Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS RADIOLOGI

Fraktur Radius
Diajukan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik Bagian Ilmu Radiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung

DisusunOleh:
1.
2.
3.
4.

Silfia
01.206.5295
Enyke Cipta H. 01.211.6380
Aprilia Nugraheni01.211.6332
Fara Cholidia
3010.120.6824

BAGIAN ILMU RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2016
LEMBAR PENGESAHAN
RADIOGRAPH BASED DISCUSSION

Diajukan guna melengkapi tugas kepaniteraan klinis bagian ilmu radiologi


Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung

Nama

:
1.
2.
3.
4.

Silfia
Enyke Cipta H.
Aprilia Nugraheni
Fara Cholidia

Judul

: Trauma Radius

Bagian

: IlmuRadiologi

Fakultas

: Kedokteran UNISSULA

01.206.5295
01.211.6380
01.211.6332
3010.120.6824

Pembimbing : dr. BambangSatoto, Sp. Rad (K)

Telah diajukan dan disahkan


Semarang, 2016
Pembimbing,

dr. BambangSatoto, Sp. Rad

BAB I
PENDAHULUAN
Fraktur menurut Smeltzer(2002) adalah terputusnya kontinuitas tulang dan
ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur adalah patah tulang yang biasanya

disebabkan oleh rudapaksa (Carter, 2013). Kejadian fraktur adalah umum, orang
rata rata mengalami fraktur atau yang dikenal patah tulang (AAOS, 2015)
meningkatnya mobilitas disektor lalu lintas dan faktor kelalaian manusia sebagai
salah satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang dapat menyebabkan
fraktur. Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja, olah raga dan rumah
tangga.
Fraktur tulang radius dapat terjadi pada 1/3 proksimal, 1/3 tengah atau 1/3
distal. Fraktur radius distal merupakan seperenam dari semua patah tulang yang
dievaluasi di departemen darurat dengan lebih dari 450.000 fraktur yang terjadi
setiap tahun di United States (S.D. McKay, 2001). Fraktur radius adalah fraktur
yang paling umum terjadi pada lengan bawah dan kejadian nya 16 % dari
keseluruhan fraktur tulang. Biasanya disebabkan oleh jatuh dengan tangan
terentang dapat juga disebabkan impaksi langsung.
Abraham Colles adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan fraktur
radius distal pada tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles. Ini
adalah fraktur yang paling sering ditemukan pada manula, insidensinya yang tinggi
berhubungan dengan permulaan osteoporosis pasca menopause. Karena itu pasien
biasanya wanita yang memiliki riwayat jatuh pada tangan yang terentang (Warwick,
1993)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI

Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi disintegritas tulang,


penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti
degenerative juga dapat menenyebabkan fraktur. Fraktur radius distal merupakan
cedera pergelangan tangan, yang disebut fraktur colles, paling sering terjadi pada
orang lanjut usia yang jatuh bertumpu pada telapak tangan dalam posisi dorsofleksi
(Sjamsuhidajat, 2007)
ANATOMI
Ujung proximal radius membentuk caput radii (=capitulum radii), berbentuk
roda, letak melintang. Ujung cranial caput radii membentuk fovea articularis
(=fossa articularis) yang serasi dengan capitulum radii. Caput radii dikelilingi oleh
facies articularis, yang disebut circumferentia articularis dan berhubungan dengan
incisura radialis ulnae. caput radii terpisah dari corpus radii oleh collum radii. Di
sebelah caudal collum pada sisi medial terdapt tuberositas radii. Corpus radii di
bagian tengah agak cepat membentuk margo interossea (=crista interossea), margo
anterior (=margo volaris), dan margo posterior. Ujung distal radius melebar ke arah
lateral membentuk processus styloideus radii, di bagian medial membentuk incisura
ulnaris, dan pada facies dorsalis terdapat sulcus-sulcus yang ditempati oleh tendo.
Permukaan ujung distal radius membentuk facies articularis carpi.

ETIOLOGI
Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung,
misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan
ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada
tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah (Handkerchief)
Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma yang berat; kadang-kadang
trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya sendiri terkena
penyakit tertentu. Jika trauma ringan yang terus menerus dapat menimbulkan
fraktur. Berdasarkan ini, maka dikenal berbagai jenis fraktur :
Fraktur disebabkan trauma yang berat
Fraktur spontan/patologik
Fraktur stress/fatigue
Trauma dapat bersifat:

Eksternal : tertabrak, jatuh dan sebagainya.


