Anda di halaman 1dari 3

Latar Belakang

Vaksin sangat berperan penting bagi kesehatanseluruh dunia, sampai saat ini vaksin
merupakan keajaiban dalam mengatasi beberapa penyakit seperti hepatitis B, polio, difteri
dan berbagai penyakit infeksi lainnya. Meskipun dengan imunsasi telah sukses dalam
mengatasi beberapa penyakit namun masih ada sekitar dua juta anak meninggal tiap tahunnya
akibat penyakit infeksi tersebut. Hal tersebut terjadi akibat beberapa masalah yaitu, mahalnya
biaya imunisasi bagi negara berkembang dan terpencil dan sulitnya jangkauan pengiriman
vaksin serta rusaknya vaksin selama perjalanan.
Saat ini vaksinasi menjadi istilah umum untuk pemaparan antigen terhadap manusia
atau binatang dalam membangkitkan respon kekebalan. Vaksin potensial merupakan syarat
utama untuk tujuan ini sehingga dapat mengontrol penyakit secara efektif. Kebanyakan
vaksin virus yang digunakan saat ini merupakan sel utuh yang telah dilemahkan atau
dimatikan. Keuntungan vaksin ini pada umumnya mampu menghasilkan imunitas cukup lama
dan merangsang seluruh reaksi kekebalan pada host yaitu Humoral antibody dan CellMediated (Draper, 2011).
Saat ini masalah mengenai vaksin seperti, maraknya vaksin palsu. Vaksin palsu telah
menyebabkan banyak kerugian bagi anak-anak antara lain munculnya reaksi alergi dan sakit
yang tidak kunjung sembuh. Dalam penerapan vaksin, masih banyak ditemukan anak-anak
yang masih ketakutan saat disuntik vaksin.
Dalam mengatasi permasalahan tersebut saat ini telah berkembang kemajuan dalam
bidang vaksinasi yaitu edible vaccine atau vaksin yang dapat dimakan. Edible vaccine
hanyalah tanaman transgenik dan hewan transgenik yang berbasis produksi atau yang
mengandung agen yang dapat memicu respon imun. Tanaman hasil rekayasa secara genetik
untuk memproduksi vaksin sebagai produk pertanian dalam bentuk buah dan sayur. Tanaman
ini disisipi gen yang memproduksi protein sebagai epitop suatu penyakit yang bila masuk
kedalam tubuh kita dapat berfungsi sebagai vaksin. Sehingga tanaman tersebut dapat sebagai
bioreaktor atau pabrik yang memproduksi vaksin berupa sayur atau buah yang dapat
dikonsumsi secara langsung.
Salah satu cara untuk menghasilkan vaksin yang dapat dimakan bergantung pada bakteri
Agrobacterium tumefaciens untuk menyampaikan sel genetik ke tanaman untuk virus atau
bakteri protein "Antigen" sebagai kekebalan target.

diabetes vaccines, such as potatoes containing insulin or GAD linked to the innocuous B
subunit of the V. cholerae toxin (to enhance uptake of the antigens by M cells). Feeding of the
vaccines to a mouse strain that becomes diabetic helped to suppress the immune attack and to
prevent or delay the onset of high blood sugar. Transgenic plants cannot yet produce the
amounts of self-antigens that would be needed for a viable vaccine against human diabetes or
other autoimmune
diseases. But, as is true for infectious dis- eases, investigators are exploring a num- ber of
promising schemes to overcome that and other challenges. Edible vaccines for combating autoimmunity and infectious diseases have a long way to go before they will be ready for largescale testing in people. The technical obstacles, though, all seem surmountable. Nothing
would be more satisfying than to protect the health of many millions of now defenseless children around the globe.
Edible vaksin untuk diabetes seperti kentang yang
mengandung insulin atau GAD (glutamic acid decarboxcylase)
dikaitkan dengan subunit B pada V. cholerae toxin yang tidak berbahaya
untuk meningkatkan penyerapan antigen oleh sel-sel M (sel M merupakan sel yang
berkaitan dengan imunitas di bagian lapisan mukosa usus (plak peyer). Pemberian vaksin
terhadap tikus strain yang telah di induksi diabetes melitus tipe 1 membantu
menurunkan atau menekan serangan autoimun dan mencegah pelonjakan gula darah.

Pada penderita diabetes melitus 1 terdapat reaksi autoimun yang disebabkan karena
memproduksi protein yang salah sehingga menyerang sel beta pankreas yang disebut
autoantigen. Autoantigen akan menginduksi sel APC kemudian akan dibawa ke sel beta
yang nantinya bersifat merusak pada sel beta pankreas.

Pada tikus yang dibuat kondisinya terkena diabetes melitus 1 kemudian di induksi oleh
vaksin edible yang mengandung insulin dan GAD yang melekat pada sub unit B V.
Cholera toxin. Kemudian di ileum V. Cholera toxin membantu penyerapan autoantigen
pada sel M. Lalu di dibawa oleh makrofag yang menginduksi sel T supresor, sehingga
menekan sekresi dari APC (Sel B, makrofag,), sel NK, sel B, dll yang dapat membawa
autoantigen jahat sehingga sel B tidak dirusak oleh autoantigen jahat,