbau,
ayam, manusia, dan macan.

Pada daun-daunnya ditulis mengenai umur


setiap
yang
bernyawa.
Nabi
saw
menghampiri seorang malaikat yang menjaga
pohon tersebut, dan memberinya salam.
Namun malaikat tersebut tidak menyahutnya.
Jibril segera menegur malaikat tersebut.
Mengetahui mengenai keberadaan Nabi saw
malaikat itu pun segera a menjawab
salamnya.

Malaikat berwajah mirip kerbau adalah


kelompok malaikat yang bertugas untuk
menyebarkan rezeki bagi setiap ternak yang
dimakan dagingnya. Kelompok malaikat
yang berwajah mirip manusia bertugas untuk
menyebarkan rezeki bagi setiap manusia.
Malaikat yang berwajah mirip ayam bertugas
untuk menyebarkan rezeki bagi setiap hewan
unggas. Sedangkan malaikat yang berwajah
mirip macan menyebarkan rezeki bagi semua
binatang buas.

"Wahai Malaikat, apakah engkau yang


menjaga (pohon) Sidratul Muntaha?" tanya
Nabi saw.
"Sayalah Malaikat Maut," ujar sang Malaikat.
"Betapa banyak orang yang meninggal dunia
dalam sehari semalam. Engkaukah yang
mengambil nyawa mereka seluruhnya," tanya
Nabi saw.

Di tempat lain, Nabi saw melihat malaikat


yang kepalanya berjumlah tujuh ribu. Setiap
kepala memiliki tujuh ribu rupa. Setiap rupa
memiliki tujuh ribu mulut Setiap mulutnya
memiliki tujuh ribu lidah. Di dalam satu
lidahnya memiliki tujuh ribu bahasa yang
dikuasainya, seluruhnya senantiasa memuji
Allah Taala. Malaikat ini selalu mendoakan
keselamatan bagi orang yang berangkat
menunaikan shalat, orang yang tengah

"Wahai Muhammad, itulah sebabnya ada


sebanyak 700.000 pimpinan laskar malaikat
pencabut nyawa. Sedangkan tiap-tiap
pimpinan itu membawahi 700.000 malaikat.
Saya hanya tinggal memperhatikan dedaunan
itu. Jika tulisannya tanggal, Aku perintahkan
malaikat pergi menjemput nyawanya si fulan
6

menuntut ilmu, dan mereka yang berpuasa di


bulan Ramadhan.

Bersama Qul Huwallaahu Ahad, QulAuudzu,


kedua-duanya, bawakanlah kepada umatmu.

Kini perjalanan sudah sampai pada


tujuannya. Bumi dan langit menjadi terlihat
satu, dan hampir tidak dapat dilihat. Berada
di depan hadirat Allah Taala. Jibril
membawakan usungan dari sorga untuk
membawa Nabi saw. Tidak memiliki tiang
dan tidak ada gantungannya. Dindingnya
terpasang
sutera.
Beralaskan
ambal.
Kemudian Rasul saw menaikinya untuk pergi
ke Arsy tempat bersemayamnya Allah SWT.

"Kujadikan alam beserta isinya hanya karena


engkau, wahai Muhammad. Banyak sekali
nabi yang Kuciptakan. Engkaulah yang
paling Kukasihi. Engkau pulalah penggantiKu. Adapun Jibril, hanya Kujadikan utusan.
Sedangkan engkau, wahai Muhammad,
Engkaulah yang mewujudkan kemuliaan-Ku
serta Kebesaran-Ku," firman Allah Taala.
Pertemuan Tuhan dengan Makhluk-Nya itu
pun berakhir. Beliau keluar dari lingkungan
Arsy. Usungan tadi membawa kembali
dengan sendirinya kehadapan Jibril.

Beliau harus melewati delapan puluh dinding


cahaya. Ada pula beraneka ragam cahaya
lainnya yang dapat disaksikan. Yang
membuat Rasulullah saw terkesima. Tujuan
pun telah sampai. Di sini tidak ada timur dan
barat; tidak diketahui pula utara dan selatan.
Merendah dirilah Sang Nabi SAW di hadapan
Allah SWT.