Internal : kontraksi otot yang kuat dan memdadak seperti pada serangan
epilepsi, tetanus, renjatan listrik, keracunan strinkin.
Trauma ringan tetapi terus menerus.

Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang


sebelumnya telah mengalami proses patologik, misalnya tumor tulang primer atau
sekunder, myeloma multiple, kista tulang, osteomyelitis, dan sebagainya. Trau ma
ringan saja sudah dapat menimbulkan fraktur.
Fraktur stress disebabkan oleh trauma ringan tetapi terus menerus,
misalnya fraktur march pada metatarsal fraktur tibia pada penari balet, fraktur
fibula pelari jarak jauh, dan sebagainya (Ekayuda, 2005)
GEJALA

Fraktur Kaput Radius


Fraktur kaput radius sering ditemukan pada orang dewasa tetapi hampir
tidak pernah ditemukan pada anak-anak. Fraktur ini kadang-kadang terasa nyeri
saat lengan bawah dirotasi, dan nyeri tekan pada sisi lateral siku memberi petunjuk
untuk mendiagnosisnya.

Fraktur Leher Radius


Jatuh pada tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam valgus dan
mendorong kaput radius pada kapitulum. Pada orang dewasa kaput radius dapat
retak atau, patah sedangkan pada anak-anak tulang lebih mungkin mengalami
fraktur pada leher radius. Setelah jatuh, anak mengeluh nyeri pada siku. Pada
fraktur ini kemungkinan terdapat nyeri tekan pada kaput radius dan nyeri bila
lengan berotasi.
Fraktur Diafisis Radius
Kalau terdapat nyeri tekan lokal, sebaiknya dilakukan pemeriksaan sinar-X
Fraktur Distal Radius
Fraktur Distal Radius dibagi dalam :
1) Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi yaitu Fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi sendi
radio-ulna distal. Fragmen distal mengalami pergeseran dan angulasi ke arah
dorsal. Dislokasi mengenai ulna ke arah dorsal dan medial. Fraktur ini akibat
terjatuh dengan tangan terentang dan lengan bawah dalam keadaan pronasi, atau
terjadi karena pukulan langsung pada pergelangan tangan bagian dorsolateral.
Fraktur Galeazzi jauh lebih sering terjadi daripada fraktur Monteggia. Ujung
bagian bawah ulna yang menonjol merupakan tanda yang mencolok. Perlu
dilakukan pemeriksaan untuk lesi saraf ulnaris, yang sering terjadi (Kune, 2011)
2) Fraktur Colles
Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang. Fraktur radius terjadi di
korpus distal, biasanya sekitar 2 cm dari permukaan artikular. Fragmen distal
bergeser ke arah dorsal dan proksimal, memperlihatkan gambaran deformitas
garpu-makan malam (dinner-fork). Kemungkinan dapat disertai dengan
fraktur pada prosesus styloideus ulna.
Fraktur radius bagian distal (sampai 1 inci dari ujung distal) dengan
angulasi ke posterior, dislokasi ke posterior dan deviasi pragmen distal ke
radial. Dapat bersifat kominutiva. Dapat disertai fraktur prosesus stiloid ulna.
Fraktur collees dapat terjadi setelah terjatuh, sehingga dapat menyebabkan
fraktur pada ujung bawah radius dengan pergeseran posterior dari fragmen
distal
3) Fraktur Smith
Fraktur ini akibat jatuh pada punggung tangan atau pukulan keras secara
langsung pada punggung tangan. Pasien mengalami cedera pergelangan tangan,
tetapi tidak terdapat deformitas. Fraktur radius bagian distal dengan angulasi

atau dislokasi fragmen distal ke arah ventral dengan diviasi radius tangan yang
memberikan gambaran deformitas sekop kebun (garden spade) (Kune,
2011).
KLASIFIKASI
Menurut hubungannya antara fragmen tulang dengan lingkungan :
a. Fraktur terbuka atau gabungan adalah fraktur dengan kulit ekstremitas yang
terlihat telah ditembus (Carter,2013)
Menurut R. Gustillo fraktur terbuka terbagi menjadi 3 derajat, yaitu :
-

Derajat I
Luka < 1cm
Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk
Fraktur sederhana, transversal, obliq atau komunitif ringan
Kontaminasi minimal

Derajat II
Laserasi >1 cm
Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse
Fraktur komunitif sedang
Kontaminasi sedang

Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot, dan
neovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur terbuka derajat III
terbagi menjadi
Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat
laserasi luas atau fraktur segmental sangat komunitif yang disebabkan oleh
trauma tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.
Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau
kontaminasi massif
Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat
kerusakan jaringan lunak.

b. Fraktur terutup atau simple adalah fraktur dengan kulit yang tidak tembus
oleh fragmen tulang, sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh
lingkungan.
- Berdasarkan Komplitnya
Fraktur komplit

: Tulang benar- benar patah menjadi dua fragmen atau lebih

Fraktur inkomplit : Patahnya tulang hanya pada satu sisi saja.

Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon, Fraktur radius distal


terbagi menjadi :
Fraktur intra-artikular
Fraktur ekstra-artikular
Fraktur terbuka
Fraktur kominuta

Beberapa bentuk fraktur

Greenstick : tulang anak bersifat fleksibel, sehingga fraktur dapat berupa


bengkokan tulang di satu sisi dan patahan korteks di sisi lainnya. Tulang
juga dapat melengkung tanpa disertai patahan yang nyata (fraktur torus).
Comminuted : fraktur dengan fragmen multiple.
Avulsi : sebuah fragmen tulang terlepas dari lokasi ligamen atau insersi
tendon.
Patologis : fraktur yang terjadi pada tulang yang memang telah memiliki
kelainan, seringkali terjadi setelah trauma trivial, misalnya penyakit Paget,
osteoporosis, atau tumor.
Fraktur impaksi : fragmen-fragmen saling tertekan satu sama lain, tanpa
adanya garis fraktur yang jelas (Patel, 2005).
Transversal : fraktur yang garis patahan nya tegak lurus terhadap sumbu
panjang tulang atau bentuknya melintang dari tulang. Fraktur semacam ini
biasanya mudah dikontrol dengan pembidaian gips.
Spiral : fraktur meluas yang mengelilingi tulang yang timbul akibat torsi
ekstremitasatau pada alat gerak. Fraktur jenis ini hanya menimbulkan
sedikit kerusakan jaringan lunak
Obliq : fraktur yang memiliki patahan arahnya miring dimana garis patah
nya membentuk sudut terhadap tulang.

MEKANISME CEDERA
Mekanisme umum fraktur radius distal pada usia muda termasuk jatuh
dari ketinggian, kecelakaan kendaraan bermotor, atau cedera karena olah raga. Pada
orang tua, fraktur radius distal sering timbul dari mekanisme energi yang rendah,
seperti terjatuh pada saat berjalan, ataupun terpeleset. Mekanisme cedera yang
paling umum terjadi adalah jatuh ke tangan terulur dengan pergelangan tangan
dalam dorsofleksi. Fraktur radius distal terjadi ketika dorsofleksi pergelangan
tangan bervariasi antara 40 dan 90 derajat, dengan derajat yang lebih rendah dari
gaya yang dibutuhkan pada sudut yang lebih kecil. Impaksi pada tulang metaphysis
distal radius terhadap tulang karpal juga sering terjadi. Selain itu, kekuatan dari
mekanisme trauma juga sering mengakibatkan keterlibatan permukaan artikular.
Mekanisme dengan energi tinggi (misalnya, trauma kendaraan/kecelakaan lalu
lintas) dapat mengakibatkan pergeseran atau fraktur yang sangat kominutif (fraktur
lebih dari tiga fragmen) dan mengakibatkan sendi wrist tidak stabil.
DIAGNOSIS
Bila secara klinik ada atau diduga ada fraktur, maka harus dibuat 2 foto tulang yang
bersangkutan. Sebaiknya dibuat foto anteroposterior (AP) dan lateral. Apabila
kedua proyeksi tersebut tidak dapat dibuat, maka dibuat 2 proyeksi yang tegak lurus
satu sama lain (Ekayuda, 2005).
PEMERIKSAAN RADIOLOGI
10

Hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan foto


roentgen tulang
- Adakah fraktur, dimana lokasinya ?
- Tipe fraktur dan kedudukan fragmen
- Bagaimana struktur tulang
Biasa?
Patologik ?
- Bila dekat atau pada persendian :
Adakah dislokasi ?
Fraktur epifisis?
Beberapa alat tes berikut mungkin digunakan untuk mengevaluasi fraktur :
X-Ray
Film polos tetap merupakan pemeriksaan penunjang radiologis yang utama
pada sistem skeletal. Gambar harus selalu diambil dalam dua proyeksi. (11)
Film polos merupakan metode penilaian awal utama pada pasien dengan
kecurigaan trauma skeletal. Setiap tulang dapat mengalami fraktur walaupun
beberapa diantaranya sangat rentan.
Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah :
Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter
tulang atau menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang
normal pada fraktur minor.
Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi
fraktur.
Iregularis kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada
korteks (Eiff, 2004).
Posisi yang dianjurkan untuk melakukan plain x-ray adalah AP dan lateral
view. Posisi ini dibutuhkan agar letak tulang radius dan tulang ulna tidak
bersilangan, serta posisi lengan bawah menghadap ke arah datangnya sinar (posisi
anatomi). Sinar datang dari arah depan sehingga disebut AP (Antero-Posterior)
Terdapat tiga posisi yang diperlukan pada foto pergelangan tangan untuk menilai
sebuah fraktur distal radius yaitu AP, lateral, dan obliq. Posisi AP bertujuan untuk
menilai kemiringan dan panjang os radius, posisi lateral bertujuan untuk menilai
permukaan artikulasi distal radius pada posisi normal volar (posisi anatomis)
(Begg, 2005).

11

Gambaran radiologi fraktur Smith

12

Gambaran radiologi fraktur Colles

Ct-Scan
Computed tomography ( CT ) digunakan untuk merencanakan tindakan operasi ,
memberikan akurasi yang lebih baik untuk evaluasi kesejajaran fraktur dan
keterlibatan sendi. CT-Scan juga merupakan alat yang berguna untuk
menyelesaikan temuan yang tidak pasti pada radiografi konvensional , seperti
adanya fraktur potensial yang tersembunyi. CT scan juga di gunakan untuk
mendeteksi letak struktur fraktur yang kompleks dan menentukan apakah fraktur
tersebut merupakan fraktur kompresi, burst fraktur atau fraktur dislokasi.
Pada pemeriksaan pasca operasi dapat digunakan untuk menilai penyembuhan
patah tulang. Hasil yang optimal diperoleh ketika gambar sagital dan coronal
diformat ulang dan digunakan dalam hubungannya dengan pencitraan di bidang
aksial.

13

Axial computed tomography (CT) scan demonstrates a comminuted distal radial fracture.

Coronal computed tomography (CT) scan demonstrates intra-articular radiocarpal joint involvement in a distal
radial fracture.

Sagittal computed tomography (CT) scan demonstrates a comminuted distal radial


fracture with intra-articular radiocarpal joint involvement.

14

Gambaran CT Scan Fraktur Radius Ulna


MRI
Magnetic resonance imaging ( MRI ) tidak rutin digunakan dalam evaluasi awal
patah tulang radius distal akut . Namun, alat ini berguna dalam penilaian tulang
tambahan , kelainan ligamen , dan kelainan jaringan lunak yang terkait dengan
patah tulang radius distal dan dapat membantu dalam mendeteksi fraktur distal
radius yang tersembunyi

MRI secara rutin digunakan untuk mengevaluasi integritas ligamen


interkarpal dan saraf median dalam karpal tunnel ketika cedera struktur ini diduga
berhubungan dengan fraktur radius distal, dibandingkan dengan radiografi dan
scintigrams, MRI mungkin lebih sensitif dalam mendeteksi awal osteonekrosis
posttraumatic dari tulang pergelangan tangan yang mungkin terjadi bersamaan
fraktur radius distal. Biasanya dengan scan MRI fraktur ini akan lebih jelas
mengevaluasi trauma jaringan lunak, kerusakan ligament dan adanya pendarahan
(Lewis, 2015)

15

Posteroanterior radiograph of the wrist demonstrates a barely perceptible sclerotic fracture of the distal radial
metaphysis

T1-weighted MRI in the same patient exhibits the hypointense, nondisplaced fracture of the distal radial
metaphysis.

16

T2-weighted MRI of the wrist in the same patient exhibits linear bone marrow edema within the distal radial
metaphysis corresponding to a sublte, and near radiographically occult, fracture.