Nabi Muhammad saw mempersiapkan


kembali perjalanannya untuk pulang ke bumi.
Dalam perjalanan pulang itu, Nabi saw
menjumpai sebuah kota. Beliau mencoba
melihat-lihat keadaan di dalamnya. Di sana
dilihat ada sebuah rumah yang dindingnya
terbuat dari emas dengan berhiaskan permata
yang beraneka ragam. Tiangnya terbuat dari
mutiara, dan Rasul saw mencoba melihat
rumah tersebut dari atasnya. Ada sebuah
gelas yang unik. Gelas itu tidak ada
penyangganya, sedangkan di dalamnya
terdapat seorang perempuan yang cantik
jelita. Badannya bercahaya lebih terang
daripada sinar matahari, apalagi bulan.

Firman Allah Taala berfirman kepada Nabi


Muhammad SAW, "Wahai Muhammad, Aku
sudah berada di hadapanmu. Tidak ada
sesuatu yang mengantarai kita. Sama halnya
dekatnya padi pada batangnya.
Rasa takut mulai menyelimuti diri Rasul
SAW, karena dirinya kini telah ada di
hadapan Raja Segala Raja Alam Semesta.
Beliau
memuji Allah,
"Attaahiyaatul
Mubaarakaatuh Asshalawaatu Lillaah."

Setelah dijelaskan oleh sang perempuan itu,


diketahuilah bahwa ia adalah bidadari yang
dipersiapkan untuk para syuhada.

Allah Taala berfirman, "Assalaamu Alaika


Ayyuhannabiyyu
Warahmatullaahi
Wa
Barakaatuh.

Dari tempat ini, Nabi Muhammad saw


beranjak ke suatu tempat yang di dalamnya
terdapat sebuah rumah besar. Dindingnya
terbuat dari cermin yang beralaskan batu
permata merah. Dan bubungannya terbuat
dari permata zamrud. Kemudian ditemuinya
pula empat buah sungai. Sungai madu,sungai
susu, sungai tuak, dan sungai air bening. Di

"Wa
alaa
Ibaadillaahis-Shaalihiina.
AsyhaduAn Laa llaaha Ilallaah," ujar Nabi
saw.
"WaAsyhadu
Anna
Muhammadan
Rasuusullaahi. Kuberikan kepadamu shalat
delapan puluh waktu sehari semalam.
7

pinggir-pinggir sepanjang sungai tersebut


berhamburan permata. Tidak lama kemudian
ada seorang malaikat yang mengambil
secangkir dari setiap air sungai itu. Kemudian
dibawakan ke hadapan Rasulullah saw untuk
dipilih sebagai minumannya.

berbuah empat puluh butir. Setiap buahnya


memiliki empat puluh rasa.
Rasul
saw
penasaran
mencoba
menanyakannya kepada Jibril, "Rumah apa
namanya
itu,
sedemikian
banyak
tanamannya."

Rasulullah saw pun memilih secangkir susu.


Lalu diminumnya hingga tersisa setengah
cangkir. Kemudian didengarlah ada suara
yang mengatakan, "Wahai Muhammad,
seandainya engkau meminum susu itu sampai
habis, maka seluruh umatmu (akan menjadi)
penghuni sorga."

"Itulah nantinya yang bakal dijanjikan untuk


menjamu mereka vang mencintai agamanya.
Serta senantiasa melaksanakan shaum di
bulan Ramadhan. Serta murah hatinya
terhadap sesama makhluk ciptaan Allah,"
jawab Jibril.

Segera setelah mendengar suara itu,


Rasulullah saw akan meminumnya kembali.
Namun kata malaikat tadi, "Wahai
Muhammad, sungguh sudah tidak diridhai
Allah Taala."

"Ceritakanlah kepada kaummu, sepanjang


yang engkau lihat."