KOMPLIKASI
Komplikasi pada fraktur yang dapat dilihat pada foto roentgen :
Osteomielitis

: terutama pada fraktur terbuka

Nekrosis avaskular : hilangnya/terputusnya supply darah pada suatu bagian


tulang sehingga menyebabkan kematian tulang tersebut
Non union
: biasanya karena imobilisasi tidak sempurna. Juga bila ada
interposisi jaringan diantara fragmen-fragmen tulang. Pembentukan kalus bisa
disekitar fraktur, tetapi garis patah menetap.
Delayed union

: umumnya terjadi pada

Orang-orang tua karena aktivitas osteoblas menurun


Distraksi fragmen-fragmen tulang karena reposisi kurang baik, misalnya
traksi terlalu kuat atau fiksasi interna kurang baik
- Fraktur patologik
- Infeksi
Mal union
: disebabkan oleh reposisi fraktur yang kurang baik, timbul
deformitas tulang.
Pemeriksaan radiologi selanjutnya untuk kontrol
a. Segera setelah reposisi untuk menilai kedudukan fragmen. Bila dilakukan
reposisi terbuka perlu diperhatikan kedudukan pen intramedular (kadangkadang pen menembus tulang), plate, dan screw (terkadang lepas)
17

b. Pemeriksaan periodik untuk menilai penyembuhan fraktur


-Pembentukan Callus
-Konsolidasi
-Remodeling
-Komplikasi

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1.

Identitas Penderita

18

Nama
Usia
Jeniskelamin
Alamat
Agama
Pekerjaan
Pendidikan
Status
SukuBangsa
Ruangan

: Galih Ferdian Raka Putra


: 20 tahun 0 bulan 16 hari
: Laki-Laki
: Jl. Karangroto 01/05 Genuk Semarang
: Islam
:: : Belum menikah
: Jawa (WNI)
: IGD

3.2.

Anamnesa (Alloanamnesa)
1. Anamnesis
Keluhan Utama
: nyeri
Keluhan Tambahan : sulit digerakan
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke IGD Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, dengan
keluhan post KLL dan mengeluh tangan kiri nyeri serta sulit digerakan
disertai deformitas(+) hematoma (+) krepitasi (-).
Riwayat penyakit dahulu

Hipertensi (-)

diabetes mellitus (-)

alergi (-)

asma (-)

Riwayat penyakit yang sama dikeluarga(-)

Riwayat sosial ekonomi dan pribadi


(-)
2. Pemeriksaan Fisik
Kesadaran

: Compos Mentis

Keadaan umum

: lemah

Pernapasan

: 20

Suhu

:36celcius

Primary Survey

19

: Clear

:bentuk dan gerak dada simetris, jejas tidak ada,


respirasi 20 x / menit .

:Tekanan Darah :120 / 50 mmHg,


Nadi : 100 x / menit

:GCS 15 E4 M6 V5

Status generalis
Kulit

: sawo matang, tidak pucat

Kepala

:mesocephal

Mata

:konjungtivaanemis (-),skleraikterik (-).

Thorax
Paru
-

Inspeksi

: gerak dada simetris (+), tidak ada jejas,

Palpasi

: stremfemitus dextra sama dengan sinistra

Perkusi: Sonor dikedua paru (+)

Auskultasi

: suara dasar vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

Inspeksi

:ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis teraba (+), kuang angkat (-).

Perkusi

:konfigurasi jantung dalam batas normal.

Auskultasi

:bunyi jantung I-II reguler.

Abdomen
:
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

:datar, gambaran gerak usus (-)


:supel, nyeri tekan (-),lien dan hepar tak teraba
:timpani
:bising usus (+) normal

20

Anggotagerak

:akral dingin

: oedem
-

: Nyeri

+
-

3.3.

Diagnosis
Fraktur Antebrachii sinistra
3.4.
Pemeriksaan Penunjang
3.4.1. Pemeriksaan Radiologi
3.4.1.1.
Gambaran Radiologi

21

3.4.1.2.

Uji Laboratorium
Tidak Dilakukan

22

3.4.1.3.

PembacaanHasil
Ekstremitas atas besar (non kontras)
X Foto Antebrachii Sinistra
Fraktur pada os radius sinistra distal, komplit,
obliq, dengan displacement ke lateral dan posterior
Tak tampak dislokasi pada wrist joint sinistra

3.4.1.4.

Kesan
Fraktur os. radius distal sinistra

BAB IV

PEMBAHASAN
Pasien dengan usia muda memiliki struktur tulang yang kuat, lebih
banyak energi yang dibutuhkan untuk kejadian fraktur pada pasien ini.
Contohnya kecelakaan motor, jatuh dari ketinggian, dan situasi yang lain
dapat menyebabkan fraktur radius distal. Pasien yang sudah tua memiliki
tulang yang lemah dan mendukung terjadinya fraktur radius distal dari jatuh
yang sederhana dengan tangan terentang (Nelson, 2016)
Di dalam kasus ini didapatkan pasien seorang lakilaki usia 20 tahun datang ke IGD RSI Sultan agung
dengan kondisi komposmentis dan pasien tampak lemah.
Pasien datang post kecelakaan, mengeluh tangan kiri
merasa nyeri dan sulit digerakan. Pada pasien ini
pemeriksaan paru dan jantung dalam batas normal,
didapatkan hematoma, deformitas, dan nyeri pada tangan
kiri. Diagnosis sementara fraktur antebrachii sinistra untuk
memastikan ada tidaknya fraktur dilakukan pemeriksaan
X-foto, pada pemeriksaan X foto didapatkan fraktur pada
os radius sinistra distal, komplit, obliq, dengan
displacement ke lateral dan posterior. Menurut Ekayuda
(2005) bila secara klinik ada atau diduga ada fraktur,
maka harus dibuat 2 foto tulang yang bersangkutan,
sebaiknya dibuat foto anteroposterior (AP) dan lateral.
Posisi AP bertujuan untuk menilai kemiringan dan panjang
os radius, posisi lateral bertujuan untuk menilai
permukaan artikulasi distal radius pada posisi normal
volar (posisi anatomis) (Begg, 2005).
Karena gambaran X-Foto antebrachii sinistra menunjukkan gambaran
fraktur radius distal maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan CT-Scan atau
mungkin diperlukan untuk mendeteksi adanya fraktur tersembunyi.

BAB V
KESIMPULAN

Fraktur adalah kejadian yang umum terjadi, dapat


disebabkan karena trauma, patologik, atau stress. Kejadian
fraktur radius adalah 16% dari keseluruhan fraktur,
sedangkan untuk fraktur radius distal di US >450.000
pertahun. Diagnosis pasti dalam kasus fraktur
menggunakan X-Ray, posisi yang disarankan adalah
anteroposterior (AP) dan Lateral.
Pada pasien dalam kasus diatas didapatkan
diagnosis klinis fraktur antebrachii sinistra. Berdasarkan
radiologi X foto antebrachiii sinistra didapatkan
didapatkan fraktur pada os radius sinistra distal, komplit,
obliq, dengan displacement ke lateral dan posterior.

DAFTAR PUSTAKA
1. American
Academy
of
Orthopaedic
Surgeons:
"Fractures."National Institute on Aging: "Falls and
Fractures."University of Iowa Hospitals & Clincs: "Fracture
types."
2. Begg James D., The Upper Limb in : Accident and Emergency X-Rays
Made Easy. Publisher Churchill Livingstone. UK. 2005. Page 162-167.
3. Buranda Theopilus et. al., Osteologi dalam : Diktat Anatomi Biomedik I.
Penerbit Bagian Anatomi FK Unhas. Makassar. 2011. Hal 4-7.
4. Carter Michel A., Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam: Price
Sylvia A, Wilson Lorraine McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006.
Hal 1357-1359.
5. Eiff et. al., Radius and Ulna Fractures in : Fracture Management For
Primary Care. Second Edition. Publisher Saunders. UK. 2004. Page 116119.
6. Ekayuda Iwan, Trauma Skelet (Rudapaksa Skelet) dalam: Rasad
Sjahriar, Radiologi Diagnostik. Edisi kedua, cetakan ke-6. Penerbit
Buku Balai Penerbitan FKUI. Jakarta. 2009. Hal 31-43.
7. Handkerchief el-Ahmed. Refarat Fraktur Tulang Radius. Diunduh
dari:http://www.kumpulaninformasi.com/article-el-ahmed-handkerchiefreferat-fraktur-tulang-radius.html.
8. Kune Wong Siew, Peh Wilfred C. G., Trauma Ekstremitas dalam : Corr
Peter. Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta. 2011. Hal 97-107.
9. Lewis M, Ebreo D, Malcolm PN, Greenwood R, Patel AD, Kasmai B, et
al. Pharmacokinetic modeling of multislice dynamic contrast-enhanced
MRI in normal-healing radial fractures: A pilot study. J Magn Reson
Imaging. 2015 Sep 2.
10. Patel Pradip R., Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R. Lecture Notes
Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 221230.
11. S.D. McKay,JC. MacDermid, JH. Roth, et al. Assesment of
complication of distal radius fractures and development of a
complication checklist. J Handsrug Am. 2001:26(5):916-922

12. Sjamsuhidayat R., dan de Jong Wim. Patah Tulang dan Dislokasi dalam:
Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. 2005. Hal 840-854.
13. Warwick D, Prothero D, Field J, et al. Radiological measurement of
radial