Suara tak berwujud itu terdengar lagi,


"Sekiranya tuak itu yang engkau minum,
maka umatmu berada dalam genggaman
setan Wahai Muhammad, sekiranya madu itu
yang engkau minum lebih dulu, maka
umatmu akan lebih besar perhatiannya
kepada dunia daripada akhiratnya."

Menyahutlah Jibril, "Walaupun orang-orang


Arab tidak akan mempercayaimu, dan
biarkanlah
pula
kaum
Nasrani
itu
mendustakanmu.

"Niscaya tidak akan percaya orang-orang


Arab itu," ujar Rasul saw.

Akhirnya mereka berdua turun ke langit


berikutnya. Di tengah perjalanan, mereka
bertemu kembali dengan Nabi Musa a.s
Beliau bertanya, "Apa saja yang diberikan
Tuhan kepadamu.

Dari tempat itu, mereka berdua berjalan lagi


dan menjumpai lagi komplek perumahan
yang sangat banyak jumlahnya. Dindingdindingnya terbuat dari cermin Di dalam
setiap rumah itu terdapat empat puluh kamar.
Setiap kamarnya ada empat puluh anak
bidadari yang tengah menari-nari. Menurut
Jibril, itu semua diperuntukkan bagi umat
Nabi Muhammad SAW yang memiliki iman
yang tebal. Yang senantiasa memuliakan alim
ulama. Serta berakhlak mulia terhadap
sesama muslim dan manusia lain.

Nabi saw menjawab Shalat delapan puluh


kali sehari semalam, bersama Quran
sebanyak tiga puluh Juz dan (termasuk) Al
Fatihah."
"Hai Muhammad, umatmu tidak akan mampu
menunaikan shalat delapan puluh kali sehari
semalam," sahut Nabi Musa as.. "Mintalah
yang ringan dalam shalat."

Selanjutnya
Nabi
SAW dan
Jibril
menyaksikan jenis tumbuh-tumbuhan yang
memiliki empat puluh rupa. Setiap rupanya

Mendengar saran dari Nabi Musa itu, Rasul


saw menyetujuinya dan kembali lagi ke
hadirat Allah untuk mengajukan permohonan
keringanan, Allah SWT berkenan untuk
8

mengurangi jumlah rakaat shalat menjadi


lima puluh rakaat.

Setelah itu, Rasul saw kembali turun hendak


meneruskan perjalanannya ke bumi. Namun,
ketika berjumpa dengan Nabi Musa a.s., dan
mengetahui jumlah rakaat yang telah diterima
oleh Rasulullah saw, beliau menyarankan lagi
agar minta keringanan kembali. Akan tetapi
Nabi saw merasa malu untuk kembali
meminta keringanan.

Dalam perjalanan turun kembali, mereka


berdua bertemu lagi dengan Nabi Musa a.s.,
dan ia menanyakan mengenai hasilnya.
Setelah diberitahu, Nabi Musa as.
menyarankan lagi kepada Rasul saw, agar
diberi keringan lagi, karena umatnya masih
akan tetap belum sanggup. Rasul saw lagilagi menerima usulan tersebut. Dan naiklah
kembali ke Arsy.

Kemudian terdengar suara, "Wahai hambaKu, sudah layaklah ditunaikan oleh umatmu
shalat lima waktu dalam sehari semalam."

Di Arsy, Allah SWT kembali menerima


tuntutan keringanan jumlah rakaat shalat
yang diajukan oleh Nabi saw. Saat itu rakaat
shalat menjadi 45 rakaat. Namun ada
tambahan perintah, yaitu puasa di bulan
Ramadhan, puasa sunat enam hari di bulan
Syawal, dan beribadah haji.

Dalam perjalanan pulang, mereka bertemu


lagi dengan Nabi Adam a.s. dan Nabi Isa a.s.
Para Nabi itu meminta kepada Nabi
Muhammad saw agar menceritakan apa-apa
yang telah dialaminya itu.